You are on page 1of 23

KONSEP PERSIAPAN PASIEN YANG AKAN

DILAKUKAN PROSEDUR DIAGNOSTIK ABORTUS

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

2016/2017

KONSEP PERSIAPAN PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN PROSEDUR DIAGNOSTIK ABORTUS DISUSUN OLEH : Andzar Syam Mulyadi Navya Indriyani Olga Jawda Casmira Tia Puspita Anzani KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR i .

Tidak lupa pula kami mengharap kritik dan saran untuk memperbaiki makalah kami ini. Terima kasih kami sampaikan kepada dosen mata kuliah Keperawatan Maternitas yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas makalah ini. SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN 2016/2017 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan Makalah ini dapat diselesaikan. Samarinda. di karenakan banyak kekurangan dalam mengerjakan Makalah ini. 22 Januari 2017 Penyusun ii . Makalah ini kami susun sebagai tugas dari mata kuliah Keperawatan Maternitas dengan judul “Konsep Persiapan Pasien Yang Akan Dilakukan Prosedur Diagnostik Abortus”. Demikianlah tugas ini kami susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas dan kami berharap semoga Makalah ini bermanfaat bagi diri kami dan khususnya untuk pembaca.

.................................................................. B......... D.................................................................................. DAFTAR PUSTAKA iii ............ Diagnosa Abortus ....................................... Manfaat Penulisan .................................................................... Tujuan Penulisan ..................................... Kata Pengantar ........................................................................... Kesimpulan ............................................................................................................ Klasifikasi Abortus ............................................................. D......................................................................................... C............................... E.............. DAFTAR ISI Halaman Judul ................................................................................. Penatalaksanaan Abortus ............................................................................................... Latar Belakang ..... B................................................................................................... Rumusan Masalah ...................... Saran .......................................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA A...................... B........ Etiologi Abortus ....................................................................... C........................ Gambaran Klinis Abortus ....................................................................................... Pengertian Abortus ....... BAB III PEMBAHASAN A........................ Daftar Isi ...... BAB I PENDAHULUAN A...................................... F...............

Latar Belakang Kita tahu bahwa istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Rumusan Masalah Bagaimana konsep persiapan pasien yang akan dilakukan prosedur diagnostik abortus C. B. Abortus buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan. karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus. BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan Umum 1 . maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu. mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan. Tujuan Penulisan 1. Sampai saat ini janin yang terkecil. sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai haid terlambat. kecuali apabila terjadi komplikasi. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15%. Akan tetapi. Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan. yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan.

Manfaat Penulisan 1. Etiologi Abortus d. Untuk bagaimana mengetahui konsep persiapan pasien yang akan dilakukan prosedur diagnostik abortus 2. Manfaat Bagi Penyusun Manfaat Bagi Peneliti adalah menambah wawasan mengenai konsep persiapan pasien yang akan dilakukan prosedur diagnostik abortus 2. Pengertian Abortus b. Diagnosa Abortus f. Penatalaksanaan Abortus D. Gambaran Klinis Abortus e. Manfaat Bagi Mahasiswa Manfaat bagi Mahasiswa adalah agar mahasiswa mengetahui dan mengerti konsep persiapan pasien yang akan dilakukan prosedur diagnostik abortus 2 . Tujuan Khusus Untuk mengetahui bagaimana konsep persiapan pasien yang akan dilakukan prosedur diagnostik abortus yang meliputi: a. Klasifikasi Abortus c.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.2008).Dengan kata lain yang luas digunakan adalah keguguran (miscarriage). Pengertian Abortus Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Bantuk Hadijanto. B. Abortus insipiens c. Berdasarkan aspek klinis. Abortus Spontan Terjadi tanpa intervensi dari luar dan hanya disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.. iaitu abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus inkompletus 3 . Abortus iminens b. Abortus kompletus d. Terdapat dua jenis abortus. abortus spontan dibagi menjadi : a. Klasifikasi Abortus Klasifikasi abortus menurut Ida Ayu Chandranita dan kawan-kawan ( 2010 ) adalah seperti berikut : 1. Abortus spontan didefinisikan sebagai abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis.2010).Sedangkan abortus yang terjadi dengan sengaja dilakukan tindakan disebut sebagai abortus provokatus (Cunningham dkk.

e. Abortus habitualis g. Abortus Provokatus 4 . Abortus sepsis 2. Abortus tertunda f. Abortus infeksious h.

Tindakan itu harus disetujui oleh tiga orang dokter yang merawat ibu hamil : Dokter yang sesuai dengan indikasi penyakitnya. dokter anestesi dan dokter ahli Obstetri dan Ginekologi. Abortus Provokatus Medisinalis Abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital. Indikasi vital yang dimaksudkan adalah : 1) Penyakit ginjal 2) Penyakit jantung 3) Penyakit paru berat 4) Diabetes mellitus berat 5) Karsinoma Indikasi social diantaranya : 1) Kegagalan pemakaian KB 2) Grandemultipara 3) Kehamilan IQ rendah 4) Kehamilan akibat perkosaan 5) Kehamilan dengan penyakit jiwa b. Dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih sehingga sering menimbulkan ‘trias’ komplikasi iaitu perdarahan. trauma alat genitalia/jalan lahir. infeksi hingga syok sepsis. 4 Tindakan abortus yang sengaja dilakukan. Abortus Provokatus Kriminalis Abortus yang dilakukan pada kehamilan yang tidak diinginkan. .Dijumpai dua bentuk abortus buatan : a.

merupakan penyebab terbanyak. ditemukan anomali uterus pada 27 persen pasien. Kelainan kongenital uterus Defek anatomik uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi obstetrik.Insiden kelainan bentuk uterus berkisar 1/200 sampai 1/600 perempuan. Umumnya terdapat lebih dari satu penyebab. Insiden trisomi meningkat dengan bertambahnya usia.Pada perempuan dengan riwayat abortus. serta malpresentasi janin. yaitu di atas 35 tahun. Faktor genetik Separuh dari abortus karena kelainan sitogenik pada trimester pertama berupa trisomi autosom. Etiologi Abortus Penyebab abortus bervariasi dan sering diperdebatkan. Risiko ibu terkena aneuploidi adalah 1:80. Trisomi 16.Semua kromosom trisomi berakhir abortus kecuali pada trisomi kromosom 1. mendapatkan hanya 18. seperti abortus berulang. prematuritas.8 persen yang bisa bertahan . Penyebab terbanyak diantaranya adalah seperti berikut : 1. Trisomi timbul akibat dari nondisjunction meiosis selama gametogenesis pada pasien dengan kriotip normal. pada usia di atas 35 tahun karena angka kejadian kelainan kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35 tahun (Bantuk Hadijanto. Hasil studi oleh Acien (1996) pada 170 pasien hamil dengan malformasi uterus. dengan kejadian sekitar 30 persen dari seluruh trisomi. Pengelolaan standar menyarankan untuk pemeriksaan genetik amniosentesis pada semua ibu hamil dengan usia lanjut. Untuk sebahagian besar trisomi.2008) 2. gangguan miosis maternal bisa berimplikasi pada gametogenesis. 5 C.

Akan tetapi. S. Autoimun Terdapat hubungan yang nyata antara abortus yang berulang dan penyakit autoimun. disbanding populasi umum. Bila digabung dengan peluang terjadinya pengakhiran kehamilan trimester 2 dan 3. terjadi peningkatan signifikan risiko abortus dan malformasi janin pada wanita-wanita pengidap diabetes dengan kadar HbA1c tinggi pada trimester pertama. maka diperkirakan 75% pasien dengan SLE akan berakhir dengan terhentinya kehamilan. 2008 ). sungsang). Kejadian abortus spontan di antara pasien SLE sekitar 10%. Sindroma Asherman bisa menyebabkan gangguan tempat implantasi serta pasokan darah pada permukaan endometrium. Misalnya. 4. bergantung pada berat ringannya gangguan (Prawirohardjo. . kemudian uterus bikornis atau uterus didelfis atau unikornis (10-30%). aPA merupakan antibodi yang berikatan dengan sisi negative dari fosfolipid ( Bantuk Hadijanto.5 persen mengalami persalinan abnormal (prematur.Mioma uteri bisa menyebabkan baik infertilitas maupun abortus berulang. sedangkan 36. aPA merupakan antibody spesifik yang didapati pada perempuan dengan SLE. Defek fase luteal Wanita dengan diabetes mellitus terkontrol memiliki risiko abortus yang tidak lebih jelek dibandingkan wanita tanpa diabetes mellitus.Penyebab terbanyak abortus karena kelainan anatomik uterus adalah septum uterus (40-80%).2008).Risiko abortus antara 25-80%. Sebagian besar kematian janin dihubungkan dengan adanya aPA.. 6 sampai melahirkan cukup bulan. pada Systematic Lupus Erythematosus ( SLE ) dan antiphospholipid Antibodies ( aPA ). 3.

Selain itu. 2008). Berbagai teori diajukan untuk mencoba menerangkan peran infeksi terhadap risiko abortus. Klamidia) yang bisa mengganggu proses implantasi. endotoksin. Infeksi Teori peran mikroba infeksi terhadap kejadian abortus mulai diduga sejak 1917. 7 Wanita pengidap DM tipe 1 dengan kontrol glukosa tidak adekuat mempunyai peluang 2-3 kali lipat mengalami abortus. Koksakie virus B. Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitelia bawah (misalnya Mikoplasma bominis. Sitomegalovirus. 5. Varisela-Zoster. Apabila progesteron diberikan pada pasien ini. HSV). Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat sehingga janin sulit bertahan hidup. c. e. kadar progesteron yang rendah mempengaruhi kepekaan endometrium terhadap implantasi embrio. . atau sitokin yang berdampak langsung pada janin atau unit fetoplasenta. diantaranya sebagai berikut : a. d. b. Pengangkatan korpus luteum sebelum usia 7 minggu akan menyebabkan abortus. Dukungan pada fase luteal mempunyai peran kritis pada kehamilan sekitar 7 minggu. Parvovirus B19. Adanya metabolik toksik. Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut kematian janin. kehamilan bisa diselamatkan (Bantuk Hadijanto. Memacu perubahan genetik dan anatomik embrio. eksotoksin. yaitu saat di mana trofoblas harus menghasilkan cukup steroid untuk menunjang kehamilan. ketika DeForest dan kawan-kawan melakukan pengamatan kejadian abortus berulang pada perempuan yang ternyata terpapar brucellosis. umumnya oleh karena virus selama kehamilan awal (misalnya Rubela.

2008)..2008). Defisiensi faktor XII (Hageman) berhubungan trombosis sistemik ataupun plasenter dan telah dilaporkan juga berhubungan dengan abortus berulang pada lebih dari 22 persen kasus.Kadar faktor VII. sering didapatkan defek hemostatik.Berbagai komponen koagulasi dan fibrinolitik memegang peran penting pada implantasi embrio.Pada kehamilan terjadi keadaan hiperkoagulasi dikarenakan peningkatan kadar faktor prokoagulan. X. dan fibrinogen meningkat selama kehamilan normal. Hematologik Beberapa kasus abortus berulang ditandai dengan defek plasentasi dan adanya mikrotrombi pada pembuluh darah plasenta.. VIII.Gen pembawa akan diturunkan secara autosom resesif.Bentuk terbanyak yang didapat adalah defisiensi folat (Prawirohardjo. dan plasentasi.Perubahan rasio tromboksan-prostasiklin memacu vasospasme serta agregrasi trombosit. S.Kondisi ini berhubungan dengan 21 persen abortus berulang.2008).Juga sering disertai penurunan kadar protein C dan fibrinopeptida (Prawirohardjo. S. penurunan faktor antikoagulan. Bukti lain menunjukkan bahwa sebelum terjadi abortus. invasi trofoblas. S. Lingkungan . yang akan menyebabkan mikrotrombi serta nekrosis plasenta. 8 (Prawirohardjo. terutama pada kehamilan sebelum 12 minggu (Prawirohardjo..2008) 6.Penelitian Tulpalla dan kawan-kawan menunjukkan bahwa perempuan dengan riwayat abortus berulang. 7..Hiperhomosisteinemi berhubungan dengan trombosis dan penyakit vaskular dini. S. dan penurunan produksi prostasklin saat usia kehamilan 8-11 minggu. sering terdapat peningkatan produksi tromboksan yang berlebihan pada usia kehamilan 4-6 minggu. dan penurunan aktivitas fibrinolitik.

. sekitar setengah dari kehamilan ini akan berakhir dengan abortus (Cunningham et al.2008). Abortus Iminens (Threatened abortion) Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selamakehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapat mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil.Dengan terjadinya gangguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus (Prawirohardjo. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari atau dapat berulang. Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu mengeluarkan darah sedikit pada vagina. abortus tertunda (missed abortion). 2005.. 2005). abortus insipiens (inevitable abortion). Gambaran Klinis Abortus Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi abortus iminens (threatened abortion). antara lain nikotin yang telah diketahui mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta. 2005).Karbon monoksida juga menurunkan pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin. Griebel et al. 9 Diperkirakan 1-10 persen malformasi janin akibat dari paparan obat. dan abortus septik (septic abortion) (Cunningham et al. S. 1. D. atau radiasi dan umumnya berakhir dengan abortus.. abortus habitualis (recurrent abortion). Secara keseluruhan. dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti .Rokok diketahui mengandung ratusan unsur toksik. bahan kimia. abortus inkompletus(incomplete abortion) atau abortus kompletus (complete abortion)..

dan membahayakan ibu. Perdarahan biasanya terus berlangsung. ulserasi vagina. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan. karsinoma serviks. Pemeriksaan spekulum dapat membedakan polip. sedangkan kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi (Sastrawinata et al. Oleh karena itu. Abortus Inkompletus atau Abortus Kompletus Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina. namun tidak sehebat pada abortus insipiens. Jika hasil . dan kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus iminens karena dapat memberikan perdarahan pada vagina. banyak. kehamilan ektopik.. ulserasi vagina atau karsinoma serviks.. kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba. 3. 2. uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri. 2005). Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan kontraindikasi (Sastrawinata et al. Polip serviks. 2005). 10 saat menstruasi. Abortus Insipiens (Inevitable abortion) Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak. tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta). Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing (corpus alienum).

5. 2005). dimana sekiranya terjadi pembuahan. Pada abortus tertunda akan dijimpai amenorea. 2006).. tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. kesalahan korpus luteum dan kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan . abortus habitualis merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih. Serviks juga dengan segera menutup kembali. yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya. 11 konsepsi lahir dengan lengkap. 4. disfungsi tiroid. serviks tertutup dan ada darah sedikit (Mochtar. abortus inkompletus atau endometritis pasca abortus harus dipikirkan (Sastrawinata et al. 2000). Selain itu. hasilnya adalah patologis.. gangguan trombofilik pada ibu hamil. Abortus Habitualis (Recurrent abortion) Anomali kromosom parental. Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga. dan kelainan struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis (Jauniaux et al. Etiologi abortus ini adalah kelainan dari ovum atau spermatozoa. Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu dilakukan. malahan tambah rendah. maka disebut abortus komplet. Pada pemeriksaan dalam. perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Menurut Mochtar (2000). Abortus Tertunda (Missed abortion) Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati. Pada abortus kompletus. serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi.

b. Pemeriksaan penunjang – hasil USG. Anamnesis – perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim. Enterobacter aerogenes. Diagnosa Abortus Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005). Abortus Septik (Septic abortion) Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada abortus inkompletus atau abortus buatan. 2010) E. ostium uteri tertutup. Abortus Iminens (Threatened abortion) a. . Pemeriksaan dalam – fluksus ada (sedikit). 6. terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. 12 progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga merupakan etiologi dari abortus habitualis. diagnosa abortus menurut gambaran klinis adalah seperti berikut: 1. Anamnesis – perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau ringan. 2. 2000. Abortus Insipiens (Inevitable abortion) a. dan besar uterus sesuai dengan umur kehamilan. Hemolytic streptococci dan Staphylococci (Mochtar. Dulay. Proteus vulgaris. Antara bakteri yang dapat menyebabkan abortus septik adalah seperti Escherichia coli. c.

Anamnesis – perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak). nyeri / kontraksi rahim ada. laboratorium (Hb. 3. Anamnesis . trombosit. b. b. Pemeriksaan obstetri – fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi jantung janin tidak ada. waktu pembekuan dan waktu protrombin). fibrinogen. BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak gangguan glandula thyroidea. Histerosalfingografi – untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa dan anomali kongenital. Diagnosa abortus habitualis (recurrent abortion) dan abortus septik (septic abortion) menurut Mochtar (2000) adalah seperti berikut: 1. teraba sisa jaringan buah kehamilan. Abortus Inkompletus atau abortus kompletus a.perdarahan bisa ada atau tidak. 4. c. 2. dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok. Pemeriksaan dalam – ostium terbuka. Abortus Habitualis (Recurrent abortion) a. Abortus Septik (Septic abortion) . dan ketuban utuh (mungkin menonjol). Pemeriksaan penunjang – USG. waktu perdarahan. buah kehamilan masih dalam rahim. 13 b. Pemeriksaan dalam – ostium uteri terbuka. Abortus Tertunda (Missed abortion) a. b.

perdarahan dan sebagainya. F. Education : Kontrol 3-4 hari setelah keluar . keluar jaringan yang telah ditolong di luar rumah sakit. tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan. nadi kecil dan cepat. d. Antibiotik : Amoksilin 500 mg (3x1) 3. 2. nyeri tekan dan leukositosis. Pada abortus septik : kelihatan sakit berat. Adanya abortus : amenore. Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka. c. Penatalaksanaan Umum: 1. Istirahat baring. panas tinggi. 14 a. teraba jaringan. menggigil. nadi cepat. Simptomatik : Analgesic (a5. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu diberikan infus oksitosin dimulai 8 tetes permenit dan naikkan sesuai kontraksi uterus. Medikamentosa: 1. perdarahan. perdarahan. karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. Penatalaksanaan Abortus Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari timbulnya suatu abortus. b. tekanan darah turun sampai syok. metenamat) 500 gram (3x1) 2. Tanda-tanda infeksi alat genital : demam.

3. . Bila pasien syok karena pendarahan berikan infus ringer taktat dan selekas mungkin tranfusi darah. 15 setelah keluar dari rumah sakit.

BAB III PENUTUP A. Saran 14 . Kesimpulan B.

2006. Jakarta: EGC USU. Diakses pada 20 Januari 2017 Pukul 02:00 Alamat:repository. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC Manuaba .Jakarta : EGC Supriyadi. Penatalaksanaan Abortus. Perawatan Maternitas. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. 1999. K. Teddy. DAFTAR PUSTAKA Bobak.B. 2005.usu. Jensen. 2010.id/bitstream/123456789/23479/4/Chapter%20II.G. I.ac.p df .