You are on page 1of 1

Penanganan Pasien Ny M.

“Ny M mengeluh nyeri dada kiri hebat, berkeringat banyak, sesak nafas dan pingsan sejak 1 jam
SMRS dan dibawa oleh keluarga menggunakan mobil pribadi, saat di IGD ditemukan tidak ada
respon, bibir pucat, nadi carotis tidak teraba, tidak ada napas, akral dingin dan EKG asistole.”

Menurut kategori triase, Pasien Ny M dapat dikategorikan dalam kelompok triase hitam. Pasien
dikategorikan dalam triase warna hitam ( triase tipe SMART ) apabila pasien tetap tidak
bernapas spontan setelah jalan napas dibuka. Expextant (hitam) yaitu pasien mengalami cedera
mematikan dan akan meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3
hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb. Pasien dengan Prioritas (penanganan) 0 ini
kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah. Hanya perlu terapi suportif. Contoh
henti jantung kritis, trauma kepala berat (Carpenito, 2008). Penderita kategori triage hitam dapat
langsung dipindahkan ke kamar jenazah. (Rowles, 2007)

Menurut Dr. Stephen M. Cohn, dari Staten Island University Hospital di New York, beliau telah
melakukan penelitian terhadap pasien yang meninggal ketika datang atau death on arrival
(DoA), Pasien dengan triage warna hitam, dipresentasikan ke Emergency Departement tanpa
denyut nadi, tidak ada tekanan darah, dan tidak ada bukti aktivitas neurologis (Skor Koma
Glasgow = 3) apabila diresusitasi atau diberi tindakan torakotomi ini dikhawatirkan
meningkatkan infeksi. namun justru jika pasien meninggal ketika datang dan belum sempat
diintervensi maka organnya akan sangat bermanfaat apabila didonorkan.

DoA atau Death on Arrival adalah pasien yang dibawa ke rumah sakit namun meninggal
sebelum ada intervensi yang bisa dilakukan. Pada prinsipnya setiap pasien yang meninggal pada
saat dibawa ke RS/ IGD harus dilaporkan pada pihak berwajib. Di Indonesia kasus kematian
mendadak dan tidak terduga diserahkan kepada pejabat kepolisian setempat. Dengan demikian
pihak POLRI yang menentukan apakah jenazah akan diautopsi atau tidak. Dokter yang bertugas
di IGD tidak boleh memberikan surat keterangan kematian dan menyerahkan permasalahan ini
kepada POLRI. Kasus ini dianggap sama beratnya dengan kasus meninggal akibat kekerasan,
meninggal akibat keracunan, dan meninggal dengan kaitan berbagai peristiwa kecelakaan
sehingga perlu penyelidikan khusus untuk menyatakan pasien meninggal secara alamiah (natural
sudden death) atau merupakan tindak pidana.

Referensi:
 Carpenito, LJ (2008). Nursing diagnosis : Aplication to clinical practice, MosbySt Louis
 Rowles C.J and Moss,R (2007). Nursing manajemen :Staff nurse job satisfaction and
managenent style. WB Saunder Company. Philadelpia
 Harding, Anne. 2017. Aggressive Resuscitation of DOA Patients Not Entirely Futile.
https://www.medscape.com/viewarticle/877164 diakses pada 20 Oktober 2017.
 Herkutanto. 2007. Aspek Medikolegal Pelayanan Gawat Darurat. Majalah Kedokteran
Indonesia Vol: 57 no: 2 tahun 2007