You are on page 1of 3

MODEL GEOLOGI TEKNIK DAERAH AMBLESAN TANAH KOTA

SEMARANG BAGIAN BARAT
Dwi Sarah1, Eko Soebowo1, Asep Mulyono2, dan Nugroho Aji Satriyo1

ABSTRAK
Dataran kota Semarang mengalami masalah amblesan tanah yang terjadi secara berkala.
Amblesan tanah meliputi wilayah dataran dari Barat ke Timur. Investigasi geologi teknik telah
dilakukan untuk mengetahui karakteristik bawah permukaan kota Semarang bagian barat dan
hubungannya dengan potensi amblesan tanah di daerah ini. Investigasi geologi teknik terdiri atas
pengukuran geolistrik, pemboran teknik dan pengujian CPTu. Pengujian laboratorium dilakukan
terhadap contoh- contoh tanah yang didapatkan dari pemboran teknik. Hasil investigasi geologi
teknik di kota Semarang bagian barat menunjukkan bahwa susunan lapisan tanah bawah
permukaan hingga kedalaman 50 m terdiri atas lempung (tahanan jenis 0.1 – 1.5 ohm.m; tahanan
konus qt 0.1-1.0 MPa ), lanau- lempung (1.5 –7.0 ohm.m; tahanan konus qt1.0-2.5 MPa dan pasir
lanau (10 – < 40 ohm.m; tahanan konus qt2.0- 8.0 MPa). Dari dataran ke arah utara terlihat
penyebaran lapisan lempung menebal ke arah pantai (Utara), ke selatan cenderung menebal
lapisan lanau-lempung dan pasir. Hasil evaluasi nilai rasio overkonsolidasi (OCR) lapisan lanau-
lempung memiliki nilai OCR bervariasi dari 1-2 (tanah lempung sudah terkonsolidasi normal
hingga berlebih) mengindikasikan bahwa potensi amblesan di daerah Semarang bagian barat
relatif lebih kecil daripada Semarang bagian timur yang berkorelasi dengan laju amblesan di
Semarang bagian barat yang lebih rendah.

PEMBAHASAN
Hasil pengujian CPTu menunjukkan bahwa nilai tahanan konus lapisan lempung
konsistensi lunak pada lintasan dari timur ke barat A-A’, B-B’ dan C-C’bervariasi dan
cenderung semakin besar ke arah barat, dimana pada lintasan A-A’ (CPTu 02, qt 0.1-1MPa dan
CPTu 06, qt0.2-0.3 MPa), lintasan B-B’ (CPTu 03, qt 0.2-0.5 MPa) dan lintasan C-C’ (CPTu 04,
qt 0.5-1MPa dan CPTu 05, qt 0.4-1 MPa). Interpretasi nilai rasio overkonsolidasi (OCR)
menunjukkan bahwa nilai OCR bervariasi, pada tanah penutup dari permukaan hingga
kedalaman 5 m memiliki nilai OCR ≥2, lapisan lempung lunak kedalaman 5-20 m nilai OCR
1- ≤ 2 dan pada lapisan lempung teguh kedalaman 15-30m nilai OCR ≥ 2. nilai OCR lapisan
lempung cenderung meningkat dari timur ke arah barat dimana terjadi peningkatan nilai rasio
overkonsolidasi dari OCR 1-2 pada kedalaman 3-20m (lintasan A-A’ dan B-B’) menjadi OCR=
2 pada lintasan C-C’. Hal ini menunjukkan bahwa tanah lempung di daerah studi dari timur ke
barat (lintasan A-A’ hingga C-C’) pada kedalaman 3-20 m merupakan lempung terkonsolidasi
normal hingga terkonsolidasi berlebih, dimana pada lintasan barat tanah lempung sudah
terkonsolidasi berlebih.
Hasil pengujian sifat fisik dan keteknikan bawah permukaan lintasan Kota Semarang
bagian barat telah dilakukan pada contoh tanah dari titik pengujian CPTu dan pemboran teknik
menunjukkan bahwa tanah bawah permukaan pada lintasan Kota Semarang memiliki bobot isi
asli 1.44-1.95 Mg/m3 dan bobot isi kering 0.8—1.64 Mg/m3 dengan kadar air 21-88%, batas cair
38-111% dan indeks plastisitas 9-79%, terlihat bahwa tanah bawah permukaan kedalaman 10-60
m memiliki bobot isi, kadar air dan batas atterberg yang hampir sama dengan nilai kadar air yang
lebih besar dari tanah permukaan. Koefisien konsolidasi (Cv) tanah dekat permukaan berkisar

1

ke selatan cenderung menebal lapisan lanau-lempung dan pasir. beberapa merupakan lempung dengan plastisitas tinggi (CH) sementara tanah bawah permukaan hingga kedalaman 60 m berupa lempung dengan plastisitas tinggi (CH) Penampang A-A’ di daerah Brotojoyo (lintasan arah timur) menunjukkan keberadaan lempung lunak yang menebal dari selatan ke utara mencapai ketebalan 30 m dengan nilai rasio overkonsolidasi 1-2.Pantai Maron) yang lebih kecil (0-3 cm/tahun) dan semakin besar ke arah Timur (Madukoro-Brotojoyo) (3-6 cm/tahun) (Abidin dkk. Model geologi teknik terdiri atas hasil analisis tahanan jenis. penampang B-B’ dan C-C’ juga menunjukkan ketebalan lempung yang meningkat ke arah utara dengan nilai rasio overkonsolidasi yang meningkat dari nilai OCR 1-2 ke nilai OCR =2.0x10-8 hingga 5. Madukoro) dan lanau lempung dengan plastisitas rendah (ML-CL) hingga lanau lempung plastisitas tinggi (MH-CH) dengan potensi pengembangan sedang. Hal ini berkorelasi dengan hasil pemantauan laju amblesan tanah di Semarang bagian barat (daerah Bandara Ahmad Yani. 2010). Bandara Ahmad Yani hingga pantai Maron. Menuju ke arah barat.10x10-7 cm2/s dan pada tanah bawah permukaan hingga kedalaman 60 m berkisar 1. 2001). KESIMPULAN Investigasi geologi teknik telah dilakukan di daerah Semarang bagian barat meliputi daerah Brotojoyo. 2 . dimana amblesan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor eksternal seperti pengambilan airtanah dan beban permukaan. terdiri atas lempung plastisitas rendah hingga tinggi (CL-CH) dengan potensi pengembangan (swelling) sedang hingga tinggi. Nilai rasio overkonsolidasi (OCR) lapisan lanau. Madukoro (banjir kanal barat). Tanah dekat permukaan tergolong sebagai lanau-lempung berplastisitas rendah (ML dan CL).Pantai Maron) yang rendah (0-3 cm/tahun) dan cenderung meningkat ke arah timur (Madukoro-Brotojoyo) (3-6 cm/tahun) (Abidin dkk.al.39x10-3 hingga 2.95x10-7 cm2/s.08x10-2 cm2/s dan pada tanah bawah permukaan hingga kedalaman 60 m berkisar 2.lempung memiliki nilai OCR bervariasi dari 1-2 (tanah lempung sudah terkonsolidasi normal hingga berlebih) dengan nilai OCR semakin besar ke arah barat mengindikasikan bahwa potensi amblesan di daerah Semarang bagian barat relatif lebih kecil daripada Semarang bagian Timur.30x10-4 hingga 2. mengindikasikan potensi amblesan tanah alamiah yang menurun. Potensi amblesan tanah yang rendah ini berkorelasi dengan hasil pemantauan laju amblesan tanah di Semarang bagian barat (daerah Bandara Ahmad Yani.21x10-3 cm2/s menunjukkan bahwa lempung di bawah permukaan lebih kompresibel dimana nilai koefisien kompresibilitasnya mirip dengan tanah lempung bawah permukaan Kota Bangkok (Bangkok clay) (Tanaka et. Terdapat lensa pasir di bagian selatan yang berbatasan dengan batas Formasi Damar dengan ketebalan yang meningkat ke arah barat.68x10-10 hingga 5. Permeabilitas tanah dekat permukaan berkisar 1. Tanah lempung di daerah ini terdiri atas lanau dengan plastisitas rendah (ML) hingga lempung plastisitas tinggi (CH) dengan potensi pengembangan sedang hingga tinggi (penampang B-B’. Aqib Dzulfiqar Ronanda TUGAS MEKANIKA TANAH 111150051 Kelas A 2. Kondisi bawah permukaan dan keteknikan tanah lempung di Kota Semarang bagian barat yang sudah terkonsolidasi mengindikasikan potensi amblesan tanah yang rendah secara alamiah. 2010). tahanan konus dan sifat keteknikan bawah permukaan di kota Semarang bagian barat menunjukkan bahwa susunan lapisan tanah bawah permukaan hingga kedalaman 50 m terlihat penyebaran lapisan lempung menebal ke arah pantai (Utara).