You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum
Tujuan pelaksanaan praktikum pemantauan kualitas udara mengenai Pengukuran Gas,
impinger antara lain:
1. Agar praktikan dapat mengoperasikan alat impinger sesuai dengan prosedur
praktikum;
2. Mengukur kondisi meteorologi terkait dengan perhitungan konsentrasi pencemar
gas;
3. Untuk mengetahui konsentrasi gas NO2

1.2 Metode Percobaan
Metode percobaan pada modul pengukuran gas impinger yang digunakan adalah
absorbsi gas oleh absorban.

1.3 Prinsip Pengukuran
Prinsip percobaan pada modul pengukuran gas impinger adalah sebagai berikut:
1. Udara dihisap oleh pompa vakum dengan laju aliran tertentu yang
menyebabkan tekanan udara di dalam tabung impinger lebih rendah dari
tekanan udara luar. Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan terjadinya
gelembung udara yang melewati absorban;
2. Pada saat terjadinya gelembung udara, zat pencemar gas akan diserap oleh
absorban;
3. Jenis pencemar yang diserap sesuai dengan absorban yang digunakan;
4. Penyerapan zat pencemar menyebabkan perbedaan warna pada absorbat;
5. Perbedaan warna tersebut diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang
gelombang tertentu.
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kondisi Eksisting Wilayah

Praktikum yang dilakukan berada di sekitar lokasi Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
(BTKL) Medan yang beralamat di Jalan KH Wahid Hasyim 15 Babura, Medan Baru. Pada
ssaat praktikum dilaksanakan cuaca sangat cerah dan panas matahari sangat terik sehingga
memungkinkan untuk melakukan praktikum dengan baik diluar ruangan. Dimana suhu rata-
rata yang diperoleh dari perhitungan alat saat itu yaitu 39,04 oC. Untuk tekanan dihasilkan
sekitar 758,44 mmHg.

Kondisi tempat dilakukannya praktikum juga banyak dipadati oleh kendaraan yang berlalu
lalang di sepanjang jalan depan KH Wahid Hasyim 15 Babura, Medan Baru ini. Sehingga
secara tidak langsung dapat mempengaruhi hasil dari konsentrasi gas NOx yang dihisap oleh
alat. Akan tetapi secara keseluhuran kondisi wilayah sangat mendukung untuk dilakukan nya
pengambilan sampel untuk analisis gas NOx tersebut.

2.2 Definisi, sifat dan baku mutu
Nitrogen adalah gas yang memiliki komposisi terbesar di bumi, yaitu sebesar 78%.Jumlah
tersebut kemudian diikuti oleh gas O2 sebesar 21%. Ada tujuh kemungkinan hasil reaksi bila
nitrogen bereaksi dengan oksigen, antara lain adalah NO, NO2, N2NO3, N2NO4, dan NO3.
Dari ketujuh unsur tersebut tersebut yang memiliki jumlah yang cukup besar yaitu N2O, NO
dan NO2 yang menjadiperhatian dalam pencemaran udara hanyalah NO dan NO2 yang
kemudian diklasifikasikan sebagai NOx (Smoot, 2000).

Nitrogen monoksida (NO) merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, sebaliknya
nitrogen dioksida (NO2) berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Senyawa kimia
nitrogen oksida dan nitrogen anorganik reaktif lainnya memiliki peranan penting di dalam
pembentukan berbagai pencemaran di udara seperti photochemical smog , hujan asam, dan
penipisan lapisan ozon (Manahan, 2005).

Sifat- sifat dari NOx menurut Agency for Toxic Subtances and Disease Registry (ATSDR,
2002)
1. Dalam jumlah yang sedikit nitrogen oksida dapat menguap dari air, tetapi hampir
seluruhnya bereaksi dengan air dan membentuk asam nitrat.

Laboratorium Udara – NOX 2
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

2. Saat dilepaskan ke tanah, sejumlah nitrogen oksida dapat menguap ke udara. Tetapi
hampir keseluruhan akan berubah menjadi asam nitri atau zat lainnya.
3. nitrogen oksida tidak dapat dibentuk dari rantai makanan.
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh World Bank Group (1998), rata-rata konsentrasi
nitrogen dioksida didaerah perkotaan seluruh dunia berkisar anatar 20-90 µg/m3 dan 400
µg/m3. Untuk jalan yang benar-benar padat, pada pengukuran 1 jam dapat diperoleh
konsentrasi yang mencapai 1000 µg/m3.
Baku mutu kualitas udara ambien berdsarkan US EPA untuk NO2 adalah sebesar 100 µg/m3
atau 0,053 pp untuk rata-rata tahunan.

2.3 Pembentukan NOx
Di dalam proses pembentukannya, NOX juga mengalami intervensi dari luar berupa sinar UV
dan juga berbagai polutan atau gas – gas lain di atmosfer. Senyawa yang terbentuk akibat
reaksi dari NOX dengan senyawa lain di udara dapat menimbulkan dampak yang lebih
berbahaya daripada NOX itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan NOX sangat
diperhitungkan sebagai pencemar yang perlu dikendalikan.

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi NOx
Akumulasi konsentrasi nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) di pengaruhi
oleh faktor: suhu, kelembaban udara dan kecepatan angin. Konsentrasi terendah terjadi
ketika suhu udara tinggi, kelembaban udara rendah dan kecepatan angin tinggi karena
penyebaran konsentrasi menjauhi stasiun terjadi dengan cepat, sedangkan konsentrasi
tertinggi terjadi ketika suhu udara rendah, kelembaban udara tinggi dan kecepatan angin
rendah karena penyebaran konsentrasi menjauhi stasiun terjadi dengan lambat. Arah angin
merupakan faktor utama yang menentukan arah penyebaran dan lokasi akumulasi dari NO
dan NO2 karena arah angin dapat menunjukkan udara bergerak menjauhi atau mendekati
stasiun pengamat. (Syech. dkk,2013)

Laboratorium Udara – NOX 3
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

2.5 Dampak NOx
Konsentrasi NO2 yang dapat Menimbulkan Dampak yaitu :
Tabel 2.1 Dampak NOx berdasarkan rentang
Kategori Rentang NOx
Baik 0-50 Sedikit berbau
Sedang 51-100 Berbau
Tidak Sehat 101-199 Bau dan kehilangan warna, Peningkatanreaktivitas pembuluh tenggorokan
padapenderita asam
Sangat Tidak 200-299 Meningkatnya sensitivitas pasien yangberpenyakit asma dan bronkitis
Sehat
Sumber: Syech, 2013

Tabel 2.2 Dampak NOx berdasarkan konsentrrasi
Konsentrasi NO2
Efek
(ppm)
0.075 Batas pada adaptasi gelap
0.12 Batas timbul bau
0.26 Peningkatan resisten pada udara bebas
4-5 Penurunan kapasitas difusi paru – paru
Sumber: Syech, 2013

2.5.1 Dampak Terhadap Manusia
Kedua bentuk Nitrogen Okside, yaitu NO dan NO2 sangat berbahaya terhadapmanusia.
Penelitian aktifitas mortalitas kedua komponen tersebut menunjukkan bahwa NO2 empat kali
lebih beracun daripada NO. Selama, ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO
yang mengakibatkan kematian. Pada konsentrasi yang normal ditemukan diatmosfer, NO
tidak mengakibatkan iritasi dan tidak berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambient yang
normal NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang lebih beracun.
NO2 adalah gas yang toxis bagi manusia, efek yang terjadi tergantung pada dosis serta
lamanya pemaparan yang diterima seseorang. Dari penelitian yang dilakukan Habber’s
dinyatakan dalam rumus;

C×T=K
dimana ;
C = Konsentrasi dan Nitrogen Diokside
T = Waktu pemaparan
K = Konstanta

Laboratorium Udara – NOX 4
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

Contoh: selama 15 menit pemaparan 420 ppm nitrogen diokside membunuh 50 % binatang-
binatang, Habber’s menyebutkan satu kemungkinan yaitu 105 ppm selama 1 jam atau 26 ppm
selama 4 jam akan membunuh 50 % binatang-binatang selama terpapar. Konsentrasi NO2
yang berkisar antara 50-100 ppm dapat menyebabkan peradangan paru-paru bila manusia
terpapar selama beberapa menit saja. Pada fase ini orang masih sembuh kembali dalam waktu
6 - 8 minggu. Konsentrasi 150-200 ppm dapat menyebabkan penempatan Bronchili dan
disebut “Bronchilitis fibrisis obliterans”. Orang dapat meninggal dalam wektu 3 - 5 minggu
setelah pemaperan. Konsentrasi lebih dari 500 ppm dapat mematikan dalam waktu 2-10 hari.
Hal ini sering dialami petani yang memasuki gudang makanan ternak (silo) dimana terjadi
akumulasi gas NO2, oleh karenanya penyakit paru-paru ini dikenal sebegai “Silo filler’s
disease “.

2.5.2 Dampak Terhadap Hewan
Hewan percobaan yang diberi NO dengan dosis yang sangat tinggi
akanmemperlihatkan gejala paralisi sistem syaraf dan konvulsi. Penelitian lainnya
menunjukkan bahwa tikus yang diberi NO sampai jumlah 2500 ppm akan hilang
kesadarannya setelah 6-7 menit, tetapi jika kemudian diberi udara segar akan sembuh
kembali setelah 46 menit. Tetapi jika pemberian NO pada konsentrasi tersebut dilakukan
selama 12 menit, pengaruhnya tidak akan dapat dihilangkan kembali, dan semua tikus yang
diuji akan mati. Pemaparan pendek pada tikus dengan konsentrasi 0,5 ppm nitrogen diokside
selama 4 jam atau 1 ppm selama 1 jam cukup untuk menghasilkan perubahan jaringan dalam
paru-paru.Percobaan lain pada kelinci yang terpapar 4 jam sehari dalam 6 hari dengan
konsentrasi 0,25 ppm nitrogen diokside menghasilkan perubahan struktural di dalam collagen
paru-paru yang telah dibuktikan dengan mikroakopi elektron, perubahan ini masih terlihat 1
hari setelah akhir pemaparan.Pemaparan pada kera-kera selama 2 jam pada 10 - 50 ppm
nitrogen diokside menghasilkan luka primer dalam alveoli, tingkat kerusakan berhubungan
dengan konsentrasi nitrogen diokside. Paru-paru kera ini memperlihatkan vesicular ekstrim
melebar/mengempis pada alveoli limphocyte infiltration.

Pemaparan kronis dari konsentrasi nitrogen dioksideakan menghasilkan edema paru-paru.
Emphysema seperti luka juga didapatkan didalam paru-paru anjing yang terpapar selama 6
bulan dengan konsentrasi 25 ppm nitrogen diokside (Riddick et al., 1968). Dan
penelitianyang dilakukan didapatkan bahwa pemberian konsentrasi nitrogen diokside lebih
dari 100 ppm bersifat lethal terhadap kebanyakan hewan, dan 90 % kematian tersebut

Laboratorium Udara – NOX 5
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

disebabkan oleh gejela edema pulmonari. Konsentrasi yang lebih besar dari 800 % ppm atau
lebih rnengakibatkan kematian 100 % pada hewan percobaan dalam waktu 29 menit atau
kurang.

2.5.3 Dampak Terhadap Tanaman
Adanya NOX di atmosfer akan mengakibatkan kerusakan tanaman, tetapisukar
ditentukan apakah kerusakan tersebut diakibatkan langsung oleh NOX atau karena polutan
sekunder yang diperoleh dalam siklus fotolitik NO2. Beberapa polutan sekunder diketahui
bersifat sangat merusak tanam-tanaman. Percobaan dengan fumigasi tanam-tanaman dengan
NO2 menunjukkan terjadinya bintik bintik pada daun jika digunakan konsentrasi 1,0 ppm,
sedangkan dengan konsentrasi yang lebih tinggi (3,5ppm atau lebih) terjadinya nekrosis atau
kerusakan tenunan daun (Stoker and Seager, 1972).

2.5.4 Dampak Terhadap Lingkungan
Gas nitrogen oksida (Nox) ada dua macam , yakni gas nitrogen monoksida(NO) dan gas
nitrogen dioksida (NO2). Kedua macam gas tersebut mempunyai sifat yang berbeda dan
keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan. Gas NO yang mencemari udara secara visual
sulit diamati karena gas tersebut tidak berwarna dan tidak berbau. Sedangkan gas NO2 bila
mencemari udara mudah diamati dari baunya yang sangat menyengat dan warnanya coklat
kemerahan. Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak
berbahaya, kecuali jika gas NO berada dalam konsentrasi tinggi. Konsentrasi gas NO yang
tinggi dapat menyebabkan gangguan pada system saraf yang mengakibatkan kejang-kejang.
Bila keracunan ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan
menjadi lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehinggga menjadi gas NO2.
Pencemaran udara oleh gas NOx dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetil Nitrates yang
disingkat dengan PAN. Peroxi Acetil Nitrates ini menyebabkan iritasi pada mata yang
menyebabkan mata terasa pedih dan berair.. Salah satu dampaknya terhadap lingkungan yaitu
akibat timbulnya asap tebal dapat menyebabkan terhentinya alat-alat transportasi karena
dikhawatirkan akan terjadi tabrakan.

2.6 Pengendalian terjadi pencemaran konsentrasi NOx
Upaya pengendalian pencemaran udara dapat melakukan melalui Penelitian dan pemantauan,
Pengendalian pengelolaan perlu mempertimbangkan keserasian antara faktor sumber emisi,

Laboratorium Udara – NOX 6
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

dampak,kondisi sosial, ekonomi, dan politik serta melakukan pengukuran lapangan sesuai
dengan kondisi.
Langkah-langkahnya : (Ratnani,2008)
1. melakukan pengkajian/identifikasi mengenal macam sumber, model dan pola penyebaran
serta pengaruhnya / dampaknya. Sumber pencemaran udara yang sering dikenal dengan
sumber emisi adalah tempat dimana pencemaran udara mulai dipancarkan keudara.
2. Model dan pola penyebaran dapat diperkirakan melalui studi pengenai kondisi fisik
sumber (tinggi cerobong, bentuk, lubang pengeluaran dan besarnya emisi) , kondisi awal
kualitas udara setempat (latar belakang), kondisi meteorologi dan topografi. Studi dampak
pencemaran udara dilakukan terhadap kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan , material,
estetika dan terhadap kemungkinan adanya perubahan iklim setempat (lokal) maupun
regional.
3. mengetahui dan mengkomonikasikan tentang pentingnya pengelolaan pencemaran udara
dengan mempertimbangkan keadaan sosial lingkungannya, yang behubungan dengan
demografi , kondisi sosial ekonomi, sosial budaya dan psikologis serta pertimbangan
ekonomi. Juga perlunya dukungan politik, baik dari segi hukum, peraturan, kebijakan
maupun administrasi untuk melindungi pelaksanaan pemantauan, pengendalian dan
pengawasan.
4. melakukan pengukuran lapangan dalam rangka pemantauan pencemaran udara diperlukan
pemilihan metoda secara tepat sesuai dengan kemampuan jaringan pengamatan, penempatan
peralatan yang diperlukan untuk mengambil sampel dan kebutuhan peralatan beserta ahlinya
untuk keperluan analisis .

Laboratorium Udara – NOX 7
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

BAB III
PROSEDUR PRAKTIKUM

3.1 Alat-Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
1. Pompa vakum untuk menghisap udara yang dijadikan sampel;
2. Tabung impinger yang berisi absorban sebagai tabung penyerap gas pencemar tertentu;
3. Tabung impinger yang berisi silika gel atau glass wool untuk menyaring udara yang
masuk sehingga alat yang digunakan tidak cepat rusak;
4. Selang penghubung untuk menyalurkan udara;
5. Kuvet spektro sebagai tempat larutanyang akan dihitung panjang gelombangnya;
6. Spektrofotometer untuk menghitung absorban dengan panjang gelombang tertentu;
7. Absorban untuk penyerap gas pencemar tertentu;
8. Kompas untuk penentuan arah mata angin;
9. Anemometer untuk mengukur kecepatan angin;
10. Pocket weatherman untuk mengukur kelembaban udara, tekanan dan suhu;
11. Hot plate atau kompor listrik sebagai tempat untuk pemanasan;
12. Pipet tetes sebagai alat untuk meneteteskan larutan yang akan digunakan;
13. Pipet takar 10 ml sebagai penakar larutan yang akan digunakan;
14. Gelas ukur 10 ml sebagai tempat mengukur banyaknya larutan yang akan digunakan;
15. Labu ukur 25 ml sebagai wadah larutan atau untuk proses pengenceran larutan;
16. Bola hisap untuk menyedot dan mengeluarkan larutan yang diperlukan;
17. Tripod sebagai tempat penyangga kotak impinger dengan ketinggian tertentu;
18. Kotak trap untuk menyimpan alat yang diperlukan untuk praktikum;
19. Kotak impinger untuk meletakkan tabung impinger;
20. Botol absorban sebagai wadah absorban untuk penyimpanan di lemari es;
21. Tabung/labu semprot sebagai tempat aquadest;
22. Travo stepdown untuk menstabilkan arus.

3.1.2 Bahan
1. Larutan penyerap NO2;
2. Larutan iodin 0,05 N;
3. Larutan asam sulfamat;
4. Larutan formaldehid;
Laboratorium Udara – NOX 8
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

5. Larutan pararosalinin
6. Indikator amilum 0,2

3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1. Sebelum Praktikum
1. Pembuatan larutan penyerap NO2;

3.2.2 Pada Saat Praktikum
1. Siapkan sumber arus listrik, pastikan voltase alat sama dengan voltase sumber arus
listrik;
2. Pasang tripod setinggi 1-1,5m sebagai tempat untuk meletakan kotak impinger;
3. Isi tabung impinger dengan larutan penyerap sesuai dengan parameter gas yang akan
diukur sebanyak 10 ml;
4. Hidupkan pompa vakum dan atur laju aliran udara yang dikehendaki;
5. Sampling dilakukan selama 1 jam;
6. Selesai batas waktu sampling yang direncanakan, panel pompa vakum diatur ke posisi
off;
7. Masing-masing tabung impinger yang berisi absorban dipindahkan ke dalam botol film
dan diberi tanda sesuai peruntukannya serta disimpan dalam termos yang telah diisi batu es;
8. Sampel dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

3.2.3 Setelah Praktikum
Lakukan pembacaan absorbansi sampel dengan menggunakan alat spektrofotometer tahapan
berikut:

3.2.3.1 Sampel NO2
Sampel yang berisi konsentrasi NO2 di udara ambien diserap dalam larutan penyerapan yang
mengandung asam sulfanilat dan N-(1-Naphtyl)-Ethylene Diamin Dihidro Cloride (NEDA)
membentuk senyawa merah muda.Intensitas warna (absorbansi) yang terjadi diukur dengan
alat spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm.

Laboratorium Udara – NOX 9
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

3.2.3.2 Pembuatan kurva kalibrasi
1. Optimalkan alat spektrofotometer sesuai petunjuk penggunaan alat.
2. Masukkan masing-masing 0,0 mL; 0,1 mL; 0,2 mL; 0,4 mL; 0,6 mL; 0,8 mL dan
1,0 mL larutan standar nitrit menggunakan pipet volumetrik atau buret mikro ke
dalam tabung uji 25 mL.
3. Tambahkan larutan penjerap sampai tanda tera. Kocok dengan baik dan biarkan selama
15 menit agar pembentukan warna sempurna.
4. Ukur serapan masing-masing larutan standar dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 550 nm.
5. Buat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah NO2 (μg).

Laboratorium Udara – NOX 10
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

BAB IV
DATA SAMPLING

4.1 Data Meteorologi
Tabel 4.1 Data Meteorologi

Waktu
No. Suhu (0C) Tekanan Kelembaban
Sampling

1. 12.07 34,2 29,86 50
2. 12.12 38,1 29,86 32
3. 12.17 38,6 29,86 26
4. 12.22 40,4 29,86 24
5. 12.27 40,5 29,86 22
6. 12.32 40,2 29,86 21
7. 12.37 40,1 29,86 22
8. 12.42 39,9 29,86 22
9. 12.47 39,5 29,86 22
10. 12.52 39,4 29,86 22
11. 12.57 39,3 29,86 24
12. 13.02 38,9 29,86 25
13. 13.07 38,5 29,86 25
Rata-rata - 39,04 29,86 25,92
Sumber : Hasil Praktikum,2017

4.1.1 Laju Alir
Laju alir sebelum dan sesudah praktikum sama yaitu 0,4 m3/det

4.1.2 Nilai Absorban Larutan Sampel
Nilai absorban NO2 pada spektofotometer adalah 0,055 Absorban.

4.2 Data Elevasi dan Lokasi Sampling
Lokasi sampling berada di halaman kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
(BTKL), di Jalan KH. Wahid Hasyim 15. Koordinat titik sampling 3o35’02,29” U dan
98o39’24,54” T. Elevasi lokasi sampling 85,3 ft dari permukaan laut rata-rata.

Laboratorium Udara – NOX 11
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

BAB V
PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA

5.1 Perhitungan Data
Diketahui :
Laju alir awal (F1) = 0,4 m3
Laju alir akhir (F2) = 0,4 m3
Suhu rata-rata(T) = 39,04 oC
= 312,04 oK
Kelembapan (K) = 25,92 %
Tekanan rata-rata (P) = 29,86
= 758,44 mmHg
Waktu (t) = 60 menit

Maka, volume hisap dari gas NO2 :
𝐹1 + 𝐹2 𝑃 298
𝑉= 𝑥𝑡𝑥 𝑥
2 𝑇 760
0,4 + 0,4 758,44 298
𝑉= 𝑥 60 𝑥 𝑥
2 312,04 760
𝑉 = 22,3 𝐿

Konsentrasi NO2 :
Dari kurva kalibrasi , didapat :
- Nilai absorban NO2 adalah 0,055
- a = 0,679
- b = 0,017
Sehingga didapat :
y = ax + b
0,055 = 0,679x + 0,017
0,055 - 0,017 = 0,679x
0,038
x= 0,679

x = 0,559

Laboratorium Udara – NOX 12
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

Didapat konsentrasi NO2 untuk 1 jam sebagai berikut:
𝑎
C = 𝑉 𝑥1000
0,559
C= 𝑥1000
22,3

C = 25,06 µg/Nm3
Berdasarkan kurva kalibrasi diatas, didapatkan nilai a = 0,679 dan nilai b = 0,017 Sehingga, y
= 0,679 x + 0,017. Dan r2 = 0,99979

5.2 Analisis
Praktikum pada modul ini, praktikan mengukur konsentrasi NO2 pada udara ambien di depan
gedung Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) . Gas tersebut merupakan gas pencemar
yang umumnya ada di udara, karena banyak dihasilkan dari aktivitas manusia. Selain
mengukur konsentrasi gastersebut, praktikan juga mengukur kondisi metereologi saat
praktikum. Pengukuran kondisi metereologi ini menjadi penting dilakukan dalam praktikum
pengukuran kualitas udara karena, kondisi metereologi akan mempengaruhi konsentrasi dan
pola penyebaran zat-zat pencemar diudara.

Kondisi metereologi yang diukur saat itu meliputi nilai suhu rata-rata saat itu, yaitu 39,04 oC.
selain suhu, nilai metereologi lainnya yang diukur yaitu kelembaban, sebesar 25,92 % dan
tekanan sebesar 29,86 inHg. Selain kondisi metereologi, hal lainnya yang berpengaruh
terhadap pengukuran kualitas udara ambien yaitu banyaknya kendaraan yang melintas selama
praktikum. Karena salah satu sumber pencemar udara tersebut adalah emisi gas kendaraan
bermotor. Tentu banyaknya atau kepadatan lalu lintas selama praktikum akan mempengaruhi
konsentrasi gas pencemar yang akan diukur.

Setelah dilakukan pengukuran dengan menggunakan metoda spektrofotometer pada absorban
dilapangan, dilakukan pengukuran nilai absorban masing-masing gas tersebut menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu. Nilai absorban yang didapatkan pada gas
NO2 adalah 0,055. Dan setelah dilakukan penghitungan terhadap konsentrasi gas tersebut,
didapatkan nilainya adalah 25,06 μg/m3 untuk waktu 1 jam.
Konsentrasi gas tersebut masih berada di bawah baku mutu berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Karena berdasarkan
PP tersebut, konsentrasi minimum yang diperbolehkan untuk gas NO2 adalah 400 μg/m3untuk
waktu 1 jam, sedangkan untuk waktu 24 jam adalah sebesar 150 μg/m3, dan 100 μg/m3 untuk
waktu 1 tahun.

Laboratorium Udara – NOX 13
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

Kecilnya nilai konsentrasi gas pencemar tersebut didapatkan dapat menjadi indikator bahwa
kualitas udara di depan gedung BTKL masih bersih dan belum tercemar. Hal tersebut
dikarenakan sumber penghasil emisi tersebut masih sedikit pengaruhnya terhadap konsentrasi
NO2.

Laboratorium Udara – NOX 14
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka didapatkan kesimpulan bahwa :

a. Nilai konsentrasi NO2 yang didapat setelah dilakukan sampling pada pada hari

Senin, 12 Juni 2017 pukul 12.07 – 13.07 di halaman kantor Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan (BTKL):

- Untuk 1 jam, sebesar 25,06 μg/m3;

b. Kecilnya nilai konsentrasi gas pencemar tersebut didapatkan dapat menjadi indikator
bahwa kualitas udara di depan gedung BTKL masih bersih dan belum tercemar. Hal
tersebut dikarenakan sumber penghasil emisi tersebut masih sedikit pengaruhnya
terhadap konsentrasi NO2.

6.2 Saran
Adapun saran yang dapat praktikan berikan setelah melakukan praktikum ini adalah
sebagai berikut:
1. Memahami objek praktikum dan materi yang berkaitan dengan objek tersebut;
2. Mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan praktikum sebelum
praktikum dimulai;
3. Sebaiknya melakukan prosedur praktikum sesuai dengan prosedur baku yang telah
ditetapkan, seperti sesuai dengan SNI.

Laboratorium Udara – NOX 15
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

DAFTAR PUSTAKA

Ratnani, R.D 2008. Teknik Pengendalian Pencemaran Udara yang diakibatkan oleh
partikel. Jurusan Teknik Kimia Universitas Wahid Hasyim. Vol.4 No. 2 . 31
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=134190&val=5635 (diakses 16
Juni 2017)
Smoot, D. 2000. Modelling of Nitrogen Oxides Formation and Destruction inCombustion
System Progress in Energy and Combustion Science 26. 417- 458
www.elsevier.com/locate/pecs diakses pada 15 Juni 2017
Stoker, H. S. and Seager S. L. (1972), Environmental Chemistry, Foresman and Co,
London.
SNI-19-7117.5-2005
Syech Riad, Sugiano, dan Andhika. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi akumulasi
nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida di udara Pekanbaru. Jurusan FMIPA Fisika
Universitas Riau. Vol. 10 No. 7 .519
http://ejournal.unri.ac.id/index.php/JKFI/article/view/1859/1829(diakses 15 Juni
2017)
World Bank Group. 1998. Pollution Prevention and Abatement Handbook. 233-226
Manahan, S.E. 2005. Environmental Chemistry. 8th Ed. New York : CRC Press.

Laboratorium Udara – NOX 16
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

LAMPIRAN (DOKUMENTASI)

Gambar 1. Lokasi Sampling Udara Laboratorium Lingkungan II Prodi
TeknikLingkungan di Depan Gedung Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan pada 12 Juni 2017, Sumber : Annisya Maya Sari Srg

Gambar 2. Alat Impinger Untuk Menangkap Gas NOx di Depan Gedung Balai Teknik
Kesehatan Lingkungan pada 12 Juni 2017, Sumber : Annisya Maya
Sari Srg

Laboratorium Udara – NOX 17
Laboratorium Lingkungan II (RTL 3233P)

Gambar 3. Sampel NOx Praktikum Laboratorium Lingkungan II pada 12 Juni 2017,
Sumber : Annisya Maya Sari Srg

Gambar 4. Kurva Kalibrasi Gas NOx Praktikum Laboratorium Lingkungan II pada 12
Juni 2017, Sumber : Annisya Maya Sari Srg

Laboratorium Udara – NOX 18