You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Secara umum wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah pertemuan

antara darat dan laut; kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik

kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti

pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan kearah laut

mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang

terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan

oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

Sedimen pantai adalah material sedimen yang diendapkan di pantai.

Sedimentasi adalah proses perkembangan gisik atau gosong ke arah laut melalui

pengendapan sedimen yang dibawa oleh hanyutan litoral. Berdasarkan ukuran

butirnya, sedimen pantai dapat berkisar dari sedimen berukuran butir lempung

sampai gravel. Berdasarkan material sedimen penyusun pada suatu endapan

mencerminkan tingkat energi yang ada di lingkungan tersebut. Smear slide

merupakan suatu metode yang kuat dan secara cepat dapat mengevaluasi kuantitas

dari partikel sedimen yang sangat halus sebagai dasar untuk mengklasifikasikan

batuan sedimen, dan untuk memastikan kehadiran mikrofosil. Oleh karena itu

perlu di adakan praktikum Sedimentologi Acara II Smear Slide agar praktikan

dapat menganalisis mengenai material yang terkandung dalam material sedimen

pasir.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud diadakannya praktikum sedimentologi acara kedua Smear

Slide ialah untuk melakukan analisis mengenai partikel yang terkandung dalam

material sedimen pasir.

Adapun tujuan dari praktikum ini ialah sebagai berikut:

a. Mengetahui jenis partikel pada material sedimen

b. Mengetahui komposisi mineral pada material sedimen

c. Mengetahui asal partikel pada pada material sedimen pantai dan sungai

1.3 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan selama praktikum sedimentologi

acara pertama Smear Slide ialah sebagai berikut:

a. Penuntun Praktikum

b. LKP (Lembar Kerja Praktikum)

c. Sampel material sedimen

d. Oven

e. Kaca preparat

f. Lem epoxy

g. Kertas A4

h. Tusuk gigi

i. Kantong sampel

j. Alat tulis menulis

k. Spidol permanen

Bersihkan kaca preparat menggunakan air atau alkohol dengan bantuan kain atau tissu. Persiapkan hot plate pada temperatur yang paling rendah. kemudian amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 4 kali. f. e. panaskan slide hingga temperatur menengah. kemudian panaskan pada hot plate. d. Membuat label pada glass slide yang menginformasikan mengenai sampel sedimen yang akan dipreparasi. . b. Oleskan lem pada preparat. c.1. Lakukan pencatatan partikel yang diamati. Letakkan material sedimen dengan jumlah yang sangat sedikit pada slide yang sudah dipanaskan.4 Metode Kerja Adapun metode kerja yang dilakukan pada praktikum acara pertama Smear Slide ialah sebagia berikut: a.

. atau gletser di suatu cekungan.. dengan ukuran butir juga dapat diketahui batuan asal dari material sedimen serta dapat diketahui energy pengendapn dari suatu material sedimen. angin. Ukuran butir sangat penting dalam sedimentologi.2 Analisa Besar Butir Analisa granulometri merupakan suatu metoda analisa yang menggunakan ukuran butir sebagai materi analisa. material-material sedimen ini mengalami erosi dan transportasi dari batuan asalnya. Dalam analisa ini . Analisis ukuran butir penting untuk mengklasifikasi lingkungan sedimen. sortasi.1 Pengertian Sedimentasi Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air.es. Parameter mean. yang dihitung secara aritmetrik dan geometris (dalam satuan metrik) dan logaritmik (dalam satuan phi) menggunakan momen dan metode grafis Folk dan Ward. skewness dan parameter statistic lainnya. Analisa ini umum digunakan dalam bidang keilmuan yang berhubungan dengan tanah atau sedimen. metode perbandingan telah memungkinkan istilah deskriptif Folk dan Ward digunakan untuk moment statistik. Sebelum mengalami pengendapan pada suatu cekungan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. modus.salah satunya yaitu ukuran butirnya. seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa ukuran butir sangat dipengaruhi oleh transportasi. 2. Dalam proses transportasi inilah material sedimen ini dapat berubah.

Pasir dari berbagai macam lingkungan air menunjuk bahwa pasir halus mempunyai sortasi yang lebih baik daripada pasir sangat halus. dimana metode grafis memuat berbagai macam grafik yang mencerminkan penyebaran besar butir. Ada hubungan antara ukuran butir dan sortasi dalam batuan sedimen. deviasi standar. tipe dan karakteristik serta lamanya waktu sedimentasi dari suatu populasi sedimen.dkk dalam Kusumadinata. 1980). Sebaliknya apabila sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap rata-rata ukuran butir panjang disebut sortasi jelek. Sedangkan pasir yang diendapkan oleh angin sortasi terbaik terjadi pada ukuran pasir sangat halus ( Blatt. pengukuran sorting atau standar deviasi. Masing-masing pengukuran tersebut mempunyai rumus-rumus yang berbeda dan mempunyai batasan-batasan untuk menggambarkan keadaan dari butiran yang diamati atau dianalisa. sedangkan metode statistik menghasilkan nilai rata- rata. Pilihan atau Sortasi dapat menunjukkan batas ukuran butir atau keanekaragaman ukuran butir.tercakup beberapa hal yang biasa dilakukan seperti pengukuran rata-rata. hubungan dinamika aliran dan cara transportasi sedimen klastik. pengukuran skewness dan kurtosis. Sortasi dikatakan baik jika batuan sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata pendek. . Analisa granulometri dapat dilakukan melalui dua cara. Hubungan ini terutama terjadi pada batuan sedimen berupa pasir kasar sampai pasir sangat halus. Sortasi atau pemilahan adalah penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rata-rata. yaitu dengan metode grafis dan metode statistik. Batasan-batasan tersebut biasa disebut dengan verbal limit. kepencengan dan kemancungan kurva.

Sumber sedimen dapat berasal dari berbagai tempat. Butiran yang lebih kasar serta lebih halus tersebar disisi kanan dan kiri dalam jumlah yang sama. 1974). Distribusi normal adalah suatudistribusi ukuran butir dimana pada bagian tengah dari sampel mempunyai jumlah butiran paling banyak. Terdapat 3 sumber dari material sedimen yang ditemukan pada permukaan dasar laut yaitu sumber dari daratan yang menyuplai material hancuran dan material terlarut sumber asli dari laut dan material angkasa luar. Besar butir rata-rata merupakan fungsi ukuran butir dari suatu populasi sedimen (pasir kasar. Adapun partikel-partikel sedimen oleh Friedman dan Sanders (1978) dapat dibedakan menjadi 2 kelompok : 1. Apabila dalam suatu distribusi ukuran butior berlebihan partikel kasar. Setelah proses pelapukan terjadi selanjutnya sedimen asal mengalami proses transportasi dan lithifikasi. Pada proses . pasir sedang. Kepencengan (SKEWNESS) adalah penyimpangan distribusi ukuran butir terhadap distribusi normal. material yang bukan merupakan hasil rombakan atau hancuran padat yang terdiri dari material yang dikeluarkan lewat semburan gunung berapi dan material terlarut di air yang ditransportasikan dan diendapkan pada tempat akumulasi pengendapan oleh sekresi biologis atau proses pengendapan secara kimia. dan pasir halus). maka kepencengannya bernilai negatif (Folk. 2. Hasil rombakan atau hancuran padat dari endapan tua. Besar butir rata-rata dapat juga menunjukkan kecepatan turbulen/ sedimentasi dari suatu populasi sedimen.

kebolaan maupun sifat- sifat dari kumpulan butiran seperti sortasi.5 mm. Faktor yang mempengaruhi terhadap proses lithifikasi antara lain proses fisika. dan seterusnya. dan produksi bahan organic. erosi menghasilkan nilai (rate) yang sama dengan pelapukan batuan. Dikenal umum dengan nama Skala Wentworth. proses kimiawi dan proses biologi. contoh butiran pasir sedang berdiameter 0. kepencengan dan kepuncakan akibat dari gesekan antara butiran dengan butiran maupun dengan batuan dasar. Sedimen yang terlithifikasi disebut batuan sedimen. Pada butiran sedimen . Pembagian skala dibuat berdasarkan faktor 2 . ukuran butir. Kecepatan pengendapan b. Skala ini dipilih . mengurung tanah.25 mm – 0. skema ini digunakan untuk klasifikasi materi partikel aggregate ( Udden 1914. dibawah kondisi normal.transportasi. Faktor yang mempengaruhinya adalah: a. Gelombang Hasil sedimentasi yang telah berlangsung lama akan mengalami konsolidasi atau lithifikasi (pembatuan). Ukuran butiran berpengaruh terhadap sifat- sifat dari butiran tersebut. Besar kecilnya partikel penyusun tanah tersebut akan menentukan kemampuan dalam hal menahan air. erosi dan abrasi. Ukuran butiran akan mencerminkan resistensi butiran terhadap proses pelapukan. Dalam klasifikasi sedimen berdasarkan ukuran dapat menggunakan skala wentworth . pasir sangat kasar 1 mm – 2 mm. Wentworth 1922). Arus aliran fluida c. Pada proses transportasi berpengaruh terhadap bentuk. ukuran sedimen berhubungan dengan dinamika transportasi dan deposisi.

dan Pasir Sangat Halus(1/16- 1/8mm) c. Mud.karena pembagian menampilkan pencerminan distribusi alami partikel sedimen. Semua komponen berupa fragmen tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan mudah. tetapi kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya seperti mineral lempung yang lunak. fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. dan dapat pula fragmen cangkang. Merupakan batuan sedimen (sedimentary rock) yang mempunyai ukuran butir clay/ lempung/sangat halus. Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran pasir. Pasir Sedang (1/4-1/2mm). Berikut adalah ukuran yang terdapat dalam skala Wenworth : a. Sand. terbagi atas 4 bagian yakni : Bolders/Bongkah (>256mm). sederhananya. . dan Grit/Granule/Butiran (2-4mm). terbagi atas 2 : Silt/Lanau (1/256-1/6mm) dan Clay/Lempung (<1/256mm) Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral. Pasir Sangat Kasar (1-2mm). Cobble/Berangkal (64-256mm). Gravel. Pasir Halus (1/8-1/4mm). b. mungkin sulit mengenal jenis mineralnya. Pebble/Kerakal (4-64mm). Pasir Kasar (1/2-1mm). dan seterusnya. blok besar hancur menjadi dua bagian. Untuk komponen berupa mineral. Clay Stone/Batulempung. 1.

. microcline. Butiran yang dari rock fragment bisa berasal dari volcanic maupun metasedimentary lithic fragment. sehingga jarang kita jumpai. epidote. 3. Butiran yang lain bisa berupa heavy minerals (mineral berat) umumnya kandungannya kecil (sekitar1%) misal: apatite. Dari sini Boggs (1987) mengklasifikasi jika calcite nya >90% maka disebut Limestone. Butiran mineral (urut dari yang paling stabil- baik secara mechanical maupun chemical stability) yaitu: quartz (dan zircon.125mm-1mm (skala wentworth). Tersusun atas butiran (ini bisa berupa mineral maupun rock fragment). chert. dan mineral dolomite (Ca-Mg (CO3)2). pyroxene. orthoclase. dan zircon. Limestone/Batugamping. muscovite. tourmaline). Dari hal tersebut munculah 2 komponen penyusun yang penting yaitu calcite dan dolomite. Batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir pasir/sand dengan range 0. hornblende (dan biotite). aragonite (CaCO3 – orthorhombic). dan lainnya. staurolite. rutile. garnet.2. Batuan karbonat ini harus tersusun oleh >50% carbonate minerals. tourmaline. dan yang terakhir olivine. Merupakan batuan karbonat (carbonate rock) yang terbentuk secara biological and biochemical processes. plagioclase. Aragonite termasuk unstable minerals at surface temperature and pressure. yaitu: calcite (CaCO3 – rhombohedral). jika kurang dari itu hanya mensifati saja misal namanya menjadi Dolomitic limestone. dan jika dolomite nya yang >90% disebut Dolostone. Sandstone/Batupasir.

maka kepencengannya bernilai negatif (Folk. butir berbentuk papan akan cenderung membundar . Menurut(Folk. jika skewness memiliki nilai negatif atau nol maka batuan sedimen itu terendapkan di daerah pantai. 2. 2. Selain itu kita pun harus membuat kurva kumulatif yang merupakan hubungan antara % kumulatif dengan diameter (phi). 1962). Bila dalam diagram histogram tersebut terdapat satu puncak disebut unimodal dan bila terdapat dua puncak disebut bimodal. Pada daerah endapan pantai. Distribusi normal adalah suatu distribusi ukuran butir dimana pada bagian tengah dari sampel mempunyai jumlah butiran paling banyak.5 Sphericity Sphericity adalah tingkat kebulatan butir yang menunjukkan sifat yang diwariskan oleh suatu butir. endapan sungai yang halus. namun apabila skewness bernilai positif maka batuan sedimen tersebut merupakan endapan di daerah sungai.2. Apabila dalam suatu distribusi ukuran butir berlebihan partikel kasar.4 Keruncingan (Kurtosis) Kuartesis yaitu suatu nilai statistik yang menunjukkan derajat kemancungan suatu penyebaran normal. pada umunya mempunyai grafik histogram yang unimodal. Setelah semua data – data tersebut didapat maka dapat dibuat suatu diagram histogram.3 Kepencengan (Skewness) Kepencengan (skewness) adalah penyimpangan distribusi ukuran butir terhadap distribusi normal. Butiran yang lebih kasar serta lebih halus tersebar disisi kanan dan kiri dalam jumlah yang sama. 1962). serta endapan gurun..

72 Subequant 0.72-0.60 Very elongate 0.69-0.69 Intermediate shae 0. maka semakin jauh butiran tertransportasi.63 Elongate 0. Sphericity dapat juga diartikan sebagai ukuran bagaimana suatu butiran memiliki kenampakan mendekati bentuk bola. derajat kebolaan dan derajat kebundaran.60-0. Jika mekanisme transportasi dan pengendapan berjalan dengan normal. Nilai sphericity yang digunakan berdasarkan klasifikasi Folk (1968): Hitungan Matematis Kelas 0. maka nilai sphericitynya semakin tinggi.63-0.66 Subelongate 0. Aspek morfologi butir adalah bentuk.75 Equant >0.ketika transport dan membentuk butir dengan sumbu lebih pendek dari kedua sumbu yang lain.66-0.75 Very equant .

pukul 08.diakses iiiiiiiiiiipada tanggal 11 Oktober 2016. Salamba.Principle Sedimentology and Stratigrafi. . Mual Maul.http://God of Geology.html.54 iiiiiiiiiiiWITA.html.Bab 3 Tekstur Sedimen.10 WITA.diakses pada tanggal 11 Oktober 2014. DAFTAR PUSTAKA Jr.2012. Sam Boggs.http://Wingman Arrows. Daud Rani.pukul 23.1987.Praktikum Sedimentologi iiiiiiiiiiiAnalisa Ukuran Butir.Colombus:Merrill iiiiiiiiiiiPublishing Company.2013.

Tinggi Derajat Kejernihan : Translucent .subrounded Relief : Sedang.Opaq Jenis Mineral : Terrigen Ukuran Mineral : 1/4 – 1 mm No Nama Ukuran Presen Warna Bentuk Jenis Mineral . Orthoklas Merah subangular 1/4-1 Terigen 20% muda 4. Kuarsa Putih angular 1/4-1 Terigen 10% bening 3.1 Sampel Sungai 1 No. Sampel : S1 No. Olivin Hijau Subangular 1/4-1 Terigen 40% 2. Stasiun :3 Perbesaran : 20 x Warna : Hijau kemerahan Bentuk : Subangular . Mineral (mm) tasi (%) 1. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Piroksin Hitam subangular 1/4-1 Terien 30% .1 Hasil 3.1.

Tinggi Derajat Kejernihan : Translucent . Piroksin Hitam subangular 1/4-1 Terien 10% .Subangular Relief : Sedang .2 Sampel Trenching-1 S No.1. Mineral (mm) Mineral tasi (%) 1. Stasiun :4 Perbesaran : 20 x Warna : Hijau kemerahan Bentuk : Angular. Olivin Hijau Subangular 1/4-1 Terigen 20% 2. Sampel : TR-1 S No. Orthoklas Merah subangular 1/4-1 Terigen 30% muda 4.3.opaq Jenis Mineral : Terigen Ukuran Mineral : 1/4-1 mm No Nama Ukuran Jenis Presen Warna Bentuk . Kuarsa Putih angular 1/4-1 Terigen 40% bening 3.

Stasiun :5 erbesaran : 20X Warna : Hijau kehitaman Bentuk : Angular-Subangular Relief : Sedang.1. Piroksin Hitam subangular 1/4-1 Terien 40% .Opaq Jenis Mineral : Terrigen Ukuran Mineral : 1/4 – 1 mm No Nama Ukuran Jenis Presen Warna Bentuk .3 Sampel Sungai 3 No. Kuarsa Putih angular 1/4-1 Terigen 20% bening 3. Sampel : S3 No.Tinggi Derajat Kejernihan : Translucent . Mineral (mm) Mineral tasi (%) 1. Olivin Hijau Subangular 1/4-1 Terigen 30% 2. Orthoklas Merah subangular 1/4-1 Terigen 10% muda 4.3.

Mineral (mm) Mineral tasi (%) 1. Olivin Hijau Subangular 1/4-1 Terigen 30% 2. Sampel : S2 No.Opaq Jenis Mineral : Terrigen Ukuran Mineral : 1/4 – 1 mm No Nama Ukuran Jenis Presen Warna Bentuk .4 Sampel Sungai 2 No.1. Piroksin Hitam subangular 1/4-1 Terien 20% . Kuarsa Putih angular 1/4-1 Terigen 30% bening 3.3. Stasiun :6 erbesaran : 20X Warna : Hijau kehitaman Bentuk : Angular-Subangular Relief : Sedang.Tinggi Derajat Kejernihan : Translucent . Orthoklas Merah subangular 1/4-1 Terigen 20% muda 4.

Sampel : TR-2 No. Stasiun :7 erbesaran : 20X Warna : Hijau kemerahan Bentuk : Angular-Subangular Relief : Sedang. Olivin Hijau Subangular 1/4-1 Terigen 30% 2. Mineral (mm) Mineral tasi (%) 1. Piroksin Hitam subangular 1/4-1 Terien 25% .1.Tinggi Derajat Kejernihan : Translucent . Kuarsa Putih angular 1/4-1 Terigen 20% bening 3.5 Sampel Trenching 2 No.Opaq Jenis Mineral : Terrigen Ukuran Mineral : 1/4 – 1 mm No Nama Ukuran Jenis Presen Warna Bentuk . Orthoklas Merah subangular 1/4-1 Terigen 25% muda 4.3.

Sampel : S1 No. Bentuk dari materialnya ialah subrounded sampai rounded.1 Sampel Sungai 1 No. Stasiun :3 Perbesaran : 20 x Warna : Hijau kemerahan Bentuk : Subangular .3. Reliefnya sedang sampai relief . Orthoklas Merah subangular 1/4-1 Terigen 20% muda 4.2 Pembahasan 3. Mineral (mm) tasi (%) 1.1.Opaq Jenis Mineral : Terrigen Ukuran Mineral : 1/4 – 1 mm No Nama Ukuran Presen Warna Bentuk Jenis Mineral . Olivin Hijau Subangular 1/4-1 Terigen 40% 2. Piroksin Hitam subangular 1/4-1 Terien 30% Sampel material pada pit 1 yang diamati dengan mikroskop perbesaran 20 kali memiliki warna hijau kekuningan sampai warna hitam.2.1 Sampel Sungai 1 3.subrounded Relief : Sedang.Tinggi Derajat Kejernihan : Translucent . Kuarsa Putih angular 1/4-1 Terigen 10% bening 3.

tinggi. erosi. kuarsa. kuarsa. translucent ialah kemampuan meloloskan sebagian cahaya. sedangkan opaq ialah kemampuan suatu material dimana tidak dapat meloloskan cahaya.1 Sampel Pit 2 Sampel material pada pit 2 yang diamati dengan mikroskop perbesaran 20 kali memiliki warna hijau kekuningan sampai warna hitam.2 Sampel Pit 3 . Bentuk dari materialnya ialah subangular sampai angular. yaitu mineral-mineral merupakan pecahan atau hasil pelapukan. yakni material pasir kasar. Derajat kejernihan dari material ini ialah translucent sampai opaq. dan orthoklas 3. dan transportasi dari batuan asal. piroksin. Ukuran butir ialah 1/4-1 mm. Derajat kejernihan dari material ini ialah translucent sampai opaq. Jenis mineral ialah terrigen. Reliefnya sedang sampai relief tinggi. Ukuran butir ialah 1/4-1 mm.1. Jenis mineral ialah terrigen.1. sedangkan opaq ialah kemampuan suatu material dimana tidak dapat meloloskan cahaya. dan orthoklas. erosi. yakni material pasir kasar. dan transportasi dari batuan asal. 3. Dimana derajat kejernihan ialah kemampuan suatu material dalam meloloskan cahaya. Adapun partikel-partikel pada mial ini mencakup mineral olivin. translucent ialah kemampuan meloloskan sebagian cahaya. yaitu mineral-mineral merupakan pecahan atau hasil pelapukan. Adapun partikel-partikel pada mial ini mencakup mineral olivin. piroksin. Dimana derajat kejernihan ialah kemampuan suatu material dalam meloloskan cahaya.

Jenis mineral ialah terrigen. translucent ialah kemampuan meneruskan sebagian cahaya. yaitu mineral-mineral merupakan pecahan atau hasil pelapukan. Reliefnya sedang sampai relief tinggi. kuarsa. Ukuran butir ialah 1/4-1 mm. Bentuk dari materialnya ialah subangular sampai angular. erosi. yakni material pasir kasar Adapun partikel-partikel pada mial ini mencakup mineral olivin. Dimana derajat kejernihan ialah kemampuan suatu material dalam meneruskan cahaya. Derajat kejernihan dari material ini ialah translucent sampai opaq. Sampel material pada pit 3 yang diamati dengan mikroskop perbesaran 20 kali memiliki warna hijau kekuningan sampai warna hitam. piroksin. dan transportasi dari batuan asal. sedangkan opaq ialah kemampuan suatu material dimana tidak dapat meloloskan cahaya. dan orthoklas .

. sebab berasal dari pecahan batuan sebelumnya. dan piroksin. orthoklas. 4. Partitkel pada material sedimen pantai Tanjung Bayang menunjukkan adanya mineral olivin. Partikel pada material sedimen ini merupakan jenis terrigen. Adapun saran untuk asisten ialah agar kiranya asisten lengkap ketika praktikum diadakan.2 Saran Adapun saran yang diajukan kepada laboratorium ialah agar kiranya kursi dicukupkan supaya praktikan tidak perlu lagi mencari dan tidak mengifisiensikan waktu untuk praktikum hanya untuk mencari kursi. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum sedimentologi acara kedua Smear Slide ialah sebagai berikut: a. kuarsa. b.