You are on page 1of 2

Kontribusi Kecil Kaum Muda dalam Pengawasan terhadap Sektor Perpajakan

di Indonesia
Sektor pajak merupakan sektor paling krusial dalam peranannya sebagai sumber
pendanaan belanja negara. Pajak hampir selalu menyumbang penerimaan paling besar dari
keseluruhan penerimaan negara di seluruh dunia, di Indonesia sendiri sektor pajak masih
tetap paling dominan dalam menyokong penerimaan negara dibanding sektor-sektor lain
semacam penerimaan migas atau penerimaan non-migas. Pajak menyumbang hampir 80%
dari total penerimaan Indonesia. Pada tahun 2011, sektor pajak menyumbang Rp 872,6
Trilyun dan pada 2012 sudah ditetapkan target penerimaan pajak pada APBN 2012 sebesar
Rp 1.032,5 Trilyun yang kemudian diubah menjadi Rp 1.011 Trilyun dalam APBN-P 2012.
Penerimaan dari sektor pajak tidak bisa dilepaskan dari usaha fiskus dalam
menjalankan administrasi perpajakan dan kerelaan wajib pajak dalam menyerahkan sebagian
pendapatannya untuk ikut serta dalam pembangunan negara melalui pajak. Hasil dari
penerimaan pajak tersebut yang nantinya digunakan oleh pemerintah untuk menjalankan
kegiatan dan belanja negara yang telah dirancang dalam APBN.
Terlepas dari sumbangan sektor pajak yang sangat dominan di Indonesia, perlu
diketahui bahwa tahun 2011 realisasi penerimaan pajak Indonesia tidak mencapai target.
Penerimaan pajak tahun 2011 sekitar 99,3% dari target yang telah ditentukan pemerintah
dalam APBN-P 2011. Begitu pula ditahun 2012, terlihat dalam APBN-P target penerimaan
sektor pajak diturunkan sebesar Rp 21 Trilyun. Padahal harus tetap diingat juga bahwa
Indonesia setiap tahunnya masih mengalami defisit anggaran. Penerimaan masih belum bisa
menutup semua pengeluaran yang ditetapkan pemerintah dalam APBN. Untuk tahun 2012
saja sisi pengeluaran negara ditargetkan sebesar Rp 1.418,4 Triyun sedangkan sisi
penerimaan ditarget sebesar Rp 1292,8 Trilyun. Terlihat bahwa pemerintah tahun 2012
menanggung defisit sebesar Rp 125,6 Trilyun yang akan ditutup dari pinjaman dalam negeri
maupun luar negeri.
Beberapa alasan dikemukakan terhadap permasalahan tersebut. Salah satunya adalah
terbatasnya sumber-sumber dana yang dihasilkan dari sektor pajak. Ini artinya dari sejumlah
penerimaan dari sektor pajak tersebut masih ada peluang untuk ditingkatkan dengan cara
ekstensifikasi yakni dengan menambah daftar wajib pajak baru sehingga efeknya juga akan
menambah penerimaan negara sektor pajak. Sektor pajak memang butuh dieksplorasi lebih
mendalam agar menjadi sumber penerimaan negara yang dapat menutup defisit anggaran.
Selain perlunya ekstenisifikasi, ada juga pendapat tentang intensifikasi. Sejumlah ahli
mengungkapkan penyebab kurangnya penerimaan dalam pajak yakni adanya oknum-oknum
yang bermain mengatur jumlah pajak yang harus dibayar oleh individu maupun badan
tertentu. Beberapa oknum secara nyata melakukan lobi-lobi untuk memperkecil nominal
pajak mereka atau bahkan menghilangkan beban pajak mereka seperti kasus-kasus penyuapan
terhadap oknum di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) oleh rekanan perusahaan. Dana yang
seharusnya masuk kas negara menjadi hilang akibat negosiasi beberapa oknum yang hanya
mementingkan diri sendiri. Keegoisan suatu oknum yang ingin meraup keuntungan sebesar-
besarnya tanpa mau ikut berpartisipasi dalam membangun negara dengan membayar pajak.
Kepentingan individu diletakkan diatas kepentingan negara. Sebuah keironisan yang sangat
susah dibayangkan ketika telah jelas anggaran negara kita masih defisit namun masih
melakukan tindakan korupsi yang merugikan negara.
Dengan keadaan seperti ini, lembaga pengawas seperti Direktorat Jenderal Pajak
(DJP), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian atau lembaga pengawas lain yang
mempunyai wewenang untuk menindak oknum-oknum tersebut yang dianggap merugikan
negara. Namun hambatan masih menghadang para lembaga penegak hukum tersebut salah
satunya yakni jumlah anggota mereka yang sangat terbatas untuk mengawasi wilayah
cakupan pengawasan yang sangat luas hingga pelosok daerah di Indonesia. Sangat tidak ideal
dari sisi jumlah. Maka dari itu, diperlukan juga lembaga pengawas independen yang ikut
membantu peran lembaga pengawas untuk mempersempit ruang gerak oknum-oknum
tersebut. Dibutuhkan lembaga independen seperti Indonesia Corruption Watch (ICW) yang
ikut ambil bagian dalam melakukan fungsi pengawasan. Disinilah peran pemuda-pemuda
khususnya para mahasiswa yang telah dibekali ilmu pajak sangat diperlukan.
Tindakan nyata yang bisa dilakukan para mahasiswa dalam keterlibatannya di dunia
perpajakan adalah mendirikan suatu lembaga sosial yang bergerak di bidang pengawasan
sektor perpajakan. Dengan lembaga independen tersebut, sebagai kalangan akademisi,
mahasiswa dapat berperan aktif dalam upaya membela negara dari oknum yang merugikan
negara sesuai profesinya yakni mahasiswa. Hal tersebut juga berarti menjalankan amanah
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 27 ayat 3.
Mereka dituntut bisa mengaplikasikan ilmu mereka untuk membantu peran lembaga
pengawas dalam mengawasi kegiatan-kegiatan dalam dunia perpajakan. Mereka bisa
menyimpulkan manakah kegiatan yang wajar, manakah kegiatan yang mencurigakan dalam
penetapan beban pajak kepada individu maupun perusahaan. Ketika menemukan indikasi
ketidakberesan dalam penetapan pajak mereka dapat melaporkan kejanggalan tersebut pada
Direktoran Jenderal Pajak (DJP) maupun lembaga lain yang berwenang. Dengan begitu,
sinergi antara aparat pengawas serta mahasiswa sangat ideal dari segi jumlah untuk
melakukan pengawasan dengan cakupan sekuruh wilayah Indonesia.
Lembaga pengawas pajak independen merupakan wujud nyata dari aksi mahasiswa
untuk membantu sektor perpajakan Indonesia yang lebih baik. Selain berlajar teori dari
kampus, dengan lembaga tersebut mereka bisa langsung mempraktikkan teori yang didapat.
Mahasiswa yang mempunyai fungsi-fungsi sebagai Agent of Change, Iron Stock, Moral
Force, dan Social Control harus benar-benar melaksanakan fungsi-fungsinya.
Bagi lembaga pengawas, adanya lembaga independen dari mahasiswa tentu
memberikan keuntungan untuk fokus pada penanganan kasus tertentu yang perlu
penganganan khusus. Bagi mahasiswa, aksi ini tentu dapat menjadi tempat persiapan mencari
pengalaman sebelum mereka benar-benar terjun dalam dunia perpajakan selain itu juga
menanamkan tindakan anti korupsi sejak tahap awal sebelum mereka berkarir di dunia
perpajakan. Lembaga terkait khususnya Direktorat Jenderal Pajak hanya perlu memberikan
training tambahan kepada para mahasiswa untuk melengkapi ilmu mereka. Dengan simbiosis
mutualisme tersebut bisa diciptakan dunia perpajakan yang lebih baik.
Jika tindakan ini benar-benar berhasil maka efek terbesar adalah meningkatnya
jumlah penerimaan negara. Dana-dana yang sebelumnya tidak masuk ke kas negara akan
menjadi tambahan dana penerimaan negara. Harapan terbesar tentu dengan meningkatnya
penerimaan dari sektor pajak akan mampu menutup defisit anggaran yang terjadi. Sebuah
sistem besar memang harus dirancang untuk hasil yang besar.