You are on page 1of 26

UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 0

MIKROBIOLOGI FARMASI TERAPAN

PRAKTIKUM
UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK

NAMA : MUAMMAR FAWWAZ
NO. POKOK : 150 240 142
KELOMPOK : 1 ( SATU )
KELAS : FW - L
ASISTEN : ANDI AMPA ULENG

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR

MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG

UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 1

2006
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Antibiotik atau antimikroba merupakan obat yang paling banyak

digunakan dalam dunia pengobatan, khususnya untuk mengobati penyakit

yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau mikroba.

Obat-obat antimikroba efektif dalam pengobatan infeksi karena

toksisitas selektifnya – kemampuan obat tersebut membunuh

mikroorganisme yang menginvasi penjamu tanpa merusak sel. Pada

kebanyakan kasus, toksisitas lebih relatif daripada absolut, yang memerlukan

kontrol konsentrasi obat secara hati-hati untuk menyerang mikroorganisme

sehingga dapat ditolerir oleh tubuh.

Potensi antibiotik yang rendah hanya mamapu menghambat atau

mematikam mikroba dalam jumlah terbatas, bahkan dapat menstimulir

mikroba untuk membentuk mekanisme kekebalan terhadap antibiotic.

Pada praktikum kali ini akan dilakukan uji skrining pada bahan alam

yang di duga memiliki khasiat antibiotic, serta melihat kerja atau efektivitas

antibiotic tersebut terhadap mikroorganisme tertentu. Dasar sehingga

praktikum ini dilakukan yaitu untuk memperluas pengetahuan akan adanya

kemampuan dari bahan alam untuk berfungsi sebagai antimikroba.

MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG

BAB II MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . D. C. Tujuan Percobaan Untuk melakukan uji skrining dan aktivitas antimikroba terhadap ekstrak jarak (Ricinus communis) E. Maksud Percobaan Untuk mengetahui dan memahami cara melakukan uji skrining dan uji aktivitas antimikroba terhadap bahan alam tertentu. Manfaat Percobaan Agar dalam pemilihan obat tradisional yang berkhasiat antibiotic tepat pada sasarannya. serta merupakan dasar untuk mensintesis obat antibiotic dari bahan alam yang baru. Rumusan Masalah Bagaimana cara melakukan uji skrining dan mengetahui adanya aktivitas antimikroba pada bahan alam tertentu.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 2 B.

(Rahardja.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 3 TINJAUAN PUSTAKA A. (Ganiswara..Florey (Oxford).. dan hewan). 3. yang dimaksud dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit. S. G. tumbuhan. Teori Umum Kegiatan antibiotika untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). K. 1995). khususnya mikroba yang merugikan manusia. Faktor mikroorganismenya sebagai agen pathogen 2. maka akan dihadapkan atas tiga factor yaitu : 1. Dalam pengobatan suatu infeksi dengan menggunakan antimikroba terhadap organisme (manusia.. 2001) Antimikroba (AM) ialah obat pembasmi mikroba. Tetapi penemuan ini baru diperkembangkan dan dipergunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr. Dalam pembicaraan di sini. Faktor animikrobanya Efektivitas antimikroba pada pengobatan infeksi dalam klinis tergantung pada keampuan obat untuk membatasi atau mengurangi MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . Kemudian banyak zat lain dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik di seluruh dunia. akan tetapi berhubung dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat. Tan Hoan Tjay. Faktor hospes atau inang yaitu manusia yang diinfeksi oleh mikroorganisme.

gangguan pada flora normal mikroorganisme. termasuk keungkinan efek yang merugikan antara lain toksisitas secara langsung. 2003). M.Sartini. Penggunaan antimikroba yang tepat meliputi pertimbangan kepekaan obat terhadap mikroorganisme pathogen dan beberapa factor lain. (Djide. (Djide..Syaharuddin Kadir. maupun untuk memperoleh MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 4 mikroorganisme pada tempat infeksi. M. 2003). sedangkan obat-obat bakteriosid menyebabkan kematian suatu mikroorganisme. Program skrining yang luas direncanakan untuk menemukan bahan yang mungkin efektif dalam pengobatan infeksi yang pada saat ini telah resistensi terhadap bahan kemoterapeutika. reaksi alergi..N. Derajat strain suatu mikroorganisme secara invitro dapat dipengaruhi terutama oleh obat antimikroba yang dipelajari di laboratorium untuk mengetahui kadar hambatan minimum (KHM) atau MIC (minimal inhibitor consentration) yaitu konsentrasi antimikroba terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme..Syaharuddin Kadir.N. Obat-obat yang bersifat bakteriostatik terutama menghambat replikasi dari mikroorganisme.. Pada keadaan tertentu dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan dalam penggunaan kombinasi obat-obta antimikroba dan penggunaannya untuk profilaktis. Pada kebanyakan infeksi mekanisme pertahanan local dan sistemik memainkan peranan penting dalam menurunkan efek patogenitas suatu mikroorganisme.Sartini.

UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 5 terapi yang aman dan lebih cepat terhadap suatu infeksi. Contohnya : kelompok penisilin dan sefalosporin. I. MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .. Hasilnya. amfoterisin) dan imidazol (mikonazol. pengamatan serupa dilakukan juga oleh fleeming (1929) Penicillium notatum yang menghambat petumbuhan Stapilococus aureus. Antibiotic adalah bahan antimicrobial yang dihasilkan mikroorganisme hidup.. hingga menjadi lebih permeable. dan lain-lain). Membran sel : molekul lipoprotein dari membran plasma (di dalam dinding sel) dikacaukan sintesanya. Antibiotic yang dikembangkan setelah penisilin kebanyakan dari Streptomyces. zat-zat penting dari isi sel dapat merembas keluar.Syaharuddin Kadir.. terutama dengan penghambatan sintesa materi penting dari bakteri. Kemoterapeutika dapat melakukan aktivitasnya lewat beberapa mekanisme. 2001) : 1. 1992). (Bibiana. 2003). 2. Contohnya : polipeptida dan polyen (nistatin. Mikroorganisme lainnnya yang dapat digunakan untuk menghasilkan antibiotic adalah bakteri Actinoycetes dan fungi. (Djide. M.N. W Lay.Sartini. Pasteur (1877) pertama kali melaporkan adanya pencemar dari udara yang mengakibatkan sifat lethal pada Bacilus antrachis . W Lay. misalnya dari (Entjang. Dinding sel : sintesanya terganggu sehingga dinding menjadi kurang sempurna dan tidak tahan terhadap tekanan osmotis dari plasma dengan akibat pecah. (Bibiana. ketokonazol. 1992).

4. Asam-asam inti (DNA. Obat menyaingi zat-zat yang penting metabolisme kuman hingga pertukaran zatnya terhenti. Agar (Ditjen POM. misalnya kloramfenikol. B. antara lain sulfonamida. 1979 : 74) MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . dan asiklovir (DNA). Uraian Bahan 1. trimetoprim. asam nalidiksat dan kinolon. PAS. dan INH. dan makrolida. tetrasiklin. aminoglikosida. IDU. 5.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 6 3. Antagonisme saingan. Protein sel : sintesanya terganggu. RNA) : rifampisin (RNA).

07 RB : CH3-CH2-OH MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . alkohol RM / BM : C2H6O / 46. Air suling (Ditjen POM. tidak berwarna.02 Pemerian : Cairan jernih. Alkohol (Ditjen POM. 1979 : 96) Nama resmi : Aqua destillata Nama lain : Aquades.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 7 Nama resmi : Agar Sinonim : Agar-agar Pemerian : Tidak berbau atau berasa Kelarutan : Tidak larut dalam air dingin. air suling RM / BM : H2O/18. tidak berbau. tidak mempunyai rasa. Kegunaan : Sebagai pelarut 3. 1979 : 65) Nama resmi : Aethanolum Nama lain : Etanol. larut dalam air mendidih Penyimpanan : Dalam wadah terutup rapat Khasiat : Zat tambahan Kegunaan : Sebagai pemadat 2.

1995 : 632) Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak. dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta. Pemerian : Massa berbentuk pasta. sedikit asam. Penyimpanan : Wadah tidak tembus cahaya. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat Khasiat : Zat tambahan Kegunaan : Sebagai Antiseptik 4. tertutup rapat Kegunaan : Sebagai komposisi medium 5. bau khas. dalam kloroform P dan dalam eter P. mudah menguap dan mudah bergerak.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 8 Pemerian : Cairan tak berwarna. berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua. DMSO (Ditjen POM. jernih. Beef ekstrak (Ditjen POM. rasa panas. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air. bau dan rasa seperi daging. mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. 1979 : 669) MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .

UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 9 Nama resmi : Dimetilsulfoksida Nama lain : DMSO Rumus molekul : CH3SOCH3 Pemerian : Cairan kental. 1979 : 721) Nama resmi : Pepton Sinonim : Pepton Pemerian : Serbuk. dan dalam eter P Kegunaan : Pelarut ekstrak Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat 6. Pepton (Ditjen POM. memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi agak asam. bau khas tidak busuk. Khasiat : Zat tambahan Kegunaan : Sebagai komposisi medium C. tidak berwarna. Uraian Mikroba 1. jernih. praktis tidak larut dalam etanol (95 %) P dan dalam eter P. Klasifikasi Mikroba MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . higroskopik Kelarutan : Larut dalam air. kuning kemerahan sampai coklat. dalam etanol (95%) P. Kelarutan : Larut dalam air.

Staphylococcus aureus (Fardiaz. 1986 : 123) Kingdom : Protista Phylum : Protophyta Class : Schyzomycetes Ordo : Entero Famili : Enterobacteriaceae Genus : Salmonella Spesies : Salmonella typhosa c.. 1986 : 123) Kingdom : Protista Phylum : Protophyta Kelas : Schyzomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Enterobacteriaceae Genus : Escherichia Spesies : Escherichia coli b. Unus. 1993 : 123) Kingdom : Protista Phylum : Protophyta Class : Schyzomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Micrococcaceae MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . Salmonella typhosa (Suriawiria.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 10 a. S. Unus. Escherichia coli (Suriawiria.

1986 : 169-170) Batang lurus.0 – 6. J. 1. Morfologi Mikroba a. Gram negatif.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 11 Genus : Staphylococcus Spesies : Staphylococcus aureus d.1986 : 169-170) MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . Salmonella typhosa (Pelczar. Koloninya utamanya pada nutrien gelatin. b. Michael.1 – 1. Jika ditumbuhkan pada medium Eosin Metilen Biru Agar. Michael. Escherichia coli (Pelczar. koloninya tampak seperti logam kemilau. J.. 1993 : 123) Kingdom : Protista Divisio : Protophyta Classis : Schizomycetes Ordo : Pseudomonales Familia : Pseudomonaceae Genus : Pseudomonas Spesies : Pseudomonas aeruginosa 2. smooth dan seragam konsistensinya. buram tidak tembus cahaya sampai sebagian translusent.5 μm x 2.0 µm. S. motil dengan flagelum peritritikus atau non motil. Tumbuh dengan mudah pada medium nutrien sederhana. Laktose difermentasi oleh sebagian besar galur dengan produksi asam dan gas. Pseudomonas aeruginosa (Fardiaz.

dan dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon. dan secara khas membelah diri pada lebih dari satu bidang sehingga membentuk gerombol yang tidak teratur. dan berkilauan dalam penampakannya. smooth. J. Michael. dan selaput lendir hewan berdarah panas. Suhu optimum 35 – 400C.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 12 Batang. c. catalse positif. J. Pertumbuhan pada medium agar abundant.5 µm terdapat tunggal dan berpasangan. Metabolisme dengan respirasi dan fermentatif. Michael. Anaerob fakultatif. berdiameter 0. dan koloninya buram dan tidak tembus cahaya. Terutama berasosiasi dengan kulit. Dinding sel mengandung dua komponen utama : peptidoglikan serta asam tekoat yang berkaitan dengannya. d.1986 : 175) Sel-sel berbentuk bola. Non motil. Gram positif. Beberapa Staphylococcus bentuk lipochrome pigmen yang memberikan koloni kuning emas atau kuning lemon dimana yang lainnya tidak dan putih. Pseudomonas aeroginosa (Pelczar. Tidak diketahui adanya stadium istirahat. Fakultatif anaerob. Kebanyakan galur akan tumbuh pada medium sintesis tanpa faktor tumbuh khusus. Staphylococcus aureus (Pelczar. Kemoorganotrof. tumbuh lebih cepat dan lebih banyak dalam keadaan aerobik.1986 : 168) MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . biasanya motil dengan flagelum peritrikus.5 sampai 1.

Katalase positif. batang lurus atau melengkung. Biasanya dalam bentuk pasangan dan rantai pendek. namun tidak berbentuk heliks. Gram negatif. O 2 molekuler merupakan penerima electron universal. monotrikus atau multitrikus.5 – 1. 1995) Klassifikasi : MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .5 – 4. Tidak menghasilkan selongsong prosteka. Aerobik sejati. D. tidak pernah fermentatif.G.0 µm. Motil dengan flagelum polar. Jarak ((Tjiitrosoepomo.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 13 Sel tunggal.. Metabolisme dengan respirasi.0 µm x 1. Beberapa merupakan kemilitotrof fakultataif. dapat menggunakan H2 dan CO sebagai sumber energi. Pada umumnya berukuran 0. kecuali spesies-spesies yang dapat menggunakan denitrifikasi sebagai cara respirasi anaerobic. Uraian Sampel 1. beberapa dapat melakukandenitrifikasi dengan menggunakan nitrat sebagai penerima pilihan. Tidak dikenal adanya stadium istirahat. Kemoorganotrof.

bulu-bulu akar berfungsi untuk memperluas daerah penyerapan makanan.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 14 Regnum : Plantae Divisio : Spermathopyta Sub division : Angiospermae Class : Dicotyledonae Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Ricinus Species : Ricinus communis Morfologi : Merupakan tumbuhan dikotil yang nerakar tunggang. Autoklaf MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . kaliptra berfungsi melindungi jaringan yang masih muda dan lemah. Alat 1. meskipun akar tunggang yang bercabang. BAB III METODE KERJA A. ujung akarnya berfungsi menembus tanah.

Inkubator 7. Bahan 1. Air suling 2. Cawan petri steril 4. Hands spray 6. Ekstrak jarak (Ricinus communis) 6. Aluminium foil 4. Erlenmeyer 5. Vial B. DMSO (Dimetil sulfoksida) 5. Mikropipet 9. Lampu spiritus 8. Alkohol 70 % 3.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 15 2. Pipa kapiler 11. Pinset 10. Medium Nutrien Agar (NA) 7. Suspensi bakteri Eschericia coli 8. Suspensi bakteri Pseudomonas aeruginosa MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . Botol pengencer 3. Spoit 12. Tabung reaksi 13.

Uji Skrining 1. 3. Uji Aktivitas Antimikroba dengan KLT Bioautografi 1. dan dibiarkan hingga memadat 5. Bakteri uji ditambahkan sebanyak 10 mikropipet kedalam 3 bagian cawan petri. Di tuang ke dalam cawan petri steril. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Ditambahkan 20 mikron bakteri uji ke dalam cawan petri steril. kemudian ditambahkan 02 ml DMSO dan ditambah lagi medium 10 ml NA. Diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x 24 jam. MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . 3. 6. Cara Kerja A. kemudian ditambahkan lagi dengan 10 ml medium NA. Diamati perubahan pada medium. Dimasukkan 0. Suspensi biakan Streptococcus mutans 12.1 ml ekstrak Ricinus communis ke dalam botol pengencer. Suspensi bakteri Salmonella thyposa 11. Suspensi biakan Vibrio colera C. B. Suspensi bakteri Staphylococcus aureus 10. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. 7. Semua campuran dalam botol pengencer dihomogenkan 4. Dibiarkan hingga setengah padat.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 16 9.

toksisitas selektif lebih bersifat relatif dan bukan absolut. Diinkubasi pada suhu 37 oC selama 1 x 24 jam 7.5) dan n-Hexan : Etil asetat (8: 2) 5. kemudian di rapatkan. ini MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . lalu di elusi dalam dua chamber yang masing-masing berisi larutan eluen CHCl3 : C2H5OH : air (15 : 6 : 0. Pembahasan Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas selektif.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 17 4. Seringkali. Istilah ini berarti bahwa suatu obat berbahaya bagi parasit tetapi tidak membahayakan inang. D. 6. dengan cara penempelan antara permukaan medium dengan permukaan ekstrak yang telah ditotol. Diamati pertumbuhan mikroba pada medium dan di ukur Rf ekstrak pada lempeng KLT. Ekstrak kemudian di totolkan pada lempeng KLT yang telah diukur. Setelah ekstrak pada lempeng sudah kering. lalu dimasukkan ke dalam cawan petri tadi.

Pada praktikum kali ini dilakukan uji skrining terhadap bahan alam berupa ekstrak Ricinus communis. Lapisan kedua disebut seed layer yang merupakan media pertumbuhan atau sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroba uji.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 18 berarti bahwa suatu obat yang pada konsentrasi tertentu dapat ditoleransi oleh inang. Dalam pembicaraan di sini. yang dimaksud dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit. dan setelah kering maka diletakkan diatas medium dengan sedikit penekanan. Antimikroba ialah obat pembasmi mikroba. kemudian di elusi dengan menggunakan eluen yang cocok. Pada metode difusi agar terlihat adanya zona hambatan yang diameternya lebih besar dibandingkan MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . Dari kedua metode ini dapat dilihat keefektifannya dengan mengamati perubahan yang terjadi pada medium. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode KLT bioautografi yakni dengan menotolkan sample pada lempeng KLT. Dasar sehingga praktikum ini dilakukan yaitu untuk memperluas pengetahuan akan adanya kemampuan dari bahan alam untuk berfungsi sebagai antimikroba. dapat merusak parasit. dimana medium Nutrien Agar (NA) dituang ke dalam cawan petri dalam 2 lapisan. Metode lain yaitu metode tuang atau difusi. Lapisan pertama disebut base layer yang merupakan lapisan penyangga atau penopang dan untuk menjaga agar paper disk yang digunakan sebagai tempat sampel tidak menyentuh cawan petri. khususnya mikroba yang merugikan manusia.

Pengukuran diameter zona hambatan dilakukan sebanyak 3 kali karena zona yang terbentuk tidak berupa lingkaran. dibanding dengan metode KLT dimana konsistensi dari bahan antibiotiknya dalam keadaan kering. Zona bening ini terbentuk karena didaerah tersebut pertumbuhan mikroba uji dihambat oleh sampel uji. dengan demikian medium yang digunakan harus menunjang pertumbuhan bakteri. sample langsung berinteraksi dengan medium melalui proses difusi pasif yang di dukung oleh konsistensi sampel yakni bentuk cair. Mekanisme pembentukan zona hambatan pada medium yaitu. selama masa inkubasi akan terjadi proses difusi antibiotic ke dalam gel dan membentuk daerah hambatan (zone). sehingga efektivitas antibiotinya lebih baik. Mikroorganisme yang digunakan untuk pengujian adalah bakteri Stapilococus aureus. Besar-kecilnya zona bening yang terbentuk menjadi parameter kefektifan dari sampel uji dalam menghambat atau membunuh bakteri uji. yang hanya akan menghambat pertumbuhan mikroba pada diameter yang lebih sempit. pada metode difusi. Zona yang terbentuk inilah yang akan digunakan sebagai dasar kuantitatif untuk membandingkan potensi antibiotic baku.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 19 zona hambat yang terdapat pada medium dengan metode KLT bioautografi. akan terbentuk daerah hambatan berupa zona bening disekitar paper disk yang kemudian diukur dengan menggunakan mistar. Setelah cawan petri dinkubasi pada suhu 37 o C selama 1 x 24 jam. hal ini disebabkan karena. Medium yang digunakan pada percobaan MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .

di dapat hasil yaitu adanya zona bening yang merupakan zona hambat pertumbuhan mikroorganisme pada medium yang telah ditumbuhkan bakteri Escericia coli.0.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 20 ini adalah medium Nutrien Agar (NA). dan 15 %. 10 %. meskipun kisaran pH-nya adalah 5. sedangkan Vibrio cholera memerlukan pH 8. sebab medium ini mengandung karbon dan nitrogen yang dapat digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses metabolisme. Bakteri yang menghasilkan asam asetat dapat tumbuh pada keadaan asam 1N. hal ini bertujjuan untuk melihat kadar minimum pada sampel yang masih biasa menghambat MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .0. Untuk mengatur pH dapat ditambahkan HCl. Setelah dilakukan praktikum mengenai uji skrining. KOH atau NaOH.0. penggunaan pelarut ini disebabkan karena DMSO merupakan pelarut semi polar yang mana akan melarutkan senyawa- senyawa baik yang bersifat polar maupun nonpolar. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa Ricinus communis dapat dikategorikan sebagai antimikroba. Pada umunya bakteri tumbuh pada pH sekitar 7. ragi tumbuh dengan baik pada pH rendah (asam). Bahan yang digunakan untuk melarutkan sampel ekstrak jarak yaitu dimetil sulfoksida (DMSO).0. dilakukan tiga kali pengenceran yaitu 5 %. Pada pengujian aktivitas antibiotic dengan metode difusi agar.0-8. keperluan akan pH tertentu ini akan digunakan untuk mengisolasi bakteri. mikroorganisme yang hidup pada sumber air panas memerlukan pH 2.

penggunaan eluen ini bermaksud untuk mengelusi zat aktif yang terdapat pada ekstrak. dan konsentrasi 15% 3 mm. konsentrasi 10% diameter 9 mm. konsentrasi 5% diameternya 1mm. Untuk eluen n-heksan : etil asetat. dan Stapilococus aureus 4 mm. Pada metode KLT bioautografi. Kesimpulan Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa : MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . konsentrasi 10% 2 mm.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 21 pertumbuhan mikroba. Eluen yang digunakan untuk metode KLT bioautografi yaitu chloroform : etanol : air dan n-heksan : etil asetat. dan konsentrasi 15 % diameter hambatnya 11 mm. Pemilihan eluen tersebut disebabkan karena kedua perbandingan eluen itu sudah dapat mewakili fungsinya sebagai eluen polar dan nonpolar. dengan demikian semua senyawa pada ekstrak dapat terelusi baik polar maupun nonpolar. dan Stapilococus aureus masing-masing 5 mm. untuk eluen chloroform : etanol : air. BAB V PENUTUP A. sehingga zat aktifnya terpisah-pisahkan. diperoleh daya hambat Salmonella thyposa sebesar 6 mm. diameter hambatan Salmonella thyposa. untuk replikasi ke II. Untuk Salmonella thyposa pada replikasi I dengan konsentrasi 5% diameter hambatan 2 mm.

begitu pula sebaliknya. “Mikrobiologi dan Parasitologi”. Fakultas MIPA. semakin tinggi tingkat pengenceran maka aktivitas antimikrobanya semakin efektif. B. Jurusan Farmasi.. 2. Ekstrak jarak (Ricinus communis) merupakan bahan alam yang memiliki aktivitas antimikroba. etanol dan air memiliki pengaruh terhadap daya hambat antimikroba yang baik..Sartini. M. Pada metode difusi agar. (2003). perbandingan eluen chloroform.Syaharuddin Kadir.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 22 1. ” MIKROBIOLOGI FARMASI TERAPAN ”. 3. hal ini ditandai dengan diameter zona hambat yang dihasilkan lebih lebar dibandingkan eluen n-eksan : etil asetat. I.Makassar.N. Saran - DAFTAR PUSTAKA Djide. Uninersitas Hasanuddin. Bandung. hal ini ditandai dengan adanya zona hambat. PT Citra Aditya Bakti.. (2001).. Pada metode KLT bioautografi. Entjang. MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .

K. (2001). Skema Kerja 1. Fardiaz. Edisi V. Uji Skrining Extrak 0. Michael. UI Press. S.. “Obat-obat Penting”. Jakarta.1 ml DMSO 0. Unus. Bagian Farmakologi-Fakultas Kedokteran. Penerbit PT.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 23 Ganiswara.. S. (1995). Chan.C. Penerbit Angkasa. Bandung. Tan Hoan Tjay. Jakarta. “Mikrobiologi Pangan I”. (1986). Jakarta Suriawiria. Pelczar. Edisi 4.. (1993).2 ml (1) (2) Medium NA 10 ml MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . G. Rahardja. PT Elex Media Komputindo. “Dasar-dasar Mikrobiologi I”. J. dan E..S. Jakarta.. “Pengantar Mikrobiologi Umum”. Universitas Indonesia. (1986). “Farmakologi dan Terapi”.Gramedia Pustaka Utama.

Pseudomonas auroginosa 4. Vibrio cholera 5. Streptococus mutans Diamati pertumbuhan mikroba 3. Stapilococus aureus 6. Uji Aktivitas Antimikroba 20 mikron bakteri 10 ml Medium NA (1) (2) MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG . Salmonella thyposa 2. Escericia coli 2. 1 x 24 jam 1.UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 24 (3) Di homogenkan 1 4 3 5 2 6 Keterangan : Inkubasi pada suhu 37 oC.

UJI SKRINING DAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK 25 (3) Di elusi pada n-Hexan : Etil asetat dan CHCl3 : C2H5OH : air Di inkubasi pada suhu 37 oC Selama 1 x 24 jam Diamati perubahan yang terjadi Dan di ukur Rf MUAMMAR FAWWAZ (150 240 142) ANDI AMPA ULENG .