You are on page 1of 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang dapat membantu

manusia dalam memahami berbagai permasalahan baik dalam bidang sosial,

ekonomi, dan alam. Oleh karena itu matematika dapat dikatakan sebagai

landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena

matematika dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis,

sistematis dan matematika juga salah satu mata pelajaran penentu kelulusan

siswa pada Ujian Nasional.

Mengingat pentingnya matematika bagi perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi sudah selayaknya kualitas pemahaman matematika

ditingkatkan. Berbagai usaha dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan

agar mutu pendidikan matematika lebih baik, diantaranya meningkatkan

kualitas guru matematika, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan,

menyiapkan buku pegangan siswa dan guru, serta penyempurnaan kurikulum.

Walaupun telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah, namun pada

kenyataannya konsep–konsep yang diajarkan oleh guru di kelas masih kurang

dipahami oleh siswa, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal

matematika masih kurang, hal ini menjadikan siswa malas belajar matematika.

Realitanya masih banyak siswa yang mendapatkan nilai rendah dan

belum memahami berbagai konsep matematika. Oleh karena itu, guru haruslah

1

mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa

terutama dalam menemukan konsep-konsep matematika yang sangat penting.

Kemampuan pemahaman konsep siswa yang kurang maksimal tercermin dari

hasil belajar yang diperoleh siswa, salah satu contoh dilihat dari rendahnya

ketuntasan belajar matematika pada ujian mid semester siswa kelas VIII

MTsN Tarusan.

Tabel 1: Persentase Ketuntasan Siswa pada Ujian Mid Matematika
Kelas VIII Semester I pada Tahun Pelajaran 2010 / 2011.

Kelas Jumlah Nilai Ketuntasan
Siswa Rata-Rata Tidak Tuntas Tuntas
Jumlah % Jumlah %
VIII1 40 86,47 6 15 34 85
VIII2 40 64,9 29 72,5 11 27,5
VIII3 40 65,22 31 77,5 9 22,5
VIII4 39 65,33 35 89,7 4 10,3

Jumlah 101 58

Berdasarkan tabel 1 di atas terlihat bahwa masih banyak siswa kelas

VIII MTsN Tarusan yang tidak tuntas pada ujian Mid semester. Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) untuk pelajaran matematika di MTsN Tarusan

adalah 70. Data pada tabel 1 tersebut mengindfikasikan bahwa pemahaman

konsep siswa terhadap materi yang dipelajari masih relatif rendah.

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan bahwa rendahnya hasil

belajar di sebabkan karena berbagi hal, yang terjadi selama ini antaranya siswa

kurang bersemangat dan kurang aktif dalam belajar karena kegiatan belajar

masih terpusat pada guru sehingga terjadi proses pemanjaan pola pikir siswa

tersebut. Rendahnya minat siswa untuk bertanya, kurangnya motivasi siswa

untuk aktif mengemukakan ide-ide kreatif dan kemampuan berfikir kritis

sehingga siswa hanya menghafal tanpa mengerti isi dan konsep dari pelajaran

yang diberikan. Selain itu siswa beranggapan matematika pelajaran yang sulit

dan membosankan. Siswa tidak membaca buku sebelum mulai pelajaran

karena siswa terbiasa menanti apa yang disampaikan oleh guru. Ketika siswa

mengalami kesulitan, siswa tidak mau bertanya pada guru sehingga terlihat

sekali siswa kurang aktif selama proses pembelajaran berlangsung.

Selanjutnya saat diberikan tugas tidak semua siswa yang serius dalam

mengerjakannya, kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan teman yang

pandai, dengan kata lain pada umumnya siswa kurang bertanggung jawab

dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

Jika guru memberikan soal latihan yang modelnya tidak sama dengan

contoh, siswa kesulitan untuk menyelesaikan soal tersebut. Seperti ketika guru

menjelaskan materi Pythagoras, bahwa kuadrat sisi miring sama dengan

jumlah kuadrat sisi lainnya. Guru membuat sebuah gambar segitiga siku-siku

dengan c sebagai sisi miring, a dan b sebagai sisi siku-siku, maka 𝑐 2 = π‘Ž2 + 𝑏 2 .

kemudian guru memberikan soal lain dengan r sebagai sisi miring, p dan q

sebagai sisi siku-siku, kemudian guru menanyakan nilai π‘Ÿ 2 , namun sebagian

besar siswa menjawab π‘Ÿ 2 = π‘Ž2 +𝑏 2 . Hal ini mengidentifikasikan mereka kurang

paham terhadap konsep materi yang di ajarkan. sehingga mereka beranggapan

matematika merupakan pelajaran yang sulit dan membosankan.

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis

tertarik untuk menerapkan strategi true or false statement. Strategi true or

false statement merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran aktif yang

dapat menstimulasi keterlibatan siswa terhadap materi pelajaran yang

diberikan. Strategi ini merupakan aktifitas kolaboratif yang dapat mengajak

siswa untuk terlibat dalam materi pembelajaran berlangsung. Strategi ini dapat

menumbuhkan kerja sama tim dan saling bertukar pendapat (Zaini, 2008: 24).

Strategi True or False Statement mengharuskan siswa untuk

menyampaikan pendapat tentang benar atau salahkah pernyataan yang

diperoleh, yang sebelumnya sudah didiskusikan dalam kelompoknya. Siswa

akan lebih aktif karena mereka akan bertukar pikiran dengan anggota

kelompoknya demi keberhasilan kelompoknya dalam menjawab pernyataan

yang diberikan dengan materi pembelajaran yang sedang di kerjakan.

Penerapan strategi true or false statement diharapkan dapat mengetahui

pemahaman konsep matematika siswa serta dapat menimbulkan minat siswa

dalam proses pembelajaran matematika.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul ”Pengaruh Penerapan Strategi True or False

Statement Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika siswa

Kelas VIII MTsN Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang sebelumnya dapat diidentifikasi beberapa

masalah sebagai berikut:

1. Hasil belajar matematika siswa masih rendah

2. Proses pembelajaran matematika berlangsung satu arah

Pemahaman konsep siswa masih rendah. Pemahaman konsep siswa masih rendah. C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengemukakan ide-ide kreatifnya dalam pembelajaran. D. 2. 3. maka permasalahannya dapat dirumuskan: Apakah kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika dengan Strategi True or False Statement lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII MTsN Tarusan? . Pembatasan Masalah Mengingat keterbatasan waktu. maka penulis dalam penelitian ini menerapkan Strategi True or False Statement dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII MTsN Tarusan. 4. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengemukakan ide-ide kreatifnya dalam pembelajaran Untuk mengatasi masalah di atas. tenaga dan kemampuan yang penulis miliki dan agar terpusatnya penelitian ini maka penulis membatasi masalah penelitian sebagai berikut : 1.

F. Motivasi bagi siswa kelas VIII MTsN Tarusan agar aktif dan bekerja sama dengan kelompoknya untuk menemukan pemahaman konsep dalam menyelesaikan masalah matematika. 2. Bekal pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam mempersiapkan diri sebagai calon pendidik. 3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemahaman konsep siswa yang menerapkan srategi True Or False Statement lebih baik daripada pemahaman konsep siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional pada kelas VIII MTsN Tarusan. G.E. . Setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar matematika di dalam kelas. Guru mampu menggunakan strategi True Or False Statement dalam proses pembelajaran matematika. Sebagai bahan masukan bagi guru matematika MTsN Tarusan dalam memilih alternatif strategi pembelajaran matematika yang efektif untuk diajarkan disekolah. Pemahaman konsep siswa menggambarkan kemampuan akademis siswa. 3. 2. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna sebagai : 1. Asumsi Asumsi yang menjadi landasan penelitian ini adalah : 1.

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Menurut Slameto (2003: 2) mengatakan bahwa β€œbelajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. 8 . Interaksi yang terjadi dalam proses belajar dapat diukur sedemikian rupa sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan individu sehingga dapat mengubah tingkah lakunya yang bertujuan untuk mendapatkan hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan kutipan di atas. dan spiritual. keterampilan. Belajar dan pembelajaran adalah dua peristiwa yang berbeda (belajar dan mengajar). Kajian Teori 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika Belajar adalah suatu proses perubahan dan interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan fisik. Perubahan tersebut mencakup aspek tingkah laku. BAB II KERANGKA TEORITIS A. mental. Proses belajar atau peristiwa belajar mengajar yang terjadi disebut pembelajaran. dan pengetahuan. Belajar dan mengajar akan menjadi terpadu dalam suatu kegiatan manakala terjadi interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru dan antara sesama siswa dalam pembelajaran.

fasilitas. dan prosedur dari pembelajaran. Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi antara guru dengan siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang lebih baik. Pembelajaran matematika memerlukan konsepsi yang cukup terstruktur dan terarah. Pembelajaran tersebut lebih menekankan pada upaya untuk membangkitkan inisiatif atau peran siswa dalam menggali pengetahuannya dan bukan hasil transformasi dari guru. Suatu pembelajaran merupakan gabungan dari berbagai unsur-unsur yang mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran. Unsur-unsur tersebut meliputi orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran. Nikson yang dikutip oleh Muliyardi (2002: 3) mengemukakan bahwa β€œpembelajaran matematika adalah upaya untuk membantu siswa untuk mengkontruksi konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali”. dapat dikatakan bahwa pembelajaran lebih menekankan kepada bagaimana upaya guru mendorong siswa untuk menemukan dan mengembangkan konsep-konsep matematika dengan kemampuan sendiri sehingga informasi yang diperoleh dapat dipahami dengan baik. Untuk itu dalam kegiatan belajar dan mengajar diperlukan suatu model/ strategi pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk . Berdasarkan uraian diatas. Pembelajaran merupakan salah satu upaya peningkatan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar.

Belajar aktif harus gesit. dan menetapkan ide merekaa sendiri. Silberman (2006:9) mengemukakan bahwa : Agar belajar jadi lebih aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. 2. sehingga siswa dapat berbagai pengalaman yang tidak saja menambah pengetahuan. Untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan. Strategi Belajar Aktif Proses pembelajaran yang baik memungkinkan siswa aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik mental maupun fisik. akan tetapi juga kemampuan analitis dan sintesis. Mereka harus menggunakan otak. Menurut Samadhi (2008:47) mengemukakan bahwa: ”Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Keterlibatan siswa secara aktif harus didukung oleh usaha guru sebagai fasilitator dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan. mengkaji gagasan dan memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. bersemangat dan penuh gairah. menyenangkan. baik dalam bentuk interaksi antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut”. Pembelajaran aktif merupakan belajar dengan memaksimalkan aktifitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber untuk dibahas dalam proses pembelajaran di kelas. Strategi ini dikenal sebagai strategi pembelajaran aktif. keterampilan dan sikap aktif. belajar secara aktif. Silberman (2006:13) mengungkapkan beberapa cara. . mengembangkan.

(4) mengadakan kegiatan belajar kolaboratif. Guru hendaknya sebagai fasilitator dan motivator. (2) melakukan diskusi kelas. Menurut Zaini (2008: 24) strategi ini merupakan aktifitas kolaboratif yang dapat mengajak siswa untuk terlibat dalam materi pembelajaran. Strategi True or False Statement Strategi pembelajaran true or false statement merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran aktif yang dapat menstimulasi keterlibatan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. Gunawan (2004:198) mengungkapkan bahwa kolaboratif merupakan suatu proses kerja sama dalam suatu kelompok tetapi penekanannya lebih kepada proses pembelajaran yang melibatkan proses komunikasikan secara utuh dan adil dalam kelas. siswa dibagi kedalam kelompok belajar untuk saling bekerja sama dalam mengatasi masalah jika ada salah satu siswa yang kesulitan dalam belajar maka yang lain ikut membantu. berbagai pengetahuan dan belajar secara langsung. Kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran aktif adalah memberikan bantuan dan dorongan kepada siswa sedangkan yang harus aktif selama proses pembelajaran adalah siswa sendiri. (5) melakukan diskusi antar siswa. Sejalan dengan Zaini. (6) melakukan kegiatan belajar aktif dan mandiri. Kolaboratif maksudnya. (7) mengembangkan keterampilan siswa. (3) mengajukan pertanyaan. 3. Metode ini menumbuhkan kerja sama tim. yaitu: (1) mengadakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa. Pendapat yang dikemukakan oleh Zaini .

agama. latar belakang.dan Gunawan lebih memperjelas bahwa aktifitas kolaboratif merupakan kerja sama kelompok yang pembelajaran melibatakan proses komunikasi secara utuh dan adil dalam kelas. Kelompok pembelajaran kooperatif learning dalam hal kemampuan akademis. 2. Setiap kelompok terdiri dari siswa dengan kemampuan akademis rendah. dan etnik serta kemampuan akademis. Menurut Lie (2002:40) : β€œPembagian kelompok dipilih secara heterogenitas (kemacam ragaman) merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran. Kelompok belajar terdiri dari beberapa siswa yang berkumpul dalam suatu kelompok yang mempunyai tugas yang sama. sosial-ekonomi. biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan tingggi dua orang berkemampuan akademis sedang dan satu lainnya berkemampaun akademis kurang”. Pengelompokkan dalam Pembelajaran strategi true or false statement ini dilakukan secara heterogen yang dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan akademis. . Susunlah sebuah daftar pernyataan yang terkait dengan materi pelajaran. Pastikan jumlah kartu sesuai dengan jumlah siswa yang hadir (jika siswa yang hadir jumlah yang ganjil. dari permulaan pelajaran guru membangkitkan minat siswa. Tulis tiap pernyataan pada kartu indek yang terpisah. Agar lebih efektif. pilihlah satu kartu untuk anda sendiri). yang setengahnya benar dan setengahnya salah. Kooperatif learning yang dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender. sedang dan tinggi. Prosedur pembelajaran dengan mengggunakan strategi true or false statement menurut Silberman (2006:111) adalah: 1. melibatkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan menekankan kembali apa yang telah disajikan guru memberi keterangan tentang tugas apa yang harus dikerjakan.

e. Berdasarkan uraian di atas. Jelaskan bahwa mereka bebas memilih cara apapun yang mereka inginkan dalam menyelasaikan tugas ini. Bagikan satu kartu untuk satu siswa. Bila para siswa sudah selesai. Guru menulis pernyataan-pernyataan tersebut pada kartu. b. d. 6. Guru menyusun daftar pernyataan yang terkait dengan materi pelajaran. Berikan umpan balik tentang masing-masing kartu. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 siswa. yang setengah merupakan pernyataan yang benar dan setengah lagi pernyataan yang salah. c. 5. Tunjukan bahwa dalam pelajaran ini diperlukan keterampilan tim yang positif. karena hal ini menunjukkan kegiatan belajar yang sifatnya aktif. 4. Guru membagikan dua kartu yang sama pada tiap kelompok (satu kartu berisikan pernyataan benar yang terdiri dari dua buah soal yang benar dan satu kartu berisi pernyataan salah yang terdiri dari dua buah soal yang salah). Katakan pada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan yang benar dan mana yang salah). Guru menyampaikan kepada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan benar) dan . maka implementasi dari strategi True or false statement dalam penelitian ini adalah: a. dan catat cara-cara siswa dalam bekerja sama dalam menyelesaikan tugas ini.3. perintahkan agar setiap kartu dibaca dan mintakan pendapat siswa tentang benar atau salahkah pernyataan tersebut beri kesempatan munculnya pendapat yang minoritas.

g. Setelah menyajikan materi pelajaran guru memberikan waktu pada siswa untuk melakukan diskusi dengan kelompok masing-masing untuk mencari informasi tentang pernyataan yang diperoleh. Tanpa itu. 4. dan reaksi. k. Pemahaman Konsep Sunhaji (2009:18) mengemukakan bahwa: Comprehension atau pemahaman memiliki arti sangat mendasar yang meletakkan bagian-bagian belajar pada proposisinya. Tim yang mampu menyelesaikan soal dengan benar dan dapat mempertanggung jawabkan jawabannya di depan kelas dinyatakan sebagai pemenang. dan sebaliknya dianggap gugur/ nilai kelompok dikurangi. Konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut .dengan membahas secara klasikal. f. h. Dalam belajar. j. dan sikap tidak akan bermakna. Guru mengumpulkan kembali kartu-kartu yang telah diisi oleh siswa. Guru memberikan umpan balik terhadap pernyataan-pernyataan yang ada dikartu. maka skill (pengetahuan). perwakilan dari kelompok untuk memberikan tanggapan tentang pernyataan yang di miliki kelompoknya. Guru menyajikan materi pelajaran. Guru memberikan kesempatan kepada beberapa orang siswa. mana yang salah dan mereka diperbolehkan mengerjakan tugas ini setelah guru selesai menyajikan materi pelajaran. konsentrasi. unsur-unsur comprehension/pemahaman itu tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur psikologis yang lain. i. dengan motivasi.

merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut (Fadjar. Mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah Jadi pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan matematika. maka indikator yang dilihat dalam penelitian ini adalah: 1. Indikator tersebut adalah : 1) Menyatakan ulang sebuah konsep. memahami. 4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis. maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah kesanggupan yang dimiliki seseorang untuk mengidentifikasi. 5) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya). 3. 2) Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya). Dari indikator di atas. 2009 : 4). Menyatakan ulang sebuah konsep. 6) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. dan memberi contoh atau bukan contoh suatu objek persoalan dan dapat dipengaruhi oleh motivasi. konsentrasi dan reaksi. Dalam pemahaman konsep diharapkan siswa mampu untuk menguasai . 2. Berdasarkan kutipan di atas. 3) Memberi contoh dan noncontoh dari konsep. 506/C/PP/2004 tanggal 11 November 2004 (dalam Fadjar 2009 : 13) tentang penilaian perkembangan anak didik SMP dicantumkan indikator dari kemampuan pemahaman konsep sebagai hasil belajar matematika. Pada petunjuk teknis peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No.

bukan dengan kesadaran pada makna belajar. Ciri-ciri pembelajaran konvensional menurut Marpaung dalam Muliyardi (2003:2) adalah: Proses pembelajaran matematika di sekolah pada umumnya masih didominasi paradigma mengajar yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) guru aktif menyampaikan informasi dan siswa pasif menerima. (2) siswa dipaksa mempelajari apa yang diajarkan guru dengan menerapkan berbagai jenis hukuman. 5. . dilakukan tanya jawab mengenai soal latihan yang dianggap sulit oleh siswa. Setelah siswa mengerjakan latihan. konsep. pada umumnya keberhasilan belajar hanya dinilai secara subjektif. yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari yang di lanjutkan dengan pemberian contoh soal dan latihan. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran secara klasikal dengan metode ceramah dan pemberian tugas secara individu. Strategi True or false statement memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika. operasi dan relasi matematis. Guru sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar. maksudnya hanya menilai hasil ujian. Ciri-ciri pembelajaran konvensional di atas pada umum digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Terakhir guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Pembelajaran konvensional yang di maksud dalam penelitian ini adalah rangkaian kegiatan belajar yang di mulai dengan orientasi dan penyajian informasi. (3) pembelajaran berfokus (berorientasi) pada guru dan bukan pada siswa.

6. 6. David 3. dan satu orang berkemampuan sedang. Langkah-langkah pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademik menurut Lie (2002:41) yaitu: 1. 5. 5. 7. 3. 5. Pembagian Kelompok Heterogenitas Pembentukan kelompok pada penelitian ini adalah pengelompokan secara heterogen yang dibentuk berdasarkan kemampuan akademik dan jenis kelamin siswa. 4. 7. berkemampuan menengah. 4. 2. Pembagian kelompok merupakan salah satu bagian perencanaan dalam pembelajaran. David 2.6. Pembentukan kelompok II dan seterusnya dilakukan dengan mengambil siswa dari urutan berkemampuan rendah berikutnya siswa berkemampuan tinggi dan dua orang siswa berkemampuan sedang berikutnya. Ani 1. Ani 1. 4. 3. David 2. . Tabel 2: Pengelompokan Kelompok Berdasarkan Kemampuan Akademik Langkah I Langkah II Langkah III Mengurutkan Membentuk kelompok Membentuk siswa berdasarkan pertama kelompok selanjutnya kemampuan akademik 1. 3. Pembentukan kelompok I dilakukan dengan mengambil satu orang siswa berkemampuan tinggi. 6. Ani 2. 7. Siswa diurut dari tingkat kemampuan rendah sampai ketingkat kemampuan tinggi. satu orang berkemampuan rendah. dan berkemampuan rendah. Anggota kelompok terdiri atas 5-6 orang yang berkemampuan tinggi.

Rika 14. Slamet 24. Dian 25. Yusuf 11. Citra 12. Slamet 25. Yusuf 12. 20. Penelitian yang penulis lakukan berpedoman pada penelitian yang relevan mengenai langkah-langkah pelaksanaan. 9. 21. 19. 16. 9. 15. 21. 20. 22. 22. Citra 12. 24. 10. 9. Dian 25. 16. 23. 20. Siska 14. 19. Siska 13. 15. Citra 13. 10. Siska 13. Rika 15. 8. 17. Slamet 24. 22. 10. 17. 8. . Yusuf 11. 18. Kesimpulan yang didapat bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi true or false statement lebih baik dari pada pembelajaran konvensional. 19. 23. Penelitian Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Rici Efriani Putri (2010) dengan judul Penerapan Strategi True or False Statement dalam pembelajaran matematika siswa kelas VIII SMPN 2 Luhak Nan duo Kabupaten Pasaman Barat. Dian Sumber : Lie (2002: 41) 7. 18. 18. 8. 23. Rika 14. 17. 16. 21. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah peneliti melihat hasil belajar pada aspek kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. 11.

sehingga kemampuan pemahaman konsep meningkat.B. Penerapan strategi true or false statement pada proses pembelajaran. yaitu dengan memilih sistem pembelajaran yang tepat. Kerangka Konseptual Salah satu faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah adalah penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga mengakibatkan siswa kurang aktif dalam belajar karena mereka hanya bersikap menerima saja informasi yang diberikan guru. Berdasarkan latar belakang kajian teori yang telah dikemukakan diatas maka dapat dibuat suatu kerangka pelaksanaannya sebagai berikut: STRATEGI TRUE OR FALSE Kemampuan STATEMENT DALAM Pemahaman Siswa PEMBELAJARANAN Konsep MATEMATIKA Matematika C. Strategi ini dapat meningkatkan pembentukan tim. terjadi interaksi langsung antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Strategi true or false statement merupakan alternatif untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh guru adalah dengan cara menerapka strategi True or False Statement. Guru berperan penting dalam memperbaiki hasil belajar siswa. Hipotesis . pertukaran pendapat dan pembelajaran langsung maka keterlibatan dan aktifitas siswa dalam belajar besar.

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika dengan Strategi True or False Statement lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII MTsN Tarusan .

O Sumber : Suharsimi (2006: 87) Keterangan : X = Pembelajaran dengan metode belajar aktif true or false statemeent O = Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol B. Model rancangan yang digunakan adalah random terhadap subjek. Menurut Suharsimi (2006: 3) ”penelitian eksperimen adalah penelitian yang dimaksud untuk melihat akibat dari suatu tindakan atau perlakuan”. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTsN Tarusan Tahun Pelajaran 2011/2012 seperti terlihat pada Tabel 4 yang terdiri dari 4 lokal dengan jumlah siswa sebagai berikut: . Populasi Menurut Suharsimi (2006: 130) bahwa: β€œPopulasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan ini dapat dilihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3: Rancangan Penelitian Kelas Perlakuan Tes terakhir Eksperimen X O Kontrol . Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas. maka jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian eksperimen. Populasi dan Sampel 1.

maka dibutuhkan dua kelas sebagai sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Bentuk hipotesis statistik yang diujikan adalah : H0 : populasi berdistribusi normal H1 : populasi tidak berdistribusi normal Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Liliefors. Sampel Menurut Suharsimi (2006: 131) bahwa: β€œSampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Langkah-langkah uji Liliefors menurut Sudjana (2005: 466) adalah sebagai berikut: 1) Menyusun skor siswa yang terendah ke skor yang tertinggi 2) Skor mentah dijadikan kebilangan baku menggunakan rumus: . Melakukan uji normalitas populasi bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. Mengumpulkan hasil ujian mid semester matematika siswa MTsN Tarusan tahun pelajaran 2011/2012. b.Tabel 4: Jumlah siswa kelas VIII MTsN Tarusan tahun ajaran 2010/2011 No Kelas Jumlah Siswa 1 VIII1 40 2 VIII2 40 3 VIII3 35 4 VIII4 35 Jumlah 150 Sumber: Guru Matematika MTsN Tarusan 2. Sesuai dengan masalah yang diteliti.

kemudian tentukan harga mutlaknya 6) Ambil harga paling besar diantara harga mutlaknya selisih tersebut. Kriterianya adalah H0 diterima jka L0 < Ltabel. Untuk menerima atau menolak H0. Interpretasi uji ini dengan memperhatikan p-value. misalkan dengan L0. atau sebaliknya kita terima H0”. . Uji normalitas populasi juga dapat menggunakan uji Anderson- Darling dengan bantuan software MINITAB. L0 dibandingkan dengan nilai kritis Ltabel pada taraf nyata 𝛼. maka sampel berdistribusi normal. Menurut Syafriandi (2001: 4) β€œJika p- value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (Ξ±). maka tolak H0. Μ… π’™π’Š βˆ’ 𝒙 π’π’Š = 𝒔 Keterangan: 𝑍𝑖 = bilangan baku π‘₯𝑖 = Skor siswa ke i π‘₯Μ… = Rata-rata 𝑠 = Simpangan baku 3) Untuk setiap bilangan ini menggunakan daftar peluang dengan menggunakan rumus F(Zi)= 𝑍 ≀ 𝑍𝑖 . 4) Menghitung harga S (Zi) yaitu proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama dengan Zi dengan rumus: π΅π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž 𝑧𝑖 ……𝑧𝑛 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” ≀𝑧𝑖 𝑆(𝑍𝑖 ) = 𝑛 5) Menghitung selisih F(Zi)–S(Zi).

Uji homogenitas dilakukan dengan uji Bartlett. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kehomogenan variansi dari kelas populasi. 3026 .c. hipotesis yang diujikan adalah: H0 : 12 = 22 = 32 = 42 H1 : jika salah satu tanda sama dengan tidak berlaku Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan uji Barlett. Melakukan uji homogenitas variansi populasi. Langkah- langkah uji Barlett yang dikemukakan Sudjana (2005: 263) sebagai berikut : 1) Menghitung rumus variansi gabungan dari semua populasi dengan menggunakan rumus: βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’1)𝑆𝑖2 𝑆2 = βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’1) 2) Menentukan harga satuan Bartlett (B) dengan rumus: 𝐡 = [βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’ 1)] log 𝑆 2 3) Untuk uji Barlett digunakan uji chi-kuadrat dengan rumus: 𝑋 2 = (𝑙𝑛 10)[𝐡 βˆ’ βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’ 1) π‘™π‘œπ‘”π‘†π‘–2 ] Dimana : B = Bartlett 𝑛𝑖 = Jumlah siswa kelas ke-i 𝑠𝑖2 = Variansi kelas ke –i 𝑠2 = Variansi gabungan semua sampel 𝑋2 = Chi-Kuadrat ln 10 = 2.

dk= (k-1). dimana X2(1-Ξ±)(k-1) didapat dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan peluang (1-Ξ±) dan derajat kebebasan. maka dikatakan bahwa kelompok perlakuan tersebut tidak homogen. Uji homogenitas variansi dapat juga dilakukan dengan bantuan software MINITAB. Melakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan teknik anava satu arah. Hipotesis yang diujikan adalah: H0: πœ‡1 = πœ‡2 = πœ‡3 = πœ‡4 H1: paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku Pengujian dapat dilakukan dengan uji analisis variansi satu arah. Menentukan jumlah kuadrat rata-rata dengan rumus: (𝐽2 ) 𝑅𝑦 = βˆ‘ 𝑛 . Kriteria pengujian: Tolak hipotesis H0 jika X2 β‰₯ X2(1-Ξ±)(k-1).π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝐽 = 𝐽1 + 𝐽2 + β‹― + 𝐽𝐾 𝑖 2. Langkah-langkah uji analisis variansi satu arah menurut Sudjana (2005: 304) sebagai berikut: 1. d. Syafriandi (2001: 5) mengemukakan bahwa β€œjika irisan selang kepercayaan itu kosong. dan sebaliknya dikatakan homogen”. Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok dengan rumus: 2 𝐴𝑦 = βˆ‘(𝐽𝑛𝐼 ) βˆ’ 𝑅𝑦 𝑖 3. Menghitung jumlah kuadrat total dengan rumus : Ξ£ Y2 = jumlah kuadrat-kuadrat (JK) dari semua nilai pengamatan .

𝑉2 ) didapat dari daftar distribusi F dengan peluang (1-𝛼) dan dk = (𝑣1 . Mendistibusikan hasil perhitungan langkah 1-8 dalam Tabel analisis variansi untuk uji kesamaan rata-rata. Menghitung kuadrat tengah antar kelompok dengan rumus: 𝐷𝑦 𝐷= βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’ 1) 8. Menghitung kuadrat tengah antar kelompok dengan rumus: 𝐴𝑦 𝐴= (π‘˜ βˆ’ 1) 7. Disini 𝛼 = taraf nyata untuk pengujian. 𝑣2 ). Tabel 5: Format Analisis Variansi untuk Uji Kesamaan Rata- Rata. Sumber Variansi Dk JK KT F Rataan 1 𝑅𝑦 R Antar kelompok (k-1) 𝐴𝑦 A 𝐴 Dalam Kelompok βˆ‘(𝑛1 ) βˆ’ π‘˜ 𝐷𝑦 D 𝐷 Total βˆ‘ 𝑛𝑖 βˆ‘ π‘Œ2 Sumber: Sudjana (2005: 304) Kriteria pengujian adalah: tolak H0 jika𝐹 β‰₯ 𝐹(1βˆ’π›Ό)(𝑉1 . . dimana 𝐹(1βˆ’π›Ό)(𝑉1 .4. Menguji signifikasi dari kelompok dengan rumus: 𝐴 𝐹= 𝐷 9. Menghitung jumlah kuadrat dalam kelompok dengan rumus: 2 𝐷 𝑦 = βˆ‘ π‘Œ βˆ’ 𝑅𝑦 βˆ’ 𝐴𝑦 5.𝑉2 ) . Menghitung kuadrat tengah dengan rumus: 𝑅𝑦 𝑅= 1 6.

Jika populasi dalam penelitian berdistribusi normal. Variabel Menurut Suharsimi (2006:118) ”Variabel adalah objek penelitian. Variabel terikat adalah gejala yang timbul akibat perlakuan yang diberikan oleh variabel bebas. Schaffer dalam Syafriandi (2001: 4) mengemukakan bahwa β€œjika p- value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (𝛼) maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0”. Untuk interpretasi uji ini dapat melihat p-value. atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. a. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan bantuan software MINITAB. homogen. e. Variabel bebas adalah variabel yang diperkirakan berpengaruh terhadap variabel lain. Jika populasi dalam penelitian ini tidak homogen maka pemilihan sampel dapat dilakukan secara Non Random (Suharsimi. 2006: 138). b. maka sampel dapat diambil secara random (Suharsimi. Variabel terikat pada penelitian ini . dan memiliki kesamaan rata-rata. 2006: 138) f. C. Variabel dan Data 1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran aktif tipe true or false statement pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

Data sekunder dalam penelitian ini adalah data tentang jumlah siswa dan nilai ujian mid semester matematika kelas VIII MTsN Tarusan tahun pelajaran 2011/2012. adalah pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII MTsN Tarusan yang terpilih menjadi sampel. Sumber Data 1). Data sekunder bersumber dari kantor tata usaha dan guru bidang studi matematika kelas VIII MTsN Tarusan. baik berupa fakta maupun angka”. Jenis data jenis data dalam penelitian ini adalah : 1). Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari pihak lain. Data primer dalam penelitian ini adalah data pemahaman konsep matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. b. Data Suharsimi (2006: 118) menyatakan bahwa β€œdata adalah hasil pencatatan peneliti. 2). Data primer bersumber dari siswa kelas VIII MTsN Tarusan yang terdaftar pada tahun pelajaran 2011/2012 yang menjadi kelas sampel penelitian. a. 2). 2. Data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari subjek yang diteliti. .

Juring adalah daerah yang di batasi oleh 2 tali busur Jawaban : Benar / Salah Alasan 2. Dalam sebuah lingkaran yang berpusat di A terdapat tali busur PQ. Menetapkan jadwal penelitian d. g. Membagi kelompok secara heterogen berdasarkan kemampuan akademis siswa. Menentukan kelas sampel f. Mengurus surat izin penelitian b. Melaksanakan observasi ke MTsN Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Diameter adalah tali busur yang melalui titik pusat lingkaran Jawaban :Benar/ Salah Alasan : . Tahap persiapan a. yaitu: 1.D. Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menyiapkan kartu pernyataan yang terkait materi pelajaran Contoh Kartu Pernyataan : Kelompok 1 kartu pernyataan 1 1. Titik R dan S terletak pada PQ sehingga PR = SQ dan OR = OQ Jawaban : Benar / Salah Alasan : Kartu pernyataan 2 1. e. Prosedur Penelitian Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga bagian. c.

. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 siswa. Membuat kisi-kisi soal tes akhir dengan memperhatikan indikator kemampuan pemahaman konsep i. Pendahuluan ( ο‚± 10 menit) a. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini penulis melakukan pembelajaran di kelas eksperimen dengan penerapan strategi true or false statement dan di kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran konvensional a. Kegiatan inti ( ο‚± 70 menit) a. Guru mengabsen siswa. Kelas Eksperimen Untuk kelas eksperimen diterapkan pembelajaran menggunakan penerapan strategi true or false statement dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. memberikan appersepsi dan motivasi agar siswa lebih aktif dalam belajar b. Guru menyampaikan tujuan dan menjelaskan prosedur kegiatan dalam pembelajaran 2. 2. Titik C dan D terletak pada AB sehingga AC = BD dan OC = OD Jawaban : Benar / salah Alasan : h. Membuat soal tes akhir 2. Dalam sebuah lingkaran yang berpusat di O terdapat tali busur AB.

perwakilan dari kelompok untuk memberikan tanggapan tentang pernyataan yang dimiliki kelompoknya. h. c. Guru memberikan kesempatan kepada beberapa orang siswa. Guru menyajikan materi pelajaran.b. dan sebaliknya dianggap gugur/ nilai kelompok dikurangi. d. Guru mengumpulkan kembali kartu-kartu yang telah diisi oleh siswa. Tim yang mampu menyelesaikan soal dengan benar dan dapat mempertanggung jawabkan jawabannya di depan kelas dinyatakan sebagai pemenang. e. g. f. Guru memberikan waktu pada siswa untuk melakukan diskusi dengan kelompok masing-masing untuk mencari informasi tentang pernyataan yang diperoleh. . Setelah menyajikan materi pelajaran guru membagikan dua kartu yang sama pada tiap kelompok satu kartu berisikan pernyataan benar yang terdiri dari dua buah soal yang benar dan satu kartu berisi pernyataan salah yang terdiri dari dua buah soal yang salah. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan benar dan mana yang salah) dan setelah guru selesai menyajikan materi pelajaran mereka diperbolehkan mengerjakan tugas.

Secara ringkas kegiatan pembelajaran dikelas kontrol sebagai berikut: 1. Guru mengarahkan siswa memahami pembelajaran materi pembelajaran dengan menggunakan beberapa contoh soal ( ο‚± 20 menit) 3. Guru membimbing siswa untuk merangkum materi pelajaran b. dengan membahas secara klasikal 3. Guru menyampaikan indikator pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk belajar ( ο‚± 10 menit) 2. Memberikan siswa pekerjaan rumah ( ο‚± 5 menit) c. Guru memberikan siswa latihan ( ο‚± 10 menit) 4. i. Guru memberikan umpan balik terhadap pernyataan- pernyataan yang ada dikartu. Guru memberikan tugas rumah b. Guru memberikan kuis ( ο‚± 10 menit) 5. Guru bersama siswa merangkum pembelajaran ( ο‚± 5menit) 6. Tahap Pelaksanaan Tes Akhir . Penutup ( ο‚± 10 menit) a. Kelas Kontrol Untuk kelas kontrol pembelajaran matematika dilaksanakan seperti biasa yang terlaksana di sekolah tersebut selama ini (konvensional).

Penulis dalam menyusun tes tersebut melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 4. Menyusun Tes Tes yang penulis susun berbentuk essay. Langkah- langkah yang penulis lakukan adalah sebagai berikut: a. Pada tahap akhir penelitian ini dilakukan hal sebagai berikut: Melaksanakan tes akhir. Tujuan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa pada aspek kemampuan pemahaman konsep. 2. Validitas Tes Suatu tes dikatakan valid jika tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu untuk memperoleh hasil belajar siswa pada aspek kemampuan pemahaman konsep. Membuat batasan terhadap bahan pelajaran yaitu faktorisasi aljabar yang akan diujikan 3. yang dilaksanakan setelah pokok bahasan terakhir. E. b. Dalam penelitian ini digunakan instrumen penelitian yaitu tes akhir dengan indikator pemahaman konsep yang berfungsi untuk mengukur tingkat kemampuan pemahaman konsep siswa. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat pengumpulan data yang digunakan dalam suatu penelitian. Validitas yang diuji dalam penelitian ini adalah . Menyusun butir-butir soal yang akan diujikan. Menyusun kisi-kisi tes hasil belajar matematika dengan memperhatikan indikator kemampuan pemahaman konsep.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa validitas isi adalah penyesuaian antara soal yang diberikan dengan materi yang ada dalam kurikulum. Adapun kriteria soal yang baik adalah akurat memiliki vadilitas. bahwa siswa di sekolah penelitian dan sekolah uji coba memiliki kemampuan akademik yang tidak jauh berbeda. Tes yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini memiliki validitas isi. materi yang diajarkan tertera pada kurikulum. karena berdasarkan informasi yang di peroleh dari kepala sekolah MTsN Talaok dan guru matematika MTsN Tarusan. karena soal yang penulis susun berdasarkan kurikulum dan materi tersebut sudah di ajarkan serta berdasarkan kisi-kisi soal yang telah disusun. Uji Coba Tes Sebelum tes diberikan kepada kelompok sampel. d. validitas isi yaitu cara membuat butir soal harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Analisis Item . Maka validitas isi sering disebut validitas kurikulum. Arikunto (2002:145) mengemukakan bahwa: Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. maka terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk melihat apakah soal tersebut sudah memenuhi kriteria soal yang baik. Terbukti dari KKM kedua sekolah yang sama yaitu 70. Oleh karena itu. Selanjutnya dikonsultasikan dengan guru matematika kelas VIII MTsN Tarusan. Dalam penelitian ini uji coba tes dilakukan di kelas VIII MTsN Gurun Panjang. c. dilakukan pada kelompok yang singakat dan relevan dengan kelompok sampel.

jika dapat memberikan gambaran perbedaan anak yang pandai dan yang kurang pandai. dan soal yang jelek. Dalam melaksanakan analisis item ada 3 langkah yang perlu diselidiki yaitu : 1) Indeks kesukaran Soal Indeks kesukaran soal bertujuan untuk melihat apakah soal termasuk soal yang mudah.00 Mudah Sumber: Depdiknas (2001:27) 2) Indeks Pembeda Soal Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk .70 < TK ο‚£ 1. untuk melihat keberadaan soal-soal yang disusun baik atau tidak. atau sukar.00 ο€ΌTK ο‚£ 0. Tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001:27) sebagai berikut: Jumlah Skor pada suatu soal Mean ο€½ Jumlah siswa yang mengikuti tes π‘€π‘’π‘Žπ‘› π‘‡π‘˜ = π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘Žπ‘™ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› Tabel 6: kriteria indeks kesukaran soal Indeks kesukaran Kriteria 0.30 Sukar 0. sedang. Dengan analisa soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadalkan perbaikan”. Setelah uji coba dilakukan maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis butir soal. Suatu soal dikatakan baik.70 Sedang 0.30 < TK ο‚£ 0. kurang baik. Menurut Suharsimi (2009 : 207) bahwa: β€œTujuan analisis butir soal yaitu untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik.

30 ο‚£ TK < 0.40 Soal diterima tetapi perlu diperbaiki 0. membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi atau pandai dengan siswa yang berkemampuan rendah. Untuk menentukan koefisien reliabilitas digunakan dengan rumus alpha yang dinyatakan oleh Anas (2009: 208) yaitu:  n οƒΆ  οƒ₯ si οƒΆοƒ· 2 r 11 =  οƒ· 1 ο€­  n ο€­ 1 οƒΈ  st2 οƒ·οƒΈ Keterangan: r 11 = Koefisien reliabilitas tes οƒ₯s 2 i = Jumlah varians skor tiap-tiap item st2 = Varians total n = Banyak butir item .20 Soal tidak dipakai/dibuang Sumber: Depdiknas (2001: 28) 3) Reliabilitas Soal Reliabilitas tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya.20 ο‚£ DP < 0. Suatu tes dikatakan reliabel apabila beberapa kali pengujian menunjukkan hasil yang relatif sama.00 Soal diterima/baik 0.30 Soal diperbaiki 0.00 ο‚£ DP < 0.40 ο‚£ DP ο‚£ 1. digunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001: 28) sebagai berikut: mean kelompok atas ο€­ mean kelompok bawah DP ο€½ skor maksimum soal Menurut Depdiknas (2001: 28) bahwa kriteria daya pembeda soal adalah sebagai berikut: Tabel 7: Kriteria Daya Pembeda Soal Daya Pembeda Kriteria 0. Untuk menentukan daya pembeda soal.

Berdasarkan kriteria analisis data maka interpretasi terhadap koefisien reliabilitas tes (r11) pada umumnya digunakan patokan menurut Anas (2009 : 209): 1. Teknik Analisis Data Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan. penulis melakukan langkah- langkah sebagai berikut: 1. peniliti menggunakan rubrik analitik skala 4. F.70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliable) 2. Tabel 8: Contoh Rubrik Anatik skala 4 secara umum Skala 0 1 2 3 Indikator Menyatakan ulang Tidak ada Kurang jelas Jelas dengan Jelas dan sebuah konsep jawaban dan kurang sedikit tepat .70 berarti bahwa tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi (un-reliable). Dalam menganalisis data. Apabila r11 sama dengan atau lebih besar daripada 0. Menghitung Skor Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Analisis ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang pemahaman konsep matematika siswa. Dengan menggunakan rubrik ini dapat dianalisa kelemahan dan kelebihan seorang siswa terletak pada kriteria yang mana”. Apabila r11 lebih kecil daripada 0. apakah diterima atau ditolak. Menurut puji (2004: 13) β€œRubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. Untuk mengukur pemahaman konsep siswa.

Analisis Data hasil Belajar Siswa dengan Kemampuan Pemahaman Konsep. Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan apakah diterima atau ditolak. Skor yang diperoleh siswa jika dikonversikan ke skala 0-100 yaitu skor yang diperoleh siswa dibagi skor maksimum dikali 100 atau bila diumuskan: π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Ž π‘ π‘–π‘ π‘€π‘Ž π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ = π‘₯ 100% π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘‘π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 2. dan skala 3 dianggap untuk kerja yang sangat baik (Dimodifikasi dari penilaian untuk kerja. skala 1 dianggap untuk kerja yang cukup memenuhi. Sebelum melakukan uji hipotesis. skala 2 dianggap untuk kerja yang baik. Puji Iryanti 2004: 15). tepat kesalahan Mengklasifikasikan Tidak Kurang Sesuai Sesuai objek menurut sifat. Skor yang diperoleh masih harus dirubah dalam skala angka yang ditetapkan (dalam bentuk 0-100). dapat dinilai tes akhir yang dilakukan siswa. Skala 0 dapat dianggap untuk kerja yang tidak memenuhi. sesuai sesuai dengan dengan sifat tertentu sesuai dengan dengan konsepnya konsepn dengan konsepnya konsepnya konsepnya sedikit ya kesalahan Mengaplikasikan Tidak Kurang Benar benar konsep benar benar dengan Kepemecahan sedikit masalah kesalahan Sumber: Dimodifikasi dari Penilaian Unjuk Kerja. Puji (2004: 14) Berdasarkan tabel di atas. Tes akhir siswa digunakan untuk menentukan batasan memenuhi dan tidak memenuhi indikator pemahaman konsep yang ditetapkan. terlebih .

a. Uji Homogenitas Uji Homogenitas bertujuan untuk menyelidiki apakah kedua kelompok sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. b. Schaffer dalam Syafriandi (2001: 4) β€œjika P-value lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (𝛼). Hipotesis yang diujikan adalah: H0: skor kemampuan pemahaman konsep siswa kelas sampel berdistribusi normal H1: skor kemampuan pemahaman konsep siswa kelas sampel tidak berdistribusi normal. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0”. Uji yang digunakan adalaah uji Anderson-Darling dengan bantuan software MINITAB.dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap kelas sampel. Hipotesis yang diajukan adalah: H0: 𝜎12 = 𝜎22 H1:𝜎12 β‰  𝜎22 . Untuk mengujinya digunakan uji F. Untuk interpretasi dan uji normalitas bisa dilakukan dengan melihat P-value yang menyatakan besarnya peluang untuk melakukan galat jenis 1 (menolak H0 jika sesungguhnya H0 tersebut benar).

𝑛2βˆ’1) dalam hal lain tolak H0. dilakukan uji hipotesis. 2 2 Pengujian homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan software MINITAB. Bedasarkan hipotesis yang dikemukakan maka digunakan uji kesamaan dua rata-rata yaitu uji satu pihak.𝑛2βˆ’1) < 𝐹 < 𝐹𝛼 (𝑛1βˆ’1. Syafriandi (2001: 5) mengemukakan bahwa β€œjika irisan selang kepercayaan itu kosong. Rumus yang akan digunakan untuk menguji F (Walpole. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Hipotesis yang diajukan adalah: . 1988: 315) adalah: S12 Fο€½ S 22 Dimana: F = Variansi kelompok data S1 = Variansi kemampuan pemahaman konsep matematika kelas eksperimen S22 = Variansi kemampuan pemahaman konsep matematika kelas kontrol Kriteria pengujian adalah: Terima hipotesis H0 jika 𝐹(1βˆ’π›Ό)(𝑛1 βˆ’1. maka dikatakan bahwa kelompok perlakuan tersebut tidak homogen dan sebaliknya dikatakan homogen”. c. uji hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol.

Jika kedua sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi homogen maka uji statistik yang digunakan adalah dengan rumus: Μ…Μ…Μ…Μ… 𝑋1 βˆ’π‘‹Μ…Μ…Μ…Μ… 2 𝑑= 1 1 π‘†βˆš + 𝑛1 𝑛2 Dengan: S ο€½ 2 n1 ο€­ 1S12  n2 ο€­ 1S 22 n1  n2 ο€­ 2 Dimana: X 1 = Nilai rata-rata kelas eksperimen X 2 = Nilai rata-rata kelas kontrol S = Simpangan baku kedua kelompok S2 = Variansi total S12 =Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas eksperimen S22 = Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas kontrol n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen n2 = Jumlah siswa kelas kontrol Kriteria pengujian adalah: .H0: 1 ο€½ 2 Hi: 1 ο€Ύ 2 Dengan: 1: rata.rata skor tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas eksperimen 2: rata-rata skor tes kempuan pehamahan konsep matematika siswa kelas kontrol Menurut Sudjana (2005: 239) sebagai berikut: a.

Jika kedua sampel berdistribusi normal tetapi mempunyai variansi yang tidak homogen. b. Terima H0 jika thitung < ttabel (1-Ξ±) dengan derajat kebebasan dk=(𝑛1 + 𝑛2 βˆ’ 2). dimana: 𝑛1 𝑛2 𝑑1= 𝑑(1βˆ’1𝛼). (𝑛2 βˆ’1) 2 2 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan software MINITAB. dengan: 𝑀1 = . (𝑛1 βˆ’1) π‘‘π‘Žπ‘› 𝑑2 = 𝑑(1βˆ’1𝛼). 𝑀2 = . tolak H0 jika t mempunyai harga-harga lainnya. dan terima H0 jika 𝑀1 +𝑀2 𝑆12 𝑆22 terjadi sebaliknya. Untuk interpretasi pengujian ini bisa memperhatikan P-value. Syafriandi (2001: 4) mengemukakan β€œjika P-value yang diperoleh lebih kecil dari . maka uji statistik yang digunakan adalah: X1 ο€­ X 2 t' ο€½ S12 S 22  n1 n 2 Dimana: X 1 = Nilai rata-rata kelas eksperimen X 2 = Nilai rata-rata kelas control S12 =Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas eksperimen 2 S2 = Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas control n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen n2 = Jumlah siswa kelas kontrol Kriteria pengujian menurut Sudjana (2005: 243) : 𝑀1𝑑1 + 𝑀2 𝑑2 Tolak hipotesis H0 jika 𝑑 β€² β‰₯ .

(2008). Pengantar evaluasi pendidikan. maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0”. Strategi Pembelajaran Aktif. Bandung : Bumi Aksara.Yogyakarta. (2001). Depdiknas Hisyam Zaini. Jakata: Bumi Aksara. (2003). Cooperative Lierning. Jakarta: Rajawali Silberman Melvin L. Puji Iryanti. . S. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Kemahiran Matematika. Sardiman. Anita Lie. Aktive Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. (2004).Reneka Cipta. Fadjar Shadiq. Strategi Pembelajaran Matematika. Rajawali Pers. (2003). Erman Suherman dkk. Depdiknas. Bandung : JICA-Universitas Pendidikan Indonesia.Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Depdiknas. Yogyakarta: Pustaka Indah Madani Muliyardi. taraf nyata yang ditetapkan (𝛼). (2002). Oemar Hamalik . (2006). Diktatik Azaz-azaz mengajar. Penyusunan Butir Soal dan Instrumen Penilaian. (2003). Slameto. Jakarta:PT.Jakarta :PT.(2000). Proses Belajar Mengajar. DAFTAR KEPUSTAKAAN Anas Sudijono. (2008). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Penilaian Untuk Kerja. Bandung : Nusa Media (Diterjemahkan oleh Muttaqien). (2009). A. (2009). Yogyakarta: Depdiknas.M. Jakarta : Grasindo. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (2003). Padang : FMIPA UNP Nasution.

Metode Statistika. Buku Panduan Penulisan Tugas Akhir/ Skripsi. Ningsih. Penerapan Strategi True or False Statement Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X SMA N 1 Lenggo Sari BAganti Airhaji Kabupaten Pesisir Selatan. Gramedia Pustaka Utama . Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. ( 2001). (1988). Suharsimi Arikunto. Pengantar Statistika. Rineka Cipta. Ronal E. Tim Penulis. _______________. (2009). (2002). 2008. Analisis Statistika Inferensial dengan Menggunakan Minitab.Sudjana. Padang: STKIP. Padang: UNP Susanti. Jakarta : Bumi Aksara Syafriandi. Jakarta. (2008). Walpole. Bandung : Sinar Baru Algesindo. (2005). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. UNP Padang: Universitas Negeri Padang.