You are on page 1of 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang dapat membantu

manusia dalam memahami berbagai permasalahan baik dalam bidang sosial,

ekonomi, dan alam. Oleh karena itu matematika dapat dikatakan sebagai

landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena

matematika dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis,

sistematis dan matematika juga salah satu mata pelajaran penentu kelulusan

siswa pada Ujian Nasional.

Mengingat pentingnya matematika bagi perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi sudah selayaknya kualitas pemahaman matematika

ditingkatkan. Berbagai usaha dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan

agar mutu pendidikan matematika lebih baik, diantaranya meningkatkan

kualitas guru matematika, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan,

menyiapkan buku pegangan siswa dan guru, serta penyempurnaan kurikulum.

Walaupun telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah, namun pada

kenyataannya konsep–konsep yang diajarkan oleh guru di kelas masih kurang

dipahami oleh siswa, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal

matematika masih kurang, hal ini menjadikan siswa malas belajar matematika.

1

Dalam peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 tanggal

11November 2004 tentang penilaian perkembangan Anak Didik Sekolah

Menengah Pertama (SMP), Depdiknas (2004) dalam Fadjar (2009: 13)

menyatakan bahwa ” Aspek penilaian matematika dalam rapor dikelompokkan

menjadi tiga aspek yaitu: 1) Pemahaman konsep, 2) Penalaran dan

Komunikasi, dan 3) Pemecahan masalah”. Pemahaman konsep, siswa mampu

mendefenisikan konsep, dan mengidentifikasi dari konsep. Penalaran dan

komunikasi, siswa mampu menyatakan dan menafsirkan gagasan matematika

secara lisan, tertulis, dan mendemonstrasikan. Sedangkan pemecahan masalah,

siswa mampu memahami masalah, memilih strategi penyelesaian, dan

menyelesaikan masalah.

Realitanya masih banyak siswa yang mendapatkan nilai rendah dan

belum memahami berbagai konsep matematika. Oleh karena itu, guru haruslah

mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa

terutama dalam menemukan konsep-konsep matematika yang sangat penting.

Kemampuan pemahaman konsep siswa yang kurang maksimal tercermin dari

hasil belajar yang diperoleh siswa, salah satu contoh dilihat dari rendahnya

ketuntasan belajar matematika pada ujian mid semester siswa kelas VIII

MTsN Tarusan.

Tabel 1. Persentase Ketuntasan Siswa pada Ujian Semester 1 Matematika
Kelas VIII pada Tahun Pelajaran 2011 / 2012.

Kelas Jumlah Nilai Ketuntasan
Siswa Rata-Rata Tidak Tuntas Tuntas
Jumlah % Jumlah %
VIII.A 41 86,47 6 15 34 85
VIII.B 42 64,9 29 72,5 11 27,5
VIII.C 40 65,22 31 77,5 9 22,5
VIII.D 39 65,33 35 89,7 4 10,3

Jumlah 101 58

Berdasarkan tabel 1 di atas terlihat bahwa masih banyak siswa kelas

VIII MTsN Tarusan yang tidak tuntas pada ujian semester. Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) untuk pelajaran matematika di MTsN Tarusan

adalah 65. Data pada tabel 1 tersebut mengindfikasikan bahwa pemahaman

konsep siswa terhadap materi yang dipelajari masih relatif rendah.

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan bahwa rendahnya hasil

belajar di sebabkan karena berbagi hal, yang terjadi selama ini antaranya siswa

kurang bersemangat dan kurang aktif dalam belajar karena kegiatan belajar

masih terpusat pada guru sehingga terjadi proses pemanjaan pola pikir siswa

tersebut. Rendahnya minat siswa untuk bertanya, kurangnya motivasi siswa

untuk aktif mengemukakan ide-ide kreatif dan kemampuan berfikir kritis

sehingga siswa hanya menghafal tanpa mengerti isi dan konsep dari pelajaran

yang diberikan. Selain itu siswa beranggapan matematika pelajaran yang sulit

dan membosankan. Siswa tidak membaca buku sebelum mulai pelajaran

karena siswa terbiasa menanti apa yang disampaikan oleh guru. Ketika siswa

mengalami kesulitan, siswa tidak mau bertanya pada guru sehingga terlihat

sekali siswa kurang aktif selama proses pembelajaran berlangsung.

Selanjutnya saat diberikan tugas tidak semua siswa yang serius dalam

mengerjakannya, kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan teman yang

pandai, dengan kata lain pada umumnya siswa kurang bertanggung jawab

dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

Jika guru memberikan soal latihan yang modelnya tidak sama dengan

contoh, siswa kesulitan untuk menyelesaikan soal tersebut. Seperti ketika guru

menjelaskan materi Pythagoras, bahwa kuadrat sisi miring sama dengan

jumlah kuadrat sisi lainnya. Guru membuat sebuah gambar segitiga siku-siku

dengan c sebagai sisi miring, a dan b sebagai sisi siku-siku, maka 𝑐 2 = π‘Ž2 + 𝑏 2 .

kemudian guru memberikan soal lain dengan r sebagai sisi miring, p dan q

sebagai sisi siku-siku, kemudian guru menanyakan nilai π‘Ÿ 2 , namun sebagian

besar siswa menjawab π‘Ÿ 2 = π‘Ž2 +𝑏 2 .

Gambar 1

Strategi True or False Statement mengharuskan siswa untuk menyampaikan pendapat tentang benar atau salahkah pernyataan yang diperoleh. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas. keberhasilan siswa dapat dilihat dari tingkat pemahaman. yang sebelumnya sudah didiskusikan dalam kelompoknya. Dalam hal ini guru harus pandai memilih metode yang pas untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswa. penguasaan materi serta prestasi belajar siswa. Strategi ini merupakan aktifitas kolaboratif yang dapat mengajak siswa untuk terlibat dalam materi pembelajaran berlangsung. Strategi true or false statement merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran aktif yang dapat menstimulasi keterlibatan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. jika hal ini tidak segera diantisipasi tentu akan merugikan siswa. penulis tertarik untuk menerapkan strategi true or false statement. siswa kurang mampu mengelompokkan objek yang diberikan sesuai dengan konsepnya dan siswa kurang mampum mengaplikasikan konsep yang di berikan oleh guru ke pemecahan masalah. Strategi ini dapat menumbuhkan kerja sama tim dan saling bertukar pendapat (Hisyam. Terlihat dari gambar 1 bahwa siswa kurang paham terhadap konsep materi yang di ajarkan. 2008: 24). sehingga siswa lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran matematika dan menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran matematika. Siswa tidak dapat menjawab kembali konsep yang telah dipelajarinya. Siswa akan lebih aktif karena mereka akan bertukar pikiran dengan anggota .

maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Penerapan Strategi True or False Statement Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika siswa Kelas VIII MTsN Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan” B. Pemahaman konsep siswa masih rendah. Pembatasan Masalah Mengingat keterbatasan waktu. C. tenaga dan kemampuan yang penulis miliki dan agar terpusatnya penelitian ini maka penulis membatasi masalah penelitian sebagai berikut : 1. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengemukakan ide-ide kreatifnya dalam pembelajaran. Hasil belajar matematika siswa masih rendah 2. Berdasarkan uraian di atas. Penerapan strategi true or false statement diharapkan dapat mengetahui pemahaman konsep matematika siswa serta dapat menimbulkan minat siswa dalam proses pembelajaran matematika. 4. Proses pembelajaran matematika berlangsung satu arah 3. Pemahaman konsep siswa masih rendah. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang sebelumnya dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut: 1. kelompoknya demi keberhasilan kelompoknya dalam menjawab pernyataan yang diberikan dengan materi pembelajaran yang sedang di kerjakan. .

Asumsi Asumsi yang menjadi landasan penelitian ini adalah : 1. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemahaman konsep siswa yang menerapkan srategi True Or False Statement . Guru mampu menggunakan strategi True Or False Statement dalam proses pembelajaran matematika. Pemahaman konsep siswa menggambarkan kemampuan akademis siswa. F. maka penulis dalam penelitian ini menerapkan Strategi True or False Statement dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII MTsN Tarusan. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengemukakan ide-ide kreatifnya dalam pembelajaran Untuk mengatasi masalah di atas. maka permasalahannya dapat dirumuskan: Apakah kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika dengan Strategi True or False Statement lebih baik dari pada kemampuan pemahaman konsep siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII MTsN Tarusan? E. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas. 2. 3. D. 2. Setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar matematika di dalam kelas.

. 3. Sebagai bahan masukan bagi guru matematika MTsN Tarusan dalam memilih alternatif strategi pembelajaran matematika yang efektif untuk diajarkan disekolah. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna sebagai : 1. Bekal pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam mempersiapkan diri sebagai calon pendidik. 2. lebih baik daripada pemahaman konsep siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional pada kelas VIII MTsN Tarusan. Motivasi bagi siswa kelas VIII MTsN Tarusan agar aktif dan bekerja sama dengan kelompoknya untuk menemukan pemahaman konsep dalam menyelesaikan masalah matematika. G.

Interaksi yang terjadi dalam proses . dan spiritual. Berdasarkan kutipan di atas. belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan individu sehingga dapat mengubah tingkah lakunya yang bertujuan untuk mendapatkan hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. dan pengetahuan. Belajar dan Pembelajaran Matematika Belajar adalah suatu proses perubahan dan interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan fisik. BAB II KERANGKA TEORITIS A. keterampilan. mental. Kajian Teori 1. Perubahan tersebut mencakup aspek tingkah laku. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Menurut Slameto (2003: 2) mengatakan bahwa β€œbelajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.

Nikson yang dikutip oleh Muliyardi (2002: 3) mengemukakan bahwa β€œpembelajaran matematika adalah upaya untuk membantu siswa untuk mengkontruksi konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep atau prinsip itu terbangun kembali”. Belajar dan pembelajaran adalah dua peristiwa yang berbeda (belajar dan mengajar). . Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi antara guru dengan siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang lebih baik. dan prosedur dari pembelajaran. Belajar dan mengajar akan menjadi terpadu dalam suatu kegiatan manakala terjadi interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan guru dan antara sesama siswa dalam pembelajaran. Suatu pembelajaran merupakan 8 gabungan dari berbagai unsur-unsur yang mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran.belajar dapat diukur sedemikian rupa sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. Proses belajar atau peristiwa belajar mengajar yang terjadi disebut pembelajaran. Pembelajaran merupakan salah satu upaya peningkatan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar. Pembelajaran tersebut lebih menekankan pada upaya untuk membangkitkan inisiatif atau peran siswa dalam menggali pengetahuannya dan bukan hasil transformasi dari guru. fasilitas. Unsur-unsur tersebut meliputi orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran.

mengembangkan. Berdasarkan uraian diatas. Untuk itu dalam kegiatan belajar dan mengajar diperlukan suatu model/ strategi pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk belajar secara aktif. Strategi Belajar Aktif Proses pembelajaran yang baik memungkinkan siswa aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik mental maupun fisik. bersemangat dan penuh gairah. sehingga siswa dapat . Pembelajaran matematika memerlukan konsepsi yang cukup terstruktur dan terarah. dapat dikatakan bahwa pembelajaran lebih menekankan kepada bagaimana upaya guru mendorong siswa untuk menemukan dan mengembangkan konsep-konsep matematika dengan kemampuan sendiri sehingga informasi yang diperoleh dapat dipahami dengan baik. Silberman (2006:9) mengemukakan bahwa : Agar belajar jadi lebih aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Keterlibatan siswa secara aktif harus didukung oleh usaha guru sebagai fasilitator dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan. 2. menyenangkan. Belajar aktif harus gesit. Pembelajaran aktif merupakan belajar dengan memaksimalkan aktifitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber untuk dibahas dalam proses pembelajaran di kelas. mengkaji gagasan dan memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Strategi ini dikenal sebagai strategi pembelajaran aktif. Mereka harus menggunakan otak. dan menetapkan ide merekaa sendiri.

Menurut silberman (2006: 111) strategi ini merupakan aktifitas kerja sama dan juga menstimulasi keterlibatan terhadap pengajaran yang dilakukan. (3) mengajukan pertanyaan. yaitu: (1) mengadakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa. Untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan. Menurut Samadhi (2008:47) mengemukakan bahwa: ”Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Kegiatan ini . 3. (2) melakukan diskusi kelas. Guru hendaknya sebagai fasilitator dan motivator. Silberman (2006:13) mengungkapkan beberapa cara. keterampilan dan sikap aktif. Strategi True or False Statement Strategi pembelajaran true or false statement merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran aktif yang dapat menstimulasi keterlibatan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan. akan tetapi juga kemampuan analitis dan sintesis. (7) mengembangkan keterampilan siswa. (6) melakukan kegiatan belajar aktif dan mandiri. (5) melakukan diskusi antar siswa. Kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran aktif adalah memberikan bantuan dan dorongan kepada siswa sedangkan yang harus aktif selama proses pembelajaran adalah siswa sendiri. berbagai pengalaman yang tidak saja menambah pengetahuan. (4) mengadakan kegiatan belajar kolaboratif. baik dalam bentuk interaksi antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut”.

Kelompok belajar terdiri dari beberapa siswa yang berkumpul dalam suatu kelompok yang mempunyai tugas yang sama. Kelompok pembelajaran kooperatif learning dalam hal kemampuan akademis. Katakan pada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan yang benar dan mana yang salah). dan pembelajaran. Susunlah sebuah daftar pernyataan yang terkait dengan materi pelajaran. yang setengahnya benar dan setengahnya salah. Pastikan jumlah kartu sesuai dengan jumlah siswa yang hadir (jika siswa yang hadir jumlah yang ganjil. dari permulaan pelajaran guru membangkitkan minat siswa. Setiap kelompok terdiri dari siswa dengan kemampuan akademis rendah. sedang dan tinggi. melibatkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan menekankan kembali apa yang telah disajikan guru memberi keterangan tentang tugas apa yang harus dikerjakan. 2. Pengelompokkan dalam Pembelajaran strategi true or false statement ini dilakukan secara heterogen yang dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan akademis. latar belakang. Kooperatif learning yang dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender. pilihlah satu kartu untuk anda sendiri). Agar lebih efektif.meningkatkan pembentukan tim. Prosedur pembelajaran dengan mengggunakan strategi true or false statement menurut Silberman (2006:111) adalah: 1. Jelaskan bahwa . biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan tingggi dua orang berkemampuan akademis sedang dan satu lainnya berkemampaun akademis kurang”. Bagikan satu kartu untuk satu siswa. pertukaran pendapat. sosial-ekonomi. Tulis tiap pernyataan pada kartu indek yang terpisah. Menurut Lie (2002:40) : β€œPembagian kelompok dipilih secara heterogenitas (kemacam ragaman) merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran. 3. agama. dan etnik serta kemampuan akademis.

Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 siswa. perintahkan agar setiap kartu dibaca dan mintakan pendapat siswa tentang benar atau salahkah pernyataan tersebut beri kesempatan munculnya pendapat yang minoritas. e. Guru menulis pernyataan-pernyataan tersebut pada kartu. karena hal ini menunjukkan kegiatan belajar yang sifatnya aktif. d. . yang setengah merupakan pernyataan yang benar dan setengah lagi pernyataan yang salah. c. Berdasarkan uraian di atas. mereka bebas memilih cara apapun yang mereka inginkan dalam menyelasaikan tugas ini. Guru menyusun daftar pernyataan yang terkait dengan materi pelajaran. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan benar) dan mana yang salah dan mereka diperbolehkan mengerjakan tugas ini setelah guru selesai menyajikan materi pelajaran. 5. Berikan umpan balik tentang masing-masing kartu. 4. maka implementasi dari strategi True or false statement dalam penelitian ini adalah: a. Guru membagikan dua kartu yang sama pada tiap kelompok (satu kartu berisikan pernyataan benar yang terdiri dari dua buah soal yang benar dan satu kartu berisi pernyataan salah yang terdiri dari dua buah soal yang salah). dan catat cara-cara siswa dalam bekerja sama dalam menyelesaikan tugas ini. b. Bila para siswa sudah selesai. 6. Tunjukan bahwa dalam pelajaran ini diperlukan keterampilan tim yang positif.

Berdasarkan kutipan di atas. dan sebaliknya dianggap gugur/ nilai kelompok dikurangi. maka skill (pengetahuan). dan reaksi. dengan motivasi. g. i. Konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut (Fadjar. Guru menyajikan materi pelajaran. Guru mengumpulkan kembali kartu-kartu yang telah diisi oleh siswa. 4. 2009 : 4). k. Tanpa itu. Dalam belajar. unsur-unsur comprehension/pemahaman itu tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur psikologis yang lain. Guru memberikan umpan balik terhadap pernyataan-pernyataan yang ada dikartu. Tim yang mampu menyelesaikan soal dengan benar dan dapat mempertanggung jawabkan jawabannya di depan kelas dinyatakan sebagai pemenang. j. dan sikap tidak akan bermakna. Pemahaman Konsep Sunhaji (2009:18) mengemukakan bahwa: Comprehension atau pemahaman memiliki arti sangat mendasar yang meletakkan bagian-bagian belajar pada proposisinya. konsentrasi. Guru memberikan kesempatan kepada beberapa orang siswa. f.dengan membahas secara klasikal. perwakilan dari kelompok untuk memberikan tanggapan tentang pernyataan yang di miliki kelompoknya. Setelah menyajikan materi pelajaran guru memberikan waktu pada siswa untuk melakukan diskusi dengan kelompok masing-masing untuk mencari informasi tentang pernyataan yang diperoleh. h. maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman .

Dalam pemahaman konsep diharapkan siswa mampu untuk menguasai konsep. 3) Memberi contoh dan noncontoh dari konsep.konsep adalah kesanggupan yang dimiliki seseorang untuk mengidentifikasi. Menyatakan ulang sebuah konsep. memahami. Pada petunjuk teknis peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya). 506/C/PP/2004 tanggal 11 November 2004 (dalam Fadjar 2009 : 13) tentang penilaian perkembangan anak didik SMP dicantumkan indikator dari kemampuan pemahaman konsep sebagai hasil belajar matematika. 6) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. 2) Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya). 3. Indikator tersebut adalah : 1) Menyatakan ulang sebuah konsep. konsentrasi dan reaksi. 5) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep. Jadi pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan matematika. Dari indikator di atas. Strategi True or false statement memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan pemahaman siswa terhadap . 4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis. 2. dan memberi contoh atau bukan contoh suatu objek persoalan dan dapat dipengaruhi oleh motivasi. Mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah Pengambilan indikator sesuai dengan pemahan konsep siswa. l ingkaran . maka indikator yang dilihat dalam penelitian ini adalah: 1.

(2) siswa dipaksa mempelajari apa yang diajarkan guru dengan menerapkan berbagai jenis hukuman. Pembentukkan Kelompok . konsep-konsep matematika. 6. yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari yang di lanjutkan dengan pemberian contoh soal dan latihan. 5. Pembelajaran konvensional yang di maksud dalam penelitian ini adalah rangkaian kegiatan belajar yang di mulai dengan orientasi dan penyajian informasi. bukan dengan kesadaran pada makna belajar. Terakhir guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Ciri-ciri pembelajaran konvensional di atas pada umum digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. dilakukan tanya jawab mengenai soal latihan yang dianggap sulit oleh siswa. Guru sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran secara klasikal dengan metode ceramah dan pemberian tugas secara individu. maksudnya hanya menilai hasil ujian. Setelah siswa mengerjakan latihan. (3) pembelajaran berfokus (berorientasi) pada guru dan bukan pada siswa. Ciri-ciri pembelajaran konvensional menurut Marpaung dalam Muliyardi (2003:2) adalah: Proses pembelajaran matematika di sekolah pada umumnya masih didominasi paradigma mengajar yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) guru aktif menyampaikan informasi dan siswa pasif menerima. pada umumnya keberhasilan belajar hanya dinilai secara subjektif.

6. 4. 3. 5. Ani 1. 7. Anggota kelompok terdiri atas 5-6 orang yang berkemampuan tinggi. Ani 1. 10. 9. 8. David 3. Pengelompokan Kelompok Berdasarkan Kemampuan Akademik Langkah I Langkah II Langkah III Mengurutkan Membentuk kelompok Membentuk siswa berdasarkan pertama kelompok selanjutnya kemampuan akademik 1. David 2. Pembentukan kelompok II dan seterusnya dilakukan dengan mengambil siswa dari urutan berkemampuan rendah berikutnya siswa berkemampuan tinggi dan dua orang siswa berkemampuan sedang berikutnya. 5. dan berkemampuan rendah. David 2. 9. 10. 3. 6. Siswa diurut dari tingkat kemampuan rendah sampai ketingkat kemampuan tinggi. 6. 9. 10. Pembentukan kelompok I dilakukan dengan mengambil satu orang siswa berkemampuan tinggi. Langkah-langkah pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademik menurut Lie (2002:41) yaitu: 1. 4. 5. Ani 2. 2. Tabel 2. Pembentukan kelompok pada penelitian ini adalah pengelompokan secara heterogen yang dibentuk berdasarkan kemampuan akademik dan jenis kelamin siswa. Pembentukan kelompok merupakan salah satu bagian perencanaan dalam pembelajaran. dan satu orang berkemampuan sedang. satu orang berkemampuan rendah. 8. 7. berkemampuan menengah. 8. 4. . 7. 3.

Dian 25. 22. 17. 19. 18. Siska 13. Siska 14. 23. 21. Rika 14. Kerangka Konseptual Salah satu faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah adalah penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Siska 13. 20. Citra 12. 23. 17. Rika 14. 18. Slamet 24. 22. Kesimpulan yang didapat bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi true or false statement lebih baik dari pada pembelajaran konvensional. 17. Yusuf 12. 20. Penelitian yang penulis lakukan berpedoman pada penelitian yang relevan mengenai langkah-langkah pelaksanaan. Yusuf 11. Dian 25. Dian Sumber : Lie (2002: 41) 7. 16. 11. Penelitian Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Rici Efriani Putri (2010) dengan judul Penerapan Strategi True or False Statement dalam pembelajaran matematika siswa kelas VIII SMPN 2 Luhak Nan duo Kabupaten Pasaman Barat. 20. Slamet 24. 23. 15. Citra 12. Rika 15. 16. 16. 24. 19. 22. 21. 15. 18. pembelajaran . 21. 19. B. Slamet 25. Citra 13. Yusuf 11. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah peneliti melihat hasil belajar pada aspek kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.

Berdasarkan latar belakang kajian teori yang telah dikemukakan diatas maka dapat dibuat suatu kerangka pelaksanaannya sebagai berikut: Proses Belajar Mengajar dengan Kemampuan Siswa STRATEGI TRUE OR FALSE Pemahaman STATEMENT Konsep Matematika C. sehingga kemampuan pemahaman konsep meningkat. masih berpusat pada guru sehingga mengakibatkan siswa kurang aktif dalam belajar karena mereka hanya bersikap menerima saja informasi yang diberikan guru. terjadi interaksi langsung antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh guru adalah dengan cara menerapka strategi True or False Statement. Guru berperan penting dalam memperbaiki hasil belajar siswa. Strategi true or false statement merupakan alternatif untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Strategi ini dapat meningkatkan pembentukan tim. Penerapan strategi true or false statement pada proses pembelajaran. pertukaran pendapat dan pembelajaran langsung maka keterlibatan dan aktifitas siswa dalam belajar besar. Hipotesis dalam penelitian ini adalah . yaitu dengan memilih sistem pembelajaran yang tepat.

kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika dengan Strategi True or False Statement lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep siswa yang menerapkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII MTsN Tarusan .

Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas. maka jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian eksperimen. Rancangan ini dapat dilihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3. Rancangan Penelitian Kelas Perlakuan Tes terakhir Eksperimen X O Kontrol . Populasi Menurut Suharsimi (2006: 130) bahwa: β€œPopulasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Model rancangan yang digunakan adalah random terhadap subjek. Menurut Suharsimi (2006: 3) ”penelitian eksperimen adalah penelitian yang dimaksud untuk melihat akibat dari suatu tindakan atau perlakuan”. Populasi dan Sampel 1. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTsN Tarusan Tahun Pelajaran 2011/2012 seperti terlihat pada Tabel 4 yang terdiri dari 4 lokal dengan jumlah siswa sebagai berikut: . O Sumber : Suharsimi (2006: 87) Keterangan : X = Pembelajaran dengan metode belajar aktif true or false statemeent O = Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol B. BAB III METODE PENELITIAN A.

A 41 2 VIII. Sampel Menurut Suharsimi (2006: 131) bahwa: β€œSampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Melakukan uji normalitas populasi bertujuan untuk melihat apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. b. Sesuai dengan masalah yang diteliti. Langkah-langkah uji Liliefors menurut Sudjana (2005: 466) adalah sebagai berikut: 1) Menyusun skor siswa yang terendah ke skor yang tertinggi 2) Skor mentah dijadikan kebilangan baku menggunakan rumus: . Mengumpulkan hasil ujian mid semester matematika siswa MTsN Tarusan tahun pelajaran 2011/2012. Jumlah siswa kelas VIII MTsN Tarusan tahun ajaran 2011/2012 No Kelas Jumlah Siswa 1 VIII. maka dibutuhkan dua kelas sebagai sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a.C 42 4 VIII.Tabel 4. Bentuk hipotesis statistik yang diujikan adalah : H0 : populasi berdistribusi normal H1 : populasi tidak berdistribusi normal Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Liliefors.D 41 Jumlah 166 Sumber: Guru Matematika MTsN Tarusan 2.B 42 3 VIII.

misalkan dengan L0. Kriterianya adalah H0 diterima jka L0 < Ltabel. Uji normalitas populasi juga dapat menggunakan uji Anderson- Darling dengan bantuan software MINITAB. Untuk menerima atau menolak H0. Menurut Syafriandi (2001: 4) β€œJika p- value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (Ξ±). 4) Menghitung harga S (Zi) yaitu proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama dengan Zi dengan rumus: π΅π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž 𝑧𝑖 ……𝑧𝑛 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” ≀𝑧𝑖 𝑆(𝑍𝑖 ) = 𝑛 5) Menghitung selisih F(Zi)–S(Zi). Μ… π’™π’Š βˆ’ 𝒙 π’π’Š = 𝒔 Keterangan: 𝑍𝑖 = bilangan baku π‘₯𝑖 = Skor siswa ke i π‘₯Μ… = Rata-rata 𝑠 = Simpangan baku 3) Untuk setiap bilangan ini menggunakan daftar peluang dengan menggunakan rumus F(Zi)= 𝑍 ≀ 𝑍𝑖 . . kemudian tentukan harga mutlaknya 6) Ambil harga paling besar diantara harga mutlaknya selisih tersebut. maka tolak H0. L0 dibandingkan dengan nilai kritis Ltabel pada taraf nyata 𝛼. maka sampel berdistribusi normal. atau sebaliknya kita terima H0”. Interpretasi uji ini dengan memperhatikan p-value.

c. Langkah- langkah uji Barlett yang dikemukakan Sudjana (2005: 263) sebagai berikut : 1) Menghitung rumus variansi gabungan dari semua populasi dengan menggunakan rumus: βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’1)𝑆𝑖2 𝑆2 = βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’1) 2) Menentukan harga satuan Bartlett (B) dengan rumus: 𝐡 = [βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’ 1)] log 𝑆 2 3) Untuk uji Barlett digunakan uji chi-kuadrat dengan rumus: 𝑋 2 = (𝑙𝑛 10)[𝐡 βˆ’ βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’ 1) π‘™π‘œπ‘”π‘†π‘–2 ] Dimana : B = Bartlett 𝑛𝑖 = Jumlah siswa kelas ke-i 𝑠𝑖2 = Variansi kelas ke –i 𝑠2 = Variansi gabungan semua sampel 𝑋2 = Chi-Kuadrat ln 10 = 2. hipotesis yang diujikan adalah: H0 : 12 = 22 = 32 = 42 H1 : jika salah satu tanda sama dengan tidak berlaku Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan uji Barlett. 3026 . Melakukan uji homogenitas variansi populasi. Uji homogenitas dilakukan dengan uji Bartlett. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kehomogenan variansi dari kelas populasi.

maka dikatakan bahwa kelompok perlakuan tersebut tidak homogen. Hipotesis yang diujikan adalah: H0: πœ‡1 = πœ‡2 = πœ‡3 = πœ‡4 H1: paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku Pengujian dapat dilakukan dengan uji analisis variansi satu arah. Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok(Ay) dengan rumus: 2 𝐴𝑦 = βˆ‘(𝐽𝑛𝐼 ) βˆ’ 𝑅𝑦 𝑖 3. Melakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan teknik anava satu arah. Menentukan jumlah kuadrat rata-rata(Ry) dengan rumus: (𝐽2 ) 𝑅𝑦 = βˆ‘ 𝑛 . Uji homogenitas variansi dapat juga dilakukan dengan bantuan software MINITAB. Kriteria pengujian: Tolak hipotesis H0 jika X2 β‰₯ X2(1-Ξ±)(k-1). d. Langkah-langkah uji analisis variansi satu arah menurut Sudjana (2005: 304) sebagai berikut: 1.π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝐽 = 𝐽1 + 𝐽2 + β‹― + 𝐽𝐾 𝑖 2. Menghitung jumlah kuadrat total(Ξ£ Y2) dengan rumus : Ξ£ Y2 = jumlah kuadrat-kuadrat (JK) dari semua nilai pengamatan . Syafriandi (2001: 5) mengemukakan bahwa β€œjika irisan selang kepercayaan itu kosong. dk= (k-1). dimana X2(1-Ξ±)(k-1) didapat dari daftar distribusi chi-kuadrat dengan peluang (1-Ξ±) dan derajat kebebasan. dan sebaliknya dikatakan homogen”.

𝑉2 ) didapat dari daftar distribusi F dengan peluang (1-𝛼) dan dk = (𝑣1 . Tabel 5. Menghitung jumlah kuadrat dalam kelompok (𝐷𝑦 ) dengan rumus: 2 𝐷 𝑦 = βˆ‘ π‘Œ βˆ’ 𝑅𝑦 βˆ’ 𝐴𝑦 5. Mendistibusikan hasil perhitungan langkah 1-8 dalam Tabel analisis variansi untuk uji kesamaan rata-rata. Menghitung kuadrat tengah(R) dengan rumus: 𝑅𝑦 𝑅= 1 6. dimana 𝐹(1βˆ’π›Ό)(𝑉1 . Format Analisis Variansi untuk Uji Kesamaan Rata- Rata. Menghitung kuadrat tengah antar kelompok (D) dengan rumus: 𝐷𝑦 𝐷= βˆ‘(𝑛𝑖 βˆ’ 1) 8. . Sumber Variansi Dk JK KT F Rataan 1 𝑅𝑦 R Antar kelompok (k-1) 𝐴𝑦 A 𝐴 Dalam Kelompok βˆ‘(𝑛1 ) βˆ’ π‘˜ 𝐷𝑦 D 𝐷 Total βˆ‘ 𝑛𝑖 βˆ‘ π‘Œ2 Sumber: Sudjana (2005: 304) Kriteria pengujian adalah: tolak H0 jika𝐹 β‰₯ 𝐹(1βˆ’π›Ό)(𝑉1 .4. Disini 𝛼 = taraf nyata untuk pengujian.𝑉2 ) . Menguji signifikasi dari kelompok (F) dengan rumus: 𝐴 𝐹= 𝐷 9. Menghitung kuadrat tengah antar kelompok(A) dengan rumus: 𝐴𝑦 𝐴= (π‘˜ βˆ’ 1) 7. 𝑣2 ).

Variabel bebas adalah variabel yang diperkirakan berpengaruh terhadap variabel lain. homogen. Untuk interpretasi uji ini dapat melihat p-value. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan bantuan software MINITAB. b. C. 2006: 138) f. e. atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Jika populasi dalam penelitian ini tidak homogen maka pemilihan sampel dapat dilakukan secara Non Random (Suharsimi. Variabel dan Data 1. Variabel Menurut Suharsimi (2006:118) ”Variabel adalah objek penelitian. . Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran aktif tipe true or false statement pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. a. Schaffer dalam Syafriandi (2001: 4) mengemukakan bahwa β€œjika p- value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (𝛼) maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0”. Jika populasi dalam penelitian berdistribusi normal. 2006: 138). maka sampel dapat diambil secara random (Suharsimi. Variabel terikat adalah gejala yang timbul akibat perlakuan yang diberikan oleh variabel bebas. dan memiliki kesamaan rata-rata. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel terikat pada penelitian ini adalah pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII MTsN Tarusan yang terpilih menjadi sampel.

Data sekunder bersumber dari kantor tata usaha dan guru bidang studi matematika kelas VIII MTsN Tarusan. Data primer bersumber dari siswa kelas VIII MTsN Tarusan yang terdaftar pada tahun pelajaran 2011/2012 yang menjadi kelas sampel penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data tentang jumlah siswa dan nilai ujian semester matematika kelas VIII MTsN Tarusan tahun pelajaran 2011/2012. b. Tahap persiapan a. Data Suharsimi (2006: 118) menyatakan bahwa β€œdata adalah hasil pencatatan peneliti. Data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari subjek yang diteliti. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari pihak lain. yaitu: 1. Mengurus surat izin penelitian b. Sumber Data 1). 2. Data primer dalam penelitian ini adalah data pemahaman konsep matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. 2). Prosedur Penelitian Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga bagian. Melaksanakan observasi ke MTsN Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. baik berupa fakta maupun angka”. a. 2). . D. Jenis data jenis data dalam penelitian ini adalah : 1).

Kegiatan inti ( ο‚± 70 menit) . Menentukan kelas sampel f. Kelas Eksperimen Untuk kelas eksperimen diterapkan pembelajaran menggunakan penerapan strategi true or false statement dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Guru menyampaikan tujuan dan menjelaskan prosedur kegiatan dalam pembelajaran 2. Menyiapkan kartu pernyataan yang terkait materi pelajaran h. e. Pendahuluan ( ο‚± 10 menit) a. Membuat kisi-kisi soal tes akhir dengan memperhatikan indikator kemampuan pemahaman konsep i. Membagi kelompok secara heterogen berdasarkan kemampuan akademis siswa. Tahap Pelaksanaan Pada tahap ini penulis melakukan pembelajaran di kelas eksperimen dengan penerapan strategi true or false statement dan di kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran konvensional a. Membuat soal tes akhir 2. g. Guru mengabsen siswa. Menetapkan jadwal penelitian d. Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). memberikan appersepsi dan motivasi agar siswa lebih aktif dalam belajar b. c.

g. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar (berisi pernyataan benar dan mana yang salah) dan setelah guru selesai menyajikan materi pelajaran mereka diperbolehkan mengerjakan tugas. f. b. Tim yang mampu menyelesaikan soal dengan benar dan dapat mempertanggung jawabkan jawabannya di depan kelas . h. perwakilan dari kelompok untuk memberikan tanggapan tentang pernyataan yang dimiliki kelompoknya. d. Guru menyajikan materi pelajaran.a. c. Guru mengumpulkan kembali kartu-kartu yang telah diisi oleh siswa. Guru memberikan kesempatan kepada beberapa orang siswa. e. Setelah menyajikan materi pelajaran guru membagikan dua kartu yang sama pada tiap kelompok satu kartu berisikan pernyataan benar yang terdiri dari dua buah soal yang benar dan satu kartu berisi pernyataan salah yang terdiri dari dua buah soal yang salah. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 siswa. Guru memberikan waktu pada siswa untuk melakukan diskusi dengan kelompok masing-masing untuk mencari informasi tentang pernyataan yang diperoleh.

Guru bersama siswa merangkum pembelajaran ( ο‚± 5menit) 6. dengan membahas secara klasikal 3. Guru memberikan umpan balik terhadap pernyataan- pernyataan yang ada dikartu. Penutup ( ο‚± 10 menit) a. i. Guru memberikan kuis ( ο‚± 10 menit) 5. Memberikan siswa pekerjaan rumah ( ο‚± 5 menit) . Guru menyampaikan indikator pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk belajar ( ο‚± 10 menit) 2. Guru membimbing siswa untuk merangkum materi pelajaran b. Secara ringkas kegiatan pembelajaran dikelas kontrol sebagai berikut: 1. dinyatakan sebagai pemenang. dan sebaliknya dianggap gugur/ nilai kelompok dikurangi. Guru memberikan tugas rumah b. Guru mengarahkan siswa memahami pembelajaran materi pembelajaran dengan menggunakan beberapa contoh soal ( ο‚± 20 menit) 3. Kelas Kontrol Untuk kelas kontrol pembelajaran matematika dilaksanakan seperti biasa yang terlaksana di sekolah tersebut selama ini (konvensional). Guru memberikan siswa latihan ( ο‚± 10 menit) 4.

Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat pengumpulan data yang digunakan dalam suatu penelitian. Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu untuk memperoleh hasil belajar siswa pada aspek kemampuan pemahaman konsep. Menyusun Tes Tes yang penulis susun berbentuk essay. Dalam penelitian ini digunakan instrumen penelitian yaitu tes akhir dengan indikator pemahaman konsep yang berfungsi untuk mengukur tingkat kemampuan pemahaman konsep siswa. 4. Tahap Pelaksanaan Tes Akhir Pada tahap akhir penelitian ini dilakukan hal sebagai berikut: Melaksanakan tes akhir. E. Menyusun butir-butir soal yang akan diujikan. Menyusun kisi-kisi tes hasil belajar matematika dengan memperhatikan indikator kemampuan pemahaman konsep. c. 2. Langkah- langkah yang penulis lakukan adalah sebagai berikut: a. Tujuan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa pada aspek kemampuan pemahaman konsep. Membuat batasan terhadap bahan pelajaran yaitu lingkaran yang akan diujikan 3. yang dilaksanakan setelah pokok bahasan terakhir. Penulis dalam menyusun tes tersebut melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. .

bahwa siswa di sekolah penelitian . Adapun kriteria soal yang baik adalah akurat memiliki vadilitas. Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa validitas isi adalah penyesuaian antara soal yang diberikan dengan materi yang ada dalam kurikulum. Uji Coba Tes Sebelum tes diberikan kepada kelompok sampel. c. maka terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk melihat apakah soal tersebut sudah memenuhi kriteria soal yang baik. Validitas Tes Suatu tes dikatakan valid jika tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas yang diuji dalam penelitian ini adalah validitas isi yaitu cara membuat butir soal harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. karena berdasarkan informasi yang di peroleh dari kepala sekolah VIII MTsN Gurun Panjang dan guru matematika MTsN Tarusan. karena soal yang penulis susun berdasarkan kurikulum dan materi tersebut sudah di ajarkan serta berdasarkan kisi-kisi soal yang telah disusun. Dalam penelitian ini uji coba tes dilakukan di kelas VIII MTsN Gurun Panjang. Selanjutnya dikonsultasikan dengan guru matematika kelas VIII MTsN Tarusan.b. materi yang diajarkan tertera pada kurikulum. Oleh karena itu. Tes yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini memiliki validitas isi. Maka validitas isi sering disebut validitas kurikulum. Arikunto (2002:145) mengemukakan bahwa: Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. dilakukan pada kelompok yang singakat dan relevan dengan kelompok sampel.

Analisis Item Setelah uji coba dilakukan maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis butir soal.70 Sedang 0. Menurut Suharsimi (2009 : 207) bahwa: β€œTujuan analisis butir soal yaitu untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik. kriteria indeks kesukaran soal Indeks kesukaran Kriteria 0. d. Dengan analisa soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadalkan perbaikan”. Suatu soal dikatakan baik. Terbukti dari KKM kedua sekolah yang sama yaitu 65. Tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001:27) sebagai berikut: Jumlah Skor pada suatu soal Mean ο€½ Jumlah siswa yang mengikuti tes π‘€π‘’π‘Žπ‘› π‘‡π‘˜ = π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘Žπ‘™ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› Tabel 6. dan soal yang jelek. sedang.30 Sukar 0. untuk melihat keberadaan soal-soal yang disusun baik atau tidak.70 < TK ο‚£ 1.00 ο€ΌTK ο‚£ 0. dan sekolah uji coba memiliki kemampuan akademik yang tidak jauh berbeda.00 Mudah Sumber: Depdiknas (2001:27) . kurang baik. Dalam melaksanakan analisis item ada 3 langkah yang perlu diselidiki yaitu : 1) Indeks kesukaran Soal Indeks kesukaran soal bertujuan untuk melihat apakah soal termasuk soal yang mudah. atau sukar. jika dapat memberikan gambaran perbedaan anak yang pandai dan yang kurang pandai.30 < TK ο‚£ 0.

digunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001: 28) sebagai berikut: mean kelompok atas ο€­ mean kelompok bawah DP ο€½ skor maksimum soal Menurut Depdiknas (2001: 28) bahwa kriteria daya pembeda soal adalah sebagai berikut: Tabel 7.30 ο‚£ TK < 0.00 ο‚£ DP < 0.2) Indeks Pembeda Soal Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi atau pandai dengan siswa yang berkemampuan rendah. Kriteria Daya Pembeda Soal Daya Pembeda Kriteria 0.40 ο‚£ DP ο‚£ 1.40 Soal diterima tetapi perlu diperbaiki 0. Untuk menentukan daya pembeda soal.00 Soal diterima/baik 0. Suatu tes dikatakan reliabel apabila beberapa kali pengujian menunjukkan hasil yang relatif sama. Untuk menentukan koefisien reliabilitas digunakan dengan rumus alpha yang dinyatakan oleh Anas (2009: 208) yaitu:  n οƒΆ  οƒ₯ si οƒΆοƒ· 2 r 11 =  οƒ· 1ο€­ 2 οƒ·  n ο€­ 1 οƒΈ  st οƒΈ .30 Soal diperbaiki 0.20 ο‚£ DP < 0.20 Soal tidak dipakai/dibuang Sumber: Depdiknas (2001: 28) 3) Reliabilitas Soal Reliabilitas tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya.

Apabila r11 sama dengan atau lebih besar daripada 0. apakah diterima atau ditolak. Untuk mengukur pemahaman konsep siswa. Apabila r11 lebih kecil daripada 0. F. penulis melakukan langkah- langkah sebagai berikut: 1. Dalam menganalisis data. Menghitung Skor Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Analisis ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang pemahaman konsep matematika siswa. Keterangan: r 11 = Koefisien reliabilitas tes οƒ₯s 2 i = Jumlah varians skor tiap-tiap item 2 s t = Varians total n = Banyak butir item Berdasarkan kriteria analisis data maka interpretasi terhadap koefisien reliabilitas tes (r11) pada umumnya digunakan patokan menurut Anas (2009 : 209): 1. Menurut puji (2004: 13) β€œRubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. Dengan menggunakan rubrik ini dapat dianalisa kelemahan dan kelebihan seorang siswa terletak pada kriteria yang mana”.70 berarti bahwa tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi (un-reliable). . Teknik Analisis Data Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan.70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliable) 2. peniliti menggunakan rubrik analitik skala 4.

Skala 0 dapat dianggap untuk kerja yang tidak memenuhi. skala 1 dianggap untuk kerja yang cukup memenuhi. Puji Iryanti 2004: 15). Skor yang diperoleh siswa jika dikonversikan ke skala 0-100 yaitu skor yang diperoleh siswa dibagi skor maksimum dikali 100 atau bila diumuskan: π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Ž π‘ π‘–π‘ π‘€π‘Ž π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ = π‘₯ 100% π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘‘π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ . Puji (2004: 14) Berdasarkan tabel di atas. dan skala 3 dianggap untuk kerja yang sangat baik (Dimodifikasi dari penilaian untuk kerja. skala 2 dianggap untuk kerja yang baik. Skor yang diperoleh masih harus dirubah dalam skala angka yang ditetapkan (dalam bentuk 0-100). Tabel 8: Contoh Rubrik Anatik skala 4 secara umum Skala 0 1 2 3 Indikator Menyatakan ulang Tidak ada Kurang Jelas dengan Jelas dan sebuah konsep jawaban jelas dan sedikit tepat kurang kesalahan tepat Mengklasifikasikan Tidak sesuai Kurang Sesuai Sesuai objek menurut dengan sesuai dengan dengan sifat-sifat tertentu konsepnya dengan konsepnya konsepny sesuai dengan konsepnya sedikit a dan konsepnya kesalahan tidak ada kesalahan Mengaplikasikan Tidak ada Kurang Benar Benar konsep atau jawaban benar dengan dalam algoritma ke sedikit mengapli pemecahan masalah kesalahan kasikan Sumber: Dimodifikasi dari Penilaian Unjuk Kerja. Tes akhir siswa digunakan untuk menentukan batasan memenuhi dan tidak memenuhi indikator pemahaman konsep yang ditetapkan. dapat dinilai tes akhir yang dilakukan siswa.

maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0”. Hipotesis yang diujikan adalah: H0: skor kemampuan pemahaman konsep siswa kelas sampel berdistribusi normal H1: skor kemampuan pemahaman konsep siswa kelas sampel tidak berdistribusi normal. Untuk interpretasi dan uji normalitas bisa dilakukan dengan melihat P-value yang menyatakan besarnya peluang untuk melakukan galat jenis 1 (menolak H0 jika sesungguhnya H0 tersebut benar). Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. . Schaffer dalam Syafriandi (2001: 4) β€œjika P-value lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (𝛼). Sebelum melakukan uji hipotesis. a.2. Uji yang digunakan adalaah uji Anderson-Darling dengan bantuan software MINITAB. terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap kelas sampel. Analisis Data hasil Belajar Siswa dengan Kemampuan Pemahaman Konsep. Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan apakah diterima atau ditolak.

𝑛2βˆ’1) < 𝐹 < 𝐹𝛼 (𝑛1βˆ’1. Syafriandi (2001: 5) mengemukakan bahwa β€œjika irisan selang kepercayaan itu kosong. Uji Homogenitas Uji Homogenitas bertujuan untuk menyelidiki apakah kedua kelompok sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. 1988: 315) adalah: S12 Fο€½ 2 S2 Dimana: F = Variansi kelompok data S1 = Variansi kemampuan pemahaman konsep matematika kelas eksperimen S22 = Variansi kemampuan pemahaman konsep matematika kelas kontrol Kriteria pengujian adalah: Terima hipotesis H0 jika 𝐹(1βˆ’π›Ό)(𝑛1 βˆ’1. Hipotesis yang diajukan adalah: H0: 𝜎12 = 𝜎22 H1:𝜎12 β‰  𝜎22 Rumus yang akan digunakan untuk menguji F (Walpole. 2 2 Pengujian homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan software MINITAB.b. . maka dikatakan bahwa kelompok perlakuan tersebut tidak homogen dan sebaliknya dikatakan homogen”.𝑛2βˆ’1) dalam hal lain tolak H0. Untuk mengujinya digunakan uji F.

c. dilakukan uji hipotesis. Bedasarkan hipotesis yang dikemukakan maka digunakan uji kesamaan dua rata-rata yaitu uji satu pihak. Jika kedua sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi homogen maka uji statistik yang digunakan adalah dengan rumus: Μ…Μ…Μ…Μ… 𝑋1 βˆ’π‘‹Μ…Μ…Μ…Μ… 2 𝑑= 1 1 π‘†βˆš + 𝑛1 𝑛2 Dengan: n ο€­ 1S12  n2 ο€­ 1S 22 S2 ο€½ 1 n1  n2 ο€­ 2 Dimana: X 1 = Nilai rata-rata kelas eksperimen .rata skor tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas eksperimen 2: rata-rata skor tes kempuan pehamahan konsep matematika siswa kelas kontrol Menurut Sudjana (2005: 239) sebagai berikut: a. Hipotesis yang diajukan adalah: H0: 1 ο€½ 2 Hi: 1 ο€Ύ 2 Dengan: 1: rata. uji hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah kemampuan pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.

maka uji statistik yang digunakan adalah: X1 ο€­ X 2 t' ο€½ S12 S 22  n1 n 2 Dimana: X 1 = Nilai rata-rata kelas eksperimen X 2 = Nilai rata-rata kelas control S12 =Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas eksperimen 2 S2 = Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas control n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen n2 = Jumlah siswa kelas kontrol Kriteria pengujian menurut Sudjana (2005: 243) : . X 2 = Nilai rata-rata kelas kontrol S = Simpangan baku kedua kelompok S2 = Variansi total S12 =Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas eksperimen 2 S2 = Variansi kemampuan pemahaman konsep kelas kontrol n1 = Jumlah siswa kelas eksperimen n2 = Jumlah siswa kelas kontrol Kriteria pengujian adalah: Terima H0 jika thitung < ttabel (1-Ξ±) dengan derajat kebebasan dk=(𝑛1 + 𝑛2 βˆ’ 2). tolak H0 jika t mempunyai harga-harga lainnya. b. Jika kedua sampel berdistribusi normal tetapi mempunyai variansi yang tidak homogen.

Syafriandi (2001: 4) mengemukakan β€œjika P-value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (𝛼). . (𝑛1 βˆ’1) π‘‘π‘Žπ‘› 𝑑2 = 𝑑(1βˆ’1𝛼). maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0”. dimana: 𝑛1 𝑛2 𝑑1= 𝑑(1βˆ’1𝛼). 𝑀2 = . 𝑀1𝑑1 + 𝑀2 𝑑2 Tolak hipotesis H0 jika 𝑑 β€² β‰₯ . (𝑛2 βˆ’1) 2 2 Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan software MINITAB. Untuk interpretasi pengujian ini bisa memperhatikan P-value. dengan: 𝑀1 = . dan terima H0 jika 𝑀1 +𝑀2 𝑆12 𝑆22 terjadi sebaliknya.

M. (2004). (2003). Jakarta. Bandung : JICA-Universitas Pendidikan Indonesia. (2008). (2009). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. DAFTAR KEPUSTAKAAN Anas Sudijono. Diktatik Azaz-azaz mengajar.Reneka Cipta. Jakarta: Rajawali Silberman Melvin L. (2002). Proses Belajar Mengajar.(2000). Oemar Hamalik . Metode Statistika. Jakarta : Grasindo. Strategi Pembelajaran Aktif. Bandung : Nusa Media (Diterjemahkan oleh Muttaqien). A. Bandung : Bumi Aksara. Strategi Pembelajaran Matematika. Puji Iryanti. Kemahiran Matematika. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Slameto. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Depdiknas. Bandung : Sinar Baru Algesindo. Penyusunan Butir Soal dan Instrumen Penilaian. Rajawali Pers. (2005). Fadjar Shadiq.Jakarta :PT. Pengantar evaluasi pendidikan. Sudjana.Yogyakarta. _______________.Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Penilaian Untuk Kerja. (2006). (2001). Aktive Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Yogyakarta: Pustaka Indah Madani Muliyardi. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. ( 2001). Anita Lie. S. Depdiknas. Cooperative Lierning. (2008). (2003). (2009). Padang : FMIPA UNP Nasution. Analisis Statistika Inferensial dengan Menggunakan Minitab. Jakarta:PT. (2003). (2003). Jakarta: Depdiknas. (2009). (2002). Sardiman. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Rineka Cipta. Suharsimi Arikunto. Erman Suherman dkk. Padang: UNP . Jakata: Bumi Aksara. Depdiknas Hisyam Zaini. Jakarta : Bumi Aksara Syafriandi.

Jakarta: PT. Walpole. Pengantar Statistika. Ronal E.Susanti. Penerapan Strategi True or False Statement Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X SMA N 1 Lenggo Sari BAganti Airhaji Kabupaten Pesisir Selatan. (1988). Tim Penulis. UNP Padang: Universitas Negeri Padang. Padang: STKIP. 2008. (2008). Ningsih. Buku Panduan Penulisan Tugas Akhir/ Skripsi. Gramedia Pustaka Utama .