You are on page 1of 21

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN KASUS HIPERTENSI NY. N

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CEMPAKA PUTIH

Disusun Oleh :

Nama : Beatricia Indra Junita

NIM : 14.IK.380

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA BANJARMASIN

2017

KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka morbiditas
dan angka kematian ( mortalitas ) ( Adib, 2013 ).
Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanann darah di dalam arteri. Secara
umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang
abnormal tinggi didalam arteti menyebabkan meningkatnya resiko tekanan stroke,
aneurisma, gagaal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal(Faqih,2009).
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung danpembuluh
darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO(World Health
Organization) memberikan batasan tekanan darah normaladalah 140/90 mmHg.
Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jeniskelamin (Marliani, 2007).

TabelI :KlasifikasiTekananDarahuntukDewasa di Atas 18 Tahun

Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Sistolik/Diastolik (mmHg)
Normal < 120 dan < 80
Pre-Hipertensi 120 – 139 atau 80 – 89
Hipertensi Stadium I 140- 159 atau 90 – 99
Hipertensi Stadium II > 160 atau > 100

Tekanan sistolik diukur ketika jantung berkontraksi, sedangkan tekanan
diastolic diukur ketika jantung mengendur (relaksasi). Kedua angka ini sama
pentingnya dalam mengindikasikan kesehatan kita, namun dalam prakteknya,
terutama buat orang yang sudah memasuki usia di atas 40 tahun, yang lebih riskan
adalah jika angka diastoliknya tinggi yaitu diatas 90 mmHg(Adib, 2010).

Kelebihan konsumsi garam dapur yang tinggi.Adib. . ETIOLOGI 1 Hipertensi essensial (primer) merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan ada kemungkinan karena faktor keturunan atau genetik (90%). 3.2013). Sumber (M. 2. Faktor ini juga erat hubungannya dengan gaya hidup dan pola makan yang kurang baik. Minum alcohol.B. Kegemukan (obesitas) 5. Stress 4. 8. Pola makan 6. Merokok 7. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang merupakan akibat dari adanya penyakit lain.

Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin. pada medula di otak. neuron masing-masing ganglia melepaskan asetilkolin yang akan merangsang serabut saraf pusat ganglia ke pembuluh darah. Dari pusat vasomotor itu bermula jaras saraf simpatis yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di thoraks dan abdomen. . PATOFISIOLOGI Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor. yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Vasokonstriksi tersebut juga mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal yang kemudian menyebabkan pelepasan renin. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Ruhyanudin. dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Renin merangsang pembentukan angiotensin I. Medulla adrenal mensekresi epinefrin yang pada akhirnya menyebabkan vasokonstriksi korteks adrenal serta mensekresi kortisol dan steroid lainnya. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi.C. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Pada titik ini. kelenjar adrenal juga terangsang yang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. 2009). meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. yaitu suatu vasokonstriktor kuat. menyebabkan peningkatan volume Intravaskuler. yang kemudian diubah menjadi angiotensin II.

Sering buang air kecil terutama di malam hari 8. MANIFESTASI KLINIS 1. . Wajah memerah 7. Vertigo 10. Telinga berdenging (tinnitus) 9. Jantung berdebar-debar 3. Sakit kepala 2.D. Sering gelisah 13. Mual. Penglihatan kabur 6. muntah 11. Mudah lelah 5. Sulit bernafas setelah bekerja keras atau mengangkat beban berat 4. Sesak napas Sumber Menurut Sutanto (2010). Mudah marah 12.

E. 2007. 2009. . 2006. PATHWAYS Obesitas Merokok Stress Konsumsi Alkohol Kurang olah Usia di atas 50 Kelainan fungsi Feokromositoma garam berlebih raga tahun ginjal Penimbunan Nikotin dan karbon Pelepasan Peningkatan Menghasilkan Tidak mampu monoksida masuk adrenalin dan Retensi cairan kadar kortisol Meningkatnya Penebalan hormon epinefrin kolesterol membuang aliran darah kortisol tahanan perifer dinding aorta & sejumlah garam dan norepinefrin pembuluh darah arteri dan air di dalam Peningkatan Meningkatnya besar Penyempitan tubuh Memacu stress Merusak lapisan Vasokonstriksi sel darah merah pembuluh darah volume darah endotel pembuluh pembuluh Elastisitas dan sirkulasi Efek konstriksi darah pembuluh darah arteri perifer darah menurun Volume darah Meningkatnya dalam tubuh viskositas meningkat Aterosklerosis Tahanan perifer meningkat Jantung bekerja keras untuk memompa HIPERTENSI Otak Ginjal Indera Kenaikan beban kerja jantung Vasokonstriksi Retina Hidung Suplai O2 ke Retensi Telinga pembuluh darah Hipertrofi otot otak menurun pembuluh darah ginjal jantung otak meningkat Spasme Perdarahan Suara Sinkope Blood flow arteriole berdenging Penurunan Tekanan menurun fungsi otot pembuluh darah Diplopia Gangguan jantung Resiko tinggi meningkat keseimbangan cidera Respon RAA Nyeri Resiko tinggi Resiko kepala Vasokonstriksi cidera penurunan Resiko terjadi curah jatung gangguan perfusi jaringan Gangguan rasa Rangsang serebral nyaman nyeri aldosteron Retensi natrium Oedem Gangguan keseimbangan volume cairan Sumber : Tjokronegoro & Utama. Ruhyanuddin. John. Smeltzer & Bare. Sodoyo. 2009. 2007.

dengan berlatih organ-organ tubuh yang selama ini bekerja secara otomatis seperti. Olahraga aerobic yang tidak terlalu berat. Manfaatkan pikiran Kita memiliki kemampuan mengontrol tubuh. Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali. c. detak jantung. Terapi tanpa obat a. dan tekanan darah. Teknik-teknik mengurangi stress Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan cara menghambat respon stress saraf simpatis. b. PENATALAKSANAAN 1. dapat kita atur gerakannya. g. dan kalium yang cukup). Berhenti merokok Penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah keberbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung. . h. Mengurangi atau berhenti minum minuman beralkohol. f. Mengubah pola makan pada penderita diabetes. suhu badan. magnesium. Mengendalikan berat badan Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan berat badannya sampai batas normal. jauh lebih besar dari yang kita duga. kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi.3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium. Pembatasan asupan garam (sodium/Na) mengurangi pamakaian garam sampai kurang dari 2.F. d. e.

Penghambat saraf simpatis Golongan ini bekerja dengan menghambat akivitas saraf simpatis sehingga mencegah naiknya tekanan darah. tensikap). e. Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor Bekerja dengan menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).5. Contoh: Captopril 12. contohnya: Metildopa 250 mg (medopa. codalat. sehingga mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. farnormin). b. farmabes). enalapril 5 &10 mg (tenase). Antagonis Reseptor Angiotensin II Cara kerjanya dengan menghalangi penempelan zat angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. diltiazem 30.1 &0. 2009).90 mg (herbesser. . atau bisoprolol 2. Adib. 2011. g. Muttaqin. 50 mg (capoten. 2009.075 & 0.15 mg (catapres) dan reserprin 0. c. Contoh: Hidroklorotiazid (HCT) (Corwin. Terapi dengan obat a. Vasodilator Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan merelaksasi otot pembuluh darah.5 & 5 mg (concor). farmalat. Contoh: propanolol 10 mg (inderal. Calsium Antagonis Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). dopamet). Diuretic Obat ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat urin) sehingga volume cairan tubuh berkurang. Contoh : valsartan (diovan).60. Resapin). nifedin). klonidin 0. 100 mg (tenormin.2.25 mg (serpasil. f. farmadral). d. Beta Bloker Bekerja dengan menurunkan daya pompa jantung sehingga pada gilirannya menurunkan tekanan darah. Contohnya: nifedipin 5 & 10 mg (adalat. atenolol 50. 25. captensin.

G. 10. glukosa. Kalium serum Hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretic. HDL dan kolesterol total serum Membantu memperkirakan risiko kardiovaskuler di masa depan. mengisyaratkan disfungsi ginjal dan/atau adanya diabetes. 7. elektrolit dan kreatinin darah Dapat menunjukkan penyakit ginjal baik sebagai penyebab atau disebabkan oleh hipertensi. Hemoglobin/Hematokrit Bukan diagnostik tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (Viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti hiperkoagulabilitas. 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Kolesterol. . Glukosa Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) Dapatdiakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi). 6. Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi. Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab). 11. Urinalisis untuk darah dan protein. Kolesterol dan trigliserida serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak atero matosa (efek kardiovaskuler). Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi. 8. anemia. EKG Untuk menetapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri. 5. 9. BUN/kreatinin Memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. Glukosa darah Untuk menyingkirkan diabetes atau intoleransi glukosa. 2. 3. 12. protein. 13. Urinalisa Darah.

2000. 2006). Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi. deposit pada dan atau takik aorta. atau feokromositama(Doenges. Sodoyo. CT Scan Mengkaji tumor serebral. 2003. pembesaran jantung. . 15. 16. ensefalopati. John.14. Foto dada Dapat menunjukkan abstraksi kalsifikasi pada area katup.

gelisah. pengisian kapiler mungkin lambat/tertunda (vasokonstriksi) 4) Kulit pucat. depresi. PENGKAJIAN 1. atau marah kronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral) 2) Faktor-faktor stress multiple (hubungan keuangan yang berkaitan dengan pekerjaan) Tanda: 1) Letupan suasana hati. Integritas ego Gejala: 1) Riwayat perubahan kepribadian. nafas pendek. aterosklerosis. radialis. gaya hidup monoton Tanda : 1) Frekuensi jantung meningkat 2) Perubahan irama jantung 3) Takipnea b. kemerahan. KONSEP KEPERAWATAN A. suhu dingin (vasokonstriksiperifer). euphoria. Tanda: 1) Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk diagnosis. penyakit jantung koroner / katup dan penyakit serebrovaskuler. otot muka tegang (khususnya sektor mata). letih. jugularis. hipoksemia). 2) Nadi: Denyutan jelas dari kerotis. . peningkatan pola bicara. gerakan fisik cepat. Aktifitas/Istirahat Gejala: Kelemahan. penyempitan kontinu perhatian tangisan yang meledak 2) Gerak tangan empati. ansietas. c. Pengkajian Keperawatan a. 3) Ekstremitas: perubahan warna kulit. sianosis dan diaforesis (kongesti. Sirkulasi Gejala: Riwayat hipertensi. pernafasan menghela.

telur).d. Makanan/Cairan Gejala: 1) Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. Eliminasi Gejala: Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa yang lalu). dan atau kelemahan pada satu sisi tubuh 3) Gangguan penglihatan (diplopia. tinggi lemak. gula-gula yang berwarna hitam. sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam) 2) Episode kebas. Neurosensori Gejala: 1) Keluhan pening/pusing 1) Berdenyut. Pernafasan Gejala: 1) dispneu yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja 2) takipnea. muntah 3) Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat/menurun) 4) Riwayat penggunaan diuretik Tanda: 1) Berat badan normal atau obesitas 2) Adanya oedema f. tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng. Nyeri/ ketidaknyamanan Gejala: 1) Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung) 2) Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi (indikasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah) 3) Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya 4) Nyeri abdomen atau massa (feokromositoma) h. 2) Mual. dispnea nocturnal paroksismal 3) batuk dengan atau tanpa sputum 4) riwayat merokok Tanda: 1) distress respirasi/penggunaan obat aksesori pernafasan 2) bunyi nafas tambahan (krekles/mengi) . e. keju. kandungan tinggi kalori. ortopnea. penglihatan kabur) 4) Episode epistaksis g.

. penyakit jantung. Pembelajaran/penyuluhan Gejala: 1) faktor-faktor risiko keluarga: hipertensi. Keamanan Gejala: 1) gangguan koordinasi atau cara berjalan 2) episode parestesia unilateral transion 3) hipotensi postural j. 2) Pengguaan pil KB atau hormone lain. diabetes mellitus. 2000. penggunaan obat atau alkohol (Doenges. Ruhyanudin. 3) Sianosis i. penyakit serebrovaskuler/ginjal. 2007). aterosklerosis.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan hipertensi yang muncul menurut (Doenges. ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 6. 2010) adalah sebagai berikut: 1.B. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. 4. harapan yang tidak terpenuhi. Nathea. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebih sehubungan dengan kebutuhan metabolik. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. . persepsi tidak realistik. Kurang pengetahuan mengenai konndisi penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. 5. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif. 3. 2. 2009 .

RENCANA TINDAKAN 1. Rasional: membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis. d. kualitas denyutan sentral dan perifer Rasional: Denyutan karotis. membuat efek tenang. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. tenang. Observasi tekanan darah Rasional : Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler. . Amati warna kulit.C. dan masa pengisian kapiler. Catat adanya demam umum/tertentu. kelembaban. h. kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. jugularis. b. suhu. Berikan lingkungan yang nyaman. mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik). sehingga akan menurunkan tekanan darah. Rasional: dapat mengindikasikan gagal jantung. dingin. Rasional: Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress. g. batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. c. meningkatkan relaksasi. f. Catat keberadaan. Intervensi: a. Rasional : Adanya pucat. Dunyut pada tungkai mungkin menurun. mencerminkan efek dari vasokontriksi. perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. e. Rasional : S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium. diuretik. kerusakan ginjal atau vaskuler. Rasional: Menurunkan tekanan darah. Anjurkan teknik relaksasi. adanya krakels. panduan imajinasi dan distraksi. radialis dan femoralis mungkin teramati/palpasi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti hipertensi. kurangi aktivitas/keributan ligkungan.

Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh: penurunan kelemahan/kelelahan. Rasional: teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. e. 3. Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri. ketidak seimbanganantara suplai dan kebutuhan O2. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunakan parameter: frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat. d. pusing atau pingsan. frekwensi nadi. menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya. Rasional: Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan mencegah kelemahan. berkeringat. 2. Nyeri (akut): nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. atau nyeri dada. TD stabil. Rasional: Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress. . Rasional: Meminimalkan stimulasi meningkatkan relaksasi. peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri. misalnya: kompres dingin pada dahi. a. Rasional: Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung. kelelahan berat dan kelemahan. Rasional: Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual. dipsnea. b. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi. c. Intervensi: a. Pertahankan tirah baring selama fase akut. b. (Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Dorong pasien untuk partisipasi dalam memilih periode aktivitas. aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja/jantung. Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala. pijat punggung dan leher. catat peningkatan TD. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

Rasional: Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien. Rasional: Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik. Rasional: menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan. 4. Rasional: Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya. penyakit ginjal. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak. kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi. Beri cairan. c. Rasional: Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan menghambat/memblok respon simpatik. Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala : mengejan saat BAB. b. stroke. e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik. d. kerena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan massa tumbuh. makanan lunak. anti ansietas. diazepam dll. f. Rasional: Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatkan tekanan vakuler serebral. dan membungkuk. gagal jantung. . Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan kegemukan. Biarkan klien itirahat selama 1 jam setelah makan. misalnya. batuk panjang. Rasional: Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis. garam dan gula sesuai indikasi. Intervensi: a. efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.

f. Rasional: Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan. jeroan). Rasional: Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis. Rasional: Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual. daging dll) dan kolesterol (daging berlemak. . es krim. keju. Rasional: motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. c. Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif. produk kalengan. hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega. bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil. harapan yang tidak terpenuhi. telur. d. Tetapkan keinginan klien menurunkan berat badan. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan. Misalnya: kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. Rasional: memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan. mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari). Rasional: mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit terakhir. 5. kuning telur. Intruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat . Membantu dalam menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan/penyuluhan. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet. membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi. Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan. g. e. Intervensi: a. persepsi tidak realistik.

Catat laporan gangguan tidur. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. dan minum alcohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur) pola hidup penuh stress. Rasional: Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistis untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya 6. pola hidup monoton. ketidak mampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah. kerusakan konsentrasi. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardivaskuler yang dapat diubah. Rasional: keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. Libatkan klien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan. diet tinggi lemak jenuh. Rasional: pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor) d. f. b. kebutuhan untuk kontrol dan fokus keluar dapat mengarah pada kurang perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal. Rasional: Manifestasi mekanisme koping maladaptife mungkin merupakan indikator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolik. . e. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya. dan dapat menigkatkan kerjasama dalam regiment terapiutik. Etika kerja keras. Dorong klien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. Tanyakan pertanyaan seperti: apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan?. peningkatan keletihan. penurunan toleransi sakit kepala. Intervensi: a. dan kolesterol. merokok. Bantu untuk menyesuaikan ketimbang membatalkan tujuan diri/keluarga. Rasional: Fokus perhatian klien pada realitas situasi yang relatif terhadap pandangan klien tentang apa yang diinginkan. misalnya: obesitas. Memperbaiki keterampilan koping. c. peka rangsangan.

pencegahan. dan akibat lanjut) melalui pendkes. 2008). penyebab. penyebab. maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan. 2000. Bila klien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu. Rasional: Mengidentifikasi tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudah dalam menentukan intervensi. Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian. Rasional: Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal. Rasional: Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien tentang proses penyakit hipertensi (Doenges. b. c. tanda dan gejala. Rasional: Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit. tanda dan gejala. pencegahan. . Ncithea. pengobatan. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat. kemajuan dan prognosis. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi (pengertian. d. pengobatan. dan akibat lanjut.

(2009). Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. F. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Bambang. Jakarta: Erlangga. Anamesis dan Pemeriksaan Fisik. Sudoyo. Fagih. Jakarta: Salemba Medika. Yogyakarta: CV. M. (2009). (2010). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Edisi Keempat Jilid 3. Dianloka. Jantung dan Stroke. DAFTAR PUSTAKA Adib. Muttaqin. A. Ruhyanudin. S & Idrus. Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi. A. (2007). W. Edisi I. et al. A. . (2013).