You are on page 1of 4

Selama Ini, Kita Produktif Atau Hanya Menghabiskan Waktu?

"he who is not courageous to take risks will accomplish nothing in life"

(Muhammad Ali)

Siapa yang takut mengambil resiko, ia tidak akan mendapatkan apapun dalam hidupnya. Hidup adalah
pilihan, salah satunya adalah memilih untuk produktif atau hanya menghabiskan waktu. Terkadang kita
tidak sadar, sedari semula berniat produktif, ujungnya hanyalah buang waktu. Padahal kita tau, waktu
kita tak banyak. Sehari hanya ada 24 jam, dan jumlah hari masih tetap tujuh dalam satu minggu.

Produktif secara sederhana diartikan sebagai, kita, pelaku kerja, menghasilkan suatu karya yang
bermanfaat. Minimal bagi diri sendiri, sukur-sukur bermanfaat pula bagi orang lain. Produktif tidak harus
menghasilkan suatu karya yang besar, satu paragraf dua paragraf seperti yang kamu baca ini, sekalipun
sederhana, namun ini hasil dari melawan ego diri sendiri untuk berselancar di internet, dan
mengalokasikan waktu yang sama untuk menulis. Mungkin saja saya mendapat banyak informasi dari
dunia maya, akan tetapi saya nihil karya.

Berseberangan dengan produktif, menghabiskan waktu lumrah dilakukan oleh siapa saja. Tentu saja
penulis pernah melakukannya, karena tulisan ini sebenarnya adalah refleksi. Beberapa hari ini saya
menyadari banyak hal, terutama waktu yang saya punya dalam sehari, ludes begitu saja. Bahkan
apesnya, saya tidak memiliki ruang untuk diri saya sendiri. Pekerjaan kantor tidak beres, koreksian siswa
masih tertimbun di meja, dan buku-buku bacaan masih tertumpuk rapi belum tersentuh. Belum lagi
kondisi badan yang mudah lelah karena kurangnya olahraga. Padahal, saya itu sibuk. Saya bangun di
subuh hari, bersiap sekolah, lalu pulang saat matahari sudah hampir tenggelam. Itu termasuk pulang
pagi, biasanya hingga bulan sudah sepenggalah.

Lama-lama, proses membuang waktu yang saya alami, akan menjadi sebuah kebiasaan. Tidak baik untuk
diteruskan. Akhirnya saya mencoba merunut sebab musabab saya bisa kacau seperti ini.

Apa kabar persiapan?

Saya lulus kuliah bulan Maret 2016. Sambil menunggu wisuda, (sebenarnya jauh sebelum wisuda) saya
terikat kontrak dengan perusahaan swasta di bidang software development (dih biar keren) sebagai
content administrator atau pembuat konten. Pada saat yang bersamaan juga, saya diajak berkomitmen
(ciye) oleh dosen saya (perempuan) untuk membantu administrasi penelitian beliau. Dan lagi-lagi saya
keteteran. Pertama, menjadi content writer itu harus sedia internet yang memadai, sedang koneksi di
rumah saya (yang pelosok), sangat tidak mendukung untuk pekerjaan ini. Kedua, karena di saat yang
bersamaan dengan penelitian dosen saya, saya sudah mulai masuk masa sekolah, alhasil terjadi
tabrakan beruntun, dan berkali-kali. Pekerjaan saya tidak beres, dan saya tau itu.

Tak jarang saya yang minta diajari. Belum lagi kecermatan dalam menyusun administrasi. dengan model siswa dan mata pelajaran yang berbeda. dalam waktu yang bersamaan. hemat. Itupun dibarengi belajar. tapi pertimbangan waktu. Setiap pekan saya sering kerja rodi menyusun RPP yang terhitung ala kadarnya. Guru itu harus bisa digugu lan ditiru. tegas. sebenarnya selain menyulitkan dirinya sendiri. cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. bersahaja. rela menolong. Menjadi seorang guru tanpa persiapan. atau meminta mereka menyelesaikan error yang tidak bisa saya selesaikan. Saya sedang menerapkan itu. Sebenarnya dosen saya ingin saya belajar ini. Jadi kalau ada kendala. berani mengakui kesalahan. juga membuat siswa menjadi tidak terarah. dua sekolah negeri dan satu sekolah swasta. Selain itu. Merasa pernah membaca kata-kata itu sebelumnya? Mungkin bisa dibuka kembali kitab dasa dharma pramuka. Qadarullah. sedikit banyak membuat saya stress. belum pernah saya pelajari di kampus sebelumnya. Tapi sekali lagi. Pekan pertama. akan berguna bagi saya. Dari awal saya memang menyampaikan bahwa saya juga baru belajar bahasa tersebut. saya bekerja untuk perusahaan.5 jam. rajin. Bulan April saya melamar di tiga SMK. satu di Gamping Sleman). 10 menit pertama adalah eksplorasi materi. iya. dan untuk dua sekolah. dan sebagainya. Isi RPP kurang lebih adalah jadwal pembelajaran. patuh aturan. sopan. dan beliau yakin kelak ilmu adminisitrasi dan konsistensi ini. Beruntung siswa saya bukan yang: GURU ITU PASTI BISA SEMUANYA. gembira. sabar. sulit sulit bisa lalu terbiasa. saya bermasalah dengan diri saya sendiri. satu persatu. dan tulus adalah bagian dari digugu dan ditiru. Bekerja untuk dosen berarti saya harus meluangkan cukup banyak waktu untuk bisa bolak-balik rumah-kampus yang ditempuh sekitar 2. serta kunci jawaban. Guru yang tidak membuat Rancangan Pembelajaran atau yang lebih dikenal dengan RPP. Itu adalah kesalahan saya yang pertama dan utama setelah dinyatakan bergabung dengan SMK. Memilih untuk dua sekolah dengan jarak yang cukup jauh (satu di Sabdodadi Bantul. saya sering mengutuk diri saya sendiri: saya tidak mampu mengajar siswa model begini. terampil. rileks saja saat membaca catatan saya.Bulan Maret hingga Agustus. pengayaan bagi siswa yang berlari lebih dulu dari teman-temannya. dan saya yakin pembaca juga mengamini. latihan soal. Tolong. Ketidakpatuhan saya dalam administrasi berimbas ke banyak hal. suka bermusyawarah. cermat. dapat dipercaya. berprasangka dan bertutur kata yang baik. itu pilihan paling bodoh yang pernah saya lakukan. saya membantu administrasi penelitian dosen. saya minta diselesaikan bersama-sama. untuk dosen. karena mata pelajaran yang saya ajar. Repot. saya diterima ketiganya. . saya kesulitan beradaptasi. Harus bisa digugu lan ditiru perilakunya. saya mengambil dua sekolah dan menarik kembali surat lamaran saya di sekolah negeri dekat rumah. bertanggung jawab. sudah belajar lebih dulu. misal 5 menit pertama adalah presensi dan berdoa. dengan jadwal kegiatan yang sering tabrakan. Takwa kepada Allah. Bahasa pemrograman C++ misalnya. Saya sering ngambek ke siswa kalau mereka tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Bahkan yang kelas XI. Saya pernah sampai menangis (sepanjang perjalanan pulang). Tentu jatuh cinta padamu adalah pilihan bodoh pada urutan pertama. Jadi bayangkan. disiplin. sangat baru bagi saya. Awal-awal. disiapkan pula materi.

Sisa 50% sudah berkurang setengah lebih. Mengingat kembali masa kejayaan. tapi masih ada 50% yang lain. Apalagi di sekolah. tidak produktif. tapi sadar akan kapasitas.Merubah Kebiasaan Sebentar lagi Ujian Akhir Semester selesai. (Tolong aamiin-kan saja meski masih abu-abu). ada juga sekali dua kali ngomentarin hidup orang lain. Allah akan membantu mengatur jadwal hidup kita. Sisi produktifnya? Jelas tidak ada. kegiatan itu jelas membuang waktu. Keren kan? Saya tau jika kita mengatur jadwal sholat kita. Obrolan tidak penting namun juga penting karena bersama teman-teman. Saya berusaha untuk melangkahkan kaki ke masjid. kita tidak mudah lelah. Pernah juga ditelepon sama Tata Usaha dengan nada super nyaring karena tidak berangkat rapat. Namun belum genap 100%. Jujur. bagi kaum yang merayakan. Kenapa? Karena kita tau apa yang harus kita kerjakan. Mulai dari sana. membuat saya semakin buang-buang waktu. Saya berpikir keras. NO tidak selamanya penolakan. Bukan apa. sudah tertulis di kepala dan sudah terencana rapi di buku agenda. Piye carane? Ada kalanya kita terjebak dalam kondisi yang tidak inginkan. Apalagi kalau bukan karena kerjaan kurang beres. sampai bully mem-bully. Seperti berangkat sekolah pukul 06. Kemudian kerjaan nulis di kantor. sometimes. Mencatat kegiatan secara rutin dan menyusun prioritas. saya lelah karena pikiran saya cabang kemana-mana dan saya tidak tau harus mengerjakan yang mana dulu. Sudah mau nikah. hidup itu ada sosialnya juga. Jadi selama ini. Saya menjadi rajanya molor urusan sholat. Tapi lagi-lagi pekerjaan menghantui. Kebiasaan tersebut jelas sangat membantu dalam penyesuaian kegiatan sehari-hari.35 menit dan saya tau itu pasti terlambat sampai sekolah. yang saya rasakan adalah kelelahan demi kelelahan. Beberapa kali sampai HRD kontak.00 WIB. Pantai Papuma Jember. Ketika adzan berkumandang. Apa yang membuat saya mundur teratur dari jaman dahulu kala. saat kita membahas orang lain. Sekitar 50% jadwal hidup cukup teratasi. Entah membahas siswa. Seringkali sholat dhuhur lepas pukul 13. Kebiasaan ini sudah mulai dikurangi. Urusan sepenting sholat saja diabaikan. saya berbenah diri. Selama di sekolah. Selain itu. pantas saja kalau hidup saya berantakan. Apabila terdengar adzan. diberondong tugas selanjutnya. Ada ngobrolnya. Secara kasat mata pun bisa dinilai.00 bahkan sholat ashar pukul 17. Belum selesai satu tugas. Dalam hati jelas berkata. Apalagi saya sadar. I wanna organize my life (better). Bukan egois. I’ve another job to do. Akhirnya saya menemukan satu kebiasaan yang sudah sangat lama saya tinggalkan. masa masih berantakan. dan sebagainya. Akhir tahun ini ingin berkunjung ke kebun teh Kemuning Karanganyar Solo. Sisi hati yang lain berkata. kebijakan. dan atasan saya di kantor juga komplain. But I shouldn’t. Ini benar-benar. Bagian mana? . kata NO menjadi wajib agar kita memiliki ruang untuk diri kita sendiri. Gunung Merbabu. I can’t quit. Masih tetap belum genap 100%. melainkan karena saya semakin lalai. Sampai pada akhirnya saya menyerah dengan yang namanya multitasking. Membuat detail harian. Dan masalah keterlambatan waktu yang lain. Saya ingat. Wanna escape. Saatnya liburan. But sometimes we couldn’t do anything except join them. itu artinya kita juga akan dibahas saat kita tidak ada. saya tidak lantas bergerak. tidak perlu menunggu teman. Seringkali ketika kita sudah dewasa.

Cukup. sudahkah ditumbuhkan? Bisakah kamu berlaku multitasking? Siapkah untuk fokus mulai dari sekarang? Pertanyaan itu. Apa yang membuatmu terhenti pada suatu titik padahal sebenarnya kamu bisa berjalan lebih jauh lagi? Sudah produktif-kah? Atau hanya buang waktu dengan kongkow bersama teman-teman sebaya? Apa kabar persiapan. jauh dari pekerjaan freelance yang selama ini saya geluti. Fokus di SMK sekaligus meminta Sabtu untuk libur sebagai persiapan kuliah lagi di hari Sabtu-Minggu (masih rencana). menjadi guru produktif salah satu SMK di Bantul.” (QS Al Insyirah: 7) . Sabtu eksplorasi diri. “Maka apabila kamu telah selesai pada suatu urusan. Kalau tidak ya. jelas hanya kamu sendiri yang bisa menjawabnya. Bulan ini adalah bulan penyelesaian. Saya rasa itu cukup. Ahad untuk keluarga. Itulah kenapa Senin-Jumat kerja. Bulan Juli nanti. Banyak sekali agenda upgrading pada hari Sabtu. sudah sampai mana? Kebiasaan baik. maka kerjakanlah urusan yang lain. Saya mulai bertanya untuk apa saya ngayahi semuanya kalau saya sendiri tidak mampu. Sekarang. Meski honor tak seberapa. saatnya kamu bertanya pada dirimu sendiri. sebagai persiapan nikah juga. Fokus pada satu hal dan tidak menanggalkan kebiasaan lama (yang baik-baik). Satu persatu pekerjaan saya lepaskan. pekerjaan saya tinggal satu. Karena Sabtu adalah hari di mana kita bisa mengeksplorsi diri.Fokus Itu Mudah Bagi yang menjalankan.