You are on page 1of 2

BAHAYA PORNOGRAFI

BAGI KEHIDUPAN RUMAH TANGGA
Oleh : Masrijal Habib

“Bahwa di balik segala yang menyenangkan itu ada bahaya yang menunggu
tanpa disadari. Bahaya itu bernama Pornografi”.

Televisi, kotak ajaib, satu ini sepertinya sudah biasa ada di setiap rumah.
Bahkan bisa saja di rumah kita televisi tidak cuma satu. Ada yang dua, tiga
bahkan sampai empat.
Apalagi sekarang makin banyak muncul televisi swasta yang berarti makin
banyak juga acara-acara yang menarik.
Apakah anda bosan lihat televisi? Tenang saja ada DVD atau video game
yang siap menanti. Masih bosan juga? Berinternet atau bertelepon ria dengan
teman mungkin cukup untuk menyegarkan pikiran.
Artinya sekarang ini, anak muda, bahkan orang tua tidak mengenal status
dan usia, memang sudah dimanjakan dengan aneka teknologi baru. Semuanya siap
memberi hiburan.
Tapi, pernahkah terpikir? Bahwa di balik segala yang menyenangkan itu
ada bahaya yang menunggu tanpa disadari. Bahaya itu bernama pornografi.
RUU pornografi yang begitu alot pembahasannya di DPR, bermula
darikeinginan untuk mengikis aksi pornografi yang makin merajalela.
Kenyataan saat ini, sangat mengerikan, anak muda dibuat tidak sadar
bahwa dirinya sedang terancam dengan bahaya pornografi. Memang ada sisi
positif dari aneka media itu, tapi “banyak pula yang muatannya bermasalah”,
bermasalah maksudnya ada muatan dan cumbu seks yang menggiurkan, ada
unsur-unsur kekerasan, bahaya kasar, dan iklan yang dapat mendorong
konsumerisme. Hal itu jelas akan membahayakan lapisan kehidupan rumah tangga
yang berarti kehidupan bermasyarakat.
Teori imitasi peniruan, seperti apa yang ia tonton. Hal itu akan
berpengaruh pada sikap dan perilaku, juga berpengaruh lewat cara berpikir dan
berpengetahuan.

Nah. kalau bukan anak-anak. siapa yang paling gampang terpengaruh dengan media seperti itu? Ya siapa lagi. betapa asyiknya kawula muda kita meniru saat ini. Anak itu tiba-tiba ikut-ikutan bersilat mengikuti aksi pahlawan yang ia tonton. remaja. ironi . sehingga kawin dan hamil muda saat ini semakin menjamur. coba amati sikap anak sehabis menonton televisi yang menayangkan kartun pahlawan super atau sinetron yang penuh dengan sumpah serapah. bahkan lansia sekalipun. Apalagi adegan mesra yang ditayangkan. Contoh yang paling mudah.