You are on page 1of 19

BAB 1

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Penelitian ini merupakan studi mengenai kerjasama selatan-selatan yang mana

dalam tulisan ini penulis mengangkat kerja sama antara negara Indonesia dengan negara

Sudan dalam bidang pertanian. Dalam penelitian ini penulis akan memperlihatkan

bentuk-bentuk kerjasama yang dilakukan oleh ke dua negara dan akan memperlihatkan

hasil dari kerjasama ke dunia negara ini.

Berbagai forum dan kesepakatan internasional seperti konferensi Asia Afrika

tahun 1955, Gerakan Non Blok tahun 1961, South Summit di Kuba dan Qatar tahun

2000 dan 2005, Resolusi PBB No. 58/220 tentang pembentukan High Level Committe

on south-south Cooperation dan Bogota Statement: Toward Effectiv and Inclusive

Devolepment Partnership tahun 2010, memperlihatkan bahwa kerjasama selatan-selatan

mempunyai sejarah untuk meningkatkan solidaritas dan perjuangan bersama untuk

mencapai kondisi yang lebih baik yang berlandaskan kepada nilai-nilai kebersamaan,

kesetaraan, dan keadilan.1

Kerjasama Selatan-Selatan merupakan pelengkap dari kerjasama Utara-Selatan

dan model kerjasama untuk memajukan pembangunan di dunia internasional.

Kerjasama Selatan-Selatan dianggap penting karena dunia mendekati waktu 2015 yang

merupakan target untuk anti kemiskinan yang dikenal dengan Tujuan Pembangunan

1
Kajian Membangun Kerjasama Seltam-selatan Indonesia Secara Berkelanjutan. Tersedia di:
http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/adoku/2011%5Ckajian%5Cpkrb%5CSelatan-Selatan_PKRB'11.pd.
(diakses pada: 13 Maret 2014)

1
Milenium (MDGs) yang di sepakati dalam pertemuan puncak PBB tahun 2000 yang

dihadiri oleh para pemimpin dunia. Target dari MDGs adalah pengentasan kemiskinan,

pendidikan, kesetaraan gender, kesehatan ibu dan anak, stabilitas lingkungan,

HIV/AIDS dan pengurangan malaria, dan kemitraan globalo untuk pembangunan.2

Kerjasama selatan-selatan merupakan faktor pendorong negara-negara

berkembang untuk memilki peran dalam perekonomian dan kerjasama pembangunan.

Negara yang melakukan Kerjasama selatan-selatan akan memiliki peran ganda, yaitu

sebagai penerima dan pemberi bantuan. Negara-negara berkembang saling beralih ke

satu sama lainnya untuk mempelajari tentang kebijakan inovatif dan skema untuk

mengatasi tantangan pembangunan yang menekan.

Indonesia terlibat kejasama kerjasama Selatan-selatan di mulai sejak

pelaksanaan konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Sejak itu, Indonesia aktif

dalam proses pembangunan dan pematangan kerjasama Selatan-Selatan. Indonesia saat

ini sudah banyak melakukan kerjasama selatan- selatan.3 Indonesia melakukan

kerjasama selatan-selatan bertujuan untuk mempercepat pembangunan ekonomi

Indonesia dan memberikan dukungan kepada negara-negara selatan dan untuk

meningkatkan kemandirian bersama atas dasar solidaritas.

Kerjasama Indonesia dengan sudan sudah di mulai sudah dimulai semenjak

tahun 1992 di bidang telekomunikasi. Indonesia dengan Sudan telah melakukan

2
Memajukan kerjasama Selatan-Selatan dapat tingkatkan pencapaian tujuan pembangunan – Sekretaris-
Jenderal PBB Tersedia di: http://www.unic-jakarta.org/index.php/id/latar-belakang-unic-jakarta/96-
bahasa-categories/info-terkini/september-2013-bahasa/3980-memajukan-kerjasama-selatan-selatan-dapat-
tingkatkan-pencapaian-tujuan-pembangunan-sekretaris-jenderal-pbb. (diakses pada 13 Maret 2014)
3
Duta Besar Soemadi D.M. Brotodiningrat. Grand Design Baru Kerjasama Selatan-selatan. Tabloid
DIPLOMASI media Komunikasi dan Interaksi. No. 54. V. tgl.15 April-14 Mei 2012.

2
kerjasama dalam berbagai bidang seperti, bidang telekomunikasi, pedagangan, investasi,

pariwisata, pendidikan, pertanian dan beberapa kerja sama lainnya.4

Indonesia telah mendapat pengakuan dari dunia internasional bahwa Indonesia

merupakan salah satu negara yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang baik di

dalam bidang pertanian. Karena sebagain besar dari masyarakat Indonesia merupakan

masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani. Dan hasil dari pertanian

Indonesia sudah tergolong baik.

Dalam kurun waktu belakangan ini, pengan mengalami kenaikan yang pesat.

Peningkatan penggunaan pangan untuk energy menyebabkan kenaikan harga dan di

pekerkirakan akan terus berlanjut. Kenaikan harga pangan akan mengancam pemenuhan

kebutuhan manusia yang paling dasar. Meningkatkan isntabilitas politik dan ekonomi

dan menghambat pemberantasan kemiskinan seperti tujuan dari negara pembangunan

Millinium 2015.5

Kerjasama Indonesia dengan Sudan di dalam bidang pertanian dimulai sekitar

tahun 2000an ditandai dengan adanya MoU Indonesia dan Sudan dalam bidang

pertanian tahun 2002, Agreeed Minutes Menteri Pertanian dan Sudan tahun 2007.6 Dan

yang terbaru adalah penandatangan Joint Technical Committee oleh meteri pertanian RI

dan menteri pertanian dan irigasi Sudan di Khartoum pada april 2013.7

Sudan memiliki lahan pertanian yang subur mencapai 84 juta ha, yang baru di

kelola 20%, lahan yang siap di kelola 48 juta ha, hutan 74 juta ha, dan sudan juga di

4
Sudan. Tersedia di: http://www.kemlu.go.id/Daftar%20Perjanjian%20Internasional/sudan.htm (diakses
pada 14 Maret 2014)
5
Fransiscus Welirang, Peningktan penggunaan pangan Untuk energy menyebabkan keanaikan harga
pangan, Tabloid Diplomasi, No, 42 tahun IV, tgl 15 april-14 Mei 2011.
6
Ibid
7
Indonesia-Sudan. Tersedia di: http://www.theglobal-
review.com/content_detail.php?lang=id&id=11801&type=15#.UzKc6mf6PxM. (.diakses 16 Maret 2014)

3
kelilingi oleh sungai nile dan sungai-sungai kecil lainnya dan selain itu tanah di Sudan

juga merupakan tanah tada hujan dan air sumur. Sedangkan Indonesia memiliki

teknologi, pengalaman, dan kemampuan di bidang pertanian. Hal inilah yang menjadi

dasar bagi Indonesia dan Sudan untuk melakukan kerjasama di bidang pertanian.8

Kerjasama dalam bidang pertanian merupakan salah satu upaya Indonesia untuk

mengatasi krisis pangan yang mana pada saat ini menjadi isu banyak negara. Karena

banyaknya isu-isu global yang akan menyebabkan krisis pangan, seperti perubahan

iklim global, dan pembangunan di negara berkembang yang mengurangi lahan untuk

pertnaian.

Sudan mempunyai lahan yang cukup luas dan siap di sediakan untuk investor

Indonesia. Terutama untuk penanaman padi, kapas, dan tebu dan lahan lain yang di

butuhkan indonesia. Kerja sama dalam industri gula, diharapkan kedua negara ini

menjadi negara swasembada gula dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi negara

pengekspor gula. Sudan memiliki letak yang geografis yang dekat dengan pasar ekspor

di timur tengah dan Eropa. Tanaman kapass juga di butuhkan Indonesia sebagai bahan

tekstil.9 Upaya pengembangan pertanian padi di Sudan akan memberi beberapa manfaat

yang bisa didapatkan Indonesia, terutama jaminan ketersediaan beras untuk konsumsi

Indonesia.10

8
Rumah toko Produk Pertanian di luar Negeri. Tersedia di:http://eksim.deptan.go.id/kln/berita-144-
rumah-toko-produk –pertanian-di-luar-negeri.html. (diakses pad: 23 Maret 2014)

10
RI-Sudan Kerja Sama Pertanian dan Peternakan. Tersedia di :
http://internasional.kompas.com/read/2013/04/23/12351495/RI-
Sudan.Kerja.Sama.Pertanian.dan.Peternakan.(diakses 23 Maret 2014)

4
Infrastruktur yang mendukung pertanian pembangunan pertanian di Sudan

adalah11:

1. Sektor perbankan, peningkatan modal dan peluang investasi

2. Reformasi sistem informasi dan komunikasi

3. Pengembangan sektor pertanian dan kehewanan

4. Reformasi sektor perundang-undangan untuk menjamin hak-hak dan

kewajiban

Sistem pertanian yang telah digunakan di Sudan dan investasi di sektor pertanian

di Sudan yaitu, sistem irigasi sekitar 2 juta ha untuk tanaman kapas, gandum, kacang

tanah, sayur-sayuran, buah-buahan dan makanan ternak dan juga sistem pertanian

dengan 6 juta ha tanah tadah hujan. Jenis pertanian yang dapat di kelola dengan

menggunakan sistem ini adalah jagung, sesame, bunga matahari dan kapas.

Sudan juga menggunakan sistem investasi, diantaranya:12

1. Pajak produksi bahan baku pertanian di tiadakan

2. Penghapusan pajak ekspor komoditi pertanian

3. Penghapusan pajak ekspor peralatan pertanian

4. Platform modal di sektor pertanian tidak di tentukan dan tidak pula di batasi

5. Nilai tukar uang setempat stabil

Selain ini, ada beberapa hal yang menjadi peluang investasi pendukung, yaitu:

1. Pelayanan peralatan pertanain

2. Pelayan modal untik pemasaran hasil penelitian

11
Ibid
12
Ibid

5
3. Pelayanan transportasi, pergudangan, dan berbagai sarana pendukung

lainnya.

Dengan demikian tentunya Indonesia memiliki peluang untuk memasukan

produknya ke Sudan. Produk yang bisa di ekspor Indonesia ke Sudan diantaranya

adalah alat-alat pertanian, pupuk, bibit unggul, dan juga tenaga kerja yang terampil. dan

ini akan memberikan efek domino untuk ekonomi indonesia.

Dengan demikian, Indonesia akan melakukan investasi dalam bentuk Rumah

Produk Pertanian Indonesia yang diisi oleh para pelaku usaha dengan berbagai produk

Indonesia. Diantaranya diisi oleh produk pertanian dari PT RUTAN dan PT ASTRA.

Dengn terkelolanya lahan pertanian di Sudan dengn baik, maka hal ini akan

dapat mengurangi pengangguran di Sudan, karena di sektor pertanian ini dapat

menyerap 55% kesempatan bagi tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan di bidang

pertanian.

Dari gambaran diatas, beberapa alasan yang menjadi dasar bagi penulis untuk

menganalisis topik yang diangkat dalam penelitian ini diantaranya adalah sebgai

berikut: pertama alasan mengapa di pelerlukan kerjasama antar negara selatan-selatan,

kedua Indonesia dan Sudan melakukan kerja sama dalam bidang pertanian dikarenakan

antara Indonesia dan Sudan saling ketergatungan, dan yang ketiga Sudan memberikan

peluang investasi bagi para perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang

pertanian.

1.2. Permasalah Penelitian

Antara negara selatan-selatan membutuhkan kerjasana untuk bisa membangun

dan mengembangkan perekonomiannya. Tetapi negara berkembang memiliki berbagai

6
macam kendala untuk bisa membangun dan mengembangkan perekonomiannya.

Keterbatasan modal, teknologi dan tenaga ahli untuk bisa mengembangkan usaha

perekonomiannya. Sedangkan sumber daya alam yang tersedia lebih dari cukup.

Seiring dengan perkembangan zaman dan meyebarnya isu-isu akan krisis

pangan yang disebabkan salah satunya oleh perubahan iklim global maka Indonesia

membutuhkan cadangan dan mempersiapkan upaya untuk bisa mengatasi krisis pangan

tersebut. Indonesia juga membutuhkan berbagai bahan-bahan baku pangan untuk bisa

melengkapi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

Sudan merupakan negara yang sama-sama berada di dalam level negara selatan

atau negara berkembang. Kendala bagi negara Sudan yang merupakan bagian dari

wilayah Afrika adalah kurangnya informasi mengenai potensi dan kerjasama. Sudan

mememiliki sumber daya alam yang tersedia untuk pertanian, tetapi Sudan tidak

memiliki modal, peralata, dan tenaga yang ahli untuk bisa memamfaatkan sumber daya

alam yang tersedia.

Kerjasama dari Indonesia dengan Sudan memberikan peluang bagi Sudan untuk

bisa memamfaatkan sumber daya alam yang bisa di kelola untuk pertanian. Kerjasama

antara Indonesia dengan sudan sama-sama memberikan mamfaat kepada ke dua negara.

Sudan memiliki lahan yang bisa di kelola untuk pertanian, sedangkan Indonesia bisa

melakukan investasi dalam pertanian dan juga bisa melakukan ekspor peralatan

pertanian ke negara sudan. Kerjasama ini juga bisa menjadi transfer ilmu pengetahuan

dan pengembangan informasi yang bermamfaat bagi negara Sudan untuk memajukan

sektor pertaniannya.

7
Berdasarkan paparan diatas, penulis merumuskan pertanyaan penelitian sebagai

berikut: Mengapa Diperlukan Kerja Sama Selatan-Selatan, dan Alasan Mengapa

Indonesia dan Sudan Melakukan Kerjasama Di Dalam Bidang Pertanian?

1.3. Tujuan dan Mamfaat penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan pengtingnya Kerjasama Selatan-Selatan

2. Memaparkan sektor pertanian dari kedua negara Indonesia-Sudan

3. Melalalui penelitian ini penulis akan menyampaikan pentinganya dari

Indonesia melakukan kerjasama selatan-selatan . dan juga bentuk dan hasil

kerjadsama kedua negara Indonesia- Sudan yang melakukan kerjasama dalam

bidang pertanian.

1.3.2. Mamfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi yang

berguna dalam memperluas ilmu pengetahuan serta menjadi sumber informasi bagi

pihak-pihak yang melakukan penelitian dengan objek yang sama.

8
1.4. Teori

Teori merupakan sebuah gagasan atau kerangka berfikir yang mengandung

penjelasan ramalan atau anjuran di dalam bidang penelitian.13 Dalam melakukan

penelitian penullis menggunakan teori yang relevan yang sesuai dengan pembahasan

permasalah.

Keruntuhan Uni Soviet tahun 1990 menandakan berakhirnya Perang Dingin

yang lahirkan corak baru dalam hubunga internasional. Isu-isu internasional yang

sebelumnya berbentuk hight politic issue telah berubah menjadi low politic issue dan

dianggap sama pentingnya dengan high politic issue (Kegley & Witkopf, 1997:4).14

T. May Rudy menyimpulkan hubungan internasional sebagai hubugan yang

mencakup berbagai macam hubungan interaksi yang melewati batas-batas wilayah dan

melibatkan pelaku-pelaku yang berbeda kewarganegaraan, dan berhubungan dengan

segala bentuk aktivitas manusia. Hubungan ini dapa berupa kelompok maupun

perorangan dari suatu negara yang melakukan interaksi secara resmi maupun tidak

resmin dengan kelompok atau orang di negara lain.15

Dalam ilmu hubunagn internasional terdapat terdapat banyak teori. Dalam

tulisan ini penulis menggunakan teori liberalisme. Pemikiran liberalism memilki

pandangan bahwa politik global bersifat kompleks. Ini di karenakan pola-pola yang

terjadi dalam hubungan internasional tidak lagi didominasi oleh isu-isu keamanan,

militer, dan aktivitas negara saja, namun pola-pola dalam hubungan internasional sudah

menyangkut mengenai masalah-masalah kompleks seperti isu-isu perekonomian, isu

13
Jack C Plano, Robert E Riggs, & Helena S Robin, Kamus Analisa Politik, (Jakarta: Rajawali pers,
1995), hal. 226
14
BAB II Tinjauan Pustaka, diakses dari: http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/394/jbptunikompp-gdl-
eygagtrisy-19689-7-babii.pdf. (diakses pada : 18 Maret 2014) hal. 30
15
Ibid. hal. 31.

9
lingkungan, aktor non, perusahaan multinasioal, dan kelompok-kelompok sosial

lainnya.16 Didalam teori liberalism terdapat interdependence liberalism. Dimana kaum

liberal berpendapat bahwa interdependensi memaksa negara-negara untuk bekerja sama

secara lebih baik dari sebelumnya.17

Fokus kajian dari interdependensi adalah pada perdagangan internasional dan

pembangunan ekonomi. Kedua fokus kajian ini dianggap lebih efisien untuk mencapai

kemakmuran di bandingkan dengan menggunakan kekerasan.

kerjasama Internasional menurut Coplin dan Marbun: " kerjasama itu awalnya

terbentuk dari satu alasan dimana negara ingin melakukan interaksi yang terus menerus

dan bertujuan untuk kebaikan bersama. Interaksi-interaksi ini merupakan aktifitas

pemecahan masalah secara kolektif dan berlansung baik secara bilateral maupun

multilateral (Coplin & Marbun, 2003: 282).18

Dalam kerja sama internasional bertemu berbagai kepentingan nasional dari

negara dan bangsa yang tidak dapat dipenuhi di dalam negaranya sendiri. kerja sama

internasional terjadi karena national understanding serta adanya tujuan yang sama,

keinginan yang di dukung oleh kondisi internasional yang saling membutuhkan. Dan

juga kerja sama didaasari oleh kepentingan bersama di antara negara-negara.19

Dalam hungan internasional terdapat pembagian antara negara-negara utara

dengan negara-negara selatan. Negara-negara utara di kenal dengan negara maju atau

negara industry yang sebagian besar addalah negara-negara di kawasan Eropa dan

16
Motar Maso’ed, Ekonomi Politik Internasional dan Pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2003), hal . 41.
17
Lloyd Pettiford, & Jill Steans, HUBUNGAN INTERNASIONAL Perspektif dan Tema, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009)
18
BAB II, Op.Cit, hal, 35
19
Ibid. hal.36.

10
beberapa negara yang berada dikawasan asia. Sedangkan negara-negara selatan

merupakan negara yang di kenal dengan negara berkembang. Dan ini kebanyak berada

di asia dan kawasan Afrika dan Amerika latin. 20

Biasanya negara berkembang kebanyakan melakukan kerjasama denga negara-

negara maju. Dan negara berkembang juga selalu bergantung kepada negara maju

disbanding dengan negara berkembang. Negara maju dalam hubungan kerjasama di

bidang ekonomi dengan negara berkembang biasanya negara maju sebagai pemilik

modal sedangkan negara berkembang menyediakan sumber daya, baik manusia maupun

alam. Hal ini tidak bisa sepenuhnya menyebabkan negara berkembang bisa menjadi

negara maju, malah yang terjadi negara berkembang tetap menjadi negara berkembang.

Untuk bisa mengatasi ketergantungan antara negara berkembang kepada negara

maju, maka negara berkembang membutuhkan kerja sama sesama negara berkembang.

Kerjama ini dibutuhkan untuk mencapai kemandirian bagi negara berkembang. Kerja

sama ini di bentuk atas dasar adanya kesamaan nasib sebagai negara berkembang. Kerja

sama yang di lakukan oleh negara berkembang untuk saling melengkapi kekurangan

bagi kedua negara.

Tingkat analisis yang di gunakan adalah kelompok. Yaitu kelompok

pemerintahan dan swasta yang bergerak dalam bidang pertanian. Tingkat analisis ini

berasumsi bahwa individu melakukan tindakan internasional dalam bentuk kelompok.

Hubungan internasional merupakan hubungan kelompok kecil di berbagai negara.21

Dalam kerjasama Indonesia dengan Sudan dalam bidang pertanian penulis

berpendapat bahwa hubungan internasional dilakukan dalam bidang ekonomi dalam

20
Amalia Lia, Ekonomi Internasional, ( Yogyakarta; Graha Ilmu, 2007), hal. 163-164.
21
Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, ( Jakarta: 1994), hal 41.

11
bentuk kerjasama yang mana kedua dari negara ini memiliki saling ketergantungan.

Sudan memilki lahan pertanian yang luas dan Indonesia memiliki teknologi,

pengetahuan, dan pengalaman dalam bidang pertanian. Selain itu, walaupun Indonesia

merupakan negara aggraris dan juga memiliki lahan pertanian yang luas, tetapi

Indonesia masih belum bisa untuk mencukupi kebutuhan dari masyarakatnya. Indonesia

masih membutuhkan berbagai ekspor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan

pangan.

Kerjasama dalam bidang pertanian bagi Indonesia bertujuan untuk bisa

melengkapi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Masalah ketahanan pangan

berkaitan erat dengan keamanan nasional suatu negara karena pangan merupakan

sumber daya yang di perlukan demi kelansuangan hidup masyarakat di dalam negara

tersebut.22

Sudan juga membutuhkan Indonesia untuk bisa mengolah lahan pertaniannya.

Sudan membutuhkan investor untuk baik dalam bidang teknologi pertanian yang berupa

alat-alat pertanian, pupuk utuk pertanian, tenaga yang ahli untuk bisa mengelola lahan

pertanian dengan baik. Itulah hal yang menjadi alasan bagi sudan untuk melakukan

kerja sama dengan Indonesia. Sudan menganggap bahwa Indonesia memiliki

pengalaman dan kehalian di dalam bidang pertanian.

Ketertarikan Indonesia untuk bekerja sama dengan Sudan juga di karenakan

Sudan merupakan negara yang masih tergolong ke negara berkembang. Sesama negara

berkembang dilakukan kerjasama atas dasar solidaritas, perjuangan bersama, atas dasar

nilai-nilai kebermasaan dan untuk bisa mencapai kemandirian.

22
Ibid. hal. 48.

12
1.5. Hipotesis

Berdasarkan kepada rumusan masalah dan megacu kepada kerangka teori yang

penulis ajukan, penulis merumuskan hipotesis bahwa “ kerjasama antara negara-

negara selatan dibutuhkan karena adanya saling ketergantungan antara kedua

negara dan alasan dari mengapa Indonesia melakukan kerja sama di bidang

pertanian di karenakan Indonesia dan Sudan memiliki saling ketergantungan di

bidang pertanian”. Penulis merumuskan dua variable yang di perlukan untuk

memahami permasalahan ini, yakni variable independen dan variable dependen.

Variable independennya yaitu: Sudan membutuhkan Indonesia untuk bisa

mengolah lahan pertanian dan hasil pertaniannya dan Indonesia membutuhkan

pangan untuk bisa memenuhi kebutuhan negaranya, adapun indikator-indikatornya

adalah sebagai berikut:

1. Sudan memiliki lahan pertanian yang subur mencapai 84 juta ha, yang baru

di kelola 20%, lahan yang siap di kelola 48 juta ha, hutan 74 juta ha, dan

sudan juga di kelilingi oleh sungai nile dan sungai-sungai kecil lainnya dan

selain itu tanah di Sudan juga merupakan tanah tada hujan dan air sumur.

2. Untuk bisa menunjang pertanian dan memasarkan hasil pertanian di Sudan,

maka Sudan memberikan peluang kepada investor dan perusahaan untuk

menanamkan modalnya.

3. Untuk mengantisipasi krisis pangan bagi Indonesia, maka Indonesia merasa

perlu untuk melakukan kerja sama di dalam bidang pertanian

4. Tingginya kebutuhan industri tekstil Indonesia akan kapas, tetapi tidak di

dukunng kemampuan produksi domestik, sehingga harus mengimpor dari

13
negara lain. dan Sudan pernah menjadi salah satu penghasil kapas utama

dunia.

5. Adanya berbagai infrastruktur yang mendukung pembangunan pertanian di

Sudan.

Variabel dependennya yaitu: Kerjasama Indonesia dengan Sudan bisa

melengkapi kebutuhan dari kedua negara ini. Adapun indikatornya adalah sebagai

berikut:

1. Indonesia akan melakukan investasi dalam bentuk Rumah Produk Pertanian

Indonesia diisi oleh para pelaku usaha dengan berbagai produk Indonesia.

Diantaranya diisi oleh produk pertanian dari PT RUTAN dan PT ASTRA.

2. Sudan telah membuktikan dirinya dengan berhasil memproduksi beras

basmati di daerah White Nile, dan jenis NERICA (New Rice for Africa) di

Gezira.

3. Dengan mengembangkan pertanian padi di Sudan, manfaat yang bisa

didapatkan Indonesia yang utama adalah jaminan ketersediaan beras untuk

konsumsi Indonesia.

4. Indonesia telah beberapa kali memberikan training for trainer pertanian ke

pada Sudan.

5. Pengelolaan pertanian di Sudan dapat menyerap 55% kesempatan tenaga

kerja.

14
1.6. Defenisi Konsepsional

Pembahasan penelitian ini didasarkan pada berbagai macam konsep yang akan

mendukung upaya penjelasan atas permasalahan yang di teliti. Penulis menggunakan

beberapa konsep dalam pembahsan ini:

1. Kerja sama: Kerja sama menurut Coplin dan Marbun adalah atas adanya

alasan dimana negara ingin melakukan interaksi secara terus menerus dan

menagrah kearah yang lebih baik untuk mencapai tujuan bersama. Interaksi-

interaksi ini sebagai usaha untuk pemecahan masalah secara kolektif baik

dilakukan secara bilateral maupun multi lateral.23

2. Negara Selatan : Negara yang tergolong kepada negara berkembanng yang

berada di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.24

3. Pertanian: usaha pengelolaan sumberdaya alam yang berkaitan denngan

tanah, tanaman, dan hewan yang dimamfaatkan untuk memenuhi kebutuhan

manusia.

4. Pangan : makanan yang cukup, aman, dan bergizi yang di perlukan untuk

menjada eksistesi dan kesejateraan hidup suatu warga negara, dan kecukupan

pangan penting untuk daya saing dan efisiensi perekonomian nasional

(Harianto, 1997:41).25

5. Hubungan Internasional : semua bentuk interaksi antara masyarakat yang

berbeda baik di sponsori oleh pemerintah maupun tidak. 26

23
BAB II, Op Cit, hal. 36.
24
Amalia Lia, Op Cit, hal. 164
25
BAB II , Op Cit, hal. 48.
26
K.J. Holsti, POLITIK INTERNASIONAL Kerangka Untuk Analisis, Edisi keempat jilid
1,diterjemahkan dari bahasa ingggris oleh M.Tahir Azhary (Jakarta: Erlangga). Hal. 21

15
6. Liberalisme: pimikiran dengan tujuan utamanya adalah kesejateraan dan

kebebasan individu. Pemikiran ini memiliki beberapa asumsi dasar,

diantaranya negara bukanlah satu-satunya aktor dalam politik dan kaum

liberal optimis terhadap kemajuan yang di capai melalui kerja sama dengan

melewati proses modernisasi yang memiliki ruang lingkup yang luas dengan

kerja sama lintas batas internasional yang menciptakan kesejahteraan.27

7. Interdependensi : adanya konsep interdependensi. konsep ini menyatakan

bahwa negara bukan aktor independen secara keseluruhan, negara saling

memiliki ketergantungan satu sama lain. tidak ada negara bida memnuhi

kebutuhannya dengan sendirinya. masing-masing negara tergantung kepada

sumber-sumber daya dan produk dari negara lain.28

1.6. Defenisi Operasional

Dalam hubungan internasional, sebuah negara membutuhkan kerja sama dengan

negara lain untuk bisa memenuhi kebutuhan dari negaranya. Kerja sama antara negara-

negara selatan di butuhkan untuk bisa membuat negara-negara selatan tersbut tidak

selalu tergantung kepada negara maju. Kerja sama antara negara-negara selatan di

dasarkan dengan adanya rasa solidaritas dengan adanya nilai-nilai kebersamaan.

Antara Indonesia dengan Sudan, terdapat bentuk interaksi yang berbentuk

interdependaensi. Dimana kedua negara ini saling memiliki ketergantungan. Terutama

dalam bidang pertanian. Karena pertanian merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan

27
Robert Jackson & Goerg Sorensesn, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Diterjemahkan dari
bahasa Inggris olh Dadan Suryadipura. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 143
28
Wisma Ubayaji, Kemajuan Ekonomi Metodologi, Fisip UI 2009. Tersedia di:
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/128608-T%2026764-Kemajuan%20ekonomi-Metodologi.pdf (
diakses pada; 19 Maret 2014)

16
pangan. Ketahan pangan merupakan isu yang sangat penting di bahas dan di kaji oleh

sebuah negara. karena ketahanan pangan mencerminkan keberlasungan kehidupan

sebuah negara.

Indosia dengan Sudan melakukan kerjasama dalam bidang pertanian di mulai

sekitar tahun 2000an ditandai dengan adanya MoU Indonesia dan Sudan dalam bidang

pertanian dan adanya beberapa bukti lain yang membenarkan adanya kerjasama

Indonesia dan Sudan.

Kerjasama Indonesia dan Sudan di karenakan adanya ketergantungan Sudan

untuk bisa memgelola lahan pertaniannya, keterbatasan modal, tenaga ahli,

pengalaman, pengetahuan dan alat-alat yang mendukung sarana pertanian di Sudan.

Sedangkan Indonesia membutuhkan impor di bidang pangan untuk bisa memenuhi

kebutuhan pangannya. Dan hal ini juga memberikan peluang bagi Indonesia untuk bisa

melakukan investasi dalam bidang pertanian maupun hasil pertanian di Sudan.

1.8. Ruang Lingkup

Dalam penelitian ini untuk mendapatkan esensi daru permasalahan, penulis

memberikan batasan-batasan dalam penulisan. Pertama, penelitian ini di fokuskan pada

kerja sama selatan-selatan yang di analisis kedalam negara Indonesia dan Sudan. Kerja

sama Indonesia dan Sudan di fokuskan kedalam Kerja sama dalam bidang pertanian

yang dimulai semenjak tahun 2002 sampai saat ini.

Walaupun penulis telah memberikan batasan masalah dalam tulisan ini, namun

tidak menutup kemungkinan bagi penulis untuk melengkapi tulisan ini jika di peroleh

17
data lain di luar lingkup penelitian demi tujuan untuk kelengkapan dan kesempurnaan

penelitian.

1.9. Metodologi penelitian

1.9.1. Sifat Penelitian

Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang bersifat

deskriptif. Adapun tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat gambaran secara

sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi atau daerah

tertentu. 29

1.9.2. Teknik Penelitian

Strategi yang di gunakan dalam penelitian ini adalah strategi yang berimplikasi

pada teknik pengumpulan data. Teknik yang digunakan adalah menghubungkan teori-

teori dengan data-data yang di dapat melalui riset perpustakaan. Data-data tersebut di

dapatkan dari buku-buku, jurnal, majalah-majalah, surat kabr dan sumber lainnya.

Selain itu penulis juga menggunakan internet sebagai sarana dalam proses pengumpulan

data yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian

ini, dikarenakan keterbatasan penulis dalam mencari data-data original.

1.9.3. sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pemaparan mengenai penelitian ini, penulis membagi

penjelasan menjadi beberapa bagian dengan sistematika sebagai berikut:

1. BAB I: PENDAHULUAN

29
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, ( Jakarta: CV. Rajawali, 1983), hal. 19

18
Bagian ini memaparkan tentang gambaran umum permasalahan yang diteliti.

Pada bagian ini juga terdapat jawaban sementara (hipotesis) yang akan dianalisis

lebih lanjut pada bab-bab berikutnya. Selain itu ,tujuan, dan mamfaat serta

mertode penelitian yang digunakan juga di bahas dalam bab ini. Bagian

pendahuluan terdiri dari beberapa sub bagian yaitu: latar belakang, permasalahan

penelitian, tujuan dan mamfaat penelitian, teori, hipotesis, defenisi konsepsional,

defenisi operasional, ruang lingkupnya, dan metodologi penelitian.

2. BAB II: Tinjauan Historis: Sejarah Awal Mulanya Kerja Sama Selatan-

Selatan

Pada bagian ini, penulis akan memaparkan sejarah dimulainya kerja sama

selatan-selatan. Bagian ini juga akan mengembangkan sebab dan akibat perlunya

kerja sama selatan-selatan itu di lakukan.

3. BAB III: Gambaran Umum Mengenai Pertanian di Indonesia Dan di

Sudan

Pada bagian bab ini, penulis akan menggambarkan bagaimana pertanian yang

ada di negara Indonesia dan juga akan menggambamkan bagaimana pertanian di

negara Sudan

4. BAB IV: Ketergatungan Indonesia da Sudan dalam Bidang Pertanian

Pada bab ini, penulis akan menggambarkan ketergantungan antara Indonesia dan

Sudan dalam bidang pertanian. Pada bagian ini penulis secara spesifik akan

menggambarkan kerjasama antara Indonesia dengan sudan dalam bidang

pertanian.

5. BAB V: PENUTUP

Pada bagian terakhir ini akan memuat simpulan.

19