You are on page 1of 30

PANDUAN Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution

)
SURVEILANS “Healthcare Associated Infections” (HAIs)

A. Pendahuluan
Angka infeksi rumah sakit di negara berkembang bervariasi menurut jenisnya, antara lain Infeksi
Saluran Kemih (ISK) yang dapat terjadi pada 25% pasien yang menggunakan kateter urin; Infeksi
daerah Operasi (IDO) yang dapat mencapai 12% dari seluruh pasien bedah (Damani, 2003);
Ventilator Associated Pneumonia (VAP) berkisar antara 3-5% ; Infeksi Aliran Darah Primer (IADP)
berkisar antara 5 -14 % dengan insiden 15 – 20 kejadian/ 1000 hari pasang (Mayhall, 2004).
Untuk mengetahui angka kejadian dan pola infeksi rumah sakit yang timbul pada pasien yang
dirawat di rumah sakit dan fasilitas pelyanan kesehatan diperlukan suatu kegiatan surveilans.

Kegiatan surveilans epidemiologi merupakan komponen penunjang penting dalam setiap program
pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit (HAIs). Informasi epidemiologi yang dihasilkan
oleh kegiatan surveilans berguna untuk mengarahkan strategi program baik pada tahap
perencanaan, pelaksanaan maupun pada tahap evaluasi. Dengan kegiatan surveilans yang baik
dan benar dapat dibuktikan bahwa program dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

B. Definisi Surveilans
Surveilans infeksi rumah sakit adalah suatu proses yang dinamis, sistematis, terus
menerus dalam pengumpulan, identifikasi, analisis dan interpretasi data kesehatan yang
penting pada suatu populasi spesifik dan didiseminasikan secara berkala kepada pihak-
pihak yang memerlukan untuk digunakan dalam perencanaan, penerapan, serta evaluasi
suatu tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.

C. Tujuan Surveilans Infeksi rumah sakit
1. Menurunkan angka infeksi rumah sakit
Tujuan terpenting dari surveilans infeksi rumah sakit adalah menurunkan risiko terjadinya
infeksi di rumah sakit yang berorientasi pada ”outcome” maupun proses. Berorientasi pada
outcome ditujukan pada pemantauan angka infeksi rumah sakit (insidens atau prevalens).
Berorientasi proses ditujukan pada pemantauan kegiatan/upaya pengendalian (cara cuci
tangan, pemasangan infus, pemasangan kateter, ketersediaan alat dana dan sebagainya)
dengan pemantauan pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di ruangan.

2. Mendapatkan data dasar endemik
Pada dasarnya data surveilans infeksi rumah sakit digunakan untuk mengkuantifikasikan
rate dasar infeksi rumah sakit yang endemis. Dapat diketahui seberapa besar risiko yang
dihadapi oleh setiap pasien yang dirawat di rumah sakit, sebagian besar (90 – 95%) dari
infeksi rumah sakit adalah endemik dan ini diluar dari KLB infeksi rumah sakit yang telah
dikenal. Oleh karena kegiatan surveilans infeksi rumah sakit harus dimaksudkan untuk
menurunkan angka laju endemik.

3. Mengidentifikasi Kejadian Luar Biasa
Bila angka endemik telah dapat diketahui, maka bila terjadi suatu penyimpangan dari angka
dasar tersebut akan dengan mudah dikenali, yang kadang mencerminkan suatu KLB infeksi
rumah sakit. Suatu kejadian di rumah sakit dapat disebut KLB bila proportional rate

penderita baru dari suatu penyakit menular yang sama selama periode yang
Kewaspadaan sama dari
Isolasi (Isolation Precaution)
tahun lalu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih atau terdapat satu kejadian pada
keadaan dimana sebelumnya tidak pernah terjadi.

4. Meyakinkan petugas kesehatan
Data surveilans dipercaya dan dapat dijadikan sebagai pedoman bila diolah secara baik
dan profesional serta disajikan dan diumpan balik/informasikan secara rutin dengan cara
yang menarik kepada pihak terkait.
Umpan balik mengenai informasi itu biasanya sangat efektif dalam menggiring tenaga
kesehatan untuk melakukannya upaya pencegahan infeksi rumah sakit dengan
menerapkan ”standard precaution” dalam pekerjaan sehari-hari.

5. Mengevaluasi sistem pencegahan dan pengendalian
Data surveilans dapat mengidentifikasikan permasalahan dan upaya pencegahan atau
pengendalian. Masih diperlukan surveilans secara berkesinambungan guna meyakinkan
bahwa permasalahan yang ada benar-benar telah terkendali. Pemantauan yang terus
menerus, sebagai upaya pencegahan dan pengendalian yang nampaknya rasional,
akhirnya dapat diketahui apakah suatu pengendalian efektif atau tidak sama sekali.

6. Untuk mengantisipasi tuntutan mal praktek
Pengumpulan data surveilans infeksi rumah sakit dapat dipergunakan sebagai bukti untuk
menuntut rumah sakit, sehubungan dengan terjadinya infeksi rumah sakit. Para ahli hukum
dapat menyatakan bahwa dengan adanya surveilans yang baik membuktikan bahwa
rumah sakit telah berusaha untuk mengendalikan masalah, bukannya menyembunyikan.
Ini merupakan bukti penting untuk melawan tuntutan yang tidak diinginkan.

D. Metode Surveilans
Metode surveilans IRS dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing adalah sebagai
berikut :
1. Surveilans Komprehensif (Hospital Wide Surveillance, “Traditional Surveillance”)
2. Surveilans Selektif dan Sasaran Khusus (Targetted Surveillance)
3. Surveilans IRS Periodik (Periodic Surveillance)
4. Surveilans IRS pasca rawat (Post Discharge Surveillance)

METODE KELEBIHAN KELEMAHAN
1. Surveilans
Komprehensif
Hospital 
Wide Mendapat gambaran yang  Memerlukan banyak waktu,
Surveillance, menyeluruh mengenai jenis tenaga dan biaya;
“Traditional infeksi dan jenis pasien.  Tidak mungkin
Surveillance”  Dapat mengidentifikasi diperbandingkan dengan
(Mencakup seluruh kluster. rumah sakit lain.
RS)  Dapat menghasilkan data
dasar
 Deteksi dini KLB

 Mengidentifikasi faktor risiko Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution)

2. Surveilans
Selektif
Targetted  Fleksibel dan dapat  Informasi terbatas;
Surveillance dikombinasi dengan metode  Kemungkinan tidak
(Menurut tempat, lain terdeteksinya KLB
risiko infeksi dan Efisien (biaya, waktu dan  Mungkin terjadi kekeliruan
pemakaian alat; ) tenaga) kluster.
 Fokus pada yang berisiko  Dapat keliru dalam
tingg menentukan cluster

3. Surveilans  Memberikan angka infeksi  Mungkin terjadi kekeliruan
Periodik dengan lebih efisien (biaya, kluster.
waktu dan tenaga)
 Tujuan pencegahan lebih
terarah.

4. Surveilans Efisien (biaya, waktu dan  Sering terjadi perkiraan yang
Prevalensi tenaga) berlebihan (over estimate)
tentang risiko pasien untuk
mendapatkan IRS;
 Hanya memberikan perkiraan
angka infeksi.

5. Surveilans Pasca Meningkatkan temuan kasus Kemungkinan kesalahan
Rawat ILO secara bermakna. penilaian (under estimate)
bila pasien datang tidak tepat
waktu atau sama sekali tidak
kontrol .

Meskipun setiap rumah sakit dapat merencanakan dan menetapkan jenis surveilans yang akan
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing rumah sakit, namun
mengingat Surveilans IRS harus dilaksanakan dengan prinsip cost effectiveness (hemat biaya dan
berhasil guna) maka disarankan memilih metode Surveilans dengan Target (Targetted
Surveillance).

1. Hospital wide, “traditional surveillance”

Hospital wide, “traditional surveilance” adalah surveilans yang dilakukan di semua area
perawatan, untuk mengidentifikasi pasien yang mengalami infeksi selama di rumah sakit. Data
dikumpulkan dari catatan medis, catatan keperawatan, laboratorium dan perawat ruangan.
Metode surveilans ini merupakan metode pertama yang dilakukan oleh Center for Diseases
Control (CDC) pada tahun 1970 namun memerlukan banyak waktu, tenaga dan biaya.

2. kelompok pasien tertentu (misalnya kelompok pasien operasi) atau kelompok dengan jenis infeksi tertentu. 1. Surveilans Selektif menurut jenis infeksi Surveilans dititik beratkan pada penemuan satu atau dua jenis IRS diantara seluruh pasien di rumah sakit. ruang perawatan bayi baru lahir. sasaran ditujukan pada unit tertentu di rumah sakit. misalnya di ICU. Sasaran Survelans Menurut sasarannya maka surveilans IRS dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Jumlah aktif infeksi dibagi jumlah pasien yang ada pada waktu dilakukan survei. ruang perawatan pasien transplan. Surgical Site Infection (SSI)/ILO. 3. Vancomycin Resistant Enterococci (VRE). 4. E. Cara lain dilakukan surveilans pada satu atau beberapa unit dalam periode tertentu kemudian pindah lagi ke unit lain. Pneumonia (HAP. Keuntungan dari strategi ini adalah bahwa hal tersebut akan memberikan hasil yang lebih tajam dan memerlukan pengelolaan sumber daya yang lebih murah. Kelemahan dari metode tersebut diantaranya adalah sulitnya menemukan atau menghitung denominator (misalnya: jumlah hari insersi kateter) . misalnya Intensive Care Unit (ICU). Aktif infeksi dihitung semua jumlah infeksi baik yang lama maupun yang baru ketika dilakukan survei. Surveilans Periodik (Periodic Surveillance) Metode Hospital Wide Traditional Surveillance yang dilakukan secara periodik misalnya satu bulan dalam satu semester. ruang perawatan pasien hemodialisa atau pasien dengan risiko : ISK. Blood Stream Infection (BSI)/IADP. Surveilans Target (Targetted Surveillance) Metode surveilans ini terfokus pada ruangan atau pasien dengan risiko infeksi spesifik seperti ruang perawatan intensif. 3. untuk transplantasi sumsum tulang. Surveilans Selektif Pada surveilans selektif ini. Oleh karena semua aktif infeksi dihitung yang lama dan baru maka laju infeksi biasanya lebih tinggi dari laju insiden. misalnya infeksi pembuluh darah (Bloodstream Infection = BSI). VAP). Surveilans selektif menurut unit tertentu Dilaksanakan di unit atau ruang perawatan yang mempunyai risiko terjadinya IRS paling tinggi untuk satu diantara unit-unit lain di rumah sakit. Prevalence Surveillance dapat digunakan pada populasi khusus seperti infeksi mikroorganisme khusus : Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA). Metode ini dapat dikombinasikan dengan strategi lainnya. Surveilans Prevalensi (Prevalence Surveillance) Surveilans Prevalensi adalah menghitung jumlah aktif infeksi selama periode tertentu. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) 2.

1. Kasus IRS didapatkan berdasarkan klinis pasien atau temuan laboratorium Surveilans yang didasarkan pada temuan klinis pasien. b. orang yang tidak duduk dalam Komite/Tim PPI dipercaya untuk mencatat dan melaporkan bila menemukan infeksi selama perawatan. Oleh karena keterampilan dan pengetahuan tenaga semacam ini lebih tertuju pada perawatan pasien dari pada masalah surveilans. Ad. 2. semata-mata didasarkan atas hasil pemeriksaan laboratorium atas sediaan klinik. seperti sepsis dapat terlewatkan. Keuntungan yang paling utama pada surveilans prospektif adalah : a. . Surveilans restrospektif hanya mengandalkan catatan medik setelah pasien pulang untuk menemukan ada tidaknya IRS. Surveilans yang berdasarkan pada temuan laboratorium. 3. Misalkan tersedia formulir yang diisi oleh dokter atau perawat yang merawat bila menemukan IRS pada pasiennya.prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi. underreporting dan kurang runutnya waktu dari data yang terkumpul. memantau prosedur perawatan pasien yang terkait dengan prinsip. Kasus IRS yang didapatkan secara pasif atau aktif Pada surveilans secara pasif. Oleh karena itu infeksi yang tidak dikultur yaitu yang didiagnosis secara klinik (berdasarkan gejala dan tanda klinik) saja. Apakah kasus IRS didapatkan secara prospektif atau retrospektif ? Ad. maka tidak heran kalau masalah yang selalu ada pada surveilans pasif adalah selalu misklasifikasi.Identifikasi Kasus Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) Apabila ditemukan kasus IRS. Apakah kasus IRS didapatkan secara pasif atau aktif ? 2. Surveilans aktif adalah kegiatan yang secara khusus dilakukan untuk mencari kasus IRS oleh orang-orang yang telah terlatih dan hampir selalu dari Komite/Tim PPI tersebut mencari data dari berbagai sumber untuk mengumpulkan informasi dan memutuskan apakah terjadi IRS atau tidak. Apakah kasus IRS didapatkan berdasarkan pasien atau temuan laboratorium ? 3. Dapat langsung menentukan kluster dari infeksi. Adanya kunjungan Komite/Tim PPI di ruang perawatan. Ad. maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan disini : 1. sementara hasil biakan positif tanpa konfirmasi klinik dapat secara salah diinterpretasikan sebagai IRS (misalnya hasil positif hanya merupakan kolonisasi dan bukan infeksi). menelaah faktor risiko. Dalam hal ini diperlukan pengamatan langsung di ruang perawatan dan diskusi dengan dokter atau perawat yang merawat. Kasus IRS didapatkan secara prospektif atau retrospektif Yang dimaksud dengan surveilans prospektif adalah pemantauan setiap pasien selama dirawat di rumah sakit dan untuk pasien operasi sampai setelah pasien pulang (satu bulan untuk operasi tanpa implant dan satu tahun jika ada pemasangan implant).

untuk mengingatkan Komite/Tim PPI kepada suatu infeksi baru dan juga untuk mencari rujukan mengenai cara pencegahan dan pengendaliannya. Memungkinkan analisis data berdasarkan waktu dan dapat memberikan Kewaspadaan umpanPrecaution) Isolasi (Isolation balik.a.1. Pengumpul Data Pengumpulan numerator data dapat dilakukan oleh selain IPCN. c. dari farmasi.perawat. Komite/Tim PPI harus memiliki akses yang luas atas sumber data serta perlu mendapatkan kerja sama dari semua bagian /unit di rumah sakit tersebut. Kelemahannya adalah memerlukan sumber daya yang lebih besar dibandingkan surveilans retrospektif. catatan medik. Sistem surveilans IRS secara Nasional memerlukan penemuan kasus berdasarkan pasien yang aktif dan prospektif. karena mereka yang memiliki keterampilan dalam mengidentifikasi IRS sesuai dengan kriteria yang ada. Pengumpulan dan Pencatatan Data Tim PPI bertanggung jawab atas pengumpulan data tersebut di atas. Seringkali diperlukan sumber dari dokter. pasien maupun keluarga pasien.1. Sedangkan pelaksana pengumpul data adalah IPCN yang dibantu IPCLN. Banyak sumber data diperlukan dalam pelaksanan surveilans IRS tergantung dari jenis pelayanan medik yang diberikan oleh suatu rumah sakit. agar dapat melaksanakan surveilans dengan baik atau melaksanakan penyelidikan suatu KLB. misalya IPCLN yang sudah dilatih atau dengan melihat program otomatis dari . Semua metode yang dijelaskan dalam bab ini (lihat tabel 4) dirancang untuk menemukan kasus baru atau insiden IRS dan pada umumnya untuk menghitung laju insiden (incidence rate). catatan perawat. B. B. Pengumpulan Data Numerator B.

4. serologi. jenis kelamin. tempatkan mereka pada kelompok risiko mendapatkan IRS. tanggal masuk RS. lokasi infeksi. Catatan diagnostik dan intervensi bedah d. data laboratorium. 5. prosedur. Catatan masuk/keluar/pindah rawat. Data Radiology/imaging: X-ray. Review laporan laboratorium untuk melihat pasien yang kemungkinan terinfeksi (misalnya kultur positif mikrobiologi. Informasi pemberian antibiotik 4. tetapi tetap IPCN atau seorang IPCO (Infection Prevention Control Officer) atau IPCD (Infection Prevention Control Doctor ) yang membuat keputusan final tentang adanya IRS berdasarkan kriteria yang dipakai untuk menentukan adanya IRS. Catatan suhu e. Bagaimana IPCO mengumpulkan data numerator 1. B. catatan laboratorium mikrobiologi. Untuk kasus SSI post-discharge. departemen emergensi. Jenis Data Numerator yang Dikumpulkan 1. bila data elektronik ada. faktor lain yang berhubungan dengan IRS. Amati catatan masuk/keluar/pindah rawat pasien-pasien yang masuk dengan infeksi. Faktor risiko: alat.1. Catatan perawat dan dokter dan konsulan c. dsb. ruang perawatan saat infeksi muncul pertama kali. tanggal lahir. laporan operasi. 3. amati lembar pengumpul data.1. Sumber data numerator 1. pencegahan.d. lembar pemberian antibiotik.c.. Selama melakukan surveilans ke ruangan. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) database elektronik. dsb. 4. sumber data termasuk catatan dari klinik bedah. 3. antibiogram. dan kontrol aktivitas. Hasil laboratorium dan radiologi/imaging b. temuan patologi) dan bicarakan dengan personil laboratorium untuk mengidentifikasi pasien yang kemungkinan terinfeksi dan untuk mengidentifikasi kluster infeksi. Lakukan review data pasien yang dicurigai terkena IRS: review perjalanan penyakit yang dibuat oleh dokter dan perawat. B. 2. Diagnosis saat masuk RS c. Infeksi: tanggal infeksi muncul. nomor catatan medik. B. Data laboratorium: jenis mikroba. tetapi keliling ruangan tetap penting untuk surveilans. khususnya pada area yang tidak dijadikan target rutin surveilans IRS. laporan radiologi/imaging. catatan suhu. MRI. . 2. 2. bicara dengan perawat dan dokter untuk mencoba mengidentifikasi pasien-pasien yang kemungkinan terinfeksi. review dapat dilakukan melalui komputer. CT scan. dan Catatan Medis Pasien. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik e. patologi. Data-data pasien (catatan kertas atau komputer) untuk konfirmasi kasus: a.1. catatan dokter.b. Mendatangi bangsal pasien untuk mengamati dan berdiskusi dengan perawat. 3. Data demografik: nama.

ventilator.3. asalkan data ini secara substansial tidak berbeda dengan data yang dikumpulkan secara manual. Untuk laju SSI: dapatkan data rinci saat operasi dari log kamar operasi untuk masing-masing prosedur operasi. Review juga dilakukan dari sumber kumpulan data lengkap IRS. Perhitungan B. Jenis data denominator yang dikumpulkan 1. Jumlah populasi pasien yang berisiko terkena IRS.3.d. Terdapat tiga kategori yang perlu dicatat atas seorang pasien dengan IRS. and kateter urin) pada area yang dilakukan surveilans. Pengumpulan data denominator Pengumpulan denominator data dapat dilakukan oleh selain IPCN. Untuk laju SSI atau untuk mengetahui indek risiko: catat informasi untuk prosedur operasi yang dipilih untuk surveilans (misal: jenis prosedur. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) B. . Jumlahkan hitungan harian ini pada akhir periode surveilans untuk digunakan sebagai denominator.) B. 2. Untuk laju densitas insiden yang berhubungan dengan alat: catatan harian jumlah pasien yang datang dan jumlah pasien yang terpasang masing. 2. Numerator Angka kejadian infeksi dan perlu data untuk dicatat. Sumber data denominator 1. B. tanggal. yaitu: data demografi. 3. misalnya IPCLN yang sudah dilatih.a. B. Bagaimana ICP mengumpulkan data denominator 1.b. B.2.2. Untuk laju densitas insiden yang berhubungan dengan alat: datangi area perawatan pasien untuk mendapatkan hitungan harian dari jumlah pasien yang datang dan jumlah pasien yang terpasang alat yang umumnya berhubungan dengan kejadian IRS (misal: sentral line. faktor risiko. Pengumpulan Data Denominator B. Untuk data laju densitas insiden IRS yang berhubungan dengan alat: catatan harian jumlah total pasien dan jumlah total hari pemasangan alat (ventilator.2.a.2.5.masing alat. dsb. infeksinya sendiri dan data laboratorium. Untuk laju SSI : dapatkan data rinci dari log kamar operasi dan data-data pasien yang diperlukan.c. 2. atau kateter menetap). Data juga dapat diperoleh. central line.2.

Di bangsal melakukan observasi klinis pasien. Denominator Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) Data yang perlu dicatat. laporan keperawatan. Catatan hasil pemeriksaan penunjang (laboratorium dan radiologi). Kunjungan rutin ke bangsal dan laboratorium ini memberi kesempatan kepada Komite/Tim PPI untuk mengadakan kontak langsung dengan petugas perawatan atau laboratorium. grafik suhu.b. Catatan medis / catatan perawat. perawat dan pasien sendiri maupun keluarganya. Sumber data dan teknik pengumpulan data Sumber data : 1.3. Pasien / keluarga pasien. Pencatatan Data Metode yang dipakai dalam surveilans IRS ini adalah metoda target surveilan aktif dengan melakukan kunjungan lapangan (bangsal). Selanjutnya.pasien yang mempunyai risiko untuk mendapatkan IRS seperti pasien diabetes atau pasien dengan penyakit imunosupresi kuat. jumlah hari pemakaian ventilator. Biasanya. mengunjungi laboratorium untuk melihat laporan biakan mikrobiologi. 4.3. 2. Dilakukan identifikasi keadaan klinik pasien ada tidaknya tanda-tanda infeksi dan factor-faktor risiko terjadinya infeksi. B.d. Denominator dari infection rates adalah tabulasi dari data pada kelompok pasien yang memiliki risiko untuk mendapat infeksi: jumlah pasien dan jumlah hari rawat pasien . jumlah total hari pemakaian kateter vena sentral dan jumlah hari pemakaian kateter urin menetap B. lembar pemberian antibiotik. Farmasi 5. maka Komite/Tim PPI dapat melakukan kegiatan penemuan kasus dengan mengakses data dari meja kerjanya.c. bila ditemukan tanda. Hal ini dapat membantu Komite/Tim PPI menentukan pasien mana yang perlu ditelaah lebih lanjut.tanda infeksi dan faktor-faktor risiko dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai pemeriksaan penunjang. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat dapat melakukan wawancara dengan dokter. Rekam medik . untuk mendapat gambaran adanya IRS serta gambaran penerapan keadaan umum pada saat itu serta memberikan bimbingan langsung pendidikan (on-the-spot) tentang pencegahan dan pengendalian infeksi pada umumnya atau Kewaspadaan Standar pada khususnya.B. 3. Kalau tersedia sarana jaringan komputer. penemuan kasus dimulai dengan menelusuri daftar pasien baru masuk dengan infeksi maupun tidak infeksi (baik infeksi komunitas maupun IRS pada perawatan sebelumnya) dan pasien.3.

Pengumpulan data denominator dan numerator dilakukan oleh IPCN yang dibantu oleh IPCLN.jumlah pemakaian alat- alat kesehatan (kateter urine menetap. Incidence Adalah jumlah kasus baru dari suatu penyakit yang timbul dalam satu kelompok populasi tertentu dalam kurun waktu tertentu pula. Point prevalence nosocomial rates adalah jumlah kasus IRS yang dapat dibagi dengan jumlah pasien dalam survei. k = angka bulat yang dapat membantu angka laju dapat mudah dibaca (100. . ventilasi mekanik. Prevalence Adalah jumlah total kasus baik baru maupun lama suatu kelompok populasi dalam satu kurun waktu tertentu (period prevalence) atau dalam satu waktu tertentu (point prevalence). Ada tiga macam laju yang dipakai dalam surveilans IRS atau surveilans lainnya. 1000 atau 10. 2. kateter vena central. prevalence dan incidence density. pneumonia baik yang terpasang dengan ventilator maupun tidak terpasang dengan ventilator. C. Data numerator dikumpulkan bila ada kasus baru infeksi seperti infeksi saluran kemih (ISK). 4. adalah jumlah kali kejadian selama kurun waktu tertentu. 1. infeksi aliran darah primer (IADP). y = denominator.000). Laju adalah suatu probabilitas suatu kejadian. 3. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) Teknik pengumpulan data: 1. yaitu jumlah pasien. Kurun waktu harus jelas dan sama antara numerator dan denominator sehingga laju tersebut mempunyai arti. Biasa dinyatakan dalam formula sebagai berikut : (x/y)k x = numerator. adalah jumlah populasi dari mana kelompok yang mengalami kejadian tersebut berasal selama kurun waktu yang sama. infeksi luka operasi (ILO). Di dalam surveilans IRS maka incidence adalah jumlah kasus IRS baru dalam kurun waktu tertentu dibagi oleh jumlah pasien dengan risiko untuk mendapatkan IRS yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. yaitu incidence. kateter vena perifer) dan jumlah kasus operasi. Data denominator dikumpulkan setiap hari. Analisis Data Menentukan dan menghitung laju.

INTN) I = Incidence rates P = Prevalence rates LA = Nilai rata-rata dari lama rawat semua pasien LN = Nilai rata-rata dari lama rawat pasien yang mengalami satu atau lebih IRS. Contoh populer dari Incidence Density Rates (IDR) yang sering dipakai di rumah sakit adalah jumlah IRS per 1000 pasien/hari. Incidence density sangat berguna terutama pada keadaan sebagai berikut : a. 1. Rhame menyatakan hubungan antara incidence dan prevalence Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) adalah sebagai berikut : I = P [(LA / LN . Sangat berguna bila laju infeksinya merupakan fungsi linier dari waktu panjang yang dialami pasien terhadap faktor risiko (misalnya semakin lama pasien terpajan. Lebih baik daripada Incidence Rate (IR) dibawah ini Jumlah ISK jumlah pasien yang terpasang kateter urin. Incidence density diukur dalam satuan jumlah kasus penyakit per satuan orang per satuan waktu. Dalam penerapan di rumah sakit maka prevalence rates selalu memberikan over estimate untuk risiko infeksi oleh karena lama rawat dari pasien yang tidak mendapat IRS biasanya lebih pendek dari lama rawat pasien dengan IRS. Contoh incidence density rate (IDR) : Jumlah kasus ISK / jumlah hari pemasangan kateter. Biasanya dinyatakan dengan persen (%) dimana k = 100 dan digunakan hanya pada KLB IRS yang mana pajanan terhadap suatu populasi tertentu terjadi dalam waktu pendek. . relatif terhadap besaran populasi yang bebas infeksi. Incidence Density Adalah rata-rata instant dimana infeksi terjadi. INTN = Interval rata-rata antara waktu masuk rumah sakit dan hari pertama terjadinya IRS pada pasien-pasien yang mengalami satu atau lebih IRS tersebut. semakin besar risiko mendapat infeksi). Hal ini dapat lebih mudah dilihat dengan menata ulang formula sebagai berikut : P = I (LN – INTN) / LA Dimana Prevalence sama dengan Incidence dikali Lama Infeksi. Jenis laju lain yang sering digunakan adalah Atack Rate (AR) yaitu suatu bentuk khusus dari incidence rate. Oleh karena itu IDR dapat mengontrol lamanya pasien terpajan oleh faktor risikonya (dalam hal ini pemasangan kateter urin) yang berhubungan secara linier dengan risiko infeksi. b.

terutama akan meningkatkan efisien pada saat analisis. Rumus perhitungan angka infeksi rumah sakit No Jenis Infeksi Rumus Satuan Jumlah kasus IADP 1 IADP ‰ X 1000 Jumlah hari pemasangan CVL Phlebitis Jumlah kasus Phlebitis 2 ‰ X 1000 Jumlah hari pemasangan IVL Jumlah kasus ISK nosokomial 3 ISK ‰ X 1000 Jumlah hari pemasangan kateter urin menetap ‰ Jumlah kasus VAP 4 VAP X 1000 Jumlah hari pemasangan ventilator . tetapi juga harus mengantisipasi tantangan di masa depan. Komputer mainframe bekerja jauh lebih cepat. hasil laboratorium dan sebagainya. Tabel. Memilih sistem komputer yang akan dipakai. Pemilihan software harus dilakukan hati-hati dengan mempertimbangkan maksud dan tujuan dari surveilans yang akan dilaksanakan di rumah sakit. Lagi pula sistem surveilans tidak hanya berhadapan dengan masalah pada waktu sekarang saja. meski di rumah sakit kecil sekalipun. Besarnya data yang harus dikumpulkan dan kompleksitas cara analisisnya merupakan alasan mutlak untuk menggunakan fasilitas komputer. memuat data jauh lebih besar dan memiliki jaringan yang dapat diakses di seluruh area rumah sakit. Mencari software yang sudah tersedia dan memilih yang digunakan. Namun harus diingat bahwa komputer mainframe adalah cukup mahal baik pembelian maupun operasionalnya. yaitu : 1. komputer mainframe atau komputer mikro. Software untuk program pencegahan dan pengendalian IRS bagi komputer mainframe sampai saat ini masih terbatas. 2. Dalam hal ini bantuan komputer akan sangat membantu. dapat dikirim secara elektronik. Tidak setiap orang dapat menggunakannya dan memerlukan pelatihan yang intensif. Semua data pasien seperti sensus pasien.Surveilans merupakan kegiatan yang sangat membutuhkan Kewaspadaan waktu dan Isolasi menyita hampir (Isolation Precaution) separuh waktu kerja seorang IPCN sehingga dibutuhkan penuh waktu (full time). Mikrokomputer jauh lebih murah dan lebih mudah dioperasikannya oleh setiap petugas. Dalam penggunaan komputer tersebut ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

Faktor intrinsik adalah faktor yang melekat pada pasien seperti penyakit yang mendasari dan ketuaan. 5 IDO Jumlah kasus ILO Kewaspadaan % Isolasi (Isolation Precaution) X 100 Jumlah pasien dengan tindakan operasi (sesuai kategori risiko) D. Diantaranya. Evaluasi. Meskipun hampir semua faktor ekstrinsik memberikan risiko IRS. Rekomendasi dan Diseminasi Hasil surveilans dapat digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit (PPIRS) dalam satu waktu tertentu. Memperbandingkan Laju Infeksi Diantara Kelompok Pasien Denominator dari suatu laju (rate) harus menggambarkan populasi at risk. tindakan operatif atau pemasangan alat yang invasif. 1. Dalam membandingkan laju antar kelompok pasien di dalam suatu rumah sakit. Banyak alasan yang dapat dikemukan mengapa pasien yang memiliki penyakit lebih berat yang meningkat kerentanannya. maka laju tersebut harus disesuaikan terlebih dahulu terhadap faktor risiko yang berpengaruh besar akan terjadinya infeksi. 2. Misalnya membandingkan laju IRS dari dua ICU atau dapat pula . Kerentanan pasien untuk terinfeksi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor risiko tertentu. Faktor ekstrinsik adalah yang lebih berhubungan dengan petugas pelayanan atau perawatan (perilaku petugas di seluruh rumah sakit). Risiko untuk mendapat infeksi luka operasi (ILO). namun yang lebih banyak peranannya adalah jenis intervensi medis yang berisiko tinggi. Demikian pula halnya dengan jenis laju yang lain. tingkat kontaminasi mikroorganisme di tempat operasi. Faktor risiko ini sacara garis besar dibagi menjadi 2 kategori yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. apabila akan diperbandingkan maka harus diingat faktor-faktor mana yang harus disesuaikan agar perbandingannya menjadi bermakna. berkaitan dengan beberapa faktor. Alat tersebut merupakan jembatan bagi masuknya kuman penyakit dari bagian tubuh yang satu ke dalam bagian tubuh yang lain dari pasien. Mengidentifikasi faktor risiko ini perlu dilakukan dengan mengelompokkan pasien dengan kondisi yang sama (distratifiksi). yang terpenting adalah bagaimana prosedur operasi dilaksanakan. Oleh karena faktor-faktor tersebut tidak dapat dieliminasi maka angka ILO disesuaikan terhadap faktor- faktor tersebut. seperti tindakan invasif. lama operasi dan faktor intrinsik pasien. seperti karakterisitik pasien dan pajanan. Memperbandingkan Laju Infeksi dengan populasi pasien Rumah sakit dapat menggunakan data surveilans IRS untuk menelaah program pencegahan dan pengendalian IRS dengan membandingkan angka laju IRS dengan populasi pasien yang sama di dalam rumah sakit yang sama.

masih banyak faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan angka tersebut. Hal ini menimbulkan variasi dari sensitifitas dan spesifisitas penemuan kasusnya. Meskipun angka laju infeksi telah mengalami penyesuaian dan melalui uji kemaknaan namun interprestasi dari angka-angka tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan. definisi yang dipakai atau teknik dalam surveilans tidak seragam antar rumah sakit atau tidak dipakai secara konsisten dari waktu ke waktu meskipun dari sarana yang sama. jumlah hari rawat. Sebagai contoh. angka tidak disesuaikan terhadap faktor risiko intrinsik. jumlah population at risk (misalnya jumlah pasien masuk / pulang. namun harus disadari pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap angka laju infeksi serta mempertimbangkan hal tersebut pada saat membuat interpretasi.menggunakan laju IRS dengan angka eksternal (benchmark rates) Kewaspadaan rumah sakit atau Isolasi dengan (Isolation Precaution) mengamati perubahan angka menurut waktu di rumah sakit itu sendiri. Ketiga. Pertama. namun sering kali lolos dari pengamatan dan sangat bervariasi dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain. Faktor risiko ini sangat penting artinya dalam mendapatkan suatu IRS. jumlah hari pemasangan kateter urin. atau jumlah operasi) mungkin tidak cukup besar untuk menghitung angka laju IRS yang sesungguhnya di rumah sakit tersebut. Banyak yang menganggap bahwa angka laju infeksi di rumah sakit itu mencerminkan keberhasilan dan kegagalan dari petugas pelayanan / perawatan pasien atau fasilitas pelayanan kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengendalian IRS. Meskipun ada benarnya. Maka DU dapat dipakai sebagai tanda berat ringannya pasien yang dirawat di unit tersebut. Meskipun tidak mungkin untuk mengontrol semua faktor tersebut di atas. yaitu . DU suatu ICU merupakan salah satu cara mengukur tingkat penerapan tindakan invasif yang memberikan faktor risiko intrinsik bagi IRS. di rumah sakit yang memiliki pasien dengan immunocompromised diharapkan memiliki faktor risiko intrinsik yang lebih besar daripada rumah sakit yang tidak memiliki karakteristik pasien seperti itu. Keempat. Kedua. tidak lengkapnya informasi klinik atau bukti-bukti laboratorium yang tertulis di catatan medik pasien memberi dampak yang serius terhadap validitas dan utilitas dari angka laju IRS yang dihasilkan. Memeriksa Kelayakan dan Kelaikan Peralatan Pelayanan Medis Utilisasi alat (Device Utilization = DU) didefiniskan sebagai berikut : hari pemakaian alat hari rawat pasien DU = Di ICU anak dan dewasa maka hari pemakaian alat terdiri dari jumlah total dari hari pemakaian ventilator.

Sehubungan dengan mutu pelayanan / perawatan maka harus dipertanyakan tentang : “apakah pajanan pasien terhadap tindakan invasif yang meningkat risiko IRS telah diminimalkan ?”. DU tidak berhubungan dengan laju infeksi (infection rate) yang berkaitan dengan pemakaian alat. Peningkatan angka DU di ICU memerlukan penelitian lebih lanjut. hari pemakaian. Perhatian Komite/Tim PPI tidak hanya terpaku pada laju infeksi di rumah sakit. maka distribusi pasien mengenai kategori risikonya sangat bermanfaat. untuk membantu menentukan . Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) pasien rentan secara intrinsik terhadap infeksi. Untuk pasien yang mengalami tindakan operatif tertentu. Misalnya.

Bisa dibuat dalam bentuk table. Sudah selayaknya Komite/Tim PPI menyajikan data surveilans dalam bentuk standar yang menarik yaitu berupa laporan narasi singkat (rangkuman). gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium yang positif. Ditemukan pathogen pada kultur >1 darah pasien dan Mikroba dari kultur darah tidak berhubungan dengan infeksi dari sisi yang lain ( lihat catatan 1&2 ) 2. tepat waktu. setiap bulan. grafik. Disamping itu juga perlu didesiminasikan kepada kepala unit terkait dan penanggung jawab ruangan beserta stafnya berikut rekomendasinya. Bacillus spp (bukan B anthracis). Aerococcus spp. Desiminasi Surveilans belumlah sempurna dilaksanakan apabila datanya belum didesiminasikan kepada yang berkepentingan untuk melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi. papan buletin. Oleh karena IRS mengandung hal yang sangat sensitif. Pasien menunjukkan minimal 1 gejala klinis: demam (>38oC). Meneliti kelayakan suatu intervensi juga membantu menentukan apakah pajanan telah diminimalkan. grafik kepada Komite/Tim PPI. Penyajian data harus jelas. (lihat catatan 3 & 4 ) . Streptococcus viridans. triwulan. termasuk kuman patogen dan faktor risikonya. Micrococcus spp dikultur dari > 2 darah dari lokasi pengambilan yang berbeda. Tujuan diseminasi agar pihak terkait dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk menetapkan strategi pengendalian IRS. staphylococcus coagulase negatif termasuk S epidermidis. dapat dijelaskan diri sendiri. maka data yang dapat mengarah ke pasien atau perawatan harus benar-benar terjaga kerahasiaannya. yang penting mudah dianalisa dan di interpretasi. Analisis yang mendalam dari numerator dapat dilaksanakan untuk memberikan gambaran epidemiologinya. direktur rumah sakit. Propionibacterium spp. tabel. Bentuk penyampaian dapat secara lisan dalam pertemuan. Dibeberapa negara data seperti ini bersifat rahasia. tertulis. informatif. Oleh sebab itu hasil surveilans angka infeksi harus disampaikan ke seluruh anggota komite. Data seperti ini tidak digunakan memberikan sanksi tetapi hanya digunakan untuk tujuan perbaikan mutu pelayanan. Laporan didesiminasikan secara periodik bulanan. tidak berhubungan dengan infeksi pada sisi lain dan mikroba kontaminan berasal dari kulit mis. ruangan atau unit terkait secara berkesinambungan. semester. Pelaporan Laporan sebaiknya sistematik. triwulan. difteroid (corynebacterium spp). Tujuan untuk: Memperlihatkan pola IRS dan perubahan yang terjadi (trend). tahunan. sederhana. tahunan. Data dapat disajikan dalam berbagai bentuk. Memudahkan analisis dan interpretasi data Laporan dibuat secara periodik. pie. Pelaporan dengan narasi singkat. menggigil atau hypotensi dan tanda. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) kelayakan intervensi yang diberikan. 1.

Terdapat beberapa isu untuk menentukan kesamaan mikroba a. neonatus diambil darah untuk kultur pada Selasa kemudian Sabtu diulang dan didapat pertumbuhan kuman kontaminan kulit. kriteria terpenuhi. dan pasangan kultur teridentifikasi hanya sp genus. Candida spp. rectal). tidak termasuk dalam kriteria. c. katagori Intermediate TIDAK DIPAKAI untuk membedakan apakah 2 mikroba sama. a. Karena selang waktu pengambilan darah >2 hari. Enterococcus sp. Kultur darah dapat terdiri dari 1 botol karena keterbatasan volume darah yang diambil meskipun demikian. pasien dewasa diambil darah jam 8. tidak berhubungan dengan infeksi pada sisi lain dan mikroba kontaminan berasal dari kulit mis difteroid (corynebacterium spp). Bila kontaminan kulit berasal dari 1 kultur teridentifikasi sp tingkat spesies. dikultur dari > 2 darah dari lokasi pengambilan yang berbeda. minimal dilaporkan ada 1 botol kultur darah dari tiap pengambilan menunjukkan pertumbuhan kuman kontaminan kulit yang umum ditemukan positif (lihat catatan nomor 4 untuk melihat kesamaan mikroba). Mis.00 dan kemudian diambil lagi jam 8. E coli. Beberapa mikroba pathogen yang dapat ditemukan mis S aureus. maka diasumsikan mikrobanya berbeda. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) 3. atau dilakukan tes antibiogram hanya terhadap 1 isolat maka diasumsikan bahwa mikroba adalah sama c. atau Senin dan Rabu. apneu atau bradikardia dan Tanda. . 4. jangan terlalu jauh hari mis Senin-Kamis. b. Bila kontaminan kulit yang ditemukan darikultur antibiogramnya berbeda >2 antibiotik. diasumsikan mikroba adalah sama. Streptococcus viridans. akan lebih baik bila pengambilan darah dari lokasi yang berbeda. rektal) hipotermi (<37oC. Klebsiella spp. kata kultur >1 darah pasien = minimal 1 botol kultur dari darah yang diambil dilaporkan ada pertumbuhan mikroba = kultur darah positif 2 Dalam kriteria 1. Untuk kepentingan laporan. staphylococcus coagulase negatif termasuk S epidermidis. tiap botol dari >2 pengambilan darah dapat terjadi kultur yang positif kontaminan kulit. masing-masing darah dari tiap pengambilan diinokulasi ke dalam 2 botol dan diinkubasi (total 4 botol). kata ‘patogen yang ditemukan adalah ‘mikroba yang tidak termasuk dalam mikroba kontaminan dari kulit yang sering ditemukan (lihat kriteria 2 & 3). Mikroba yang dilaporkan adalah sebagai patogen penyebab infeksi. minimal darah diambil dari 2 lokasi dalam waktu 2 hari ( mis pengambilan darah hari Senin dan Selasa. Pasien anak < 1 tahun menunjukkan minimal 1 gejala berikut ini: demam (>38 oC. kata’ >2 kultur darah diambil dari lokasi yang berbeda‘ artinya . Contoh kesamaan spesies mikroba Kultur kultur pasangan laporkan sebagai S epidermidis Staphylococcus S epidermidis Coagulase negative Bacillus spp B cereus B cereus . Propionibacterium spp. b. Aerococcus spp. 3 Dalam kriteria 2 & 3. d. Bila 1 botol yang berasal dari tiap set pengambilan darah didapatkan positif Stap coagulase negative. Catatan : 1 Dalam criteria 1. Micrococcus spp. Psudomonas spp. Mis. Bacillus spp (bukan B anthracis).15 pd hari yang sama. Dll. gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium yang positif. Bila mikroba kontaminan kulit ditemukan dari kultur tetapi belum dilakukan tes antibiogram.

1. diambil secara simultan atau perbedaan waktu yang pendek ( mis beberapa jam ). Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) Contoh kesamaan antibiogram mikroba Nama mikroba Isolat A Isolat B diinterpretasi sebagai S epidermidis semua obat S semua obat S mikroba yang sama S epidermidis OX R OX S mikroba yang beda CEFAZ R CEFAZ S Corynebacterium Pen G R Peng S mikroba yang beda Spp Cipro S Cipro R Strep viridans Semua S Semua obat S mikroba yang sama Kecuali Eryth R Hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan bahan kultur Idealnya. apneu atau bradikardia DAN Tidak dilakukan kultur darah atau kultur darah negatif DAN Tidak ditemukan infeksi ditempat lain DAN Klinisi memberi terapi sebagai sepsis Instruksi dalam pelaporan Laporkan kultur positif dari aliran darah sebagai IADP. Harus ditemukan minimal kriteria dibawah ini : Pasien < 1 tahun menunjukkan minimal 1 gejala klinis tanpa ditemukan penyebab lain: demam (>38oC. CSEP = Clinical SEPSIS = SEPSIS secara Klinis CSEP dapat dipakai hanya untuk melaporkan IAD secara Primer pada neonatus dan bayi. Pelaporan mikroba dari hasil kultur darah adalah IADP bila tidak ditemukan infeksi dari sisi yang lain.rectal). Cara pelaporan Plebitis yang purulen dikonfirmasi dengan kultur semikuantitatif dari ujung kateter yang positif tetapi bila tidak dilakukan kultur darah atau hasil kultur negatif Tidak dilaporkan IADP tetapi CVS-VASC. Infeksi Saluran Kemih (ISK) / Urinary Tract Infection (UTI) Infeksi saluran kemih terbagi menjadi dua yaitu : I. tetapi harus dikerjakan oleh petugas yang sesuai untuk peroleh sampel darah yang tepat. tidak dipakai untuk pasien dewasa dan anak.rektal) hipotermi (<37oC. Simptomatik Infeksi saluran kemih . Bila fasilitas tidak memadai untuk memperoleh bahan kultur cara ini maka dapat melaporkan IADP dengan kriteria dan catatan di atas. diambil darah vena 2-4 kali dari sisi yang berbeda (mis kiri dan kanan) dan TIDAK DIAMBIL DARI INFUS.

Dokter yang merawat menyatakan pasien infeksi saluran kemih g. bradicardia 5. Di temukan dua macam mikroorganisme dari hasil culture (gram negative bacteria atau staphylococcus saprophyticus) dengan ≥102 coloni /ml. Dokter memberikan obat untuk mengobati infeksi saluran kemih. freqwensi 4. Dokter memberikan obat untuk mengobati infeksi saluran kemih. muntah – muntah 8. Bisa juga ditemukan dua gejala atau lebih : 1. ≤106 coloni / ml urine yang pathogen f. Adanya lecosyt esterase dan atau nitrate dalam pemeriksaan urine b. Ditemukan dua macam mikroorganisme dari hasil culture (gram negative bacteria atau staphylococcus saprophyticus) dengan ≥102 coloni /ml. e. Ditemukan organisme dalam urine d. Dokter yang merawat menyatakan pasien infeksi saluran kemih g. urgensi 3. Asimptomatik infeksi saluran kemih I. II. hypothermia ( <370C rectal ) 3. letarghi 7. freqwensi 4. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) II. c. Asimptomatik infeksi saluran kemih harus di temukan satu dari kriteria di bawah ini : . suhu tubuh meningkat / panas ( >38 o C ) 2. Di temukan organisme dalam urine d. ≤106 coloni / ml urine yang pathogen f. b. e. urgensi 3. diikuti dengan salah satu dari hasil lab dan pemeriksaan dokter di bawah ini : a. hasil culture positif dengan ditemukan dua macam microorganisme atau ditemukan ≥10 5 mikroorganisme per cc urine. hypothermia ( <370C rectal ) 3. hasil culture urine positive ( ≥105mikroorganisme per cc urine d. dysuria 6. Pyuria (urine specimen dengan ≥10 sel darah putih (WBC)/mm3 atau ≥3WBC c. dysuria 6. dysuria/suprapubik tenderness 5. panas suhu ( >380C rectal ) 2. panas suhu ( >380C rectal ) 2. dysuria/suprapubik tenderness 5. Pyuria ( urine specimen dengan ≥10 sel darah putih (WBC)/mm3 atau ≥3WBC c. suhu tubuh meningkat / panas ( >38 o C ) 2. muntah – muntah 8. diikuti dengan salah satu dari hasil lab di bawah ini : a. Pasien ≤satu tahun mempunyai satu macam keluhan atau tidak ada keluhandi ikuti dengan : 1. Adanya lecosyt esterase dan atau nitrate dalam pemeriksaan urine b. bradicardia 5. Simtomatik infeksi saluran kemih harus ditemukan satu dari kriteria di bawah ini : a. Pasien ≤satu tahun mempunyai satu macam keluhan atau tidak ada keluhandi ikuti dengan : 1. apnea 4. Di temukan satu gejala diikuti dengan keluhan : 1. apnea 4. letarghi 7.

pneumonia dengan gambaran laboratorium spesifik (PNU2). dll. urgensy c. Pasien yang terpasang kateter urine selama tujuh hari tanpa hasil culture dan atau didapatkan hasil culture urine positive dengan ≥105mikroorganisme percc urine dengan lebih dari dua macam mikroorganisme. H . 3. dan pneumonia pada pasien imunokompromis(PNU3). PPOK. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) 1. dysuria atau Suprapubik tenderness Catatan : 1. Pneumonia HAI tidak dapat ditegakkan berdasar diagnosis dari dokter saja. Kriteria spesifik pilihan untuk orang tua. 2. Tabel X memperlihatkan nilai ambang batas untuk spesimen biakan yang digunakan dalam surveilens pneumonia. Komentar-komentar umum 1. urgensy c.pasien tidak mempunyai keluhan seperti : a. atelektasis. keganasan. Perlu disadari bahwa mungkin sulit untuk menentukan pneumonia HAI pada orang tua. yaitu pneumonia pada pasien yang menggunakan alat untuk membantu napas atau mengontrol pernapasan secara terus menerus melalui trakeostomi atau intubasi endotrakeal dalam jangka waktu 48 jam sebelum terjadi infeksi. Meskipun kriteria spesifik dimasukkan untuk bayi dan anak. Pada waktu melakukan asesmen pasien-pasien yang diintubasi. Gambar 1 dan 2 merupakan diagram alur untuk algoritme pneumonia yang dapat digunakan dalam sebagai pengumpulan data. freqwensi d. bayi dan pasien imunokompromis karena keadaan seperti itu dapat menutupi tanda tanda atau gejala tipikal pneumonia. dysuria atau suprapubik tenderness 2. 3. disertai daftar singkatan yang digunakan dalam algoritma dan petunjuk pelaporan. termasuk periode penyapihan) harus disertakan pada waktu pelaporan data. bayi dan pasien imunokompromis telah dimasukkan dalam definisi pneumonia HAI ini. sindrom gawat napas. infeksi saluran napas atas (misalnya trakeobronkitis) dan gejala awal pneumonia. Pneu-Pneumonia Ada 3 tipe spesifik pneumonia: pneumonia klinis (PNEU1). Pada waktu melakukan asesmen untuk menetapkan pneumonia. Pneumonia HAI dapat ditandai dari onsetnya : awal atau lambat. 4. Tidak mengambil sample dari kantong urine . dispalasia bronkopulmoner. 2. penyakit membran hialin. penting dibedakan perubahan keadaan klinis yang disebabkan keadaan lain seperti infark miokard. Pengambilan sample untuk culture urine harus dengan tehnik yang benar seperti : a. Pneumonia onset awal timbul dalam 4 hari pertama perawatan dan sering disebabkan oleh Moraxella catarrhalis. emboli paru. 2. Hasil culture positive dari tip kateterurine tidak dapat di benarkan sebagai diagnose infeksi saluran kemih. Pengambilan sample urine culture pada bayi sebaiknya diambil dari bladder kateter atau dari kateterb suprapubik. Pasien yang tidak terpasang kateter urine dalam tujuh hari sebelumnya culture urine positivedan atau pasien yang sudah mempunyai paling tidak dua hasil culture urine positive dengan ≥105mikroorganisme per cc urine dengan isolasi yang berulang dari mikroorganisme yang sama dan tidak lebih dari dua spesies mikroorganisme. Berikut ini adalah komentar umum yang dapat diterapkan pada semua tipe spesifik pneumonia. panas ( Suhu 380C ) b. dan atau pasien yang tidak : a. pasien pediatri mungkin memenuhi kriteria pneumonia spesifik lainnya. Pneumonia terkait ventilator (VAP. freqwensi d. perlu dibedakan antara kolonisasi trakea. 5. panas ( Suhu 380C ) b.

Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) influenzae. 7. dengan 1 atau lebih foto atau lebih foto toraks serial dengan satu berikut: toraks serial dengan satu berikut:  Infiltrat baru atau progresif dan menetap  Infiltrat baru atau progresif dan menetap  Konsolidasi  Konsolidasi  Kavitasi  Kavitasi  Pneumatocele Paling sedikit pada usia satu dari berikut ini: < 1 tahun  Pneumatocele pada usia Setidaknya < 1 tahun 1 dari yg berikut ini pada pasien imunokompromais:  Demam >38C tanpa penyebab lain  Lekopenia (<4000/mm3) atau lekositosis  Demam >38C tanpa penyebab lain (>12000/mm3)  Perubahan mental tanpa penyebab lain pada  Perubahan status mental tanpa penyebab lain pad gol usia >70 th gol usia >70 tahun  Dahak purulen yangFormatted: baru muncul.25" + Indent at: 0. Pewarnaan Gram positif untuk bakteri dan tes KOH untuk serat elastin dan/atau hypha jamur dari sputum yang dikumpulkan dengan cara yang baik merupakan kunci penting dalam menemukan penyebab infeksi. dan Pneumocystis carinii umumnya merupakan patogen late onset pneumonia. dan S pneumoniae. termasuk methicillin-resistant S aureus. Pada waktu menetapkan apakah untuk melaporkan pneumonia HAI berulang pada seorang pasien. atau perubahan sifat  Ronki atau suara napas bronkial dahak. peningkatan kebutuhan O2 atau peningkatan kebutuhan O2 ventilasi atau ventilasi A. sedang kapang. atau napas cepat muncul.Peningkatan paired sera (IgG) 4 kali bawah berasal dari BAL dari salah satu:  Pada pem mikroskopik langsung . perlu dicari bukti-bukti bahwa infeksi awal telah mengalami resolusi. Namun sampel dahak sering terkontaminasi oleh kuman yang mengkoloni saluran napas sehingga perlu diinterpretasi dengan hati-hati. atau sekret atau perlu Setidaknya 2 dari berikut ini: Setidaknya 1 dari berikut ini: pengisapan lendir  Timbul batuk atau perburukan batuk. jamur. Diperlukan kombinasi gejala dan tanda serta bukti radiologis atau uji diagnostik lain. atau sesak.Tes mikro IF pos Chlamydia mengandung bakteri intraselular .Deteksi antigen atau antibodi dari Formatted: Swedish (Sweden) . Kesesuaian biakan darah tanda dan gejala infeksi lain pernapasan positif dan sputum positif Candida  Biakan cairan pleura positif . Formatted: Indent: Left: 0". atau  Dahak purulen yang baru  Dahak purulen yang baru sesak. atau perubahan sifat muncul. atau napas batuk. peningkatan kebutuhan O2  Timbul batuk atau perburukan  Timbul batuk atau perburukan atau ventilasi batuk. Virus (misalnya influenza A dan B atau RSV) dapat menyebabkan early dan late onset pneumonia nosokomial.PCR (+) Chlamidia atau Mikoplasma ditemukan > 5% sel berasal dari BAL -mikroskopik langsung . Finnish atau perubahan sifat dahak. Pneumonia HAI berulang dapat terjadi pada pasien-pasien yang sakit berat dan tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama. Penyebab pneumonia late onset sering berupa kuman gram negatif atau S aureus. bukan disebabkan . dengan 2 Pasien tanpa penyakit yang mendasari.Biakan virus atau chlamydia sekret . O2 desat {mis PaO2/FIO2<240). 6. candida sering ditemukan pada pewarnaan.Biakan atau mikro-IF Legionella spp -biakan jamur positif  Pem histopatologi menunjukkan satu sekret atau jaringan positif dari berikut ini: . atau sekret atau perlu  Perburukan pertukaran gas(mis O2 desat {mis pengisapan lendir pengisapan lendir PaO2/FIO2<240). atau sesak. tetapi tidak sering menyebabkan pneumonia HAI. Penambahan atau perubahan patogen saja bukan indikasi episode baru pneumonia.5" Setidaknya 1 dari berikut ini: Setidaknya 1 dari berikut ini: Sedikitnya satu dari berikut ini:  Biakan darah positif. atau sekret atau perlu dahak. atau napas  Batuk darah cepat cepat  Nyeri dada pleuritik  Ronki atau suara napas bronkial  Ronki atau suara napas bronkial foto toraks  Perburukan pertukaran gas(mis  Perburukan pertukaran gas(mis O2 desat {mis PaO2/FIO2<240). Secara khusus. Bulleted + Level: 1 + Aligned at: 0. Pnemonia yang disebabkan aspirasi hebat (misalnya pada waktu intubasi di ruang darurat atau di kamar operasi) dianggap HAI jika memenuhi kriteria spesifik manapun dan jelas tidak didapati atau sedang dalam masa inkubasi pada saat pasien masuk rumah sakit. Ditemukan jamur atau P sekret pernapasan positif Formatted: Font:  Biakan kuantitatif positif dari sampel sal carinii dari sampel sal14 pt napas napas bawah yang diambil dengan BAL . Pasien disertai penyakit yang mendasari. legionellae.

xx?? PNU2. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) PNU1. xx?? PNU2. xx?? PNU3. xx?? .

4C) atau hipotermi (<36. mempunyai 2 atau Pasien tanpa penyakit dasar.polymorphonuclear leucocyte RIA . rales dan ronki  Batuk  Bradikardi (<100 x/menit) atau takikardi (>170 x/menit) tanda dan gejala GAMBAR 2.enzyme immunoassay FAMA .radioimmunoasay Formatted: Finnish . Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution)  PNU1: Pneumonia Klinis Pasien dengan penyakit dasar.immunofluorescent antibody LRT . atau sekret atau lekositosis (>15. napas cuping hidung Formatted: Finnish dengan retraksi dinding dada atau mengorok  Mengi.bronchoalveolar lavage EIA .polymerase chain reaction PMN . takipnoe. peningkatan kebutuhan O2 atau / ventilasi  Demam (38. lebih foto toraks serial dengan satu keadaan mempunyai 2 atau lebih foto toraks berikut: serial dengan satu keadaan berikut:  Infiltrat baru atau progresif dan persisten  Infiltrat baru atau progresif  Konsolidasi dan persisten  Kavitasi  Konsolidasi GAMBAR 1. atau  Perburukan pertukaran gas(mis O2 desat perubahan sifat dahak.5C) Dan 3 dari berikut ini: tanpa penyebab lain yang diketahui  Lekopenia (<4000/mm3) atau foto toraks  Ketidak stabilan suhu tanpa diketahui lekositosis (>15.000/mm3) dan perlu pengisapan lendir pergeseran kekiri (>10% band forms)  Rales atau suara napas bronkial  Dahak purulen yang baru muncul.000/mm3) dan penyebabnya  Dahak purulen yang baru muncul.fluorescent-antibody staning of membrane antigen IFA . peningkatan perlu pengisapan lendir kebutuhan O2 atau / ventilasi  Apnoe.  Pneumatocele pada gol usia < 1 tahun  Kavitasi  Pneumatocele pada gol usia DIAG < 1 tahun RAM ALUR PNEU MONIA Bayi < 1 tahun Anak >1 th atau < 12 th  Perburukan pertukaran gas(mis O2 desat Sedikitnya 3 keadaan berikut: {mis pulse oksimetri <94%). atau  Lekopenia (<4000/mm3) atau perubahan sifat dahak. DIAGRAM ALUR KRITERIA PILIHAN PNEUMONIA PADA BAYI DAN ANAK Formatted: Font: 16 pt Daftar Singkatan: BAL .lower respiratory tract PCR . atau sekret atau {mis pulse oksimetri <94%).

Sirkumsisi tidak termasuk kedalam prosedur operasi pada NHSN . Jika ada pasien memenuhi kriteria sebagai PNU1 dan PNU2. yaitu : 1. dan insisi superficial terpaksa harus dibuka oleh dr bedah dan hasil biakan positif atau tidak dilakukan biakan. Diagnosis ILO superfisial oleh dokter bedah atau dokter yang menangani pasien tersebut. Laporkan infeksi pada tindakan sirkumsisi pada bayi baru lahir sebagai CIRC. Jika ada pasien memenuhi kriteria sebagai PNU1 dan PNU3. Bila infeksi pada tempat insisi mengenai atau berlanjut sampai ke fascia dan jaringan otot. pembengkakan yang terlokalisir. laporkan sebagai PNU2. kemerahan. Dapat diisolasi kuman penyebab dari biakan cairan atau jaringan yang diambil secara aseptic dari tempat insisi superficial. Instruksi cara pencatatan/pelaporan: . . laporkan sebagai PNU3. sebaiknya dilaporkan sebagai infeksi kulit (SKIN) atau infeksi jaringan lunak (ST) tergantung dari kedalaman infeksi. 3. . Drainase bahan purulen dari insisi superficial. 2. Hasil biakan yang negative tidak memenuhi kriteria ini. Jika ada pasien memenuhi kriteria sebagai PNU2 dan PNU3. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) Petunjuk Pelaporan: Terdapat jenjang kategori spesifik dalam tipe pneumonia utama (PNEU). . . Laporkan infeksi saluran napas bawah yang terjadi bersamaan (misalnya abses atau empiema) dan pneumonia dengan organisme yang sama sebagai pneumonia Abses paru atau empiema tanpa pneumonia dimasukkan sebagai LUNG. c. Jangan melaporkan “stitch abscess” (inflamasi minimal dan adanya keluar cairan [discharge] pada tempat penetrasi /tusukan jarum atau tempat jahitan) sebagai suatu infeksi . laporkan sebagai PNU3. b. Jangan melaporkan infeksi luka yang terlokalisir (“localized stab wound infection”) sebagai ILO. Superficial incisional secondary (SIS) : Infeksi terjadi pada tempat insisi sekunder pada pasien yang menjlani tindakan melalui lebih dari satu insisi (contoh insisi pada donor [biasanya pada kaki] untuk untuk CBGB). Apabila infeksi memenuhi kriteria sebagai ILO superficial dan ILO profunda klasifikasikan sebagai ILO profunda. Sekurang-kurangnya terdapat satu tanda atau gejala infeksi sebagai berikut : rasa nyeri. . laporkan sebagai 1: . . Infeksi Luka Operasi (Surgical Site Infection / SSI) ILO Superfisial (Superficial incisional surgical site infection) : harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 sampai 90 hari setelah tindakan operasi dan Mengenai hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan) pada tempat insisi dan Pasien sekurang-kurangnya mempunyai / memenuhi salah satu keadaan dibawah ini : a. Bahkan jika ada pasien yang memenuhi kriteria lebih dari satu tempat spesifik. atau hangat pada perabaan. Superficial incisional primary (SIP) : Infeksi terjadi pada tempat insisi primer pada pasien yang telah menjalani tindakan operasi melalui satu atau lebih insisi (contoh insisi pada operasi Cesar atau insisi pada dada dalam operasi bypass arteri coroner). d. Laporkan infeksi pada luka bakar sebagai BURN. Terdapat 2 tipe spesifik ILO superficial. laporkan sebagai ILO profunda (“deep incisional SSI”).

selama re-operasi. Instruksi cara pencatatan/pelaporan: . Abscess atau adanya bukti lain terjadinya infeksi yang mengenai insisi dalam yang ditemukan berdasarkan pemeriksaan langsung. akan dilaporkan sebagai ILO organ / rongga tubuh dengan tempat spesifiknya pada “intra-abdominal” (ILO-IAB). Dibawah ini dicantumkan daftar nama organ spesifik yang digunakan dalam pencatatan /pelaporan untuk ILO organ / rongga tubuh. ILO organ/rongga tubuh (Organ/space surgical site infection) Organ atau rongga tubuh meliputi semua bagian/organ tubuh manusia kecuali kulit. cangkok pembuluh darah yang bukan berasal dari manusia. Apabila infeksi memenuhi kriteria sebagai ILO superficial dan ILO profunda klasifikasikan sebagai ILO profunda. bahan atau jaringan yang berasal bukan dari manusia (seperti katup jantung prostesa. d. Sebagai contoh. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) ILO Profunda (deep incisional Surgical Site Infection): harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi tanpa pemasangan implant atau dalam waktu 1 tahun bila operasi dengan pemasangan implant dan infeksi diduga ada kaitannya dengan prosedur operasi dan Mengenai jaringan lunak yang lebih dalam (fascia dan lapisan otot) pada tempat insisi dan Pasien sekurang-kurangnya mempunyai / memenuhi salah satu keadaan dibawah ini : a. atau berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi (PA) atau radiologi. atau nyeri yang terlokalisir. atau prostesa tulang panggul) yang ditempatkan pada tubuh pasien secara permanen dalam suatu tindakan operasi dan tidak dimanipulasi secara rutin baik untuk kepentingan diagnostik maupun untuk keperluan terapi. Tempat atau nama organ tubuh yang spesifik harus dicantumkan pada ILO organ / rongga tubuh untuk mengidentifikasikan tempat terjadinya infeksi. pada tindakan apendektomi yang kemudian terjadi abses sub-diafragma. Tempat inisi dalam mengalami “dehiscement” secara spontan atau terpaksa dibuka oleh dokter bedah dan hasil biakan positif atau tidak dilakukan biakan kuman apabila pasien mempunyai sekurang-kurangnya satu tanda atau gejala sebagai berikut: febris (> 38 C). 2. Deep incisional primary (DIP) : Infeksi terjadi pada tempat insisi primer pada pasien yang telah menjalani tindakan operasi melalui satu atau lebih insisi (contoh insisi pada operasi Cesar atau insisi pada dada dalam operasi bypass arteri coroner). Catatan : Yang dimaksud dengan implant adalah setiap benda. Diagnosis ILO profunda oleh dokter bedah atau dokter yang menangani pasien tersebut. Drainase purulen dari jaringan lunak dalam tetapi bukan dari organ atau rongga dalam pada tempat operasi. b. yaitu : 1. jantung buatan (mekanik). Hasil biakan yang negative tidak termasuk dalam kriteria ini. Terdapat 2 tipe spesifik ILO profunda. kecuali insisi kulit. Deep incisional secondary (DIS) : Infeksi terjadi pada tempat insisi sekunder pada pasien yang menjalani tindakan melalui lebih dari satu insisi (contoh insisi pada donor [biasanya pada kaki] untuk untuk CBGB). yang sengaja dibuka atau dimanipulasi selama tindakan operasi. c. fascia dan lapisan otot yang sengaja dibuka atau dimanipulasi selama prosedur / tindakan dan . Harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi tanpa pemasangan implant atau dalam waktu 1 tahun bila operasi dengan pemasangan implant dan infeksi diduga ada kaitannya dengan prosedur operasi dan infeksi mengenai semua bagian dari tubuh. fascia atau lapisan otot.

Surveillance Period for Deep Incisional or Organ/Space SSI Following Selected NHSN Operative Procedure Categories 30-day Surveillance Code Procedure Operasi Code Procedure Operasi AAA Abdominal aortic LAM Laminectomy aneurysm repair AMP Limb amputation LTP Liver transplant PPY Appendix surgery NECK Neck surgery AVSD Shunt for dialysis NEPH Kidney surgery BILI Bile duct. Purulen: kental. Drainase purulen dari suatu drain yang dipasang melalui “stab wound” kedalam organ / rongga tubuh. kuning atau hijau USUL TABEL DI BAWAH DIMASUKKAN DALAM PPI IDO Table . Sanguineous: Merah segar (darah segar) 3. atau berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi (PA) atau radiologi. Diagnosis ILO organ / rongga tubuh oleh dokter bedah atau dokter yang menangani pasien tersebut. Jenis-jenis drainase 1. liver or OVRY Ovarian surgery pancreatic surgery CEA Carotid endarterectomy PRST Prostate surgery CHOL Gallbladder surgery REC Rectal surgery COLO Colon surgery SB Small bowel surgery CSEC Cesarean section SPLE Spleen surgery GAST Gastric surgery THOR Thoracic surgery HTP Heart transplant THYR Thyroid and/or parathyroid surgery HYST Abdominal hysterectomy VHYS Vaginal hysterectomy KTP Kidney transplant XLAP Exploratory laparotomy OTH Other operative procedures not included in the NHSN categories 90-day Surveillance Code Operative Procedure BRST Breast surgery CARD Cardiac surgery CBGB Coronary artery bypass graft with both chest and donor site incisions CBGC Coronary artery bypass graft with chest incision only CRAN Craniotomy FUSN Spinal fusion . d. selama re-operasi. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) Pasien sekurang-kurangnya mempunyai / memenuhi salah satu keadaan dibawah ini : a. Serosa: Jernih. encer (plasma) 2. Abscess atau adanya bukti lain terjadinya infeksi yang mengenai organ / rongga tubuh yang ditemukan berdasarkan pemeriksaan langsung. Dapat diisolasi kuman penyebab dari biakan cairan atau jaringan yang diambil secara aseptic dari organ / rongga tubuh. c. Serous sanguineous: Pucat (mengalir deras darahnya) 4. b.

OUTI . Infeksi tersebut umumnya tidak memerlukan re-operasi dan dianggap sebagai komplikasi dari insisi. VASC . or gums) EMET Endometritis OREP Other infections of the male or female reproductive tract ENDO Endocarditis OUTI Other infections of the urinary tract EYE Eye.GIT . brain VCUF Vaginal cuff abscess or dura Instruksi pencatatan / pelaporan: Secara spesifik tempat terjadinya infeksi harus dicantumkan dalam pelaporan ILO organ/rongga tubuh (lihat juga kriteria untuk tempat tersebut): . DISC .MED . Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) FX Open reduction of fracture HER Herniorrhaphy HPRO Hip prosthesis KPRO Knee prosthesis PACE Pacemaker surgery PVBY Peripheral vascular bypass surgery RFUSN Refusion of spine VSHN Ventricular shunt Superficial incisional SSIs are only followed for a 30-day period for all procedure types.IC .EAR .BRST . other than SA Spinal abscess without conjunctivitis meningitis GIT GI tract SINU Sinusitis HEP Hepatitis UR Upper respiratory tract IAB Intraabdominal.ORAL .VCUF .EMET .EYE . Aureus  Tindakan lebih dari 1 jenis .MEN . not VASC Arterial or venous infection specified elsewhere IC Intracranial.OREP . tongue.UR .CARD . BONE . IAB . Specific Sites of an Organ/Space SSI Code Site Code Site BONE Osteomyelitis JNT Joint or bursa BRST Breast abscess or LUNG Other infections of the mastitis respiratory tract CARD Myocarditis or MED Mediastinitis pericarditis DISC Disc space MEN Meningitis or ventriculitis EAR Ear.JNT Biasanya infeksi organ/rongga tubuh keluar (drains) melalui tempat insisi.LUNG .SA . sehingga keadaan tersebut harus diklasifikasikan sebagai suatu ILO profunda. Faktor risiko terjadinya ILO : Faktor Pasien Faktor Prosedur  Umur  Cukur rambut sebelum operasi  Obesitas  Jenis tindakan  Penyakit berat  Antibiotik profilaksis  ASA Score  Lamanya operasi  Carriage of Staph. ENDO .SINU . mastoid ORAL Oral cavity (mouth.

saluran bilier 2) Bersih kontaminasi : operasi yang membuka saluran pernapasan dan genitourinari. oropharing. oropharing. Penyembuhan primer yaitu pada luka bersih/ luka. Fase penyembuhan luka primer: A.bilier. kontaminasi fecal. operasi luka tidak infeksi. yang tidak menunjukkan tanda jelas adanya infeksi atau terlanggarnya teknik sterilitas 3) Kontaminasi luka terbuka : trauma terbuka.tumor. membuka saluran nafas.empedu/kandung empedu yang terinfeksi. benda asing. oropharing. melibatkan adanya perforasi organ dalam atau pus 2. skor :0  Bila lebih dari waktu yang ditentukan. luka kecelakaan terbuka yang baru terlanggarnya secara nyata teknik steril pada proses operasi adanya pencemaran yang nyata (gross spilage) yang berasal dari saluran cerna. skor : 0  ASA 3 – 5. Fase proliferasi pada hari ketiga oleh fibroblas dan kapiler menutup luka bersama . Defensive: 1. Fase perlekatan luka pada 24 jam pertama oleh fibrinogen dan limfosit 2. lekositosis/ fagositosis 4. tidak membuka saluran napas. kalor.kemih.operasi.genitouriner dengan urine terinfeksi atau menembus sal. menembus sal. sal. skor : 1 3. saluran cerna. sal. Fase inisial/ pembersihan karena edema. dolor dan fungsiolaesa 3. sal.daerah dengan peradangan non-purulen akut 4) Kotor dan infeksi : trauma terbuka. ASA Score  ASA 1 – 2. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution)  Lama rawat pra operasi  Benda asing  Malnutrisi  Tranfusi darah  DM  Mandi sebelum operasi  Penyakit Keganasan  Operasi emergensi  Pengobatan dengan imunosupresif  Drain Risk Category / Kategori resiko : 1.cerna. tidak membuka saluran respiratory dan genitourinari. Lama operasi : waktu mulai dibuka insisi sampai penutupan kulit Setiap jenis operasi berbeda lama operasi (lihat tabel)  Lama operasi sesuai atau kurang dengan waktu yang ditentukan. Daerah/kulit pra bedah tanpa peradangan. traktus reproduksi tanpa pencemaran nyata (gross spilage)-operasi traktus bilier. skor :1 Cara menghitung infeksi luka operasi : X / Y x 100% X : numerator (pembilang): jumlah kasus infeksi yang terjadi dalam waktu tertentu Y : Denominator (penyebut) jumlah pasien operasi pada waktu tertentu PENYEMBUHAN LUKA 1. Jenis luka :  Luka bersih dan bersih kontaminasi skor : 0  Luka bersih kontaminasi dan kotor skor :1 Keterangan : 1) luka bersih : non trauma. apendix. Fase aseptik peradangan setelah 24 jam terjadi rubor. luka traumatik yang sudah lama dengan sisa jaringan mati. atau terkontaminasi dengan feses. vagina.

Penyembuhan sekunder Penyembuhan sekunder timbul jaringan parut pada luka yang lebar terinfeksi. dilakukan penjahitan sekunder pada hari keempat setelah bebas infeksi dan granulasi telah baik. Penyembuhan tersier pada luka dengan perawatan terbuka karena adanya kontaminasi. luka bakar Luka terbuka dalam waktu kurang enam jam merupakan golden periode. luka tak dijahit.Terbentuk jaringan granulasi dan epitelisasi. pada hari ketujuh penyembuhan telah bagus ( aff hecting/angkat jahitan). 2. kalau lebih dari enam jam sebaiknya perawatan luka dibiarkan terbuka ( perawatan terbuka ) 3. Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) kolagen dan makrofag 5.supaya tidak tumpang tindih tidak dibahas pada surveilans 2 Tulisan yang di stabilo kuning usul untuk di hilangkan 3 Tulisan warna merah tambaha / masukan 4 Penulisan ILO/IDO belum konsisten . sehingga dapat dilakukan penjahitan (penyembuhan primer). KETERANGAN 1 Kriteria diagnosis sudah dibahas pada pencegahan infeksi.

Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution) .