You are on page 1of 273

BUPATI BANGKA SELATAN

 
KATA PENGANTAR
 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh  

Dengan  mengucap  syukur  kepada  Allah  Subhanahu  Wata’ala,  Tuhan  Yang  Maha  Esa, 
saya  menyambut  gembira  terbitnya  dokumen  Rencana  Pembangunan  Jangka 
Menengah  (RPJMD)  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2010‐2015.  RPJMD  merupakan 
dokumen  resmi  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  yang  diajukan  kepada  Dewan 
Perwakilan  Rakyat  Daerah  (DPRD)  Bangka  Selatan  untuk  mendapatkan  legitimasi 
hukum dan politik melalui peraturan daerah. Selanjutnya RPJMD menjadi acuan dalam 
perencanaan,  penganggaran,  pelaksanaan,  pengendalian  dan  evaluasi  kebijakan  dan 
program pembangunan daerah dalam lima tahun mendatang. 

RPJMD 2010 – 2015 Kabupaten Bangka Selatan memuat penjabaran visi, misi, strategi, 
arah  kebijakan  dan  program  pembangunan  Bupati  dan  Wakil  Bupati  Bangka  Selatan 
terpilih untuk masa bakti 2010‐2015 yang dilengkapi dengan kerangka pendanaan dan 
penetapan  indikator  kinerja.  Proses  penyusunan  RPJMD  juga  memperhatikan  arahan 
Rencana  Pembangunan  Jangka  Panjang  Daerah  (RPJPD)  Provinsi  Kepulauan  Bangka 
Belitung  Tahun  2005‐2025,  RPJM  Nasional  2010  –  2014,  hasil  pembahasan  DPRD 
Bangka  Selatan,  hasil  konsultasi  dengan  Gubernur  Kepulauan  Bangka  Belitung, 
Direktorat Jenderal Pembinaan dan  Pembangunan Daerah  Kementerian Dalam Negeri 
Republik Indonesia dan berbagai masukan dari seluruh pemangku kepentingan.

Akhirnya, saya selaku Bupati Bangka Selatan mengajak kepada seluruh aparatur
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dan para pemangku kepentingan untuk secara
bersama-sama, bersungguh-sungguh, ikhlas, dan penuh semangat dengan prinsip
membangun negeri junjung besaoh semakin lebih baik. Kita melaksanakan seluruh
kebijakan dan program pembangunan yang tercantum dalam RPJMD Kabupaten
Bangka Selatan Tahun 2010-2015. Dengan semua itu, kita yakin dapat mewujudkan
Kabupaten Bangka Selatan makmur. Sekian dan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Toboali, Maret 2011

BUPATI BANGKA SELATAN

H. JAMRO H. JALIL

 

PERATURAN DAERAH
KABUPATEN BANGKA SELATAN
NOMOR 10 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH
KABUPATEN BANGKA SELATAN TAHUN 2010-2015

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI BANGKA SELATAN,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat di daerah,
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memerlukan dokumen
perencanaan pembangunan jangka menengah demi mewujudkan
masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan dalam
Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 75 ayat (1) Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata
Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah mengamanatkan bahwa Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalah huruf
a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bangka
Selatan Tahun 2010–2015;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2000 Nomor 217, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4033);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pembentukan
Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten
Bangka Barat dan Kabupaten Belitung Timur di Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4268);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

1

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844);
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5234);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2005 Nomor 4578);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
11. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;

12. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Selatan Nomor 9 Tahun 2008
tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten
Bangka Selatan (Lembaran Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun
2008 Nomor 9);

13. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Selatan Nomor 14 Tahun 2008
tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah (Lembaran
Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008 Nomor 14)
sebagaimana telah diubah kedua kalinya dengan Peraturan Daerah
Kabupaten Bangka Selatan Nomor 9 Tahun 2010 (Lembaran Daerah
Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 Nomor 9);

2

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN BANGKA SELATAN
dan
BUPATI BANGKA SELATAN

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN
JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BANGKA
SELATAN TAHUN 2010 – 2015.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksudkan dengan :

1. Daerah adalah Kabupaten Bangka Selatan.

2. Pemerintahan Daerah adalah Penyelenggara urusan Pemerintahan oleh
Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah.

4. Bupati adalah Bupati Bangka Selatan.

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bangka Selatan.

6. Badan Perencanaan Pembangunan dan Penanaman Modal Daerah yang
selanjutnya disebut BP3MD adalah Badan Perencanaan Pembangunan
dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Bangka Selatan.

7. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah
Satuan Kerja Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Bangka
Selatan.

8. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disebut
APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Bangka Selatan.

3

9. 13. 4 . Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disebut Renja SKPD adalah Dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. BAB II ASAS PENYUSUNAN Pasal 2 RPJM Daerah disusun berdasarkan asas keterbukaan. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 18. 11. partisipatif dengan melibatkan para pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah daerah. melalui urutan pilihan. Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya disingkat Musrenbang adalah forum antar pelaku dalam rangka menyusun Rencana Pembangunan Nasional dan Rencana Pembangunan Daerah. 12. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 17. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010-2015 yang selanjutnya disebut RPJM Daerah adalah Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah untuk periode 5 (lima) tahun dan merupakan pelaksanaan tahap kedua dari RPJP Daerah terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan Tahun 2015. serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah untuk mencapai tujuan. Program adalah instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga utnuk mencapai sasaran dan tujuan. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya – upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Rencana Strategis Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut Renstra SKPD adalah Dokumen Perencanaan Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. informatif. 15. elemen masyarakat. dan dunia usaha sesuai kondisi dalam masyarakat Bangka Selatan. 16. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. 10. 14.

Pasal 3 (1) RPJM Daerah dijabarkan lebih lanjut kedalam RKPD yang mengacu pada RKP memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. (2) RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai pedoman untuk menyusun APBD setiap tahun. program prioritas Bupati. 5 . misi dan program Bupati ke dalam strategi Pembangunan Daerah. b. DPRD. menjadi pedoman resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah dan DPRD dalam menentukan prioritas program dan kegiatan tahunan yang akan dibiayai APBD dan sumber pembiayaan lainnya yang sah. dengan mempertimbangkan RPJP Daerah. (2) Tujuan penyusunan RPJM Daerah adalah sebagai berikut : a. rencana kerja dengan pendanaannya. (2) Dokumen perencanaan Daerah yang memberikan arah sekaligus acuan bagi seluruh komponen pelaku pembangunan Daerah dalam mewujudkan pembangunan Daerah yang berkesinambungan. BAB IV MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 5 (1) Maksud penyusunan RPJM Daerah adalah untuk menyediakan pedoman resmi bagi Pemerintah Daerah. BAB III KEDUDUKAN Pasal 4 RPJM Daerah merupakan : (1) Penjabaran visi. dan arah kebijakan keuangan Daerah. c. swasta dan masyarakat dalam rangka melaksanakan pembangunan. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dan mendorong partisipasi masyarakat. menjadi acuan Pemerintah Kabupaten dalam menyusun RPJMD Kabupaten. d. memberikan gambaran umum kondisi daerah terkini dalam konstelasi regional dan nasional. kebijakan umum. prioritas pembangunan daerah. menjadi tolok ukur dalam melakukan evaluasi kinerja tahunan daerah.

aspek pelayanan umum. BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi 6 . Kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu yang mencakup proporsi penggunaan anggaran. BAB IV : ISU-ISU STRATEGI Memuat permasalahan pembangunan dan isu strategi BAB V : VISI. sistematika penyusunan dan maksud dan tujuan. TUJUAN DAN SASARAN Memuat Visi. proyeksi data masa lalu. hubungan antar dokumen perencanaan lainnya. Kerangka Pendanaan yang mencakup analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama. BAB II : GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Memuat aspek geografis dan demografis. dan penghitungan kerangka pendanaan. Tujuan dan sasaran BAB VI : STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Menguraikan strategi pembangunan yang dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan daerah setiap strategi terpilih. MISI. BAB V SISTEMATIKA Pasal 6 RPJM Daerah disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Memuat latar belakang. Misi. BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS PEMBANGUNAN YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Menguraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggungjawab SKPD. aspek kesejahteraan masyarakat. landasan hukum penyusunan. aspek daya saing daerah. analisis pembiayaan. BAB III : GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Memuat kinerja keuangan masa lalu yang mencakup kinerja pelaksanaan APBD dan Neraca Daerah. BAB VII : KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Menjelaskan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja.

(4) RPJM Daerah menjadi acuan dalam penyusunan Renstra SKPD dan RKPD serta digunakan sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. BAB VII PENGENDALIAN DAN EVALUASI Pasal 8 Pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah meliputi: (1) Pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan daerah. BAB VI RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Pasal 7 (1) RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. kebijakan umum dan program SKPD. misi dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. 7 . (2) Pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pembangunan daerah. lintas SKPD dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. strategi pembanguan daerah. dan (3) Evaluasi terhadap hasil rencana pembangunan daerah. (2) RPJM Daerah memuat arah kebijakan keuangan daerah. (3) Rincian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagaimana tercantum dalam lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam Peraturan Daerah ini. Pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan yang perlu dirumuskan dalam bagian ini antara lain pedoman transisi pada Tahun 2015 dan 2016 serta kaidah pelaksanaan. dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. (5) Renstra SKPD menjadi acuan dalam penyusunan Renja SKPD dengan memperhatikan RPJM Daerah.

Pasal 9 (1) Bupati melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 12 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku. (4) Tatacara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. maka Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Selatan Nomor 13 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2005-2010 (Lembaran daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 Nomor 3 seri E) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 8 . dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka menengah daerah. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 11 RPJMD Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010-2015 dapat disesuaikan dikemudian hari dengan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bangka Selatan. tujuan dan sasaran. (2) Kepala BP3MD Kabupaten melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah lingkup Kabupaten. BAB VII KETENTUAN LAIN -LAIN Pasal 10 RPJM Daerah dijadikan dasar Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Bupati Tahun 2011 sampai dengan Tahun 2015. (3) Evaluasi terhadap hasil RPJMD mencakup indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan untuk mencapai misi.

Agar setiap orang mengetahuinya. Ditetapkan di Toboali pada tanggal 28 September 2011 BUPATI BANGKA SELATAN. JAMRO H. Pasal 13 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bangka Selatan. JALIL Diundangkan di Toboali pada tanggal 28 September 2011 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN. AHMAD DAMIRI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN TAHUN 2011 NOMOR 10 9 .

.

............................................................2..................  GAMBARAN  PENGELOLAAN  KEUANGAN  DAERAH  SERTA  KERANGKA  PENDANAAN.....................  GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH .......................II‐83  2................3.....................................................................1..............................................................................1..............  Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi........................................................................................II‐13  2......................................................3............1................  Wilayah Rawan Bencana .  Fokus Layanan Urusan Wajib..........  ASPEK DAYA SAING DAERAH ........3.....................................II‐35  2...............................................1...............................................2......................................................................................................................................... III‐5  I ..............II‐7  2................  Kesejahteraan Sosial..................................................... I‐1  1...........................................................................................................................................................................  DASAR HUKUM PENYUSUNAN ...................................II‐1  2.........4............ XII  I.......................................................................................................................................1......................................................................................................2..................................................................... III‐1  3...............................  ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI...............3......II­1  2........  Neraca Daerah.......... III‐2  3...1.........................1..2........................II‐1  2.................................1.........................................................1...... I  DAFTAR TABEL............................II‐51  2....................  Seni Budaya dan Olahraga ....................................................................................  Potensi Pengembangan Wilayah.II‐13  2......2.......................................1...3......1....................................  SISTEMATIKA PENYUSUNAN ................................  Kondisi Demografi Kabupaten Bangka Selatan.........  LATAR BELAKANG................ I‐2  1................................................. II‐101  III................................ V  DAFTAR GAMBAR .......II‐52  2.......4.............................  Fokus Layanan Urusan Pilihan . I‐3  1........1............  Karakteristik Lokasi dan Wilayah Kabupaten Bangka Selatan .......2..... I‐4           1..................................  I‐7    II...  HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN..........2..........................................................II‐11  2.....................  ASPEK PELAYANAN UMUM ..................................................................................II‐52  2......................................3......  ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT................................................................................ I­1  1...........................................................................................................................II‐10  2.........................................................................5            MAKSUD DAN TUJUAN.......................................1.................  KINERJA KEUANGAN MASA LALU...................................................................................  Kinerja Pelaksanaan APBD..........................2....................2......................................... III­1  3........................................... exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ DAFTAR ISI DAFTAR ..................................................4....  PENDAHULUAN .........................

..............................................................................2..  ISU­ISU STRATEGIS  .. V‐1  5.......... III‐14  3....1.............  MISI  .........................................  PERMASALAHAN PEMBANGUNAN.........................................................  STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KETIGA  ”MENCIPTAKAN  IKLIM  USAHA YANG KONDUSIF”.  ISU‐ISU STRATEGIS.......................................  KERANGKA PENDANAAN............................  STRATEGI DAN ARAH KABIJAKAN ...............................2................  Kualitas Layanan Pendidikan..................................3..............................................................................  Analisis Pembiayaan...............................1...............................................................1............................VI‐14  6..........VII‐1  II ............................................................  MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA........2.......... III‐18    IV....................................................................1................................  KEBIJAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN MASA LALU ....1......................3...........................................................................  STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KELIMA  “MENINGKATKAN  INFRASTRUK‐TUR YANG HANDAL” .................................................VI‐16  VII.....................................................................................................................................3................................. MISI...................  Proporsi Penggunaan Anggaran ............  TUJUAN DAN SASARAN.........................................................1.............. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 3........................ VI‐5  6....................................................3.............................................. V­1  5................ III‐7  U 3...... VII­1  7................2.................................................  VISI......................... III‐14  3......................2....................................2............. V‐2  VI............... III‐15  3.......  STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KEEMPAT  “MENCIPTAKAN  APARATUR YANG BERSIH DAN BEWIBAWA” ........................  STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KEDUA  “PEMBERDAYAAN  EKONOMI  RAKYAT” .......................................................  Proyeksi Data Masa Lalu.. VI‐1  6................ III‐8  3............  KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH ........ V‐1  5...........................  STRATEGI DAN KEBIJAKAN MISI PERTAMA “PENINGKATAN KUALITAS  SUMBER DAYA MANUSIA” ............VI­1  6.................................. III‐10  3................................ TUJUAN DAN SASARAN ...IV­1  4.....................5.........  Analisis  Pengeluaran  Periodik  Wajib  dan  Mengikat  Serta  Prioritas  Utama ................2..........  VISI........................................VII‐1  7...........  Perhitungan Kerangka Pendanaan ......................................1............................ VI‐9  6...................4.....1...............................................VII‐1  7..........................................................................................3...................1.........................................................................................IV‐3  V..........................................................................................1....................................................IV‐1  4..2...........1.............3.........  Meningkatkan Etos Kerja dan Kualitas Pelayanan Pendidikan ..................................................................................3...........................................

............................2..................... dan menengah...............................1........................................ VII‐12  7....1........................5..... Ketertiban dan keamanan daerah........2............3.2.............4....1.3...  lembaga  legislatif  yang  efektif  dan  partai  politik.....................................1.............  Kepemudaan dan Keolahragaan ..........................3.............  Meningkatnya akses data dan informasi oleh masyarakat .....................3..........3..............1..........  Peningkatan  Peran  Kepemudaan  dan  Keolahragaan  dalam  Menunjang  Prestasi  dan  Meraih  Prestasi  di  Tingkat  Regional..4.................1................................... VII‐24  III .VII‐5  7..................3......... VII‐20  7......................................................................................................3.......2.....1.........  Berkembangnya perdagangan daerah..............VII‐9  7................................  ormas  serta  media  massa  sebagai lembaga kontrol sosial atas pelaksanaan pemerintahan...........................................  Kesejahteraan Sosial Masyarakat.................................3..................3......................exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 7...........2...Kepustakaan dan Kearsipan............ VII‐24  7.....3.  PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT................................................1...   Ketenagakerjaan dan transmigrasi .  Perlindungan Lingkungan Hidup...................................................................................................  Peningkatan Kesejahteraan Sosial .....1.......................................2............................ VII‐10  7................  Kepariwisataan  yang  berlandaskan  akar  budaya  lokal  dan  menciptakan  iklim yang kondusif bagi pengembangan dan inovasi kebudayaan ...  Kemitraan antara usaha kecil dan menengah dengan pengusaha besar...  MENUMBUHKAN IKLIM USAHA YANG KONDUSIF........................1...........3................  Mendorong  pemberdayaan  kemampuan  keuangan  daerah  melalui  peningkatan  penerimaan  dan  pengelolaan  keuangan  daerah  serta  meningkatkan perekonomian daerah......1...................1.. VII‐10  7..............................................1....1........ VII‐21  7...................1................. VII‐19  7.2..........VII‐5  7..............  Pengelolaan  dan  pemanfaatan  potensi  sumber  daya  alam  untuk  peningkatan kesejahteraan masyarakat............................ VII‐22  7.....  lembaga  penegakan  hukum  yang  adil..............  Sistem  politik  dan  keamanan  yang  dinamis.....  pemerintahan  yang  bertanggung  jawab........1........ VII‐18  7......................................................1.................................. kecil..2............. VII‐12  7..  Nasional  dan  Internasional ....  Peningkatan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup.....................................  Keluarga Berencana ......VII‐8  7...............  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.................3.........  Penanaman Modal ...............1................VII‐6  7.................. VII‐22  7...................2...................... VII‐21  7....VII‐8  7...3...............5.. VII‐19  7.............................. VII‐19  7.1.......... VII‐11  7...... VII‐11  7.............................................................2.......................1....................1.....2.3.....................1.............3..  Peningkatan  Nilai  Investasi  Para  Investor  dalam  Menumbuhkan  Iklim  Usaha dan Mendorong Ekonomi Kerakyatan ............1.........................4.............1.................. yang ditandai suasana kehidupan yang  kondusif dalam masyarakat..  Pelayanan Kesehatan Masyarakat........................... VII‐10  7........2..............1.....................1..........3..........................1........................................ koperasi dan UKM serta Industri    rumah tangga...................  Kepariwisataan dan Budaya ............4.......  Meningkatkan Derajat Kesehatan Jasmani dan Rohani ..........VII‐6  7................3......

  PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN ......... VII‐30  7.......................................................... profesional dan akuntabel ................3..............................  Meningkatkan  kualitas  pelayanan  publik  dan  kemampuan  masyarakat  dengan  penguasaan  hak‐hak  dasar  masyarakat  dengan  pengembangan  sistem informasi dan teknologi............................ INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS PEMBANGUNAN YANG DISERTAI  KEBUTUHAN  PENDANAAN  RENCANA  PEMBANGUNAN  JANGKA  MENENGAH  DAERAH 2011 ­ 2015  .............................  RPJMD merupakan dasar evaluasi dan laporan pelaksanaan kinerja lima  tahunan dan tahunan .....1............................1............................................................................   Pembinaan terhadap  masyarakat..........2.....1............................................................................................. VII‐25  7..............................4..  Meningkatkan  sistem  pengawasan  internal  melalui  pembinaan  kepegawaian yang profesional ..........................IX­1  X.........5....2.. X­1  10............2..............................................................4........  Meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  infrastruktur  yang  sesuai  dengan  pembangunan daerah.............................................VIII­1  IX.... transparan........... X‐1  10.......5................  Peningkatan Kualitas Pelayanan/Data dan Informasi Kepada Masyarakat  Secara Bersih dan Baik (Good Governance) ...................................2...................................5....1..............4............................  Terciptanya  sistem  kelembagaan  dan  ketatalaksanaan  pemerintahan  yang bersih.....  Melaksanakan perencanaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan  rencana  tata  ruang  sehingga  daya  dukung  dan  kelestarian  alam  dapat  terjaga................................3........................... VII‐29  7.........1....................... VII‐30  7....... X‐2  10........................1......2...........5...............................2. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 7.1....  Jaringan Transportasi.................................................................................. VII‐27  7....... X‐1  10....................................2................................4................................................. VII‐28  7......................... efektif.......................4..........................  PENETAPAN  INDIKATOR  KINERJA  DAERAH  RENCANA  PEMBANGUNAN  JANGKA  MENENGAH  DAERAH  (RPJMD)  KABUPATEN  BANGKA  SELATAN  TAHUN 2011 ­ 2015 ................. organisasi dan politik daerah ....................  PEDOMAN TRANSISI......................................................................4...................................2......................................................... VII‐29  7................................. VII‐30  7... X‐2  10.........2....1........................................................................................................................ VII‐29  7...................... VII‐36  VIII..1..............  Penguatan Peran Para Pelaku (Stakeholders) dalam pelaksanaan RPJMD .................2...............................1........4........................  RPJM Daerah akan digunakan dalam menyusun RKPD ........2...........1..... X‐3  IV ................  KAIDAH PELAKSANAAN .......  Meningkatnya  Pelayanan  Administrasi  Pemerintahan..2....   Kualitas dan kuantitas infrastruktur........................... VII‐31  7.............4.....  MENINGKATKAN INFRASTRUKTUR YANG HANDAL........................................  MENCIPTAKAN APARATUR  YANG BERSIH DAN BERWIBAWA................. VII‐27  7......... X‐2  10..........................  Pelayanan  Kependudukan dan Catatan Sipil ...........5.............  RPJM Daerah merupakan pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra  SKPD..

.................   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Simpang Rimba  Tahun 2005‐2009......................................................   Nilai (Rp) dan Kontribusi (%) Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga  Konstan (ADHK)..............................................II‐17  Tabel 2................II‐22  Tabel 2...............2................II‐12  Tabel 2..II‐20  Tabel 2.....................6..............................................................4.......................................   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Toboali Tahun 2005  – 2009............II‐8  Tabel 2....7.......................................5.................d 2009 ...II‐11  Tabel 2.................................................II‐24  Tabel 2................................................d 2009 .......................................................II‐15  Tabel 2............... Realisasi (Ha) dan Jenis Komoditi dari  Perusahaan Besar di Kabupaten Bangka Selatan.................................................10.............................................................1.............................   Nilai (Rp) dan Kontribusi (%) Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga  Berlaku (ADHB).............................   Pertumbuhan Kontribusi (%) Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga  Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten  Bangka Selatan selama 5 tahun terakhir .....   Jumlah Penduduk dan Kepadatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2009...   Luas Pencadangan (Ha)....................... .................   Hasil Perkebunan Rakyat Kabupaten Bangka Selatan .....16.............................................   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Air Gegas Tahun  2005 – 2009 ..................II‐19  Tabel 2........18......13............................................... Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005 – 2009 .......II‐23  Tabel 2................................. Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 s..............   Klasifikasi Sektor Ekonomi menurut Lapangan Usaha....................II‐27  V ................................. Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005 s..........................................................19. Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 s.......................................................................................................... exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ DAFTAR TABEL Tabel 2..................11............9..................................................................II‐17  Tabel 2......................................................................................................................II‐10  Tabel 2......................................................................................15....   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Tukak Sadai Tahun  2005‐2009 .......................17..14.........   Jumlah Penduduk Kabupaten Bangka Selatan Berdasarkan Kelompok  Umur ...   Hasil Perikanan Kabupaten Bangka Selatan...12.II‐6  Tabel 2.................. ..............20.......................8.   Nilai (Rp) PDRB ADHB dan ADHK.....................................................................................II‐17  Tabel 2.........................................................II‐9  Tabel 2...........II‐15  Tabel 2...............................   Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu  Berdasarkan Lapangan Usahanya di Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2009..................................II‐8  Tabel 2.........................................   Pertumbuhan Kontribusi (%) Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga  Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan.....3........................................   Potensi Penggunaan Lahan di Kabupaten Bangka Selatan ...............d 2009 ....................................II‐26  Tabel 2....................II‐12  Tabel 2......................................   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Lepar Pongok Tahun  2005‐2009 ............   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Payung Tahun 2005 ‐ 2009 ............................................   Hasil Pertanian Kabupaten Bangka Selatan .............................

....II‐46  Tabel 2................................35......... ......   Garis Kemiskinan............................................................  Angka Kriminalitas Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 .37..................................   Angka Melanjutkan (AM) Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ......................27............31..............25........................................................II‐34  Tabel 2................ exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ Tabel 2..................................................29.....................................................................................................   Kepemilikan Tanah di setiap kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009........II‐48  Tabel 2..............II‐52  Tabel 2.   Persentase Penduduk Memiliki Lahan Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009.............21.....26....................................30.............II‐39  Tabel 2.........................................................   Perkembangan Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ............39.......................................................................................................   Daya Tampung Murid di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐ 2009 .........II‐53  Tabel 2.........II‐48  Tabel 2.........................................................................................   Angka Harapan Hidup Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ...............................22...   Perkembangan AKHB dan AKB Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 .......II‐51  Tabel 2..........   PDRB per kapita dan Pendapatan Regional per kapita Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ...................24..................II‐49  Tabel 2....   Ketersedian Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah menurut Kecamatan  di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ...   APM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 .......................28...................................42............................................   Persentase Balita Gizi Buruk di Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ..............................II‐52  Tabel 2...................................32........... Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kabupaten  Bangka Selatan...............................   Perkembagan Seni.............33...............................II‐45  Tabel 2..II‐40  Tabel 2.........II‐42  Tabel 2...................43..   Rasio penduduk yang bekerja dengan Angkatan Kerja Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009..............................36.............................................II‐37  Tabel 2.....................................................44............................................II‐49  Tabel 2...................................................................................38..40...................................................34......................................41.............................................................................II‐47  Tabel 2.................................................... Budaya dan Olahraga Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005 – 2009.......................   Angka Putus Sekolah (APS) Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ......................II‐41  Tabel 2.   Angka Melek Huruf Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ....II‐55  VI ..................II‐36  Tabel 2.........II‐29  Tabel 2....... II‐35  Tabel 2..................................   Jumlah dan Distribusi Keluarga Miskin di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2010 .........II‐44  Tabel 2.....................................................................................   Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005‐2009.....II‐51  Tabel 2............  Rata‐rata Lama Sekolah (RLS) per‐Kecamatan di Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005‐2009...............................   Perkembangan Rasio Murid per Sekolah di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009.......................................................................   APK Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009......................................................   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Pulau Besar Tahun  2005‐2009 .............II‐53  Tabel 2..........................   Angka Kelulusan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ......23.................

................................................................  II‐67    Table 2.............................. II‐64    Tabel 2.  Kualitas Air Laut di Perairan Bangka Selatan ............68........................................48..........................................61      Rasio ketekhnisan medis per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan                            Tahun 2010 .................II‐68  Tabel 2...........59      Rasio ahli gizi per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 ……….II‐58  Tabel 2............46..............................................II‐68  Tabel 2..........................................II‐69  Tabel 2.................................54      Rasio bidan per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 ………...........................II‐60  Tabel 2...............  II‐67    Tabel 2................  Rekomendasi Amdal/UPL/UKL..........55      Rasio apoteker per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 …….... Poliklinik............................................. dan Pustu Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ...................................................................................II‐64    Tabel 2..........................................................II‐57  Tabel 2..................53      Rasio perawat gigi per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010....................   Jumlah Puskesmas.....58      Rasio sanitarian per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 ……II‐66    Tabel 2....50...............62...............   Persentase Guru yang Berkualifikasi Sesuai Kompetensi Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 ...........................   Rasio Murid per Guru di Kabupaten Bangka Selatan...........  Pengawasan dan Pemantauan Pelaksanaan UPL/UKL ...63.......................II‐71  Tabel 2..........................................................................................II‐62    Tabel 2......................................................................65..47...66.........................II‐70  Tabel 2........60      Rasio keterapian fisik per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan                            Tahun 2010 ...............51      Rasio dokter gigi per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 ….II‐71  VII ....  Luas Areal Hutan di Kabupaten Bangka Selatan......II‐66    Tabel 2..............................II‐70  Tabel 2................................   Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ........67.......45.......................  Luas Lahan Kritis di Kabupaten Bangka Selatan .II‐60  Tabel 2..........   Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009............  Kegiatan Penyuluhan Lingkungan....II‐62  Tabel 2...........................................................................56      Rasio asisten apoteker per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan                            Tahun 2010 ………………………………………………………………………………………………… II‐64    Tabel 2.........49...................................64....... exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ Tabel 2........................................52      Rasio perawat per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 ………II‐62    Tabel 2.......II‐65    Tabel 2.......II‐56  Tabel 2.   Rasio Murid per Sekolah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009.................   Jumlah Dokter Menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009 .…II‐64    Tabel 2..............57      Rasio ahli kesehatan per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan                            Tahun 2010 …………………………………………………………………………………………………...................

.....II‐72  Tabel 2................................................................ ....................................................................................................II‐84  Tabel 2........   Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ..................................................................................................70........II‐80  Tabel 2...........................................................................II‐74  Tabel 2...........................................................  Rasio daya serap tenaga kerja Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐ 2009 ..........................81.................71....................   Persentase koperasi aktif Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐  2009 ....................................................................69.................   Jumlah Investasi PMDN/PMA Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2004‐ 2009 .............................................82............II‐75  Tabel 2.....................................72............86.......................75...II‐72  Tabel 2...............73....80...   Rasio Tempat Ibadah Menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009.........................................................................79..................................II‐76  Tabel 2.....74.....................................  Jumlah uji kir angkutan umum selama 1 (satu) tahun menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ..............76.......78.............................................................................................................   Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ....................II‐81  Tabel 2..  Efesiensi dan Efektifitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 .....................................................   Rasio tempat pembuangan sampah terhadap jumlah penduduk  Menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ...............   Jumlah UKM non BPR/LKM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐  2009 ........................II‐77  Tabel 2.................................................................................................................................II‐84  Tabel 2......  Jumlah Investor PMDN/PMA Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2004‐ 2009...............................II‐80  Tabel 2...........................................................................................   Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ......................   Rasio Bangunan ber‐IMB per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ......II‐85  Tabel 2.................................................................II‐78  Tabel 2.......85.....................................................   Rasio Jarigan Irigasi Menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009 ..II‐77  Tabel 2.................................84........................................................II‐85  VIII .......................................... exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ Tabel 2...................II‐78  Tabel 2......   Proporsi Jumlah Penduduk Yang Mendapatkan Akses Air Minum  dan  Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009.....   Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Menurut Kecamatan di   Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ......................83...II‐83  Tabel 2.......88.................................................................................................87........ ..........................................................................   Persentase luas permukiman yang tertata Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 .......   Rasio ijin trayek Menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009 ........................II‐82  Tabel 2.....................   Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ................II‐81  Tabel 2...................   Rasio Tempat Pemakaman Umum per Satuan Penduduk Menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ..............II‐83  Tabel 2..........77........

..........................II‐90  Tabel 2....................95...99.......101   Rasio KDRT Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2004‐2009 ........................................................................94...............II‐99  Tabel 2.......................111............... exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ Tabel 2.................................93..................................................................100   Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009.....................................................112.....102   Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur Tahun 5 s...................II‐96  Tabel 2.........................................................................................................   Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009.......................... Persentase Konsumsi RT non‐Pangan Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ...................................................106   Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Kabupaten  Bangka Selatan  Tahun 2009.......................................................d 14 Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ............................................................................................II‐91  Tabel 2................................................................................II‐92  Tabel 2.98...................II‐89  Tabel 2.......................................................92................ II‐88  Tabel 2....... II‐100  Tabel 2........................ ......................................................................   Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009........................   Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2004‐2009 ..................................II‐99  Tabel 2.  Jumlah BPR/LKM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009.... ................................. Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008‐ 2010 ...... ...................   Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan  Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009 ........................................II‐93  Tabel 2.............................................105   Jaringan Komunikasi Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2004‐2009.II‐98  Tabel 2..................................................................................109   Angka Konsumsi RT per Kapita Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ........................................89.......................   Penduduk 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009...........II‐90  Tabel 2.......107   Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Kabupaten  Bangka Selatan Tahun  2005 – 2009.................................. II‐102  Tabel 2......................................   Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009..... II‐104  Tabel 2............................108   Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ......................................................110.......................................................................................90.............97......................................II‐95  Tabel 2............II‐98  Tabel 2.......II‐95  Tabel 2.................................II‐104  Tabel 2.............II‐89  Tabel 2..................................................   Penduduk Angkatan Kerja kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009.........................II‐97  Tabel 2.II‐86  Tabel 2.......................................103   Rata‐rata Jumlah Anak per Keluarga Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ................................................II‐97  Tabel 2......   Sebaran Penduduk Menurut Luas wilayah dan Kepadatan Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009......   Jumlah Penduduk Peserta KB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009..96.................................................   Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009............II‐92  Tabel 2.................................. Produktifitas per Sektor Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun  IX .....................................................91.104   Rasio Akseptor KB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ...........

....................................115...................................................................... II‐106  Tabel 2...............  Rasio Luas Wilayah Kekeringan Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ................II‐116  Tabel 2..... II‐115  Tabel 2............................................................................................................................ II‐109  Tabel 2.........119.......................  Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ..122................... II‐115  Tabel 2........................ II‐116  Tabel 2.   Rasio Panjang Jalan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2010 ...............................................................113...................................................................................129.................................................  Ketersediaan dan Kebutuhan Rumah di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2010 .....  Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2010 ...............................  Jumlah Demonstrasi Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008‐2010 .........................  Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2008‐2010 ....................................133........... II‐108  Tabel 2......................... II‐106  Tabel 2.......  Jenis............................................. Kelas dan Jumlah Restoran Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ..................................................................134...  Lama dan Proses Perijinan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 ........... II‐112  Tabel 2.................   Rasio Luas Wilayah Produktif Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009 ......... II‐108  Tabel 2......................................  Jenis....... Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2008‐2010........  Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009.......126..............125...................... II‐109  Tabel 2........................................................118....................................................................  Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ....................  Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009.........128.. II‐107  Tabel 2............................................  Jumlah dan Macam Insentif Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2008‐2010 .....................................  Rasio Luas Wilayah Perkotaan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐ 2009 .............121..................................... II‐108  Tabel 2........................130...............................124............................................................................................. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 2005‐2009 .......  Prakiraan Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009......................................................................................120..................   Rasio Luas Wilayah Industri Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐  2009 ...............117........................... II‐107  Tabel 2.....   Rasio Luas Wilayah Kebanjiran Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005‐2009 ....................................................................................................................................123......................................................131.. II‐106  Tabel 2.................  Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Air Bersih................................................................................................................ II‐113  Tabel 2........................................ II‐105  Tabel 2..........................  Angka Kriminalitas Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008‐2009 ............................................. II‐107  Tabel 2.................................... II‐111  Tabel 2............................................127............................................................................................................116....II‐117  X ........................................................................ II‐114  Tabel 2............ II‐112  Tabel 2....................... II‐110  Tabel 2.................................................................132.....114.  Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2006‐2010 ..............

........... III‐12  Tabel 3....1........  Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan  Mengikat Serta Prioritas Utama Kabupaten Bangka Selatan ..................16....................   Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Bangka Selatan ..................6.................................................... III‐21  Tabel 5...9.................................1....................   Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah  Kabupaten Bangka Selatan ..4......................12.....7..  Pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama Kabupaten  Bangka Selatan................   Proyeksi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Kabupaten Bangka  Selatan............................ III‐6  Tabel 3........................................  Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten  Bangka Selatan................3............................................................................................... III‐14  Tabel 3............................................................................. II‐121  Tabel 3...  Rata‐rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan DaerahTahun 2005 s/d  Tahun 2009  Kabupaten Bangka Selatan .................................. III‐11  Tabel 3..........5...138.....................  Jumlah Desa Swasembada di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 .........................  Desa Maju Berdasarkan kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2010 ....139.....................................  Rasio Lulusan S1/S2/S3 Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐ 2009.......................................................................................   Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Bangka  Selatan...140.................................136........   Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai  Pembangunan Daerah Kabupaten Bangka Selatan .................   Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bangka Selatan .............. II‐117  Tabel 2.......V‐2  Tabel 6.................15.....................................   Sisa Lebih (riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Kabupaten  Bangka Selatan.............8................................. ...........   Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kabupaten Bangka  Selatan.....................................14......... III‐19  Tabel 3............................................................................................... Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kabupaten Bangka Selatan  Periode 2011‐2015........... II‐119  Tabel 2....................... III‐4 Tabel 3............................................................. III‐7  Tabel 3........137.................2................ Arah dan Kebijakan Misi I Kabupaten Bangka Selatan ......   Strategi..10..............................................................................................................................................................................................................   Analisis Rasio Keuangan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008 s/d  2010  .........1...  Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bangka Selatan...................................................... III‐9  Tabel 3................................  Desa Sedang Berkembang Berdasarkan Kecamtan di Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2010. III‐10  Tabel 3.................................... exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ Tabel 2..................................................................... II‐120  Tabel 2.............................   Rata‐rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009 s/d 2010 .........................................................  Desa Terbelakang Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2010..................... III‐15  Tabel 3.135..................... II‐119  Tabel 2..................... III‐18  Tabel 3.............. III‐13  Tabel 3............................................................ II‐118  Tabel 2.................................. III‐11  Tabel 3...................................................................11...................   Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah ........ III‐10  Tabel 3..............13........... III‐17  Tabel 3.............................  Rasio Ketergantungan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 ..........................   Misi................ VI‐3  XI ........

.......................................................... Arah dan Kebijakan Misi V Kabupaten Bangka Selatan..................................5........ Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Lepar Pongok Tahun  2005 – 2009.......................... Grafik Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Payung Tahun  2005 – 2009 ....4..............................15......   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kabupaten Bangka Selatan per   Kecamatan Tahun 2005 – 2009...................3.................VI‐11  Tabel 6..2...............................................................II‐19  Gambar 2....VI‐17          DAFTAR GAMBAR Gambar 1............................................................. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ Tabel 6............................. I‐4  Gambar 2.........................II‐22  Gambar 2............................4...................2......................................... Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Simpang Rimba  Tahun 2005 – 2009.........................................................   Peta Penggunaan Lahan Untuk Komoditas Unggulan dan Lainnya di  Kabupaten Bangka Selatan................ Arah dan Kebijakan Misi II Kabupaten Bangka Selatan...................................   Strategi............12................11................II‐21  Gambar 2..........................................9...II‐16  Gambar 2.....................................................................................................II‐23  Gambar 2...5.......................................... Grafik Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Toboali Tahun  2005 – 2009................ ........II‐16  Gambar 2......II‐18  Gambar 2..........   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHK Kabupaten Bangka Selatan  2005‐2009...........  Persentase Kontribusi setiap Sektor terhadap PDRB Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009 ....................................... ............   Peta Lokasi Kabupaten Bangka Selatan .....................................................................................................  Pertumbuhan Kontribusi (%) setiap Sektor dalam PDRB ADHK  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009..II‐26  XII ..1................................   Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kabupaten Bangka Selatan  2005‐2009.................II‐18  Gambar 2................................................14...........10..........7..............................................................................................II‐5  Gambar 2.........................................................II‐1  Gambar 2........................  Pertumbuhan Kontribusi (%) setiap Sektor dalam PDRB ADHB  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009...........................   Strategi....................................................8.. Grafik Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Air Gegas  Tahun 2005 – 2009.....II‐4  Gambar 2.....................II‐25  Gambar 2...........................................II‐14  Gambar 2..........13...............................................................................................................   Strategi................................  Hubungan RPJM Daerah Kabupaten Bangka Selatan dengan Dokumen  Perencanaan Lainnya.......6....1...................................   Strategi......... Arah dan Kebijakan Misi IV Kabupaten Bangka Selatan ......   Peta Geologi Kabupaten Bangka Selatan .......................................................II‐20  Gambar 2... VI‐7  Tabel 6..............3.......  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHK Kabupaten Bangka Selatan per  Kecamatan Tahun 2005 – 2009................ Arah dan Kebijakan Misi III Kabupaten Bangka Selatan.......................................................................VI‐15  Tabel 6.....

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

Gambar 2.16. Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Tukak Sadai Tahun 
2005 – 2009.......................................... ..................................................................................... ....II‐27 
Gambar 2.17. Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Pulau Besar Tahun 
2005 – 2009 ...................................................................................................................................II‐29 
Gambar 2.18. LPE Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 ......................................................II‐30 
Gambar 2.19. Pertumbuhan Setiap Sektor Perekonomian Kabupaten Bangka Selatan 
Tahun 2009....................................................................................................................................II‐31 
Gambar 2.20. Struktur Ekonomi Kabupaten Bangka Selatan 2005 – 2009........................................II‐31 
Gambar 2.21. Laju Inflasi Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009........................................II‐32 
Gambar 2.22. Laju Inflasi Sektoral Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 .....................II‐33 
Gambar 2.23. PDRB per Kapita dan Laju Pertumbuhan PDRB per Kapita Kabupaten 
Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 ....................................................................................II‐34 
Gambar 2.24. Grafik Angka Melek Huruf Kabupaten Bangka Selatan ..................................................II‐36 
Gambar 2.25. APM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009.....................................................II‐38 
Gambar 2.26. APK Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009......................................................II‐39 
Gambar 2.27. Angka Kelulusan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009............................II‐42 
Gambar 2.28. Grafik Pertumbuhan Angka Melanjutkan (AM) Kabupaten Bangka 
Selatan..............................................................................................................................................II‐43 
Gambar 2.29. Angka Putus Sekolah (APS) Kabupaten Bangka Selatan................................................II‐44 
Gambar 2.30. Daya Tampung SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B Tahun 2005‐
2009 ..................................................................................................................................................II‐54 
Gambar 2.31. Rasio Murid per Kelas Tingkat SD/MI dan SMP/MTs Tahun 2005 – 
2009 ..................................................................................................................................................II‐56 
Gambar 2.32. Persentase Guru yang Berkualifikasi Sesuai Kompetensi Kabupaten 
Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 ....................................................................................II‐58 
Gambar 3.1.   Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah ............................................................................. III‐13 
Gambar 3.2.   Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah .............................................................................. III‐16 
Gambar 3.3.   Analisis Proyeksi Belanja Daerah ....................................................................................... III‐16 
Gambar 7.1.   PDRB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009................................................ VII‐13 
 

XIII

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

BAB I
PENDAHULUAN
 
 
1.1. LATAR BELAKANG 
Rencana  pembangunan  daerah  yang  merupakan  kewenangan  daerah  sesuai  dengan 
Undang‐Undang  Nomor  25  Tahun  2004  tentang  Sistem  Perencanaan  Pembangunan 
Nasional  mengamanatkan  bahwa  setiap  daerah  harus  menyusun  rencana 
pembangunan  daerah  secara  sistematis,  terarah,  terpadu,  menyeluruh  dan  tanggap 
terhadap  perubahan,  dengan  jenjang  perencanaan  pembangunan  jangka  panjang  (20 
Tahun),  perencanaan  pembangunan  jangka  menengah  (5  Tahun)  dan  rencana 
pembangunan  tahunan.  Oleh  karena  itu  setiap  daerah  (Provinsi/Kabupaten/Kota) 
haruslah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana 
Pembangunan  Jangka  Menengah  Daerah  (RPJMD)  dan  Rencana  Kerja  Pemerintah 
Daerah (RKPD) sebagai pedoman pembangunan daerah sesuai dengan amanat undang‐
undang tersebut di atas. 
RPJMD Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010‐2015 merupakan penjabaran dari visi, 
misi dan program kerja Bupati Bangka Selatan yang terpilih melalui Pemilukada yang 
dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2010.    
Pasangan  Bupati  dan  Wakil  Bupati  yang  terpilih  dalam  Pemilukada  Bangka  Selatan 
adalah H. Jamro H. Jalil sebagai Bupati dan Nursamsu H. Alias sebagai Wakil Bupati.  
Landasan hukum bagi penetapan hasil Pemilukada Bangka Selatan adalah: 
(1) Keputusan  Komisi  Pemilihan  Umum  Kabupaten  Bangka  Selatan  Nomor 
33/Kpts/KPU‐BS‐009.436503/2010  tanggal  12  Juli  2010  tentang  Penetapan 
Pasangan Calon Terpilih Dalam Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bangka 
Selatan  Tahun  2010,  telah  menetapkan  Sdr.  H.  Jamro  H.  Jalil  sebagai  Bupati 
Bangka Selatan terpilih; 
(2) Surat  Pimpinan  DPRD  Kabupaten  Bangka  Selatan  Nomor  170/205/DPRD‐
BASEL/2010  tanggal  20  Juli  2010  Perihal  Usulan  Pengesahan  Pengangkatan 
pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bangka Selatan periode 2010‐2015; 
(3) Surat  Gubernur  Kepulauan  Bangka  Belitung  Nomor  278/309/I/2010  tanggal  18 
Agustus  2010  perihal  Usul  Pengesahan  Pemberhentian  dan  Pengangkatan  Bupati 
dan Wakil Bupati Bangka Selatan; 
(4) Keputusan  Mendagri  Nomor  131.29  ‐  582  Tahun  2005  tanggal  22  Juli  2005  Sdr. 
Drs.  H.  Justiar  Noer,  ST,  MM  disahkan  pengangkatannya  sebagai  Bupati  Bangka 
Selatan  Masa  Jabatan  Tahun  2005‐2010  dan  berakhir  masa  jabatannya  pada 
tanggal 8 Agustus 2010; 
(5) Keputusan  Menteri  Dalam  Negeri  Nomor  131.19  ‐  590  Tahun  2010  tentang 
Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan Bupati Bangka Selatan 
Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung,  yang  ditetapkan  di  Jakarta  pada  tanggal  25 
Agustus 2010. 
Pelantikan  Bupati  dan  Wakil  Bupati  terpilih  telah  dilaksanakan  pada  tanggal  30 
Agustus 2010. 

  I-1

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

RPJMD  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2010‐2015  ini  akan  dilaksanakan  dan  ingin 
diwujudkan dalam satu periode masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati Bangka Selatan 
terpilih.    Didalam  penyusunan  RPJMD  ini  harus  memperhatikan  RPJM  Nasional,  RPJM 
Provinsi,  kondisi  terkini  daerah,  sumber  daya  dan  potensi  yang  dimiliki,  faktor‐faktor 
kunci  keberhasilan,  evaluasi  pembangunan  pada  periode  yang  lalu  serta  isu‐isu 
strategis  yang  berkembang  di  tengah  masyarakat,  baik  secara  lokal,  regional  maupun 
nasional.   
Menyadari  pentingnya  peran  dan  fungsi  RPJMD  bagi  Pemerintah  Kabupaten  Bangka 
Selatan,  pengusaha  (private  sector)  dan  masyarakat  Bangka  Selatan  secara 
keseluruhan, maka dalam proses penyusunannya telah dilaksanakan berbagai tahapan 
yang  memadukan  pendekatan  teknokratis,  demokratis,  partisipatif  dan  politis,  yakni 
melibatkan para pakar/narasumber yang berkompeten di bidangnya, serta penjaringan 
aspirasi  dari  berbagai  elemen  masyarakat  secara  sistematis,  akurat  dan  terpadu 
dengan  melibatkan  seoptimal  mungkin  peran  serta  para  pemangku  kepentingan 
(stakeholders) pembangunan Kabupaten Bangka Selatan. 
Muatan  materi  RPJMD  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2010‐2015  berisi  arah 
kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program 
satuan  kerja  perangkat  daerah,  program  lintas  satuan  kerja  perangkat  daerah,  dan 
program kewilayahan yang disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan 
kerangka  pendanaan  yang  bersifat  indikatif.  Pengertian  indikatif  berarti  bahwa 
informasi, baik tentang sumber daya (masukan) yang diperlukan maupun keluaran dan 
dampak  yang  tercantum  didalam  dokumen  rencana  pembangunan  jangka  menengah 
ini, hanya merupakan indikasi yang hendak dicapai dan tidak bersifat kaku, melainkan 
fleksibel  disesuaikan  dengan  situasi  dan  kondisi  yang  terjadi  pada  saat  pelaksanaan 
RPJMD. 
Dokumen  RPJMD  ini  merupakan  tahap  akhir  dari  keseluruhan  rangkaian  proses 
penyusunan RPJMD, yakni Dokumen Rancangan Akhir yang memuat dokumen RPJMD 
yang akan difinalisasi pada tahap berikutnya, yaitu menjadi Dokumen Rancangan Akhir 
RPJMD  yang  akan  diajukan  kepada  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Daerah  (DPRD) 
Kabupaten Bangka Selatan untuk dibuatkan sebuah Peraturan Daerah (Perda) tentang 
RPJMD Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010 – 2015.  RPJMD yang telah diperdakan 
ini  akan  menjadi  pedoman  bagi  pembangunan  jangka  menengah  Kabupaten  Bangka 
Selatan. 
 
1.2. DASAR HUKUM PENYUSUNAN 
Rencana Pembangunan  Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bangka  Selatan 
Tahun  2010‐2015  dalam  penyusunannya  secara  yuridis  mempunyai  landasan  hukum 
sebagai berikut : 
1. Undang  Undang  Nomor  27  Tahun  2000  tentang  Pembentukan  Provinsi 
Kepulauan Bangka Belitung ; 
2. Undang  Undang  Nomor  5  Tahun  2003  tentang  Pembentukan  Kabupaten 
Bangka  Selatan,  Kabupaten  Bangka  Tengah,  Kabupaten  Bangka  Barat,  dan 
Kabupaten Belitung Timur di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; 
3. Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 
4. Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 

I-2  

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

5. Undang  Undang  Nomor  15  Tahun  2004  tentang  Pemeriksaan  Pengelolaan 
Keuangan Negara; 
6. Undang  Undang  Nomor  25  Tahun  2004  tentang  Sistem  Perencanaan  Pem‐
bangunan Nasional; 
7. Undang  Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan  Daerah  se‐
bagaimana  telah  beberapa  kali  diubah  terakhir  Undang  Undang  Nomor  12 
Tahun 2008 ; 
8. Undang Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan  antara 
Pemerintah Pusat dan Daerah ; 
9. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman SPM; 
10. Peraturan  Pemerintah  Nomor  38  Tahun  2007  Tentang  Pembagian  Urusan  Pe‐
merintahan  Antara  Pemerintah,  Pemerintahan  Daerah  Provinsi,  dan 
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; 
11. Peraturan  Pemerintah  Nomor  6  Tahun  2008,  Tentang  Pedoman  Evaluasi 
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah; 
12. Peraturan  Pemerintah  Nomor  8  Tahun  2008  Tentang  Tahapan,  Tata  Cara 
Penyusunan,  Pengendalian  dan  Evaluasi  Pelaksanaan  Rencana  Pembangunan 
Daerah; 
13. Peraturan  Presiden  Nomor  5  Tahun  2010  tentang  Rencana  Pembangunan 
Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014; 
14. Peraturan  Menteri  Dalam  Negeri  Nomor  13  Tahun  2006  tentang  Pedoman 
Pengelolaan KeuanganDaerah; 
15. Peraturan  Menteri  Dalam  Negeri  Nomor  54  Tahun  2010  tentang  Pelaksanaan 
Peraturan  Pemerintah  Nomor  8  Tahun  2008  tentang  Tahapan,  Tata  Cara 
Penyusunan,  Pengendalian,  dan  Evaluasi  Pelaksanaan  Rencana  Pembangunan 
Daerah; 
16. Peraturan  Daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  Nomor  9  Tahun  2008  tentang  
Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Bangka Selatan; 
17. Peraturan  Daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  Nomor  14    Tahun  2008  tentang 
Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah sebagian telah diubah kedua 
kalinya dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2010. 
 
1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN 
Dalam  kaitan  dengan  sistem  perencanaan  pembangunan  sebagaimana  yang  telah 
diamanatkan  dalam  Undang‐Undang  Nomor  25  Tahun  2004  tentang  Sistem 
Perencanaan  Pembangunan  Nasional,  maka  keberadaan  RPJM  Daerah  Kabupaten 
Bangka Selatan Tahun 2010– 2015 merupakan satu bagian yang utuh dari manajemen 
kerja  di  lingkungan  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan,  khususnya  dalam 
menjalankan  agenda  pembangunan  yang  telah  tertuang  baik  dalam  RPJP  Daerah 
Kabupaten Bangka Selatan maupun RTRW Kabupaten Bangka Selatan. 
Oleh  karena  itu  RPJM  Daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  2010  –  2015  merupakan 
bagian integral dari sistem perencanaan pembangunan nasional, yang bertujuan untuk 
mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan (pemerintah, swasta, dan masyara‐

  I-3

    Gambar 1. 25/2004 ttg Sistem Perencanaan Pembangunan UU No. pelaksanaan. sehingga RPJM Daerah harus sinkron dan saling sinergi antar daerah.1. serta menjamin keterkaitan dan konsistensi  antara perencanaan. pengawasan.  selanjutnya  akan  dijadikan  acuan  bagi  SKPD  untuk  menyusun  Rencana  Kerja  (Renja)  SKPD. Rincian K/L K/L K/L APBN   Pemerintah Pedoman Diacu   Pusat   RPJP Pedoman RPJM Dijabarkan RKP Pedoman RAPBN APBN   Nasional Nasiona   Diacu Diperhatika Diserasikan melalui   M b   RPJP Pedoman   RPJM Dijabarka Pedoman RKPD RAPBD APBD Daerah Daerah   Pemerintah Pedoman Daerah   Diacu   Pedoma Pedoman   Renstra Renja .  Selanjutnya. dan evaluasi.1.  dalam  kaitan  dengan  sistem  keuangan  daerah  sebagaimana  diamanatkan  dalam  UU  Nomor  17  Tahun  2003  serta  Permendagri  Nomor  59  Tahun  2007  tentang  Pedoman  Pengelolan  Keuangan  Daerah. RKA .  keberadaan    RKPD  Kabupaten  Bangka  Selatan    tersebut. RKA . Rincian SKPD SKPD SKPD APBD     UU No.  antar ruang dan antar fungsi pemerintah.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   kat). Gambaran tentang hubungan antara RPJM  Daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2010‐2015  dengan  dokumen  perencanaan  lainnya baik dalam kaitan dengan sistem perencanaan pembangunan maupun dengan  sistem keuangan adalah sebagaimana ditunjukkan pada gambar  1. akan  dijadikan  pedoman  bagi  penyusunan  Rancangan  Anggaran  Pendapatan  dan  Belanja  Daerah (RAPBD) Kabupaten Bangka Selatan. 17/2003 ttg   Keuangan Negara       I-4   . penganggaran.  RPJM Daerah Kabupaten Bangka Selatan 2010 – 2015 ini akan dijadikan pedoman bagi  SKPD  untuk  menyusun  Renstra  SKPD  dan  untuk  setiap  tahun  selama  periode  perencanaan akan dijabarkan dalam bentuk Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)  Kabupaten  Bangka  Selatan.  Hubungan  RPJM  Daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  dengan  Dokumen  Perencanaan Lainnya    Pedoman Pedoman   Renstra Renja . antar waktu.  maka  penjabaran  RPJM  Daerah  Kabupaten  Bangka Selatan kedalam RKPD Kabupaten Bangka Selatan untuk setiap tahunnya.

  GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH  Pada  bagian  pertama  bab  ini  memuat  tentang  aspek  geografis  dan  demografis.  Sistematika  Penyusunan  RPJMD.  Dijelaskan  pula  tentang  fokus  kesejahteraan  dan  pemerataan  ekonomi.  Landasan  Hukum  yang digunakan dalam penyusunan RPJMD.  dan  RTRW  kabupaten/kota.  seperti    RPJM  Nasional. BAB I.  Bagian  kedua  bab  ini  memuat  kebijakan  pengelolaan  keuangan  masa  lalu  yang  menjelaskan  tentang  gambaran  kebijakan  pengelolaan  keuangan  masa  lalu    I-5 . fokus seni budaya dan olah raga.    Dijelaskan  tentang  pula  tentang  fokus  kemampuan  ekonomi  daerah.  khususnya  indikator  yang  paling  tepat  menjelaskan  kondisi  dan  perkembangan  kesejahteraan  masyarakat  daerah  Bangka  Selatan. dan wilayah rawan bencana.    C. struktur.  Bagian kedua bab ini memuat aspek kesejahteraan masyarakat yang menjelaskan  tentang  kondisi  umum  kesejahteraan  masyarakat  sebagai  bagian  dari  indikator  kinerja  pembangunan  daerah.   Aspek  geografis  menjelaskan  tentang  kondisi  umum  kondisi  geografi  daerah.  khususnya  indikator  yang  paling  tepat  menjelaskan  kondisi  dan  perkembangan  aspek  pelayanan  umum  Pemerintah  Daerah  Kabupaten Bangka Selatan. baik yang berskala nasional. BAB II.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   1.  serta  Maksud  dan  Tujuan  penyusunan RPJMD.  Dijelaskan pula tentang fokus urusan layanan wajib  dan fokus urusan layanan pilihan pemerintah. dan migrasi.  khususnya  indikator  yang  paling  tepat  menjelaskan  kondisi  dan  perkembangan  aspek  daya  saing  daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan.4. fokus iklim berinvestasi.  PENDAHULUAN  Bab  ini  memuat  tentang  Latar  Belakang  penyusunan  RPJMD.  Hubungan  Antar  Dokumen  Perencanaan  Lainnya  yang  relevan  beserta  penjelasannya.  Bagian  keempat  atau  bagian  terakhir  bab  ini  memuat  aspek  daya  saing  daerah  yang  menjelaskan  tentang  kondisi  aspek  daya  saing  daerah  sebagai  bagian  dari  indikator  kinerja  pembangunan  daerah. BAB  III.  Bagian ketiga bab ini memuat aspek pelayanan umum yang menjelaskan tentang  kondisi  aspek  pelayanan  umum  sebagai  bagian  dari  indikator  kinerja  pembangunan  daerah. dan fokus  sumber daya manusia. kematian. maupun  lokal  berupa  Peraturan  Daerah  atau  Peraturan  Bupati    yang  mengatur  tentang  perencanaan dan penganggaran ataupun tentang tata cara penyusunan dokumen  perencanaan  dan  pelaksanaan  musrenbang. sedangkan kondisi  demografi daerah menjelaskan tentang jumlah.  RTRW  nasional. dan distribusi penduduk  serta perubahan jumlah penduduk akibat kelahiran. fokus kesejahteraan sosial.    B.  potensi pengembangan wilayah.  RTRW  provinsi.  RPJMD  provinsi.  GAMBARAN  PENGELOLAAN  KEUANGAN  DAERAH  SERTA  KERANGKA  PENDANAAN  Pada  bagian  pertama  bab  ini  memuat  kinerja  keuangan  masa  lalu  yang  menjelaskan tentang kinerja pelaksanaan APBD dan neraca daerah. SISTEMATIKA PENYUSUNAN  Rencana Pembangunan  Jangka Menengah Daerah (RJPMD) Kabupaten Bangka  Selatan  Tahun 2010 – 2015 terdiri dari 10 (sepuluh) Bab dan dapat diuraikan sebagai berikut :  A. fokus fasilitas wilayah/ infrastuktur.

BAB VII.    F.  proyeksi  data  masa  lalu.  STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN  Pada  bab  ini  diuraikan  secara  rinci  strategi  pembangunan  yang  dipilih  dalam  mencapai tujuan dan sasaran serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih.  Perlu  disajikan  penjelasan  tentang  hubungan  antara  program  pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih.  KEBIJAKAN UMUM  DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH  Pada  bab  ini  diuraikan  hubungan  antara  kebijakan  umum  yang  berisi  arah  kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian  indikator  kinerja.    INDIKASI  RENCANA  PROGRAM  PRIORITAS  YANG  DISERTAI  KEBUTUHAN     PENDANAAN  Pada  bab  ini  diuraikan  hubungan  urusan  pemerintah  dengan  SKPD  terkait  beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD. serta penjelasan masing‐ masing misi tersebut.  I-6   .  Permasalahan pembangunan yang disajikan adalah permasalahan pada  penyelenggaraan  urusan  pemerintahan  daerah  yang  relevan  dan  berdasarkan  analisis  yang  merujuk  pada  identifikasi  permasalahan  pembangunan  daerah  dalam perumusan rancangan awal RPJMD. Hal terpenting dalam penyajian isu strategis  adalah  isu  tersebut  dapat  memberikan  manfaat/pengaruh  di  masa  datang  terhadap daerah Kabupaten Bangka Selatan. BAB VI.  Sedangkan pada bagian tujuan dan sasaran diuraikan tentang pernyataan tujuan  dan sasaran yang ingin dicapai serta cara merumuskannya. ringkas dan mudah dipahami.  ANALISIS ISU‐ISU STRATEGIS  Penyajian isu‐isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu  strategis.  H. dan penghitungan kerangka pendanaan.  Disajikan pula pencapaian  target  indikator  kinerja  pada  akhir  periode  perencanaan  yang  dibandingkan  dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.    E.  G. BAB IV. TUJUAN DAN SASARAN  Pada bagian visi berisi tentang uraian visi Bupati Bangka Selatan terpilih sesuai  dengan  visi  yang  telah  disampaikan  pada  saat  kampanye  Pemilihan  Umum  Kepala Daerah (Pemilukada). MISI.  Bagian  ketiga  bab  ini  memuat  kerangka  pendanaan  yang  menjelaskan  tentang  gambaran kerangka pendanaan dari hasil analisis yang mencakup analisis penge‐ luaran  periodik  wajib  dan  mengikat  serta  prioritas  utama. Uraian tentang visi ini juga memuat tentang jangka  waktu  dan  artikulasi  beserta  penjelasan  kata‐kata  kunci  dari  pernyataan  visi  tersebut.    D.  PENYAJIAN VISI.  kebijakan nasional maupun regional. sedangkan isu strategis dapat berasal  dari permasalahan pembangunan maupun yang berasal dari dunia international.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   terkait  proporsi  penggunaan  anggaran  dan  hasil  analisis  pembiayaan  yang  mencakup proporsi penggunaan anggaran dan analisis pembiayaan.  Pada bagian misi diuraikan tentang maksud perumusan misi. Bab  VIII. penjabaran dari visi  dengan bahasa yang jelas. BAB V.

kesempatan kerja. J. BAB X. misi dan program kerja pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Strategi Pembangunan Daerah.5. Arah kebijakan keuangan daerah yang dimaksud adalah pedoman dan gambaran dari pelaksanaan hak dan kewajiban daerah dalam rangka penye-lenggaraan bidang urusan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan mengisi kekosongan RKPD setelah RPJMD berakhir. b. Visi. d. Misi. berdaya saing. Strategi pembangunan daerah yang dimaksud adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi dalam rangka pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. c. BAB IX. Visi. akses terhadap pengambilan kebijakan. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari penyusunan dokumen RPJMD adalah kegiatan penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Kabupaten Bangka Selatan untuk periode 2010-2015 yang merupakan penjabaran dari visi. 1. PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. RPJMD yang disusun akan memuat: a. untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata baik dalam aspek pendapatan. Kebijakan umum dimaksudkan untuk memberikan arah perumusan rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran jangka   I-7 .exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   I. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Arah Kebijakan Keuangan Daerah. dan Program Kepala Daerah. misi dan program kepala daerah yang dimaksud adalah keadaan masa depan yang diharapkan dan berbagai upaya yang akan dilakukan melalui program- program pembangunan yang ditawarkan oleh Kepala Daerah terpilih. Pedoman transisi bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembangunan yang belum seluruhnya tertangani sampai dengan akhir periode RPJMD dan masalah- masalah pembangunan yang akan dihadapi dalam tahun pertama masa pemerintahan baru. lapangan berusaha. Kebijakan Umum. maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Dalam pedoman transisi perlu dinyatakan bahwa RPJMD menjadi pedoman penyusunan RKPD dan RAPBD tahun pertama dibawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati terpilih hasil pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) pada periode berikutnya.

  tahun  pelaksanaan.  mengendalikan  dan  mengevaluasi  pembangunan  Kabupaten  Bangka  Selatan. dan sumber daya yang diperlukan.  melaksanakan.    Program Lintas SKPD.  f.  i.  Program  lintas  SKPD  yang  dimaksud  adalah  program  yang  melibatkan  lebih  dari  satu  SKPD  untuk  mencapai  sasaran  pembangunan  yang  ditetapkan  termasuk  indikator  kinerja.    Rencana Kerja Dalam Kerangka Pendanaan yang Bersifat Indikatif.  Rencana  kerja  dalam  kerangka  pendanaan  yang  bersifat  indikatif  yang  dimaksud  adalah  tahapan  dan  jadual  pelaksanaan  proram.  lokasi  program. Program Kewilayahan.  lokasi  program.      I-8   . Rencana Kerja Dalam Kerangka Regulasi yang Bersifat Indikatif.  tahun  pelaksanaan.  dengan  dilengkapi  jumlah  pagu  indikatif berdasarkan prakiraan maju dan sumber pendanaannya.  dan  sumber  daya  yang  diperlukan. untuk mencapai  target dan sasaran yang ditetapkan.  Rencana  kerja  dalam  kerangka  regulasi  yang  dimaksud  adalah  dasar  hukum  atau  kebijakan  yang  dijadikan  landasan  perumusan  dan  pelaksanaan  program  pembangunan daerah.   Program SKPD.  g.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun program dan  kegiatan Renstra SKPD.  dan  keberlanjutan  pembangunan  antarwilayah/antarkawasan  dalam  kecamatan  di  wilayah  kabupaten/kota  atau  antar  kabupaten/kota  di  wilayah  provinsi  atau  dengan provinsi lainnya berdasarkan rencana tata ruang wilayah.  Program  SKPD  yang  dimaksud  adalah  program  yang  dirumuskan  berdasarkan  tugas  dan  fungsi  SKPD  yang  memuat  indikator  kinerja.  keseimbangan  laju  pertumbuhan.  keserasian.  Program kewilayahan yang dimaksud adalah program pembangunan daerah untuk  terciptanya  keterpaduan.  e.    Sedangkan  tujuan  penyusunan  dokumen  RPJMD  adalah  tersusunnya  sebuah  rencana  pembangunan  Bangka  Selatan  untuk  periode  2010  –  2015  yang  merupakan  panduan  bagi  seluruh  pemangku  kepentingan  (stakeholders)  dalam  merencanakan.  h.

.

  komposisi  dan  populasi  secara  keseluruhan  atau  kelompok  dalam  waktu  tertentu.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah Kabupaten Bangka Selatan    1) Luas dan Batas Wilayah Administrasi  Kabupaten  Bangka  Selatan  merupakan  bagian  dari  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung  yang  merupakan  bagian  integral  dari  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  yang  pembentukannya  berdasarkan  Undang‐Undang  Nomor  5  Tahun  2003  tentang  Pembentukan  Kabupaten  Bangka  Selatan.1. dan Kabupaten Belitung Timur di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.  dan  kerentanan  wilayah  terhadap  bencana.1. Peta Lokasi Kabupaten Bangka Selatan          II-1 .    Gambar 2.  Kabupaten  Bangka  Tengah.  antara  lain  mencakup  perubahan  jumlah  penduduk.  potensi  pengembangan  wilayah.  Kabupaten  Bangka Barat.1 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI  Analisis  pada  aspek  geografi  Kabupaten  Bangka  Selatan  perlu  dilakukan  untuk  memperoleh  gambaran  mengenai  karakteristik  lokasi  dan  wilayah.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH     2.    Sedangkan  gambaran  tentang  kondisi  demografi.    2.

  Toboali.08  Km2  atau  360.  batu  gunung  dan  lain‐lain.  Air  Gegas.    Letak  Kabupaten  Bangka  Selatan  yang  berada  di  bagian  Selatan  Pulau  Bangka  dan  berbatasan  langsung  dengan  perairan  laut  (sebelah  selatan.    Keadaan  tanah  di  daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  mempunyai  pH  rata‐rata  di  bawah 5.    Kabupaten  Bangka  Selatan  terdiri  dari  7  Kecamatan.  • Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Bangka.  Hanya  sebagian kecil saja wilayah Bangka Selatan yang berbukit.  memiliki  posisi  yang  sangat  strategis  dalam pengembangan ekonomi kawasan barat Indonesia pada masa mendatang.  tanah  berjenis  Asosiasi  Podsolik  berasal  dari Komplek Batu Pasir dan Kwarsit.   Bentuk dan keadaan wilayah Bangka Selatan adalah sebagai berikut:    • 4%  berbukit  seperti  daerah  Bukit  Paku.    2) Letak dan Kondisi Geografis  Secara geografis Kabupaten Bangka Selatan terletak pada 2° 26' 27" sampai 3° 5' 56"  Lintang Selatan dan 107° 14' 31" sampai 105° 53' 09" Bujur Timur.  perkebunan  dan  hutan  lindung  serta  kawasan pertambangan (KP) timah.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Kabupaten  Bangka  Selatan  yang  merupakan  Kabupaten  baru  hasil  pemekaran  dari  Kabupaten Bangka yang terletak di bagian Selatan Pulau Bangka dengan luas wilayah  ±  3.  Kaolin.  Jenis  tanah  perbukitan  tersebut  adalah  Komplek  Podsolik  Coklat  kekuning‐kuningan  dan  Litosol berasal dari Batu Plutonik Masam  • 51% berombak dan bergelombang.    Secara  umum  wilayah  administrasi  Kabupaten  Bangka  Selatan  memiliki batas‐batas wilayah sebagai berikut :    • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan sungai Selan dan Kecamatan Koba  Kabupaten Bangka Tengah.    3) Topografi  Wilayah Kabupaten Bangka Selatan berada pada ketinggian rata‐rata 28 meter di atas  permukaan laut (DPL) dengan kontur wilayah yang datar dan bergelombang.607.  Payung.  Kecamatan  Pulau  Besar  dan  Tukak  Sadai.  Tanah di Kabupaten Bangka Selatan banyak mengandung mineral biji timah  dan  bahan  galian  lainnya  seperti  pasir  kwarsa.  3  kelurahan  dan  50  desa  serta  didukung  163  dusun/  lingkungan. tanah berjenis Asosiasi Podsolik Coklat keku‐ ning‐kuningan  dengan  bahan  induk  Komplek  Batu  pasir  Kwarsit  dan  Batuan  Plutonik Masam  • 20%  lembah/datar  sampai  berombak.    Ketujuh  kecamatan  yaitu  Kecamatan  Simpang  Rimba.  • Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Gaspar.  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan Selat Bangka.708  Ha.  Permis  dan  lain‐lain.    Kawasan  permukiman  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  terdiri  dari  daerah  pesisir  (Kecamatan  Tukal  Sadai)  dan  daerah  kepulauan  (Kecamatan  Lepar  pongok)  serta  kawasan  yang  merupakan  daerah  pertanian.  Secara  administratif  wilayah  Kabupaten  Bangka  Selatan  berbatasan  langsung  dengan  daratan  wilayah  kabupaten/kota  lainnya  di  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung.   II-2 .  yaitu  dengan  wilayah  Kabupaten  Bangka  Tengah.  Lepar  Pongok.  timur  dan  barat)  serta  tidak  jauh  dari  jalur  pelayaran  internasional.

 merupakan formasi batuan terobosan berumur Trias akhir – Jura Awal yang  me‐nerobos formasi Tanjung Genting dan komplek Malihan Pemali.  kerikil  dan  kerakal  yang  terdapat  sebagai  endapan  sungai.  Tanah  yang  berkembang  dari  batuan  granit  umumnya  mempunyai  kandungan  pasir  kuarsa  dengan  ukuran  kasar  yang  cukup  tinggi. wilayah Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari beberapa  formasi yaitu formasi Tanjung Genting (TRt). dengan struktur sedimen silang  siur.  sebagian  besar  tanah‐tanah  di  daerah  Bangka  Selatan  terutama  tanah  yang  menempati  dataran  tektonik  struktural  berkembang  dari bahan induk batuan sedimen halus yang berupa batu liat (f) dan batuan sedimen  kasar  yang  berupa  batu  pasir  (q).  granodiorit  dan  granit  genesan.      Berdasarkan  data  dari  peta  geologi. keras. Aluvium  (Qa).exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   • 25% rawa dan bencah/datar dengan jenis tanah Asosiasi Alluvial Hedromotif dan  Glei Humus serta Regosol Kelabu Muda berasal dari endapan pasir dan tanah liat. terdiri dari granit  biotit.  batu  liat  dan  konglomerat.  pasir.  pelembahan  dan  di  sekitar  jalur  aliran  sungai  terbentuk  dari  bahan  aluvium  yang  terdiri dari bahan endapan liat.    Formasi  Tanjung  Genting  (TRt)  diperkirakan  berumur  Trias  Awal  dan  diendapkan  pada  lingkungan  laut  dangkal  terdiri  dari  perselingan  batu  pasir  (sandstone)  kelabu  kecoklatan berbutir halus‐sedang terpilah baik.  terdapat  hanya  sedikit  di  daerah  pantai  bagian  timur  sekitar  Lesat  atau  Paya  Pangkat.  berumur  Miosen  Akhir  –  Plistosen  Awal  dan  diendapkan  di  lingkungan  fluvial.  merupakan  perselingan  batupasir.000  (Puslitbang Geologi.  terdiri  dari  fillit.  Formasi  Aluvium  (Qa)  terdapat  cukup  luas  di  daerah  merupakan  bahan  endapan  yang  terdiri  dari  lumpur.  liat. dan batu liat (claystone).  Umur  formasi  ini  tidak  diketahui  dengan  pasti  tetapi  kedudukannya  ditindih  tidak  selaras  oleh  formasi  Tanjung  Genting  (TRt).  sekis  dan  kuarsit.    4) Geologi  Berdasarkan  Peta  Geologi  Lembar  Bangka  Selatan  Sumatera  Skala  1:250. formasi Granit Klabat (TRjkg).    Formasi  Malihan  Pemali  (Cpp)  hanya  sedikit  di  sebelah  barat  daya  Air  Bara  sampai  ke  Paku. 1995).  Tanah  yang  terbentuk  dari  batuan  sedimen  ini  umumnya mempunyai kandungan kongkresi batu besi (ironstone) yang cukup banyak  di  dalam  penampang  tanahnya. kelabu kecoklatan berlapis baik.  endapan  rawa  dan endapan pantai.  Sebagian  tanah  terutama  pada  daerah  perbukitan  terbentuk  dari  batuan  volkan  intrusi  yang  berupa  batuan  granit.  Tanah  pada  daerah  dataran  aluvial.  Formasi  Ranggam  (TQr).                              II-3 . formasi Ranggam (TQr) dan formasi Malihan Pemali (Cpp). Formasi Granit Klabat  (TRjkg). pasir dan campuran (u).

  Sungai  Ulim.  Sungai  Balar. Sungai Bantil.3 mm tiap bulan untuk tahun 2009 dengan curah  hujan terendah pada bulan September.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.  menunjukkan  bahwa  keadaan  iklim  khususnya  curah  hujan  di   II-4 . Sungai Kepoh dan Sungai Ketiak.    Pada dasarnya di daerah Kabupaten Bangka Selatan tidak terdapat danau alam. pada umumnya sungai di daerah Kabupaten Bangka  Selatan  terdiri  dari  sungai‐sungai  yang  berhulu  pada  perbukitan  dan  pegunungan  serta bermuara di laut.  Sesuai  dengan  letak  geografis. Sungai Gusung.2.    6) Klimatologi  Iklim  merupakan  salah  satu  faktor  yang  menentukan  untuk  pertumbuhan  tanaman  maupun  terhadap  faktor  lingkungan  lainnya.  Peta Geologi Kabupaten Bangka Selatan        5) Hidrologi  Berdasarkan Keadaan hidrologi. Sungai‐sungai ini dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu  sungai utama. Sungai‐sungai besar yang berada di  wilayah  Bangka  Selatan  antara  lain:  Sungai  Bangka  Kota.  maka  Kabupaten  Bangka  Selatan  beriklim  Tropis  Tipe  A  dengan  variasi  curah hujan antara 11. hanya  terdapat bekas penambangan biji timah yang luas dan hingga menjadikannya seperti  danau buatan yang disebut kolong.  Dalam  evaluasi  lahan  iklim  menjadi  salah  satu  parameter  penentu.8 hingga 370.  selain  faktor  tanah  dan  terrain.  Sungai Nyireh. sungai sekunder dan sungai tersier.    Berdasarkan  pola  curah  hujan  dan  data  curah  hujan  di  stasiun  pengamat  iklim  Pangkalpinang.    Sungai‐sungai  tersebut  berfungsi  sebagai  sarana  transportasi  dan  belum  dimanfa‐ atkan  untuk  pertanian  dan  perikanan  karena  para  nelayan  lebih  cenderung  mencari  ikan ke laut.

   Peta Penggunaan Lahan Untuk Komoditas Unggulan dan Lainnya               di Kabupaten Bangka Selatan      Kawasan  budidaya  pertanian  terdiri  dari  kawasan  budidaya  pertanian  tanaman  pangan  (sawah  dan  lahan  pertanian  campuran  berupa  kebun).  Sedangkan  kelembaban  udara  bervariasi  antara  66.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Kabupaten  Bangka  Selatan  tergolong  cukup  baik  untuk  pertumbuhan  berbagai  komoditi pertanian.      Gambar 2.0 hingga 1010.3.3  persen  dan  tekanan udara antara 1009.4 mb.  kawasan  budidaya  perikanan air payau berupa tambak.    7) Penggunaan Lahan  Berdasarkan  hasil  Kajian  Pengembangan  Ekonomi  Daerah  Berbasis  Komoditi  Unggulan di Kabupaten Bangka Selatan pada tahun 2009.3.70  Celcius  hingga  29.0  hingga  83.6  persen  pada  tahun  2009.1  hingga  86. maka didapat penggunaan  lahan seperti pada Gambar 2.  Sementara. kawasan budidaya perkebunan yang terdiri dari    II-5 .    Suhu  rata‐rata  daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  berdasarkan  data  dari  Badan  Meteorologi  dan  Geofisika  Stasiun  Klimatologi  Pangkalpinang  menunjukkan  variasi  antara  25.00  Celcius.  intensitas  penyinaran  matahari  pada  tahun  2009  rata‐rata  bervariasi  antara  28.

 Sawit. Kelapa.720  134.195  12.232  2.  2  6  Jeruk    III.  dan  perkebunan besar dengan komoditas kelapa sawit.554     10.996  14.443  39.401  58.  ANEKA:        P  Permukiman  479 155 205 64 482 884  42  2. belukar.636 428 2.  Dalam  delineasi  jenis‐jenis  penggunaan  lahan  di  daerah  Bangka  Selatan  dilakukan  juga terhadap lahan tambang yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif.735  3.    Selain kawasan penggunaan lahan tersebut terdapat juga kawasan  pemukiman yang  terdiri  dari  kota. Kawasan  non budidaya pertanian umumnya berupa hutan.  Secara  terperinci  potensi  penggunaan  lahan  (eksisting  dan  pengembangannya)  di  Kabupaten  Bangka  Selatan tersaji pata Tabel 2.855     9.56  IV. Karet.  TIDAK  DIREKOMENDASI                           ATAU PENGGUNAAN  TERBATAS:  Tidak Direkomendasi atau  Nenas Secara Selektif  TD/N  1.553  120  12.708  100  7  6  Sumber : Hasil Kajian BP3MD Bangka Selatan 2009   II-6 .311 0.550     9.928  653  18.885  6.216  4.442     3.  semak  dan  belukar  rawa.432  Kakao.251  Durian.611     3.341  50.694  17. Karet.275  0  HK  Hutan Konservasi  1.  pemukiman/kampung  dan  kawasan  perkantoran. Ubikayu. belukar rawa.9 TP/TT1  35.486  15.878 39 176 5.289 1. Rambutan  2  5  TT3  Sawit.23 16. Ubijalar.833 337 1.59 102. Jagung.252  92  11. Kelapa.  12.712   VI.376 2.336  664  548  1. Karet.317     747  4.839  1. Durian. Pisang  3.  kelapa  sawit  dan  nenas).2 HL  1.313 3.62  Dengan Tambahan Bahan  Organik  TD  Tidak Direkomendasi   1.389  23.   KAWASAN HUTAN:        0.218  2.  Potensi Penggunaan Lahan di Kabupaten Bangka Selatan    KECAMATAN  LUAS  SIMBOL  ARAHAN KOMODITAS   Lepar  Simpa Air  Payun Pulau  Toboal Tukak  Pongo ng  Ha  %  Gegas  g  Besar  i  Sadai  k  Rimba             I.02  Merah.1 TT2  25.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   perkebunan  rakyat  (dengan  komoditas  karet.    Tabel 2.12 Ti  Tambang  4.489  360. belukar rawa  (mangrove)  dan  semak/belukar. Durian. badan  air  yang  berupa  air  sungai  dan  danau  pada  lahan  bekas  tambang.530 730  498  7.  serta  komplek  permukiman dan pekarangan atau kebun campuran yang tidak terpisahkan. Jagung.513  11.  11.712     1.904  2.935 3.   TANAMAN PANGAN :  Padi Sawah.868  27. Kacang Panjang  S  Sawah  2.083  90.107  666  86.897  3.05   V.00 Hutan Lindung  10. TANAMAN TAHUNAN:          Lada.234  2.706  4.56 TOTAL  28. Pisang.115  2  Hutan Produksi  25.1.607        3.190  8.918  7.436  59  887  1.51 39.814  10. Cabe  1.060  3.955  4.269  10.277 5.54 23.555 1.  semak  dan  rumput  rawa.75  II.14 KS  Kelapa Sawit  55  4.64 X3  Badan Air  190 40 74 143     447 0.806     2. Rambutan.1 berikut ini.  Sawit.871  6.  lada.422  5.   TANAMAN PANGAN    DAN TANAMAN                          TAHUNAN :  Padi Gogo.2 HP  24. Lada.948 278 521       11.  PS  Kedelai.910  2.

      II-7 .  budidaya  perikanan  &  perikanan  tangkap. perdagangan.2  di  bawah  ini  . dan pertambangan.  Upaya  yang  telah  dijalankan  oleh  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  untuk  mencapai  tujuan  pembangunan sektor pertanian ini adalah dengan menerapkan program intensifikasi.    Berdasarkan  tabel  2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   2.  • Penyediaan benih/bibit unggul  • Perlindungan tanaman dengan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu  • Menyebarkan teknologi tepat guna.  seperti  kawasan  budidaya  pertanian. Citra Bangka Selatan sebagai penghasil lada.  maka  dapat  diidentifikasi  daerah‐daerah  yang  menjadi sentra produksi pertanian.2 Potensi Pengembangan Wilayah  Berdasarkan  deskripsi  karakteristik  wilayah  Kabupaten  Bangka  Selatan  dapat  di‐ identifikasi  wilayah  yang  memiliki  potensi  untuk  dikembangkan  sebagai  kawasan  produktif. Perkebunan dan Kehutanan)  Kabupaten  Bangka  Selatan  memiliki  kekayaan  sumber  daya  alam  yang  sangat  po‐ tensial  untuk  dikembangkan  menjadi  sebuah  pusat  agribisnis  dan  agro‐industri  (pertanian.  Air  Gegas. dan  daerah pertanian dapat dipertahankan dan terus dikembangkan.  dan  Simpang  Rimba  merupakan  sentra  produksi  palawija. antara lain :    • Sentra produksi padi (sawah dan ladang)  Kecamatan  Toboali  (daerah  Rias)  merupakan  sentra  produksi  padi.  sedangkan kecamatan Air Gegas.  perkebunan  dan  kehutanan)  serta  dapat  dikembangkan  menjadi  sebuah  kawasan Agropolitan.    Program  kerja  sub  sektor  tanaman  pangan  diprioritaskan  pada  kegiatan  yang  dititikberatkan pada :    • Peningkatan mutu intensifikasi pemantapan pola tanam  • Perluasan areal melalui pencetakan sawah baru dan pembukaan lahan kering  • Pembinaan daerah transmigrasi melalui bantuan sarana produksi padi.    • Sentra produksi palawija  Kecamatan  Toboali.  sedangkan  kecamatan  Simpang  Rimba  dan  Lepar  Pongok  sebagai wilayah pendukung produksi sayuran dan buah‐buahan.  guna  mendukung  keca‐matan  Toboali  dalam  program  swasembada  beras  Kabupaten  Bangka Selatan.  sedangkan  kecamatan  Air  Gegas. kawasan industri.  Simpang  Rimba  dan  Pulau  Besar  memiliki  potensi  yang  cukup  besar  untuk  dikembangkan  menjadi  sentra  produksi  beras. Payung dan Lepar Pongok sebagai wilayah pen‐ dukung produksi palawija.    a) Potensi Pertanian (Tanaman Pangan. pariwisata. diversifikasi dan rehabilitasi. lumbung padi.    Pembangunan  ekonomi  Bangka  Selatan  pada  sektor  pertanian  bertujuan  untuk  meningkatkan  pendapatan  petani  dan  pembangunan  pedesaan.    • Sentra produksi sayuran dan buah‐buahan  Kecamatan  Toboali.1.  ekstensifikasi.  dan  Payung  merupakan  sentra  produksi  sayuran  dan  buah‐buahan.

595 1.420.20 1.91 48.224 17.00 78.933 2.651 1.26 5.00 10 32 5 6 0.30 1.00 225 698 135 162 61.790 26 12 13 2 2 7 Pulau Besar 602 236 607 220 380 300 27 10 12 2 Jumlah 2009 18.446.700 1.270 315 410 144.790 1.298.293 2.957 2.008 24 77 Jumlah 2009 160 378.335 7.390 0 0 928 532 2 1 54 12 14 1  Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010   II-8 .216 1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.396 949 1.42 153.20 35 925 15 75 105 46 10 105.26 2 Air Gegas 15 32.859 111 2.00 320 416 15.  Potensi  produksi  perkebunan  Bangka  Selatan tersaji pada tabel 2.400 380 318 39 15 9 2 4 Simpang Rimba 190 550 542 1.3 berikut ini.3.86 1.841 9.  Hasil Pertanian Kabupaten Bangka Selatan    K a c a n g K e d e la i K acang Tanah B u a h -B u a h a n K e t e la P o h o n Padi Ladang Padi Saw ah Komoditi U b i J a la r Pertanian S a y u ra n Jagung T a la s No Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen Luas panen P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si Kecamatan 1 Toboali 105 257.08 0.113 198 120 210 150 5 Lepar pongok 100 62 248 36 11.00 75 125 26 130 7 11 7 75.    Tabel 2.85 1.00 259 3.46 850.67 99.2.97 91.590 266 158 6 Tukak sadai 3.00 32 588 25 125 8 15 15 75.69 366.127 10.555 323 250 293 150 2 1 16 5 2 Air Gegas 6.267 1.21 412.35   Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010      Sedangkan  sub  sektor  perkebunan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  dibagi  atas  perkebunan  rakyat  dan  perkebunan  besar.56 4 Simpang Rimba 13 31.69 867.30 107 1.63 1.568 830 1.09 6 Tukak sadai 7 Pulau Besar 325 1.251 221.641.045 1.24 19.90 1.590 200 2.022 67 37 4 1 12 1 3 Payung 4.860 84 306 31 79 10 43.598 155 681 166 178 47 324.18 5 Lepar pongok 5 11.  Hasil Perkebunan Rakyat Kabupaten Bangka Selatan    K e l a p a S a w it Komoditi Cengkeh Perkebunan K e la p a K e m ir i C o k la t K a re t Lada A re n No P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si P ro d u k si Luas Luas Luas Luas Luas Luas Luas Luas Kecamatan 1 Toboali 2.50 10 100 5 45 15 27 5 26.26 3 Payung 22 46.00 125 388 150 180 0.90 0 0 2.492 5.166 7.179 13.725.650 5.22 350.

    • Sentra produksi Karet  Kecamatan  Air  Gegas  merupakan  sentra  produksi  karet. Payung dan Simpang Rimba dapat dikembangkan sebagai wilayah pen‐ dukung produksi karet.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Berdasarkan tabel 2.4.000 1. sedangkan kecamatan  Tukak  Sadai  dan  Air  Gegas  dapat  dikembangkan  sebagai  wilayah  pendukung  produksi kelapa sawit.316  nelayan  dengan  armada  perahu/kapal  penangkap  ikan  sebanyak 4.000 157 Kelapa sawit 5 Lepar pongok 9. Realisasi (Ha) dan Jenis Komoditi dari Perusahaan Besar  di Kabupaten Bangka Selatan    Luas No Kecamatan Realisasi Jenis Komoditi Pencadangan 1 Toboali 20.866 4.  Pulau  Lepar  dan  Pulau  Pongok  serta  beberapa  pulau‐pulau  kecil yang saling terhubungkan oleh perairan laut.  sedangkan  kecamatan  Toboali.5 berikut ini.3 di atas.394.000 239 Kelapa sawit 2 Air Gegas 0 0 3 Payung 20.866 2. termasuk didalamnya potensi rumput  laut.       Tabel 2.  Pada  tahun  2009  produksi  hasil  perikanan  laut  sebesar 26.    Sektor  perikanan  (budidaya  dan  perikanan  laut)  termasuk  sektor  yang  cukup  domi‐ nan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan. antara lain :    • Sentra produksi Lada  Kecamatan  Air  Gegas  merupakan  sentra  produksi  lada.551 Kelapa sawit    Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010      b) Potensi Perikanan dan Kelautan  Kabupaten  Bangka  Selatan  merupakan  daerah  kepulauan  yang  terdiri  dari  bagian  selatan  Pulau  Bangka.259 unit.500 Kelapa sawit 4 Simpang Rimba 20.    • Sentra produksi Kelapa Sawit  Kecamatan Lepar Pongok merupakan sentra kelapa sawit.  sedangkan  kecamatan  Toboali. maka dapat diidentifikasi daerah‐daerah yang menjadi  sentra produksi pertanian.655 Kelapa sawit 6 Tukak sadai 0 0 7 Pulau Besar 0 0 Jumlah 2009 69.  Luas Pencadangan (Ha).‐ Potensi sektor perikanan  ini  digarap  oleh  8.314 ton dengan nilai mencapai Rp.     Hasil perikanan Kabupaten Bangka Selatan tersaji pada tabel 2.  Payung  dan  Simpang  Rimba  dapat  dikembangkan  sebagai  wilayah  pendukung produksi lada.    II-9 .000.710.  Kondisi ini memiliki potensi hasil  perikanan dan kelautan laut yang cukup besar.

    Tingkat  kerentanan  adalah  suatu  hal  penting  untuk  diketahui  sebagai  salah  satu  faktor  yang  berpengaruh  terhadap  terjadinya  bencana. kegagalan teknologi.  gunung  api  dan  longsor.  hama  dan  penyakit  ta‐ naman.000 Jumlah 2009 26.  antara  lain:  kebakaran  hutan. pencemaran limbah.000 7 Pulau Besar 2.  meredam.  antara  lain:  kecelakaan  transportasi.  tsunami.416 96.  sosial.  5.076 121.   Bahaya  beraspek  biologi.  dan  mengurangi  kemampuan  untuk  menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.   Bahaya  beraspek  hidrometerologi.  3.  jiwa  dan  kerusakan  lingkungan.240.  kerusakan  lingkungan.  kerugian  harta  benda.    Kerentanan  (vulnerability)  merupakan  suatu  kondisi  dari  suatu  komunitas  atau  ma‐ syarakat  yang  mengarah  atau  menyebabkan  ketidakmampuan  dalam  menghadapi  ancaman bahaya.079 91.  mencapai  kesiapan.   Bahaya  beraspek  geologi.    Kerentanan  fisik  (infrastruktur)  menggambarkan  suatu  kondisi  fisik  (infrastruktur)  yang  rawan  terhadap  faktor  bahaya  (hazard)  tertentu.  kecelakaan  industri.1.140.000   Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010    2. sosial kependudukan..exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2. yaitu :   1..  politik.  klimatologis.314 394.  Kondisi  kerentanan  ini  dapat   II-10 .000 5 Lepar pongok 6.423 36.  4.  bahaya ini dibedakan menjadi lima kelompok.000 6 Tukak sadai 8.    Berdasarkan  United  Nations­International  Strategy  for  Disaster  Reduction  (UN‐ISDR).  Hasil Perikanan Kabupaten Bangka Selatan    Produksi Nilai No Kecamatan (Ton) (RP) 1 Toboali 6.  ekonomi.800.5.  antara  lain  gempa  bumi.Natural  disaster  are  the  interaction  between  natural  hazard  and  vulnerable  condition".  kekeringan.  angin  topan.  biologis.185.   Bahaya  beraspek  lingkungan. dan ekonomi.3 Wilayah Rawan Bencana  Definisi  Rawan  Bencana  adalah  suatu  kondisi  atau  karakteristik  geologis.  dan  teknologi  pada  satu  wilayah  untuk  jangka  waktu  tertentu  yang  mengurangi  kemampuan  mencegah.345. Sedangkan Bahaya didefinisikan sebagai  suatu  fenomena  alam  atau  akibat  perbuatan  manusia  yang  mempunyai  potensi  mengancam  kehidupan  manusia.  budaya.000 2 Air Gegas 0 0 3 Payung 0 0 4 Simpang Rimba 3.  antara  lain:  wabah  penyakit.  geografis.320 49.  antara  lain:  banjir.    Tingkat  kerentanan  dapat  ditinjau  dari  kerentanan  fisik  (infrastruktur).  gelombang pasang.710.  hidrologis..  karena  bencana  baru  akan  terjadi  bila  "bahaya"  terjadi  pada  "kondisi  yang  rentan".  2.   Bahaya  beraspek  teknologi.  seperti  yang  dikemukakan  Awotona  (1997:1‐2):  ".

633 27.  maka    II-11 .  persentase  bangunan  konstruksi  darurat.    Tabel 2.262 12.536 78.    Berdasarkan  uraian  tersebut  di  atas  dan  kondisi  riil  di  lapangan.00 100.64 19.536  jiwa  dan  penduduk  perempuan sebanyak 78.460. jaringan PDAM.  kepadatan  tertinggi  terdapat  di  Kecamatan  Tukak  Sadai  yaitu  81  orang  per Km2.497 6.  kepadatan  bangunan  dan  bangunan  konstruksi  darurat  di  perkotaan  sangat  tinggi  sedangkan  persentase. seperti angin puting  beliung mengingat sebagian besar wilayah Kabupaten Bangka Selatan dikelilingi oleh  laut  dan  terdiri  dari  kepulauan.763 5.6. namun banjir cepat surut kembali.80 48.00  Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010    Berdasarkan  tabel 2.  Jika  dilihat  dari  sisi  kepadatan  penduduk.6.30 10.82  49  6  Tukak Sadai  126.  artinya  pada  tahun  2009  untuk  setiap  207  penduduk  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  terdapat 100 penduduk perempuan dan 107 penduduk laki‐laki.08 84.728 18. jaringan PDAM.361 4.188 6.00  45    Persentase  51.664 jiwa.059 55.409 8.95 9.200 jiwa.  Kelurahan  Toboali  Kota  ‐  Kecamatan  Toboali  sering  terjadi  banjir  jika  curah  hujan  tinggi  dan  dalam waktu yang cukup lama.13%)  dibandingkan  dengan  kecamatan  lainnya  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.  namun  demikian  masyarakat  dan  pemerintah  daerah  harus  tetap  waspada  terhadap berbagai kemungkinan bahaya yang datang mendadak.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   dilihat dari berbagai indikator antara lain persentase kawasan terbangun.    2.687 9.  Disamping  itu  di  daerah  Rawa  Bangun.11  49  4  Simpang Rimba  362.  jaringan  listrik.  jaringan  listrik.     Jumlah  penduduk  laki‐laki  pada  tahun  2008  sebanyak  84.607. Rasio jenis kelamin  ini  bervariasi  di  tingkat  kecamatannya  dan  yang  tertinggi  pada  Kecamatan  Pulau  Besar  yang  mencapai  119.  rasio  panjang  jalan.  Untuk  gambaran  yang  lebih  lengkap  tentang  jumlah  penduduk Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Tabel 2.70  43  3  Payung  372.  maka  wilayah  Kabupaten  Bangka  Selatan  dapat  dikategorikan  sebagai  wilayah  yang  aman  dari  bencana.827 10. kepadatan  bangunan.137 11.607 12.34 28.  rasio  panjang  jalan.24  81  7  Pulau Besar  169.  dengan  tingkat  kepadatan  penduduk  sebesar  45  orang  per  Km2.200 100.20 100.054 22.4  Kondisi Demografi Kabupaten Bangka Selatan  Jumlah penduduk Kabupaten Bangka Selatan pada tahun 2009 sebesar 163.13  38  2  Air Gegas  853.  Dari  seluruh  kecamatan.692 34.883 37.  Kecamatan  Daerah  Perempuan  Jumlah  %  penduduk  laki  (km2)  per km2  1  Toboali  1.920 20.98 6.37  52    Total 2009  3.759 7. jaringan telekomunikasi. Rasio jenis kelamin tahun yang sama sebesar 107. dan jalan KA sangat rendah.   Jumlah Penduduk dan Kepadatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Luas  Rata‐rata  Laki‐ No.00 5. dan jalan KA.778 3.985 8.6 di atas terlihat  bahwa Kecamatan Toboali  mempunyai jumlah  penduduk  terbanyak  (34.  jaringan telekomunikasi.664 163.87 4.63  57  5  Lepar Pongok  261.1. Wilayah permukiman di  Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat rentan karena persentasi  kawasan  terbangun. sedangkan yang terendah terdapat di Kecamatan Toboali yaitu 38 orang per  Km2.171 17.

042  79.944  77.31%).624  15.20%.70    Jumlah 2009  114.217  67.  diikuti  oleh  sektor  perdagangan    sebanyak  8.8.   Jumlah Penduduk Kabupaten Bangka Selatan Berdasarkan Kelompok Umur    Jenis Kelamin  Kelompok Umur  Laki­laki  Perempuan  Jumlah  %  0 – 4  8. Hal ini  sangat menguntungkan bagi pembangunan wilayah Bangka Selatan karena salah satu  modal  utama  pembangunan  adalah  sumber  daya  manusia  (SDM).662  9.56  8  Buruh Bangunan  1.267  8.7.891  9.00    Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010     II-12 .536  78.60  10 – 14  7.107  7.  Disamping  itu.200  52.668  8.117  16.      Tabel 2.089  (74.274  1.08%)  bekerja  di  sektor  pertanian.37  5  Transportasi  976  0.  jika  dilihat  dari  sisi  komposisi  penduduk  antara  laki‐laki  dan  perempuan.625  3.785  10.85  6  PNS/ABRI  3.   Penduduk  Usia  15  Tahun  ke  Atas  yang  Bekerja  Selama  Seminggu  Berdasar‐kan  Lapangan Usahanya di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  No.645  (7.645  2.38%  dari  jumlah  penduduk  Bangka  Selatan  adalah  kelompok umur 15 tahun ke atas yang merupakan Penduduk Usia Kerja (PUK).704  6.087    2007  80.  Selengkapnya  data  jumlah  dan  persentase  penduduk  Kabupaten  Bangka  Selatan  berdasarkan  lapangan  usahanya  tahun  2009  dapat dilihat pada tabel 2.862  jiwa  atau  70.8.7.200  100.28  10  Nelayan  7.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Kecamatan  Tukak  Sadai  merupakan  kecamatan  terpadat  dengan  81  jiwa/km2.58  4  Pedagang  8.294  2.11  9  Peternak  321  0.08  2  Industri/Pertambangan  6.862  100.28  5 – 9  8.664  163.53  65+  2.16  7  Pensiunan PNS/ABRI  643  0.00  2008  82.80% dan 48.099  (5.  maka  komposisinya  hampir  berimbang  dengan  persentase  masing‐ masing sebesar 51.017  110.987  158.74  15 – 64  58.  maka  penduduk  Kabupaten  Bangka  Selatan  sebesar  85.555  15.351  4.  baik  kuantitas  maupun kualitasnya. Selengkapnya data jumlah penduduk Kabupaten Bangka Selatan  berdasarkan kelompok umur tahun 2009 dapat dilihat pada tabel 2.089  74.045  161.    Tabel 2.31  3  Konstruksi  666  0.    Kondisi  penduduk  berdasarkan  kelompok  umur  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  me‐ nunjukkan  114.  Lapangan Usaha  Pekerja  Persentase  1  Petani  85.099  5.85  Jumlah 2009  84.465  7.37%)  dan  sektor  industri  dan  pertambangan  sebesar  6.931      Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka 2010    Berdasarkan  penduduk  usia  15  tahun  ke  atas  yang  bekerja.

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   2. seni budaya dan olah raga.    Pada sub ini akan memberikan gambaran tentang kondisi kesejahteraan masyarakat  Bangka  Selatan  hasil  evaluasi  pelaksanaan  pembangunan  pada  aspek  kesejahteraan  masyarakat  selama  periode  2005  –  2009  yang  mencakup  kesejahteraan  dan  pemerataan ekonomi.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT  Kinerja  pembangunan  pada  aspek  kesejahteraan  masyarakat  merupakan  gambaran  dan hasil dari pelaksanaan pembangunan selama periode tertentu   terhadap kondisi  kesejahteraan  masyarakat  yang  mencakup  kesejahteraan  dan  pemerataan  ekonomi.  dan  sektor  pertambangan dan penggalian sebagai basis perekonomian (leading sector penciptaan  PDRB) Kabupaten Bangka Selatan.          II-13 .2.  sembilan  sektor  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  mampu  menciptakan  PDRB  ADHK  sebesar  952. Pertumbuhan PDRB  Pertumbuhan  PDRB  merupakan  indikator  untuk  mengetahui  kondisi  perekonomian   secara  makro  yang  mencakup  tingkat  pertumbuhan  sektor‐sektor  ekonomi  dan  tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah.  pemerataan  pendapatan  versi  Bank  Dunia.13  triliun rupiah di tahun 2009. dan angka kriminalitas yang tertangani. seni budaya dan olahraga.     Perkembangan  kinerja  pembangunan  pada  kesejahteraan  dan  pemerataan  ekonomi   adalah sebagai berikut :    A.  Hal  ini  sesuai  dengan kondisi yang ditunjukkan pada tabel 2. pertumbuhan PDRB Kabupaten Bangka Selatan ADHK dan ADHB  mengalami  trend  positif  (cenderung  meningkat)  setiap  tahunnya. Fakta ini ditunjukkan dengan besarnya komposisi  kedua  sektor  primer  ini  terhadap  nilai  Produk  Domestik  Regional  Bruto  (PDRB)  Kabupaten  Bangka  Selatan  tahun  2009  dengan  kontribusi  masing‐masing  sektor  sebesar  43.  persentase  penduduk  di  atas garis kemiskinan.6  milyar  rupiah  dan  terus  meningkat  hingga  sebesar  1.    Selama 2005‐2009.    2.  PDRB  per  kapita.  kesejahteraan sosial. laju inflasi.1 Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi  Kinerja  kesejahteraan  dan  pemerataan  ekonomi  Kabupaten  Bangka  Selatan  selama  periode tahun 2005‐2009 dapat dilihat dari indikator pertumbuhan PDRB. kesejahteraan sosial.11.  indeks  gini.85  persen  dan  24. Hal ini mengindikasikan bahwa selama 5 tahun terakhir  telah terjadi peningkatan produktivitas (output) agregat sektor ekonomi yang ada di  Kabupaten Bangka Selatan.  Kontribusi  dari  masing‐masing  sektor  terhadap  PDRB  Kabupaten  Bangka  Selatan  tahun 2009 tersaji dalam gambar 2.10 dan 2.  Kondisi  ini  selaras  dengan  pekerjaan  mayoritas  penduduk  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  kedua  sektor  tersebut.4.      Kabupaten  Bangka  Selatan  merupakan  kabupaten  dengan  sektor  pertanian  dalam  pengertian  luas  termasuk  didalamnya  perikanan/peternakan.  indeks  ketimpangan  Williamson  (indeks  ketimpangan  regional).    Tahun  2005.15  persen.

9.43 triliun rupiah di tahun 2009. GAS & AIR BERSIH V BANGUNAN VI PERDAGANGAN. Klasifikasi Sektor Ekonomi menurut Lapangan Usaha  SEKTOR No LAPANGAN USAHA I PERTANIAN PRIMER II PERTAMBANGAN & PENGGALIAN III INDUSTRI PENGOLAHAN SEKUNDER IV LISTRIK.       II-14 .      Tabel 2.4.51  triliun  rupiah  di  tahun  2005  dan  terus meningkat hingga mencapai 2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2. SEWA & JASA PERUSAHAAN IX JASA-JASA       Trend  positif  yang  dialami  oleh  PDRB  ADHB  Kabupaten  Bangka  Selatan    mencer‐ minkan  pola  peningkatan  nilai  tambah  dari  1.    Persentase Kontribusi setiap Sektor terhadap PDRB Kabupaten                           Bangka Selatan Tahun 2009            Kesembilan  sektor  pada  PDRB  dapat  dikelompokkan  menjadi  3  klasifikasi  sektor  ekonomi menurut lapangan usaha seperti tersaji pada tabel 2.9.     Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  telah  terjadi  penigkatan  produktivitas  yang  diiringi  juga peningkatan harga komoditas agregat sektor ekonomi dari tahun ke tahun. HOTEL & RESTORAN VII PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI TERSIER VIII KEUANGAN.

618 13.00 1. Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 s.500 100.867 6.924.928 2. Sewa dan Jasa 43.36 67.11   Nilai  (Rp)  dan  Kontribusi  (%)  Sektor  dalam  PDRB  Atas  Dasar  Harga  Konstan  (ADHK).22 224.298.656 6.885 0.960 100.773 3.33 7 Pengangkutan & Komunikasi 14.84 138.746 40.432 2.923 100.002 12.13 12.55 56. Sewa dan Jasa 30. % Rp.99 2 Pertambangan & Penggalian 209. % Rp.26 96.226 48.742 0.016 48.63% 4.288 0.118 2.27 36.31 1.10   Nilai (Rp) dan Kontribusi (%) Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga Berlaku  (ADHB).00% 4.193 1.81 53.06 784.708 7.03 156.189 0.874 2.d 2009  2005 2006 2007 2008 2009 No SEKTOR Rp.671 13.444 3.27 5 Bangunan 79.35 9 Jasa-jasa 28. Gas dan Air Bersih 2.986 24.43% 5.87 4 Listrik.03 323.303 2.90 553. Gas dan Air Bersih 4.62 112.25 35.21 2.00 2.12 26.ADHB 1. % Rp.00 1.855 3.619 1.25 6.103 5.36 529.820 3.61% 3.455 21.111 0.085 2.794 14.55 4 Listrik.363 0.05 585.895 43. % 1 Pertanian 451.ADHK 952.15 3 Industri Pengolahan 38.52 40.14 28.00 2.56 43.76 44.22 31.99 203.88 48.238 0.00 Pertumbuhan per Tahun 0.735 43.854 100.69 79.45 204.03 21.85 528.063.695 3.31 667.93 32.60 63. % Rp.316 0.444 2.00 992.588 1.92 9.080 2.6  berikut ini.53%   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha Bangka Selatan Tahun 2009    Tabel 2.752 3.73 598.472 5.279 1.826 100.94 118.16 139.040 48.16 8 Keuangan. % Rp.45 61.69 553.672 100.00% 13. % Rp.627 6.04 12.464 0.807 2.00 Pertumbuhan per Tahun 0.126 1.482 13.176 19.27 4.00 1.00 1.22 33.551 14.709 3.85 2 Pertambangan & Penggalian 480.634 39.017 20.600 100.21 2.701 2.66 200. % 1 Pertanian 593.37 478. Hotel dan 134.234 48.29 37.203 13.010 4.00 1.156 4.782 0.12 8 Keuangan. % Rp.86 31.208 2.63 95.    II-15 .82 72.586 0.13 135.99 299.929 14.5  dan  2.29 5.64 9 Jasa-jasa 55.147 30.113 28.99 79.22 2.509.77 995.709.049 0.95 17. % Rp.658 6.946 2.81 29.278 17.17 161.74 27.571 6.98 PDRB .39 3 Industri Pengolahan 26.028 5.696 1.812 3.675 2.595 100.08 146.90%   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha Bangka Selatan Tahun 2009    Pertumbuhan  nilai  setiap  sektor  perekonomian  terhadap  PDRB  ADHB  dan  ADHK  Kabupaten  Bangka  Selatan  tahun  2005‐2009  dapat  dilihat  pada  gambar  2.550 14.63% 19.377 5.19% 12.27 5.846 100.128. Hotel dan 199.080 0.910 14.18 502.537 3.21 2.50 196.47 6 Perdagangan.266 5.807 1.554 39.97 10.954 3.425.77 6 Perdagangan.086.11 153.03 32.681 2.31 7 Pengangkutan & Komunikasi 8.945 3.764 7.864 26.58 PDRB .12 250.731 2.040 100.214 47.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.34 87.038.21 5 Bangunan 60.53 49.811 31.21% 4.d 2009  2005 2006 2007 2008 2009 No SEKTOR Rp. Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 s.79 59.992 18.

SEWA.000 500.000 200. GAS.200. & RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEUANGAN. & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAGANGAN.000 Jutaan Rupiah 800.5. artinya kontribusi sektor   II-16 .000 100.  sedangkan  sektor  pertambangan  dan  penggalian  dalam 2 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan negatif. & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA       Gambar 2.6  dapat  disimpulkan  bahwa  selama  5  tahun  terakhir  sektor primer perekonomian Bangka Selatan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2. HOTEL.000.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kabupaten Bangka Selatan 2005‐2009  1.000 - 2005 2006 2007 2008 2009 PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.000 200. & RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEUANGAN.000 - 2005 2006 2007 2008 2009 PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.6.5  dan  2. & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAGANGAN.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHK Kabupaten Bangka Selatan     2005‐2009    600.000 400. HOTEL. yaitu  pertanian menunjukkan pertum‐ buhan  positif  yang  cukup  besar.000 1.000 600.SEWA.000 300. GAS. & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA     Berdasarkan  gambar  2.000 Jutaan Rupiah 400.

21 0.62 6.04 7 Pengangkutan & Komunikasi 21.64 3.29 2.31 47.14 1.41 4.8 berikut ini.45 28.12 dan 2.12.37 3.  Pertumbuhan  Kontribusi  (%)  Sektor  dalam  PDRB  Atas  Dasar  Harga  Berlaku  (ADHB)  dan  Atas  Dasar  Harga  Konstan  (ADHK)  Kabupaten  Bangka  Selatan  selama 5 tahun terakhir.84 6.03 4.88 3. Kabupaten Bangka Selatan    2005 2006 2007 2008 2009 No SEKTOR HB HK HB HK HB HK HB HK HB HK % % % % % % % % % % 1 Pertanian 39.92 1.83 1.99 2 Pertambangan & Penggalian 31. Hotel dan Restoran 13.37 39.03 14.26 6.93 2.95 0.76 5.77 6 Perdagangan.74 2.06 48.27 0.27 0.82 5.63 3.99 30.33 14.73 19.03 0.7 dan 2. Gas dan Air Bersih -0.81 2.60   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha Bangka Selatan Tahun 2009      II-17 .  hotel dan restoran juga menunjukkan pertumbuhan positif yang cukup besar.15 17.22 14. Gas dan Air Bersih 0.39 3 Industri Pengolahan 2. Sewa dan Jasa Perusahaan 2.87 22.13 3.99 14.36 5.    Tabel 2.99 6.92 3 Industri Pengolahan -0.43 2 Pertambangan & Penggalian -24.98   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha Bangka Selatan Tahun 2009    Tabel 2.85 22. Sewa dan Jasa Perusahaan -8.77 48.56 2.08 12.27 0.13 1.21 5 Bangunan 5.04 1.31 48.21 0.79 3.35 9 Jasa-jasa 3.53 2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   pertambangan  dan  penggalian  terhadap  PDRB  menurun.55 3.36 43.22 0.81 3.13.87 4 Listrik.13 serta gambar 2. Hotel dan Restoran 0.25 2.34 6.  baik  Atas  Dasar  Harga  Berlaku (ADHB) maupun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).47 7.58 3.22 2.50 24.27 6 Perdagangan.85 21.94 3.55 2.16 1.97 1.91 9 Jasa-jasa 50.60 3.90 20.31 7 Pengangkutan & Komunikasi 0.15 -20.85 48.    Pertumbuhan No SEKTOR HB HK % % 1 Pertanian 11.    Kondisi  pertumbuhan  kontribusi  sektor  perekonomian  Bangka  Selatan  dapat  juga  dilihat pada tabel 2.98 4 Listrik.   Pertumbuhan  Kontribusi  (%)  Sektor  dalam  PDRB  Tahun  2005  s.16 13.69 43.29 0.11 13.27 4.21 0.      Sementara itu sektor sekunder yaitu Bangunan dan sektor tersier yaitu Perdagangan.66 26.45 2.55 2.56 8 Keuangan.12 8 Keuangan.05 18.52 5.22 2.03 7.64 -6.94 31.12 1.86 2.d  2009  Atas  Dasar  Harga  Berlaku  (ADHB)  dan  Atas  Dasar  Harga  Konstan.12 14.69 3.04 5 Bangunan 22.18 40.17 13.25 0.

& RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEUANGAN.00 20.00 2005 2006 2007 2008 2009 PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.00 Jutaan Rupiah 40.8. HOTEL.00 45.00 40.00 10.00 Persentase 30.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.14 serta gambar 2.00 35.SEWA.   Pertumbuhan  Kontribusi  (%)  setiap  Sektor  dalam  PDRB  ADHB  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009    50.10 berikut ini.00 25. & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAGANGAN.00 5.SEWA.00 0. GAS.00 20.00 2005 2006 2007 2008 2009 PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.   II-18 . & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA       Gambar 2.00 30. & RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEUANGAN. HOTEL.  maka  dapat  dilihat  PDRB  per  Kecamatan  baik  secara  ADHB  maupun  ADHK  seperti  terlihat pada tabel 2.00 0.9 dan 2.00 10. & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAGANGAN. & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA       PDRB  Kabupaten  Bangka  Selatan  jika  dirinci  lagi  berdasarkan  kecamatan  yang  ada.00 15.7.   Pertumbuhan  Kontribusi  (%)  setiap  Sektor  dalam  PDRB  ADHK  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009    60.00 50. GAS.

9.222 154.175 219.980 524.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.013 132.164 147.505 5 Lepar Pongok 123.802 65.579 262.152 3 Payung 171.983 326.206 117.440 6 Tukak Sadai 94.   Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  dan  ADHK.066 718.455 304.629 141.627 522.454 62.749 2 Air Gegas 344.486 70.309   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009        Gambar 2.000 Lepar Pongok 200.774 101.781 168.660 283.601 183.773 61.093 233.503 380.230 343.785 4 Simpang Rimba 208.637 7 Pulau Besar 79.056 585.993 58.918 134.000 Toboali 700.459 99.197 270.000 Simpang 400.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kabupaten Bangka Selatan per Kecamatan  Tahun 2005‐2009  800.790 143.192 122.000 Pulau Besar - 2005 2006 2007 2008 2009             II-19 .258 83.000 Air Gegas 600.698 312.000 Payung 500.758 424.805 249.393 271.815 156.606 138.575 199.255 66.  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2005 ‐2009    2005 2006 2007 2008 2009 No Kecamatan ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK ADHB ADHK 1 Toboali 472.219 95.754 126.000 Rimba 300.381 360.755 73.567 252.131 672.763 259.14.000 Tukak Sadai 100.179 116.297 488.853 161.373 104.565 90.343 143.363 195.555 56.368 374.555 327.830 127.304 295.938 67.152 91.873 137.031 63.610 87.

132 1.60 Listrik.93   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009   II-20 .818 45.250 4.577 179.292 0.95 60.083 191.198 1. kemudian disusul oleh Air Gegas diposisi kedua dan Simpang Rimba  diposisi ketiga.10  dapat  disimpulkan  bahwa  Ke‐ camatan Toboali merupakan kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan yang memiliki  PDRB terbesar. Hotel 127.56 56.54 Penggalian Industri Pengolahan 17.156 201.18 14.498 6.796 7.15.10.090 24.000 Pulau Besar - 2005 2006 2007 2008 2009   Berdasarkan  tabel  2.000 Simpang 200.260 28.676 22.58 Pertambangan & 134.    Tabel 2.212 1.908 5.560 3.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Toboali Tahun                       2005 – 2009    % Tahun Pertumbuhan Toboali 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 125.064 33.000 Lepar Pongok 100. Gas dan Air 1.21 dan Restoran Pengangkutan & 4.9  dan  2.15  berikut ini.105 23.000 Air Gegas 300.987 167.06 54.943 28.54 25.554 31.513 166.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHK Kabupaten Bangka Selatan per  Kecamatan Tahun 2005‐2009  400.409 152.058 155.534 21.000 Toboali 350.643 141.380 6.717 140.156 218.644 25.33 81.35 56.657 19.000 Tukak Sadai 50.985 6. Sewa dan 16.    Jika PDRB ADHB Kecamatan dirinci lagi berdasarkan sektor perekonomian di masing‐ masing  kecamatan.48 Perdagangan.56 Jasa Perusahaan Jasa-jasa 19.13 Bersih Bangunan 25.14  serta  gambar  2.002 30.69 52.35 71.332 144.937 39.913 22.326 18.700 26.000 Payung 250.000 Rimba 150.146 1.357 3.  maka  kontribusi  masing‐masing  sektor  terlihat  pada  tabel  2.42 Komunikasi Keuangan.998 25.070 30.130 23.887 169.579 1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.

Sewa dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009         Berdasarkan  tabel  2. Kluster pertama adalah sektor yang sangat  besar memberikan  kontribusi terhadap PDRB Kecamatan Air Gegas (42. 26.  52.54%.000 Pertanian Pertambangan & Penggalian 200. hotel dan restoran.  terlihat  bahwa  di  kecamatan  Toboali  ter‐ dapat  2  kluster  sektor  perekonomian  yang  memberikan  kontribusi  pada  PDRB  kecamatan  Toboali.  Sewa  dan  Jasa  Perusahaan  (56.    Berdasarkan  tabel  2.54%.69% dan 23.000 Perdagangan.000 Listrik.11.12.  Kluster  pertama  adalah  sektor  yang  dominan  (besar)  memberikan kontribusi terhadap PDRB yaitu sektor perdagangan.  walaupun  dalam  kurun  waktu 5 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan positif yang cukup besar. Hotel dan Restoran Pengangkutan & Komunikasi 50.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.42%).  Keuangan.56%)  dan  Pengangkutan  dan  Komunikasi  (54.60%).  sektor  pertanian  dan  sektor  pertambangan  dan  penggalian. antara  lain  sektor  Bangunan  (81.  Grafik Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan  Toboali Tahun 2005‐ 2009    250.21%.  Ketiga  sektor  ini  dalam  kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan positif yang cukup besar. Gas dan Air Bersih Bangunan 100.000 Keuangan.  masing‐masing  sebesar  71.  terlihat  bahwa  di  kecamatan  Air  Gegas  terdapat  3  kluster  sektor  perekonomian  yang  memberikan  kontribusi  pada  PDRB  kecamatan Air Gegas.35%.64%).11.15  dan  gambar  2.  Jasa‐jasa  (56.            II-21 .93%).16  dan  gambar  2.48%).  Industri  Pengolahan  (60.  yaitu sektor Pertanian.95%) dan dalam kurun waktu 5  tahun  terakhir  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  juga  sangat  besar  (50.000 Industri Pengolahan 150.  Terakhir  pada  tahun  2009  ketiga sektor ini memberikan kontribusi terhadap PDRB Kecamatan Toboali masing‐ masing sebesar 30.58%  dan  25.     Sedangkan  kluster  kedua  terdiri  dari  6  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  terhadap  perekonomian  Kecamatan  Toboali.

385 7.487 88.      Kluster  ketiga  adalah  6  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  terhadap  perekonomian  Kecamatan  Air  Gegas  (berkisar  1  –  6%). Kedua sektor pada kluster ini  juga  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.  Grafik Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Air Gegas                          Tahun 2005‐2009    250.798 85.  walaupun  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  terdapat  banyak  sektor  yang  menunjukkan   II-22 .64 Pertambangan & Penggalian 88.22 Industri Pengolahan 4.000 Pertanian Pertambangan & Penggalian 200.17 70.557 21.884 182.699 207.291 8.858 12.000 Keuangan.586 224.143 2.17%).000 Industri Pengolahan 150.44 Perdagangan.270 28.192 12.55 27.905 167.501 24.874 0.  masing‐masing  sebesar  27.055 0.628 14.854 98.963 3.95 73.369 4. Sewa dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009       Kluster  kedua  adalah  sektor  yang  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  secara  moderat (sedang‐sedang saja).61 70.20 15.623 6.598 4.39 Keuangan.55%).868 73.11 Listrik. Sewa dan Jasa Perusahaan 9.90 59.829 110.95 50.035 102. Hotel dan Restoran Pengangkutan & Komunikasi 50.43%.000 Perdagangan.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Air Gegas Tahun                            2005 – 2009    % Tahun Pertumbuhan Air Gegas 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 148. Gas dan Air Bersih 917 946 955 904 1.512 10. Gas dan Air Bersih Bangunan 100. yaitu sektor pertambangan dan penggalian (21. hotel dan restoran (21.430 14.938 5.097 5.400 1.668 112.529 110.717 2.05 Bangunan 17.336 10.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.93 79.930 21.20 Jasa-jasa 6.22% dan 70.531 8.43 Pengangkutan & Komunikasi 2.  dan sektor perdagangan.000 Listrik.287 2.12.317 42.209 15.74 118.76   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009      Gambar 2.16. Hotel dan Restoran 64.476 31.574 21.

499 54.50   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009    Gambar 2.90 74.  Bangunan  (73.857 6.  Industri  Pengolahan  (70.879 45.637 8.938 121.920 2.626 4.69 Listrik.46 72.126 10.963 45.248 49.892 18.529 6.39%).229 2.773 90. Hotel dan Restoran 28.944 12.331 8.41 Pengangkutan & Komunikasi 1. Keuangan.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Payung Tahun 2005  – 2009  % Tahun Pertumbuhan Payung 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 79.000 Bangunan 60.514 15.046 20.296 99.000 Pertambangan & Penggalian 100.630 43.914 3.17.230 8. Hotel dan Restoran 40.44%).071 2.305 113.661 48.14 (4. Sewa dan Jasa Perusahaan 5.92 60.000 Industri Pengolahan Listrik.395 2.000 Keuangan.938 32.314 7.245 55.30 98.167 11.79 Perdagangan.951 5.11%).    Tabel 2.000 Perdagangan.30 61.549 1.  Grafik Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan  Payung Tahun 2005‐ 2009    140.51 70.  Pengangkutan  dan  Komunikasi  (79. Gas dan Air Bersih 395 416 386 334 378 0.22 Jasa-jasa 5.136 3.354 14.13.28 Industri Pengolahan 2.76%).30) Bangunan 9.153 10.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.750 3.36 46.000 Pertanian 120.20%).600 4. Gas dan Air Bersih 80. Sewa dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009     II-23 .  antara  lain  sektor  Jasa‐jasa  (118.485 0.43 Keuangan.892 37.088 1.000 Pengangkutan & Komunikasi 20.89 Pertambangan & Penggalian 37. Sewa dan Jasa Perusahaan (59.11 52.

448 23.323 2.  Pengangkutan dan Komunikasi (60.09 70.13 Pertambangan & Penggalian 44. Kedua sektor pada kluster ini  juga  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.69%).581 45.      Kluster  ketiga  adalah  6  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  ter‐ hadap  perekonomian  Kecamatan  Payung  (berkisar  1  –  6%). antara lain sektor Jasa‐jasa (98.274 53. yaitu sektor pertambangan dan penggalian (20.08 Perdagangan.  dan sektor perdagangan.16 63.  yaitu  sektor  Pertanian.595 7.754 53.43%).419 2.690 6.881 75.46%).933 2.487 136.41%.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Berdasarkan tabel 2.  Sewa  dan  Jasa  Perusahaan  (61.14.  masing‐masing  sebesar  46.467 103.728 1.121 2.18.79%).207 44.550 8.710 10.861 48. Sewa dan Jasa Perusahaan 5.  walaupun  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  terdapat  banyak  sektor  yang  menunjukkan  pertumbuhan  positif yang cukup besar.06   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009      Berdasarkan tabel 2.06 Keuangan.264 8. Bangunan (74.49 21.244 50.414 8.072 5.616 116.777 6.  Kluster  pertama  adalah  sektor  yang  sangat  besar  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB Kecamatan Simpang Rimba (45.  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Simpang  Rimba  Tahun 2005 – 2009    % Tahun Pertumbuhan Simpang Rimba 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 90.16%) dan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir  menunjukan  pertumbuhan  positif  yang  juga  sangat  besar  (63.89%).076 13.415 7.13.937 69.11%)  dan  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  menunjukkan  pertumbuhan  positif yang juga sangat besar (52.  Industri  Pengolahan  (70.17 dan gambar 2.  Keuangan.  Kluster  pertama  adalah  sektor yang sangat besar memberikan kontribusi terhadap PDRB Kecamatan Payung  (45.411 7.94) Bangunan 10.302 57. di kecamatan Simpang Rimba juga terdapat 3 kluster sektor  perekonomian  yang  memberikan  kontribusi  pada  PDRB  kecamatan  Simpang  Rimba. hotel dan restoran (18. terlihat bahwa di kecamatan Payung sama  dengan  pola  yang  ada  di  Air  Gegas.22%).873 16.82 59.997 17.53 Pengangkutan & Komunikasi 1.070 12.743 3.50%).         II-24 . yaitu sektor Pertanian. terlihat bahwa sama seperti pola yang ada  di Air Gegas dan Payung.      Kluster  kedua  adalah  sektor  yang  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  secara  moderat (sedang‐sedang saja). Gas dan Air Bersih 649 677 620 528 591 0.36%).632 9.585 147.30 72.79 50.28% dan 72.87 Industri Pengolahan 5.59 83. Hotel dan Restoran 44.18 dan gambar 2.58 65.13%).632 15.205 2.18 (8.369 11.328 5.593 0.      Tabel 2.34 Jasa-jasa 6.99 Listrik.  terdapat  3  kluster  sektor  perekonomian  yang  memberikan  kontribusi  pada  PDRB  kecamatan  Payung.

06%).      Kluster  ketiga  adalah  6  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  terhadap  perekonomian  Kecamatan  Simpang  Rimba  (berkisar  1  –  6%).  Bangunan  (72.06%).  Industri  Pengolahan  (65. Pengangkutan dan Komunikasi (50. yaitu sektor Pertanian.19 dan gambar 2.000 Listrik.  Keuangan.  Sewa  dan  Jasa  Perusahaan (59.  Pertumbuhan Nilai (Rp) PDRB ADHB Kecamatan Simpang Rimba Tahun 2005‐ 2009    160.    Berdasarkan tabel 2. terlihat bahwa di kecamatan Lepar Pongok  juga terdapat 3 kluster sektor perekonomian yang memberikan kontribusi pada PDRB  kecamatan  Lepar  Pongok.  Kluster  pertama  adalah  sektor  yang  sangat  besar  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  Kecamatan  Lepar  Pongok  (61.000 Industri Pengolahan 100.  hotel  dan  restoran  memiliki  angka  pertumbuhan  sebesar  70.87%.  yaitu  sektor  perdagangan.000 Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009         Kluster  kedua  adalah  sektor  yang  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  secara  moderat  (sedang‐sedang  saja).000 Pertanian 140.000 Bangunan 60.15.  hotel  dan  restoran  (23.  namun  sedikit  berbeda  dengan  pola  yang  tedapat  pada  kecamatan  lainnya.  Kedua  sektor  pada  kluster  ini  juga  menunjukkan perbedaan angka pertumbuhan yang cukup besar. sektor perdagangan.58%).99%).000 Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.000 Pertambangan & Penggalian 120.54%)  dan  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  juga  sangat  besar  (56.14.  antara  lain  sektor  Jasa‐jasa  (83.000 Perdagangan.      II-25 .49%)  hanya  menempati  posisi  ketiga. Gas dan Air Bersih 80. Hotel dan Restoran 40.  namun  ada  sedikit  perbedaan  dengan  2  kecamatan  sebelumnya.08%).  sedangkan  sektor  pertambangan dan penggalian hanya sebesar 21.09%)  menempati  posisi  kedua  setelah  sektor  pertanian  sebagai  kontributor  terbesar  terhadap  PDRB  Kecamatan  Simpang  Rimba. Sewa dan Jasa 20.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.34%).  sedangkan  sektor  pertambangan  dan  penggalian  (16.53%.  walaupun  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  terdapat  banyak  sektor  yang  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.

13 Industri Pengolahan 3.955 4.11 35.000 Pengangkutan & Komunikasi 20.70 Pengangkutan & Komunikasi 1.  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Lepar  Pongok  Tahun  2005  –  2009    % Tahun Pertumbuhan Lepar pongok 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 78.840 4.738 61.385 113.12 77.020 5.030 6.487 97.083 4.000 Pertambangan & Penggalian 100.813 6.     Kluster  ketiga  adalah  7  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  ter‐ hadap  perekonomian  Kecamatan  Lepar  Pongok  (berkisar  1  –  6%).139 3.  Angka  pertumbuhan  sektor  ini  dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebesar 77.391 5. Hotel dan Restoran 40.  walaupun  dalam   II-26 .39 82. yaitu  sek‐tor  perdagangan.079 2.222 21. Hotel dan Restoran 19.367 3.  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Lepar  Pongok  Tahun  2005‐ 2009  140.456 2.820 2.220 8.12%  terhadap  PDRB  kecamatan  Lepar  Pongok.119 2.000 Perdagangan.514 1.056 9.66 Bangunan 5. Kondisi ini cukup memberikan  harapan  bagi  pertumbuhan  ekonomi  Lepar  Pongok  untuk  kurun  waktu  5  tahun  mendatang.189 5.70%.458 2. Gas dan Air Bersih 80.000 Bangunan 60.514 3.763 1.971 7.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2. Gas dan Air Bersih 82 93 85 74 85 0.58 Pertambangan & Penggalian 7.007 9.568 34.46 Perdagangan.804 10.54 56.920 8.465 5.  hotel  dan  restoran  yang  memberikan  kontribusi  sebesar  17.19.74 62.389 86.557 122.014 10.15.000 Industri Pengolahan Listrik. namun pada kluster ini hanya terdapat 1 sektor.000 Keuangan.157 17.04 Jasa-jasa 4.50 Keuangan.324 30.55 61.909 4.97 70.80 Listrik. Sewa dan Jasa Perusahaan 3.55 116.540 7. Sewa dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009     Kluster  kedua  adalah  sektor  yang  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  secara  moderat (sedang‐sedang saja).04 3.935 25.67   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009      Gambar 2.869 9.192 5.000 Pertanian 120.

000 Industri Pengolahan 30.148 3. Sewa dan Jasa 5.268 3.418 28.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   kurun  waktu  5  tahun  terakhir  terdapat  banyak  sektor  yang  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.31 56.510 5.  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Tukak  Sadai  Tahun  2005  –  2009    % Tahun Pertumbuhan Tukak Sadai 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 25.89 27.956 8.16.000 Keuangan.  Pengangkutan  dan  Komunikasi  (82.000 Pertambangan & Penggalian 40. Hotel dan Restoran 25.948 33.790 7.132 31.623 3.23 Industri Pengolahan 3.753 34. dan Industri Pengolahan (61.  Bangunan  (70.91 59.56 Keuangan.552 33.199 4.67%).  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Tukak  Sadai  Tahun  2005‐ 2009  50.98 Pertambangan & Penggalian 26.965 4.20  dan  gambar  2.14 Perdagangan.    Tabel 2.90 Pengangkutan & Komunikasi 978 1.193 1.50%).000 Listrik.411 4.68 52.53 Jasa-jasa 3.492 1.61 Listrik.928 4.80%).439 30.22 70.14 76.011 6.349 1.114 43.814 5.032 5.709 4.828 6.632 6.012 6.58 57.068 28.272 1.04%).000 Perdagangan.523 3.000 Restoran Pengangkutan & Komunikasi 10.132 30. Hotel dan 15.16. Gas dan Air Bersih 226 239 263 288 330 0.46%).  Sewa  dan  Jasa Perusahaan (62.000 Bangunan 20.225 4.02 Bangunan 5. Gas dan Air Bersih 25.  Keuangan.023 35.000 Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009   Berdasarkan  tabel  2.993 5.370 40.996 28.04 52.20.23 46.34   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009      Gambar 2.  terlihat  bahwa  pola  pertumbuhan  sektor  perekonomian  di kecamatan  Tukak  Sadai hampir  sama  dengan  pola  di  kecamatan     II-27 . Sewa dan Jasa Perusahaan 3.000 Pertanian 45.348 26.348 23.587 38.000 35.  antara  lain  sektor  Jasa‐jasa  (116.

21  dan  gambar  2.98% dan 27. (2) Sektor Pertambangan dan Penggalian serta (3)  Sektor Perdagangan.06%).  Jasa‐jasa  (56. hotel dan restoran.23%.    Berdasarkan  uraian  tentang  PDRB  setiap  kecamatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  dapat disimpulkan bahwa perekonomian Kabupaten Bangka Selatan ditopang oleh 3  sektor.    Kluster  pertama  adalah  sektor  yang  dominan  (besar)  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  yaitu  sektor  perdagangan.  walaupun  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  terdapat  banyak  sektor  yang  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.  Ketiga sektor  ini  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup besar.    Kecamatan  terakhir  yang  dibahas  adalah  Kecamatan  Pulau  Besar.  Sedangkan  kluster  kedua  terdiri  dari  6  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  terhadap  perekonomian  Kecamatan  Tukak  Sadai.  sedangkan  sektor  pertambangan  dan  penggalian  hanya  tumbuh  sebesar  21.08%).49% terhadap PDRB kecamatan Pulau Besar.  perekonomiannya  didomi‐nasi  oleh  3  sektor. Industri Pengolahan (59. yaitu (1) Sektor Pertanian.34%). Keuangan. 26.02%). Kluster pertama adalah sektor yang sangat besar memberikan kontribusi  terhadap  PDRB  Kecamatan  Pulau  Besar  (45.     Terakhir  pada  tahun  2009  ketiga  sektor  ini  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  Kecamatan Toboali masing‐masing sebesar 30.17%)  dan  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  menun‐jukkan  pertumbuhan  positif  yang  juga  sangat  besar  (54.  perekonomian  kecamatan  Pulau  Besar  dapat  dibagi  ke  dalam  3  kluster  berdasarkan  kontribusi  terhadap  PDRB  kecamatan  Pulau Besar.  Sewa  dan  Jasa  Perusahaan (59.61%).  hotel  dan  restoran  yang  memberikan  kontribusi  sebesar  23.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Toboali.  Angka pertumbuhan kedua sektor ini dalam kurun waktu 5 tahun terakhir juga cukup  besar. Dua sektor yang pertama merupakan sektor  primer sedangkan satu lagi sektor tersier perekonomian Kabupaten Bangka Selatan.53%.99%).     Berdasarkan  tabel  2.  antara  lain  sektor Bangunan (76.87%.  walaupun  dalam  kurun  waktu  5  tahun  terakhir  menunjukkan  pertumbuhan  positif  yang  cukup  besar.  yaitu  sektor  perdagangan.17.89%.  masing‐masing  2  sektor  yang  tergolong  dalam  sektor  primer yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. 52.56%).  hotel  dan  restoran.14%).  yaitu  sektor Pertanian.  Keuangan.68% dan 23.22%. dan Pengangkutan dan Komunikasi (50.  terutama  sektor  perdagangan. Hotel dan Restoran.06%). masing‐masing sebesar 70.  antara  lain  sektor  Jasa‐jasa  (83.53%).  Bangunan  (72.90%. dan 1 sektor  yang tergolong dalam sektor tersier yaitu sektor perdagangan. Sewa dan Jasa  Perusahaan  (57.    Kluster  ketiga  adalah  6  sektor  lainnya  yang  memberikan  kontribusi  relatif  kecil  ter‐ hadap  perekonomian  Kecamatan  Pulau  Besar  (berkisar  1  –  6%).  hotel  dan  restoran  yang  tumbuh  sebesar  70.  Industri  Pengolahan  (65.    Kluster  kedua  adalah  sektor  yang  memberikan  kontribusi  terhadap  PDRB  secara  moderat  (sedang‐sedang  saja).34%).       II-28 . dimana di kedua kecamatan ini terdapat 2 kluster sektor perekonomian yang  memberikan  kontribusi  pada  PDRB.  dan  Pengangkutan  dan  Komunikasi  (52.09%  dan  sektor  pertambangan  dan  penggalian  yang memberikan kontribusi sebesar 16. sektor per‐tanian dan sektor pertambangan dan penggalian.  Sama  seperti  kecamatan‐kecamatan  lainnya  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.

542 20.18 23.    LPE  Kabupaten  Bangka  Selatan  periode    tahun  2005  –  2009  mengalami pertum‐buhan yang positif.245 5.47 Keuangan.672 1.30 Listrik.779 4.865 4.50 Bangunan 4.575 2.  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Pulau  Besar  Tahun  2005  ‐ 2009  60. Gas dan Air Bersih 30.171 3. Sewa dan Jasa Perusahaan 2. seperti tersaji pada gambar 2.027 41.11 Perdagangan.896 46.17.000 Listrik.000 Restoran Pengangkutan & Komunikasi 10.85 74.000 Keuangan.18.30 61.000 Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan 40.98 Jasa-jasa 2.940 3.91 59.07 Pengangkutan & Komunikasi 718 891 961 1.750 6.592 21.527 18.52 72.  Pertumbuhan  Nilai  (Rp)  PDRB  ADHB  Kecamatan  Pulau  Besar  Tahun  2005  –  2009    % Tahun Pertumbuhan Pulau Besar 2005 2006 2007 2008 2009 2009 2005-2009 Pertanian 37.069 52.18 45.479 20.90   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha 7 Kecamatan di Bangka Selatan Tahun 2009      Gambar 2.051 25.000 Pertanian 50. Sewa dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa - 2005 2006 2007 2008 2009       Selain  pertumbuhan  PDRB.145 0.      II-29 .031 1.750 7.63 75.648 5.000 Bangunan Perdagangan.  ukuran  keberhasilan  kinerja  pembangunan  ekonomi  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  juga  diukur  dari  Laju  Pertumbuhan  Ekonomi  (LPE).   Peningkatan  Laju  Pertumbuhan  PDRB  berimplikasi  terhadap  kondisi  perekonomian  Kabupaten Bangka Selatan secara makro yang ditunjukan dengan Laju Pertumbuhan  Ekonomi  (LPE). Hotel dan 20.736 57.916 1.091 5. Hotel dan Restoran 13.112 1.17 54.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.439 15.457 1.21.25 Industri Pengolahan 1.351 22.714 3.371 4.601 25.368 3.278 17.391 5. Gas dan Air Bersih 183 193 196 198 226 0.277 1.02 Pertambangan & Penggalian 17.25 97.080 23.076 3.029 45.

  Pertumbuhan  positif  terjadi  hampir  pada  seluruh  sektor.18.11  persen.  Hal  ini  dikarenakan  kurang  kondusifnya  sektor  pertambangan pada tahun tersebut baik dari segi produksi maupun harga komoditas  pertambangan  (timah).  baik  dilihat  dari  karakteristik  sektor  yang  bersangkutan  maupun  karena  adanya  dukungan  kebijakan  dari  pemerintah  daerah.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.    Perekonomian  Bangka  Selatan  di  tahun  2009  tumbuh  sebesar  3.  kontribusi terhadap PDRB.  Sektor  Potensial  adalah  sektor  yang  memperlihatkan  keunggulan‐keunggulan  dilihat  dari  pertum‐buhan  ekonomi.  Sektor  ekonomi  yang  termasuk  dalam  kategori  ini  adalah  perdagangan. namun  memiliki  peluang  untuk  berkembang. pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangka Selatan selalu  tumbuh  (bernilai  positif)  dengan  pertumbuhan  yang  berfluktuasi  di  atas  3  persen.  Kabu‐ paten  Bangka  Selatan  mempunyai  sektor  potensial  dan  sektor  prospektif.   LPE Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009      Selama lima tahun terakhir.19 berikut ini. maka dikhawatirkan suatu saat LPE Bangka Selatan akan  negatif.    Pertum‐buhan  setiap  sektor  perekonomian  Bangka  Selatan  tahun 2009 tersaji pada gambar 2.  LPE  dan  penyerapan  tenaga  kerja.  artinya  persentase  pertumbuhan  ekonomi  Bangka  Selatan  dalam  3  (tiga)  tahun  terakhir  semakin  mengecil.  hotel  dan  restoran. serta penyerapan tenaga kerja yang masih rendah.         II-30 .    Berdasarkan  kontribusi  terhadap  PDRB. perlu diwaspadai trend pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangka  Selatan  dalam  3  (tiga)  tahun  terakhir  mengarah  ke  bawah.  Sektor  yang  termasuk  dalam  kelompok  ini  adalah  bangunan dan jasa‐jasa.     Sedangkan  sektor  prospektif  adalah  sektor  yang  memperlihatkan  pertumbuhan.  kontribusi  sektor  dalam  pembentukan  PDRB  serta  daya  serapnya  terhadap  tenaga  kerja.35  persen.  kecuali  sektor  pertambangan  yang  mengalami  perlambatan  ekonomi  (pertumbuhan  negatif)  sebesar  minus  2.   Namun demikian.9  persen  dengan  sumber  pertumbuhan  riil  (source  of  growth)  pada  sektor  konstruksi  yang  tumbuh  sebesar  10.    Jika  tidak  ada  upaya  yang  serius  untuk  membalikkan  trend  pertumbuhan  ekonomi mengarah ke atas.

      Gambar 2.  yaitu pertanian yang semakin menurun dan diringi dengan meningkatnya kontribusi  sektor  sekunder  dan  tersier  dari  tahun  ke  tahun.19. inflasi domestik yang tinggi menyebabkan tingkat jasa riil terhadap aset finansial  domestik  menjadi  lebih  rendah  (bahkan  seringkali  negatif).   Pertumbuhan Setiap Sektor Perekonomian Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009      Disamping  PDRB  dan  LPE.  antara lain :  a.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2. Laju inflasi Kabupaten Bangka Selatan   Ada  beberapa  hal  yang  menyebabkan  masalah  inflasi  ini  menjadi  hal  yang  penting.  sehingga  dapat    II-31 .  untuk  mengukur  kemajuan  dan  keberhasilan  pembangunan  ekonomi  suatu  daerah.20.  Kondisi  ini  mengindikasikan  terjadinya transformasi struktural pada perekonomian Kabupaten Bangka Selatan.    B.  maka  perlu  diamati  pula  struktur  ekonomi  daerah  tersebut.  Struktur  perekonomian  Kabupaten  Bangka Selatan tersaji pada gambar 2.20 menunjukkan kontribusi sektor primer perekonomian Bangka  Selatan.   Struktur Ekonomi Kabupaten Bangka Selatan 2005 – 2009      Gambar 2.  Struktur  perekonomian  dapat  dilihat  dari  kontribusi  (share)  dari  sektor‐sektor  ekonomi  terhadap  PDRB  ADHB.20.

24%).57 0 2005 2006 2007 2008 2009       Nilai  inflasi  sangat  dipengaruhi  oleh  kondisi  perekonomian  nasional. hal ini  disebabkan oleh meningkatnya laju inflasi pada sektor pertanian (meningkat sebesar  71.68  pada tahun 2007 menjadi 14.      Gambar 2. inflasi  dapat  menyebabkan  daya  saing  barang  ekspor  berkurang  dan  dapat  menimbulkan defisit dalam transaksi berjalan dan sekaligus dapat meningkatkan  utang luar negeri.15 pada tahun 2008 (meningkat sebesar 84.66%).21 berikut ini.  Oleh  karena  itu  untuk   II-32 .exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   mengganggu  mobilisasi dana domestik  dan bahkan  dapat mengurangi tabungan  domestik yang menjadi sumber dana investasi.62 7.15 14 12 10 8. inflasi yang tinggi akan dapat menyebabkan kenaikan tingkat bunga nominal yang  dapat  mengganggu  tingkat  investasi  yang  dibutuhkan  untuk  memacu  tingkat  pertumbuhan ekonomi tertentu.68 6 4 2 1. sebagai contoh: pada  tahun  2006  terjadi  kenaikan  inflasi  yang  dipicu  oleh  adanya  kenaikan  inflasi  pada  sektor Industri Pengolahan. hotel & restoran (meningkat sebesar 121.  pertambangan  dan  penggalian  (meningkat  sebesar  141.  d.  e. Laju Inflasi Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009    16 14.21. inflasi  dapat  memperburuk  distribusi  pendapatan  dengan  terjadinya  transfer  sumber  daya  dari  konsumen  dan  golongan  berpenghasilan  tetap  kepada  pro‐ dusen.    Inflasi  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  diukur  berdasarkan  jumlah  produksi  barang/  jasa di Kabupaten Bangka Selatan seperti gambar 2.89%)  dan  perdagangan.5%). inflasi  yang  tinggi  dapat  mendorong  terjadinya  pelarian  modal  ke  luar  negeri/  daerah.69 8 7.  Kebijakan  otoritas fiskal dan moneter serta kebijakan pemerintah lainnya.   c.  b. Pada tahun 2008 terjadi peningkatan laju inflasi dari 7.   Sektor Pertanian dan sektor Pertambangan dan Penggalian merupakan sektor primer  (leading  sector)  perekonomian  Kabupaten  Bangka  Selatan.

85 15 13.12 4.46 20 18.38 8.13 5.46 8.69 5.10 3.   Perkembangan  PDRB  per  kapita  serta  laju  pertumbuhan  PDRB  per  kapita Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada tabel 2. HOTEL & RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI KEUANGAN.68 6.    C.58 7.86 2.05 8.86 4.07 25 24.60 2005 2006 2007 2008 2009 -5 PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK.10 10 9.20 0.12 11.40 6.73 8.87 11.86 8.33 13.  Inflasi  yang  terlalu  kecil  juga  memberikan  dampak  yang  kurang  baik  pula  terhadap  peningkatan  nilai  tambah bruto.37 6.26 2.22.46 4. PDRB per Kapita  PDRB  per  kapita  merupakan  salah  satu  indikator  makro  yang  sering  digunakan  sebagai indikator dalam mengukur tingkat kemakmuran penduduk secara agregat di  suatu  wilayah.17 5. perlu memperhatikan laju inflasi kedua sektor  ini.83 6.46 14.03 7.16 0 -1.93 12.42 10. GAS & AIR BERSIH BANGUNAN PERDAGANGAN.26 6.21 dan gambar 2.68 9.79 5 6.  sehingga  harga‐harga  barang  dan  jasa  bergerak  naik.  Namun  demikian  perlu  dipertimbangkan  juga  bahwa  kenaikan  inflasi  merupakan  konsekuensi  terhadap  turunnya  supply  (agregat  barang  dan  jasa)  dan  naiknya  demand.      Gambar 2.85 11.33 20.15 7.    II-33 . yaitu kenaikan Tarif Dasar  Listrik  (TDL)  dan  penyesuaian  harga  BBM  terhadap  harga  internasional.93 8.23. SEWA & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA       Dalam  tahun  2005  –  2025  diharapkan  tidak  terjadi  lagi  policy  shock  meskipun  ada  beberapa potensi yang diperkirakan akan memicu inflasi.13 4.  Laju Inflasi Sektoral Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009    30 26.99 8.20 1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   menjaga laju inflasi 5 tahun ke depan.

916 153.055.266.398.709.924.111.268 288.938.684 14.584 370.123 301.23.844 359.290 3 PDRB ATAS DASAR HARGA PASAR (JUTA Rp) 1.623.888 14.038 1.671 4 PAJAK TIDAK LANGSUNG NETO (JUTA Rp) 233.300 1.270.590 330.778 11.584 301.931 161.    No DESKRIPSI SATUAN 2005 2006 2007 2008 2009 1 PDRB ADHB (JUTA Rp) 1.14  juta  rupiah  di  tahun  2005  hingga  mencapai  14.854 2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Tabel 2.997.425.22.282 5 PENDAPATAN REGIONAL (JUTA Rp) 1. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan total nilai  tambah  secara  signifikan  masih  mampu  sejalan  dengan  peningkatan  jumlah  penduduk  sehingga  dapat  diinterpretasikan  perekonomian  penduduk  Kabupaten  Bangka Selatan semakin membaik (dengan asumsi kesenjangan/disparitas mendekati  nol atau dalam artian pendapatan penduduk merata).106.344.736 12.16 persen.826 1.509.298.338 1.317 1.808 7.696.017 263.748 1.170.961 2 PENYUSUTAN (JUTA Rp) 243.874 158.433.  Pertumbuhan  PDRB  per  kapita  selalu  tumbuh  positif  dengan  pertumbuhan  terakhir sebesar 4. PDRB perkapita Kabupaten Bangka Selatan terus tumbuh  dari  10.  PDRB per Kapita dan Laju Pertumbuhan PDRB per Kapita Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005 – 2009        Selama lima tahun terakhir.270 2.200 7 PDRB PER KAPITA (Rp) 10.883 10.86  juta  rupiah  di  tahun  2009.087 163.958 8 PENDAPATAN REGIONAL PER KAPITA (Rp) 6.394.138.033.647 1.543   Sumber : PDRB Menurut Lapangan Usaha Bangka Selatan Tahun 2009      Gambar 2.   II-34 .864.666.  PDRB  per  kapita  dan  Pendapatan  Regional  per  kapita  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009.334.510 275.426 1.827 8.922 2.607.389 6 JUMLAH PENDUDUK TENGAH TAHUN (JIWA) 148.286 10.915 1.

62%  99.  terutama  di  daerah  pedesaan  di  Indonesia  dimana  masih  tinggi  jumlah  penduduk  yang  tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD.  Sehingga  angka  melek  huruf  dapat  mencerminkan  potensi  perkembangan  intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.    Angka Melek Huruf (AMH) didapat dengan membagi jumlah penduduk usia 15 tahun  ke atas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah penduduk usia 15 tahun ke  atas.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     2. Angka Melek Huruf (AMH)  Angka  Melek  Huruf  (AMH)  adalah  persentase  penduduk  usia  15  tahun  ke  atas  yang  dapat  membaca  dan  menulis  huruf  latin  atau  lainnya  serta  mengerti  sebuah  kalimat  sederhana dalam kehidupan sehari‐hari.62% menjadi 99.  Angka Melek Huruf Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009    Capaian Tahun :  Indikator Kinerja  2005  2006  2007  2008  2009  Angka Melek Huruf  98.1.2.   • menunjukkan  kemampuan  untuk  berkomunikasi  secara  lisan  dan  tertulis.    Tabel 2.25%  Sumber : Dinas Pendidikan Kab.2 Kesejahteraan Sosial   Analisis  kinerja  atas  fokus  kesejahteraan  sosial  dilakukan  terhadap  indikator  angka  melek huruf.   AMH dapat digunakan untuk :    • mengukur  keberhasilan  program‐program  pemberantasan  buta  huruf. angka kelangsungan hidup bayi. Angka Melek Huruf (AMH) Kabupaten Bangka Selatan sudah sangat baik dan cenderung mengalami peningkatan.23.25% pada tahun 2008.   • menunjukkan  kemampuan  penduduk  di  suatu  wilayah  dalam  menyerap  informasi dari berbagai media. Salah satu penyebab hal yang  positif  ini  adalah  masyarakat  sangat  antusias  dalam  mengikuti  program  keaksaraan  fungsio‐nal yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. angka rata‐rata lama sekolah.25%  99. angka pendidikan  yang ditamatkan. angka partisipasi murni. Pendidikan    a.98%  99. Bangka Selatan. Meskipun demikian pada tahun 2008 AMH mengalami penurunan dari tahun 2007 sebesar 99. dan rasio penduduk yang bekerja.74% meningkat menjadi 99. angka usia  harapan hidup.   II-35 .    a.74%  98.25% pada tahun 2009.    Angka  Melek  Huruf  (AMH)  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  tahun  2005  sebesar  98. angka partisipasi kasar.

17 7 Pulau Besar masih bergabung kec Toboali 8.78 6 Tukak Sadai masih bergabung kec Toboali 8. Angka rata rata lama sekolah Lamanya sekolah (Years of Schooling) adalah sebuah angka yang menunjukkan lamanya bersekolah seseorang mulai dari masuk sekolah dasar (SD) sampai dengan Tingkat Pendidikan Terakhir (TPT).54 8.78 5 Lepar Pongok 6.25 8.30 2 Air Gegas 6.26 7.91 6.83 6.74 7. yaitu 6 tahun bersekolah di tingkat SD ditambah 2 tahun di SMP. maka orang tersebut memiliki jumlah tahun bersekolah sama dengan 8 tahun.25% 99.98% 99. Tabel 2.35 8. Gra�ik Angka Melek Huruf Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005-2009 Angka Melek Huruf 98.98 7. misalkan jika seseorang pendidikan tertingginya adalah SMP Kelas 2.49 8.66 7. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005-2009. Angka rata-rata lamanya bersekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Angka rata-rata lamanya bersekolah dapat dikonversikan langsung dari jenjang pendidikan dan kelas tertinggi yang pernah diduduki seseorang.66 3 Payung 7.33 artinya rata-rata penduduk wilayah tersebut bersekolah sampai 9 tahun 4 bulan atau tamat SLTP. danmasuk sekolah dasar di usia yang terlalu muda atau sebaliknya.24. No Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Toboali 8.2.22 8. sehingga nilai dari jumlah tahun bersekolah menjadi terlalu tinggi (kelebihan estimasi) atau bahkan terlalu rendah (under estimated).35 Kabupaten Bangka Selatan 7.69 6.31 8.37 Sumber : Dinas Pendidikan Kab.07 8.21 7.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2.70 6.46 7.84 7.25% 2005 2006 2007 2008 2009 a.85 6.74 7. putus sekolah kemudian melanjutkan kembali.49 7.62% 99.11 10.09 10.74% 98. Jika didapat rata-rata lamanya sekolah suatu daerah adalah 9.24.55 4 Simpang Rimba 7.14 8.02 6.65 7. Nilai rata-rata lamanya bersekolah yang besar menunjukkan tingginya tingkat pendidikan rata-rata penduduk di suatu daerah. namun jumlah tahun bersekolah ini tidak mengindahkan kasus-kasus tidak naik kelas. Bangka Selatan 2010 I  I-36 .

jika dibandingkan dengan APK (Angka Partisipasi Kasar). Tetapi.25 berikut ini.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   a. Pada tahun 2008 terjadi penertiban para penambang liar sehingga mereka balik kembali ke daerah asalnya. namun APM-nya justru semakin rendah.05% atau rata-rata sebesar 3. Berdasarkan kedua ang-ka ini terlihat bahwa APM SD/MI/SDLB/Paket A dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 5.03% Sumber : Dinas Pendidikan Kab.62% 93. Berdasarkan tabel 2. sedangkan pada tahun 2009 sebesar 88.03%. sedangkan pada tahun 2009 sebesar 61.   II-37 .42% 70. Kondisi yang sangat memprihatinkan terda- pat pada jenjang pendidikan SLTA.03% yang bersekolah di SLTA (SMA/MA/SMK/Paket C). Berdasarkan kedua angka ini terlihat bahwa APM SMP/MTs/Paket B dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 15. Bangka Selatan 2010 Secara rata-rata APM Kabupaten Bangka Selatan tahun 2005 – 2009 untuk kelompok umur 7 – 12 tahun (Usia Sekolah Dasar) rata-rata sebesar 91.85% 67. Penurunan ini disebabkan banyaknya siswa SD/MI yang pindah sekolah ke daerah asalnya karena banyak siswa SD/MI yang berasal dari masyarakat pendatang yang orang tuanya bekerja pada bidang pertambangan timah yang rata-rata penambang liar atau ilegal. Perkembangan APM Kabupaten Bangka Selatan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir tersaji pada tabel 2.79% 88. Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan kelompok usia pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk dari kelompok usia yang sama.40%. maka APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.29% 58.04%.76% per tahun.39% 29. sedangkan APK Kelompok umur 16 – 18 tahun (Usia Sekolah Menengah Atas) rata-rata sebesar 27.24%.40% 94.68%. APM merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jen- jang pendidikan. Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SD/MI/SDLB/Paket A pada tahun 2005 sebesar 93.25.83% 22.36% atau rata-rata sebesar 1.25 dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan.03%.17% 61.68% SMP/MTs/Paket B 46.89% 33.57% 88.56% 31.29%. APM untuk kelompok umur 13 – 15 tahun (Usia Sekolah Menengah Pertama) adalah rata-rata sebe-sar 58.47% 27. Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SMP/MTs/Paket B pada tahun 2005 sebesar 46.79% SMA/MA/SMK/Paket C 17.79%. Tabel 2. APM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 Capaian Tahun Tingkat Pendidikan Rata rata 2005 2006 2007 2008 2009 SD/MI/SDLB/Paket A 93. APM di suatu jenjang pendidikan didapat dengan membagi jumlah siswa atau penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut. APM menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu.3.04% 91.24% 48. dimana APM-nya sangat kecil sekali hanya sebesar 27. artinya penduduk kelompok umur 16 – 18 tahun (Usia Sekolah Menengah Atas) hanya 27.34% per tahun.

25 berikut ini. I  I-38 . tanpa memperhitungkan umur.25 berikut ini.25. APK didapat dengan membagi jumlah penduduk yang sedang bersekolah (atau jumlah siswa).39%. Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa.4. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. contoh: APK SD dihitung dengan cara menjumlahkan siswa yang duduk di bangku SD dibagi dengan jumlah penduduk kelompok usia 7 sampai 12 tahun.  sedangkan  pada  tahun  2009  sebesar  31.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Angka  Partisipasi  Murni  (APM)  jenjang  SMA/MA/SMK/Paket  C  pada  tahun  2005  sebesar  17. berapapun usianya yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. APM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009  a.08% atau rata‐rata sebesar 3.    Gambar 2.52% per  tahun.      Kondisi APM di Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada gambar 2. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.  Berdasarkan  kedua  angka ini terlihat bahwa APM SMA/MA/SMK/Paket C dari tahun 2005 sampai dengan  tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 14. pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut. Kondisi APK Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada tabel 2.47%.

terdiri satu TK Pembina Negeri dan 14 TK swasta. sedangkan APK Kelompok umur 16-18 tahun (Usia Sekolah Menengah Atas) rata-rata sebesar 48.88% 13.50% 114.82% 69.16%. APK Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 Angka Partisipasi Kasar (APK) TK Kabupaten Bangka Selatan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan.21% SMP/MTs/Paket B 67.54% 93.91% 48.26 berikut ini.26 terlihat bahwa semakin tinggi jenjang pendidik-an.11% 37.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.65% per tahun. sebaliknya APK semakin rendah.81% 9.26.88%. APK Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 Capaian Tahun Rata Tingkat Pendidikan 2005 2006 2007 2008 2009 rata TK 6. sedangkan pada tahun 2009 sebesar 103.12% 77.29% 80.31% 49.44% 75. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 2.34% 103.95% 117. Gambar 2. Meningkatnya APK kelompok umur 7 – 12 tahun dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa Program Wajib Belajar 6 tahun cukup berhasil dilaksanakan di Kabupaten Bangka Selatan. Bangka Selatan 2010 APK Kabupaten Bangka Selatan tahun 2005 – 2009 untuk kelompok usia TK (5 – 6 Tahun) rata-rata sebesar 12. dari tabel 2. Berdasarkan angka-angka ini terlihat bahwa APK TK dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 10.61% atau rata-rata se-besar 2.03% 91. sedangkan pada tahun 2009 terdapat 31 Taman Kanak-kanak (TK) terdiri dari 5 TK Pembina Negeri dan 26 TK swasta.43% 15.42% 12.88% SMA/MA/SMK/Paket C 35. Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SD/MI/SDLB/Paket A pada tahun 2005 sebesar 111.56% 103. Hal ini dikarenakan dari tahun ke tahun semakin banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya ke Taman Kanak-kanak (TK). Berdasarkan angka-   II-39 . Namun demikian. APK untuk kelompok umur 13 – 15 tahun (Usia Sekolah Menengah Pertama) adalah rata-rata sebesar 80.71% 110. Disamping itu jumlah Taman Kanak-kanak (TK) dari tahun 2005 sam-pai dengan tahun 2009 juga mengalami penambahan.21%.95%.81% sedangkan pada tahun 2009 sebesar 17. pada tahun 2005 terdapat 15 Taman Kanak-kanak (TK).26.42%.62%. Pada tahun 2005 APK-nya sebesar 6.54% 17.71%. kelompok umur 7 – 12 tahun (Usia Sekolah Dasar) rata-rata sebesar 110.62% SD/MI/SDLB/Paket A 111.16% Sumber : Dinas Pendidikan Kab.64% 48.

36% 11. Berdasarkan   kedua angka ini  terlihat  bahwa    APK)  SMP/MTs/Paket  B  mengalami  kenaikan  sebesar  24.  sedangkan  pada  tahun  2009  sebesar  49.74%  30.44% 3  SMA  7.    Hal  ini  menunjukkan  semakin  meningkatnya  jumlah  pendudukan  Bangka  Selatan  yang  bersekolah.27 di atas dapat disimpulkan bahwa:    • Dalam  lima  tahun  terakhir  (2005  sampai  2009)  persentase  APT  untuk  setiap  tingkat  pendidikan  selalu  menunjukkan  kenaikan  dari  tahun  ke  tahun.32%  8.12%.13% 10.82%.    Total  persentase  penduduk  yang  tamat  sekolah  untuk  semua   II-40 .    • Komposisi  tingkat  penduduk  Bangka  Selatan  pada  tahun  2009  adalah  31. Angka Pendidikan yang ditamatkan (APT) dan Angka Kelulusan  Angka  Pendidikan  yang  ditamatkan  (APT)  adalah  rasio  jumlah  penduduk  yang  telah  menyelesaikan pendidikannya pada kelas atau tingkat terakhir suatu jenjang sekolah  di  sekolah  negeri  maupun  swasta  dengan  mendapatkan  surat  tanda  tamat  belajar/ijazah terhadap jumlah penduduk keseluruhan.  No.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   angka ini terlihat bahwa APK SD/MI/SDLB/Paket A dari tahun 2005 sampai  dengan  tahun  2009  mengalami  penurunan  sebesar  8.53%  berpendidikan tamat SD.  juga  berguna  untuk  melakukan  perencanaan  penawaran  tenaga  kerja.32% 7.24%      Sumber : Dinas Pendidikan Kab.  Berdasarkan  kedua  angka  ini  dapat  disimpulkan  bahwa  APK  SMA/MA/SMK/Paket  C  dari  tahun  2005  sampai  dengan  tahun  2009  mengalami  peningkatan sebesar 14.  APT  2005  2006  2007  2008  2009  1  SD  27.24%  atau  rata‐rata  sebesar  2.  Penurunan  ini  disebabkan  banyaknya  siswa  SD/MI  yang  pindah  sekolah  ke  daerah asalnya karena banyak siswa SD/MI yang berasal dari masyarakat pendatang  yang  orang  tuanya  bekerja  pada  bidang  pertambangan  timah  yang  rata‐rata  penambang liar atau ilegal.    APT  merupakan  persentase  jumlah  penduduk.91%. Pada tahun 2008 terjadi penertiban para penambang liar  sehingga mereka balik kembali ke daerah asalnya.    Tabel 2.68% tamat SMA dan 3.09% atau rata‐rata sebesar 3.53% 2  SMP  10.56%  8.67% 2.    a.    Angka  Partisipasi  Kasar  (APK)  jenjang  SMA/MA/SMK/Paket  C  pada  tahun  2005  sebesar  35.    Angka  Partisipasi  Kasar  (APK)  jenjang  SMP/MTs/Paket  B  pada  tahun  2005  sebe‐sar  67.06%  per  tahun.92%  31.80%  12.27.29%.17%  atau  rata‐rata  sebesar  6.  terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu daerah.15% 30. 12. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.68% 4  Perguruan Tinggi  2.24% 2.24% tamat  perguruan  tinggi.11%  3.    Perkembangan Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009.04%  per  tahun. Bangka Selatan    Berdasarkan tabel 2.44%  tamat SMP.5. 8.52% per tahun.40% 8.61%  11.32% 29.  baik  yang  masih  bersekolah  maupun  yang tidak sekolah lagi.    APT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan  pendidikan di suatu  daerah.98%  3. sedangkan pada tahun 2009 sebesar 91.

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   tingkat  pendidikan  adalah  55.09%  94.39%  90.53% menjadi 99.09%.28.09%  Sumber : Dinas Pendidikan Kab.     Angka kelulusan SD/MI di Kabupaten Bangka Selatan dari tahun 2005 s.80%  SMA/SMK/MA  98.     Penyebabnya kurang lebih sama dengan kasus pada jenjang SMP/MTs yaitu semakin  tingginya standar nilai kelulusan Ujian Nasional tiap tahunnya.39%  78.06%  SMP/MTs  88.  seluruh  siswa  di  negeri  junjung  besaoh  lulus.94%  92.19%  tidak  bersekolah  atau putus sekolah (tidak tamat) pada tingkat SD.39%  di tahun 2009.09%  96.78%  88.     Pada pertengahan tahun 2011 kelulusan siswa SMP/MTs dari tujuh  Kabupaten/Kota   di  Bangka  Belitung.998  siswa  (sumber  ketua UN SMP/MTs Babel.84%  92.    Selain APT untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat di bidang pendidik‐an.d  2008.39% menjadi 92.88%  87.  Hal  ini  disebabkan  oleh  standar  nilai  kelulusan  yang  tiap  tahun  ditingkatkan  oleh  pemerintah.d tahun 2009 cenderung mengalami penurunan menjadi 95.  maka diperlukan juga angka kelulusan.    Angka  kelulusan  SMP/MTs  juga  mengalami  peningkatan  dari  tahun  2005  s.  tetapi  turun  pada  tahun  2009.70%  91.  Untuk  jenjang  pendidikan  SMA/MA/  SMK  terjadi penurunan angka kelulusan dari tahun 2005 sebesar 98.08%  99.    Tabel 2.  dengan  jumlah  peserta  1. Hal ini disebabkan  diterapkannya Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang menggunakan  Lembar  Jawaban  Komputer  (LJK)  yang  masih  asing  bagi  siswa  SD/MI  sehingga  kesulitan dalam penerapannya.d tahun 2007  terus mengalami peningkatan dari 92. yang dikutip dari harian Bangka Pos tanggal 4 Juni 2011. tetapi  pada tahun 2008  s.92%.  Angka Kelulusan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009    Angka  Capaian Tahun  Rata­rata  Kelulusan  2005  2006  2007  2008  2009  SD/MI  92.89%  88.69%  95.53%  93.89%.92%  99.  Kabupaten  Bangka  Selatan  memperoleh  hasil  maksimal.53%  98.  sedangkan  sisanya  44.  Angka kelulusan ini diperoleh dari jumlah lu‐ lusan pada jenjang pendidikan tertentu dibagi dengan jumlah siswa tingkat tertinggi  pada jenjang pendidikan yang sama pada tahun ajaran sebelumnya dikali 100%. Bangka Selatan 2010   II-41 .

dimana pada tahun 2005 AM sebesar 79.09% 79. Angka Melanjutkan SMP/MTs ke SMA/MA/SMK mengalami sedikit penurunan.27.48 % atau rata-rata sebesar 0. artinya seluruh siswa yang telah tamat SD/MI/ Paket A dapat melanjutkan sekolah ke tingkat selanjutnya. pada tahun 2009 sudah mencapai 84. Angka Melanjutkan (AM) Angka Melanjutkan (AM) adalah persentase siswa dengan kelompok usia pendidikan tertentu yang melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi terhadap jumlah siswa yang telah lulus sekolah dari kelompok usia yang sama.51%.01% AM SMP/MTs/Paket B Ke SMA/SMK/MA/Paket C 79. Angka Melanjutkan (AM) SD/MI ke SMP/MTs sudah terjadi peningkatan yang cukup signi�ikan. maka Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan.43% 84. dimana pada tahun 2005 angka melanjutkan masih berada pada angka 54. Berdasarkan kedua angka ini terjadi peningkatan sebesar 42.12% per tahun.16% Sumber : Dinas Pendidikan Kab.62% per tahun.69% 87.95% 82. Bangka Selatan 2010 I  I-42 .95% 84.49% atau rata-rata sebesar 10.43% turun menjadi 78.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gambar 2. Tabel 2. Hal ini terjadi karena banyak lulusan SMP/MTs yang melanjutkan sekolah ke daerah lain.6.32% 78.29.51% 78.99% 81. Sementara itu.42% 80. Angka Melanjutkan (AM) Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005- 2009 Capaian Tahun Rata- Angka Melanjutkan (AM) 2005 2006 2007 2008 2009 rata AM SD/MI/Paket A Ke SMP/MTs/Paket B 54. Angka Kelulusan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 a.99%.95% pada tahun 2009. melalui dinas pendidikannya harus berusaha mencapai Angka Melanjutkan untuk tingkat SD/MI/Paket A sebesar 100%.50% 89. Terjadi penurunan sebesar 0. Agar dapat mensukseskan Program Wajib Belajar 9 Tahun.

32%  pada  2008.18%.28%.90% dan  pada  tahun  2009  sudah  mencapai  0.68% menurun menjadi 0.95%.28.  Dari  angka  tersebut  berarti  terjadi  penurunan  sebesar  1. maupun dari  SMP/MTs/  Paket  B  ke  SMA/SMK/MA/Paket  C.  Kondisi  ini  perlu  diwaspadai  karena  hal  ini  mengindikasikan  bahwa  banyak  murid  yang  putus  sekolah  atau  hanya  menyelesaikan sekolah pada tingkat tertentu saja.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Angka Melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs di Kabupaten Bangka Selatan dari tahun  2005  sampai  2009  terus  mengalami  peningkatan  dari  54. baik dari SD/MI/Paket A ke SMP/MTs/Paket.    Sedangkan  Angka  Melanjutkan  dari  SMP/MTs  ke  SMA/SMK/MA  juga  mengalami  peningkatan  dari  79.95%.    a.15%  atau  rata‐rata  per  tahun  sebesar  0.    Hal  ini  disebabkan  oleh  semakin  tingginya  standar  nilai  kelulusan  Ujian  Nasional  tiap  tahunnya yang ditetapkan oleh pemerintah.93% pada tahun 2009.7.51%  pada  tahun  2009.  Sama  halnya  dengan  Angka  Putus  Sekolah  SMP/MTs  dimana  pada  tahun  2005  mencapai  angka  1.    Angka  putus  sekolah  SD/MI/SDLB  sudah  mengalami  penurunan  yang  cukup  signifikan dimana pada tahun 2005 angka putus sekolah masih pada angka 1.28  terlihat  bahwa  pada  tahun  2009  terjadi  penurunan  laju  Angka Melanjutkan (AM). Angka Putus Sekolah (APS)  Angka  ini  diperoleh  dari  jumlah  siswa  yang  putus  sekolah  di  jenjang  pendidikan  tertentu  dibagi  jumlah  siswa  pada  tingkat  dan  jenjang  pendidikan  yang  sama  pada  tahun ajaran sebelumnya dikali 100%.  Grafik  Pertumbuhan  Angka  Melanjutkan  (AM)  Kabupaten  Bangka  Selatan          Berdasarkan  gambar  2.99%  pada  tahun  2005  menjadi  84.      II-43 .  bahkan  pada  tahun  2008  sempat  mencapai  89.    Gambar 2.75%.75 %  atau rata‐rata per tahun sebesar 0.  akan  tetapi  mengalami  penurunan  pada  tahun  2009  menjadi  78. Terjadi penurunan sebesar 0.43%  pada  tahun  2005  menjadi  87.

90%  1. Angka Putus Sekolah (APS) Kabupaten Bangka Selatan          b.29%  SMP/MTs/Paket B  1.  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  berusaha  untuk  mencari  penyelesaian  agar  Angka  Putus  Sekolah  dapat  mencapai  0  %  atau  dengan  kata  lain  seluruh  siswa  SMA/MA/SMK  tidak  ada  yang putus sekolah.    Tabel 2.55%.99%  dan  pada  tahun  2009  sudah  mencapai  0.93%  1.55%  SMA/SMK/MA/Paket C  1.  Dari  angka  tersebut  berarti  terjadi  penurunan  sebesar  1. Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB)  Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi  belum berusia tepat satu tahun.30.83%  0.42%  2.99%  1. Bangka Selatan 2010      Gambar 2.98%  0.43%  1.29.  dan  umumnya   II-44 .  kematian  bayi  ada  dua  macam  yaitu  endogen dan eksogen.24%  0.68%  1. Kesehatan   b.87%        Sumber : Dinas Pendidikan Kab.98%  1.44%  atau  rata‐rata  per  tahun  sebesar  0.  Secara  garis  besar  dari  sisi  penyebabnya.  Angka Putus Sekolah (APS) Bangka Selatan Tahun 2005‐2009  Capaian Tahun  Rata­ Angka Putus Sekolah (APS)  2005  2006  2007  2008  2009  rata  SD/MI/SDLB/Paket A  1.99%  2.    Kematian  bayi  endogen  atau  yang  umum  disebut  dengan  kematian  neonatal  adalah  kematian  bayi  yang  terjadi  pada  bulan  pertama  setelah  dilahirkan.36%. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Angka  putus  sekolah  SMA/MA/SMK  mengalami  penurunan  yang  cukup  signifikan  dimana  pada  tahun  2005  angka  putus  sekolah  masih  pada  angka  1.75%  1.37%  0.1.55%  1.50%  1.

 Angka  harapan  hidup  pada  suatu  umur  x  adalah  rata‐rata  tahun  hidup  yang  masih  akan  dijalani  oleh  seseorang  yang  telah  berhasil  mencapai  umur  x  pada  suatu  tahun  tertentu.31. misalnya  program pemberian pil zat besi dan suntikan anti tetanus.  maka  program‐program  untuk  mengurangi  angka  kematian  neo‐natal  adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan ibu hamil. Karean  kematian  neo‐natal  disebabkan  oleh  faktor  endogen  yang  berhubungan  dengan  kehamilan.  yang  diperoleh  dari  orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.  Angka    II-45 . dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.  Kegunaan  AKB  untuk  pengembangan  perencanaan berbeda antara kematian neo‐natal dan kematian bayi yang lain.  program  penerangan  tentang  gizi  dan  pemberian  makanan  sehat  untuk  anak  dibawah  usia  5  tahun. Bangka Selatan    Pada tahun 2010 AKB kecamatan Payung merupakan angka gabungan dari kecamatan  payung  dan  pulau  besar.    Kematian  bayi  eksogen  atau  kematian  post  neo‐natal  adalah  kematian  bayi  yang  terjadi  setelah  usia  satu  bulan  sampai  menjelang  usia  satu  tahun  yang  disebabkan  oleh faktor‐faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. Angka usia harapan hidup   Angka  usia  harapan  hidup  pada  waktu  lahir  adalah  perkiraan  lama  hidup  rata‐rata  penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.    Tabel 2.  Angka  kelangsungan  hidup  bayi  =  (1  –  angka  kematian  bayi/AKB).  serta  program‐ program  pencegahan  penyakit  menular  terutama  pada  anak‐anak.2.    b.  hal  ini  dikarenakan  masyarakat  Pulau  Besar  masih  mengakses ke puskesmas Payung dalam penanganan kelahiran bayi.  Angka  kematian  bayi  (AKB)  menggambarkan  keadaan  sosial  ekonomi  masyarakat  dimana  angka  kematian  itu  dihitung.  AKB dihitung dengan jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun dalam  kurun waktu se‐tahun per 1.    Sedangkan angka kematian Post Neo‐Natal dan angka kematian anak serta kematian  balita  dapat  berguna  untuk  mengembangkan  program  imunisasi.    Angka  kelangsungan  hidup  bayi  (AKHB)  adalah  probabilitas  bayi  hidup  sampai  dengan  usia  1  tahun.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.   Perkembangan AKHB dan AKB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005  – 2009    LAH RUMUS !!!)  2006  2007  2008  2009  2010  No  Kecamatan  AKB  AKHB  AKB  AKHB  AKB  AKHB  AKB  AKHB  AKB  AKHB  1  Toboali  0  1000 3 997 4 996 20  980  13  987 2  Air Gegas  15  985 1 999 6 994 13  987  15  985 3  Payung  4  996 9 991 4 996 8  992  27  973 Simpang  4  34  966 34 966 9 991 27  973  21  979 Rimba  5  Lepar Pongok  33  967 25 975 5 995 11  989  26  974 6  Tukak Sadai  ‐  ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ 20  980  0  1000 7  Pulau Besar  ‐  ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ 30  970  ‐  ‐ Sumber : Dinas Kesehatan Kab.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   disebabkan  oleh  faktor‐faktor  yang  dibawa  anak  sejak  lahir.

3.  maka  diperlukan  program  pembangunan kesehatan dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan.  dan  meningkatkan  derajat  kesehatan pada khususnya. Rendah  =  di bawah 10 %  b. Persentase balita gizi buruk   Persentase  balita  gizi  buruk  adalah  persentase  balita  dalam  kondisi  gizi  buruk  terhadap  jumlah  balita.    WHO  (1999)  mengelompokan  wilayah  yaitu  kecamatan  untuk  kabupaten/kota  dan  kabupaten/kota  untuk  provinsi  berdasarkan  prevalensi  gizi  kurang  ke  dalam  4  kelompok dari seluruh jumlah balita.    b.5  67.8  65.  dan  bagi  bayi  yang  dilahirkan  tahun 2000 usia harapan hidupnya mencapai 65.  Tetapi  bayi‐bayi  yang  dilahirkan  menjelang  tahun  1980  mempunyai  usia  harapan  hidup  lebih  panjang  yakni  52.    Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam  meningkatkan  kesejahteraan  penduduk  pada  umumnya.8  tahun  untuk  bayi  yang  dilahirkan  menjelang  tahun  1990.  Peningkatan angka harapan  hidup  ini  menunjukan  adanya  peningkatan  kehidupan  dan  kesejahteraan  Bangsa  Indonesia  selama  tiga  puluh  tahun  terakhir  dari  tahun  1970‐an  sampai  tahun  2000.5 tahun. Tetapi  karena  sistem  registrasi  penduduk  di  Indonesia  belum  berjalan  dengan  baik  maka  untuk  menghitung  angka  harapan  hidup  digunakan  dengan  mengutip  angka  yang  diterbitkan BPS.    Contoh: Angka Harapan Hidup yang terhitung untuk suatu kabupaten/kota dari hasil  sensus  penduduk  tahun  1970  adalah  47.7  52.32. yaitu :  a.  Idealnya angka harapan hidup dihitung berdasarkan angka kematian menurut umur  (Age  Specific  Death  Rate/ASDR)  yang  datanya  diperoleh  dari  catatan  registrasi  ke‐ matian secara bertahun‐tahun sehingga dimungkinkan dibuat tabel kematian.  artinya  bayi‐bayi  yang  dilahirkan  menjelang  tahun  1972  (periode  1967‐1969)  akan  dapat  hidup  sampai  47  atau  48  tahun.7  tahun.  meningkat  lagi  menjadi  59.  Angka Harapan Hidup Kabupaten Bangka Selatan    Hasil Sensus Penduduk  Tahun 1970  Tahun 1980  Tahun 1990  Tahun 2000  Tahun 2010  47.2  tahun. Klasifikasi status gizi dibuat standar WHO.    Tabel 2.  berikut ini.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   harapan  hidup  saat  lahir  adalah  rata‐rata  tahun  hidup  yang  akan  dijalani  oleh  bayi  yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.  Keadaan  tubuh  anak  atau  bayi  dilihat  dari  berat  badan  menurut umur. Sangat tinggi  = 30%     II-46 . Sedang  = 10‐19 %  c.2  59.  kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan. Tinggi  = 20‐29 %  d.3         Sumber : dinas kesehatan Kab Bangka Selatan    Apabila  AHH  dibawah  angka  rata‐rata  nasional.

    Data kemiskinan yang lebih baik dapat digunakan untuk:  1.  Angka  kemiskinan  adalah  persentase  penduduk  yang  masuk  kategori  miskin  terhadap  jumlah  penduduk.  dayak dan sebagainya.  Untuk  melihat  penduduk  miskin  dunia. antar daerah.33 terlihat bahwa di kabupaten Bangka Selatan sejak tahun 2005  sampai dengan 2009 pernah terjadi kasus balita gizi buruk tidak murni (kasus dengan  penyakit  penyerta). (contoh : kemiskinan karena lokasi yang terisolasi. mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan. kemiskinan  relatif.    II-47 .33.  3.  Status  gizi  balita  secara  sederhana  dapat  diketahui  dengan  membandingkan  antara  berat  badan  menurut  umur  maupun  menurut  panjang  badannya  denga  rujukan  (standar)  yang  telah  ditetapkan.  2.06  0. kemiskinan struktural.  Secara  fluktuatif.1. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan   Persentase  penduduk  diatas  garis  kemiskinan  dihitung  dengan  menggunakan  (100‐ angka  kemiskinan). menentukan target penduduk miskin denga tujuan untuk memperbaiki posisi  mereka    Beberapa pengertian terkait dengan kemiskinan antara lain:  1.  biasa‐ nya Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan US$ 1 atau US$ 2 per hari.  3.    Adalagi  kemiskinan  kultural  (karena  faktor  adat)  seperti:  suku  badui  di  cibeo  (Banten).  Kalau  sedikit  di  bawah  standar  disebut  gizi  kurang. kemiskinan  absolut.    Tabel 2.  Apabila  berat  badan  menurut  umur  sesuai  dengan  standar.  suku  kubu  (Jambi).03    Berdasarkan tabel 2.  ditentukan  berdasarkan  ketidakmampuan  untuk  mencapai  standar  kehidupan  yang  ditetapkan  masyarakat  setempat  sehingga  proses  pe‐ nentuannya sangan subjektif  2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi mena‐hun.01  0.  Penduduk  miskin  dihitung  berdasarkan  garis kemiskinan.        c.  orang  tengger  dan  sebagai).02  0.  anak  disebut  gizi  baik. Kemiskinan  c.  kondisi  ini  dikarenakan  selain  meningkatnya  fungsi  Posyandu  dan  pelacakan  kasus  yang  semakin  aktif  juga  karena  faktor  tingkat  kesejahteraan masyarakat cukup baik. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap  bulan  untuk  memenuhi  standar  minimum  kebutuhan  konsumsi  pangan  dan  non  pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. mi‐sal:  orang  mentawai. membandingkan kemiskinan antar waktu.  Apabila jauh di ba‐wah standar dikatakan gizi buruk.  ditentukan  berdasarkan  ketidakmampuan  untuk  mencu‐ kupi  kebutuhan  pokok  minimum.     Persentase Balita Gizi Buruk dengan Penyakit Penyerta Indikator  Berat Badan dan Tinggi Badan (BB/TB) di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005‐2009    Persentase Balita Gizi Buruk  Tahun 2005  Tahun 2006  Tahun 2007  Tahun 2008  Tahun 2009 0  0.

368 197 179 89 465 21. Kepemilikan tanah (Persentase Jumlah Penduduk Yang Memiliki Lahan)   Persentase  jumlah  penduduk  yang  memiliki  lahan  adalah  perbandingan  jumlah  penduduk yang memiliki lahan terhadap jumlah penduduk dikali 100.853 790 1.237 2.  Dengan  pendekatan  ini.  Selanjutnya perhitungan angka kepemilikan tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini    II-48 .04    Sedangkan jumlah dan distribusi keluarga miskin di Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2010 adalah sebagai berikut :       Tabel 2.497 162.055 11% Payung 1.    Tabel 2.853 12% Air Gegas 2.172 195 362 835 1.  Dengan  pendekatan  ini.756  8.214 4.   Garis kemiskinan.  yang terdiri dari  dua  komponen  yaitu  garis  kemiskinan  makanan  (GKM)  dan  garis  kemiskinan  bukan  makanan  (GKBM). juga digunakan hasil  survey  SPKKD  (Survey  Paket  Komoditi  Kebutuhan  Dasar).34.496 19% Tukak Sadai 1.261 11.999 106 172 227 505 8.  BPS  menggunakan  konsep  kemampuan  memenuhi  kebutuhan  dasar  (basic  needs  approach).   Jumlah dan distribusi keluarga miskin di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2010    Jumlah Perbandingan Jumlah Sangat Hampir Jumlah (KK) Jumlah Kecamatan Miskin Penduduk Jumlah KK Miskin ART Miskin Miskin Miskin KK (Jiwa) dengan Jumlah KK Toboali 4.641 1.392 59.242 11% Lepar Pongok 1.200  5.527 24% Pulau Besar 1.114 88 159 523 770 35.255 59 108 194 361 7.  yang  dipakai  untuk  memperkirakan  proporsi  dari  pengeluaran  masing‐masing  komoditi  pokok  bukan  makanan.005 32.580 97 149 222 468 12.272 7.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Untuk  mengukur  kemiskinan.  kemiskinan  dipandang  sebagai  ketidakmampuan  dari  sisi  ekonomi  untuk  memenuhi  kebutuhan  dasar  makanan  dan  bukan  makanan  yang  diukur  dari  sisi  pengeluaran.640 31% Jumlah 13.470 4.193 1.001  8.402 14%   Sumber : BP3MD Kab.476 2.589 15% Simpang Rimba 1.365 48 108 380 536 17. Bangka Selatan    d.  Penduduk  miskin  adalah  penduduk  yang  memiliki  rata‐rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan.900  6.  Perhitungan  garis  kemiskinan  dilakukan  secara  terpisah  untuk  daerah  perkotaan  dan  pedesaan.  Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan  (GK).  dapat  dihitung  Head  Count  Index  (HCI).948 3. Sebagai informasi tambahan./  Jumlah Penduduk  Persentase     Kapita/Bulan  Miskin (Jiwa)  Penduduk Miskin  2008  213. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kabupaten  Bangka Selatan  Tahun  Garis Kemiskinan Rp.     Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung kemiskinan adalah data SUSENAS  (Survey Sosial Ekonomi Nasional).35.  yaitu  persentase  penduduk  yang berada di bawah garis kemiskinan.6  2009  249.

      II-49 .125  15.31 20.259  31.374  20.484  memiliki tanah (jiwa)  Persentase penduduk yang  18.607.  angkatan  kerja  (labour  force)  menurut  Soemitro  Djojohadikusumo  didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang mempunyai pekerjaan atau  yang  sedang  mencari  kesempatan  untuk  melakukan  pekerjaan  yang  produktif.42 2  Air Gegas  853.41  19.    Dalam  ilmu  ekonomi.054 6.03  3.  Pertambangan  angkatan  kerja  harus  diimbangi  dengan  investasi  uang  dapat  menciptakan  kesempatan  kerja.137 4.08  3.  kesempatan  kerja  berarti  peluang  atau  keadaan  yang  me‐ nunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan  sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan  keahlian.97  19.916  164.469.    Tabel 2.338  31.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.37.01 6  Tukak Sadai  126.763 2.35 55.    Kepemilikan  Tanah  di  setiap  kecamatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2009  Jumlah  Persentase  Jumlah  No  Kecamatan  Luas tanah  penduduk yang  penduduk yang  penduduk  memiliki tanah  memiliki tanah  (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  (6=5/4)  1  Toboali  1.31  16.08  3.607.814  26. Kesempatan kerja (Rasio penduduk yang bekerja)  Kesempatan  kerja  merupakan  hubungan  antara  angkatan  kerja  dengan  kemampuan  penyerapan  tenaga  kerja.607.  keterampilan  dan  bakatnya  masing‐masing.   Persentase  Penduduk  Memiliki  Lahan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun 2005 – 2009    Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  Luas Tanah (km2)  3.946  30.931  161.692 11.607.272  27.03  3.087  163.03  Jumlah penduduk (jiwa)  148.64 37.29  memiliki tanah      Sedangkan persentase jumlah penduduk yang memiliki lahan di setiap kecamatan di  daerah Bangka Selatan.  Dengan  demikian  kesempatan  kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja .  Bisa  juga disebut sumber daya manusia.13 3  Payung  363.87 8.607 3.23 7  Pulau Besar  169.  Dengan  demikian.759 1.788  14.188 1.657  158.  dapat  menyerap pertambahan angkatan kerja.98 12.200  Jumlah penduduk yang  27.36.54 4  Simpang Rimba  362.16 5  Lepar Pongok  261.607.    Sementara  itu.  Kesempatan  kerja  (demand  of  labour)  adalah  suatu  keadaan  yang  menggambarkan/ketersediaan  pekerjaan  (lapangan  kerja  yang  diisi  oleh  para  pencari  kerja).93 18.00 10.09  19.857  18.348  17.178  24.85     e.

000 4.000 2.34).000 6.300 10.600  65+  5.700 133.    Pada  tahun  2009  jumlah  penduduk  kabupaten  Bangka  Selatan  sebesar 163.000 3.  Jika  yang  tersedia  adalah  jumlah  pengangguran.400 19.200 jiwa. maka angka kriminalitas yang tertangani:      Angka Kriminalitas yang tertangani = Jumlah tindak kriminalitas tertangani x10.  menjaga  ketertiban  dalam  pergaulan  masyarakat.38.  Pemerintah  daerah  dapat  terselenggara  dengan  baik  apabila  pemerintah  dapat  memberikan  rasa  aman  kepada  masyarakat.500  20‐24  11.000 9.000 = 0.39 dapat dihitung angka kriminalitas yang tertangani  di  Bangka  Selatan.500 6.700    Rasio penduduk yang  bekerja = 88.000 1. Kriminalitas (Angka kriminalitas yang tertangani)   Keamanan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Rasio  penduduk  yang  bekerja  adalah  perbandingan  jumlah  penduduk  yang  bekerja  terhadap  jumlah  angkatan  kerja.000 1.000 45.100 9.100  35‐39  11.100  60‐64  3.    Berdasarkan data pada tabel 2.000 1.100  Jumlah  88.66 = 0.300  50‐54  6.700  25‐29  13. ketertiban dan penggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas  untuk  mewujudkan  stabilitas  penyelenggaraan  pemerintahan  terutama  di  daerah.000  30‐34  12.    Rasio penduduk yang bekerja dengan Angkatan Kerja Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009    Angkatan Kerja  Golongan umur  Jumlah  Bekerja  Mencari Pekerjaan  15‐19  5.  maka angka yang digunakan adalah = (1 – angka pengangguran)     Untuk  menghitung  rasio  penduduk  yang  bekrja  terlebih  dahulu  disusun  data  ang‐ katan  yang  bekerja  dan  yang  mencari  pekerjaan  menurut  kelompok  umur  berdasarkan hasil sensus terakhir ke dalam tabel sebagai berikut:    Tabel 2.300 14.700 12.600 12.  serta  menanggulangi  kriminalitas  sehingga  kuantitas  dan  kualitas  kriminalitas dapat diminimalisir.000 penduduk.400  45‐49  8.100 15.300  55‐59  4.000 8.000 3.600  40‐44  10.  sedangkan  34%‐nya  masih  mencari  pekerjaan  atau  pengangguran (1 – 0.100 7.    f.    Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegak  hukum  (polisi/kejaksaan).000 21.000                Jumlah penduduk     II-50 .000 4.600 5.66                133.700  Dengan  demikian  dapat  disimpulkan  bahwa  66%  dari  angkatan  kerja  yang  ada  memperoleh  kesempatan  kerja.  Angka  kriminalitas  yang  ditangani  merupakan  jumlah  tindak kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap 10.

 Bangka Selatan      II-51 .    Pencapaian pembangunan seni.    Selanjutnya  penyajian  pencapaian  pembangunan  seni. Kebudayaan.2.000 penduduk  Jumlah klub olahraga per  3  12  14  15  16  16  10.000 penduduk.000  =  1.000 penduduk  Sumber : Dinas Pariwisata.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Angka Kriminalitas yang tertangani =      27       x  10. Pemuda dan Olahraga Kab.  jumlah grup kesenian adalah jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk.  jumlah klub olahraga adalah jumlah klub olahraga per 10.    Perkembagan Seni.   c.000 penduduk.  jumlah gedung kesenian adalah jumlah gedung kesenian per 10.  Angka Kriminalitas Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009    Kasus  Kejadian  Tertangani  Pembunuhan  5  5  Penganiayaan Berat  13  6  Penculikan  0  0  Pencurian dengan kekerasan   7  3  Pencurian dengan Pemberatan  21  10  Pencurian Ranmor  14  0  Pencurian kawat telepon  ‐  ‐  Pemerkosaan  1  1  Pembakaran  1  0  Senpi/Handak  1  1  Pemerasan  1  1  Penyelundupan  0  0  Kejahatan terhadap kepala negara  0  0  Jumlah  63  27     Sumber : Polres Kab.000 penduduk.  Hal  ini  sesuai  dengan  2  (dua)  sasaran  pencapaian  pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan yaitu mewujudkan bangsa yang  berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera.65   163.  budaya  dan  olahraga  sangat  terkait  erat  dengan  kualitas  hidup  manusia  dan  masyarakat.   b. budaya dan olahraga dapat dilihat berdasarkan  indikator sebagai berikut  :  a.39.  jumlah gedung olahraga adalah jumlah gedung olahraga per 10. Bangka Selatan      2.  budaya.200  Tabel 2.40.  dan  olahraga  dapat  dilihat pada tabel dibawah ini :    Tabel 2. Budaya dan Olahraga Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005 – 2009    No  Capaian Pembangunan  2005  2006  2007  2008  2009  Jumlah grup kesenian per  1  ‐  14  14  16  16  10.000 penduduk  Jumlah gedung olahraga per  4  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  10.000 penduduk  Jumlah gedung kesenian per  2  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  10.   d.3 Seni Budaya dan Olahraga   Pembangunan  bidang  seni.

  Indikator  yang  digunakan  untuk  melihat  kondisi  pelayanan  umum  dalam  dunia  pendidikan di Kabupaten Bangka Selatan adalah :    a. Penurunan ini akan menyebabkan  se‐makin  menurunnya  jumlah  anak‐anak  yang  masuk  sekolah  dasar.464 1.039  II-52 .037 21. bila digunakan APS.  Namun.  sehat  jasmani  dan  rohani  senantiasa  menjadi  modal  dasar  dalam  pelaksanaan  pembangunan.    2. Angka Partisipasi Sekolah (APS)  APS  merupakan  ukuran  daya  serap  sistem  pendidikan  terhadap  penduduk  usia  sekolah.  Tabel 2. Kenaikan tersebut dapat  pula  dipengaruhi  oleh  semakin  besarnya  usia  sekolah  yang  tidak  diimbangi  dengan  ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga  partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah. Pendidikan  Pembangunan  sektor  pendidikan  semakin  penting  dengan  ditetapkannya  titik  berat  pembangunan  daerah  pada  bidang  ekonomi  yang  diiringi  oleh  peningkatan  sumber  daya  manusia  (SDM).  APS  adalah  jumlah  murid  kelompok  usia  pendidikan  dasar  (7‐12  tahun  dan  13‐15  tahun)  yang  masih  menempuh  pendidikan  dasar  per  1.330 19.2  Jumlah penduduk kelompok  18.  APS  Kabupaten  Bangka  Selatan  untuk  5  tahun  terakhir  dirinci  menurut  kecamatan  dapat dilihat dalam tabel berikut ini.  proporsi  penduduk  muda  sendiri  semakin  menurun  akibat  semakin  rendahnya angka fertilitas (lihat bagian fertilitas).  Bila  ukuran  seperti  perubahan  jumlah  murid  digunakan.783  22.881 17.    Di  Indonesia.41.606  20.  Pada sub ini memberikan gambaran umum tentang indikator yang dapat menjelaskan  kondisi  dan  perkembangan  aspek  pelayanan  umum  terhadap  masyarakat  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     2.  Sehingga.  naiknya  persentasi  jumlah  murid  tidak  dapat  diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah.3 ASPEK PELAYANAN UMUM.826 19.1.049 18.3.    SDM  yang  berkualitas.  Lebih  lanjut  dipaparkan  pula  tentang  fokus  urusan  layanan wajib dan fokus urusan layanan pilihan. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan  jumlah murid lebih menunjukan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di  setiap  jenjang  sekolah.1 Fokus Layanan Urusan Wajib  a. maka akan ditemukan peningkatan partisipasi di tingkat  SD yang disebabkan semakin rendahnya jumlah penduduk usia SD.1  Jumlah usia murid 7‐12 thn  17.    Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005 – 2009    No  Jenjang pendidikan  2005  2006  2007  2008  2009  1  SD/MI  1.    Kualitas  dan  kuantitas  pelayanan  di  bidang  pendidikan  menjadi  salah  satu  indikator  keberhasilan  Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dalam melaksanakan program  pembangunan  di Bangka Selatan.404 20.000  jumlah  penduduk  usia  pendidikan dasar.  Angka  tersebut  memperhitungkan  adanya  perubahan  penduduk  terutama  usia muda.  bisa  jadi  ditemukan  penurunan  jumlah  murid  di  sekolah  dasar  dengan  interpretasi  terjadi  penurunan  partisipasi  sekolah.

179 5.863 42.3 APS SMP/MTs 56. Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan dasar per 10.2 6.485 7.27% 71.846 4. .733 20.16 16 7.69 Sumber : Dinas Pendidikan Kab.2. Rasio ged.362 6.1 Jumlah usia murid 13-15 thn 3.02% 71.13% SMP/MTs/ Paket B 18.55% 30.655 30. Daya Tampung Murid di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 Capaian Tahun Rata Daya Tampung 2005 2006 2007 2008 2009 rata SD/MI/SDLB/Paket A 47.97 7 3. .34% 39.634 52. Bangka Selatan 2010   II-53 .93 2 976 20.85% 2 SMP/MTs 2.000) x 10. Daya tampung murid di Kabupaten Bangka Selatan tersaji pada tabel berikut ini. maka dapat dilihat dari indikator rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah dan daya tampung murid per sekolah.292 7. - TOTAL 22.000 jumlah penduduk usia pendidikan dasar.73% 42.278 23.160 37.50% Sumber : Dinas Pendidikan Kab.65% 46.28 4 1. . .600 usia 13-15 thn 2.02 29 7.13% 27.25% Sumber : Dinas Pendidikan Kab.3 APS SD/MI 99. . .29% 59. Rasio ged.49 5 Lepar Pongok 8 1.250 32. .02% 43.03% 12.03% 30. usia 12- Sklh sklh sklh 12 thn 15 thn 15 thn (1) (2) (3) (4) (5=3/4 x (6) (7) (8=6/7 (9) (10) (11=9/10 x 10.86% 96.000) 10. Tabel 2.43.94 4 581 37.26% 27.01% 92.65 4 954 41.64 12 3.97 2 594 21.47 4 Simpang Rimba 11 2. .82 3 Payung 19 3. .90% 32. Rasio Ketersedian Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Untuk menggambarkan kondisi pelayanan umum di bidang pendidikan di Kabupaten Bangka Selatan.03 86 9 39. Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK Jml Jml Jml No Kecamatan Jml Jml Jml penddk penddk penddk ged.917 5. - 7 Pulau Besar .60 5 1.774 39.21 2 1.687 25.081 39.000) 1 Toboali 36 9.98% 21.193 21. .31% 69. Rasio usia 7.92 2 Air Gegas 12 4. Rasio ini mengidenti�ikasi kemampuan untuk menampung semua penduduk usia sekolah. .47% 90.92 6 Tukak Sadai . . . .581 3.07% 38.30% 14.92% 39.07% 96.00 3 1.098 7. usia 12.86% 23. Bangka Selatan Daya tampung murid adalah persentase jumlah murid yang dapat diterima bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah keseluruhan murid yang mendaftar pada jenjang pendidikan tertentu.57% SMA/MA/SMK 16.434 Jumlah penduduk kelompok 2. Bangka Selatan a.600 38. Tabel 2.42.692 11.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   usia 7-12 thn 1.

Pada tahun 2005 daya tampung sebesar 16. Hal ini terjadi karena pertumbuhan penduduk usia 7-12 tahun tidak sebanding dengan penambahan jumlah sekolah/lokal kelas. Daya tampung untuk jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B mengalami pening-katan. Hal ini terjadi karena adanya pembangunan Unit Sekolah Baru pada kurun waktu lima tahun terakhir. Rata­rata jumlah murid per sekolah dan per kelas  Rasio murid per sekolah (RMS) diperoleh dengan cara membandingkan jumlah murid  keseluruhan dengan jumlah sekolah yang ada pada suatu jenjang pendidikan tertentu.  RMS  Kabupaten  Bangka  Selatan  dari  tingkat  Sekolah  Dasar  hingga  Sekolah  Menengah  Atas  (Umum  dan  Kejuruan)  dari  tahun  ke  tahun  mengalami  peningkatan.03% naik menjadi 30.26% pada tahun 2009.43 terlihat bahwa pada tahun 2005 daya tampung SD/MI/ Paket A sebesar 47.  sehingga  da‐ya  tampung  murid  untuk  setiap  sekolah  dapat lebih optimal.02% pada tahun 2009. Gambar 2.    I  I-54 .exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Berdasarkan tabel 2.  Hal ini menandakan bahwa tingkat kepadatan murid  di setiap sekolah  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  dari  tahun  ke  tahun  semakin  tinggi. Hal ini terjadi karena adanya pembangunan Unit Sekolah Baru SMK pada kurun waktu lima tahun terakhir dan juga penambahan ruang kelas baru.98% pada tahun 2009. Daya Tampung SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B Tahun 2005 - 2009     a.65% turun menjadi 39.30.  Angka  yang  diperoleh  merupakan  indikator  kepadatan  sekolah  pada  suatu  jenjang  pendidikan.    Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  pada  tingkat  tertentu  diperlukan  membangun  sekolah  baru  atau  menambah  ruang  kelas.86% naik menjadi 30. Sedangkan daya tampung untuk jenjang pendidikan SMA/MA/SMK/ Paket C mengalami kenaikan.3. pada tahun 2005 sebesar 18.

6 378.09 251.66 269.33 234.5 185 247.13 181.    Berdasarkan  data  selama  5  tahun  terakhir.33 302.4 142.5 247.02 270.52 untuk tingkat SD.294 Gabungan 324.    Berdasarkan  tabel  2.66 271.    Jika ditelaah lebih lanjut rasio murid terhadap sekolah untuk tahun 2009 pada setiap  kecamatan yang ada di Kabupaten Bangka Selatan.58 174.63 262.00 472.44  menyajikan  data  yang  tersedia  untuk  menggambarkan  kondisi  terakhir  rasio  murid  per  sekolah  (RMS)  di  Kabupaten  Bangka.22 untuk tingkat SLTA.39 247.75.5 708.06).18 SLTP Swasta 241 272.  mulai  dari  SD.00).  jumlah  murid  terpadat  untuk  tingkat  SD  terdapat  di  Kecamatan  Air  Gegas  (369.16 SD Swasta 212 209 204 221 218 Gabungan 255.45  terlihat  bahwa  dari  ketiga  indikator  RMS.44  tersebut  terlihat  bahwa  pada  tahun  2009  RMS  Kabupaten  Bangka  Selatan  adalah  269.07 207.5 223. SMA Swasta 256. sedangkan  RMS tahun 2005 dan  2006 menunjukkan RMS yang cukup tinggi.    Berdasarkan  tabel  2. maka didapat data seperti tersaji  dalam tabel berikut ini.25)  dan  terendah  pada Kecamatan Payung (189.5 Gabungan 309. SLTP hingga SLTA.25 262.22   Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka Tahun 2010    Tabel  2.71 175.96 Negeri 492.    Perkembangan Rasio Murid per Sekolah di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005 – 2009.52 Negeri 322.    Penurunan yang sangat signifikan terjadi pada rasio murid per sekolah tingkat SLTP  ke tingkat SLTA.23 250.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.54 235.  maka  RMS  untuk  tingkat  SD  mengalami  peningkatan  walaupun  pada  tahun  2008  terjadi  penurunan  namun  kemudian  naik  lagi secara cukup signifikan pada tahun 2009.  sedangkan  pada  2007  ada  penambahan  sekolah  baru. hal  ini disebabkan  karena  pada  tahun  2005  dan  2006  jumlah  SLTP  dan  SMA  masih  sedikit.   Dari  ketiga  rasio  ini  menunjukkan  bahwa  semakin  tinggi  tingkat  sekolah.6 289.44. Sementara itu RMS untuk tingkat SLTP  dan SMA pada tahun 2007 sampai 2009 menunjukkan trend peningkatan.  Tingkat  SLTA  terpadat  di  Kecamatan Toboali (281. maka semakin rendah rasio murid per sekolah.08 286.96 untuk tingkat SLTP dan 181. Untuk tingkat SLTP terpadat di Kecamatan Payung  (346.71) dan terendah di Kecamatan Lepar Pongok (72.462 128. MA.  untuk  tingkat  SLTP  sebanyak  8  sekolah  dan SMA sebanyak 4 sekolah.48 258.81 252.765 149.    Tingkat Status Sekolah 2005 2006 2007 2008 2009 Negeri 256 259. 247.87 204.67)  dan  terendah  Kecamatan  Lepar  Pongok  111.66 SLTA SMK.              II-55 .

4.25 230.  Rasio  murid per kelas di Kabupaten Bangka  Selatan dari tahun 2005 sampai dengan 2009  sudah  dapat  memenuhi  Standar  Pelayanan  Minimal  (SPM)  yang  disyaratkan  Kemendiknas RI yaitu 15 – 40 siswa per kelas untuk jenjang SD/MI/SDLB.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2. dan begitu  pula  dengan  SMP/MTs  dari  tahun  2005  sampai  dengan  tahun  2009  juga  sudah  melampaui  Standar  Pelayanan  Minimal  (SPM)  yang  disyaratkan  yaitu  25  –  40  siswa  per kelas.35 297.67 175.06 346.  RMG  diperoleh  dengan  membandingkan  jumlah  murid  dengan  jumlah  guru  pada  suatu  jenjang  pendidik‐an  tertentu.50 4 Simpang Rimba 267.50 5 Lepar Pongok 250. maka diperlukan pula rasio murid per kelas (RMK).75 72.00 192.    Kondisi  tahun  2009  mengenai  RMG  ini  tersaji pada tabel berikut ini.71 2 Air Gegas 369.    Gambar 2.90 281. Rasio Murid per Sekolah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009    No Kecamatan RMS SD RMS SLTP RMS SMA 1 Toboali 281.  sehingga  mutu  pengajaran  cenderung  semakin  rendah.00 3 Payung 189.45.91 188.00 6 Tukak Sadai *) 7 Pulau Besar *)   Sumber : BSDA 2010  Catatan : *) Masih bergabung dengan kecamatan Toboali    Selain rasio murid per sekolah (RMS) untuk menggambarkan kepadatan sekolah pada  suatu jenjang pendidikan.57 111. Rasio Guru/Murid  Rasio  murid  terhadap  guru  (RMG)  digunakan  untuk  menggambarkan  beban  kerja  guru  dalam  mengajar  serta  untuk  melihat  tingkat  mutu  pengajaran  di  kelas.  Rasio Murid per Kelas Tingkat SD/MI dan SMP/MTs Tahun 2005‐2009    a.  karena  semakin  tinggi  nilai  rasio  ini  berarti  semakin  kurang  tingkat  pengawasan  atau  perhatian  guru  terhadap  murid.33 100.31.     II-56 .

46.    Rasio murid per guru untuk tingkat pendidikan SMP ternyata paling besar berada di  Kecamatan  Payung  yaitu  21.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.040  21.404  17. yaitu 90% dari total guru SMP/MTs dan SMA/MA/ SMK harus memiliki  kualifikasi  sesuai  dengan  kompetensi  yang  ditetapkan  secara  nasional.947  23.951  18.    Secara keseluruhan Rasio murid per guru dari tahun 2009 sudah memenuhi Stan‐dar  Pelayanan Minimal (SPM) yang disyaratkan Kemendiknas yaitu 1 guru melayani 15 –  30  murid  per  kelas  untuk  jenjang  SD/MI.46  yang  berarti setiap guru harus mengawasi 11 orang murid.02 28  565  20.979  19.22  yang  berarti  untuk  setiap  guru  harus  mengawasi  21  murid.62 54  920  17. Persentase  guru  yang  berkualifikasi  sesuai  kompetensi  dan  memenuhi  kualifikasi S1/D­IV  Guru  SD/MI  yang  memenuhi  kualifikasi  sesuai  kompetensinya  pada  tahun  2005  sebesar  66.47 118  1.  Begitu  juga  dengan  guru  SMP/MTs  maupun  guru  SMA/MA/SMK  yang  belum  mencapai  Standar  Pelayanan  Minimal  yang  ditetapkan  pemerintah.37  yang berarti  se‐tiap guru harus mengawasi 17 orang murid.754  18.71 2  Air Gegas     180   4.62 yang berarti untuk setiap guru harus mengawasi 24  murid.15  %  naik  menjadi  76.42  204  3.102  20.97  323  5.431  24.972  16.87%  pada  tahun  2009.07 153  2.    Rasio murid per guru untuk tingkat pendidikan SMA ternyata paling besar berada di  Kecamatan Air Gegas yaitu 17. dan rasio yang terkecil berada di Kecamatan Lepar Pongok  yaitu 11.46 19  144  7.5. sedangkan rasio murid per guru untuk jenjang SMA/SMK/MA yaitu 1  guru mela‐yani 10 – 25 murid per kelas.04 22  384  17.36 5  Lepar pongok       96   1.58 6  Tukak sadai  ‐  ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  ‐  ‐   ‐ 7  Pulau Besar  ‐  ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  ‐  ‐   ‐ TOTAL  1.054  22.  Pemerintah  Provinsi  dan  Lembaga  Penjaminan  Mutu   Pendidikan   (LPMP)   Kepulauan   Bangka  Belitung  menyediakan                              II-57 . dan rasio yang terkecil berada di Kecamatan Payung  yaitu 17.    a.32 4  Simpang Rimba     128   2.18 14  201  14.  Meskipun  terjadi  kenaikan  tetapi  belum  mencapai  Standar  Pelayanan  Minimal  yang  ditetapkan  pe‐merintah.566  21.  dan  rasio  yang  terkecil  berada  di  Kecamatan  Lepar  Pongok    yaitu  7.  yaitu 90% dari total guru SD/MI harus memiliki kualifikasi sesuai dengan kompetensi  yang  ditetapkan  secara  nasional.27 39  447  11.  Rasio Murid per Guru di Kabupaten Bangka Selatan    SD/MI/Paket A  SMP/MTs/Paket B  SMA/MA/SMK/Pkt C  No  Kecamatan  Guru  Murid  RMG  Guru  Murid  RMG  Guru  Murid  RMG  1  Toboali    454   9.  Dalam  upaya  meningkatkan  kualifikasi  dan  kompetensi  guru  secara  keseluruhan  Pemerintah  Kabupaten Bangka Selatan melalui Dinas Pendidikan sejak tahun 2007 sampai dengan  sekarang  bekerjasama  dengan  Pemerintah  Pusat.58    yang  berarti setiap guru harus mengawasi 7 orang murid.45 3  Payung    196   3.22 31  351  11.37 49  1.052  14.45 yang berarti untuk setiap guru harus mengawasi 17  murid.  untuk  SMP/MTs  1  guru  melayani  12  –  25  murid per kelas.96  Sumber : Bangka Selatan Dalam Angka Tahun 2010    Rasio  murid  per  guru  untuk  tingkat  pendidikan  SD  ternyata  paling  besar  berada  di  Kecamatan Air Gegas yaitu 24.

78% 72.41%.  namun  pada  tahun  2009  mengalami  penurunan  menjadi  73.32.80% 73.08%   Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Selatan    Berdasarkan  tabel  2.  SMP/MTS.  Persentase  Guru  yang  Berkualifikasi  Sesuai  Kompetensi  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005‐2009          Angka  guru  memenuhi  kualifikasi  S1/D‐IV  diperoleh  dengan  rumus  jumlah  guru  berijazah  kualifikasi  S1/D‐IV  dibagi  jumlah  guru  SD/MI.78%.23% 72.80%  pada  tahun  2008.  Semakin  tinggi  persentasenya  semakin bagus tingkat capaian kinerjanya.  SMA/MA/SMK  sebesar  1.  SMA/  MA/SMK  dikali  100%.468  orang.     II-58 .87%  pata  2009.47% 75.15% 65.  SMP/MTS.72% SMA/SMK/MA 83.  persentase  guru  yang  berkualifikasi  sesuai  kompetensi  mengalami  peningkatan  dari  63.84%  pada  tahun  2008.29% 76.37% 80.  Sedangkan untuk SMA/SMK/MA juga mengalami peningkatan  dari 83.    Tabel 2.35% SMP/MTs 63.22% 76.17% 79.15%  pada  tahun  2005  menjadi  76.  persentase  guru yang berkualifikasi sesuai kompetensi mengalami penurunan  pada tahun 2009  menjadi 74.87% 71.17%  pada  tahun  2005  menjadi  77.  sehingga  diperoleh  persentase  guru  yang  memenuhi  kualifikasi  S1/D‐IV  sebesar  22.80%  pada  tahun  2005  menjadi  80.  Untuk  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  tahun  2008  jumlah  guru  berijazah  kualifikasi  S1/D‐IV  sebesar  329  orang  dan  jumlah  guru  SD/MI.39% 77.47.73% 80.  namun  demikian  kondisi  yang  sama  dengan  tingkat  SMP/MTs.  juga  terjadi  pada  tingkat  SMA/SMK/MA.65% 79.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   beasiswa dan pelatihan‐pelatihan untuk peningkatan kualifikasi maupun kompetensi  guru dengan Cost Sharing.    Persentase  Guru  yang  Berkualifikasi  Sesuai  Kompetensi  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009    Capaiaan Tahun Guru yang Berkualifikasi Sesuai Kompetensi Rata-rata 2005 2006 2007 2008 2009 SD/MI 66.80% 69.    Untuk  tingkat  SMP/MTs.84% 74.65%.47  terlihat  bahwa  persentase  guru  yang  berkualifikasi  sesuai  kompetensi  tingkat  SD/MI  selalu  meningkat  dari  66.    Gambar 2.

 Oleh karena itu perlu dihitung rasio ketersediaan  posyandu per balita.  Untuk  menghitung rasio posyandu per satuan balita dapat disusun tabel sebagai berikut:            II-59 . Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita  Pengertian Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan  kesehatan  masyarakat  dan  Keluarga  Berencana  dari  masyarakat.  4.     Kegunaannya  untuk  mengetahui  berapa  selayaknya  jumlah  posyandu  yang  efektif  tersedia  sesuai  dengan  tingkat  penyebarannya  serta  sebagai  dasar  untuk  merevitalisasi  fungsi  dan  peranannya  dalam  pembangunan  daerah. berfungsi  sebagai  Wahana  Gerakan  Reproduksi  Keluarga  Sejahtera.1.    Terkait dengan hal tersebut diatas perlu dilakukan analisis rasio posyandu terhadap  jumlah  balita  dalam  upaya  pengkatan  fasilitas  pelayanan  pemenuhan  kebutuhan  tumbuh kembang anak dapat dipertahankan dan atau ditingkatkan.  melahirkan dan nifas)  2.  oleh  masyarakat. Kesehatan  b.    Pemeliharaan  dan  perawatan  kesejarteraan  ibu  dan  anak‐anak  sejak  usia  dini  merupakan  suatu  strategi  dalam  upaya  pemenuhan  pelayanan  dasar  yang  meliputi  peningkatan  derajat  kesehatan  dan  gizi  yang  baik.    Pembentukan  Posyandu  sebaiknya  tidak  terlalu  dekat  dengan  Puskesmas  agar  pendekatan  pelayanan  kesehatan  terhadap  masyarakat  lebih  tercapai  dan  idealnya  satu Posyandu melayani 100 balita.  kemampuan  berbahasa  dan  pengembangan  kemampuan kognitif (daya pikir dan daya cipta) serta perlindungan anak.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   b.  lingkungan  yang  sehat  dan  aman. membudayakan NKKBS  3.    Tujuan penyelenggaraan Posyandu:  1.  maka  diharapkan  pula  strategi  operasional  pemeliharaan  dan  perawatan  kesejahteraan  ibu  dan  anak  secara  dini  dapat dilakukan di setiap posyandu. meningkatan  peran  serta  dan  kemampuan  masyarakat  untuk  mengembangkan  kegiatan  kesehatan  dan  KB  serta  kegiatan  lainnya  yang  menunjang  untuk  tercapainya masyarakat sehat sejahtera.    Posyandu  merupakan  wadah  peran  serta  masyarakat  untuk  menyampaikan  dan  memperoleh  pelayanan  kesehatan  dasarnya.  Gerakan  Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera. menurunkan  Angka  Kematian  Bayi  (AKB).  dan  untuk  masyarakat  dengan  dukungan  pelayanan  serta  Pembinaan  teknis  dari  petugas  kesehatan  dan  keluarga  berencana  yang  mempunyai  nilai  strategis  untuk  pengem‐bangan sumber daya manusia sejak dini.     Pengalaman  empirik  di  beberapa  tempat  menunjukkan  bahwa  strategi  pelayanan  kesehatan  dasar  masyarakat  dengan  fokus  pada  ibu  dan  anak  dapat  dilakukan  pada  Posyandu.  Angka  Kematian  Ibu  (Ibu  Hamil.  pengembangan  psikososial/emosi.

763 0 0 4  2.828                  Sumber : Dinas Kesehatan Kab.188  7  Pulau Besar  8.  Jumlah  Posyandu  dan  Balita  Menurut  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009    No  Kecamatan  Jumlah Posyandu Jumlah Balita  Rasio  (1) (2) (3) (4) (5=4/3)  1 Toboali   41 5.  dan  Pustu  menurut  Kecamatan  di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009    Jumlah  Puskesmas Poliklinik Pustu  No  Kecamatan  Penduduk  Jml Rasio Jml Rasio Jml  Rasio  (1)  (2)  (3) (4) (5=3/4) (6) (7=3/6) (8)  (9=3/8)  1  Toboali  55.60  6 Tukak Sadai 5 1.  Poliklinik.3.054 1 37.48  dapat  disimpulkan  bahwa  pada  tahun  2009  rasio  posyandu  per satuan balita di kabupaten Bangka Selatan belum bisa memenuhi rasio yang ideal.138  2  Air Gegas  37.212  242.45. artinya satu Puskesmas melayani 23.293  3  Payung  18.    b.798  179.828 orang penduduk per tahun atau 24 orang penduduk per hari.45  Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Rasio Puskesmas.314  orang  penduduk  per  tahun  atau  97  orang  penduduk  per  hari    (asumsi  :  seminggu  5  hari kerja).  maka  diperlukan  sebanyak  166  posyandu  di  Kab. sedangkan rasio Pustu sudah lebih memadai.763 1 8.190    Jumlah  163.49  terlihat  bahwa  rasio  jumlah  Pusekesmas  terhadap  jumlah  penduduk masih cukup tinggi yaitu 23.  Bangka  Selatan.  Oleh  karena  itu  diperlukan penambahan sebanyak 72 posyandu lagi.759 0 0 2  6.627  4  Simpang Rimba  20.379  6  Tukak Sadai  10.   II-60 .28    Jumlah  94  16.607 1 20.692 1 55.137 1 18.214.2.137 0 0 5  3. satu Pustu hanya melayani  5.188 1 10.200  7  23.66  5 Lepar Pongok 10 1.  diagnosis  serta  pengobatan penya‐kit yang diderita oleh pasien.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.  asuhan  keperawatan  yang  berkesinambungan.40  7 Pulau Besar 7 849  121.054 0 0 7  5.49.597  299.151  5  Lepar Pongok  12.80  4 Simpang Rimba 9 2.        b.48.004  222.216  121.910  144.314  0  0  28  5.607 0 0 4  5.  masih  diperlukan  penambahan  jumlah  posyandu  di  setiap  kecamatan.188 0 0 1  10. Bangka Selatan    Berdasarkan  tabel  2.  Jumlah  Puskesmas. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk  Rumah  sakit  adalah  suatu  organisasi  yang  melalui  tenaga  medis  profesional  yang  terorganisir  serta  sarana  kedokteran  yang  permanen  menyelenggarakan  pelayanan  kese‐hatan.14  2 Air Gegas  12 3.692 0 0 5  11. Bangka Selatan    Berdasarkan  Tabel  2. Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu)    Tabel 2.759 1 12.75  3 Payung  10 1.586  176.  Oleh  karena  itu.  dimana rasio posyandu per satuan balita di kabupaten Bangka Selatan masih 176.  Untuk  mencapai  rasio  yang  ideal  1  posyandu  melayani  100  balita.

000  penduduk.   Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  banyak  membutuhkan dokter.    Untuk  menghitung  rasio  dokter  per  satuan  penduduk  dapat  disusun  tabel  sebagai  berikut:    Tabel 2.499  Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.    No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Jumlah Dokter  Rasio  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65.      b. maka Bangka Selatan masih  membutuhkan sebanyak 46 dokter lagi agar bisa memenuhi kondisi ideal.  maka  di  Bangka  Selatan  sekurang‐kurangnya  harus  ada  dokter  sejumlah  69  orang.168  1   21.  Apabila  dikaitkan  dengan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.424  2  AIRGEGAS  37.50.      II-61 .886  2   4.000  Jumlah Penduduk    Berdasarkan  kondisi  yang  ada  sekarang  ini.476  23   7.091  12   5.943  7  PULAU BESAR  8.    Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.208  4  SIMPANG RIMBA  21.168  5  LEPAR PONGOK  11.  Selain  itu  distribusi  dokter  dan  dokter  spesialis  tidak  merata  serta  kualitasnya  masih  perlu  ditingkatkan. dengan menggunakan rumus sebagai berikut:    Jumlah rumah sakit  x 10.06.806  1   37.500  penduduk. Rasio dokter per satuan penduduk  Indikator  rasio  dokter  per  jumlah  penduduk  menunjukkan  tingkat  pelayanan  yang  dapat  diberikan  oleh  dokter  dibandingkan  jumlah  penduduk  yang  ada.    Jumlah Dokter per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun   2010. maka rasio rumah sakit  per satuan penduduk Kabupaten Bangka Selatan adalah 0.187  0   0    Jumlah  172.500 orang penduduk.4.623  3   6.  Kondisi  ini  3  kali  lipat  dari  standar  system  pelayanan  kesehatan terpadu dimana 1 orang dokter idealnya melayani 2. yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).499  orang  penduduk.806  3  PAYUNG  18. 2010    Berdasarkan  tabel  2.715  4   2.  idealnya  satu  orang  dokter  melayani  2.  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  baru  ada  satu rumah sakit.50  terlihat  bahwa  1  orang  dokter  di  Bangka  Selatan  melayani  7.929  6  TUKAK SADAI  9.  Untuk  dapat  memenuhi standar system pelayanan kesehatan terpadu.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Rasio  rumah  sakit  per  satuan  penduduk  adalah  jumlah  rumah  sakit  per  10.  Jumlah  dokter  dan  dokter  spesialis  di  Indonesia  belum  memenuhi  kebutuhan  sesuai  rasio  jumlah  penduduk  Indonesia. Rasio ini mengukur ketersediaan fasilitas rumah sakit berdasarkan jumlah  penduduk.

  Untuk  menghitung  rasio  tenaga  keperawatan  per  satuan  penduduk  dapat  disusun  tabel sebagai berikut:    Tabel 2.886  0   0  7  pulau besar  8.5  perawat   II-62 .806  3  payung  18.476  4   43.   Rasio perawat per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun   2010    No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Jumlah Perawat  Rasio  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  toboali  65.047    Jumlah  172.715  1   11.119      Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan. maka  Bangka  Selatan  masih  membutuhkan  sebanyak  15  dokter  lagi  agar  bisa  memenuhi  kondisi ideal.168  0   0  5  lepar pongok  11.   Rasio dokter gigi per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2010    Jumlah  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Rasio  Dokter Gigi  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  toboali  65.623  0   0  4  simpang rimba  21.476  264   653          Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.168  21   1. 2010    Berdasarkan tabel 2.220  3  payung  18.091  orang  penduduk.  Kondisi  ini  5  kali  lipat  dari  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  dimana  1  orang  dokter  gigi  idealnya  melayani  9.806  1   37.546  2  airgegas  37. Rasio tenaga keperawatan per satuan penduduk  Rasio  tenaga  keperawatan  per  jumlah  penduduk  menunjukkan  seberapa  besar  ketersediaan tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan kepada penduduk. maka di Bangka Selatan sekurang‐kurangnya harus ada dokter gigi sejumlah  19 orang. Untuk dapat memenuhi standar system pelayanan kesehatan terpadu.52. 2010  Berdasarkan tabel 2.008  5  lepar pongok  11.51.187  0   0    Jumlah  172.5.886  18   549  7  pulau besar  8.715  21   558  6  tukak sadai  9.    b.52 terlihat bahwa secara keseluruhan 1 orang tenaga perawat di  Bangka  Selatan  melayani  653  orang  penduduk.806  31   1.091  143   455  2  airgegas  37.187  4   2.    Kondisi  ideal  tenaga  perawat  menurut    standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  117.715  6  tukak sadai  9.091  2   32.623  26   716  4  simpang rimba  21.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.  Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.119  orang  penduduk.51 terlihat bahwa 1 orang dokter gigi di Bangka Selatan melayani  43.  Hal ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Bangka Selatan masih banyak  membutuhkan  dokter  gigi.

047    Jumlah  172.855       Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.862  4  SIMPANG RIMBA  21.424  2  Airgegas  37.  Simpang  Rimba  (1  perawat  =  1.806  2   18.091  41   1.047 penduduk).  maka  terlihat  masih  ada  kecamatan  yang  belum  memenuhi  kondisi  ideal  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.903  3  Payung  18.220  penduduk).464  6  TUKAK SADAI  9.886  7   1.806  15   2.312  4  Simpang rimba  21. 2010      II-63 .886  7  Pulau besar  8.    Tabel 2.  maka  secara  keseluruhan  di  Bangka  Selatan  jumlah  tenaga  perawat sudah memenuhi kondisi ideal.53.53  terlihat  bahwa  secara  keseluruhan  1  orang  tenaga  perawat  gigi di Bangka Selatan melayani 6. maka Bangka Selatan  masih  membutuhkan  sebanyak  30  tenaga  perawat  gigi  agar  bisa  memenuhi  kondisi  ideal.520  3  PAYUNG  18.  Jika dianalogi perbandingan  kondisi ideal antara dokter dengan dokter gigi.168  8   2.54.292  5  Lepar pongok  11.  artinya  1  orang  tenaga  perawat  idealnya  melayani  851 orang penduduk.476  93   1.091  12   5.094 orang penduduk.168  4   5. 2010    Berdasarkan  tabel  2.623  10   1.   Rasio bidan per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010    No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Jumlah Bidan  Rasio  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65.187  4   2. maka secara keseluruhan di  Bangka  Selatan  jumlah  tenaga  perawat  gigi  masih  belum  memenuhi  kondisi  ideal.476  26   6.634 orang penduduk.715  8   1.634   Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.   Rasio perawat gigi per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan   Tahun 2010  Jumlah Perawat  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Rasio  Gigi  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  Toboali  65.588  2  AIRGEGAS  37.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   berbanding  100.    Tabel 2.  maka  diperoleh  rasio  perbandingan  1  orang  tenaga  perawat  gigi  idealnya  melayani 3.412  7  PULAU BESAR  8.      Berdasarkan  angka  ini.   Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.343  6  Tukak sadai  9.715  5   2.000  penduduk. Untuk  dapat memenuhi standar system pelayanan kesehatan terpadu.187  0   0    Jumlah  172.646  5  LEPAR PONGOK  11.  maka  di  Bangka  Selatan sekurang‐kurangnya harus ada tenaga perawat gigi sejumlah 56 orang.008 penduduk) dan Pulau Besar (1 perawat = 2. Namun demikian jika ditelaah jumlah tenaga  perawat  yang  ada  per  kecamatan.  yaitu  kecamatan  Air  Gegas  (1  perawat  =  1. dan tenaga perawat dengan perawat  gigi.  Berdasarkan angka ini.623  2   9.886  1   9.

6.  Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  banyak  membutuhkan  apoteker. maka Bangka Selatan  masih membutuhkan sebanyak 11 apoteker lagi agar bisa memenuhi kondisi ideal.476  6   28.   Berdasarkan  angka  ini.    b.  artinya  1  orang  tenaga  apoteker  idealnya  melayani  10. 2010    Berdasarkan  tabel  2.424  2  AIRGEGAS  37.  Untuk  dapat  memenuhi  standar  system  pelayanan  kesehatan terpadu.091  12   5.55.806  1   37. maka di Bangka Selatan sekurang‐kurangnya harus ada  bidan  sejumlah  172  orang.806  3  PAYUNG  18.  Berdasarkan angka ini. Jika berdasarkan standar system  pelayanan kesehatan terpadu.55  terlihat  bahwa  secara  keseluruhan  1  orang  apoteker  di  Bangka  Selatan  melayani  28.  Untuk  dapat memenuhi standar system pelayanan kesehatan terpadu.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Berdasarkan  tabel  2.715  0   0  6  TUKAK SADAI  9.623  3   6.  Rasio  asisten  apoteker  per  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun 2010    Jumlah  Jumlah Asisten  No  Kecamatan  Rasio  Penduduk  Apoteker  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65. Rasio tenaga kefarmasian per satuan penduduk  Tabel 2.855 orang penduduk.    Tabel 2.746  orang  penduduk.000  penduduk.  Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu. maka secara keseluruhan di Bangka  Selatan  jumlah  tenaga  apoteker  belum  memenuhi  kondisi  ideal. Kondisi ideal tenaga bidan menurut  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  100  bidan  berbanding  100.  maka  secara  keseluruhan  di  Bangka  Selatan  jumlah  tenaga  bidan  belum  memenuhi  kondisi  ideal.806  0   0  3  PAYUNG  18.091  6   10.  Kondisi  ideal  tenaga  apoteker  menurut    standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  10  apoteker  berbanding  100.   Rasio apoteker per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2010    Jumlah  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Rasio  Apoteker   (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65. maka Bangka Selatan masih membutuhkan sebanyak 79 bidan lagi  agar bisa memenuhi kondisi ideal.623  0   0  4  SIMPANG RIMBA  21.208   II-64 .886  0   0  7  PULAU BESAR  8.000 orang penduduk.  Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  Kabupaten  Bangka Selatan masih banyak membutuhkan bidan.56.746       Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.849  2  AIRGEGAS  37.187  0   0    Jumlah  172.  maka  di  Bangka  Selatan  sekurang‐kurangnya  harus  ada  apoteker  sejumlah  17  orang.  artinya  1  orang  tenaga  bidan  idealnya  melayani  1000  orang  penduduk.168  0   0  5  LEPAR PONGOK  11.54  terlihat  bahwa  secara  keseluruhan  1  orang  bidan  di  Bangka  Selatan melayani 1.000  penduduk.

  Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.000  penduduk.  Kondisi  ideal  tenaga  asisten  apoteker  menurut    standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  30  asisten  apoteker  berbanding  100.  Berdasarkan  angka  ini.858  6  TUKAK SADAI  9.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   4  SIMPANG RIMBA  21.  maka  Bangka  Selatan  masih  membutuhkan  sebanyak  37  ahli  kesehatan  lagi  agar  bisa  memenuhi  kondisi ideal.390   Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.  Untuk  dapat  memenuhi  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.187  0   0    Jumlah  172.168  3   7.7.  maka  secara  keseluruhan  di  Bangka  Selatan  jumlah  tenaga  asisten  apoteker  belum  memenuhi  kondisi  ideal. 2010    Berdasarkan tabel 2.295  7  PULAU BESAR  8.715  2   5.858  6  TUKAK SADAI  9.  maka  Bangka  Selatan  masih  membutuhkan  sebanyak  30  asisten  apoteker lagi agar bisa memenuhi kondisi ideal.476  32   5.091  21   3. 2010    Berdasarkan tabel 2.903  3  PAYUNG  18.056  5  LEPAR PONGOK  11. Kondisi ideal tenaga ahli kesehatan  menurut    standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  40  ahli  kesehatan  berbanding  100.840  orang  penduduk. Hal ini  mengindikasikan bahwa Kabupaten Bangka Selatan masih banyak membutuhkan ahli  kesehatan.187  0   0    Jumlah  172.056  5  LEPAR PONGOK  11.886  1   9. Rasio tenaga kesehatan masyarakat per satuan penduduk    Tabel 2.806  2   18.100  2  AIRGEGAS  37.  maka  di  Bangka  Selatan  sekurang‐kurangnya  harus  ada  asisten  apoteker  sejumlah  52  orang. maka secara keseluruhan di  Bangka Selatan jumlah tenaga ahli kesehatan belum memenuhi kondisi ideal.  Untuk  dapat  memenuhi  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.56 terlihat bahwa secara keseluruhan 1 orang asisten apoteker di  Bangka  Selatan  melayani  7.623  1   18.840                 Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.  artinya  1  orang  tenaga  ahli  kesehatan  idealnya  melayani 2.  Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.   Rasio  ahli  kesehatan  per  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun 2010    Jumlah Ahli  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Rasio  Kesehatan  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65.390 orang penduduk.476  22   7.000  penduduk.57 terlihat bahwa secara keseluruhan 1 orang ahli kesehatan di  Bangka Selatan melayani 5.  artinya  1  orang  tenaga  asisten  apoteker  idealnya  melayani  3.  maka  di  Bangka  Selatan  sekurang‐kurangnya  harus  ada  ahli  kesehatan  sejumlah  69  orang.715  2   5.    b.57. Berdasarkan angka ini.623  4  SIMPANG RIMBA  21.333  orang  penduduk.    II-65 .886  7  PULAU BESAR  8.886  3   3.  Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  banyak  membutuhkan  asisten  apoteker.168  3   7.500 orang penduduk.

500  orang  penduduk.780       Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.   Rasio ahli gizi per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun   2010    No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Jumlah Ahli Gizi  Rasio  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65.187  0   0    Jumlah  172.476  16   10. maka di Bangka Selatan sekurang‐kurangnya harus ada sanitarian sejumlah  69 orang.    b.091  10   6.078  orang  penduduk.091  6   10. Berdasarkan angka ini.59.886  7  PULAU BESAR  8.  artinya  1  orang  sanitarian  idealnya  melayani  2. Untuk dapat memenuhi standar system pelayanan kesehatan terpadu.715  3   3.715  6  TUKAK SADAI  9.903  3  PAYUNG  18.208  4  SIMPANG RIMBA  21.168  5  LEPAR PONGOK  11.806  3   12.  artinya  1  orang  ahli  gizi  idealnya  melayani  4.187  0   0    Jumlah  172.078     Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.8.   II-66 .886  1   9. 2010    Berdasarkan tabel 2.58.886  3   3.000  penduduk.  Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.602  3  PAYUNG  18.312  4  SIMPANG RIMBA  21.780  orang  penduduk.623  3   6. maka secara keseluruhan di Bangka Selatan jumlah  sanitarian belum memenuhi kondisi ideal.   Rasio sanitarian per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan   Tahun 2010    Jumlah  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Rasio  Sanitarian  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65.59 terlihat bahwa secara keseluruhan 1 orang ahli gizi di Bangka  Selatan  melayani  9.168  0   0  5  LEPAR PONGOK  11. 2010    Berdasarkan  tabel  2.000  penduduk.295  7  PULAU BESAR  8.623  2   9.715  1   11.905  6  TUKAK SADAI  9.   Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  banyak  membutuhkan  sanitarian.  Kondisi  ideal  sanitarian  menurut   standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  40  sanitarian  berbanding  100.806  2   18.545  orang  penduduk. Rasio tenaga gizi per satuan penduduk    Tabel 2.58  terlihat  bahwa  secara  keseluruhan  1  orang  sanitarian  di  Bangka  Selatan  melayani  10.  Kondisi  ideal  ahli  gizi  menurut    standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu  adalah  22  ahli  gizi  berbanding  100.476  19   9.509  2  AIRGEGAS  37.168  1   21. maka  Bangka Selatan masih membutuhkan sebanyak 53 sanitarian lagi agar bisa memenuhi  kondisi ideal.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.849  2  AIRGEGAS  37.

  maka  secara  keseluruhan  di  Bangka  Selatan  jumlah  ahli  gizi  belum  memenuhi  kondisi  ideal.  Jika  berdasarkan  standar  system  pelayanan kesehatan terpadu.604  2  AIRGEGAS  37.791  orang  penduduk.476  36   4.476   Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.452  3  PAYUNG  18.886  7  PULAU BESAR  8.9. 2010    Berdasarkan  tabel  2.187  0   0    Jumlah  172. Rasio keteknisan medis per satuan penduduk    Tabel 2.   Rasio keteknisan medis per Kecamatan di Kabupaten Bangka   Selatan Tahun 2010    Jumlah  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Keteknisan  Rasio  Medis  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65. maka Bangka Selatan masih membutuhkan sebanyak 19 ahli gizi  lagi agar bisa memenuhi kondisi ideal.091  1   65.60  terlihat  bahwa  secara  keseluruhan  1  orang  tenaga  media  di  Bangka  Selatan  melayani  4.791    Sumber : Dinas Kesehatan Bangka Selatan.61.10.806  4   9.584  5  LEPAR PONGOK  11.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Berdasarkan  angka  ini. Rasio keterapian fisik per satuan penduduk    Tabel 2.  Namun demikian jika ditelaah jumlah tenaga medis    II-67 .168  0   0  5  LEPAR PONGOK  11.500 orang penduduk.715  0   0  6  TUKAK SADAI  9.091  25   2.    Kondisi  ini  hampir  mendekati  standar system pelayanan kesehatan terpadu dimana 1 orang tenaga medis idealnya  melayani 2.   Rasio keterapian fisik per Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan   Tahun 2010    Jumlah  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk  Keterapian  Rasio  Fisik  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  TOBOALI  65.  Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  banyak  membutuhkan  ahli  gizi.60.  Untuk  dapat  memenuhi  standar  system  pelayanan  kesehatan terpadu. 2010    b.091  2  AIRGEGAS  37.886  1   9.168  2   10.715  4   2.476  1   172.806  0   0  3  PAYUNG  18.929  6  TUKAK SADAI  9.623  0   0  4  SIMPANG RIMBA  21.623  0   0  4  SIMPANG RIMBA  21.886  0   0  7  PULAU BESAR  8.187  0   0    Jumlah  172. maka di Bangka Selatan sekurang‐kurangnya harus ada  ahli  gizi  sejumlah  38  orang.    b.

Luas Lahan Kritis  Lahan  merupakan  sumber  daya  alam  yang  pengelolaannya  memiliki  status  yang  penting.692  3  Payung  37.275.  dan  dijadikan  lokasi  penambangan  timah  oleh  perusahaan maupun rakyat.452  orang  penduduk). Bangka Selatan Tahun 2010   II-68 .681  5  Lepar Pongok  26.00 360.  Luas lahan kritis di Kabupaten Bangka Selatan    Luas Lahan  No  Kecamatan  Luas lahan Kritis (Ha)  (Ha)  1  Toboali  146.886 orang penduduk.  selain  itu  di  beberapa  kecamatan  masih  memiliki  rasio  2  atau  3  kali  lipat  dari  standar  system  pelayanan  kesehatan  terpadu.    Luas  lahan  yang  ada  serta  sebaran  lahan  kritis  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  tahun 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini.112  Jumlah  360.  maka  terlihat  masih  ada  kecamatan  yang  belum  memiliki  tenaga  medis  yaitu  kecamatan  Pulau  Besar.  namun  keadaannya  semakin  menyusut  dan  rusak.721  4  Simpang Rimba  36.  maka  pemanfaatan  lahan semakin meningkat sehingga terjadi perubahan yang signifikan.    Tabel 2.1.  bercocok  tanam.  yaitu  kecamatan  Air  Gegas  (1  tenaga  medis  melayani  9.  sosial  maupun  demografi.    No  Kawasan Hutan menurut Status  Luas (Ha)  Keterangan  1  Hutan Lindung  18.409  6  Pulau Besar  16.    Seiring  dengan  perkembangan  penduduk  dan  rencana  pembangunan  daerah. Bangka Selatan Tahun 2010      Kabupaten  Bangka  Selatan  memiliki  kawasan  hutan  yang  cukup  luas.  Kondisi hutan di Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.00 Luas Kabupaten  2  Hutan Produksi  134.28 Total     154.034 10.584 dan 9.987 4.708 Ha  4  Hutan Kota          26.230 9.115.63.982  7  Tukak Sadai  12.    Tabel 2.  karena  digunakan  oleh  penduduk  untuk  membangun  rumah.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   yang  ada  per  kecamatan.  baik  secara  ekonomi. Lingkungan Hidup  c.712.600 4.708 55.62.128.  Luas Areal Hutan di Kabupaten Bangka Selatan.364 11.  Tambang yang dikelola oleh rakyat dinamakan Tambang  Inkonvensional  dan  hampir  seluruhnya  tidak  memiliki  izin  dari  Pemerintah  Daerah.792  2  Air Gegas   85.  kecamatan  Simpang  Rimba  dan  Tukak  Sadai.28     Sumber: Laporan Status Lingkungan Hidup Kab.00 Bangka Selatan  3  Hutan Konservasi  1.295 11.198 2.  masing‐masing  tenaga  medis  melayani  10.      c.389   Sumber: Laporan Status Lingkungan Hidup Kab.

9  11. Temperatur  oC  ‐  27.2 6.0 5.      Selain  sebagai  sumber  mata  pencaharian  sebagai  nelayan/petambak/petani  rumput  laut.2  13.0  28.8  28  28  3. Klor   mg/l              13.05  0. Lepar. Bau    Alamiah  alamiah  alamiah  alamiah  Alamiah  Alamiah  3.0  27.4 7. BOD5  mg/l              5. Pestisida   mg/l              16.7  23. Warna  CU  Alamiah alamiah alamiah alamiah  Alamiah  Alamiah 2. PCB  mg/l    17. Merkuri (Hg)  mg/l    19. DO  mg/l  4‐6 7.  maupun  oleh  perusahaan  yang  bergerak  di  bidang  pertambangan.5 7.  Kualitas Air Laut di Perairan Bangka Selatan  Lokasi Sampling  Parameter  Satuan  Baku Mutu  Titik 1  Titik2  Titik 3  Titik 4  Titik 5  P.Tinggi  P.6  7.2 4. dan perairan desa Permis.    Di  perairan  laut  Bangka  Selatan  banyak  dijumpai  aktivitas  penambangan  timah.  petambak  dan petani rumput laut.    Akibat aktivitas penambangan timah di laut ini.6  7.2  14.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   c. Kecerahan M  ‐ 6. Kekeruhan  NTU  ‐  18. seperti PT.  sehingga  kabupaten  Bangka  Selatan  dinamakan  juga  sebagai  kabupaten  kepulauan/pesisir.6  5.01   12.5  28.3  8.  laut    juga  sudah  menjadi  tempat  eksplorasi  timah. Lapisan Minyak  ‐        8. Amonia total  mg/l              7.2  8.3  27.0  Kimia                  1. Fenol  mg/l    15. Sampah  ‐                    7. Deterjen  mg/l              18. Sulfida (H2S)  mg/l  0.0  28.2. COD  mg/l    6. NO2‐N  mg/l    8. TSS  mg/l        6.  baik  yang  dilakukan  oleh  masyarakat  (TI  Apung).      Areal  penambangan  timah  di  laut  yang  masih  potensial  dan  dieksplorasi  yakni  perairan Toboali. Pesisir dan Pantai  Kabupaten  Bangka  Selatan  sebagai  kabupaten  baru  hasil  pemekaran  terdiri  dari  beberapa  pulau  yang  hampir  seluruh  wilayahnya  dikelilingi  oleh  laut.    Kualitas  air  laut  Bangka  Selatan  berdasarkan  kajian  kualitas  Ekosistem  Mangrove tahun 2009 dapat dilihat pada tabel berikut.  laut  menjadi  salah  satu  sumber  mata  pencaharian  masyarakat  Bangka  Selatan  yang  berprofesi  sebagai  nelayan. NO3‐N  mg/l  Nihil  0. berakibat kepada penurunan kualitas  air  laut.9  8.64.01  9. Salinitas  ‰  27‐32  29  29.4 7.    Tabel 2.01  0.   Sebagai  kabupaten  kepulauan/pesisir. PO4‐P  mg/l    10.6 7.5  9.Tinggi  P.6 2.Pongok  P. Krom (Cr)  mg/l      II-69 . Laut.01  0.01  0. Minyak bumi  mg/l              14. Timah dan perusahaan lainnya. pH  ‐  6‐9 7.Burung  Pantai     Nama Lokasi  sebelah  sebelah  sebelah  sebelah  Sadai  Barat  Ttimur  Barat  Selatan  Koordinat                 Waktu sampling (tgl/bln/thn)        Fisika                 1. Sianida (CN‐)  mg/l              11.2 4.

 namun tetap beroperasi seperti dari  6  SPBU  yang  ada  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  hanya  3  yang  memiliki  rekomendasi  AMDAL/UPL/UKL.99  Baik  Baik  5.  AMDAL Pertambangan Timah  Pertambangan Timah PT.71. TIMAH.134  Baik  Baik  6.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Lokasi Sampling  Parameter  Satuan  Baku Mutu  Titik 1  Titik2  Titik 3  Titik 4  Titik 5  20. Bangka Selatan Tahun 2010      Tabel 2. Perak (Ag)  mg/l              Biologi        MPN/10 31. Putra Bas Sumber : Laporan Status Lingkungan Hidup Kab. Tbk  Baik  Baik  2.      Tabel 2. Tembaga (Cu)  mg/l              25.331. SPBU 24.99. TIMAH.134 dan CV Putra Bas (Bengkel dan Showroom).331. Begitu pula dengan perusahaan peleburan biji timah atau smelter  timah tidak satupun yang memiliki rekomendasi AMDAL/UPL/UKL.  Rekomendasi Amdal/UPL/UKL  No.3.  SPBU  24. Tbk 2.  Hotel  Marina. E coli                    0 ml  MPN/10 32.  ‐  SPBU 24.99 6.  Pengawasan dan Pemantauan Pelaksanaan UPL/UKL  Nama  Hasil Pengawasan  No.331.    Perusahaan  yang  memiliki  dokumen  UPL/UKL  hanya  7  perusa‐haan  yaitu  PT. Arsen (As)  mg/l              22.331. Selenium (Se)  mg/l    23.  Waktu (tgl/bln/thn)  Perusahaan/Pemrakarsa  UPL  UKL  1. sedangkan  yang tidak memilki dokumen AMDAL/UPL/UKL. Cobalt (Co)  mg/l    30.  PT.71  Baik  Baik  4.65. Putra Bas  Baik  Baik  Sumber : Laporan Status Lingkungan Hidup Kab. KOBATIN Tbk 3.  SPBU  24.  ‐  PT. Besi  mg/l              27.331.  ‐  CV.71 5. Bangka Selatan Tahun 2010      c.  AMDAL Pertambangan Timah  Pertambangan Timah PT.331.134 7.331.  AMDAL SPBU  Fuel and oil trading SPBU 24.  Jenis Dokumen  Kegiatan  Pemrakarsa  1. Coliform                    0 ml               Sumber :  Laporan Status Lingkungan Hidup Kab. Nikel   mg/l              29.  ‐  Hendrik  Baik  Baik  3.TIMAH. AMDAL  Dari  data  yang  ada  tentang  rekomendasi  AMDAL  bagi  setiap  kegiatan  usaha  di  Kabupaten Bangka Selatan diupayakan kegiatan usahanya dilengkapi dengan AMDAL  atau  dokumen  UPL/UKL.  AMDAL SPBU  Fuel and oil trading SPBU 24.331.  AMDAL Showroom dan Bengkel  Perbengkelan CV.  ‐  SPBU 24. Kadmium (Cd)  mg/l              24.  AMDAL SPBU  Fuel and oil trading SPBU 24. Seng (Zn) mg/l    28. Bangka Selatan Tahun 2010   II-70 .331.  ‐  SPBU 24.  Kobatin. Mangan (Mn)  mg/l    21.  AMDAL Hotel Marina  Perhotelan Hendrik 4.66. Timbal (Pb)  mg/l    26.

  Walaupun  bakteri  dapat dibu‐nuh dengan memasak air hingga 100 °C. Persentase Penanganan Sampah  Untuk  menghitung  persentase  penanganan  sampah  dapat  disusun  tabel  sebagai  berikut:    Tabel 2. air leding (PAM). banyak zat berbahaya.5.2  1.67.4. Bangka  Masyarakat  Maret 2010  Lingkungan  Selatan  dan Sekolah  Sumber :  Laporan Status Lingkungan Hidup Kab. tidak berwarna.  Hal  yang dimaksud dengan akses air bersih adalah meliputi air minum yang berasal dari  air mine‐ral. Bangka  Masyarakat  Maret 2010  composting  Selatan  2.68. atau mata air yang terlindung dalam  jumlah yang  cukup sesuai standar kebutuhan minimal. dengan menggunakan rumus  sebagai berikut:  Persentase penduduk berakses air bersih =    Penduduk berakses air minum x 100          Jumlah penduduk    II-71 .  Sosialisasi  Penghijauan  BLH Kab. Persentase penduduk berakses air minum  Syarat‐syarat air minum menurut Kementerian Kesehatan adalah tidak berasa.  Kegiatan Penyuluhan Lingkungan  Instansi  Waktu  No.  Sosialisasi pemanfaatan  BLH Kab. maka  telah dilaksanakan beberapa kegiatan sosialisasi.    Persentase  penduduk  berakses  air  bersih  adalah  proporsi  jumlah  penduduk  yang  mendapatkan  akses  air  minum  terhadap  jumlah  penduduk  secara  keseluruhan. Bangka  Masyarakat  Sampah  organik  dan  Maret 2010  Selatan  dan Sekolah  anorganik  3. tidak  berbau.  Sosialisasi  Pengolahan  BLH Kab.   Jumlah  Volume  Sampah  dan  Produksi  Sampah  Menurut  Kecamatan  di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Jumlah sampah yang  Jumlah Volume produksi  No  Kecamatan  Persentase  ditangani (ton)  sampah  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3/4)  1  Toboali   1. seperti terlihat pada tabel berikut ini. terutama  logam. dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sum‐ ber alam dapat diminum oleh manusia.2  0    c. Bangka Selatan Tahun 2010      c.  Nama Kegiatan  Peserta  Penyelenggara  Penyuluhan  1. sumur. pompa air.2  1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Dalam  rangka  memberikan  penyuluhan  kepada  masyarakat  tentang  sadar  lingkungan  dan  pemanfaatan sumberdaya lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat Bangka Selatan.2  100  2  Air Gegas  0  0  0  3  Payung  0  0  0  4  Simpang Rimba  0  0  0  5  Lepar Pongok  0  0  0  6  Tukak Sadai  0  0  0  7  Pulau Besar  0  0  0    Jumlah  1. terdapat resiko bahwa air  ini telah tercemar  oleh  bakteri  (misalnya  Escherichia  coli)  atau  zat‐zat  berbahaya. tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.  Tabel 2.

523  14.054 1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Untuk  menghitung  persentase  penduduk  berakses  air  bersih  dapat  disusun  tabel  sebagai berikut:    Tabel 2.02%  5  Lepar Pongok  101.58 54  3.07%    Persentase  Luas  Permukiman  yang  Tertata  adalah  proporsi  luas  area  permukiman  yang sesuai dengan peruntukan berdasarkan rencana tata ruang satuan permukiman  terhadap  luas  area  permukiman  keseluruhan.562.762  6.  Sedangkan  persentase  terbesar  penduduk  berakses  air  bersih  di  Kecamatan  Lepar  Pongok  sebesar  23.0  6  Tukak Sadai  10.    c.403  21.03%  7  Pulau Besar  867.508  13.10 10  9.7    Dari  tabel  2.94 35  4.69  terlihat  bahwa  persentase  penduduk  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  tahun  2009  sebesar  10.  dengan  menggunakan  rumus  sebagai  berikut:   II-72 .03%    Jumlah  7.137 2.9  7  Pulau Besar  8.99%  2  Air Gegas  1352.6.99%  3  Payung  375.266  3.692 3.7%.759 2.763 1.89%  6  Tukak Sadai  471.69.70.0%  dan  yang  terendah  di  Kecamatan  Air Gegas sebesar 3. Persentase luas permukiman yang tertata  Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung.200  17.188 1.935  23. baik yang  berupa  kawasan  perkotaan  maupun  perdesaan  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempat  tinggal  atau  lingkungan  hunian  dan  tempat  kegiatan  yang  mendukung  peri  kehi‐dupan dan penghidupan .607 4.026  11.82 216  3.84 12  4.4%.4  5  Lepar Pongok  12.99%  4  Simpang Rimba  298.66 15  3.423  10.    Untuk  menghitung  persentase  luas  permukiman  yang  tertata  dapat  disusun  tabel  sebagai berikut:    Tabel 2.7    Jumlah  163.7  2  Air Gegas  37.3 19  4.8  4  Simpang Rimba  20.   Persentase  luas  permukiman  yang  tertata  menurut  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009  Luas Area Permukiman  Luas Area Permukiman  No  Kecamatan  Persentase  Keseluruhan  Tertata  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=4/3)  1  Toboali   3.4 71  1.029.  Proporsi  Jumlah  Penduduk  yang  Mendapatkan  Akses  Air  Minum  dan  Jumlah  Penduduk  Menurut  Kecamatan  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun 2009  Jumlah  Jumlah Penduduk Yang  No  Kecamatan  Persentase  penduduk  Mendapatkan Akses Air Minum  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=4/3)  1  Toboali   55.4  3  Payung  18.

  c.1.1. Kondisi  Baik  (B)  adalah  semua  ruas  jalan  dimana  permukaan  perkerasan.  rusak dan rusak berat.  c.  b.  Dapat  dikatakan  juga  sebagai  semua  ruas  jalan  yang  mantap  dari  aspek  kondisi tetapi tidak mantap dari aspek pemanfaatan/kapasitas atau sebaliknya. Sarana dan Prasarana Umum  d.  Untuk  keperluan  teknis  operasional  diperlukan  suatu  definisi  atau  batasan/kriteria  teknis  (“engineering  criteria”) yang lebih jelas dan bersifat kuantitatif.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Persentase luas permukiman tertata =   Luas Area Permukiman Tertata            x 100%  Luas Area Permukiman Keseluruhan    d. sedang rusak. mantap Sempurna. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik  Kinerja  jaringan  jalan  sebagai  hasil  dari  manajemen  pengelolaan  didasarkan  kepada  beberapa Indikator makro yaitu :    d.2 Kinerja jaringan jalan berdasarkan kondisi  Kinerja jaringan berdasarkan kondisi dengan terminologi baik. Kondisi Sedang (S) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan.    d. tidak  Mantap.  atau  sebaliknya yaitu jalan dengan lebar yang cukup tetapi kondisi rusak sampai rusak  berat.  bahu  jalan  dan  saluran  samping  dalam  kondisi  sedang  menuju  rusak  menurut  kriteria  teknis  (tingkat  kerusakan  10  s/d  16  %).  Kerusakan  yang  ada  belum  (atau  sedikit  saja)  menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu lintas.  b. Kondisi Rusak (R) adalah semua ruas jalan dimana permukaan perkerasan. Kinerja jaringan jalan  dinyatakan  sebagai  Mantap  Sempurna.  atau  semua  ruas  jalan  yang  mantap  baik  dari  aspek  kondisi  maupun aspek pemanfaatan/kapasitas. Kondisi  Sedang  Rusak  (SR)  adalah  semua  ruas  jalan  dimana  permukaan  perke‐ rasan.  Kinerja  jaringan  jalan  berdasarkan  kemantapan  dapat  dikelompokkan  menjadi  3  (tiga) kategori yaitu :  a.1.  adalah  semua  ruas  jalan  dengan  kondisi  sedang  sampai  baik  tetapi  lebarnya  kurang  dari  ketentuan  berdasarkan  jumlah  LHR  yang  ada.  dimana  hal  tersebut  lebih  merupakan  definisi  secara  kualitatif. bahu  jalan dan saluran samping dalam kondisi sedang menurut kriteria teknis (tingkat  kerusakan  6  s/d  10  %).  sehingga kendaraan harus mengurangi kecepatannya.1 Kinerja jaringan jalan berdasarkan kemantapan  Kinerja  jaringan  jalan  berdasarkan  aspek  kemantapan  adalah  merupakan  kinerja  gabungan dari aspek kondisi dan aspek pemanfaatan/kapasitas.  Kerusakan  yang  ada  mulai menimbulkan gangguan terhadap kelancaran arus pergerakan lalu – lintas. sehingga arus lalu lintas dapat berjalan lancar sesuai dengan  kecepatan disain dan tidak ada hambatan yang disebabkan oleh kondisi jalan. mantap  Marginal.  Mantap  Marginal  dan  Tidak  Mantap.  d. bahu  jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak menurut kriteria  teknis (tingkat    II-73 . sedang.  bahu  jalan  dan  saluran  samping  dalam  kondisi  baik  menurut  kriteria  teknis  (tingkat  keru‐sakan ≤ 6% ).  adalah  semua  ruas  jalan  baik  secara  kondisi  maupun  kapasitas  tidak mantap. adalah semua ruas jalan dengan kondisi sedang  sampai baik  dan  lebarnya  memenuhi  ketentuan  lebar  minimum  perkerasan  (berdasarkan  LHR  yang  ada). Terminologi ini didasarkan pada besarnya persentase tingkat  kerusakan dengan penjelasan sebagai berikut:  a.

600 20.000 13. Batasan nilai V/C ratio yang  menunjukkan tingkat pelayanan mulai mendekati kemacetan diambil > 0.000 6  Tukak Sadai  43.500  76.  sedangkan  aspek  peman‐ faatan diukur dengan besaran V/C ratio.859 = 0.611 36.sehingga  kendaraan  harus  berjalan  secara  perlahan‐lahan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   kerusakan  16  s/d  20  %).3 Kinerja jaringan jalan berdasarkan aspek pemanfaatan  Dua hal utama yang berkaitan erat dengan kinerja jalan.780 2  Air Gegas  62.    d.  mengurangi  kecepatannya.119 55.700 20.  sebaliknya  69%  lagi  mengalami  kerusakan.65.400  116.71.31  804. Kondisi  Rusak  Berat  (RB)  adalah  semua  ruas  jalan  dimana  permukaan  perkerasan.  Kerusakan  yang  ada  sudah  sangat  parah  dan  nyaris  tidak  dapat  lagi  dilewati  oleh  kendaraan  roda  4.    Untuk  menghitung  proporsi  panjang  jaringan  jalan  berdasarkan  kondisi  dapat  disusun tabel sebagai berikut :    Tabel 2. baik untuk individual segmen  maupun  untuk  sepanjang  ruas  dan  sistem  jaringan  adalah  aspek  kondisi  dan  aspek  pemanfaatannya. bahu jalan dan saluran samping dalam kondisi rusak berat menurut  kriteria  teknis  (tingkat  kerusakan  >  20  %).750 7  Pulau Besar  10.  atau  hanya  dapat dilewati dengan kecepatan sangat rendah.000 ‐  53.000 14.6 53. V/C ratio menunjukkan gambaran mengenai  tingkat  pelayanan  suatu  jalan  dalam  melayani  arus  (pergerakan)  lalu  lintas.000  229.  kadangkala  harus  berhenti  akibat adanya kerusakan atau hambatan pada permukaan perkerasan.500  82. dan  kabupaten/kota).000 65.370  168. provinsi.  baik  kerusakan  sedang.000 48.970  Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik di Bangka Selatan hanya sebesar  31%.750 13.  e.000 35.400   Jumlah  250.  Kerusakan  yang  ada  sudah  sangat  menghambat  kelancaran  arus  pergerakan  lalu  ‐  lintas.041 154.500 6.    Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kecamatan di Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009 (km)    Kondisi  Kondisi  Kondisi  Kondisi  Jalan Secara  No  Kecamatan  Sedang  Baik  Rusak  Rusak Berat  Keseluruhan  Rusak  1  Toboali   118.000 229.  rusak  sampai rusak berat. Komunikasi dan Informatika Kab.1.670 3  Payung  ‐ 16.050 20.040 2.070 5  Lepar Pongok  ‐ 15.970 Sumber : Dinas Perhubungan.670 4  Simpang Rimba  17.000 23.000 38. dengan menggunakan rumus sebagai berikut:      Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik =  250.930 8. Bangka Selatan    Proporsi  panjang  jaringan  jalan  dalam  kondisi  baik  adalah  panjang  jalan  dalam  kondisi baik dibagi dengan panjang jalan secara keseluruhan (nasional.000 48.    II-74 .  dimana  sema‐kin  besar  nilai  V/C  ratio  berarti  semakin  rendahnya  tingkat  pelayanan  jalan  tersebut yang ditunjukkan dengan terjadinya kemacetan.  Hal  ini  mengindikasikan  kualitas  jalan  dari  keseluruhan  panjang  jalan.    Kondisi  diukur  (terutama)  dengan  besaran  nilai  Kondisi.300  78.859 171.070  804.

 sekunder dan tersier.788  6747.48   Jumlah  46.5 1300  0.  Panjang  jaringan  irigasi  meliputi  jaringan  primer.  bangunan  dan  bangunan  pelengkapnya  yang  merupakan  satu  kesatuan  yang  diperlukan  untuk  penyediaan.1.  Selanjutnya  secara  operasional  dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer. Dalam hal ini efisiensi teknis diukur dari tiga indikator yaitu  Pasok Irigasi per Area  (PIA).815. boks  kuarter serta bangunan pelengkapnya. saluran kuarter dan saluran pembuang.  pemberian.529 572.     Untuk  menghitung  Rasio  perbandingan  panjang  jaringan  irigasi  terhadap  luas  lahan  budidaya dapat disusun tabel sebagai berikut :    Tabel 2.    Dari  ketiga  kelompok  jaringan  tersebut.  penggunaan  dan  pembuangan  air  irigasi. Bangka Selatan    Rasio  Jaringan  Irigasi  adalah  perbandingan  panjang  jaringan  irigasi  terhadap  luas  lahan  budidaya.600  2000 0 12. yaitu :  a.65 2  Air Gegas  3.529 559. Pasok   Irigasi  Relatif  (PIR)  dan  Pasok  Air  Relatif  (PAR)  dengan  rumusan  sebagai  berikut:    PIA    =  Pasok Air Irigasi         Liter /Detik/Ha        Luas Lahan Terairi    PIA /RIS  =  Pasok Irigasi Total            Liter /Detik/Ha        Kebutuhan Air Tanaman    II-75 . Tingkat efisiensi akan diukur dari nilai Pasok Irigasi per Area (PIA).600 2300  5.3 16.911.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   d.8 21.850  33.  yang  langsung  berfungsi  sebagai  prasarana  pelayanan  air  irigasi  ke  dalam  petakan  sawah  adalah  jaringan  irigasi  tersier  yang  terdiri dari saluran tersier.   Rasio Jarigan Irigasi Menurut Kecamatan Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2009 (ha)    Panjang Jaringan Irigasi  Total  Panjang  Luas Lahan  No  Kecamatan  Rasio  Primer  Sekunder  Tertier  Jaringan  Budidaya  Irigasi  (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  (6=3+4+5)  (7)  (8=6/7)  1  Toboali   31.  sekunder.99  Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.06 3  Payung  0  0 0 0 0  0 4  Simpang Rimba  0  0 0 0 1400  0 5  Lepar Pongok  230  0 0 230 100  2. boks tersier.368  8747.  Sedangkan efektivitas ditunjukkan oleh indeks luas areal (IA). Pasok  Irigasi Relatif (PIR) dan Pasok  Air  Relatif (PAR).4 Rasio Jaringan Irigasi  Pengertian  jaringan  irigasi  adalah  saluran.8 21.  Hal  ini  mengindikasikan  ketersediaan  saluran  irigasi  untuk  kebutuhan  budidaya  pertanian.  tolok  ukur  keberhasilan  pengelolaan  adalah  efisiensi dan efektifitas.8 11.750  0 0 73.3 6  Tukak Sadai  0  0 0 0 0  0 7  Pulau Besar  10.750  47.  tersier.72.    Didalam  pengelolaan  jaringan  irigasi.  Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.  pembagian.

28  14.  PIR  dan  PAR.  PIR  dan  PAR.    b.  dengan  rumusan  berikut:    IA  =  Luas Area Teririgasi     x 100%    Rancangan Luas Area    Luas rancangan = rancangan luas areal  Semakin tinggi nilai IA menunjukkan semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi.  di  lapangan  diidentifi‐kasi  rasio  atau  nisbah  luas  areal  terairi  terhadap  rancangan  luas  areal  mencapai  91%  (0.000  95  95  1.667  2.  Efisiensi  pengelolaan  jaringan  irigasi  ditunjukkan  oleh  nilai  koefisien  PIA.28  28.  Selisih  antara  PAR  dan  PIR  merupakan  curah  hujan  yang  dapat  digunakan  tanaman.  Artinya  dari  seluruh  target  areal  yang  akan  diairi  hanya  ada  sekitar  9%  saja  yang  tidak  terairi.  Dibandingkan  dengan  tahun  sebelumnya  (89%).800  2.  Apabila  curah  hujan  tinggi  dan  nilai  PIR  juga  tinggi  maka  fenomena  ini  menunjukkan  bahwa  petani  belum  mampu  untuk  mengelola  sumberdaya  secara  sepadan.05  1.  PIA  menunjukkan  nisbah  antara  pasok  irigasi  dengan  luas  lahan  terairi.  Semakin  kecil  nilai  PIR  dan  PAR menunjukkan bahwa efisiensi manajemen irigasi semakin bagus.  Efisiensi  dan  Efektifitas  Pengelolaan  Jaringan  Irigasi  Menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009    Pasok  Pasok  Total  Luas  Luas  Kebutu Air  Air  Pasok  PIA  PIR  PAR  IA  Rancan Lahan  han Air  Irigasi  No  Kecamatan  Irigasi  Air  (lt/dt (lt/dtk (lt/dtk (lt/dtk gan  Terair Tanam Total  (lt/dtk (lt/dtk k/ha)  /ha)  /ha)  /ha)  (Ha)  i (Ha)  an (Ha)  (lt/dtk )  )  )            1  Toboali  5.63  0.95 3  Payung  0  0  0  0 0 3000 0 0  0  0 Simpang  0 0 5000 0 0  0  0 4  0  0  0  Rimba  5  Lepar  125  35 35 500 500 1000 14.73.  efektifitas pengelolaan air ini mengalami peningkatan sekitar 2%.500  2.57  28  II-76 .  maka  pengelolaan  irigasi  semakin  efisien.  dan  PAR  atau  Relative  Water  Supply  (RWS)  merupakan  nisbah  total  pasok  air  (irigasi  ditambah  curah hujan efektif) terhadap kebutuh‐an air tanaman.000   1.     Hasil  Analisis  efisiensi  dan  efektivitas  pengelolaan  jaringan  irigasi  disajikan  dalam  tabel sebagai berikut:    Tabel 2.000 1000 5000 10.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   PAR /RWS  =  Total Pasok Air                 Liter /Detik/Ha      Kebutuhan Air Tanaman    Semakin  kecil  nilai  PIA.12  48    2  Air Gegas  1. Tingkat  efektivitas  akan  diukur  dari  nilai  Indek  Luas  Areal  (IA).53  10.800  3.  Dengan  pemahaman  seperti  itu.53  52.667  2.  dalam  hal  ini  semakin  kecil  nilai  PIA  maka  efisiensi  manajemen  akan  semakin  besar. Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin  efektif  pengelolaan  jaringan  irigasi.  Efektifitas  pengelolaan  jaringan  irigasi  ditunjukkan  oleh  nisbah  antara  luas  areal  terairi terhadap luas rancangan.  PIR dan PAR biasa juga dipakai untuk mengukur kemampuan masyarakat mengelola  sumberdaya  air  dalam  kegiatan  suatu  sistem  irigasi.05  1.  Sementara  itu  PIR  atau  disebut  juga  Relative  Irrigation  Supply  (RIS)  menunjukkan  nisbah  antara  pasok  irigasi  total  dengan  kebutuhan  air  tanaman.91).

40       Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kab.953  780.800 1.138  227  19.054  93.894  4.500 29.71  3  310  103.10  ‐  5  ‐  ‐  ‐  ‐  1  ‐  ‐        Pongok  6  Tukak Sadai  18  9.5 Rasio tempat ibadah per satuan penduduk  Tabel 2.000 7000 10000 3.79        Sumber : Bagian Kesra.31  2  Air Gegas  2.95    Jumlah  22.935  587  20.25  24  2.1.858  551.403  1.800 7.500  1.91    II-77 .56  1  326  326  ‐  ‐    1  ‐  ‐        Simpang  4  36  19.125  4.87  3  248  82.67  ‐  29  ‐          Jumlah  269  151.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Pongok Tukak  0 0 1500 0 0  0  0 6  0  0  0  Sadai  7  Pulau Besar  4. pembuangan sampah    Hasil  analisis  data  rumah  tinggal  berakses  sanitasi  disajikan  dalam  tabel  sebagai  berikut :    Tabel 2.167  509.33  ‐  8  ‐  ‐  ‐  ‐        3  Payung  23  17.083  86.60  7  Pulau Besar  1.282  175.709  68.539  563.55  0.766  567. sebagai berikut:  a.35  5  1.30  4  Simpang Rimba  4.142  808  37.597 4.  Persentase  Rumah  Tinggal  Bersanitasi  Menurut  Kecamatan  di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Jumlah Rumah  Jumlah Rumah Tinggi  No  Kecamatan  Persentase  Tinggal  berakses sanitasi  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=4/3)  1  Toboali   6.573  609.88  5.75.61  1  48  48  1  45  45  ‐  ‐  ‐        Rimba  Lepar  5  19  11.74  87.315  263  ‐  575  ‐  22  2. Bangka Selatan    d. fasilitas air bersih  b.139  68.34  13  2.72  3  Payung  4. pembuangan air limbah (air bekas)  d.952  47.  Rasio  Tempat  Ibadah  Menurut  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan Tahun 2009    Mesjid  Gereja  Pura  Vihara  Kelenteng  No  Kecamatan  Jml  Jml  Jml  Jml  Jml  Jml  Ras Jml  Rasio  Jml  peme Rasio  Jml  peme Rasio  Jml  pemel Rasio  pemel pemeluk  (unit)  io  luk  luk  uk  uk  1  Toboali   71  49.300 28.74.300 11.858  10.88 3.596  3. Bangka Selatan    d.00  6  Tukak Sadai  750  162  21.583  698.6 Persentase rumah tinggal bersanitasi  Rumah  tinggal  berakses  sanitasi  sekurang‐kurangnya  mempunyai  akses  untuk  memperoleh layanan sanitasi.48   Jumlah  11.36        2  Air Gegas  63  35.98  5  Lepar Pongok  2.87  28.74  29.1.54  4  789  197.597 11.67  3  161  53.27  ‐  30  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐        7  Pulau Besar  39  7.639  195. pembuangan tinja  c. Setda Kab.320  29.

692 68  1.  Tempat  Pemakaman  Khusus  (TPK)  adalah  areal  tanah  yang  digunakan  untuk  pemakaman  yang  karena  faktor  sejarah  dan  faktor  kebudayaan  mempunyai  arti  khusus.  pengurusan dan pengelolaan pemerintah daerah.200 68  1.127  Pongok  Tukak  6  10. Untuk menghitung rasio tempat pemakaman disajikan tabel sebagai berikut:    Tabel 2.2  0.763  5  2500 ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  5  2.800 2.8 Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk  Tabel 2.  Rasio  tempat  pembuangan  sampah  terhadap  jumlah  penduduk  Menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Jumlah  TPS  No  Kecamatan  Penduduk  Jumlah Daya  Rasio  Jumlah (unit)  (jiwa)  Tampung (Ton)  (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  6  1  Toboali   55.763 0  0  0    Jumlah  163.  Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) adalah areal tanah yang disediakan untuk  keperluan  pemakaman  mayat  yang  pengelolaannya  dilakukan  oleh  yayasan/badan  sosial/badan keagamaan.500  2.692  18  7200 ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  18  7.944  Rimba  Lepar  5  12.  Rasio  Tempat  Pemakaman  Umum  per  Satuan  Penduduk  Menurut  Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Tempat  Tempat  Tempat  Pemakaman  Pemakaman  Pemakaman  Lain‐lain  Jumlah Total  Rasio  Bukan Umum  Khusus  Jml  Umum (TPU)  TPU  per  No  Kecamatan  (PTBU)  (TPK)  Penddk  satuan  Daya  Daya  Daya  Daya  Daya  penddk  Jml  tampu Jml  tamp Jml  tamp Jml  tamp Jml  tampu ng  ung  ung  ung  ng  (12= (13=5 (10 4+6 (14=3/4 (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  (6)  (7)  (8)  (9)  (11)  +7+9+ )  +8+ )  11)  10)  1  Toboali   55.007     II-78 .607 0  0  0  5  Lepar Pongok  12.188 0  0  0  7  Pulau Besar  8.200  60  26800 ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  60  26.038  Sadai  7  Pulau Besar  8.1.500  2.015 Simpang  4  20.77.054  10  4000 ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  10  4.720   d.7 Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk  Tempat  Pemakaman  Umum  (TPU)  adalah  areal  tempat  pemakaman  milik/dikuasai  pemerintah daerah yang disediakan untuk umum yang berada dibawah pengawasan.137 0  0  0  4  Simpang Rimba  20.054 0  0  0  3  Payung  18.094 2  Air Gegas  37.137  9  4500 ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  9  4.500 1.759  6  3600  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  6  3.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   d.188  5  1500  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  5  1.76.753   Jumlah  163.200 3.705 3  Payung  18.1.600  2.000 3.607  7  3500  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  7  3.022  2  Air Gegas  37.2  0.500 2.759 0  0  0  6  Tukak Sadai  10.

     Rasio  permukiman  layak  huni  adalah  perbandingan  luas  permukiman  layak  huni  dengan  luas  wilayah  permukiman  secara  keseluruhan. berbentuk  satu  hamparan.    Agar kegiatan budidaya tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.000  jumlah  penduduk. lahan dengan luas paling sedikit 2.  berbentuk  jalur.000    Jumlah Penduduk    d.  tempat  tumbuh  tanaman.  dengan  meng‐ gunakan rumus sebagai berikut:  Rasio tempat pembuangan sampah =      Jumlah Daya Tampung TPS  x  1. didominasi komunitas tumbuhan.9 Rasio rumah layak huni  Rasio  rumah  layak  huni  adalah  perbandingan  jumlah  rumah  layak  huni  dengan   jumlah penduduk. dan  c.     Kawasan  perkotaan  adalah  wilayah  yang  mempunyai  kegiatan  utama  bukan  pertanian  dengan  susunan  fungsi  kawasan  sebagai  tempat  permukiman  perkotaan.  dan  kegiatan ekonomi. dengan menggunakan rumus sebagai berikut:    Jumlah Rumah Layak Huni x 100%    Jumlah Penduduk    d. Penataan Ruang  e.  b.1. baik yang  berupa  kawasan  perkotaan  maupun  perdesaan  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempat  tinggal  atau  lingkungan  hunian  dan  tempat  kegiatan  yang  mendukung  peri  kehidupan dan penghidupan.  pengembangan ruang terbuka hijau dari luas kawasan perkotaan paling sedikit 30%  (tiga puluh persen).  atau  kombinasi  dari  bentuk  satu  hamparan dan jalur.  Indikator  ini  mengukur  proporsi  luas  pemukiman  yang  layak  huni  terhadap  keseluruhan  luas  pemukiman.  baik  yang  tumbuh  secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.10 Rasio permukiman layak huni  Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber­HPL/HGB  Ruang  terbuka  hijau  adalah  area  memanjang/jalur  dan/atau  mengelompok  yang  penggunaannya  lebih  bersifat  terbuka. yang ditetapkan dengan  kriteria:  a.  dengan menggunakan rumus sebagai berikut:    Rasio permukiman layak huni =   Jumlah Permukiman Layak Huni    Luas Wilayah Permukiman    e.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Rasio  tempat  pembuangan  sampah  (TPS)  per  satuan  penduduk  adalah  jumlah  daya  tampung  tempat  pembuangan  sampah  per  1.    Ruang terbuka hijau kota merupakan kawasan perlindungan.500 (dua ribu lima ratus) meter persegi.1.  pemusatan  dan  distribusi  pelayanan  jasa  pemerintahan.    II-79 .  pelayanan  sosial.1.

 maupun kegiatan khusus.  dan/atau  merawat  bangunan  gedung  sesuai  dengan  persyaratan administratif dan persyaratan teknis yang berlaku.    Bangunan  gedung  adalah  wujud  fisik  hasil  pekerjaan  konstruksi  yang  menyatu  dengan  tempat  kedudukannya. budaya.  memperluas.64    100.34    280.074    2  Air Gegas  853.78.79.007  3  Payung  4415 27 0.30    120.476      e.2.778 571 0. I  I-80 .006  4  Simpang Rimba  4773 11 0.00    42.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Tabel 2.025    Jumlah  23.98    84.  baik  untuk  hunian  atau  tempat  tinggal.95    123.08    815.  Luas wilayah  Luas wilayah  Luas Ruang   Rasio Ruang   No  Kecamatan  (km2)  ber‐HPL/HGB  Terbuka Hijau  Terbuka Hijau  (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  (6=5/4)  1  Toboali   1.    Tabel 2.069  2  Air Gegas  2970 22 0.025  7  Pulau Besar  1136 28 0.621    7  Pulau Besar  169.  Rasio Bangunan ber‐IMB per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Jumlah Bangunan  Rasio bangunan  No  Kecamatan  Jumlah Bangunan  ber‐IMB  ber‐IMB  (1)  (2)  (3) (4) (5=4/3)  1  Toboali   6623 458 0.  sebagian  atau  seluruhnya  berada  diatas  dan/atau  di  dalam  tanah  dan/atau  air.054    5  Lepar Pongok  261.  mengubah.  mengurangi.460.721      Jumlah  3.072    6  Tukak Sadai  126.87    64.024  Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan adalah perbandingan jumlah bangunan berIMB terhadap jumlah seluruh bangunan yang ada.  kegiatan  usaha. kegiatan sosial.  Rasio  Ruang  Terbuka  Hijau  per  Satuan  Luas  Wilayah  Menurut  Kecamatan  di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009.  kegiatan  keagamaan.607.002  5  Lepar Pongok  3182 8 0.648    4  Simpang Rimba  362. Rasio Bangunan ber­IMB per Satuan Bangunan    Izin mendirikan bangunan gedung  adalah perizinan yang diberikan oleh Pemerintah  Daerah  kepada  pemilik  bangunan  gedung  untuk  membangun  baru.286    3  Payung  372.003  6  Tukak Sadai  679 17 0.  yang  berfungsi  sebagai  tempat  manusia  melakukan  kegiatannya.

675 958. . . Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Tabel 2.607 . . . b. Jumlah arus penumpang angkutan umum Tabel 2. - 5 Lepar Pongok . . - Jumlah 164. - 3 Pa yu n g .692 .563 2 Air Gegas . . Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus. 9 9 6.888 . - Jumlah 163. - 4 Simpang Rimba 20.188 2 Air Gegas 37.1.094 7 Pulau Besar 8. - 5 Lepar Pongok 12. 1 . Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 Jumlah Penumpang Total Jumlah No Kecamatan Pesawat Bis Kereta Api Kapal Laut Penumpang Udara (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7=3+4+5+6) 1 Toboali 143.2.81.188 . c. Jaringan trayek terdiri atas: a.200 11 11 14. . . .80. Rasio ijin trayek Izin Trayek adalah izin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/ atau mobil penumpang umum pada jaringan trayek. dan e. Komunikasi dan Informatika Kab. . Bangka Selatan f.836. - 6 Tukak Sadai 20. jaringan trayek perdesaan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   f.137 . . . jaringan trayek perkotaan. d.524 733 793. . - 6 Tukak Sadai 10. 2 2 5. .36 Sumber : Dinas Perhubungan. jaringan trayek antarkota dalam provinsi. . Komunikasi dan Informatika Kab.636 733 21. . Bangka Selatan   II-81 . jaringan trayek antarkota antarprovinsi. - 3 Payung 18. . .763 . - 4 Simpang Rimba . 793. lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal.932 Sumber : Dinas Perhubungan. jaringan trayek lintas batas negara. .675 937.369 7 Pulau Besar . Perhubungan f.759 . Rasio ijin trayek Menurut Kecamatan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009 Jumlah Jumlah Ijin Trayek Total Ijin Rasio Ijin No Kecamatan Penduduk Perkotaan Perdesaan Trayek Trayek (jiwa) (1) (2) (3) (4) (5) (6=4+5) (7=3/6) 1 Toboali 55.054 . . . . yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap. . .

  atau  danau  untuk  menerima  kapal  dan  memindahkan  barang  kargo  maupun  penumpang  dari dan ke pelabuhan laut tersebut.  perpindahan  intra  dan/atau  antar  moda  transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.4. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis  Pelabuhan  laut  diartikan  sebagai  sebuah  fasilitas  di  ujung  samudera.    b. bak muatan.  mobil  barang.  kereta  tempelan.   II-82 .  mobil  bus.  dan  kereta  tempelan  yang  dioperasikan  di  Jalan. Uji tipe yaitu pengujian fisik untuk pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan  yang  dilakukan  terhadap  landasan  Kendaraan  Bermotor  dan  Kendaraan  Bermotor  dalam  keadaan  lengkap  dan  penelitian  rancang  bangun  dan  rekayasa  Kendaraan Bermotor yang dilakukan terhadap rumahrumah.  Jumlah uji kir angkutan umum selama satu tahun menurut Kecamatan  di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Mobil  Jml  Jml   Penumpang  Mobil Bus  Mobil Barang  %  Angkutan  Angkutan  KIR  No  Umum  Umum  Jml  Jml  Jml  Jml  Jml  %  Jml  %  Jml  %  Jml  %  KIR  KIR  KIR  KIR  (5= (8= (11= (14=1 (1)  (2)  (3)  (4)  4/3 (6)  (7)  7/6 (9)  (10)  10/9 (18)  (19)  8/19)  )  )  )  1  Toboali   4  4  1  24  24  1  401  401  1  429  429  100  2  Air Gegas    ‐          40  40  1  40  40  100  3  Payung    ‐    6  6  1  97  97  1  103  103  100  Simpang  4    ‐    5  5  1  79  79  1  84  84  100  Rimba  Lepar  5    ‐          ‐      ‐  ‐  0  Pongok  6  Tukak Sadai    ‐          112  112  1  129  129  100  7  Pulau Besar    ‐          ‐      ‐  ‐  0    Jumlah  4  4  1  52  52  1  729  729  1  785  785  100  Sumber : Dinas Perhubungan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ         f.  baik  yang  dibuat  dan/atau  dirakit  di  dalam  negeri  yang  akan  dioperasikan  di  jalan  agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.  meliputi  pemeriksaan  dan  pengujian  fisik  kendaraan  bermotor  dan  pengesahan  hasil uji.    Tabel 2.3. Pelabuhan Udara/bandara bisa diartikan sebagai  sebuah  fasilitas  untuk  menerima  pesawat  dan  memindahkan  barang  kargo  maupun  penumpang dari dan ke pelabuhan udara tersebut.82.  dan  Kendaraan  Bermotor  yang  dimodifikasi  tipenya. Bangka Selatan    f. Uji  berkala  yaitu  diwajibkan  untuk  mobil  penumpang  umum. Jumlah uji kir angkutan umum  Uji  kir  angkutan  umum  merupakan  pengujian  setiap  angkutan  umum  yang  diimpor. Pengujian dimaksud meliputi:    a. kereta  gandengan.  kereta  gandengan. Komunikasi dan Informatika Kab.  sungai.     Terminal  bus  dapat  diartikan  sebagai  prasarana  transportasi  darat  untuk  keperluan  menurunkan  dan  menaikkan  penumpang.

 Bangka Selatan      2. Penanaman Modal  a.            II-83 .83.    Untuk  menghitung jumlah investor PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut:    Tabel 2.84.1.    Semakin  banyak  jumlah  investor  maka  akan  semakin  menggambarkan  ketersediaan  pelayanan  penunjang  yang  dimililiki  daerah  berupa  ketertarikan  investor  untuk  meningkatkan investasinya di daerah. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA)  Penanaman modal dalam negeri (PMDN) adalah penggunaan modal dalam negeri bagi  usaha‐usaha yang mendorong pembangunan ekonomi pada umumnya.    Penanaman modal asing (PMA) merupakan penanaman modal asing secara lang‐sung  yang  dilakukan  menurut  atau  berdasarkan  ketentuan  perundang‐undangan  di  Indonesia.3.   Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Menurut Kecamatan di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009    No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah Pelabuhan Laut  1  1  1  1  1  2  Jumlah Pelabuhan Udara  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  3  Jumlah Terminal Bis  1  1  1  1  1    Jumlah  2  2  2  2  2                   Sumber : Dinas Perhubungan.    Jumlah  investor  PMDN/PMA  dihitung  dengan  menjumlahkan  banyaknya  investor  PMDN  berskala  nasional  dengan  banyaknya  investor  PMA  berskala  nasional  yang  aktif  berinvestasi  di  daerah  dan  pada  suatu  periode  tahun  pengamatan.   Jumlah Investor PMDN/PMA Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2004    2009  Tahun  Uraian  PMDN  PMA  Total  (1)  (2)  (3)  (4)  (5=3+4)  2004  Jumlah Investor 1  ‐  1  2005  Jumlah Investor 1  ‐  1  2006  Jumlah Investor 1  2  3  2007  Jumlah Investor 1  2  3  2008  Jumlah Investor 1  3  4  2009  Jumlah Investor  1  3  4  2010  Jumlah Investor  1  4  5         Sumber : BP3MD Kab. dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari  penanaman modal tersebut. Komunikasi dan Informatika Kab.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan  a. Bangka Selatan    Catatan: Jumlah investor dihitung berdasarkan keaktifan perusahaan dari tahun 2004  hingga 2010.

000  1  ‐  2006  1  393.502. Bangka Selatan    Semakin  banyak  nilai  realisasi  investasi  maka  akan  semakin  menggambarkan  ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor  untuk  meningkatkan  investasinya  di  daerah.   Jumlah Investasi PMDN/PMA Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005  – 2010  Persetujuan  Realisasi  Tahun  Jumlah  Jumlah  Nilai Investasi   Nilai Investasi  Proyek  Proyek  2005  1  393.86.775.    a.030.680.2.034.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   a.000  4  ‐  2010  5  1.70  8.355.783  5  114.939                   Sumber : BP3MD Kab.3.50  28.502.034.000  1  ‐  2007  3  696.000.795.85.783  3  ‐  2008  3  696.00   II-84 .783  3  ‐  2009  4  1.034.775.038.000.  Jumlah  tenaga  kerja  bekerja  pada  perusahaan  PMA/PMDN  dihitung  dari  banyaknya  tenaga  kerja  yang  bekerja  pada  investasi  PMA/PMDN  yang  terealisasi  pada  suatu  tahun.   Untuk menghitung nilai PMDN/PMA dapat disusun tabel sebagai berikut:    Tabel 2.  Jumlah  seluruh  PMA/PMDN  dihitung  dari  banyaknya  proyek  investasi  yang  terealisasi di daerah pada suatu tahun berdasarkan data BKPM.  Banyaknya  investasi  PMDN  berskala  nasional  dengan  banyaknya  investasi  PMA  berskala  nasional  dihitung  dari  total  nilai  proyek  yang  telah  terealisasi  pada  suatu  periode  tahun  pengamatan.  Menghitung Rasio daya serap tenaga kerja digunakan rumus sebagai berikut:    Jumlah tenaga kerja bekerja pada perusahaan  PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN    Selanjutnya hasilnya sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:    Tabel 2.502.  Semakin  banyak  realisasi  proyek  maka  akan  meng‐gambarkan  keberhasilan  daerah  dalam  memberi  fasilitas  penunjang  pada  investor untuk merealisasikan investasi yang telah direncanakan.    Rasio daya serap tenaga kerja  Rasio daya serap tenaga kerja adalah perbandingan antara jumlah tenaga kerja bekerja  pada perusahaan PMA/PMDN dengan jumlah seluruh PMA/PMDN.    Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA)  Jumlah  nilai  investasi  investor  PMDN/PMA  dihitung  dengan  menjumlahkan  jumlah  realisasi nilai proyek investasi berupa PMDN dan nilai proyek investasi PMA yang telah  disetujui  oleh  Badan  Koordinasi  Penanaman  Modal  (BKPM).   Rasio daya serap tenaga kerja Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  Jumlah tenaga kerja yang  1  berkerja pada perusahaan  ‐  ‐  47  34  139  PMA/PMDN  2  Jumlah seluruh PMA/PMDN  ‐  ‐  3  4  5  Rasio daya serap tenaga  3  kerja  ‐  ‐  15.365.

773  88.  yang  dilakukan  oleh  orang  perorangan  atau  badan  usaha  yang  bukan  merupakan  anak  perusahaan  atau  bukan  cabang  perusahaan  yang  dimiliki.  yang  dilakukan  oleh  orang  perseorangan  atau  badan  usaha  yang  bukan  merupakan  anak  perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki.    Menghitung  jumlah  UKM  non  BPR/LKM  UKM  dilakukan  dengan  mengisi  tabel  berikut:    Tabel 2.  dikuasai.73  73.   Persentase koperasi aktif Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐  2009  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah Koperasi Aktif       11  11  20  39  34  2  Jumlah Koperasi  45  46  53  53  62  3  Persentase koperasi aktif  24.83  Sumber : Disperindagkop Kab.   Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM)  b.  Menghitung  persentase koperasi aktif digunakan rumus sebagai berikut:        Tabel 2.  atau  menjadi  bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar.91  37. dikuasai.88.44  23.87.1  Persentase koperasi aktif  Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi  dengan  melandaskan  kegiatannya  berdasarkan  prinsip  koperasi  sekaligus  sebagai  gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan.  Usaha  menengah  adalah  usaha  ekonomi  produktif  yang  berdiri  sendiri.58  54. Bangka Selatan    Semakin besar jumlah persentase ini maka akan semakin besar pelayanan penunjang  yang dimiliki daerah dalam menggerakkan perekonomian melalui koperasi.    b. atau menjadi bagian baik  langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah  kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Semakin  besar  rasio  daya  serap  tenaga  kerja  pada  PMA  dan  PMDN  akan  mencerminkan  besarnya  daya  tampung  proyek  investasi  PMA/PMDN  untuk  menyerap tenaga kerja di suatu daerah.     Jumlah UKM non BPR/LKMUKM  Usaha  kecil  adalah  peluang  usaha  ekonomi  produktif  yang  berdiri  sendiri.078  79. Koperasi Aktif adalah  koperasi yang dalam dua tahun terakhir mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan)  atau  koperasi  yang  dalam  tahun  terakhir  melakukan  kegiatan  usaha.2.    b.076  2  Jumlah BPR/LKM  5  5  5  7  10  3  Jumlah UKM non BPR/LKM  ‐  ‐  ‐  ‐  28    II-85 .   Jumlah UKM non BPR/LKM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 –  2009  No  Uraian  2006  2007  2008  2009  2010  1  Jumlah seluruh UKM  ‐  ‐  42.

 Jumlah BPR/LKM Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah BPR  0  0  0  0  1  2  Jumlah LKM  0  0  0  0  ‐  3  Jumlah BPR dan LKM  0  0  0  0  1    Semakin  banyak  jumlah  BPR/LKM  akan  menunjukkan  semakin  besar  kapasitas  pelayanan  pendukung  yang  dimiliki  daerah  dalam  mendukung  pendanaan  UKM  melalui BPR/LKM.  2.  Pertumbuhan  penduduk  yang  minus  berarti  jumlah  penduduk  yang  ada  pada  suatu  daerah  mengalami  penurunan  yang  bisa  disebabkan  oleh  banyak  hal. Kelahiran (fertilitas) adalah: kemampuan riil seorang wanita atau sekelompok  untuk  melahirkan.  tabungan.   Pertumbuhan Penduduk    Pertumbuhan  penduduk  akan  selalu  dikaitkan  dengan  tingkat  kelahiran.  Kependudukan    c.1.  Pertumbuhan  penduduk  meningkat  jika  jumlah  kelahiran  dan  perpindahan  penduduk  dari  luar  ke  dalam  lebih  besar  dari  jumlah  kematian  dan  perpindahan penduduk dari dalam keluar.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Catatan  :  Data thn 2010 diambil  dari LKPM Triwulan III 2010 dari 2 PMA di Bangka  Selatan yg masih aktif menyampaikan LKPM nya.  yang  dicerminkan  dalam  jumlah  bayi  yang  dilahirkan  hidup.89.  Menghitung Jumlah BPR/LKM dilakukan dengan mengisi tabel berikut.    Lembaga  keuangan  mikro  (LKM)  adalah  lembaga  yang  menyediakan  jasa  penyimpanan  (deposits).    Semakin  banyak  jumlah  UKM  non  BPR/LKM  akan  menunjukkan  semakin  besar  kapasitas  pelayanan  pendukung  yang  dimiliki  daerah  dalam  meningkatkan  ekonomi  daerah melalui UKM.  kredit  (loan). Migrasi masuk (imigrasi) adalah masuknya penduduk ke suatu daerah tempat  tujuan   II-86 .  dan/atau  bentuk  lainnya  yang  dipersamakan  dengan  itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR.    Jumlah BPR/LKM    BPR  adalah  lembaga  keuangan  bank  yang  menerima  simpanan  hanya  dalam  bentuk  deposito  berjangka.    b.  kematian  dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun dari luar. Faktor penambah  1.    c.  LKM  me‐miliki  fungsi  sebagai  lembaga  yang  memberikan  berbagai  jasa  keuangan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil.  pembayaran  sebagai  transaksi  jasa  (payment  service) serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha  kecil.  Komponen pertumbuhan penduduk:    a.  Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu  daerah  dari  waktu  ke  waktu.3.    Tabel 2.

  Rumus menghitung pertumbuhan penduduk :  Pt = Po+(B‐D)+(Mi‐M0)  Angka  pertumbuhan  penduduk  (r)  adalah:  rata‐rata  pertumbuhan  penduduk  setiap  tahun pada periode/waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dengan persen.  yang  bisa  terjadi  setiap  saat  setelah  kelahiran  hidup. Pertumbuhan Geometri. Faktor pengurang  1. Pertumbuhan (linier).  2. Kematian  (mortalitas)  adalah  keadaan  menghilangnya  semua  tanda‐tanda  kehidupan  secara  permanen.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   b.  Dirumuskan:  r = (Pt­Po)/n                  P  Keterangan:    r  =  angka perubahan linier    Pt  =   jumlah penduduk pada akhir periode    Po =   jumlah penduduk pada awal periode    N   =   jumlah tahun dalam periode tersebut    P  =   jumlah penduduk pada pertengahan periode    2.  Perhitungan  ini  mengasumsikan  adanya  perubahan  jumlah  absolut  penduduk  yang sama dari satu tahun ketahun yang lain.  Pertumbuhan ini mengasumsikan adanya angka pertumbuhan jumlah penduduk  yang sama dari tahun ke tahun  Rumus :  Pt = Po (1+r)  Keterangan:    Pt  =   jumlah penduduk pada akhir periode    Po =   jumlah penduduk pada awal periode    N  =   jumlah tahun dalam periode tersebut    R  =   angka pertumbuhan geometris    II-87 .    Ada 3 macam ukuran pertumbuhan penduduk:  1. Migrasi  keluar  (emigrasi)  adalah  perpindahan  penduduk  keluar  dari  suatu  daerah    Rasio perpindahan penduduk per tahun dapat dihitung dengan rumus:  Rasio perpindahan penduduk =  Jumlah penduduk yang pindah x 100     Jumlah penduduk    Rasio  perpindahan  penduduk  masuk  (imigrasi)  dan  keluar  (emigrasi)  dihitung  dengan rumus:  Rasio perpindahan penduduk masuk (imigrasi) = Jumlah penduduk yang masuk  x 100           Jumlah penduduk    Rasio perpindahan penduduk keluar (emigrasi) = Jumlah penduduk yang masuk  x 100    Jumlah penduduk    Dinamika  kependudukan  adalah  perubahan  kependudukan  untuk  suatu  daerah  tertentu dari waktu ke waktu.

90.169   2  Angka kematian kasar (CDR)  2. Angka  ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  No  Fertilitas/mortalitas  Jumlah  1  Angka kelahiran kasar (CBR)  9.e   atau  r = LnPt‐LnPo           n  Keterangan:    Pt  =  jumlah penduduk pada akhir periode    Po  =  jumlah penduduk pada awal periode    n   =  jumlah tahun dalam periode tersebut    e   =  angka pertumbuhan eksponensial      Perhitungan laju pertumbuhan penduduk didasarkan pada perhitungan:  1.  Rumus:  r = P0.946  Sumber : Disdukcapil Kab. Angka  Kematian  Bayi  atau  Infant  Mortality  Rate  (IMR)  adalah  jumlah  kematian  bayi berumur dibawah 1 tahun selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup.          Rumus: IMR =  D0 x 1. Angka  Kematian  Kasar  (Crude  Death  Rate)  yaitu  jumlah  kematian  pada  tahun  tertentu per 1000penduduk:        Rumus:  CDR =  D x K                                     P  Keterangan:    CDR  =   angka kematian kasar    D     =   jumlah kematian pada tahun tertentu    P     =   jumlah penduduk pada pertengahan tahun itu    3.865  3  Angka kematian bayi (IMR)  79. Bangka Selatan   II-88 . Pertumbuhan eksponensial perhitungan ini sama dengan pertumbuhan Geometri  tetapi pertambahan penduduk terjadi setiap saat mengikuti fungsi eksponensial.000  B  Keterangan:  MR   =   angka kematian bayi  Do   =   jumlah kematian bayi selama 1 tahun  B     =   jumlah kelahiran hidup dalam tahun yang sama    Hasil perhitungan laju pertumbuhan penduduk dituangkan dalam tabel berikut:  Tabel 2. Angka Kelahiran Kasar (crude birth rate) yaitu jumlah kelahiran hidup per 1000  penduduk dalam suatu tahun tertentu        Rumus:  CBR =  B  x K       D  Keterangan:    CBR  =  angka kelahiran kasar    B     =  jumlah kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu    D     =  jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama     k     =  konstanta biasanya 1000    2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3.

91.827 10.  Pengelompokan Penduduk Berdasar tingkat pendidikan  Selain  berdasarkan  jenis  kelamin.   Sebaran Penduduk Menurut Luas wilayah dan Kepadatan Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2009    Jumlah  Luas wilayah Kepadatan  No  Kecamatan  Penduduk  (km2)  (%)  1  Toboali  55.137 107.  penduduk  juga  dapat  dikelompokan  berdasarkan  tingkat  pendidikan.70  6  Tukak Sadai  10.00 80.  yaitu  persebaran  penduduk  berdasarkan  provinsi.88  5  Lepar Pongok  12.  Pengelompokan Penduduk  d.171 17.409 8.188 111.763 119.34  38.30 56.    Tabel 2.059 55.75  6  Tukak Sadai 5.86  7  Pulau Besar  8.920 20. Bangka Selatan      d. persebaran geografis.692  1.200  3.200  107.536  78.98 48.    Hasilnya dituangkan dalam tabel berikut:    Tabel 2.607 107. kabupaten.664  163.46  Sumber : Disdukcapil Kab.460.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   d.054 853.06  7  Pulau Besar 4.054 107.2.  (penduduk  laki‐laki)  :  (penduduk  perempuan)  x  100.20  3  Payung  9.73  5  Lepar Pongok 6. yaitu persebaran penduduk menurut pulau.759 103.883 37.90    Jumlah  84.692 105.41  3  Payung  18.1.82  2  Air Gegas  19.497 6.63  4  Simpang Rimba  20.361 4.137 372. persebaran  administratif  dan  politis.  2.95 48.262 12.759 261.607.633 27.763 169.188 126.92.  Pengelompokan Penduduk Berdasar Jenis Kelamin dan umur  Rasio  jenis  kelamin  (sex  rasio)  adalah  banyaknya  penduduk  laki‐laki  per  100  penduduk  perempuan.87 51.778 3.   Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin Per Kecamatan Kabupaten  Bangka  Selatan Tahun 2009  No  Kecamatan  Laki‐laki  Perempuan  Jumlah  Rasio Jenis Kelamin  1  Toboali  28. Bangka Selatan    Pengelompokkan penduduk berdasarkan persebaran penduduk/geografis    Persebaran penduduk dapat dihitung berdasarkan:  1.14  2  Air Gegas  37.64 43. atau daerah istimewa.59    Jumlah  163.80  4  Simpang Rimba  10.24                   Sumber : Disdukcapil Kab.  Dari  rumusan  tersebut  dapat  diketahui  jumlah  penduduk  laki‐laki  dan  perempuan  dalam  satu wilayah.  Pengelompokan  jumlah  penduduk  menurut  tingkat  pendidikan  dapat menggunakan tabel berikut.        II-89 .687 9.08  45.985 8.728 18.607 362.

329  18.979 39.  dapat  dihitung berdasarkan kepemilikan KTP.08  5  Perguruan tinggi  2. Bangka Selatan    Untuk  mendapatkan  data  penduduk  yang  sudah  terdaftar  dalam  catatan  sipil.123 6  Tukak Sadai  1.    Rasio penduduk ber‐KK =    Jumlah penduduk ber KK                 x 100               Jumlah penduduk sudah menikah    Rasio  bayi  berakte  kelahiran  adalah  perbandingan  jumlah  bayi  lahir  dalam  1  tahun  yang berakte kelahiran terhadap jumlah bayi lahir pada tahun yang sama.288 2.37 .058  168.687 2.285  77.642 1.796 9.342  12.256    Sumber : Dinas Pendidikan Kab.583 1.417 51.262   Jumlah  51.003 1.256  Sumber : Dinas Pendidikan Kab.    Tabel 2.285  L   3.218 9.349 5  Lepar Pongok  5.083  168.061 23. Akte lahir dan Akte Nikah.  dispesifikasikan  lagi berdasarkan jenis kelamin sebagaimana tampak pada tabel berikut.652 3  Payung  6.860  20. P   2.741 4. P   8.399  36.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.61  2  SD/MI sederajat  27.058  L 44.967  60.336 7  Pulau Besar  3. Bangka Selatan    Selanjutnya  dari  data  yang  ada. P 11.303  L 12.173  82.188 2  Air Gegas  10.936 1.   Penduduk 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi di  Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009                       No  Tingkat Pendidikan  Laki‐laki  Perempuan  Jumlah  Prosentase (%)  1  Tidak punya ijazah SD  37.723 302 19.014 468 111 4.158  L   8.837 2.632 14.824 1.201 7.079 77.75  3  SMP  10.    Rasio bayi berakte kelahiran =  Jumlah bayi yang berakte kelahiran x 100                Jumlah seluruh bayi yang lahir   II-90 .93. KK.541 3.567  8.98    Jumlah  86.375 600 78 2.185 774 242 8.53 . P 47.07 .  Rasio  penduduk  ber‐KTP  adalah  perbandingan  jumlah  penduduk  usia  17  tahun  ke  atas  yang  ber  KTP  terhadap  jumlah  penduduk  usia  17  tahun  ke  atas  atau  telah  menikah.346 4  Simpang Rimba  8.594  12.452  20.  untuk  mengetahui  prosentasenya.74 .037 394 9.29 . P 29.507 20.035 24.58  4  SMA  7.526 6.258 815 97 8.  Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009  Tingkat Pendidikan  No  Kecamatan  Perguruan  Tidak  Jumlah  SD/MI  SMP  SMA  Tinggi  Sekolah  1  Toboali  15.94.448 5.    Rasio penduduk ber‐KTP =    Jumah penduduk usia >17 tahun ber KTP                     x 100               Jumah penduduk usia >17 tahun atau sudah menikah    Rasio  penduduk  ber‐KK  adalah  perbandingan  jumlah  penduduk  yang  ber‐KK  terhadap jumlah penduduk yang telah menikah.452  L 31.303  14.158  5.

 Tenaga kerja dikatakan  juga sebagai penduduk usia kerja.    e.425  2  Air Gegas  9.  Tenaga  kerja  adalah  jumlah  seluruh  penduduk  dalam  usia  kerja  dalam  suatu  negara  yang  dapat  memproduksi  barang  dan  jasa.201                      Sumber : Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB Kab.     Ketenagakerjaan  Ketenagakerjaan  adalah  segala  hal  yang  berhubungan  dengan  tenaga  kerja  pada  waktu  sebelum.3.2.  Angkatan Kerja (labour force)  Berdasarkan  publikasi  ILO  (International  Labour  Organization).exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Rasio  pasangan  berakte  nikah  adalah  perbandingan  jumlah  pasangan  nikah  berakte  nikah terhadap jumlah keseluruhan pasangan yang telah menikah.221  3  Payung  4.   Jumlah Penduduk Peserta KB Kabupaten Bangka Selatan Tahun   2009  Jumlah Penduduk Peserta KB  No  Kecamatan  PUS  Peserta KB  Tidak KB  1  Toboali  15.    e.  Tenaga  kerja  (man  power)  adalah  penduduk  dalam  usia  kerja  (dalam  literatur  15‐64  tahun).525 527  1.287  5  Lepar Pongok  3.278  10.  penduduk  dapat  dikelompokkan menjadi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Tenaga kerja dikatakan  juga sebagai penduduk usia      II-91 . Bangka Selatan    e.964 4.  jika  ada  permintaan  terhadap  tenaga  mereka  dan  jika  mereka  mau  berpartisipasi  dalam  aktifitas tersebut.95.1.  Tenaga  kerja  adalah  jumlah  seluruh  penduduk  dalam  usia  kerja  dalam  suatu  negara  yang  dapat  memproduksi  barang  dan  jasa.    e.269 1.  Di  Indonesia  dipakai  batasan  umur  10  tahun.278 664  2.407 68  683  6  Tukak Sadai  3.  selama  dan  sesudah  masa  kerja.    Rasio pasangan berakte nikah =  Jumlah pasangan nikah berakte nikah                x 100             Jumlah seluruh pasangan yang telah menikah    Tabel 2.113  4  Simpang Rimba  5.881  3.     Angkatan Kerja (labour force)  Berdasarkan  publikasi  ILO  (International  Labour  Organization).  Di  Indonesia  dipakai  batasan  umur  10  tahun.  Ketenagakerjaan  Ketenagakerjaan  adalah  segala  hal  yang  berhubungan  dengan  tenaga  kerja  pada  waktu  sebelum.917 576  1.289 404  488    Jumlah  43.  penduduk  dapat  dikelompokkan menjadi tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.  Tenaga  kerja  (man  power)  adalah  penduduk  dalam  usia  kerja  (dalam  literatur  15‐64  tahun).279 158  984  7  Pulau Besar  2.  jika  ada  permintaan  terhadap  tenaga  mereka  dan  jika  mereka  mau  berpartisipasi  dalam  aktifitas tersebut.  selama  dan  sesudah  masa  kerja.

886 18.136    Lainnya  ‐  ‐  1.725 4.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Angka yang sering digunakan untuk menyatakan jumlah angkatan kerja adalah TPAK  (Tingkat  Partisipasi  Angkatan  Kerja).862  Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab.862  4  TPT (tingkat pengangguran terbuka)  ‐  ‐  39.629 8.074  65+  2.  yang  merupakan  rasio  antara  angkatan  kerja  dan tenaga kerja.494  54.    Tabel 2.681 16. Jika yang tersedia adalah angka pengangguran.351 4.254 3.882  20‐24  9.   Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan  Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin di Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2009  No  Uraian  Laki‐laki  Perempuan  Jumlah  1.368  114.481  11.854    Jumlah penduduk bukan angkatan kerja (ii)  ‐  ‐  37.515  25‐29  8.985 6.898  64.464  45‐49  4. Bangka Selatan   II-92 . maka  angka yang digunakan adalah = (1 ‐ angka pengangguran)    Angka Partisipasi Angkatan Kerja =  Penduduk yang bekerja                              Angkatan Kerja    Tabel 2.519 16.368  114.292  55‐59  2.97.654  29.846  25.135    Pengangguran  21.609 7.645  Total  60.113 3.571  60‐64  2.313 761 3.494  54.513 6.  ANGKATAN KERJA          Bekerja  17.609    Jumlah penduduk angkatan kerja (i)  38.244  35.96.533  40‐44  5.696 1.290  30‐34  6.744  2  BUKAN ANGKATAN KERJA  ‐  ‐      Sekolah  ‐  ‐  24. Penduduk Angkatan Kerja kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Angkatan Kerja  Jumlah  Golongan Umur  Laki‐laki  Perempuan    (1)  (2)  (3)  (4=2+3)  15‐19  8.619    Rasio  penduduk  yang  bekerja  adalah  perbandingan  jumlah  penduduk  yang  bekerja  terhadap jumla angkatan kerja.680  35‐39  6.916  50‐54  3.363 8.662 7.861  3  TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja)  60.365  14.294 2.739 10.117    Jumlah penduduk usia kerja (i) + (ii)  ‐  ‐  101.875 4.020 12.695 13.127    Mengurus RT  ‐  ‐  11.    Angka Partisipasi Angkatan Kerja =         Angkatan Kerja 15 tahun ke atas    x 100                       Jumlah penduduk 15 tahun ke atas    Tingkat  partisipasi  umum  yaitu  jumlah  angkatan  kerja  dibagi  seluruh  penduduk  berumur 10 tahun keatas.179 6.

8  7  Jasa Kemasyarakatan  8.9  6  Keuangan. Pergudangan dan Komunikasi  0.   Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Bangka   Selatan Tahun 2009  No  Lapangan Usaha  Persentase  1  Pertanian   44. listrik dan air minum)  23.6.6  3  Bangunan  2.5.98.  Pengangguran  Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun)  yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya.  keterampilan  dan  bakatnya  masing‐masing.  sering  kali  dijumpai  adanya  sengketa  antara  pengusaha  dan  pekerja.    Tabel 2.7    Total  100    Melihat  jumlah  lapangan  kerja  yang  tersedia.3  2  Industri Pengolahan  5.  produktivitas  pekerja  dapat  diukur  menggunakan  data  nilai  tambah  suatu  daerah.000                   Jumlah perusahaan        e.  Kesempatan kerja  Kesempatan kerja  (permintaan  atas  tenaga  kerja)  merupakan  peluang  atau  keadaan  yang  menunjukkan  tersedianya  lapangan  pekerjaan  sehingga  semua  orang  yang  bersedia  dan  sanggup  bekerja  dalam  proses  produksi  dapat  memperoleh  pekerjaan  sesuai  dengan  keahlian.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   e.  yaitu  PDRB  dengan  jumlah  pekerja.4.  Rasio  dari  kedua  data  tersebut  menunjukkan produktivitas tenaga kerja.    Kesempatan kerja =      Jumlah ketersedian lapangan kerja                                                Jumlah pekerja    Jumlah  penduduk  yang  ada  dalam  suatu  wilayah  kemudian  dikelompokan  berda‐ sarkan  lapangan  usaha  yang  ada. Asuransi dan Usaha Persewaan  0. Restoran dan Hotel  13.  Tingkat  sengketa  antara  pengusaha  dan  pekerja  per  tahun dihitung dengan rumusan:    Tingkat sengketa pengusaha‐pekerja = Jumlah sengketa pengusaha pekerja  x 1.  Data  ini  bisa  didapat  dari  BPS  sebagaimana  dalam  tabel berikut.  Kesempatan  Kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan/ketersediaan pekerjaan (lapangan  kerja untuk diisi oleh para pencari kerja).  Produktivitas Kerja  Secara  praktis.1  4  Perdagangan.9  8  Lainnya (pertambangan.  Produktivitas Kerja =          PDRB                Jumlah Pekerja    e.7  5  Angkutan.      II-93 .

 dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:    Pekerja perempuan di lembaga pemerintah  x 1.  yaitu  mereka  yang  tidak  digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah menganggur.  Untuk  mengetahui  peran  aktif  perempuan  dapat  diukur  dari  partisipasi  perempuan  di  lembaga  pemerintah maupun swasta. minggu. musiman) kurang dari yang mereka kerjakan.  padahal  pekerjaan  itu  sebenarnya tidak memerlukan waktu sehari penuh.    Untuk  mengukur  tingkat  pengangguran  pada  suatu  wilayah  bisa  didapat  dari  prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja.  2. Pengangguran  tersembunyi  (hidden  unemployment).    e.  3.  yaitu  mereka  yang  mampu  untuk  bekerja  secara  produktif  tetapi  karena  semberdaya‐sumberdaya  penolong  kurang  memadai sehingga mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu dengan baik. Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak  Dalam  rangka  pemberdayaan  perempuan  dan  perlindungan  anak  diperlukan  akses  seluas‐luasnya terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan  dalam  rangka  pemberdayaan  untuk  menuju  kesetaraan  gender. Pengangguran  terbuka:  baik  sukarela  (mereka  yang  tidak  mau  bekerja  karena  mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara terpaksa (mereka yang  mau bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan)  b.  misalnya  orang  yang  bekerja tidak sesuai dengan tingkat atau jenis pendidikannya. Tenaga  kerja  yang  lemah  (impaired).  yaitu  mereka  yang  mampu  untuk  bekerja  full time tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakit.    Tingkat penganguran terbuka =  Jumlah yang menganggur  x 1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Lima bentuk pengangguran:    a. Setengah  menganggur  (under  employment):  yaitu  mereka  yang  bekerja  lamanya  (hari.  Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah  Persentase  partisipasi  perempuan  di  lembaga  pemerintah  adalah  proporsi  perempuan yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja  perempuan. Tenaga  kerja  yang  tidak  produktif. termasuk  disini adalah:    1.     II-94 .1. besarnya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).  misalnya  para  petani  yang  bekerja  di  ladang  selama  sehari  penuh.000                                Jumlah angkatan kerja    f. Pengangguran  tidak  kentara  (disguised  unemployment). Pensiun lebih awal    d.000                 Jumlah pekerja perempuan    Pekerja  perempuan  di  lembaga  pemerintahan  dapat  dikelompokkan  berdasarkan  jumlah dan persentase perempuan yang menempati posisi Eselon I – IV.  c.    f. Tampaknya  bekerja  tetapi  tidak  bekerja  secara  penuh.

  Jenis  kekerasan  dalam  rumah  tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Sajikan  data  persentase  perempuan  di  lembaga  pemerintah.  yang  berakibat  timbulnya  kesengsaraan  atau  penderitaan  secara  fisik.  dirinci  menurut  kabu‐ paten/kota  untuk  provinsi  dan  dirinci  menurut  kecamatan  untuk  daerah  kabupaten/kota.99. dalam tabel  sebagai berikut:    Tabel 2.  dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:    Pekerja perempuan di lembaga swasta  x 1.100. dalam tabel sebagai berikut:    Tabel 2.  dan/atau  penelantaran  rumah  tangga  termasuk  ancaman  untuk  melakukan  perbuatan.  psikologis.  pemaksaan. di Kabupaten Bangka Selatan.   Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2004 ‐ 2009  No  Uraian  2004  2005  2006  2007  2008  2009  Jumlah perempuan yang menempati  1  1  1  2  2  3  3  jabatan eselon II  Jumlah perempuan yang menempati  2  ‐  ‐  ‐  1  2  2  jabatan eselon III  Jumlah perempuan yang menempati  3  2  2  3  3  8  8  jabatan eselon IV  4  Pekerja perempuan di pemerintah  217  374  686  701  741  1.023  5  Jumlah pekerja perempuan  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  Persentase pekerja perempuan di  6  30  30  30  30  30  30  lembaga pemerintah      f. meliputi:      II-95 .2.000               Jumlah pekerja perempuan    Persentase perempuan di lembaga swasta.    Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)  Kekerasan  dalam  Rumah  Tangga  adalah  setiap  perbuatan  terhadap  seseorang  terutama  perempuan.   Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Kabupaten Bangka   Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  No  Uraian  2005 2006  2007  2008  2009  1  Jumlah perempuan yang bekerja  N/A  N/A  N/A  N/A  N/A  di lembaga swasta  2  Jumlah Pekerja Perempuan  N/A  N/A  N/A  N/A  N/A  3  Persentase pekerja perempuan di  N/A  N/A  N/A  N/A  N/A  lembaga swasta     f.  seksual.  atau  perampasan  kemerdekaan  secara  melawan  hukum  dalam  lingkup  rumah  tangga.3.  Partisipasi perempuan di lembaga swasta  Persentase  partisipasi  perempuan  di  lembaga  swasta  adalah  proporsi  perempuan  yang  bekerja  pada  lembaga  swasta  terhadap  jumlah  seluruh  pekerja  perempuan.

000     Jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas    Data  persentase  tenaga  kerja  di  bawah  umur  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2005 – 2009 tersaji dalam tabel sebagai berikut:         II-96 . Bangka Selatan      f.  atau  luka  beratKekerasan  psikis  adalah  perbuatan  yang  mengakibatkan  ketakutan.  jatuh  sakit.  Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur  Persentase tenaga kerja di bawah umur adalah proporsi pekerja anak usia 5‐14 tahun  terhadap jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas.    b.    Rasio  KDRT  adalah  jumlah  KDRT  yang  dilaporkan  dalam  periode  1  (satu)  tahun  per  1. Rasio KDRT Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2004 ‐ 2009  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah KDRT  0  0  0  0  0  2  Jumlah Rumah Tangga  0  0  0  0  36.  Anak  dianggap  masih  memiliki  nilai  ekonomi  dan  seringkali  anak dieksploitasi.000     Jumlah Rumah tangga    Data rasio KDRT.4. di Kabupaten Bangka Selatan tersaji dalam tabel sebagai berikut:    Tabel 2. Penelantaran  rumah  tangga  dimana  setiap  orang  dilarang  menelantarkan  orang  dalam lingkup rumah tangganya.000 rumah tangga. Penelantaran juga berlaku  bagi  setiap  orang  yang  mengakibatkan  ketergantungan  ekonomi  dengan  cara  membatasi  dan/atau  melarang  untuk  bekerja  yang  layak  di  dalam  atau  diluar  rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.  rasa tidak berdaya.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   a.    c.  perawatan. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:    Jumlah KDRT              x 1. padahal menurut hukum yang berlaku baginya  atau  karena  persetujuan  atau  perjanjian  ia  wajib  memberikan  kehidupan.  (ii)  pemaksaan  hubungan  seksual  terhadap  salah  seorang  dalam  lingkup  rumah  tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.  hilangnya  rasa  percaya  diri  hilangnya  kemampuan  untuk  bertindak. dan/atau penderitaan psikis bera pada seseorang.101. Kekerasan  fisik  adalah  perbuatan  yang  mengakibatkan  rasa  sakit. Kekerasan  seksual  meliputi  :  (i)  pemaksaan  hubungan  seksual  yang  dilakukan  terhadap  orang  yang  menetap  dalam  lingkup  rumah  tangga  tersebut. atau pemeliharaan kepada orang tersebut.955  3  Rasio KDRT  0  0  0  0  0    Sumber : Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB Kab. Hal ini mengindikasikan masih belum  ada  perlindungan  anak.    Pekerja anak usia 5‐14 tahun            x 1.

954  45. Bangka Selatan      g.460 43.007 62.433  ‐  2  Jumlah pekerja usia 5 tahun ke atas  ‐  ‐  112.43 per keluarga           Sumber : Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB Kab.1.102.79  26.79  ‐  umur  Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab.  Keluarga Berencana (KB) Dan Keluarga Sejahtera (KS)  g.02  sedangkan keluarga pra sejahtera dan sejahtera I senilai 15.  Rasio akseptor KB  Rasio akseptor KB adalah jumlah akseptor KB dalam periode 1 (satu) tahun per 1000  pasangan usia subur pada tahun yang sama.  Jumlah akseptor KB                x 1.80%.44  1.025  30.42 1.  Rata‐rata Jumlah Anak per Keluarga Kabupaten Bangka Selatan Tahun  2005 ‐ 2009  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah anak  ‐  64.074  113.  Persentase Tenaga Kerja di Bawah Umur Tahun 5 ‐ 14 Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Pekerja anak usia 5‐14 tahun  ‐  ‐  30.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.   Rata‐rata  jumlah  anak  per  keluarga  adalah  jumlah  anak  dibagi  dengan  jumlah  keluarga.295 43.504 63.  Cakupan peserta KB aktif sebesar 73. Bangka Selatan      g.595  ‐  Persentase tenaga kerja di bawah  3  ‐  ‐  26.  Besarnya angka partisipasi KB (akseptor) menunjukkan adanya pengendalian jumlah  penduduk.168 2  Jumlah Keluarga  ‐  43.103.668  65.  Jumlah anak  Jumlah keluarga    Data  rata‐rata  jumlah  anak  perkeluarga  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  tersaji  dalam  tabel sebagai berikut:    Tabel 2.2.411 3  Rata‐rata jumlah anak  ‐  1.000     Jumlah Pasangan Usia Subur  Data  rasio  akseptor  KB  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  tersaji  dalam  tabel  sebagai  berikut:                II-97 .  Rata­rata jumlah anak per keluarga  Salah  satu  indikator  keberhasilan  keluarga  berencana  adalah  penurunan  rata‐rata  jumlah anak per keluarga.47 1.

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

Tabel 2.104. Rasio Akseptor KB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009 
 
No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009 
1  Jumlah Akseptor KB    24.274 26.965 27.932  28.357
2  Jumlah pasangan usia   
34.667 36.263 37.958  39.161
subur 
3  Rasio Akseptor KB    717,51 743,59 735,86  724,11
       Sumber : Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB Kab. Bangka Selatan 
 
h.  Komunikasi Dan Informasi 
h.1.  Jumlah jaringan komunikasi 
Jumlah  jaringan  komunikasi  adalah  banyaknya  jaringan  komunikasi  baik  telepon 
genggam  maupun  stasioner.  Jaringan  komunikasi  dihitung  dari  banyaknya  jaringan 
komunikasi yang berada dalam wilayah suatu pemerintah daerah. 
 
Sebuah operator jasa telekomunikasi dapat memiliki satu (1) jaringan dan sebaliknya, 
beberapa  operator  dapat  menggunakan  hanya  satu  (1)  jaringan  telekomunikasi  di 
wilayah  pemerintah  daerah.  Untuk  menghitung  jaringan  komunikasi  dapat  disusun 
tabel sebagai berikut: 
 
Tabel 2.105. Jaringan Komunikasi Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009 
No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009 
1  Jumlah jaringan telepon 
2  3  4  4  5 
genggam 
2  Jumlah jaringan telepon 
1  1  1  1  1 
stasioner 
3  Total jaringan komunikasi  3  4  5  5  6 
                        Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Bangka Selatan 
 
Semakin  banyak  jumlah  jaringan  komunikasi  maka  menggambarkan  semakin  besar 
ketersediaan  fasilitas  jaringan  komunikasi  sebagai  pelayanan  penunjang  dalam 
menyelenggarakan pemerintahan daerah. 
 
 
h.2.  Rasio wartel/warnet terhadap penduduk 
Rasio  wartel/warnet  atau  rasio  ketersediaan  wartel/warnet  adalah  jumlah 
wartel/warnet  per  1.000  penduduk.  Wartel  atau  warung  telekomunikasi  adalah 
tempat  usaha  komersial  yang  dimiliki  oleh  perorangan  atau  badan  hukum  yang 
memberikan jasa sambungan telekomunikasi kepada masyarakat dan akan menerima 
pembayaran dari konsumen secara langsung setelah jasa diberikan. 
 
Warnet  atau  warung  internet  adalah  tempat  usaha  komersial  yang  dimiliki  oleh 
perorangan  atau  badan  hukum  yang  memberikan  jasa  sambungan  internet  kepada 
masyarakat dan akan menerima pembayaran dari konsumen secara langsung setelah 
jasa diberikan. 
 
Menghitung  ketersediaan  wartel/warnet  per  1.000  penduduk  digunakan  rumus 
sebagai berikut: 
 

 II-98

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

Jumlah wartel/warnet  x1000    
Jumlah penduduk 
 
Selanjutnya hasilnya sajikan dalam tabel sebagai berikut: 
 
Tabel 2.106.  Rasio Wartel/Warnet per 1000 Penduduk Kabupaten  Bangka Selatan 
Tahun 2009 
 
2009 
No  Kecamatan  Jml  Jml  Jml  Rasio  Rasio 
Pnddk  Wartel  Warnet  wartel  warnet 
(1)  (2)  (8)  (9)  (10)  (11=9/8 (12=10/8) 

1  Toboali  55.692 3  2  0.05  0.04 
2  Air Gegas  37.054 1  ‐  0.03  ‐ 
3  Payung  18.137 1  ‐  0.06  ‐ 
4  Simpang Rimba  20.607 ‐  ‐  ‐  ‐ 
5  Lepar Pongok  12.759 ‐  ‐  ‐  ‐ 
6  Tukak Sadai  10.188 ‐  ‐  ‐  ‐ 
7  Pulau Besar  8.763 ‐  ‐  ‐  ‐ 
  Jumlah  163.200 5  2  0.14  0.00004 
Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Bangka Selatan 
 
Semakin  besar  rasio  wartel/warnet  per  1000  penduduk  akan  menggambarkan 
semakin  besar  ketersediaan  fasilitas  jaringan  internet  dan  fasilitas  jaringan 
komunikasi  data  sebagai  pelayanan  penunjang  dalam  menyelenggarakan 
pemerintahan daerah. 
 
h.3.  Jumlah surat kabar nasional/lokal 
Surat  kabar  merupakan  komunikasi  massa  yang  diterbitkan  secara  berkala  dan 
bersenyawa  dengan  kemajuan  teknologi  pada  masanya  dalam  menyajikan  tulisan 
berupa berita, feature, pendapat, cerita rekaan (fiksi), dan bentuk karangan yang lain. 
Jumlah  surat  kabar  nasional/lokal  adalah  banyaknya  jenis  surat  kabar  terbitan 
nasional atau terbitan lokal yang masuk ke daerah. 
 
Untuk  menghitung  surat  kabar  terbitan  nasional  atau  lokal  dapat  disusun  tabel  se‐
bagai berikut: 
 
Tabel 2.107.  Jumlah  Surat  Kabar  Nasional/Lokal  di  Kabupaten    Bangka  Selatan 
Tahun 2005 ‐ 2009 
No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009 
1  Jumlah jenis surat kabar 
3  3  3  3  3 
terbitan nasional 
2  Jumlah jenis surat kabar 
4  4  5  7  10 
terbitan lokal 
3  Total jenis surat kabar (1+2)  7  7  8  10  13 
                 Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Bangka Selatan 
 
Semakin  banyak  jumlah  jenis  surat  kabar  terbitan  nasional/lokal  di  daerah  maka 
menggambarkan  semakin  besar  ketersediaan  fasilitas  jaringan  komunikasi  massa 

  II-99

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

berupa  media  cetak  sebagai  pelayanan  penunjang  dalam  menyelenggarakan 
pemerintahan daerah. 
 
h.4.       Jumlah penyiaran radio/TV lokal 
Jumlah  penyiaran  radio/TV  lokal  adalah  banyaknya  penyiaran  radio/TV  nasional 
maupun radio/TV lokal yang masuk daerah.  
 
Semakin  banyak  jumlah  penyiaran  radio/TV  baik  di  daerah  maupun  nasional  di 
daerah  maka  menggambarkan  semakin  besar  ketersediaan  fasilitas  jaringan 
komunikasi  massa  berupa  media  elektronik  sebagai  pelayanan  penunjang  dalam 
menyelenggarakan pemerintahan daerah. 
 
Untuk  menghitung  jumlah  penyiaran  radio/TV  lokal  dapat  disusun  tabel  sebagai 
berikut: 
 
Tabel 2.108.  Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 
2005 – 2009 
No  Uraian  2005  2006 2007  2008  2009
1  Jumlah penyiaran radio lokal  1  1  1  1  1 
2  Jumlah penyiaran radio nasional  1  1  1  1  1 
3  Jumlah penyiaran tv lokal  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐ 
4  Jumlah penyiaran tv nasional  1  3  3  5  5 
5  Total penyiaran radio (1+2+3+4)  3  4  4  7  7 
                     Sumber : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Bangka Selatan 
 
 
i.  Pertanahan 
i.1.  Persentase luas lahan bersertifikat 
Prosentase  luas  lahan  bersertifikat  adalah  proporsi  jumlah  luas  lahan  bersertifikat 
(HGB, HGU, HM, HPL) terhadap luas wilayah daratan. 
Indikator  pertanahan  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  tertib  administrasi  sebagai 
kepastian dalam kepemilikan. 
 
Hak  Milik  (HM)  merupakan  hak  turun‐menurun,  terkuat  dan  terpenuh  yang  dapat 
dipunyai orang atas tanah. Sifat‐sifat hak milik yang membedakannya dengan hak‐hak 
lainnya adalah hak yang “terkuat dan terpenuh”, hak atas tanah yang dipunyai orang, 
hak miliklah yang paling kuat dan penuh. 
 
Hak  Guna  Usaha  (HGU)  adalah  hak  untuk  mengusahakan  tanah  yang  dikuasai 
langsung  oleh  negara  dalam  jangka  waktu  paling  lama  25  tahun.  Hak  Guna  Usaha 
merupakan hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna 
perusahaan, pertanian, perikanan dan peternakan. 
 
Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan‐
bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka  waktu paling lama 
30 tahun. Tidak mengenai tanah pertanian, oleh karena itu dapat diberikan atas tanah 
yang dikuasai langsung oleh negara maupun tanah milik seseorang. 
 

 II-100

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

Hak  Pengelolaan  Lahan  (HPL)  adalah  hak  untuk  mengelola  lahan  yang  hanya 
diberikan  atas  tanah  negara  yang  dikuasai  oleh  Badan  Pemerintah,  BUMN  (Badan 
Usaha Milik Negara) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 
Menghitung prosentase luas lahan bersertifikat digunakan rumus sebagai berikut: 
 
Jumlah luas lahan bersetifikat  x 100% 
        Jumlah Penduduk 
 
2.4 ASPEK DAYA SAING DAERAH 
Daya  saing  daerah  merupakan  salah  satu  aspek  tujuan  penyelenggaraan  otonomi 
daerah  sesuai  dengan  potensi,  kekhasan,  dan  unggulan  daerah.    Suatu  daya  saing 
(competitiveness)  merupakan  salah  satu  faktor  kunci  keberhasilan  pembangunan 
ekonomi  yang  berhubungan  dengan  tujuan  pembangunan  daerah  dalam  mencapai 
tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. 
 
a. Kemampuan Ekonomi Daerah 
Kemampuan  ekonomi  daerah  dalam  kaitannya  dengan  daya  saing  daerah  adalah 
bahwa  kapasitas  ekonomi  daerah  harus  memiliki  daya  tarik  (attractiveness)  bagi 
pelaku  ekonomi  yang  telah  berada  dan  akan  masuk  ke  suatu  daerah  untuk 
menciptakan  multiflier  effect  bagi  peningkatan  daya  saing  daerah.    Kemampuan 
ekonomi  daerah  memicu  daya  saing  daerah  dalam  beberapa  tolok  ukur,  sebagai 
berikut: 
 
a.1.   Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita  
 
PDRB  suatu  daerah  merupakan  nilai  seluruh  produk  yang  dihasilkan  dari  semua 
sektor  di  daerah  yang  bersangkutan,  sehingga  dapat  dijadikan  sebagai  salah  satu 
indikator  untuk  mengevaluasi  hasil‐hasil  pembangunan.  Dan  semua  produk  yang 
dihasilkan  tersebut  diperuntukkan  bagi  kesejahteraan  masyarakat  setempat.  Daya 
serap masyarakat setempat terhadap produk yang dihasilkan merupakan tolak ukur 
kesejahteraan  masyarakat  daerah  setempat.  Daya  serap  masyarakat  dapat  diukur 
melalui nilai pengeluaran konsumsi masyarakat tersebut. 
 
Peningkatan  pengeluaran  konsumsi  rumah  tangga  menunjukkan  peningkatan  daya 
serap masyarakat terhadap produk yang dihasilkan daerah yang bersangkutan, hal ini 
menunjukkan adanya peningkatan kemampuan daerah setempat dalam menghasilkan 
produk‐produk  yang  dibutuhkan  masyarakat  sekitar,  yang  berarti  meningkatnya 
kemampuan ekonomi daerah yang bersangkutan. 
 
Pengeluaran  konsumsi  masyarakat  merupakan  pengeluaran  penduduk  untuk 
makanan dan bukan makanan. Nilai tersebut apabila dibagi dengan jumlah penduduk 
merupakan  nilai  pengeluaran  konsumsi  rumah  tangga/masyarakat  perorangan  atau 
lebih dike‐nal dengan istilah pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita.  
 
Indikator  pengeluaran  konsumsi  rumah  tangga  per  kapita  dimaksudkan  untuk 
mengetahui  tingkat  konsumsi  rumah  tangga  yang  menjelaskan  seberapa  atraktif 
tingkat  pengeluaran  rumah  tangga.  Semakin  besar  rasio  atau  angka  konsumsi  RT 
semakin  atraktif  bagi  peningkatan  kemampuan  ekonomi  daerah.  Pengeluaran 
konsumsi  rumah  tangga  per  kapita  dapat  diketahui  dengan  menghitung  angka 
konsumsi  RT  per  kapita,  yaitu  rata‐rata  pengeluaran  konsumsi  rumah  tangga  per 

  II-101

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

kapita.  Angka  ini  dihitung  berdasarkan  pengeluaran  penduduk  untuk  makanan  dan 
bukan  makanan  per  jumlah  penduduk.  Makanan  mencakup  seluruh  jenis  makanan 
termasuk  makanan  jadi,  minuman,  tembakau,  dan  sirih.  Bukan  makanan  mencakup 
perumahan, sandang, biaya kesehatan, sekolah, dan sebagainya.  
 
Sesuai Permendagri Nomor 54 Tahun 2010, pengeluaran konsumsi rumah tangga per 
kapita  (Angka  konsumsi  RT  per  kapita)  dapat  dihitung  dengan  mempergunakan 
rumus :  

 
Tabel 2.109.  Angka Konsumsi RT per Kapita Kabupaten Bangka Selatan Tahun 
2005 ‐ 2009 
Tahun  Pengeluaran Perkapita 
2005  ‐ 
2006  ‐ 
2007  586,20 
2008  590,09 
2009  591,87 
 
a.2.     Nilai tukar petani 
Pembangunan  di  segala  bidang  merupakan  arah  dan  tujuan  kebijakan  Pemerintah 
Kabupaten  Bangka  Selatan.  Adapun  hakikat  sosial  dari  pembangunan  itu  sendiri 
adalah  upaya  peningkatan  kesejahteraan  bagi  seluruh  penduduk  Bangka  Selatan. 
Sebagian  penduduk  Bangka  Selatan  tinggal  di  daerah  pedesaan  dan  mempunyai 
pekerjaan  utama  di  sektor  pertanian.  Sektor  petanian  merupakan  sektor  prioritas 
pembangunan  di  kabupaten  Bangka  Selatan  yang  diharapkan  dapat  meningkatkan 
pendapatan dan mampu mengentaskan kemiskinan. 
 
Untuk  melihat  keberhasilan  pembangunan,  selain  data  tentang  pertumbuhan 
ekonomi juga diperlukan data pengukur tingkat kesejahteraan penduduk khususnya 
petani. Salah satu indikator yang dapat mengukur tingkat kesejahteraan petani adalah 
Nilai Tukar Petani (NTP). 
 
Nilai  Tukar  Petani  (NTP)  merupakan  salah  satu  indikator  yang  berguna  untuk 
mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan mengukur kemampuan tukar produk 
(komoditas)  yang  dihasilkan/dijual  petani  dibandingkan  dengan  produk  yang 
dibutuhkan  pe‐tani  baik  untuk  proses  produksi  (usaha)  maupun  untuk  konsumsi 
rumah tangga. Jika NTP lebih besar dari 100 maka periode tersebut relatif lebih baik 
dibandingkan  dengan  periode  tahun  dasar,  sebaliknya  jika  NTP  lebih  kecil  dari  100 
berarti terjadi penurunan daya beli petani.  
 
Nilai  Tukar  Petani  dapat  dihitung  dengan  membandingkan  faktor  produksi  dengan 
produk, yaitu perbandingan antara indeks yang diterima (It) petani dan yang dibayar 
(Ib) petani. 
 

 
 
Nilai Tukar Petani adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan 
indeks  harga  yang  dibayar  petani  (Ib)  dalam  persentase.  It  merupakan  suatu 

 II-102

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   indikator  tingkat  kesejahteraan  petani  produsen  dari  sisi  pendapatan.  Tingkat  kesejahteraan  petani  pada  suatu  periode  mengalami  penurunan dibanding tingkat kesejahtaraan petani pada periode sebelumnya. dengan asumsi  volume produksi tidak berkurang.  • NTP = 100. Peternak‐an dan    II-103 . Bila It atau Ib lebih  besar dari 100.  Karena  pendapatan  petani  sangat  erat  kaitannya  dengan  tingkat  kesejahtera‐an.  hubungan  antara  NTP  dan  pertambahan  pendapatan  petani  sangat  erat.  dengan  demikian  tingkat  kesejahteraan  petani  lebih  baik  dibanding ting‐kat kesejahteraan petani sebelumnya.  berarti  petani  mengalami  defisit. Kenaikan/penurunan  harga  produksinya  sama  dengan  persentase  kenaikan/penurunan  harga  barang  konsumsinya. Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang  dalam penghitungan pendapatan sektor pertanian.  Secara umum ada tiga macam pengertian NTP yaitu:    • NTP  >  100.  sedangkan  Ib  dari sisi kebutuhan petani baik untuk konsumsi maupun produksi.  maka  NTP  merupakan  indikator  yang  relevan  untuk  menunjukkan  perkembangan ting‐kat kesejahteraan petani.  • dari indeks harga yang dibayar petani (Ib).  Secara  konsepsional  NTP  adalah  pengukur  kemampuan  tukar  barang‐barang  (produk)  pertanian  yang  dihasilkan  petani  dengan  barang  atau  jasa  yang  diperlukan  untuk  konsumsi  rumah  tangga  dan  keperluan  dalam  memproduksi  produk pertanian. berarti petani mengalami  impas/break even. berarti It atau Ib lebih tinggi dibandingkan It atau Ib pada tahun dasar  penghitungan  NTP.    NTP sebagai sebuah indikator perkembangan harga berguna antara lain:  • dari indeks harga yang diterima petani (It) dapat dilihat fluktuasi harga barang‐ barang yang dihasilkan petani. dapat dilihat fluktuasi harga barang‐ barang  yang  dikonsumsi  oleh  petani  yang  merupakan  bagian  terbesar  dari  masyarakat  di  pedesaan. Atas dasar ini upaya produk specialization dan  peningkatan kualitas produk pertanian dapat dilakukan. Pendapatan petani naik lebih besar dari  penge‐luarannya.  Perkembangan  Ib  juga  dapat  menggambarkan  perkembangan inflasi di pedesaan. hortikultura. maka NTP naik dan dengan sendirinya pendapatan  petani naik relatif lebih besar dari kenaikan pengeluaran atau terjadi surplus. Tanaman Perkebunan Rakyat. Dengan  demikian  secara  konseptual.  Harga  produksinya  naik  lebih  besar dari kenaikan harga konsumsinya.  serta  fluktuasi  harga  barang  yang  diperlukan  untuk  memproduksi  hasil  pertanian.  • Nilai  Tukar  Petani  (NTP)  mempunyai  kegunaan  untuk  mengukur  kemampuan  tukar (term of trade) produk yang dijual petani dengan produk yang dibutuhkan  petani dalam berproduksi dan konsumsi rumah tangga.  Kenaikan  harga  barang  produksinya  relatif  lebih  kecil  dibandingkan  dengan  kenaikan  harga  barang  konsumsinya.  • NTP  <  100. palawija).    Sektor  pertanian  yang  dicakup  dalam  pengolahan  NTP  meliputi  subsektor  Tanaman  Pangan (padi. Tingkat kesejahteraan petani tidak mengalami perubahan.  berarti  petani  mengalami  surplus.    Apabila harga produk pertanian yang dihasilkan petani naik dengan persentase lebih  besar dari persentase kenaikan barang dan jasa yang dibayar petani.    • angka  NTP  menunjukkan  tingkat  daya  saing  (competiveness)  produk  pertanian  dibandingkan dengan produk lain. Dari angka ini sekurang‐ kurangnya dapat diperoleh gambaran tentang perkembangan tingkat pendapatan  petani  dari  waktu  ke  waktu  yang  dapat  dipakai  sebagai  dasar  kebijakan  untuk  memperbaiki tingkat kesejahteraan petani.

 Pengeluaran konsumsi non pangan per kapita  dapat  dicari  dengan  menghitung  persentase  konsumsi  RT  untuk  non  pangan.94  0.111.99 0. kualitas.09  591. mencakup perumahan. dan penataan tata niaga serta tingkat harga produk pertanian.45 109.87  3  Rasio  ‐  ‐  ‐  52. sekolah.97  106.  Data  yang  tersedia  untuk  analisis  NTP  kabupaten  Bangka  Selatan  adalah  data  NTP  di  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung  dengan  mengambil  tahun  2007  sebagai  tahun  dasar  perhitungan. sandang.110.    Tabel 2.  yaitu  proporsi  total  pengeluaran  rumah  tangga  untuk  non  pangan  terhadap  total  pengeluaran.     Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita   Pengeluaran  konsumsi  non  pangan  merupakan  pengeluaran  konsumsi  di  luar  pengeluaran untuk pangan.  dan  harga  produk  konsumsi  tidak  berbeda  jauh  diantara  kabupaten‐kabupaten di propinsi Bangka Belitung.38 102.  Upaya untuk meningkatkan NTP  dapat  dilakukan  melalui  berbagai  program  terkait  dengan  peningkatan  produksi. biaya kesehatan.16  253.   Nilai  Tukar  Petani  (NTP)  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2008  ‐  2010  Tahun  No  Uraian  2008  2009  2010  1  Indeks yang Diterima Petani (It)  104.  produktivitas.56  42.75 3  Rasio  0.83   II-104 .  Rasio  dihitung  dengan  rumus  sebagai  berikut:    % Pengeluaran Non Pangan =      Tabel 2.  Asumsinya  adalah  kondisi  petani.  tingkat  harga  produk  pertanian.   Persentase Konsumsi RT non‐Pangan Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Total Pengeluaran RT non Pangan  ‐  ‐  ‐  310.07  111.  Hal ini juga menunjukkan  tingkat  daya  saing  (competiveness)  produk  pertanian  dibandingkan  dengan  produk  lain mengalami penurunan selama periode tersebut.  Tingkat  kesejahteraan  petani  pada  periode  2008  sd  2010  mengalami  penurunan  dibanding tingkat kesejahtaraan petani pada tahun 2007.95 Keterangan: * Sumber data: BPS Provinsi Bangka Belitung  **Data sampai dengan September 2010    a.3.  Data nilai tukar petani (NTP) seperti disajikan pada tabel 2.48  2  Total Pengeluaran  ‐  ‐  ‐  590.45 2  Indeks yang Dibayar Petani (Ib)  105.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Perikanan.100 menunjukkan bahwa  NTP  tahun  2008  sd  2010  kurang  dari  1.     Sesuai  Permendagri  Nomor  54  Tahun  2010.  “entertaint”    Pengeluaran  konsumsi  non  pangan  perkapita  dibuat  untuk  mengetahui  pola  konsumsi rumah tangga di luar pangan.    Artinya  kenaikan  harga  barang  produksi  petani  relatif  lebih  kecil  dibandingkan  dengan  kenaikan  harga  barang  konsumsinya.

84    138.95       17.  Rasio  panjang  jalan  per  jumlah  kendaraan  adalah  perbandingan  panjang  jalan  terhadap  jumlah  kendaraan.864   26.826   100 1.509.3  Industri Pengolahan       38.085    2.782     0.709.31    667.049     0.53    49.05      585.77    995.47 Perdagangan.13      135.924.2     480.99     299.773     3.885    0.1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     a.588    1.45        61.867  6.90   553.     Tabel 2.22     224.363     0.5  Bangunan       79.928  2.554   39.58 Jumlah Angkatan  2.12   250.203  13.  Produktifitas per Sektor di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009  2005  2006  2007  2008  2009  No  URAIAN  Rp.1.94    118.432     2.028     5. Bangka Selatan    b.811   31.701     2.62  112.208   2.    Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut:          II-105 .895  43.303     2.79       59.619    1.03      323.73     598. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur  Suatu  fasilitas  wilayah  atau  infrastruktur  menunjang  daya  saing  daerah  dalam  hubungannya  dengan  ketersediaannya  (availability)  dalam  mendukung  aktivitas  ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar wilayah.7       14.946  2.735   43.  %  Rp.746  40.377   5.95.25          6.  Produktivitas  total  daerah  dapat  diketahui  dengan  menghitung  produktivitas  daerah  per  sektor  (9  sektor)  yang  merupakan jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari setiap sektor dibagi  dengan  jumlah  angkatan  kerja  dalam  sektor  yang  bersangkutan.6     199.      Produktivitas Total Daerah  Produktivitas  total  daerah  dihitung  untuk  mengetahui  tingkat  produktivitas  tiap  sektor  per  angkatan  kerja  yang  menunjukan  seberapa  produktif  tiap  angkatan  kerja  dalam  mendorong  ekonomi  daerah  per  sektor.   Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan  Rasio  panjang  jalan  per  jumlah  kendaraan  dihitung  untuk  mengetahui  tingkat  ketersediaan  sarana  jalan  dapat  memberi  akses  tiap  kendaraan.193     1.1.  %  Rp.960  100 1.60        63.06    784.55 Listrik.    b.040  100  1.986  24.671   13.464  0.063.156   4.27         4.27  Bersih  1.85     528.63    95.675     2.482  13.147  30.681    2.  %  1.4.288    0.618   13.4         4. Sewa dan  1.010   4.298.26      96.    b.923  100 2.  PDRB ­ ADHB  1.8       43.9  Jasa‐jasa       55. Gas dan Air  1.  ‐      ‐      ‐       ‐     114.854    100  2.113  28.002  12.55      56.81     53.266  5.862      Kerja  Sumber : PDRB Kab.656     6.1  Pertanian     593.31   1.    Pertumbuhan  PDRB  Atas  Dasar  Harga  Berlaku  (PDRB  –  ADHB)  Kabupaten  Bangka  Selatan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel 2.27         5.12       26.  %  Rp.103  5. Hotel  1.425.118   2.15  Penggalian  1.  Aksesibilitas Daerah  Untuk  mengetahui  tingkat  aksesibilitas  daerah  dapat  dihitung  antara  lain  dengan  menghitung jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal pertahun.  %  Rp.112.29       5.85 Pertambangan &  1.126  1.14        28.03      156.56      43.    PDRB  dihitung  berdasarkan 9 (Sembilan) sektor.69      79.472     5.634  39.64  Jasa Perusahaan  1.16  Komunikasi  Keuangan.88       48.33  dan Restoran  Pengangkutan &  1.03     21.

1. Rasio Panjang Jalan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2010  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  2010  1  Panjang Jalan  ‐  ‐  ‐  982.2.2.575  30.344  ‐  157. Komunikasi dan Informatika Kab.       Penataan Wilayah  b. Komunikasi dan Informatika Kab.92  982.458  ‐  793.  Jumlah Orang/Barang Melalui Dermaga/Bandara/Terminal Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2006 ‐  2010  2006  2007  2008  2009  2010  No  Sektor  Orang  %  Orang  %  Orang  %  Orang  %  Orang  %  1  Dermaga  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  733  ‐  535  ‐  2  Bandara  672. Bangka Selatan      b.114.    Rasio ketaatan dihitung dengan rumus sebagai berikut:           II-106 .958  68.  Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum di Kabupaten Bangka  Selatan Tahun 2005 ‐ 2010  Tahun  No  Uraian  Satuan  2005  2006  2007  2008  2009  2010  1  Jumlah Orang  Orang  ‐  ‐  ‐  84.   Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum  Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum dalam periode  1 (satu) tahun  di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2010 tersaji dalam tabel berikut :      Tabel 2.2. Komunikasi dan Informatika Kab.   Jumlah orang/barang melalui dermaga/ bandara/ terminal per tahun  Jumlah  orang/barang  melalui  dermaga/bandara/terminal  dalam  periode  1  (satu)  tahun di Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2006 – 2010 disaji dalam tabel berikut :    Tabel 2.399  ‐  Sumber : Dinas Perhubungan.027 Sumber : Dinas Perhubungan.115. Bangka Selatan    b.1.033  0.472  86.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Tabel 2.966  ‐  173.818  ‐  164.   Ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)  Ketaatan  terhadap  RTRW  merupakan  kesesuaian  implementasi  tata  ruang  hasil  perencanaan  tata  ruang  berdasarkan  aspek  administratif  dan  atau  aspek  fungsional  dengan peruntukan yang direncanakan sesuai dengan RTRW.119  36.675  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  3  Terminal  112.914 3  Rasio  ‐  ‐  ‐  0.3.699 2  Jumlah Barang  Ton  ‐  ‐  ‐  ‐  460  195 Sumber : Dinas Perhubungan.524  ‐  129.113.1.92 2  Jumlah Kendaraan  ‐  ‐  ‐  24. Bangka Selatan      b.040  0.589  ‐  733.92  982.

708  360.606 206.188 0.  Luas Wilayah Produktif  Luas  wilayah  produktif  adalah  persentase  realisasi  luas  wilayah  produktif  terhadap  luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW.540.  2  206.   Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 –  2009    Tahun      No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Realisasi RTRW  360.708  360.188  0.606 Budidaya  3  Rasio (1/2)  0.708  360.708 360.015 0.2.708  360. Rasio Luas Wilayah Produktif Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Luas Wilayah produktif  3186 4364 12.  Rasio Luas Wilayah Industri Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Luas Wilayah Industri  0 0 5000 5000  5000 Luas Seluruh Wilayah  2  206.606 206.708  2  RTRW  3  Rasio (1.606  206.)  100%  100%  100%  100%  100%    b.950  51.    Rasio  dihitung  dengan  rumus  sebagai berikut:      Tabel 2.2.249   b.021 0.   Luas Wilayah Kebanjiran  Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah banjir terhadap luas rencana  kawasan  budidaya  sesuai  dengan  RTRW.606 206.606 Budidaya  3  Rasio (1/2)  0 0 0.2.      Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut:        Tabel 2.606 206.130  0.2.169 26.708  360./2.708  360.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.059 0.3.  Luas Wilayah Industri  Luas wilayah industri adalah persentase realisasi luas kawasan industri terhadap luas  rencana  kawasan  budidaya  sesuai  dengan  RTRW.118.708 Rencana Peruntukan  360.116.188   b.2 Luas Seluruh Wil.606  206.4.606 206.    Rasio  dihitung  dengan  rumus  sebagai  berikut:        II-107 .117.708 360.606 206.

  Rasio Luas Wilayah Kebanjiran Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  Luas Wilayah  1  21.42 Kebanjiran (ha)  Luas Seluruh Wilayah  2  206.   Luas Wilayah Perkotaan  Luas wilayah perkotaan adalah persentase realisasi luas wilayah perkotaan terhadap  luas rencana wilayah budidaya sesuai dengan RTRW.606 Budidaya (ha)  3  Rasio (1/2)  0.112 b.606 206.606 206.120.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ       Tabel 2.047.65 21.2.606  206.102 0.047.65 21.02  64.606  206.121.2.65 22.155.    Rasio dihitung dengan rumus sebagai berikut:        Tabel 2.  Rasio  Luas  Wilayah  Perkotaan    Kabupaten  Bangka    Selatan  Tahun  2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Luas Wilayah Perkotaan  64.591.047.606 206.767.742  Luas Seluruh Wilayah  2  206.107  0.31  0.606  Budidaya  3  Rasio (1/2)  0.591.    Rasio  dihitung  dengan  rumus  sebagai  berikut:      Tabel 2.102 0.606  206.606  206.6.606  206.02  64.606 206.155.591.34  0.02  71.38     II-108 .606  206.  Rasio  Luas  Wilayah  Kekeringan  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  Luas Wilayah  1  0  0  0  0  0  Kekeringan  Luas Seluruh  2  206.31  0.5.   Luas Wilayah Kekeringan  Luas  wilayah  kekeringan  adalah  luas  wilayah  kekeringan  terhadap  luas  rencana  kawasan  budidaya  sesuai  dengan  RTRW.606 206.606 206.42  22.8  79.31  0.606 Wilayah Budidaya  3  Rasio (1/2)  0  0  0  0  0      b.119.102 0.

 meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa.123.122.    Tabel 2.2  Syariah  0  0  0  0  0  2  BPR  0  0  1  1  1  2.   Fasilitas bank dan non bank  Bank  adalah  badan  usaha  yang  menghimpun  dana  dari  masyarakat  dalam  bentuk  simpanan  dan  menyalurkannya  kepada  masyarakat  dalam  bentuk  kredit  dan  atau  bentuk‐bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.  Jenis  dan  Jumlah  Perusahaan  Asuransi  dan  Cabangnya  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009    Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  Perusahaan Asuransi  1  0  0  0  0  0  Kerugian    II-109 .1  Konvensional  2  2  2  4  5  1.1  Konvensional  0  0  0  0  0  2.    b.  Fasilitas bank dan non bank  Fasilitas  bank  dan  non  bank  diukur  dengan  jenis  dan  jumlah  bank  dan  cabang‐ cabangnya.   Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabang­cabangnya  Asuransi  merupakan  alat  untuk  menanggulangi  risiko  (nasabah)  dengan  cara  menanggung bersama kerugian yang mungkin terjadi dengan pihak lain (perusahaan  asuransi).  Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan  atau  berdasarkan  Prinsip  Syariah  yang  dalam  kegiatannya  memberikan  jasa  da‐lam  lalu lintas pembayaran.     Menurut fungsinya.    Penyelenggaraan  asuransi  dipisahkan  menjadi  dua  yaitu  perusahaan  asuransi  yang  beroperasi secara konvensional dan yang menggunakan prinsip‐prinsip syariah.    Perusahaan  asuransi  adalah  jenis  perusahaan  yang  menjalankan  usaha  asuransi.3.    Tabel 2.3.  Usaha asuransi adalah usaha  jasa  keuangan  yang  menghimpun  dana  masyarakat  melalui  pengumpulan  premi  asuransi  guna  memberikan  perlindungan  kepada  anggota  masyarakat  pemakai  jasa  asuransi  terhadap  kemungkinan  timbulnya  kerugian  karena  suatu  peristiwa  yang  tidak pasti terhadap hidup atau meninggalnya seseorang. dan jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang‐cabangnya.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   b.  Bank  Perkreditan  Rakyat  adalah  bank  yang  melaksanakan  kegiatan  usaha  secara  konvensional  atau  berdasarkan  Prinsip  Syariah  yang  dalam  kegiatannya  tidak  memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.   Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Kabupaten Bangka Selatan tahun 2005 –  2009  Tahun  No  Uraian  2006  2007  2008  2009  2010  1  Bank Umum  2  2  2  4  5  1.3.2. bank dibagi menjadi bank umum dan bank perkreditan rakyat.2  Syariah  0  0  1  1  1      b.1.

1  Konvensional  0  0  0  0  0  1.    Ketersediaan  air  bersih  dapat  dihitung  dari  persentase  Rumah  Tangga  (RT)  yang  menggunakan air bersih dengan rumus sebagai berikut:        Tabel 2.2  Syariah  0  0  0  0  0  Perusahaan Asuransi  2  2  2  2  2  2  Jiwa  2.  2.  4.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   1.2  Syariah  0  0  0  0  0      b.    Air  Minum  (Drinking  Water)  adalah  air  yang  melalui  proses  pengolahan  atau  tanpa  proses  pengolahan  yang  memenuhi  syarat  kesehatan  dan  dapat  langsung  diminum  (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002).  mata air.304  1.124.4.1  Konvensional  2  2  2  2  2  2. Persentase Rumah Tangga yang menggunakan air bersih  Tahun  No  Sumber Air Bersih  2005  2006  2007  2008  2009  1  Leding (perpipaan)  1.  air sungai dan danau.  5.  Ketersediaan Air Bersih  Air Bersih (Clean Water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari‐hari yang  kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak.  3.736  menggunakan air bersih  12  Jumlah Rumah Tangga  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  Persentase rumah tangga yang  13  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  menggunakan air bersih (11/12)       II-110 .  air sumur dangkal.  air sumur dalam.  air hujan.319  3  Sumur tidak terlindung  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  4  Mata air terlindung  ‐  ‐  ‐  ‐  3.    Sumber air bersih dapat dibedakan atas:  1.463  7  Danau/Waduk  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  8  Air hujan  ‐  ‐  ‐  ‐  162  9  Air kemasan  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  10  Lain‐lain  ‐  ‐  ‐  ‐  868  Total Jumlah Rumah Tangga yang  11  ‐  ‐  ‐  ‐  43.157  ‐  ‐  628  2  Sumur lindung  ‐  ‐  ‐  ‐  33.289  5  Mata air tidak terlindung  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  6  Sungai  ‐  ‐  ‐  ‐  5.

  Fasilitas Listrik dan Telepon  b.05% 1.2.   Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik  Penyediaan  tenaga  listrik  bertujuan  untuk  meningkatkan  perekonomian  serta  memajukan  kesejahteraan  masyarakat.  Untuk  mewujudkan  hal  tersebut  maka  Pemerintah  Daerah  berkewajiban  untuk  melistriki  masyarakat  tidak  mampu  dan  daerah  terpencil.636  3.018 5.  Indikator  yang  digunakan  untuk  melihat  pencapaian  sasaran  pemerintah  daerah  tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.346  6.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   b.125.  Persentase  rumah  tangga  yang  menggunakan  listrik  merupakan  proporsi  jumlah  rumah  tangga  yang  menggunakan  listrik  sebagai  daya  penerangan  terhadap  jumlah  ru‐mah tangga.404  5.1.719  10.108  DIBUTUHKAN*  Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kab.50% 0.5    Indrustri  GWH  1 1  1  2  Susut & Losses (T&D)  %  0.50%  0.346  7  Beban Puncak  MW  3.05%  1.33 9.474 6.05%  5  Faktor Beban  %  1% 1%  1%  6  Produksi  GWH  5.5. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:      II-111 .5    Rumah Tangga  GWH  2 3  4    Komersial  GWH  1 1  2    Public  GWH  2 2  2.  Bila  tenaga  listrik  telah  dicapai  pada  suatu  daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut  dapat  meningkat. Bangka Selatan      b.  Prakiraan Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  Satuan  2008  2009  2010  1  Kebutuhan  GWH  6 7  9. dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:        Perhitungan  ketersediaan  daya  listrik  dan  kebutuhannya  kedepan  dapat  mengacu  pada  dokumen  Rencana  Umum  Kelistrikan  Nasional  (RUKN)  atau  Rencana  Umum  Kelistrikan Daerah (RUKD) yang telah disusun.5.55%  3  Susut Pemakaian Sendiri  %  1% 1%  1%  4  Total Susut & Losses  %  1.636  Kapasitas Terpasang  8  MW  5.404  (Existing)  Cummulated Commited  9  MW  ‐ ‐  ‐  Projects  10  TOTAL KAPASITAS SISTEM  MW  ‐ ‐  ‐  DAYA YANG  11  MW  9.5.  Rasio Ketersediaan Daya Listrik  Rasio ketersediaan daya listrik adalah perbandingan daya listrik terpasang terhadap  jumlah kebutuhan.150 3.      Tabel 2.

127.  Ketersediaan Rumah  Rumah  adalah  bangunan  yang  berfungsi  sebagai  tempat  tinggal  atau  hunian  dan  sarana  pembinaan  keluarga.  Persentase  Rumah  Tangga  yang  Menggunakan  Listrik  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2008 ‐ 2010  Tahun  No  Uraian  2008  2009  2010  1  RT dengan daya 450 watt  3.549 3.038  2.7.55  17.237 233 1.102 Persentase Rumah Tangga yang  8  17.500 7.936 2.214 1.005 16.640 Simpang Rimba 21.200 4  RT dengan daya 2.047 2.091 1.87 menggunakan listrik (6)/(7)  Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kab.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ       Tabel 2.313 16.589 Pulau Besar 8.746 7.668 1.  Perumahan  adalah  kelompok  rumah  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempal  tinggal  atau  lingkungan  hunian  yang  dilengkapi  dengan  prasarana  dan  sarana  lingkungan.641 943 573 518 1.084 2  RT dengan daya 900 watt  2.193 691 832 424 1.001 459 2.948 2.523 11.  Ketersediaan  rumah  pada  suatu daerah menunjukan tingkat kesejahteraan daerah tersebut.   Ketersediaan dan kebutuhan rumah di Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2010  Jumlah Jumlah Rumah Jumlah Semi Kecamatan Penduduk Semi Permanen Kebutuhan Permanen Permanen Temporer (Jiwa) + Temporer Rumah (Unit) Payung 17.261 5.954 44.    Tabel 2.300 watt  1.    Pengertian  restoran  adalah  tempat  menyantap  makanan  dan  minuman  yang  disediakan  dengan  dipungut  bayaran.297 723 5.291 1.6.  tidak  termasuk  usaha  jenis  tata  boga  atau  catering.830  2.470 3. Bangka Selatan      b.  Ketersediaan Restoran  Ketersediaan  restoran  pada  suatu  daerah  menunjukan  tingkat  daya  tarik  investasi  suatu  daerah.62 17.831 1.242 Toboali 59.725  7.020 11.476 1.429 917 407 1.  Sedangkan  pengusahaan  usaha  restoran  dan  rumah  makan  adalah   II-112 .272 3.808 4.028  44.402     b.055 Lepar Pongok 12.460 4.200 watt  30 30  32 Total Jumlah Rumah Tangga  6  7.527 Air Gegas 35.880 menggunakan listrik  7  Jumlah Rumah Tangga  43.565 4.723  3.126.  Banyaknya  restoran  dan  rumah  makan  menunjukan  perkembangan  kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang‐peluang yang ditimbulkannya.736 3.324 2.951 1.256 1.424 3  RT dengan daya 1.121 32.496 Total 162.200 watt  102 104  140 5  RT dengan daya > 2.853 Tukak Sadai 7.

  Persyaratan  Teknis  :  Unsur  Fisik. kriteria penggolongannya didasarkan pada persyaratan  dasar  dan  penilaian  teknis  operasional.    Jenis penginapan/hotel dapat dibedakan menjadi:    a.  Kelas  dan  Jumlah  Restoran  Kabupaten  Bangka  Selatan  Tahun  2005 ‐ 2009  2005 2006 2007 2008  2009 Jml  Jml  Jml  Jml  Jml No  Uraian  Jml  Jml  Jml  Jml  Jm  Usa Kurs Usah Kurs Kur Usaha  Kursi  Usaha  Kursi  Usaha  ha  i  a  i  si  1  Usaha restoran  golongan  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  tertinggi  2  Usaha restoran  golongan  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  menengah  3  Usaha restoran  golongan  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  terendah  4  Usaha rumah  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  makan kelas A  5  Usaha rumah  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  makan kelas B  6  Usaha rumah  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  makan kelas C  7  Usaha rumah  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  makan kelas D  8  Usaha rumah  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  makan kelas  9  Jenis  Usaha  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  Restoran  10  Jenis  Usaha  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  17  340  Rumah Makan                   Sumber : Dinas Pariwisata Kab.   Hotel Berbintang  Hotel  berbintang  adalah  suatu  usaha  jasa  yang  menggunakan  suatu  bangunan  atau  sebagian  bangunan  yang  disediakan  secara  khusus.    Tabel 2.128.  Ketersediaan Penginapan  Ketersediaan  penginapan/hotel  merupakan  salah  satu  aspek  yang  penting  dalam  meningkatkan  daya  saing  daerah.  terutama  dalam  menerima  dan  melayani  jumlah  kunjungan dari luar daerah.  Ciri  khusus  dari  hotel  berbintang  adalah  mempunyai  restoran  yang  dikelola  langsung  di  bawah  manajemen  hotel  tersebut. Semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan  meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut.  Ijin  Usaha).  Jenis.  makan.  dan  telah  memenuhi  persyaratan  sebagai  hotel  berbintang  seperti  yang  telah  ditentukan.  dan  menggunakan  fasilitas  lainnya  dengan  pembayaran.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   penyediaan  jasa  pelayanan  makanan  dan  minuman  kepada  tamu  sebagai  usaha  pokok.8.  di  mana  setiap  orang  dapat  menginap.    Untuk Hotel Berbintang.  memperoleh  pelayanan.  Persyaratan  Dasar  :  Perijinan  (persetujuan  Prinsip. Dengan semakin banyaknya  jumlah  kunjungan  orang  dan  wisatawan  ke  suatu  daerah  perlu  didukung  oleh  ketersediaan penginapan/hotel.  Unsur    II-113 . Bangka Selatan      b.

Iklim Berinvestasi  c.  Hotel Melati  Hotel  Melati  adalah  suatu  usaha  yang  menggunakan  suatu  bangunan  atau  sebagian  bangunan  yang  disediakan  secara  khusus.  makan. Penetapan penilaian golongan kelas hotel bintang  dilakukan  dengan  penggabungan  dari  nilai  persyaratan  dasar  dan  persyaratan  teknis.  dihitung  dengan  menggunakan  rumus  sebagai berikut:                   II-114 .  Keamanan dan Ketertiban  c. Unsur Pelayanan.  memperoleh  pelayanan  dan  menggunakan  fasilitas  lainnya  dengan  pembayaran.  di  mana  setiap  orang  dapat  menginap.1.      Angka  kriminalitas  dihitung  berdasarkan  delik  aduan  dari  penduduk  korban  kejahatan  dalam  periode  1  (satu)  tahun.   Jenis.  maka  semakin  tinggi  tingkat  keamanan masyarakat.  dan  belum  memenuhi  persyaratan  sebagai  hotel  berbintang. Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Kabupaten Bangka Selatan  Tahun 2008 ‐ 2010  2009  2010  Jumlah  Jumlah  No  Uraian  Jumlah  Jumlah  Jumlah  Jumlah  Tempat  Tempat  Hotel  Kamar  Hotel  Kamar  tidur  tidur  1  Hotel Bintang 5  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  2  Hotel Bintang 4  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  3  Hotel Bintang 3  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  4  Hotel Bintang 2  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  5  Hotel Bintang 1  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  ‐  Hotel Non Bintang  6  3  62  64  4  102  104  (hotel melati)  7  Total Hotel  3  62  64  4  102  104        Sumber : Dinas Pariwisata Kab.  pembunuhan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Pengelolaan.    Tabel 2.1.   Angka Kriminalitas  Angka  Kriminalitas  adalah  rata‐rata  kejadian  kriminalitas  dalam  satu  bulan  pada  tahun tertentu. Bangka Selatan      c. Artinya dalam satu bulan rata‐rata terjadi berapa tindak kriminalitas  untuk  berbagai  kategori  seperti  curanmor.  dan  sebagainya.  semakin  rendah  tingkat  kriminalitas.    b.  pemerkosaan.129.1.  Penilaian penggolongan Hotel Bintang dilaksanakan oleh PHRI.  Indikator  ini  berguna  untuk  menggambarkan  tingkat  keamanan  masyarakat.

 SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan  2.3.1.131.130.76  5.  Pembentukan  daya  saing  investasi.  Jumlah Demonstrasi  Jumlah  demonstrasi  adalah  jumlah  demonstrasi  yang  terjadi  dalam  periode  1  (satu)  tahun.1. Angka Kriminalitas Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008 ‐ 2009      Tahun  No  Uraian  2008  2009  1  Jumlah kasus Narkoba  11  8  2  Jumlah kasus Pembunuhan  1  5  3  Jumlah Kejahatan Seksual  6  8  4  Jumlah kasus Penganiayaan  26  16  5  Jumlah kasus Pencurian  73  52  6  Jumlah kasus Penipuan  6  4  7  Jumlah kasus Pemalsuan uang  2  1  8  Total Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun  125  94  9  Jumlah Penduduk  161.200  10  Angka Kriminalitas (8)/(9)  7. Bangka Selatan      c.    Jenis perijinan yang dianalisis antara lain:    1. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyata‐ kan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu  pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh  ke‐pentingan kelompok.  Lama  proses  perijinan  merupakan  rata‐rata  waktu  yang  dibutuhkan  untuk  memperoleh suatu perijinan (dalam hari).  berlangsung  secara  terus‐menerus  dari  waktu  ke  waktu  dan  dipengaruhi  oleh  banyak  faktor.2.  salah  satunya kemudahan perijinan. TDP : Tanda Daftar Perusahaan    II-115 .087  163. Bangka Selatan    c.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 2.    Tabel 2.  Unjuk rasa atau demonstrasi ("demo") adalah sebuah gerakan protes yang dilaku‐kan  sekumpulan orang di hadapan umum. Jumlah Demonstrasi Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008 ‐ 2010  Tahun  No  Uraian  2008  2009  2010  1  Bidang Politik  2  3  3  2  Ekonomi  0  0  0  3  Kasus pemogokan kerja  0  0  0  4  Jumlah Demonstrasi /Unjuk Rasa  2  3  3                  Sumber : Kesbangpol Kab.   Kemudahan Perijinan    Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada  daya saing investasi  yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan.    Kemudahan  perijinan  adalah  proses  pengurusan  perijinan  yang  terkait  dengan  persoalan investasi relatif sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama.76   Sumber : Polres Kab. Daya saing investasi suatu daerah tidak  terjadi  dengan  serta  merta.

  pajak  reklame.1. Bangka Selatan    c.133.000   ‐   1.  Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah)  Jumlah  dan  macam  pajak  daerah  dan  retribusi  daerah  diukur  dengan  jumlah  dan  macam insentif pajak dan retribusi daerah yang mendukung iklim investasi.000     ‐    34. dan retribusi sejenis lainnya. IMB : Izin Mendirikan Bangunan  6.000   ‐  15.000.000.  melalui  perda inilah dapat diindikasikan adanya insentif maupun disinsentif sebuah kebijakan  di  daerah  terhadap  aktivitas  perekonomian.000   ‐   300.  Perda  yang  mendukung  iklim  usaha   II-116 . HO : Izin Gangguan    Tabel 2.1.4.000  Sumber : KP2T Kab.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3.132.  Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung iklim usaha  Perda  merupakan  sebuah  instrumen  kebijakan  daerah  yang  sifatnya  formal.  Contoh retribusi daerah yaitu: retribusi sewa tempat di pasar milik pemda.000  4  TDI  Max 14 hari  5 dokumen   200.  yang  digunakan  untuk  membiayai  penyelenggaraan  pemerintahan  daerah  dan  pembangunan  daerah  (sesuai  dengan  peraturan perundangan yang berlaku).    Retribusi  daerah  adalah  pungutan  daerah  sebagai  pembayaran  atas  jasa  atau  pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah  dae‐rah  untuk  kepentingan  orang  pribadi  atau  badan  (dalam  hal  ini  perusahaan).  Lama dan Proses Perijinan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009  Lama Mengurus  Jumlah Persyaratan  Biaya resmi  No  Uraian  (hari)  (dokumen)  (rata­rata maks Rph)  1  SIUP  Max 14 hari  6 dokumen   100.000   ‐   15.800. retribusi parkir di tepi jalan umum yang disediakan  oleh pemda.  Pajak  daerah  adalah  iuran  wajib  yang  dilakukan  oleh  pribadi  atau  badan  (dalam  hal  ini perusahaan) kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang berdasarkan  perundang‐undangan  yang  berlaku.000  6  HO  Max 14 hari  1 dokumen  ¾  2.000.000  5  IMB  Max 14 hari  18 dokumen  100. TDI : Tanda Daftar Industri  5.000  2  TDP  Max 14 hari  5 dokumen   200.    Tabel 2.5. Bangka Selatan  c. retribusi  kebersihan di pasar milik pemda. IUI : Izin Usaha Industri  4.000.000  3  IUI  Max 14 hari  5 dokumen   200.  Jumlah  dan  Macam  Insentif  Pajak  dan  Retribusi  Daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan Tahun 2008 ‐ 2010  Tahun  No  Uraian  2008  2009  2010  1  Jumlah Pajak yang dikeluarkan  0  0  0  Jumlah Insentif Pajak yang  2  0  0  0  mendukung iklim investasi  3  Jumlah Retribusi yang dikeluarkan  449  489  315  Jumlah Retribusi yang mendukung  4  16  13  2  iklim investasi                           Sumber : DPPKAD Kab.  dan  pajak  restoran/hotel.  Contoh  pajak  daerah  yaitu:  pajak  penerangan  jalan.

  kemampuan.   Jumlah Perda Yang Mendukung Iklim Usaha Kabupaten Bangka   Selatan Tahun 2005 – 2009    Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah Perda terkait perijinan  0  1  6  5  2  Jumlah Perda terkait lalu lintas  2  0  0  2  0  0  barang dan jasa  Jumlah Perda terkait  3  0  0  3  2  1  ketenagakerjaan  Sumber : Bagian hukum dan organisasi setda kab Bangka Selatan    c.  dalam  memanfaatkan berbagai po‐tensi desa maupun peluang yang ada untuk berkembang.  taraf  berkehidupan  miskin  dan  tradisional  serta  tidak  memiliki  sarana  dan  prasarana penunjang yang mencukupi.    Tabel 2.6. perda terkait dengan lalu lintas barang  dan jasa.  Pembangunan  desa  dan  pembangunan  sektor  yang  lain  di  setiap  pedesaan  akan  mempercepat  pertumbuhan  desa  menjadi  desa  swasembada  yang  memiliki  ketahanan  di  segala  bidang  dan  dengan  demikian  dapat  mendukung  pemantapan  ketahanan  nasional. Jumlah desa terbelakang di Kabupaten Bangka  Selatan tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini.  keterampilan  dan  prakarsanya.  Dalam  rangka  mencapai  tujuan  itu  pembangunan  desa  diarahkan  untuk  mengembangkan  sumber  daya  manusia‐nya  yang  merupakan  bagian  terbesar  penduduk  Indonesia.135. serta perda terkait dengan ketenagakerjaan.  desa/kelurahan  diklasifikasikan  menjadi  3  (tiga).    Berdasarkan  kriteria  status.  Desa  Terbelakang  Berdasarkan  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan Tahun 2010    No  Kecamatan  Desa  Jumlah  Desa Bikang 1  Toboali  Desa Rindik 3  Desa Kepoh Desa Pergam 2  Air Gegas  Desa Sidoharjo 3  Desa Tepus Desa Paku 3  Payung  3  Desa Bedenggung   II-117 .  dengan  meningkatkan  kualitas  hidup.1. Biasanya desa terbelakang berada di wilayah yang terpencil jauh dari  kota.  desa  swakarya  (transisional).exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   dibatasi yaitu perda terkait dengan perizinan.    Tabel 2.  yakni  desa  swadaya  (tradisional).  Status Desa (Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa)  Pembangunan desa dalam jangka panjang ditujukan  untuk memperkuat dasar‐dasar  sosial  ekonomi  pedesaan  yang  memiliki  hubungan  fungsional  yang  kuat  dan  mendasar  dengan  kotakota  dan  wilayah  di  sekitarnya.  Pengertian  masingmasing  klasifikasi  desa  tersebut  adalah  sebagai  berikut:    1) Desa Terbelakang atau Desa Swadaya    Desa  terbelakang  adalah  desa  yang  kekurangan  sumber  daya  manusia  atau  tenaga  kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi yang  ada di desanya.  dan  desa  swasembada  (berkembang).134.

  Jumlah  desa  yang  sedang  berkembang  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini.  Desa  Sedang  Berkembang  Berdasarkan  Kecamatan  di  Kabupaten  Bangka Selatan Tahun 2010  No  Kecamatan  Desa  Jumlah  Desa Jeriji 1  Toboali  Desa Rias 3  Desa Keposang Desa Nangka 2  Air Gegas  2  Desa Ranggas Desa Pangkal Buluh  Desa Nadung 3  Payung  4  Desa Ranggung Desa Malik Desa Permis Desa Simpang Rimba  4  Simpang Rimba  4  Desa Bangka Kota  Desa Jelutung II Desa Tanjung Labu  5  Lepar Pongok  2  Desa Tanjung Sangkar  6  Pulau Besar  Desa Batu Betumpang  1  Total  16    Sumber : BP3MD Kab.  Desa  swakarsa  belum  banyak  memiliki  sarana  dan  prasarana  desa  yang  biasanya terletak di daerah peralihan desa terpencil  dan kota. Bangka Selatan               II-118 . Bangka Selatan    2) Desa Sedang Berkembang atau Desa Swakarsa    Desa  sedang  berkembang  adalah  desa  yang  mulai  menggunakan  dan  memanfaatkan  potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan sumber keuangan  atau  dana.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   No  Kecamatan  Desa  Jumlah  Desa Irat Desa Gudang 4  Simpang Rimba  2  Desa Sebagin Desa Penutuk Desa Pongok 5  Lepar Pongok  4  Desa Celagen Desa Kumbung Desa Sadai Desa Pasir Putih 6  Tukak Sadai  Desa Bukit Terap 5  Desa Tukak Desa Tiram Desa Fajar Indah Desa Sumber Jaya Permai  7  Pulau Besar  4  Desa Panca tunggal Desa Suka Jaya Total 24 Sumber : BP3MD Kab.      Tabel 2.  Masyarakat pedesaan  swa‐karsa  masih  sedikit  yang  berpendidikan  tinggi  dan  tidak  bermata  pencaharian  utama  sebagai  petani  di  pertanian  saja  serta  banyak  mengerjakan  sesuatu  secara  gotong  royong.136.

    Dalam  upaya  peningkatan  daya  saing  daerah  salah  satu  potensi  yang  perlu  dikembangkan adalah melalui peningkatan dan percepatan pertumbuhan status desa  menjadi  desa  swasembada.  dihitung  dengan  menggunakan  rumus  sebagai berikut :        Tabel 2. Kehidupan desa swasembada sudah  mirip  kota  yang  modern  dengan  pekerjaan  mata  pencarian  yang  beraneka  ragam  serta  sarana  dan  prasarana  yang  cukup  lengkap  untuk  menunjang  kehidupan  masyarakat pedesaan maju.138.   Desa Maju Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan   Tahun 2010    No  Kecamatan  Desa  Jumlah  Desa Gadung  1  Toboali  2  Desa Serdang  Desa Air Gegas  Desa Air Bara  2  Air Gegas  Desa Bencah  5  Desa Nyelanding  Desa Delas  Desa Payung  3  Payung  2  Desa Sengir  4  Simpang Rimba  Desa Rajik  1  Total  10                   Sumber : BP3MD Kab.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3) Desa Maju atau Desa Swasembada    Desa maju adalah desa yang berkecukupan dalam hal sumber daya manusia dan juga  dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala  potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal.137. Bangka Selatan    Persentase  desa  berstatus  swasembada  terhadap  total  desa  adalah  proporsi  jum‐lah  desa  berswasembada  terhadap  jumlah  desa. Jumlah Desa Swasembada Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2010  No  Uraian  Jumlah  1  Jumlah Desa Swadaya  24  2  Jumlah Desa Swakarya  16  3  Jumlah Desa Swasembada  10  4  Jumlah Desa (1) + (2) + (3)  50  Persentase Desa berstatus swasembada dibagi jumlah  5  20%  desa (3)/(4)                Sumber : BP3MD Kab. Bangka Selatan        II-119 . Jumlah desa maju di Kabupaten Bangka  Selatan tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini:    Tabel 2.  Indikator  peningkatan  daya  saing  terkait  pertumbuhan  desa  swasembada  dapat  dilihat  dari  persentase  desa/kelurahan  berstatus  swasembada terhadap total desa/kelurahan.

 Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang  ditamatkan  penduduk  suatu  wilayah  maka  semakin  baik  kualitas  tenaga  kerjanya.  Indikator  kualitas  sumberdaya manusia dalam rangka peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari  kualitas  tenaga  kerja  dan  tingkat  ketergantungan  penduduk  untuk  melihat  sejauhmana beban ketergan‐tungan penduduk.087  163.  terampil.  Kualitas  tenaga  kerja  pada  suatu  daerah  dapat  dilihat  dari  tingkat  pendidikan  penduduk yang telah menyelesaiakan S1. Rasio Lulusan S1/S2/S3 Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 ‐ 2009  Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  1  Jumlah lulusan S1  ‐  ‐  280 167  733 2  Jumlah lulusan S2  ‐  ‐  2 1  6 3  Jumlah lulusan S3  ‐  ‐  ‐ ‐  ‐ 4  Jumlah lulusan S1/S2/S3  ‐  ‐  282 168  739 5  Jumlah penduduk  ‐  ‐  158.139.  mengembang‐kan  dan  menguasai  ilmu  dan  teknologi  yang  inovatif  dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional.  Hal  ini  dapat  disadari  oleh  karena  manusia  sebagai  subyek  dan  obyek  dalam  pembangunan.    Dengan  berlakunya  otonomi  daerah  terdapat  pelimpahan  pegawai  dari  instansi  vertikal sehingga sampai dengan tahun 2009 jumlah PNS sebanyak 2245 (tenaga guru  1131.000  penduduk.  Kualitas Tenaga Kerja (Rasio lulusan S1/S2/S3)  Salah satu faktor penting  yang tidak dapat diabaikan dalam kerangka pembangunan  daerah  adalah  menyangkut  kualitas  sumber  daya  manusia  (SDM).  Kualitas  SDM  ini  berkaitan erat dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan  kerja di dalam negeri dan di luar negeri.  tenaga  kesehatan  379  dan  tenaga  teknis  735)  sedangkan  CPNS  sejumlah  447  pegawai (tenaga guru 210.45 (4/5)     II-120 .  Disamping  itu  juga  mampu  memanfaatkan. Sumber Daya Manusia  Peningkatan  kualitas  Sumber  Daya  Manusia  (SDM)  merupakan  kunci  keberhasilan  pembangunan  nasional  dan  daerah.  di‐ hitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:        Tabel 2.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   d.  disiplin  dan  profesional.  Rasio  lulusan  S1/S2/S3  adalah  jumlah  lulusan  S1/S2/S3  per  10.10  0.17 0.931 161. tenaga kesehatan 139 dan tenaga teknis 98 orang)    d.  maka  pembangunan SDM diarahkan agar benar‐benar mampu dan memiliki etos kerja yang  produktif.1.200 Rasio lulusan S1/S2/S3  6  ‐  ‐  0. S2 dan S3.  kreatif.    Kualitas  sumberdaya  manusia  juga  memiliki  peranan  penting  dalam  meningkatkan  daya  saing  daerah  dan  perkembangan  investasi  di  daerah.  Mengingat  hal  tersebut.  Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat  di‐tentukan oleh tingkat pendidikan.

  Selain  itu.797  52. Bangka Selatan    II-121 . Atas dasar konsep  ini  dapat  digambarkan  berapa  besar  jumlah  penduduk  yang  tergantung  pada  penduduk  usia  kerja. Penduduk usia 15‐64  tahun.  Semakin  tingginya  persentase  dependency  ratio  menunjukkan  semakin  tingginya  beban  yang  harus  ditanggung  penduduk  yang  produktif  untuk  membiayai  hidup  penduduk  yang  belum  produktif  dan  tidak  produktif  lagi.292  110.  Tingkat Ketergantungan  Rasio  ketergantungan  digunakan  untuk  mengukur  besarnya  beban  yang  harus  ditanggung  oleh  setiap  penduduk  berusia  produktif  terhadap  penduduk  yang  tidak  produktif.    Rasio  ketergantungan  (dependency  ratio)  dapat  digunakan  sebagai  indikator  yang  secara  kasar  dapat  menunjukkan  keadaan  ekonomi  suatu  negara  apakah  tergolong  negara  maju  atau  negara  yang  sedang  berkembang.  dihitung  dengan  menggunakan rumus sebagai berikut :        Tabel 2.    Rasio ketergantungan adalah perbandingan jumlah penduduk usia < 15 tahun dan >  64  tahun  terhadap  jumlah  penduduk  usia  15‐64  tahun.983 (2)  Jumlah Penduduk Usia  4  N/A  N/A  N/A  105.303  4.2.  Sedangkan  persentase  dependency  ratio  yang  semakin  rendah  menunjukkan  semakin  rendahnya  beban  yang  ditanggung  penduduk  yang  produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.  penduduk  berusia  diatas  65  tahun  juga  dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun.07 (3)/(4)  Sumber :  Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab.  rasio  ketergantungan  semacam  ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi. Rasio Ketergantungan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 – 2009    Tahun  No  Uraian  2005  2006  2007  2008  2009  Jumlah Penduduk Usia  1  N/A  N/A  N/A  47.217 15‐64 tahun  Rasio ketergantungan  5  N/A  N/A  N/A  52.  Meskipun  tidak  terlalu  akurat.140.645 > 64 tahun  Jumlah Penduduk Usia  3  Tidak Produktif (1) &  N/A  N/A  N/A  55.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   d.338 < 15 tahun  Jumlah Penduduk usia  2  N/A  N/A  N/A  8.    Penduduk  muda  berusia  dibawah  15  tahun  umumnya  dianggap  sebagai  penduduk  yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau  orang  lain  yang  menanggungnya. adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif.99  48.494  48.  Dependency  ratio  merupakan  salah  satu  indikator  demografi  yang  penting.

.

    Bab  ini  menyajikan  gambaran  hasil  pengolahan  data  dan  analisis  terhadap  penge‐lolaan  keuangan  daerah  serta  kerangka  pendanaan  Kabupaten  Bangka  Selatan. Dengan melakukan analisis keuangan daerah yang tepat  akan melahirkan kebijakan efektif dalam pengelolaan keuangan daerah.  Kinerja Keuangan Masa Lalu  Adanya  reformasi  setidaknya  telah  mengeluarkan  dua  Undang‐undang  yang  sangat  penting  artinya  dalam  kehidupan  sistem  ketatanegaraan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN   Keuangan  daerah  adalah  semua  hak  dan  kewajiban  daerah  dalam  rangka  penyelenggaraan  pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang.     Selanjutnya  belanja  daerah  sebagai  komponen  keuangan  daerah  dalam  kerangka  ekonomi  makro  diharapkan  dapat  memberikan  dorongan  atau  stimulan  terhadap  perkembangan  ekonomi  daerah  secara  makro  ke  dalam  kerangka  pengembangan  yang  lebih  memberikan  efek multiplier yang lebih besar bagi meningkatnya kesejahteraan rakyat yang lebih merata.     Keuangan  daerah  merupakan  komponen  paling  penting  dalam  perencanaan  pembangunan.  Kedua Undang‐Undang tersebut adalah UU Nomor 22 Tahun 1999  yang  sekarang  telah  diganti  dengan  Undang‐Undang  Nomor  32  tahun  2004  tentang  Pemerintah Daerah dan juga UU Nomor 25 Tahun 1999 yang sekarang diganti dengan  UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat  dan Daerah.  sehingga  analisis  mengenai  kondisi  dan  proyeksi  keuangan  daerah  perlu  dilakukan  untuk  memperoleh  kesadaran  mengenai  kemampuan  daerah  dalam  mendanai  rencana  pembangunan  dan  kesadaran  untuk  secara  efektif  memberikan  perhatian  kepada  isu  dan  permasalahan strategis secara tepat.  III-1  .    Penyelenggaraan  fungsi  pemerintahan  daerah  akan  terlaksana  secara  optimal  apabila  penyelenggaraan  urusan  pemerintahan  diikuti  dengan  pemberian  sumber‐sumber  penerimaan  yang  cukup  kepada  daerah  dengan  mengacu  pada  peraturan  perundang‐ undangan (money follow function). Kebijakan Pengelolaan  Keuangan Masa Lalu dan Kerangka Pendanaan.  Kedua UU tersebut biasa disebut sebagai UU Otonomi Daerah. termasuk segala bentuk kekayaan yang  berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah. serta sistem hubungan keuangan antara pemerintah  pusat dan daerah.  khususnya  sistem  pemerintahan pusat dan daerah.    3.1.  Analisis  tersebut  terbagi dalam 3 (tiga) pembahasan yaitu Kinerja Keuangan Masa Lalu.  Untuk itu maka kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah perlu disusun dalam kerangka  yang sistimatis dan terpola.

  kesejahteraan  rakyat  dan  terjaminnya  kepastian  hukum  serta  rasa  keadilan  bagi  masyarakat.    Pelaksanaan  otonomi  daerah  dan  desentralisasi  fiskal  secara  langsung  juga  akan  berpengaruh terhadap perkembangan akuntansi sektor publik.    Dengan  diterapkannya  otonomi  daerah.  dan  pemberdayaan  masyarakat  yang  bertujuan  pada peningkatan kesejahteraan rakyat.  22/1999  tentang  Pemerintahan  Daerah. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus  sendiri  urusan  pemerintahan  dan  kepentingan  masyarakat  setempat  sesuai  dengan  peraturan perundang‐undangan.    Prinsip  otonomi  daerah  menggunakan  prinsip  otonomi  seluas‐luasnya  dalam  arti  daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan  diluar  yang  menjadi  urusan  Pemerintah  yang  ditetapkan  dalam  Undang‐undang.  dan  UU  No.  Ditetapkannya  UU  Nomor  32  Tahun  2004  dan  UU  Nomor  33  Tahun  2004  telah  melahirkan  paradigma  baru  dalam  sistem  pemerintahan. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.  Salah  satu  tolak  ukur  untuk mengetahui kemampuan otonomi suatu daerah adalah  kemampuan keuangan  daerah  tersebut  untuk  dapat  membiayai  atau  melaksanakan  pengaturan  atau  pengurusan rumah tangga daerah tersebut. Salah satu alat untuk  dapat  menfasilitasi  terciptanya  transparasi  dan  akuntabilitas  publik  adalah  dengan  penyajian  laporan  keuangan  pemerintah  daerah  yang  komprehensif.  diharapkan  dapat  meningkatkan kualitas  pelayanan  kepada  rakyat.    Pada bagian ini akan dijelaskan gambaran kinerja keuangan daerah yang mencakup :  Kinerja Pelaksanaan APBD dan Neraca Daerah.  sehingga  masyarakat  dapat  ikut  mengkontrol  kinerja keuangan daerah tersebut. PP ini merupakan turunan  dari  UU  No.  peningkatan  peran  serta.   otonomi  daerah  adalah hak. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Menurut  UU  Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan  Daerah.  Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan.      III-2   .    Kinerja  Keuangan  Masa  Lalu  Kabupaten  Bangka  Selatan  harus  dijadikan  sebagai  bahan evaluasi dan perbaikan kinerja keuangan dimasa yang akan datang.    Reformasi keuangan daerah salah satunya memunculkan Peraturan Pemerintah (PP)  No.  membantu  menentukan  tingkat  kepatuhan  terhadap  peraturan  perundangan  yang  terkait  dengan  masalah  keuangan dan ketentuan lainnya.  terutama  di  dalam  pengelolaan  keuangan  daerah  dan  anggaran  daerah.25/1999  tentang  Perimbangan  keuangan  antara  Pemerintah  Pusat  dan  Daerah. serta membantu mengevaluasi tingkat efisiensi dan  efektifitas. wewenang.    Adanya  tuntutan  pertanggungjawaban  kinerja  keuangan  oleh  masyarakat  mengharuskan  pemerintah  daerah  otonom  untuk  memberikan  gambaran  yang  jelas  tentang  kinerjanya.  prakarsa.  Laporan  keuangan tersebut digunakan untuk membandingkan kinerja keuangan aktual dengan  anggaran.  menilai  kondisi  keuangan  dan  hasil‐hasil  operasi.  Penilaian  kinerja  tersebut  harus  dapat  memberikan  informasi  yang  transparan  kepada  masyarakat.

 Suatu hal yang mungkin terjadi dimana anggaran  yang  disusun  dengan  baik  tenyata  tidak  dilaksanakan  dengan  tepat.  belanja  daerah  harus  tetap  mengedepankan  efisiensi.  Kinerja Pelaksanaan APBD  Secara  teoritis.  menjamin  bahwa  anggaran  akan  dilaksanakan  sesuai  dengan  wewenang  yang  diberikan  baik  dalam  aspek  keuangan  maupun  kebijakan.  d.  pendapatan  daerah  akan  sangat  dipengaruhi  oleh  kondisi  perekonomian  daerah  yang  akan  terjadi.  menangani  pembelian  dan  penggunaan  sumber  daya  secara  efisien  dan  efektif.  Walaupun demikian proses pelaksanaannya tidak menjadi sederhana karena adanya  mekanisme  yang  menjamin  ketaatan  pada  program  pendahuluan.    Pelaksanaan  anggaran  adalah  tahap  di  mana  sumber  daya  digunakan  untuk  melaksanakan kebijakan anggaran.    Belanja  daerah  diarahkan  pada  peningkatan  proporsi  belanja  untuk  memihak  kepentingan  publik.  bahwa  suatu  pendapatan  daerah  termasuk  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  harus  benar‐benar  mampu merespon perkembangan ekonomi yang diperkirakan akan terjadi.  pelaksanaan  anggaran  harus:    a.  Persiapan anggaran yang baik merupakan awal baik secara logis maupun kronologis.  yang  diharapkan  dapat memberikan dukungan terhadap program‐program strategis daerah.  menyesuaikan  pelaksanaan  anggaran  dengan  perubahan  signifikan  dalam  ekonomi  makro.                    c.1.  akan  ada  perubahan‐perubahan  tidak  terduga  dalam  lingkungan ekonomi makro dalam tahun yang bersangkutan yang perlu diperlihatkan  dalam anggaran.  b.  atau  dengan  kata  lain.  Bahkan  dengan  prakiraan  yang  baik  sekalipun. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     3.1 dibawah  ini:                III-3  .3.1.  memutuskan  adanya  masalah  yang  muncul  dalam  pelaksanaannya.  efektivitas  dan  penghematan  sesuai  dengan  prioritas.  Oleh  karena  itu.  disamping  tetap  menjaga  eksistensi  penyelenggaraan  Pemerintahan.    Realisasi Pendapatan Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada tabel.  tetapi  tidak  mungkin  anggaran  yang  tidak  disusun  dengan  baik  dapat  diterapkan  secara  tepat.     Pelaksanaan  anggaran  yang  tepat  tergantung  pada  banyak  faktor  yang  di  antaranya  adalah  kemampuan  untuk  mengatasi  perubahan  dalam  lingkungan  ekonomi  makro  dan  kemampuan  satker  untuk  melaksanakannya. Tentu saja perubahan‐perubahan tersebut harus disesuaikan dengan  cara  yang  konsisten  dengan  tujuan  kebijakan  yang  mendasar  untuk  menghindari  terganggunya aktivitas satker dan manajemen program/kegiatan.  Sistem  pelaksanaan  anggaran  harus  menjamin  adanya  ketaatan  terhadap  wewenang  anggaran  dan  memiliki  kemampuan  untuk  melakukan  pengawasan  dan  pelaporan  yang  dapat  langsung  mengetahui  adanya  masalah  pelaksanaan  anggaran  serta  memberikan fleksibilitas bagi para manajer.  Dalam  penggunaannya.  Pelaksanaan  anggaran  melibatkan  lebih  banyak  orang  daripada  persiapannya  dan  mempertim‐bangkan  umpan  balik  dari  pengalaman  yang  sesungguhnya.

973.706.000.310.41 1.66 104. .16 39.449.456.000. .00 1.176.88 & Pemda Lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi 1.000.80 Bukan Pajak 1.00 0.27 29.25 .76 (35.323.00 0.921. 2.46 (73. - 1.132.332.028.467.983.436.923.295.409.899.10 1.00 0.000.575.93 .58 1.000.829. . .448.11) 15.030.176.01) 43. 2.853.31 5. .835.73 .000.72) 43.255. .86 219.000.35 60.000.67 yang Dipisahkan 1. . 2005 2006 % 2007 % 2008 % 2009 % Rata-rata Uraian % % Pertumbuhan % Pertumbuhan % Pertumbuhan % Pertumbuhan Pertumbuhan Rek (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (%) 1 PENDAPATAN 110.530.00 100 27.00 18.00 Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi 1. . .72 131.97 7.399.853. 24.59 22.36) 12.27 100 (8.37 18.537.00 0.359.00 1.31) 1.00 61. . .00 3.858.874.35 (50. . .738.792.100.938.17 109.30 .330.02 33.892.00 1.33 16.17 21.899.00 3.521.304.180.372.88 190.757.70 atau Pemda Lainnya Lain-lain Pendapatan Daerah yang 1.250. 5.12 1.168. .08 5.92 .601.02 55.3 Dana Alokasi Khusus 31.2.34 21.34 (10.119.343.78 (45.746.439.917. 0.726.020.13 13.126.00 7.000.015.19 6.00 86.923.66 75.00 87.630.000.00 5.1 32.996. . .457.60 100 241.466. .998.4 .00 Sah     III-4   . .124.110.96 (7.575.943.48) 2.98 61.00 17.95 4.56 Khusus Bantuan Keuangan Dari Provinsi 1.799.77 73. .038.00) -25. .940.330.87 26.52 27. .029.00 0.700.83 18.02 -4.05) 295.00 1.369.503.85 78.37 84.258.34 100.41 1.00 0.63 (16. .43 10.000. 0.36 230.69 2.33 19.00 0.235.049.48 41.486.1.47 21.000.51 165.3 2.00 0.76 (35.1.53 307.477.992.58 1.956.90 4.09 51.639.000.00 0.700.412.00 Lain-lain Pendapatan Daerah 1.844.23 4.83 0.00 62.1 Pendapatan Asli Daerah 10.80 13.2 Dana Perimbangan 97.541.250.636.14 36.734.85 0.3.60 7.250.636. .00 9.381. . .731.2.636.033.903.716.29 346.23 100 30.00 10.807.00 13. 4.664.3 .746.33 23.75 1.124.57 52.955.538.028.84 1.3.70 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah 1.00 1.64 57.000.890.3.65 23. 9.540.220.00 29.875.000.68 267.2 Dana Darurat .14) 2.95 .3 .552.00 0.000.50 (57.577. .140.000.490.43 13.861. .633.92 (4.22 194.52 15.00 5.413.00 1.5 2.83 123.000.50 .94 (12.00 0.998.64 5.299.85 5.1.605.01) 1.00 11.6 .622.1.000. . .48 (25. .00 9.3.770.977.00 2.63 2.62 .10 677.204.00 2.356.00 11.370. .802.10 17.403.840.08 2.621.2 Dana Alokasi Umum 56.066.79) 41.14 150.31 8.000.460. 20.300.41 63.48) 24.00 0.3.48) 20.323.606.641. .000.15 248.181.00 57. 4.000. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 3.31 93. .2.59 366.651.000.3.67 402.844.30 3.000.726.010.833.176.23 3.16 100 117.605.65 34.490.693.417.03 28.639.43 1.858. (100.00 7.778.000. .208. .986.00 59.1 Hibah .34 3.741.00 2.77 Yang Sah 1.599.794.00 4.87 (41.000. 0.00 16.2 Retribusi Daerah 3.604.410. 229.323.938.404.64 13.56) 52.45 .30) -14.77 12.00 51.000.74 1.60 5.691.75 322.00 86.1 Pajak Daerah 4.4 Lain-lain 8.446.00 3. .000.46 0.992.057.1.545.000.60 88.267.692.00 0.00 1.26 20.629. .00 2.4 Lain-lain PAD Yang Sah 2.41 (4.000.18 Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil 1.01 123.726.617.86 8.00 0. .935.001.362.668.00 1. .61) 1.000.791.252. 9.13 1.695.643.2.55 20.00 225. Rata‐rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2005 s/d Tahun 2009 Kabupaten Bangka Selatan  Kode . .

  Dari fakta tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) pendapatan daerah Bangka  Selatan masih sangat tergantung kepada Dana Perimbangan.  22. (2) perlu ditingkatkan  PAD Bangka Selatan agar persentasenya bisa di atas 10% setiap tahunnya. rasio lancar = aktiva lancar dibagi kewajiban jangka pendek  b.  Analisis  data  neraca daerah sekurang‐kurangnya dilakukan untuk hal‐hal sebagai berikut:  1.  Rata‐rata pertumbuhan selama lima tahun  terakhir sebesar 21. sebe‐ sar  sekitar  Rp. namun secara nominal  PAD Bangka Selatan menunjukkan angka pertumbuhan yang cukup signifikan.    Dari  fakta‐fakta  tersebut  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa:  (1)  rata‐rata  pertumbuhan PAD Bangka Selatan sebesar 21. Persentase pertumbuhan pendapatan.  jika  angka  pertumbuhan  Dana  Perimbangan  dari  tahun  2005  ke  2006  dikeluarkan.68%. Sumber dan persentase komposisi pendapatan.  Jenis rasio likuiditas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain :  a. rasio likuiditas degunakan untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam  memenuhi kewajiban jangka pendeknya.  Sedangkan  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  masih  sangat  minim  dengan  persentase  berkisar  antara 5 sampai 10%.41%.5  milyar  pada  tahun  2005  tumbuh  menjadi  sekitar  Rp.  maka  diperoleh  angka  rata‐rata  pertumbuhan sebesar 16.  maka  angka  rata‐rata  pertumbuhan  Dana  Perimbangan  menjadi  sebesar  13.   Neraca Daerah  Analisis neraca daerah bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan  Pemerintah  Derah  melalui  perhitungan  rasio  likuiditas.  Secara  rata‐rata  pertumbuhan  pendapatan  daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  tumbuh sebesar 41.18%.75%.1.  Rata‐rata pertumbuhan Dana Perimbangan sebesar 43.  Rata‐rata pertumbuhan pendapatan ini sedikit bias karena  pada  tahun  2005  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  baru  terbentuk  sehingga  Dana  Perimbangan belum optimal diperoleh oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan.    Namun  demikian  pertumbuhan  Dana  Perimbangan  dari  tahun  2008 ke 2009 mengalami penurunan.  Jika  angka  pertumbuhan  dari  tahun  2005  ke  tahun  2006  dikeluarkan  dalam  perhitungan  angka  rata‐rata  pertumbuhan.  10. (2) peluang untuk meningkatkan pertumbuhan PAD Bangka Selatan masih  besar.41% dan Dana Perimbangan sebesar  13. angka pertumbuhan ini  sedikit  bias.    3. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Dari  tabel  3. hal ini sudah sudah terbukti dimana selama lima tahun terakhir PAD Bangka  Selatan selalu menunjukkan pertumbuhan. rasio quick  =  (aktiva lancar – persediaan) dibagi kewajiban jangka pendek.  solvabilitas  dan  rasio  aktivas  serta  kemampuan  aset  daerah  untuk  penyediaan  dana  pembangunan  daerah.  Dari  tahun  2005  sampai  2009  terlihat  bahwa  sumber  utama  pendapatan  daerah  Kabupaten  Bangka  Selatan  masih  sangat  tergantung  kepada  Dana  Perimbangan.  III-5  .  Walaupun persentasenya masih kecil.68%.     b.   Persentase Dana Perimbangan ini lebih dari 85% untuk setiap tahunnya.2.49%.6  miliyar pada tahun 2009.    Rata‐rata  pertumbuhan  PAD  lebih  mencerminkan  angka  pertumbuhan  yang  lebih  realistik dari tahun 2005 sampai  2009.1  tentang  pertumbuhan  realisasi  Pendapatan  Daerah  dari  tahun  2005  sampai 2009 dapat dianalisa dan disimpulkan tentang:  a.

1  Kas  ‐1  1.6  Konstruksi dalam pengerjaan  ‐0.07  1. Rasio hutang terhadap modal = total hutang : total ekuitas    3.2.  dihitung  dengan  formula  sebagai berikut. rasio  solvabilitas  adalah  rasio  untuk  mengukur  kemampuan  Pemerintah  Daerah  dalam memenuhi kewjiban‐kewajiban jangka panjangnya  Jenis rasio solvabilitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain :  a.2.3  Gedung dan bangunan  0. rata‐rata  umur  persediaan. irigasi dan jaringan  0.  Uraian  Rata‐rata Pertumbuhan (%)  1  ASET  8.2.1  ASET LANCAR  1  1.  Rata‐rata umur persediaan = 365 dibagi perputaran persediaan  Dimana :  Perputaran  persediaan  =  nilai  persediaan  yang  digunakan  dalam  satu  tahun  :  rata‐ rata nilai persediaan  Sedangkan.2.87  III-6   .1. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   2.3  Persediaan  0.45  1. rata‐rata piutang pendapatan daerah = (saldo awal piutang + saldo akhir  piutang) / 2  b. yaitu rasio untuk melihat berapa lama. rasio  aktivas  adalah  rasio  untuk  melihat  tingkat  aktivitas  tertentu  pada  kegiatan  Pemerintah Daerah    Jenis rasio aktvitas yang digunakan untuk Pemerintah Daerah antara lain  :  a.1.13  1. hari yang diperlukan  untuk  melunasi  piutang  (merubah  piutang  menjadi  kas).2  Piutang  ‐0.2.  Rata‐rata umur piutang = 365 dibagi perputaran piutang  Dimana :  Perputaran piutang = pendapatan daerah/rata‐rata piutang pendapatan daerah  Sedangkan.2.02  1.2  1.1.  rata‐rata  nilai  persediaan  =  (saldo  awal  persediaan  +  saldo  akhir  persediaan) / 2    Rata‐rata pertumbuhan neraca Kabupaten Bangka Selatan dapat dlihat pada tabel 3.2  di bawah ini :      Tabel 3.28  1.03  1.2  ASET TETAP  1.2  1.2  Peralatan dan Mesin  0.1  Tanah  0.4  Jalan.5  Aset tetap lainnya  0. rata‐rata umur piutang. Rasio total hutang terhadap total aset = total hutang : total aset  b. dihitung dengan formula sebagai berikut.2   Rata‐rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2009‐2010    No.  yaitu  rasio  untuk  melihat  berapa  lama  dana  tertanam  dalam  bentuk  persediaan  (menggunakan  persediaan  untuk  memberi  pelayanan  publik).1  1.

1.2  2  KEWAJIBAN  35.318.1.    Table 3.1  Diinvestasikan dalam aset tetap  0.18  170.2.5  1.1  Utang perhitungan pihak ketiga  35.5  1.1  EKUITAS DANA LANCAR  1.308.5  3. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   1.5  3.0012  0.3 di bawah  ini.1.5  1.80  0.54  2  Rasio quick  2.   Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu  Dalam  pengelolaan  anggaran  pendapatan  daerah  harus  diperhatikan  upaya  untuk  peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah tanpa harus menambah beban bagi  masyarakat.11  3.3.0110  4  Rasio hutang terhadap modal   ‐  ‐   ‐   5  Rata‐rata umur piutang   ‐  ‐   ‐   6  Rata‐rata umur persediaan   ‐  ‐   ‐       3.2  Utang muka dari kas daerah  ‐  2.1  KEWAJIBAN JANGKA PENDEK     2.93  2.5     JUMLAH ASET DAERAH  8.3  Pendapatan diterima dimuka  0.1  SILPA  ‐1  3.3  Analisis Rasio Keuangan Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2008 s/d                         2010    2008  2009  2010  No.52  0.3.1.1.3  Cadangan Persediaan  0.2  EKUITAS DANA INVESTASI  1  3.3.13  3.  maka  pendapatan  daerah  merupakan  pilihan  utama  pendukung  program  dan  kegiatan  penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di Kabupaten Bangka Selatan.16  181.2  Tagihan tuntutan ganti kerugian daerah  0.87  2.2  Cadangan Piutang  0.21  3  Rasio total hutang terhadap total aset  0.1  Tagihan penjualan angsuran  1.1.3.3  ASET LAINNYA  6  1.05     JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA  39    Analisis rasio Keuangan Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada tabel 3.1.  Uraian  (%)  (%)  (%)  1  Rasio lancar  2.   III-7  .1.  Pendapatan  daerah  dalam  struktur  APBD  masih  merupakan  elemen  yang  berperan  penting  baik  untuk  mendukung  penyelenggaraan  pemerintahan  maupun  pemberian  pelayanan  kepada  publik.3  Kemitraan dengan pihak kedua  1.45  3.4  Aset tak berwujud  2.0003  0.    Apabila  dikaitkan  dengan  pembiayaan.2  Diinvestasikan dalam aset lainnya  0.05  3  EKUITAS DANA  2.

  Porsi  terbesar  anggaran  Belanja  Tidak  Langsung  terletak  pada  mata  anggaran  Belanja Pegawai dengan rata‐rata sebesar 19.  Persentase kenaikan anggaran belanja ini tidak  III-8   .25%.  Untuk mengefektifkan dan mengefesiensikan alokasi dana. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan daerah  diwujudkan  dalam  suatu  APBD  maka  analisis  pengelolaan  keuangan  daerah  dilakukan  terhadap APBD dan laporan daerah pada umumnya.    Dari  data  tersebut  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  komposisi  penggunaan  anggaran belanja Kabupaten Bangka Selatan sudah pas dimana komposisi terbesar  digunakan untuk Belanja Modal. belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi. efektivitas  dan  penghematan  sesuai  dengan  prioritas. disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan Pemerintahan.  Kenaikan  rata‐rata  anggaran  belanja  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  dalam  tiga tahun terakhir sebesar 31.      3.    disusul  kemudian  oleh  Belanja  Barang  dan  Jasa  dengan  rata‐rata  sebesar 16.4  tentang  realisasi  belanja  terhadap  Anggaran  Belanja  Kabupaten  Bangka  Selatan dapat dianalisa dan disimpulkan tentang:    • Komposisi anggaran belanja  Porsi  terbesar  anggaran  belanja  terletak  pada  Belanja  Langsung  dengan  rata‐rata  sebesar  72.    Menganalisis pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan Kabupaten Bangka  Selatan  terlebih  dahulu  harus  memahami  jenis  objek  pendapatan.   Proporsi Penggunaan Anggaran  Belanja  daerah  diarahkan  pada  peningkatan  proporsi  belanja  untuk  memihak  kepentingan publik.56%.  Proporsi  Penggunaan  Anggaran  dan  Analisis  Pembiayaan.  yang  diharapkan  dapat  memberikan  dukungan terhadap program‐program strategis daerah.1.    Sedangkan  porsi  terbesar  anggaran  Belanja  Langsung  terletak  pada  mata  anggaran  Belanja  Modal  dengan  rata‐rata  sebesar  51.   Pada  bagian  ini  akan  dibahas  mengenai.  Dalam penggunaannya.  Analisis  ini  sekurang‐kurangnya  dilakukan  melalui :    Dari  tabel  3.79%  pada  tiga  tahun  terakhir. Dibutuhkan pemahaman yang baik  tentang  realisasi  kinerja  keuangan  daerah  sekurang‐kurangnya  5  (lima)  tahun  sebelumnya. kemudian disusul oleh Belanja Barang dan Jasa.  dan  pembiayaan sesuai dengan kewenangan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan  gambaran  tentang  kapasitas  atau  kemampuan  keuangan  daerah  dalam  mendanai  penyelenggaraan pembangunan daerah. dilakukan:    1) Analisis belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah  Analisis ini bertujuan memperoleh gambaran realisasi dari kebijakan pembelanjaan  dan  pengeluaran  pembiayaan  daerah  pada  periode  tahun  anggaran  sebelumnya  yang  digunakan  sebagai  bahan  untuk  menentukan  kebijakan  pembelanjaan  dan  pengeluaran  pembiayaan  dimasa  datang  dalam  rangka  peningkatan  kapasitas  pendanaan  pembangunan  daerah.    • Kenaikan anggaran belanja.99%.  belanja.04%.2. susunan/struktur masing‐masing APBD.

680.00 16. .888.000.48 3.87 24.93 64.00 25.00 74.509.19 2.39) 11.00 100 21.26 4.701.00 0.000.41%  dalam  lima  tahun  terakhir  dan  Dana  Perimbangan yang tumbuh sebesar 13.032.1.47 30.00 1.79 142.000.765.20 61.33 31./Kota dan Desa Belanja Bantuan Keuangan 2..194./Kota dan 8.908.035.63 18. .74 97.00 6.985.436.854.769.17 459.16 . .797.45 33.48 2.1.757.055.97 32.53 .24 Desa 2.991.04 Belanja Bagi Hasil Kepada 2.1.733.2.502.000.716.130.00 5.93 46.981.550.043.06 129.. .821.31 82.778. - Prov.00 4.363.816.00 31.1.995.24 50. - 2.042.   Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kabupaten Bangka   Selatan    Rata-rata KODE % % Uraian 2007 % 2008 % 2009 % Kenaikan REK Kenaikan Kenaikan (%) 2 BELANJA 268.24 872.458. .15 46.171..1.47 25.330.593.133.2 Belanja Bunga .000.1.028.00 4..69 24.485.840. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   seimbang  dengan  pertumbuhan  rata‐rata  pertumbuhan  pendapatan  yang  hanya  berkisar  16.90 109.05 2.86 2.041.500. .80 18.87 20.86 33.651.55 198.3 Belanja Subsidi .750.000..04 226.00 0.437.68 5.1 Belanja Tidak Langsung 66.00 0.500.587. .83 76.9 Lain-lain . . ..368.00 1.31       a) Analisis  proporsi  belanja  untuk  pemenuhan  kebutuhan  aparatur  yang  dilakukan  dengan cara mengisi Tabel 3.  Oleh karena itu perlu  dilakukan penghematan di semua pos anggaran dalam lima tahun yang akan datang. .85 12.538.2 Belanja Barang dan Jasa 40.00 16..320.19.650.65 29.57 123.000.255./Kab.489.75 2.89 2.514.011.800. - 2.00 20. .62 1.00 0.00 0.000.25 406.1.2.00 4.1.48 268.00 68.30 18.51 21.050.00 3.697.524.      Tabel 3.7 Kepda Prov.55 22. .67 37.83 (20.940. .72 46.2. - 2.00 100 41. .000.91 2.000. .282.1 Belanja Pegawai 9.026.677.510.462.5 Belanja Bantuan Sosial 3./Kab.00 3.925.3 Belanja Modal 151.87 100 378.27 42. .93 95..00 52.00 56.047.299.620.49%.25 2.418.91 872.99 209.793.303.3 minimal 3 (tiga) tahun terakhir sebagai berikut  :    III-9  .26 281.268.    Dari  data  tersebut  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  kenaikan  belanja  Bangka  Selatan tidak seimbang dengan pertumbuhan pendapatannya.046.094.1. - .147.525.331.00 45.970.393. .4 Belanja Hibah .68.687.2.15 71.1 Belanja Pegawai 53.003.2 Belanja Langsung 201.713.00 15.32 316.670.4.193.00 75.48 41.8 Belanja Tidak Terduga 98.28 39.063.    Demikian  pula  tidak  seimbang  dengan  pertumbuhan  PAD  yang  hanya  tumbuh  sebesar  rata‐rata  21.00 18.6 ..00 0.068.839.474.

00 2 Belanja Tambahan Penghasilan 28.992.670. pelatihan.184.00 8.050.700.700.87 - 2 Tahun Anggaran 2008 393.428.171.221.474.524.700.00 1 Belanja Honorarium PNS 5.   Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Bangka  Selatan  Total belanja untuk Total pengeluaran (Belanja + pemenuhan kebutuhan Pembiayaan Pengeluaran) Prosentase No Uraian aparatur (Rp) (Rp) (a) (b) (a) / (b) x 100% 1 Tahun Anggaran 2007 270.677.677.000.056.254.000.00 7 Belanja pakaian dinas dan atributnya 589.457.    3. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 3.043.331.00 8 Belanja pakaian khusus dan hari-hari tertentu 1.535.00 B Belanja Langsung 37.00 bimbingan teknis PNS 5 Belanja premi asuransi kesehatan 3.2.00 1 Belanja gaji dan tunjangan 65.    Tabel diatas menjadi dasar untuk menetukan kebijakan efisiensi anggaran aparatur sela‐ ma periode yang direncanakan.130.697. mobil dinas.155.07   Keterangan    :    Sumber  data  pada  kolom  (a)  berasal  dari  Tabel  3.147.6.128.600.729.200.00 - 3 Tahun Anggaran 2009 37.645.00 serta Operasional KDH/WKDH 4 Belanja Pemungutan Pajak Daerah 82.00 9 Belanja perjalanan dinas 19.00 6 Belanja makanan dan minuman pegawai 1. 4.236.00 464.00 10 Belanja perjalanan pindah tugas - 11 Belanja pemulangan pegawai - 12 Belanja Modal (kantor.436.800.5.605.00 4 Belanja kursus.314. sosialisasi dan 2.343.113.484.398.778. meubelair.000.00     Selanjutnya dilakukan analisis proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur untuk 3  (tiga) tahun terakhir dengan tabel sebagai berikut:        Tabel 3.970.226.500.00 3 Belanja Penerimaan anggota & Pimpinan DPRD 1.00 2 Belanja Uang Lembur - 3 Belanja Bea Siswa Pendidikan PNS 491. perlengkapan dll TOTAL 133.988.  Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Bangka Selatan      No Uraian 2007 2008 2009 A Belanja Tidak Langsung 95.000.144.782.909.3  dan  kolom  (b)  berasal  dari  data realisasi APBD.925.   Analisis Pembiayaan  Analisis  ini  bertujuan  untuk  memperoleh  gambaran  dari  pengaruh  kebijakan  pembiayaan  daerah  pada  tahun‐tahun  anggaran  sebelumnya  terhadap  surplus/defisit  belanja daerah sebagai bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan dimasa datang  III-10   .808.482.221.2.457.00 peralatan.210.560.

817.173.763.000.00 12 Pembentukan Dana Cadangan .670.043.524.984.101.706.580.87 378.000.000.547.00 149.430.531.446.00 5.00 - Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah 105.000.528.926.327.970. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   dalam  rangka  penghitungan  kapasitas  pendanaan  pembangunan  daerah. Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bangka Selatan  Proporsi dari total defisit riil  No  Uraian  2008  2009  2010  (%)  (%)  (%)  Sisa Lebih Perhitungan  149.998.595.000.000.7 berikut:    Tabel 3.38 139.201.000.00 15.000.383.692.947.829.716.817.528.125.    Tabel 3.370.007.000.764  23  50  Anggaran sebelumnya  2  Pencairan Dana Cadangan  ‐  ‐  ‐  Hasil Penjualan Kekayaan  3  Daerah Yang di Pisahkan  ‐  ‐  ‐  4  Penerimaan Pinjaman Daerah ‐  ‐  ‐  Penerimaan Kembali  5  Pemberian Pinjaman Daerah  ‐  ‐  ‐  6  Penerimaan Piutang Daerah  1. - Total Realisasi Pengeluaran Pembiayaan Daerah 2.711.446.07 1. 1  Anggaran (SiLPA) Tahun  139.45 140.00 459.201.224.00 B Pembiayaan Netto 102.475.817.000. .680.272.225.340.101.771.984.45 125.817.272.531.602.437.430.242.00 402. . .202.984.709. - 7 Penerimaan Pinjaman daerah . 51.541.51 149.007.23 366.238.23 A-B Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan 139.042.052.984.00 149.000.411.276. - 6 hasil Penjualan Kekayaan daerah Yang dipisahkan 17.50 Saldo Kas Neraca Daerah 134.038.23 9 Pemberian Pinjaman Daerah .828.781.8.  Analisis  pembiayaan daerah dilakukan melalui:    a.000.00 3.764.341.454.23 (92. Analisis sumber penutup defisit riil  Analisis  ini  dilakukan  untuk  memberin  gambaran  masa  lalu  tentang  kebijakan  anggaran  untuk  menutup  defisit  riil  anggaran  Pemerintah  Daerah  yang  dilakukan  dengan mengisi Tabel.51 147.454.331. 51.23 49.042.000.00 15.349.741.201.238.644.23 51.437  ‐  ‐  Sisa lebih pembiayaan  149.122.50     Berdasarkan  tabel  analisis  di  atas.109.73) Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan 4 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran 85.00 143.051.17  anggaran tahun berkenaan  23  0  III-11  .800.800.861.929.410.  kemudian  disusun  tabel  analisis  untuk  mengetahui  gambaran komposisi penutup defisit riil sebagai berikut. - 8 Penerimaan Piutang Daerah 2.000.27 Dikurangi realisasi: 2 Belanja daerah 268.052.06 23.007.000.201.414.000.580.000.000.000.474.5 7  201.467.171.781.225. 2.7.00 A Defisit Riil 36.000.853.23 5 Pencairan dana cadangan .934.007.00 . - 10 Pembayaran Utang PFK . .644. .201. Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Bangka Selatan  No Uraian 2007 2008 2009 1 Realisasi Pendapatan Daerah 307.3.00 11 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah 2.000.

2 51.10 berikut:          III-12   .3.3. 1  Jumlah SiLPA          764  3  50  Pelampauan  2  penerimaan  ‐    ‐    ‐      dana  Pelampauan  penerimaan  3  ‐    ‐    ‐      dana  perimbangan  Pelampauan  penerimaan  lain‐lain  4  ‐    ‐    ‐      pendapatan  daerah yang  sah  Sisa  Penghematan  5  belanja atau  ‐    ‐    ‐      akibat  lainnya  Kewajiban  kepada pihak  ketiga sampai  6  ‐    ‐    ‐      dengan akhir  tahun belum  terselesaikan   Kegiatan  7  ‐    ‐    ‐      lanjutan    c.109.  Dengan  mengetahui  SiLPA  realisasi  anggaran  periode  sebelumnya.430.201.680.817.    Tabel 3. Analisis Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran  Analisis  ini  dilakukan  untuk  memberi  gambaran  tentang  komposisi  sisa  lebih  perhitungan  anggaran. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   b.    Gambaran  masa  lalu  terkait  komposisi  realisasi  anggaran  SiLPA  Pemerintah  Daerah  dilakukan dengan mengisi data realisasi anggaran pada Tabel.984.   Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Bangka Selatan    2008  2009  2010  Rata­ rata  N %  Uraian  %  %  Pert o  dari  Rp  Rp  dari  Rp  dari  umb SiL uhan  SiLPA  SiLPA  PA  139.9. 149. Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahunan  Analisis  ini  bertujuan  untuk  memperoleh  gambaran  secara  riil  sisa  lebih  pembiaya‐an  anggaran yang dapat digunakan dalam perhitungan kapasitas pendanaan pemba‐ngunan  daerah.    Analisis dilakukan dengan mengisi Tabel.853.  dapat  diketahui  kinerja  APBD  tahun  sebelumnya  yang  lebih  rasional  dan  terukur.7 berikut.446.

angka  rata‐rata  pertumbuhan  saldo  kas  neraca  daerah  dan  rata‐rata  pertumbuhan  kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan serta  kegiatan lanjutan. Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah  Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran sisa lebih riil perhitungan ang‐garan.1. kebijakan penyelesaian kewajiban daerah.911.995.602. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Tabel 3. asumsi  indikator  makro  ekonomi  (PDRB/laju  pertumbuhan  ekonomi.3.  inflasi  dan  lain‐lain).50   194.17 Dikurangi:     Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan  2  ‐  ‐  ‐  akhir tahun belum terselesaikan  3  Kegiatan Lanjutan  ‐ ‐ ‐  4  Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran 149.10.528.781.  Analisis dilakukan berdasarkan data dan informasi yang dapat mempengaruhi besarnya  sisa lebih riil perhitungan anggaran dimasa yang akan datang.242.947.225.664.17     d.   Sisa Lebih (riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Kabupaten   Bangka Selatan  No  Uraian  2008  2009  2010  1  Saldo kas neraca daerah  147. kebijakan efisiensi belanja dserah dan peningkatan pendapatan      Gambar.  2.276.051.042.  3. Analisis Proyeksi Pembiayaan Daerah        Asumsi indikator makro ekonomi           Angka rata-rata Tingkat Pertumbuhan   Kebijakan pertumbuhan saldo kas neraca Saldo kas neraca daerah dan daerah dan rata-rata kewajiban kepada pihak   penyelesaian pertumbuhan Kewajiban ketiga sampai dengan akhir kewajiban  daerah kepada pihak ketiga sampai tahun belum terselesaikan   dengan akhir tahun belum serta kegiatan lanjutan   terselesaikan serta kegiatan lanjutan             Kebijakan Efisiensi belana   daerah dan peningkatan pendapatan daerah   III-13  .  4.122. antara lain:    1.  Hasil  analisis  dapat  digunakan  untuk  menghitung  kapasitas  penerimaan  pembiaya‐an  daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun ke depan.23 49.580.238.547.50   201.28 51.

  bunga.    a) Analisis  belanja  periodik  dan  pengeluaran  pembiayaan  yang  wajib  dan  mengikat  serta  prioritas utama.                III-14   .000 20.000 17. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Tabel 3.11.000  tahun belum  3  Kegiatan lanjutan ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐    Sisa lebih (Riil) pembiayaan  12.000  20.000  30.000  5%  10. dan  proyeksi data masa lalu.000 5% 15. seperti honorarium guru  dan tenaga medis serta belanja jenis lainnya.000   dikurangi  ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐  ‐ 2  Kewajiban kepada pihak  ketiga sampai dengan akhir  14. Proyeksi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Kabupaten Bangka Selatan  Data  Tingk Proyeksi (Rupiah x juta)  tahun  at  No  Uraian  dasar  Pertu Tahun  Tahun  Tahun  Tahun  Tahun  (Rp x  mbuh 2011  2012  2013  2014  2015  juta)  an  1  Saldo kas neraca daerah  5.000  2.1.  Oleh  karena  itu.   Kerangka Pendanaan  Penghitungan  kerangka  pendanaan  dengan  tujuan  untuk  mengetahui  kapasitas  riil  kemampuan keuangan daerah dan rencana penggunaannya.000  4.  Analisis terhadap realisasi pengeluaran wajib dan mengikat dilakukan untuk menghitung  kebutuhan pendanaan belanja dan pengeluaran pembiayaan yang tidak dapat dihindari  atau harus dibayar dalam suatu tahun anggaran.  belanja  jasa  kantor.000  anggaran                3.  sewa kantor yang telah ada kontrak jangka panjang atau belanja sejenis lainnya.000  15.    Belanja periodik yang wajib dan mengikat adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta  tidak  dapat  ditunda  pembayarannya  dan  dibayar  setiap  tahun  oleh  pemerintah  daerah  seperti  gaji  dan  tunjangan  pegawai  serta  anggota  dewan.  Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama  Dalam bagian ini diuraikan sekurang‐kurangnya mengenai analisis belanja periodik yang  wajib  dan  mengikat.3.000  25.000  2%  10.    Belanja periodik prioritas utama adalah pengeluaran yang harus dibayar setiap periodik  oleh  Pemerintah  daerah  dalam  rangka  keberlangsungan  pelayanan  dasar  prioritas  pemerintah daerah yaitu pelayanan pendidikan dan kesehatan.    3.000  4.000  25.000 23.  pada  bagian  ini  dapat  diuraikan  dengan  tabel/grafik  atau  gambar  pendukung  analisis  sesuai  dengan kebutuhan.000  8.  serta  pengeluaran  periodik  prioritas  utama.   Pada bagian  ini akan dijelaskan gambaran kerangka  pendanaan dari hasil analisis yang  mencakup: Analisi pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama.3.

 air.465.    3.  Analisis  ini  dilakukan  untuk  memperoleh  gambaran  kapasitas  pendapatan  daerah  dengan  proyeksi  5  tahun  kedepan.839. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Tabel 3.   Proyeksi Data Masa Lalu  Proyeksi data masa lalu digunakan untuk mengidentifikasi proyeksi pendapatan daerah.064.  Pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama Kabupaten Bangka Selatan  Rata‐ rata  2008  2009  2010  No  uraian  Pertum (Rp)  (Rp)  (Rp)  buhan  (%)  A  Belanja Tidak Langsung  97.    Total  pengeluaran  wajib  dan  mengikat  serta  prioritas  utama  pada  tabel  diatas  menjadi  dasar  untuk  menetukan  kebutuhan  anggaran  belanja  yang  tidak  dapat  dihindari  dan  tidak  dapat  ditunda  dalam  rangka  penghitungan  kapasitas  riil  keuangan  daerah  dan  analisis kerangka pendanaan.648.457.000. asumsi  indikator  makro  ekonomi  (PDRB/laju  pertumbuhan  ekonomi.186.531     1  Belanja Gaji dan Tunjangan  131. angka rata‐rata pertumbuhan pendapatan daerah masa lalu.925. telepon dan  sejenisnya )     Belanja sewa gedung kantor(  4  yang telah ada kontrak jangka  ‐  ‐  ‐  panjangnya)     Belanja sewa perlengkapan  dan peralatan kantor (yang  5  telah  ‐  ‐  ‐  ada kontrak jangka  panjangnya)     C  Pembiayaan Pengeluaran  15.767.  2.713 37.      Belanja Beasiswa Pendidikan  2  ‐  ‐  ‐  PNS     Belanja Jasa Kantor ( khusus  tagihan bulanan kantor seperti  3  ‐  ‐  ‐  listrik.  inflasi  dan  lain‐lain).436 205.219.677 196.320.813     Belanja honorarium PNS  1  khusus untuk guru dan tenaga  ‐  ‐  ‐  medis.778.12.2.  III-15  .011.000 ‐ ‐     1  Pembentukan Dana Cadangan  ‐ ‐ ‐     2   Pembayaran pokok utang  ‐ ‐ ‐     TOTAL (A+B+C)     Keterangan:   Menghitung  rata‐rata  pertumbuhan  pengeluaran  wajib  dan  mengikat  serta  prioritas  utama  dapat  mempergunakan  rumus  pada  analisis  pengelolaan  ke‐ uangan daerah serta kerangka pendanaan.  Analisis  dilakukan  berdasarkan  pada  data  dan  informasi  yang  dapat  mempengaruhi  pertumbuhan pendapatan daerah. antara lain:  1.3.330 95.000.130.  untuk  penghitungan  kerangka  pendanaan  pembangunan daerah.221.612     Belanja Penerimaan Anggota  2  dan Pimpinan DPRD serta  ‐  ‐  ‐  Operasional KDH/WKDH     3  Belanja Bunga ‐ ‐ ‐     4  Belanja bagi hasil  ‐ ‐ ‐     B  Belanja Langsung  281.

  4.    Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam gambar di  bawah ini.3.    Analisis  dilakukan  dengan  kerangka  pemikiran  sebagaimana  disajikan  dalam  gambar  dibawah ini:     Gambar. Analisis Proyeksi Belanja Daerah    Asumsi Indikator    makro ekonomi         Angka rata‐rata Tingkat Pertumbuhan  Kebijakan    Pertumbuhan pengeluaran  Pengeluaran wajib dan  pembiayaan    wajib dan mengikat serta  mengikutsertakan prioritas  daerah    prioritas utama  utama    pendapatan daerah          Kebijakan pemerintah yang    mempengaruhi belanja tidak    langsung & belanja pendidikan  III-16   . exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3.2.  dilakukan  analisis  proyeksi  belanja  daerah  untuk  memperoleh  kebutuhan  anggaran  belanja  tidak  langsung  daerah  dan  pengeluaran  pembiayaan  yang  bersifat  wajib  dan  mengikat  serta  prioritas  utama. kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah. kebijakan dibidang keuangan negara.    Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah      Kebijakan di bidang    Keuangan Negara        Angka rata‐rata Tingkat Pertumbuhan    Asumsi Indikator  Pertumbuhan setiap  Pendapatan daerah    Makro ekonomi  objek pendapatan daerah        Kebijakan Intensifikasi    dan ekstensifikasi        Dengan  kerangka  di  atas.    Gambar.  Analisis  dilakukan  dengan  proyeksi  5  (lima)  tahun kedepan untuk penghitungan kerangka pendanaan pembangunan daerah.  analisis  difokuskan  pada  objek  dan  rincian  objek  sumber‐ sumber  pendapatan  daerah.  maka  masing‐masing  daerah  dapat  mengembangkan  teknik dan perhitungan sendiri yang dianggap paling akurat.  Mengingat  masing‐masing  rincian  objek  memiliki  perilaku  atau  karakteristik  yang  berbeda.  Selain  itu.3.3.

970  28.05  Belanja Gaji  133.000 C  ­­  ­­  Pembiayaan  000  .000  .000.186.501.  dan sejenisnya  Belanja sewa  gedung kantor  4  (yang telah ada  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  kontrak jangka  panjangnya)  Belanja sewa  perlengkapan  dan peralatan  5  kantor (yang  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  telah ada  kontrak jangka  panjangnya)  Pengeluaran  12.531  2%  Langsung  1.541.  Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta  Prioritas Utama Kabupaten Bangka Selatan    Tingk Proyeksi (Rp)  at  Data tahun  Pertu No.6 A  205.153  65.260.418  Belanja  Penenerimaan  anggota dan  2  Pimpinan  ­  ­  ­  ­  ­  ­  ­  DPRD serta  Operasional  KDH/WKDH  3  Belanja Bunga ­  ­  ­  ­  ­  ­  ­  Belanja Bagi  4  ­  ­  ­  ­  ­  ­  ­  Hasil  Belanja  153.465.036.000.960  54.064.23  25.16 136.258  31.219.844.2 1  131.402.7 222. 8.521.000.7 169.251.731.9 186.767.419.4 144. telepon.000.946.367.766.62  60.574.65  89.612  2%  dan Tunjangan  2. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Tabel 3.4 142.568  Belanja  honorarium  1  PNS Khusus  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  untuk guru dan  medis  Belanja  Beasiswa  2  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  Pendidikan  PNS  Belanja Jasa  Kantor  (Khusus  tagihan  3  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  bulanan kantor  seperti listrik.  Uraian  Tahun  Tahun  Tahun  Tahun  Tahun  dasar (Rp)  mbuh 2011  2012  2013  2014  2015  an  (%)  Belanja Tidak  209.5 177.96 213.745.15  78.648.13.489  26.223  67.  146.041.813  5%  Langsung  6.000 2.526.850.4 218.000 4.522.6 226.39 161.087.000  .000  .  air.147  96.0 B.000  Pembentukan  1  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  dana cadangan  2  Pembayaran  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  III-17  .0 139.964  46.035.877.000 6.

153. Langkah awal yang harus dilakukam adalah  mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah sebagaimana telah dihitung pada bagian di  atas  dan  ke  pos‐pos  mana  sumber  penerimaan  tersebut  akan  dialokasikan.291 Dikurangi:  III-18   .3.291 476.  b.626.    Selanjutnya.286.291 481.291   526.000  25.000.291 501. besaran masing‐masing  sumber penerimaan memiliki  kebijakan pengalokasian yang harus diperhatikan.  e.000.  Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan daerah  Kabupaten Bangka Selatan  Proyeksi  Tahun  Tahun  Tahun  Tahun  Tahun  No  Uraian  2011  2012  2013  2014  2015  (Rp)  (Rp)  (Rp)  (Rp)  (Rp)  1  Pendapatan   403.626. dihitung dengan mengisi  tabel sebagai berikut :    Tabel 3.000.153.000  25.153.153.   Penghitungan Kerangka Pendanaan  Analisis  kerangka  pendanaan  bertujuan  untuk  menghitung  kapasitas  riil  keuangan  daerah  yang akan  dialokasikan  untuk  pendanaan  program  pembangunan  jangka  mene‐ ngah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan.167.3.153.    Sebelum dialokasikan ke berbagai pos belanja dan pengeluaran.291 501.14. antara  lain:  a.000.626.629.626.629.626. penerimaan  dana  alokasi  umum  diprioritaskan  bagi  belanja  umum  pegawai  dan  operasional rutin pemerintahan daerah.000.153. penerimaan  dana  bagi  hasil  agar  dialokasikan  secara  memadai  untuk  perbaikan  pelayanan atau perbaikan lingkungan sesuai jenis dana bagi hasil didapat. penerimaan  retribusi  pajak  diupayakan  alokasi  belanjanya  pada  program  atau  kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan layanan dimana retribusi  pejak tersebut dipungut.653.000.000  25.626. penerimaan  dari  pendapatan  hasil  pengelolaan  aset  daerah  yang  dipisahkan  dialokasikan  kembali  untuk  upaya‐upaya  peningkatan  kapasitas  dimana  dana  penyertaan  dialokasikan  sehingga  menghasilkan  tingkat  pengembalian  investasi  terbaik bagi kas daerah.  d.000.291 Pencairan dana cadangan  2  ­  ­  ­  ­  ­  (sesuai Perda)  Sisa Lebih Riil Perhitungan  3  26.000. penerimaan  dari  dana  alokasi  khusus  dialokasikan  sesuai  dengan  tujuan  dimana  dana tersebut dialokasikan.291  551.162 451.  c.626.  Suatu  kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangi dengan  berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta  prioritas utama.367.153.459.000  Anggaran  Total penerimaan  429. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Pokok utang  TOTAL  BELANJA  WAJIB DAN  PENGELUARA   N YANG WAJIB  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  ­­  MENGIKAT  SERTA  PRIORITAS  UTAMA    3. untuk menentukan kapasitas riil keuangan daerah.291 526.153.129  30.

000   131.000.000.000   Pembentukan  II.000   Dikurangi:        Belanja tidak  III.000   131.000.b  dana cadangan                 Dikurangi:        Belanja  Langsung yang  wajib dan  II.691.000.000.000   125.000.000  551.000.500.000.15.000.  dengan  menggunakan tabel berikut:    Tabel 3.000  501.000   137.500.000.291  442.375.375.13  dapat  dihitung  rencana  penggunaan  kapasitas  riil  kemampuan  keuangan  daerah  untuk  memenuhi  kebutuhan  anggaran  belanja  langsung  dan  belanja  tidak  langsung  dalam  rangka  pendanaan  program  pembangunan  jangka  menengah  daerah  selama  5  (lima)  tahun  ke  depan.500.000   120.000.351   202.000   120.500.000.000  120.000.000.000.000   125.000.a+II.c‐ II.000   212.891.000   III-19  .12  disusun  Tabel  3.b‐II.d)  107.a  Langsung  202.351   202.c  mengikat serta  prioritas  utama  107.875.000.000.500.291  451.000.c‐ II.000.500.000.d  mengikat serta  prioritas  utama  Total Rencana  Pengeluaran  II  Prioritas I  (II.000.000.375.435.104.875.000  526.000.000.000   225.625.291  dan Mengikat serta  Prioritas Utama  Kapasitas riil kemampuan  430.000   215.  Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah  Kabupaten Bangka Selatan    Proyeksi  No  Uraian  Tahun  Tahun Tahun Tahun  Tahun  2011  2012  2013  2014  2015  (Rp)  (Rp)  (Rp)  (Rp)  (Rp)  Kapasitas riil  I  kemampuan  430.625.000  481.000   137.b  langsung yang  wajib dan  202.127.a+II.000.940   216.127.000   230.000    keuangan    Berdasarkan  Tabel  3.000   137.000.a  Langsung  214.625.000.500.875.000  keuangan  Rencana  alokasi    pengeluaran  prioritas I   107.000.000   Belanja  II.000.000   220.000   Pengeluaran  pembiayaan  yang wajib  II.104.104.375.000  551.000.127.000.000.000.b‐II.000.000.000   212.500.000   125.000  526.000   215.627.000.000   210.000.000  501.000.000.375.291  425.500.627.435.212.000.000.d)                 Rencana  alokasi    pengeluaran  prioritas II                 Belanja Tidak  III.000   131.000.104.000   Total Rencana  Pengeluaran  Prioritas I    (II.000.000.000.212.375.104.500.500.000.500.000.291  434. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Belanja dan Pengeluaran  Pembiayaan yang Wajib  4  417.500.000  481.000.000   210.

  dan  memiliki  kepentingan  dan  nilai  manfaat  yang  tinggi.  memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinngi pada capaian  visi/misi daerah.  prioritas  II  dan  prioritas  III.000   196.a‐III.625.  belanja  hibah.  Pengalokasian  dana  pada  prioritas  III  harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih  dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar.649   155.  III-20   .  Prioritas  program/kegiatan  dipisahkan  menjadi  prioritas  I.    Prioritas III  Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja‐belanja tidak  langsung  seperti  :  tambahan  penghasilan  PNS.000.000.875. termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% (dua puluh persen).b)                 Surplus  anggaran riil  atau    Berimbang   (I‐II‐III)  120.787.  bersifat  monumental.125.  dimana  prioritas  I  mendapatkan  prioritas  pertama  sebelum  prioritas  II.  Suatu  prioritas  II  berhubungan  dengan  program/kegiatan  unggulan  SKPD  yang  paling  berdampak  luas  pada  masing‐masing  segmentasi  masyarakat  yang  dilayani  sesuai  dengan  prioritas  dan  permasalahan  yang  dihadapi  berhubungan  dengan  layanan  dasar  serta  tugas  dan  fungsi  SKPD  termasuk  peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.000   182.064.  belanja  bantuan  keuangan  kepada  provinsi/kabupaten  dan  pemerintahan  desa  serta  belanja  tidak  terduga.    Prioritas II  Program  Prioritas  II  merupakan  program  prioritas  ditingkat  SKPD  yang  merupakan  penjabaran  dari  analisis  per  urusan.    Prioritas I  Prioritas  I  merupakan  program  pembangunan  daerah  dengan  tema  atau  program  unggulan  (dedicated)  Kepala  Daerah  sebagaimana  diamanatkan  dalam  RPJMN  dan  amanat/  kebijakan  nasional  yang  definitif  harus  dilaksanakan  oleh  daerah  pada  tahun  rencana. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Proyeksi  No  Uraian  Tahun  Tahun Tahun Tahun  Tahun  2011  2012  2013  2014  2015  (Rp)  (Rp)  (Rp)  (Rp)  (Rp)  mengikat serta  prioritas  utama  Total rencana  pengeluaran  III  prioritas II  (III.625.000     Surplus  anggaran  diperbolehkan  apabila  nilainya  tidak  material  dan  tidak  dapat  di‐ gunakan untuk membiayai suatu program    Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia.000. prioritas I juga diperuntukan bagi prioritas belanja yang  wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang‐undangan.  berskala  besar. kemudian  dialokasikan ke berbagai  program/kegiatan  sesuai  urutan  prioritas.  belanja  bantuan  sosial  organisasi  kemasyarakatan.000.000   166.  Prioritas  III  mendapatkan  alokasi  anggaran  setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya. Di samping itu.    Program  prioritas  I  harus  berhubungan  langsung  dengan  kepantingan  publik.

    III-21  .500.820.  dialokasikan  untuk  persentase final prioritas III.000.500.000.375.000   25   131.000   100   501.375.000.000.420.000   28   140.  Adapun.000    Penetapan  Persentase  tiap  tahun  sesuai  urutan  prioritas  (I.  Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah    Jenis  Alokasi  No.500.  Secara  simultan persentase tersebut diper‐tajam ketika program prioritas untuk masing‐masing  jenis  prioritas  (prioritas  I  dan  II)  telah  dirumuskan.000   28   147.000   25   137.  Evaluasi  atau  analisis  dari  penyelenggaraan  pembangunan  daerah  dimasa  lalu  cukup  baik  untuk  mendapatkan  gambaran  yang  diinginkan.212.400.000.500.351   47   205.420.000.000.420.  Penetapan  persentase  masing‐masing  prioritas  bersifat  indikatif  sebagai  panduan  awal  tim  perumus  dalam  menetapkan  pagu  program  atau  pagu  SKPD.000   25   120.000.  Sisanya.000  Prioritas  3  II   47   202.875.000   47   215.000.  Besar  persentase  ditentukan  sesuai  analisis  umum  tentang  kapasitas  pendanaan  dari  program  dari  program  prioritas  yang  dibayangkan  akan  menunjang  prioritas  yang  dimaksud.625.16.000   28   154. kapasitas riil keuangan daerah dapat dialokasikan sebagaimana Tabel  berikut:    Tabel 3.500.000.000.000.435.  dan  III)  bukan  menunjukkan  urutan  besarnya  persentase  tetapi  lebih  untuk  keperluan  pengurutan  pemenuhan  kebutuhan  pendanaannya.000.000.000     Total   100   430.  II.000.500.000.000   100   526.000   28   134.000.  Baris  total  untuk  kolom  rupiah  dapat  menunjukkan  total  kapasitas  riil  keuangan  daerah  yang  telah  dihitung  pada  bagian  sebelumnya.000.000.000.000.000   25   125.000   100   481.000   47   210.000   47   212.000   100   551. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Dengan demikian.  2011  2012  2013  2014  2015  Dana  %  Rp  %  Rp  %  Rp  %  Rp  %  Rp  Prioritas  1  I   25   107.000.000  Prioritas  2  II   28   120.000.  baris  total  pada  tabel  untuk  masing‐masing  kolom  persentase  harus  selalu  berjumlah  100%.

.

  Kondisi  ini  berdampak  dengan  masih  rendahnya  tingkat  pendapatan  per  kapita  masyarakat  Kab.  Dalam merumuskan  program  kebijakan  yang  akan  diimplementasi  perlu  tahapan/sistematika  yang  benar  guna  mendapatkan rumusan kebijakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan sumberdaya yang  ada.  3.  Hal  ini  perlu  dilakukan  mengingat  terdapat  banyak  permasalahan  wilayah  sehingga  perlu  menetapkan  program  kebijakan  prioritas  yang  memberikan  multiplier  effect  dan  manfaat optimal bagi kesejahteraan masyarakat. kondisi  perekonomian  regional  dengan  tingkat  perdagangan  antar  daerah  yang  rendah  dan  minat  investor  yang  masih  rendah  dalam  mendukung  laju  pertumbuhan  ekonomi  Bangka  Selatan. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN  Berdasarkan  analisis  kualitatif  lingkungan  internal  dan  eksternal  serta  memperhati‐ kan  potensi  yang  ada  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.  dapat  diidentifikasi  beberapa  masalah yang dihadapi Kabupaten Bangka Selatan sebagai berikut :  1.90%  pada  tahun  2009. masih  rendahnya  tingkat  pertumbuhan  ekonomi  Kabupaten  Bangka  Selatan.543.1.    4.‐  pada  tahun  2009.  Re‐orientasi  mendorong  dikembangkannya  paradigma  perencanaan  pembangunan  yang  mengurangi  ketergantungan  pada  trickle  down  effect  pusat  pertumbuhan  berbasis  sektor  industri  dan  sektor  tersier  di  kawasan  perkotaan  serta  pilihan  basis  perekonomian  pada  sektor  pertanian  dengan  penajaman  komoditi  yang tangguh terhadap perubahan pasar global.    Selain  itu. kualitas  sumber  daya  manusia  yang  ada  masih  rendah.  yaitu  3.394.      Kondisi  ini  disebabkan  oleh  belum  memadainya  infrastruktur  dan  ketersediaan  sumber  energi  (Listrik  dan  BBM)  bagi  pembangunan  berbagai  sektor  perekonomian Bangka Selatan.    Program  kebijakan  yang  akan  diluncurkan  juga  harus  mempertimbangkan  aspek  ke‐ berlanjutan.10.  Kondisi  perekonomian  nasional  yang  mendorong  orientasi  pembangunan  daerah  menuju  sektor  pertanian  dan  kawasan  perdesaan  dengan  pende‐katan  ekonomi  kerakyatan.  Permasalahan  pokok  yang  dihadapi  dalam  pengelolaan  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  hidup  adalah  tidak  menyatunya  kegiatan  perlindungan  fungsi      IV-1  .  2. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   BAB IV ISU-ISU STRATEGIS     Kabupaten  Bangka  Selatan  sebagai  salah  satu  kabupaten  baru  di  Indonesia  bukanlah  langsung menjadi suatu kabupaten yang dapat secara mandiri dan mempunyai pertumbuhan  ekonomi yang memadai untuk segera mencapai visi yang dicita‐citakan.  Bangka  Selatan  yaitu  Rp.    Kualitas  SDM  ini  juga  akan  mempengaruhi  kemampuan  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  dalam  mengelola  dan  memanfaatkan  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  hidup.  Hal  ini  penting  dilakukan  mengingat  banyak  program  yang  seringkali  tidak  berlanjut  dan  hanya  berhenti  di  tengah  jalan  sehingga  tujuan  dari  program  kebijakan  yang  diluncurkan  menjadi  tidak  optimal  dan  bahkan  menjadi  permasalahan  baru  bagi  pemba‐ ngunan wilayah.  belum  tergalinya  potensi  sumber daya alam Bangka Selatan secara optimal.

  terutama  menyangkut  pengamanan  kawasan  lindung (hutan lindung di Simpang Rimba.  Ketidak‐seimbangan  pertumbuhan  ini  akan  mempertajam kesenjangan sosial dan ekonomi yang pada akhirnya akan berdam‐ pak  negatif  terhadap  proses  pembangunan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan. hutan mangrove dan terumbu karang  di  Kecamatan  Lepar  Pongok)  dan  masalah  kerusakan  lingkungan  serta  pencemaran akibat pertambangan timah.  terutama  dalam  ketidaksesuaian  pengembangan  ka‐ wasan  berdasarkan  potensi  dan  permasalahan  lokal  wilayah.    serta  kenyamanan  investasi  sehingga  menghambat  pertumbuhan ekonomi lokal berbasis pertanian.  proses  perizinan usaha dan mendirikan bangunan (SIUP dan IMB) yang tidak diimbangi  dengan  aspek  regulasi.    Sebagai  sebuah  Kabupaten  baru.      IV-2   .  4.  Kondisi  ini  akan  mele‐mahkan  pengelolaan  dan  pemanfaatan  potensi sumber daya alam di Kabupaten Bangka Selatan. pos.  maka  Kabupaten  Bangka  Selatan  mengalami  kesulitan  untuk  segera  berintegrasi  dalam  pembangunan  nasional  secara  memadai.  6.  dan  penyediaan  tenaga  kesehatan  masyarakat  (dokter  umum.  Asas  pemerataan  pembangunan  dan  sinergi  antar  wilayah  perlu  ditingkatkan  dalam  mengatasi kesenjangan antar wilayah tersebut.  7.  dokter  gigi. sarana irigasi. pelestarian  lingkungan  hidup.  8. transportasi.  sehingga  menyebabkan  permasalahan‐permasalahan  ketidakteraturan  spasial  yang  akan  menghambat  kemajuan  perekonomian  wilayah.  status  gizi  masyarakat.  kehutanan)  dengan  lingkungan.  9.  Kebijakan  ekonomi  selama  ini  cenderung  lebih  berpihak  terhadap  kegiatan  eksploitasi  sumber  daya  alam  sehingga  mengakibatkan  lemahnya  kelembagaan  pe‐ngelolaan  dan  penegakan  hukum. ketidakseimbangan pertumbuhan (imbalance growth) antar wilayah (kecamatan. kondisi  derajat  kesehatan. kebijaksanaan  menuju  perluasan  otonomi  daerah  yang  membawa  implikasi  terhadap  partisipasi  aktif  masyarakat  Kabupaten  Bangka  Selatan  dalam  mengatur  dan  mengembangkan  potensi  daerah  yang  berdayaguna  melalui  pemberdayaan  masyarakat  dan  pengoptimalisasian  potensi  sumberdaya  alam  maupun sumberdaya manusia. inefisiensi  penataan  ruang.  dokter  spesialis  dan  tenaga  media) yang belum memadai. jalan.    Hal  ini  terutama  disebabkan  oleh  masih  rendahnya  sumber‐sumber  pembiayaan  infrastruktur (kelistrikan. inefisiensi  aspek  pelayanan  publik. telekomunikasi.  khususnya  hal‐hal  yang  berhubungan  langsung  dengan  masyarakat  seperti  administrasi  kependudukan  (KTP).  dan  lain‐lain).  termasuk  keberlanjutan/keles‐ tarian sumberdaya alam.  5. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   lingkungan  hidup  dengan  kegiatan  pemanfaatan  sumber  daya  alam  sehingga  sering  melahirkan  konflik  kepen‐tingan  antara  ekonomi  sumber  daya  alam  (pertambangan.  desa)  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.  10. adanya  kesenjangan  antara  kondisi  Kabupaten  Bangka  Selatan  dengan  Kabupaten  lain  di  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung.

  Kabupaten  Bangka  Selatan  merencanakan  pengembangan  peternakan  sapi  rakyat.    Peningkatan  kualitas  sumber  daya  manusia  (pendidikan.  5.  Kondisi  ini  disebabkan  antara  lain  oleh  belum  memasyarakatnya  jiwa  kewirausahaan  di  kalangan  penduduk  Kabupaten  Bangka  Selatan.  4. penambangan  timah  rakyat  seringkali  mengabaikan  kelestarian  lingkungan. fasilitas  infrastruktur  (sarana  dan  prasarana)  kurang  memadai  untuk  menunjang  pembangunan  perekonomian.  dan  sosial‐ekonomi)  perlu  menjadi  perhatian  dalam  perencanaan  pembangunan. kemampuan  suatu  daerah  mewujudkan  swasembada  pangan  dapat  menciptakan   kestabilan perekonomian daerah tersebut.  7.  3. eksplorasi  penambangan  lepas  pantai  mengakibatkan  pencemaran  air  laut  dan  penurunan  produksi  dan  kualitas  hasil  rumput  laut  serta  keramba  jaring  apung  (KJA).  8.  kesehatan.  serta  kajian  komprehensif  terhadap  permasalahan  pembangunan  di  daerah.  kebijakan  nasional  maupun  regional.  terprogram dan berkelanjutan.  Dalam  penyajian  isu  strategis  hal  terpenting  yang  diperhatikan  adalah isu tersebut dapat memberikan manfaat atau pengaruh di masa datang terhadap  daerah tersebut. ISU­ISU STRATEGIS  Penyusunan isu‐isu strategis suatu daerah diperlukan untuk merumuskan visi dan misi  pembangunan  daerah  tersebut. kualitas sumber daya manusia (SDM) di suatu daerah akan sangat mempengaruhi  keberhasilan  pembangunan  daerah  tersebut.      IV-3  . yang  memerlukan  perhatian  lebih  terhadap  keseimbangan  lingkungan  secara  keseluruhan.  Oleh  karena  itu  diperlukan  penataan  dan  pelestarian  lingkungan  yang  terarah.  Sedangkan  penambangan  timah  di  darat  meninggalkan  bekas  galian  (kolong) yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya perikanan air tawar. untuk  pemenuhan  kebutuhan  protein  hewani.  6.  2. Pe‐ merintah Kabupaten Bangka Selatan merencanakan pencetakan sawah baru.  Infrastruktur  yang  baik  dapat  menjadi  faktor  penarik  minat  investor  untuk  berinvestasi  ke  suatu  daerah  sehingga dapat lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi. tingkat  pertumbuhan  ekonomi  Kabupaten  Bangka  Selatan  relatif  rendah  serta  potensi  pertanian  yang  belum  termanfaatkan  secara  optimal.    Isu  strategis  dapat  berasal  dari  permasalahan  pembangunan  maupun  yang  berasal  dari  dunia  international.  pertimbangan  analisis  potensi. Terkait dengan swasembada beras.  Target  upaya  ini  adalah  tercapainya swasembada daging pada Tahun 2015. kemampuan masyarakat Bangka Selatan dalam proses pengolahan hasil pertanian  dan  perikanan  masih  rendah.2.  Pertumbuhan  perekonomian  sangat  tergantung  pada  dukungan  infrastruktur  yang  memadai.  Isu‐isu  strategis  disusun  berdasarkan  kajian  politik.  Produksi  pertanian  dan  perikanan  masih  dijual  berupa  produk  segar  dan  kalaupun  ada  proses  pengolahan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   4.  itupun  masih  dalam  skala  kecil  (home  industry).  Oleh  karena  itu  pembangunan  perekonomian  perlu  difokuskan  pada  sektor  pertanian  dengan  penajaman  pada  komoditi  unggulan  Bangka  Selatan  yang  bersifat  tangguh  terhadap perubahan pasar global. sehingga perlu ditingkatkan dari sisi kualitas pendidikan melalui  pendirian sekolah tinggi ilmu pertanian di Bangka Selatan.    Di  Kabupa‐ten Bangka Selatan beberapa isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian  adalah :    1.  minimnya  penguasaan  teknologi  pengolahan  dan  kurangnya  mesin/peralatan pengolahan hasil pertanian dan perikanan.    Kualitas  SDM  di  bidang  pertanian  masih  kurang memadai.

    IV-4   . etos  kerja  aparatur  pemerintah  daerah  dan  koordinasi  antar  satuan  kerja  perangkat  daerah  relatif  rendah.  11.  Diperlukan  pengaturan. sosial. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   9. adanya  ketidaksesuaian  antara  harapan  masyarakat  mengenai  pembangunan  dengan realisasi pembangunan fisik yang dilaksanakan pemerintah. baik perekonomian. antara lain  Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). keterbatasan  sumber  energi  (Listrik  dan  BBM)  mempengaruhi  aktivitas  masyarakat.  Diperlukan  upaya  penyediaan  dan  pengolahan  air  yang  memenuhi  kualitas  baku  mutu air bersih.  12. pelayanan kesehatan. pendidikan dan lain  sebagainya. kualitas air belum memenuhi baku mutu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Diperlukan upaya pengembangan sumber energi alternatif.  10.  pembinaan  dan  pengawasan yang terprogram dan berkesinambungan.

.

MISI.  Kondisi makmur yang dimaksud  adalah  masyarakat  Bangka  Selatan  sehat. Misi tersebut adalah :  1.  misi.2. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   BAB V VISI.  Melalui  analisis  potensi  dan  kajian  kondisi  aktual  masyarakat  Kabupaten  Bangka  Selatan.  pandai.  ditetapkan  visi  pembangunan  Kabupaten  Bangka  Selatan  sebagai  berikut:  “Bangka Selatan Makmur ”    Visi tersebut  menggambarkan dalam jangka waktu lima tahun mendatang. Kabupaten  Bangka Selatan akan berada dalam kondisi makmur.    Misi  tersebut  mencakup  ruang  lingkup  kegiatan  yang  sedang  dan  hendak  dilakukan  pada  lima  tahun  mendatang  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.    5.    5.  Pada  Kabupaten  Bangka  Selatan  visi  tersebut  terlahir  dengan  memperhatikan  komoditas  unggulan  dan  potensi  yang  dimiliki  Kabupaten  Bangka  Selatan. maka  perlu  dirumuskan  misi  pembangunan  Kabupaten  Bangka  Selatan. MISI  Guna mencapai visi yang ditetapkan dalam jangka waktu lima tahun mendatang. menciptakan Aparatur yang Bersih dan Berwibawa  5. meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia  2.  tujuan  dan  sasaran  pembangunan di Kabupaten Bangka Selatan. pemberdayaan Ekonomi Rakyat  3. menciptakan Iklim Usaha yang Kondusif  4.  swasembada  beras  pada  tahun  2015  (tersedianya  beras  untuk  mencukupi  kebutuhan  pangan  masyarakat  Bangka  Selatan).1.  Misi  tersebut  akan  dijadikan  pedoman  dan  arah  pengelolaan  pembangunan  ekonom  kerakyatan  Kabupaten  Bangka  Selatan.  dan  berpendapatan  tinggi.  Kondisi  tersebut  diwujudkan  dalam  bentuk  tersedianya  fasilitas  pelayanan  kesehatan  yang  memadai  (masyarakat  Bangka  Selatan  sehat  jasmani  dan  rohani).  dan  meningkatnya  pendapatan  per  kapita  (masyarakat  Bangka  Selatan  memiliki  banyak uang).  aparatur  yang  bersih  dan  berwibawa  serta  infrastruktur yang handal.    Pendekatan  yang  digunakan  untuk  mewujudkan  hal  tersebut  di  atas  adalah  dengan   menciptakan  iklim  usaha  yang  kondusif.  tingkat  pendidikan  masyarakat  Bangka  Selatan  yang  tinggi. VISI  Visi  merupakan  suatu  pernyataan  kehendak  atas  langkah  pembangunan  yang  akan  dilakukan. meningkatkan Infrastruktur yang Handal        V-1  . TUJUAN DAN SASARAN      Dalam  rangka  perencanaan  strategis  dan  perumusan  kebijakan  pembangunan  ekonomi  kerakyatan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  perlu  dirumuskan  visi.

3. dan Sasaran Pembangunan Kabupaten Bangka Selatan Periode  2010‐2015  No  MISI  TUJUAN  SASARAN  Meningkatnya kualitas layanan  Meningkatkan etos kerja dan  pendidikan  kualitas pelayanan pendidikan  Meningkatnya akses data dan  informasi oleh masyarakat  Meningkatnya derajat kesehatan  Meningkatkan derajat  kesehatan  masyarakat  jasmani dan rohani  Meningkatnya kegiatan pembinaan  moral dan akhlak masyarakat  Meningkatnya  pembinaan serta  pemberdayaan terhadap  penyandang masalah kesejahteraan  sosial (PMKS) dan potensi sumber  kesejahteraan sosial (PSKS)  Meningkatkan kesejahteraan sosial  Meningkatnya kesejahteraan  Meningkatkan  masyarakat  keluarga  1  Kualitas Sumber  Meningkatnya pengarus utamaan  Daya Manusia   gender dan upaya perlindungan  terhadap perempuan dan anak  Meningkatnya pemberdayaan  masyarakat dan desa  Meningkatnya pengendalian  Meningkatkan pengendalian  kerusakan lingkungan hidup  kerusakan dan pelestarian  Meningkatnya upaya konservasi  lingkungan hidup  sumber daya alam  Meningkatnya peran kepemu‐daan  Meningkatkan peran kepemudaan  dalam pemberdayaan dan  dan keolahragaan dalam menunjang  pengembangan kepemimpinan serta  dan meraih prestasi di tingkat  pengembangan kewirausahaan  regional.1 berikut ini.  Sedangkan  sasaran  pembangunan  merupakan  bentuk  pencapaian  yang  diharapkan  dari  suatu  tujuan  pembangunan. Untuk mengukur keberhasilan suatu program kegiatan.    Tujuan dan sasaran pembangunan selanjutnya dapat dijabarkan dalam bentuk program  kegiatan. Setiap indikator yang digunakan hendaknya dapat dengan tepat  menggambarkan  pencapaian  setiap  tujuan  dan  sasaran.  Pada  suatu  tujuan  pembangunan dapat memiliki satu atau lebih sasaran pembangunan.  tujuan  dan  sasaran  pembangunan  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  periode  2010 – 2015.  Suatu  tujuan  pembangunan  menetapkan  target  pencapaian  yang  diinginkan  dalam  pelaksanaan  pembangunan. diperlukan penetapan  indikator keberhasilan.1.   Misi. sehingga akan memudahkan  melakukan pengamatan keberhasilan pembangunan dari waktu ke waktu. TUJUAN DAN SASARAN  Setiap misi pembangunan dapat dijabarkan dalam satu atau lebih tujuan pembangunan.    Tabel 5.     Misi.   pemuda  nasional dan internasional  Meningkatnya peran keolahragaan   dalam menunjang dan meraih  V-2   . exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   5. Tujuan. dapat dirumuskan dalam table.5.  Indikator  yang  dipilih  harus  memiliki sifat terukur dan mudah dalam pengukurannya.

  dan perikanan  Pemberdayaan  Meningkatnya pengelolaan energi  2  Ekonomi Rakyat  dan sumber daya mineral dengan  tetap memandang azas  berkelanjutan. akuntabel dan transparan  melalui peningkatan penerimaan dan  dengan dukungan optimalisasi  pengelolaan keuangan daerah serta  penerimaan daerah  meningkatkan perekonomian daerah  Meningkatnya pendapatan ekonomi  daerah  Peningkatan nilai investasi para  Meningkatnya jumlah dan nilai  investor dalam menumbuhkan iklim  investasi  usaha dan mendorong ekonomi  Meningkatnya kualitas tenaga kerja  kerakyatan  yang sesuai dengan kebutuhan pasar  Mengembangkan aspek  Meningkatnya industri pariwisata  kepariwisataan yang berlandaskan  dengan memanfaatkan potensi  akar budaya lokal dan menciptakan  budaya daerah  iklim yang kondusif bagi  pengembangan dan inovasi  kebudayaan  Menciptakan Iklim  Berkembangnya perdagangan  3  Meningkatkan kemitraan antara  Usaha yang Kondusif  daerah. lembaga legislatif yang  dalam masyarakat  efektif dan partai politik. nasional  dan internasional  Meningkatnya produksi dan  produktivitas komoditi unggulan  pertanian daerah  Meningkatnya produksi dan  produktivitas hasil kehutanan dan  Mengoptimalkan pengelolaan dan  perkebunan  pemanfaatan potensi sumber daya  Meningkatnya produksi dan  alam untuk peningkatan  produktivitas sumber daya kelautan  kesejahteraan masyarakat.  Meningkatnya ketertiban dan  pemerintahan yang bertanggung  keamanan daerah yang ditandai  jawab. koperasi dan UMKM  UMKM dengan pengusaha besar  Mewujudkan sistem politik dan  keamanan  yang dinamis. lembaga penegakan hukum  suasana kehidupan yang kondusif  yang adil.  kemampuan keuangan daerah  efektif. ormas serta  media massa sebagai lembaga  Meningkatnya mutu pembinaan  kontrol sosial atas pelaksanaan  terhadap  masyarakat. organisasi  pemerintahan  dan politik daerah  Meningkatnya kualitas  Meningkatkan kualitas pelayanan  pelayanan/data dan informasi  Menciptakan  publik dan kemampuan masyarakat  kepada masyarakat secara bersih  4  Aparatur yang Bersih  dengan penguasaan hak‐hak dasar  dan baik (Good Governance)  dan Berwibawa  masyarakat melalui pengembangan  Meningkatnya pelayanan  sistem informasi dan teknologi  kependudukan dan catatan sipil      V-3  .  Terselenggaranya pengelolaan  Mendorong pemberdayaan  keuangan daerah yang efisien. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   No  MISI  TUJUAN  SASARAN  prestasi di tingkat regional.

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   No  MISI  TUJUAN  SASARAN  Meningkatkan sistem pengawasan  Terlaksananya pengawasan aparatur  internal melalui pembinaan  daerah yang efektif  kepegawaian yang profesional  Terciptanya sistem kelembagaan dan  Meningkatkan pemberdayaan  ketatalaksanaan pemerintahan yang  aparatur dengan tingkat  bersih. efektif. dan udara sesuai kebutuhan  daerah          V-4   . penyeberangan  dapat terjaga  laut. transparan.  produktivitas yang tinggi  profesional dan akuntabel  Meningkatnya kualitas dan kuantitas  Meningkatkan kualitas dan kuantitas  sarana dan prasarana umum serta  infrastruktur sesuai dengan  transportasi ke sentra‐sentra  pengembangan pembangunan  ekonomi rakyat sesuai kebutuhan  daerah  daerah  Meningkatkan  Terwujudnya perencanaan  5  Infrastruktur yang  pembangunan yang efektif dan  Melaksanakan perencanaan  Handal  infrastruktur yang sesuai dengan  pembangunan infrastruktur sesuai  tata ruang  dengan rencana tata ruang sehingga  Meningkatnya pelayanan  daya dukung dan kelestarian alam  transportasi darat.

.

meningkatnya Derajat Kesehatan Masyarakat.  maka  ditetapkannya arah kebijakan umum dalam kerangka pencapaian sasaran se‐bagai berikut:    6. meningkatnya upaya konservasi sumber daya alam. meningkatnya  Penyandang  Masalah  Kesejahteraan  Sosial  (PMKS)  dan  Potensi  Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang mendapat pembinaan pemerintah.  5. nasional dan internasional. yaitu:  1.  untuk  mencapai  sasaran  Pembangunan  Jangka  Menengah  Daerah  (PJMD).1. memberikan  kesempatan  yang  seluas‐luasnya  kepada  penduduk  Bangka  Selatan  untuk mengembangkan bakatnya dan pembinaan mental. meningkatnya pemberdayaan masyarakat dan desa.  Perwujudan  Visi  “Bangka  Selatan  Makmur”  dijabarkan  melalui  misi  pertama.  dirumuskan  arah  kebijakan  dari  masing­masing  sasaran  tersebut. meningkatnya Kesejahteraan Keluarga. maka perlu ditetapkan sasaran dari  masing­masing  tujuan  tersebut  yang  merupakan  penjabaran  dari  masing‐masing  tujuan tersebut.  3.  2.  antara lain:  1.  Misi  pertama  ini  ditetapkan  dengan  maksud untuk mencapai tujuan. meningkatkan kesejahteraan sosial  4.  Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut di atas. meningkatnya Kegiatan Pembinaan Moral dan Akhlak masyarakat. meningkatnya Kualitas Layanan Pendidikan.  9.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN     Visi sekaligus tujuan Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bangka Selatan tahun 2010‐ 2015  adalah  “BANGKA  SELATAN  MAKMUR”  sebagai  landasan  tahap  pembangunan  berikutnya.  8. yaitu :  1. meningkatkan  peran  kepemudaan  dan  olah  raga  dalam  menunjang  prestasi  dan  meraih prestasi di tingkat regional. meningkatkan derajat kesehatan jasmani dan rohani. meningkatnya  peran  kepemudaan  dan  olah  raga  dalam  menunjang  prestasi  dan  meraih prestasi di tingkat regional. memberikan  hak  dasar  pelayanan  pendidikan  yang  bermutu  melalui  melalui  pendidikan  wajar  sembilan  tahun.  7.   VI-1 .  2. nasional dan internasional. meningkatnya akses data dan informasi oleh masyarakat.  6.  peningkatan  kualitas  pendidikan.    Sehubungan  dengan  itu.  4.  dan  pening‐ katan penyelenggaraan pendidikan melalui manajemen pendidikan terpadu.  yaitu  “Peningkatan  Kualitas  Sumber  Daya  Manusia”. meningkatkan pengendalian kerusakan dan pelestarian lingkungan hidup  5.  2. meningkatnya pengendalian kerusakan lingkungan hidup.  3.    Sebagai  ukuran  tercapainya  pembangunan  lima  tahun  mendatang.  10. meningkatkan etos kerja dan kualitas pelayanan pendidikan.  STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  PERTAMA  “PENINGKATAN  KUALITAS  SUMBER  DAYA MANUSIA”.

  menciptakan  tenaga  fungsional  perpustakaan.  guna  meningkatnya  akses  data  dan  informasi  oleh  masyarakat.  peningkatan  gizi  masyarakat.  meningkatkan  peranan  dan  fungsi  perpustakaan  dan  meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  Sumber  Daya  Manusia  (SDM)  dibidang  perpustakaan  dan  arsip.  16.  5. mendorong peran aktif masyarakat dan pengusaha.  4. peningkatan  dan  pengembangan  sarana  pendidikan  dasar. terciptanya budaya berolahraga dan iklim yang sehat serta mendorong peran aktif  masyarakat.  serta  meningkatnya  prestasi  yang  dapat  meningkatkan  kebanggaan  daerah  mau‐pun  nasional.  perawat  dan  tenaga  laboratorium  kesehatan)  serta  terbinanya  sarana  pengobatan  tradisional  sebagai  warisan  budaya yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan.  13.  8.  11. pembinaan terhadap terhadap kelompok‐kelompok PKK dan Posyandu yang aktif  untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.  penambahan/penerimaan  guru  baru  serta  beasiswa  bagi guru untuk melanjutkan sekolah (Sarjana S1 atau S2). pembangunan kesehatan dan peningkatan perbaikan kesehatan masyarakat. terbentuknya  watak  dan  kepribadian.  dirumuskan  kebijakan  terhadap  masing‐masing  sasaran  tersebut. fasilitasi  kegiatan  keagamaan  dalam  rangka  membentuk  masyarakat  yang  ber‐ moral dan berakhlak mulia sesuai tuntunan agamanya masing‐masing. menambah  tenaga  kesehatan  (dokter.  12.  serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi re‐maja  dan pendewasaan usia perkawinan.  10.  Puskesmas.  Pustu). perpustakaan. terjalinnya  kerjasama  dengan  berbagai  instansi  dalam  penyelenggaraan  pendidikan.   9. program  pembangunan  yang  berwawasan  lingkungan  dan  tertata  secara  baik  sesuai dengan RTRW  17.  pelayanan  dan  rehabilitasi  sosial.  bidan.   20.  pembinaan  partisipasi sosial masyarakat. peningkatan kualitas dan kuantitas guru dan tenaga  kependidikan. memiliki etos kerja yang tinggi  dan mampu bersaing dalam era globalisasi.  kejuruan  dan pendidikan luar sekolah. pengelolaan masalah sampah yang dapat mencemari lingkungan. meningkatkan  pengelolaan  dan  pelayanan  perpustakaan.  6.  19.  menengah.  7. meningkatkan kemampuan dan keterampilan tenaga kerja melalui pengem‐bangan  model‐model pendidikan luar sekolah yang efektif. pembinaan terhadap Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)  15. serta peningkatan manajemen pelayanan sosial. melengkapi  sarana  dan  prasarana  kesehatan  (Rumah  Sakit. terciptanya  kesadaran  masyarakat  tentang  kelestarian  sumber  daya  alam  dan  lingkungan. meningkatkan  kualitas  sumber  daya  manusia  Bangka  Selatan  yang  mampu  membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya.    2. serta  kualitas  pelayanan  kesehatan.  18.  antara lain :  1.  antara  lain  meliputi  peningkatan  mutu  dan  pemerataan  pelayanan  kesehatan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 3.  14.  disiplin  dan  sportivitas  yang  tinggi. memperbanyak akseptor KB.  peningkatan  VI-2 . terutama sumber  air baku. pelatihan  kompetensi  guru. peran serta masyarakat dalam program reboisasi dan rehabilitasi lingkungan.  Dalam  rangka  pelaksanaan  secara  operasional  untuk  pencapaian  sasaran  sesuai  yang  telah  diarahkan. pembinaan  kesejahteraan  sosial.

  pendidikan.  serta  peningkatan  manajemen upaya kesehatan. Arah dan Kebijakan Misi I Kabupaten Bangka Selatan.  VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR   MISI ­ 1  :   Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia    Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah Kebijakan  1) Meningkatkan  1) Meningkatnya  1) Meningkatkan  1) Memberikan kesempatan yang seluas‐luasnya ke‐ etos kerja dan  kualitas layanan  akses pelayanan  pada penduduk Bangka Selatan untuk mengem‐ kualitas  pendidikan. promotif.  mempertinggi kesadaran masyarakat akan  dan rohani  Masyarakat.  kependidikan.  penambahan/penerimaan guru baru serta beasiswa  4)  Penerapan  bagi guru untuk melanjutkan sekolah (Sarjana S1  teknologi  atau S2).  3.  Masyarakat  pendukung.  pengelolaan  6) Pelatihan kompetensi guru.  kelola dan  5) Terjalinnya kerjasama dengan berbagai institusi  akuntabilitas  dalam penyelenggaraan pendidikan. peningkatan kualitas pendidikan. memiliki etos kerja  pendidikan serta  yang tinggi dan mampu bersaing dalam era  jumlah pendidik  globalisasi.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ peran  serta  masyarakat. Pustu dan Poskesdes). Puskesmas. Kesejahteraan Sosial dan Sistem Jaminan Sosial Nasional.    Kebijakan  tersebut  di  atas.   2)  Meningkatkan  3) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia  sarana dan  Bangka Selatan yang mampu membangun dirinya  prasarana  dan masyarakat sekelilingnya. dan  masyarakat.    Tabel 6.  4) Fasilitasi kegiatan keagamaan dalam rangka mem‐ 3)  Meningkatkan  bentuk masyarakat yang bertakwa.  manajemen pendidikan terpadu.  pelayanan  2)  Meningkatnya  terhadap  2) Memberikan hak dasar pelayanan pendidikan yang  pendidikan.  tenaga kerja melalui pengembangan model‐model  3)  Penguatan tata  pendidikan luar sekolah yang efektif.  Moral dan  medik serta  3) Meningkatkan bimbingan jaminan kesehatan  Akhlak  tenaga  masyarakat menuju universal coverage.  akses data dan  masyarakat pada  bermutu melalui melalui pendidikan wajar sembilan  informasi oleh  tingkat dasar.1.  perpustakaan dan arsip. serta  hatan jasmani  Kesehatan  na kesehatan. meningkatkan peranan dan fungsi  dalam  perpustakaan dan meningkatkan kualitas dan  penyelenggaraan  kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang  pendidikan.  VI-3 .  Strategi. kuratif dan rehabilitatif.  2)  Meningkatkan  pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. menciptakan tenaga fungsional  berbagai institusi  perpustakaan.  2) Meningkatnya  kualitas dan  2) Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga medik  Kegiatan  kuantitas tenaga  dan non medik serta tenaga pendukung kegiatan  Pembinaan  medik dan non  preventif. bermoral dan  kemitraan dengan  berakhlak mulia sesuai tuntunan agamanya masing‐ lembaga sosial.  dan  tenaga  4) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan  kependidikan.  dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  berbagai  program  dan  kegiatan.  menengah dan  peningkatan penyelenggaraan pendidikan melalui  kejuruan.  2) Meningkatkan  1)  Meningkatnya  1) Meningkatkan sa‐ 1) Melengkapi sarana dan prasarana kesehatan (Rumah  derajat  kese‐ Derajat  rana dan prasara‐ Sakit.  informasi dalam  7) Meningkatkan kesejahteraan pendidik dan tenaga  pelayanan publik. guna meningkatnya akses  data dan informasi oleh masyarakat.  lembaga profesi  dan institusi  terkait.  swasta  dan  organisasi  profesi.  5)  Menjalin kerja  8) Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan  sama dengan  perpustakaan.  pendidikan  bangkan bakatnya dan pembinaan mental.  tahun. perlu  diterbikan  Peraturan  Daerah  yang  merujuk  pada  perundang‐undangan  di  bidang Kesehatan.  masing.

  8) Penerapan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009  3) Melaksanakan  tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan  program keane‐ Hidup. meningkat‐ Sosial (PMKS)  program KB.  Masyarakat (LPM).  Sosial  pemberdayaan  terhadap  pembinaan partisipasi sosial masyarakat. terutama sumber air baku. dan penerapan Undang Undang Nomor 4  karagaman hayati  Tahun 2009 tentang MINERBA.  Kerusakan dan  kerusakan  membangun  2) Program pembangunan yang berwawasan lingkung‐ Pelestarian  lingkungan  Tempat pembu‐ an dan tertata secara baik sesuai dengan RTRW.  upaya konservasi  2) Melaksanakan  4) Peran serta masyarakat dalam program reboisasi  sumber daya  sosialisasi dalam  dan rehabilitasi lingkungan.  lingkungan.  4) Meningkatnya  LPM agar dapat  10) Perlu diterbitkan Perda yang merujuk pada  pemberdayaan  berperan aktif  perundang‐undang bidang Kesejateraan Sosial dan  Masyarakat dan  dalam pember‐ Sistem Jaminan Sosial Nasional.  rangka peningkat‐ 5) Alokasi anggaran yang memadai untuk sarana dan  an kapasitas dan  prasarana pengelolaan sampah.  terhadap  Posyandu.  9) Meningkatkan kualitas dan perlindungan terhadap  perempuan dan  5) Memperbanyak  perempuan dan anak dalam mewujudkan  anak.  kesadaran ma‐ 6) Alokasi anggaran yang memadai untuk kegiatan  syarakat dalam  sosialisasi penanggulangan kerusakkan lingkungan.  Kesejahteraan  pelaksanaan  3) Peningkatan pencapaian akseptor KB.  2) Pembangunan sarana sosial seperti panti asuhan.  3) Meningkatkan  1)  Meningkatnya   1) Pembinaan serta  1) Pembinaan serta pemberdayaan masyarakat PMKS  Kesejahteraan  pembinaan serta  pemberdayaan  dan PSKS.    VI-4 .  penanggulangan  7) Program rehabilitasi dan reboisasi/penghijauan  kerusakkan  bekas galian tambang timah (kolong).  Masalah  2) Meningkatkan  panti jompo dan panti rehabilitasi.  4) Meningkatkan  1)  Meningkatnya  1) Pengelolaan  1) Pengelolaan masalah sampah yang dapat mencemari  Pengendalian  pengendalian  sampah dan  lingkungan.  Sumber  sosialisasi  4) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan KB.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR   MISI ­ 1  :   Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia    Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah Kebijakan  4) Meningkatkan  peran serta tokoh‐ tokoh agama  dalam pembinaan  moral dan akhlak  masyarakat.  terutama  masyarakat desa. pelayanan dan rehabilitasi sosi‐al.  konsep kesetaraan  kader KB dan Petugas Pembantu Keluarga  2) Meningkatnya  gender dan  Berencana Desa (PP KBD). serta Perda tentang  dan ekosistem  RTRW.  angan sampah  3) Terciptanya kesadaran masyarakat tentang  Hidup  2) Meningkatnya  (TPS). serta  Masyarakat  terhadap  masyarakat PMKS  peningkatan manajemen pelayanan sosial.  Desa.  dayaan  masyarakat.  Kesejahteraan  perlindungan hak‐ 6) Pembinaan terhadap kelompok PKK dan Posyandu  Keluarga.  kelompok binaan  kesetaraan dan keadilan gender.  Sosial (PSKS).  alam. PKK dan  perlindungan  kegiatan PKK dan  Posyandu yang aktif dan berprestasi.  Kesejahteraan  pemahaman  5) Peningkatan Institusi Masyarakat Perdesaan (IMP).  dan upaya  4) Mengaktifkan  8) Penghargaan dan bantuan terhadap LPM.  pengarus‐ tindakan  7) Pembinaan terhadap Lembaga Pemberdayaan  utamaan gender  kekerasan.  kelestarian sumber daya alam dan lingkungan.  Lingkungan  hidup.  hak perempuan  yang aktif untuk meningkatkan kesejahteraan  3) Meningkatnya  dan anak dari  keluarga dan masyarakat.  serta penghijauan  wilayah.  penyandang  dan PSKS.  kan kualitas kesehatan reproduksi remaja dan  dan Potensi  3) Peningkatan  pendewasaan usia perkawinan.

 antara lain :  1.  4.    Sehubungan  dengan  itu. perkebunan dan perikanan. nasional dan  internasio‐nal. antara lain :  1.  tingkat  pemuda.2. Misi kedua ini ditetapkan dengan maksud mencapai  dua  tujuan.  VI-5 .  3. serta meningkatnya prestasi  dan meraih  pengembangan  2) Peningkatan  yang dapat meningkatkan kebanggaan daerah mau‐ prestasi di  kewirausahaan  prestasi olahraga  pun nasional. yaitu:    Sasaran dari tujuan pertama. baik di  4) Penyelenggaraan berbagai kompetisi olahraga antar  internasional  gaan  dalam  tingkat regio‐nal.  di tingkat regio‐ nal.  sportivitas yang tinggi.  2)  Meningkatnya  berbagai kompeti‐ sehat serta mendorong peran aktif masyarakat.  2. meningkatnya produktivitas komoditi unggulan daerah. maka perlu ditetapkan sasaran dari  masing­masing  tujuan  tersebut  yang  merupakan  penjabaran  dari  masing‐masing  tujuan tersebut.  dengan mengikuti  3) Terciptanya budaya berolahraga dan iklim yang  regional.  dirumuskan  arah  dari  masing­masing sasaran tersebut. meningkatnya produksi dan produktivitas sumber daya kelautan dan perikanan. baik tingkat regional.  kedua “Mendorong  Pemberdayaan  kemampuan  keuangan  daerah  melalui  peningkatan  penerimaan  dan  pengelolaan keuangan daerah serta meningkatkan perekonomian daerah”    Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut di atas. nasional  meraih prestasi  internasional.   STRATEGI DAN KEBIJAKAN MISI KEDUA “PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT”  Perwujudan  Visi  “Bangka  Selatan  Makmur”  dijabaran  melalui  misi  kedua  yaitu  “Pemberdayaan Ekonomi Rakyat”. meningkatnya  pengelolaan  energi  dan  sumber  daya  mineral  dengan  tetap  memandang azas berkelanjutan. antara lain:   1. Bela Bangsa  dan  pemberdayaan  dengan berbagai  dan Jiwa Kesetiakawanan Sosial serta Jiwa  keolahragaan  dan pengem‐ kegiatan yang  Kewirausahaan (Entrepreneurship). terselenggaranya  pengelolaan  keuangan  daerah  yang efisien dan efektif dengan  dukungan optimalisasi penerimaan daerah. Pembentukan  kepemudaan  daan dalam  kepemudaan  Karakter Pemuda (Character Building).  untuk  mencapai  sasaran  PJMD.      6.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR   MISI ­ 1  :   Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia    Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah Kebijakan    5) Meningkatkan  1)  Meningkatnya  1) Pembinaan terha‐ 1) Pembinaan terhadap Organisasi Kepemudaan  peran  peran kepemu‐ dap organisasi  tentang kepribadian (Attitude). disiplin dan  menunjang  mimpinan serta  pemuda.     Sasaran dari tujuan kedua. meningkatnya Kemampuan Ekonomi Daerah. meningkatnya produktivitas hasil kehutanan dan perkebunan.  2.  nasional dan  peran keolahra‐ si olahraga.  kecamatan dan mengirim duta olahraga ke berbagai  menunjang dan  nasional maupun  kompetisi olahraga.  penetapan  prioritas  kegiatan  ekonomi  rakyat  yang  berbasis  pada  potensi  dan  sumber daya alam khususnya dalam pencapaian daerah swakarsa dan swadaya di  bidang pertanian.  yaitu:  pertama    “Mengoptimalkan  pengelolaan  dan  pemanfaatan  potensi  Sumber Daya Alam untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat”.  dalam  bangan kepe‐ melibatkan  2) Terbentuknya watak dan kepribadian.  maupun internasional.

    memacu  pengusahaan  potensi  kelautan  menjadi  kegiatan  ekonomi. industri kecil  dan industri rakyat. peningkatan  pendayagunaan  potensi  laut  dan  dasar  laut.  dan  upaya  produktivitas  hutan  alam.  pengembangan  organisasi  dan  kelembagaan  kelautan  serta  pe‐ ningkatan pencegahan pencemaran laut.  serta  pengembangan  sistem  pendukung  pertambangan. serta  peningkatan peran dan mutu kelembagaan kehutanan.  Disamping  peningktan  diversifikasi  usaha  dan  hasil  pertanian.  peningkatan  fungsi  dan  peranan  lembaga  keuangan  di  daerah  dalam  penyediaan  dan  kemudahan  kredit.  peningkatan  pengelolaan  hutan  yang  berfungsi sebagai salah satu penentu ekosistem (hutan lindung).  peningkatan  pengusahaan  hutan  produksi.  pendalaman.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 2.  5.  pemanfaatan  pinjaman  daerah.  dan  pemanfaatan  sumber  dana  alokasi  umum dari pemerintah pusat sebagai sumber pelengkap pembiayaan.  kecil.  serta antara industri besar.  VI-6 .    pengolahan  usaha  pertambangan  secara  efisien  dan  efektif.  peningkatan  poduksi  dan  penemuan  cadangan  sumber  daya  energi  dan  mineral.  pengembangan  sumber  daya  manusia  dan  penguasaan  teknologi  pertambangan.  pemupukan  jiwa  bahari.  Industri  antara. Kebijakan pembangunan pertambangan tersebut perlu dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  dalam  program  pokok  dan  program  penunjang  yang  diatur  dalam suatu peraturan daerah yang mengacu pada perundang‐undangan di bidang  pertambangan.  peningkatan  harkat  dan  taraf hidup nelayan. penetapan  kebijakan  penerimaan  daerah.  menengah  dan  koperasi.  2. industri menengah.  kebijakan  pengeluaran  rutin.  dan  ke‐ bijakan pengeluaran pembangunan.  antara lain :  1.  peningkatan  kesadaran  masyarakat  untuk  membayar  pajak  dan  retribusi. peningkatan dan  penyempurnaan upaya rehabilitasi dan kelestarian daya dukung lingkungan. perluasan dan penyebaran industri ke seluruh wilayah  Kabupaten  Bangka  Selatan.    penataan  dan  pemantapan  industri  daerah  yang  mengarah  pada  penguatan.  serta  usaha  memperkokoh  struktur  industri  dengan  peningkatan  keterkaitan  antara  industri  hulu.    Dalam  rangka  pelaksanaan  secara  operasional  untuk  pencapaian  sasaran  sesuai  yang  telah  diarahkan.  perkebunan  dan perikanan bahari yang didukung industri masing‐masing.  dirumuskan  kebijakan  terhadap  masing‐masing  sasaran  tersebut.  dan peningkatan pemerataan hasil‐hasil pembangun‐an  daerah. peningkatan penanaman modal  swasta nasional maupun asing.  serta  mempertahankan  daya  dukung  dan  kelestarian  fungsi lingkungan laut.  3.  dan  industri  hilir.  3.  pengoptimalan  pengeluaran  rutin.  penyelenggaraan  secara  terpadu  antar  daerah  dan  sektor. pengembangan potensi industri kelautan.  perkebunan  serta  perikanan  bahari  melalui  intensifikasi  dan  ekstensifikasi  pertanian.  melindungi.  pemantapan  pe‐ nyediaan  komoditas  mineral  dan  energi.  hutan  rakyat.  6.  4.  peningkatan  efektivitas  pe‐ ngeluaran pembangunan.  membimbing. kebijakan  umum. peningkatan.  hutan  tanaman  industri.  bagi  pengusaha  mikro.  meliputi  peningkatan  peran  pajak  dan  retribusi. pengembangan  informasi  geologi  dan  sumber  daya  mineral.  penetapan kebijakan fiskal daerah dan retribusi didasarkan pada prinsip anggaran  berimbang  yang  dinamis  dan  mampu  memeratakan  kesejahteraan  rakyat.  dan  meningkatkan pengelolaan pertambangan rakyat.   4. pengembangan data  dan  informasi  kelautan.  peningkatan  peranserta  masyarakat  dan  pelestarian  fungsi  lingkungan  hidup. serta pelaksanaan upaya reklamasi pertambangan.  penataan  system  anggaran  daerah.

    Tabel 6.  1) Peningkatan mutu kelembagaan.  Pengangkutan  dan  Komunikasi.  Kehutanan  dan  Perikanan.  kehutanan dan perkebunan. d.  6) Pengembangan industri pengolahan hasil  perikanan. rehabilitasi.  Perkebunan.  5) Penataan kawasan pertanian.  2) Penyediaan sarana  dan prasarana pertanian  pemanfaatan  produktivitas  integrasi.  dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  berbagai  program  dan  kegiatan. Perdagangan. e.  potensi sumber  komoditi unggulan  diversifikasi usaha  3) Pembukaan lahan baru dan pencetakan sawah  daya alam untuk  pertanian daerah.  VI-7 . bersertifikat dan  tambah hasil  pupuk yang memadai.  VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI‐2   :  Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah Kebijakan  1) Mengoptimalkan  1) Meningkatnya  1) Ekstensifikasi.  tani  baru.  produktivitas hasil  pengamanan dan  peningkatan produktivitas hutan alam dan  kehutanan dan  perlindungan  hutan lindung.  sumber daya  pemberian nilai  2) Restrukturisasi armada penangkap dan  kelautan dan  tambah thd produksi  penambahan lahan budidaya.    Kebijakan  tersebut  di  atas.  intensifikasi  3) Reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis.  peningkatan nilai  5) Penyediaan benih unggul. Bangunan.  6. peningkatan  efisiensi  dan  produktivitas  daerah  yang  diwujudkan  dengan  berlan‐ daskan peran aktif dan luas masyarakat yang dijiwai semangat kemitraan da‐lam  berusaha.  kawasan hutan dan  2) peningkatan peran dan mutu kelembagaan  ekstensifikasi.  termasuk  Peternakan.  masyarakat.  1) Peningkatan pengusahaan potensi kelautan  produksi dan  intensifikasi.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 5.  6) Penyediaan benih unggul bersertifikat dan  pupuk yang memadai.    4) Meningkatnya  1) Meningkatkan  1) Pengembangan dan pembangunan usaha  pengelolaan energi  investasi sektor  pertambangan dan energi secara terpadu. hutan tanaman industri.  perikanan dan pemanfaatan kolong eks  produktivitas  diversifikasi dan  tambang. pengawasan dan pengendalian  kesejahteraan  keswan dan kesmavet. Hotel dan  Restoran.  Strategi.  Pertanian  dalam  arti  luas.  perkebunan serta  4) Perluasan areal dan peremajaan. c.  dengan  tetap  memper‐hatikan  lingkungan hidup.  produksi dan  reboisasi.2.  hutan rakyat. pengelolaan dan  produksi dan  intensifikasi.  perkebunan. Arah dan Kebijakan Misi II Kabupaten Bangka Selatan.  dan sumber daya  pertambangan dan   2) Peningkatan penanaman modal swasta  mineral dengan  energi serta  nasional maupun asing.  perkebunan    3) Meningkatnya  1) Ekstensifikasi.  5) Penyediaan bibit ikan yang berkualitas dan  sarana produksi perikanan.  4) Pengawasan dan pengelolaan sumber daya  kelautan perikanan untuk mendukung  kelestarian fungsi ekosistem laut.  f.  b.  yang memadai.  Industri  Pengolahan.  1) Peningkatan pengusahaan hutan produksi. Listrik.  perikanan & kelautan  3) Pengembangan organisasi dan kelembagaan  sumber daya kelautan dan perikanan.  2) Meningkatnya  1) Pengelolaan.  peningkatan  4) Peningkatan. peningkatan  pertumbuhan  pembangunan  di  sektor  :  a. Gas dan Air Bersih.  perikanan.

  peningkatan  dan transparan  transparan untuk  3) Penataan system anggaran daerah yang  penerimaan dan  dengan dukungan  meningkatkan  dinamis dan mampu memeratakan  pengelolaan  optimalisasi  pendapatan. dan kebijakan  pengeluaran pembangunan. dan industri hilir.  keuangan daerah  yang efisien. serta antara  keterkaitan industri  industri besar.  5) Penetapan keijakan penerimaan daerah. penataan system  meningkatkan  anggaran daerah. peningkatan fungsi dan  perekonomian  peranan lembaga keuangan di daerah da‐lam  daerah  penyediaan dan kemudahan kredit.  ekonomi daerah  dari perwujudan  peningkatan. perluasan dan penyebaran  penciptaan industri  industri ke seluruh wilayah Kabupaten  sesuai kondisi daerah  Bangka Selatan. dan pemanfaatan sumber dana  alokasi umum dari pemerintah pusat seba‐gai  sumber pelengkap pembiayaan.  daerah yang efisien. industri  pertanian.  peningkatan efektivitas penge‐luaran  pembangunan. pendalaman. akuntabel dan  membayar pajak dan retribusi.  terbarukan  4) Penyediaan dan pemuktahiran data dan  informasi cadangan sumber daya mineral  serta pengembangan energi baru  terbaharukan. meliputi peningkatan peran  pajak dan retribusi. industri menengah. menengah dan  koperasi.  pemanfaatan sumber  peran masyarakat dalam menjaga kelestarian  energi baru  lingkungan hidup.  2) Peningkatan efisiensi dan produktivitas  daerah yang diwujudkan dengan  berlandaskan peran aktif dan luas  masyarakat yang dijiwai semangat kemitraan  VI-8 .  2) Peningkatan kesadaran masyarakat untuk  melalui  efektif. Serta upaya memperkokoh  dengan penguatan  struktur industri dengan peningkatan  struktur industri  keterkaitan antara industri hulu.    2) Mendorong  1) Terselenggaranya  1) Pengembangan  1) Penetapan kebijakan fiskal daerah dan  pemberdayaan  pengelolaan  sistem pengelolaan  retribusi daerah didasarkan pada prinsip  kemampuan  keuangan daerah  keuangan dan asset  anggaran berimbang.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI‐2   :  Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah Kebijakan  tetap memandang  penyediaan dan  3) Pengelolaan pertambangan rakyat serta  azas berkelanjutan.  kebijakan pengeluaran rutin.  serta pengembangan sistem pendukung  pertambangan. industri  bahari melalui intensifikasi dan ekstensifikasi  kecil dan industri  pertanian.  kesejahteraan rakyat. industri  daerah melalui  antara. dan peningkatan pe‐merataan  hasil‐hasil pembangunan daerah. pemanfaatan pinjaman  daerah.    2) Meningkatnya  2) Meningkatkan   1) Penataan dan pemantapan industri daerah  pendapatan  Pendapatan daerah  yang mengarah pada penguatan. peningkatan  serta  keuangan daerah  penerimaan  keuangan dan asset  kesadaran masyarakat untuk membayar  serta  daerah  daerah  pajak dan retribusi.  5) Meningkatkan kualitas sumber daya alam  dalam penguasaan teknologi pertambangan. industri  hulu dan industri  kecil dan industri rakyat. perkebunan dan perikanan bahari  rakyat  yang didukung industri masing‐masing. Disamping  hilir baik industri  peningkatan diversifikasi usaha dan hasil  besar.  4) kebijakan umum. kecil. bagi  pengusaha mikro. perkebunan serta perikanan  menengah. pengoptimalan penge‐luaran rutin. akuntabel  efektif.

  STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KETIGA  ”MENCIPTAKAN  IKLIM  USAHA  YANG  KONDUSIF”  Perwujudan  Visi  “Bangka  Selatan  Makmur”  dijabarkan  melalui  melalui  misi  ketiga  yaitu  “Menciptakan  Iklim  Usaha  yang  Kondusif”.    Sasaran  dari  tujuan  kedua  adalah  berkembangnya  perdagangan  daerah. pertama “Peningkatan nilai investasi para Investor  dalam  menumbuhkan  iklim  usaha  dan  mendorong  ekonomi  kerakyatan”.    meningkatnya Jumlah dan Nilai Investasi. lembaga legislatif yang  efektif dan partai politik.3.  perlindungan.  pembinaan. yang ditandai suasana kehidupan  yang kondusif dalam masyarakat.  untuk  mencapai  sasaran  PJMD.  organisasi  dan  politik  daerah. Industri Pengolahan  c. Pengangkutan dan Komunikasi      6.  VI-9 . dan menengah. Pertanian.   meningkatnya  kualitas  tenaga  kerja  dan  transmigrasi  yang  sesuai  dengan  kebutuhan pasar.  Misi  ketiga  ini  ditetapkan  dengan  maksud mencapai tiga tujuan yaitu.  pemerintahan  yang bertanggung jawab. ormas serta media massa sebagai lembaga kontrol sosial atas  pelaksanaan pemerintahan. Hotel dan Restoran  f.  kedua  “Meningkatkan kemitraan antara usaha kecil dan menengah dengan pengusaha besar”. Listrik.  Sasaran dari tujuan ketiga antara lain :   1.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI‐2   :  Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah Kebijakan  dalam berusaha.  kecil  menegah  dan  koperasi.    penataan.  koperasi  dan  UKM serta Industri rumah tangga.  dan  ketiga  “Mewujudkan  sistem  politik  dan  keamanan    yang  dinamis. kepastian  hukum dan keamanan berusaha. Bangunan  d. Gas dan Air Bersih  e.  3.  3) Peningkatan pertumbuhan pembangunan di  sektor:  a.   2. peciptaan birokrasi yang efisien.  Penciptaan iklim usaha yang kondusif.    Sehubungan  dengan  itu.  dirumuskan  arah  masing  ‐ masing sasaran tersebut antara lain:   1. Peternakan. maka perlu ditetapkan sasaran dari  masing­masing  tujuan  tersebut  yang  merupakan  penjabaran  dari  masing‐masing  tujuan tersebut.   2.   meningkatnya ketertiban dan keamanan daerah. Perkebunan.  bimbingan  dan  peningkatan  pengelolaan  perusahaan  daerah  dan  perusahaan  swasta  mikro.  Kehutanan dan Perikanan  b. Perdagangan. lembaga penegakan hukum yang adil. kecil.    meningkatnya pariwisata dengan memanfaatkan potensi budaya daerah. yaitu:    Sasaran dari tujuan pertama antara lain :   1.”    Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut di atas.    meningkatnya  mutu  pembinaan  terhadap  masyarakat.

  pemantapan  sistem  pengupahan  yang  tidak  menimbulkan  kesenjangan  sosial.  komunikasi. Meningkatnya kualitas pendidikan politik.  antara lain :  1.    Dalam rangka pelaksanaan secara operasional untuk pencapaian sasaran sesuai yang  telah  diarahkan.  peningkatan  kualitasn  tenaga  kerja.    meningkatkan  kemampuan  daya  tangkal  terhadap  gangguan  ketertiban  masyarakat  yang  didukung  oleh  aparat  pelaksana  yang  profesional  yang  dijiwai  oleh  kesadaran  bela  negara  yang  tinggi.  keteladanan.  pemanfaatan  secara  optimal  kerjasama  kepariwisataan  nasional. penerangan.  2.  peningkatan  daya  saing. peran serta politik masyarakat.  efisiensi.  pembinaan  iklim    bagi    perluasan    lapangan    kerja.      penataan  dan  peningkatan  kapasitas  kelembagaan  di  bidang  penanaman  modal.  5.  perbaikan  koordinasi  dengan  pemerintah  pusat.  penerobosan  dan  perluasan  pasar  baik  dalam  skala  nasional  maupun  luar  negeri.  tanggung  jawab.  kewirausahaan  dan  etos  kerja  produktif.  4.  mantapnya  komunikasi  politik.  regional  dan  global.  serta  mendorong  pengusaha  kecil  dalam  suasana  kemitraan  dengan  pengusaha  menengah dan pengusaha besar.  peningkataan  dan  mendorong  peran  serta  masyarakat  bekerjasama  dengan  aparat  keamanan  dalam penciptaan stabilitas keamanan yang mantap dan dinamis.  serta peninkatan penyuluhan.    peningkatan    efisiensi    dan  produktivitas.  dirumuskan  kebijakan  terhadap  masing‐masing  sasaran  tersebut. kaderisasi politik.  pengembangan  dan  menganekaragaman  pola  usaha.  efektifitas.  7.  3.  8.  pemeliharaan kepribadian dan kearifan masyarakat lokal serta kelestarian fungsi  dan  mutu  lingkungan  hidup. dan pengembangan kesejahteraan tenaga kerja.  menciptakan  pola‐pola  kemitraan  usaha  termasuk  kemitraan  dengan  perusahaan  penanaman  modal  asing  dengan  berpedoman  pada  ketentuan  mengenai  bidang‐bidang  usaha  yang  terbuka  bagi  penanaman  modal  dengan  titik  berat  perhatian  pada  kepentingan  pelaku ekonomi kerakyatan.  pendayagunaan  tenaga  kerja  produktif.  keadilan.  pengembangan  pariwisata  daeah. pelayan dan pengembangan kawasan  daerah penerima.  dan  kewibawaan.  serta  mengembangkan  suasana  dan  sikap  keterbukaan yang bertanggung jawab.    penyediaan  lahan  yang  memadai  dan  layak  bagi  usaha  produktif  dan  bagi  kehidupan  transmigran.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 2.  pengembangan  perlindungan  tenaga  kerja  secara  terpadu.  6.  serta  peningkatan kesadaran dan peran aktif masyarakat.  disiplin.    penyesuaian  penyediaan  kebutuhan  pokok  dan  kebutuhan  masyarakat  d‐ngan  pola  produksi  dan  konsumsi  masyarakat.  Meningkatnya  kualitas  aparatur  yang  memiliki  sikap  dan  perilaku  yang  berintikan  pengabdian.  penerapan  sistem  manajemen  transmigrasi  yang  menyeluruh  dan  terpadu.  VI-10 .  dan  media  masa  untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai  warga  negara  serta  peran  serta  aktif  dalam  pembangunan  daerah  yang  merupakan  bagian  tak  terpisahkan  dengan  pembangunan  nasional.    terwujudnya tatanan kehidupan politik di daerah yang demokratis yang mampu  menjamin  berfungsinya  lembaga  politik  dan  organisasi  kemasyarakatan.     meningkatnya  pembangunan  sistem  informasi.  pembinaan.  kejujuran. mantapnya etika  dan moral budaya politik.    peningkatan  kesadaran  akan  produktivitas.

  peningkatan  peranan  koperasi.3.  haan penanaman modal asing dengan  guna memperluas  berpedoman pada ketentuan mengenai  peluang investasi  bidang‐bidang usaha yang terbuka bagi pena‐ lokal.  peningkatan  informasi  usaha.    Kebijakan  tersebut  di  atas.  naman modal dengan titik berat perhatian  pada kepentingan pelaku ekonomi  kerakyatan.  2)  Meningkatnya  1) Peningkatan  Ketenagakerjaan  kualitas tenaga  kualitas tenaga  1) Peningkatan kesadaran akan produktivitas.   peningkatan  pariwisata  sebagai  sektor  pendukung  penerimaan  pendapatan  daerah.    pewujudan  kemampuan  dan  ketahanan  masyarakat  dan  lingkungan  secara  swadaya.  peningkatan  sumber  daya  manusia.  investasi para  Jumlah dan Nilai  penciptaan industri  bimbingan dan peningkatan pengelolaan  Investor dalam  Investasi.  7.  dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  berbagai  program  dan  kegiatan.     Tabel 6.  peningkatan  kualitas  dan  kemandirian organisasi kekuatan politik dan organisasi kemasyarakatan.  kerja dan  kerja dan  efisiensi.  mendorong  industri daerah  penciptaan birokrasi yang efisien.  6.  moral  dan  budaya  politik.  penciptaan  persaingan  usaha  yang  sehat  dengan  melindungi  pengusaha  dan  pedagang  menengah  dan  kecil. perlindungan. pengembangan perlindungan  sesuai dengan  sesuai dengan  tenaga kerja secara terpadu.   pemantapan  dan  perluasan  pasar.  kerakyatan  industri hulu dan  2) Penataan dan peningkatan kapasitas  industri hilir baik  kelembaga‐an di bidang penanaman modal. kepastian  ekonomi  melalui keterkaitan  hukum dan keamanan berusaha.  perbaikan koordinasi dengan pemerintah  industri menengah.  4. kecil menengah dan koperasi.  peningkatan  fasilitas  perkreditan.  industri besar. menciptakan pola‐pola kemitraan  industri kecil dan  usaha termasuk kemitraan dengan perusa‐ industri rakyat.  senantiasa  aktif  dalam  mengantisipasi  dan  menanggulangi  masalah  gangguan  ketertiban  dan  keamanan.  pengembangan  sarana  dan  prasarana  perda‐gangan.  peningkatan  peran  dan  fungsi  suprastruktur  dan  infrastruktur  poloitik  daerah. pembinaan.  pusat.    pengembangan  etika.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 3. Arah dan Kebijakan Misi III Kabupaten Bangka Selatan  VISI   :  BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 3  :  Menciptakan Iklim Usaha yang Kondusif  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  1) Peningkatan nilai  1)  Meningkatnya  1) Perwujudan  1) Penataan.  pening‐katan  daya  saing  komoditas  ekspor. efektifitas.  peningkatan  kapasitas  kelembagaan  dan  pembinaan  anggota  SATPOL  PP  melalui  pembinaan  dan  koordinasi  dengan  kepolisian negara dan unsur‐unsur aparat penegak hukum lainnya.  pengembangan  dan  peningkatan  daya  saing  kepariwisataan  daerah.  peningkatan  kerjasama  perdagang‐an.  sesuai kondisi  perusahaan daerah dan perusahaan swasta  menumbuhkan  daerah dengan  mikro.  serta  peningkatan  peran  serta  koperasi. pemantapan  VI-11 .  swasta dan masyarakat.  peningkatan  kemampuan  dan  peranan  pengusaha  dan  pedagang  mene‐ngah dan kecil.  5.  peningkatan  struktur  ekspor  non  migas.  penetapan  lahan  di  kawasan  atau  wilayah  tertentu  sebagai  pendukung  pengembangan wilayah dan membantu upaya penanggulangan kemiskinan.  Strategi.  iklim usaha dan  penguatan struktur  Penciptaan iklim usaha yang kondusif.  peningkatan  perlindungan  terhadap  konsumen. kewirausahaan dan etos  transmigrasi yang  transmigrasi yang  kerja produktif.    pengembangan  transmigrasi  swakarsa  mandiri  (TSM)  dan  transmigrasi  umum  (TU).

 koperasi  perdagangan  produksi dan konsumsi masyarakat. serta peningkatan  dan menciptakan  kesadaran dan peran aktif masyarakat.  regional dan global. penerapan sistem manajemen  transmigrasi yang menyeluruh dan terpadu. peningkatan sumber  kebudayaan  daya manusia. penerobosan dan  peningkatan  perluaan pasar baik dalam skala nasional  kegiatan koperasi. pengembangan sarana dan prasarana  perdagangan.  dan UMKM. serta peningkatan penyuluhan. dan  pengembangan kesejahteraan tenaga kerja. peningkatan  peranan koperasi. pelayanan dan pengembangan  kawasan daerah penerima.  2) Mengembangkan 1)  Meningkatnya  1) Peningkatan  1) Pemeliharaan kepribadian dan kearifan  aspek  industri pariwisata  kegiatan pariwisata  masya‐rakat lokal serta kelestarian fungsi dan  kepariwisataan  dengan  sesuai dengan  mutu lingkungan hidup. peningkatan informasi  usaha. peningkatan struktur  ekspor non migas.  pengembangan dan menganekaragaman pola  usaha.  2) Pembinaan iklim bagi perluasan lapangan  kerja.  pendayagunaan tenaga kerja produktif.  penerangan.  pengusaha besar. peningkatan kerjasama  perdagangan.  pening‐katan kualitasn enaga kerja. peningkatan kemampuan dan  peranan pengusaha dan pedagang menengah  dan kecil. kebutuhan pasar.  peningkatan perlindungan terhadap  konsumen. pemanfaatan secara  berlandaskan  potensi budaya  wilayah setempat.  daerah melalui  peningkatan daya saing.  pengembangan  pengem‐bangan dan peningkatan daya saing  dan inovasi  kepariwisataan daeah. swasta dan masyarakat. peningkatan fasilitas  perkreditan.  maupun luar negeri. dan industri  pengusaha kecil dalam suasana kemitraan  besar.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :  BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 3  :  Menciptakan Iklim Usaha yang Kondusif  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  kebutuhan pasar.  akar budaya lokal  daerah. sistem pengupahan yang tidak menimbulkan    kesenjangan sosial. peningkatan efisiensi dan produktivitas. serta mendo‐rong  UMKM. serta peningkatan peran serta  koperasi.  Transmigrasi  1) Penyediaan lahan yang memadai dan layak  bagi usaha produktif dan bagi kehidupan  transmigan.  3) Meningkatkan  1)  Berkembangnya  1) Perkembangan  1) Penyesuaian penyediaan kebutuhan pokok  kemitraan antara  perdagangan  kegiatan  dan kebutuhan masyarakat dengan pola  UMKM dengan  daerah.  penetapan lahan di kawasan atau wilayah  tertenu sebagai pendukung pengembangan  wilayah dan untuk membantu upaya  penanggulangan kemiskinan.  VI-12 . peningkatan daya saing  komoditas ekspor.  2) Pemantapan dan perluasan pasar.  dengan pengusaha menengah dan pengusaha  besar.  optimal kerjasama kepariwisataan nasional.  iklim yang  2) Peningkaan pariwisata sebagai sektor  kondusif bagi  pendukung penerimaan pendapatan daerah.  2) Pengembangan transmigrasi swakarsa  mandiri (TSM) dan transmigrasi umum (TU). pengembangan  yang  memanfaatkan  potensi budaya  pariwisata daeah. penciptaan persaingan usaha yang  sehat dengan melindungi pengusaha dan  pedagang menengah dan kecil.

  5) Pengembangan etika.  tanggung jawab. moral dan budaya  politik.  2) Pewujudan kemampuan dan ketahanan  lembaga  masya‐rakat dan lingkungan secara swadaya. mantapnya ko‐ organisasi dan  masyarakat dalam  munikasi politik.  bekerjasama dengan aparat keamanan dalam  jawab. peningkataan  yang  yang kondusif  kondusif.  hukum yang adil. peningkatan kapasitas  serta media  kelembagaan dan pembinaan anggota SATPOL  massa sebagai  PP melalui pembinaan dan koordinasi dengan  lembaga kontrol  kepolisian negara dan unsur‐unsur aparat  sosial atas  penegak hukum lainnya.  pembinaan  kegiatan  daerah yang demokratis yang mampu men‐ terhadap   pembinaan yang  jamin berfungsinya lembaga politik dan or‐ masyarakat. ormas  dan keamanan.  keteladanan.   4) Meningkatnya kualitas aparatur yang  memiliki sikap dan perilaku yang berintikan  pengabdian.  bermutu kepada  ganisasi kemasyarakatan. peningkatan peran dan fungsi  suprastruktur dan infrastruktur poloitik  daerah. lembaga  penciptaan stabilitas keamanan yang mantap  penegakan  dan dinamis.  yang ditandai  sehingga kehidupan  profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela  pemerintahan  suasana kehidupan  dalam masyarakat  negara yang tingi. mantapnya etika dan  moral budaya politik.  komunikasi.  hal berorganisasi  suasana dan sikap keterbukaan yang ber‐ dan berpolitik. dan kewibawaan.   2) Meningkatnya kualitas pendidikan poitik. pembinaan. dan media masa untuk  meningkatkan kesadaran masyarakat akan  hak dan kewajibannya sebagai warga negara  serta peran serta aktif dalam pemba‐ngunan  daerah yang merupakan bagian tak  terpisahkan dengan pembangunan nasional. peran serta  politik masyarakat.  legislatif yang  senantiasa aktif dalam mengantisipasi dan  efektif dan partai  menanggulangi masalah gangguan ketertiban  politik. kaderisasi politik. kejujuran.        VI-13 . tanggung jawab.  3) Meningkatnya pembanguan sistem informasi. peningkatan kualitas dan  kemandirian organisasi kekuatan politik dan  organisasi kemasyarakatan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :  BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 3  :  Menciptakan Iklim Usaha yang Kondusif  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  4) Mewujudkan  1)  Meningkatnya  1) Peningkatan  1) Meningkatkan kemampuan daya tangkal  sistem politik  ketertiban dan  ketertiban dan  terha‐dap gangguan ketertiban masyarakat  dan keamanan   keamanan daerah  keamanan wilayah  yang di‐dukung oleh aparat pelaksana yang  yang dinamis. serta mengembangkan  politik daerah.  disiplin. keadilan.  pelaksanaan  2)  Meningkatnya mutu  1) Peningkatan  1) Terwujudnya tatanan kehidupan politik di  pemerintahan.  dan mendorong peran serta masyarakat  bertanggung  dalam masyarakat.

    pengendalian    penduduk.     peningkatan  kualitas.   STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KEEMPAT  “MENCIPTAKAN  APARATUR  YANG  BERSIH DAN BEWIBAWA”  Perwujudan  Visi  “Bangka  Selatan  Makmur”  dijabaran  melalui  melalui  misi  keempat  “Menciptakan  Aparatur  yang  Bersih  dan  Berwibawa”. maka perlu ditetapkan sasaran dari  masing­masing  tujuan  tersebut  yang  merupakan  penjabaran  dari  masing‐masing  tujuan tersebut.    Sehubungan  dengan  itu.  Terlaksananya  Pengawasan  Daerah  yang  efektif.  dirumuskan  arah  masing‐ masing sasaran tersebut antara lain:   1.  2.  pengabdian.  2.  serta  pemberian  perhatian  khusus  dan  desempatan  pada penduduk usia lanjut.  serta  tanggap  terhadap  aspirasi rakyat dan terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis.  profesional.    terwujudnya  sarana  pendukung  sistem  administrasi  pemerintahan  daerah  yang  mampu menjamin kelancaran dan keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggaraan  pemerintahan  dan  pembangunan  daerah  untuk  mewujudkan  sistem  administrasi  daerah  yang  makin  andal.  dan  ketiga  “Meningkatkan pemberdayaan aparatur dengan tingkat produktivitas yang tinggi”.    Sasaran  dari  tujuan  kedua  adalah.  dan  penyuluhan  mengenai  kependudukan.  efisien.  dirumuskan  kebijakan  terhadap  masing‐masing  sasaran  tersebut.  antara lain :  VI-14 .  profesional  dan  akuntabel.  termasuk  peningkatan  kemampuan  dan  disiplin. keteladanan dan kesejahteraan aparatur pemerintah daerah.  4.  untuk  mencapai  sasaran  PJMD.   pemantapan  sistem  pengawasan  keuangan  dan  pembangunan  daerah.  transparan.  efisiensi    dan    efektivitas    seluruh    tatanan    administrasi  pemerintahan  daerah.  5.  efektif.  dan  tanggap  terhadap  aspirasi  rakyat.  baik  pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional termasuk pengawasan oleh  masyarakat dilakukan secara terpadu dan konsisten agar tercapai efisiensi dalam  penyelenggaraan dan pembangunan daerah.  peningkatan  informasi    pendidikan.    penyelenggaraan  dan  pembangunan  daerah  yang  makin  efektif  dan  efisien.  3.  Sedangkan  sasaran  dari  tujuan  ketiga  adalah  Terciptanya  sistem  kelembagaan  dan  ketatalaksanaan  pemerintahan  yang  bersih.    Dalam  rangka  pelaksanaan  secara  operasional  untuk  pencapaian  sasaran  sesuai  yang  telah  diarahkan.    meningkatnya pelayanan Kependudukan dan Catatan Sipil.”.  efektif.  peningkatan  dan  pengembangan  pelaksanaan  fungsi dan peran aparatur pemerintahan desa dan kelurahan serta pengembangan  secara terpadu dan efisien sistem perencanaan penyusunan progam dan anggaran.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   6.    Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut di atas.  meningkatnya  kualitas  pelayanan/data  dan  informasi  kepada  masyarakat  secara  bersih dan baik (Good Governance).4.  Misi  keempat  ini  ditetapkan  dengan maksud mencapai tiga tujuan yaitu: Pertama “Meningkatkan kualitas pelayanan  publik  dan  kemampuan  masyarakat  dengan  penguasaan  hak‐hak  dasar  masyarakat  dengan pengembangan sistem informasi dan teknologi.  kedua “Meningkatkan sistem  pengawasan  internal  melalui  pembinaan  kepegawaian  yang  profesional”. yaitu:    Sasaran dari tujuan pertama antara lain :   1.

  serta  pendayagunaan  dan  kesejahteraan  penduduk usia lanjut.  sistem informasi  penyempurnaan manajemen pembangunan. pemantapan dan pengembangan karir secara terencana. kolusi. serta peningkatan  kesejahteraan aparatur.  5.  dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  berbagai  program  dan  kegiatan.  penyempurnaan sistem informasi  VI-15 .  penyemprnaan  sistem  informasi  kependudukan.  penyempurnaan  ketatalaksaan. seperti korupsi.  serta  peningkatan  kualitas  sumber  daya manusia.  serta  melalui  pengembangan  motivasi.   peningkatan  kualitas  penduduk.  keahlian  dan  keterampilan. peningkatan dan  publik dan  masyarakat secara  secara bersih dan  pengembangan pelaksanaan fungsi dan  kemampuan  bersih dan baik (Good  baik. kebocoran.  dan teknologi  peningkatan kualitas sumber daya aparatur  dengan pendidikan.  catatan sipil. penugasan.  3.  serta  peningkatan  kualitas  sumber daya manusia dan kesejahteraannya.  kelurahan serta pengembangan secara  dengan  terpadu dan efisien sistem perencanaan  penguasaan hak‐ penyusunan progam dan anggaran. pendayagunaan  pengembangan  organisasi pemerintahan daerah.  pengendalian  pertumbuhan  dan  kualitas  penduduk.  pendayagunaan  organisasi  pemerinahan  daerah. pelatihan kompetensi  dan beasiswa melanjutkan pendidikan  (S1/S2/S3).    Kebijakan  tersebut  di  atas.    2)  Meningkatnya  1) Peningkatan  Peningkatan informasi tentang pertumbuhan  pelayanan  pelayanan  jumlah dan kualitas penduduk.  penyempurnaan  manajemen  pembangunan.  hak dasar  2) Peningkatan disiplin aparatur pemerintahan  masyarakat  daerah.    Tabel 6.  4.  kode  etik  dan  disiplin  kedinasan  yang  sehat  didukung  sistem  informasi  kepegawaian  yang  mantap serta dilengkapi sistem pemberian penghargaan yang wajar. pengarahan  kependudukan dan  kependudukan dan  sebaran dan mobilitas penduduk.  pengarahan  persebaran  dan  mobilitas  penduduk.  serta kematapan sikap mental melalui upaya pendidikan dan pelatihan. pemantapan organisasi  melalui  pemerintahan daerah.4.   pembinaan.  Strategi.  bimbingan  dan  konsultasi. peningkatan.  2.  pemantapan  organisasi  pemerintahan  daerah.  berdasarkan  prestasi  kerja.  perbaikan  sarana  dan  prasarana.  kemampuan  profesional.  peran aparatur pemerintahan desa dan  masyarakat  Governance).    peningkatan  penataan  organisasi. nepotisme. Arah dan Kebijakan Misi IV Kabupaten Bangka Selatan  VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 4  :   Menciptakan Aparatur yang Bersih dan Berwibawa  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  1)  Meningkatkan  1)  Meningkatnya kualitas  1) Perwujudan  1) Penyelenggaraan dan pembangunan daerah  kualitas  pelayanan/data dan  kegiatan pelayanan  yang makin efektif dan efisien.  pematapan  sistem  informasi.    peningkatan  penertiban  aparatur  pemerintah  daerah  dalam  rangka  penegakkan  disiplin  serta  pencegahan  dan  penanggulangan  penyalahgunaan  wewenang  dan  bentuk  penyelewengan  lainnya  yang  merugikan  dan  menghambat  pelaksanaan  pembangunan  daerah  serta  merusak  citra  dan  kewibawaan  aparatur  pemerintah  daerah. serta pemborosan kekayaan  dan keuangan daerah.   peningkatan  disiplin  aparatur  pemerintahan  daerah. dan tanggap  pelayanan  informasi kepada  kepada masyarakat  terhadap aspirasi rakyat. serta  catatan sipil.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ 1.

 baik pengawasan  pengawasan  daerah yang efektif.  penyelenggaraan pemerintahan dan  yang tinggi  transparan. pemantapan  sistem informasi.      6. serta  tanggap terhadap aspirasi rakyat dan  dinamika peruba‐han lingkungan strategis.    Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut di atas.  andal.  penyempurnaan ketatalaksaan.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 4  :   Menciptakan Aparatur yang Bersih dan Berwibawa  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  kependudukan. yaitu:    Sasaran  dari  tujuan  pertama  adalah.  dilakukan secara terpadu dan konsisten  kepegawaian  agar terca‐pai efisiensi dalam  yang profesional  penyelenggaraan dan pembangunan daerah.  kedua  “Melaksanakan Perencanaan pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan Rencana     Tata Ruang sehingga daya dukung dan kelestarian alam dapat terjaga.  2)  Meningkatkan  1)  Terlaksananya  1) Pelaksanaan  1) Pemantapan sistem pengawasan keuangan  sistem  pengawasan aparatur  kegiatan  dan pembangunan daerah.  profesional dan  sistem administrasi daerah yang makin  akuntabel.”.5.  bersih.  2) Peningkatan penataan organisasi. Misi kelima ini ditetapkan dengan maksud  mencapai  dua  tujuan  yaitu:  Pertama  “Meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  infrastruktur  yang  sesuai  dengan  pengembangan  pembangunan  daerah“. perbaikan sarana dan  prasarana. efektif.  pembangunan daerah untuk mewujudkan  dan akuntabel.  2) Peningkatan penertiban aparatur  pemerintah daerah dalam rangka  penegakan disiplin serta pencegahan dan  penanggulangan penyalahgunaan  wewenang dan bentuk penyelewengan  lainnya yang merugikan dan menghambat  pelaksanaan pembangunan daerah serta  me‐rusak citra dan kewibawaan aparatur  pemerintah daerah. seperti korupsi.  VI-16 .   STRATEGI  DAN  KEBIJAKAN  MISI  KELIMA  “MENINGKATKAN  INFRASTRUK­TUR  YANG HANDAL”  Perwujudan  Visi  “Bangka  Selatan  Makmur  2015”  dijabarkan  melalui  misi  kelima  “Meningkatkan Infrastruktur yang Handal”.  pengawasan  melekat maupun pengawasan fungsional  internal melalui  aparatur daerah  termasuk pengawasan oleh masyarakat  pembinaan  yang efektif.  nepotisme. serta pemborosan  kekayaan dan keuangan daerah. profesional. efektif. profesional  transparan.  3)  Meningkatkan  1)  Terciptanya sistem  1) Penciptaan sistem  1) Terwujudnya sarana pendukung sistem pemberdayaan  kelembagaan dan  kelembagaan dan  administrasi pemerintahan daerah yang  aparatur dengan  ketatalaksanaan  ketatalaksanaan  mampu menjamin kelancaran dan  tingkat  pemerintahan yang  pemerintahan yang  keterpaduan tugas dan fungsi  produktivitas  bersih. serta peningkatan kualitas  sumber daya manusia dan  kesejahteraannya. kolusi.  meningkatnya  kualitas  dan  kuantitas  sarana  dan  prasarana umum serta transportasi ke sentra‐sentra ekonomi rakyat sesuai kebutuhan  daerah. efektif. kebocoran. efisien. maka perlu ditetapkan sasaran dari  masing­masing  tujuan  tersebut  yang  merupakan  penjabaran  dari  masing‐masing  tujuan tersebut.

  Strategi.  4. antar kota.  berkemampuan  tinggi.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Sasaran dari tujuan kedua antara lain :   1.  dirumuskan  kebijakan  terhadap  masing‐masing  sasaran  tersebut.  antara lain :  1.  peningkatan  peran  serta  masyarakat.  dijabarkan  lebih  lanjut  dalam  berbagai  program  dan  kegiatan.  3.  pengembangan  sumber‐daya  manusia dan teknologi.    pengembangan  sistem  transportasi  daerah  yang  andal.  penataan  dan  penyempurnaan  lebih  lanjut  sistem  transportasi  daerah.  dan  udara  sesuai kebutuhan daerah.  pengembangan   transportasi  perkotaan.    meningkatnya    pelayanan    transportasi    darat.  sarana  dan  prasarana  transportasi  melalui  perluasan jalur dan trayek dan terminal angkutan darat.  untuk  mencapai  sasaran  PJMD.  perencanaan  pengembangan  transporasi  jalan  raya. terpadu dan efisien  VI-17 .  penyeberangan  dan  transportasi  antar  kota.  penyeberangan  dan  transportasi antar kota.    Kebijakan  tersebut  di  atas.    Dalam  rangka  pelaksanaan  secara  operasional  untuk  pencapaian  sasaran  sesuai  yang  telah  diarahkan.    pengembangan dan peningkatan jenis dan jalur transportasi perkotaan.  pengembangan  transporasi  jalan  raya. berkemampuan tinggi. antar daerah dan antar pulau.  berkemampuan  tinggi.  terpadu  dan  efisien  serta  mengacu  pada  pola  tata  ruang.  3.   penataan  dan  penyempurnaan  sistem  transportasi  daerah.  penyeberangan  laut.  kuantitas  transportasi  prasarana umum.  peningkatan  kualitas  pelayanan  sarana  dan  prasarana  transportasi pemabangunan dan rehabilitasi bandar dan pelabuhan. penyempurnaan dan optimalisasi sistem transportasi daerah. peningkatan peran serta  masyarakat.  antar  daerah  dan  antar  pulau.  pemabangunan dan rehabilitasi bandar dan pelabuhan.  penataan  dan  peningkatan  manajemen  transportasi.  pengembangan  sumberdaya manusia dan penguasaan teknologi.  dirumuskan  arah  masing  ‐ masing sasaran tersebut antara lain:   1.    peningkatan.   terwujudnya  Perencanaan  Pembangunan  yang  efektif  dan  Infrastruktur  yang  sesuai dengan tata ruang. pengembangan transporasi jalan raya.    Tabel 6‐5.     Sehubungan  dengan  itu.  sesuai dengan   sentra  ke sentra‐sentra  2) Pengembangan sistem transportasi daerah yang  pembangunan  ekonomi  ekonomi rakyat  andal.  pengembangan   transportasi  perkotaan.    pengembangan  sistem  transportasi  daerah  yang  andal.  2. antar  infrastruktur  ke sentra‐ serta transportasi  daerah dan antar pulau.  antar  daerah  dan antar pulau.   2.    peningkatan  kualitas  pelayanan.  peningkatan  kualitas  dan  kuantitas  sarana  transportasi  melalui  perluasan  jalur  dan  trayek  dan  terminal  angkutan  darat.  penye‐berangan dan transportasi antar kota.  peningkatan  kualitas  pelayanan  sarana  dan  prasarana  transportasi.  2. Arah dan Kebijakan Misi V Kabupaten Bangka Selatan  VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 5  :   Meningkatkan Infrastruktur yang Handal  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  1) Meningkatkan  1) Meningkatnya  1) Peningkatan  1) Penataan dan penyempurnaan sistem transportasi  kualitas dan  jaringan  sarana dan  daerah.  terpadu  dan  efisien  serta  mengacu  pada  pola  tata  ruang.

 pembangunan dan  terjaga.  pembangunan  rehabilitasi pelabuhan.  sesuai kebutuhan  3) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan.  rakyat. penyeberangan dan  infrastruktur  an yang efektif  yang efektif dan  transportasi antar kota.  peningkatan peran serta masyarakat.  sesuai kebutuhan  serta mengacu pada pola tata ruang.  kuantitas  pelayanan  peningkatan peran serta masyarakat.  transportasi perkotaan.  2) Melaksanakan  1) Terwujudnya  1) Perwujudan  1) Penataan dan penyempurnaan lebih lanjut sistem  perencanaan  Perencanaan  perencanaan  transportasi daerah. antar daerah dan antar  sesuai dengan  dan  infrastruktur  pulau.  pengembangan sumberdaya manusia dan  penguasaan teknologi. berkemampuan tinggi. peningkatan kualitas  kualitas dan  2) Peningkatan  pelayanan sarana dan prasarana transportasi.  2) Penyediaan lahan  3) Pengembangan transportasi perkotaan.  daerah.  penyebrangan  1) Peningkatan.  sumberdaya manusia dan teknologi.  4) Penyelesaian sengketa tanah terkait dengan  pembangunan infrastruktur. perencanaan pengembangan  pembangunan  Pembangun‐ pembangunan  transporasi jalan raya.  rencana tata  Infrastruktur  yang sesuai  2) Pengembangan sistem transportasi daerah yang  ruang sehingga  yang sesuai  dengan tata  andal. penyempurnaan dan optimalisasi  laut.  sarana dan prasarana transportasi melalui perluasan  jalur dan trayek dan terminal angkutan darat. peningkatan  alam dapat  untuk  kualitas pelayanan transportasi.    VI-18 .  transportasi darat. terpadu dan efisien  daya dukung  dengan tata  ruang.  dan kelestarian  ruang.exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ VISI   :   BANGKA SELATAN MAKMUR  MISI ­ 5  :   Meningkatkan Infrastruktur yang Handal  Tujuan  Sasaran  Strategi  Arah kebijakan  daerah. pengembangan   2) Meningkatnya  daerah. dan udara  sistem transportasi daerah.  infrastruktur.  serta mengacu pada pola tata ruang. penataan dan  peningkatan manajemen transportasi. pengembangan  infrastruktur.

.

 nasional dan internasional. meningkatkan infrastruktur yang handal.        VII-1  .  Ada  lima  tujuan  dalam  menjalankan  misi  meningkatkan  kualitas  sumber  daya  manusia. pemberdayaan ekonomi rakyat.1.1.  meningkatkan  pengendalian  kerusakan  dan  pelestarian  lingkungan  hidup. baik yang menyangkut aspek administrasi.1.1.  Hal  tersebut  dikarenakan  banyaknya  variabel  dan  indikator  yang  tidak  mampu  diprediksikan  sebelumnya  mengingat  begitu  cepatnya perubahan lingkungan internal maupun eksternal yang terjadi. menciptakan iklim usaha yang kondusif.  dan  meningkatkan  peran  kepemudaan  dan  keolahragaan  dalam  menunjang dan meraih prestasi di tingkat regional.  4.1. meningkatkan kualitas sumber daya manusia.    Dalam  menjalankan  rangkaian  misi  tersebut.  program  dan  kegiatan  indikatif  pembangunan  daerah Kabupaten Bangka Selatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :    7.    7.  3.  5.    Bupati  Bangka  Selatan  yang  telah  terpilih  pada  Pemilu  Kada  pada  tahun  2010  memiliki  visi  untuk mewujudkan “BANGKA SELATAN MAKMUR”    Misi yang ditetapkan untuk mewujudkan visi tersebut di atas adalah:  1.1 Kualitas Layanan Pendidikan  Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Bangka Selatan mempunyai peranan yang  sangat  penting  dalam  pengembangan  sumber  daya  manusia.  melalui  penyediaan  tenaga  ahli  dan  terampil  yang  mempunyai  kemampuan  ilmu  pengetahuan  dan  keterampilan  baku.  Meningkatkan Etos Kerja dan Kualitas Pelayanan Pendidikan   7.  2.  sehingga  dapat  melakukan  adaptasi  sesuai  dengan  tuntutan  dan  kondisi la‐pangan kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  yaitu  meningkatkan  etos  kerja  dan  kualitas  pelayanan  pendidikan.  meningkatkan  derajat    kesehatan  jasmani  dan  rohani. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH   Otonomi daerah memberikan kewenangan yang lebih luas kepada pemerintah daerah dalam  mengelola sumber daya daerah. Meningkatkan Kualitas Sumber daya Manusia. menciptakan  aparatur yang bersih dan berwibawa. Untuk mewujudkan hal tersebut disusun suatu bentuk perencanaan program dan  kegiatan  yang  terintegrasi  antar  fungsi  yang  berkesinambungan  dan  berkelanjutan  melalui  penyusunan  program  yang  didasarkan  atas  fungsi  pemerintahan  yang  diwujudkan  dalam  bentuk  program  dan  kegiatan  yang  bersifat  indikatif.  meningkatkan  kesejahteraan  sosial  masyarakat. institusi maupun  keuangan.

  Walaupun  guru  dan  pengajar  bukan  satu‐satunya  faktor  penentu  keberhasilan  pen‐didikan  tetapi  pengajaran  merupakan  titik  sentral  pendidikan  dan  kualifikasi merupakan cerminan kualitas.    Dalam penyelenggaran fasilitas pendidikan di Kabupaten Bangka Selatan baik sekolah  negeri maupun swasta tercatat untuk jenjang pendidikan dasar (SD/MI) sebanyak 88  unit. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Angka  Partisipasi  kasar  (APK)  dan  Angka  Partisipasi  Murni  (APM)  pada  masing‐ masing  jenjang  pendidikan. 61.47%.71%.91%.  tanggungjawab dan toleransi) dan menyenangkan bagi anak sebesar 100%.  rendahnya  kesejahteraan  guru  dan  kekurangan  tenaga  kependidikan  yang  professional  dan  sesuai  dengan  bidang  tugasnya.     a. terbatasnya sarana dan prasarana  pendidikan. sehingga tenaga pengajar memberikan andil  sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.  penerapan  kurikulum yang terlalu padat. output  serta  proses  pembelajaran.  3.  2.    Permasalahan sub fungsi pendidikan usia dini adalah :  1.  Sedangkan  APM  untuk tingkat SD/MI sebesar 88. terwujudnya  penyeragaman  model  pembelajaran  pendidikan  pra  sekolah  (PAUD)  formal  yang  membangun  karakter  (kejujuran.29% dan SMU/SMK /MA sebesar  31. Oleh karena  itu  diperlukan  kebijakan  dan  strategi  pemerataan  pendidikan  yang  tepat  untuk  mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut. beragamnya  model  dan  bentuk  pembelajaran  pendidikan  usia  dini  yang  cenderung membingungkan masyarakat.  Jumlah  lembaga  pendidikan  pra  sekolah  di  Bangka  Selatan  pada  tahun  2010  sebanyak  20  buah  (sumber: Bangka Selatan Dalam Angka Tahun 2010). SLTP/MTs.  kepedulian.  SLTP/MTs  sebesar  91.  hal  ini  terlihat  pada  rasio  hasil  ujian  akhir.04%. tingginya kesenjangan fasilitas yang ditawarkan. belum adanya standar baku pengelolaan pendidikan usia dini.  SLTP  sebanyak  28  unit.  Disamping  itu  yang  masih  sangat terbatas adalah pelayanan pendidikan bagi anak usia dini.  ruang  kelas.  Dari  data  tersebut  menunjukkan  bahwa  fasilitas  pendidikan  masih  sangat  kurang  terutama  pada  jenjang  sekolah  menengah  umum  dan  kejuruan. mewujudkan  ketersediaan  dan  keterjangkauan  layanan  Pendidikan  Anak  Usia  Dini (PAUD) yang berkualitas 50%  VII-2   .  dan  SMU/SMK/MA  sebesar  49.  Padahal rendahnya  pelayanan  pendidikan  dalam  usia  dini  nantinya  akan  mempengaruhi  dan  menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan.  2.    Sasaran pembangunan sub fungsi pendidikan usia dini adalah :  1. Pendidikan Anak Usia Dini  Pendidikan  pra  sekolah  dibagi  menjadi  dua  kategori  yakni  pendidikan  non  formal  (play  group)  dan  pendidikan  formal  (Taman  Kanak‐kanak).  APK  pada  tahun  2009  untuk  SD/MI  sebesar  103.29%.    Fenomena  yang  terjadi  dalam  dunia  pendidikan  adalah  rendahnya  tingkat  relevansi  pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.  dan  menengah  umum/kejuruan  15  unit. seperti  banyak  gedung  sekolah  yang  rusak.  4.     Kualitas pendidikan yang relatif masih rendah sangat berkaitan dengan input. belum  tersedia  dan  terjangkaunya  layanan  Pendidikan  Anak  Usia  Dini  (PAUD)  yang berkualitas.

    Program indikatif sub fungsi pendidikan usia dini adalah :  1. Pendidikan dasar   Pendidikan  menengah  terdiri  dari  SD/MI  dan  SMP/MTs.    Sasaran Pembangunan sub fungsi pendidikan dasar adalah :  1. meningkatkan pengelolaan dan kemandirian institusi pendidikan 100%.    c.     Permasalahan sub fungsi pendidikan menengah adalah :  1. belum  tersedia  dan  terjangkaunya  layanan  pendidikan  menengah  yang  berkualitas.    b.  dan  peningkatan  penyelenggaraan  pendidikan  melalui  mana‐ jemen terpadu.  3.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  ini  ditujukan  pada  pemberian  hak  dasar  pelayanan  pendidikan  yang  bermutu. pendidikan anak usia dini.  peningkatan  kualitas  pendidikan. belum optimalnya manajemen dan kemandirian institusi pendidikan.  2.      Permasalahan sub fungsi pendidikan dasar adalah :  1. pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan. kurangnya  sarana  dan  prasarana  pendidikan  baik  secara  kuantitas  maupun  kualitas. mewujudkan  ketersediaan  dan  keterjangkauan  layanan  pendidikan  dasar  yang  berkualitas 100%. peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. meningkatkan  sarana‐prasarana  sekolah  sesuai  Standar  Pelayanan  Minimal  (SPM) 100%.  3.  3.  2.  3.    Program Indikatif sub fungsi pendidikan dasar adalah :  1. belum tersedia dan terjangkaunya layanan pendidikan dasar (wajar dikdas) yang  berkualitas. Pendidikan Menengah   Pendidikan  menengah  terdiri  dari  SMA/MA/SMK. manajemen pelayanan pendidikan.  melalui  pendidikan  wajar  sembilan  tahun.  5. manajemen pelayanan pendidikan.  Jumlah  SMA/MA/SMK  sampai  dengan tahun 2009 sebanyak 15 buah. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Arah kebijakan sub fungsi ini ditujukan untuk memberikan kesempatan yang seluas‐ luasnya  kepada  penduduk  Bangka  Selatan  usia  di  bawah  enam  tahun  untuk  mengembangkan bakat dan pembinaan mental.  2.      VII-3  . terbatasnya  sarana  dan  prasarana  pendidikan  baik  secara  kuantitas  maupun  kualitas.  Jumlah  SD/MI  sampai  dengan  tahun  2009  sebanyak  88  buah  sedangkan  jumlah  SMP/MTs  sampai  dengan  tahun 2009 sebanyak 28 buah.  2. lemahnya pengelolaan pendidikan menengah. peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. pendidikan Luar Biasa.  2.  4. wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.  3.

  melalui  pengembangan  model‐model  pendidikan  luar  sekolah yang efektif. penyelenggaraan  pendidikan  luar  sekolah  masih  belum  sesuai  dengan  harapan  karena terbatasnya sarana dan prasarana. pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan. meningkatkan  kualitas  pendidikan  luar  sekolah  sesuai  dengan  kebutuhan  pengguna 60%. peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. meningkatkan  kualitas  pendidikan  yang  sesuai  dengan  Standar  Pelayanan  Minimal (SPM) 90%.  3.  3. optimalnya manajemen pengelolaan pendidikan menengah 90%.  5.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  ini  diarahkan  pada  upaya  peningkatan  kualitas  sumber  daya manusia. kurangnya relevansi pendidikan formal dan non formal dengan pasar kerja .  dan kursus‐kursus. memberikan  pengetahuan  dasar  dan  keterampilan  berusaha  secara  profesional  60%.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  ini  diarahkan  pada  upaya  peningkatan  kemampuan  dan  keterampilan  tenaga  kerja. belum  adanya  standar  kualitas  yang  sama  dari  masing‐masing  lembaga  penyelenggaraan pendidikan luar sekolah.    d.  3. agar mampu bersaing dalam era globalisasi.    VII-4   . terpenuhinya  sarana  prasarana  sekolah  yang  sesuai  dengan  Standar  Pelayanan  Minimal (SPM) 90%. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   4.    Sasaran pembangunan sub fungsi pendidikan luar sekolah adalah :  1. Pendidikan Luar Sekolah  Pendidikan  Luar  Sekolah  mempunyai  peranan  yang  cukup  strategis  dalam  meningkatkan  kualitas  sumber  daya  manusia  khususnya  kemampuan  teknis  dan  keterampilan.  5.  3. meningkatnya  kualitas  pendidikan  menengah  kejuruan  yang  sesuai  dengan  kebutuhan pasar tenaga kerja 50%.  4.  4. memperluas  jangkauan  dan  kesempatan  bagi  anak  usia  sekolah  untuk  melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan menengah terutama bagi masyarakat  miskin dan terpencil 65%.  2. pendidikan luar biasa.  2.    Program indikatif sub fungsi pendidikan menengah adalah :  1.    Permasalahan sub fungsi pendidikan luar sekolah adalah :  1.  2. menyediakan  pelayanan  pendidikan  alternatif  bagi  yang  tidak  tahu/belum  memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan formal 60%. Ppendidikan menengah. manajemen pelayanan pendidikan.  2.    Sasaran Pembangunan sub fungsi pendidikan menengah adalah:  1.  lembaga  pendidikan  non  formal  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  terdiri  dari pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). rendahnya  perhatian  dan  keinginan  masyarakat  terhadap  pendidikan  luar  sekolah.

Kepustakaan  Sebagai  urusan  wajib. terbatasnya sarana dan prasarana.1. efisien serta tepat sasaran. meningkatnya jumlah dan kualitas tenaga arsiparis sebesar 20%. 100%    Arah  Kebijakan.  pembangunan  bidang  perpustakaan  bertujuan  mewujudkan  minat  dan  budaya  baca  masyarakat. manajemen pelayanan pendidikan.  Meningkatnya akses data dan informasi oleh masyarakat  7. meningkatnya jumlah sarana prasarana sebesar 20%  3. peningkatan sarana/prasarana aparatur perpustakaan.    Sasaran:  1. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Program indikatif sub fungsi pendidikan luar sekolah adalah :  1.  Sub  fungsi  ini  diarahkan  pada  upaya  pemberdayaan  kelembagaan.1. Kearsipan  Dalam  bidang  kearsipan  bertujuan  meningkatkan  peran  dan  fungsi  arsip  sebagai  bukti autentik pelaksana pembangunan. rendahnya minat menjadi pegawai arsiparis. meningkatnya sarana dan prasarana sebesar 30%.2.  2.     Permasalahan sub fungsi kepustakaan adalah:  1. harga buku yang cukup mahal    Sasaran:  1. program Pendidikan Non formal.  2.  3. pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan. meningkatkan peranan dan fungsi perpustakaan dan  meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  Sumber  Daya  Manusia  (SDM)  dibidang  perpustakaan  dan  arsip.  3. peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.2.    Program indikatif sub fungsi kepustakaan adalah:   1.  2.1.    b.  2.  menciptakan  tenaga fungsional perpustakaan. bertambahnya jumlah petugas pengelola perpustakaan sebanyak 10%  2.    7. masih kurangnya tenaga arsiparis.      VII-5  .  guna  meningkatnya  akses  data  dan  informasi  oleh  masyarakat. pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan. mendirikan perpustakaan elektronik. efektif.  2.  sehingga  masyarakat  akan  cerdas  dibidangnya  masing‐masing untuk dapat berkiprah dalam pembangunan.  4.1.    Permasalahan sub fungsi kearsipan adalah:  1.1. kurangnya sarana prasarana  3. kurangnya petugas yang dapat melaksanakan pengelolaan perpustakaan.    a.  antara  lain  meningkatkan  pengelolaan  dan  pelayanan  perpustakaan.  Kepustakaan dan Kearsipan  Pembangunan  bidang  Perpustakaan  dan  Kearsipan  merupakan  bagian  integral  dari  pembangunan  nasional  perlu  dilakukan  secara  terencana  dan  terpadu  agar  dapat di‐lakukan secara optimal.

  Penyakit  menular  masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Bangka Selatan hal ini disebabkan  masih  ditemukannya  beberapa  kasus  penyakit  menular  dan  bahkan  mengalami  peningkatan  jumlahnya  dari  tahun  ke  tahun. meningkatnya jumlah tenaga pelaksana dan operator sistem jaringan teknologi  komunikasi dan informasi sebesar 20%.    Permasalahan sub fungsi komunikasi dan informasi adalah:  1.    Program indikatif sub fungsi komunikasi dan informasi adalah:  1.     Sasaran:  1.  Dalam  pelaksanaan  pembangunan  kesehatan  dibutuhkan  perubahan  dari  paradigma  sakit  ke  paradigma  sehat. meningkatnya jumlah media informasi sebesar 20%.  2.  sejalan  dengan  visi  Indonesia  Sehat  2010.1.2.  4.  Adapun  beberapa  penyakit  menular  tersebut  diantaranya  jumlah  penderita  malaria.   Meningkatkan Derajat Kesehatan Jasmani dan Rohani  7.  4. Informasi dan Media Massa.    Program indikatif sub fungsi kepustakaan adalah:  1. Komunikasi dan Informasi  Dalam  bidang  komunikasi  dan  informasi  bertujuan  meningkatkan  akses  data  dan  informasi untuk masyarakat melalui penerapan teknologi informasi dalam pelayanan  publik.  ISPA  dan  TBC.  Pelayanan Kesehatan Masyarakat  Kesehatan  merupakan  investasi  untuk  mendukung  pembangunan  ekonomi  serta  memiliki  peran  penting  dalam  upaya  penanggulangan  kemiskinan.  3.  meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  sumberdaya  manusia  (SDM)  dibidang kearsipan.1.    c.    Arah  Kebijakan  sub  fungsi  ini  diarahkan  pada  upaya  peningkatan  jumlah  media  informasi. peningkatan kualitas pelayanan informasi. baik media cetak maupun elektronik. Pprogram Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi.1. guna meningkatnya akses data dan informasi oleh masyarakat.  Beberapa  jenis  VII-6   .  3.  2. meningkatnya minat menjadi pegawai arsiparis sebesar 20%.  3. Pprogram Kerjasama Informasi dengan Mass Media.    Arah  Kebijakan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3. penyelamatan dan pelestarian dokumen/arsip daerah. pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana kearsipan.2.  dan  meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas sumber daya manusia (SDM) dibidang teknologi komunikasi dan informasi.  meningkatkan  peranan  dan  fungsi  arsip.  penyediaan data dan informasi yang  up  to  date  melalui  website  Pemkab  Bangka  Selatan.     7.  antara  lain  menciptakan  tenaga  fungsional  kearsipan. terbatasnya sarana dan prasarana komunikasi dan informasi.  Sub  fungsi  ini  diarahkan  pada  upaya  pemberdayaan  kelembagaan. perbaikan sistem administrasi kearsipan. masih  kurangnya  tenaga  ahli  dalam  pembangunan  dan  pengembangan  sistem  informasi. meningkatnya sarana dan prasarana sebesar 30%.  2. program Pengembangan Komunikasi. program Pengkajian dan Penelitian Bidang Informasi dan Komunikasi.  2.

  11. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   penyakit  tidak  menular. kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan. sumberdaya kesehatan dan potensi daerah belum optimal  diberdayakan.      Pemerintah  mengadakan  berbagai  upaya  penyuluhan. menurunnya angka kematian bayi 10/1000 kelahiran hidup. pengembangan lingkungan sehat.  peningkatan  dan  perbaikan  sarana  dan  prasarana  Puskesmas/  Puskesmas Pembantu dan jaringannya.  3.  perawat  dan  analis  kesehatan)  serta  terbinanya  sarana  pengobatan  tradisional  sebagai  warisan  budaya  yang  secara  medis  dapat  dipertanggungjawabkan.  mempertinggi  kesadaran  masyarakat  akan  pentingnya  hidup  sehat.  6. belum optimalnya mutu kesehatan. obat dan perbekalan kesehatan.  7. peningkatan pelayanan kesehatan anak dan balita. pengadaan. mempertahankan umur harapan hidup diatas 70 tahun.  menambah  tenaga  kesehatan  (dokter. pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan sebesar 20%. aman dan efektif sesuai dengan  kebutuhan masyarakat 20%.  3. promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.  4.  bidan.  5.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  ini  diarahkan  pada  peningkatan  derajat  kesehatan  masyarakat  melalui  upaya  melengkapi  sarana  dan  prasarana  kesehatan. standarisasi Pelayanan Kesehatan. upaya kesehatan masyarakat. terbatasnya sarana dan prasarana kesehatan. pengembangan Obat Asli Indonesia.  13.  5.  12. terbatasnya pembiayaan kesehatan. pengadaan.  seperti  Muntaber.  2.  2.  3.  Hipertensi  dan  Stroke  mengalami  peningkatan. meningkatnya pengawasan obat dan makanan sebesar 20%.  7. pelayanan kesehatan penduduk miskin.  DBD.  4. kurangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan  4.  10. pengawasan Obat dan Makanan.  gerakan  kebersihan  dan  hidup  sehat  serta  pemberian  vaksin  dalam  rangka  memperbaiki  perilaku  masyarakat terkait dengan penyakit menular maupun tidak menular. meningkatnya ketersediaan obat yang bermutu. terjadinya perubahan penyakit karena transisi demografi dan epidemiologi serta  adanya new emerging disease.      VII-7  .    Permasalahan sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat adalah :  1.  9.  5.  8.    Sasaran sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat adalah :  1.    Program indikatif sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat adalah:  1.  6. menurunnya status gizi buruk sebesar 15%. menurunnya angka kematian ibu sebesar 10/100. peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/  rumah sakit paru‐paru/rumah sakit mata.  2. perbaikan gizi masyarakat.  14.000 kelahiran hidup.  6.

    Program indikatif bagi fungsi kesejahteraan sosial:  1.  meningkatkan  pelayanan  bagi  korban  bencana  alam  dan  sosial.  2. pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial.  3.  meningkatkan  prakarsa  dan  peran  aktif  masyarakat  termasuk  masyarakat  mampu.  5.  4.  Kesejahteraan Sosial Masyarakat  Kesejahteraan  sosial  merupakan  hal‐hal  yang  berkaitan  dengan  ketelantaran  baik  anak  maupun  orang  lanjut  usia.    Arah  Kebijakan  sub  fungsi  ini  diarahkan  untuk  meningkatkan  kualitas  pelayanan  dan  bantuan  dasar  kesejahteraan  sosial  bagi  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  serta  mengembangkan  kepedulian  dan  peran  serta  masyarakat. peningkatan pelayanan kesehatan lansia.  2.1.  penderita  cacat. hal ini dipacu dengan semakin sulitnya masyarakat memenuhi kebutuhan  hidup. pembinaan anak terlantar.  5.  3. meningkatnya cakupan penanganan penduduk miskin sebesar 10%. meningkatnya jumlah penduduk miskin. pembinaan panti asuhan/panti jompo. organisasi sosial. pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan. belum optimalnya penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   15. peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak.  meningkatkan  kualitas  manajemen  pelayanan  kesejahteraan  sosial  dalam  mendayagunakan  sumber‐ sumber  kesejahteraan  social.  16.  dunia  usaha  dan  orsos/LSM  dalam  penyelenggaraan  pembangunan ke‐sejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan.1.1.3.  4. pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial.  2. meningkatnya  cakupan  penanganan  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  20%.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  pembangunan  sub  fungsi  kesejahteraan  sosial  adalah :  1. belum efektifnya penanganan pasca bencana. berkembangnya  hubungan  kerjasama  antar  lembaga  sosial  masyarakat  dan  pemerintah 50%.3. peningkatan  kecepatan  upaya  penanggulangan  dampak  bencana  (meminimalisasi resiko akibat bencana) 100%.  korban  bencana  alam  dan  penyandang  masalah  sosial. LSM.  mengembangkan dan menyerasikan kebijakan untuk penanganan masalah‐masalah  strategis  yang  menyangkut  masalah  kesejahteraan  sosial.  VII-8   . lembaga perlindungan sosial masyarakat dan dunia  usaha  dalam  rangka  mencegah  dan  menanggulangi  masalah  sosial    dari  keseluruhan masalah sosial 25%.    Berbagai  upaya  penanganan  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  telah  dilakukan  akan  tetapi  belum  menunjukkan  hasil  yang  signifikan.  3.  17.    7.  Peningkatan Kesejahteraan Sosial   7. pembinaan para penyandang cacat dan trauma. meningkatnya  pemberdayaan  potensi  sosial  masyarakat  yang  meliputi  relawan  sosial.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi kesejahteraan sosial adalah   1.

peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan.  8. psk.2. rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan. peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi ini adalah :  1. program Pelayanan Sosial.  masyarakat  dan  negara  masih  bersifat  diskriminatif.  narkoba dan  penyakit sosial lainnya). kurang  dipahaminya  konsep  kesetaraan  dan  keadilan  gender  dikalangan  masyarakat. program Bina Organisasi. meningkatkan pengarusutamaan gender sebesar lima persen.664 Jiwa. pembinaan eks penyandang penyakit sosial (eks narapidana.  dengan  anggapan  bahwa  masalah  tersebut adalah masalah domestik keluarga yang tidak perlu diketahui orang lain.    7.  10.  Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak  Jumlah  penduduk  Kabupaten  Bangka  Selatan  tahun  2009  sebanyak  163. penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak.   3.  4.536 jiwa. penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender atau anak. penduduk perempuan 78.200  jiwa.  2.  Jumlah  penduduk  wanita  tidak  jauh  dari  pada  jumlah  penduduk  laki‐laki.  Hal  ini  jelas  dapat  dilihat  dari  keluarga  miskin.  7.  yang terdiri dari penduduk laki‐laki 84.  9.  4.    Fenomena  yang  terjadi  banyak  kasus  kekerasan  dan  eksploitasi  terhadap  perempuan  dan  anak  yang  tidak  dilaporkan.  dimana  beban  kerja  perempuan    lebih  berat  kare‐na  mereka  harus  melakukan  pekerjaan  ganda. lemahnya  kelembagaan  dan  jaringan  pengarusutamaan  gender  dan  anak. pemberdayaan  fakir  miskin. meningkatnya  upaya  perlindungan  terhadap  tindak  kekerasaan  terhadap  perempuan dan anak sebesar 20%.3. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   6. peningkatan kualitas SDM perempuan dan kesetaraan gender. keserasian kebijakan peningkatan kualitas anak dan perempuan.1.  komunitas  adat  terpencil  (KAT)  dan  penyandang  masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya.  2.    Sasaran  pembangunan  yang  hendak  dicapai  dalam  rangka  peningkatan  kualitas  kehidupan dan peran serta perempuan.    Program  indikatif  sub  fungsi  pemberdayaan  perempuan  dan  perlindungan  anak  adalah :  1.  yaitu  melakukan  pekerjaan  reproduktif  dan  rumah  tangga  sekaligus  dibebani  beberapa  pekerjaan upahan.  2. serta kesejahteraan dan perlindungan anak  adalah :  1.  3.  termasuk ketersediaan data dan rendahnya partisipasi masyarakat. terjadinya peningkatan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.  5.  5. program Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba.     Arah  kebijakan  pembangunan  sub  fungsi  pemberdayaan  perempuan  dan  perlindungan  anak  dititik‐beratkan  untuk  meningkatkan  perlindungan  perempuan  dan anak. rendahnya perlindungan hak‐hak perempuan dan anak.        VII-9  .  namun  posisi  perempuan  dalam  keluarga.

1.  8.  7.3. promosi  kesehatan  ibu.  6.1. mempertahankan jumlah PUS menurut umur istri dibawah usia 20 tahun  c.  menuntut  adanya  komitmen  yang  tinggi  dari  pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  tentang  arti  penting  pelaksanaan  program  KB  bagi  keberhasilan  pembangunan.  5.  Indikator  ini  menunjukkan  suatu  ukuran  dari  keberhasilan dalam upaya pengendalian kelahiran .    Arah  Kebijakan  sub  fungsi  keluarga  berencana  adalah  pada  upaya  pengendalian  kelahiran  melalui  kesadaran  masyarakat  dalam  ber‐KB.  d. pengembangan pusat pelayanan informasi dan konseling KRR.1. peningkatan penanggulangan narkoba.  4.    Sasaran sub fungsi keluarga berencana adalah :  a. pembinaan peran serta masyarakat dalam pelayanan KB/KR yang mandiri.4. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   7.  rata‐rata  kelahiran  total  selama  tahun  2009  dibawah  angka  2  (total  fertility  rate). PMS termasuk HIV/AIDS. pengembangan  bahan  informasi  tentang  pengasuhan  dan  pembinaan  tumbuh  kembang anak. melembaganya  IMP  (Institusi  Masyarakat  Perkotaan)  dan  jejaring  KB  sampai  tingkat basis yaitu POS Pembantu KB Desa Mandiri dan kelompok KB Mandiri.  b.  meningkatkan  kualitas  kesehatan  reproduksi  remaja  serta  pendewasaan  usia  perkawinan.  meningkatkan  pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam upaya peningkatan kualitas keluarga  dan  memperkuat  kelembagaan  dan  jaring  KB  dalam  upaya  pembudayaan  keluarga  kecil berkualitas.  Keluarga Berencana  Penyerahan kewenangan bidang KB kepada Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan  sesuai dengan Keppres Nomor 103/2001. mempertahankan TFR dibawah 2 melalui pencapaian peserta KB aktif minimal  dari total PUS. terbinanya KB (Bina Keluarga Berencana).1. yang kemudian diubah menjadi Keppres  nomor  9  Tahun  2004. masih  tingginya  jumlah  keluarga  pra  sejahtera  dan  lemahnya  ketahanan  keluarga. pengembangan model operasional BKB ‐ Posyandu PADU. kesehatan reproduksi remaja.  2.  bayi  dan  anak  melalui  kelompok  kegiatan  di  masyarakat.  3.4. pelayanan kontrasepsi.3.  3.  10.   Peningkatan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup  7. masih lemahnya kualitas institusi masyarakat dan jejaring KB ditingkat basis. keluarga berencana.    7.  2.  9.  Permasalahan sub fungsi keluarga berencana adalah :  1. penyiapan tenaga pendamping kelompok bina keluarga. kurangnya  pengetahuan  dan  kesadaran  sebagian  masyarakat  dan  remaja  tentang hak‐hak reproduksi dan kesehatan penduduk.  Pembangunan  yang  tidak  memperhatikan  daya  lingkungan  dapat  mengakibatkan  VII-10   . kurangnya  pemerataan  pelayanan  KB  dan  ketersediaan  alat  kontrasepsi  yang  diminati masyarakat.  Perlindungan Lingkungan Hidup  Paradigma  pembangunan  diarahkan  pada  pembangunan  berkelanjutan.    Program indikatif sub fungsi keluarga berencana adalah :  1.  4.

  Dampak  kerusakan  lingkungan  yang  terjadi  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  akibat  pembangunan  yang  tidak  terkendali  adalah  terjadi‐nya  banjir  dan  ROB.1. keolahragaan dan aktivitas positif lainnya. nasional dan internasional. kurangnya pembinaan terhadap organisasi kepemudaan.      VII-11  .  2.5. terselenggaranya  kegiatan  pembangunan  yang  memperhatikan  daya  dukung  lahan yang serasi dan berkelanjutan sebesar 100%.1. lemahnya penegakan hukum terhadap kerusakan lingkungan.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi kepemudaan dan olah raga adalah:  1. rusaknya lingkungan akibat penggalian/penambangan liar. perlindungan dan konservasi sumber daya alam. meningkatnya peran kepemudaan dan olah raga dalam menunjang prestasi dan  meraih prestasi di tingkat regional. bermoral.  2. meningkatnya sarana dan prasarana olahraga. meningkatnya  minat  pemuda  terhadap  aktivitas  kepemudaan  bidang  pendidikan.  keolahragaan dan aktivitas positif lainnya.  6.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan fungsi kepemudaan dan olah raga  adalah:  1.  7. program peningkatan kualitas dan akses informasi SDA dan LH.  4. masih terjadinya dampak negatif akibat pembangunan yang tidak teratur.    Permasalahan  yang  dihadapi  dalam  sub  fungsi  perlindungan  lingkungan  hidup  adalah :  1.  4.    Kebijakan  pembangunan  sub  fungsi  perlindungan  lingkungan  hidup  diarahkan  bagi  tercapainya  kualitas  lingkungan  hidup  yang  berkelanjutan  melalui  penegakan  hukum secara konsisten.  3. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   terganggunya  keseimbangan  ekosistem  dan  tata  ruang  kota. regenerasi atlit olahraga yang masih kurang.1.  3.  Kepemudaan dan Keolahragaan  Pembangunan  pemuda  merupakan  suatu  keniscayaan  agar  diperoleh  penerus  bangsa yang tangguh. cerdas.   Peningkatan Peran Kepemudaan dan Keolahragaan dalam Menunjang  Prestasi dan Meraih Prestasi di Tingkat Regional. penebangan hutan liar dan perkebunan yang berpindah‐pindah. kurang lestarinya lingkungan pantai.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan fungsi lingkungan hidup adalah:  1.  3.    Program indikatif sub fungsi lingkungan hidup adalah :  1.  3.  5. Nasional dan Internasional.  2. pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.    7. meningkatnya kualitas lingkungan hidup kota sebesar 10%. kurangnya  minat  pemuda  terhadap  aktivitas  kepemudaan  bidang  pendidikan. rehabilitasi dan pemulihan cadangan sumber daya alam.  2.  2.  pencemaran  lingkungan  permukiman akibat penambangan liar.5. meningkatnya  polusi  udara  dan  pencemaran  air  akibat  limbah  penambangan  liar. dengan kreativitas tinggi.  4. lemahnya database system informasi lingkungan. sarana dan prasarana olahraga dan kepemudaan yang terbatas.

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

 
Kebijakan  pembangunan  sub  fungsi  kepemudaan  dan  olahraga  diarahkan  bagi 
tercapainya kualitas pemuda yang tangguh, cerdas dan bermoral dengan kreativitas 
tinggi. 
 
Program indikatif sub fungsi kepemudaan dan keolahragaan adalah : 
1. peningkatan peran serta kepemudaan; 
2. peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda; 
3. pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga; 
4. pembinaan dan pemasyarakatan olahraga; 
5. peningkatan sarana dan prasarana olahraga. 
 
 
7.2. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat  
7.2.1.  Pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya alam untuk peningkatan 
kesejahteraan masyarakat. 
Misi kedua dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Bangka Selatan adalah 
pemberdayaan  ekonomi  rakyat  yang  bertujuan  mengoptimalkan  pengelolaan  dan 
pemanfaatan  potensi  sumber  daya  alam  untuk  peningkatan  kesejahteraan 
masyarakat,  mendorong  Pemberdayaan  kemampuan  keuangan  daerah  melalui 
peningkatan  penerimaan  dan  pengelolaan  keuangan  daerah  dan  peningkatan  daya 
saing daerah. 
 
Pembangunan  yang  dilaksanakan  di  daerah  secara  umum  ditujukan  untuk 
meningkatkan  taraf  hidup  dan  kesejahteraan  masyarakat.  Salah  satu  indikator 
peningkatan  taraf  hidup  dan  kesejahteraan  masyarakat  ditunjukkan  oleh  Produk 
Domestik Regional Bruto (PDRB). 
 
Selama  2005‐2009,  PDRB  Kabupaten  Bangka  Selatan  ADHB  dan  ADHK  mengalami 
trend positif (cenderung meningkat) setiap tahun. Hal tersebut bisa dilihat pada gam‐
bar 7.1 PDRB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 dibawah ini.  
 
Gambar 7.1. PDRB Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005‐2009 

Dalam Triliun Rupiah

2,30 2,43
1,92
1,71
1,51
1,04 1,09 1,13
0,95 0,99

2005 2006 2007 2008 2009

PDRB ADHB PDRB ADHK
 
 

VII-12  

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

Tahun  2005,  sembilan  sektor  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  mampu  menciptakan 
PDRB  ADHK  sebesar  952,6  milyar  rupiah  dan  terus  meningkat  hingga  sebesar  1,13 
triliun rupiah di tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa selama 5 tahun terakhir 
telah terjadi peningkatan produktivitas (output) agregat sektor ekonomi yang ada di 
Kabupaten Bangka Selatan. 
 
Pertumbuhan  ekonomi  disamping  dapat  berdampak  pada  peningkatan  pendapat‐an 
perkapita  pada  akhirnya  juga  akan  berpengaruh  pada  pendapatan  daerah.  Semakin 
mampu menggali potensi ekonomi yang ada, akan semakin besar PDRB dan PAD‐nya. 
 
a. Ketahanan pangan 
Berdasarkan definisi ketahanan pangan dari FAO (1996) dan UU RI No. 7 Tahun 1996, 
yang  mengadopsi  definisi  dari  FAO,  ada  4  komponen  yang  harus  dipenuhi  untuk 
mencapai kondisi ketahanan pangan, yaitu: 
1. kecukupan ketersediaan pangan; 
2. stabilitas  ketersediaan  pangan  tanpa  fluktuasi  dari  musim  ke  musim  atau  dari 
tahun ke tahun; 
3. aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan; 
4. kualitas/keamanan pangan. 
Keempat  indikator  ini  merupakan  indikator  utama  untuk  mendapatkan  indeks 
ketahanan  pangan.  Ukuran  ketahanan  pangan  dihitung  bertahap  dengan  cara 
menggabungkan  keempat  komponen  indikator  ketahanan  pangan  tersebut,  untuk 
mendapatkan satu indeks ketahanan pangan. 
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari sub sistem ketersediaan, 
distribusi,  dan  konsumsi.  Sub  sistem  ketersediaan  pangan  berfungsi  menjamin 
pasokan  pangan  untuk  memenuhi  kebutuhan  seluruh  penduduk,  baik  dari  segi 
kuantitas,  kualitas,  keragaman  dan  keamanannya.  Subsistem  distribusi  berfungsi 
mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh 
rumah  tangga  dapat  memperoleh  pangan  dalam  jumlah  dan  kualitas  yang  cukup 
sepanjang  waktu  dengan  harga  yang  terjangkau.  Sedangkan  sub  sistem  konsumsi 
berfungsi  mengarahkan  agar  pola  pemanfaatan  pangan  secara  nasional  meme‐nuhi 
kaidah  mutu,  keragaman,  kandungan  gizi,  kemananan  dan  kehalalannya.  Situasi 
ketahanan  pangan  suatu  daerah  ditunjukkan  antara  lain  oleh:  a.  jumlah  penduduk 
rawan pangan (tingkat konsumsi < 90% dari rekomendasi 2.000 kkal/ kap/hari), dan 
b. anak‐anak balita kurang gizi. 
Ketahanan  pangan  merupakan  tantangan  yang  perlu  mendapatkan  prioritas  untuk 
mencapai  kesejahteraan  masyarakat.  Upaya  mewujudkan  ketahanan  pangan  suatu 
daerah hendaknya bertumpu pada sumber daya pangan lokal yang tersedia didaerah 
tersebut. 
 
Permasalahan pada sub fungsi ketahanan pangan adalah: 
1. ketidaksesuaian antara jumlah kebutuhan pangan serta jumlah pangan yang 
dapat disediakan oleh internal Kabupaten Bangka Selatan; 
2. ketergantungan akan suplai pangan dari luar Kabupaten Bangka Selatan; 
3. rendahnya kemampuan masyarakat dalam proses pengolahan hasil pertanian; 
4. Keterbatasan sarana dan prasarana terkait penyediaan pangan masyarakat. 
 
Sasaran yang akan dicapai pada tahun 2015 sub fungsi ini adalah: 
1. meningkatnya jumlah stok sembilan bahan pokok pangan 50%; 
2. meningkatnya produksi pertanian tanaman pangan dan peternakan 100%; 

    VII-13 

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

3. meningkatnya jumlah SDM penyuluh pertanian/peternakan 50%; 
4. meningkatnya penerapan pertanian terpadu (tanaman pangan dan ternak); 
5. meningkatnya pengembangan dan penerapan teknologi pertanian. 
 
Program indikatif untuk pencapaian sasaran di atas adalah: 
1. peningkatan kesejahteraan petani; 
2. peningkatan Ketahanan Pangan; 
3. program Pembinaan Kelompok Tani dan Nelayan. 
 
b. Pertanian dan Peternakan 
Dalam melaksanakan sub fungsi pertanian dan peternakan dibagi ke dalam beberapa 
bidang  yaitu  bidang  pertanian  tanaman  pangan,  bidang  peternakan,  dan  bidang 
perkebunan. 
Dilihat dari sub sektor pendukungnya, kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan 
(tabama),  dan  sub  sektor  peternakan  merupakan  tiga  sub  sektor  yang  memiliki 
kontribusi  yang  besar  (terbesar  kedua,  ketiga,  dan  kelima  setelah  sub  sektor 
pertambangan tanpa migas) dan menjadi mayoritas pekerjaan penduduk Kabupaten 
Bangka Selatan.  
Di  tahun  2009,  sub  sektor  pendukung  sektor  pertanian  tumbuh  positif  kecuali  sub 
sektor  perkebunan.  Perlambatan  ekonomi  (pertumbuhan  negatif)  yang  terjadi  pada 
sub sektor perkebunan menunjukkan penurunan produktivitas output komoditi pada 
sub  sektor  ini.  Namun,  karena  kontribusi  sub  sektor  ini  yang  relatif  kecil 
dibandingkan  sub  sektor  pendukung  lainnya  pada  sektor  pertanian  menyebabkan 
sektor pertanian tetap tumbuh positif sebesar 4,54% (BSDA, Bappeda Basel, 2010). 
Berdasarkan pertumbuhan riil, source of growth (sumber pertumbuhan) pada sektor 
pertanian  adalah  sub  sektor  tabama  yang  tumbuh  positif  sebesar  7,91%.  Namun 
pertumbuhan  produktifitas  sub  sektor  ini  belum  dapat  mencukupi  kebutuhan 
(demand) pangan penduduknya. 
 
Permasalahan pada sub fungsi pertanian dan peternakan adalah: 
1. belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW); 
2. rendahnya kemampuan masyarakat dalam proses pengolahan hasil pertanian; 
3. keterbatasan sarana dan prasarana pendukung bidang pertanian dan kehutanan; 
4. keterbatasan SDM dalam penguasaan IPTEK;  
5. tingginya kerusakan hutan dan lahan menyebabkan perubahan tata air; 
6. rendahnya produktifitas dan pemanfaatan produksi pertanian dan kehutanan 
7. rendahnya akses permodalan bagi petani; 
8. kurang terpantaunya peredaran produk pertanian (peternakan) yang tidak 
memenuhi standar kesehatan dan kaidah agama; 
9. rendahnya akses dan jaminan pasar produk pertanian. 
 
 
Sasaran yang akan dicapai pada tahun 2015 sub fungsi ini adalah: 
1. meningkatnya jumlah kelompok agribisnis 25%; 
2. meningkatnya produksi pertanian tanaman pangan dan peternakan 50%; 
3. meningkatnya keragaman produksi pertanian tanaman pangan sebanyak lima 
jenis tanaman; 
4. meningkatnya kualitas SDM penyuluh pertanian/peternakan; 
5. berkurangnya penyakit ternak yang menyerang ternak masyarakat sebesar 25%; 
6. meningkatnya kualitas SDM penyuluh pertanian/peternakan; 

VII-14  

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

7. meningkatnya penerapan pertanian terpadu (tanaman pangan dan ternak) 
100%; 
8. meningkatnya pengawasan terhadap peredaran produk pertanian yang sesuai 
dengan standar kesehatan dan kaidah agama 100%; 
9. meningkatnya pengembangan dan penerapan teknologi peternakan sebesar 
25%; 
10. meningkatnya pengembangan dan penerapan teknologi pertanian sebesar 50%. 
 
Program indikatif untuk pencapaian sasaran di atas adalah: 
1. peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian; 
2. peningkatan penerapan teknologi pertanian; 
3. peningkatan produksi pertanian; 
4. pemberdayaan penyuluh lapang bidang pertanian dan peternakan; 
5. pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak; 
6. peningkatan produksi hasil peternakan; 
7. peningkatan pemasaran hasil produksi peternakan; 
8. peningkatan penerapan teknologi peternakan; 
9. pengembangan komoditi hortikultura. 
 
c. Kehutanan dan  Perkebunan 
Sub  sektor  kehutanan  berperan  penting  dalam  pembangunan  di  Kabupaten  Bangka 
Selatan,  sebagai  penyedia  jasa  lingkungan,  yaitu  penyimpan  karbon,  pengatur  suhu, 
tata air, dan ekosistem. Sedangkan sub sektor perkebunan ber‐kontribusi relatif kecil 
berkisar 0,5 persen terhadap penciptaan PDRB kabupaten Bangka Selatan. 
Luas  kawasan  hutan  menurut  fungsinya  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  seluas 
154.128,28  Ha  yang  terdiri  dari  hutan  produksi  seluas  134.275  Ha,  hutan  lindung 
seluas 18.115 Ha, hutan konservasi seluas 1.712 Ha, dan hutan kota seluas 26,28 Ha. 
Sedangkan luas lahan kritis di luar kawasan hutan seluas 55.389 Ha.  
Komoditi  perkebunan  dominan  yang  disumbangkan  oleh  masyarakat  terhadap 
pembangunan adalah lada, karet, kelapa, dan kelapa sawit. Jenis komoditi lain seperti 
aren, cengkeh, coklat, dan kemiri kurang berperan karena kurangnya areal tanam. 
 
Permasalahan pada sub fungsi kehutanan dan perkebunan adalah : 
1. rendahnya kapasitas pengolahan hasil kehutanan dan perkebunan; 
2. rendahnya penguasaan IPTEK kehutanan dan perkebunan; 
3. rendahnya produktivitas kehutanan dan perkebunan; 
4. tngginya kerusakan hutan dan lahan yang menyebabkan perubahan tata air; 
5. tendahnya kapasitas SDM kehutanan dan perkebunan; 
6. tendahnya kesadaran masyarakat terhadap jasa lingkungan hutan. 
 
Sasaran yang akan dicapai pada tahun 2015 sub fungsi ini adalah : 
1. meningkatnya produksi perkebunan sebesar 50%; 
2. meningkatnya produktivitas hasil perkebunan sebesar 25%; 
3. meningkatnya pengembangan dan penerapan teknologi perkebunan sebesar 
50%; 
4. meningkatnya kapasitas SDM penyuluh lapangan kehutanan dan perkebunan; 
5. meningkatnya penanganan reboisasi, rehabilitasi lahan kritis 5%; 
6. meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap jasa lingkungan hutan sebesar 
100%; 
7. termanfaatkannya kawasan hutan sebesar 100%; 

    VII-15 

exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH
^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ

 

Program Indikatif untuk pencapaian sasaran di atas mencakup: 
1. peningkatan pemasaran hasil produksi perkebunan; 
2. peningkatan penerapan teknologi perkebunan; 
3. peningkatan produksi perkebunan; 
4. pemberdayaan penyuluh lapang bidang perkebunan;  
5. pemanfaatan potensi sumber daya hutan; 
6. rehabilitasi hutan dan lahan; 
7. perlindungan dan konservasi sumber daya hutan; 
8. pemanfaatan kawasan hutan industri; 
9. pembinaan dan penertiban industri hasil hutan; 
10. perencanaan dan pengembangan hutan 
11. peningkatan Produksi Kehutanan/Perkebunan 
12. penyidikan dan Perlindungan Hutan. 
 
d. Kelautan dan Perikanan  
Pada sub fungsi kelautan dan perikanan, produksi hasil penangkapan ikan pada tahun 
2010  tercatat  26.314  ton,  ditargetkan  kenaikan  produksi  sebesar  10%  per  tahun. 
Luas  areal  tambak  udang  sampai  dengan  tahun  2010  seluas  80  ha  dan  ditargetkan 
sebesar  5%  per  tahun.  Luas  areal  kolam  ikan  air  tawar  100  ha,  ditargetkan  sebesar 
10% per tahun. Jumlah unit usaha budi daya laut sistim KJA pada tahun 2010 tercatat 
5 unit, ditargetkan meningkat 20% per tahun. 
 
Permasalahan sub fungsi kelautan dan perikanan  : 
1. rendahnya  hasil tangkapan nelayan; 
2. terbatasnya sarana dan prasarana pengawasan dan pengendalian SDKP; 
3. terbatasnya penguasaan teknologi penangkapan ikan dan budidaya; 
4. terbatasnya akses penguatan modal bagi nelayan; 
5. kerusakan  fisik  pantai  dan  laut  akibat  abrasi,  sedimentasi  dan  penambangan 
lepas pantai; 
6. terbatasnya  sarana  dan  prasarana  serta  infrastruktur  penunjang  penangkapan 
ikan; 
7. terbatasnya anggaran pembangunan kelautan dan perikanan; 
8. kurangnya minat investasi di bidang kelautan dan perikanan. 
 
Sasaran pembangunan kelautan dan perikanan pada tahun 2015 adalah : 
1. meningkatnya  produksi  hasil  tangkapan  nelayan  sebesar  50%,  perikanan 
budidaya sebesar 100%; 
2. meningkatnya Sarana dan Prasarana penunjang Industri perikanan sebesar 50%; 
3. meningkatnya  penguasaan  teknologi  penangkapan  ikan  dan  budidaya  sebe‐sar 
15%; 
4. terpenuhinya  sarana  dan  prasarana  pengawasan  dan  pengendalian  SDKP  
sebesar 100%; 
5. tersedianya akses penguatan modal bagi nelayan sebesar 75%; 
6. terciptanya  kawasan  konservasi  ekosistem  pesisir  pulau‐pulau  kecil  sebesar 
100%; 
7. meningkatnya kegiatan investasi bidang industri kelautan dan perikanan sebesar 
100%. 
 
Arah  kebijakan  kelautan  dan  perikanan  adalah  peningkatan  pemanfaatan  sumber 
daya  kelautan  dan  perikanan  dengan  menerapkan  teknologi  yang  tepat  guna  dan 

VII-16  

200  jiwa  mempunyai  kebutuhan  minyak  tanah  sebesar  697.    Program indikatif pada sub fungsi kelautan dan perikanan adalah :  1.  Di  Kabupaten  Bangka Selatan sudah dialiri aliran listrik PLN dengan daya tampung 4000 KW. pengembangan kawasan budidaya laut/air payau dan air tawar.  pasir  bangunan  ±  154 ribu m3. peningkatan  kegiatan  budaya  kelautan  dan  wawasan  maritim  kepada  masyarakat. sedangkan yang berpenghuni 7  pulau. pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.315  KVA.  Zirkon  dan  Bijih  Besi/Hematit.78 %.  Xenotim. terbatasnya peruntukan lahan untuk usaha pertambangan.  sedangkan  bahan  galian  yang  sudah  diketahui  cadangannya  terutama  yang  berada  di  Kecamatan  Toboali  yaitu  bahan  galian  golongan  C  atau  bahan  galian  industri  berupa  pasir  kuarsa  ±  108  juta  m3.  Penyediaan  BBM  minyak  tanah  di  Kabupaten  Bangka  Selatan  tersebar  dengan  tidak  merata  dan  ada  18  Desa  yang  belum  memiliki  pangkalan.  sehingga  penyediaan  listrik  di  Bangka  Selatan  pas‐pasan.  2. bijih besi ± 56 ribu ton. peningkatan mitigas bencana alam laut dan prakiraan iklim laut.    Permasalahan sub fungsi pertambangan dan energi adalah :  1.  namun  belum  banyak  diketahui  secara  pasti  cadangannya  seperti  timah  dengan  mineral  asosiasinya  berupa  Monasit.291  KL.  salah  satu  cara  penyediannya dengan menggunakan energi surya (PLTS). genset.    Di Kabupaten Bangka Selatan terdapat 23 buah pulau. peningkatan  kesadaran  dan  penegakan  hukum  dalam  pendayagunaan  sumber  daya laut. jadi kebutuhan minyak tanah yang belum dapat terpenuhi  adalah  342.  sedangkan  beban  puncak  pada  malam  hari  mencapai  200KW.  sehingga  tidak  dapat  dilalui  jaringan  PLN  (grid  PLN).  4. 32 desa sudah dialiri listrik PLN atau 66. pengembangan budidaya perikanan. optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan. sehingga kekurangannya sebesar 22. pengembangan perikanan tangkap.670 KL per bulan.  Dari 53 desa/kelurahan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   ramah  lingkungan  melalui  peningkatan  kualitas  SDM  dan  pengawasan  serta  pengendalian sumber daya.    e. pemberdayaan  masyarakat  dalam  pengawasan  dan  pengendalian  sumberdaya  kelautan.  9.  sementara  daftar  tunggu  penerangan  baru  mencapai  3550  pelanggan  atau  dibutuhkan  kira‐kira  4.      VII-17  .  8. daya  mampu  2100  KW. tingkat ketersediaan data informasi yang rendah mengenai potensi bahan galian  tambang dan air bawah tanah.  3.  Kaolin  ±  154  ribu  m3. dan rencana energi  angin  (kincir  angin)  atau  Pembangkit  Listrik  Tenaga  Hibrida  (PLTH).791  KL  sedangkan  ketersediaan  minyak  tanah  dari  Pertamina hanya 355. pengembangan sistem penyuluhan perikanan.260  penduduk.  5.670  KL  per  bulan  sedangkan  yang  tersedia  hanya  sebesar  39  KL  per  bulannya.  7.  Ilmenit/Titan.  10.  2.  kebutuhan  minyak  tanah  pada  kecamatan  ini  adalah  61.5 KL. dan granit ± 13 milyar m3.  6.  Rutil.  Secara  umum  jumlah  penduduk  kabupaten  Bangka  Selatan  adalah  163. Pertambangan dan Energi  Kabupaten  Bangka  Selatan  memiliki  potensi  bahan  galian  yang  cukup  melimpah.  Seperti  pada  kecamatan  Simpang  Rimba  yang  memiliki  jumlah  penduduk  sebesar  19.

  7.  6.  4.  7.  Sumber‐sumber  pendapatan  daerah  dibedakan  atas  penerimaan  dari  daerah  dan  peneri‐maan  pembangunan.    Keuangan  daerah  adalah  rangkaian  dari  keseluruhan  tatanan.  dan  urusan  kas  dan  perhitungan. meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM 75%.  4.  5.    Sasaran sub fungsi pertambangan dan energi adalah :  1.  2. meningkatnya penegakan hukum 50%.  8. meningkatnya  kesadaran  pelaku  usaha  pertambangan/masyarakat  terhadap  pertambangan yang baik dan benar 40%.   VII-18   . pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan  4.    Program Indikatif sub fungsi pertambangan dan energi adalah :  1. pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan. terbatasnya sarana dan prasarana aparatur.  3.    Anggaran  Belanja  Daerah terdiri atas pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.  3. terbatasnya kualitas dan kuantitas SDM.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  pertambangan  dan  energi  adalah  pemanfaatan  dan  pengembangan  potensi  pertambangan  dan  energi  secara  optimal  dan  berkelanjutan.2. belum  tersedianya  produk  hukum  daerah  yang  terkait  dengan  sub  fungsi  pertambangan dan energi. tersedianya data/informasi potensi bahan galian tambang 100%. tersedianya ketenagalistrikan 75%.  2. rendahnya  kesadaran  pelaku  usaha  pertambangan/masyarakat  terhadap  pertambangan yang baik dan benar.  8. pengawasan  dan  penertiban  kegiatan  rakyat  yang  berpotensi  merusak  lingkungan.  5.  6. tersedianya  produk  hukum  daerah  yang  mendukung  pertambangan  dan  energi  100%. lemahnya  penegakan  hukum  terhadap  pelanggaran  hukum  di  sub  fungsi  pertambangan dan energi. tersedianya sarana dan prasarana aparatur 75%.  kelembagaan  dan  kebijaksanaan  penganggaran  daerah  yang  meliputi  pendapatan  dan  belanja  daerah.    7. terbatasnya ketersediaan ketenagalistrikan.  Mendorong pemberdayaan kemampuan keuangan daerah melalui peningkatan  penerimaan  dan  pengelolaan  keuangan  daerah  serta  meningkatkan  perekonomian daerah    Mendorong  pemberdayaan  kemampuan  keuangan  daerah  melalui  peningkatan  penerimaan  dan  pengelolaan  keuangan  daerah  diupayakan  dengan  pendapaian  sasaran  terselenggaranya  pengelolaan  keuangan  daerah  yang  efisien  dan  efektifitas  dengan dukungan optimalisasi penerimaan daerah.2. pengembangan dan Pengawasan Bidang Usaha Migas. tersedianya peruntukan lahan untuk usaha pertambangan 100%. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3.  menciptakan  manajemen  pengelolaan  sumber  daya  alam  mineral  dan  energi  serta  meningkatkan sumber daya manusia di bidang pertambangan dan energi.

  2.3.3. peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah.  2.998.  3.  Tujuan  ketiga  adalah  Meningkatkan  kemitraan  antara  usaha  kecil  dan  menengah  dengan  pengu‐saha  besar. masih besarnya ketergantungan penerimaan keuangan daerah yang berasal dari  dana perimbangan. mengembangkan sumber‐sumber pendapatan daerah.599.  dengan  sasaran  berkembangnya  perdagangan daerah.    7.‐  dari  total  seluruh  pendapatan sebesar Rp. koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) serta industri rumah  tangga.    Program indikatif sub fungsi kapasitas keuangan daerah:  1.  meningkatnya  kualitas  tenaga  kerja  yang  sesuai  dengan  kebutuhan  pasar.  efisien. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Realisasi  penerimaan  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  Kabupaten  Bangka  Selatan  untuk  tahun  anggaran  2009  sebesar  Rp.  efektif.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  pembangunan  sub  fungsi  kapasitas  keuangan  daerah:  1.      7.641.  kecil.    Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan pada sub fungsi  kapasitas keuangan daerah adalah:  1.1.  2.692.  kebijakan  daerah  di  bidang  penanaman  modal. 366.  Fungsi  urusan  penanaman  modal  ada‐lah  merumuskan  dan  melaksanakan  kebijakan  daerah  dibidang  penanaman      VII-19  .  meningkatnya  pariwisata  dengan  memanfaatkan  potensi  budaya  daerah.467. Menumbuhkan Iklim Usaha yang Kondusif    Penciptaan  iklim  usaha  uang  kondusif  memiliki  tiga  tujuan.  dan  menengah  (IKM). Peningkatan  Nilai  Investasi  Para  Investor  dalam  Menumbuhkan  Iklim  Usaha  dan Mendorong Ekonomi Kerakyatan    7.  Penanaman Modal  Salah satu daya tarik investasi wilayah adalah kemudahan dan kecepatan perijinan.  3.3. meningkatnya PAD 100%.  Tujuan  pertama  adalah  peningkatan  nilai  investasi  para  investor  dalam  menumbuhkan  iklim  usaha  dan  mendorong  ekonomi  kerakyatan  dengan  menetapkan  tiga  sasaran  yaitu  meningkatnya  jumlah  dan  nilai  investasi.  melalui  sasaran  berkembangnya perdagangan daerah.1. pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan kabupaten.    Arah  kebijakan  pembangunan  sub  fungsi  kapasitas  keuangan  daerah  di  daerah  pada  penggalian  sumber‐sumber  pendapatan  untuk  meningkatkan  pendapatan  daerah  serta  terwujudnya  pengelolaan  keuangan  daerah  secara  optimal. meningkatnya pengelolaan daerah secara transparan dan akuntabel 100%.17%.  3.  Tujuan  kedua  adalah  meningkatkan  kemitraan  antara  usaha  kecil  dan  menengah  dengan  pengu‐saha  besar.1.622.  22. sistematis dan akuntabel dalam pelaksanaan pembangunan daerah. pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan desa. koperasi dan UKM serta IKM. belum optimalnya penggalian potensi pendapatan daerah.‐ atau hanya sebesar 6. belum  seimbangnya  proporsi  pengeluaran  daerah  untuk  biaya  tidak  langsung  dibanding dengan biaya langsung.

  5. tersusunnya dokumen perencanaan program ketenagakerjaan yang lengkap.  terutama  tenaga  kerja  untuk  menggarap  lahan  pertanian. dan Lembaga Latihan Swasta (LLS) guna  memenuhi  permintaan  tenaga  kerja  terampil  baik  dalam  maupun  luar  negeri.  3. kenaikan nilai realisasi PMDN/PMA (Milyar Rupiah) 50%.  juga  perlindungan tenaga kerja diletakkan pada kesadaran hukum dan kewajiban tenaga  kerja (hak dan kewajiban pekerja maupun pengusaha). belum optimalnya pemetaan potensi ekonomi daerah.  Ketenagakerjaan dan Transmigrasi.   2. meningkatnya jumlah investor/pengusaha daerah 50%. Peningkatan sumber daya manusia  diarahkan  kepada  pembentukan  tenaga  kerja  yang  profesional.  3. belum optimalnya pelayanan perijinan.    Permasalahan yang dihadapi sub sistem tenaga kerja dan transmigrasi  adalah:  1.  produktif  dan  disiplin.  2.  5.  3. belum  tersusunnya  dokumen  perencanaan  program  ketenagakerjaan  dan  yang  lengkap dan akurat.    Sasaran yang ingin dicapai dalam peningkatan jumlah dan nilai investasi  adalah:  1.  perkebunan  dan  kehutanan. rendahnya keterampilan tenaga kerja.  baik  oleh  pemerintah  maupun  swasta  serta  memanfaatkan  dan  meningkatkan  koordinasi  dengan Balai Latihan Kerja Industri (BLKI).  2. meningkatnya jumlah investor (PMDN/PMA) 50%. meningkatnya nilai investasi daerah 100%.  beretos  kerja  tinggi. sarana dan prasarana daerah.1.  guna  memenuhi  permintaan  tenaga  kerja  di  Kabupaten  Bangka  Selatan.3. peningkatan iklim investasi dan realisasi investasi. lama proses perijinan. maka diperlukan program ketransmigrasian. hubungan industrial yang belum optimal. meningkatnya hubungan industrial sebesar 50%.  2. meningkatnya keterampilan tenaga kerja sebesar 100%. meningkatnya jumlah Perda yang mendukung iklim usaha 100%.  mandiri.  6.  Disamping  itu. belum optimalnya pengembangan wilayah transmigrasi. peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi.  Pembangunan  wilayah  tidak  dapat  terlepas  dari  pembangunan  ketenagakerjaan.  7.  3.  Kebijaksanaan  pembangunan  ketenagakerjaan  juga  diarah‐kan  kepada  pembangunan  bursa  tenaga  kerja  yang  terpadu. meningkatnya jumlah nilai investasi (PMDN/PMA) 50%.  VII-20   .  2.    7.    Program indikatif sub fungsi penanaman modal daerah:  1.2.    Permasalahan yang dihadapi dalam peningkatan jumlah dan nilai investasi  adalah:  1.  4.  4. penyiapan potensi sumberdaya. rendahnya tingkat perlindungan tenaga kerja.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  peningkatan  jumlah  kualitas  sumberdaya  manusia adalah:  1. banyaknya peluang investasi yang belum terserap.  yang merupakan salah satu daya tarik investasi.  3. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   modal dan melaksanakan koordinasi dan menyelenggarakan pelayanan administrasi  dibidang perijin‐an secara terpadu.

  3.  2. kurangnya even‐even wisata.3. Kepariwisataan yang berlandaskan akar budaya lokal dan menciptakan iklim  yang kondusif bagi pengembangan dan inovasi kebudayaan     7. program Transmigrasi Lokal.    Sasaran kepariwisataan dan budaya adalah :  1.    Permasalahan yang dihadapi pada sub fungsi pariwisata adalah:  1. meningkatnya jumlah wisatawan sebesar 50%.            VII-21  .  2.  7. terselenggaranya festival seni dan budaya sebanyak 4 kali per tahun.    Program indikatif sub fungsi pariwisata adalah :  1. pembinaan Hubungan Industrial. kurang optimalnya fasilitasi apresiasi dan pengembangan budaya dan kesenian  daerah. pelatihan tenaga kerja yang berorientasi pasar kerja. pengembangan kemitraan. adanya pengelolaan obyek pariwisata.    7. program Trasmigrasi Regional.  3.  5. terbatasnya pemasaran wisata. pengelolaan keragaman budaya.  3.  4.1.2.  6.  5.  4.    Program indikatif sub fungsi ketenagakerjaan:  1.  2. belum adanya pengelolaan obyek wisata. pengembangan nilai budaya. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   4.  3.  6.3. peningkatan kesempatan kerja.  4. perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan. belum adanya sarana prasarana pariwisata. pengembangan destinasi pariwisata.  5.  Kepariwisataan dan Budaya  Pariwisata  dan  budaya  dapat  menjadi  salah  satu  sektor  unggulan  dalam  perekonomian daerah Kabupaten Bangka Selatan. meningkatnya tingkat perlindungan tenaga kerja sebesar 100%.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  pariwisata  adalah  pemanfaatan  dan  pengembangan  potensi  wisata  secara  maksimal.  menciptakan  manajemen  pengelolaan  pariwisata  yang baik.  8. bertambahnya jumlah sarana prasarana obyek wisata sebesar 50%. serta meningkatkan sumber daya manusia dibidang kepariwisataan.  6. peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.  5. adanya kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB.  7. pengembangan kerjasama pengelolaan kekayaan budaya.  4. pengembangan pemasaran pariwisata. pengelolaan kekayaan budaya.  2. kurang lengkapnya inventarisasi kesenian dan budaya.2. program Pengembangan Wilayah Transmigrasi.

rendahnya produktivitas pengelolaan koperasi. membuka peluang ekspor komoditi non migas.    a.    Pada  tahun  2005  jumlah  koperasi  yang  ada  mencapai  45  unit  yang  terdiri  32  unit  koperasi  dan  13  unit  koperasi  unit  desa  dan  tahun  2009  mencapai  62  unit  yang  terdiri dari 48 unit koperasi dan 14 unit koperasi tidak aktif.  9.  akses  pasar  baik  regional  maupun  internasional. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   7. meningkatkan kualitas SDM pengelola koperasi.  4.3.    Sasaran yang ingin dicapai pada sub fungsi ini adalah :  1. koperasi dan UKM serta Industri rumah  tangga.  6.  usaha  kecil  menengah  dan  koperasi  memiliki  potensi  yang  besar  dalam  meningkatkan  taraf  hidup  masyarakat.  jasa.  4. informasi dan pemasaran. terbatasnya  kemampuan  kesiapan  pengusaha  kecil  dan  menengah  dalam  mengantisipasi era globalisasi.  koperasi  dan  UKKM  serta  IKKM  diharapkan  menjadi  sasaran  dalam  upaya  meningkatkan  kemitraan  antara  usaha  kecil  dan  menengah dengan pengusaha besar. lemahnya akses permodalan dan sistem distribusi yang terlalu panjang.  7.  8. pemantauan perdagangan dan jasa satu kali per bulan. Perdagangan  Permasalahan pada sub fungsi ini adalah :  1.3. memperkuat permodalan usaha kecil dan menengah sebesar 10%. terbatasnya jaringan pasar.  Banyak  peranan  kope‐rasi  sebagai  soko  guru  perekonomian  dan  pengembangan  usaha  mikro.  7.  2.  5. memperpendek  jalur  distribusi  barang  kebutuhan  pokok  dari  produsen  lang‐ sung kepada pengecer dan atau konsumen. kecil. menurunnya  kualitas  sarana  dan  prasarana  pendukung  sistem  distribusi  barang. meningkatkan kualitas SDM pengelola UMKM. Kemitraan antara usaha kecil dan menengah dengan pengusaha besar. meningkatkan kualitas kelembagaan Koperasi.1  Berkembangnya perdagangan daerah. kurangnya  informasi  tentang  sumber  daya  dan  ekonomi  yang  bisa  didapatkan  oleh calon investor.3.    7. meningkatkan nilai asset dan volume usaha KUKM sebesar 100 %.    Perkembangan  perdagangan.  2.  3. rendahnya  akses  KUMKM  pada  sumber  daya  produktif  baik  berupa  akses  permodalan.  5.  kecil  dan  menengah  lebih  mampu  bertahan  dalam  menghadapi  krisis  ekonomi.  usaha‐usaha  mikro  kecil  dan  menengah  masih  mampu  bertahan  ditengah badai krisis yang melanda Indonesia tersebut.3. dan menengah    Berkembangnya  perdagangan  daerah.  8.   3.  6. meningkatkan  arus  distribusi  barang  kebutuhan  pokok  masyarakat  sebesar  lima persen.    VII-22   . lemahnya  daya  saing  produk‐produk  lokal. melalui peningkatan jejaring usaha.  ketika  banyak  perusahaan  skala  besar  banyak  yang  kolaps  bahkan  harus  menutup  perusahaannya.

    Sasaran sub fungsi industri adalah :   1.  peningkatkan  iklim  usaha  yang  kondusif.  4.  namun belum terbentuk sentra industri kecilnya.  3. penciptaan iklim usaha kecil menengah yang kondusif. peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri.  3.  efisiensi  dan  efektifitas  sistem  pelayanan  dan  perijinan.    Arah  kebijakan  sub  fungsi  ini  adalah  mengembangkan  industri  terutama  industri  kecil.  Usaha  Mikro.  3.    Program indikatif sub fungsi industri pasar adalah :  1.  2. Industri    Jumlah  unit  usaha  industri  kecil  dari  pertama  terbentuknya  kabupaten  Bangka  Selatan  sampai  dengan  tahun  2009  ini  mengalami  kenaikan  yang  cukup  signifikan.  6. terbatasnya akses permodalan.  4. perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan. pembinaan pedagang kaki lima dan asongan. terbatasnya akses pasar. penataan struktur industri.  4. peningkatan produktifitas IKM.    b.  serta  mendorong  dan  memfasilitasi  masyarakat  dalam  rangka  mewujudkan  sistem  ekonomi  kerakyatan  melalui  Koperasi.  2. peningkatan akses pasar dan permodalan.  penciptaan  jaminan  berusaha  dalam  rangka  meningkatkan  efisiensi/penanaman modal. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Arah  kebijakan  pada  sub  fungsi  koperasi  dan  UMKM  adalah  tersedianya  barang  kebutuhan pokok dan jasa yang terjangkau daya beli masyarakat. peningkatkan dan pengembangkan promosi. lemahnya peranan IKM terhadap sumber daya yang produktif. penumbuhan dan  pengembangkan  potensi  sumber  daya  perdagangan  dan  jasa.        VII-23  .  Kecil  dan  Mene‐ngah  (KUMKM).    Program indikatif pada sub fungsi ini adalah :  1.  3.  9. peningkatan kemampuan teknologi industri. mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme  pasar dengan mengembangkan ekspor dan penguatan pasar. peningkatan kerjasama perdagangan internasional.  7.  8. rendahnya kualitas pengelolaan IKM. peningkatan dan pengembangan ekspor.  2. terbentuknya sentra industri kecil.  2.  profesionalisme  pengelolaan  BUMD  dan  optimalisasi  manajemen  aset  daerah. pengembangan  kewirausahaan  dan  keunggulan  kompetitif  usaha  kecil  mene‐ ngah. peningkatan kualitas kelembagaan koperasi. pengembangan sentra industri potensial. informasi  pasar.    Permasalahan sub fungsi industri adalah :   1. pengembangan industri kecil dan menengah.  5.  perluasan  pasar. peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. pengembangan sistem pendukung usaha bagi usaha mikro kecil menengah.  5.

  Untuk  menanggulangi  kebakaran  diperlukan  sarana  dan  prasarana  yang  cukup  memadai sehingga dapat mengurangi korban manusia serta kerugian material.  Memperhatikan  fenomena  seperti  ini. kurangnya sarana dan prasarana penunjang kegiatan penanggulangan bencana.4.  mampu  menumbuhkan  kesadaran  masyarakat  untuk  mengetahui. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   7.4. terhapusnya masalah ketentraman dan ketertiban.  Pada  era  reformasi  cenderung  terjadi  peningkatan  gangguan  kriminalitas  sebagai  akibat tingginya angka pengangguran.  proses  produksi  barang  dan  jasa.  ketentraman  dan  ketertiban  yang  diakibatkan  oleh  mudahnya  akses  transportasi  dari  luar  daerah  untuk  menjangkau  kawasan  wilayah  Kabupaten  Bangka  Selatan.  4.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  pembangunan  sub  fungsi  ketertiban  dan  keamanan adalah:  1.  lembaga  legislatif  yang  efektif  dan  partai  politik.  pengangguran  dan  terganggunya  ketenangan masyarakat. kurang  optimalnya  partisipasi  masyarakat  terhadap  ketentraman  dan  ketertiban lingkungan.    Adanya bencana khususnya bencana kebakaran dapat menimbulkan kerugian tidak  saja  korban  manusia. Keamanan dan Ketertiban  Penyelenggaran pemerintahan menggunakan ketertiban dan keamanan masyarakat  sebagai salah satu prasyarat utama untuk keberhasilan pelaksanaan pembangunan. kemiskinan dan faktor ekonomi lainnya.3.  kerusuhan  SARA dan tawuran remaja.1.  3.    a. kurangnya kepatuhan masyarakat terhadap peraturan perundangan.  maka  pembangunan  harus  mampu  meningkatkan  kesa‐daran  masyarakat  terhadap  bela  negara  dan  berbagai  gangguan  kamtibmas  yang  mungkin  terjadi.  Ketertiban  dan  keamanan  daerah.  5.  ormas  serta  media  massa  sebagai  lembaga  kontrol  sosial  atas pelaksanaan pemerintahan.  Oleh  karenanya  menyimpan  berbagai  potensi  gangguan  keamanan.  kerusakan  lingkungan. kurangnya respon penanganan masalah ketentraman dan ketertiban.  dan  mampu  menjawab  tantangan  untuk  dapat  meningkatkan  stabilitas  politik  dan  kesadaran  politik  masyarakat  dalam  kegiatan  pemerintahan  maupun  pembangunan  sesuai  dengan  tuntutan  demokrasi  dan  transfaransi  pemerintahan  dalam  mewujudkan  good  goverment  dan  good  governance.  memahami.  yang  ditandai  suasana  kehidupan  yang  kondusif dalam masyarakat  Berdasarkan letak geografisnya.    Permasalahan yang dihadapi sub ketertiban dan keamanan adalah :  1.  lembaga  penegakan  hukum  yang  adil. sehingga kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat berjalan. potensi timbulnya tingkat kerawanan akibat kondisi perekonomian yang tidak  stabil.    7. Kabupaten Bangka Selatan berada pada perlintasan  alur  laut  internasional.  6. Sistem politik dan keamanan yang dinamis. meminimalisasi  kejadian  kerusuhan:  kerusuhan  antar  kampung.3.  2.  harta  benda  tetapi  juga  terganggunya  arus  lalu  lintas.  2.  mentaati  berbagai  peraturan  perundang‐undangan  yang  berlaku. pemerintahan yang bertang­gung  jawab. terbatasnya kuantitas dan kuantitas SDM dalam penanggulangan bencana.  VII-24   .

78  %.     Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi politik adalah :  1.  pada  Pemilu  Presiden  Putaran  pertama  sebanyak  69.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan sub fungsi politik   adalah :  1.  5. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3. menurunnya partisipasi masyarakat dalam pemilu.647  atau  73. mempertahankan iklim politik yang kondusif. program Peningkatan Perda.  4.  2.    Program Indikatif politik adalah:  1.  3.  yang  menggunakan  hak  pilihnya  pada  Pemilu  Legislatif  sebanyak  70.25  %.439  orang.    Arah  Kebijakan  politik  diarahkan  pada  upaya  meningkatkan  iklim  politik  yang  kondusif  dan  stabilitas  politik  daerah  guna  mendukung  terselenggaranya  pembangunan daerah secara dinamis.35  %  dan  pada  putaran  kedua  sebanyak  61.  2. meminimalisasi  dampak  negatif  perbedaan  pendapat  dan  pandangan  antar         golongan dan partai politik yang menjurus tindakan anarkis di masyarakat. peningkatan pemberantasan penyakit masyarakat (Pekat). meningkatnya kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya. kurang efektifnya pelaksanaan sistem politik yang demokratis.4.          VII-25  . tewujudnya rasa aman dan nyaman di lingkungan masyarakat. pemitraan pengembangan wawasan kebangsaan. mewujudkan pelaksanaan sistem politik yang demokratis. pemeliharaan kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal. Politik  Jumlah  penduduk  Kabupaten  Bangka  Selatan  yang  terdaftar  sebagai  pemilih  pada  Pemilu  Tahun  2004  sebanyak  96. dan ekonomi yang dapat meresahkan masyarakat.    7.  5.3.509  orang  atau  63.  4.2  Pembinaan terhadap  masyarakat.  2. pendidikan politik masyarakat.778  orang  atau  72.  4. pendidikan politik masyarakat belum efektif.    Arah  kebijakan  pembangunan  sub    fungsi  ini  diarahkan  pada  upaya  menciptakan  lingkungan  yang  aman  dan  tertib  serta  antisipatif  terhadap  munculnya  kerawanan  sosial.    Program indikatif sub dan fungsi ketertiban dan keamanan adalah:  1.    Dari  angka‐angka  tersebut  nampak  jelas  adanya  penurunan  angka  partisipasi  masyarakat  dalam  mengikuti  pesta  demokrasi  Tahun  2004.  2.  4.  3. mengurangi  angka  kerugian  dan  meningkatnya  aset  yang  dapat  diselamatkan  akibat kebakaran dan bencana lainnya sebesar 100%.  3. peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan.  3. pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam. politik. meningkatnya efektifitas peran dan fungsi lembaga legislatif. pemberdayaan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keamanan. penyelesaian tuntutan masyarakat terhadap peran lembaga lemah. organisasi dan politik daerah  a.  4. pengembangan wawasan kebangsaan.

kurangnya pembelaan dan pelayanan dalam perlakuan hukum yang adil.    Permasalahan  yang  dihadapi  sub  fungsi  pengembangan  kelembagaan  masyarakat  adalah :  1.  5.    VII-26   . lemahnya  kemampuan  lembaga  masyarakat  dalam  mengelola  informasi  dan  komunikasi. meningkatkan  sikap  dari  perilaku  pemuda  yang  beriman. lemahnya penegakan hukum dan HAM oleh aparatur dan masyarakat.  2. Tuntutan masyarakat untuk membentuk tata  peraturan daerah yang baik.  4. kurangnya peran serta pemuda dalam pembangunan fisik dan non fisik. Hukum  Sejak berdirinya Kabupaten Bangka Selatan telah ditetapkan 491 Keputusan Bupati  dan 125 buah Peraturan Daerah baru. pemahaman  terhadap  peraturan  perundang‐undangan  oleh  aparatur  dan  masyarakat masih kurang.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi hukum adalah :   1.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan sub fungsi hukum adalah :  1. penataan daerah otonomi daerah. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   b.  2. rasa  keadilan dan perlindungan hukum. Pengembangan Kelembagaan Masyarakat  Pembangunan pada dasarnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat  oleh  karena  itu  pemberdayaan  masyarakat  pada  saat  ini  dipercaya  sebagai  suatu  pendekatan pembangunan yang tepat untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan  masyarakat.    c. meningkatnya  penegakan  hukum  dan  HAM  secara  tegas  berdasarkan  azas  keadilan (meningkatnya jumlah kasus yang ditangani). kepastian. belum  memadainya  produk  hukum  yang  dimiliki  untuk  mendukung  implemen‐ tasi penyelenggaraan pemerintahan. lemahnya mentalitas aparatur dalam penegakan hukum dan HAM.  Pada  tahun  2009  terdapat  53  LPM  untuk  menfasilitasi  pemberdayaan  masyarakat.  3.  2. meningkatnya  produk‐produk  hukum  Daerah  dan  peninjauan  kembali  perda‐ perda yang tidak sesuai lagi.  2.  mandiri.  3.    Program indikatif sub fungsi hukum adalah:  1. penataan peraturan perundang‐undangan. meningkatkan fungsi dan kemampuan lembaga masyarakat. perlu diikuti dengan penyusunan dan penyempurnaan  produk‐produk hukum daerah dalam rangka meningkatkan jaminan.  2.    Arah kebijakan pembangunan pada upaya menciptakan sistem hukum yang mampu  memberikan jaminan rasa keadilan dan perlindungan hukum bagi masyarakat.  bertaqwa. namun fungsinya belum optimal.  inovatif dan kreatif. meningkatnya kesadaran dan kepatuhan hukum bagi aparatur serta  masyarakat  (menurunnya jumlah pelanggaran perda 10% pertahun).    Sasaran fungsi pembangunan kelembagaan masyarakat :  1.

1  Meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kemampuan masyarakat dengan  penguasaan  hak­hak  dasar  masyarakat  dengan  pengembangan  sistem  informasi dan teknologi. kurangnya  keseimbangan  dalam  mendukung  perkembangan  masyarakat  yang  informatif. meningkatnya transparansi informasi penyelenggaraan pemerintahan kota.1.  2.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  peningkatan  kualitas  pelayanan/data  dan  informasi adalah :  1.    Permasalahan  yang  dihadapi  dalam  peningkatan  kualitas  pelayanan/data  dan  informasi adalah :  1. peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa. Menciptakan Aparatur yang Bersih dan Berwibawa     Misi keempat.4. masih  lemahnya  jalinan  komunikasi  antara  pemerintah.  2. belum  optimalnya  pemanfaat  teknologi  infomasi  dalam  penyebaran  infomasi  secara tepat guna. kurang  transparannya  informasi  serta  pemberitaan  yang  lengkap.  media  massa  dan  ma‐ syarakat.  Meningkatkan  sistem  pengawasan  internal  melalui  pembinaan  kepegawaian  yang  professsional.  2. peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan.  2.4.  meningkatkan  kualitas  pelayanan  publik  dan  kemampuan  masyarakat  dengan  penguasaan hak‐hak dasar masyarakat dengan pengembangan sistem informasi dan  teknologi. meningkatnya pelayanan kehumasan dan jalinan kemitraan dengan media.1  Peningkatan  Kualitas  Pelayanan/Data  dan  Informasi  Kepada  Masyarakat  Secara Bersih dan Baik (Good Governance)  Pengembangan  komunikasi  dua  arah  antara  masyarakat  dapat  dilihat  dari  dialog  interaktif  antara  pemerintah  dan  masyarakat.      7.    Program Indikatif  pengembangan kelembagaan masyarakat adalah :  1.      VII-27  . masih  rendahnya  kesadaran  masyarakat  dalam  memanfaatkan  media  peme‐ rintah. kritis dan demokratis.  3.  meningkatkan  pemberdayaan  aparatur  dengan tingkat produktivitas yang tinggi. peningkatan partisipasi masyarakat dalam membangun desa. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Arah  Kebijakan  pembangunan  kelembagaan  masyarakat  adalah  mewujudkan  penguatan  kelembagaan  masyarakat  sehingga  mampu  mengembangkan  potensi  dan  berperan aktif dalam setiap tahapan pembangunan.4. pengembangan lembaga ekonomi perdesaan.  7.  3.  4.  yaitu        1.  6. menciptakan aparatur yang bersih dan berwibawa akan dilaksanakan  melalui  strategi  peningkatan  kualitas  pelayanan  publik  dengan  tiga  tujuan.  5.  objektif  dan  bertanggungjawab. lemahnya  mekanisme  kontrol  sosial  masyarakat  terhadap  penyelengaraan  pemerintah.  jumlah  informasi  yang  disampaikan  masyarakat pada pemerintah baik secara langsung maupun melalui mass media.  dan  3.  5.    7.  4. peningkatan peran perempuan di perdesaan. kurang tersedianya data base informasi.    7.

  6.  Kecamatan  Simpang  Rimba  dan  Kecamatan  Lepar  VII-28   .    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan infrastruktur pemerintah adalah:  1. meningkatnya respon masyarakat terhadap informasi kebijakan pemerintahan.  Pelayanan  Kependu­ dukan dan Catatan Sipil  Penyelenggaraan  administrasi  pemerintahan  mencakup  berbagai  jenis  pelayanan  yang  di  berikan.  rekomendasi.2  Meningkatnya  Pelayanan  Administrasi  Pemerintahan.  2.  3. meningkatnya  penyebaran  informasi.    7.    Permasalahan  administrasi  pemerintahan  adalah  belum  memadainya  sarana  dan  prasarana  penyelenggaraan  pemerintahan  di  setiap  unit  kerja  untuk  dapat  memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.  pelayanan  IMB/HO.  2.  Kondisi  infrastruktur  pemerintahan  masih  belum  optimal  dalam  mendukung  pelayanan publik atau e‐Goverment belum di implementasikan secara optimal.  Kegiatan  pelayanan  administrasi  pemerintahan  menghasilkan  beberapa  produk  akhir  yang  berupa  dokumen.  penyaluran  aspirasi.    b.    Produk  admistrasi  pemerintahan  di  antaranya  adalah:  Pelayanan  Sertifikat  tanah. tersedianya data yang dapat diakses secara cepat.4.  Akte  kelahiran/Kematian). optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi.  Arah  Kebijakan  pembangunan  peningkatan  proses  komunikasi  dua  arah  antara  pemerintah  dan  masyarakat  secara  optimal.  pengambilan  keputusan.1. meningkatnya  kualitas  dan  kuantitas  sarana  dan  prasarana  penyelenggara‐an  pemerintahan.  sehingga  terwujud  tranparansi  informasi dan membentuk masyarakat yang responsif terhadap pembangunan.  keterangan  tertulis  dan  lain‐lain. Kependudukan.  dokumentasi  maupun  kegiatan  tata  usaha  lainnya.  perijinan. Administrasi Pemerintahan.    Program indikatif sub fungsi infrastruktur pemerintah adalah:  1.  dialog  interaktif    dan  jaringan komunikasi.  4.    a.  Nikah  Talak  Cerai  Rujuk  (NTCR).  Program  indikatif  peningkatan  kualitas  pelayanan/data  dan  informasi:  pengembangan data/informasi/statistik daerah. meningkatnya pelaksanaan dokumentasi dan publikasi.  pelayanan usaha perdagangan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3.  pelayan  surat  menyurat  dan  penelitian.    Arah  kebijakan  pembangunan  sub  fungsi  infrastruktur  pemerintah  di  arahkan  pada peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan yang memadai dalam upaya  memberikan pelayanan kepada masyarakat. pariwisata.  5.  Kepadatan penduduk tertinggi berada di pusat kota kabupaten dan kecamatan yang  merupakan  pusat  aktifitas  ekonomi  meliputi  lima  kecamatan  yaitu  Kecamatan  Toboali  sebagai  pusat  Pemerintahan  Kabupaten  Bangka  Selatan. penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah daerah.  Kecamatan  Payung.  Kecamatan  Air  Gegas. program Penataan dan penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur.  pelayanan  Administrasi  kependudukan  (KTP. murah dan akurat.  seperti  sertifikat. tersedianya data base informasi yang mudah diakses.  diantaranya  adalah  kegiatan  pencatatan. kesehatan dan lain‐lain.

  2. meningkatkan keserasian  kebijakan pembangunan  dalam rangka mobilisasi  dan  penyebaran penduduk. belum diterapkannya analisis jabatan.1.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi kependudukan adalah :  1.  Dengan  berlakunya  otonomi  daerah  terdapat  pelimpahan  pegawai  dari  instansi  vertikal  sehingga  sampai  dengan  tahun  2009  jumlah  PNS  sebanyak  2245  (tenaga  guru 1131. masih rendahnya kinerja sumber daya aparatur.4. tenaga kesehatan 379 dan tenaga teknis 735) sedangkan CPNS sejumlah  447 pegawai (tenaga guru 210.   Meningkatkan  sistem  pengawasan  internal  melalui  pembinaan  kepegawaian  yang professional    Ada  satu  sasaran  dalam  tujuan  meningkatkan  sistem  pengawasan  internal  melalui  kepegawaian  yang  profesional.  Terciptanya  sistem  kelembagaan  dan  ketatalaksanaan  pemerintahan  yang  bersih. profesional dan akuntabel.  3. meningkatnya kualitas sumberdaya aparatur.  2.    Sasaran Pembangunan sub fungsi kependudukan adalah :  1.  dengan  kepadatan  penduduk rata‐rata 45 jiwa per kilometer persegi. meningkatnya  pengelolaan  administrasi  kepegawaian  dan  meningkatnya  responsifitas aparatur pemerintah terhadap tuntutan masyarakat.2. persebaran penduduk di Kabupaten Bangka Selatan tidak merata . belum optimalnya penataan administrasi kependudukan.    Arah  Kebijakan  Pembangunan  Fungsi  Kependudukan  adalah:  Upaya  pengelolaan  administrasi  kependudukan  dalam  pelaksanaan  kebijakan  pengendalian  laju  pertumbuhan dan persebaran penduduk.  yaitu  terlaksananya  pengawasan  aparatur  daerah  yang efektif.    7.    Permasalahan  yang  dihadapi  Pemerintah  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  sub  fungsi sumberdaya aparatur adalah.2. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   Pongok  dengan  jumlah  penduduk  seluruhnya  163. belum pastinya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah.4. transparan.200  jiwa.  1. belum proporsionalnya beban kerja aparatur pemerintah.  5. tingginya laju pertumbuhan penduduk akibat migrasi dan kelahiran.  2.  3. belum jelasnya standar kemampuan dan pengembangan pola karier pegawai.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  pembangunan  sub  fungsi  sumberdaya  aparatur  adalah:  1.    Program  Indikatif  sub  fungsi  kependudukan  adalah  :  penataan  administrasi  kependudukan    7.      VII-29  . meningkatkan pengelolaan administrasi kependudukan.  4. tenaga kesehatan 139 dan tenaga teknis 98 orang)  Pada  satu  sisi  jumlah  pegawai  yang  besar  tersebut  merupakan  asset.  namun  pada  sisi  lain  apabila  tidak  dapat  di  optimalkan  akan  menjadi  beban  bagi  pemerintah  daerah. efektif.  2.

pendidikan kedinasan.  7.  telekomunikasi dan informatika adalah:  1.  3.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi jaringan transportasi adalah:  1.5. yaitu Terminal Toboali. mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat.  2. berkurangnya pelanggaran 10% per  tahun. meningkatnya standar kemampuan pegawai pada masing‐masing jenjang.5.1. Terwujudnya budaya tertib berlalulintas. meningkatnya proporsional beban kerja aparatur pemerintah sebesar 60%. peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat.  a.    7.  5.  2. peningkatan kerjasama antar pemerintah daerah.  3.    Arah  kebijakan  pembangunan  sumberdaya  aparatur  diarahkan  pada  peningkatan  aparatur pemerintah agar mampu mengakomodasi tuntutan aspirasi masyarakat. kurang tertibnya pengguna jalan dalam mentaati peraturan lalulintas. meningkatnya kinerja pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan.    Program indifikatif pembangunan sumberdaya aparatur adalah:  1. peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian kebijakan KDH    7.5.1.  8.   Meningkatkan Infrastruktur yang Handal  Misi  meningkatkan  infrastruktur  yang  handal  dilaksanakan  dengan  tujuan  meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur sesuai pengembangan daerah dan  melaksanakan  perencanaan  pembangunan  infrastruktur  sesuai  Rencana  Tata  Ruang  sehingga daya dukung dan kelestarian alam dapat terjaga.    Sasaran  yang  ingin  dicapai  dalam  pembangunan  jaringan  transportasi. peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/wakil kepala daerah. Transportasi darat  Pelayanan  jaringan  transportasi.  3.  Jaringan Transportasi.  khususnya  pelayanan  angkutan  umum  terdiri  10  trayek dibagi menjadi pelayanan trayek utama 5 trayek dengan jumlah angkutan 74  buah  dan  trayek  cabang  5  trayek  dengan  jumlah  angkutan  6  buah.  VII-30   .1. pembinaan & pengembangan aparatur. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   3.    7.  4.  Trayek  ini  difasilitasi  oleh  keberadaaan  terminal  dan  sub  terminal  di  Kabupaten  Bangka  Selatan. Meningkatnya sarana dan pelayanan yang efektif dan efisien sebesar 75%.  5. peningkatan kapasitas sumber daya aparatur.  4.  Tujuan  meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  infrastruktur  sesuai  dengan  pembangunan daerah akan dicapai melalui penetapan sasaran meningkatnya kualitas  dan  kuantitas  sarana  dan  prasarana  umum  serta  transportasi  ke  sentra‐sentra  ekonomi rakyat sesuai kebutuhan daerah. masih kurangnya prasarana dan fasilitas pelayanan transportasi.  Meningkatkan  kualitas  dan  kuantitas  infrastruktur  yang  sesuai  dengan  pembangunan daerah. Tersedianya prasarana dan fasilitas pelayanan transportasi sebesar 75%. belum  optimalnya  struktur  pelayanan  transportasi  yang  efisien  sesuai  hirarki  pelayanan dan moda transportasi.  2.    lalulintas.  6.

pelabuhan  rakyat  atau  nasional  yang  ada  masih  sangat  tergantung  pada  pasang  surut air laut.  menurun  dibandingkan  tahun  2005.  5.  2.            VII-31  .     Arah kebijakan penyeberangan laut ditujukan untuk membuka daerah pulau yang  terisolasi.  6.     Program indikatif jaringan transportasi (transportasi darat dan laut) adalah:  1. pengendalian dan pengamanan lalulintas.  Kabupaten  Bangka  Selatan  pada  tahun  2009  sebanyak  137  kapal.5. rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ. peningkatan pelayanan angkutan.  sehingga  terwujud  tranparansi  informasi dan membentuk masyarakat yang responsif terhadap pembangunan. membuka dan meningkatkan kuantitas akses perhubungan ke Lepar Pongok.  menunjukkan  jumlah  kapal  di  pelabuhan  terkait  erat  dengan ekspor timah.  jaringan  drainase. perluasan area pelabuhan.    b. menambah kedalaman pelabuhan. peningkatan kelayakan pengoperasian kendaraan bermotor.  3.  3.    Hal  ini  dimungkinkan  mengingat  jarak  yang  relatif  dekat  dengan  Jakarta  serta  letak  geografis yang tidak terpengaruh oleh iklim.1. minimnya fasilitas rambu laut.  Frekuensi memuat lebih  besar  dari  membongkar. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ     Arah  Kebijakan  pembangunan  pelayanan  transportasi  diarahkan  bagi  terwujudnya  tertib  dan  disiplin  berlalulintas.  2006  dan  2007.    Permasalahan yang dihadapi dalam transportasi laut adalah:  1.  Kondisi  infrastruktur  di  Bangka  Selatan.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan pelabuhan adalah :  1.  Kualitas dan kuantitas infrastruktur. pemeliharaan sarana dan prasarana perhubungan.  2. kuantitas  dan  kualitas  kapal  yang  layak  untuk  berlayar  sangat  minim. Transportasi laut  Jumlah  kapal  yang  berlabuh  di  pelabuhan  Sadai.  2. pembangunan sarana dan prasarana perhubungan.  terutama  untuk pengangkutan kendaraan bermotor. Selain itu dilakukan persiapan pelabuhan Sadai menjadi pelabuhan transit  atau  penyimpanan  barang  sebelum  ke  Pelabuhan  Tanjung  Priok  –  Jakarta.  Untuk  itu  perlu  ditingkatkan  pembangunan  kualitas dan kuantitas infrastruktur Bangka Selatan.  3.  sumberdaya  air  dan  pelayanan  air  bersih.  seperti  jaringan  jalan. Namun meningkat sedikit dibandingkan tahun 2008.  pemenuhan  pelayanan  transportasi  antar bagian wilayah dan antar lingkungan yang serasi antara hirarki pelayanan dan  moda  transportasi  yang  representatif  peningkatan  proses  komunikasi  dua  arah  antara  pemerintah  dan  masyarakat  secara  optimal.    7.  4.  persampahan.  serta  sarana  prasarana  lainnya  masih  belum  dapat  mengimbangi  perkembangan  dinamika  masyarakat  terutama  di  wilayah  pengembangan.2.

  2. tanggap darurat jalan dan jembatan.859 km kondisi baik.    Program indikatif jaringan jalan adalah :  1.  4. belum optimalnya tingkat cakupan pelayanan air bersih. peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan.    Arah kebijakan pembangunan sub fungsi jaringan jalan diarahkan bagi perwujudan  keseimbangan  pertumbuhan  dan  pelayanan  wilayah.  2.  4. inspeksi kondisi jalan dan jembatan.    b. rendahnya  umur  konstruksi  jalan  dan  jembatan  di  wilayah  Kabupaten  Bangka  Selatan.  3.    Permasalahan yang dihadapi dalam jaringan jalan adalah :  1.  jalan  provinsi  sepanjang  100.  2.00  km kondisi sedang dan kondisi rusak sepanjang 383.  4. terbangunnya  jaringan  jalan  dan  prasarana  sesuai  rencana  pengembangan  wilayah.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan sub fungsi jaringan jalan adalah:  1. meningkatnya  kualitas  jalan  serta  terpenuhi    spesifikasi  jalan  sesuai  dengan  fungsi dan kelas jalan Kabupaten Bangka Selatan.  pembentukan  struktur  jaringan jalan sesuai dengan hirarki dan pelayanan jalan.  VII-32   . Serta tingkat kebocoran  mencapai 41%.970 km.  dan  jalan  kabupaten  sepanjang  602.  6.  5.47  km. kurangnya  jaringan  jalan  prasarana  jalan  dalam  pemenuhan  kebutuhan  pengembangan wilayah.  2. terbatasnya kualitas dan kuantitas sumber air baku untuk pelayanan air bersih.  Permasalahan  klasik  yang  dihadapi  berkaitan  dengan  air  bersih  adalah  masih  rendahnya  kinerja  pelayanan  air  bersih.48 km. pembangunan sistem informasi/database jalan dan jembatan.   Kondisi jalan kota pada tahun 2009 sebagai berikut 250.  yaitu  belum  meratanya  sistem  jaringan air bersih dan masih minimnya kapsitas air bersih. Jaringan jalan  Panjang jalan di Kabupaten Bangka Selatan sampai tahun 2009 adalah 804. Sumberdaya air dan pelayanan air bersih  Air  bersih  merupakan  kebutuhan  yang  sangat  vital  bagi  masyarakat  dan  fungsi  perkotaan. tingginya tingkat pencemaran sumber air bersih.111 km. interkoneksi antar bagian  wilayah  pengembangan  dan  antar  pusat  pelayanan  transportasi  dan  pusat  pelayanan perkotaan serta peningkatan kapasitas jalan. 171.    Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi Sumber daya air dan pelayanan air  bersih adalah :  1. rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   a.  3. tidak seimbangnya penambahan ruas jalan dengan pengguna jalan. pembangunan jalan dan jembatan.  3.  sesuai  dengan  kewenangannya  diklasifikasikan  sebagai  jalan  negara  sepanjang  102. tingginya tingkat eksploitasi sumber daya air bawah tanah.02  km. masih adanya jalan yang tidak memenuhi kualitas sesuai dengan kapasitas dan  kelas jalan.

          VII-33  . menurunnya kapasitas saluran yang diakibatkan oleh sedimantasi dan sampah. Pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah. dan konservasi sungai.  2. pengendalian banjir.  2.  Daerah genangan banjir di Kota Toboali adalah di kawasan bawah/pantai  kelurahan  Toboali Kota yaitu di daerah Rawabangun. maraknya  penyalahgunaan  Daerah  Aliran  Sungai  (DAS)  sehingga  kurang  mendukung fungsi bantaran sungai dan catchment area.  2. Penyediaan dan pengelolaan air baku. mengurangi area dan lamanya genangan banjir dan ROB. terpenuhinya  kebutuhan  air  bersih  masyarakat  dengan  cakupan  pelayanan  100%. exÇvtÇt cxÅutÇzâÇtÇ ]tÇz~t `xÇxÇzt{ WtxÜt{ ECDC „ ECDH ^tuâÑtàxÇ UtÇz~t fxÄtàtÇ   5. belum optimalnya sistem pengendalian banjir dan ROB. pembangunan saluran drainase/gorong‐gorong.  5. teraturnya  debit  limpasan  sesuai  dengan  kapasitas  saluran.  2. Jaringan drainase.    Program indikatif kegiatan pengelolaan Sumber Daya Air dan Pelayanan air Bersih  adalah :  1.  pengelolaan  dan  konservasi cacthment area dan badan sungai.  3. danau dan sumber daya air  lainnya.  3.  4.    Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan sub fungsi drainase adalah:  1.    Arah  kebijakan  pembangunan  sub  fungsi  drainase  diarahkan  bagi  pengendalian  banjir dan penanggulangan ROB dengan pembangunan system drainase wilayah dan  kawasan.    Program indikatif sub fungsi drainase adalah :  1.  3.  2. kapasitas  saluran  kurang  mampu  menampung  debit  air  akibat  hujan  di  daerah  hulu.    Sasar