You are on page 1of 28

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR

No :

tentang

KEBIJAKAN PELAYANAN MEDIS
RSIA GRHA BUNDA

Direktur RSIA Grha Bunda :

Menimbang :
1. Rumah sakit terdiri atas berbagai unit yang merupakan subsistem dari sistem rumah sakit itu
sendiri.
2. Operasional rumah sakit memerlukan kejelasan dan koordinasi yang sangat erat antara satu dan
lain unit sesuai dengan perkembangan pelayanan rumah sakit.
3. Berbagai profesi harus bekerjasama dengan berfokus pada pasien.
4. Untuk terlaksananya koordinasi diperlukan berbagai kegiatan yang mempunyai landasan yang
jelas dan pasti untuk mencegah terjadinya kesalahan, khususnya dalam memberikan pelayanan
kepada pelanggan, khususnya pasien.
5. Untuk itu perlu ditetapkan berbagai kebijakan operasional unit yang merupakan landasan dan
dasar bagi terlaksananya kegiatan interaksi dan koordinasi yang baik.
6. Bahwa adanya penambahan kebijakan dalam pelaksanaan operasional pelayanan medis, maka
dipandang perlu untuk merevisi kebijakan medis yang lama.

Mengingat :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
2. Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor AHU-
74107.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 15 Oktober 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan
Anggaran Dasar PT Pelita Reliance International Hospital.
3. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. 11 tertanggal 13 September 2011 sesuai
dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Data Perseroan PT. Pelita Reliance
International Hospital dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia No. AHU-
AH.01.10-34236 tertanggal 25 Oktober 2011.
4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 828/MENKES/SK/IX/2009
tanggal 11 September 2009 tentang Penetapan Kelas Rumah Sakit Umum Eka Milik PT. Pelita
Reliance International Hospital Provinsi Banten.
5. Surat Keputusan Pemerintah Provinsi Banten, nomor 821/2048/KES/III/2010 tanggal 22 Maret
2010 tentang Izin Penyelenggaraan Tetap RSIA Grha Bunda di BSD.
6. Surat Keputusan Dewan Direksi PT. Pelita Reliance International Hospital nomor
002/SK/DIR/PRIH/II/2011 tanggal 01 Februari 2011 tentang pengangkatan dr. Hermanto Nurya
sebagai Direktur RSIA Grha Bunda di BSD.
7. Surat Keputusan Direktur RSIA Grha Bunda Nomor 133/SK/DIR/BSD/VI/2012 tanggal 18 Juni
2012 tentang Penetapan Revisi Struktur Organisasi RSIA Grha Bunda.

MEMUTUSKAN

1

Menetapkan :
Pertama : Mencabut SK Direktur No. 206/SK/DIR/BSD/VIII/2012 tanggal 13 Agustus
2012 tentang Revisi Kebijakan Pelayanan Medis RSIA Grha Bunda.

Kedua : Memberlakukan revisi kebijakan Pelayanan Medis seperti yang tercantum
dalam lampiran surat keputusan ini.

Ketiga : Kebijakan – kebijakan tersebut menjadi dasar untuk pelaksanaan operasional
dalam melakukan interaksi dan koordinasi baik di dalam unit sendiri ataupun
interaksi dan koordinasi antar unit.

Keempat : Demikian untuk menjadi pedoman bagi seluruh dokter dan perawat dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.

Kelima : Surat Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan dan apabila ternyata
dikemudian hari terdapat kekeliruan atau ketidaksesuaian lagi, maka akan
dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Tangerang Selatan
Pada tanggal : 27 Februari 2013

dr. Hermanto Nurya H.
Direktur Rumah Sakit

Lampiran SK Direktur No. 003/SK/DIR/BSD/II/2013

BAB I

2

Informasi Kesehatan dan edukasi kesehatan b. RSIA Grha Bunda bukan merupakan Rumah Sakit rujukan untuk pelayan HIV Point a-d ditentukan oleh dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) dan didokumentasikan di EMR (Hysis). Dokter gigi 3. Semua Dokter yang berpraktek di RSIA Grha Bunda harus mengikuti Panduan Praktik Klinis (PPK). Kebijakan Pelayanan Medis Umum 1. Semua staf medis mempunyai SIP di RSIA Grha Bunda. Proses kredensial dilakukan pada saat dokter dokter akan bergabung di RSIA Grha Bunda dan re-kredensial oleh sub komite kredensial dilakukan setiap 3 (tiga) tahun sekali dan mengacu pada buku pedoman kredensial dan kewenangan klinis RS. Khusus konsultan disertai Surat Tugas. Semua Dokter umum dan Spesialis yang melamar ke RSIA Grha Bunda : a. Dokter Umum c. Paliatif : hanya untuk memperbaiki keadaan umum d. Preventif : Vaksinasi.. Dokter Spesialis b. 8. jika pasien dan keluarga meminta untuk diperiksa dan dirawat oleh Dokter Spesialis yang terkait maka Rumah Sakit akan memfasilitasi kebutuhan ini. untuk dokter luar yang diundang sewaktu – waktu harus menyertakan fotocopy STR dan SIP tempat tugasnya serta mendapatkan rekomendasi dari kepala pelayanan yang terkait. Harus melalui proses rekrutmen yang berlaku. e. Batasan usia anak adalah 18 tahun. Pasien rujukan dari sarana pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas rawat inap atau pasien yang telah pulang dari perawatan (rawat inap) kurang dari 5 hari kemudian masuk RS untuk dirawat lagi : a. Rahang Kanan bawah : angka 4 13. 10. Pasien bayi. anak. Setiap tahun pimpinan RS menentukan paling sedikit 5 area prioritas Clinical Pathway. 5. terkecuali IGD dapat melayani pria > 18 tahun c. RSIA Grha Bunda memberikan semua pelayanan yang meliputi : a. perawat dan petugas keamanan (security). tetapi untuk anak usia 15 tahun atau lebih. 9. 11. Untuk penulisan rahang gigi diberlakukan sebagai berikut : a. Kuratif : pelayanan kesehatan khususnya ibu dan anak. Rahang Kiri bawah: angka 3 d. b. 7. Mengikuti program orientasi pelatihan sesuai program yang berlaku. 4. dan mempunyai hak untuk memilih / dipilih sebagai Ketua Kelompok Staf Medis. pengadaan serta pemanfaatan fasilitas dan peralatan medis. Rehabilitatif : . Rahang kanan atas: angka 1 b. Staf medis membantu pimpinan rumah sakit dalam proses perencanaan. 12. Skrining MRSA dilakukan pada pasien yang memerlukan perawatan lanjutan di RSIA Grha Bunda. 6. 2. Semua staf medis masuk kedalam Kelompok Staf Medis (KSM). c. RSIA Grha Bunda menyediakan pelayanan Informasi Medis yang dilayani oleh dokter umum dengan jam operasional sesuai jam poliklinik. Staf Divisi Pelayanan Medis terdiri dari : a. 3 . Rahang Kiri atas: angka 2 c. manula dan pasien yang tidak mampu untuk menjaga dirinya sendiri maka akan mendapat perhatian khusus melalui kolaborasi dokter.

a. jika ada indikasi). yang tersedia di Indonesia. APTT. pemeriksaan EKG (pada anak. Untuk pasien yang dijemput dengan ambulance. Kreatinin. SGPT. 15. secara visual bagian pendaftaran mengetahui apakah pasien daam kondisi emergensi atau tidak b. Pemeriksaan Hematologi lengkap dan urin lengkap. Apabila tempat tidak tersedia. semua pasien wanita usia produktif dengan keluhan nyeri perut. Apabila pasien belum mengetahui dokter yang dituju. dengan atau tanpa perdarahan. maka pasien dialihkan masuk melalui poliklinik (pada jam kerja) atau IGD (kondisi emergency/di luar jam kerja). maka skrining dilakukan di rumah/tempat pasien dijemput. Untuk IGD : sesuai dengan Triage c. 20. Bagi pasien yang membutuhkan donor organ maka rumah sakit akan menginformasikan kepada pasien mengenai yayasan atau sarana pelayanan lain yang terkait. PT. c. Ureum. Glukosa Darah Sewaktu. dengan atau tanpa gejala syok hipovolemi . ETT dan WSD harus dilakukan penilaian ulang. kecuali CVC. dan dilakukan pemeriksaan urine Beta HCG d. Apabila tidak membawa surat pengantar atau waktu kedatangan pasien tidak sesuai dengan waktu yang tertera pada surat pengantar. d. Semua pasien rawat jalan akan diperiksa berdasarkan urutan pendaftaran. Untuk pasien NICU. Pasien yang berobat di Rumah Sakit hanya dapat dilayani melalui IGD dan Poliklinik rawat jalan. tanda-tanda vital dan Gula Darah Sewaktu (sesuai indikasi). dan Rontgen Thorax 4 . dengan sebelumnya pasien diperiksa oleh dokter jaga IGD kemudian dokter jaga menandatangani surat pengantar rawat (tanda kondisi pasien stabil). 16. Elektrolit. Semua pasien yang akan dirawat inap harus dilakukan: a. 19. Petugas Medis harus memastikan bahwa RSIA Grha Bunda mampu melayani pasien tersebut dan adanya ketersediaan tempat. RSIA Grha Bunda tidak menyediakan tempat khusus perawatan untuk pasien kanker atau terminal stage. 14. b. untuk pengkajian dan penatalaksanaan selanjutnya sesuai dengan SPO Triage pasien IGD. b. Untuk pemeriksaan penunjang lain disesuaikan dengan Panduan Praktek Klinis (PPK) RSIA Grha Bunda. terdapat penurunan Hb mendadak. Sejak kontak pertama pasien datang ke RS harus dilakukan skrining. Pasien yang akan menjalani operasi dilakukan pemeriksaan standar berupa Laboratorium : Hematologi Rutin. maka dokter jaga yang bertugas akan mengkonfirmasi ke dokter spesialis terkait. RSIA Grha Bunda tidak melakukan donor organ dan penelitian medis. maka petugas harus mengirim ke rumah sakit lain terdekat yang mampu memberikan pelayanan sesuai dengan keadaan pasien. Untuk Rawat Jalan : pasien diarahkan ke bagian yang dituju apabila pasien maupun keluarga pasien sudah mengetahui poli/tempat yang dituju. HbSAg. 17. perawat melakukan screaning kebutuhan pasien yang mendesak untuk melakukan kolaborasi dengan dokter (dokter akan mengarahkan kemana pasien akan dilayani/ditangani) Jika pasien dengan kondisi gawat darurat maka akan dialihkan ke IGD dan didampingi oleh perawat. Jika diperlukan. f. 18. akan ditentukan oleh DPJP. SGOT. Pasien yang akan mendapat terapi antibiotik dan dirawat di ruang HCU / NICU harus dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan kultur yang disesuaikan dengan dugaan infeksi sebelum pemberian antibiotik. Apabila pasien menggunakan alat-alat invasif harus diganti di IGD. e. Yang harus diperiksa meliputi : Keadaan Umum. Pasien dengan operasi elektif yang membawa surat pengantar dari dokter spesialis RSIA Grha Bunda bisa masuk ke ruang perawatan melalui Admission. Pasien dengan usia ≥ 35 tahun ditambah pemeriksaan EKG dan Rontgen thorax.

Pasien tidak dapat masuk ke ruang rawat inap. dll. tanda vital dan hasil pemeriksaan fisik yang bermakna. Keputusan pasien untuk dirawat inap. 22. Jam Visite dokter : a. mencakupi : a. 25. Terminasi kehamilan j. meliputi keluhan pasien. Pasien yang daya imunnya direndahkan o. Penempatan ruangan Rawat Inap pasien ditentukan oleh DPJP (Ruang perawatan biasa/Ward. dipindahkan atau dirujuk ke rumah sakit lain sebelum ada hasil pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa dan planned of care.00 WIB b. maka harus seizin DPJP dan hasil pemeriksaan disertakan bersama dengan form rujukan. pulang atau dirujuk ditentukan oleh DPJP dan didokumentasikan di EMR (Hysis). Pengkajian keperawatan 30. Sakit terminal f.00 – 11. 21. Riwayat penyakit dan pengobatan terdahulu d. Anak c. yang tidak dibicarakan di tempat umum seperti nurse station. Bayi b. Riwayat perjalanan penyakit sekarang c. 31. Kecuali ada hal – hal yang mendesak sehingga visite tidak dapat dilakukan pada jam – jam tersebut. Pasien nyeri kronis dan intens h. Pasien dengan infeksi/penyakit menular n. 26. Dokter melakukan konsultasi. dan tindakan medis dalam ruang tertutup untuk menjaga dan menghargai privacy pasien. 29. pemeriksaan fisik. Pasien dengan kelainan emosional/gangguan jiwa k. Keluhan pasien b. Poli Spesialis adalah Dokter Spesialis c. Sore hari : jam 16. Apabila dipindahkan atau dirujuk. Wanita dalam proses melahirkan i. Setiap temuan dalam proses ini menjadi rahasia pasien – dokter. diagnosa kerja dan rencana penatalaksanaan. Pagi hari : dimulai jam 07. Pasien yang diduga ketergantungan obat atau alcohol l. IGD adalah Dokter umum yang bertugas di IGD saat itu b. dilakukan oleh dokter sesuai kompetensi yang dimilikinya. Remaja d. Korban kekerasan atau terlantar m. Pengkajian awal pasien rawat inap bersifat komprehensif atau lengkap. lorong Rumah sakit. HCU/Perina/NICU atau Isolasi).00 – 21. kafetaria. Untuk pasien yang dirawat dalam satu ruang bersama maka konsultasi dengan keluarga pasien akan dilakukan di ruang tersendiri. DPJP di : a. Lanjut usia dengan kondisi lemah e. Pasien nyeri g. Yang dimaksud dengan DPJP adalah Dokter Penanggung Jawab Pelayanan. Pengkajian awal pasien rawat jalan bersifat terfokus dan singkat dengan menggunakan format SOAP (Subjektif-Objektif-Assessment-Planning). (kecuali Ibu Hamil). 23. 28. Pengkajian pasien mengikuti format populasi khusus yang telah ditetapkan RS : a. Rawat Inap adalah Dokter Spesialis 24. Pemeriksaan fisik secara lege artis 5 .00 c. lobby. 27. lift.

memakai VAS d. skor nyeri 0 – 10. gangguan respiratorik. Semua hasil pemeriksaan penunjang dan ekspertisenya dapat dilihat di Hysis. under nutrisi dengan IMT ≤ 18. Bagi pasien: a. wajib dijelaskan dokter kepada pasien/keluarga pasien dengan sejelas-jelasnya dan harus didokumentasikan didalam Hysis atau form yang telah ditetapkan. Rencana perawatan dan pengobatan j. Membutuhkan perawatan lanjutan dirumah atau Home Care c. maka digunakan Wong Baker c. Dokter yang melakukan pengkajian pasien dapat merujuk pasien kepada dokter spesialis lainnya atau meminta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi medis dengan disetujui oleh pasien / keluarga pasien. akan dikonsulkan ke Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik dengan persetujuan pasien / keluarga. obesitas dengan gangguan metabolik dan metabolik sindrom harus dikonsulkan ke Dokter Spesialis Gizi Klinik untuk pengkajian dan penatalaksanaan program diet lebih lanjut. gangguan menelan dan gangguan bicara. dengan sepengetahuan DPJP. menjadi satu kesatuan untuk menentukan penatalaksanaan pasien berdasarkan prioritas masalah. 37. Semua hasil pengkajian pasien dan prosedur yang akan dilakukan. Status gizi h. Geriatri / Gangguan mobilisasi b. Untuk konversi dari wong baker ke Numerik. e. Diagnosis i. 43. Semua pasien rawat inap mendapat pengkajian lanjutan minimal 1 x 24 jam oleh dokter-dokter yang merawat sesuai dengan kompetensi profesinya mengikuti format Subjective-Objective- Assessment-Planning (meliputi perkembangan pasien. Untuk pasien usia > 9 tahun memakai Numerik Namun penulisan/pelaporan skala nyeri memakai Numerik. Membutuhkan alat bantu kesehatan setelah pulang Maka discharge plan dibuat oleh DPJP sejak pasien masuk RS 33. respon pengobatan. Bila skor skala nyeri ≥ 4 pada skala numerik. Pengkajian nyeri dilakukan dengan 4 cara. 36. maka pengkajian nyeri selanjutnya dilaksanakan oleh bagian keperawatan. Semua pengkajian awal pasien harus selesai sampai terdokumentasi di rekam medis pasien dalam waktu sesegera mungkin. Dokter menggunakan semua hasil pengkajian yang dilakukan oleh semua petugas kesehatan. Semua pasien rawat jalan dan rawat inap dengan gangguan fungsional motorik. Untuk tindakan medis yang dapat dilakukan oleh spesialis lebih dari satu bidang keilmuan maka tindakan tersebut diprioritaskan dilakukan oleh dokter spesialis yang lebih kompeten (berdasarkan kewenangan medis yang ditetapkan RS) yang berada di Rumah Sakit atau yang mudah dihubungi (kecuali atas permintaan pasien). tirah baring lama (lebih dari 5 hari). Untuk pasien Fisioterapi. 34. Pasien rawat jalan dengan gangguan nutrisi. 39. Pengkajian psikososial dan fungsionalnya termasuk risiko jatuh dan skala nyeri f. rencana pengobatan dan rencana pulang) yang akan dirangkum menjadi satu oleh dokter jaga dengan sepengetahuan DPJP. sesuai pengkajian lanjut pasien dengan format SOAP. maka dokter harus melakukan pengkajian dan penanganan nyeri lebih lanjut. sedangkan jika nyeri < 4. 35. dan pengkajian lanjutan dapat diulang sesuai kondisi pasien. yaitu: a. 38. 41. maka nilai pada wong baker dikalikan 2. Untuk pasien umur 4-9 tahun atau pasien dewasa yang tidak dapat mengungkapkan derajat nyerinya. Rencana pulang (discharge plan) 32. Sosial ekonomi g. Dan di dokumentasikan dalam EMR. 40. 6 . maksimal 1 x 24 jam dan jika menggunakan singkatan harus mengacu pada daftar singkatan yang telah diberlakukan oleh RSIA Grha Bunda. Untuk pasien umur 0-3 tahun dengan menggunakan FLACC b. 42.

Semua informasi ini disampaikan secara langsung. Diagnosa dan penyakit penyerta 7 . Penyuluhan/edukasi c. dapat didampingi dengan penerjemah yang terdaftar di RSIA Grha Bunda atau yang direkomendasikan dari pihak pasien atau keluarga pasien atas persetujuan pasien/keluarga. bila tidak memungkinkan dapat disampaikan melalui telepon pada keluarga/pihak ketiga yang berhak setelah pihak rumah sakit melakukan verifikasi terlebih dahulu dan seijin pasien/keluarga inti pasien. Alasan dirawat/alasan pindah ruangan b. Selama proses pengkajian. Anak – anak kandung d. monitoring dan evaluasi penerapan standar pelayanan medis melalui : a. 54. pasien/keluarganya harus menandatangani formulir persetujuan pada setiap tindakan medis berisiko tinggi yang dilakukan. Suami/istri b. penyuntikan Intravena/IM. Digunakan untuk menunjang kegiatan yang berkaitan dengan fungsi dan tugas Komite Medis dan Sub Komite. perawat. termasuk jika ada hal/kejadian yang di luar perkiraan/harapan dari rencana semula. 47. Bagi pasien tidak sadar dan didampingi oleh keluarga. Temuan pemeriksaan yang signifikan c. Semua tindakan yang berisiko tinggi disertai dengan informed consent tertulis. Laporan kepuasan pasien 53. 50. Jika pasien dan keluarga ada kendala dalam bahasa. rencana perawatan (termasuk tim dokter yang akan merawat). maka yang berhak memberi persetujuan atau penolakan tindakan medik sesuai dengan urutan sbb : a. Penanganan masalah etis medis mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki). dilakukan pengawasan. c. Pasien yang akan pindah antar ruang perawatan (IGD-Ward-UPI-OT-HD). b. Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan. 46. 48. Kesempatan pasien dan keluarga untuk bertanya secara verbal dan tulisan dengan metoda I CARE. Dokter. 55. Dokter DPJP baik secara mandiri maupun dengan tim (dokter. pemasangan cateter urine. 49. 56. intubasi. Saudara – saudara kandung 51. b. d. Apabila ada perbedaan pendapat antara DPJP pengirim pasien maupun konsulen lainnya dalam hal penatalaksanaan pasien. ke rumah sakit lain atau pulang ke rumah harus dilengkapi asuhan/resume medis yang mencakup : a. 45. penunjang medis.44. dll) harus memberikan : a. pasien didampingi oleh perawat atau keluarga pasien. maka akan didiskusikan dalam forum komite medik. Pertemuan kasus sulit dan kematian. Morning report d. gizi. 52. fisioterapis. Untuk tindakan medis invasif pemasangan infus. Ayah/Ibu kandung c. Dokter memberikan informed consent kepada pasien/keluarganya sebelum tindakan medis dilakukan. Disediakan di lantai 2 b. Audit medis. Semua hasil penjelasan harus didokumentasikan di EMR (Hysis) dan ditulis dalam formulir Bukti Edukasi dan Penjelasan Kondisi/Keadaan Pasien Kepada Pasien/Kelaurga serta ditandatangani oleh DPJP dan keluarga pasien. dapat dilimpahkan kewenangannya kepada perawat senior. Ruang rapat Komite Medis : a. hasil yang diharapkan dari perawatan/pengobatan termasuk personil yang akan melakukan tindakan atau pengobatan. Penjelasan mengenai hasil pengkajian pasien.

d. Dokter pengantar berkoordinasi dengan DPJP apabila terjadi sesuatu hal selama proses transfer. dengan seizin DPJP. Pada proses transfer. Pasien yang indikasi rawat tapi menolak maka harus menandatangani surat penolakan rawat dan semua alat kesehatan yang terpasang harus dilepaskan di rumah sakit kecuali Endo tracheal tube dilepaskan di rumah oleh keluarga pasien. Pasien dirujuk ke Rumah Sakit lain oleh DPJP. Dalam proses rujuk ini RSIA Grha Bunda membantu mencarikan Rumah Sakit lain dan dipastikan bahwa rumah sakit yang dituju memiliki fasilitas yang dibutuhkan dengan mengkonfirmasi terlebih dahulu ke rumah sakit tersebut. Pasien yang akan ditransfer internal maupun eksternal harus didampingi oleh dokter dan atau perawat yang sudah mengikuti pelatihan ACLS atau BHD (Bantuan Hidup Dasar). 62. Jika pasien dan keluarga menolak rawat inap atau perawatan yang direncanakan atau yang sedang berjalan maka pasien dan keluarga akan diinformasikan : a. d. Pengobatan atau tindakan yang signifikan f. d. 61. Pasien yang memerlukan rawat inap tetapi kamar rawat inap di RSIA Grha Bunda tidak tersedia (penuh). c. 65. Pemeriksaan diagnostik dan prosedur yang telah dilakukan e. Tanggung jawab pasien dan keluarga atas keputusan tersebut c. 68. Apabila pasien menginginkan adanya pendapat dari dokter lain (second opinion). Sarana. b. Pasien yang sedang dirujuk berada di bawah tanggung jawab DPJP. Atas permintaan pasien atau keluarga. bila : a. 66. Pasien yang memerlukan tindakan segera tetapi dokter tidak ada di tempat. dapat diwakilkan oleh dokter jaga. Selama proses transfer tetap menjadi tanggung jawab DPJP. pasien harus dipastikan dalam kondisi transportable sebelum dipindahkan. Harus menandatangani surat penolakan. b. Apabila DPJP berhalangan. Jika pasien memerlukan pengkajian khusus dari konsultan yang tidak tersedia di RSIA Grha Bunda maka: a. petugas. Instruksi untuk pemantauan selanjutnya 57. 60. Konsekuensi dari keputusannya b. 64. Pasien yang tertunda rawat inap. Kondisi pasien saat akan dipindahkan g. Pengobatan saat dipindahkan dan pengobatan yang diberikan untuk di rumah h. Rumah sakit akan mengundang konsultan tersebut. Segala sesuatu perubahan kondisi pasien dan tindakan lanjut yang diberikan kepada pasien terkait perubahan kondisi pasien tersebut. harus segera didokumentasikan dalam EMR oleh dokter / perawat yang mendampingi pasien saat proses transfer pasien antar unit. operasi dan pemeriksaan penunjang harus dijelaskan alasan tertundanya oleh DPJP atau dokter jaga kepada pasien/keluarganya dan didokumentasikan di EMR (Hysis) serta dibukti edukasi/penjelasan. Proses pengisian Discharge Summary diisi dan ditandatangani oleh DPJP dan perawat ruangan. maka rumah sakit akan memberikan izin untuk pasien mencari pendapat kedua. DPJP bertanggung jawab dalam proses perencanaan pulang (Discharge Summary) dan follow-up pasien yang meliputi sarana penunjang dan fasilitas kesehatan lainnya untuk menunjang perbaikan kesehatan pasien. 58. Alternatif perawatan dan pengobatan yang ada. Pasien dirujuk jika konsultan yang diperlukan tidak dapat hadir 63. Nama – nama dokter dan perawat tercantum dalam daftar/list. atau consumable yang dibutuhkan pasien tidak tersedia atau dalam perbaikan. 8 . kecuali untuk pasien yang memerlukan resusitasi bedah atau stabilisasi yang hanya dimungkinkan dengan setting pelayanan intensif yang lebih tinggi. 67. 59.

atas permintaan pasien tersebut. Hasil tindak lanjut dari info medis didokumentasikan dalam form informasi pasien pulang APS dan dilaporkan secara berkala ke Divisi Medis. Isi informasi yang diberikan adalah unit pelapor. terdokumentasi dan diinformasikan ke pihak manajemen Rumah sakit. c. Semua pasien. 9 . yaitu : a. Dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri. pulang dan tidak menjalankan pelayanan medis lanjutan di rumah sakit. 75. akan memberikan informasi kepada bagian info medis. Keadaan umum baik. taksi. Pasien dengan GCS dibawah 8 maka akan diintubasi kecuali pasien DNR (Do Not Resuscitate) atau MBO (Mati Batang Otak)/brain death. Setelah digunakan kemar bedah bersih harus segera disterilkan. yang karena permintaan sendiri. Penggunaan ambulance diutamakan untuk merujuk dan menjemput pasien. b. Pasien yang sedang menggunakan ventilator maka status DNR hanya berlaku untuk resusitasi jantung saja. hal-hal yang menjadi alasan pasien menolak perawatan lanjut di RSIA Grha Bunda (saran-saran) dan pemberian informasi dan edukasi yang sesuai dengan kondisi pasien. jelas. Bagian info medis akan menghubungi pasien dan menanyakan kondisi terkini pasien. Follow up dilakukan oleh bagian info medis maksimal 1 x 24 jam setelah mendapatkan informasi dari unit terkait. baik pasien rawat jalan dan rawat inap. paling lambat 1 x 24 jam setelah pasien pulang. Unit yang mengetahui kepulangan pasien (terakhir pasien mendapatkan pelayanan medis). identitas pasien. d. pelayanan medis lanjutan yang dilakukan pasien setelah pulang. pasien on ventilator ) pasien membutuhkan transport ambulance. maka akan dilakukan tindak lanjut terhadap kondisi pasien dan pelayanan medis lanjut yang dilakukan pasien sesudahnya oleh bagian info medis RSIA Grha Bunda. menggunakan form informasi pasien pulang APS. 74. b. Pasien yang secara klinis diperbolehkan pulang dan dapat dilakukan perawatan di rumah namun karena suatu hal tertentu ( pasien stroke. d. Dapat meminum obat yang diberikan secara mandiri. Apabila pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya tanda – tanda kekerasan. Visum dilakukan atas pemintaan pihak kepolisian dengan surat permintaan visum resmi dari kepolisian. e. keluarga inti atau orang yang berhak (orang terdekat yang bertanggung jawab) meminta dan menyetujui status DNR. Kriteria pasien diperbolehkan pulang. angkutan kota.69. Pasien. c. 72. 78. sebagai berikut : a. RSIA Grha Bunda menyediakan pelayanan transportasi berupa ambulance ( 24 jam )untuk kepentingan pasien. 70. dsb). Atas seizin DPJP 71. Status DNR hanya diperbolehkan pada pasien-pasien dengan keadaan mati batang otak (MBO)/brain death atau pasien dengan penyakit terminal (end stage). Bila kamar bedah lain sedang digunakan maka dalam keadaan Cito. 77. 76. Secara klinik dapat dilakukan perawatan di rumah. pemakaian ventilator tidak boleh dihentikan. DPJP serta alasan pasien pulang. e. harus dilakukan follow up. akan difasilitasi oleh pihak Rumah Sakit. RSIA Grha Bunda tidak menyediakan transportasi umum (bus. Kamar bedah untuk Operasi bersih dapat digunakan untuk operasi bersih terkontaminasi dan operasi kotor. 73. maka pemeriksaan fisik harus dilakukan secara rinci. Pasien rawat jalan dan rawat inap yang pulang atas permintaan sendiri (APS).

Waktu pemberian c. Batas waktu pemeriksaan penunjang (laboratorium dan radiologi) dianggap masih berlaku adalah maksimal 30 hari atau dapat diulang atas indikasi medis. 80. Dosis b. 87. Resume medis rawat jalan diberikan kepada pasien yang menjalani pengobatan berkelanjutan berikutnya di luar RSIA Grha Bunda (sementara maupun dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan) atau jika pasien sendiri meminta dibuatkan resume medis rawat jalannya. Pasien bayi c. 85. serta pada keadaan dan kapan akan diberikan. Peresepan obat dilakukan oleh dokter spesialis dan dokter umum yang ikut merawat pasien yang mempunyai User ID di Hysis melalui Electronic Prescribing yang mencakup : a. 84. 88. Jika ada permintaan di luar area tersebut maka akan pihak RSIA Grha Bunda akan bekerja sama dengan ambulance 118. riwayat operasi. adanya riwayat alergi obat. Kriteria Rumah Sakit/ Pusat layanan Kesehatan/Laboratorium rujukan : a. setelah itu jika pasien masih memerlukan obat tersebut maka kontrol kembali atau melalui bagian informasi medis atas sepengetahuan dokter yang merawat. Pemesanan obat yang harus disertai informasi berat badan adalah : a. Instruksi tambahan dalam peresepan seperti : a. 81. Penurunan dosis secara bertahap diketik dalam kolom Remarks dan dijelaskan kepada pasien oleh dokter. Jika ada permintaan di luar area tersebut maka akan dikoordinasikan dengan pihak manajemen. Rumah Sakit yang bekerjasama dengan RSIA Grha Bunda sebagai rujukan adalah rumah sakit yang sudah mempunyai MOU dengan RSIA Grha Bunda. Jika Pasien membutuhkan alat bantu kesehatan maka dokter akan memfasilitasi penyediaan alat tersebut melalui RSIA Grha Bunda. 82. 89. 90.79. 91. Pada obat ”PRN” dilengkapi dengan indikasi pemberian. Ambulance RSIA Grha Bunda hanya melayani penjemputan dan rujukan area BSD. obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien. b. dan riwayat perawatan di RS. Tangerang dan sekitarnya (JABODETABEK). Pasien anak d. Diagnosis yang signifikan dibuat berdasarkan kondisi pasien dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. Iter hanya boleh 2 kali. Pasien yang mempunyai berat badan ”ekstrim” 83. b. Terakreditasi secara nasional atau internasional c. DPJP/dokter jaga wajib memberitahu pasien/keluarga apabila ada penundaan pemeriksaan penunjang disertai alasannya dan semua keterangan wajib didokumentasikan di EMR (Hysis). Pusat Rujukan Nasional. Untuk Dokter Konsultan luar yang diundang sewaktu-waktu untuk ikut merawat pasien di RSIA Grha Bunda maka peresepan dan pencatatan rekam medik dilakukan melalui koordinasi dengan dokter spesialis atau dokter umum yang ikut merawat yang disetujui oleh DPJP utama. Mempunyai Ijin Operasional yang legal d. Obat dengan Indeks terapi sempit b. Alat/reagen yang sama dengan yang digunakan oleh RSIA Grha Bunda 86. Pasien rawat jalan yang mendapatkan perawatan berkelanjutan dibuatkan resume/rangkuman yang berisi diagnosis yang signifikan. Dalam keadaan bencana (disaster) seluruh staf dan personil yang terkait melakukan penanggulangan bencana sesuai Prosedur bencana di Rumah sakit. Apabila Pemeriksaan penunjang di RSIA Grha Bunda mengalami kerusakan/tidak tersedia maka pasien akan dirujuk ke Rumah sakit/Pusat Layanan Kesehatan/Laboratorium yang telah ditentukan oleh manajemen Rumah sakit. Resume 10 .

2) Setiap dokter spesialis harus memberikan minimal 2 (dua) nomor telepon ke divisi medis (nomor Hp dan nomor telepon rumah) 3) Jadwal oncall berlaku setelah disetujui dan ditandatangani oleh kepala divisi medis 4) Setiap perubahan jadwal oncall yang sudah disetujui oleh kepala KSM. 3) Pengaturan / pembagian jadwal oncall dibuat oleh masing – masing KSM b. Penilaian kinerja profesional untuk dokter spesialis dilakukan setiap 1 tahun. 6) Dokter oncall yang digantikan akan diberitahu melalui SMS / BBM bahwa sudah ada dokter pengganti. maka RSIA Grha Bunda melakukan pelayanan Tuberculosis-Direct Observed Treatment Shortcourse (TB-DOTS) dan Pelayanan Obstetri dan Neonatus Emergensi Komprehensif (PONEK) 95. 92. Jadwal Oncall dokter : 1) Pengaturan jadwal oncall terdiri atas : a) Pada jam pelayanan poliklinik (Pkl 07. Rangkuman kunjungan setiap pasien dapat dilihat oleh dokter pada Electronic Medical record dengan membuka menu ’summary’ pasien. Pengalihan Dokter Oncall 1) Pengalihan dokter oncall kepada dokter lainnya dilakukan apabila dokter oncall tidak bisa dihubungi sesuai dengan urutan yang tertera pada aturan point c di atas. Pengaturan Oncall dokter spesialis purna waktu : a. 93. 2) Apabila tidak ada respon atau dokter oncall tidak bisa dihubungi.00 – 07. ditulis oleh dokter umum atau spesialis pada saat pasien berobat/kontrol dan diserahkan ke pasien setelah selesai menerima pelayanan medis. 96.00) b) Di luar jam pelayanan poliklinik (Pkl 21. dan selanjutnya memberikan informasi dokter pengganti kepada dokter jaga / unit terkait dalam kurun waktu 15 menit.00) 2) Dokter oncall hanya 1 orang untuk setiap kebutuhan jadwal oncall dari masing – masing KSM.00 – 21. Yang berhak mengeluarkan interpretasi radiologi adalah dokter spesialis radiologi. 4) Dokter jaga / unit terkait selanjutnya menghubungi dokter pengganti tersebut. Tata Cara Menghubungi Dokter Oncall Dokter jaga / unit terkait harus menghubungi dokter oncall dengan urutan sebagai berikut : 1) No HP . kecuali untuk USG kebidanan dan kandungan oleh spesialis obstetric dan ginekologi dan MRI cardiac oleh spesialis jantung. diikuti dengan SMS / BBM jika tidak bisa dihubungi 2) No HP 3) No HP 4) No HP / telp rumah Jeda waktu masing – masing urutan telpon adalah setiap 5 menit d. 94. 11 . Dalam rangka mendukung program Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan pemerintah. 3) Ketua KSM harus bertanggung jawab untuk menentukan dan menghubungi dokter pengganti. maka dokter jaga / unit terkait akan menghubungi Ketua KSM untuk mendapatkan dokter pengganti. Alur Penyusunan / Perubahan Jadwal Oncall : 1) Jadwal oncall yang sudah disusun oleh masing – masing KSM diserahkan selambat – lambatnya kepada divisi medis pada tanggal 25 setiap bulannya. 5) Dokter pengganti bertugas menggantikan sampai jadwal oncall selesai. harus diketahui dan disetujui oleh kepala divisi medis c.

Dokter Jaga IGD b. bahwa pasien akan dilayani oleh dokter yang bertugas sebagai dokter oncall pada waktu itu. 7) Apabila KSM tidak bisa dihubungi. maka dokter jaga / unit akan menghubungi dokter lainnya pada KSM tersebut. Untuk masing – masing kelompok dokter spesialis. Koordinator Perawat IGD c. Pada jam pelayanan poliklinik. Semua pasien yang datang ke IGD dilakukan Triage sesuai urutan sbb : a. Pelayanan pasien yang tidak tergolong gawat dan atau darurat di IGD dilakukan berdasarkan nomor urut kedatangan pasien ke IGD. full time B dan part time. Pada prinsipnya. Perawat terlatih yang sudah mengikuti BHD (Bantuan Hidup Dasar) 12 . pasien bisa meminta alih rawat kepada dokter yang dituju pada keesokan harinya BAB II Kebijakan Pelayanan Medis Instalasi gawat darurat 1. e. diurutkan berdasarkan abjad. dokter jaga akan memberikan penjelasan kepada pasien. jika dokter tersebut berhalangan atau tidak dapat dihubungi. pelayanan di instalasi gawat darurat ditujukan bagi pasien gawat dan atau darurat serta mempertimbangkan kepuasan pasien. Perawat penanggung jawab shift d. 2. 3. dan jika pasien dirawat inap. maka pasien dianjurkan berobat ke poliklinik spesialis yang terkait atau poliklinik umum. Pasien tidak tergolong gawat dan atau darurat yang datang ke IGD : a. dokter jaga dapat memfasilitasi dengan menghubungi dokter yang bersangkutan. dengan urutan berdasarkan pengelompokan dokter spesialis full time A. b. Ketentuan lain – lain Jika pasien meminta dirawat oleh dokter tertentu pada jam oncall diluar jam pelayanan poliklinik. 8) Koordinator dari unit terkait harus melaporkan tentang pengalihan dokter oncall kepada kepala divisi medis keesokan harinya.

8. Proses administrasi harus diselesaikan dalam waktu 1 x 24 jam. 10. Pasien dengan kasus Multipel trauma konsul pertama adalah kepada Dokter spesialis Bedah Umum. Dokter penanggung jawab pasien dengan trauma thorax adalah dokter bedah thorax atau bedah umum. Setiap pasien yang memerlukan bantuan ventilasi dan belum terpasang ventilator harus dilakukan Resusitasi respirasi manual (bagging). yaitu : a. Kategori Merah (gawat darurat) b. 6. 23. 2) Jika tidak terhubung. Pemasangan WSD dapat dilakukan oleh dokter Bedah Thorax / Bedah Umum / Pulmonologi. sebagai dokter penanggung jawab pasien. Triage memakai kategori warna yang terdiri dari 4 (empat) kategori.4. 18. 19. Pasien dengan sakit kepala hebat/disertai penurunan kesadaran harus dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala. Setiap pasien yang datang dengan demam. Pasien dengan kasus kegawatdaruratan harus dipasang monitor. Luka Robek dengan rupture tendon dikonsulkan untuk tindakan selanjutnya oleh dokter bedah orthopedic. 22. 16. Pasien IGD yang dikonsulkan CITO dan perlu penanganan secepatnya : a. Kategori Hijau (tidak gawat dan tidak darurat) d. Pada jam praktek : Dalam waktu 15 menit harus sudah ditangani / mendapat instruksi dari dokter spesialis yang terkait. 20. 17. suhu di atas 38°C. Semua tindakan gawat darurat untuk life saving dapat dilakukan oleh dokter jaga IGD sesuai standar yang berlaku. 7. Apabila memerlukan Rawat Inap maka dokter jaga IGD memberi kode ”LS” pada form persetujuan rawat inap yang berarti pasien dapat dirawat mengikuti prosedur yang berlaku. Pasien yang memerlukan tindakan operasi segera yang dapat mengancam nyawa maka pasien diizinkan langsung dapat dibawa ke kamar bedah tanpa melalui proses administrasi dahulu. b. maka dilakukan minimal pemeriksaan Laboratorium Hematologi lengkap. harus dikonsulkan ke Dokter Spesialis Bedah umum atau bedah plastik. 13. dilakukan atas petunjuk dokter obsgin. Kategori Hitam (meninggal sebelum sampai di IGD/DOA) 5. 14. 12. Pasien dengan luka robek di wajah dan lukanya menembus otot. 21. Pasien IGD yang akan masuk ke unit rawat inap dan tidak indikasi operasi cito. Untuk pasien yang belum memungkinkan untuk dirujuk/pindah kamar/status perawatan pasien 13 . dalam waktu 1 jam harus sudah diantar ke ruang perawatan. Kategori Kuning (gawat tidak darurat / darurat tidak gawat) c. 15. Pasien Kebidanan dan Kandungan dengan kondisi gawat atau darurat dilakukan penatalaksanaan di IGD dan dikonsultasikan kepada dokter spesialis Obstetri Ginekologi (Obsgin) untuk selanjutnya apakah pasien akan dilakukan tindakan di ruangan VK. maka dokter jaga IGD wajib mengalihkan kepada dokter spesialis on call ke 2. Pasien dengan multiple trauma dan kondisi hemodinamik yang terganggu. Di Luar jam praktek : 1) Dalam waktu 15 menit dokter spesialis on call ke 1 harus sudah terhubung dan dalam kurun waktu 1 jam sudah harus mendapat instruksi. b. 9. 11. Pasien Syncope harus dikonsulkan kepada Dokter Spesialis Jantung. Pasien dengan luka robek di daerah mata wajib dikonsulkan ke dokter Spesialis Mata. Ditangani dengan menggunakan semua obat dan alkes yang ada di trolly Emergency. maka dokter penanggung jawab pasien adalah dokter Bedah Umum. Kasus Life Saving pasien tidak mampu: a.

Dokter dan atau perawat yang mengantar ke Rumah Sakit rujukan melakukan serah terima dengan petugas di Rumah Sakit rujukan. 27. Jam Operasional Poliklinik Spesialis : a. b. dokter harus menuliskan di remark ”CITO”. 2.00 WIB. 25. maka pasien akan tetap diobservasi dan dilakukan penatalaksanaan sesuai kebutuhan klinis pasien di IGD dan dikoordinasikan dengan manajemen. 14 . pulang atau rujuk. Untuk pasien rujukan yang terkendala karena belum mendapat tempat di RS yang dituju. semua yang dicatat. kondisi akhir pasien pada saat pulang dan rencana tindakan perawatan lanjutan. Jika memerlukan observasi lebih dari 4 jam maka didaftarkan menjadi pasien rawat inap atau dirujuk. Penyakit Dalam dan gigi tetap memberikan pelayanan pada hari Minggu: Jam 09. Sesampainya di RSIA Grha Bunda. 30.00 – 13. Nama petugas dan stempel Rumah Sakit rujukan harus dicap di form kegiatan ambulance. ditulis kembali di EMR (Hysis). 4. namun masih menunggu untuk proses perawatan. maka dokter jaga IGD dapat meminta bantuan dari dokter jaga unit lain. selanjutnya dan membutuhkan observasi lanjut.00 – 21. Setiap pasien yang akan dirawat di UPI. Penanggung jawab operasional Ambulance adalah Koordinator medis yang berkoordinasi dengan perawat IGD. Khusus Polikilinik Anak. Jam Operasional Poliklinik Umum dan poliklinik gigi: Senin – Sabtu: Jam 08. BAB III Kebijakan Pelayanan Medis Poliklinik 1. 3. kesimpulan akhir penanganan.00 WIB. Setiap tindakan Medis dan kejadian yang terjadi selama proses rujukan harus dicatat dalam form rujukan pasien dan disimpan dalam resume pasien. dengan kasus kegawatan yang harus ditangani segera. 31. maka pasien ditempatkan di ruang observasi IGD dengan pengawasan dokter jaga IGD. Ruang observasi khusus diperuntukkan untuk kasus-kasus Pandemi & Akut (lamanya observasi disesuaikan dengan kondisi pasien). 28. Setiap pasien masuk IGD harus didokumentasikan jam kedatangan. Kebidanan. Unit khusus (Cathlab) dan Ruang Operasi (tindakan cito) harus diantar dokter jaga IGD dan perawat.00 – 21. Apabila di IGD kedatangan 2 pasien sekaligus / lebih. Pasien Poli Umum dengan indikasi rawat inap harus dirujuk ke poli spesialis terkait. kecuali hari libur. 24. Setelah 4 jam. kecuali hari libur.00 WIB. namun tidak lebih dari 4 jam. 26. Untuk pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang dianggap cito. termasuk Emergency Observation dapat ditempatkan di ruang observasi IGD. Pasien Poliklinik rawat jalan yang akan dirawat inap. DPJP harus menentukan apakah pasien perlu rawat inap. Senin – Sabtu: Jam 07. 29.

Paket Eka Star f. Paket deteksi dini Stroke 3. 15 . Paket promo (tergantung rumah sakit dan marketing) i. kecuali : a. Paket Platinum e. Paket Gold d. Jumlah peserta MCU masing-masing dokter umum lebih dari 10 orang 4. Ada penambahan/ permintaan pemeriksaan lain yang membutuhkan prosedur khusus.00 – 14.00 – 14. Paket Jantung k. BAB IV Kebijakan Pelayanan Medical Check Up (MCU) 1. Paket Khusus g. Untuk Paket Gold s/d Eka Plus/ Eka Star akan didampingi 1 perawat untuk 1 peserta. Untuk Paket Basic dan Silver hasil selesai dalam waktu 1 hari. Paket Pra nikah j. Paket Pra karyawan dan karyawan (tergantung kesepakatan / permintaan) h. Paket Silver c.00 WIB. Kecuali hari libur nasional b.00 WIB 2. b. Jam Operasional : a. Minggu : 08. Paket Basic b. Pelayanan Medical Check Up terdiri dari : a. Senin – Sabtu : 07.

9. Untuk peserta group dalam jumlah lebih dari 10 orang. 7. selambat-lambatnya sehari sebelum melakukan MCU ke bagian pendaftaran MCU atau setelah jam 14.5.00 WIB ke operator atau customer care. sebagai berikut : a. 11. 8.00 – 14. 7. kecuali lantai Shorea untuk kebidanan dan kamar bayi dan lantai Pinus untuk pasien anak. 6. 12. kecuali obat rutin yang disetujui DPJP dan sudah diverifikasi oleh farmasi. 6. Jika kondisi pasien rawat inap memburuk dan DPJP utama tidak dapat dihubungi maka pasien dipindahkan ke Unit Pelayanan Intensif atas persetujuan pasien/keluarga. kemudian dokter jaga akan mengkoordinasikan kepada DPJP dan dokter spesialis yang diinginkan oleh pasien/keluarga tersebut. 11. Urutan wewenang yang memimpin tim resusitasi. Pasien rawat inap di bangsal yang membutuhkan resusitasi maka akan ditolong oleh dokter jaga bangsal dan perawat yang terlatih sebelum tim code blue datang. 10. dokter lain yang ikut merawatnya dan kepala divisi medis. Semua pasien baru rawat inap sudah mendapatkan pemeriksaan dokter jaga yang berdinas dalam waktu maksimal 30 menit setelah pasien berada di ruang rawat inap. 10. maka pasien/keluarga harus mengisi form alih rawat dan ditanyakan alasannya.00 WIB.00 – 14. 8. maka akan dianjurkan untuk konsul ke dokter spesialis terkait dengan cara mendaftar sebagai pasien rawat jalan. Pengkajian awal pasien rawat inap harus selesai dan terdokumentasikan dalam waktu maksimal 1 x 24 jam setelah pasien terdaftar sebagai pasien rawat inap. Peserta MCU harus melakukan perjanjian terlebih dahulu. tidak diperkenankan memakai obat dari luar rumah sakit. Semua pasien rawat inap dapat dikonsulkan kepada dokter spesialis lain atau dilakukan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi medis dengan disetujui pasien / keluarga pasien. 5. Untuk Paket Gold ke atas peserta MCU harus menggunakan pakaian yang disediakan RSIA Grha Bunda. 9. Bila peserta MCU ditemukan kelainan.30 WIB dan hari Sabtu pada jam 13. Semua pasien yang dirawat inap tidak dilakukan pemilahan ruangan berdasarkan jenis penyakit. 2. Peserta MCU harus diberi penjelasan oleh bagian pendaftaran MCU mengenai persiapan dan pelaksanaan pemeriksaan apa saja yang akan dilakukan. 4. Pelayanan MCU berupa peserta pribadi atau berkelompok. Dr Spesialis Anestesi 16 . Dokter umum MCU harus sudah mengikuti pelatihan Hiperkes. Pasien dengan Ureum dan Kreatinin yang tinggi harus dipantau ketat balance cairan / urin. Pasien yang memerlukan pengawasan ketat dengan menggunakan Monitor tidak boleh di rawat di bangsal. Pasien yang dirawat inap harus mendapat obat dari rumah sakit. harus melakukan reservasi selambat- lambatnya 2 hari sebelum MCU. Pasien koma tanpa alat bantu nafas dan atau pasien dengan status DNR dapat dirawat dibangsal. BAB V Kebijakan Pelayanan Medis Bangsal 1. Pengambilan Hasil MCU dan Konsultasi hasil bila diperlukan dapat dilayani pada hari Senin – Jumat pada jam 13. Semua pasien baru rawat inap akan mendapat pengkajian awal gizi dan program diet maksimal dalam waktu 1 x 24 jam oleh dokter SpGK atau dapat didelegasikan kepada ahli gizi sesuai format Gizi. Jika pasien/keluarga meminta alih rawat DPJP/konsultasi spesialis. 3. baik datang langsung / melalui telepon.

UPI dikepalai oleh dokter spesialis KIC (Konsultan Intensif Care). Keluhan lain. Dr Jaga UPI c. Setiap pasien pulang akan mendapatkan pesanan pasien pulang. Setiap pasien yang dirujuk oleh sarana kesehatan lain akan diberikan umpan balik berupa salinan resume medis yang diberikan melalui pasien untuk seterusnya ditindaklanjuti oleh perujuk. No MR. 3. 22. Semua pasien yang akan dilakukan pemeriksaan penunjang dan atau pemeriksaan medis di unit/Rumah sakit lain. Pemeriksaan Fisik waktu masuk dan Pemeriksaan Penunjang. Dr Jaga Ward yang terlatih d. Semua pasien yang akan dipulangkan dan memerlukan penanganan paska rawat inap (seperti: rehabilitasi medik. UPI di RSIA Grha Bunda terdiri dari UPI dewasa. 13. Pasien rawat inap yang tertunda dilakukan operasi atau pemeriksaan penunjung harus dijelaskan alasan dan lama penundaan kepada pasien atau penanggung jawab pasien dan didokumentasikan dalam EMR (Hysis). obat- obatan yang dibawa pulang dan rencana tindak lanjut berikutnya. 14. 20. jika lebih maka harus dibuatkan jadwal ulang untuk hari berikutnya. dll). diselesaikan selambat – lambatnya 1 x 24 jam setelah pasien pulang dan dapat didelegasikan kepada dokter jaga. 16. tetapi yang bertanggung jawab atas semua isi resume tersebut adalah DPJP utama. 15. maka dokter info medis akan menghubungi pasien tersebut untuk menanyakan keadaan pasien dan mendokumentasikan dalam buku catatan info medis. Jenis Kelamin. Ditandatangai oleh dokter yang merawat. 18. Setiap pasien yang pulang perawatan dan membutuhkan follow up. 2. 19. Perawat yang terlatih 12. RSIA Grha Bunda akan memfasilitasi kelanjutan perawatan pasien di rumah dengan cara: a. Pasien dirawat dan keluar dari UPI berdasarkan kriteria pasien masuk dan keluar ruang perawatan UPI yang ditetapkan oleh RS dalam bentuk SPO (Standar Prosedur Operasional). UPI RSIA Grha Bunda merupakan pelayanan UPI tersier yang mampu memberikan standar UPI umum yang tinggi dan mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanik yang lebih lama serta mampu memberikan dukungan atau bantuan hidup yang lainnya. b. 4. Melatih tenaga yang merawat pasien di rumah (keluarga dan atau pembantu pasien di rumah). Resume medis dibuat oleh DPJP utama. Dokter yang merawat. Diagnosa Keluar sesuai dengan ICD- X. Isi Resume Medis meliputi: Nama. kelas/kamar perawatan. Semua pasien yang akan pulang harus seizin DPJP dan terdokumentasikan dalam rekam medis pasien termasuk transportasi yang digunakan. maka DPJP wajib menulis tatalaksana selanjutnya. Keluhan Utama. Tgl masuk dan tgl keluar. Pasien Rawat inap tidak diperkenankan Cuti perawatan/izin keluar sementara. Diagnosa Masuk. Maksimal lama penundaan kurang dari 3 (tiga) jam. indikasi mencari pertolongan segera dan waktu kontrol berikutnya. BAB VI Kebijakan Pelayanan Medis Unit Pelayanan Intensif 1. 17 . b. UPI neonatus. harus didampingi oleh dokter jaga atau perawat. 17. Resume Medis dapat diberikan saat pasien pulang atau setelah pulang 21. UPI anak. Memberikan surat pengantar untuk perawatan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan pasien. pengobatan dan terapi yang diterima selama perawatan serta keadaan pasien saat pulang.

8. 17. 11. Pasien neonatus yang akan ditransfer dari NICU RSIA Grha Bunda ke rumah sakit lain harus didampingi oleh dokter dan atau perawat NICU dengan menggunakan inkubator transport. 13. 20. 16. BAB VIII Kebijakan Pelayanan Medis Anaesthesi 18 . Dokter jaga yang menerima pasien baru di UPI harus segera melakukan pengkajian pasien sesaat setelah pasien tiba di UPI. 19. Neurologist/Bedah Saraf). Pemasangan dan pelepasan Umbilical Catheter dan ECC (Epicutaneo Cava Catheter) pada neonatus dilakukan oleh dokter intensivist dan dapat didelegasikan kepada dokter jaga yang sudah terlatih. 9. 15. Dokter spesialis yang dikonsulkan hanya bersifat konsul saja dan tidak ikut merawat pasien tersebut di UPI / tidak bersifat rawat bersama kecuali diminta oleh dokter KIC demi kepentingan pasien. Pasien yang keluar dari ruang perawatan UPI berdasarkan instruksi KIC dan disetujui oleh DPJP berdasarkan indikasi klinis. 7. Pasien yang dipindahkan dari UPI akan dijemput oleh perawat dengan atau tanpa dokter yang berasal dari ruangan / unit dimana pasien akan dipindahkan. Alat terbuat dari silikon maka penggunaan maksimal 30 hari b. Bayi yang dirawat di PERINA adalah bayi yang secara indikasi medis tidak memerlukan perawatan di NICU tetapi hanya memerlukan observasi dan perawatan khusus. Maksimal batas waktu penggunaan ECC (Epicutaneo Cava Catheter) 30 hari. Bagi pasien di ruang isolasi dimana pasien memiliki gangguan imunitas (imunitas rendah) maka hanya keluarga inti atau orang terdekat dengan pasien saja yang diperkenankan untuk menjenguk pasien didalam kamar dengan mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh pihak RSIA Grha Bunda sesuai jam kunjungan pasien dengan tujuan untuk melindungi pasien. 10. CVC (Central Vein Catether). Pada keadaan tertentu dapat diperpanjang penggunaannya dan dokter yang merawat membuat pernyataan mengenai alasan memperpanjang penggunaan alat tersebut. 21. Pasien post prosedur intubasi harus segera dilakukan foto thorax dan kultur spesimen saluran napas (kultur sputum / kultur bilasan bronkus). Semua pasien UPI yang menggunakan ventilator harus dipasang juga Capnogard untuk monitoring atau pemantauan kadar CO2 selain dari pemeriksaan analisa gas darah. 14. Pasien MBO (Mati Batang Otak) harus dinyatakan minimal oleh 2 dokter (Intensivist. kecuali : a. Pasien post pemasangan CVC (Central Vein Catether) harus dilakukan foto thorax. kecuali pada keadaan tertentu dapat diperpanjang penggunaannya dan dokter yang merawat membuat pernyataan mengenai alasan memperpanjang penggunaan alat tersebut. 12. 18.5. Pasien anak yang akan ditransfer dari PICU RSIA Grha Bunda ke rumah sakit lain harus didampingi oleh dokter dan atau perawat UPI. 6. Maksimal batas waktu penggunaan ETT (Endotracheal Tube). Pasien yang masuk ruang perawatan UPI berdasarkan instruksi DPJP dan disetujui oleh KIC berdasarkan indikasi klinis. Dokter KIC sebagai penanggung jawab utama berkolaborasi dengan DPJP pengirim dalam hal penatalaksanaan pasien yang dirawat di UPI dan apabila tidak adanya kesatuan pendapat diantara KIC dan DPJP pengirim muapun dokter konsulen lainnya maka mereka wajib melakukan diskusi untuk membahas kondisi pasien tersebut dengan baik. Umbilikal kateter dan foley kateter adalah 7 hari.

7. evaluasi risiko. Perencanaan sedasi/anaestesi dilakukan berdasarkan hasil pengkajian termasuk perbedaan populasi dewasa dan anak-anak dan semua didokumentasikan dalam EMR (Hysis). 4. pasien dilakukan pemantauan dan didokumentasikan di form monitoring anaestesi yang akan ditandatangani oleh dokter spesialis anaestesi. Semua Dokter Anaestesi yang berpraktek di RSIA Grha Bunda harus mengikuti Panduan Pelayanan Anaestesi Nasional yang berlaku yaitu Buku terbitan IDSAI 2001 sesuai dengan SK Direktur No. 6. 10. 12. respirasi. dan dilakukan di unit – unit yang memiliki fasilitas yang mendukung sistem hemodinamik dan respirasi. Tidak diperlukan intervensi untuk mempertahankan patensi jalan nafas dan ventilasi spontan. 2. yang mencakup persediaan darah. Sedasi Minimal diperlukan untuk pasien-pasien yang masih bisa berespon normal terhadap perintah verbal maupun fungsi kognitif dan koordinasi fisik. Pelayanan anaestesi di RSIA Grha Bunda meliputi Anaestesi Lokal. Pemberian pelayanan MAC atau Monitoring Anaestesi Care/sedasi/anaestesi dilakukan oleh dokter spesialis anaestesi dengan melakukan pengkajian. Kemampuan untuk mempertahankan fungsi ventilasi mungkin mengganggu sehingga pasien memerlukan bantuan untuk mempertahankan patensi jalan nafas. 19 . Sedasi Dalam adalah pemberian obat yang menyebabkan depresi kesadaran dimana pasien tidak mudah dibangunkan untuk respon tertentu terhadap stimulus nyeri atau yang berulang (refleks withdrawel terhadap stimulus nyeri tidak dipertimbangkan untuk respon ini). Sebelum dilakukan induksi. Tindakan anaestesi adalah tindakan medis dan dilakukan oleh Dokter anaestesi yang telah mendapat pendidikan / pelatihan yang legal. 9. evaluasi risiko. Sedasi sedang dan dalam dilakukan oleh dokter spesialis Anaestesi. contoh : memiliki SIP. Spinal dan Umum dengan sedasi ringan sampai dalam dan diberikan 24 jam perhari. risiko dan alternatifnya dan semua ini terdokumentasi. 5. ketepatan sedasi untuk pasien dan ketersediaan alat yang akan digunakan. 3. mungkin terganggu tetapi fungsi rileks jalan nafas. nadi. 11. dimana pasien diharapkan masih berespon untuk tujuan tertentu terhadap perintah verbal (refleks withdrawel terhadap stimulus nyeri tidak dipertimbangkan untuk respon ini). fungsi ventilasi dan kardiovaskuler tidak terganggu. ventilasi spontan mungkin tidak adekuat. penatalaksanaan pre-operasi. dan perencanaan sedasi atau anestesi. kriteria ASA. 7 hari perminggu.1. Sedasi Sedang adalah pemberian suatu obat yang menyebabkan depresi kesadaran. keuntungan. 050/SK/DIR/BSD/II/2010. fungsi kardiovaskuler masih dapat dipertahankan. Visite pre anestesi/sedasi oleh dokter anaestesi harus dilakukan di ruang perawatan minimal 6 jam. 8. Selama pemberian anaestesi lokal ini pasien akan dipantau dan didokumentasikan di form monitoring anaestesi yang akan ditandatangani oleh dokter operator. ketepatan anaestesi lokal untuk pasien dan ketersediaan alat yang akan digunakan. dokter anestesi yang melakukan pembiusan menilai ulang keadaan pasien dan memonitoring tanda-tanda vital (TD. Pemberian anaestesi lokal dilakukan oleh dokter operator dengan melakukan pengkajian. Pasien yang direncanakan operasi harus dilakukan pre-anestesi assessment oleh dokter anestesi di ruangan perawatan. saturasi dan suhu) dan dicatat di form monitoring. 13. Selama pemberian sedasi/anaestesi ini. Pada saat memerlukan Kompetensi yang diluar kewenangan dokter anaestesi yang terdaftar di Rumah Sakit maka Penanggung jawab pelayanan anaestesi akan memberikan rekomendasi dokter yang akan diundang dan disetujui oleh Direktur Rumah Sakit. sebelum dilakukan anestesi/sedasi untuk mengevaluasi risiko dan keadaan pasien yang akan di anaestesi / sedasi dan temuan ini akan diinformasikan dan didiskusikan kepada pasien dan keluarga untuk menentukan jenis anaestesi/ sedasi yang akan digunakan. untuk pasien ODC minimal 1 jam. baik sendiri maupun diikuti oleh rangsangan/stimulasi tactile ringan. berdasarkan catatan kinerja yang baik dan pemenuhan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan.

b. 20 . TTV dimonitoring per 5 menit c. Dan semua ini terdokumentasi di rekam medis pasien. perubahan. TTV dimonitoring per 10 menit b. temuan pemeriksaan yang signifikan. 17. traktus bilier. traktus urinarius. dimonitoring dan ditanda-tangani oleh Dokter Anaestesi yang melakukan tindakan. Pasca anestesi/sedasi. kondisi pasien saat akan dipindahkan ke ruangan yang sesuai dengan kondisi pasien saat itu. Dokter yang melakukan operasi adalah dokter yang sudah kompeten dan terdaftar di RSIA Grha Bunda. kecuali dokter konsultan. penggunaan obat. Pra anestesi/sedasi. 15. orofaring. pemantauan durante anaestesi/sedasi dan pasca anaestesi/sedasi di ruang pulih dicatat secara kronologis dalam catatan anaestesi/sedasi. TTV dimonitoring per 10 menit Kecuali pada kondisi tertentu atau perubahan kondisi yang ekstrem pada pasien. Setiap pasien yang akan keluar dari Ruang Pemulihan ditentukan oleh dokter Anaestesi berdasarkan Skor Aldrete atau Bromage dan dilengkapi dengan : waktu masuk dan waktu keluar ruang pemulihan. 16. kecuali operasi dengan lokal anaestesi.14. dan instruksi untuk pemantauan selanjutnya. nama asisten anestesi dan kejadian yang terkait dengan persiapan dan pelaksanaan pengelolaan pasien selama pra-anaestesi/pra-sedasi. pemeriksaan diagnostik dan prosedur yang telah dilakukan. nama dokter. OT 1 adalah untuk operasi bersih 1) Tindakan operasi yang dilakukan pada daerah / kulit yang pada kondisi pra bedah tidak terdapat peradangan dan tidak membuka traktus respiratorius. Monitoring yang dilakukan selama pra-anaestesi/pra-sedasi. alasan dirawat. diagnosa dan penyakit penyerta. Aspek-aspek medis pengelolaan di ruang pulih diatur oleh kebijaksanaan dan prosedur yang telah ditinjau dan disetujui oleh SMF Anestesiologi dan reanimasi di Rumah Sakit. yaitu : a. maka monitoring akan disesuaikan dengan hasil pengkajian dokter anestesi. genital dan traktus urinarius yang tidak terinfeksi. pengobatan saat dipindahkan dan pengobatan yang di berikan untuk di unit perawatan lain/pulang. Kegiatan. dengan frekuensi monitoring sbb : a. traktus respiratorius sampai dengan orofaring atau traktus reproduksi kecuali ovarium. traktus gastrointestinal. OT 2 adalah untuk operasi bersih terkontaminasi 1) Tindakan operasi yang membuka traktus digestivus. 19. 2) Tindakan operasi berencana dengan penutupan kulit dengan atau tanpa pemakaian drain tertutup. BAB IX Kebijakan Pelayanan Medis Bedah Dan Kamar Operasi 1. Kamar bedah terbagi menjadi 3 ruangan. pemantauan durante anaestesi/sedasi dan pasca anaestesi/sedasi disesuaikan dengan form monitoring (form anestesi/sedasi). Kamar bedah memberikan pelayanan 24 jam perhari dan 7 hari perminggu 3. 18. 2. pengobatan atau tindakan yang signifikan. Durante anestesi/sedasi. Setiap tindakan operasi harus didampingi oleh satu orang Dokter Anaestesi. Pada kasus emergensi dan harus segera dilakukan tindakan pembiusan maka visite pre operasi dapat dilakukan evaluasi sesegera mungkin di tempat asal pasien atau di kamar bedah dan menjelaskan kepada pasien dan keluarga kondisi dan tindakan yang harus segera diambil sehingga tidak menyebabkan perburukan kondisi akibat penundaan. saluran bilier.

Setiap pasien yang akan dilakukan operasi harus dilakukan penandaan lokasi operasi oleh Operator. 5) Dokter yang melakukan operasi menyatakan sebagai luka operasi kotor/terinfeksi. 5. intra op dan post op. dan konsultasi bagian lain (toleransi operasi) bila diperlukan. Dokter operator akan memberikan kesempatan pasien dan keluarga untuk bertanya dan mengambil keputusan bersama untuk menentukan tindakan yang terbaik untuk perawatan pasien. rencana perawatan setelah pembedahan (kapan pasien boleh pulang dan kapan harus kontrol) dan pilihan alternatif lain. 21 . operasi kotor tercemar dan operasi kotor terinfeksi 1) Luka operasi yang dilakukan pada kulit yang terluka. traktus urogenitallis atau traktus respiratorius yang terinfeksi. Keluarga pasien hanya diijinkan untuk masuk di area recovery room / ruang pemulihan pada saat pasien telah stabil dan siap untuk dipindahkan ke ruang perawatan. 2) Operasi tanpa pencemaran nyata (gross spillage). Keluarga pasien hanya diijinkan untuk masuk di area pre operatif pada saat pasien diantar oleh perawat dan keluarga harus segera meninggalkan area pre operatif pada saat perawat ruangan akan melakukan serah terima dengan perawat kamar bedah. dokter operator akan memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi pasien. maka pasien dan keluarga dapat menanda tangani informed consent atau surat penolakan tindakan dan didokumentasikan di EMR (Hysis). 11. 8. vagina atau orofaring. 6. kemungkinan komplikasi. time out pre op. Pada kasus emergensi yang memerlukan tindakan pembedahan segera maka diperbolehkan untuk hanya mendokumentasikan keadaan saat masuk kemar bedah dan diagnosa pre operasi yang dilakukan sebelum pembedahan dengan dilengkapi dengan informed consent dan terdokumentasi dalam rekam medis pasien. 7. tetapi masih dalam waktu emas (golden periode). pemastian teknik serta lokasi operasi dan surat persetujuan operasi (informed consent). risiko dan keuntungan melakukan tindakan pembedahan. dilakukan di Ruang rawat inap atau ruang persiapan operasi (pre op). c. Jika pasien dan keluarga menolak tindakan best practice maka pasien dan keluarga di informasikan tentang risiko dan tanggung jawab yang harus dihadapi oleh pasien dan keluarga. contohnya operasi pada saluran bilier. Pasien yang terjadwal operasi (operasi elektif) harus sudah berada di Rumah sakit 6-8 jam sebelum dilakukan operasi. kecuali sudah dilakukan pemeriksaan penunjang dan konsultasi bagian lain bila diperlukan. Sebelum pembedahan dilakukan. Dokter operator melakukan pengkajian pra bedah untuk menentukan diagnosa pre operatif dan rencana tindakan invasif yang akan dilakukan dan semua hasil pengkajian didokumentasikan dalam rekam medis pasien. keluarga pasien tidak diijinkan untuk masuk di area intra operatif atau dalam kamar bedah untuk mengikuti jalannya operasi. 2) Tindakan operasi yang membuka daerah radang tanpa purulen/infeksi. Setelah itu. tindakan yang akan dilakukan. kemungkinan memerlukan darah atau produk darah beserta risiko dan keuntungannya. OT 3 adalah untuk operasi bersih terkontaminasi. 10. 13. Semua Pasien yang terjadwal operasi (operasi elektif) sudah dilakukan presurgery assessment oleh dokter operator. 4) Pada luka terbuka lebih dari 6 jam setelah kejadian atau terdapat jaringan non vital yang luas atau nyata kotor. Setiap operasi yang berlangsung di dalam kamar bedah. apendiks. Pasien yang akan dioperasi harus berada di kamar bedah minimal ½ jam sebelum jam tindakan dengan konfirmasi dari perawat kamar bedah. Sewaktu pasien tiba di kamar bedah. perlu dilakukan pemeriksaan terhadap identitas pasien. 14. 15. 3) Operasi pada perforasi traktus digestivus. 9. 4. 12.

Jam 08. dan semua ini sudah terdokumentasi di EMR (Hysis) sebelum pasien keluar dari ruang pemulihan. jika terpenuhinya : a. 22. Putih untuk identitas pasien b. yaitu berupa diagnosa post operasi. 20. Merah untuk alergi c. Instruksi pasca bedah dilakukan setelah operasi dengan melihat keadaan pasien untuk merencanakan planning/rencana yang akan dilakukan setelah operasi. Setiap tindakan operasi pengangkatan jaringan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi (PA). Penilaian dengan teknik skor Aldrete untuk pembiusan general 24. Setiap operasi besar (major) dilakukan oleh dua dokter operator . Laporan operasi harus dibuat dalam rekam medis pasien. Apabila terjadi ketidaksesuaian harus ditindak lanjuti sesuai SPO yang berlaku. OK. pemeriksaan spesimen operasi. Setiap tindakan operasi harus didampingi oleh satu orang dokter anestesi. instruksi pasca bedah serta asuhan keperawatan. temuan selama operasi. Setiap kasus kecurigaan appendic kronik wajib dilakukan Appendicogram. 25. 6. Setiap pasien yang masuk ODC harus diberi gelang dengan warna sbb: a.00 WIB.16. 3. sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. nama prosedur operasi. Tim bedah melakukan penghitungan kassa/instrument sebelum operasi dimulai dan pada saat luka operasi akan ditutup. kecuali operasi dengan lokal anestesi. 17. 23. Nilai skor Bromage untuk pembiusan regional b. BAB XI Kebijakan Pelayanan Medis Angiografi/Cathlab 22 . Pasien ODC yang akan menjalani operasi elektif harus sudah berada di RS Minimal 2 jam sebelum tindakan yang dijadwalkan. nama asisten. Cathlab 4. 2.00 – 21. Asuhan keperawatan 19. kecuali hari libur. Dokter mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan dalam Hysis. Jika pasien memerlukan perawatan diluar jam operasional ODC maka akan di daftarkan sebagai pasien rawat inap. Pasien boleh dipindah keruangan lain. akan pindah ke dokter SpAn dan penata anestesi lain. Petugas yang pertama kali menerima informasi pembatalan harus memberitahu perawat kemar bedah minimal 1 jam sebelum jadwal operasi dan kepada unit terkait lainnya. Perencanaan pemeriksaan lanjutan dan rencana terapy selanjutnya c. meliputi : a. jika petugas on call tidak dapat dihubungi dalam waktu 15 menit. Jam Operasional : Senin – Sabtu. On call dokter dan penata anestesi. Kuning untuk risiko jatuh 5. 26. Kamar bedah adalah pendukung dari penanganan pasien dalam keadaan darurat (disaster plan) yang memerlukan tindakan operasi BAB X Kebijakan Pelayanan Medis ODC (One Day Care) 1. Penempatan ruangan b. Setiap pasien yang masuk ODC adalah pasien yang berasal dari IGD. 21. 18.

jika ada kemungkinan terlambat maka dokter harus menginformasikan ke kemar bedah minimal 30 menit sebelum jam tindakan angiografi 10. Sudah dilakukan pemeriksaan Laboratorium 7. Jam 08. Pemasangan infuse/IV line dilakukan di Cath Lab 8. Sudah dilakukan pemeriksaan EKG c.00 – 21. Jika Operator (dr Kardiologi) mendapat kesulitan pada saat tindakan berlangsung. Keterangan / pesan-pesan lain 4. meliputi: a. Nama petugas yang melapor k. Nama petugas yang menerima appointment l. kecuali hari libur.00 WIB. maka Operator berhak untuk berkonsultasi pada Dokter senior (Konsulen) melalui telepon atau panggilan langsung. Pada kasus emergensi di luar jam operasional maka petugas on call akan di panggil. Setiap dokter yang melakukan tindakan Angiografi harus tepat waktu. Jam Operasional: Senin – Sabtu.00 WIB. 2. BAB XII Kebijakan Pelayanan Medis Endoskopi Dan Bronkoskopi 1. BB/TB f. 9. Nomor medical record e. Penerimaan jadwal angiografi harus ditulis lengkap. Tindakan Operasi h. Umur pasien d. Kuning untuk risiko jatuh 6. 3. Sudah dilakukan pemeriksaan Rontgen d. Diagnosa g. Pasien yang akan di lakukan angiografi harus: a. Setiap pasien yang masuk Angiografi harus diberi gelang dengan warna sbb: a. Nama Dokter Kardiologi i. Nama Pasien c. Poliklinik. Nomor telepon pasien j. UPI. Jam Operasional: Senin – Sabtu. Tanggal appointment m. kecuali hari libur 23 . Jam tindakan b. Ward 5. Dokter yang melakukan Angiografi adalah dokter yang kompeten untuk melakukan tindakan angiografi sesuai dengan kologium kardiologi dan clinical privilege RSIA Grha Bunda. Jam 08. Minimal 30 menit sudah berada di unit angiografi sebelum jam tindakan atau tunggu konfirmasi dari ruang b. Setiap pasien yang masuk Angiografi adalah pasien yang berasal dari IGD.00 – 21.1. Putih untuk identitas pasien b. Merah untuk alergi c.

Poliklinik. Nama Pasien c. 9. 12. 2. Tanggal appointment m. Setiap dokter yang melakukan tindakan Endoskopi atau Bronkoskopi harus tepat waktu. Jika memerlukan Anaestesi umum. Umur pasien d. Pasien yang akan dilakukan Endoskopi atau Bronkoskopi harus: a.2. Bangsal dan Rumah sakit lain. Nama petugas yang menerima appointment l. maka Operator berhak untuk berkonsultasi pada Dokter senior (Konsulen) melalui telepon atau panggilan langsung. Sudah dilakukan pemeriksaan Rontgen d. Setiap pasien yang masuk di unit HD adalah pasien yang berasal dari IGD.00 – 21. Dokter yang melakukan Bronkoskopi adalah dokter yang kompeten untuk melakukan tindakan Bronkoskopi sesuai dengan kologium Paru dan clinical privilege RSIA Grha Bunda. 5. Setiap pasien yang masuk Endoskopi atau Bronkoskopi harus diberi gelang dengan warna sbb : a. 11. Penerimaan jadwal Endoskopi atau Bronkoskopi harus ditulis lengkap. Keterangan / pesan-pesan lain 4. Nama Dokter Operator i. Setiap pasien yang masuk Endoskopi atau Bronkoskopi adalah pasien yang berasal dari IGD. Nomor telepon pasien j. BB/TB f. Jam 08. Sudah dilakukan pemeriksaan EKG c. Ward. 24 . UPI. Sudah dilakukan pemeriksaan Laboratorium 7. untuk rawat inap disesuaikan dengan keadaan ruangan dan jam operasional ruang endoskopi dan bronkoskopi. BAB XIII Kebijakan Pelayanan Medis Hemodialisa (HD) 1. Jam Operasional : Senin – Sabtu. Nomor medical record e. jika ada kemungkinan terlambat maka dokter harus menginformasikan ke kamar bedah minimal 30 menit sebelum jam tindakan angiografi. Poliklinik. meliputi: a.00 WIB. 3. Nama petugas yang melapor k. Kuning untuk risiko jatuh 6. Putih untuk identitas pasien b. Diagnosa g. 10. Tindakan Operasi h. Dokter yang melakukan Endoskopi adalah dokter yang kompeten untuk melakukan tindakan Endoskopi sesuai dengan kologium Penyakit Dalam dan clinical privilege RSIA Grha Bunda. Merah untuk alergi c. maka perawat akan menghubungi dokter anaestesi yang terdaftar di RSIA Grha Bunda. UPI. Jam tindakan b. Pemasangan infuse/IV line dilakukan di Endoskopi dan Bronkoskopi 8. Jika Dokter Operator mendapat kesulitan pada saat tindakan berlangsung. kecuali hari libur. Ruang Endoskopi dan Bronkoskopi hanya menerima maksimal 5 pasien untuk rawat jalan. Minimal 30 menit sudah berada di unit Endoskopi dan Bronkoskopi sebelum jam tindakan atau tunggu konfirmasi dari ruang b.

10.3. Nama pasien c. c. 21. Tanggal appointment k. 15. 8. 4. Jika kondisi pasien dari rumah sakit lain mengalami kegawatdaruratan dalam proses HD. 14. Jam tindakan b. Umur d. BB/TB f. Jika dokter spesialis KGH tidak berada di tempat. atau tidak memiliki surat travelling HD harus melalui permeriksaan di IGD dan ditentukan apakah diperlukan rawat inap dan apakah HD bisa dilakukan di Unit Hemodialisa atau ICU. Pasien yang memerlukan HD harus dikonsulkan ke dokter spesialis KGH. Untuk pasien baru yang tidak mempunyai akses vaskuler hemodialisis (Cimino) harus dipasang double lumen catheter terlebih dahulu. Nomor medical record e. maka perawat ruangan yang akan mengantar dan menjemputnya. Setiap melakukan serah terima pasien harus disertakan pendokumentasian yang lengkap : catatan serah terima pasien HD dan surat persetujuan tindakan. 20. pasien baru yang 'stabil' akan diperiksa oleh dokter jaga HD dan dikonsulkan sebagaimana mestinya. 17. Penerimaan pasien HD harus ditulis lengkap dalam buku jadwal HD. Pembatalan tindakan hemodialisa untuk pasien rawat jalan minimal satu hari sebelum tindakan dan untuk pasien dari rawat inap minimal diberitahukan 1 jam sebelum tindakan. Keluhan sesak berat. intra muskuler. Pasien dikonsulkan ke dokter spesialis KGH sebagaimana mestinya. Pada kasus emergensi di luar jam operasional maka petugas on call akan di panggil. Jika dokter spesialis KGH dan spesialis Penyakit Dalam tidak berada di tempat. 18. 19. edema paru. Kriteria pasien 'tidak stabil': a. 22. Nama petugas yang melapor i. Semua obat-obatan untuk pasien rawat inap harus berasal dari RSIA Grha Bunda. maka setelah penanganan kegawat daruratannya. tidak terjadwal. Setiap pasien dari rawat inap yang akan dilakukan tindakan HD. 12. 6. HD untuk pasien ICU harus dilakukan di ICU. Diagnosa g. Pasien hanya boleh ditunggu oleh satu orang keluarga di unit HD. 16. meliputi: a. Dokter yang bertugas menerangkan dan meminta persetujuan tindakan medis untuk HD. 11. 25 . impending respiratory failure. Produk darah untuk transfusi harus berasal dari Bank Darah RSIA Grha Bunda. baik pasien baru atau pasien pindahan dari RS lain diperiksa oleh dokter spesialis KGH. Pasien baru yang 'tidak stabil'. 13. b. Obat-obatan injeksi (sub cutan. pasien baru akan diperiksa oleh dokter spesialis Penyakit Dalam kemudian dikonsulkan kepada dokter spesialis KGH. 7. intra vena) untuk pasien rawat jalan harus berasal dari RSIA Grha Bunda. Kesadaran menurun. pasien akan di kembalikan ke rumah sakit asalnya. Pasien pertama kali HD di RSIA Grha Bunda. 9. Keterangan/pesan-pesan lain 5. Pasien pindahan wajib membawa rujukan (travelling HD) dari RS sebelumnya. Pasien rawat jalan diperbolehkan menggunakan obat-obatan milik pribadi yang diberikan per- oral pada saat HD dengan seizin DPJP dan sudah diverifikasi oleh farmasi. Pasien yang akan menjalani tindakan hemodialisa harus diperiksa oleh dokter jaga unit HD. Hemodinamik tidak stabil – hipotensi. Nama petugas yang menerima appointment j. Nomor telepon pasien h.

anti-HCV dan anti-HIV di RSIA Grha Bunda. 29. Nama dokter operator d. Rekomendasi vaksinasi Hepatitis B pada pasien dengan HBsAg negatif dan anti-HBs negatif: 4 kali injeksi IM 40 mcg vaksin hepatitis B pada otot deltoid dengan interval 0. 2 dan 6 bulan. Merah untuk alergi c. Pada kasus emergensi di luar jam operasional maka petugas on call akan di panggil. 5. Pemeriksaan Anti-HBs post vaksinasi dilakukan 1-4 bulan setelah program vaksinasi selesai. Kuning untuk risiko jatuh 26 . Keterangan/pesan-pesan lain 4. HD pada pasien dengan Hepatitis C atau HIV harus dilakukan di ruang tersendiri dengan mesin khusus. 2. Pemeriksaan skrining ini memerlukan persetujuan tindakan medis. 30. kecuali hari libur. BAB XIV Kebijakan Pelayanan Medis ESWL (Extracorporal Short Wave Lithotripsy) 1. Putih untuk identitas pasien b. Ward. Pasien End Stage Renal Disease (ESRD) yang memerlukan HD rutin dikonsulkan ke dokter Bedah Vaskular atau Bedah Umum untuk pembuatan akses permanen (AV Fistula atau AV Graft). Setiap pasien yang masuk ESWL harus diberi gelang dengan warna sbb : a. Semua pasien baru atau pindahan dari RS lain harus dilakukan pemeriksaan skrining untuk HBsAg. 3. 25. Nama petugas yang melapor i.23. jantung intervensi atau jantung yang kompeten untuk pemasangan double lumen catheter. Nama petugas yang menerima appointment j. 26. Jam 08. Penerimaan jadwal ESWL harus ditulis lengkap. Nomor telepon pasien h.00 WIB. Jam tindakan b. intensivis. 24.00 – 21. Umur e. Tanggal appointment k. Skrining ulang HIV hanya dilakukan jika ada kecurigaan menderita penyakit HIV. Nama pasien c. meliputi: a. Pada non-responder (anti-HBs negative) akan dilakukan vaksinasi ulang. Poliklinik. 1. Nomor medical record f. Unit hemodialisa RSIA Grha Bunda tidak menerima pasien dengan HBsAg positif 28. 27. 31. Setiap pasien yang masuk ESWL adalah pasien yang berasal dari IGD. Diagnosa g. Hasil pemeriksaan skrining dari luar tidak berlaku. Pasien dengan HBsAg dan anti-HCV negatif harus dilakukan pemeriksaan skrining ulang setiap 6 bulan. Jam Operasional: Senin – Sabtu. Pasien baru yang memerlukan HD harus dikonsulkan ke dokter spesialis anestesi.

Ditetapkan di : Pada tanggal : 27 Februari 2013 Direktur Rumah Sakit Usulan kebijakan Pelayanan Medis Di IGD : 1. Minimal 30 menit pasien sudah berada di unit ESWL sebelum jam tindakan atau tunggu konfirmasi dari unit ESWL b. Sudah dilakukan pemeriksaan Laboratorium 7. 9. 11. Jika Operator mendapat kesulitan pada saat tindakan berlangsung.6. Setelah tindakan ESWL harus dilakukan pemeriksaan radiologi untuk mengevaluasi hasil tindakan ESWL. jika ada kemungkinan terlambat maka dokter harus menginformasikan ke unit ESWL minimal 30 menit sebelum jam tindakan ESWL. Dokter yang melakukan ESWL adalah dokter bedah urologi yang kompeten untuk melakukan tindakan ESWL sesuai dengan kolegium bedah urologi dan clinical privilege RSIA Grha Bunda. Setiap dokter yang melakukan tindakan ESWL harus tepat waktu. 10. Dokter UGD akan melakukan konsultasi ke dokter spesialis sesuai dengan kasus dan kondisi pasien 27 . Pasien yang akan di lakukan ESWL harus: a. Pemasangan infuse/IV line dilakukan sebelum masuk ruangan ESWL. 8. Discharge planning : medis menggunakan discharge planning keperawatan untuk menindaklanjuti perawatan selanjutnya dirumah 2. Bila semua tempat tidur UGD penuh terisi pasien. Sudah dilakukan pemeriksaan Rontgen/USG/CT Scan. c. maka Operator berhak untuk berkonsultasi pada Dokter senior (Konsulen) melalui telepon atau panggilan langsung. maka dokter PJ saat itu bertugas berkolaborasi dengan NDO untuk memenuhi kebutuhan tempat tidur 3.

maka distabilkan diruangan dan dipindahkan ke UGD untuk mendapat bantuan ventilasi mekanik sampai pasien mendapatkan tempat rujukan.Usulan kebijakan pelayanan Medis Bangsal : 1. pasien ranap dengan indikasi ICU dan memerlukan alat bantu napas. Point 12 : Bila ICU penuh.Penentu manajemen bed ditentukan oleh intensivis (KIC) 28 . Pasien rujukan dari rumah sakit lain untuk ruangan HCU/ICU/NICU bila dalam waktu 8 jam tidak dating maupun memberikan kabar. dianggap membatalkan rujukannya. 2. Usulan Kebijakan Pelayanan Medis Umum : 1. Discharge planning : medis menggunakan discharge planning keperawatan untuk menindaklanjuti perawatan selanjutnya dirumah Usulan kebijakan Pelayanan medis UPI : 1.