You are on page 1of 35

`PORTOFOLIO

Kasus-1
No. ID dan Nama Peserta : dr. Winda Rolita Firda

Nama RS Wahana : RS Pertamina Prabumulih

Topik : Demam Tifoid

Tanggal Kasus : 13 Februari 2017

Nama Pasien : An. FF Nomor RM : RS 021701956

Tanggal Presentasi : 20 Februari 2017 Pendamping : dr. Meza Kurniawan

Tempat Presentasi : Aula RS Pertamina Prabumulih

Objektif Presentasi :

 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka

 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi : Pasien anak laki-laki usia 6 tahun, datang dengan keluhan demam sejak 3 hari
yang lalu, demam naik turun, mual (+), muntah (-), BAB dan BAK normal
Tujuan : Mengidentifikasi penyebab, perjalanan penyakit, gejala, diagnosis dan tata
laksana dari demam tifoid.
Bahan  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Bahasan : Pustaka
Cara  Diskusi  Presentasi dan Diskusi  Email  Pos
Membahas :

Alloanamnesis (orangtua pasien) tanggal 13 Februari 2017

1

Keluhan utama : Demam sejak 3 hari yang lalu
Keluhan tambahan : mual

Riwayat perjalanan penyakit
+ 3 hari SMRS penderita mengalami demam, demam timbul perlahan, demam meningkat
pada sore hingga malam hari. Demam tidak disertai menggigil. Kepala sakit (-), mual (+), muntah
(-), nafsu makan menurun dan os merasa lemas, BAB dan BAK normal. Mimisan (-), gusi berdarah
(-), bintik-bintik merah pada badan (-), riwayat pergi keluar kota (-).

Pemeriksaan Fisik
(13 Februari 2017)
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran : kompos mentis
HR :110 x/m (isi / tegangan cukup)
Pernafasan : 24 x/m
Suhu : 37,8o C
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Thorax : Simetris, retraksi (-)
Cor : BJ I-II (N), murmur (-), gallop (-)
Pulmo : Vesikuler (+) normal, Rh (-), Wh (-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) N, nyeri tekan epigastrium (-)
Hepar & Lien  Tidak teraba
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2”

Status Generalis
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Leher : Pembesaran KGB (-)
Thorax : Simetris, retraksi (-) interkostal
Cor : BJ I-II (N), murmur (-), gallop (-)
Pulmo : Vesikuler (+), Rh (-), Wh (-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) N, nyeri tekan epigastrium (+)
Hepar & Lien  Tidak teraba
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2”

Pemeriksaan Laboratorium
(13 Februari 2017)
Hb 12,3 gr/dl

2

Leukosit 4.200/mm3 (Normal: 4.000-10.000/mm3)
LED 18 mm/jam (< 15 mm/jam)
Ht 37 %
Diff. count 3.5/0/0/45.2/30/6.2 % (Normal: 1-3/0-1/2-6/50-70/20-40/2-8)
Eritrosit 4.8 % (Normal: 3,8-6,0%)
Trombosit 249.000/mm2
Salmonella Typhi H 1/160
Salmonella Typhi O 1/320

Diagnosis
(13 Februari 2017)
Demam Tifoid
Tatalaksana
(13 Februari 2017)
- IVFD Asering gtt XII x/menit
- Inj. Ceftriaxone 1x1,5 gr
- Inj. Paracetamol 3x20 cc

Follow Up
1. (Tanggal 14 Februari 2017)
S : Demam
O:
Pemeriksaan umum : KU : Tampak sakit sedang
HR : 100x/mnt
RR : 24x/mnt
Suhu : 37,8oC
Pemeriksaan spesifik : Kepala : C. Anemis (-), S. ikterik (-)
Leher : normal
Thorax : Cor : BJ I/II (+) N, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: Vesikular (+) N, retraksi (-) intercostals,
wheezing (-), ronkhi (-)
Abdomen : Datar, lemas, BU (+) N
Extremitas : Akral hangat,CRT < 2”
A: Demam Tifoid
Penatalaksanaan

3

5 gr 3. Anemis (-). retraksi (-) intercostals.5 gr Inj. BU (+) N Extremitas : Akral hangat. (Tanggal 16 Februari 2017) S : (-) O: Pemeriksaan umum : KU : Tampak sakit ringan HR : 100x/mnt RR : 24x/mnt Suhu : 36.CRT < 2” A: Demam Tifoid Penatalaksanaan IVFD Asering gtt XII x/menit Inj.CRT < 2” A: Demam Tifoid Penatalaksanaan  Boleh pulang 4 . wheezing (-). S. lemas. ronkhi (-) Abdomen : Datar. (Tanggal 15 Februari 2017) S : Demam berkurang O: Pemeriksaan umum : KU : Tampak sakit ringan HR : 106x/mnt RR : 24x/mnt Suhu : 36. ikterik (-) Leher : normal Thorax : Cor : BJ I/II (+) N. murmur (-). ikterik (-) Leher : normal Thorax : Cor : BJ I/II (+) N. S.8oC Pemeriksaan spesifik : Kepala : C. retraksi (-) intercostals. ronkhi (-) Abdomen : Datar. BU (+) N Extremitas : Akral hangat. IVFD Asering gtt XII x/menit Inj. Paracetamol 3x20 cc 2.8oC Pemeriksaan spesifik : Kepala : C. lemas. gallop (-) Pulmo: Vesikular (+) N. murmur (-). gallop (-) Pulmo: Vesikular (+) N. Ceftriaxone 1x1. Ceftriaxone 1x1. wheezing (-). Anemis (-).

.Pendidikan : . Rujukan Saat ini pasien belum perlu dirujuk. Memberikan edukasi kepada orangtua untuk melarang anak jajan sembarangan. Konsultasi Konsultasi dilakukan dengan spesialis anak untuk penatalaksanaan selanjutnya. Memberikan edukasi kepada orangtua untuk rutin memberikan obat kepada pasien. 5 .

1 2. urin.5 juta kasus per tahun.000 kasus kematian tiap tahun. Data World Health Organization (WHO) tahun 2003 memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600. Demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Umur penderita yang terkena di Indonesia dilaporkan antara 3-19 tahun pada 91% kasus. Di Indonesia kasus ini tersebar secara merata di seluruh propinsi dengan insidensi di daerah pedesaan 358/100. dan tinja dalam jangka 6 .000 penduduk/ tahun atau sekitar 600. Definisi Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typhoid fever.000 dan 1.3 Salmonella typhi dapat hidup didalam tubuh manusia (manusia sebagai natural reservoir). Epidemiologi Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di dunia sangat sulit ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. kasus demam tifoid dilaporkan sebagai penyakit endemis dimana 95% merupakan kasus rawat jalan sehingga insidensi yang sebenarnya adalah 15-25 kali lebih besar dari laporan rawat inap di rumah sakit.000 penduduk/tahun dan di daerah perkotaan 760/100. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Manusia yang terinfeksi Salmonella typhi dapat mengekskresikannya melalui sekret saluran nafas.1.4 Di negara berkembang.2.

debu.1 2.3. waktu yang sangat bervariasi.1 7 . tidak membentuk spora fakultatif anaerob. Salmonella typhi yang berada diluar tubuh manusia dapat hidup untuk beberapa minggu apabila berada didalam air. S. Akan tetapi S. flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri polisakarida. Dapat juga terjadi transmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia kepada bayinya. typhi. Typhi hanya dapat hidup kurang dari 1 minggu pada raw sewage. biasanya keluar bersama – sama dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalurr oro-fekal). paratyphi A. Etiologi demam tifoid dan demam paratifoid adalah S. es. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida. tidak berkapsul. mempunyai flagela. paratyphi C (S. dan mudah dimatikan dengan klorinasi dan pasteurisasi (temp 63°C). S. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel da dinamakan endotoksin. Pernah dilaporkan pula transmisi oro-fekal dari seorang ibu pembawa kuman pada saat proses kelahirannya kepada bayinya dan sumber kuman berasal dari laboratorium penelitian. paratyphi B (S. Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain adalah bakteri Gram- negatif. Schotmuelleri) dan S. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik. Hirschfeldii). Etiologi Demam Tifoid adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.1 Terjadinya penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/makanan yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman. atau kotoran yang kering maupun pada pakaian.

Mikroskopik Salmonella Typhi 2. 2) bakteri bertahan hidup dan bermultiplikasi dalam makrofag Peyer Patch. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung karena suasana asam di lambung (pH < 2) banyak yang mati namun sebagian lolos masuk ke dalam usus dan berkembang biak dalam peyer patch dalam usus. yaitu: 1) penempelan dan invasi sel. Gambar 2. H2-bloker. Patogenesis Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses kompleks yang mengikuti ingesti organism. penggunaan obat.1. dan organ. dan Proton Pump Inhibitor. 4) produksi enterotoksin yang meningkatkan kadar cAMP di dalam kripta usus dan meningkatkan permeabilitas membrane usus sehingga menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke dalam lumen intestinal Masuknya kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi ke dalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. jumlah kuman yang masuk dan dapat menyebabkan infeksi minimal berjumlah 105 dan jumlah bisa saja meningkat bila keadaan lokal pada lambung yang menurun seperti aklorhidria.4.obatan seperti antasida.organ extra intestinal sistem retikuloendotelial 3) bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah. nodus limfatikus mesenterica. 8 . post gastrektomi. Untuk diketahui.sel pada Peyer Patch.

Di dalam hepar. sampai gangguan mental dalam hal ini adalah delirium.sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya kembali masuk ke sirkulasi sistemik yang mengakibatkan bakteremia kedua dengan disertai tanda. typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. hyperplasia jaringan dan nekrosis organ).tanda dan gejala infeksi sistemik. Di lamina propria kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel- sel fagosit terutama makrofag.1. diare diselingi konstipasi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus tepatnya di jejnum dan ileum.turut. sakit kepala.anak gangguan mental ini biasanya terjadi sewaktu tidur berupa mengigau yang terjadi dalam 3 hari berturut. mialgia. berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka pada saat fagositosis kuman Salmonella terjadi beberapa pelepasan mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam. Selanjutnya melalui ductus thoracicus.sel epitel (sel-M merupakan selnepitel khusus yang yang melapisi Peyer Patch. Sebagian kuman dikeluarkan bersama feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. malaise. Di organ. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi 9 . dan bersama cairan empedu diekskresikan secara “intermitten” ke dalam lumen usus. Proses yang sama terulang kembali. berkembang biak. Pada anak. merupakan port de entry dari kuman ini) dan selanjutnya ke lamina propria. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke peyer patch di ileum distal dan kemudian kelenjar getah bening mesenterika.organ RES ini kuman meninggalkan sel. kuman yang terdapat dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang sifatnya asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ Retikuloendotelial tubuh terutama hati dan Limpa.4 Dalam Peyer Patch makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasi jaringan (S. sakit perut. kuman masuk ke dalam kandung empedu. Bila respon imunitas humoral mukosa usus (IgA) kurang baik maka kuman akan menembus sel.

serosa usus. lien. yang tidak stabil. demam. dan gangguan organ lainnya. folikel usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat. kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologis.sel mononuclear di dinding usus. respirasi.akibat erosi pembuluh darah sekitar peyer patch yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasi akibat akumulasi sel. Endotoxin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik. Diduga endotoksin dari salmonella typhi ini menstimulasi makrofag di dalam hepar. dan dapat mengakibatkan perforasi. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga ke lapisan otot. Produk dari makrofag inilah yang dapat menimbulkan kelainan anatomis seperti nekrosis sel. Peran endotoksin dalam pathogenesis demam tifoid tidak jelas.1. depresi sumsum tulang. sistem vaskuler.4 10 .zat lain. hal tersebut terbukti dengan tidak terdeteksinya endotoksin dalam sirkulasi penderita melalui pemeriksaan limulus. kardiovaskuler.

Bila hanya berpegang pada gejala atau tanda klinis.5. akan lebih sulit untuk menegakkan diagnosis demam tifoid pada anak. lebih bervariasi bila dibandingkan dengan penderita dewasa. 11 . Bagan 2.1. Patofisiologi Demam Tifoid 2. Manifestasi klinik Manifestasi klinis pada anak umumnya bersifat lebih ringan.

Merupakan suatu nodul kecil sedikit menonjol dengan diameter 2 – 4 mm. anoreksia. akan terjadi deskuamasi epitel sehingga papila lebih prominen. Dikatakan bahwa masa inkubasi mempunyai korelasi dengan jumlah kuman yang ditelan. keadaan umum/status gizi serta status imunologis penderita. pembesaran hati dan limpa. perut kembung mungkin disertai ganguan kesadaran dari yang ringan sampai berat.4. diare. Demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal seperti pada orang dewasa. muntah. dengan masa inkubasi terpendek 3 hari dan terpanjang 60 hari.5 Walupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi. Bila penyakit makin progresif. berwarna merah pucat serta hilang pada penekanan. kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa stepwise pattern. seperti demam. dan terutama didapatkan 12 .terutama pada penderita yang lebih muda. di bagian ujung dan tepi lebih kemerahan. nyeri kepala. lidah tampak kering.  Gangguan saluran pencernaan  Gangguan kesadaran Dalam minggu pertama. Roseola ini merupakan emboli kuman yang didalamnya mengandung kuman salmonella. berupa demam remiten. di bagian belakang tampak lebih pucat. lidah tifoid. dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39 – 41o C) serta dapat pula bersifat ireguler terutama pada bayi yang tifoid kongenital. Masa inkubasi rata-rata bervariasi antara 7 – 20 hari. hanya didapatkan suhu badan yang meningkat. Roseola lebih sering terjadi pada akhir minggu pertama dan awal minggu kedua. konstipasi. diolapisi selaput tebal. Setelah minggu kedua. keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya. Pada pemeriksaan fisik. seperti pada tifoid kongenital ataupun tifoid pada bayi. gejala/ tanda klinis menjadi makin jelas. Lidah tifoid biasanya terjadi beberapa hari setelah panas meningkat dengan tanda-tanda antara lain. secara garis besar gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokkan :  Demam satu minggu atau lebih. mual.1.

63%). bradikardi relatif. penurunan pendengaran.6 2. Pembesaran limpa pada demam tifoid tidak progresif dengan konsistensi lebih lunak. ronki. mual (42. meteorismus (66%).9 Sedangkan tanda klinis yang lebih jarang dijumpai adalah disorientasi.58%) dan delirium (2. sering kali dijumpai pada daerah abdomen. tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia.21%). Rose spot. sakit kepala (76. muntah (46%).5 Pengamatan selama 6 tahun (1987-1992) di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. anoreksia (88%). muntah (26. ataupun bagian fleksor lengan atas. kadang-kadang di bokong.47%). apatis (31.79%). di daerah perut. kaku kuduk. suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1 – 5 mm. sembelit (15. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran delirium (16%).1.5%).typhi dalam darah dan 85% telah mendapatkan terapi antibiotika sebelum masuk rumah sakit serta tanpa memperhitungkan dimensi waktu sakit penderita. didapatkan keluhan dan gejala klinis pada penderita sebagai berikut : panas (100%).4. nyeri perut (49%). yaitu : 1. hepatomegali (67%) dan splenomegali (7%). stupor dan kelainan neurologis fokal.Soetomo Surabaya terhadap 434 anak berumur 1-12 tahun dengan diagnosis demam tifoid atas dasar ditemukannya S. Pemeriksaan darah tepi 13 . Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok. Limpa umumnya membesar dan sering ditemukan pada akhir minggu pertama dan harus dibedakan dengan pembesaran karena malaria.11%).6. somnolen (5%) dan sopor (1%) serta lidah kotor (54%).32%). obstipasi (43%) dan diare (31%). toraks. 10 Hal ini sesuai dengan penelitian di RS Karantina Jakarta dengan diare (39. nyeri perut (60.32%). dada. sangat toksik. gangguan kesadaran (34. ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih. Ruam ini muncul pada hari ke 7 – 10 dan bertahan selama 2 -3 hari.

Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan penanganan khusus. Pada demam tifoid sering disertai anemia dari yang ringan sampai sedang dengan peningkatan laju endap darah.1. jenis spesimen yang diperiksa. Trombosit jumlahnya menurun. tetapi akan kembali menjadi normal setelah sembuh. terutama bila disertai komplikasi lain. gambaran hitung jenis didapatkan limfositosis relatif. jumlah megakariosit dalam batas normal. eritroid dan mieloid sistem normal. Uji serologis Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S. Metode pemeriksaan serologis imunologis ini dikatakan mempunyai nilai penting dalam proses diagnostik demam tifoid. Sering hitung leukosit dalam batas normal dan dapat pula leukositosis. typhi oleh karena tergantung pada jenis antigen. aneosinofilia. Gambaran sumsum tulang menunjukkan normoseluler. jenis antibodi yang digunakan dalam uji (poliklonal atau monoklonal) dan waktu pengambilan spesimen (stadium dini atau lanjut dalam perjalanan penyakit). dapat shift to the left ataupun shift to the right bergantung pada perjalanan penyakitnya.4. gangguan eritrosit normokrom normositer.6 2. diduga leukopenia disebabkan oleh destruksi leukosit oleh toksin dalam peredaran darah. typhi maupun mendeteksi antigen itu sendiri. yang diduga karena efek toksik supresi sumsum tulang atau perdarahan usus. SGOT dan SGPT seringkali meningkat. Akan tetapi masih didapatkan adanya variasi yang luas dalam sensitivitas dan spesifisitas pada deteksi antigen spesifik S.6 Beberapa uji serologis yang dapat digunakan pada demam tifoid ini meliputi : a) Uji Widal 14 . Tidak selalu ditemukan leukopenia. Volume darah yang diperlukan untuk uji serologis ini adalah 1-3 mL yang diinokulasikan ke dalam tabung tanpa antikoagulan. teknik yang dipakai untuk melacak antigen tersebut.

Antibodi H timbul lebih lambat. Prinsip uji Widal adalah serum penderita dengan pengenceran yang berbeda ditambah dengan antigen dalam jumlah yang sama. tetapi hanya dipakai untuk menentukan pengidap S. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Jika pada serum terdapat antibodi maka akan terjadi aglutinasi. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Aglutinin O (dari tubuh kuman) 2.typhi. Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin ≥ 1/40 dengan memakai uji widal slide aglutination (prosedur pemeriksaan membutuhkan waktu 45 menit) menunjukkan nilai ramal positif 96%. 96% kasus benar sakit demam tifoid. Antigen Vi biasanya tidak dipakai untuk menentukan diagnosis infeksi.typhi yaitu uji Widal. 1.typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin. Pada pengidap S. Aglutinin Vi (simpai kuman). Pada seseorang yang telah sembuh. sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9 bulan – 2 tahun. sedangkan antibodi O lebih cepat hilang. Pada uji Widal terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. Uji telah digunakan sejak tahun 1896. Banyak senter mengatur pendapat apabila titer O aglutinin sekali periksa ≥ 1/200 atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 15 . Aglutinin H (flagel kuman) 3. namun akan tetap menetap lama sampai beberapa tahun. Maksud uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid yaitu. Uji serologi standar yang rutin digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman S. aglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4-6 bulan. akan tetapi apabila negatif tidak menyingkirkan. antibodi Vi cenderung meningkat.typhi. Antibodi Vi timbul lebih lambat dan biasanya menghilang setelah penderita sembuh dari sakit. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman ini. Pada demam tifoid mula-mula akan terjadi peningkatan titer antibodi O. Artinya apabila hasil tes positif.

 Faktor yang berhubungan dengan penderita. 6. yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi bukan demam akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi. Ada 2 faktor yang mempengaruhi uji Widal yaitu faktor yang berhubungan dengan penderita dan faktor teknis.kali maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan. 3. Gangguan pembentukan antibodi. yaitu 1. pemberian kortikosteroid. 2. sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman S. Teknik pemeriksaan antar laboratorium. 16 . Padahal sebenarnya bisa positif jika dilakukan kultur darah. 4. Saat pengambilan darah. Pengobatan dini dengan antibiotik. Banyak peneliti mengemukanan bahwa uji serologi widal kurang dapat dipercaya sebab dapat timbul positif palsu pada kasus demam tifoid yang terbukti biakan darah positif. Riwayat vaksinasi. Akibat aglutinin silang. Daerah endemik atau non endemik. yaitu 1. Strain Salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen. 2.  Faktor teknik. Reaksi anamnesik. 3. Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau. Beberapa keterbatasan uji Widal ini adalah:  Negatif Palsu Pemberian antibiotika yang dilakukan sebelumnya (ini kejadian paling sering di negara kita. typhi (karier). demam –> kasih antibiotika –> nggak sembuh dalam 5 hari –> tes Widal) menghalangi respon antibodi. 5.

Sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang 3-5 hari kemudian.6 Ada 4 interpretasi hasil :  Skala 2-3 adalah Negatif Borderline. Walaupun belum banyak penelitian yang menggunakan tes TUBEX® ini. dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat. Indikasi kuat infeksi demam tifoid 17 . Menunjukkan infeksi demam tifoid  Skala > 6 adalah positif. Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit. mudah dan sederhana. beberapa penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal.15 Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar 89%.  Positif Palsu Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. C) memiliki antigen O dan H juga.  Skala 4-5 adalah Positif.9 Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal. Tidak menunjukkan infeksi demam tifoid. paratyphi A. terutama di negara berkembang. Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive). B. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella serogrup D. sehingga menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakteri lainnya. b) Tes TUBEX Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. typhi (bukan tifoid).

typhi.  Dapat menstimulasi sel limfosit B tanpa bantuan limfosit T sehingga respon antibodi dapat terdeteksi lebih cepat. 18 . konvalesen dan reinfeksi. Pada daerah endemis dimana didapatkan tingkat transmisi demam tifoid yang tinggi akan terjadi peningkatan deteksi IgG spesifik akan tetapi tidak dapat membedakan antara kasus akut. Penggunaan antigen 09 LPS memiliki sifat.  Lipopolisakarida dapat menimbulkan respon antibodi yang kuat dan cepat melalui aktivasi sel B via reseptor sel B dan reseptor yang lain.sifat sebagai berikut:  Immunodominan yang kuat  Bersifat thymus independent tipe 1. Deteksi terhadap IgM menunjukkan fase awal infeksi pada demam tifoid akut sedangkan deteksi terhadap IgM dan IgG menunjukkan demam tifoid pada fase pertengahan infeksi.  Spesifitas yang tinggi (90%) dikarenakan antigen 09 yang jarang ditemukan baik di alam maupun diantara mikroorganisme Kelebihan pemeriksaan menggunakan tes TUBEX :  Mendeteksi infeksi akut Salmonella  Muncul pada hari ke 3 demam  Sensifitas dan spesifitas yang tinggi terhadap kuman Salmonella  Sampel darah yang diperlukan relatif sedikit  Hasil dapat diperoleh lebih cepat c) Metode enzyme immunoassay (EIA) DOT Uji serologi ini didasarkan pada metode untuk melacak antibodi spesifik IgM dan IgG terhadap antigen OMP 50 kD S. imunogenik pada bayi (antigen Vi dan H kurang imunogenik) dan merupakan mitogen yang sangat kuat terhadap sel B. Pada metode Typhidot-M® yang merupakan modifikasi dari metode Typhidot® telah dilakukan inaktivasi dari IgG total sehingga menghilangkan pengikatan kompetitif dan memungkinkan pengikatan antigen terhadap Ig M spesifik.

16%. nilai prediksi positif sebesar 85.06% dan nilai prediksi negatif sebesar 91.16 Sedangkan penelitian oleh Gopalakhrisnan dkk (2002) pada 144 kasus demam tifoid mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 98%. murah (karena menggunakan antigen dan membran nitroselulosa sedikit). Dengan demikian bila dibandingkan dengan uji Widal.66%. typhi. Keuntungan lain adalah bahwa antigen pada membran lempengan nitroselulosa yang belum ditandai dan diblok dapat tetap stabil selama 6 bulan bila disimpan pada suhu 4°C dan bila hasil didapatkan dalam waktu 3 jam setelah penerimaan serum pasien. tidak menggunakan alat yang khusus sehingga dapat digunakan secara luas di tempat yang hanya mempunyai fasilitas kesehatan sederhana dan belum tersedia sarana biakan kuman. Uji dot EIA tidak mengadakan reaksi silang dengan salmonellosis non- tifoid bila dibandingkan dengan Widal. 19 .74% dengan sensitivitas sebesar 93. IgM dan IgA terhadap antigen LPS O9. Beberapa keuntungan metode ini adalah memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan kecil kemungkinan untuk terjadinya reaksi silang dengan penyakit demam lain. Penelitian oleh Purwaningsih dkk (2001) terhadap 207 kasus demam tifoid bahwa spesifisitas uji ini sebesar 76.6% dan efisiensi uji sebesar 84%. spesifisitas sebesar 76. Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 79% dan spesifisitas sebesar 89%. antibodi IgG terhadap antigen flagella d (Hd) dan antibodi terhadap antigen Vi S.6 d) Metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) Uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dipakai untuk melacak antibodi IgG. sensitivitas uji dot EIA lebih tinggi oleh karena kultur positif yang bermakna tidak selalu diikuti dengan uji Widal positif. Dikatakan bahwa Typhidot-M® ini dapat menggantikan uji Widal bila digunakan bersama dengan kultur untuk mendapatkan diagnosis demam tifoid akut yang cepat dan akurat.

6%. uji ELISA pada sampel urine didapatkan sensitivitas 65% pada satu kali pemeriksaan dan 95% pada pemeriksaan serial serta spesifisitas 100%. Uji ELISA yang sering dipakai untuk mendeteksi adanya antigen S. namun juga perlu diperhitungkan adanya nilai positif juga pada kasus dengan Brucellosis. typhi pada darahnya. 73% pada sampel feses dan 40% pada sampel sumsum tulang. terutama bila dilakukan pada minggu pertama sesudah panas timbul. 4.6 e) Pemeriksaan dipstik Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda dimana dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS S. typhi dengan menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen S. typhi sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti-human immobilized sebagai reagen kontrol.8% bila dibandingkan dengan kultur sumsum tulang dan 86.20 Penelitian oleh Gasem dkk (2002) mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 69.20 Penelitian lain oleh Ismail dkk (2002) terhadap 30 penderita demam tifoid mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 90% dan spesifisitas sebesar 96%.5% bila dibandingkan dengan kultur darah dengan spesifisitas sebesar 88. Pada penderita yang didapatkan S. Pemeriksaan terhadap antigen Vi urine ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut akan tetapi tampaknya cukup menjanjikan. tidak memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap.18 Penelitian oleh Fadeel dkk (2004) terhadap sampel urine penderita demam tifoid mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 100% pada deteksi antigen Vi serta masing- masing 44% pada deteksi antigen O9 dan antigen Hd.9% dan nilai prediksi positif sebesar 94. typhi dalam spesimen klinis adalah double antibody sandwich ELISA. Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan. Chaicumpa dkk (1992) mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 95% pada sampel darah.3% yang makin meningkat pada 20 .21 Penelitian oleh Hatta dkk (2002) mendapatkan rerata sensitivitas sebesar 65.

karena hasilnya tergantung pada beberapa faktor.5-1 mL. pemeriksaan serial yang menunjukkan adanya serokonversi pada penderita demam tifoid. maka bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid. feses. sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses. Pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. sumsum tulang. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil biakan meliputi (1) jumlah darah yang diambil.6 3. Hal ini dapat menjelaskan teori bahwa kultur sumsum tulang lebih tinggi hasil positifnya bila dibandingkan dengan darah walaupun dengan volume sampel yang lebih sedikit dan sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya. sedangkan pada anak kecil dibutuhkan 2-4 mL. (2) perbandingan volume darah dari media empedu. cairan duodenum atau dari rose spots. dan (3) waktu pengambilan darah. Sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk kultur hanya sekitar 0. typhi dan S. hasilnya cepat dan dapat diandalkan dan mungkin lebih besar manfaatnya pada penderita yang menunjukkan gambaran klinis tifoid dengan hasil kultur negatif atau di tempat dimana penggunaan antibiotika tinggi dan tidak tersedia perangkat pemeriksaan kultur secara luas.typhi adalah media empedu (gall) dari sapi dimana dikatakan media Gall ini dapat meningkatkan positivitas hasil karena hanya S.22 Uji ini terbukti mudah dilakukan. typhi dalam biakan dari darah. Berkaitan dengan patogenesis penyakit. paratyphi yang dapat tumbuh pada media tersebut. urine. 21 . Volume 10-15 mL dianjurkan untuk anak besar. Bakteri dalam sumsum tulang ini juga lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah. Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S.

volume spesimen yang tidak mencukupi.6 Kegagalan dalam isolasi/biakan dapat disebabkan oleh keterbatasan media yang digunakan. Bakteri dalam feses ditemukan meningkat dari minggu pertama (10-15%) hingga minggu ketiga (75%) dan turun secara perlahan. jumlah bakteri yang sangat minimal dalam darah. adanya penggunaan antibiotika. Biakan urine positif setelah minggu pertama. Biakan sumsum tulang merupakan metode baku emas karena mempunyai sensitivitas paling tinggi dengan hasil positif didapat pada 80-95% kasus dan sering tetap positif selama perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan. Metode ini terutama bermanfaat untuk penderita yang sudah pernah mendapatkan terapi atau dengan kultur darah negatif sebelumnya.5. Salah satu penelitian pada anak menunjukkan bahwa sensitivitas kombinasi kultur darah dan duodenum hampir sama dengan kultur sumsum tulang. pemeriksaan kultur mempunyai sensitivitas yang rendah dan adanya kendala berupa lamanya waktu yang dibutuhkan (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode diagnosis baku dalam pelayanan penderita. Biakan darah terhadap Salmonella juga tergantung dari saat pengambilan pada perjalanan penyakit. Prosedur terakhir ini sangat invasif sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari. Pada keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada spesimen empedu yang diambil dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik akan tetapi tidak digunakan secara luas karena adanya risiko aspirasi terutama pada anak. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif 40-80% atau 70-90% dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada akhir minggu ketiga. 22 . Walaupun spesifisitasnya tinggi. Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita yang telah mendapatkan antibiotika dan meningkat sesuai dengan volume darah dan rasio darah dengan media kultur yang dipakai. dan waktu pengambilan spesimen yang tidak tepat.

Diare hanya 23 . malaise. typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase chain reaction (PCR) melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S. dan (3) gangguan kesadaran.6%). biaya yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. typhi yang akurat adalah mendeteksi DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri S. Sembelit dapat merupakan gangguan gastointestinal awal dan kemudian pada minggu ke-dua timbul diare. Penelitian lain oleh Massi dkk (2003) mendapatkan sensitivitas sebesar 63% bila dibandingkan dengan kultur darah (13. Usaha untuk melacak DNA dari spesimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat ini penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium penelitian. serta gangguan status mental. 4. Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun gejala yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi dalam (1) demam.7. Pemeriksaan kuman secara molekuler Metode lain untuk identifikasi bakteri S. (2) gangguan saluran pencernaan. adanya bahan-bahan dalam spesimen yang bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses). pembesaran hati dan limpa. Diagnosis Demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan asimtomatik. anoreksia. Penelitian oleh Haque dkk (1999) mendapatkan spesifisitas PCR sebesar 100% dengan sensitivitas yang 10 kali lebih baik daripada penelitian sebelumnya dimana mampu mendeteksi 1-5 bakteri/mL darah. Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur teknis tidak dilakukan secara cermat. Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala. letargi.6 2. nyeri dan kekakuan abdomen. typhi.7%) dan uji Widal (35.

Keadaan suhu tubuh tinggi dengan bradikardia lebih sering terjadi pada anak dibandingkan dewasa. dapat timbul pada kulit dada dan abdomen. Akibatnya sering terjadi kesulitan dalam menegakkan diagnosis bila hanya berdasarkan gejala klinis. Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis demam tifoid perlu ditunjang pemeriksaan laboratorium yang diandalkan. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid meliputi pemeriksaan darah tepi. bronkitis dan bronkopneumonia. leukimia. Dalam waktu seminggu panas dapat meningkat. nyeri abdomen dan diare.8. tularemia. infeksi jamur sistemik. Lemah. Penatalaksanaan Non Medika Mentosa a) Tirah baring 24 . sedangkan sembelit lebih jarang terjadi. menjadi berat.4.1 2. shigelosis dan malaria juga perlu dipikirkan. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraseluler seperti tuberkulosis. ditemukan pada 40- 80% penderita dan berlangsung singkat (2-3 hari).5 2. Dapat dijumpai depresi mental dan delirium. gastroenteritis. limfoma dan penyakit hodgkin dapat sebagai dignosis banding. dan bakteriologis. sepsis. gejala dan tanda klinis menghilang namun malaise dan letargi menetap sampai 1-2 bulan. Gambaran klinis lidah tifoid pada anak tidak khas karena tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan asimtomatik. Pada demam tifoid yang berat. Diagnosis Banding Pada stadium dini demam tifoid. beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis dapat menjadi diagnosis bandingnya yaitu influenza. bruselosis. penurunan berat badan. Rose spots (bercak makulopapular) ukuran 1-6 mm. Jika tidak ada komplikasi dalam 2-4 minggu. serologis. terjadi pada setengah dari anak yang terinfeksi. anoreksia.9.

ada komplikasi. Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat. Hal ini sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh Aden (2010) bahwa tubuh memiliki pusat pengaturan suhu (thermoregulator) di 25 .5 b) Nutrisi Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) rendah serat adalah yang paling membantu dalam memenuhi nutrisi penderita namun tidak memperburuk kondisi usus. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak. c) Cairan Penderita harus mendapat cairan yang cukup. baik secara oral maupun parenteral. Kebutuhan kalori anak pada infus setara dengan kebutuhan cairan rumatannya. penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/ kehilangan energi/ panas melalui kulit meningkat (berkeringat). dan nasi biasa. Sebaiknya rendah selulosa (rendah serat) untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang. istirahat sangat membantu. dibawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. basanya diklasifikasikan atas diet cair. Cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang optimal. Pasien harus diedukasi untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja sampai pemulihan. Seperti kebanyakan penyakit sistemik. Diet untuk penderita demam tifoid. tim. sistem efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. d) Kompres air hangat Mekanisme tubuh terhadap kompres hangat dalam upaya menurunkan suhu tubuh yaitu dengan pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. bubur lunak. diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali.

 Cotrimoxazole. merupakan antibiotik pilihan pertama untuk infeksi tifoid fever terutama di Indonesia. maka pusat pengaturan suhu berusaha menurunkannya begitu juga sebaliknya. Pada kasus malnutrisi atau didapatkan infeksi sekunder pengobatan diperpanjang sampai 21 hari. obat yang masih dianjurkan adalah yang mengandung Methamizole Na yaitu antrain atau Novalgin. sedapat mungkin untuk menghindari aspirin dan turunannya karena mempunyai efek mengiritasi saluran cerna dengan keadaan saluran cerna yang masih rentan kemungkinan untuk diperberat keadaannya sangatlah mungkin. hipotalamus. Dosis yang diberikan untuk anak. merupakan gabungan dari 2 jenis antibiotika trimetoprim dan sulfametoxazole dengan perbandingan 1:5. Bila tidak mampu intake peroral dapat diberikan via parenteral. Bila mungkin peroral sebaiknya diberikan yang paling aman dalam hal ini adalah Paracetamol dengan dosis 10-15 mg/kg/kali minum. Pemberian Intra Muskuler tidak dianjurkan oleh karena hidrolisis ester ini tidak dapat diramalkan dan tempat suntikan terasa nyeri.7 Medika Mentosa a) Simptomatik Panas yang merupakan gejala utama pada tifoid dapat diberi antipiretik. Kelemahan dari antibiotik jenis ini adalah mudahnya terjadi relaps atau kambuh.5  Chloramphenicol. Dosis Trimetoprim 10 mg/kg/hari dan Sulfametoxzazole 50 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis. Untuk pemberian 26 . dan carier. Diberikan selama 10-14 hari atau sampai 7 hari setelah demam turun.4. b) Antibiotik Antibiotik yang sering diberikan adalah :1.anak 50-100 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis untuk pemberian intravena biasanya cukup 50 mg/kg/hari. Jika suhu tubuh meningkat.

Cefotaxim.kadang diperlukan tranfusi darah. Leukopenia. merupakan pilihan ketiga namun efektifitasnya setara atau bahkan lebih dari Chloramphenicol dan Cotrimoxazole serta lebih sensitive terhadap Salmonella typhi. memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan dengan chloramphenicol dan cotrimoxazole. dilanjutkan 1 mg/kg tiap 6 jam sampai 48 jam. 2.  Sefalosporin generasi ketiga (Ceftriaxone. koma sampai syok dapat diberikan kortikosteroid IV (dexametasone) 3 mg/kg dalam 30 menit untuk dosis awal. Pada demam tifoid berat kasus berat seperti delirium. Komplikasi Komplikasi demam tifoid dapat dibagi 2 bagian :4 1. Dan pada beberapa Negara antibiotika golongan ini sudah dilaporkan resisten. Cefixime). Bila mampu untuk sediaan Per oral dapat diberikan Cefixime 10-15 mg/kg/hari selama 10 hari. dan granulositopenia. Penurunan demam biasanya lebih lama dibandingkan dengan terapi chloramphenicol. Atau dapat diberikan cefotaxim 150-200 mg/kg/hari dibagi dalam 3-4 dosis.10. Efek samping dari pemberian antibiotika golongan ini adalah terjadinya gangguan sistem hematologi seperti Anemia megaloblastik. stupor. Namun untuk anak. Untuk demam tifoid dengan penyulit perdarahan usus kadang.anak golongan obat ini cenderung lebih aman dan cukup efektif. secara syrup dosis yang diberikan untuk anak 4-5 mg/kg/kali minum sehari diberi 2 kali selama 2 minggu. Komplikasi pada usus halus 27 . Dosis yang diberikan untuk anak 100-200 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis selama 2 minggu. Ceftriaxone merupakan prototipnya dengan dosis 100 mg/kg/hari IVdibagi dalam 1-2 dosis (maksimal 4 gram/hari) selama 5-7 hari. Sedangkan yang sudah terjadi perforasi harus segera dilakukan laparotomi disertai penambahan antibiotika metronidazol.  Ampicillin dan Amoxicillin.

Komplikasi lain yang terjadi adalah abses paru. dan nyeri tekan. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara dirongga peritoneum yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak. yaitu nyeri perut yang hebat. pneumonia bisa merupakan infeksi sekunder dan dapat timbul pada awal sakit atau fase akut lanjut. b) Kolesistitis 28 . a) Perdarahan usus Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Komplikasi diluar usus halus a) Bronkitis dan bronkopneumonia Pada sebagian besar kasus didapatkan batuk. c) Peritonitis Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala akut. efusi. bersifat ringan dan disebabkan oleh bronkitis. Jika perdarahan banyak terjadi melena dapat disertai nyeri perut dengan tanda – tanda renjatan. dan empiema. b) Perforasi usus Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setengahnya dan terjadi pada bagian distal ileum. 2. dinding abdomen tegang.

Gambaran EKG dapat bervariasi antara lain : sinus takikardi. Bila disertai kejang – kejang maka biasanya prognosisnya jelek dan bila sembuh sering diikuti oleh gejala sesuai dengan lokasi yang terkena. supraventrikular takikardi. kejang – kejang. d) Meningitis Menigitis oleh karena Salmonella typhi yang lain lebih sering didapatkan pada neonatus/bayi dibandingkan dengan anak. f) Infeksi saluran kemih Sebagian kasus demam tifoid mengeluarkan bakteri Salmonella typhi melalui urin pada saat sakit maupun setelah sembuh. Proteinuria transien sering dijumpai. demam tinggi. c) Typhoid ensefalopati Merupakan komplikasi tifoid dengan gejala dan tanda klinis berupa kesadaran menurun. aritmia. bila terjadi umumnya pada akhi minggu kedua dengan gejala dan tanda klinis yang tidak khas. pemeriksaan otak dalam batas normal. Sistitis maupun pilonefritis dapat juga merupakan penyulit demam tifoid. sedangkan glomerulonefritis yang dapat 29 . Insidensnya terutama pada anak berumur 7 tahun keatas serta sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga. Ternyata peyebabnya adalah Salmonella havana dan Salmonella oranemburg. muntah. AV blok tingkat I. depresi segmen ST. dengan gejala klinis tidak jelas sehingga diagnosis sering terlambat. Pada anak jarang terjadi. perubahan gelombangan I. e) Miokarditis Komplikasi ini pada anak masih kurang dilaporkan serta gambaran klinis tidak khas. bila terjadi kolesistitis maka penderita cenderung untuk menjadi seorang karier.

Relapse terjadi pada 5-10% pasien biasanya 2-3 minggu setelah demam mengalami resolusi dan pada isolasi organisme memiliki bentuk sensivitas yang sama seperti semula. Seka seluruh bagian luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. Karier temporer. Pasien dengan traktus urinarius yang abnormal. Untuk itu. Pencegahan Berikut beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid:2  Cuci tangan. mungkin memgeluarkan bakteri pada urinya dalam waktu yang lama.typhi pada feces selama tiga bulan. Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk mengendalikan demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. pada kelompok usia dewasa. Minum tanpa 30 . Faktor predisposisi menjadi kronik karier adalah jenis kelamin perempuan. g) Karier kronik Tifoid karier adalah seorang yang tidak menunjukkan gejala penyakit demam tifoid. dan cholelithiasis. minumlah air dalam botol atau kaleng. seperti schistosomiasis. 2.  Hindari minum air yang tidak dimasak. bermanifestasi sebagai gagal ginjal maupun sidrom nefrotik mempunyai prognosis yang buruk. Hal ini tampak pada 10% pasien konvalesen. Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air. tetapi mengandung kuman Salmonella typhosa di sekretnya. Cuci tangan anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun terutama sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet.ekskresi S. Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid.11.

Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan pada suhu ruang. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci. menambahkan es di dalamnya. namun untuk menyantapnya.  Bersihkan alat rumah tangga secara teratur. terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Gunakan air minum kemasan untuk menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar mandi. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut. Yang terbaik adalah makanan yang masih panas.  Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar. Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak disajikan. Ini adalah cara penting yang dapat anda lakukan untuk menghindari penyebaran infeksi ke orang lain. pilihlah buah yang dapat dikupas. berikut beberapa tips agar anda tidak menginfeksi orang lain:  Sering cuci tangan. kemudian gosoklah tangan selama minimal 30 detik. Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada yang telah dimasak. hindari membeli makanan dari penjual di jalanan yang lebih mungkin terkontaminasi. Gunakan air (diutamakan air mengalir) dan sabun. 31 . Walaupun tidak ada jaminan makanan yang disajikan di restoran itu aman. Jika anda adalah pasien demam tifoid atau baru saja sembuh dari demam tifoid. Pemanasan sampai suhu 57°C beberapa menit dan secara merata dapat membunuh kuman Salmonella typhi. Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau tidak. cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir.  Pilih makanan yang masih panas.

penderita imunokompromais. menyusui.1. tujuan kesehatan masyarakat dengan mencegah dan mengendalikan demam tifoid dengan air minum yang aman. mungkin sulit untuk dicapai.  Vaksin parenteral sel utuh (TAB vaccine) 32 . Diberikan per oral tiga kali dengan interval pemberian selang sehari. Jika anda bekerja di industri makanan atau fasilitas kesehatan.  Hindari memegang makanan. telepon. beberapa ahli percaya bahwa vaksinasi terhadap populasi berisiko tinggi merupakan cara terbaik untuk mengendalikan demam tifoid. Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dokter berkata bahwa anda tidak menularkan lagi. dan peralatan lainnya untuk anda sendiri dan cuci dengan menggunakan air dan sabun. perbaikan sanitasi. Sediakan handuk. yakni:  Vaksin oral Ty 21a (kuman yang dilemahkan) Vaksin yang mengandung Salmonella typhi galur Ty 21a.  Gunakan barang pribadi yang terpisah. Untuk alasan itu. Lama proteksi dilaporkan 6 tahun. anda tidak boleh kembali bekerja sampai hasil tes memperlihatkan anda tidak lagi menyebarkan bakteri Salmonella. dan perawatan medis yang cukup. sedang minum antibiotik. Bersihkan toilet. dan anak kecil 6 tahun. Pencegahan dengan menggunakan vaksinasi Di banyak negara berkembang. Vaksin Ty-21a diberikan pada anak berumur diatas 2 tahun. Vaksin ini dikontraindikasikan pada wanita hamil. sedang demam. pegangan pintu.2 Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid. seprai. dan keran air setidaknya sekali sehari.

mengingat efek samping yang ditimbulkan dan lama perlindungan yang pendek. dengan terapi antibiotik yang adekuat. Efek samping yang dilaporkan adalah demam. dan pengobatan. Typhi ≥ 3 bulan setelah infeksi umumnya menjadi karier kronis.1 33 .5 mL yang berisi 25 mikrogram antigen Vi dalam buffer fenol isotonik. hamil. Vaksin ini mengandung sel utuh Salmonella typhi yang dimatikan yang mengandung kurang lebih 1 milyar kuman setiap mililiternya.ser. mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi.  Vaksin polisakarida Vaksin yang mengandung polisakarida Vi dari bakteri Salmonella. sedang demam. Relaps dapat timbul beberapa kali. dan riwayat demam pada pemberian pertama.12. perawatan. seperti perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat. angka mortalitas <1%. nyeri kepala. dan bengkak dengan nyeri pada tempat suntikan. Prognosis Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi. anak 6-12 tahun 0.25 mL. menyusui. Mempunyai daya proteksi 60-70 persen pada orang dewasa dan anak di atas 5 tahun selama 3 tahun.5 mL. Karier kronik terjadi pada 1- 5% dari seluruh pasien demam tifoid. lesu. Vaksin diberikan secara intramuskular dan diperlukan pengulangan (booster) setiap 3 tahun. Di negara maju. Munculnya komplikasi.1 mL yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. 2. dan ada tidaknya komplikasi. Dosis untuk dewasa 0. Vaksin ini di kontraindikasikan pada keadaan demam. dan anak kecil 2 tahun. biasanya karena keterlambatan diagnosis. Vaksin ini tersedia dalam alat suntik 0. usia. hamil. Cara pemberian melalui suntikan subkutan. dan anak 1-5 tahun 0. Resiko menjadi karier pada anak – anak rendah dan meningkat sesuai usia. Vaksin ini sudah tidak beredar lagi. keadaan kesehatan sebelumnya. angka mortalitasnya >10%. Vaksin ini dikontraindikasikan pada keadaan hipersensitif. dan pneumonia. Di negara berkembang. Individu yang mengeluarkan S. meningitis. endokarditis.

edisi bahasa Indonesia: A Samik Wahab. Diunduh dari http://medicastore. Richard E..com/artikel/238/Demam_Tifoid_pada_Anak_Apa_yang_Perlu_Di ketahui. Arvin. 2008. ed.15. 3. Pawitro UE. Dalam : Soegijanto S. Behrman. Dalam : Buku ajar infeksi & pediatri tropis. 2008. 338-45. Ed. Soedarmo. dkk. Ann M. Demam Tifoid. Sumarmo S. Sri. Jakarta: EGC . Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Rezeki. DAFTAR PUSTAKA 1.html. Ilmu Penyakit Anak : Diagnosa dan Penatalaksanaan. h. Kliegman. 2002:1-43. 2000. Noorvitry M. 2. 4. Demam tifoid. Darmowandowo W. Demam tifoid. 34 . 2. Ed. 22 Januari 2012. Robert M. Jakarta : Badan Penerbit IDAI . edisi 1. Jakarta : Salemba Medika.

35 . Jakarta : 2003. Efektifitas kompres hangat dalam menurunkan demam pada pasien Thypoid Abdominalis di ruang G1 Lt.pdf. Aloei Saboe Kota Gorontalo. H. 1-10. Risky V.ung. Prasetyo. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Mohamad. 22 Januari 2012. h. 7.ac. Alan R.id/filejurnal/JHSVol05No01_08_2012/7_Fatwaty_JHSVol05No 01_08_2012. Cetakan pertama. 6. Diunduh dari http://journal. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dr.2 RSUD Prof. Surabaya : FK UNAIR . dan Ismoedijanto. Dalam Pediatrics Update. h. Fatmawati. 2012. Metode diagnostik demam tifoid pada anak. Tumbelaka. 2-20.5.