You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN

HIPERTENSI DI RUANG PERAWATAN
MERAK RS BHAYANGKARA
MAKASSAR

OLEH
NAMA : APRIANA S.Kep
NIM : 1606002

C1 LAHAN C1 INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM PROFESI NERS
STIKES GRAHA EDUKASI
MAKASSAR
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI

1. KONSEP DASAR MEDIS
A. Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah antara resistant sistoliknya diatas 140
mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi manula,
hipertensi didefenisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 93 mmHg.
Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO
1. Tekanan darah normal, yaitu bila sistolik ≤140 mmHg dan diastolik ≤90
mmHg
2. Tekanan darah berbatasan (border, line) yaitu bila tekanan darah sistolik
141-149 mmHg dan diastolik 91- 94 mmHg.
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik ≥ 160 mmHg dan
diastolik ≥ 93 mmHg.
Faktor Resiko
1. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan hipertensi
2. Pria 35 – 55 tahun dan wanita >50 tahun atau sesudah menopause
3. Kebanyakan mengkonsumsi garam/ natrium/ sodium
4. Sumbatan pada pembuluh darah (aterosklerosis) disebabkan oleh
berbagai hal, seperti merokok, kadar lipid dan kolestrol setu meningkat,
cafein, DM dan seabagainya
5. Faktor emosional
6. Gaya hidup yang monoton
7. Kegemukan
8. Pemakaian kontrasepsi oral, dan estrogen
B. Etiologi
Menurut penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua yaitu :
1. Hipertensi primer/ hipertensi esensial / hipertensi idiopati.
o Faktor keturunan
o Etiologi tidak jelas dan terjadi secara tiba-tiba
o Faktor lingkungan (konsumsi garam yang tinggi dan kegemukan)
o Bersifat hereditas dan umumnnya umur diatas 70 tahun
o Diduga ada kaitannya dengan faktor psikis/stress
2. Hipertensi sekunder
o Penyebabnya diketahui
o Menunjukkan keluhan dan gejala yang jelas
o Penyakit yang merupakan penyebab antara lain :
 penyakit jantung
 penyakit endokrin
 penyakit ginjal, contoh : glomerulonefritis
 kehamilan contoh : tuksemia gravidarium
 otak contoh : trauma dan peningkatan TIK
 pengaruh sekunder obat-obatan seperti kontrasepsi oral.
 Dsb.
C. Patofisiologi
Curah jantung merupakan faktor utama yang perlu diperhitungkan dalam
sirkulasi, karena curah jantung mempunyai peranan penting dalam
transportasi darah yang memasok berbagai nutrisi.
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer, pada
tahap awal hipertensi curah jantung meninggi sedangkan tahanan perifer
meningkat yang disebabkan peningkatan aktivitas simpatik. Pada tahap
selanjutnya curah jantung kembali normal sedangkan tahanan perifer
meningkat yang disebabkan oleh refleks autoregulasi. Yang dimaksud
autoregulasi ialah mekanisme tubuh untuk mempertahankan keadaan
hemodinamik yang normal. Oleh karena itu curah jantung yang meningkat
terjadi konstrisi sfingter kapiler yang mengakibatkan penurunan curah
jantung dan peninggian tahanan perifer.
Menurut lund-Johansenn, pada stadium awal sebagian besar pasien
hipertensi menunjukkan curah jantung yang meningkat dan kemudian diikuti
dengan kenaikan tahanan perifer yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah
yang menetap.
D. Manifestasi Klinik
Peningkatan tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya
gejala, bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada otak
dan jantung, gejala yang sering ditemukan yaitu nyeri kepala saat terjaga
kadang-kadang disertai mual dan muntah, penglihatan kabur akibat kerusakan
retina karena hipertensi,sukar tidur, berat ditengkuk.
E. Komplikasi
Sebagai akibat yang berkepanjangan adalah
o Insufisiensi koroner dan pengambatan
o Kegagalan jantung
o Kegagalan ginjal
o Gangguan pernafasan
F. Pemeriksaan Penunjang
o Urinasis terutama untuk deteksi adanya darah, protein dan gula.
o Kimia darah untuk K, Kreatinin, gula darah puasa, total kolesterol
o EKG
o Radiologi ; foto dada
o Kolesterol : HDL, LDL, trigleserida atau asam urat
o USG pembuluh darah besar
o USG ginjal bila diduga kelainan pada ginjal
o Plasma renin Activity (PRA) clolosteron, katekolamin, urine.
G. Penatalaksanaan
o Non-farmakologis
Pembatasan natrium, penurunan BB/latihan, pembatasan alcohol,
penghentian merokok, menghilangkan stress
o Farmakologik
Sesuai dengan rekomendasi WHO/ISH dengan mengingat kondisi
pasien, sasarkan pertimbangan dan prisif sebagai berikut:
a. Mulai dosis rendah yang tersedia, naikkan bila respon belum belum
optimal, contoh agen beta bloker ACE.
b. Kombinasi dua obat, dosis rendah lebih baik dari pada satu obat dosis
tinggi. Contoh: diuretic dengan beta bloker.
c. Bila tidak ada respon satu obat, respon minim atau ada efek samping
ganti DHA yang lain
d. Pili yang kerja 24 jam, sehingga hanya sehari sekali yang akan
meningkatkan kepatuhan.
e. Pasien dengan DM dan insufistensi ginjal terapi mula lebih dini yaitu
pada tekanan darah normal tinggi.
2. KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Identitas Klien
Riwayat Keperawatan
o Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup otonom
Tanda : Frekuensi jantung monoton
Perubahan irama jantung
Takipnea
o Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi ,aterosklerosis, penyakit jantung
koroner/katup dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda : Kenaikan TD, hipotensi postulih
Nadi, denyut jelas dari karotis, jugularis, radialis, perbedaan
denyut seperti, denyut femoral melambat sebagai konfensasi
denyutan radialis.
Denyut apika : PMI kemungkinan bergeser dan /menguat
Frekuensi/irama : takikardia, berganti distrimia
Bunyi jantung : Terdengar S2 pada dasar, S3 (CHF), S4
(pergeseran vemtrikel kiri)
Ekstensitas : Perubahan warna kulit, suhu dingin, pengisian
kapiler mungkin lambat, kulit pucat sianosis dan
diaforesisi, kerusakan.
o Integritas ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, factor
stress/multiple
Tanda : Letupan suasana hati, otot muka tegang, gerakan fisik cepat,
peningkatan pola bicara, gelisa, tengisan yang meledak.

o Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini/yang lalu
o Makanan/cairan
Gejala : Makanan yang disukai, yang dapat mencakup makanan tinggi
garam tinggi lemak, tinggi kolesterol, gula “yang berwarna
hitam : kandungan tinggi kalori mual dan muntah.
Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat/turun)
Riwayat penggunaan diuretic
Tanda : BB normal atau obesitas
o Neurosensori
Gejala : Keluhan pening/pusing
Berdenyut, sakit kepala sub obsipital
Episode kebas dan / atau kelemahan pada satu sisi tubuh
Gangguan penglihatan
Episode Epiteksisi
o Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Angina (penyakit arteri koroner / keterlibatab jantung)
Nyeri hilang timbul pada tungkai
Sakit kepala oksipital nyeri abdomen/massa
o Pernafasan
Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja
Takipnea, ortopnea, dispnea proksimal
Batuk dengan/tenpa pembentukan sputum
Riwayat merokok
Tanda : Distres respirasi/penggunaan otot aksesoris pernafasan
Bunyi nafas tambahan
o Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi/cara berjalan
Hipotensi postural
B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung (resiko) berhubungan dengan peningkatan
pembuluh darah perifer
2. Gangguan rasa nyaman : sakit kepala berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler serebral
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
5. Ansietas (cemas) berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses
penyakit
b. Intervensi/Rencana Tidakan Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan pembuluh
darah perifer
Tujuan : Dapat mempertahankan tekanan darah
Kriteria hasil :
o TD dalam batas normal
o Irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal.
Intervensi :
a. Panatau TD
R/ Perbandingan dari tekanan memberikann gambaran yang lebih
lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler.
b. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
R/ Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin
teramati/terpalpasi. Denyutan pada tungkai mungkin menurun,
mencerminkan efek pada vasokonstriksi dan kongesti vena.
c. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan
lingkungan
R/ Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan
relaksasi.
d. Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti istirahat ditempat tidur
R/ Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan
darah
e. Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman, seperti pijatan punggung
dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
R/ Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang
simpatis.
f. Anjurkan teknik relaksasi
Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, sehingga
dapat menurunkan TD.
g. Berikan obat sesuai indikasi
R/ Dapat membantu mempercapat proses penyembuhan dan
mengontrol TD.
2. Gangguan rasa nyaman : sakit kepala berhubungan dengan peningkatan
tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Klien merasa nyaman
Kriteria Hasil :
c. Sakit kepala hilang
d. Pusing / pening hilang
Intervensi dan Rasional
a. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
R / meminimalkan stimulasi / meningkatkan reabsorpsi
b. Berikan kompres dingin, ajarkan teknik relaksasi
R/ tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan memblok
respon simpatis efektif dan menghilangkan sakit kepala.
c. Beri penjelasan cara untuk meminimalkan aktivitas vasokontriksi
R/ aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit
kepala.
d. Bantu pasien dalam ambulansi sesuai kebutuhan
R / pening / pusing selalu berkaitan dengan sakit kepala
e. Kolaborasi
Pemberian analgesikom dan penenang
R/ Membantu proses penyembuhan dan mengurangi nyeri
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
Tujuan : Nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil ;
o Tidak ada mual
o Nafsu makan baik
o Porsi yang disajikan dihabiskan
Intervensi :
a. Kaji pola makan.
R/ Untuk memudahkan dalam intervensi selanjutnya.
b. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering.
R/ Untuk meningkatkan nafsu makan klien.
c. Anjurkan klien makan makanan lunak.
R/ Makanan lunak dapat mengurangi terjadinya iritasi pada lambung.
d. Anjurkan pada klien untuk menghindari minuman yang mengandung
kafein dan alkohol.
R/ Kafein adalah stimulan sistem saraf pu-sat yang meningkatkan
aktivitas lambung dan pepsin. Sedangkan alko-hol mendukung untuk
erosi mukosa lambung.
e. Beri HE tentang pentingnya menghentikan merokok.
R/ Rokok mengandung nikotin yang dapat meningkatkan stimulasi
parasimpatis, meningkatkan aktivitas otot dalam usus dan
menimbulkan mual dan muntah.
f. Kolaborasi dengan tim gizi dan diet
R/ Membantu dalam proses penyembuhan
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
Tujuan : Klien dapat beraktivitas secara optimal sesuai keadaan
Kriteria Hasil :
o Klien terlihat segar.
o Klien mampu memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kemampuannya.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan secara fungsional
R/ Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat memberikan
informasi mengenai pemulihan.
b. Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala
ketergantungan.
R/ Pasien mampu/mandiri (nilai 0) atau memerlukan bantuan/peralatan
yang minimal (nilai 1); memerlukan bantuan pengawasan/diajarkan
(nilai 2); memerlukan bantuan/peralatan terus menerus dan alat khusus
(nilai 3); atau tergantung secara total pada pemberian asuhan (nilai 4).
c. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan.
R/ Mengurangi beban klien sehingga mempercepat kesembuhan
d. Beri/bantuan mengubah posisi.
R/ Menurunkan resiko terjadinya trauma/iskemia jaringan.
Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal
ekstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis.
e. Motivasi keluarga untuk membantu dalam pemenuhan ADL
R/ Diharapkan keluarga terdorong dan mau berpartisipasi dalam
membantu memenuhi kebutuhan ADL klien.
f. Libatkan keluarga dalam perawatan klien.
R/ Agar keluarga kooperatif dalam pengobatan dan perawatan.
5. Ansietas (cemas) berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses
penyakit
Tujuan : Cemas teratasi
Kriteria Hasil :
o Klien mengerti tentang penyakitnya.
o Ekspresi wajah nampak rileks.
o Klien tampak tenang.
Intervensi :
i. Kaji tingkat kecemasan klien

R/ Dengan mengetahui tingkat kecemasan klien dapat dijadikan
indikator intervensi selanjutnya.
ii. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
R/ Dengan memberikan kesempatan kepada klien mengungkapkan
perasaan-nya dapat mengurangi beban perasaan sehinggan klien lega.
iii. Dengarkan keluhan klien dengan rasa empati.
R/ Mendengarkan keluhan klien dengan rasa empati membuat klien
merasa diperhatikan
iv. Jelaskan pada klien tentang perawatan dan pengobatan yang diberikan.
R/ Klien dapat mengerti tentang penyakit-nya sehingga dapat
mengurangi beban perasaannya
v. Berikan dorongan spiritual dengan menganjurkan klien banyak berdoa.
R/ Agar klien lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga klien
dapat merasa lebih tenang
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperwatan Medikal Bedah. Vol.2. EGC : Jakarta.
Sylvia A. Price. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses –proses Penyakit.
Vol.2. Ed.6. EGC : Jakarta.
Marilynn E Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed.3. EGC :
Jakarta.
Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Guyton dan Hall, 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11, Jakarta : EGC
http://medlinux.blogspot.com/2011/12/hipertensi.html