You are on page 1of 20

PELAYANAN KEROHANIAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Pelayanan rohani yang dimaksud identik dengan pelayanan spiritual
kepada pasien. Hal ini menjadi penting karena pasien akan dibantu
karena adanya perhatian (attention), dukungan (sustaining),
perdamaian (reconciling), bimbingan (guiding), penyembuhan luka
batin (inner-healing), serta doa (prayer). Apabila pasien terlayani aspek
rohaninya maka akan terjadi keseimbangan dalam hidup dan
berdampak positif untuk perjalanan pengobatan penyakitnya.

Tujuan 1. Tujuan Umum
a. Sebagai acuan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
b. Sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai acuan dalam melaksanakan pelayanan kerohanian
bagi pasien yang dirawat
b. Memahami kebutuhan spiritual pasien
Prosedur 1. Permintaan keluarga/pasien
2. Keluarga/pasien mengisi formulir permintaan
3. Perawat menghubungi petugas HUMAS
4. Petugas HUMAS menghubungi rohaniawan
5. Petugas HUMAS mengantarkan rohaniawan keruangan
6. Pelayanan kerohanian dilaksanakan
7. Rohaniawan mengisi buku kunjungan
8. Pelayanan selesai

Dokumen Terkait
PERLINDUNGAN PRIVASI PASIEN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian a. Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang
dikehendaku seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu.
Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan
atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi
dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha
supaya sukar dicapai oleh orang lain.
b. Kerahasian informasi adalah informasi yang karena nilainya,
perlu disembunyikan dan dilindungi agar tidak terbuka untuk
umum atau jatuh kepada pihak lain.
c. Identifikasi privacy pasien adalah suatu proses untuk
mengetahui kebutuhan privacy pasien selama dalam rumah
sakit
d. Privacy pasien adalah hak pasien yang perlu dilindungi dan
dijaga selama dalam rumah sakit
Tujuan A. Tujuan Umum
Sebagai acuan dalam pemenuhan hak pasien atas privasi dan
kerahasian informasi tentang penyakit pasien
B. Tujuan Khusu
1. Memberi rasa aman dan nyaman kepada pasien
2. Terjaminnya privasi dan kerahaisian penyakit pasien dalam
perawatan
Prosedur A. Rawat Jalan, Ruang Tindakan
1. Pada semua tindakan atau pemeriksaan yang dilakukan oleh
dokter di ruang konsultasi pastikan privasi pasien
terlindungi dengan menutup pintu/tirai ruang pemeriksa
2. Memastikan saat pasien diperiksa oleh dokter, tidak ada
pasien lain yang menunggu di dalam satu ruang yang sama
3. Rumah sakit memastikan seluruh staff rumah sakit tidak
membicarakan hal-hal yang menyangkut pasien di daerah
umum.
B. Rawat Inap
1. Petugas admini memberi penjelasan bahwa rumah sakit
menjamin melindungi privasi pasien dan kerahasian
informasi tentang penyakit selama pasien dalam masa
perawatan
2. Petugas memberi penjelasan kepada pasien tentang tata cara
menyampaikan, apabila ada privasi khusus dan kerahasian
informasi tentang penyakit penyakit pasien yang perlu
dijaga selama dalam masa perawatan
3. Petugas menanyakan apakah ada privasi khusus dan
kerahasian informasi tentang penyakit yang perlu dilindungi
oleh rumah sakit.
4. Petugas memberikan formulir khusus permintaan privasi
dan kerahasian informasi apabila pasien memerlukan
jaminan perlindungan privasi dan kerahasian informasi
5. Formulir permohonan privasi dan kerahasian informasi
ditandatangani oleh pasien dan petugas admisi
6. Petugas admisi meyerahkan permohonan jaminan privasi
dan kerahasian informasi kepada perawat ruangan untuk
selanjutnya diinformasikan kepada dokter yang merawat
7. Perawat melakukan koordinasi dengan pihak terkait, sesuai
dengan kebutuhan pasien guna menjaga privasi dan
kerahasian informasi pasien selama dalam perawatan,
diantaranya :
 Menutup acces masuk pengunjung (baik keluarga,
kerabat)
 Menempatakan tanda/signage pada pintu masuk kamar
 Memastikan preferensi pasien untuk gender atau jenis
kelamin petugas yang diberi izin masuk kamar
 Bagi petugas harus mengetuk pintu dulu sebelum pasien
masuk ruangan
 Petugas tidak memberikan informasi kepda orang lain
sesuai dengan permintaan privasi dan kerahasiaan
informasi.
8. Pada semua tindakan atau pemeriksaan yang dilakukan oleh
dokter atau perawat dikamar perawatan pastikan privasi
pasien terlindungi dengan pintu dan tirai tertutup

Dokumen Terkait 1. Formulir permohonan privasi dan kerahasian informasi
2. Tanda/signage permohonan privasi pasien (sesuai dengan jenis
privasi)
PERLINDUNGAN TERHADAP HARTA BENDA MILIK
PASIEN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Menjaga atau mendungi barang milik pasien atau keluarga selama
pasein mendapatkan pelayanan kesehatan di suatu rumah sakit
Tujuan
Menjaga atau melindungi barang milik pasien/keluarga sesuai
ketentuan untuk keamanan, kenyamanan dan mencegah kejadian yang
tidak diinginkan selama pasien/keluarga mendapatakan pelayanan
kesehatan dan perawatan

Kebijakan 1. Adanya SOP penitipan senjata tajam di Rumah Sakit
2. Adanya lemari pasien rawat inap
3. Pasien yang dilindungi harta bendanya adalah:
 Pasien yang tidak sadar
 Pasien tanpa keluarga
 Pasien yang meminta RS untuk melindungi barangnya
 Pasien terkait kriminalitas
4. Jenis barang yang diberikan perlindungan:
 Barang berharga : Uang, Perhiasan, dll
 Barang elektronik : HP, Laptop. Ipad, dll
5. Setiap gedung rawat inap adanya jaga piket satpam
6. Buku penitipan barang milik pasien tiap ruangan
Prosedur 1. Pihak rumah sakit mengadakan penyuluhan kepada semua
pasien untuk berhati-hati dalam menjaga barang pribadi
masing-masing
2. Pasien bekerja sama dengan pihak keamanan atau pihak rumah
sakit dalam menjaga barang pribadi pasien pada saat pasien
dalam kondisi akan ada tingkatan pelayanan kesehatan dan
tidak ada leluarga yang mendampingi atau dalam kondisi
kehingan kesadaran.
3. Para staf RSUD Landak harus memberikan perlindungan harta
pasien dengan benar dengan menanyakan kejelasdan informasi
yang disampaikan oleh Unit Pendaftaran untuk tidak
meninggalkan harta benda khususnya diluar pengamatan
pasien, kemudian mebandingkannyadengan adanya Surat
Pernyataan yang tercantum di rekam medis.
Janganmenyebutkan semua informasi tentang perlindungan dan
meminta pasien untuk mengkonfirmasi dengan jawaban
ya/tidak.
4. Semua pasien sebelum masuk rawat inap harus di informasikan
bahwa rumah skit tidak bertanggung jawab jia ada harta benda
milik pasien yang hilang sebab pada saat akan masuk rawat
inap di informasikan oleh Unit Pendaftaran.
5. Pastikan bahwa pasien sudah menyetujui dan mengeri tentang
informasi yang disamaikan tentang harta benda
6. Pastikan pasien memberikan Surat Pernyataan bahwa bersedia
tidak akan menuntut apapun pada pihak rumah sakit apabila
terjadi kehilangan harta benda karena sudah di informasikan
bahwa rumah sakit tidak akan bertanggung jawab atas harta
benda pribadi milik pasien.
7. Pastikan adanya proses serah terima penyimpanan sementara
untuk harta benda pribadi milik pasien apabila pada pasien
tersebut tidak ada keluarga yang mendampingi dan akan
dilakukan tindakan pelayanan kesehatan.
8. Segera hubungi pihak keamanan untuk kasus kehilangan harta
benda milik pasien jika ada peristiwa kehilangan.
9. Jika perlu hubungi pihak yang berwajib untuk menangani kasus
kehilangan harta benda milik pasien jika kasus tersebut
berlanjut.

Dokumen Terkait
PERLINDUNGAN TERHADAP KEKERASAN FISIK
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Prosedur penjagaan perlindungan khusus pada pasien bayi, anak-anak,
dan lanjut usia dari kekerasan fisik, intervensi dan intimidasi secara
langsung
Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk:
1. Menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pasien
2. Mencegah terjadinya kekerasan fisik pada pasien

Prosedur PERSIAPAN

1. Adanya ketentuan jadwal besuk bagi pasien
2. Kebijakan terkait kunjungan di luar jam besuk
3. Skrining pasien-pasien yang beresiko mengalami kekerasan
fisik
4. Identifikasi pengunjung RS yang mencurigakan
5. Terdapat no darurat terkait kejadian kekerasan fisik
6. Adanya alat pemantau CCTV pada area-area yang rawan

PROSEDUR KERJA

1. Penjcegahan pengunjung Rawat Inao di luar jam besuk
2. Hubungi keluarga/penunggu pasien bagi pengunjung yang
datang diluar jam besuk untuk melakukan konfirmasi
3. Catat nama, tanggal, jam , keperluan bagi pengunjung rawat
inap di luar jam besuk
4. Lakukan pemantauan melalui CCTV pada area-area rawan
terjadi. Jika ada hal yang mencurigakan, segera lakukan
pengecekan pada lokasi tersebut
5. Jika ada telepon yang masuk, segera tindak lanjuti

Dokumen Terkait
PERLINDUNGAN TERHADAP KELOMPOK YANG
BERESIKO
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Kekerasan fisik adalah setiap tindakan yang sengaja atau
penganiayaan secara langsung merusak integritas fisik maupun
psikologis korban, daftar kelompok pasien beresiko adalah sebagai
berikut : pasien dengan cacat fisik dan cacat mental, pasien lanjut usia,
pasien bayi fan anak-anak, korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(KDRT), pasien napi, korban dan tersangka tindak pidana
Tujuan Tujuan perlindungan terhadap kekerasan fisik, lanjut usia, penderita
cacat, anak-anak dan yang beresikodisakiti adalah melindungi
kelompok pasien beresiko dari kekerasan fisik yang dilakukan oleh
pengunjung, satff rumah sakit dan pasien lain serta menjamin
keselamatan kelompokpasien beresiko yang mendapat pelayanan di
rumah sakit. Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk
memberikan perlindungan dan keselamatan serta keamanan pasien
terutama pada pasien lanjut usia, penderita cacat, bayi, anak-anak dan
pasien lain yang beresiko disakiti
Prosedur 1. Langkah pengkajian pasien beresiko mendapat kekerasan fisik
dam RM Integrasi
2. Tempatkan kamar perawatan kelompok pasien beresiko sedekat
mungkin dengan kantor perawat bila memungkinkan
3. Pasang oengaman tempat tidur dan pastikan bel pasien mudah
di jangkau dan dapat digunakan
4. Sarankan kepada keluarga atau penanggungjawab pasien untuk
menjaga pasien selama proses perawatan di rumah sakit selama
24 jam terus menerus
5. Perawatan dikamar bayi:
- Tata cara pengamanan di unit NI/NN/NICU:
 Harus ada petugas di dalam ruang tersebut
 Jika ada petugas/pengunjung akan masuk ke
NI/NN/NICU hari seijin petugas terkait
- Tata cara pengamanan di bayi sehat
 Bayi didalam kamar bersama ibu
 Perawat menjelaskan bahwa bayi tidak boleh ditinggal
sendiri walau hanya ke kamar mandi
 Apabila bayi akan diambil perawat/bidan maka petugas
tersebut dipastikan memakai PIN yang sudah ditentukan
 Apabila bayi dititipkan keperawat, maka akan
ditempatkan diruang bayi sehat yang dilengkapi dengan
finger sensor di pintu masuk
- Selalu termonitor dengan kamera CCTV
6. Laporkan kepada satuan pengamanan jika mendapatkan
pengunjung yang mencurigakan, bila terjadi kekerasan fisik
maupun mental baik oleh pengunjung maupun staff rumah
sakit.
7. Satuan pengamanan:
a. Tanyakan kepada pengunjung yang dicurigai : tujuan
kunjungannya, ke kamar berapa, atas nama pasien siapa,
dan dimana alamatnya
b. Konfirmasikan kepada petugas rawat inap apakah ada
pasien yang dimaksud pengunjung tersebut.
c. Antar pengunjung yang dicurigai sampat ketempat tujuan
8. Pemberlakuan jam kunjung sesuai dengan peraturan rumah
sakit berkoordinasi dengan bagian security/keamanan

Dokumen Terkait
PERLINDUNGAN TERHADAP KERAHASIAAN
INFORMASI PASIEN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Setiap informasi yang berhubungan dengan kondisi kesehatan dan
segala tindakan/perkembangan pengobatan pasien sifatnya adalah
rahasia. Informasi tersebut hanya boleh diketahui oleh pasien/wali sah,
dokter penanggung jawab, pihak keluarga yang sudah diberi
kewenangan oleh dokter penanggung jawab dan pasien/wali sah
pasien
Tujuan
Agar pasien mendapatkan pelayanan perlindungan kerahasiaan
informasi pasien

Prosedur 1. Ucapkan salam
2. Perkenalkan diri dan jelaskan tugas dan peran anda
3. Perawat yang diberi wewenang melakukan verifikasi mengenai
pelayanan pelindungan kerahasian informasi pasien di RS serta
membantu mengisikan formulir penunjukan kewenangan
penerima informasi perkembangan pasien
4. Berikan kesempatan pasien dan atau keluarga untuk bertanya
dan atau pendapat yang berkaitan dengan kebutuhan informasi
perkembangan pasien
5. Formulir di arsip direkam medis pasien
6. Pastikan identitas diri pasien dan atau keluarganya
7. Berikan pelayanan perlindungan kerahaasiaan informsi
perkembangan pasien sesuai dengan formulir permintaan
paasien dan keluarga oleh dokter yang diminta
8. Berikan dan minta nomor telepon yang bisa dihubungi jika
sewaktu-waktu diperlukan
9. Ucapkan terima kasih dan semoga anda puas

Dokumen Terkait
MEMPEROLEH SECOND OPNION DI DALAM DAN
LUAR RUMAH SAKIT
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Meminta pendapat lain (Second Oponion) adalah pendapat medis yang
diberikan oleh dokter lain terhadap suatu diagnosa atau terapi maupun
rekomendasi medis lain terhadap penyakit yang diderita pasien baik
dari dokter di dalam atau diluar rumah sakit
Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk memberikan
pengertian kepada seluruh staff rumah sakit tentang hak pasien untuk
mendapatkan Second Oponion atas penyakit yang di deritanya.

Prosedur 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit
2. Pastikan pasien sudah mendapat pendidikan pasien yang benar
mengenai proses yang dideritanya dari DPJP
3. Hindari hal yang menyebabkan hati pasien/keluarga tidak
tenang
4. Berikan penguatan terhadap informasi yang diberikan oleh tim
kesehatan lain dengan tepat
5. Jika pasien atau keluarga masih bingung, dukung pasien untuk
mencari/mendapatkan Second Oponion sesuai kebutuhan atau
indikasi
6. Fasilitasi pasien untuk mendapatkan penjelasan Second
Oponion dari dokter dengan kompetensi yang sama. Jika
Second Oponion diperoleh dari dalam rumah sakit maka pasien
harus mengisi formulir persetujuan permintaan pendapat. Jika
pasien menginginkan Second Oponion dari laur rumah sakit,
petugas rumah sakit wajib membatu pasien dengan memberikan
nomor telepon atau alamat dokter yag dapat dihubungi

Dokumen Terkait
BANTUAN HIDUP DASAR
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Langkah-langkah petugas dalam memberikan bantuan hidup dasar
melalui tindakan resusitasi jantung paru yaitu bentuk usaha medis yang
dapat dilakukan oleh siapapun yang telah mendapatkan pelatihan
terhadapp pasien/orang yang berada dalam pengawasan
Tujuan
Sebagai acuan petugas dalam memberikan bantuan hidup dasar untuk
memberi oksigen pada otak, jantung dan organ-orga vital lainnya
sampai datangnya suatu pengobatan medis yang didefinitif dengan
tepat

Prosedur A. Persiapan pasien
1. Jelaskan Pada keluarga pasien sebelum melakukan tindakan
2. Atur posisi pasien terlentang ditempat datar dan alas keras
3. Buka baju bagian atas
B. Persiapan alat
1. Troly emergency yang berisi
a. Lariongskop
b. Pipa endotrakhea sesuai ukuran
c. Orofaringeal sesuai ukuran
d. Infus set / blood set lengkap
e. Papan resusitasi
f. Balon resusitasi
2. Set Oksigen lengkap dan siap pakai
3. Penghisap lender / suction lengkap dan siap pakai
C. Pelaksanaan
1. Lakukan tahapan airway : cek kesadaran pasien dengan cara
a. Panggil nama pasien
b. Tanyakan keadaan nya
c. Goyang bahu atau cubit pasien
2. Mintalah pertolongan/ hidupkan emergency system
3. Perbaiki posisi pasien atau posisi penolong
4. Periksa jalan nafas untuk melihat adanya sumbatan dengan
cross finger (ibu jari dan jari-jari disilangkan)
5. Buka jalan nafas dengan menggunakan metode Head tilt
chin lift ( posisi meegang kepala sambil menengadahkan )
dan bersihkan jalan nafas dari sumbatan
6. Lakukan tahapan breathing : nilai pernafasan dengan cara :
a. Look – lihat pergerakan dada atau perut
b. Listen – Dengar udara keluar masuk dari hidung
c. Feel – rasakan adanya udara dari mulut atau hidung
dengan pipi atau punggung tangan.
7. Jika pasien tidak bernafas maka berikan nafas buatan
dengan menggunakan balon resusitasi sebanyak 2 kali
dengan mulut volume udara 700ml - 1 lt (10ml/kg BB) atau
sampai dada mengembang.
8. Periksa denyut jantung pasien dengan meraba arteri karotis ,
jika arteri karotis teraba cukup berikan nafas buatan setiap 5
detik sekali.
9. Jika arteri karotis tidak teraba lakukan tahapan circulation,
berikan kompresi jantung luar : nafas buatan menggunakan
balon resusitasi dengan perbandingan 30 : 2 baik 1 atau 2
penolong.
10. lakukan Kompresi dengan kecepatan yang sama dengan
tehnik perhitungan 1,2,3 sampai 9 1(tiup),1,2,3 sampai 9
2(tiup), 1,2,3 sampai 9 3(tiup) sampai 5 siklus lengkap (satu
siklus adalah 30 kali kompresi dan 2 kali ventilasi dengan
kecepatan 100 kali permenit.
11. Lakukan penilaian ulang.
Note:
Tehnik melakukan kompresi dada adalah sebagai berikut:
a. tentukan titik atau lokasi mid sternum / tulang iga kanan
atau kiri dengan cara menelusuri dengan jari telunjuk
dan jari tengah penolong sehingga bertemu
b. letakkan telapak tangan pada titik tekan, separuh
dibawah sternum atau diantara 2 putting susu.
c. tempatkan tangan yang satu diatas punggung tangan
pertama
d. lakukan penekanan kebawah menggunakan pangkal
telapak tangan dengan kedalaman 3,8 - 5 cm ( posisi
lengan tegak lurus pada sternum)
e. lakukan kompresi secara teratur pada saat relaksasi
telapak tangan tidak boleh diangkat dan posisi penolong
tidak boleh berubah – ubah
Hal-hal yang harus diperhatikan:
a. lakukan evakuasi setelah 5 siklus atau setelah adanya
tanda - tanda pemulihan dan hentikan jika
b. Pasien dinyatakan meninggal
c. Penolong tidak mampu atau sudah 30 menit tidak ada
respon

Dokumen Terkait
PENOLAKAN RESUSITASI/BHD
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Suatu perinta yang memberitahukan tenaga medis untuk tidak
melakukan CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation)
Tujuan
Untuk menyediakan suatu proses dimana pasien bisa memilih prosedur
yang nyaman dalam hal bantuan hidup oleh tenaga medis emergency
dalam kasus henti jantung/ henti nafas

Prosedur 1. Jelaskan mengenai tindakan dan tujuan CPR kepada
pasien/keluarga pasien
2. Minta Informed consentI dari pasien atau keluarganya
3. Instruksikan kepada keluarga pasien untuk mengisi formulir
DNR
4. Tempatkan kopi atau salinan pada rekam medis pasien dan
serahkan juga salinan pada pasien atau keluarga
5. Instuksikan kepada pasien atau keluarga untuk memasang
formulir DNR di tempat-tempat yang mudah dilihat seperti
bedstand
6. Tinjau kembali status DNR secara berkala dengan pasien atau
walinya, revisi bila ada perubahan keputusanyang terjadi dan
catat dalam rekam medis. Bila keputusan DNR dibatalkan, catat
tanggal terjadinya dan gelang DNR dimusnakan
7. Perintah DNR harus mencakup hal-hal dibawah ini:
a. Diagnosis
b. Alasan DNR
c. Kemampuan pasien untuk membuat keputusan
d. Dokumentasi bahwa status DNR telah ditetapkan dan oleh
siapa
8. Perintah DNR dapat dibatalkan dengan keputusan pasien
sendiri atau dokter yang merawat, atau oleh wali yang sah.
Dalam hal ini, catatan DNR di rekam medis harus pula
dibatalkan dan gelang DNR (jika ada) harus dimusnakan

Dokumen Terkait
PENOLAKAN TINDAKAN ATAU PENGOBATAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Penolakan tindakan medis dan keperawatan adalah penolakan yang
dilakukan oleh pasien atau keluaraga yang berwenang terhadap
tindakan medis dan perawatan yang akan dilakukan setelah mendapat
penjelasan lengkap dari petugas yang berwenang.
Tujuan Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
Prosedur 1. Dokter penanggung jawab pasien (DPJP) menjelaskan rencana
tindakan medis dan perawatan yang akan dilakukan secara
lengkapdan jelas.
2. Menghormati hak pasien/keluarga untuk memutuskan rencana
tindakan atau perawatan.
3. Bila keluarga menolak rencana tindakan atau perawatan, maka
dokter penanggung jawab pasien akan :
a. Menghormati keputusan pasien atau keluarga.
b. Menjelaskan pada pasienatau keluarga tentang konsekuensi
dari keputusan tersebut.
c. Menjelaskan pada pasien dan keluarga aka tanggung jawab
pasien dan keluarga berkaitan dengan keputusan tersebut.
d. Menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang tersedianya
alternative pelayanan dan pengobatan.
4. Pasien menandatangani surat penolakan tindakan medis atau
perawatan disaksikan oleh saksi dan dokter.

Dokumen Terkait
PENGKAJIAN NYERI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Pengkajian nyeri dengan Numerical Rating Scale (NRS) adalah suatu
metode penulaian skor nyeri subyektif yang dilaporkan oleh pasien
dengan cara pasien diminta untuk memili nomor yang ada pada garis
horizontal skala 0-10 mewakili nyeri yang paling hebat
Tujuan 1. Untuk memastikan pasien mendapat manajemen penanganan nyeri
aman, efektif, dan secara individual
2. Memastikan ketepatan dan keefektifan pengkajian tingkat nyeri
pasien dalam uapaya mendukung penegakan diagnosa medis
pasien
Prosedur 1. Cuci Tangan
2. Lakukan identifikasi pasien secara positif.
3. Jelaskan kepada pasien bahwa tujuan dari pemeriksaan ini adalah
untuk:
a. Mengerti tingkat nyeri yang pasien rasakan.
b. Memantau apakah pengobatan nyeri yang telah diberikan kepada
pasien sudah cukup untuk menangani keluhan nyeri pasien.
c. Memutuskan jika ada sesuatu yang lebih yang harus dilakukan Kaji
kondisi pasien, pastikan pasien dalam keadaan istirahat.
4. Minta pasien untuk menilai nyeri yang dirasakannya. Menilai nyeri yang
anda rasakan saat ini dari nilai 10, dengan nilai 0 berarti tidak nyeri dan
10 berarti nyeri hebat tidak tertahankan
5. Pasien dapat menjawab secara verbal atau dengan menujuk di mana
mereka akan menilai nyeri yang dirasakan.

6. Kemudian minta pasien untuk menilai apa yang terjadi pada nyeri pasien
pada saat pasien batuk atau bergerak
7. Jika pasien merasakan nyeri maka lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif (karakteristik, lokasi, penyebaran, durasi, frekuensi dan
tipe nyeri)
8. Jika pasien tidak merasakan nyeri, minta pasien memberitahukan
apabila rasa nyeri muncul
9. Catat pada lembar observasi pasien:
a. Nilai nyeri pasien (0-10) pada saat istirahat dan dengan aktivitas
b. Karakteristik, lokasi, penyebaran, durasi, frekuensi dan tipe nyeri
(jika merasakan nyeri)
c. Catat 0/10 (jika pasien tidak merasakan nyeri)
10. Dokumentasikan hasil pengkajian di dalam rekam medis pasien
11. Cuci tangan
Dokumen
Terkait
MANAJEMEN NYERI
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Cara meringankan atau mengurangi nyeri sampai tingkat kenyamanan
yang dapat diterima pasien.

Tujuan Untuk menjaga pasien dalam kondisi senyaman mungkin.
Kebijakan  Setiap pasien dewasa yang merasakan nyeri dinilai dari skala 0 –
10
1. 0 = tidak nyeri
2. 1-3 = nyeri ringan (pasien dapat berkomunikasi dengan baik)
3. 4-6 = nyeri sedang (pasien mendesis, menyeringai, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, mendeskripsikan dan dapat mengikuti
perintah)
4. 7-9 = nyeri berat (pasien terkadang tidak dapat mengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, tidak dapat
mendeskripsikan, tidak dapat diatasi dengan alih posisi, nafas
panjang dan distraksi.
5. 10 = nyeri sangat berat (pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul)

 Setiap pasien anak yang merasakan nyeri dinilai dari skala wajah
Wong Baker

0 1 2 3 4 5

1. Nilai 0 nyeri tidak dirasakan oleh anak
2. Nilai 1 nyeri dirasakan sedikit saja
3. Nilai 2 nyeri dirasakan hilang timbul
4. Nilai 3 nyeri yang dirasakan anak lebih banyak
5. Nilai 4 nyeri yang dirasakan anak secara keseluruhan
6. Nilai 5 nyeri sekali dan anak menjadi menangis
 Penanganan nyeri dikecualikan pada pasien dengan kondisi yeri
HIS
Prosedur
 Lakukan pengkajian skala, lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi
dan kualitas nyeri.
 Observasi reaksi nonverbal
 Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
 Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
 Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter personal)
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi seperti:

1. Kompres dingin
2. Massage kulit
3. Buli-buli panas
4. Relaksasi seperti lingkungan yang tenang, posisi yang
nyaman dan nafas dalam.
5. Tekhnik distraksi yakni mengalihkan perhatian ke
stimulus lain seperti menonton televisi, membaca
koran, mendengarkan musik
 Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Dokumen
Terkait
PELAYANAN TAHAP TERMINAL
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian Suatu usaha yang diberikan oleh pihak rumah sakit yang bertujuan
memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluartga yang menghadapi
masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam
jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan
penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain,
fisik, psikisosial dan untuk mendampingi pasien rawat inap, agar
mampu memahami arti dan makna hidupdengan keyakinan dan agama
yang dianut masing-masing
Tujuan Agar pasien mendapat suasana tenang dan nyaman saat menghadapi
penyakit tahap terminal
Prosedur 1. Ucapkan salam
2. Perkenalkan diri dan jelaskan tugas dan peran anda
3. Dokter penanggung jawab memberikan informasi kepada pasien
dan atau keluarga yang diberi wewenang mengenai penyakit
pasien berada pada kondisi tahap terminal.
4. Berikan kesempatan pasien dan atau keluarga untuk bertanya dan
atau pendapat yang berkaitan dengan kebutuhan pelayanan pasien
tahap terminal
5. Berikan pengertian kepada pasien dan atau keluarga, apabila
menghendaki pelayanan pasien tahap terminal, dapat menghubungi
perawat
6. Pasien dan atau keluarga meminta pelayanan pasien tahap terminal
kepada pasien dan atau keluarga untuk ditindak lanjuti oleh pihak-
pihak yang terkait.
7. Lakukan verikasi kembali mengenai informasi pelayanan pasien
tahap terminal kepada pasien dan atau keluarga untuk ditindak
lanjuti oleh pihak-pihak yang terkait
8. Formulir arsip direkam medis pasien
9. Pastikan identitad dari pasien dan atau keluarganya
10. Berikan pelayanan pasien tahap terminal sesuai dengan formulir
permintaan pasien dan keluarga oleh petugas pelayanan pasien
tahap terminal yang diminta.
11. Ucapkan terimakasih

Dokumen Terkait
PENYELESAIAN KELUHAN
No. Dokumen No. Revisi Halaman

Tanggal Terbit Disahkan Oleh Direktur RS Selaguri
PROSEDUR
TETAP
Dr. Hafleziani M.Kes
Pengertian
Tujuan

Prosedur
Dokumen Terkait