You are on page 1of 1

BUNUH DIRI

Emile Durkheim filsuf Perancis lahir 15 April 1858 di kota Epinal, Perancis Timur mengaitkan
perbuatan bunuh diri dengan solidaritas sosial. Bagi dia terdapat 3 macam bunuh diri, yaitu:
a) Bunuh diri egoistic adalah bunuh diri yang diakibatkan karena individu tidak lagi
merasakan kehadira masyarakat sebagai pelindung bagi dirinya atau merasa hilangnya
masyarakat sebagai tempat ia bepijak. Maka yang tinggal hanyalah kesepian yang
menekan. Makin lemah atau makin longgar ikatan sosial maka makin kecil atau makin
hilang rasa ketergantungannya terhadap masyarakat. Dalam situasi seperti itu individu
hanya tergantung pada dirinya sendiri, dia hanya mengakui aturan – aturan tingkah laku
yang menurut dia benar dan menguntungkan dirinya. Pada saat itulah ia bunuh diri,
dalam penelitian tentang afiliasi keagamaan, perkawinan, keluarga, masyarakat dan
nasional Durkheim menunjukkan tinggi rendahnya angka bunuh diri. Menurut Durkheim
angka bunuh diri terendah adalah yang beragama Katolik.
b) Bunuh diri Altruistik adalah bunuh diri yang terjadi pada masyarakat yang integrasi
individualnya lebih kokoh dan sangat ketat dikuasi oleh adat istiadat. Bunuh diri yang
terjadi bukan karena si pelaku menggunakan haknya melainkan untuk menjalankan
kewajibannya. Apabila ia tidak menjalankannya maka ia terkena hukuman atau dianggap
terhina dalam masyarakatnya. Dalam hal ini yang banyak terjadi ialah akibat perintah
atasan baik yang bersifat keagamaan maupun bersifat politis. Tidak hanya itu, juga ada
bunuh diri orang yang lanjut usia, bunuh diri seorang istri saat suaminya meninggal,
bunuh diri seorang pelayan pada majikannya meninggal, bunuh diri seorang prajurit saat
pemimpinnya meninggal, bunuh diri seorang rakyat pada saat rajanya meninggal dan
bunuh diri yang dianggapnya sebagai saran untuk masuk surge. Selain itu ada bunuh diri
untuk menunjukan loyalitas sebagai bernilai tinggi meskipun pandangan umum tidak
membenarkannya, misalnya bunuh diri tentara Jepang.
c) Bunuh diri Anomik (Yun a = tidak dan nomos = aturan) adalah bunuh diri yang
diakibatkan oleh ketidakmampuan masyarakat untuk meguasai para anggotanya.
Ketidakmampuan masyarakat untuk mengatur anggota masyarakat, jika pengaturan
terhadap individu atau anggota masyarakat atau rakyat dalam satu negara makin lemah
dan tidak berwibawa maka potensi bunuh diri juga akan bertambah. Misalnya karena
krisis ekonomi suatu negara atau krisis ekonomi dalam keluarga.