You are on page 1of 17

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena, atas berkat
dan kehendak-Nyalah Makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Penulisan Makalah ini bertujuan untuk sedikit mengulas mengenai teori pembelajaran dan
penerapannya. Dalam makalah ini penulis menemukan banyak kesulitan, terutama keterbatasan
mengenai penguasaan Ilmu tentang teori pembelajaran dan penerapannya dalam ilmu psikologi,
tetapi berkat bimbingan yang diberikan oleh berbagai pihak akhirnya penulis pun dapat
menyelesaikan makalah ini serta adanya media massa yang sangat menunjang penyelesaian
makalah ini.

Sebagai mahasiswa, penulis menyadari bahwa pengetahuan yang dimiliki masih terbatas
sehingga dalam makalah ini masih ditemukan banyak kekurangan. Maka, kritik dan saran
dirasakan sangat dibutuhkan untuk kemajuan penulis di masa yang akan datang.

Penulis berharap, agar dengan adanya makalah ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan
baik mahasiswa maupun masyarakat mengenai teori pembelajaran dan penerapannya sehingga
dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Samarinda, 28 September 2017

Penulis

misalnya dari sesuatu hal yang tidak bisa menjadi bisa. yakni proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam lingkungannya sehingga akan menimbulkan perubahan dalam dirinya. Dimana belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku dan pola pikir yang dialami oleh seseorang. Dalam proses pendidikan. Dimana setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. pengajaran. dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai “Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran”. belajar merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan. Teori ini merupakan azas kepada para pendidik agar dapat memahami tentang cara pelajar belajar. . Teori – teori pembelajaran berpedoman pada prinsip-prinsip pembelajaran yang dihasilkan daripada kajian-kajian ahli psikologi pendidikan. Untuk itu perlu adanya teori-teori belajar yang tepat yang diterapkan dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diinginkan bisa tercapai dengan maksimal. Selama proses belajar manusia pasti tak luput dari kesalahan. dan atau pelatihan. BAB I PENDAHULUAN Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan dengan proses mendidik. Selain itu. Jadi belajar melibatkan proses berfikir yang kompleks dan mementingkan proses belajar. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses belajar yang terjadi dalam akal pikiran manusia atau gagasan manusia bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam konteks situasi secara keseluruhan. Berdasarkan pemaparan diatas. dengan adanya pengetahuan yang menyeluruh tentang teori ini pendidik diharapkan agar dapat menghubungkan prinsip dan hukum pembelajaran dengan kaedah dan teknik yang akan digunakan. yang dilakukan dalam bentuk pembimbingan.dari tidak tau menjadi tau. Jadi pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Uraian Materi 1. Dalam praktek pembelajaran. Webteaching oleh norman. dan sebagainya. Aplikasi teori kognitif dalam kegiatan pembelajaran B. Pengertian belajar menurut pandangan teori kognitif 2. Tujuan Pembelajaran Untuk mengkaji hakikat belajar menurut teori kognitif dan penerapan teori kognitifdalam kegiatan pembelajaran. Teori belajar bermakna Ausubel 5. Hirarkhi belajar oleh Gagne. BAB II TINJAUAN TEORI TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN A. Sedangkan indikator keberhasilan belajar menjelaskan: 1. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. 2. Teori belajar menurut Bruner 4. Teori perkembangan Piaget 3. Teori Perkembangan Piaget . Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Kognitif Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Piaget. Advance organizer oleh Ausubel. teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan- rumusan seperti: “Tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh J. Pemahaman konsep oleh Bruner.

keseimbangan mereka tidak akan tergannggu. proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun) Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan. akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif didalam struktur kognitifnya. dan dilakukan langkah demi langkah. Jika tidak. terputus-putus. Proses asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilliki oleh individu. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitip ini menjadi empat yaitu: a. berbelit-belit. . tidak logis. sementara akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif sehingga dapat dipahami. dan sebagainya. Proses penyeimbangan yaitu menyeimbangan antara lingkungan luar dengan struktur kognitif yang ada dalam dirinya. Proses adaptasi mempunyai dua bentuk dan terjadi secara simultan. Menurut Piaget. Bila seseorang dalam kondisi sekarang dapat mengatasi situasi baru. Menurut Piaget. proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi. 1) Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek disekitarnya. yaitu asimilasi dan akomodasi. Misalnya. Tanpa proses ekuilibrasi. dan ekuilibrasi (penyeimbangan). tampak pada caranya berbicara yang tidak runtut. Proses akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Proses inilah yang disebut ekuilibrasi. Asimilasi adalah proses perubahan apa yang dipahami sesuai dengan struktur kognitif yang ada sekarang. perkembangan kognitif seseorang akan mengalami gangguan dan tidak teratur (disorganized). yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. ia harus melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan. akomodasi. perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik. Menurut Piaget. 2) Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.

anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstraks. 4) Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar. dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. 4) Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya. Karakteristik tahap ini adalah: 1) Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek. Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun) . 5) Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap. tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan. 3) Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide. Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun) Ciri pokok perkembangannya pada penggunaan symbol atau bahasa tanda. 2) Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks. termasuk kriteria yang benar. 4) Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria. b. lalu ingin merubah tempatnya. yaitu preoperasional dan intuitif. 5) Dapat menyusun benda-benda secara berderet. Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun). tetapi kurang disadarinya. 3) Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda. Karakteristik tahap ini adalah: 1) Self counter nya sangat menonjol. c. Preoperasional (umur 2-4 tahun). Tahap ini dibagi menjadi dua.anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsepnya. 2) Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok. 3) Suka memperhatikan sesuatu lebih lama.

e. dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Ia menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut : a. Tahap Operasional format (umur 11/12-18 tahun) Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berfikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berfikir “kemungkinan”. khusus dalam studi perkembangan fungsi kognitif. c. Interaksi secara sistematis antara pembimbing. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri. 2) Menganalisis secara kombinasi. Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya. karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. 4) Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam sisi. 3. 3) Berfikir secara proporsional. d. . Teori Belajar Menurut Bruner Jerome Bruner (1966) ada seorang pengikut setia teori kognitif. d. Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif. Pada tahap ini kondisi berfikir anak sudah dapat : 1) Bekerja secara efektif dan sistematis. Model berfikir ilmiah dengan tipe hipothetico-deductive dan inductive sudah mulai dimiliki anak. Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara realis. Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. b. menafsirkan dan mengembangan hipotesa. dengan kemampuan menarik kesimpulan. Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.

3) Kedua proses mental membutuhkan strategi mengajar yang berbeda. dan seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua unsur dari konsep itu. langkah pertama adalah pembentukan konsep. 3) Tahap simbolik. 1989). Menurut Bruner. iconic. . Demikian juga model pemahaman konsep dari Bruner (dalam Dengeng. Bruner memandang bahwa konsep memiliki 5 unsur. menjelaskan bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternatif secara simulan. yaitu. seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi. 2) Tahap ikonik. dan 2) tindakan pemahaman konsep. Artinya. kemudian baru pemahaman konsep. seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar- gambar dan visualisasi verbal. seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. dan symbolic. enactive. 2) Langkah-langkah dari kedua proses berfikir tidak sama. memilih tindakan yang tepat. dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komprasi). 1) tindakan pembentukan konsep. 1) Tahap enaktif. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Menurut Bruner.f. meliputi. perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dengan tahap perkembangan orang tersebut. Perbedaan antara keduanya adalah: 1) Tujuan dan tekanan dari kedua bentuk perilaku mengkategorikan ini berbeda. Maksudnya. kegiatan mengkategori memiliki dua komponen yaitu.

sebab setiap disiplin mempunyai konsep-konsep. . 5) Kaidah. karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari. Teori Belajar Bermakna Ausubel Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar asosiatif atau belajar menghafal. dan prosedur yang harus dipahami seseorang dapat belajar. kurang mengembangkan kemampuan berfikir intuitif. Belajar demikian tidak banyak bermakna bagi siswa. 4) Rentangan karakteristik. Ini berarti bahwa pengetahuan yang lebih umum. biologi. 2) Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif. Menurut Bruner. fisika. dan abstrak membawahi pengetahuan yang lebih spesifik dan konkret. Advance organizer yang juga dikembangkan oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Struktur kognitif merupakan struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual. inklusif. 1) Nama. 3) Karakteristik. Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. baik yang pokok maupun tidak. 4. dan sebagainya. Penggunakan Advance organizer sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif. prinsip. pembelajaran yang selama ini diberikan di sekolah lebih banyak menekankan pada perkembangan kemampuan analisis. Padahal berfikir intuitif sangat penting bagi mereka yang menggeluti bidang matematika.Dikatakan bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang dalam struktur hirarkhis. dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.

Istilah-istilah seperti hubungan stimulus respon. Berdasarkan pada konsepsi organisasi kognitif seperti yang dikemukakan oleh Ausubel tersebut. sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau . perilaku sebagai hasil yang tampak. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya. pasti. Sekolah Dasar. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. individu atau siswa pasif. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat yang paling dini. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Taman Kanak-Kanak. Penerapan Teori dalam Proses Pembelajaran a. seperti kelompok bermain. 5. dikembankanlah oleh para pakar teori kognitif suatu model yang lebih eksplisit yang disebut dengan skemata. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat. media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. reinforcement dan hukuman. Sekolah Menengah. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran. sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan. sifat materi pelajaran. tidak berubah. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behvioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. karakteristik siswa. bahkan sampai Perguruan Tinggi. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. tetap. ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.

sehingga . Siswa atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi. 2006). siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Artinya. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah. sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat unobservable kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Demikian halnya dalam proses belajar mengajar. apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid (Degeng.siswa. Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur. ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standart-standart tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para siswa. Demikian juga. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar. sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Oleh karena itu. maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri.

Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. b. sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”. mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran. yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan. reorganisasi persepsual. agara belajar lebih bermakana bagi siswa. Penerapan Teori Kognitif dalam Pembelajaran Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajara yang berkaitan dengan penataan informasi. atau tes. kuis. dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut: . Evaluasi menekankan pada respon pasif. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa (Degeng. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. dan biasanya menggunakan paper and pencil test. tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristic. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. dan prosese intelektual. 2006) Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan. ketrampilan secara terpisah. Maksudnya bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar.

Teori belajar humanisme memfokuskan pembelajarannya pada pembangunan kemampuan positif siswa. terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit. karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Dengan teori ini guru dapat mengetahui teknik yang dapat mengembangkan jiwa anak didik dalam Pembelajaran. dari sederhana ke kompleks. 2) Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik. informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Agar makna. Amir (Megister Administrasi – Kepengawasan. persepsi. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa. teori belajar humanisme . pengetahuan awal dan sebagainya. c. 1) Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berpikirnya. Teori ini membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. 3) Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan. kemampuan berpikir. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu. 6) Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi. Aplikasi Teori Humanistik dalam Pembelajaran Oleh M. 4) Untuk menarik minat dan menigkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi beru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar. Pascasarjana Universitas Negeri Medan). 5) Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya sendiri. 7) Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan.

dan konsep diri yang berkaitan dengan pencapaian prestasi akademik. peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah fasilitator. Bertitik tolak dari latar belakang itu. Selain itu aliran humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. nilai-nilai yang di anut. Aplikasi teori humanisme lebih menonjolkan kebebasan setiap individu siswa/i memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi/pengetahuan baru dengan caranya sendiri. selama proses pembelajaran. Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang tampak dari para pendidik beraliran humanisme. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pembelajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.ini berusaha memahami prilaku belajar dari sudut pandang pelakunya. tujuan utama para pendidik dilihat dari teori belajar humanisme adalah membantu anak untuk mengembangkan dirinya. proses belajar di anggap berhasil jika anak memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.dalam teori ini peserta didik berperan sebagai subjek didik. yang melibatkan intelektual dan emosi sehingga tujuan akhir belajarnya adalah mengembangkan kepribadian peserta didik. Dengan demikian dapat dirumuskan. yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. maka focus pembahasan pada artikel ini adalah membahas bagaimana aplikasi teori humanism itu di terapkan dalam proses pembelajaran. bukan dari sudut pandang pengamatnya. Penekanan dalam teori ini adalah penyelidikan efek emosi dan hubungan interpersonal terhadap terbentuknya prilaku belajar. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya . Peserta Didik Dalam pembelajaran yang humanis ditempatkan sebagai pusat (central) dalam aktifitas belajar. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Mennurut teori ini tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. kemampuan sosial. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif.

tetapi sebagai . Peserta didik menjadi aktif dan tidak sekedar menerima informasi yang disampaikan oleh guru. dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok dan mencoba mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan. menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik aktif.sendiri. dengan . Peserta didik bebas berekspresi cara-cara belajarnya sendiri. peserta didik diharapkan mampu menemukan potensinya dan mengembangkan potensi tersebut secara memaksimal.Peran guru sebagai fasilitator adalah: 1) Memberi perhatian pada penciptaan suasana awal pembelajaran 2) Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga meningkatkan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dengan cara menerapakan metode pembalajaran yang bervariasi 3) Mengatur peserta didik agar bisa berkomunikasi secara langsung secara aktif dengan antar teman selama proses pembelajaran 4) Mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang palin luas dan mudah dimanfaatkan para peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka 5) Menempatkan diri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan peserta didik baik secara individu maupun kelompok (guru dijadikan tempat untuk bertanya peserta didik tanpa peserta didik merasa takut) 6) Menanggapi dengan baik ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas dan menerima baik isi yang bersifat intelektual (tidak penuh dengan kritikan sehingga memotifasi peserta didik untuk mengekspresikan diri) 7) Bersikap hangat dan berusaha memahami perasaan peserta didik ( berempati) dan meluruskan dianggap kurang relevan dengan cara yang santun 8) Dalam pembelajaran secara kelompok . Dengan demikian . Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didiknya dengan cara memberikan motivasi dan memfasilitasi pengalaman belajar. serta menyampaikan materinya pembelajaran yang sistematis.

. mengakui dan menerima keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang hati menerima pandangan yang lebih baik dari peserta didik. guru mau mengenali. suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik 9) Sebagai seorang manusia yang tidak selalu sempurna .

Namun. Untuk itu pendidik harus lebih memacu keaktifan peserta didik. . dan humanistik. Saran Sebagai calon pendidik. seseorang perlu memperhatikan bagaimana peserta didik mampu melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks dalam pembelajarannya. retensi. B. Kesimpulan Terdapat beberapa teori mengenai pembelajaran seperti teori behavioristik. sayangnya dalam proses pembelajaran yang dilakukan di negara kita terkadang tidak sesuai dan cenderung mengabaikan teori-teori tersebut. emosi dan aspek-aspek kejiwaannya. dapat mengatur stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang telah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran peserta didik berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sehingga perlu adanya pembenahan dan pengawasan yang memadai dari pihak pemerintah maupun masyarakat sekitar terkait penerapan teori pembelajaran dalam proses pembelajaran saat ini. BAB III PENUTUP A. pengolahan informasi yang baik. kognitif.

Proses Belajar Mengajar. 2007) Yuhdi Munadi. (Bandung : Tarsito. DAFTAR PUSTAKA Oemar Hamalik. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar.(Jakarta : GP Press Group. 2002) Oemar Hamalik. Media Pembelajaran . (Jakarta : Bumi aksara. 2013) .