You are on page 1of 20

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGALAMAN PASIEN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK


DALAM MENCARI MAKNA HIDUP
DENGAN PERSPEKTIF MASLOW DAN HENDERSON
DI RUMAH SAKIT MOHAMAD HOESIN
PALEMBANG

NASKAH PUBLIKASI

MOHAMAD JUDHA
NPM : 0806446510

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, JULI 2010
Judul : Pengalaman Pasien Terdiagnosa Lupus Eritematasus Sistemik Dalam
Mencari Makna Hidup Dengan Perspektif Maslow Dan Henderson Di
Rumah Sakit Mohamad Hoesin Palembang
Nama Penulis : Mohamad Judha¹, Elly Nuracmah², Imami Nur Racmawati³

Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Telp. 081927711334. Email : ramezya_alya@yahoo.com.

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk menggali pengalaman partisipan mencari
makna hidup. Partisipan penelitian berjumlah delapan parisipan dengan purposif sample.
Pengalaman partisipan memberikan gambaran secara utuh diketahuinya perasaan partisipan
dihadapi Lupus dan perubahan nilai, kepercayaan dan keyakinan penderita Lupus. Hasil penelitian
terdapat mendapatkan respon penderita menghadapi penyakit Lupus terhadap aktivitas fisik,
psikologis dan perubahan lingkungan serta perubahan nilai, kepercayaan dan keyakinan penderita
Lupus. Hasil penelitian menyarankan tenaga perawatan melakukan asuhan yang komprehensif,
untuk tenaga pendidikan juga harus memberikan bagaimana melakukan asuhan keperawatan
holistik kepada peserta didik dan untuk peneliti lain agar menambah variasi jenis kelamin partisipan
agar memperoleh variasi tema.

Kata Kunci : Fenomenologi, Penderita Lupus.

Abstract

This research is a qualitative study to explore the experiences of participants to find meaning in life.
Amount of research participants with a purposive sample of eight parisipan. Experience gives
participants the feeling he knew the full picture of the participants with Lupus and changes in value,
trust and confidence in people with lupus. The results are getting with patients response to physical
activity, psychological and environmental changes and changes in values, trust and confidence in
people with lupus. The results suggest that farm workers do comprehensive care, to education
personnel must also provide how to conduct a holistic nursing care to students and to other
researchers in order to increase the participants' gender variations in order to obtain variation on the
theme.

Keywords: Phenomenology, Meaning of Life, Patients with Lupus.


Latar Belakang terdapat komplikasi lain ( Syarif, 2009 ).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka
Lupus adalah suatu kondisi yang memiliki ciri
pertanyaan penelitian yang perlu jawaban yang
peradangan kronis dari jaringan-jaringan tubuh
mendalam adalah bagaimana pengalaman
yang disebabkan oleh penyakit autoimun. Di
pasien yang mengidap Lupus menjalani hari-
Indonesia penyakit Lupus cenderung meningkat
harinya dan bagaimana memaknainya.
jumlahnya, di beberapa rumah sakit di DKI
Jakarta berdasar data tahun 2002 Yayasan Metodologi Penelitian
Lupus Indonesia kurang lebih 1.700 orang. Pada
Rancangan penelitian ini menggunakan
tahun 2007 Yayasan Lupus Indonesia mencatat
pendekatan fenomenologi, digunakannya
8.672 penderita Lupus, dengan 90 % wanita.
metode ini untuk mendapatkan gambaran atau
Di Rumah Sakit Mohamad Hoesin Palembang, deskripsi pengalaman mendalam tentang
diperoleh data pasien Lupus Erithematosus pengalaman pasien yang terdiagnosa Lupus
Sistemik tahun 2008 sebanyak 89 orang dimana dalam menemukan makna hidupnya.
jumlah laki-laki 12 orang dan jumlah wanita 77
Pada rancangan penelitian deskriptif kualitatif
orang. Pada tahun 2009 mulai bulan Januari
ini terdapat tiga langkah dalam proses
sampai dengan bulan April jumlah pasien Lupus
fenomenologi deskriptif, yaitu intuisi,
Erithematosus Sistemik baru sebanyak 65
menganalisis, dan mendiskripsikan. Pada tahap
orang dengan jumlah laki-laki 6 orang dan
intuisi peneliti mencoba untuk menyatu secara
wanita 53 orang sisanya 6 orang meninggal.
utuh dengan fenomena yang ada pada penderita
Angka kunjungan di poliklinik Rumah Sakit
Lupus saat mengalami proses penyakit, analisa
Mohamad Hoesin Palembang khusus Lupus
dilakukan dengan mengelompokkan tema yang
pada tahun 2009 tercatat berjumlah 321
ada pada pengalaman partisipan Lupus.
kunjungan, sedangkan dari hasil rekam medis
Langkah selanjutnya peneliti mencoba
dari bulan Januari 2010 sampai dengan Juni
melakukan analisa dari fenomena-fenomena
2010 didapatkan rata-rata pasien masuk dan di
yang terjadi pada penderita Lupus serta
rawat dengan Lupus sebanyak Dua sampai
mencoba untuk mencari keterkaitan antar
Empat pasien perbulan. Hasil studi tentang
fenomena yang ada. Langkah berikutnya
penyakit Lupus, yang terkenal dengan The
kemudian peneliti mencoba untuk memberikan
Great Imitator dikatakan kerap salah dalam
gambaran dengan menggunakan bahasa tulis
diagnosa awal sehingga terapi yang diberikan
akan isi atau kandungan hal yang terjadi pada
kurang tepat. Sebagai akibatnya banyak waktu
penderita Lupus. Pertanyaan yang diberikan
terbuang sebelum pasien terdiagnosa Lupus,
pada partisipan yang menderita Lupus
sementara manifestasinya sudah meluas bahkan
difokuskan pada masalah fisik, psikologis sosial
spiritual terlebih dahulu, apabila dalam jawaban Pada penelitian ini diperoleh duabelas tema
yang diberikan masih bersifat dangkal, maka antara lain : (1) Perasaan atau respon yang
diperdalam dengan menggunakan konsep dialami dalam menghadapi penyakit Lupus, (2)
kebutuhan dasar menurut Maslow dan Jenis perhatian atau dukungan yang diperoleh
Henderson. Jawaban yang diberikan merupakan dari lingkungan untuk menghadapi Lupus, (3)
pengalaman yang terkait dengan kebutuhan Diskriminasi yang dialami penderita Lupus, (4)
dasar yang dibutuhkan dan keyakinan yang Usaha yang dilakukan penderita Lupus untuk
dimiliki partisipan. Jawaban tersebut kemudian mencapai kesembuhan, (5) Kemampuan dalam
dikaitkan dengan konsep hidup yang mengenali tanda dan gejala penyakit/ perubahn
terkandung dalam jawaban partisipan. Jumlah fisik, (6) Perubahan status nutrisi, (7) Pengaruh
partisipan yang diambil adalah sebanyak Lupus terhadap aktivitas (8) Pengaruh
delapan orang. pengunaan obat / therapi Lupus (9) Layanan
kesehatan yang dialami penderita Lupus (10)
Hasil Penelitian
Peran perawat untuk penderita Lupus (11)

Hasil Pada penelitian ini diperoleh tujuh Sumber informasi bagi penderita Lupus (12)

partisipan, semuanya wanita. Semua partisipan Perubahan nilai, kepercayaan dan keyakinan

tinggal di wilayah Palembang atau masih di penderita Lupus.

sekitar Sumatera Selatan, dengan usia bervariasi


antara 17 – 45 tahun. Pendidikan partisipan
Pembahasan Hasil Penelitian
pada penelitian ini didapatkan tiga orang
setingkat sarjana strata satu, setingkat Karakteristik partisipan pada penelitian ini
Akademik satu orang, dua orang SLTA, semua adalah semua partisipan wanita, berada
Magister satu orang dan satu orang SMP. pada usia produktif, dengan latar belakang
pekerjaan berbeda antara lain pelajar, ibu rumah
Karakteristik pekerjaan mereka terdiri dari satu
tangga, guru, pedagang. Lama sakit bervariasi
orang perawat Puskesmas, satu orang pegawai
mulai dari enam bulan sampai empat tahun,
negeri pada tingkat managerial, satu orang ibu
semua partisipan tinggal di wilayah palembang
rumah tangga, dua orang pelajar tingkat SLTA
dan semua beragam islam. Status pernikahan
dan mahasiswa, satu orang guru, dan satu orang
hanya ada dua yaitu nikan dan belum menikah
pedagang. Semua partisipan beragama Islam,
dengan jumlah anak untuk yang menikah satu
mempunyai pengalaman menderita Lupus lebih
sampai empat anak bahkan ada yang belum
dari enam bulan dan yang paling lama empat
memiliki anak.
tahun.
Penelitian ini mengambil delapan partisipan, Jenis pekerjaan partisipan pada penelitian ini
dengan jenis kelamin semua wanita. Jenis bervariasi, terdapat partisipan pelajar, ibu
kelamin pria pada saat penelitian tidak rumah tangga, guru, perawat dan pegawai
ditemukan selama peneliti melakukan negeri sipil. Jenis pekerjaan pada partisipan ini
penelitian, kurangnya variasi jenis kelamin pada berdasarkan latar belakang pendidikan
penelitian ini menyebabkan ada beberapa partisipan, partisipan dengan latar belakang
masalah pada penderita Lupus yang mewakili pendidikan yang baik maka mempunyai
jenis kelamin laki-laki menjadi tidak muncul, pekerjaan dan dan sosial ekonomi tinggi.
misalnya bagaimana perubahan peran yang
terjadi apabila partisipan laki-laki seorang Penelitian ini mengidentifikasi adanya duabelas
kepala keluarga dan sebagai pencari nafkah tema, berbagai tema tersebut tergambar berdasar
dalam keluarga. tujuan khusus dari penelitian, gambaran
perasaan partisipan yang mengalami penyakit
Pada penelitian ini, kategori umur partisipan Lupus yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
berada pada rentang 17 sampai 45 tahun, hal ini tergambar pada tema pertama, sedangkan
berarti semua partisipan dalam penelitian ini gambaran akan jenis dukungan dan perhatian
berada pada rentang usia produktif sehingga yang didapatkan oleh partisipan dalam
akan berpengaruh terhadap respon terkait kehidupannya tergambar dalam tema ke dua.
biologi, psikologis sosial dan spiritualnya
partisipan dalam menghadapi Lupus dan terkait Pada tema ketiga partisipan merasa
pula bagaimana makna dan harapan dari mendapatkan perlakuan diskriminasi, perlakuan
peristiwa yang terjadi. diskriminasi itu didapatkan dari masyarakat
umum ataupun masyarakat kesehatan / pelaku
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umur pelayanan. Terdapat bermacam-macam usaha
menentukan bagaimana partisipan dalam yang dilakukan partisispan terkait keinginannya
menjawab memperlihatkan karakteristik yang untuk sembuh terdapat pada tema ke empat,
berbeda pada tingkatan umur yang berbeda pula. selain usaha untuk mengobati terdapat pula
Partisipan yang lebih muda umurnya, pada kemampuan untuk mengenali tanda dan gejala
jawabannya menunjukkan kurang siap dalam Lupus pada tema kelima.
menghadapi penyakit Lupus, sementara
partisipan yang beryumur lebih tua dan Gambaran adanya perubahan status nutrisi, dan
memiliki pengalaman, pada jawabannya pengaruh penyakit terhadap aktivitas yang
menunjukkan punya kematangan dalam berfikir dilakukan tergambar dalam tema ke enam dan
dan menerima peristiwa yang dialami. ketujuh. Menderita Lupus tentu tidak lepas dari
kegiatan minum obat dan pengaruhnya terhadap
tubuh sehingga akan mempengaruhi kegiatan berdasarkan kebutuhan dasarnya berarti
partisipan, hal ini tergambar pada tema tidak hanya mengalami gangguan fisik
kedelapan, sedangkan layanan apa saja yang tetapi juga gangguan psikologis dan sosial
pernah diterima partisipan Lupus di rumah sakit karena merasa mengalami keterbatasan
Mohamad Hoesin ada pada tema kesembilan. termasuk kemampuan beraktualisasi.

Apa yang dialami penderita Lupus tentu tidak Berdasar kebutuhan Henderson maka perlu
lepas dari peran perawat yang dalam keseharian diperhatikan bagaimana kebutuhan akan
saat dirawat ataupun rawat jalan di poli akan aktivitas setelah menderita Lupus,
selalu bertemu, dari pertemuan-pertemuan kemampuan menyampaikan sesuatu
tersebut pada tema ke sepuluh menggambarkan /berkomunikasi yang menjadi kelemahan
image perawat dan perannya selama partisipan atau fokus masalah tidak menyebabkan
bertemu dengan perawat. gangguan psikologis. Fokus intervensi
keperawatan sebagai perawat, bagaimana
Berbagai sumber informasi juga didapatkan perawat menjadi rekan yang mampu
dalam usaha menambah pengetahuan tentang menjadi penganti kekurangan pasien hingga
penyakit yang diderita partisipan, usaha-usaha mendapatkan kemandiriannya.
tersebut akan menyebabkan perubahan
keyakinan dan kepercayaan yang selanjutnya 2. Jenis perhatian atau dukungan yang
partisipan menemukan arti hidup yang sedang diperoleh dari lingkungan untuk
dijalani, hal tersebut tergambar pada tema menghadapi Lupus.
kesebelas dan keduabelas. 2.1.Perhatian dari orangtua
Adanya kemauan untuk sembuh dan
1. Berbagai perasaan atau respon yang dialami semangat untuk tetap sehat dari
dalam menghadapi penyakit Lupus. partisipan berasal dari orang terdekat
Temuan pada penelitian ini menunjukkan sangat penting, hasil temuan dalam
bahwa lima partisipan mengungkapkan penelitian ini di dapatkan tiga
ketidak-percayaan bahwa dirinya menderita pernyataan spesifik tentang dukungan
Lupus, satu partisipan berada pada rentang yang didapat dari orangtua mampu
marah, satu dalam rentang tawar-menawar, meningkatkan semangat hidup terlebih
dan satu lagi menerima kenyataan tentang untuk 1, 2 dan 3 karena masih tinggal
apa yang terjadi. atau masih mempunyai orang tua.
Ketiga partisipan tersebut menyatakan
Seseorang yang menderita Lupus jika bahwa ketika mengetahui anaknya sakit
dihubungkan dengan fokus pengkajian orang tua lebih perhatian.
2.2.Perhatian dari teman
Satu orang partisipan mengungkapkan, Adanya perhatian dari lingkungan terkait
implikaksi dari teman yang tahu bahwa dengan konsep hirarki Maslow berarti
dirinya menderita Lupus, maka teman memberikan rasa aman dan nyaman terkait
tersebut lebih perhatian dan pula rasa penghargaan dan merasa dicintai
oleh lingkungan sekitar partisipan. Fungsi
2.3.Perhatian suami dukungan yang dilakukan oleh orang
disekitar partisipan akan mempengaruhi
Selain orang tua, bagi partisipan yang
perasaan positif lebih tinggi dengan cara
sudah menikah merasakan manfaatnya
memvalidasi keyakinan yang ada,
atas dukungan suami. Sikap suami
mendorong untuk memberikan informasi
partisipan yang memahami kondisi
dan saran serta bantuan material.
partisipan menjadikan partisipan
merasa tidak sendiri.
3. Diskriminasi yang diterima penderita Lupus.
Penyakit Lupus adalah penyakit kronis yang
Menurut Moses, Wigger, Nicholas dan
karena jarangnya orang menderita dan
Cockburn (2003) mendapatkan 24%
kurangnya informasi tentang penyakit ini
penderita Lupus merasa terpenuhi
menyebakan stigma di masyarakat. Stigma
dukungan sosial mengenai seksual, 53 %
yang diungkapkan pada penelitian ini
untuk dukungan lain terkait Lupus lainnya.
didapatkan dari masyarakat umum dan
Terdapat pula 51% menyatakan kesulitan
masyarakat kesehatan.
dalam berpartisipasi menghadapi
lingkungan sosial.
Beberapa penelitian mengungkapkan isolasi
sosial di dalam masyarakat terhadap
Adanya dukungan dari keluarga maupun
penderita lupus, partisipan merasa bahwa
orang terdekat termasuk suami dan orang-
apa yang dialami tentang Lupus ada
orang yang hidup di sekitar lingkungan
kaitannya denga sikap masyarakat terhadap
partisipan sangat membantu dalam
diri partisipan. Hal ini sejalan dengan
meningkatkan semangat hidup serta
pendapat dikemukakan oleh Phillips,
kesehatan partisipan, hal ini sesuai dengan
Russell, Wallace ( 1996, 1997, 1995 dalam
penelitian Porter (2000), yang
Porter, 2000) yang menjelaskan bahwa
mengemukakan hasil penelitian
penderita dengan penyakit tertentu akan
kualitatifnya bahwa peran keluarga serta
merasa dirinya terisolasi oleh lingkungan
orang disekitar pasien Lupus membantu
dan merasa tidak diikutkan dalam kegiatan
pasien untuk dapat hidup normal.
lingkungan yang ada disekitar penderita.
4. Usaha yang dilakukan penderita Lupus masalah fisik, tetapi yang lebih penting
untuk sembuh. adalah masalah psikologis, sehingga
diperlukan dukungan hubungan
Pada penelitian ini berbagai cara ditempuh
interpersonal yang membantu mengurangi
agar partisipan dapat sembuh atau terhindar
dampak psikologi. Pada saat yang sama
dari kambuhnya Lupus. Jika melihat
penyakit Lupus memberikan dampak pada
maksud dan tujuan partisipan melakukan
keluarga penderita, anggota keluarga
berbagai usaha untuk mencapai
dipanggil untuk memberikan cinta dan
kesembuhan maka kegiatan yang dilakukan
kasih sayang serta bantuan yang nyata pada
berdasarkan kesadaran untuk menjadi sehat
penderita dalam melakukan aktivitas dan
dengan cara memanipulasi lingkungan
peran sehari-harinya.
sekitar. Empat partisipan mengatakan
bahawa untuk tetap sehat dan tidak kambuh
Usaha yang dilakukan partisipan
penyakit Lupusnya maka diperlukan usaha
merupakan adanya kesadaran akan penyakit
keras dengan cara kontrol berobat rutin,
yang diderita, mencari atau berusaha untuk
minum obat secara teratur serta mematuhi
mendapatkan informasi dan pelayanan
nasehat dokter. Satu orang partisipan
kesehatan, serta melihat masalah lupus
bahkan mengatakan kalo apa yang telah
sebagai sesuatu yang harus diatasi dengan
dilakukan tidak cukup seperti itu tetapi juga
cara adaptasi terhadap masalah kesehatan
harus menjaga makanan yang bisa
yang timbul, hal ini sesuai dengan konsep
menyebabkan kekambuhan.
being, belonging dan becoming.
5. Kemampuan dalam mengenali tanda dan
Terkait hal tersebut diatas penelitian lain
gejala penyakit / perubahan fisik.
yang dilakukan oleh Richardson dan
kawan-kawan (2000, dalam Rahayu),
Beberapa tanda dan gejala bisa muncul pada
walaupun tidak terkait langsung dengan
penyakit Lupus, tanda dan gejala tersebut
penelitian pasien Lupus tetapi dalam
bervariasi. Penderita lupus dapat
penelitiannya menyatakan bahwa
menunjukkan tanda seperti bintik-bintik di
penggunaan terapi komplementer
wajah sampai kelainan sendi, sedangkan
menyebabkan peningkatan kualitas hidup
gejala yang dirasakan bersifat subyektif
sebaesar 76,7%, memperpanjang umur
tergantung organ atau bagian yang terkena.
sebesar 62,5% dan meningkatkan kekebalan
Tanda dan gejala Lupus dari apa yang
tubuh sebesar 71,1%.
dikemukakan beberapa partisipan berbeda-
Menurut Revenson (1993) mengatasi
beda, namun secara garis besar bisa dilihat
penyakit lupus tidak cukup mengatasi
bahwa pada intinya hanya ada dua hal yaitu,
apa yang disebut tanda, dan apa yang menyatakan adanya kelemahan dan
dimaksud gejala, selain tanda dan gejal rasa cepat lelah setelah menderita
dipaparkan pula perubahan sistem Lupus, sehingga mengganggu
reproduksi dan seksual mengingat kegiatan sehari-hari.
partisipan yang diambil pada penelitian ini
berada pada usia produktif dan semuanya 5.3. Perubahan fungi seksual
wanita. Karena kondisi kesehatan yang
5.1.Tanda penyakit dianggap lemah dan berbahaya bagi
Tanda penyakit merupakan kesehatan partisipan, terjadi perubahn
manifestasi klinis atau data obyektif pola seksual. Hal tersebut dinyatakan
yang bisa dilihat langsung dengan oeleh partisipan ke dua, demikian
mata tanpa ada pemeriksaan pula yang dinyatakan oleh partisipan
diagnostik. Empat partisipan kelima bahwa terjadi perubahan pola
menyatakan bahwa ketika terjadi seksual yang biasanya sebelum sakit
Lupus terdapat tanda bintik-bintik seksual berarti berhubungan badan
diwajah, gambaran bintik-bintik tetapi karena kondisi sakit maka
tersebut menyerupai kupu-kupu. Satu terjadi perubahan pola dan metode.
orang partisipan menambahkan tidak
hanya bintik di wajah tetapi juga 5.4. Perubahan fungsi reproduksi
adanya bengkak-bengkak seluruh Fungsi reproduksi yang terkait dalam
tubuh. penelitian ini adalah pada proses
menstruasi, lima orang partisipan
5.2. Gejala penyakit menganggap perubahan siklus pada
Gejala merupakan tanda awal yang mestruasi dianggap sebagai
hanya bisa dirasakan oleh penderita gangguan. Terjadi perubahan rentang
suatu penyakit atau hanya bisa siklus dan lamanya menstruasi,
dibuktikan dengan pemeriksaan mengkhawatirkan bagi partisipan
penunjang. Seperti halnya penyakit menginggat semau partisipan yang
lain gejala Lupus hanya bisa ada berada pada masa reproduksi
dirasakan oleh penderita, gejala pada aktif.
Lupus yang dinyatakan partisipan
dapat bermacam-macam, satu orang Rasa kelelahan, nyeri, pada bagian otot
menyatakan nyeri sendi, dua orang akan mempengaruhi aktivitas. Hal ini
menyatakan adanya gangguan pada disebabkan oleh adanya infeksi pada otot
ginjal dan paru, empat orang penderita Lupus. Menurut Philips (1996,
dalam Porter 2000) rasa sakit sendi ditandai Nutrisi adalah substansi organik yang
dengan warna kemerahan, memar, dibutuhkan organisme untuk fungsi normal
pembengkakan dan kekakuan, yang semua dari sistem tubuh, pertumbuhan,
itu menjadi masalah utama penderita Lupus pemeliharaan kesehatan.
dalan latihan olahraga, beraktivitas, lari dan
berjalan. Pembengkakkan yang terjadi Nutrisi didapatkan dari makanan dan cairan
ekstremitas kemungkinan disebabkan oleh yang selanjutnya diproses oleh tubuh,
penyakit Lupus dan bukan karena dengan jumlah dan komposisi nutrisi yang
pengobatan. Hal ini juga menyebabkan tepat, nutrisi dapat digunakan untuk
gangguan gerak (Yamaji, 2007) penanganan penyakit, penggunaan nutrisi
sebagai pengobatan komplementer dapat
Ketika menderita Lupus maka secara drastis membantu efektifitas dari pengobatan dan
akan terjadi perubahan pada wanita pada saat yang bersamaan dapat mengatasi
terutama masalah rumah tangga, termasuk efek samping dari pengobatan. Nutrisi / gizi
masalah lain yang tersangkut didalamnya. sangat erat kaitannya dengan kesehatan
Fungsi penderita wanita dalam keluarga yang optimal dan peningkatan kualitas
akan berubah, jika dia sebagai istri maka hidup.
peran sebagai ibu akan mengalami
perubahan, misalnya kurang maksimal Pada penelitian ini, tujuan merubah nutrisi
merawat anak, memasak, mencuci dan dari segi jenis yang dilakukan partisipan
banyak lagi. Hal ini disebabkan oleh dimaksudkan untuk mengurangi resiko
banyak sebab antara lain kelainan sistem kekambuhan. Beberapa sebab yang
muskuloskeletal, paru dan jantung. menyebabkan kekambuhan Lupus adalah
hidrazin dan zat pewarna terutama
Adanya keluhan yang diderita mengenai mempengaruhi kulit (Acne Blemish
tanda dan gejala serta masalah reproduksi Control, 2010). Untuk itu di perlukan jenis
dan seksual berati bahwa tiga tingkatan makanan yang dapat menangkal radikal
yang mendasar pada kebutuhan dasar bebas seperti makanan yang mengandung
Maslow terganggu, ketiga kebutuhan dasar vitamin A dan E yang berfungsi sebagai
tersebut adalah biologis terkait seksual, penangkal radikal bebas.
rasa aman dan nyaman terkait ketidak 7. Kegiatan minum obat dan aktivitas sehari-
mampuan melakukan hubungan seksual, hari.
serta rasa cinta dan mencintai yang Minum obat yang dilakukan partisipan
diwujudkan dengan sexual intimacy. menyebabkan rasa bosan dan masalah
6. Perubahan status nutrisi. tersendiri bagi partisipan. Masalah yang
terjadi dapat berupa gangguan peran dalam
keluarga, partisipan yang menderita Lupus Terdapat partisipan yang menyatakan
merasa dirinya harus minum obat dan bahwa dahulu dia bekerja tapi ketika
merasa dirinya lemah sehingga perlu menderita Lupus berhenti kerja, tentunya
mengurangi aktivitas baik dalam rumah hal ini sebuah masalah yang besar bagi
ataupun diluar rumah. penderita Lupus, karena fungsi dan
7.1.Kegiatan minum obat perannya menjadi terganggu.
Beberapa partisipan menyatakan Berdasarkan pendapat Rubin dan
kebosanannya dalam minum obat setiap Roessler (1995, dalam Porter, 2000)
hari, karena bersifat kronis dan harus sebaiknya dipikirkan kembali untuk
minum obat setiap hari dalam jangka menempatkan penderita Lupus kembali
waktu lama, hal ini menimbulkan kedalam aktivitas pekerjaan dengan
kebosanan pada penderita Lupus, juga tidak menimbulkan beban fisik tetapi
akan merasa terisolasi oleh lingkungan mempunyai kualitas kerja yang
karena penyakitnya yang mengharuskan memuaskan bagi dirirnya.
minum obat secara teratur.
Penelitian tentang dampak minum obat dan
Menurut Falvo (1995, dalam Porter, terapi yang dilakukan oleh Tench, Carthy,
2000) menyatakan bahwa tanda akan McCurdie, White dan Cruz (2003) terhadap
terisolasi yang sifatnya personal harus penderita Lupus menunjukkan bahwa
dimonitor untuk mencegah masalah lain penderita yang menjalani terapi selama
seperti depresi dan percobaan bunuh diri, duabelas minggu akan mengalami kelelahan
serta membantu pemberian dukungan dan rasa bosan hingga menimbulkan dropped
yang efektif. out dari perawatan.

7.2. Kegiatan membantu keluarga Keinginan untuk melanjutkan terapi pada


Partisipan yang menderita Lupus akan partisipan tergantung dari motivasi yang ada
merasa terikat oleh aturan minum obat, pada diri partisipan. Menurut Rouse (2004)
akibatnya segala aktifitas juga dikaitkan aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan
masalah penyakit terutama aktivitas sehari-hari tidak hanya cukup karena
minum obat. Penyakit kronik dapat termotivasi memenuhi lima kebutuhan dasar
menyebabkan perubahan kehidupan dari hirarki Maslow, tetapi ada motivasi lain
seseorang, perubahan tersebut dapat berdasarkan motivasi apa yang menjadi
terjadi pada fisik, dan emosi, atau tujuan, emosi dan keyakinan kemampuan
psikologis.
seseorang dan tujuan dalam lingkungan 9. Layanan kesehatan yang dialami dan
sekitarnya. diharapkan penderita Lupus.
Pelayanan kesehatan adalah serangkaian
8. Pengaruh pengunaan obat / therapi Lupus. tindakan yang dilakukan oleh tenaga
Jenis obat yang saat ini digunakan untuk profesional yang tujuannya untuk
Lupus adalah obat-obat jenis kortikosteroid, pencegahan, diagnosis, pengobatan dan
beberapa efek yang diungkapkan oleh dua mencegah komplikasi masalah kesehatan
partisipan antara lain, peningkatan gula tertentu. Pemerintah dalam melakukan upaya
darah, peningkatan tensi, pengeroposan kesehatan terbagi menjadi empat aspek yaitu
tulang, peningkatan berat badan. preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.
Kortikosteroid merupakan golongan hormon Layanan kesehatan yang diterima di tatanan
steroid diproduksi di korteks adrenal. rumah sakit lebih menitik beratkan pada
Hormon ini terlibat langsung dalam layanan kuratif, sementara untuk layanan
aktivitas fisiologis seperti respon stres, yang bersifat preventif dan promotif yang
respon kekebalan tubuh dan pengaturan seharusnya bisa dilakukan di tatnan
inflamasi, metabolisme karbohidrat, masyarakat kurang tersentuh.
katabolisme protein, kadar elektrolit darah
dan perilaku. 10. Gambaran Partisipan terhadap tenaga
keperawatan.
Diberikannya penjelasan segala hal Kerangka kerja praktik yang harus ada
mengenai obat yang yang digunakan juga ketika terjadi hubungan perawat-pasien ada
dilakukan agar partisipan menyadari jika tiga elemen seperti perilaku klien, reaksi
terdapat kelainan ataupun gangguan yang perawat, dan tindakan perawat akan
disebabkan efek samping obat dan belajar membentuk situasi keperawatan. Bahkan
untuk ikut aktif tercapainya perawatan yang menurut Ross (2002) pasien Lupus perlu
maksimal. Pemberian penjelasan kepada adanya penanganan profesional dari tenaga
partisipan juga ditujukan agar partisipan kesehatan ataupun tenaga profesional lain
mau belajar, menghindari bahaya, sebagai cara untuk menekan stress, karena
menuntaskan rasa keingintahuan akan stress dapat memperberat penyakit.
perawatan Lupus disamping itu menjadikan
mandiri, hal ini sesuai dengan tujuan 10.1. Informasi oleh perawat
perawatan dari Henderson yaitu mencapai Pelayanan kesehatan pada penelitian ini
kemandirian dalam kondisi yang alami dari adalah terkait informasi yang diberikan
partisipan. tenaga kesehatan. Beberapa partisipan
berpendapat bahwa mereka
memerlukan informasi yang akurat berinteraksi dengan klien untuk
sehingga dapat membantu partisipan memenuhi kebutuhan klien secepat
dalam menghadapi penyakit Lupus, mungkin dengan mengidentifikasi
namun informasi yang didapat banyak perilaku klien, reaksi perawat, dan
didapatkan dari tenaga dokter. tindakan keperawatan yang dilakukan
(Tores, 1986 dalam Perry & Potter,
Menurut panduan untuk penderita 2005).
Lupus dari nlm.nih. gov (2007)
seseorang yang menderita Lupus harus Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan
mendapatkan secara rutin informasi hasil penelitian lain, yang dilakukan di
serta hal-hal yang diperlukan ketika daerah Surakarta. Menurut Suryati
terjadi gejala yang berbahaya bagi (2008) mengatakan bahwa sikap perawat
penderita, informasi harus diberikan dengan kategori baik sebesar 63,2%,
untuk menekan adanya kekambuhan, cukup sebesar 28,1% dan kurang baik
beberapa pilihan yang dapat sebesar 8,8%. Ini berarti masih ada
menjadikan penderita sehat adalah prilaku perawat yang dipandang kurang
(1)Komunikasi yang baik dengan baik oleh pasien.
tenaga kesehatan. (2) Belajar mengenai
Lupus. (3) Melakukan kontrol rutin. (4) Perbedaan hasil penelitian ini bisa saja
Mempunyai sifat positif dan disebabkan perbedaan tempat penelitian,
managemen terhadap stress. pada penelitian ini partisipan terdapat di
10.2. Sikap perawat Palembang sedangkan penelitian yang
Hasil penelitian terkait sikap perawat dijadikan pembanding berada di
dalam pemberian asuhan keperawatan Surakarta, ada kemungkinan tingkat
yang diterima partisipan mennyatakan pendidikan perawat yang bervariasi pada
bahwa pelayanan di Rumah Sakit rumah sakit di Palembang berpeluang
Mohamad Hoesin masih kurang untuk mempengaruhi sikap profesinalitas
maksimal, hal ini terkait beberapa orang dalam bekerja, sedangkan yang menjadi
partisipan dalam penelitian ini penelitian pembanding semua perawat
menyatakan pendapatnya terhadap sikap berpendidikan minimal diploma, atau
perawat yang tidak sesuai perannya. kemungkinan adanya latar belakang
budaya lingkungan kerja di Palembang
Tujuan keperawatan untuk berespons wilayah Sumatera dikenal dengan
terhadap prilaku klien dalam memenuhi budayanya yang dikenal lebih keras, hal
kebutuhan klien dengan segera, ini sesuai dengan pendapat
Koentjaranigrat (1996) budaya 12. Perubahan nilai, kepercayaan dan keyakinan
mempengaruhi penilaian kerja profesi penderita Lupus .
apalagi bila disertai batas-batas yang Menurut Soekanto (2006) nilai adalah hal-
kurang jelas. hal yang dianggap baik dan buruk oleh
11. Sumber informasi bagi penderita Lupus. masyarakat, sementara menurut kamus besar
Informasi adalah serangkaian data yang bahasa indonesia, kepercayaan adalah
disampaikan oleh pengirim data kepada anggapan bahwa sesuatu yang diyakini itu
penerima data dan menimbulkan respon bagi benar adanya dan dianggap sebagai hal yang
penerima. Informasi berisi data –data yang biasa. Berbeda dengan kepercayaan,
dikirim melalui bahasa yang dimengerti oleh keyakinan adalah dengan sungguh-sungguh
pengirim dan penerima. Kualitas informasi dan penuh kepastian tentang suatu hal yang
tergantung pada tiga hal, yaitu (1) data yang ada kaitannya dengan agama.
dikirim harus akurat dan bebas dari
kesalahan serta mencerminkan maksudnya. Zerwekh ( 1991, dalam Kemp, 1999)
(2) tepat waktu, berarti data yang menyatakan yang tanggung jawab seorang
disampaikan harus selalu lebih awal. (3) perawat adalah memberikan asuhan
relevan, mempunyai makna dan manfaat keperawatan dalam konteks spiritual atas
bagi penerimanya. kejadian yang menimpa penderita tersebut.
Implikasi informasi untuk praktek klinik Penderita yang mempunyai pengalaman dan
berguna untuk (1) mengajarkan bagaimana kesadaran tinggi tentu dapat menarik
mengembangkan dan mempertahankan hikmah apa dibalik peristiwa, bukan
ikatan dalam keluarga. (2) mengajarkan semata-mata menarik kesimpulan atas
bagaimana menerima dan mengenali penyakit yang diderita (Syarief, 2010).
bantuan yang disediakan oleh keluarga. (3)
meningkatkan keterampilan keluarga untuk esuai dengan teori Maslow dan Henderson
menentukan dukungan kepada partisipan. tentang kebutuhan dasar manusia yang
(4) memfasilitasi penilaian dukungan yang dikaitkan dengan bagaimana makna hidup,
positif. Pentingnya informasi terkait Lupus maka pengalaman yang dialami partisipan
tidak hanya masalah bagaimana menunjukkan hampir sebagian besar
menghindari bahaya, tetapi merupakan menyatakan kesimpulannya bahwa
cerminan terhadap rasa cinta dan mencintai menderita sakit berarti mereka dipilih
pada kebutuhan dasar Maslow dan untuk mengikuti cobaan dalam hidup.
penuntasan akan keingintahuan dan proses Proses kesadaran akan makna hidup yang
belajar menurut Henderson. terkandung dari peristiwa yang dialami
merupakan proses belajar atas peristiwa itu
sendiri dan didasari keyakinan akan adanya masing faktor tidak mendukung akan menjadi
Allah sebagai pemilik apa yang ada didunia mal adaptif.
dan masih adanya harapan untuk sembuh. Jenis dukungan yang dialami partisipan berasal
dari orang-orang disekitar partisipan, dukungan
Kesimpulan dapat berupa sikap yang diberikan ataupun
Berdasarkan hasil penelian dan uraian dari bab 4 informasi. Dukungan yang adekuat akan
dan bab 5 dapat disimpulkan tentang bagaimana meningkatkan koping dan harga diri partisipan.
makna hidup pasien Lupus menjalani
kehidupannya mencari dilihat dari perspektif Kebutuhan dasar yang diperlukan partisipan
Maslow dan Henderson di Rumah Sakit menyangkut masalah fisiologis terkait seksual,
Mohamad Hoesin Palembang. makan-minum, istirahat, sementara pada tingkat
kedua pertisipan ada yang merasa terisolasi dan
Berbagai perasaan ditemukan bagaimana terancam atas sikap dari lingkungan. Pada
partisipan Lupus di Rumah Sakit Mohamad tahapan ketiga kebutuhan dasar Maslow
Hoesin Palembang merespon tahu dirinya partisipan mendapat perhatian dan cinta dari
menderita Lupus, respon tersebut dapat berupa lingkungannya, pada tingkat lanjutan yang lebih
penolakan, marah ataupun dalam dirinya tinggi beberapa partisipan merasa mampu untuk
melakukan bargaining, depresi dan menerima berperan dilingkungannya dan
keadaan yang ada. Respon tersebut sifatnya mengaktualisasikan dalam kegiatan sosial.
individual dan waktu yang diperlukan pada tiap
tahap berfluktuasi. Setiap partisipan membutuhkan pelayanan
kesehatan yang terintegrasi dan terpadu.
Upaya yang dilakukan mulai dari pengobatan Pelayanan keperawatan yang dibutuhkan berupa
secara medis sampai tradisional, untuk pemberian informasi, pelayanan dan pendidikan
mencapai kesembuhan partsipan mencari segala kesehatan yang terkait dengan perawatan lupus.
sumber informasi dalam rangka menuntaskan Pemberian layanan kesehatan yang dilakukan
masalah dan rasa ingin tahu terhadap penyakit diharapkan mencerminkan sikap profesional
yang ada dan adaptasi terhadap masalah yang dari tenaga kesehatan.
ada..
Perubahan nilai-nilai spiritual dan tujuan hidup
Mekanisme pengelolaan diri (koping) yang yang menjadi dasar perubahan makna hidup
dipakai partisipan tergantung dari faktor internal oleh partisipan dirasakan sebagai hal yang
dan eksternal, faktor tersebut menjadikan sangat esensi, atas peristiwa yang dialami
partisipan adaptif terhadap perubahan yang selama ini partisipan menjadi lebih dekat
disebabkan penyakit Lupus atau jika masing- kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai
harapan untuk bangkit dari masalah yang Bart, Z. , et all (2010) Health-related quality of
life, smoking and carotid atherosclerosis
ditimbulkan oleh penyakit Lupus.
iin white British women with systemic
lupus erythematosus..
http:www.lupsagepub.com . Diperoleh
Ucapan Terimakasih
tanggal 01 Juli 2010
Ucapan terimakasih ditujukan kepada Prof. Dra.
Blais . K.K. (2007). Praktek keperawatan
Elly Nurachmah, SKp. M.App.Sc, D.N.Sc. RN..
Profesional . Edisi 4 . Jakarta : EGC .
Imami Nur Racmawati, S.Kp, M.Sc sebagai
Bratawijaya, Karnen,G.(2002). Imunologi dasar
pembimbing penelitian ini, Prof. Drs. H.
(Edisi kelima). Jakarta, UI.
Widodo Suparno Rektor Universitas Respati
Brown, D., & Edwards, H. (2005). Lewis’s
Yogyakarta yang telah memberikan bantuan
medical surgical nursing. Australia :
moril kepada peneliti, serta saudara-saudaraku lsevier Mosby.
yang menderita Lupus di Sumatera Selatan.
Burns, N & Grove, S. (1999). Understanding
ed
nursing research, (2 edition).
Daftar Pustaka Philadelphia: W. B. Sounders Company
Acne Blemish Control, (2010). Mengurangi Creswell, J.W. (1998). Qualitative inquiry and
gejala Lupus dengan diet. research design: choosin among five
http://acneblemishcontroltips.com/health- traditions. Thousands Oaks: Sage
tips-and-recipes/alleviate-the-symptoms- Publications, Inc.
of-Lupus-with-diet.html?lang=id.
diperoleh tanggal 14 Juni 2010. ____________. (2002). Research
design:qualitative and quantitative
Albar, Zuljasri. (1996). Buku ajar ilmu penyakit Approaches : pendekatan kualitatif dan
dalam. Jilid 1 Ed.2. Jakarta : Balai kuantitatif . alih bahasa : Angkatan III &
Penerbit FKUI. IV KIK-UI . Jakarta. KIK Press.

Anonimous (2006), Das, Puspa M. (2005). The effects of optimism


http://www.ppc.sas.upenn.edu diperoleh and coping strategies on quality of life for
tanggal 23 Desember 2009 women with systemic Lupus
erythematosus. Ph.D. dissertation, State
Anonim (2008). Personal meaning. diperoleh University of New York at Albany,
http: United States -- New York. Retrieved
www.ruangpsikologi.com/index.php/mak June 18, 2010, from ProQuest Psychology
na-hidup.html . tanggal 12 Desember Journals.(Publication No. AAT 3177047).
2009.

Basrowi.,& Suwandi (2008). Memahami Djeorban Zubairi.(2009). Tetap-Semangat-


penelitian kualitatif. Jakarta : Rineka dengan-Lupus :
Cipta. Media Indonesia tanggal 16 Mei 2009.
http:
Bastaman, Hanna Djumhana (1996). Meraih //www.mediaindonesia.com/mediahidupse
hidup bermakna ; Kisah pribadi dengan hat/index.php/read/2009/05/16/1174/2/
pengalaman tragis. Jakarta ; Paramadina. diperoleh 20 desember 2009.

Djoerban, Zubairi (2007). Seminar Interaktif


Lupus Hormonkah yang bersalah.
http://medicastore.com/ html. diperoleh
tanggal 23 Januari 2010. Kertia, Nyoman. (2007). The Lupus book :
Panduan lengkap bagi penderita Lupus
Danim, Sudarwan (2003). Riset keperawatan : dan keluarganya. Yogyakarta : B-First.
sejarah & metodologi. Jakarta : EGC
Kimberly A Gordon Rouse. (2004). BEYOND
Doengoes, M.E. (2000). Rencana asuhan MASLOW'S HIERARCHY OF NEEDS:
keperawatan, pedoman untuk What Do People Strive
perencanaan & pendokumentasian For? Performance
perawatan pasien. Jakarta: EGC. Improvement, 43(10), 27-31. Retrieved
June 25, 2010, from ABI/INFORM
Dwidiyanti. M. ( 2007) Caring . Semarang. Global. (Document ID: 742667591).
Hapsari .
Kirby, J., Jhaveri, K., Maizlin, Z., Midia, M., H
Fain, J.A. (1999). Nursing research: principle aider, E., & Khalili, K.. (2009).
th
and methods, (6 editions). Philadelphia: Abdominal Manifestations of Systemic
Lippincott, William & Wilkins. Lupus Erythematosus: Spectrum of
Imaging Findings. Canadian Association
Gunandi, J. (2005). Hospital law (Emerging of Radiologists Journal, 60(3), 121-32.
doctrines & jurisprudence). Jakarta: Retrieved June 18, 2010, dari ProQuest
FKUI. Health and Medical Complete. (Document
ID: 1800447381).
Isbagio H, Albar Z, Kasjmir YI, Setiyohadi B.
Lupus eritematosus sistemik. In: Sudoyo Komalig, Fredy,. Herryanto,. Miko Hananto.
AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata (2004). Penelitian kuantitatif “ Faktor
M, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu lingkungan yang dapat meningkatkan
penyakit dalam, (4th ed). Jakarta: Pusat penyakit Lupus eritematosus sistemik.
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit www.puslitbangekologi.com. Diperoleh
Dalam FKUI; 2006.p.1224-35. 08 April, 2009

Jaret P. (2008). Ills & condition stress and Kontjoroningrat, (2006) . Pokok-pokok
pulmonary hypertension, antropologi budaya. Edisi 12, Jakarta :
(http://healthresources.caremark.com/topi Yayasan Obor Indonesia
c/pphstress#s8. diperoleh tanggal 22
Januari 2010). Lincoln, Yvonna S., & Egon, G. Guba. (1985).
Naturalistic inquiry. California: Sage
Jones, Karen (2003). Depression and anxiety in
patients with systemic Lupus Ljudmila Stojanovich., Gisele Zandman.,
erythematosus. M.S. dissertation, Goddard Sanja Pavlovich., & Natasa
University of Alaska Anchorage, United Sikanich (2007). Psychiatric
States -- Alaska. Retrieved June 18, 2010, manifestations in systemic Lupus
from ProQuest Nursing & Allied Health erythematosus. University Medical
Source.(Publication No. AAT 1418116). Center, Bezanijsk Serbia and
Montenegro. www.sciendirect.com.
Holton Karyn M. (2000). Sex and Lupus. Diperoleh tanggal 26 Juni 2010.
http://www.suite101.com/article.cfm/Lup
us/53776. diperoleh tanggal 20 Juni
2010. Macnee. (2004). Understanding nursing
research: reading and using research in
Kemp, C (1999). Klien sakit terminal : seri practice. Philadelphia: Lippincott,
asuhan keperawatan : edisi 2. Jakarta. William and Wilkins.
EGC.
Maryam, Siti (2007). Kebutuhan dasar manusia: Notoatmojo, Soekidjo. (2002). Metodologi
Berdasarkan hierarki Maslow dan penelitian kesehatan. (Edisi revisi).
penerapannya dalam keperawatan. Jakarta : Pt Asdi Mahasatya.
Jakarta; Semesta Media.
Pratomo, P.Eko. (2007). Miracle of love dengan
Moeloeng.L.J. Metodologi penelitian kualitatif. Lupus menuju Tuhan. Bandung:
Bandung. PT Remaja Rodakarya . 2001. Femmeline.

Media Indonesia (2006). Lupus ‘si pengecoh’. Kamus besar bahasa Indonesia, Pusat Bahasa
Diperoleh 19 Desember, 2009. http : Dept. DikNas RI. (2008)
www.beritaindonesia.co.id.. (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/inde
x.php diperoleh tanggal 12 Febuari 2010).
Medical Knowledge Base, (2009)
http://www.medkb.com/Uwe/Forum.aspx/ Polit, D.F., & Hungler, B.P. (1999). Nursing
Lupus/1856/Lupus-and-Premature- research, principle and methods. (6th
Ovarian-Failure-help-needed Diperoleh Edition ) Philadelphia: Lippincott William
tanggal 20 April 2010 & wilkins.
Medicastore.(2006). ( data tidak dipublikasikan ), (2009). Rumah
http://www.medicastore.com/apotik_onlin Sakit Mohamad Hoesin Palembang,
e/hormon/hormon_kortikosteroid.htm. Palembang: Rekam Medik.
Diperoleh tanggal 12 April 2010
Poerwandari, E.K. (2005). Pendekatan kualitatif
Meller, Stephan, Homey Bernahard, Thomas dalam penelitian psikologi. Jakarta:
Ruzicka (2004). Socioeconomic factors in LPSP3 UI.
lupus erythematosus.
www.sciencedirect.com/locate/autrev Price, S.A. (2005). Phatofisiologi : Konsep
Diperoleh tanggal 02 Juli 2010. klinis proses-proses penyakit.( E/6.
Vol.1). Jakarta ; EGC.
Moses Neta, John Wiggers, Craig Nicholas, Jill Phillips, Robert.H. (2001). Coping with Lupus :
Cockburn. (2003). Prevalence and Practical guide to alleviating the
correlates of perceived unmet needs of challenges of systemic Lupus
people with systemic Lupus eritematosus. New York : Lupus
erythematosus. Patient Education and Foundation Of America. Inc.
Counselin. www.elsevier.com.
Diperoleh tanggal 12 Juni 2010. Potter, P.A & Perry, A.G. (2005). Buku ajar
fundamental keperawatan: Konsep, proses
Nur’aeny, Nanan. (2008). Lupus eritematosus. dan praktik. (Edisi 4). Jakarta: EGC
http: www.resources.unpad.ac.id.
Diperoleh 28 April 2009. Porter, Dion Ferrill (2000). The effects of active
systemic Lupus erythematosus on the daily
life experiences of women diagnosed with
Ningtias. (2008). Lupus. http : the disease. Rh.D. dissertation, Southern
www.geocities.com. Diperoleh 31 Maret Illinois University at Carbondale, United
2009. States -- Illinois. Retrieved June 18, 2010,
from ProQuest Nursing & Allied Health
Nlm.nih.gov. (2009). Source.(Publication No. AAT 9982102).
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus /
tutorials pdf.. Diperoleh tanggal 16 Juni
2010 Rachmawati, Nur Imami.(2007). Pengumpulan
data dalam penelitian kualitatif :
Wawancara. Jurnal Keperawatan Philadelphia: Lippincott, William &
Indonesia, 11(1), 35-40. Jakarta : Makara Wilkins.
UI.
Stuart. G.W., & Sundeen. (1995). Principle and
Rahayu, Siti. (2008). Pengalaman klien dengan practice of psychiatric nursing. ST. Louis
kanker payudara yang telah menggunakan Misouri, Elsevier.
terapi komplementer di RS kanker
Darmais Jakarta, tesis, Depok UI. Savitri, Tiara. (2005). Aku & Lupus. Jakarta:
Puspaswara.
Rakhmat, Rakhmat (2008). Apa manfaat buku
sebenarnya. www.motivasi- Setiawan, Syah, MA. (2008) Chronic sorrow
islami.com/apa-manfaat-buku- theory. http: www.ckj-ckj.com diperoleh
sebenarnya/. Diperoleh tanggal 18 Juni 31 Maret 2009.
2010.
Shirato, Susan (2005). How CAM helps
Rakhmat, J. (1999). Psikologi komunikasi (Edisi Systemic lupus Erythematosus. Holistic
Revisi) Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nursing Practice (2005) : 19 (1) :36-39.
Lippincott Williams & Wilkins
Reker, G. T., & Chamberlain, K., (2000). classifieds.
Exploring Existential Meaning :
Optimizing Human Development Across Sitorus, Ratna. (2006). Model praktik
the Life Span. California : Sage keperawatan profesional di rumah sakit.
Publication Jakarta ; EGC.

Reker, G.T. (1997). Personal meaning, Supriyati, (2008). Hubungan tingkat


optimism, and choice: Existential pengetahuan dengan sikap perawat dalam
predictors of depression in community aplikasi pencegahan ansietas pasien pre
and institutional elderly. operatif elektif di Rumah sakit Orthopedi
Vol.37, Iss. 6; pg. 709, 8 pgs. dari Prof. Dr.R Soeharso Surakarta, tesis,
www.proquest.com. Diperoleh pada 4 diunduh di
September 2009. http://etd.eprints.ums.ac.id/439/ tanggal
17 Juni 2010.
Revenson, Tracey A. (1993) . Role social
support. Bailliere’s clinical rheumatology. Soekanto, Soerjono. (2006). Sosiologi Suatu
Vol 7. No 2 Bailliere Tindall. Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada
Richardson, Sanders, Palmer dan Greisinger
(2000) Complementary/ Alternative Syarief, Dian. (2009). Bagaimana hidup dengan
Medicine Use in a Comprehensive Cancer Lupus.
Center and the Implications for Oncology, http: www.syamsidhuhafoundation.org
Journal of Clinical Oncology, Vol 18, Issue diperoleh 21 Desember 2009.
13 (July), 2000: 2505-2514© 2000
American Societyfor Clinical Oncology Syarif, Dian (2010). Lupus makes my life more
meaningful. The Jakarta Post. Diperoleh
Roos, Susan. (2002 ). The series in death, dying, tanggal 25 Juni 2010.
& berevement, Chronic sorrow a living http://www.thejakartapost.com/news/201
loss. New York. Brunner-Routledge. 0/05/10/Lupus-makes-my-life-more-
meaningful.html
Streubert & Carpentes. (1999). Qualitative
research in nursing: advancint the Sugiyono. (2007). Metode penelitian kuantitatif
humanistic imperative, (2 nd edition). dan kualitatif R & D. Bandung : CV
Alfabeta.
June 18, 2010, from Academic Research
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2002). Brunner & Library. (Document ID: 1363683721).
Suddarth : Textbook of medical surgical
nursing. Philadelphia : Lippincott Yura, Helen. (1986). Human Need Theory: A
Williams & Wilkins. Framework for the Nurse
Supervisor. The Health Care
Sriyuktasuth, Aurawamon (2002). Utility of Supervisor, 4(3), 45. Retrieved June 25,
Pender's model in describing health- 2010, from ABI/INFORM Global.
promoting behaviors in Thai women with (Document ID: 1102994)).
systemic Lupus erythematosus. D.S.N.
dissertation, The University of Alabama at
Birmingham, United States -- Alabama.
Retrieved June 18, 2010, from ProQuest
Nursing & Allied Health
Source.(Publication No. AAT 3066344).

The Centre for Health Promotion University of


Toronto (2007), Quality of Life,
www.utoronto.ca/qol/. Diperoleh tanggal
02 Juli 2010.
Tench, J C. M.. McCarthy, I. McCurdie, P. D.
White dan D. P. D’Cruz (2003). Fatigue
in systemic Lupus erythematosus: a
randomized controlled trial of exercise.
Diperoleh tanggal 20 Juni 2010.
www.rheumatology.oupjournals.org

Tracey, A. Revenson (1993). The role of social


support with rheumatic disease.
Bailli~re's Clinical Rheumatology-Vol.
7, No. 2, June 1993. by Bailli~re
Tindall.

Wallace, Daniel J(1995). The Lupus book. 1st


ed. Oxford University Press, inc.
Wiebe, R.L. (2001). The influence of personal
meaning on vicarious traumatization in
the rapists. [Versi elektronik]. Diakses 27
Maret 2007.
www.twu.ca/cpsy/Documents/Theses/Rho
nda%20Wiebe%20Thesis.pdf

Yamaji, K., Yasuda, M., Yang, K., Kanai, Y., Y


amaji, C., Kawanishi, T., Toumyo, M., Fu
nabiki, K., Tsuda, H., & Takasaki, Y.. (20
07). A case of very-late-onset systemic
Lupus erythematosus. Modern
Rheumatology, 17(5), 441-444. Retrieved