Resume kultur jaringan tanaman kakao ( Theobrema cacao

)

Theobroma cacao L. dikenal dengan tanaman kakao, merupakan tumbuhan
tropis yang berasal dari amerika latin yang dapat tumbuh hingga mencapai 10
meter. T.cacao telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1560. Negara Indonesia
merupakan penghasil kakao terbesar ketiga setalah Ghana dan Pantai Gading.
Agrobisnis kakao di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks
antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek
buah kakao (PBK), mutu produk dan jumlah masih rendah serta masih belum
optimalnya pengembangan produk kakao serta penyediaan jumlah bibit kakao
yang unggul.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mengendalikan hama PBK dan
penyakit pada kakao serta menghasilkan bibit unggul dapat melalui teknik kultur
jaringan yaitu induksi kalus dan rekayasa genetika Sejauh ini kultur sel kakao
sebagai model sel untuk penelitian kakao belum tersedia. Ada beberapa gen yang
tidak ditemukan pada tumbuhan Arabidopsis, dan mungkin sangat penting dalam
perkembangan tumbuhan kakao selanjutnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya
bentuk sel kakao hasil kultur jaringan yang nantinya akan digunakan sebagai
model sel dalam penelitian berbagai aspek molekuler dan seluler tumbuhan kakao.
Selain itu, salah satu manfaat kultur kalus adalah untuk mendapatkan produk yang
berupa kalus dari suatu eksplan yang dapat ditumbuhkan secara terus-menerus
sehingga dapat dimanfaatkan dalam mempelajari metabolisme dan diferensiasi
sel, morfogenesis sel, variasi somaklonal, transformasi genetik serta produksi
metabolit sekunder juga merupakan beberapa manfaat dari hasil kultur kalus.
Induksi embrio dari kultur sel kakao sangat berpotensi dalam
menghasilkan lipid yang khas melalui kultur jaringan secara in vitro. Kalus kakao
dapat diinduksi pada semua medium perlakuan ( N1 = Medium MS + 2 ppm 2,4-
D + 15% Air kelapa, N2 = Medium MS + 2 ppm 2,4-D + 0,2 ppm BAP + 15%
Air kelapa, N3 = Medium MS + 2 ppm 2,4-D + 0,2 ppm BAP, N4 = Medium MS
+ 2 ppm 2,4-D ). Kalus kakao terbentuk pada permukaan eksplan dan luka irisan
yang ditandai dengan pembengkakan pada eksplan dan berwarna putih. Kalus
dapat diinisiasi secara in vitro dengan meletakkan irisan jaringan tanaman
(eksplan) pada media tumbuh dalam kondisi steril. Dengan adanya luka irisan 2,4-
D lebih muda berdifusi ke dalam jaringan tanaman, sehingga 2,4-D yang
diberikan akan membantu auksin endogen untuk menstimulasi atau merangsang
pembelahan sel, terutama sel-sel di sekitar area luka.
2,4-D efektif untuk merangsang pembentukan kalus karena aktivitas yang
kuat untuk memacu proses diferensiasi sel, organogenesis dan menjaga
pertumbuhan kalus. Selain itu, studi tentang pengaruh asam 2,4-D terhadap
pembentukan kalus dan pertumbuhan Acalypha indica L. menunjukkan bahwa
kehadiran BAP di media juga mendukung pembentukan kalus (Rahayu et al.,
2002). Selain itu, adanya perbedaan hasil dalam pembentukan kalus dari setiap
medium perlakuan juga di pengaruhi adanya air kelapa dalam medium. Medium
yang ditambahkan dengan air kelapa akan menghasilkan kalus yang sangat cepat
sedangkan medium tanpa air kelapa akan menghasilkan kalus yang sangat lama.
Ekplan yang di inisiasi pada media BAP dan 2,4-D tanpa menggunakan air
kelapa, selain menghasilkan kalus juga dapat menginduksi akar. Tanpa adanya air
kelapa maka memungkinkan ratio dari BAP tidak mampu bersifat sinergis dengan
auksin. Pada perlakuan ini, ratio auksin yang diberikan lebih tinggi dari pada ratio
dari BAP sehingga mampu menghasilkan akar. Jika rasio auksin lebih rendah
daripada sitokinin maka organogenesis akan mengarah ke tunas, jika rasio auksin
seimbang dengan sitokinin maka akan mengarah ke pembentukan kalus
sedangkan jika rasio auksin lebih tinggi daripadasitokinin organogenesis akan
cenderung mengarah ke pembentukan akar.
Medium yang paling bagus untuk pertumbuhan kalus T. cacao adalah
medium N1 dan N2. Akan tetapi, pada penelitian lanjut disaran kanmenggunakan
medium N1. Medium N1 menggunakan formulasi media berupa 2,4-D dan air
kelapa sedangkan N2 menggunakan formulasi media 2,4-D, BAP dan air kelapa.
air kelapa sering kali digunakan dalam kultur jaringan pengganti BAP. Selain
menghemat, hasil yang diperoleh kedua medium tersebut tidak berbeda. dalam
perbanyakan tanaman in vitro dapat berasal dari bahan kimia sintetik maupun
bahan alami seperti air kelapa.
Bibit kakao yang dapat menghasilkan tanaman yang sama baiknya dengan
induk unggulnya sangat diperlukan. Salah satu alternatif adalah dengan
memanfaatkan bibit asal organ vegetatif yang dihasilkan melalui teknik kultur
jaringan dengan proses embriogenesis somatik. Teknik kultur jaringan dapat
digunakan untuk menghasilkan bibit kakao dalam jumlah besar dan seragam
dalam waktu yang relatif singkat, dan tidak tergantung musim. Beberapa
penelitian kultur jaringan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia untuk
menghasilkan bibit kakao hasil kultur jaringan melalui proses regenerasi
embriogenesis somatik. Beberapa peneliti lain juga mengembangkan regenerasi
kakao melalui proses embriogenesis somatik Teknik embriogenesis somatik juga
sudah dimanfaatkan untuk keperluan penyimpanan dalam nitrogen cair dengan
teknik kriopreservasi.
Eksplan diambil dari bunga kakao yang masih kuncup dengan panjang 3-6
mm (umur bunga tidak ditentukan), dipilih kuncup yang belum mekar yang terdiri
atas bagian petala, staminodia, dan antera. Penelitian disusun menurut Rancangan
Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor, yang diulang 3 kali. Faktor pertama
adalah 7 klon kakao yaitu ICCRI 01, ICCRI 02, ICCRI 03, ICCRI 04, KW 514,
RCC 72 dan Sca 6. Faktor ke-2 adalah 3 bagian organ bunga yaitu mahkota
(petala), staminodia dan antera. Uji perbandingan rata-rata perlakuan digunakan
Uji Tukey pada taraf nyata 5%.
Kuncup bunga direndam dalam larutan Sodium hypochloride 5% selama
sekitar 5 menit sambil sesekali dikocok, kemudian dibilas tiga kali dengan
aquadestilata steril. Setelah itu bunga dipisahkan sesuai bagian-bagiannya yaitu
mahkota (petala), staminodia dan antera. Eksplan yang sudah disterilisasi
selanjutnya diregenerasikan melalui tahapan inisiasi, induksi, multiplikasi, dan
pendewasaan. Eksplan yang telah disterilisasi ditanam dalam media inisiasi
berupa media dasar MS (Murashige dan Skoog,1962) dengan penambahan 2 mg
L-12.4 D, 0.25 mg L-1 Adenin, 30 g L-1 Sukrosa dan 2 g L-1. Kultur diinkubasi
selama 2 minggu dan dilakukan pengamatan terhadap jumlah eksplan berkalus.
Eksplan yang telah berkalus dipindah ke media induksi dengan komposisi media
sama dengan media inisiasi, tetapi tanpa zat pengatur tumbuh. Sub kultur
dilakukan setiap 2 minggu sekali. Pengamatan dilakukan terhadap eksplan dengan
kalus embriogenik dan jumlah embrio per eksplan.
Embrio somatik yang dihasilkan selanjutnya ditumbuhkan pada media
perkecambahan dan perakaran agar dapat berkembang menjadi planlet. Embrio
somatik yang dikecambahkan adalah embrio yang sudah mencapai fase kotiledon.
Meskipun demikian, tidak semua embrio dapat berkembang menjadi kecambah
normal, karena sebagian embrio menunjukkan perkembangan yang abnormal
(tidak berkembang menjadi tunas, atau menjadi tunas yang tidak mampu
membentuk tunas baru disertai dengan akar tidak tumbuh). Hanya embrio yang
berkecambah normal yang dapat berkembang menjadi planlet, artinya dapat
membentuk tunas dan akar hingga menjadi tanaman sempurna.
Hasil penelitian menggunakan eksplan bunga beberapa klon kakao
tersebut dapat menghasilkan kesimpulan sebagai berikut, Dari 7 klon yang diuji, 5
klon menghasilkan embrio somatik yaitu ICCRI 03, ICCRI 04, KW 514, RCC 72
dan Sca 6, sedangkan 2 klon di antaranya yaitu ICCRI 01 dan ICCRI 02 sampai
pengamatan minggu ke-18 belum menghasilkan embrio somatik. Klon Sca 6
mempunyai persentase jumlah eksplan menghasilkan embrio dan kecambah
normal tertinggi (52.2% dan 71.4%) dengan persentase kecambah berakar 51%.
Daya regenerasi membentuk embrio paling rendah terjadi pada Klon ICCRI 02.
Bagian bunga yang paling responsif daya regenerasinya membentuk embrio
adalah petala.
Dalam kultur jaringan, dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat
penting adalah auksin dan sitokinin. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel
menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan sintesis protein. Dengan adanya
peningkatan sintesis protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam
pertumbuhan. Kinetin adalah kelompok sitokinin yang berfungsi untuk
pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis.
Pertumbuhan jaringan, sitokinin bersama-sama dengan auksin
memberikan pengaruh interaksi terhadap diferensiasi jaringan. Terdapat
perbedaan rata-rata persentase eksplan hidup dan persentase eksplan yang respons
pada kedua genotipe kakao yang diuji. Perbedaan ini ditandai dengan tingginya
kematian pada eksplan asal kakao berwarna hijau yang dicirikan warna coklat
kehitaman (browning).
Eksplan yang berwarna coklat tersebut dapat dikatakan mengalami mati
pencokelatan disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor teknis saat penanaman yaitu
scalpel dan pinset yang masih panas atau eksplan yang mengeluarkan senyawa
fenol. Menurut Hendaryono & Wijayani (1994) bahwa senyawa fenol akan
teroksidasi membentuk quinon yang memiliki sifat racun terhadap sel-sel tanaman
dan dapat menyebabkan kematian pada sel-sel tanaman tersebut. Pencoklatan
dapat menurunkan kemampuan regenerasi in vitro, toksisitas medium, dan
kematian tunas in vitro.
Eksplan genotipe asal bunga kakao berwarna merah sangat baik dalam
merespon pembentukan kalus, pembentukan\ embrio somatik, dan memiliki
jumlah embrio somatik lebih banyak. Terdapat interaksi yang nyata antara
genotipe dan kombinasi ZPT pada eksplan dalam membentuk jumlah embrio
somatik. Kombinasi konsentrasi terbaik dalam merespon perbentukan embrio
somatik adalah media SCG (Secondary Callus Gowth)

Kelompok III:
1. Syamsuddin B ( 1514141004)
2. Fiqril Arif ( 1514140008)
3. Ahmad Riswan
4. Risna M Nur ( 1514141012)
5. Nur Amaliah Alif ( 1514140006)
6. Nyi Ratih (1314141017)