You are on page 1of 22

LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh:
Bunga Rezeki Ananda, S. Ked
NIM : 70 2015 062

Pembimbing:
dr. Abdullah Sahab,Sp.KJ,MARS

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT Dr ERNALDI BAHAR PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Judul:

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh:
Bunga Rezeki Ananda
NIM : 71.2015.062

Telah dilaksanakan pada bulan April 2017 sebagai salah satu syarat dalam
mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa di
RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR PALEMBANG

Palembang, 8 April 2017


Pembimbing

dr. Abdullah Sahab,Sp.KJ,MARS


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus mengenai
SKIZOFRENIA PARANOID, sebagai salah satu tugas individu di SMF Ilmu
Kedokteran Jiwa RS. Dr. Ernaldi Bahar Shalawat dan salam selalu tercurah
kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan
pengikutnya sampai akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini belum sempurna. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai
bahan pertimbangan perbaikan dimasa mendatang.
Dalam penyelesaian laporan kasusini, penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan, dan saran dari berbagai pihak, baik yang diberikan secara lisan
maupun tulisan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat
dan terima kasih terutama kepada:
1. dr. Abdullah Sahab,Sp.KJ,MARS selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan banyak ilmu, saran, dan bimbingan selama penyusunan laporan
kasus ini.
2. Orang tua dan saudaraku tercinta yang telah banyak membantu dengan doa
yang tulus dan memberikan bantuan moral maupun spiritual.
3. Rekan sejawat seperjuangan serta semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan laporan kasus ini.
Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan
perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran. Semoga selalu dalam lindungan
Allah SWT. Amin.

Palembang, 8 April 2017


BAB I
STATUS PENDERITA

I. IDENTIFIKASI PENDERITA
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. M.
Usia : 30 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Menikah
Suku / Bangsa : Palembang / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tidak Bekerja ( Ibu Rumah Tangga )
Agama : Buddha
Alamat : Kenten, Palembang , Sumatera Selatan
Datang ke RS : Minggu, 26 Maret 2017 MRS ulangan ke-2 kali
Cara ke RS : Diantar Keluarga.
Tempat Pemeriksaan : Instalasi Gawat Darurat
RS. dr. Ernaldi Bahar Palembang
B. Identitas pengantar pasien
Diperoleh dari : Ny. L
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 36 tahun
Alamat : Talang kelapa, Palembang , Sumatera Selatan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Hubungan dengan pasien : kakak perempuan kandung

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Riwayat psikiatri diperoleh dari:
1. Autoanamnesis dengan penderita pada minggu, 26 Maret 2017.
2. Alloanamnesis dengan kakak perempuan penderita pada Minggu, 26
Maret 2017.

A. Sebab Utama
Marah-marah dengan orang dirumah.
B. Keluhan Utama
Os mengoceh-ngoceh tidak jelas, curiga kepada keluarganya 5
hari yang lalu.

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak 5 tahun yang lalu penderita sering mengurung diri dikamar,
penderita malas jika diajak bicara dengan orang lain, penderita
mengatakan sakit hati kepada suaminya karena merasa suaminya kurang
perhatian. Penderita sering terlihat mengoceh tidak jelas, penderita masih
bisa makan dan mandi sendiri seperti biasa, kemudian penderita dibawa
berobat ke poli jiwa rumah sakit ernaldi bahar, penderita dinyatakan
mengalami gangguan kejiwaan kemudian dirawat selama 4 hari,
setelah itu kondisi penderita membaik namun tidak pernah datang lagi
untuk control.
Sejak 5 hari yang lalu penderita sering mengoceh sendiri, dan
sering marah-marah. Keluarga os mengaku ketika ditanya ia berkelahi
dengan suaminya, karena suaminya tidak mau bekerja dan istri
menasehati suami, tetapi suami tidak suka, lalu mereka berkelahi dan
suami meninggalkan rumah. Sejak suami pergi dari rumah os kurang
tidur, tidur hanya beberapa jam saja, lalu os mulai sering marah-marah,
mengoceh-ngoceh yang tidak dimengerti orang lain, malas bertemu orang
lain, dan marah jika ditegur.
Penderita mandi dan makan seperti biasa, penderita tidak bisa
mengendalikan emosinya, keluarga os mengatakan os seperti sering
berbicara sendiri dan melihat sesuatu yang aneh. Pasien bertambah emosi
karena keluarganya mengganggap ia gila dan tidak waras, sehingga
emosi pasien semakin meningkat ketika melihat keluarga terutama orang
tuanya. Tetapi ketika ditanyakan langsung ke pasien, pasien menyangkal
bahwa ia mendengar suara bisik-bisikan dan melihat sesuatu yang aneh.
Lalu keluarga pasien mengajak pasien untuk berobat ke IGD kemudian
penderita dibawa ke IGD rumah sakit Ernaldi Bahar.

III. RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA


A. Riwayat Gangguan Psikiatrik Sebelumnya
Os telah 1 kali dirawat di rumah sakit dr Ernaldi bahar pada tahun
2012 pada tanggal 8 bulan Maret. Terakhir dirawat dengan diagnosis
skizofrenia paranoid. Penderita telah putus obat dengan alasan tidak mau
makan obat.
- MRS (2012): pulang dengan keadaan relatif tenang, control rawat
jalan tidak rutin. Dirawat selama 5 hari.

B. Riwayat Kondisi Medis Umum


1. Riwayat trauma kapitis (-).
2. Riwayat astma (-)
3. Riwayat demam tinggi (-)
4. Riwayat thypoid (-)
5. Riwayat malaria (-)
6. Riwayat hipertensi (-)
7. Riwayat kejang (-)
8. Riwayat alergi: (-)

C. Penggunaan Zat Psikoaktif


Penderita tidak pernah mengkonsumsi alkohol dan menggunakan
zat-zat psikoaktif.

IV. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


A. Riwayat Premorbid
1. Bayi : Menurut keluarga Os lahir cukup bulan ditolong bidan dan
langsung menangis.
2. Anak : Menurut keluarga Os mudah bergaul dan suka bermain
dengan teman temannya. Tidak ada keterlambatan dalam
perkembangan Os.
3. Remaja : Menurut keluarga Os mudah bergaul, periang dan banyak
teman
4. Dewasa : Menurut keluarga Os orang yang ramah.

B. Situasi Kehidupan Sekarang


Os tinggal dengan suaminya dan kedua anaknya
C. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga dengan gejala penyakit yang sama disangkal.
- Pedigree:

Pasien

- Os adalah anak keempat dari 4 bersaudara.


- Riwayat gangguan jiwa dalam keluarga disangkal.
- Keluarga tidak ada memiliki riwayat penyakit yang sama dengan os.
- Pola asuh: Os diperlakukan sama dengan saudaranya.
- Hubungan antara saudara kandung baik.
- Os tinggal dengan suami dan anaknya.

D. Riwayat pendidikan
Os sekolah sampai sekolah menengah atas (SMA) pendidikan.
E. Riwayat pekerjaan
Os tidak bekerja.
F. Riwayat pernikahan
Os sudah menikah selama 10 tahun dan mempunyai dua orang
anak.
G. Agama
Os beragama Buddha dan Os rajin dalam menjalankan ibadah
menurut agamanya.
H. Riwayat pelanggaran hukum
Os tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum maupun
berurusan dengan pihak berwajib.
I. Persepsi Tentang Diri dan Kehidupan
Penderita merasa tidak sakit.
J. AUTOANAMNESIS DAN OBSERVASI
Wawancara dan observasi dilakukan pada Minggu, 26 Maret 2017
pukul 20.00 s.d. 21.00 WIB di IGD rumah sakit jiwa ernaldi bahar,
Palembang. Pemeriksa dan pasien berhadapan dengan posisi pasien berada
didepan pemeriksa. Wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa
Indonesia dan bahasa daerah.

Pemeriksa Pasien Interpretasi


Selamat malam, ce. malam. ( ekspresi - Compos mentis
muka datar dan sedikit - Kontak mata (+)

melihat ke lawan bicara) - Cukup kooperatif

Kami dokter muda dari boleh ( menjawab - volume bicara lemah


bagian Jiwa, boleh tanya- singkat, lemah ) - pasif
tanya sebentar ya, cece ?

Afek: Hipertimik
Ce siapo namonyo ? Meri, umur 32 tahun
Kontak: atensi adekuat
umurnya berapa ? (Kontak mata pasien
Konsentrasi: cukup
cukup)

Sekarang kita lagi Rumah sakit


dimana, ce ? (menggerakkan bibir) Daya ingat: baik
Sekarang hari apa, ce? Minggu (menggerakkan Orientasi waktu, tempat,
bibir) dan personal: baik

Ini siapa, ce ? (sambil Ayuk, bapak dan ibu


menunjukkan, kakak (menggerakan bibir)
perempuan, ayah dan ibu
pasien )

Ce anaknya ada berapa? 2 (sambil menunjukkan 1


jari)
Sekarang apo yang cece Idak apo-apo ( jawaban Kontak: atensi adekuat
rasoke ? keluar jelas dan cepat)

Ce, katonyo galak marah Idak, kato siapo aku Denial (+)
dan ngamuk ? ngapo ce ? marah-marah. Yo namo
bae banyak pikiran wajar
aku galak ngoceh ke anak
samo laki aku.

Ngapo dibawak kesini? Aku idak tau. Kato ayuk Discriminative insight
aku nak jalan-jalan, tapi terganggu
tau-tau nyo dibawak
kerumah sakit. Kesal nian
aku. Aku nih dak gilo
idak.
Cece , tidurnya nyenyak Lah 5 hari ini aku kurang Rasa cemas karena
dak? tidur. kalo tido galak kepikiran suami yang
tebangun tengah malam, pergi dari rumah.
terus susah untuk tido
lagi.
Galak denger suaro-suaro Iyo, tapi jarang. Dak Halusinasi auditorik (+)
apo bisikan-bisikan atau jelas dio ngomong apo.
bunyi-bunyi dak, cece ? Aku galak nutup kuping
bisik-bisik nyo nyuruh men ado bisik-bisik.
cece ngapo ? teliat dak Kepala aku pening
wong yang bisikinyo > soalnyo. (pasien
mengangguk kepala)

Galak jingok bayangan Idak jugo. Galak salah Halusinasi visual (+)
apo benda yang dak jingok bae aku tuh.
dilihat samo yang lain (pasien mengangguk
pak? kepala)

Cece pernah dak nyium Dak pernah. Halusinasi olfaktorik (-)


bau-bau yang dak dibaui
oleh wong lain ?

Cece pernah dak meraso Dak pernah. Halusinasi taktil (-)


ado yang nyentu atau
meraba kulit cce ?

Katonyo cece galak Yo namo bae laki begawe Waham curiga (+)
curiga samo suaminyo ye diluar dek, sesuai kalo
? aku nih curiga.

Yasudah ce, cuman itu Yo lebih baik aku minum


Dengan ekspresi serius.
obat daripada aku dirawat
bae yang ditanyoke,
rumah sakit jiwo ini.
makasih yo ce, rajin Jingoklah men aku
nginjak sini lagi dan
minum obatnyo, jangan
dirawat disini oleh
idak diminum obatnyo. keluarga aku, aku keluar
dari agama Buddha,
masuk islam aku. Nian
aku, aku besumpah nia.
V. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Penderita adalah seorang wanita berusia 30 tahun, berambut
panjang dan berpakaian rapi.

2. Perilaku dan aktivitas psikomotor


Penderita tampak normal secara perilaku dan aktivitas
psikomotor.

3. Sikap terhadap pemeriksa


Kontak (+) tidak kooperatif

B. Mood dan Afek


1. Mood : distimik.
2. Afek : labil.
3. Keserasian : serasi dalam hal pikiran, perasaan, dan perilaku

C. Hidup emosi
Stabilitas :Tidak stabil
Dalam-dangkal : dangkal
Pengendalian : terkendali
Adekuat-Inadekuat : adekuat
Echt-unecht : echt
Skala diferensiasi : normal
Einfuhlung : bisa dirabarasakan
Arus emosi : normal

D. Keadaan dan fungsi intelektual

Daya ingat : baik


Daya konsentrasi : baik
Orientasi orang/waktu/tempat : baik
Luas pengetahuan umum : sesuai
Discriminative judgement : baik
Discriminative insight : tidak baik
Dugaan taraf intelegensi : baik
Depersonalisasi dan derealisasi : tidak ada

E. Kelainan sensasi dan persepsi


Ilusi : tidak ada
Halusinasi :auditori(+),visual(+)
F. Keadaan proses berpikir
Psikomotilitas : cepat
Mutu : baik
G. Arus pikiran

Flight of ideas : ada


Inkoherensi : tidak ada
Sirkumstansial: tidak ada
Tangensial : tidak ada
Terhalang(blocking) : tidak ada
Terhambat (inhibition): tidak ada
Perseverasi : tidak ada
Verbigerasi :tidak ada
H Isi pikiran

Waham : ada
Pola Sentral : tidak ada
Fobia : tidak ada
Konfabulasi : tidak ada
Perasaan inferior: tidak ada
Kecurigaan : tidak ada
Rasa permusuhan/dendam: ada
Perasaan berdosa/salah : ada
Hipokondria : tidak ada
Ide bunuh diri : tidak ada
Ide melukai diri: tidak ada
Lain-lain : tidak ada

I. Pemilikan pikiran
Obsesi : tidak ada
Aliensi : tidak ada

J. Bentuk pikiran
Autistik : ada
Simbolik : tidak ada
Dereistik : tidak ada
Simetrik : tidak ada
Paralogik : tidak ada
Konkritisasi : tidak ada
Overinklusif : tidak ada

K. Keadaan dorongan instinctual dan perbuatan


Hipobulia : tidak ada
Vagabondage : tidak ada
Stupor : tidak ada
Pyromania : tidak ada
Raptus/Impulsivitas: tidak ada
Mannerisme : tidak ada
Kegaduhan umum: tidak ada
Autisme : tidak ada
Deviasi seksual : tidak ada
Logore : tidak ada
Ekopraksi: tidak ada
Mutisme : tidak ada
Ekolalia : tidak ada
Lain-lain : tidak ada

L. Kecemasan : ada
M. Dekorum
Kebersihan : baik
Cara berpakaian : baik
Sopan santun : baik
N. Reality testing ability
RTA terganggu

O. Pemeriksaan lain

a. Pemeriksaan laboratorium : tidak diperiksa


b. Pemeriksaan radiologi : tidak diperiksa

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


Pemeriksaan dilakukan pada hari minggu 26 Maret 2017
A. Status Internus
- Keadaan umum : cukup stabil
- Kesadaran : compos mentis
- Tanda vital : TD : 120/80 mmHg
N : 86 x/menit
RR : 22 x/menit
Temp : 36,0 0C
- Kepala : normosefali, conj. palpebra tidak anemis,
sklera ikterik (-)
- Thorax : Jantung : SI-SII normal, suara tambahan (-)
Paru : vesikuler normal (+)
- Abdomen : datar, lemas, nyeri epigastrium (-), BU (+) normal
Pembesaran hepar dan lien (-)
- Ekstremitas : hangat, edema (-), sianosis (-)
B. Status Neurologikus
GCS: 15
E : membuka mata spontan (4)
V : berbicara spontan (5)
M : gerakan sesuai perintah (6)
Fungsi sensorik : tidak terganggu
Fungsi motorik : kekuatan otot tonus otot
5 5 N n
5 5 N n
Ekstrapiramidal sindrom :
Tidak ditemukan gejala ekstrapiramidal seperti tremor (-),
bradikinesia (-), dan rigiditas (-).
Refleks fisiologis : normal
Refleks patologis : tidak ditemukan reflex patologis

VII. IKHTISAR PENEMUAAN BERMAKNA


Berdasarkan wawancara psikiatri didapatkan informasi bahwa
penderita seorang wanita berusia 30 tahun, asal Kenten, Buddha, dengan
pendidikan terakhir SMA tamat, pekerjaan tidak ada. Penderita dibawa ke
RS. dr. Ernaldi Bahar Palembang pada Minggu, 26 Maret 2017 dengan
keluhan marah-marah, mengoceh tidak jelas dan selalu curiga dengan orang
lain.
Pada pemeriksaan status mental, didapatkan penderita berpenampilan
berambut panjang dan berpakaian rapi. Selama pemeriksaan, penderita
tampak tidak kooperatif dalam menjawab setiap pertanyaan pemeriksa.
Suasana mood penderita didapatkan distimik dengan afek labil. Hidup
emosinya tidak stabil, pengendalian terkendali, adekuat, echt. Penderita
tampak serasi dalam hal pikiran, perasaan, dan perilaku. Selama
pembicaraan penderita tampak koheren. Pada keadaan dan fungsi intelektual
didapatkan discriminative insight tidak baik. Didapatkan gangguan persepsi
berupa halusinasi auditorik dan visual. Arus pikiran flight of ideas. Isi
pikiran waham ada, rasa permusuhan ada. Bentuk pikiran autistik. Proses
dan bentuk pikiran pada penderita koheren dengan produktivitas baik dan
kontinu. Gangguan pikiran pada penderita ditemukan terdapat waham
curiga. Dalam penilaian realitas pada penderita terganggu dalam hal pikiran,
perasaan.
Dalam pertimbangan tilikan terhadap penyakit, termasuk tilikan
derajat 1, penyangkalan total terhadap penyakitnya. Selama wawancara
psikiatri, penjelasan yang diberikan penderita dapat dipercaya.

VIII. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan riwayat penderita, ditemukan adanya kejadian yang
mencetuskan perubahan pola perilaku dan psikologis yang bermanifestasi
timbulnya gejala dan tanda klinis yang khas berkaitan dengan adanya
gangguan kejiwaan serta ditemukan adanya disfungsi dan distres
(penderitaan) . Dengan demikian dapat disimpulkan penderita mengalami
suatu gangguan kejiwaan.
Pada pemeriksaan status internus tidak ditemukan adanya kelainan.
Tidak ditemukan adanya riwayat kejang, riwayat demam tinggi dan riwayat
trauma capitis. Selain itu, penderita tidak ditemukan riwayat hipertensi yang
biasa terjadi pada usia lanjut. Status neurologi juga tidak ditemukan
kelainan yang mengindikasikan adanya gangguan medis umum yang secara
fisiologi dapat menimbulkan disfungsi otak serta mengakibatkan gangguan
kejiwaan yang diderita selama ini. Dengan demikian, gangguan mental
oganik (F00 F09) dapat disingkirkan.
Pada wawancara psikiatri tidak ditemukan penderita memiliki riwayat
minum-minuman beralkohol serta penderita tidak pernah mengkonsumsi
obat-obatan terlarang sehingga kemungkinan gangguan mental akibat zat
psikoaktif (F10 F19) juga dapat disingkirkan.
Pada diagnosis multiaksial aksis I ditemukan adanya halusinasi
auditorik serta gejala positif lainnya seperti waham curiga. Pada penderita
ditemukan bebagai gejala definitif adanya skizofrenia. Maka, diagnosis pada
penderita ini termasuk dalam F20.0 Skizofrenia Paranoid. Berdasarkan
perjalanan gangguan skizofrenia pada penderita berupa episodik berulang,
maka diagnosis pada penderita termasuk dalam F20.03 Skizofrenia Paranoid
Episodik Berulang.
Pada diagnosis multiaksial aksis II terdapat F60.0 gangguan
kepribadian paranoid dimana penderita tampak curiga dengan orang lain.
Pada aksis III tidak terdapat diagnosis gangguan medik.
Pada aksis IV didapatkan bahwa penderita pada saat awal pertama kali
masuk ke RS dr Ernaldi Bahar pada tahun 2011, Os memiliki masalah
keluarga yaitu kurangnya perhatian dari suaminya.
Pada aksis V didapatkan Global Assessment of Functioning (GAF)
Scale 60-51.

IX. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : F60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah keluarga
Aksis V : GAF Scale 60-51

X. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik
Tidak ditemukan faktor genetik gangguan kejiwaan.

B. Psikologik
Penderita mengalami halusinasi auditorik dengan waham curiga.

C. Lingkungan dan Sosial Ekonomi


Penderita tinggal dengan suami dan kedua anaknya di kenten.

XI. PROGNOSIS
A. Quo ad vitam : bonam
B. Quo ad functionam : dubia
C. Quo ad sanasionam : dubia

XII. RENCANA PENATALAKSANAAN


A. Psikofarmaka
1. Haloperidol dapat diberikan dengan dosis 0,1-0,2 mg/kgBB, untuk
dewasa rentang dosis yang dapat diberikan 5-15 mg secara oral,
maka bagi penderita dapat diberikan sekitar 1,5 mg secara oral.
Untuk sediaan dalam 1tablet = 1,5 mg dengan onset kerja obat
berkisar sekitar 12 jam, maka penderita dapat diberikan 2 x 1tab
1,5 mg per hari. Untuk fase maintenance nya bisa diberikan injeksi
Haldol decanoas sebanyak 1 ampul (50 mg) secara im per 2 minggu
sekali untuk mengurangi kejenuhan pasien makan obat.
2. Lorazepam dosis rata-rata perhari adalah 2-3 mg didalam dosis
terbagi. Sediaan tab. 0.5 mg dan 1 mg dalam bentuk tablet. Dosis
maksimal perhari berkisar antara 3-10 mg dalam dosis terbagi
tergantung tingkat kecemasan. Pada penderita diberikan dosis
terkecil terlebih dahulu yaitu: 1x1 tab, per tab 1 mg.
3. THP dosis rata-rata perhari terbagi dalam 2-3 kali sehari. Pada
penderita diberikan dosis 2x2 perhari, 1 tab 2 mg.

B. Psikoterapi
1. Terhadap penderita
a. Memberikan edukasi terhadap penderita agar control teratur ke
rumah sakit.
b. Intervensi langsung dan dukungan untuk meningkatkan rasa
percaya diri individu, perbaikan fungsi sosial, dan pencapaian
kualitas hidup yang baik.
c. Memotivasi penderita agar tidak merasa putus asa dan semangat
dalam menjalani hidup.
2. Terhadap keluarga
a. Menggunakan metode psiko-edukasi dengan menyampaikan
informasi kepada keluarga mengenai berbagai kemungkinan
penyebab penyakit, perjalanan penyakit, dan pengobatan yang
dapat dilakukan sehingga keluarga dapat memahami dan
menerima kondisi penderita serta membantu penderita dalam
hal minum obat serta kontrol secara teratur dan mengenali
gejala-gejala kekambuhan untuk segera dikonsultasikan kepada
dokter.
b. Memberikan pengertian kepada keluarga akan pentingnya peran
keluarga pada perjalanan penyakit dan proses penyembuhan
penyakit pada penderita.
BAB II
DISKUSI

Pada kondisi penderita ditemukan halusinasi auditorik serta waham curiga.


Selama wawancara psikiatri, terdapat kontak yang baik dari penderita, sikap
penderita tidak kooperatif, ekspresi wajah biasa, artikulasi kurang jelas, dan
volume suara datar, pandangan terhadap pemeriksa jika dipanggil dan diajak
berbicara. Terdapat riwayat episode psikotik pada masa lampau.
Pada penderita dipilih terapi menggunakan Haloperidol dengan dosis 0,02
mg/kgBB, dengan berat badan penderita sekitar 60 kg, maka bagi penderita
diberikan sekitar 3mg per oral terbagi dalam 2 waktu. Onset kerja obat berkisar
sekitar 12 jam, maka penderita diberikan 2 x 1 tab 1,5 mg per hari. Penderita
juga diberikan anti anxietas yaitu lorazepam, karena pasien tampak curiga dan
cemas yang tidak realistik serta sebagai efek sedasinya juga, diberikan dengan
dosis 1x1 tab mg perhari serta penderita diberikan THP untuk mengurangi efek
ekstra piramydal yang timbul dengan dosis 2x2 tab perhari.
Pada penderita ini juga diberikan terapi lain berupa psikoterapi. Dalam
perspektif dalam bahasa kata psikoterapi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa
dan hati. Sedangkan dalam bahasa Inggris bermakna pengobatan dan
penyembuhan. Sedangkan menurut bahasa Arab kata terapi sepadan dengan

yang berasal dari kata yang artinya penyembuhan.


Firman Allah SWT:

Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari


Tuhanmu dan penyembuh untuk penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (percaya dan yakin). (QS.
Yunus : 57)
Dalam hal ini diberikan edukasi terhadap penderita agar memahami
gangguannya lebih lanjut, cara pengobatan dan penanganannya, efek samping
yang dapat muncul, serta pentingnya kepatuhan dan keteraturan dalam minum
obat, akan tetapi saat melakukan edukasi penderita acuh tak acuh dengan apa yang
disampaikan.
Keluarga penderita juga diberikan terapi keluarga dalam bentuk psiko-
edukasi dengan menyampaikan informasi kepada keluarga mengenai berbagai
kemungkinan penyebab penyakit, perjalanan penyakit, dan pengobatan yang dapat
dilakukan sehingga keluarga dapat memahami dan menerima kondisi penderita
serta membantu penderita dalam hal minum obat serta kontrol secara teratur dan
mengenali gejala-gejala kekambuhan untuk segera dikonsultasikan kepada dokter.
Islam juga menganjurkan umatnya untuk berobat dan mendatangi dokter
spesialis. Hal ini tercermin dari nasihat Rasulullah kepada Saad bin Abi Waqash
ketika menderita sakit untuk mendatangkan seorang dokter Arab, yaitu Al-Harist
bin Kaldah. Nabi kemudian berkata kepada Saad bin Abi Waqash:
Sesunggunya engkau terkena penyakit, maka datangkanlah Al-Harist bin
Kaldah, saudara bani Tsaqif, karen adia sesungguhnya dokter yang pandai
memilih pengobatan (HR. Abu Daud).
Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam karena tidak ada riwayat
gangguan psikiatri dalam keluarga dan tidak ada gangguan premorbid. Bila
penderita taat menjalani terapi, adanya motivasi penderita untuk sembuh, serta
adanya dukungan dari keluarga yang cukup maka akan membantu perbaikan
penderita.
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. Diagnklienis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ III.


Jakarta : PT Nuh Jaya;2003.p.46-51.
2. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ke-3.Jakarta;
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. 2007.
3. Maslim R. Diagnklienis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ III.
Jakarta : PT Nuh Jaya;2003.p.46-51.
4. Sinaga BR. Skizofrenia dan diagnosis banding. Jakarta : FKUI;2007.p.42-
51.
5. Saddock,JB, Saddock AC. Kaplan and Saddocks Synopsis of Psychiatry :
Behavioral Sciences, Clinical Psychiatry. Edisi ke 10. 2007. Philadelphia
: Lippincott Williams & Wilkins.
6. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi ke-3.Jakarta;
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. 2007.