You are on page 1of 8

MITIGASI RISIKO PADA PROYEK PENGEMBANGAN PUBLIC-PRIVATE

PARTNERSHIPS (PPPs) INFRASTRUKTUR BANDAR UDARA DI INDONESIA

R.U. Latief, R. Arifuddin and M. Fadhli

Abstrak: Kapasitas pemerintah Indonesia untuk mengembangkan negara menjadi negara maju
pada tahun 2025 seperti yang dicanangkan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2015 (disingkat MP3EI) menghadapi banyak tantangan,
salah satunya adalah kemampuan finansial. Negara kepulauan seperti Indonesia perlu untuk
dihubungkan dengan infrastruktur yang baik, utamanya bandar udara, yang memerlukan biaya
yang sangat besar namun pemerintah belum sanggup untuk menanggungnya. Pemerintah muncul
dengan konsep untuk membentuk kerjasama dengan pihak swasta yang dikenal sebagai
Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Tujuan dari penelitian ini adalab untuk mengembangkan
mitigasi risiko pada pengembangan infrastruktur bandar udara dan diharapkan dapat menjadi
solusi bagi kesuksesan KPS di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan
data di beberapa bandar udara di Indonesia. Data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Data primer didasarkan pada survei lapangan sedangkan data sekunder didasarkan
pada kajian berbagai literatur mengenai kesuksesan penerapan KPS di Indonesia dan luar negeri.
Penemuan dan rekomendasi dari penelitian ini adalah respon risiko dan strategi untuk
menyelesaikan setiap resiko yang teridentifikasi.

Kata Kunci: Mitigasi Risiko, Respon Risiko, Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS)

1. Pendahuluan demografi, kekayaan sumber daya alam


Masterplan Percepatan dan Perluasan serta posisi geografis Indonesia.
Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-
2025 (disingkat MP3EI) adalah sebuah 1. Potensi Demografi
rencana ambisius oleh Pemerintah Indonesia Indonesia adalah negara dengan jumlah
untuk mempercepat Indonesia menjadi penduduk ke-4 terbesar di dunia. Penduduk
yang besar dengan daya beli yang terus
sebuah negara maju yang sejahtera dan
meningkat adalah pasar yang potensial,
makmur secara merata bagi semua sementara itu jumlah penduduk yang besar
rakyatnya. Melalui langkah MP3EI, dengan kualitas Sumber Daya Manusia
percepatan dan perluasan pembangunan (SDM) yang terus membaik adalah potensi
ekonomi akan menempatkan Indonesia daya saing yang luar biasa.
sebagai negara maju pada tahun 2025
dengan pendapatan per kapita yang berkisar 2. Sumber Daya Alam
antara USD 14.250-USD 15.500 dengan Indonesia adalah negara yang kaya dengan
nilai total perekonomian (PDB) berkisar potensi sumber daya alam, baik yang
antara USD 4,0-4,5 triliun. terbarukan (hasil bumi) maupun yang tidak
Percepatan dan perluasan pembangunan terbarukan (hasil tambang dan mineral).
ekonomi Indonesia didukung oleh potensi Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki
Indonesia harus dapat dikelola seoptimal
mungkin, dengan meningkatkan industri Masalah utama bagi pemerintah Indonesia
pengolahan yang memberikan nilai tambah untuk berinvestasi di infrastruktur negara
tinggi dan mengurangi ekspor bahan adalah kurangnya sumber daya keuangan .
mentah. Oleh karena itu , partisipasi sektor swasta -
baik asing maupun domestik - sangat
3. Letak Geografis diperlukan. Mekanisme pembiayaan melalui
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kerjasama sektor Pemerintah (public sector)
Indonesia memiliki wilayah dengan panjang dan sektor Swasta (private sector) disebut
mencapai 5.200 km dan lebar mencapai sebagai Public Private Partnerships
1.870 km. Lokasi geografisnya juga sangat (PPPs). Pendekatan dalam pelaksanaan
strategis (memiliki akses langsung ke pasar PPPs dalam pembiayaan proyek Bandar
terbesar di dunia) karena Indonesia dilewati udara saat ini telah banyak dilaksanakan di
oleh satu Sea Lane of Communication beberapa Negara. Di Indonesia sendiri, telah
(SLoC) , yaitu Selat Malaka, di mana jalur direncanakan pembangunan lima bandara
ini menempati peringkat pertama dalam greenfield atau bandara baru yang akan
jalur pelayaran kontainer global. dikerjasamakan dengan skema PPPs dalam
Walaupun potensi ini merupakan waktu dekat yaitu Bandara baru di wilayah
keunggulan Indonesia, namun keunggulan Jabodetabek, Bandara Yogyakarta yang
tersebut tidak akan terwujud dengan baru, Bandara baru di Bali Utara, Bandara
sendirinya. Sejumlah tantangan harus baru di Selatan Provinsi Banten, dan
dihadapi untuk merealisasikan keunggulan Bandara baru di Kertajati di wilayah Jawa
tersebut. Salah satu tantangan yang Barat.
menghambat perkembangan ekonomi dan Sampai saat ini belum ada pelaksanaan
sosial Indonesia adalah kurangnya kualitas PPPs Bandar udara yang berhasil di
dan kuantitas infrastruktur. Dalam edisi Indonesia dikarenakan masih tingginya
terbaru dari World Economic Forum, indeks risiko bagi pihak swasta. Mitigasi risiko
Daya Saing Global ( GCI , 2013-2014 ), wajib untuk dilakukan untuk mengurangi
Indonesia menempati urutan ke-61 dari 148 peluang terjadinya risiko ataupun dampak
negara dalam hal keadaan infrastruktur dari sebuah risiko.
Negara.
Kurangnya infrastruktur yang memadai 2. Proyek KPS Bandar Udara di
menyebabkan biaya logistik Indonesia Indonesia
meningkat tajam , sehingga mengurangi Bandar udara dapat didefinisikan sebagai
daya saing dan daya tarik iklim investasi di salah satu atau lebih runway dan fasilitas
negara itu . Menurut data yang diterbitkan yang melengkapi pesawat (taxiway, area
oleh Kamar Dagang Indonesia dan Industri ( apron) bersama dengan kesatuan terminal
Kadin Indonesia ) sekitar 17 persen dari dan fasilitas untuk menurunkan penumpang
total pengeluaran perusahaan di Indonesia dan kargo (Asian Development Bank,
diserap oleh biaya logistik . 2000). Operator bandar udara bertanggung
jawab langsung pada ketentuan dan
pemeliharaan pada insfrastruktur bandar (Flanagan dan Norman, 1993). Tindakan
udara, dan ketentuan utama pelayanan, yang dilakukan untuk mengurangi risiko
termasuk pencarian penumpang, dan yang muncul tersebut disebut tindakan
keamanan, kebakaran, kebersihan dan mitigasi/penanganan risiko (risk
pemeliharaan area terminal penumpang. mitigation). Risiko yang muncul kadang-
Infrastruktur utama bandar udara terdiri atas kadang tidak dapat dihilangkan sama sekali
terminal operasi, runway dan taxiway tetapi hanya dapat dikurangi sehingga akan
operations, fasilitas seperti; fasilitas teknik, timbul residual risk (sisa risiko).
kargo, fasilitas pemeliharaan pesawat, Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam
ARFF (Airport Rescue and Fire Fighting), menangani risiko, yaitu (Flanagan dan
bahan bakar, fasilitas logistik, administrasi, Norman, 1993) :
pelayanan lalu lintas pesawat, dan utilitas
utama (Dewey & Lebouf, PPP Pulkovo 1. Menahan Risiko (Risk Retention)
Airport, 2010). Operasi bandar udara Sikap untuk menahan risiko sangat erat
memperoleh pendapatan dari layanan kaitannya dengan keuntungan (gain) yang
pesawat, layanan armada, untuk menutupi terdapat dalam suatu risiko. Tindakan untuk
pelayanan utama dari ketentuan bandar menerima/menahan risiko ini karena
udara. Operator bandar udara juga dampak dari suatu kejadian yang merugikan
mendapatkan pendapatan dari aktivitas masih dapat diterima (acceptable).
pemasaran, pada biaya yang telah disepakati
dan sewa dari kontrak, sewa property dan 2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction)
layanan seperti parkir pesawat. Infrastruktur Mengurangi risiko dilakukan dengan
inilah yang menjadi acuan bagi mempelajari secara mendalam risiko itu
BAPPENAS untuk mengembangkan sektor sendiri, dan melakukan usaha-usaha
bandar udara dalam bentuk KPS. pencegahan pada sumber risiko atau
Pendapatan potensial yang paling utama mengkombinasikan usaha agar risiko yang
pada bandar udara sangat besar diperoleh diterima tidak terjadi secara simultan.
dari pernerbangan internasional yang Dengan melakukan tindakan ini kadang-
mengangkut penumpang dari dalam dan kadang masih ada risiko sisa (residual risk)
luar negeri. Proyeksi peningkatan jumlah yang perlu dilakukan penilaian
penumpang menjadi faktor utama dalam (assessment).
peningkatan pengembangan infrastruktur
bandar udara. 3. Memindahkan Risiko (Risk Transfer).
Sikap pemindahan risiko dilakukan dengan
3. Mitigasi Risiko cara mengasuransikan risiko yang dilakukan
Risk response adalah tanggapan atau reaksi dengan memberikan sebagian atau
terhadap risiko yang dilakukan oleh setiap seluruhnya kepada pihak lain. Usaha atau
orang atau perusahaan dalam pengambilan pekerjaan yang risikonya tinggi dipindahkan
keputusan, yang dipengaruhi oleh risk kepada pihak yang mempunyai kemampuan
attitude dari pengambil keputusan menangani dan mengendalikannya.
dengan PPP, infrastruktur bandara, serta
4. Menghindari Risiko (Risk Avoidance) alokasi risiko. Selain dari literatur buku,
Sikap menghindari risiko adalah cara penulis juga mencari data dari internet.
menghindari kerugian dengan menghindari
2. Pengumpulan Data Primer
aktivitas yang tingkat kerugiannya tinggi. Yaitu pengumpulan data dengan
Menghindari risiko dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan
melakukan penolakan. Salah satu contoh informasi dengan cara melakukan survei
penghindaran risiko pada proyek konstruksi, dengan penyebaran kuesioner di beberapa
adalah dengan memutuskan hubungan sektor pemerintah dan swasta yang
kontrak (breach of contract). berkaitan dengan variabel yang akan diteliti.

3. Pengumpulan Data Sekunder


4. Metode Penelitian Yaitu pengumpulan data yang dilakukan
Secara skematis metodologi dengan mempelajari berbagai jurnal dan
penelitian dapat dilihat pada diagram alir penelitian-penelitian yang telah dilakukan
(flowchart) sebagai berikut: terkait dengan proyek PPP infrastruktur
bandara.
Mulai
5. Hasil dan Pembahasan
Studi Literatur Pada penelitian ini, dilakukan penyebaran
kuesioner ke beberapa responden yang telah
Pengumpulan Data Sekunder ditentukan yang relevan dengan materi
penelitian ini. Berikut ini akan dijelaskan
perihal profil dari para responden
Pengumpulan Data Primer
berdasarkan tingkat pendidikan, jabatan di
instansi/lembaga, tipe instansi/lembaga, dan
Rekapitulasi Data pengalaman kerja di instansi.

Profil Responden
Analisa dan Pembahasan:
Alokasi Risiko PPP Tabel 1. Badan Usaha
Infrastruktur Bandara di Jenis Badan Usaha Frekuensi Persentasi
Indonesia Pemerintah 13 54,2%
Kesimpulan Swasta 11 45,8%
Total 24 100%
Selesai Sumber: Hasil Pengolahan Data
Diagram alir Penelitian
Berdasarkan penjelasan tabel di atas, dapat
Metode pengumpulan data yang digunakan dilihat tabel responden terdiri dari dua jenis
untuk menyelesaikan tugas akhir ini yaitu badan usaha, yaitu badan usaha pemerintah
sebagai berikut: dan badan usaha swasta. Mayoritas
responden bekerja di badan usaha
1. Studi Literatur pemerintah dengan presentase mencapai
Yaitu pengumpulan data dengan cara 54,2% atau sebanyak 13 responden dan 11
mencari bahan-bahan literatur yang terkait responden lainnya dengan prosentase
sebesar 45,8% bekerja di badan usaha prosentase sebesar 4,2% atau hanya satu
swasta. responden.
Tabel 2 Jabatan Tabel 4 Pengalaman Kerja
Jabatan Frekuensi Persentasi Pengalaman
Frekuensi Persentasi
Managing Kerja
3 12.5%
director < 5 tahun 6 25.0%
Section chief 4 16.7% 5-10 tahun 6 25.0%
Senior manager 12 50.0% 11-20 tahun 7 29.2%
Airport project > 20 tahun 5 20.8%
2 8.3%
advisor Total 24 100%
Senior admin 3 12.5% Sumber: Hasil Pengolahan Data
Total 24 100%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Berdasarkan penjelasan tabel di atas, dapat
terlihat lamanya pengalaman kerja para
Berdasarkan penjelasan tabel di atas, dapat responden mulai di bawah 5 tahun hingga di
dilihat mayoritas responden menjabat atas 20 tahun. Mayoritas responden
sebagai senior manager dengan prosentasi mempunyai pengalaman kerja 11-20 tahun
mencapai 50% atau sebanyak 12 responden, dengan prosentase mencapai 29,2% atau
selanjutnya 4 responden menjabat sebagai sebanyak 7 responden, selanjutnya masing-
section chief dengan prosentase sebesar masing 6 responden yang mempunyai
16,7%, sedangkan posisi managing director pengalaman kerja di bawah 5 tahun dan 5-
dan senior admin masing-masing sebanyak 10 tahun dengan prosentase sebesar 25%,
3 responden dengan prosentase sebesar serta minoritas responden mempunyai
12,5%, serta minoritas responden menjabat pengalaman kerja lebih dari 20 tahun
sebagai airport project advisor atau dengan prosentase sebesar 20,8% atau
sebanyak 2 responden. sebanyak 5 responden.

Tabel 3 Tingkat Pendidikan Model Mitigasi Risiko


Pendidikan Frekuensi Persentasi
Diploma 1 4.2% Keberadaan risiko-risiko akan memberikan
S1 10 41.7% pengaruh terhadap pengembangan proyek
S2 13 54.2% PPP infrastruktur bandara sehingga
Total 24 100% memerlukan adanya tindakan-tindakan
Sumber: Hasil Pengolahan Data mitigasi untuk mengurangi dampak yang
ditimbulkannya. Mitigasi risiko dapat
Berdasarkan penjelasan tabel di atas, dapat dilakukan dengan mengurangi risiko (risk
dilihat mayoritas responden memiliki reduction), menahan risiko (risk retention),
tingkat pendidikan hingga S2 dengan mengalihkan risiko (risk transfer) dan
prosentase mencapai 54,2% atau sebanyak menghindari risiko (risk avoidance).
13 responden, selanjutnya 10 responden Tindakan-tindakan mitigasi yang dilakukan
memiliki tingkat pendidikan sampai S1 dalam penelitian ini didapatkan dari hasil
dengan prosentase sebesar 41,7%, serta analisis, wawancara dengan pihak yang
minoritas para responden memiliki tingkat berkompeten (expert) dan dari penelitian-
pendidikan sampai diploma dengan penelitian sebelumnya.
Mitigasi Risiko
No Variabel Risiko Respon
Rekomendasi Strategi
Risiko

Sosialisasi aturan. Mengajak pemilik lahan untuk ikut


1 Pembebasan Lahan Retention
berinvestasi. Solusi penggantian tanah non tunai.

Pemerintah menyediakan konsep pengembangan bandar


Desain sisi udara dan udara yang jelas kepada swasta.
2 Retention
terminal Swasta menggunakan insinyur professional dan
berpengalaman dalam proses membuat desain.

Swasta menggunakan tenaga ahli peramalan trafik


penumpang untuk menentukan kapasitas bandar udara.
Kapasitas dan
3 Retention Pemerintah membuat master plan dan RTRW
perluasan bandara
pengembangan bandara dan mensosialisasikannya pada
proses tender proyek KPS.

Perubahan dalam Menggunakan tenaga ahli peramalan untuk


4 maskapai Reduction mengembangkan skenario pertumbuhan penumpang dan
penerbangan rute perjalanan

Swasta meningkatkan pelayanan dan promosi kepada


Persaingan bandar pengguna bandar udara
5 Retention
udara Pemerintah membuat regulasi mengenai jarak minimum
antar bandar udara

Pemerintah membuat regulasi mengenai teknis


6 Aliansi penerbangan Retention operasional aliansi maskapai penerbangan di dalam
bandar udara.

Perkiraan biaya Menggunakan tenaga professional dalam mengestimasi


7 Retention
modal biaya

Pemerintah sebagai regulator menetapkan standar


Budaya dan
minimum dari komposisi keahlian dalam konsosioneri .
8 komposisi Retention
Pemerintah mengawasi jalannya pelaksanaan proyek
konsosioneri
untuk memastikan kualitas.

Sinkronisasi aturan terhadap institusi yang terkait dengan


jalannya proyek. Pemerintah memberikan kompensasi
9 Pengaruh Institusi Reduction
kepada swasta apabila ada institusi yang mengganggu
jalannya proyek

Efek TOR untuk


10 Reduction Menyediakan dokumen TOR yang lengkap dan jelas
Privatisasi

Tata kelola Membangun infrastruktur manajemen seperti SOP


11 Retention
perusahaan sebagai acuan kerja bagi badan usaha
Hubungan dengan Sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan
12 Retention
pemerintah pusat pemerintah daerah

Kesinambungan
Membangun ikatan emosional terhadap semua
13 kepemimpinan Avoidance
stakeholder politik.
politik

Aktivisme politik Memilih proyek manager yang mengerti mengenai


14 Avoidance
lokal dinamika politik lokal.

Membangun kualitas pelayanan yang baik terhadap


penumpang dan maskapai penerbangan.
Pemerintah menyediakan jaminan apabila terjadi
15 Permintaan Retention
penurunan pendapatan yang diakibatkan oleh tingkat
permintaan yang berada dibawah tingkat yang telah
disepakati.

Pemerintah dan swasta menentukan skenario harga sesuai


16 Harga Retention
kemampuan konsumen dan jumlah investasi

Menggunakan estimator yang berkompeten dalam


memperhitungkan penyesuaian harga pada saat masa
17 Eskalasi harga Retention
inisiasi dan operasional akibat masa konsesi yang lama
(multi years)

18 Kepegawaian Retention Memberikan pelatihan reguler terhadap staff

Melakukan koordinasi reguler dengan pimpinan serikat


19 Serikat buruh Retention
buruh

Pihak swasta/badan usaha berkoordinasi dengan berbagai


Koordinasi dengan
20 Retention pihak yang terlibat di bandar udara seperti polisi,
agen pemerintah
imigrasi, dan bea cukai

Pemerintah memfasilitasi dan membina badan usaha


Klasifikasi dan
21 Retention dalam rangka mendapatkan perijinan dan klasifikasi
perizinan
internasional

Pembagian Membuat dan memilih bentuk kerjasama yang tepat


22 Retention
Pendapatan tentang pembagian pendapatan dan alokasi risiko

Pemerintah memberikan jaminan terhadap investor


Risiko politik dan
23 Retention apabila terjadi gangguan akibat keadaan politik dalam
risiko negara
negeri.

Risiko Enclave / Pemerintah membuat regulasi terhadap penguasaan


24 Retention
Sipil Militer bandara oleh militer
6. Kesimpulan Daftar Pustaka

Berdasarkan hasil analisis pengolahan data Adjisasmita, S. A. (2010). PPP Scheme in


serta pembahasan penelitian, maka dapat Airport, Jakarta.
disimpulkan: Asian Development Bank. (2000). Airport
1. Hasil penanganan respon risiko menurut and Air Traffic Control, ADB.
responden gabungan pemerintah dan Philippines.
swasta, yaitu memikul (retention) risiko Dewey and Lebouf (2006). PPP in Airport
dengan prosentase mencapai 52%, Infrastructure. University Press,
selanjutnya sebagian responden masing- Pulkovo.
masing memilih mengurangi (reduction) Craig, V. (2010). Risk and Due Diligence in
risiko dan menghindari (avoidance) Airport Privatization. Air Transport,
risiko dengan masing-masing prosentase Malaysia.
sebesar 22% dan 19%, serta minoritas Magagi, R. (2011). Increasing Trend
responden memilih untuk mengalihkan Towards Airport PPPs in Emerging
(transfer) risiko dengan prosentase Markets. IFCs Global Airport PPP
sebesar (7%). Seminar, Dubai.
2. Rekomendasi strategi mitigasi risiko Pemerintah Republik Indonesia. (2010).
terhadap empat risiko tertinggi diuraikan KPS dan Panduan Bagi Investor untuk
sebagai berikut: Investasi, Bappenas. Jakarta.
a. Pembebasan lahan: sosialisasi aturan, Rusdi, U. L., Pallu, S., Adisasmita, S. A.,
mengajak pemilik lahan untuk ikut Aly, S. H., Suyuti, A. (2014). Risk
berinvestasi, penggantian tanah non Response Preference on Public Private
tunai; Partnership (PPP) in Indonesia Airport
b. Kapasitas dan perluasan bandara: Infrastructure Development.
menggunakan tenaga ahli International Journal of Application or
peramalan trafik penumpang Innovation in Engineering and
untuk menetukan kapasitas Management (IJAIEM). Volume 3, pp
bandar udara, membuat master 120-124. Japan.
plan dan RTRW pengembangan Varkey, B. (2002) Public Private
bandar udara dan Partnership in Airport Development,
mensosialisasikannya pada proses Oxford University Press, New Delhi.
tender proyek KPS;
c. Desain sisi udara dan terminal:
pemerintah menyediakan konsep
pengembangan bandar udara yang
jelas kepada swasta, sektor swasta
menggunakan insinyur
professional dan berpengalaman
dalam proses membuat desain
d. Perkiraan biaya modal:
menggunakan tenaga profesional
dalam mengestimasi biaya.