You are on page 1of 2

Atas Nama Lingkungan Hidup, Lanjutkan Reklamasi Dan Pembangunan

17 Pulau Baru Teluk Jakarta


Penulis: Rakhmat S. D. Darmawan (081411131024)
Program Studi S-1 Ilmu & Teknologi Lingkungan 2014

Pro dan kontra kelanjutan proyek reklamasi terus mengalami gejolak dan beradu argumen

berdasarkan data yang sama kuat menambah dinamika permasalahan ini. Kabar terbaru saya

kutip dari Liputan 6 mengabarkan, memoratorium proyek reklamasi 17 teluk Jakarta dicabut

sehingga proyek dilanjutkan. Diketahui ekosistem teluk Jakarta telah mengalami kerusakan

parah. Penegasan saya dikuatkan dengan penelitian BPPT Sachomar dan Wahjono (2007),

menyatakan teluk jakarta mengalami pencemaran berat (indeks keanekaragaman zona D) dan

dikuatkan dengan peristiwa kematian ikan masal yang terjadi sering. Hal senada diungkapkan

dengan penelitian Emawati dkk (2015) ekosistem mengalami pencemaran logam berat seperti

timbal pada beberapa jenis kerang dengan kadar berlipat terhadap baku mutu. Terlebih lagi jika

hasil laut tersebut dikonsumsi malah akan menimbulkan masalah kesehatan dan membahayakan

konsumen. Berdasarkan uraian tersebut saya beranggapan ekosistem teluk Jakarta telah

mengalami kerusakan parah dan hendaknya dilakukan upaya perbaikan.

Reklamasi berasal dari kosa kata to reclaim yang artinya memperbaiki sesuatu yang

rusak. Sedangkan pengertiannya secara ilmiah dalam ranah ilmu teknik pantai, reklamasi adalah

suatu pekerjaan/usaha memanfaatkan kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna atau masih

kosong dan berair menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan. Reklamasi menjadi solusi

perbaikan ekosistem teluk Jakarta dan selakyaknya proyek tersebut dilanjutkan.

Emawati W. dkk. 2015. Analisis Timbal dalam Kerang Hijau, Kerang Bulu, dan Sedimen di
Teluk Jakarta. Sumedang: Universitas Pajajaran.
Sachoemar, S. I. dan Wahjono, H. D. 2007. Kondisi Pencemaran Lingkungan Perairan di Teluk
Jakarta. Peneliti BPPT. JAI Vol.3, No.1