You are on page 1of 2

PENDAHULUAN

Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dan menyerang bagian
tubuh manusia yang mengandung zat tanduk (keratin) misalnya stratum korneum pada
epidermis, rambut dan kuku. Penyakit ini disebabkan oleh golongan jamur dermatofita.
Dermatofita tersebut terbagi dalam 3 species yaitu microsporum, tricophyton dan
epidermophyton. Terdapat pembagian dermatofitosis berdasarkan lokasi, salah satunya
adalah tinea capitis.

Tinea capitis merupakan infeksi pada kulit kepala, folikel rambut dan sekitarnya yang
dominan menyerang anak usia prepubertas. Etiologinya adalah golongan Tricophyton dan
microsporum. Manifestasi klinisnya bervariasi dari ringan dengan ciri khas adanya
kerontokan rambut yang menyebabkan gambaran alopesia ringan hingga inflamasi luas
dengan plak berisi pustula dan alopesia yang luas. Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kausa, prevalensi dan gejala klinis dari tinea kapitis di berbagai negara yaitu
iklim, standar kehidupan, kepadatan penduduk, status imun dari tubuh manusia yang
terserang, hygiene, serta penggunaan agen antimikosis yang berbeda-beda.

Tinea capitis selalu membutuhkan terapi antifungal sistemik karena penggunaan


topikal tidak dapat melakukan penetrasi hingga bagian terdalam folikel rambut. Sejak akhir
tahun 1950-an griseofulvin merupakan gold standar untuk terapi sistemik TC. Obat
antifungal oral terbaru seperti terbinafine, itraconazole, ketokonazole dan fluconazole
membutuhkan durasi pengobatan yang lebih pendek dibandingkan griseofulvin.

Hingga saat ini infeksi jamur superficial masih umum ditemukan di seluruh dunia.
Pada penelitian yang dilakukan di National Skin Centre Singapura tahun 1999-2003
didapatkan 12.903 kasus mikosis superfisialis (Bertus, 2015). Iklim tropis di Indonesia
dengan suhu dan kelembaban tinggi membuat suasana yang baik untuk pertumbuhan jamur
sehingga diperkirakan insidens penyakit ini cukup tinggi. Usia, jenis kelamin, dan ras
merupakan faktor epidemiologi yang penting, di mana insidensi tinea kapitis antara tahun
2001 - 2006 dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Kulit dan Kelamin RSU Dr.
Soetomo sebesar 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak adalah anak-anak < 14 tahun
yaitu 93,33% anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%)
(Suyoso, 2012).

Oleh karena prevalensi tinea kapitis yang masih cukup banyak terutama di negara
berkembang seperti Indonesia, perlu ditegakkan diagnosis yang tepat dari penyakit ini
sehingga dapat segera diberikan penanganan yang tepat bagi penderita. Meskipun secara
umum prognosisnya baik, edukasi berkaitan dengan hygiene untuk mencegahnya tetap
penting guna menurunkan prevalensi penyakit akibat jamur terutama di negara tropis.
Definisi

Tinea Kapitis (Ringworm of the scalp and hair, tinea tonsurans, herpes tonsurans) adalah
infeksi dermatofit pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan spesies Microsporum dan
Trichophyton. Penyakitnya bervariasi dari kolonisasi subklinis non inflamasi berskuama
ringan sampai penyakit yang beradang ditandai dengan produksi lesi kemerahan berskuama
dan alopesia (kebotakan) yang mungkin menjadi beradang berat dengan pembentukan
erupsi kerion ulseratif dalam. Ini sering menyebabkan pembentukan keloid dan skar dengan
alopesia permanen. Bentuk keadaan klinis penyakit tergantung pada interaksi pejamu dan
jamur penyebab (Suyoso, 2012). Tidak seperti dermatofitosis lainnya yang tidak memiliki
predileksi umur, tinea capitis sering terjadi pada anak-anak dan hanya ditemukan sedikit
kasus pada orang dewasa terutama orang dewasa yang immunocompromised.

Etiologi