You are on page 1of 7

Anopheles

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Nyamuk Anopheles

Anopheles (nyamuk malaria) merupakan salah satu genus nyamuk. Terdapat 400 spesies
nyamuk Anopheles, namun hanya 30-40 menyebarkan malaria (contoh, merupakan "vektor")
secara alami. Anopheles gambiae adalah paling terkenal akibat peranannya sebagai penyebar
parasit malaria (contoh. Plasmodium falciparum) dalam kawasan endemik di Afrika, sedangkan
Anopheles sundaicus adalah penyebar malaria di Asia.

Anopheles juga merupakan vektor bagi cacing jantung anjing Dirofilaria immitis.

Subspesies
Anopheles beklemishevi
Anopheles coustani
Anopheles crypticus
Anopheles farauti
Anopheles forattinii
Anopheles funestus
Anopheles gambiae
Anopheles grabhamii
Anopheles hailarensis
Anopheles halophylus
Anopheles hyrcanus
Anopheles kosiensis
Anopheles maculipennis
Anopheles minimus
'Anopheles moucheti
Anopheles nili
Anopheles ovengensis
Anopheles pampanae
Anopheles peytoni
Anopheles quadrimaculatus
Anopheles rennellensis
Anopheles rivulorum
Anopheles triannulatus

Nyamuk
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Nyamuk adalah serangga tergolong dalam order Diptera; Nyamuk


genera termasuk Anopheles, Culex, Psorophora,
Ochlerotatus, Aedes, Sabethes, Wyeomyia, Culiseta, dan
Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35 genera
yang merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua
sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang;
antarspesies berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15
mm.

Dalam bahasa Inggris, nyamuk dikenal sebagai "Mosquito",


berasal dari sebuah kata dalam bahasa Spanyol atau bahasa Klasifikasi ilmiah
Portugis yang berarti lalat kecil. Penggunaan kata Mosquito
Alam: Hewan
bermula sejak tahun 1583. Di Britania Raya nyamuk dikenal
sebagai gnats. Filum: Arthropoda
Kelas: Serangga (Insecta)
Pada nyamuk betina, bagian mulutnya membentuk probosis Ordo: Diptera
panjang untuk menembus kulit mamalia (atau dalam sebagian Famili: Culicidae
kasus burung atau juga reptilia dan amfibi untuk menghisap
darah. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena diet
nyamuk terdiri dari madu dan jus buah, yang tidak mengandung protein, kebanyakan nyamuk
betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan. Nyamuk jantan
berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah.
Agak rumit nyamuk betina dari satu genus, Toxorhynchites, tidak pernah menghisap darah.
Larva nyamuk besar ini merupakan pemangsa jentik-jentik nyamuk yang lain.

Aedes
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
?Nyamuk aedes
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Diptera
Famili: Culicidae
Genus: Aedes
Spesies: A. aegypti, A.
albopoctus
Nama binomial
Aedes aegypti, Aedes
albopictus

Nyamuk Aedes merupakan sejenis nyamuk yang biasanya ditemui di kawasan tropis. Namanya
diperoleh dari perkataan Yunani ads, yang berarti "tidak menyenangkan", karena nyamuk ini
menyebarkan beberapa penyakit berbahaya seperti demam berdarah dan demam kuning. Ae.
albopictus merupakan spesies yang sering ditemui di Asia. Kakinya berbelang hitam putih. Ae.
aegypti juga terkenal sebagai penyebar dengue dan demam kuning.

Siklus hidup nyamuk aedes bermula dari telur hingga dewasa dan terjadi kira-kira satu minggu.

Ciri-ciri nyamuk aedes


1. Aedes biasa dikenal dengan belang hitam putih pada badan dan kakinya
2. Aedes biasanya menggigit pada awal pagi dan waktu senja
3. Aedes berkembang biak dalam air jernih yang ditampung, baik di dalam atau di luar
rumah

Tempat pembiakan nyamuk aedes


1. Dalam Rumah
1. Akuarium
2. Perangkap semut
3. Vas Bunga
4. Timba
5. Tempayan
6. Bak mandi
2. Luar Rumah
1. Tayar buruk
2. Tempurung kelapa
3. Botol/gelas pecah yang mengandung air
4. Saluran air hujan
5. Tempayan
6. Pohon Pisang
7. Pohon Keladi
8. parit yang tersekat

Pencegahan pembiakan nyamuk aedes


1. Ganti air dalam tempayan, vas-vas bunga, kolam mandi tiap-tiap minggu dan
bersihkanlah hingga bersih sebelum mengisi air yang baru
2. Buanglah air dari piring-piring alas vas bunga seminggu sekali dan gosok itu hingga
bersih untuk memusnahkan telur nyamuk
3. Tutup semua bekas menyimpan air dengan rapat untuk mencegah nyamuk daripada
bertelur
4. Bekas yang tidak digunakan hendaklah dikumpulkan dan dibuang ke dalam tong sampah
atau ditanam
5. Periksa saluran atap rumah seminggu sekali untuk membersihkan daun yang menghalangi
air mengalir
6. Masukkan garam sebanyak 2 sendok teh ke dalam perangkap semut untuk mencegah
pembiakan nyamuk
7. Peliharalah ikan seperti ikan gapi, papuyu di dalam tangki besar karena akan memakan
jentik-jentik.
8. Masukkan obat pembunuh jentik-jentik (menurut kadar yang betul) ke dalam semua
bekas penyimpanan air, tiga bulan sekali

Artikel bertopik serangga ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia
dengan mengembangkannya.

Aedes aegypti
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
?Aedes aegypti
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Diptera
Famili: Culicidae
Genus: Aedes
Upagenus: Stegomyia
Spesies: Ae. aegypti
Nama binomial
Aedes aegypti
(Linnaeus, 1762)

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit
demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning
(yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah
tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama
(primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa
dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali
dan mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran
penyakit demam berdarah.

Daftar isi
1 Ciri morfologi
2 Perilaku dan siklus hidup
3 Pengendalian vektor
4 Referensi
5 Pranala luar

Ciri morfologi
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam
kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian
punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan
yang menjadi ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya mudah rontok
atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna
nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi
yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki
perbedaan dalam hal ukuran nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan
terdapatnya rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati
dengan mata telanjang.

Perilaku dan siklus hidup


Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit
dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu
dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur.
Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga ataupun
tumbuhan. Jenis ini menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah.
Demam berdarah kerap menyerang anak-anak karena anak-anak cenderung duduk di dalam kelas
selama pagi hingga siang hari dan kaki mereka yang tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran
empuk nyamuk jenis ini.

Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan perilaku yang mengarah pada
peningkatan kompetensi vektor, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus
dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam mengisap darah, berulang kali menusukkan
proboscis nya, namun tidak berhasil mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu orang
ke orang lain. Akibatnya, risiko penularan virus menjadi semakin besar.

Di Indonesia, nyamuk A. aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana


terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis
ini bersifat urban, bertolak belakang dengan A. albopictus yang cenderung berada di daerah
hutan berpohon rimbun (sylvan areas).

Nyamuk A. aegypti, seperti halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih
secara individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain.
Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam
perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan
waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa di mana larva
memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar
dari pupa. Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari,
namun dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung.

Telur Aedes aegypti tahan kekeringan dan dapat bertahan hingga 1 bulan dalam keadaan kering.
Jika terendam air, telur kering dapat menetas menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat
membutuhkan air yang cukup untuk perkembangannya. Kondisi larva saat berkembang dapat
memengaruhi kondisi nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai contoh, populasi larva yang
melebihi ketersediaan makanan akan menghasilkan nyamuk dewasa yang cenderung lebih rakus
dalam mengisap darah. Sebaliknya, lingkungan yang kaya akan nutrisi menghasilkan nyamuk-
nyamuk.

Pengendalian vektor
Cara yang hingga saat ini masih dianggap paling tepat untuk mengendalikan penyebaran
penyakit demam berdarah adalah dengan mengendalikan populasi dan penyebaran vektor.
Program yang sering dikampanyekan di Indonesia adalah 3M, yaitu menguras, menutup, dan
mengubur.

Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva nyamuk yang berkembang di
dalam air dan tidak ada telur yang melekat pada dinding bak mandi.
Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke
tempat itu untuk bertelur.
Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan dijadikan tempat
nyamuk bertelur.

Beberapa cara alternatif pernah dicoba untuk mengendalikan vektor dengue ini, antara lain
mengintroduksi musuh alamiahnya yaitu larva nyamuk Toxorhyncites sp. Predator larva Aedes
sp. ini ternyata kurang efektif dalam mengurangi penyebaran virus dengue.

Sebuah penelitian melepas Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri lalat buah disebut Wolbachia.
Bakteri membuat nyamuk kurang mampu membawa virus demam berdarah sehingga membatasi
penularan demam berdarah jika meluas dalam populasi nyamuk. Pada prinsipnya Wolbachia
dapat menyebar secepat nyamuk jantan yang terinfeksi menghasilkan keturunan dengan
Wolbachia menginfeksi wanita.

Penggunaan insektisida yang berlebihan tidak dianjurkan, karena sifatnya yang tidak spesifik
sehingga akan membunuh berbagai jenis serangga lain yang bermanfaat secara ekologis.
Penggunaan insektisida juga akhirnya memunculkan masalah resistensi serangga sehingga
mempersulit penanganan di kemudian hari.

Referensi
Womack, M. 1993. The yellow fever mosquito, Aedes aegypti. Wing Beats, Vol. 5(4):4.
[1]