You are on page 1of 10

MAKALAH

TEORI SOSIAL ALBERT BANDURA

Dosen Pengampu : Ns. Innez Karunia M., M.Kep.

Disusun Oleh :

1. Aditya Arby (S16002)


2. Ina F (S16029)
3. Indarti (S16031)
4. Maya P (S16039)
5. Monita Sukma (S16041)
6. Novia Ambarwati (S16046)
7. Kirana Nandhito (S16035)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berkenaan dengan teori belajar sosial, menurut bandura, sejak masa kanak-kanaknya,
manusia sudah mempelajari berbagai tata cara berperilaku sedemikian rupa, sehingga ia
tidak canggung dan serbasalah menghadapi berbagai situasi dan persoalan. Namun berbeda
dari teori belajar sebelumnya, bandura mengatakan bahwa manusia tidak perlu mengalami
atau melakukan sesuatu terlebih dahulu, sebelum ia mempelajari sesuatu. Manusia dapat
belajar hanya dari mengamati atau meniru/ mengimitasi perilaku orang lain.

A. Tujuan
1. Untuk mengetahui biografi Albert Bandura
2. Untuk mengetahui konsep Behavorisme
3. Untuk mengetahui tujuan Albert Bandura

B. Rumusan masalah
1. Jelaskan Biografi Albert Bandura ?
2. Jelaskan sejarah Albert Bandura ?
3. Bagaimana Struktur Kepribadian menurut Albert Bandura ?
4. Bagaimana Dinamika Kepribadan menurut Albert Bandura ?
5. Bagaimana Perkembangan Kepribadian menurut Albert Bandura ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Albert Bandura

Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925, di Mundara, sebuah kota kecil di
Alberta, Kanada. Dia mendapatkan gelar B.A dari University of British Columbia pada tahun
1949, dan gelar Ph.D di psikologi dari University of Lowa tahun 1952. Bandura menikahi
Virginia Varns, dan mereka memiliki 2 orang anak. Dia adalah penulis atau editor dari enam
buku dan beberapa artikel. Tanda jasanya meliputi beberapa penghargaan ilmuwan
terkemuka, dan pemilihan untuk jabatan presiden the American Psychological Association
pada tahun 1974

B. Sejarah Albert Bandura


Aliran behaviorisme memandang bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh
lingkungan. Bagi Bandura, ada dua fenomena penting yang diabaikan oleh aliran
behaviorisme. Pertama, Bandura berpendapat manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah
lakunya sendiri, sehingga mereka bukan menjadi obyek pengaruh lingkungan. Sifat kausal
bukan hanya dimiliki oleh lingkungan, karena manusia dan lingkungan saling
mempengaruhi. Kedua, banyak aspek kepribadian melibatkan interaksi antar individu.
Teori belajar sosial dari Bandura, didasarkan pada konsep saling menentukan
(reciprocal determinism), tanpa penguatan (beyond reinforcement), dan pengaturan diri/
berfikir (self-regulation/ cognition).
Determinis resiprokal, pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam
bentuk interaksi timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan
lingkungan. Orang menentukan tingkah lakunya dengan mengontrol kekuatan lingkungan,
tapi juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu sendiri. Determinis resiprokal adalah konsep
yang penting dalam teori belajar sosial bandura, menjadi pijakan bandura dalam memahami
tingkah laku.
Tanpa reiforsemen, jika setiap unit respon sosial yang kompleks harus di pilih untuk
direinforse satu persatu, bisa jadi orang tidak akan belajar apapun. Reinforsemen penting
dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tetapi bukan satu-
satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar hanya dengan mengamati dan
mengulang apa yang dilihatnya.
Kognisi dan regulasi diri. Konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi
yang dapat mengatur diri sendiri, mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur
lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya
sendiri.
Asumsi dasar dari teori dan penelitian belajar sosial adalah sebagian besar tingkah laku
individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku
yang ditampilkan oleh individu-individu lain yang menjadi model.
Penelitian observasional yang paling terkenal dari bandura adalah penelitiannya ttg
pembentukan agresi pada anak2. dalam penelitiannya bandura dan kolega2nya menggunakan
sejumlah anak TK sbg subjek penelitian. Anak-anak tersebut kemudian dibagi dalam 4
kelompok, dan masing2 kelompok ditempatkan dalam ruangan yang terpisah serta diberi
pertunjukkan atau tontonan berupa film seorang dewasa yang sedang melakukan tindakan
agresif memukul sambil membentak-membantak ke arah sebuah boneka. Anak2 kelompk ke-
2 diberi tontonan berupa adegan perkelahian dalam film kartun. Pada keompk 3 diberi
tontonan berupa adegan dua orang dewasa yang sedang (pura-pura) berkelahi. Pada
kelompok 4 diberi tontonan berupa adegan seorang dewasa yang menghadapi sebuah boneka
dengan sikap tenang dan nonagresif. Beberapa lama kemudian, semua anak tersebut dibawa
kedalam sebuah ruangan yang berisi berbagai permainan, diantaranya boneka2, dan mereka
dibiarkan bermain bebas sambil secara diam-diam diamati oleh peneliti. Bandura menemukan
bahwa pada saat bermain itu, anak kelompk pertama, 2 dan 3 menunjukkna TL agresif. Dari 3
kelompk anak tersebut, yang paling agresif adalah kelompk 3, yaitu anak-anak yang telah
menyaksikan adegan perkelahian nyata, sedang anak-anak kelompk 4 menunjukkan sikap
tenang atau nonagresif,seperti TL model yg disaksikan oleh mereka.
Bandura dan kolega-koleganya menyimpulkan bahwa agresi dapat dipelajari dan
terbentuk pada individu hanya dengan meniru atau mencontoh agresi yang dilakukan oleh
individu lain atau oleh model yang diamatinya, bahkan meskipun hanya sepintas dan tanpa
penguatan. Penemuan bandura dan kolega-koleganya itu memiliki implikasi penting bagi
pemahaman pengaruh agresi yang tampil dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam
tontonan terhadap pembentukan agresi dikalangan individu pengamat atau penonton,
terutama yang masih kanak-kanak atau berusia muda.

C. Struktur Kepribadian
1. Sistem self (self system)
Self diakui sebagai unsur struktur kepribadian. Sistem self bukan unsur psikis yang
mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu ke struktur kognitif yang memberi pedoman
mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi dan pengaturan tingkah laku.
Pengaturan self tidak otomatis atau mengatur tingkah laku secara otonom, tetapi self menjadi
bagian dari sistem interaksi resiprokal.
2. Regulasi diri
Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dan dengan kemampuan itu mereka
memanipulasi lingkungan, sehingga terjadi perubahan lingkungan akibat kegiatan manusia.
Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dan proaktif dalam regulasi diri. Strategi
reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai startegi proaktif
menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. Seseorang memotivasi dan membimbing tingkah
lakunya sendiri melalui strategi proaktif, menciptakan keseimbangan, agar dapat
memobilisasikan kemampuan dan usahanya berdasarkan antisipasi apa saja yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan. Tiga proses yang dapat dipakai unutk melakukan pengaturan diri
yaitu: memanipulasi faktor eksternal, memonitor dan mengevaluasi tingkah laku internal.
Tingkah laku manusia adalah hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan faktor internal
itu.
a) Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, yaitu faktor eksternal
yang memberi standar untuk mengevaluasi tingkah laku. Faktor lingkungan berinteraksi
dengan pengaruh-pengaruh pribadi yang akan membentuk standar evaluasi diri seseorang.
Faktor yang kedua yaitu faktor eksternal yang mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk
penguatan (reinforcement).
b) Faktor Internal dalam Regulasi Diri
Faktor eksternal berhubungan dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri.
Tiga bentuk pengaruh internal menurut Bandura:
1. Observasi diri (self observation): dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan ,
kuantitas penampilan, orisinalitas tingkah laku diri. Apa yang diobservasi seseorang
tergantung kapada minat dan konsep dirinya.
2. Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgmental proses): yaitu melihat kesesuaian
tingkah laku dengan standar pribadi (bersumber dari pengalaman mengamati model),
membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tingkah laku orang lain,
menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performasi.
3. Reaksi-diri-afektif (self respon), berdasarkan pengamatan dan jugment, orang mengevalasi
diri sendiri positif atau negatif. Reaksi afektif bisa tidak muncul, karena fungsi kognitif
membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang
bermakna secara individual.

3. Efikasi Diri (Self Effication)


Bandura menyebutkan keyakinan atau harapan diri sebagai efikasi diri, dan harapan
hasilnya disebut ekspektasi hasil.
a) Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (Self effication-efficacy expectaion), adalah persepsi
diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu.
Berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan
yang diinginkan.
b) ekspektasi hasil (Outcome expectation), yaitu perkiraan bahwa tingkah laku yang
dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.
Efikasi disini adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau
buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan ketentuan. Efikasi
berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang
seharusnya dapat dicapai, sedangkan efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri.
Orang yang ekspektasi efikasinya tinggi (percaya bahwa dia dapat mengerjakan sesuai
dengan tuntutan situasi) dan harapan hasilnya realistik (memperkirakan hasil sesuai dengan
kemampuan diri), orang itu akan bekerja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai
selesai.
Sumber Efikasi Diri
Efikasi diri dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau
kombinasi 4 sumber, yaitu:
a) Pengalaman performansi (performance accomplishment)
adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Performansi masa lalu
menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya, prestasi masa lalu yang
baik meningkatkan ekspektasi efikasi, sedangkan yang gagal akan menurunkan
efikasi.
b) Pengalaman vikarius (vicarious experience)
Diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati
keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi menurun jika mengamati orang yang
kemampuanya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal.
c) Persuasi sosial (social persuation)
Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang
lain dapat mempengaruhi efikasi diri.
d) Keadaan emosi
Keadaan emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi efikasi diri. Namun
bisa terjadi peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi
diri.

Efikasi Diri Sebagai Prediktor Tingkah laku


Menurut Bandura, sumber pengontrol tingkah laku adalah hubungan timbal balik
antara lingkungan, tingkah laku, dan pribadi. Efikasi diri merupakan variabel pribadi yang
penting. Yang bila digabung dengan tujuan-tujuan spesifik spesifik dan pemahaman
mengenai prestasi, akan menentukan tingkah laku baru. Setiap individu mempunyai
efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda tergantung pada:
a) kemampuan yang dituntut oleh situasi yang berbeda itu.
b) kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi itu
c) keadaan fisiologis dan emosional (kelelahan, kecemasan, apatis, murung)
d) efikasi tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau
tidak responsif, akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku:
Efikasi Lingkungan Prediksi hasil tingkah laku
Tinggi Responsif Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya
Rendah Tidak responsif Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit
Tinngi Tidak responsif Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan
protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan
Rendah Responsif Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu

Efikasi Kolektif (collective efficacy)


Yaitu keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka secara bersama-sama dapat
menghasilkan perubahan sosial tertentu. Bandura berpendapat, orang berusaha
mengontrol kehidupan dirinya bukan hanya melalui efikasi diri individual, tetapi juga
melalui efikasi kolektif. Misalnya, dalam bidang kesehatan, orang memiliki efikasi diri
yang tinggi untuk berhenti merokok, tetapi mungkin memiliki efikasi kolektif yang
rendah dalam hal mengurangi polusi lingkungan, bahaya tempat kerja, dan penyakit
infeksi. Kedua efikasi ini kolektif bersama-sama saling melengkapi untuk mengubah gaya
hidup manusia.

D. Dinamika Kepribadian
Menurut bandura, motivasi adalah konsep kognitif yang mempunyai dua sumber,
gambaran hasil pada masa yang akan datang, dan harapan keberhasilan didasarkan pada
pengalaman antara menetapkan dan mencapai tujuan. Bandura setuju bahwa penguatan
menjadi penyebab belajar. Namun orang juga dapat belajar dengan beberapa reinforcement:
penguatan vikarius (vicarious reinforcement): mengamati orang lain yang mendapat
penguatan, membuat orang ikut puas dan berusaha belajar gigih agar menjadi seperti
orang itu.
Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement): orang terus menerus berbuat tanpa
mendapat penguatan, karena yakin akan mendapat penguatan yang sangat memuaskan
pada masa yang akan datang.
Tanpa penguatan (beyond reinforcement): belajar tanpa ada reinforsemen sama sekali.

Ekspentasi penguatan dapat dikembangkan dengan mengenali dampak dari tingkah


laku orang lain yang ada di lingkungan sosial, dan menghukum tingkah lakunya sendiri.
Orang mengembangkan standar pribadi berdasarkan standar sosial melalui interaksinya
dengan diganjar pada standar pencapaian yang rendah akan menjadi orang dewasa yang
murah dalam mengganjar diri sendiri dibanding anak yang mengamati model dengan standar
ganjaran tinggi.

E. Perkembangan kepribadian
1) Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura kebanyakan orang belajar terjadi tanpa reinforsemen yang nyata.
Dalam penelitiannya, ternyata orang dapat dapat mempelajari respon baru dengan melihat
respon orang lain, belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang yang dipelajari itu,
danmodel yang diamati juga tidak mendapat reinforsemen dari tingkah lakunya. Belajar
melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung.
Melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang sangat banyak, yang mungkin
diikuti dengan hubungan atau penguatan.
2) Peniruan (modelling)
Inti dari belajar melalui observasi adalah modelling. Peniruan atau meniru
sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modelling, karena modelling bukan
sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan orang model (orang lain), tetapi
modelling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati,
menggenaralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif.
3) Modelling tingkah laku baru
Melalui modelling orang dapat memperoleh tingkah laku baru. Stimulus berbentuk
tingkah laku model ditransformasi menjadi gambaran mental, dan yang lebih penting lagi
ditransformasi menjadi simbol verbal yang dapat diingat kembali suatu saat nanti.
4) Modelling mengubah tingkah laku lama
Pertama, tingkah laku model yang diterima secara sosial dapat memperkuat respon
yang sudah dimiliki pengamat. Kedua, tingkah laku model yang tidak diterima secara
sosisl dapat memperkuat atau memperlemah pengamat untuk melakukan tingka laku yang
tidak diterima secara sosial. Tergantung apakah tingkah laku model itu diganjar atau
dihukum.
5) Modelling simbolik
Sebagian besar modelling tingkah laku berbentuk simbolk. Film dan televisi
menyajikan contoh tingkah laku yang tak terhitung yang mungkin mempengaruhi
pengamatnya. Sajian itu berpotensi sebagai sumber model tingkah laku.
6) Modelling kondisioning
Modelling ini banyak dipakai untuk mempelajari respon emosional. Pengamat
mengobservasi model tingkah laku emosional yang mendapat penguatan.
KESIMPULAN

Bandura menyatakan ada dua fenomena perilaku individu yang dipengaruhi oleh
lingkungan. Pertama, Bandura berpendapat manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah
lakunya sendiri, sehingga mereka bukan menjadi obyek pengaruh lingkungan. Sifat kausal
bukan hanya dimiliki oleh lingkungan, karena manusia dan lingkungan saling mempengaruhi.
Kedua, banyak aspek kepribadian melibatkan interaksi antar individu.Asumsi dasar dari teori
dan penelitian belajar sosial adalah sebagian besar tingkah laku individu diperoleh sebagai
hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh
individu-individu lain yang menjadi model.

1. Struktur kepribadian dari Bandura:


a) sistem self
b) regulasi diri, ada 3 proses:
memanipulasi faktor eksternal
memonitor tingkah laku internal
mengevaluasi tingkah laku internal
a) faktor eksternal dalam regulasi diri
b) faktor internal dalam regulasi diri, terdiri dari
self observation
judgmental process
self response.

2. Dinamika kepribadian
Bandura setuju bahwa penguatan menjadi penyebab belajar. Namun orang juga dapat belajar
dengan beberapa reinforcement:
penguatan vikarius (vicarious reinforcement)
Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement)
Tanpa penguatan (beyond reinforcement):
DAFTAR PUSTAKA

Arie Asnaldi, 2005. Teori Teori Belajar

Bell Gredler, E.Margaret.1991.Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV.Rajawali

John W. Satrock, 2007.Psikologi Pendidikan, edisi kedua.PT. Kencana Media


Group.Jakarta

Mukminan.1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta:P3G IKIP

Prasetya Irawan,dkk.1997. Teori Belajar. Dirjen Dikti : Jakarta