1

SINYO SIPIT

Basuki Soejatmiko

Diterbitkan pertama kali dalam
bentuk ebook: November 2017

Diketik ulang oleh: Adam Huri

Penerbit: Rama Press Institute
Surabaya

Sumber gambar cover dari ilustrasi di Jawa Pos
saat novel ini dimuat sebagai cerita bersambung.

2
Sebuah novel perjuangan

Novel ini ditulis oleh Basuki Soejatmiko dari tempat
istirahat di Prigen dan dimuat di Harian Jawa Pos
sebagai cerita bersambung mulai tanggal
29 Desember 1985 hingga 18 Maret 1986

3
Novel ini hanya fiktif, Meskipun demikian, data-data sejarah
yang diberikan tetap merupakan data sejarah yang diangkat dari
buku-buku sejarah yang bisa dipertanggung-jawabkan. Demikian
juga tentang kisah perjuangan anak muda yang bernama Sinyo
Sipit yang terlibat pertempuran di Surabaya. Bukan karena
kesadaran untuk membela tanah air, melainkan karena perasaan
bahwa sebagai pemuda-pemuda yang jadi sahabatnya. Motivasi
perjuangan di awal Kemerdekaan mungkin juga Cuma ini. Anak-
anak muda yang bertempur dengan celana pendek.

Novel ini cuma ingin mengetengahkan satu kehidupan
masyarakat Indonesia yang majemuk dari sisi yang lain. Dari sini
ini saja novel ini dipersembahkan kepada pembaca sekalian.

Basuki Soejatmiko, 1985

4
1

Singa batu sepasang di kanan kiri tangga masuk itu tampak
seram di kegelapan malam. Lampu beranda yang terang tidak sampai
pada singa-singaan batu itu. Hanya bayang-bayang terbentuk oleh
sinar lampu. Mereka semua jadi saksi yang bisu atas kerisauan
penghuni rumah besar itu.
Seperti lazimnya rumah orang Tionghoa kaya, lebih-lebih
yang punya pangkat seperti Mayor Phe Boen Gwan, rumah itu
beranda mukanya berpilar tiga. Tidak dengan gaya Romawi, tapi
angker dan kokoh dan berpintu masuk tiga. Lantainya dari marmer
abu-abu.
Menurut cerita marmer-marmer itu didatangkan khusus dari
Italia. Perjalanan panjang telah dilakukan untuk kemudian bisa
bersemayam di lantai rumah keluarga Phe. Ukurannya yang
semeteran ini memang ukuran yang umum untuk rumah-rumah di
Eropa. Tapi pada zaman itu, Cuma sedikit sekali rumah-rumah orang
kaya yang memakai marmer ukuran semeteran. Bukan saja harganya
mahal, tetapi juga kebanyakan hanya dipakai oleh perusahaan besar
milik pemodal Belanda.
Dekat pintu masuk, di tengah ada kaca rias tempat orang
menaruh topi atau mantel. Di atasnya tergantung kepala menjangan
yang sudah diawetkan. Tanduknya bercabang-cabang menunjukkan
usianya sedangkan matanya yang bundar melotot seolah protes atas
permainan manusia yang seenaknya mengawetkan kepalanya untuk
dijadikan hiasan dinding.
Budaya menggantungkan kepala menjangan ini sebenarnya
semula menjadi tradisi orang-orang Indo yang sok. Mereka yang
suka meniru kebiasaan berburu orang Belanda. Tetapi orang Belanda
dahulu berburu untuk sport, untuk melemaskan segala ketegangan
tubuh setelah beberapa hari bekerja keras. Orang Indo lain lagi.
Mereka berburu untuk status Untuk gengsi. Bahwa apa yang bisa

5
dilakukan oleh Belanda, mereka juga bisa. Tapi ini pun sebenarnya
tak boleh dianggap remeh. Banyak sekali adat istiadat Belanda yang
kita terimalewat ketrampilan golongan Indo. Lewat mereka orang
punya keberanian untuk meniru.
Golongan Tionghoa kemudian mengambil alih kegemaran
berburu ini. Karena kebanyakan dari mereka lebih punya duit
ketimbang orang Indo, peralatan mereka pun lebih modern. Ada
senjata yang bisa mengeluarkan seratus peluru sekaligus. Sekali
tembak hasilnya bukan Cuma seekor, tapi puluhan ekor. Berburu
kemudian bukan menjadi sport yang menarik untuk kesehatan seperti
awalnya diperkenalkan oleh bangsa Belanda, kemudian diteruskan
oleh kelompok Indo, tapi berburu sudah merupakan pembantaian
margasatwa yang paling biadab, atau kalau tidak, ia tak lebih Cuma
sebuah status!
Di dalam rumah, yang tampak angker meskipun ada nyala
lampu di beranda itu, sekarang terjadi pertengkaran yang hebat antara
Mayor Phe Boen Gwan dan istrinya.
“Aku heran mengapa Engko izinkan Hian Biaw bergabung
dengan orang-orang yang apa mereka sebut ... ? Pejuang ? Bah !
Pejuang !”
Mayor Phe hanya jalan hilir mudik. Laki-laki yang masih
setengah baya ini mendapatkan pangkat Mayor langsung dengan
surat dari Nederland, ditandatangani oleh Ratu Wilhelmina sendiri.
Usianya belum lima puluh. Tubuhnya atletis karena kegemarannya
bermain tenis. Ia sabar, meskipun punya pangkat tinggi di
kalangannya. Ia pun suka mengunjungi orang-orang miskin di
kampungnya, di belakang Jalan Kapasan. Ia juga sangat
mengutamakan pendidikan kaumnya dan aktif mengurus
perkumpulan. Sekarang ia duduk sebagai penasihat sebuah
perkumpulan pendidikan Tionghoa.
Kedudukan golongan Tionghoa memang unik dalam daerah
jajahan Belanda di Hindia Belanda ini. Meskipun mereka sekarang

6
kita kenal sebagai kelompok yang pernah mendapat berbagai fasilitas
dari Belanda, bahkan cenderung menjadi anak mas, tapi dalam
permulaan abad ini, keadaan tidak semulus sekarang. Persis dalam
peralihan abad sembilan belas ke abad dua puluh mereka mendirikan
sebuah organisasi yang mereka namakan Tionghoa Hwee Koan, yang
menekankan pergerakannya pada soal-soal pendidikan.
Sebenarnya Belanda agak terkecoh dengan pendirian yang
diperbolehkan hidup subur. Dalam realitanya, bahasa pengantar yang
dipakai adalah bahasa Tionghoa dan bahasa Inggri. Bahasa Belanda
sama sekali tidak diajarkan. Lulusan sekolah-sekolah Tionghoa Hwee
Koan ini kemudian banyak sekali yang melanjutkan studi mereka di
Singapura dan negeri leluhur mereka.
Pada tahapan berikutnya, organisasi yang mengatas namakan
pendidikan untuk masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda menjadi
pula pusat gerakan untuk menjadikan Tiongkok sebagai republik.
Tapi rupanya, Belanda tidak pernah mencium gejala-gejala dan
pemanfaatan gerakan yang berkedok pendidikan ini. Bahkan banyak
pula opsir-opsir Tionghoa yang dipilih oleh Belanda dengan satu
diantara sekian banyak alasan, pernah mengabdikan diri untuk
kepentingan pendidikan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda.
Meskipun tidak pernah duduk di sekolah Belanda, Mayor
Phe mampu bercakap dalam bahasa Belanda sama bagusnya dengan
tuan-tuan Belanda sendiri. Ini disebabkan karena istrinya yang
panggilan akrabnya Zus Elsje, adalah wanita lulusan HBS yang
kesepuluh. Waktu itu jarang anak perempuan yang bisa masuk HBS.
Tapi nona Elsje yang muncul dari kalangan Packard mampu
menempuh pendidikan tinggi di masa mudanya.
Kewarganegaraannya juga gelijk gesteld, disamakan dengan bangsa
Belanda. Zus Elsje inilah yang sekarang sedang berang pada
suaminya itu.
“Semua itu omong kosong! Mereka adalah perampok.
Ekstremis!”

7
Pengertian ekstremis ini konon, juga merupakan warisan dari
kelompok Indo yang mencap gerakan kepemudaan kita sebagai kaum
pemberontak dan perampok. Pokoknya siapa saja yang pro Republik
yang baru diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta dicap sebagai
ekstremis. Golongan yang ekstrem. Semestinya pengertian ini tidak
hanya berlaku pada bidang politik saja. Ekstremis yang bermula pada
kata ekstrem mempunyai pengertian segala sesuatu yang
berkelebihan dengan membabi buta. Tapi konotasi itu kemudian
dilekatkan jelek di atas pundak para pejuang kita di pihak lainnya,
para pejuang kita sendiri melekatkan sebutan tersebut sebagai sebutan
kebanggan atas gerakan mereka. Mereka justru bangga dengan
sebutan itu. Siapa yang pro Republik bangga dicap sebagai ekstremis.
Revolver di pinggang, rambut panjang, gondrong, kemudian jadi
mode.
Mayor Phe masih berjalan hilir-mudik. Ia tak sempat
memikirkan apa yang diomelkan istrinya. Yang jadi beban pikirannya
sekarang adalah surat Hian Biauw yang isinya menyatakan bahwa
ia sekarang sedang bergabungdengan Barisan Rakyat yang bertekad
mempertahankan Proklamasi 17 Agustus yang sudah dicetuskan oleh
Bung Karno di Jakarta. Hin Biauw, menurut pendapatnya, masih
terlalu muda. Usianya baru 17 tahun. Apa yang dapat dilakukan
seorang anak muda seusia itu untuk berjuang? Lagi ... apa yang mau
diperjuangkan? Proklamasi... Bukankah itu urusan Orang Jawa?
Bukankah itu urusan bung Karno?”.
Disinilah uniknya perjuangan mempertahankan
kemerdekaan di Indonesia. Dalam sejarahnya dikenal tentara dari
kesatuan pelajar. Baik yang dari sekolah Teknik maupun dari sekolah
yang setingkat dengan SMTA. Usia mereka dengan demikian masih
muda-muda.Celana panjang juga masih asing bagi mereka. Mereka
Cuma bercelana pendek. Dalam perjuangan juga celana pendek ini
yang mereka pakai. Dari sini juga kemudian timbul masalah,

8
bagaimana perjuangan ini bisa ditegakkan oleh anak-anak yang masih
ingusan. Bagaimana perjuangan suatu usaha menegakkan
kemerdekaan satu bangsa bisa dipercayakan kepada anak-anak
ingusan yang memegang senjata saja belum pernah mereka lakukan.
Apalagi membunuh dengan senjata. Selama ini yang mereka ketahui
untuk berkelahi adalah senjata tajam, rantai dan batu. Batu juga
mereka kenal untuk “menyawat” mangga orang.
Dengan demikian perjuangan ini tampaknya seperti main-
main. Dan apa hubungannya orang Tionghoa dengan sikap yang
semacam itu.Orang Tionghoa yang hampir ½ abad yang lalu sudah
pernah berjuang jauh merantau untuk menggulingkan pemerintah
kekaisaran yang korup dan mengganti dengan gerakan Republik.
Persis seperti beberapa abad yang lampau yang terjadi di Prancis.
Lantas apa kaitannya dengan orang-orang Tionghoa yang ada di
daratan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh anak-anak muda
itu tadi? Bukankah mereka orang-orang Tionghoa tak ada sangkut
pautnya dengan Proklamasi itu? Bukankah pemerintah Belanda
selama ini memberikan kecukupan hidup pada mereka? Mengapa
mereka harus membantu orang-orang Jawa memberontak dari
Belanda setelah Jepang jatuh? Tiba-tiba saja tersungging sebuah
senyuman di bibirnya. Dalam lubuk hati kecilnya ia setuju dengan
tindakan anaknya. Petualangan anak-anak muda!

9
2

Dalam masa penjajahan tempo doeloe masyarakat Tionghoa
terbagi ke dalam beberapa bagian. Yang pertama golongan Packard,
seperti yang disebutkan dalam novel ini bagian pertama adalah
golongan yang menempuh pendidikan Belanda yang juga disebut
sebagai Indo Chineezen atau Peranakan Tionghoa. Yang kedua,
kelompok yang juga dikenal sebagai kelompok Sin Po, dengan
mengambil nama sebuah mingguan dan harian yang terbit saat itu,
yang menjadi corong kelompok Tionghoa yang orientasinya 100
persen ke Tiongkok. Kelompok ini sering disebut kelompok totok
atau singkek. Kedua kelompok di atas meskipun sama-sama disebut
Tionghoa oleh kelompok mayoritas ternyata rekreasi seperti Selecta
(Batu-Malang) tahun 1938 terlarang untuk dimasuki anjing dan
orang Tionghoa, amarah kelompok pertama terhadap kelompok
kedua makin memuncak. Pengumuman pemerintah kolonial Belanda
itu berbunyi : Verboden voor honden en Chineezen. Ini gara-gara
kelompok kedua, totok itu sering meludah sembarangan. Sedangkan
kelompok kedua menuduh kelompok pertama sebagai Tjhauw Baba,
yang artinya, baba jelek. Kemudian dibalas oleh kelompok pertama
dengan nyanyian yang berbunyi :
o-thok... o-thok
bunyinya tekek
ada singkeh pakai
celana pendek
saban pagi kerjanya
gowek gowek
Dalam bidang kerja, kedua kelompok itu berbeda pula.
Kelompok yang pertama dididik untuk menjadi omnetar (bukan
pegawai negeri) tetapi pegawai perusahaan besar dan lain-lainnya.
Sedangkan kelompok yang kedua memang khusus dididik untuk

10
dagang. Masyarakat luas mencampur adukkan keduanya. Pokoknya
Tionghoa, pinter dagang. Padahal historisnya tidak demikian.-(pen).
Orang sering memandang satu lompatan jauh ke depan dari
manusia sebagai satu tindakan anak muda yang nakal. Perjuangan!
Bukan perjuangan anak-anak yang nakal. Perjuangan adalah hasil
kerja anak-anak muda yang punya ambisi dan berbakar semangatnya
untuk mempertahankan sesuatu yang berharga dalam hidup mereka,
yakni kemerdekaan. Sesuatu yang sudah lama tidak ada artinya lagi
dalam hidup mereka. Sekarang kemerdekaan punya arti banyak bagi
anak-anak muda yang masih bercelana pendek itu. Kemerdekaan
ternyata berhasil menyatu dalam cita-cita mereka. Mungkin juga
mereka tidak tahu apa isi Proklamasi yang harus mereka pertanggung
jawabkan dan mereka bela itu. Sesuatu yang mungkin masih abstrak
dalam pemikiran mereka, tapi sangat riil dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Ibaratnya seperti mereka harus pulang kalau habis
sekolah. Nampaknya kalau tidak pulang lantas mau kemana mereka.
Sama saja, kalau mereka tidak berjuang mau jadi apa mereka?
Tapi senyuman itu jarang terlihat oleh Nyonya Phe. Hatinya
geram dan makin geram. “Jadi Engko setuju anak kita bergabung
dengan perampok?”
Kata-kata itu menyadarkan Mayor Phe dari lamunannya. Ia
segera membalikkan wjahnya memandang istrinya.
“Ya,” jawabnya mantap.
“Maksud Engko?”
“Maksudnya, seperti biasanya kita sering memberi dorongan
pada anak-anak kita bahwa mereka harus berani melakukan segala
sesuatu yang mereka anggap benar... Kukira, anak kita sudah
melakukan apa yang menurutnya benar”.
Kelebihan orang Tionghoa dalam menelaah budaya
kehidupan di Hindia Belanda mungkin Cuma ini. Mereka sudah
terbiasa untuk berpikir secara rasional. Mengambil keputusan bukan

11
atas saran orang lain, melainkan karena mereka mempunyai
keyakinan bahwa apa yang bakal mereka putuskan itu berguna untuk
diri sendiri. Mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk
berpikir secara komunal, secara bersama. Yang mereka ingat cuma
satu : untuk diri sendiri. Dalam susunan tatanan kehidupan yang
sudah berjalan secara normal, sikap semacam ini tidak membuahkan
hasil yang negatif. Tapi dalam masyarakat yang masih terdiri dari
berbagai kemungkinan akibat stelsel yang begitu banyak macam dari
berbagai budayaitu memang bisa bersifat ambivalens. Artinya dari
segi mana kita mau melihatnya. Dari segi individu, tentu saja
menarik. Tapi dari segi keluarga? Terutama yang bertentangan
dengan pendapat orang yang dominan dalam keluarga itu. Bisa
condong dikatakan terlalu naif. Itulah sebabnya Nyonya Phe
kemudian menyahut :
“Lalu?”
“Apanya lagi sekarang yang harus kita bicarakan?
Hian Biauw sudah pergi dan hanya pamit lewat surat...”
“Engko masih ada kesempatan untuk memanggilnya pulang.
Ia bergabung dengan perampok-perampok yang bersarang di
Kawatan”.
Perjuangan kepemudaan di Surabaya memang membuahkan
nama-nama kesatuan yang satu sama lain berusaha mengangkat diri
ke permukaan dan berhasil. Misalnya saja kelompok dari Jagalan,
dari Kapas Krampung, semuanya terkenal. Juga Kawatan. Ia
mungkin Cuma sebuah nama yang lambat laun sesuai dengan
perjalanan sejarah akan terlupakan orang. Tapi seperti kata orang
bijak, arti sebuah nama dalam sejarah pertempuran bukan Cuma
dinyatakan sebanyak berapa orang yang meninggal akibat
pertempuran yang pernah dialaminya. Persoalannya, nama Kawatan
mungkin lekat di hati kita karena ia lekat dalam kehidupan kita.
Setiap saat ia hadir dalam kehidupan kita.

12
Banyak orang yang terlihat beringas memanggul senjata
tanpa pernah tahu bagaimana menarik picunya sehingga seringkali
juga terjadi korban yang konyol. Matinya beberapa orang karena
geranat tangan yang berhasil dirampas dari musuh, kemudian dibuka
pennya dan diketuk-ketukkan di bangku. Lantas meledak dengan
suara yang keras dan korban kemudian berjatuhan. Secara sia-sia,
tapi siapa yang salah. Semua itu terjadi di Kawatan !
Sudah barang tentu, bukan Cuma terjadi di Kawatan. Tapi
di tiap front pertempuran yang dipenuhi anak-anak remaja. Mereka
Cuma punya tekad dan semangat. Bahwa bertempur semula mereka
anggap enteng dan kematian adalah salah satu hal yang mulia.
Kesadaran itu kadang terlambat datangnya. Tapi kesadaran itu lambat
tapi pasti datang. Dari tokoh-tokoh yang kemudian tersisa, seribu
kisah bisa diceritakan. Dari seribu yang sudah tertinggal, seribu kisah
pula dapat diceritakan. Yang tertinggal selesai melaksanakan tugas
pengabdian. Yang tersisa masih penuh dengan koma, yang
lanjutannya bisa macam-macam.
Semuanya buyar ketika dengan suara yang agak keras
Nyonya Phe menyelidik,
“Darimana kau tahu anak kita ada di Kawatan?”
“Engko kira saya tidak tahu? Hmmm...”
Suasana hening sejenak.
“Engko harus bawa Hian Biauw pulang," ujar Nyonya Phe
seraya menarik lengan baju suaminya.
“Tidak”
“Jadi Engko setuju Biauw jadi perampok?”
“Siapa bilang anak kita jadi kelompok?”
“Apa yang mereka kerjakan? Membakar pabrik, membakar
rumah, merampok seluruh harta benda orang lain. Apa itu bukan
perampok namanya? Dan anak kita ada di dalamnya. Memalukan!”
“Aku tidak malu”

13
“Tidak?” Nyoya Phe hampir menjerit, “Lalu mengapa bukan
Engko sendiri yang jadi perampok? Mengapa Engko biarkan anak
kita terlibat di dalamnya”
“Revolusi, Mam. Revolusi... revolusi dimana pun sama saja.
Di Perancis pada waktu revolusi rajanya pun dipenggal kepala.
Disana juga ada perampokan, ada pembunuhan. Anak kita tidak
terlibat di dalamnya. Anak kita akan berjuang seperti yang ditulisnya
dalam suratnya”.
“Berjuang? Berjuang? Engko masih percaya pada kata-kata
itu? Negeri ini Belanda yang punya. Belanda pergi Cuma karena
kalah perang sama Jepang. Tapi Jepang sekarang sudah kalah dan
negrti ini harus kembali ke tangan Belanda. Kita akan hidup seperti
dulu lagi, tenang, tidak ada jam malam”.
“Mam, kau masih merindukan jaman itu?”
“Bukan merindukan! Itu harus terjadi. Negeri ini memang
Belanda yang punya. Apa lagi yang harus diperjuangkan ? Engko
katakan tadi diperjuangkan?”.
Hah, sebal saya mendengar sebutan itu. Dan Engko dengar
apa yang disiarkan radio? Siapa nama orang itu? Tomo... ? Hah, dia
berkoar-koar agar pemuda-pemuda mempertahankan tiap jengkal
kampung halamannya. Tapi apa yang terjadi? Rakyat berbondong
mengungsi dan anak kita yang harus mempertahankan. Tidak! Saya
tidak rela”.
Anggapan semacam ini sebenarnya bukan hanya milik dan
menjadi pandangan hidup kelompok Tionghoa saja. Nampaknya ini
sudah menjadi pendapat semua orang yang ingin suasana lama
kembali lagi. “Lamanya” penjajahan Jepang dengan segala tingkah
polanya yang tidak menentu menjadikan orang jenuh terhadap
kehidupan yang penuh dengan kekerasan. Orang nampaknya ingin
hidup adem ayem. Dan dalam alam pikiran mereka hidup yang serba
tenang hanya ada pada pemerintahan Belanda.

14
3

Karenanya mereka masih bernostalgia untuk kembali hidup
di masa dulu itu. Biarpun misalnya sebenarnya mereka menyadari
bahwa lebih dari Jepang, mereka telah dijajah Belanda selama 350
tahun. Ini khusus untuk Jawa. Tiga ratus lima puluh tahun bukan
kurun waktu yang pendek. Juga bukan penuh dengan alur-alur yang
bergelimang madu. Seringkali ada ratap tangis. Ada kerja rodi
misalnya. Ada Tanam Paksa. Tapi ada juga politik Ethies yang ingin
mempertinggi derajat bangsa di Hindia Belanda dengan pendidikan
yang memadai. Bukankah semuanya itu tidak ada hubungannya
dengan orang-orang Tionghoa. Bukankah itu hanya terjadi pada
bangsa Jawa?
Di kalangan keluarga yang kecil, suami istri, sudah terjadi
perbedaan paham mengenai masalah yang satu ini. Belum lagi
misalnya jika terjadi pada skala yang lebih besar, satu kampung
misalnya. Maka bisa ada macam-macam pendapat yang simpang
siur.
Dan dengan menarik nafas laki-laki yang disebut Ngko Phe
itu Cuma bisa berkata:
“Kita sekarang Cuma bisa berdoa”
“Engko harus bertindak. Engko harus pulang membawa anak
kita...”
Berbantahannya kedua suami istri itu tidak membawa
pemecahan persoalan. Nasi sudah menjadi bubur. Sikap Hian Biauw
meninggalkan orang tuanya bukanlah hal baru. Sejak lama, setelah
tidak masuk sekolah lagi karena HBS ditutup oleh Jepang, Hian
Biauw memang sering berkumpul dan bersahabat dengan seorang
pemuda Kawatan, Effendi. Effendi yang punya cita-cita setinggi
langit. Effendi yang pengagum Bung Karno. Effendi yang yakin
akan kemuliaan arti Proklamasi 17 Agustus. Effendi yang terbakar
semangatnya oleh pidato-pidato Bung Tomo.

15
Kehebatan orang-orang seperti Bung Tomo mungkin di sini.
Ia mampu membakar semangat anak-anak muda. Juga ketut Tantri
misalnya, wanita Amerika yang kemudian diambil anak pungut oleh
raja di Bali. Ikut terdampar di Surabaya, ketika Surabaya jadi lautan
api dan terjadi pertempuran di berbagai pelosok kota. Perempuan
yang satu ini sebenarnya yang patut menjadi penghargaan kita.
Karena dari luapan emosinya, lewat pembicaraannya di corong radio
perjuangan dalam bahasa asing, semangat perjuangan itu bisa
ditampilkan ke dunia internasional dalam wajahnya yang jernih. Tapi
Mayor Phe yang sudah mulai merasa diri tua ini tidak percaya seratus
persen, bahwa perjuangan yang meluap-meluap dari anak-anak muda
itu Cuma diilhami oleh semangatnya pidato Bung Tomo atau Ketut
Tantri.
Menurut pendapatnya, harus ada sesuatu yang serba misterius
yang menghinggapi anak-anak muda itu. Sesuatu yang mendesak,
yang meluap-luap yang ada dalam hati sanubari. Apakah dengan
demikian arti sebuah kemerdekaan itu punya ukuran tersendiri dalam
hidup manusia? Seperti misalnya mengapa baru pada abad-abad
keduapuluh bangsa Tionghoa mempunyai cita-cita untuk bangkit
kembali tak mau dijajah oleh bangsa Manchu? Mengapa beratus
tahun mereka rela dan tidak pernah mengambil sikap yang tegas?
Apakah perjuangan itu baru muncul karena tiba-tiba saja ada orang
yang bernama Sun Yat Sen, yang kemudian tampil sebagai pemimpin
dan mampu menggerakkan ratusan juta bangsa yang sebagian besar
hidupnya melarat itu? Juga di bumi ini, apakah hanya seorang
Soekarno mampu memompakan semangat untuk merdeka? Ternyata
ada kemisteriusan kalau orang berbicara tentang kemerdekaan dan
usaha-usaha untuk mempertahankan kemerdekaan.
Dengan diam-diam Mayor Phe serius memperhatikan kalau
kedua pemuda itu berbicara bisik-bisik di rumahnya, bicara tentang
revolusi dan proklamasi. Mayor Phe yang dilahirkan dari kalangan

16
orang berada, yang selama bertahun-tahun sebelum Jepang masuk
sering mengadakan aksimengumpulkan dana bagi peperangan di
Tiongkok melawan Jepang, dalam hati kecilnya setuju dengan apa
yang dibicarakan anak-anak muda itu. Ia tak pernah mengalami hidup
di negerinya yang lama berperang dengan Jepang itu. Tapi hidup di
Indonesia yang selama tiga setengah tahun berada dalam kekuasaan
Jepang sudah cukup baginya untuk merasakan betapa bangsanya
jadi bangsa yang terjajah seperti yang diutarakan Effendi kepada
anaknya : “Negeri ini, Biauw, sudah lama tidak punya nafas sendiri.
Apa yang dihembuskan selama ini adalah nafas Belanda dan Jepang.
Sekarang saatnya bagi kita untuk menghembuskan nafas kita sendiri
sebagai orang merdeka. Dan Effendi terbelalak matanya ketika suatu
hari Hian Biauw berseru : “Aku ikut berjuang bersamamu...”.
Kata-kata yang mengejutkan Effendi itu sempat juga
terdengar oleh telinga Mayor Phe yang selama ini suka secara
sembunyi-sembunyi mencuri dengan pembicaraan anaknya. Tidak
kalah rasa kagetnya dengan Effendi ketika ia mendengar omongan
anaknya itu tadi.Rasa ingin tahunya makin bertambah. Ia ingin tahu
bagaimana jawaban Effendi terhadap tekad anaknya. Beda dengan
istrinya, Mayor Phe lebih bisa mengerti aspirasi perjuangan bangsa
Indonesia. Diam-diam ia juga menjadi sponsor dan donatir
pergerakan Partai Tionghoa Indonesia dulu. Jadi sedikit tidaknya ia
bisa mengerti bahwa bangsa Indonesia memang sudah lama ingin
menjadi bangsa yang merdeka.
“Kau takkan mampu berjuang bersama kita, Biauw.
Perjuangan ini berat. Kita tidak punya apa-apa”.
“Mengapa kau berani berjuang kalau tak punya apa-apa”.
“Kita memang tak punya apa-apa. Tapi kita punya tekad.
Tekad untuk meraih kemerdekaan negeri ini... lalu kau... apa yang
harus kau perjuangkan? Negeri ini bukan negerimu. Kau orang
Tionghoa...”.

17
“Apa yang kau bisa aku juga bisa," ujar Hian Biauw mantap.
“Dalam urusan tembak-menembak kau takkan bisa
mengalahkan aku. Aku sering ikut ayahku berburu. Di sana, dalam
kegelapan malam aku menanti mangsa, mengincar dan sabar menanti
sampai buruanku muncul. Dan aku penembak ulung...," katanya
tanpa menyombongkan diri.
“Aku tahu...”.
“Lalu mengapa aku tidak pantas berjuang?”
“Habis untuk apa perjuanganmu? Apa yang mau kau
perjuangkan? Kau orang Tionghoa. Ini urusan orang Indonesia”.
Hian Biauw, dan juga Mayor Phe, termenung. Memang betul
apa yang dikatakan Effendi. Urusan perjuangan ini tidak ada sangkut-
pautnya dengan orang Tionghoa. Mereka sebagian sudah golongan
gelijk gestald. Mereka adalah Kaula Belanda. Perjuangan ini urusan
orang Indonesia.
Tapi bagi pemuda yang satu ini segalanya tampak tidak adil,
kalau teman-temannya sekolah ikut berjuang. Ikut memanggul
senjata, lalu ia sendiri ada di rumah. Buat apa. Ia yang beberapa
waktu yang lalu ikut menempeli gedung-gedung bekas dipergunakan
Jepang dengan selebaran: Milik Repoeblik Indonesia, sekarang ingin
berjuang lebih jauh. Ia ingin orang lain menjadi tahu, bahwa antara
dia sebagai manusia dan Effendi sebagai manusia tidaklah ada
bedanya. Atau Cuma diukur dari warna kulit. Karena Effendi kulitnya
agak hitam dan dia kuning. Cuma ini. Agak gila kalau persamaan
atau perbedaan mau diukur dari warna kulit. Pemuda yang satu ini
tidak pernah menyadari bahwa puluhan tahun satu budayadalam
kelompoknya sudah tertanam bahwa orang-orang seperti Effendi,
yang disebut sebagai orang Jawa, kelasnya setingkat di bawah
kelasnya sebagai orang Tionghoa. Ibunya mungkin akan mencibirkan
bibirnya kalau melihat ia akrab dengan pemuda Jawa, yang pada
pendirian orang-orang seperti ibunya Cuma pantas jadi jongos atau

18
kacung di rumah. Padahal orang yang menurut penilaian ibunya
Cuma pantas jadi kacung atau jongos di rumahnya, adalah pemuda
yang pandai di kelasnya. Tidak kalah dengan dirinya. Dan lagi,
menurut pemuda yang masih “hijau” ini, adalah satu keasyikan
tersendiri untuk berjuang. Nampaknya ia merasa, bahwa berjuang
adalah menjadi ciri khas seorang lelaki. Ia rela tidak berjuang, jika
misalnya saja, ia cacat, kakinya pengkor atau tangannya buntung
sehingga sulit buat menembak. Tapi ia normal, seperti teman-
temannya yang lain yang bergabung dengan pasukan yang ada di
Kawatan, karena di situ rumah Effendi berada. Pasukan itu
sebenarnya Cuma terdiri dari tujuh orang. Sama-sama bukan sekelas.
Nah yang lain boleh bergabung bagi siapa yang mau. Teman sekelas
memang ada dua puluh orang. Yang bergabung Cuma tujuh. Tapi
yang lain itu, bukan dilarang bergabung, tapi karena mereka memang
tidak mau bergabung. mengapa dilarang. Mengapa hanya dengan
alasan ia tionghoa. Ini yang ingin ditanyakan dengan tegas!
Tiba-tiba hening itu dipecahkan oleh suara Hian Biauw, “Jadi
karena aku Tionghoa lalu aku tidak boleh ikut berjuang?”
“Betul.”
Diam lagi. Sunyi. Dua sahabat itu sama-sama membisu.
Mayor Phe lebih-lebih ingin tahu kelanjutan pembicaraan itu. Ia
setuju pada Effendi karena perjuangan ini memang bukan urusan
orang Tionghoa. Tapi ia juga setuju dengan anaknya. Andai ia masih
muda. Ia juga akan ikut berjuang. Untuk apa? Ia tidak perduli.
Pokoknya berjuang dan berjuang adalah sama dengan berburu.
Memburu musuh sama dengan memburu kijang atau babi hutan.
Pasti mengasyikkan. Memang betul Effendi bukan apa-apa jika
dibandingkan dengan anaknya. Anaknya adalah jago tembak yang
jarang meleset. Effendi mungkin tidak pernah memegang bedil.
Mungkin ia sering meraba dinginnya keris pusaka.

19
4

Tapi mana ada perjuangan di zaman ini yang bisa
dimenangkan dengan keris? Harus dengan bedil!
Hari itu lewat tanpa ada keputusan Effendi apakah ia bersedia
menerima Hian Biauw ikut berjuang atau tidak. Sementara itu berita-
berita tentang berkecamuknya api peperangan di kota Surabaya sudah
semakin meluas. Di mana-mana Jepang dilucuti senjatanya. Suasana
makin tegang karena semua penduduk kampung sekarang membawa
senjata. Tak perduli apakah mereka bisa mempergunakan atau tidak.
Jepang ternyata memang mempunyai senjata banyak. Hasil rampasan
memang melebihi kebutuhan. Penduduk Surabaya tidak lebih dari
setengah juta jiwa dan terlihatlah penduduk kampung yang
pinggangnya dililiti granat yang bergayutan tanpa tahu bagaimana
menggunakannya. Mayorr Phe bahkan mendengar bahwa dalam
suatu pertempuran kecil-kecilan dengan pihak “musuh” pemuda-
pemuda itu banyak yang tewas karena lemparan granat mereka
sendiri. Granat yang mereka lemparkan tidak dibuka kuncinya.
Mereka sangka granat akan meletus kalau dilemparkan ke atas jatuh
di tanah. Granat ini kemudian oleh musuh dibuka kuncinya dan
dilemparkan kembali sehingga banyak korban berjatuhan. Sungguh
tragis. Betul kata Effendi. Mereka berjuang tanpa modal apa-apa.
Mereka hanya punya tekad dan semangat.
Perampokan di malam hari makin sering terjadi. Di saat
seperti itulah Hian Biauw pergi. Tak heran jika ibunya mengomel
tak keruan. Dan sasaran omelan itu adalah Mayor Phe. Ia jadi serba
salah. Selama ini ia hanyut dalam gelora muda anaknya dan kini ia
dihadapkan pada kenyataan pahit. Anaknya kini terlibat langsung
dan ia ditugasi istrinya untuk membawanya kembali. Mana mungkin
ia memenuhi kehendak istrinya? Bagaimana ia tahu dimana anaknya
sekarang berada? Tempat pejuang Surabaya selalu berpindah-pindah.
Ia memang sudah minta keterangan di markas Tegalsari dan Biliton.

20
Tapi siapa yang mau memberi keterangan tentang pasukan anaknya?
Bukankah orang Tionghoa termasuk dicurigai? Lebih-lebih ia
sebetulnya menyetujui kalimat terakhir anaknya: “Papa jangan
mencari biauw karena ini akan menyulitkan Papa kalau banyak
teman-teman Papa yang tidak menyetujui tindakan anak Papa ini.
Percayalah Biauw satu hari akan pulang. Kapan? Bisa sebulan. Bisa
setahun dan juga bisa bertahun-tahun...”. Seperti pada mimpi saja.
Isi surat itu ditulis oleh seorang pemuda Tionghoa. Ia telah
membulatkan tekadnya untuk berjuang, apapun resikonya. Resikonya
itu bukan Cuma mati. Tapi juga dicurigai oleh teman-temannya
sendiri. Mengapa ia sebagai orang Tionghoa ikut berjuang. Karena
tak lazim, ia memang bisa dicurigai. Tapi bukankah perjuangan itu
demikian? Selalu ada pihak yang dicurigai? Tapi nasib orang
Tionghoa mungkin akan demikian terus dalam negeri yang punya
banyak suku dan adat istiadat ini. Siapapun yang terlalu dekat dengan
penguasa akan selalu dicurigai oleh kelompoknya sendiri. Mampukah
Biauw, anaknya, menghadapi tantangan yang serba berat ini. Biauw
anak ingusan yang belum tahu apa-apa. Yang mendengar
pertempuran saja baru bulan yang lalu, ketika gedung Kenpetai
diserbu pemuda-pemuda yang masih bercelana pendek dan
membawa bambu runcing. Apa perang itu dikira seperti main-main
waktu masih bocah? Apa peluru panas dianggap sebagai satu hal
yang omong kosong, kalau bisa dibilang mematikan. Semuanya ini
akan menjadi bahan renungan yang semestinya direnungkan dulu
oleh anaknya, sebelum ia terjun dan memutuskan segala sesuatunya
secara pasti. Tekad anak muda memang kadang-kadang tak
terkendalikan. Tapi itulah memang kehidupan anak-anak muda.
Lebih suka bertindak dulu, baru berpikir belakangan. Ia lupa bahwa
otak justru diletakkan Tuhan di bagian atas, bukan di bagian
belakang. Maksudnya sudah barang tentu, berpikirlah dahulu
sebelum bertindak.

21
Alangkah banyak sahabatnya yang mencemoohkannya kalau
mereka tahu anaknya ikut berontak. Kalau anaknya jadi ekstremis.
Semua sahabatnya percaya bahwa Belanda akan kembali memerintah
Pulau Jawa ini.
Mayor Phe kemudian mengenang kembali kehidupan anak
laki-laki satu-satunya ini. Seperti anak-anak Kapasan lainnya, lebih-
lebih karena tergolong anak orang kaya, Hian Biauw sejak kecil
sudah dilatih silat dengan mendatangkan guru ke rumah. Tapi selama
ini Mayor Phe melihat bahwa Hian Biauw sama sekali tidak berbakat.
Padahal silat Siuaw Lim harus dikuasai anak laki-laki di zaman itu.
Mengingat semuanya itu, Mayor Phe hanya bisa geleng-geleng
kepala. Anak yang begitu lentur kalau berlatih silat dan sakit-sakitan
pada masa kecilnya tiba-tiba saja masuk menjadi pejuang ... eh...
anggota ektremis, anggota Barisan Pemberontak, seperti mereka
sendiri menamakannya; Barisan Pemberontak Republik Indonesia.
Anak manis dari Kapasan jadi anggota pemberontak.
Alangkah lucunya! Dunia ini sudah terbalik. Padahal sekarang ini
buaya-buaya Kapasan semua justru bersembunyi kalau malam hari,
takut akan kedatangan kaum ekstremis kelompok yang sekarang
dimasuki anaknya. Anaknya yang dulu sakit-sakitan kini ditakuti
buaya Kapasan yang terkenal garang dan gagah berani. Mayor Phe
tersenyum sendiri. Hatinya mengembang bangga. Tak percuma jerih
payahnya membawa Hian Biauw berburu. Tak percuma ia dengan
tekun menyediakan waktu mengajar anaknya menembak. Mayor Phe
betul-betul lega sebagai ayah. Ia setuju pada pendapat bahwa
pahlawan-pahlawan tidak akan muncul dari kalangan anak muda
yang gagah berani, tapi justru dari anak-anak muda yang lugu. Tapi
apakah pengertiannya terhadap situasi ini dapat juga ditularkannya
pada istrinya? Apakah istrinya juga mau tahu bahwa apa yang
dikerjakan anaknya sekarang ini sekedar memenuhi jiwa
petualangannya sebagai anak muda? Bukankah istrinya hanya tahu

22
bahwa Hian Biauw adalah anak laki-laki mereka satu-satunya dan
bahwa Hian Biauw adalah anak mereka yang manis?
Tak adanya penyelesaian yang berlarut-larut dengan
suaminya membuat Nyonya Phe makin gelisah. Akhirnya ia
menyuruh Mbok Nah memanggil Giyo si tukang kebun yang sudah
bekerja pada keluarga itu selama puluhan tahun. Giyo terkejut
dipanggil oleh Nyah Besar malam-malam.
“Yoh... koen wero endi Sinyo sa’iki?” tanya Nyonya Phe
yang dari tadi berjalan hilir mudik di beranda depan kamarnya
menanti kedatangan Giyo.
“Nyuwun pangapunten, Nyah Besar, Kulo mboten sumerap,"
sahut Giyo yang masih belum hilang gugupnya.
“Sinyo sekarang ikut pemberontak, tahu. Sinyo sekarang jadi
rampok, jadi ekstremis..”
“Gusti allah... Sinyo... Nyah Besar?”
“Iya Sinyo... Siapa lagi?”
“Lalu... lalu.. Nyah Besar?”
“Aku mau minta tolong padamu Giyo. Besok kau tak perlu
bekerja di kebun. Besok kau cari Sinyo... sampai ketemu”
“Cari dimana, Nyah Besar?”
“Cari dimana saja sampai ketemu!” Nyonya Phe jengkel.
“Terus...”
“Berikan ini," kata Nyonya Phe sambil menyodorkan
sejumlah perhiasan yang sudah dibungkus rapi dalam kantong kain
sutera berwarna merah.
“Ini buat apa Nyah Besar?”
“Ini untuk Sinyo, tahu!”
“Untuk Sinyo.. lha carinya Sinyo dimana...?”
“Kalau aku tahu dimana Sinyo sekarang, aku takkan
menyuruhmu kemari Giyo. Kau jangan jadi orang goblok!”
“Terus ... kalau sudah ketemu Nyah Besar?” sahut Giyo yang
semakin ling-lung.

23
“Berikan ini. Bilang dariku. Dia jangan boleh merampok.
Kalau perlu uang untuk makan atau beli senjata ia boleh minta ke
sini. Mengerti, Yo?”
“Mengerti, Nyah Besar?” jawab Giyo menunduk. Dengan
gemetar ia meninggalkan tempat itu. Betapa banyak perhiasan yang
sekarang berada di tangannya. Itu semua harus diserahkan kepada
Sinyo Biauw yang ia sendiri tak tahu dimana harus menemuinya.
Ini mungkin juga bukan Cuma satu sikap unjuk diri yang
berkelebihan. Karena takut pada status yang sudah ada, bahwa orang
Tionghoa secara hukum berada dalam status yang lebih tinggi, dan
mungkin juga masih bermimpi tentang dunia Belanda seperti zaman
tempo doeloe. Karena itu juga sikap mereka terhadap perjuangan
bangsa initampaknya seperti masa bodoh. Seperti tidak mau ikut
campur. Padahal diam-diam, ada juga membantu dengan cara mereka
sendiri-sendiri. Memberikan obat-obatan yang diperlukan. Betapa
pun juga, para pejuang itu, baik yang bercelana pendek maupun
yang tidak adalah orang-orang yang mereka kenal dalam kehidupan
sehari-hari. Biarpun orang kemudian mencapmereka sebagai
ekstremis, mereka tetap tahu siapa pejuang-pejuang itu. Ternyata
pejuang-pejuang itu juga tidak sejelek yang dikatakan orang. Untuk
membantu mereka secara terang-terangan, mereka juga takut, karena
itu bisa membahayakan diri mereka sendiri. Belanda bisa mencap
mereka sebagai mata-mata Republik. Uniknya perjuangan bangsa
ditahun-tahun awal revolusi. Juga karena mereka sebenarnya kenal
dan tahu bagaimana sesungguhnya hidup di alam penjajahan itu.
Sangat menderita, seperti keluarga mereka dulu hidup di bawah
penjajahan Manchu. Yang laki-laki harus pakai kuncir rambut, tanda
bahwa mereka itu bangsa taklukkan. Apakah kemudian, sesudah
bangsa Tionghoa merdeka, mampu memproklamirkan diri sebagai
bangsa yang merdeka, lantas mereka harus berpaling pada kenyataan,
bahwa hak tiap manusia akan kemerdekaan itu sebenarnya sama.

24
Kemelut itu yang ada berupa satu benturan sikap budaya. Tapi
memang itulah bangsa tionghoa, atau peranakan Tionghoa.
Nampaknya pula, mereka harus menjadi belut, karena hidup dirantau
orang memang tidak gampang. Keras dan semuanya membutuhkan
ketabahan yang luar biasa.

25
5

Dasar Giyo orang lugu. Tak tahu di mana ia harus mencari
Sinyo Biauw, keesokan harinyaia bertanya kesana kemari sampai
akhirnya semua orang Kapasan tahu bahwa ia ditugasi untuk mencari
Sinyo Biauw untuk menyerahkan perhiasan dari ibunya. Berita itu
sampai juga ke telinga buaya-buaya Kapasan.
Malam harinya masyarakat kota Surabaya gempar. Ada mayat
tergeletak di Jalan Gembong. Itu mayat Giyo. Pada waktu diperiksa
polisi di tubuhnya sudah tidak ditemukan kantung berisi perhiasan
titipan Nyonya Phe.
Nyonya Phe tidak pernah tahu apakah perhiasan yang
dititipkannya pada Giyo sampai ke tangan anaknya atau tidak karena
sejak malam itu Giyo tidak pernah muncul lagi. Nyonya Phe juga
tidak pernah membicarakannya dengan suaminya. Di mulut ia tetap
mendamprat suaminya yang sekarang sudah jadi rampok .. jadi
ekstremis. Hanya dalam lubuk hatinya ia berdoa. Doa seorang ibu
buat anaknya. Setiap malam ia tidak pernah absen berdoayang selalu
diakhirinya dengan bisikan: “Mama selalu menunggumu pulang...
Biauw... pulanglah!”
Surabaya makin lengang. Makin banyak orang yang
mengungsi sejak tanggal 30 Oktober 1945 yang lalu. Cuma tinggal
pemuda-pemuda. Tapi di Jalan Kapasan masih banyak orang
Tionghoa yang tidak mengungsi. Mereka kebanyakan bekerja untuk
mengurusi tawanan yang lepas. Baik yang diselamatkan oleh dari
Jepang maupun yang dibawa oleh serdadu sekutu. Banyak kerja
untuk mereka yang tidak mengungsi dalam saat Surabaya seperti
sekarang ini. Sulit untuk memberikan vonis. Ada yang bilang dengan
sikap seperti ini orang Tionghoa telah memperlihatkan kerjasama
dengan pihak Belanda. Tapi orang Tionghoa sendiri bilang, bahwa
mereka bukan bekerja sama dengan Belanda tetapi dengan Sekutu.

26
Dan bahwa mengenai masalah tawanan perang adalah merupakan
sebagian dari usaha merealisasikan apa yang sudah diputuskan oleh
lembaga dunia yang disebut PBB.
Orang kemudian boleh saja mempunyai anggapan yang
berbeda. Tapi dalam situasi seperti yang terjadi pada tahun-tahun
itu, disaat ada kevakuman kepemimpinan, baik pemimpin Sekutu
maupun pemimpin Nasional, masing-masing orang memang
diharapkanbisa menata kehidupannya sendiri. Mengungsi adalah
salah satu cara menata diri untuk bisa melanjutkan perjuangan.
Bertahan tetap tinggal di Surabaya sambil membantu tugas Sekutu
juga merupakan salah satu upaya. Ukuran nilai yang hendak dipakai,
adalah ukuran nilai pada saat itu. Sejarah memang harus adil.
Alun-alun Contong sudah direbut. Belanda dengan pasti terus
merambat maju ke arah Selatan. Pemuda Kampung
mempertahankannya mati-matian. Sesuai dengan instruksi yang
dikumandangkan oleh Radio Perjuangan, tiap jengkal tanah
dipertahankan oleh Pemuda-pemuda. Dipertahankan dengan bedil-
bedil rampasan dari Jepang untuk melawan persenjataan mutakhir
Sekutu. Bedil itu pun tidak dapat dipergunakan dengan betul. Kalau
tidak bisa meletus ya dibuat memukul atau menusuk.
Sampai di White Away Belanda terpaksa bertahan dengan
banyak korban berjatuhan. Pemuda-pemudamenyerang dari Genteng
dan Praban. Mereka adalah murid-murid sekolah. Murid sekolah
lanjutan yang masih muda belia. Nyawa tak pernah mereka
perhitungkan. Mereka maju dan terus maju.
Jalan Praban banjir darah. Barisan tank Belanda yang baru
lolos dari barikade di Alun-alun Contong satu-satu mulai
menampakkan diri di perempatan White Away (sekarang Siola).
Sedangkan ekor barisanmasih harus berhadapandengan Barisan
Pantang Menyerah pemuda-pemuda Peneleh dan Jagalan yang
terkenal dengan julukan B-29, yang kemudian menyatu dengan

27
pemuda-pemuda yang ada di Genteng. Di sini Belanda harus
membayar mahal usahanya untuk menjajah kembali Indonesia.
Surabaya tidak seperti godirJakarta yang tak berdayaterhadap
penempatan hanya satu batalyon, Batalyion 10, yang amat ditakuti
masyarakat sekitarnya. Surabaya lain dan harus lain. Tiap jengkal
tanah yang berhasil dikuasai Belanda harus mereka bayar mahal.
Dalam situasi yang kacau balau, pertarungan yang tidak
menentu dari mana arahnya , ditambah dengan ribuan rakyat yang
mengungsi karena rumah mereka terbakar kena mortir Belanda, dua
sosok tubuh menyelinap dalam kegelapan malam. Dua sosok itu
pelan-pelan merayap ke arah perkemahan tentara Belanda yang
mencoba beristirahat total setelah pertempuran sengit sehari penuh,
dari pagi hari jam delapan sampai larut malam jam sepuluh. Seolah
kepayahan kedua belah pihak merupakan kesepakatan untuk saling
cease fire.
“Berapa granat yang kaubawa?” tanya sosok yang satu.
“Satu tas penuh, Kau?”
“Punyaku hilang. Tasku rupanya tersangkut kawat”.
“Gila! Nih...”.
Dalam kegelapan malam lima buah granat tangan beralih
dari satu sosok ke sosok yang lain.
“Kita berpencar sesudah ini”.
“Aku kira tak perlu. Kita kembali ke markas sama-sama.
Salah satu dari kita harus hidup”.
Gila kau! Dalam keadaan seperti ini kau masih bicara soal
hidup dan mati. Kita berjuang karena kita ingin hidup dan bukan
mau mati.”
“Sudahlah... Kita tunggu apa lagi?”
“Nanti dulu. Kita tunggu patroli itu lewat. Kau tahu persis
dimana letak persenjataan Belanda?”
Sosok tubuh yang lain diam membisu tak menyahut. Ia hanya
merasa bahwa pertempuran ini benar-benar gila. Berapa nyawa

28
dipertaruhkan tanpa tahu medan yang harus diserang. Yang mereka
terima hanyalah instruksi untuk memusnahkan perbekalan Belanda
dan mereka pun berangkat.
“”Yuk kita maju lebih dekat”.
“Jangan!”
“Kita harus maju lebih dekat. Kita harus pasti lebih dulu”.
Keduanya diam lagi. Masing-masing dengan pikirannya
sendiri. Mundur mereka sudah tak bisa lagi. Patroli Belanda makin
banyak yang hilir mudik. Derap sepatu lars mereka kedengaran
menggetarkan memecah kesunyian malam.
“Kita tak boleh sama-sama begini. Kalau satu kena semua
rencana gagal. Kita harus berpencar. Kau disini atau.. aku saja yang
pergi melintasi jalan menghancurkan tenda yang ada petromaksnya
itu”.
“Gila! Bisa tertembak nanti lho!”
“Kalau kau takut, kembali sana nyusu sama ibumu”.
“Kurang ajar! Kau kira hanya kau orang Jawa yang berani?”
“Terdengar suara lirih tertahan-tahan”.
“Sampai jumpa kawan. Kita jumpa lagi di markas!
MERDEKA!”
“MERDEKA....!”
Mereka memang mengucapkan MERDEKA. Saat itu Cuma
ada satu tekad. Membunuh musuh sebanyaknya. Tapi, dalam lintasan
khayal Effendi kemudian tersembul wajah ibunya, saudara-
saudaranya dan lambat sekali muncul wajah anaknya. Wajah yang
selama ini paling ditakuti. Ayahnya yang selalu bentrok dan selalu
tak setuju dengan perjuangannya yang dikatakannya membati-buta.
Ayahnya yang ambtenaar memang mempunyai keinginan lain.
Ayahnya ingin tempoe doeloe itu bisa kembali lagi. Seperti zaman
itu ia diharapkan bisa masuk pagi hari di kantor. Pulang sore hari
dan gaji sebulancukup untuk biaya hidup sebulan. Mungkin masih
ada sisa untuk ditabung.

29
Tidak seperti pada zaman Jepang. Semuanya terbatas.
Sebagai pegawai negeri tak ada sisa yang bisa ditabung. Oleh karena
itu tempoe doeloe sangat dirindukan. Ini bukan Cuma pendapat
ayahnya, tetapi juga pendapat teman-teman ayahnya. Lantas mengapa
orang tua yang punya semangat priyayi itu bisa punya anak yang
berjiwa macam seperti Effendi? Menyelinap lagi wajah ibunya.
Ibunya yang cantik yang selalu mendidiknya : “Kau tak boleh kalah
dengan anak-anak orang lain. Meski ayahmumendapat makan dari
gubernemen, kau tak boleh jadi priyayiyang sore-sore sudah tak
punya kerja. Kita mestinya bisa sama-sama kaya dengan cina-cina
itu. Tapi kita bagaimana bisa kaya, kalau sore-sore kita sudah duduk
santai dan mereka sampai nanti jauh malam masih tetap mengurusi
dagangan. Sampai larut malam, saat kita mungkin sudah
mengeluarkan air liur di bantal, mereka masih menghitung laba
sehari. Bagaimana kita mampu menyaingi mereka jika kita santai.
Kau harus jadi pemuda yang cekatan”.
Lantas satu hari ketika ia duduk di bawah kaki ibunya sambil
berkata: “Bu, tadi saya tidak masuk sekolah. Saya ikut menempeli
gedung-gedung milik Jepang dengan plakat: Milik Repoeblik
Indonesia.. Salahkan saya, Bu?” Si ibu mengangkat tubuh anaknya.
Katanya: “TidakNak. Kau tidak salah. Milik Repoeblik adalah sama
dengan milikmu. Berjuanglah. Doa ibu..”. Dan jadilah Effendi
kemudian aktivis.. dan dalam waktu beberapa minggu ia sudah punya
regu dari anak-anak Kawatan, tak kalah dengan anak-anak Jagalan.
Effendi jadi semacam legenda tentangkegagahan dan keberanian.
Tentang anak muda yang dapat restu orang tuanya, meski Cuma
ibunya. Anak-anak lain berjuang sendiri-sendiri, tanpa setahu orang
tuanya. Kalau mati benar-benar kuburannya tak bernama. Karena
mungkin saja namanya Karman, tapi ia mendaftardi kesatuan dengan
nama Gondo. Siapa yang tahu nama aslinya. Nama samaran dipakai
agar tak diketahui orang tuanya kalau ia ikut berjuang. Di kalangan

30
yang disebut Jawa, juga ada sikap priyayi yang masih merindukan
zaman doeloe. Dan jumlah itu banyak, amat banyaknya.
Bagi Hian Biauw, saat ini ia merasa bersatu benar dengan
apa yang disebut tanah air. Untuk meyakinkan diridia meraup
segenggam tanah, pasir. Menjatuhkan di atas kepalanya dan ia
tertawa. Inilah tanah airku, Indonesia. Lalu terbayang ketika ia kecil
masih berkuncir meskipun kuncir saat itu sudah dihapus.

31
6

Ayahnya pernah sesaat membiarkan kuncirnya tumbuh. Ia
merasa senang dengan kuncir itu. Tapi ibunya kemudian marah.
Kuncir adalah tanda kita budak. Sekarang kita adalah manusia
merdeka. Lelaki tak perlu lagi berkuncir. Begitu dulu ia pernah
mendengar ibunya memarahi ayahnya.
Ah, ibunya perempuan yang paling cantik di dunia ini. Tetapi
mengapa ibunya terlalu suka marah pada ayahnya. Bukankah
ayahnya seorang lelaki yang layak untuk dipuja kaum wanita. Lelaki
yang gagah. Lelaki yang selalu menepati janji dan lelaki yang suka
menolong. Tetapi mengapa ibu terlalu keras kepada ayah? Lebih-
lebih lagi, mengapa ayahanda begitu saja diperintah ibu. Bukankah
ayah sebenarnya seorang Mayoor der Chinesen? Bukankah ayah
kepala rumah tangga.
Dua sosok tubuh itu seolah menyusun strategi sendiri-sendiri.
Tapi tak lama kemudian terdengar ledakan. Udara menjadi terang
benderang. Dari kilatan cahaya api kelihatan kerangka sebuah truk
yang mengangkut bensin berdrum-drum terjilat lidah api yang
ganas.Pemandangan yang bukan main indahnya...
Lamunan itu buyar oleh suara ledakan berikutnya... disusul
oleh beberapa kali lagi ledakan yang menggemparkan bola api ke
angkasa yang tadinya begitu tenang dan kelam. Suara kepanikan
yang disebabkannya memberikan kesan seolah perbekalan Belanda
telah diledakkan oleh seluruh pemuda Surabaya dengan seluruh
mesiu yang mereka punyai. Siapa yang mengira bahwa
hanyaseorang.. satu orang saja yang membuat keberangan di ujung
Jalan Gemblongan di muka gedung White Away itu ?
Bukan hanya puluhan tetapi ratusan tentara Belanda gugur
dalam “pertempuran” semalam itu. Bau daging hangus merayap ke
atas lalu melebar dan tergelar di atas seluruh kota Surabaya. Dan

32
kota Surabaya yang belum berapa lama masih tertidursekarang
menyala marahdisertai jeritan dan erangan serdadu-serdadu yang
sekarat dalam api panggangan. Tapi “pertempuran” hebat itu tidak
pernah diberitakan oleh Belanda. Malu ? Bukan... Buat orang
Belanda malam itu hanyalah kerugian sebuah truk berisi bensin serta
sejumlah amunisi. Sedang yang terpanggang serdadu kulit putih.
Bukan Nica tapi Cakra!!!
Ironinya perjuangan itu kadang-kadang seperti ini. Yang kita
tuju ialah musuh. Yang ingin kita bunuh adalah Belanda. Tapi
Belanda juga punya taktik lain. Belanda yang membonceng Sekutu
tidak pernah berada dalam barisan yang paling depan. Dalam
sejarahnya menjajah Indonesia selama 350 tahun itu, Belanda juga
tidak pernah berada dalam barisan yang paling depan. Dalam Perang
Diponegoro, misalnya, yang dikerahkan juga kompeni yang asalnya
dari serdadu Mangkunegaran. Perang di Aceh, banyak juga kompeni
atau marsose dari Jawa. Waktu perang di Bali juga orang Jawa yang
dimajukan paling depan. Seolah sesama saudara dibiarkan saling
bunuh. Dua saudara itu dihadapkan sebagai musuh tanpa sebenarnya
ada dendam di antara keduanya. Hanya takdir yang mempertemukan
mereka sebagai musuh. Juga dalam pertempuran malam ini. Gelap
malam tak bisa membedakan, mana orang kulit putih mana orang
yang kulitnya coklat. Yang diketahui hanyalah, bahwa pihak sana
adalah kelompok Belanda. Sedangkan kelompok kita sebenarnya
sudah tercerai berai. Dua pemuda ini saja yang masih nekad. Bagi
mereka juga tak ada pengetahuan tentang mana yang Belanda dan
mana bangsa yang awak. Yang mereka tahu adalahdisana kubu
musuh. Kalau ada di antara kubu musuh bangsa awak, itu namanya
takdir peperangan. Siapapun tak bisa menduganya terlebih dahulu.
Karena sekuriti juga tak jalan atau belum ada waktu itu. Cakra,
kelompok dari Madura. Memang terkenal gagah berani dan ini
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Belanda. Jika mereka

33
melempem jangan harap mereka bisa berada dalam barisan ujung
tombak.
Mungkin saja, pertempuran dahsyat malam itu, yang
tampaknya merupakan paling heroik selama pertempuran yang
sporadis akhir-akhir, memang tidak diberitakan karena korban
banyaknya orang Cakra ini. Belanda mungkin takut dituding oleh
pihak pejuang sebagai pemenang dalam perang dunia keduasebab
masuk blok sekutu mempergunakan “orang sendiri” untuk
membantai orang Indonesia. Di lain pihak lagi, jika urusan ini sampai
tersiar keluar, bukan saja Belanda akan dituding, tapi Bangsa
Indonesia juga akan menjadi marah.
Malam kian larut, suasana menjadi hening. Kobaran api
mulai padam. Lalu lintas Praban masih sepi. Tapi Praban memang
sepi tiap malamnya, sesudah pelajar-pelajar pulang. Kota seakan
mati. Kecuali kadang-kadang terdengar aba-aba militer dari kejauhan.
Dari arah Alun-alun Contong. Belanda mundur lagi menyusun
strategi yang baru. Padahal pejuang-pejuang sudah lama
meninggalkan Wonokromo. Strategi disusun Belanda untuk
menghadapi satu kompi tentara ekstremis. Padahal yang satu kompi
itu sebenarnya dua orang saja, pemuda yang masih memakai celana
pendek untuk berjuang.
Sementara itu bagi republik sendiri, akibat “pertempuran”
malam itu terasakan besar dalam artian bahwa dunia internasional
sekarang lebih terbuka “hatinya” untuk menyadari bahwa usaha
kemerdekaan yang telah diproklamirkan Soekarno-Hatta, bukanlah
main-main. Ketut Tantri boleh dikatakan sangat berjasa dalam hal
ini. Tanpa kenal lelah ia menyiarkan hasil pertemuan itu. Ketut Tantri
sendiri tidak mengetahui, bahwa malam itu Cuma dua orang yang
bertempur. Semula Ketut beranggapan satu kompi anak-anak dari
Jagalan, B-29, yang bertempur sengit. Kadang disinilah informasi
sejarah yang keliru. Sering-kali para penyiar atau pengamat

34
peperangan tidak terjun sendiri ke lapangan, sehingga mereka
terpaksa harus mendapatkan sumberinformasi dari tangan kedua atau
ketiga. Juga Bung Tomo tidak tahu, bahwa yang bertempur malam
itu Cuma dua anak muda yang nekad dan bercelana pendek.
Jangankan Bung Tomo, yang saat itu sudah dalam perjalanan ke
Prigen. Belanda juga tidak tahu. Belanda Cuma tiba-tiba saja
mendengar ledakan dahsyat dan tewaslah beberapa anggota
tentaranya tanpa tahu siapa yang dihadapinya. Belanda seperti
menghadapi hantu. Tiba-tiba saja ledakan itu menghancurkan
segalanya. Belanda tampaknya seperti kalah total malam itu.
Kumandangnya pertempuran yang tampaknya mau
disembunyikan oleh Belanda itu menarik perhatian masyarakat.
Semua masyarakat yang masih tinggal di Surabaya mengetahuinya,
meskipun Belanda berusaha menyembunyikannya. Juga masyarakat
golongan Tionghoa di Kapasan dan sekitarnya yang tidak mengungsi.
Seperti misalnya tokoh muda masyarakat Tionghoa yang tinggal di
Kapasan, dekat rumah orang tua Hian Biauw, dekat rumah mayor
Tionghoa lainnya, Mayor Phe yang dikenal dengan nama Oen Tjhing
Tiauw.. anak muda ini tidak berpendidikan. Ia dulu Cuma seorang
penjaga toko yang tidak dikenal orang. Tapi kemudian ia mulai
belajar huruf latin dengan membaca koran Sin Po yang dibuat
bungkus di tokonya. Dari sana ini belajar melek huruf. Lantas
kemudian ia belajar menulis. Jadilah ia kemudian semacam
perwakilan surat kabar. Kerennya, jadi wartawan. Ia juga yang
pertama kali menghubungkan Jakarta-Surabaya. Dengan demikian
surat kabar Jakarta sudah bisa dibaca penduduk Surabaya Cuma
terlambat sehari saja. Satu kemajuan. Dan Pemuda Oen ini kemudian
merintis karirnya sebagai perwakilan distributor. Saat itulah dimulai
satu keagenansurat kabar yang profesional. Sampai saat Proklamasi,
pemuda Oen sudah dianggap sebagai seorang tokoh muda. Ia
menjabat sekretaris berbagai organisasi yang bernafaskan Tionghoa.

35
Juga ia mengarang sandiwara. Pertempuran itu juga direkam oleh
pemuda Oen. Tapi ia tak bertempur. Ia lebih suka membantu Sekutu
mengurusi tawanan perang. Bersama mayor Phe ia membantu sekutu.
Lewat pemuda Oen inilah Mayor Phe bisa menyadap
keterangan yang terperinci mengenai pertempuran di Surabaya.
Meskipun satu kota, tak semua kejadian dalam kota bisa direkam
seluruhnya. Seringkali bagian kota yang satu dengan lainnya terputus.
Sehingga untuk itu diperlukan kurir. Pemuda Oen yang sering
bertindak sebagai kurir. Kepada Pemuda Oen ini Mayor Phe berterus
terang bahwa anak nya ikut gerilya dan Pemuda Oen menyambutnya
dengan penuh hormat. Ia sering berdiskusi dengan Mayor Phe
mengenai situasi kota. Satu hari ia berkata :
“Kita harus menentukan sikap, mayor," katanya.
“Sikap apa”
“Sikap kepada siapa kita harus membantu”.
“Lantas kau sendiri, bagaimana pendapatmu”.
“Kita harus membantu perjuangan rakyat Indonesia”.
“Harus?" tanya Mayor Phe menyelidik.
“Ya”.
“Mengapa”.
“Kemerdekaan ini tampaknya sudah jadi mode dalam abad
keduapuluh ini.Setelah Jepang menyerah, maka akan bermunculan
negara-negara merdeka. Bukan Cuma Indonesia. Seluruh negara di
kawasan Asia Tenggara akan merdeka. Kita tidak akan bisa melawan
arus sejarah...”
Mayor Phe hanya bisa manggut-manggut. Ia “respek” pada
anak muda ini dan ia bersyukur bahwa ia bisa berkawan dengan
anak muda ini. Pemuda Oen kemudian mengajukan pertanyaan :
“Bagaimana dengan sikap Tiongkok?”
“Sikap Tiongkok yang bagaimana?”
“Sikap Tiongkok terhadap perjuangan rakyat Indonesia?”

36
“Mereka juga tahu bahwa Indonesia lewat Soekarno-Hatta
sudah memproklamirkan kemerdekaan”.
“Sudah tahu?”
“Ya, lewat rapat raksasa Ikada yang disiarkan luas ke seluruh
dunia...”
“Mayor tahu tentang rapat Ikada bulan September yang lalu?”
“Ya, disitulah sebenarnya nasib negara yang baru merdeka
itu diuji. Jika saat itu Soekarno tidak bisa mengendalikan massanya,
maka oengehargaan luar negeri tidak mungkin ada. Tapi saat itu,
Soekarno masih punya kharisma. Soekarno punya wibawa. Ia
memerintahkan massa pulang, dan massa lantas pulang. Jika tidak,
maka Ikada akan banjir darah. Jepang saat itu sudah siap
membantai...”.
“Benarkah itu?”
“Benar”.
“Lantas bagaimana sikap Tiongkok”.

37
7

“Tiongkok sebagai salah satu pimpinan dunia yang termasuk
Lima Besar memang menyadari bahwa hak asasi manusia merdeka
adalah hak asasi yang tidak dapat diganggu gugat. Tiongkok juga
menyadari, bahwa berhasilnya Soen Yat Sen menggulingkan
kekaisaran yang korup adalah sebagian berkat dana yang berhasil
dihimpun oleh golongan Tionghoa di Indonesia. Jadi Tiongkok tidak
bisa menghalangi kemerdekaan Indonesia. Misalnya dengan jalan
tidak mengakui. Tiongkok tidak punya alasan untuk itu”. Pemuda
Oen rasanya seperti tidak percaya. Betulkah Tiongkok sudah
mengakui Republik yang baru lahir ini?” Mayor Phe tampaknya
seperti bisa membaca alam pikiran pemuda yang duduk di
hadapannya ini. Ia kemudian bangkit dan mengambil sebuah surat
kabar yang sudah lusuh. Ia kemudian membalik dan memberikan
kepada Oen.
Terbaca di situ dengan huruf AMANAT PRESIDEN
KEPADA RAKYAT INDONESIA. Isinya :
Kita semua telah mengetahui, bahwa menurut kabar radio,
Pemerintah Republik Tiongkok telah mengakui hak Kemerdekaan
Indonesia. Pengakuan ini adalah satu hal yang amat penting sekali
buat negara kita di mata dunia. Pengakuan ini seolah-olah
mengusulkan dan mendorong negara lain di atas dunia ini mengakui
negara kita pula sebagai negara yang berhak duduk bersama-sama
dengan negara lain di atas dunia atas dasar duduk sama rendah,
berdiri sama tinggi. Saudara-saudara sekalian, inilah yang kita
maksudkan, Jasanya pemerintah Tiongkok dalam hal ini tidaklah
boleh kita lupakan dan memang juga akan tercatat dalam sejarah
perjuangan kita.
Berhubung dengan pentingnya hubungan yang baik dan
rapat antara Republik Indonesia dengan Republik Tiongkok, yang
dalam bebeapa hal memang banyak mempunyai persamaan, maka

38
dianjurkan supaya seluruh rakyat Indonesia akan beramah-tamah
dengan bangsa Tiongkok, baik di kota maupun di desa-desa.
Sekali-kali janganlah mengadakan perbuatan yang bisa
merusakkan perhubungan yang baik antara negara kita dengan
negara bangsa Tionghoa. Demikian pula kami menganjurkan
kepada penduduk Tionghoa di Indonesia supaya meneruskan
perhubungan yang baik dengan bangsa Indonesia itu. Inilah amanat
kami yang harus dijalankan dengan seikhlas-ikhlasnya.
Jakarta, 27 September 1945
Kami, Presiden Republik Indonesia
Soekarno

Habis membaca itu pemuda Oen tertegun. Ini angin baru
yang bisa meredakan segala kesalah pahaman yang tampaknya
sekarang makin hari makin berlarut. Dimana-mana orang mendengar,
bahwa pejuang-pejuang kita membakari pabrik-pabrik milik orang
Tionghoa. Orang Tionghoa beranggapan bahwa perbuatan tersebut
disengaja atas dasar rasialis.Artinya bangsa Indonesia memang tidak
senang dengan bangsa Tionghoa,. Karenanya orang Tionghoa
kemudian protes. Dan semua protes itu masuk lewat pemuda Oen,
karena ia sebagai sekretaris. Padahal siapapun tahu bahwa
pembakaran dan lain sebagainya itu adalah dalam rangka
perangsemesta. Perang gerilya. Pembumihangusan memang harus
dilakukan daripada jatuh ke tangan Belanda. Perang memang
meminta korban dan dalam hal ini, kali ini, yang jadi korban adalah
golongan Tionghoa. Isi amanat Presiden Soekarno ini sangat penting
dan harus diperbanyak. Menurut pemuda Oen, isi amanat ini bisa
meredakan semua kesalahpahaman.
“Bagaimana menurut pendapat Mayor," tanyanya.
“Sudah pasti ini masalah yang penting. Kita harus
menganjurkan golongan kita untuk membantu Republik ini . Bukan
karena anakku ikut bertempur. Tapi.... tapi, karena bangsa ini yang

39
sudah terjajah lama, memang punya hak untuk merdeka dan menata
hidup bangsanya sendiri...”
“Apakah mereka sudah siap?”
Mendengar jawaban itu Mayor teringat akan beberapa tahun
berselang. Ia pernah membaca tentang sengketa antara Soekarno
dan Hatta yang ingin mencerdaskan bangsanya merdeka sekarang
juga dan Bung Hatta yang ingin mencerdaskan bangsanya terlebih
dahulu. Waktu itu, ia diam-diam mengakui bahwa kedua pemimpin
itu sama-sama benarnya. Juga ketika Soekarno dan Hatta bekerja
sama dengan Jepang. Ia bisa memaklumi dan tidak mencap keduanya
sebagai kolaborator. Tak ada pilihan lain waktu itu. Bagi Soekarno
mungkin semuanya hanya taktik. Dan menurut Mayor Phejustru
disini letak kelihaian Soekarno. Ternyata dengan bekerja sama
dengan Jepang, Soekarno tidak kehilangan kharismanya. Ternyata
ia memang pemimpin yang sejati. Itu buktinya, dengan rapat raksasa
di Ikada.
Tapi Mayor Phe juga tidak tahu, bahwa malam itu, anaknya
telah jadi pahlawan!
Berkat Pemuda Oen harian Pewarta Surabaya memberitakan
tentang pertempuran di Surabaya secara netral. Pemimpinnya Baba
The Ping Oen yang dikenal sebagai wartawan yang emosional bisa
menjembatani situasi. Juga pemimpin redaksinya Tjiook See Tjioe
yang lebih dikenal dengan nama asam-garamnya. Pertempuran yang
sengit di Surabaya yang dianggap telah dilakukan perlawanan yang
gigih oleh pihakpejuang menyadarkan masyarakat Tionghoa bahwa
masa tempo doeloe takkan mungkin kembali lagi. Mereka harus
berani menghadapi realita bahwa kemerdekaan itu pasti langgeng
dan Belanda tak mungkin kembali berkuasa lagi. Semua orang
mengira bahwa pertempuran itu dilakukan oleh pejuang-pejuang
Indonesia melawan Belanda dan dimenangkan oleh kelompok
pejuang-pejuang.

40
“Mana Sinyo Sipit?” Tanya Effendi terengah-engah ketika
ia berhasil mencapai markas pejuang di Tegalsari. Tak ada jawaban
karena markas itu memang sudah hampir kosong. Semua pasukan
sudah bergerak mengungsi. Yang tertinggal adalah seorang pemuda
memanggul senapan yang entah bisa ditembakkannya atau tidak.
Wajah pemuda itu amat apatis.
“Bung, mana Sinyo Sipit?!” Effendi menggertaknya. Yang
digertak hanya tersadar satu dua detik, menggeleng dan kembali
memasuki dunia apatisnya. Effendi jadi geram. Ditariknya lengan
pemuda itu dan digoncang-goncangkannya. Ditariknya pemuda itu
untuk dipaksa lihat kepulan asap hitam dan langit yang membara di
sebelah utara.
“Kau lihat itu? Asap itu ? Belanda hancur di Praban oleh
serangan kami. Kami.. Kau dengar? Aku dan Sinyo Sipit. Simana ia
sekarang?!”
Yang ditanya tetap tenang. Dalam situasi perang memang
banyak orang yang lepas kontrol, tetapi banyak pula yang menjadi
apatis. Mereka itu adalah orang-orang yang masih hidup tetapi yang
sudah kehilangan orang tua, adik, kakak, istri dan semua orang yang
dikasihi. Yang tidak tahan ada yang selalu membentak dan marah-
marah kalau bertanya sedangkan yang lain ada yang tenggelam dalam
dunianya, tidak tanggap kalau ditanya. Effendi sudah hampir putus
asa ketika ia kemudian mendengar suara menggerutu: “Aku pun
baru sampai disini dan markas juga sudah kosong”.
“He.. Ternyata kau tidak bisu. Dari mana kau?”
“Dari markas di Den Bosco”
“Di mana Kusumo?”
“Masih bertahan disana”
Perlahan lengan baju dilepaskan Effendi. Kemarahannya
lenyap, energinya habis. Ia duduk mendeprok di tanah.. lemas.
“Ia pasti tak pulang untuk menyusu pada ibunya. Ia pasti
sedang mempertahankan nyawanya. Tapi dimana ? dimana ?”

41
Tak lama ia melamun. Seorang pemuda menarik lengannya
mengajaknya lari dari markas itu. Sebuah mortir meledak di belakang
markas. Belanda kalap oleh kekalahannya yang konyol di Praban
dan Gemblongan.
Di markas perjuangan satunya di Jalan Biliton adegan yang
sama terjadi. Sesosok tubuh yang penuh belepotan lumpur dengan
muka yang kotor terengah-engah bertanya pada orang pertama yang
dijumpainya: “Mana Effendi?”
Effendi nama yang banyak dikenal untuk saat itu.
Pejuang dari Kawatan ini dikenal paling berani menyusup
kubu musuh. Lagipula berita tentang keberhasilan pemuda Kawatan
menyerbu tempat peristirahatan Belanda malam itu sudah tersiar
luas. Effendi sudah menjadi pahlawan dalam semalam. Mereka yang
tidak kenal Effendi pun dapat berkisah tentang sedapnya tentang
kegagahberanian Effendi malam itu, seolah mereka menyaksikan
sendiri peristiwa itu. Seolah mereka hadir dan ikut membantu
Effendi. Tapi siapa yang tahu bahwa hanya dua pribadi yang
melakukannya?
“Kau Sinyo Sipit?” Tanya seorang yang tak dikenalnya.
“Betul. Tahu di mana Effendi?”
“Menurut laporan bukankah ia menyerbu bersamamu?”
“Tidak salah. Tapi kami berpisah disana. Kami berjanji
ketemu disini.”
“Tapi ia belum datang”
“Beberapa pemuda lewat dan menyapanya: “Merdeka
Bung!” Dengan suara lemas ia membalas, “Merdeka," lalu terduduk
lemas di anak tangga beranda rumah.
“Gila itu anak Jawa. Lari kemana dia?”
Ia teringat sahabatnya Effendi, pemuda paling nekad dalam
Pasukan Berani Mati arek-arek Kawatan yang terkenal sadis dalam
menghadapi Belanda. Ia juga teringat ketika beberapa bulan yang
lalu ia dikenalkan kepada komandannya, komandan Pasukan Berani

42
Mati arek-arek Kawatan, sebagai instruktur menembak. Si Effendi
inilah yang membuatnya akhirnya membuat tugas khusus di dalam
pasukan itu yaitu mendidik pemuda-pemuda kampung menggunakan
senjata hasil rampasan dari Jepang. Karena itulah arek-arek Kawatan
jadi pandai-pandai menggunakan senjata Jepang, dan karenanya
paling ditakuti Belanda. Bukan karena mereka mempunyai julukan
Pasukan Berani Mati, tetapi karena mereka betul-betul mahir
menggunakan senjata yang dipanggul. Tapi di antara sekian banyak
pemuda, ia perhatikan Effendilah yang paling mernarik perhatiannya.
Pemuda yang satu ini ternyata lebih sering membersihkan dan
menggosok kerisnya ketimbang senjatanya. Setiap malam Jumat ia
selalu mencari kembang melati untuk memandikan kerisnya.

43
8

Memang ada mitos di antara para pemuda bahwa yang
penting bagi mereka adalah memiliki ilmu kebal. Senjata apa saja
sih boleh, asal tubuh kebal.. Memang tidak mudah, menurut
pengalamannya, melatih pemuda-pemuda kampung untuk trampil
menguasai senjata. Pertama kali menghadapi mereka hampir saja
Sinyo Sipit celaka dikeroyok anak-anak kampung anggota pasukan
hanya karena ia membuang bambu runcing yang dikeramatkan. Pada
waktu itu Effendi sedang asyik memandikan kerisnya ketika ia
mendengar suara ribut-ribut dan melihat Sinyo Sipit dikelilingi
berberapa pasukan dengan mata beringas. Dengan sigap ia mendekat
dan menyeret Sinyo Sipit masuk.
“Kau gila! Kau bisa dibunuh oleh mereka. Apa masalahnya?”
“Entahlah. Aku baru saja mulai mau melatih, mereka tahu-
tahu melototi aku," sahutnya jengkel. Effendi jadi kehilangan akal.
Ia memanggil salah seorang pemuda masuk.
“Ada apa sebenarnya?” tanyanya tegas, “Kalau kalian tidak
mau dilatih instruktur kita ini, kapan lagi kalian bisa memakai bedil?”
“Kami tidak terima Bung Effendi, bambu runcing dibuang
oleh Cina ini!” Sahutnya sengit.
“Diam! Aku tak mau sekali lagi pelatih kita ini mendapat
sebutan seperti itu. Biar Cina ia adalah rekan kita. Ia berjuang buat
kita. Ayo, pergi!”
“Gila kau, Biauw! Jangan ceroboh, Biauw. Bambu runcing
itu barang keramat. Kau punya budaya leluhurmu demikianpun kami.
Kau harus menghormati budaya itu. Pahamilah mereka”.
“Effendi,” Keluhnya. “Apakah aku juga harus menjelaskan
padamu bahwa kita tidak bakal menang dalam perang jika kita
berbekal hanya bambu runcing. Kau toh...”

44
Belum selesai ucapannya Effendi cepat menyela, “Aku tahu.
Aku tahu kau benar. Tapi kau tidak tahu dari mana asal bambu
runcing itu”.
“Aku tahu Ef. Tapi itu kalau kita mau berangkat beradu silat
dan tidak untuk maju perang. Belanda bukan musuh perguruan yang
dengan jantan menunggu satu lawan satu. Belanda main dor dan
mereka datang menggunakan tank serta meriam”.
“Itulah aku dulu bilang perang ini bukan perangmu. Ada
banyak hal yang tidak atau belum bisa kaupahami. Lihat saja keris
ini. Kaukira aku percaya aku bisa menghadapi tentara Belanda
dengan keris ini. Tidak Biauw. Aku juga sadar bahwa itu tak
mungkin”.
“Lalu?”
“Tidak pernahkah kau punya rasa takut? Aku...," kata Effendi
sambil memukul-mukul dadanya, “Aku.. terus terang saja aku takut
menghadapi Belanda. Bulu kuduk ini berdiri semua kalau ingat siapa
yang kuhadapi dalam pertempuran”. Effendi terengah-engah sebelum
melanjutkan, “Belanda! Belanda, Biauw”
Suasana jadi hening. Masing-masing dicekam lamunannya
sendiri-sendiri. Hian Biauw teringat keluarganya. Ibunya
berpendidikan Belanda dan ayahnya orang “Pangkat”. Mereka sering
dapat tamu orang Belanda. Ia lalu paham bahwa Belanda tidaklah
begitu mengerikan baginya. Lain halnya dengan Effendi.
“Belanda sudah ratusan tahun menjadi tuan kita. Ayahku,
kakekku, dan kakek dari kakekku semua diperintah Belanda. Kini
tiba-tiba aku harus melawan mereka dalam peperangan. Orang yang
sudah terbiasa diperbudak kini menghadapi yang dipertuan. Kita
butuh kepercayaan pada diri sendiri. Kita butuh dorongan dan
semangat dan bukan senjata melulu...”
Keduanya diam lagi. Hian Biauw perlahan-lahan belajar
memahami cara berpikir sahabatnya. Pada mulanya memang ia

45
jengkel pada segala pemikiran-pemikiran irasional itu. Meskipun
usianya masih muda, Hian Biauw dari kecil sudah dididik untuk
memecahkan segala persoalan dengan rasionya. Pernah ia
menanyakan pada ibunya tentang dongeng pengasuhnya yang
mengatakan bahwa bisul akan keluar dari pantatnya kalau ia berani
duduk di atas bantal. Ibunya tertawa sambil bertanya, “Dan Biauw
percaya?”
Hian Biauw pada waktu itu membungkam. Ia percaya karena
pengasuhnya telah mengisahkan banyak bukti-bukti. Tetapi ia
membantah ibunya ia juga ragu-ragu.
“Biauw, duduk di atas bantal itu memang tidak pantas kau
lakukan. Bukankah bantal tempatnya di kepala? Tetapi tidak boleh
dilakukan tidak selalu berarti bakal menimbulkan penyakit atau
bencana. Bisul itu adalah peradangan dan peradangan pasti
disebabkan adanya bibit penyakit yang menyerang tempat itu. Kalau
bantal bisa menimbulkan bisul di pantat, pasti juga bisa menyebabkan
bisul di kepala. Biauw jangan mudah percaya pada dongeng yang
tidak masuk akal, ya...?” Hian Biauw tersenyum sendiri ketika ingat
ibunya. Dulu ia tak pernah mengira bahwa ia akan dapat merasa
kangen sekali pada ibunya. Lamunannya mendadak sirna oleh suaara
Effendi yang bersemangat: “Kau kira aku seratus persen setuju
dengan seruan Bung Tomo ‘Perjuangan setiap jengkal tanah
kampung halaman? Mau diperjuangkan dengan apa? Dengan apa?
Dengan bambu runcing melawan Belanda?”
Keduanya diam merenungkan kata-kata itu. Masing-masing
dengan pikirannya sendiri-sendiri. Hian Biau tidak pernah mengira
temannya ini bisa berpikir kritis. Ia tidak juga menyangka bahwa
apa yang diperlihatkannya selama ini dengan rajinnya memandikan
keris mempunyai latar belakang yang serumit itu. Effendi masih
terpesona oleh kata-katanya sendiri. Ia mengangguk-angguk.

46
“Tidak Biauw. Kemerdekaan ini memang harus kita
pertahankan. Tetapi orang yang kita ajak mempertahankan Tanah
Air ini adalah orang-orang lugu. Kau tahu... dulu mereka kira bedil
itu bisa meletus sendiri kalau diarahkan pada Belanda. Jadi mereka
bawa kemana-mana bedil rampasan Jepang itu dan sebagai gantinya
mereka jadi umpan empuk musuh. Mereka juga mengira granat akan
meletus sendiri kalau dilemparkan ke arah musuh. Lha apa tidak
seperti memberi musuh senjata untuk memusnahkan kita sendiri?”
Effendi berhenti sejenak. Ia memperhatikan kawannya.
Kadang ia merasakan satu perasaan aneh jika ia memandang Hian
Biauw. Kawannya ini boleh dikatakan aneh. Sejak awal ia sudah
bilang. Perang ini bukan perangnya. Sebagai orang Tionghoa ia tak
pernah mendapat perlakuan yang jelek dari Belanda. Ada hak-hak
istimewa yang diterimanya. Terutama sekarang setelah perang dunia
II selesai. Sekutu menang dan Tiongkok termasuk negara besar yang
diakui dunia. Ikut menandatangani piagam agung PBB dan jadi
kelompok lima besar. Punya hak veto di PBB. Bukankah itu satu
hal yang hebat? Jadi semestinya ia tak perlu ikut perang ini. Sekarang
beginilah jadinya. Kawan-kawannya banyak yang tidak senang
dengan kehadirannya. Betapapun di mata sahabat-sahabatnya, Hian
Biauw tetaplah orang Tionghoa yang harus dicurigai. Bukankah bisa
jadi ia mata-mata yang sengaja diselundupkan. Apalagi kalau mereka
tahu, bahwa Hian Biauw adalah anak Kapasan, anak seorang Mayor
Tionghoa yang kaya. Daerah Kapasan memang merupakan daerah
yang tidak disuka oleh pemuda-pemuda saat itu. Karena disana ada
kelompok yang dikenal dengan nama Buaya Kapasan, yang mau
menang sendiri dan bertindak sendiri.karena mereka merasa pintar
dalam ilmu silat. Apalagi si Pengkor, biarpun kakinya cacat, tapi ia
tetap jagoan dan sering mempermainkan anak perawan orang.
Kurang ajarnya, yang jadi korban selalu anak orang Jawa. Bertindak
demikiankarena mendapat bantuan dari tukang jaga malamnya orang

47
Madura. Satu hari hampir saja terjadi perkelahian massal antara
kelompok Buaya Kapasan dengan anak-anak muda dari Peneleh,
pusat pengajian yang terkenal saat itu. Sekali ini bukan si Pengkor
sendiri yang salah. Ia Cuma jadi mak jomblang seorang Tionghoa
kaya di Kapasan yang ingin mengambil sebagai nyai anak seorang
Haji di Peneleh. Tahun itu kira-kira tahun 1935. Masa resesi baru
saja selesai. Dunia perekonomian sudah mulai membaik. Tapi di
kalangan pribumi perekonomian itu masih tetap jelek terus. Di saat
Belanda berkuasa penuh, ituorang Tionghoa memang sering
mempergunakan harta dan pengawal-pengawalnya yang sering
disebut “cinteng” atau oleh pers Melayu disebut “begundal-
begundal” nya melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Namun harus
diakui, bahwa merebut perempuan lain yang kelihatannya cantik
bukan hanya terjadi terhadap orang Jawa untuk kemudian dijadikan
gundik atau nyai. Juga terhadap orang-orang Tionghoa sendiri
dilakukan hal yang sama. Mula-mula orangtuanya diberi pinjaman
duit. Nampaknya seperti mereka itu, golongan buaya-buaya Kapasan,
seperti orang yang baik dan dermawan. Tapi kalau kemudianterbukti
tidak bisa membayar, maka anaknya yang diminta. Kemudian anak
gadisnya itu dipelihara. Rumah kontrakan murah saat itu. Kalau
kemudian bosan, gadis Tionghoa itu bisa diperjualbelikan. Yang
paling fatal bagi perempuan-perempuan itu ialah, jika “tauke” sudah
tidak menyukai dan mereka kemudian dijual kepada germo di
Kembang Jepun yang dikelola oleh orang-orang Jepang. Menurut
orang tua-tua asal Kembang Jepun juga karena banyaknya pelacur-
pelacur Jepang di jalan itu. Padahal tidak semua pelacur berasal
dari Jepang. Kebanyakan orang Tionghoa atauorang Manado yang
kulitnya kuning dan diberi pakaian Jepang. Andil buaya-buaya
Kapasan banyak dalam menghidupsuburkan pelacuran ini.mereka
juga banyak mengambil keuntungan. Saat itu, ketika hampir terjadi
ledakan permusuhan antara orang Tionghoa dengan warga Kampung

48
Peneleh, semua orang kalau sore hari sudah menutup pintu. Tak ada
yang berani keluar kalau sendirian. Untungnya Belanda kemudian
ikut campur. Pimpinan kedua kelompok itu dipanggil.
Semuanya itu diketahui Effendi dari kakeknya yang
bertempat tinggal di kampung Peneleh. Ia sudah tahu bahwa
permusuhan antara orang Jawa dengan orang Tionghoa tidak
mungkin dihapus dalam seketika. Juga tidak oleh jasa-jasa Hian
Biauw yang mau bergabung. Ia juga mendengar bahwa di kelompok
pejuang yang lain ada juga orang Tionghoa yang bergabung. Mereka
ini bergabung secara perorangan. Seperti Hian Biauw juga. Tidak
mendapat restu dari orang tua.. tapi apakah yang lain juga dapat
restu ?

49
9

Suasana diam. Tak ada yang bicara. Masing-masing terbenam
dalam khayalan sendiri. Juga Hian Biauw. Omongan Effendi tadi
sangat membekas dalam hatinya. Ia harus mulai mengerti tentang
budaya orang lain. Gurunya dulu menyebut sebagai satu kultur. Tiba-
tiba saja ia ingat. Kalau tadi menertawakan soal bambu kuning. Ia
juga teringat bahwa orang tuanya punya hiolo, meja abu sembahyang
leluhur di rumah. Tiap tanggal 1 dan tanggal 15 orang tuanya
bersembahyang dengan menyajikan macam-macam hidangan. Lantas
siapa yang memakan. Kata orang tuanya dulu, ketika ia masih kecil,
roh keluarga akan datang mencicipi segala yang dihidangkan.
Bukankah ini juga lucu? Bukankah ini juga satu hal yang tidak bisa
dipahami dalam waktu yang singkat? Ini adalah satu budaya. Budaya
Tionghoa dalam menghormati leluhur. Orang Jawa mungkin akan
tertawa dan mengejek kalau melihat ia bersembahyang dan “kui”
beberapa kali di muka meja sembahyang. (kui = berlutut. pen). Jadi
memang betul kata Effendi. Kita harus bisa menghormat budaya
orang lain. Kalau masing-masing bisa saling menghormat, maka
takkan ada sengketa.
Tapi tiba-tiba saja timbul protes dalam hati nuraninya. Ini
adalah perang. Seperti yang tadi ia bilang: Belanda datang dengan
bedil ,meriam dan tank. Tak mungkin dihadapi dengan bambu
runcing dengan keyakinan badan bisa kebal, tak mempan peluru.
Kalau ia mau mencoba mengerti, ia harus punya siasat lain. Anak-
anak muda itu harus punya bekal lain selain bambu runcing. Ia harus
rajin mempelajari mereka menembak. Kesadaran ini membuat Hian
Biauw mempunyai perasaan yang lebih mendalam terhadap kawan-
kawannya. Ia yang mengagumi Effendi, ingin membantu Effendi
dengan sekuat tenaga. Ia merasakan sekarng, bahwa masalah
bersama, kekurangan yang ada pada kelompoknya sebagai juga

50
kekurangannya. Ia merasa satu. Meskipun kemudian dalam hati
kecilnya ia tetap yakin bahwa ia tetap akan dicap sebagai orang
Tionghoa.
Hian Biauw hanya bisa mengangguk-angguk saja. Dalam
sekejab ia harus mengenal kebudayaan yang begitu berbeda dengan
budayanya. Ia bukan hanya harus mengenal, tetapi memahami dan
menerima budaya itu, bukan dengan pandangan superior ke bawah
tetapi apa adanya. Itu kalau ia memang hendak berjuang bersama
mereka.
“Itulah orang-orang kita, Biauw. Biarkanlah mereka memiliki
kekuatan dengan percaya pada bambu runcing keramat yang mereka
terima dari orang pintar di Parakan. Biarkanlah mereka Biauw. Aku
mohon mengertilah mereka, Biauw”.
“Aku paham dan dapat menerimanya. Mungkin aku harus
meminta maaf pada mereka," Ia hendak berdiri tetapi ditarik oleh
Effendi.
“Tak perlu. Kau diamkan dan berlakulah wajar. Diam adalah
bijaksana. Kalau kau minta maaf, mungkin persoalannya akan
muncul kembali. Aku nanti akan bicara dengan mereka dan besok
kita tambah waktu latihan mereka menggunakan senjata-senjata
modern. Dalam waktu cepat kita harus punya target bahwa setiap
peluru yang diletuskan haruslah menghabisi satu nyawa tentara
Belanda. Mereka memang naif, tetapi mereka cinta tanah air ini,
Biauw”.
Hian Biauw termenung. Mereka naif tetapi mereka berjuang
demi Tanah Air mereka. Ia yang katanya pandai, ia berjuang buat
siapa? Mana Tanah Airnya? Ia tidak pernah merasa jadi kawula
Belanda. Ia pun tidak pernah merasa punya kiblat ke daratan Cina.
Siapakah dia ini sebetulnya? Pusing kepalanya. Ia heran mengapa
pertanyaan seperti itu baru sekali ini muncul. Ia bersekolah dengan
rajin. Ia adalah anak sekolah Mayoor der Chinezen yang dihormati

51
masyarakat. Tetapi ia tidak pernah memikirkan mempunyai sebuah
Tanah Air.
“Ah," keluhnya dalam hati, “Persetan! Aku lahir di Tanah
Jawa Tanah Airku ya Tanah Jawa.. Eh, Indonesia," kata Effendi.
Effendi yang melihat sahabatnya diam murung mengira Hian
Biauw belum dapat menangkap maksudnya. Ia lalu menghibur.
“Biauw, aku juga tidak kenal budayamu. Misalnya, tentang
sembahyangan dan tanah kuburan yang begitu besar-besar. Aku tidak
pernah bertanya karena aku takut keliru dalam bertanya. Kau rupanya
juga tidak pernah menanyakan kebiasanku memandikan keris. Suatu
hari kelak kita perlu berbincang-bincang agar lebih saling mengerti”.
Perlahan Hian Biauw memandang sahabatnya dan senyum
cerah menghias wajahnya. Ia kemudian menagngguk...
mengangguk...
Sinyo Sipit mengangguk. Mendadak ia mengerti mengapa
mereka tidak jadi bertemu. Bukanlah mereka berjanji bertemu di
markas? Markas yang mana? Markas Kawatan? Tak mungkin.
Mereka sudah mengosongkan markas itu sejak kemarin Belanda
berhasil menyerbu ke Selatan.
Markas yang mana? Ada dua markas besar yang sering
mereka datangi untuk bertukar pikiran dengan sesama pejuang. Di
Biliton ini dan di Tegalsari. Mungkinkah Effendi menunggunya di
Tegalsari? Ya, mengapa tidak mungkin?
Baru saja Sinyo Sipit bergegas hendak pergimenuju markas
Tegalsari ia ditarik oleh Pak Asmanoe yang langsung mengajaknya
mengungsi menyelamatkan diri. Sejak kejadian kemarin malam,
Belanda membabi buta menembaki siapa saja yang terlihat berada
di jalan raya.
Secara teratur pemberitaan tentang jalannya pertempuran
lainnya bisa diikuti lewat harian Pewarta Surabaya. Tapi orang tak
tahu persis bagaimana situasinya yang sebenarnya. Apakah Belanda

52
yang menang perang, atau pejuang-pejuang Bangsa Indonesia. Dari
sudut pandang orang Tionghoa keadaan menjaditidak menentu.
Apalagi pers Tionghoa saat itu banyak memberitakan tentang
pembumihangusan dan perkosaan terhadap orang-orang Tionghoa.
Dalam sejarahnya, memang tampaknya pers tionghoa atau karena ia
berbahasa Melayu Tionghoa memang tidak bersimpatik kepada
perjuangan bangsa Indonesia. Sering ia bahkan memuat berita yang
bisa menerbitkan orang di luar negeri salah mengerti tentang
perjuangan yang sebenarnya dari Bangsa Indonesia.
“Mayor harus mencegah pemberitaan yang tidak
menguntungkan perjuangan bangsa Indonesia," Demikian satu hari
pemuda Oen berkata ketika bertamu di rumah Mayor Phe. Ia
kemudian menceritakan dan tambah memperkuat pendapatnya
bahwa Belanda sudah tidak mungkin lagi kembali ke Indonesia.
Sekutu pasti akan menarik diri. Karena menurut pendapatnya, Sekutu
juga harus membangun negerinya sendiri yang rusak akibat perang
yang baru lalu, atau membantu sahabt-sahabatnya dari kebangkrutan
ekonomi akibat perang. Soal bekas Hindia Belanda, itu bukan soal
yang besar. Kalau negeri ini mau merdeka, mereka yang tadinya
berperang untuk memerangi fasisme, tidak mungkin menghalangi
satu bangsa untuk merdeka. Mayor Phe sangat kagum dengan
pemikiran pemuda ini. Walaupun usianya masih muda tapi pikirannya
mempunyai cakrawala yang luas. Jarang anak muda yang mempunyai
pandangan jauh ke depan.
“Sulit untuk meminta pers tidak memberitakan hal-hal yang
tidak mengenakkan bangsa Tionghoa. Apa yang diberitakan itu
bersumber pada kenyataan. Memang harus kita akui, bahwa
kemerdekaan ini tampaknya terlalu tergesa-gesa. Tanpa persiapan.
“Menurut Mayor Phe bagaimana?" tanya pemuda Oen.
“Maksud saya tidak seperti Jepang. Bangsa Indonesia terlalu
“lembek” dalam menegakkan disiplin. Tidak seperti Jepang. Ketika

53
mereka masuk Indonesia misalnya dan melihat banyak pencoleng
dan pencuri, mereka kemudian mengeluarkan Maklumat no 1 yang
isinya akan diberikan hukuman keras bagi mereka yang mencuri
dan merampok. Peraturan itupun tidakcuma tertulis, tapi benar-benar
dilaksanakan. Yang mencuri kemudian dihukum berat di muka
umum. Akibatnya tak ada yang berani mencuri. Tapi di awal
Revolusi, perampokan merajarela dan tidak ada peraturan yang
membuat mereka jera.Pemuda Oen dalam hati membenarkan. Tapi
ia mencoba untuk membelakenyataan yang pahit bagi bangsa
Tionghoa itu.
“Perampokan itu bukan dilakukan oleh para pejuang. Kita
harus mencoba mau mengerti. Belanda menembak membabi buta
dari laut. Lalu yang kena orang-orang di Wonokromo. Semuanya
jadi hancur disana. Mereka tak punya rumah dan mata pencaharian.
Mereka ini yang kemudian masuk kota dan merampok. Tapi ini juga
tidak berarti bahwa semua penduduk Wonokromo adalah perampok
dan pencuri. Mereka terpaksa berbuat demikian”.
“Tapi yang mereka garong adalah bangsa kita”.
“Cuma kita kebetulan yang tidak mengungsi. Cuma kita yang
kebetulan masih punya barang-barang untuk dirampok dan dicuri.
Orang Jawa, mereka sudah kelewat melarat selama pendudukan
Jepang. Mereka sudah habis. Mereka sudah tidak punya apa-apa...”
“Jadi bagaimana menurut kamu sekarang”.
Kita harus meminta kepada harian-harian besar seperti
Pewarta Surabaya dan koran-koran Melayu lainnya supaya tidak
memberitakan tentang perampokan yang terjadi. Berita itu akan
makin memperuncing keadaan, tidak akan tambah menolong
penduduk Tionghoa. Hal-hal yang bisa memperuncing harus kita
netralisir”.
“Apakah kau percaya bahwa para pejuang-pejuang kita akan
menang perang?”

54
“Memang tidak bisa kita ramalkan sejak saat ini. Tergantung
Sekutu. Kalau Sekutu akan membantu terus, tampaknya mereka,
Belanda, yang akan menang. Tapi kita jangan lupa Tiongkok sudah
mengakui Republik ini, meskipun secara lisan dan pernyataan
pengakuan itu sudah diakui pula oleh Presiden Soekarno. Jadi kita
tidak bisa main-main lagi. Sekutu tidak akan membantu Belanda
menghalangi kemerdekaan negeri ini. Sekutu pasti akan sungkan
kepada Tiongkok yang menjadi kawan mereka sebagai negara besar
yang tergolong dalam Lima Besar. Perjuangan ini akan dimenangkan
juga dengan diplomasi!”
“Lantas apa faedahnya kalau pers Melayu tidak memuat
berita-berita yang kenyataannya memang sungguh terjadi”.
“Saya tadi sudah berpendapat, bahwa demi kepentingan
orang Tionghoa di Indonesia sendiri masalah seperti itu harus
dinetralisir. Makin diperuncing, keadaan akan tambah buruk. Kita
mestinya sadar, bahwa kita yang dulu klas dua di bawah orang
Belanda, sekarang berubah menjadi klas dua di bawah orang Jawa.
Orang Jawa pasti akan berkuasa. Kita pasti tidak bisa berbuat apa-
apa. Dulu mereka diam saja diperbudak oleh Belanda dan Jepang
karena masih bodoh..”.
“Kalau sekarang mau bilang bahwa mereka sudah pandai?”
Sela Mayor Phe.
“Tidak. Cuma sekarang mereka dibakar oleh api dan
semangat kemerdekaan neraka pun pasti akan tambah panas kalau
dibakar semangat kemerdekaan ini. Takkan ada satu dinding setebal
apapun yang bisa menghalangi. Ini harus kita maklumi”.
“Baiklah kalau demikian. Nanti saya akan membicarakan
dengan Baba Tjicok untuk menulis dalam pojoknya...”
Usaha kedua orang ini memang tidak bisa diketahui dengan
pasti, sampai seberapa jauhnya mempunyai andil terhadap usaha
merukunkan kembali golongan Tionghoa dengan masyarakat
Indonesia. Tapi yang jelas, pemberitaan yang tidak terlalu sensasional

55
memang bisa meredakan situasi. Kecuali misalnya masih tetap ada
gejolak rasialis. Di Solo misalnya. Tapi letupan itu bisa segera bisa
diatasi. Ini juga disebabkan andil pers Melayu Tionghoa itu tadi.
Andai kata dipublikasikan secara meluas, maka kejadian di Solo
misalnya, yang merupakan lembaran hitam pertama mengenai
rasialisme sesudah Indonesia merdeka, pasti akan merambat ke kota
yang lain.
Masyarakat Tionghoa pada saat revolusi fisik memang seperti
satu golongan yang terombang-ambing. Rasanya seperti mereka itu
ibarat ular tanpa kepala. Tak ada lagi yang disebut sebagai pemimpin
yang bisa diturutkan perintahnya atau nasihatnya. Mayor Phe sendiri
lambat laun memang kehilangan kewibawaan sebagai pemimpin. Ia
tak muncul dalam organisasi. Yang muncul ialah tokoh-tokoh muda
seperti Oen Tjhing Tiauw.
Sayangnya orang-orang muda yang berpikiran maju seperti
Oen Tjhing Tiauw saat itu tak banyak. Mereka tetap saja melihat
pejuang-pejuang kita dengan sebelah mata. Tak ada respek sama
sekali. Di sinilah situasi tahun 1945 kita sayangkan tidak bisa
membuat dua kemlompok ini bersatu, malah makin menggali jurang
yang lebih dalam. Untungnya, dengan segala suka dan dukanya
sejarah berjalan terus.
Sementara itu di Malang muncul bintang baru dari tokoh
“lama," seorang tokoh yang nyaris bisa dianggap sebagai pimpinan
orang Tionghoa. Namanya Han Kang Hoen. Seperti Tio Hian Sioe
dari Surabaya, ia duduk di lembaga legislatif. Jauh sebelumnya ia
sudah menarik perhatian masyarakat dalam kedudukannya sebagai
salah seorang tokoh Partai Tionghoa Indonesia. Satu partai yang
dikenal gigih dalam menganjurkan golongan Tionghoa untuk
memilih Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya. Han Kang Hoen
adalah kemenakan wartawan Tionghoa kenamaan sebelum perang,
yakni Tjan Kiem Bie. Pertanyaannya yang diajukan kepada Menteri

56
Tiongkok yang berkunjung ke Hindia Belanda. Chen Kung Po, saat
itu cukup menggemparkan Hindia Belanda. Han Kang Hoen waktu
itu mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
“Kalau semua orang Tionghoa yang kaya, yang punya
modal dianjurkan untuk berbakti ke tanah leluhur dengan kembali
ke tanah leluhur atau mengirimkan uangnya ke tanah leluhur, lantas
apakah Tiongkok menginginkan semua baba, golongan Tionghoa
yang tinggal di Hindia Belanda menjadi pengemis semua?”
Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Menteri Chen Kung Po.
Bukan karena apa-apa, melainkan karena heran, ada orang Tionghoa
yang mengajukan pertanyaan serupa itu. Patut diingatkan, bahwa
pada waktu itu Tiongkok sedang berperang dengan Jepang yang
mulai meluaskan pengaruh militernya. Antara lain Tiongkok
kemudian berhasil dimasuki oleh tentara Jepang yang disebut tentara
“kate”. Tiongkok sendiri yang saat itu sedang dalam keadaan payah,
sangat menggantungkan bantuan keuangan dari orang-orang
Tionghoa yang ada di perantauan. Antara lain dari Hindia Belanda.
Sambutan masyarakat Tionghoa di Hindia Belandamemang bukan
main. Banyak usaha amal dilakukan dan hasilnya semua dikirimkan
ke Tiongkok. Untuk rasa terima kasih itulah Menteri Tiongkok
sampai beberapa kali mengadakan kunjungan ke Hindia Belanda.
Sudah barang tentu, tidak semua golongan Tionghoa yang ada di
Hindia Belanda setuju dengan kejadian ini. Sebagian ada yang tidak
setuju, terutama sekali yang dari kelompok Partai Tionghoa
Indonesia, dimana Han Kang Hoen bergabung. Pada saat itu memang
ada anggapan bahwa perekonomian Hindia Belanda yang baru saja
bangun akibat adanya resesi dunia, masih membutuhkan “kapital”
yang cukup besar. Juga kalangan Tionghoa memerlukan kapital besar
untuk mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan Belanda yang
terkenal dengan julukan “The Big Five”. Menurut kelompok PTI,
jika orang-orang Tionghoa mengalirkan modalnya ke Tiongkok

57
dalam jumlah yang besar, maka nasib orang Tionghoa yang ada di
Hindia Belanda sendiri yang bisa menjadi lemah. Karenanya, Han
Kang Hoen mengajukan pertanyaan di atas, yang sayangnya tidak
bisa dijawab oleh Menteri Chen Kung Po.
Pihak Belanda sendiri menjadi senang dengan pertanyaan
tersebut dan pertanyaan tersebut sering diambil oper oleh pihak
Belanda jika mengadakan pertemuan dengan golongan Tionghoa.
Sikap Belanda terhadap Partai Tionghoa Indonesia juga makin lunak.
Tidak sekeras seperti terhadap partai-partai kebangsaan yang lain,
misalnya PNI.
Orang-orang boleh saja mempunyai pendapat laintentang
sikap Han Kong Hoen di kemudian hari. Tapi apa yang terjadi pada
saat itu, di saat orang-orang Tionghoa lainnya berlindung di bawah
selimut dan menggeluti istrinya, pemuda yang satu ini dengan suara
lantang berucap :
“Kaum Tionghoa harus berdiri di belakang Pemerintah
Republik dalam artian yang seluas-luasnya”. Pernyataan ini bukan
sembarang pernyataan. Pernyataan tersebut diucapkan di muka
Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Malang pada tanggal 18
Desember 1945.
Antara lain Han Kang Hoen bersuara :
Di sini saya ingin mengemukakan, bahwa rakyat harus
memberi kepercayaan sepenuh-penuhnya pada Pemerintah Republik
dan jangan mempersulit Pemerintah dengan mengambil
tindakansendiri-sendiri.
Dalam Negara yang berkedaulatan Rakyat, memang diakui
bahwa Negara itu miliknya Rakyat. Rakyat yang menjadi “Raja”
dan Pemerintah adalah pengurus pengurusnya yang terdiri dari orang-
orang yang berilmu tinggi, luas pemandangannya dan yang mewakili
rakyat ke dalam dan ke luar. Jadi, kalau sebuah negeri ingin maju
pesat, haruslah Pemerintahan diberikan keleluasaan bergerak dalam
segala hal.

58
Bolehlah saya umpamakan di sini, negara itu sebagai
kendaraan motor dan pemerintah yang menjadi sopirnya, sedang
penumpangnya adalah rakyat jelata.
Kalau si penumpang setiap saat mengganggu sopir dan ingin
turut pegang setir dan membunyikan klakson atau mengalih-alih
versnelling dan yang lain tiba-tiba menginjak gas sampai penuh,
maka dapatkah sang sopir menjalankan mobilnya dengan betul?
Penumpang yang tidak memberikan kepercayaan kepada
sopir dan tiap saat mau ikut menyopir bukan hanya membantu sang
sopir tetapi tambah membuat sopir menjadi bingung sehingga satu
saat mobil tersebut bisa menabrak sesuatu.
Kalau saudara tidak percaya dengan omongan saya, bolehlah
saudara nanti sekeluar dari gedung ini mencoba dengan mobil
saudara sendiri.
Dengan singkat saya hendak mengatakan, supaya
dipertimbangkan oleh saudara-saudara sekalian untuk mengirim mosi
kepada Kabinet Syahrir yang maksudnya kita di sini bersatu bulat
berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia yang bertata tertib
teguh.
Sudah barang tentu, Han Kang Hoen yang dikenal sebagai
orang Tionghoa memperoleh reaksi yang keras. Tidak semua orang
setuju atas pendiriannya berdiri dengan bersatu dan bulat di belakang
Republik Indonesia.
Ada yang bilang: Atas dasar hak apa Han Kang Hoen berkata
demikian.
Beberapa orang bahkan mengejeknya dengan “Anjing
Republik”. Tapi betapapun harus diakui, meskipun orang tidak tahu
jelas, Han Kang Hoen mewakili siapa saat ia berbicara itu: Mewakili
partai atau mewakili kelompok Tionghoa, apa yang diutarakan itu
cukup memberikan hawa segar bagi kelompok Tionghoa yang pro
Republik. Ada yang kemudian bilang: Kita memang tidak punya
pilihan lain. Kita harus pro terhadap Republik.

59
10

Berbondong orang di Surabaya kemudian mendatangi
pemuda Oen Tjhing Tiauw. Sama-sama menanyakan reaksi pemuda
tersebut atas suara Han Kang Hoen yang menggeledek dari Malang.
Dengan kalem Oen Tjhing Tiauw memberikan saran, agar mereka
tidak membuat gerakan apa-apa terlebih dahulu. Gerakan itu menurut
pendapatnya harus satu. Karena pemuda seperti pemuda Oen
menyadari bahwa meskipun dari pihak orang Tionghoa, suara Han
Kang Hoen tidak sepenuhnya diterima, tidak berarti bahwa golongan
Jawa lantas mau menerima dengan tulus hati. Semua orang tetap
punya prasangka dan mencurigai Han Kang Hoen. Oleh karena itu,
jika bantuan itu dilakukan secara tergesa-gesa dan tidak melihat
aturan permainannya, maka bantuan itu nanti bisa disalahartikan.
Sementara itu bantuan dari luar provinsi berdatangan. Dari
keraton Solo, berdatangan bantuan antara lain berupa gula jawa. Dua
pemuda ikut serta dalam mengantar bantuan itu. Antaranya Singgih,
Singgih ini pula yang melihat situasi Surabaya di awal pertempurannya
sampai beberapa bulan kemudian. Ia juga menjadi saksi mata bahwa
semua orang sudah mengungsi dari Surabaya, entah ke mana.
Surabaya menurut penglihatan Singgih jadi lenggang. Ia juga melihat
bahwa banyak orang Tionghoa masih bertempat tinggal di rumah
masing-masing. Singgih juga melihat bahwa Surabaya sudah tidak
seperti sebuah kota lagi. Jalan-jalan penuh dengan barikade. Saat
itu Singgih bekerja sebagai sekretaris Kraton Solo dan bertugas
mengawal bantuan Kraton kepada kaum pejuang ke Mojokerto.
Bagi orang Tionghoa, meskipun pusat pemerintahan
Republik sudah beralih ke Mojokerto, Surabaya tetap jadi pusat isu.
Dari kota ini mereka kemudian mempertaruhkan segalanya. Surabaya
yang makin hari makin jauh dari pertempuran sehingga nampaknya
kian hari kian kembali ke zaman yang normal membuat orang
beranike luar rumah. Kehidupan yang normal mulai berjalan

60
perlahan-lahan. Penduduk sipil yang tadinya mengungsi juga ada
yang berdatangan satu-satu. Orang Tionghoa tampaknya seperti jadi
raja. Kota itu lenggang. Seperti yang dilihat oleh Singgih yang
membawa bantuan dari Kraton Solo ke Mojokerto, lantas punya
kesempatan untuk jalan-jalan ke Surabaya memang melihat kota ini
seperti “mati”. Nafas kehidupan sekarang mulai dicoba untuk
dihembuskan kembali. Orang-orang Tionghoa mulai berani
mendatangi pelabuhan Perak. Tapi gudang-gudang masih tertutup
semua. Semua pintu gudang-gudang dilekati pengumuman. Sebuah
kertas berukuran lebih besar dari kertas folio tertulis: Milik Repoeblik
Indonesia. Mula-mula orang tak berani membuka. Tapi satu dua
pedagang Tionghoa ada yang mengetahui duduk persoalannya.
Gudang-gudang tersebutsebenarnya bukan milik Republik Indonesia.
Dulu, pada zaman Jepang, gudang-gudang itu milik Jepang. Tempat
serdadu Jepang menyimpan barang-barang keperluan perang
sebelum dikirim ke Jepang. Itu isu-isu baru dalam masyarakat
Tionghoa di Surabaya. Isu yang makin hari makin menyebar di
kalangan masyarakat yang luas. Yang miskin lebih getol
membicarakan. Tapi mereka tak punya keberanian. Yang kaya mulai
menyiasati diri, untuk bagaimana bisa mengetahui dengan pasti, apa
sebenarnya isi gudang tersebut. Orang-orang Madura lagi yang di
dekati. Tapi orang Madura paling takut pada Jepang, karena Jepang
kalau menyiksa bukan main sadisnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Gudang-gudang tetap menjadi gudang-gudang yang tidak bertuan.
Secara menyelinap, ada satu dua orang Tionghoa yang
dengan nekad kemudian “membobol” gudang tersebut. Dari satu
gudang mereka ke gudang lainnya. Mereka menjadi terkejut ketika
melihat bahwa isi gudang tersebut memang benar seperti isu yang
beredar di luaran. Macam-macam isinya. Ada kapas berbal-bal
banyaknya. Sampai setinggi atap gudang. Lantas di gudang lainnya
ada lonjoran baja. Gudang lainnya ada berkarung-karung kedelai.
Jagung dan beras. Semuanya ini merupakan harta kekayaan Jepang

61
yang belum sempat diangkut karena Sekutu sudah keburu datang.
Masuk ke pelabuhan Perak saat itu memang bukan kerja yang
gampang. Barikade terpasang dimana-mana. Dan sekutu lewat
Belanda dan Cakranya memang siap tembak bagi siapa yang berani
masuk, hanya orang Tionghoa yang nekad yang berani masuk. Untuk
harga memang kelompok ini berani menyabung nyawa.
Sesudah semuanya pasti, bahwa isi gudang itu merupakan
tambang mas yang tak ternilai harganya, orang-orang Tionghoa yang
avonturir mulai menyusun siasat baru. Dicari akal bagaimana mereka
bisa mengeluarkan barang-barang tersebut untuk bisa sampai ke
daerah mereka di daerah Kapasan dan sekitarnya. Di cari orang yang
punya hubungan dengan pihak Belanda. Di cari orang Tionghoa yang
sudah bekerja sebagai antek Nica. Dengan bantuan mereka setiap
hari puluhan pedati yang ditarik lembu hilir mudik dari Perak ke
tempat yang sudah ditentukan. Ke sana barang-barang berharga itu
dipindahkan. Dalam sekejap orang Tionghoa yang tadinya bukan
apa-apa kemudian secara tiba-tiba saja menjadi kaya.
Sejarah kemudian mencatatketika Republik Indonesia, sesuai
dengan bunyi plakat yang terlekatkan di situ yang menjadi pemilik
datang dan membuka gudang-gudang itu. Isinya sudah kosong atau
setengah kosong. Yang tersisa Cuma kain tekstil. Cukup
mengherankan memangnya, dari mana Jepang memperoleh tekstil
ini. Karena zaman itu orang justru kekurangan tekstil bahkan ada
yang berpakaian goni yang membuat gatal seluruh badan kalau
memakainya. Tapi kedelai, jagung, beras, lonjoran baja serta kopi,
semuanya sudah ludes! Habis. Kejadian ini tidak pernah diberitakan
oleh pers Melayu Tionghoa. Juga tidak oleh Pewarta Surabaya.
Bukannya mereka tidak mau menulis, karena kejadian ini betapapun
juga adalah sama dengan perampokan yang brutal. Tapi persoalannya
karena memang kejadian itu dilakukan secara mulus dan dengan
operasi gerakan tutup mulut. Karena kalau sampai ketahuan memang
bisa ditembak mati oleh Sekutu. Mayor Phe, Oen Tjhing Tiauw atau

62
tokoh-tokoh Tionghoa lainnya tidak ada yang tahu. Mereka mungkin
baru kemudian menjadi tahu, ketika orang-orang yang berbuat itu
sudah jadi makmur secara tiba-tiba. Tapi apa yang bisa mereka
perbuat?
Sementara itu di beberapa kota lainnya kehidupan mulai
menampakkan wajah revolusi yang asli. Dimana-mana sekarang
kehidupan mulai tampak berat. Belanda tampaknya setapak, tapi
pasti memperlihatkan keinginannya untuk merampas kembali bekas
jajahannya yang pernah memberikan kemakmuran kepada
negaranya. Tekad ini juga dilakukan Belanda, karena negeri sendiri
hancur akibat peperangan dalam perang dunia II yang baru lewat.
Belanda memang tidak punya alternatif lain selain berusaha
mencaplok kembali Hindia Belanda, negeri jajahan yang pernah
memberikan kemakmuran tak terbatas.
Keadaan masyarakat yang kacau, dimana pun juga
mengundang orang-orang yang berusaha mengail di air yang keruh.
Perampokan dalam arti kata yang asli mulai merajalela. Situasi yang
seperti ini sudah barang tentu tidak memperlihatkan citra yang baik
tentang negri yang baru merdeka. Yang selalu masih diteropong oleh
dunia luar.
Bulan Februari 1946, Bung Tomo terpaksa tampil
kembalimenyerukan agar situasi menjadi tenang. Surat edarannya
yang berjudul aneh: Kepada Para Pemimpin Pemberontak mendapat
reaksi yang positif dari masyarakat Tionghoa. Surat edaran tersebut
menunjukkan itikad yang jujur dari pimpinan pejuang, bahwa
perampokan dan lain sebagainya itu tidak mendapat restu dari para
pejuang. Antara lain isi surat edaran itu sebagai berikut:
Pemberontakan Rakyat Indonesia kini berdiri dipuncak ujian
sejarah. Karena besarnya hasrat rakyat dalam berjuang
menegakkan Republik, maka kadang-kadang terjadi kekeliruan yang
merugikan masyarakat, sehingga terpaksalah kita menangis melihat
suasana pancaroba ini yang dalam sejarah revolusibangsa sering

63
menimbulkan krisis. Kami berpengharapan para pemimpin
pemberontakan jangan turut melakukan kekeliruan-kekeliruan itu
dan kami minta keikhlasan, kesucian para pemimpin, jangan
membikin gaduh dan kekacauan rakyat. Para pemimpin yang tidak
ikhlas dan suci mereka itu adalah pengacau yang sebesar-besarnya
dan mereka inilah juga akan menjadikan rakyat menjadi korbannya.
Para pemimpin pemberontakan yang tidak suci dan ikhlas harap
lekas meninggalkan barisan pemberontakan. Mereka yang
mengacaukan akan dituntut oleh rakyat menurut hukum revolusi.
Soetomo
Pemimpin Besar BPRI
(Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia)
Kutuarjo, 23-2-1946
Sebelumnya tanggal 20 Desember 1945, Perdana Menteri
Republik Indonesia Soetan Syahrir juga sudah memberikan
amanatnya. Isinya antara lain sebagai berikut yang ditekankan bahwa
janganlah kekuasaan dituntun oleh hawa nafsu:
Kedaulatan Rakyat adalah kekuasaan rakyat, tapi rakyat
harus tahu mempergunakan kekuasaannya itu dan jangan salah
mempergunakannya. Banyaknya kecelakaan di dunia ini karena
orang tidak tahu mempergunakan kekuasaan. Kalau kita mempunyai
senapan, hendak tahulah kita bagaimana mempergunakannya,
kapan, dan terhadap siapa.
Kekuasaan hendaknya dipergunakan supaya rakyat bisa
merasa aman dan tentram, jangan sampai sebaliknya, rakyat justru
merasa terancam. Janganlah kekuasaan dituntun dengan hawa
nafsu. Yang punya kekuasaan hendaknya mengerti bahwa ia
berkuasa karena rakyat menyanggupkan kekuasan kepadanya.
Karena itu ingat selalu untuk menjaga ketentraman rakyat. Tiap
kekuasaan yang disalahgunakan, tentu dan pasti akan menemui
keambrukan.
Malang, 20 Desember 1945.

64
11

Gejolak di kalangan kelompok Tionghoa yang tadinya
tergabung dalam Partai Tionghoa Indonesia mulai memperoleh
bentuknya. Usaha-usaha yang positif untuk membantu para pejuang
sudah pasti. Cuma tinggal bagaimana bentuknya sekarang. Mayor
Phe dan Oen Tjhing Tiauw misalnya, lebih condong bahwa bentuk
tersebut tidak perlu khas Tionghoa. Dalam artian misalnya
membentuk pasukan Tionghoa sendiri. Seperti yang saat itu dibentuk
oleh Belanda dengan nama Poh An Tui yang tujuannya adalah untuk
menjaga keamanan kampung halaman dari kemungkinan gangguan
para perampok.karena meskipun para pembesar sudah berseru agar
kekacauan tidak diteruskan, tetapi perampokan ternyata terus ada.
Situasi ini yang dimanfaatkan Belanda untuk membentuk Poh An
Tui itu tadi. Sementara kelompok lain yang masih independen, diluar
Partai Tionghoa Indonesia ingin membentuk satu laskar tersendiri
yang terdiri dari orang-orang Tionghoa melulu. Ini maksudnya supaya
kelihatan nyata bahwa orang Tionghoa juga ikut bertempur.
Perdebatan yang sengit terjadi. Dalam hal yang semacam ini sikap
orang Tionghoa memang komunal. Mereka Cuma menunggu
instruksi dari orang yang bisa mereka anggap sebagai pemimpin.
Situasi yang semacam ini yang membuat bingung Oen Tjhing
Tiauw. Mendirikan laskar semacam itu pastilah tidak bisa dan tidak
boleh terjadi. Situasi di Hindia Belanda lain dengan di Amerika,
dimana keturunan Jepang di sana sama-sama membentuk satu barisan
yang terkenal dalam perang dunia II, yang ikut menngempur
pertahanan Jepang di Okinawa. Oen tidak menghendaki cara-cara
yang sedemikian. Karena akibatnya nanti bisa jadi masalah
internasional. Oen kemudian dihanntam dari kanan kiri. Ia dianggap
masih nasionalis Tionghoa. Padahal semua pikiran itu berlandaskan
satu kenyataan, bahwa orang-orang Tionghoa di Indonesia belum

65
jelas kewarganegaraannya. Jika ada satu kompi saja yang terdiri
melulu dari orang Tionghoa, maka Belanda bisa menuduh Indonesia
sudah mengikutcampurtangankan tangan asing dalam persoalan
dalam negerinya. Tiongkok nantinya akan terlibat. Situasi yang
semacam ini yang tidak diinginkan Oen. Kepada Mayor Phe
diutarakan pendiriannya dan ia meminta agar Mayor Phe
mempergunakan sisa-sisa wibawanya untuk mempengaruhi
kelompok yang mau mendirikan laskar Tionghoa itu tadi.
“Bisa ada insiden internasional, Mayor," kata Oen.
“Sebenarnya Tiongkok juga tidak keberatan”.
“Memang tidak. Justru di sini kita harus keberatan. Tiongkok
pasti diam dan ini bakal dipergunakan oleh Belanda untuk bereaksi
di luar bahwa kita sudah minta bantuan dari Tiongkok. Nanti bisa
Inggris atau Amerika membantu Belanda dan Rusia juga nanti bisa
membantu kita. Negeri ini bisa jadi kancah peperangan dunia yang
baru...”
“Kau memandang masalah ini terlalu jauh”.
“Tidak Mayor. Saya bukan takut pada peperangan. Tapi nama
baik Republik ini harus kita lindungi. Tidak boleh ada prasangka
yang jelek. Kita masih butuh bantuan dan simpatik dari dunia
Internasional”.
“Lantas apa yang kau maui”
“Mayor pergunakan wibawa untuk menggagalkan
kemungkinan pendirian laskar tersebut”.
“Kau yakin laskar itu bisa berdiri”.
Mayor Phe diam sesaat. Ia menganggap pemuda ini cerdik.
Ia sejak lama memang sudah punya pemikiran, jika kita pro pada
Republik, kita harus hati-hati dalam menyangkutkan Tiongkok di
dalamnya. Ia juga tidak pernah bisa mengerti mengapa Tiongkok
sebagai negara yang besar dalam memberikan pengakuan kepada
Indonesia Cuma lisan saja, melalui satu pidato radio yang kebetulan

66
ditangkap di Indonesia. Untungnya Soekarno cepat tanggap dalam
mempergunakan moment tersebut untuk kepentingan revolusi.
Sehingga nampaknya dari luar, sudah ada negara besar yang
memberikan pengakuan kepada Indonesia. Negara besar tadi adalah
Tiongkok. Bukan Cuma besar karena jumlah penduduknya,
melainkan karena Tiongkok saat itu memang besar. Menjadi anggota
Dewan Keamanan PBB. Mempunyai hak veto. Mayor Phe tetap tidak
bisa mengerti. Mengapa Tiongkok tidak meniru India atau Mesir
yang memberikan pengakuan berdasarkan sopan santun diplomatik
yang resmi.
Jadi benar juga pemikiran Oen ini. Jika Tiongkok diam saja
kalau diserang Belanda, itu bisa ada pengertian bahwa Tiongkok
memang betul-betul membantu perjuangan ini.
Dalam situasi seperti sekarang ini memang diperlukan cara-
cara berpikir seperti Bung Hatta. Hati-hati! Nampaknya Oen Tjhing
Tiauw memiliki cara berpikir semacam itu. Itu tercermin mengenai
pengertiannya tentang kemerdekaan. Beberapa waktu yang lalu,
pemuda ini pernah bilang, bahwa seluruh negara-negara di Asia
Tenggara akan merdeka. Semuanya itu tuntutan sejarah. Tapi
beberapa hari kemudian ia masih mengajukan pertanyaan apakah
para pejuang-pejuang itu sudah siap. Mengapa pemuda Oen
mengajukan pertanyaan yang serupa itu? Apakah sedikit banyaknya
ia terpengaruh oleh perampokan-perampokan yang terjadi, sehingga
mempunyai kesimpulan bahwa para pejuang belum siap?
“Jadi bagaimana maksudmu yang sebenarnya," Mayor Phe
menyelidik bertanya, Pemuda Oen memandang Mayor Phe. Laki-
laki ini sudah dianggap semacam gurunya. Tempat ia bertanya
mengenai berbagai macam persoalan politik dan kemasyarakatan.
“Menurut pendapat saya, saya membenarkan tindakan anak
mayor," katanya tandas.
“Ah, itu Cuma petualangan anak-anak muda”.

67
“Tidak mayor. Dalam pertempuran yang terjadi sekarang
memang harus diwakili oleh anak-anak muda. Yang tua-tua tidak
mungkin ikut bertempur. Mereka sudah tahu enaknya hidup dalam
alam penjajahan. Bagi mereka sebuah revolusi seperti yang terjadi
di Prancis berabad yang lalu, hanya sebuah kisah sejarah yang harus
mereka hafal. Tapi bagi anak-anak muda, itu sebuah cita-cita”.
“Lantas kau sendiri? Mengapa tidak ikut bertempur?”
“Aku, mayor?” Lalu Oen Tjhing Tiauw tertawa. Ia yang
merasa tubuhnya terlalu pendek dan gemuk.
“Mengapa kau tertawa?”
“Tidak mayor, aku hanya lucu kalau orang seperti aku harus
memegang bedil”
Mayor Phe diam. Tapi kemudian ia memberikan jawaban:
“Baiklah. Aku akan coba omong dengan teman-teman yang
lain. Kau juga temui baba Oei Chiao Liong. Kau sebaiknya sering
berhubungan dengan anak muda itu”.
“Baik mayor”
Keduanya kemudian berpisah. Laskar Tionghoa memang
kemudian dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tidak pernah ada.
Dua sahabat itu akhirnya benar-benar berpisah. Keduanya
memang sampai ke Mojokerto. Tapi di sana, belum sempat berjumpa,
masing-masing sudah harus meneruskan route perjuangan yang tidak
seiring. Effendi menggabungkan diri dengan pasukan Jarot ke
Bojonegoro dan dari sana berjuang kembali ke Surabaya. Sinyo Sipit
yang nama aslinya kini sudah tidak dikenal bergerak dari Mojokerto
ikut bergerilya ke daerah Trawas terus naik Gunung Welirang sampai
turun ke Prigen.
Perjuangan yang melelahkan, pindah dari satu daerah ke
daerah yang lain, makan dan minum mereka dapat seadanya atau
dari bantuan penduduk setempat yang mereka lewati, membuat Sinyo
Sipit dewasa sebagai pejuang. Ia pun makin paham akan budaya

68
orang-orang di sekitarnya. Bangsa ini dulu oleh kaumnya dianggap
bangsa kelas dua, kelas kambing. Nyatanya sekarang orang-orang
yang ia gauliitu bagiku tegar semangat. Mereka tidak berlama-lama
menangisi kepergian ayah atau ibu atau saudara yang tewas oleh
peperangan. Bahkan semua itu seolah cambuk yang makin
mengobarkan semangat tempur mereka. Mereka seolah rela.. ya,
bahkan jiwa sendiri mereka relakan juga...
Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia kini yang kulitnya
telah coklat oleh matahari sudah merasa dirinya satu dengan teman-
temannya. Kalau berkumpul dengan mereka ia sudah tidak merasa
berbeda, tidak hingga bahwa dirinya orang Tionghoa. Hanya pada
malam hari, pada waktu berjaga dan sendiri ia masih harap teringat
ibu dan ayahnya. Ia kangen dan ingin sekali mendapat kabar tentang
diri orang-orang yang sangat dicintainya itu. Apakah mereka selamat
atau... ah, ia tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak. Ia sudah
merelakan dirinya, mati pun sudah tidak diingatnya. Tetapi ia tidak
bisa memikirkan untuk kehilangan kedua orang tuanya. Ia merasa
masih berhutang kepada mereka. Ia yang pergi dengan pamit lewat
surat saja, merasa belum pernah membalas hutang anak kepada orang
tuanya. Dan ia juga teringat kalau dirinya orang Tionghoa, berbeda
dengan teman-temannya, apabila ada orang yang bersikap curiga
terhadap dirinya. Teman-temannya memang sudah percaya pada
dirinya. Tetapi ada saatnya, kalau terjadi sesuatu ketidakberesan,
ada pengkhianatan, masih dirasakannya juga ada satu dua yang
melirik padanya. Ia juga tidak senang dan getir kalau sudah begitu.
Tetapi untunglah lebih banyak temannya yang mengerti dirinya dan
kemudian menghiburnya. Ia pergi menjauh dengan mereka...
Di desa ini ia lebih dalam mengenal bangsa ini. Di desa ini
iamelihat banyak pemuda-pemudi dri kota Malang bergabung.
Tujuan mereka sebenarnya adalah front Surabaya. Tetapi Surabaya
sudah ditinggalkan. Para pejuang telah mengungsi dari Surabaya.

69
Setelah melakukan perjalanan yang lama dan melelahkan,
akhirnya kesatuannya mengambil keputusan untuk menempati pos
di Prigen, dekat dengan markasBarisan Pemberontak Republik
Indonesia yang bermarkas di pertigaan Prigen menuju Trawas dan
Tretes. BPRI ini Cuma namanya saja yang keren. Hian Biauw sendiri
tadinya menduga bahwa nama itu sama dengan nama sebuah
kesatuan yang besar dengan anak buah yang angker-angker.

70
12

Tapi nyatanya tidak, Cuma sebuah nama yang menakutkan.
Kalau siang hari ada tank-tank Belanda atau panser yang lewat di
sana, orang-orang pada sembunyi masuk ke pedesaan. Prigen
memang masih sebuah desa yang lenggang. Tak banyak
penduduknya. Kebanyakan mereka ada di Pecalukan atau di Tretes.
Pompa bensin yang terletak di dekat pemandian sudah
dibumihanguskan. Dulu di situ tempat markas Belanda zaman damai.
Sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Tempat pemandian itu juga
dulu pusat hiburan Belanda. Agak naik sedikit menuju ke Tretes,
pasukan Hian Biauw bermarkas. Tak ada kerjanya yang berarti.
Perjuangan memang sifatnya sporadis. Pandaan sudah direbut
Belanda. Tapi Prigen sampai ke Tretes tidak jelas. Mortir masih sering
ditembakkan pada pejuang kalau malam hari.tanda perlawanan
terhadap musuh masih ada. Pertempuran siang hari jarang ada, karena
ada instruksi untuk menghindari bentrokan secara fisik. Hian Biauw
mempunyai kesempatan untuk mengenal dari dekat kehidupan rakyat
di pedesaan ini. Kehidupan yang sudah dimulai ketika embun pagi
masih menutupi jalan-jalan dan berakhir sebelum matahari terbenam.
Pejuang-pejuang itu jadi latah. Jadi ikut budaya penduduk setempat.
Mereka sudah merasa ngantuk kalau jam sudah menunjukkan pukul
lima sore. Udara Prigen memang lain dengan Surabaya atau
Mojokerto. Jam lima sore sudah ada kabut, biar hujan tidak ada.
Cuaca Prigen kalau sudah hujan tidak ketolongan lagi. Akan terjadi
hujan gerimis yang tidak berkesudahan dan orang malas untuk keluar
rumah. Jam lima sore pejuang-pejuang sudah berselimutkan sarung.
Dalam keadaan seperti ini, yang tidak kuat imannya jadi goncang.
Merasa tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membunuh
kesepian. Naik ke Tretes untuk mencari hiburan sudah tidak mungkin
lagi. Patroli Belanda masih seing berseliweran dan pejuang-pejuang

71
dilarang mengadakan kontak senjata. Di sini yang membuat tangan
jadi gatal. Picu senjata jika ditarik, pasti ada serdadu Belanda yang
mati, karena jarak tembaknya dekat sekali. Pengalaman jatuhnya
korban di Praban beberapa waktu yang lalu, Belanda jadi pintar
sekarang kalau patroli. Mereka berpatroli dengan membariskan para
tahanan di muka konvoi. Jika para pejuang menembaki mereka, yang
jadi korban adalah tahanan-tahanan yang diduga mata-mata Republik
itu. Bisa terjadi dan sering terjadi bahwa korban itu terdiri orang
tua, saudara, atau kekasih para pejuang.
Rasa gemas, marah dan ketakutan kemudian silih
berdatangan. Ada rasa geram tapi tak bisa berbuat apa-apa. Suara
Bung Tomo makin hari makin reda. Tak ada suara yang menggebu-
gebu lagi seperti tempo hari. Suara yang membuat pemuda-pemuda
malukalau tidak memanggul senjata. Menurut berita, Bung Tomo
sudah hijrah ke Mojokerto, bergabung dengan pemerintah darurat
Jawa Timur yang mengungsi ke sana.
Markas BPRI Cuma tinggal nama dan kosong. Tempat itu
kemudian jadi incaran Belanda. Sebulan kemudian daerah itu
diduduki Belanda. Lokasi para pejuang sekarang jadi lebih terjepit.
Untuk baik ke atas tak mungkin. Tretes tampaknya sudah jadi daerah
Belanda yang dikuasai sepenuhnya. Malam pun pada pejuang tidak
berani menembakkan senjatanya. Cuma sekali dua terjadi
pertempuran menghadang Belanda di dekat Candi Jawi. Pejuang
berusaha memutus perbekalan Belanda yang dikirim dari Surabaya
atau Pasuruan. Daerah-daerah lainnya sudah mapan dikuasai
Belanda.
Lama kelamaan persediaan senjata dan peluru
menipis.sedangkan uang untuk membeli tak ada. Komandan
pasukan, Mayor Mangku selalu melarang anak buahnya untuk
menghamburkan peluru dan melakukan kontak bersenjata. Peluru
itu harus dipakai jika kontak fisik sudah tidak bisa dihindarkan. Satu

72
peluru harus mampu menghabisi nyawa musuh. Satu hari Hian Biauw
menghadap komandannya.
“Seminggu lagi persediaan kita sudah habis," ujarnya
melapor.
“Ya," Mayor Mangku lalu diam. Ia memandang lewat jendela
memandang jauh ke depan ke jurang dan ngarai.
“Ya," ujarnya seolah pada diri sendiri. Kita tak tahu apa yang
akan terjadi seminggu lagi," sambungnya kemudian.
“Kita harus berusaha”
“Kita terjepit sekarang”
“Tapi kita harus berusaha menembus blokade Belanda”
“Dengan apa?”
“Kita menyerbu langsung, lantas kita menuju Trawas. Dari
sana lebih gampang bergabung dengan kawan-kawan yang ada di
Mojokerto”
“Perintah yang kita terima, mempertahankan Prigen selama
mungkin. Kalau pindah, kita tidak akan ke Trawas. Kita akan ke
Pecalukan”.
“Tapi Belanda ada di Tretes”
“Kita bisa memakai jalan setapak”
“Lantas kalau peluru-peluru kita habis”
“Itulah masalahnya. Padahal Djarot sudah hijrah menuju
Bojonegoro”
“Mengapa harus ke sana. Mengapa Malang, Blitar tidak
dipertahankan?”
“Itulah yang namanya strategi atasan. Kita Cuma
menjalankan tugas dan tidak bisa membantah. Seperti sekarang ini:
Belanda ada di ujung mata, tapi kita tidak bisa berbuat banyak”

73
13

“Saya mungkin bisa menolong komandan," ujar Hian Biauw
lirih. Ia masih tetap takut bahwa usulnya dicurigai. Tapi ia kenal
betul siapa pak Mangku. Orangnya baik dan tegas sebagai pimpinan.
Cacatnya menurut pendapatnya, ia tidak memiliki jiwa
kepemimpinan seperti yang dimiliki Effendi. Mayor tak punya
inisiatif sendiri. Selalu taat pada atasan dan tidak berani mengambil
resiko.
Seandainya Effendi yang jadi komandan, Belanda takkan
berumur panjang. Sikat saja, urusan belakangan. Kalau Effendi yang
jadi komandan, persediaan peluru tak mungkin Cuma tinggal
seminggu dan tak ada usaha untuk melengkapi dengan mesiu
tambahan.
“Dengan cara bagaimana?" tiba-tiba Mayor Mangku tertarik.
“Saya bisa menulis surat kepada orang tua saya di Surabaya
untuk meminta uang”.
“Siapa yang bisa disuruh sebagai kurir. Surabaya sudah
dikuasai sepenuhnya oleh Belanda”
“Siapa saja yang bisa kita percayai. Dengan uang itu kita
bisa membeli senjata Belanda. Atau ...”
“Atau apa...?”
“Atau kita tidak meminta uang tapi minta senjata”
“Ayahmu dapat mengusahakan itu?”
“Saya belum pasti komandan. Tapi bisa kita coba”
“Kita tidak bisa main mencoba, kita harus mendapat
kepastian”
“Apakah dalam perjuangan seperti sekarang ini kepastian
itu ada, komandan”
“Apa yang kau maksud”
Maksud saya, saat sekarang ini kita tidak boleh berkukuh
pada soal kepastian. Semua harus kita coba. Kapan kita bertempur

74
juga tidak ada kepastian. Yang pasti, sekarang ini, kita Cuma
menunggu. Mental kita bisa rusak karena menunggu itu. Komandan
tentu tahu bahwa satu dua kawan-kawan kita sudah ada yang tidak
tahan melihat perempuan kampung yang kalau mandi bertelanjang
di sungai dan kita bisa mengintip dengan jelas. Kita semua terganggu
karena kita tak punya kerja. Anak-anak itu datang dari Surabaya
dengan semangat penuh, tapi sekarang... mereka Cuma mengintip
perempuan desa mandi telanjang. Dan itu sangat menyiksa
komandan”
“Saya tahu”
“Lantas apa yang harus kita perbuat”
“Cuma terbatas pada mengintip itu saja. Mereka tak boleh
lebih. Kalau terseret dan merusak disiplin mereka harus ditembak
mati”
“Ditembak mati”
“Apa salah mereka”
“Karena mereka merusak perempuan desa”
“Mereka seperti saya masih anak-anak”
“Pejuang sudah dewasa, tak ada anak-anak lagi. Anak-anak
tak ada yang bermain dengan nyawa. Pejuang bermain dengan
nyawa”
“Kita tidak bermain-main komandan”
Percakapan ini menurut Hian Biauw sudah melantur. Sudah
keluar dari riil. Ini menandakan juga bahwa komandan pasukan sudah
jenuh dengan menunggu dan menunggu yang tak ada ujung
pangkalnya. Menunggu memang bisa membuat orang frustasi dan
membuat orang punya sifat aneh. Hian Biauw berusaha
mengembalikan kepersoalan yang semula.
“Seandainya saya bisa memberikan kepastian komandan,
apakah saya bisa menulis surat kepada ayah saya?”
“apa kerja ayahmu”
“ pedagang komandan”

75
“Tionghoa pedagang mau membantu kita?" tanya Mayor
Mangku. Ia mungkin lupa bahwa yang berada di mukanya sekarang
ini adalah orang Tionghoa juga. Tubuhnya yang terbakar sinar
matahari menjadi hitam. Mungkin yang membuatnya orang masih
beranggapan ia orang Tionghoa adalah matanya yang sipit.
Karenanya dulu kawan-kawan seerjuangan di Kawatan menjulukinya
Sinyo Sipit.
“Saya juga anak pedagang Tionghoa," kata Hian Biauw
singkat. Ucapannya itu menyadarkan Mayor Mangku masih
menguatirkan bahwa surat tersebut akan membuka rahasia
persembunyian mereka.
Laginya belum tentu ayah anak buahnya itu berani
memberikan bantuan. Membantu Republik ia mendengar
hukumannya berat di kota. Di cap mata-mata Republik begitu saja,
sudah cukup bagi Belanda untuk menjebloskan ke dalam penjara
atau ditembak mati. Tapi, pikirnya lebih lanjut. Bantuan memang
harus dicari. Tidak mungkin ia bertahan terus dengan kadangkala
harus menembaki kubu Belanda untuk memberikan bukti bahwa
perlawanan masih ada. Peluru pasti habis dan kalau peluru habis,
itu namanya konyol.
“Baiklah, kau tulis ‘Saya yang akan membawanya
sendiri....’," akhirnya ia memberikan keputusan.
Sekarang Hian Biauw yang bingung. Apa yang akan ditulis
kepada orang tuanya. Apakah ia akan menulis pada ayahnya atau
kepada ibunya? Mestinya lebih gampang jika ia menulis pada ibunya.
Ibunya pasti mau memberikan uang simpanannya untuk membantu.
Tapi itu semua akan membikin repot ibunya. Kepada ayahnya? Ini
pun sulit. Jika ketahuan bahwa ayahnya membantu para pejuang,
masyarakat Tionghoa membantu golongan ektremis. Mayor Tionghoa
yang memperoleh bintang jasa dari Ratu Belanda sendiri. Akhirnya
Hian Biauw Cuma bisa menyahut:

76
“Baik Mayor secepatnya saya akan menulis. Kapan Mayor
akan berangkat”
“Begitu suratmu selesai”
“Siap komandan," lantas Hian Biauw keluar, merenung
sendiri. Kabut tebal sudah menutupi lembah di bawah. Pemandangan
yang indah, tapi rasa dingin menyusup sampai ke tulang.
Papa yang tercinta,
pembawa surat ini adalah komandan pasukan Hian Biauw.
Harap papa suka menerimanya dengan penuh keramahtamahan.
Keadaan Biauw sekarang ini sehat-sehat. Kami semua berada tidak
sbeerapa jauh dari Surabaya. Di sebuah desa yang hawanya sangat
sejuk. Membuat orang betah. Kapan kalau perang sudah usai, Biauw
akan ajak papa dan mama menikmati udara segar dan bersih desa
ini. Penduduknya ramah tamah. Suka menolong. Yang banyak
adalah ketela dan pepaya. Mereka sbeenarnya sangat miskin.
Pendidikan boleh dikatakan tidak pernah disentuh. Baik dalam
zaman Belanda maupun zaman Jepang. Rasanya, pa, jika perang
sudah usai. Biauw ingin tetap di desa ini untuk mengajar mereka
mengenal huruf. Rasanya kemerdekaan itu percuma saja jika rakyat
tetap bodoh. Rakyat tidak tahu huruf latin dan tidak bisa
menandatangani surat. Semuanya, dengan cap jempol yang
tangannya kita tuntun. Seperti kita sebrangkan orang buta saja.
Kalau melihat situasi pertempuran sekarang, rasanya
pertempuran ini sudah tidak lama lagi. Menurut teman-teman,
diplomasi sedang dilakukan di Jakarta. Kalau berhasil, semua
perjuangan bersenjata akan dihentikan dan Biauw bisa kembali ke
rumah lagi. Tapi saat ini pertempuran belum selesai. Letusan senjata
masih terjadi di mana-mana untuk membuat pusing pihak lawan.
Biauw tahu, bahwa kepergian Biauw pastilah tidak mendapat restu
orang tua. Papa juga tidak akan merestui Biauw, karena Biauw
adalah anak satu-satunya yang diharapkan untuk meneruskan

77
keturunan papa. Tapi Biauw juga berjuang bukan untuk mati. Tapi
untuk ikut mempertahankan kemerdekaan yang sudah diikrarkan
oleh presiden Soekarno di Jakarta. Singkat kata, Biauw
mengharapkan bantuan papa agar Papa dapat menghimpun dana
dari kota untuk diserahkan kepada kami guna membeli segala
keperluan untuk bertempur. Mungkin Papa akan tertawa, kalau
Biauw mengatakan, kita kekurangan senjata dan amunisi. Kita
sangat memerlukan Papa, dan sukalah Papa membantu kami?
Biauw tak sampai hati menulis pada Mama. Tapi tolong
swampaikan pada Mama, bahwa saat ini Biauw sangat merasakan
kehilangan cinta kasih Papa dan Mama. Biauw sangat kangen. Saat
ini Biauw Cuma bisa berdoa agar Papa dan Mama dikaruniai dan
dirahmati oleh Tuhan. Biauw selalu sembahyang untuk keselamatan
Papa dan Mama...”
Anak Papa dan Mama yang mengharapkan doa restu
Biauw.
Surat ini kemudian dibaca Hian Biauw berulang-ulang. Ia
merasa tidak ada identitas pasukannya yang dibocorkan. Apalagi
surat ini akan dibawa langsung oleh Pak Mangku. Jadi seandainya
ayahnya memang benar-benar bisa membantu, maka uang itu akan
aman.
Ia merasa sama sekali tak bersalah, mengapa ia sampai mau
membuka kisah hidupnya yang sebenarnya, yang selama ini tak
pernah dibukanya. Kalau Pak Mangku nanti ke rumahnya, pastilah
tahu siapa sebenarnya. Ayahnya orang yang terkenal di kawasan
Kapasan. Ia juga yakin, bahwa apa yang dilakukannya sekarang ini
adalah hal yang benar. Pertempuran dengan Belanda memang jarng
terjadi. Masing-masing pihak berusaha menghindarkan diri dari
bentrokan senjata yang nyata. Tapi seandainya ada bentrokan senjata,
maka kekejaman diperlihatkan oleh kedua belah pihak. Baik oleh
pihak Belanda terhadap diri seorang pejuang yang berhasil ditembak,

78
maupun perlakukan pejuang terhadap Belanda. Tidak ada usaha
untuk menyelamatkan nyawa lawan. Siapa yang tertembak yang
belum mati, justru di sembelih perutnya dan dimasuki selongsong-
selongsong peluru. Ini semua, merupakan kesadisan dengan maksud
untuk merontokkan semangat lawan. Memang anggota pasukan ada
yang gila melihat kekejaman Belanda yang seringkali dibalas dengan
kekejaman yang sama oleh pejuang kita. Yang tidak tahan ada pula
yang lari, memihak kepada musuh, menjadi mata-mata.

79
14

Dalam soal persenjataan, yang dulunya berkelebihan ketika
baru berhasil merampas dari gudang senjata Jepang Di Don Bosco
Surabaya, keadaan kian menipis. Senjata produksi dalam negeri dari
Desa Merican, Jawa Timur sendiri mutunya tidak bagus. Kadang
bisa meledak bersama larasnya sekali, sehinggameninggal juga yang
tadinya membidik. Karenanya harus diberi persenjataan yang sama
mutunya dengan yang dipunyai musuh. Senjata-senjata itu hanya
ada di pasaran gelap. Dimana, Hian Biauw tidak tahu. Namun ia
tahu dengan pasti, jika memiliki uang, senjata-senjata itu bisa dimiliki
dengan gampang. Uang memang berkuasa. Juga disaat perang.
Untungnya pada akhirnya Mayor Mangku mempercayai. Mayor
Mangku sebenarnya termasuk orang yang paling tidak mempercayai
orang Tionghoa. Ada rasa tidak senang, karena ia mendengar bahwa
orang-orang Tionghoa yang tidak mengungsi selama perang di bulan
November tahun yang lalu, kemudian menduduki rumah-rumah
orang Belanda yang ditinggalkan sebelumnya diduduki Jepang.
Daerah-daerah elite yang dulu menjadi kebanggaan Belanda banyak
yang dimiliki orang-orang Tionghoa.
Semuanya ini memang beredar dari mulut pejuang yang satu
ke mulut pejuang yang lainnya. Maksudnya mungkin untuk
membakar ketidaksenangan terhadap golongan Tionghoa. Sejarah
untungnya memberikan keseimbangan. Jika ada orang Tionghoa yang
jelek atau jahat, pasti juga ada kelompok yang baik, yang mau ikut
berjuang. Contohnya diri sendiri. Atau Mayor Mangku juga sudah
mendengar kalau Tiongkok sudah memberikan pengakuan terhadap
kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-
Hatta.
Hian Biauw juga mengakui bahwa persenjataan yang
sekarang di tangan para pejuang sbeenarnya sudah tidak cocok lagi

80
untuk dipakai melawan persenjataan Belanda terutama yang
mendapat bantuan Sekutu sehingga yang dipakai Belanda adalah
senjata-senjata bebas yang dipakai serdadu Inggris melawan Jepang.
Pertempuran yang mulai dengan gaya profesional, membuat
para pejuang yang juga menyadari bahwa ketrampilan sangat perlu
mereka miliki. Tidak bisa seperti di Surabaya dulu lagi. Percaya
pada keampuhan bambu kuning atau cukup menelan sembilan puluh
sembilan gotri sepeda agar tubuh jadi kebal. Sekarang ini di Prigen
sahabat-sahabatnya mulai mempercayainya. Tapi, semuanya sudah
terlambat. Mesiu sharus dihemat. Peluru tidak boleh lagi boleh dibuat
latihan. Bisa menembak jitu atau tidak peluru harus dihemat. Bahkan
ada perintah agar setiap peluru yang dilepaskan bisa membawa
korban satu nyawa prajurit Belanda.
Seandainya saja sekarang ini Effendi ada pastilah ia bisa
ikut gembira bahwa ia yang benar, tempo hari. Secara rasional ia
memang benar. Tapi, dulu itu, insiden yang hampir membuat ia mati
dikeroyok teman-teman sendiri adalah soal budaya. Sekarang teman-
temannya merasakan, bahwa perang tdak bisa dihadapi dengan
bambu kuning atau keris. Karena Belanda memakai bedil yang
otomatis. Sedangkan persenjataan kita hampir semuanya bekas dari
Jepang. Cukup modern, tapi tetap kalah dengan punya Belanda.
Atau apakah di sini letak kebenaran pertanyaan Oen Tjhing
Tiauw bahwa masih dipertanyakan, apakah sbeenarnya kita sudah
siap menghadapi kemerdekaan sesudah perang dunia kedua usai?
Pernyataan yang sebenarnya rasional, tetapi juga bisa dikatakan
konyol. Bagi Soekarno, yang sudah berjuang sejak tahun-tahun 1920-
an masalah kemerdekaan adalah masalah yang paling hakiki dalam
kehidupan bangsa. Karenanya tidak boleh ditunda lagi. Setiap ada
kesempatan harus dipergunakan.
Kesempatan itu datang begitu Jepang menyerah dan ada
kevakuman kekuasaan di Hindia Belanda. Momentum ini yang harus

81
dipergunakan. Tidak ada tawar menawar lagi. Karena hal-hal yang
belum teringat bisa dirundingkan dalam waktu belakangan. Cara-
cara semacam ini tidak mungkin dilakukan oleh golongan Tionghoa
yang lebih suka berpikir secara “njelimet”.
Tapi sekarang kemerdekaan ini bagi Hian Biauw sudah bukan
siap atau belum siap lagi. Sudah menjadi bagian dari hidupnya yang
harus diperjuangkannya, hidup sampai mati. Bagi Hian Biauw
kesiapan bukan soal. Ia sudah bisa berpikir dengan pola budaya orang
Jawa. Padahal mestinya, ia juga harus menyadari bahwa pola itu
bukan monopoli orang Jawa. Pemikiran itu adalah pemikiran kaum
intelektual, yang menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan satu
bangsa adalah hak asasi yang paling utama. Kita memang tidak bisa
mengerti, mengapa selama tiga ratus limapuluh tahun manda dijajah
Belanda, dan kini tiba-tiba siap mati untuk mempertahankan
kemerdekaan. Inilah sebenarnya misteri itu.
Keberaniannya dalam pertempuran di Surabaya memang
membuat Hian Biauw dekat dengan komandannya. Mula-mula
memang banyak yang iri. Ia sering diajak berunding oleh sang
komandan. Tapi kemudian, tak ada orang lagi yang iri. Semua orang
kemudian tahu bahwa Hian Biauw yang saat itu sudah dikenal
sebagai Sinyo Sipit, tak punya ambisi dalam pertempuran ini. Ia
hanya baru mencoba menghayati, bahwa pertempuran yang
meletihkan ini adalah pertempurannya juga. Ia sudah mulai berpikir
lain dan tidak lagi merasa bahwa soal kemerdekaan adalah soal orang
Jawa dan memisahkannya dengan kepentingan orang Tionghoa.
Habis menulis Hian Biauw tidak segera menyerahkan surat
itu kepada Mayor Mangku. Ia keluar rumah dan menuju jalan. Di
situ ia duduk termenung sendiri. Kerja pejuang kalau malam hari
memang begitu. Tak ada kerja yang berarti. Pihak Belanda demikian
juga.seolah sudah ada kesepakatan bahwa mereka akan menunda
peperangan pada malam hari. Sama-sama mau istirahat. Persetujuan
yang tidak pernah dicapai di meja perundingan, tetapi yang begitu

82
saja terjadi dan disepakati bersama. Ia menyelimutkan sarungnya
sampai leher, mencoba mengusir hawa malam yang dingin. Ia
mencoba merekam kembali bagaimana pasukannya bisa sampai di
Prigen ini dan bagaimana mereka bertemu dengan kelompok gerilya
yang terdiri dari kaum pelajar putri yang berasal dari Malang.
Bergabungnya pelajar-pelajar putri ini membuat Hian Biauw tambah
yakin, bahwa usaha mempertahankan kemerdekaan ini sudah
menjadi budaya masyarakat. Rasanya tidak enak kalau tidak ikut
berjuang. Pelajar putra dan putri ikut terpanggil. Inilah yang menurut
pendapatnya, misteri dari arti kemerdekaan. Ia kemudian masuk
rumah lagi. Meneruskan suratnya pada kertas yang lain.
Papa yang tercinta, Biauw ingin menceritakan, bahwa
perjuangan kaum pejuang, ikut juga berjuang kaum perempuan.
Waktu kami mundur dulu, kami bertemu mereka di luar kota. Mereka
sebenarnya semula berasal dari Malang. Mereka mendengar bahwa
di Surabaya terjadi pertempuran. Mereka kemudian ingin membantu
dan ingin ikut berjuang. Tapi para pejuang sudah meninggalkan
Surabaya dan mereka kemudian bergabung dengan pasukan kami.
Dari sekian banyak perempuan tidak ada yang Tionghoa. Sungguh
sangat sayang. Biauw yakin, kalau mama masih muda dan masih
duduk di bangku HBS, mama pasti ikut berjuang. Bukankah pada
zamannya dulu mama juga dianggap pemberontak oleh kakek dan
nenek karena mama ingin sekolah di HBS?
Oh papa, andaikata Biauw tidak ikut berjuang, rasanya
Biauw akan malu seumur hidup. Perempuan-perempuan yang masih
muda yang masih memakai kuncir yang kalau di rumah kita pasti
dipanggil genduk, ternyata adalah pejuang yang gigih. Mereka
itulah yang tabah membesarkan semangat kita yang kadang-kadang
merasa capai.
Papa, biauw memperoleh pengalaman yang luar biasa
indahnya dalam pertempuran ini. Apakah papa pernah mendengar
dimana Effendi sekarang berada? Sejak dari Surabaya, kemudian

83
mengungsi ke luar kota, Biauw tidak pernah bertemu lagi dengan
Effendi. Selain papa dan mama, Effendi merupakan orang yang
ingin Biauw temui. Biauw rindu kepadanya. Ia seorang sahabat
yang baik. Ia sebenarnya guru Biauw meskipun usianya sama
dengan usia Biauw. Dari dirinya Biauw mengerti bahwa kita sebagai
pemuda berkewajiban untuk membela nusa dan bangsa. Seandainya
papa mengetahui atau mendengar dimana Effendi tolonglah
memberitahu Biauw lewat Mayor Mangku, pembawa surat ini.
Hian Biauw sebenarnya ingin sekali menulis surat kepada
ibunya. Rasanya belum “sreg” hatinya kalau ia belum menulis surat
kepada ibunya. Ibunya pasti marah kepadanya kalau ia bisa menulis
surat kepada papanya tetapi tidak bisa menulis surat kepadanya. Tapi
tidak. Ia tidak boleh terikat pada keluarganya. Ibunya lain dengan
ayahnya. Ibunya orang perempuan. Pasti nanti banyak cerianya
kepada tetangganya. Pasti ia bercerita pada tetangga bahwa anaknya
yang ikut maju perang menulis surat kepadanya. Itu tidak boleh
terjadi. Kalau ayahnya lain. Ayahnya pasti mampu menyimpan
rahasia. Pasti tidak akan bilang pada siapa-siapa. Ayahnya pasti tahu,
mana yang baik untuk dirinya, mana yang baik untuk keluarganya.
Mana yang tidak baik.
Akhirnya ia mengambil keputusan bahwa ia tidak menulis
surat kepada ibunya. Ia hanya titip salam lewat surat pada ayahnya.
Ini untuk keamanan.

84
15

Dari dalam rumah ia mendengar suara tertawa di jalan. Ia
memunculkan kepalanya lewat jendela untuk melihat. Kabut tebal
di udara Prigen. Ia tak melihat siapa yang tertawa. Tapi tertawa itu
kemudian muncul lagi. Sekarang ada sinar api unggun. Kiranya
teman-temannya kumpul bersama main gaple. Laskar perempuan
ada yang ikut. Hian Biauw ingin ikut mendekat. Tapi tidak. Ia lebih
senang menyendiri. Ia kemudian kembali duduk di jalan sambil
menyelimutkan sarungnya kembali sebatas leher. Ia mencoba
mendata kembali bagaimana perempuan-perempuan remaja itu
dulunya bisa bergabung. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu, persis
seperti yang ditulisnya pada ayahnya. Ketika ia bersama pasukannya
mengungsi keluar kota.
Di tengah jalan mereka berjumpa pejuang yang datangdari
Surabaya, yang sedang berusaha menyusun strategi baru di luar kota.
Di situ pemuda-pemudi itu bergabung sebagai pasukan Palang Merah
atau Dapur Umum. Kehadiran mereka memberi banyak arti bagi
para pejuang yang telah letih dan jenuh karena berpindah-pindah
tanpa pernah menghadapi musuh secara langsung. Strategi disusun
oleh para atasan dan mereka tahunya Cuma berpindah dari satu desa
ke desa yang lain. Mereka ini maunya bertempur di front dan
bukannya mundur terus. Mengapa mereka harus menghindari
Belanda? Bukankah mereka seharusnya menghadang dan membantai
Belanda? Prajurit memang tidak selalu harus diberitahu bahwa
mereka harus bersiasat, demi perundingan siasat harus ditempuh.
Pemimpin-pemimpin dari Pusat tidak menghendaki pertempuran
terbuka. Mereka harus bergerilya. Belanda harus merasakan
kehadiran mereka, bahwa mereka berada di mana-mana tetapi tidak
tahu harus menghadapi pejuang-pejuang itu. Belanda haruslah
merasa seperti berperang dengan hantu. Dibilang aman, namun pada

85
malam hari selalu terdengar letusan senjata dan kerusuhan di setiap
kota. Entah gudang senjata Belanda yang terbakar atau rumah orang-
orang kaya dirampok. Itulah perang saat itu..
“He, kau melamun lagi," tiba-tiba sebuah suara merdu
menyadarkan Hian Biauw yang sedang duduk sendiri di tepi jalan
simpang tiga menuju Trawas. Latifah, gadis MULO dari Malang
yang sudah beberapa bulan ini bergabung dengan pasukannya
menyapanya dan kemudian ikut duduk di sampingnya. Hian Biauw
sering merasakan Latifah sebagai orang yang sangat memahaminya,
yang mau mendengarkan keluhan hatinya kalau hatinya sedang kacau
atau sedih. Pertama kali ia merasa dekat pada gadis ini ketika Latifah
menghibur dirinya yang susah karena kehilangan Effendi. Pada saat
itu Hian Biauw seolah tidak punya teman. Latifahlah yang berjasa
mengembalikan kepercayaan pada dirinya sendiri dan menimbulkan
semangatnya, dan membuat ia tak lagi merasa sebatang kara. Tak
banyak orang yang suka bergaul dengan dirinya. Dalam pertempuran
di Surabaya, bersama Effendi, ia sering melakukan tindakan berani
mati yang menjadi kekaguman pejuang lainnya. Selama mengungsi
tidak ada pertempuran fisik dan tidak ada kesempatan untuk menjadi
pahlawan. Apalagi, selama di Surabaya dulu ia memang terlalu dekat
dengan Effendi dan belum biasa bergaul dengan yang lain-lain secara
akrab. Sekarang dengan berpisahnya Effendi, ia tidak tahu harus
akrab dengan siapa.
Kesendiriannya makin terasa karen Pak Mangku, Komandan
pasukannya yang baru, meskipun akrab dan bisa memakluminya,
seorang laki-laki usia tigapuluhan yang amat tertutup.
Ketertutupannya ini mungkin ada sebabnya. Pada suatu malam ketika
masih di Sepanjang, Pak Mangku memerintahkan bawahannya untuk
menyerbu menerobos ke Surabaya dan menembaki setiap tentara
Belanda yang mereka temui. Mereka tidak mengadakan penyelidikan
terlebih dulu padahal berita penyerangan itu sudah terdengar
Belanda. Strategi yang disusun Belanda berupa lapisan penduduk

86
yang ditawan paling depan, dengan pasukan Cakra di belakangnya.
Ketika kedua musuh berhadapan, tanpa ragu pejuang meletuskan
senjata mereka. Mereka sempat mendengar pekik “Merdeka!
Merdeka!” sebelum mereka menghilang dalam kelam malam.
Keesokan harinya terbetik berita bahwa yang mereka bantai adalah
penduduk yang diikat tangannya di belakang dan ditutup matanya
dengan kain hitam. Sangat tragis memang...
Sejak saat itu mereka makin hati-hati. Mereka tidak akan
menyerang kalau tidak tahu pasti keadaan musuh. Dan Pak Mangku
menjadi makin murung. Salah seorang penduduk yang menjadi
korban malam itu adalah ayahnya sendiri...
Hanya kekerasan hatinya dan kecintaannya kepada
kemerdekaan yang belum pernah dirasakannya bagaimana itulah
yang membuatnya masih mampu tegak di situ memimpin
pasukannya.
Dan Hian Biauw, seperti yang lain-lain, tidak berani
mengganggu atasannya. Ia sering menyendiri, kangen pada Effendi,
pada saat-saat mereka menunjukkan keberanian mereka bersama,
pada suaranya... ah!
Sekali lagi Hian Biauw kaget dari lamunannya. Latifah yang
jengkel karena didiamkan telah mencabut bunga rumput buat
menggelikan lubang telinganya.
“ Mana teman-teman lainnya?” tanyanya.
“Main kartu”.
“Kau tidak ikut?”
“Ayoh, kita ikut ramai-ramai," ajak Latifah.
“Kau saja. Aku... biarlah di sini saja”.
Suasana sepi kembali. Latifah tetap duduk.
“Ke sanalah, kau main sama mereka," desak Sinyo Sipit
lembut.
“Biarlah kutemani kau di sini”.

87
16

Hian Biauw tersenyum memandang kedua mata Latifah yang
lebar dan bening. Ia percaya akan kesungguhan kata-kata gadis ini.
Mata gadis ini mengingatkan kepada temannya di sekolah,
Mimi. Ayahnya importir gula, sahabat orang tuanya. Tapi Mimi tidak
seperti Latifah. Mimi orangnya sombong dan pesolek. Mungkin,
karena ia tahu bahwa ia cantik dan anak orang kaya, ia jual mahal di
sekolah. Tidak kepada semua orang ia mau bersahabat. Juga tidak
kepada Hian Biauw. Karena saat itu Hian Biauw lebih dekat dengan
murid-murid Jawa daripada murid-murid Tionghoa yang derajatnya
disamakan dengan Belanda.
Hian Biauw sebenarnya naksir. Ibunya dulu juga senang
dengan gadis ini. Tapi saat itu Hian Biauw belum memikirkan serius.
Masih cinta monyet. Seperti teman-temannya yang lain, ia menyukai
Mimi karena bentuk tubuhnya yang tinggi dan kakinya yang mulus.
Entah mengapa, ia suka pada gadis-gadis yang berkaki mulus. Latifah
juga punya kaki yang mulus, meskipun wajahnya tidak secantik
Mimi. Dalam perjuangan seperti sekarang ini, perempuan dan senjata
yang paling mendapat perhatian para pejuang. Perempuan bisa buat
menghalau kesepian. Naksir kepada penduduk, tak ada yang berani.
Komandan sudah mengeluarkan instruksi yang keras. Siapa pun juga
tidak boleh mengganggu penduduk desa. Apalagi berkencan. Jadi
pemandangan sehari-hari, melihat perempuan-perempuan desa
mandi dan bercumbu dengan suaminya di malam hari membuat
siksaan tersendiri. Ditambah persenjataan yang makin hari makin
menipis, membuat orang sudah tak pikir panjang lagi.
Teman pun akan dirampas senjatanya. Ini yang membuat
Hian Biauw tidak enak dalam hati. Perjuangan sudah menyimpang
dari tujuan yang semula. Karena itulah ia bersikeras unuk menulis
surat pada ayahnya. Tapi kabar dari ayahnya tak kunjung tiba. Pak

88
Mangku yang membawa sendiri surat itu belum kembali. Tanda tanya
besar pada dirinya. Apakah kedua orang tuanya sudah mengungsi?
Tak mungkin! Ayahnya tak mungkin mengungsi. Rumah itu sudah
ditempati beberapa generasi. Setahunya sudah dari Makco, yakni
orang tua nenek, keluarganya sudah menetap di sana. Jadi tak
mungkin ditinggalkan begitu saja. Atau ? apakah kedua orang tuanya
sudah dibunuh? Ia memang mendengar, bahwa di kota banyak
pembunuhan terhadap orang-orang Tionghoa. Mungkin saja orang
tuanya bisa dianggap sebagai musuh golongan Republik, karena
ayahnya dulu adalah pembantu Belanda. Dengan menjadi Mayor
untuk golongan Tionghoa, itu sama saja dengan membantu Belanda.
Tapi jabatan itu adalah jabatan yang mulia, yang didambakan oleh
semua tokoh-tokoh kaya orang Tionghoa. Karena dengan jabatan
itu bisa punya hak-hak istimewa. Hak gadai, hak monopoli candu
dan pajak jalan. Semuanya ada di tangan seorang pemimpin Tionghoa
yang ditunjuk oleh Belanda.
Jabatan itu jabatan yang mulia. Orang Tionghoa lainnya juga
menganggap yang bersangkutan punya kedudukan tinggi. Mereka
dihormati dan diturut nasihatnya. Setiap persengketaan diatasi
bersama. Tujuan Belanda memang disini. Orang Tionghoa agar
menyatu dalam kelompoknya sendiri dan diurus oleh kelompok
mereka sendiri. Ditempatkan di tempat yang khusus, sehingga mudah
diawasi.
Memang bisa ada anggapan bahwa golongan Tionghoa ini
di anakmaskan. Yang sering dilupakan ialah tujuan pokok dari
Belanda sendiri. Yakni agar orang Tionghoa mudah diawasi.
Hian Biauw juga mendengar bahwa di kota ada gerakan yang
dinamakan Poh An Tui, yakni gerakan yang mau meniru gerakan
PETA waktu zaman Jepang. Sekarang yang dipersenjatai Belanda
ialah orang-orang Tionghoa. Menurut Belanda, maksud dari Poh
An Tui inilah untuk menjaga kampung halaman mereka.

89
Sehingga dengan demikian Belanda tidak perlu lagi menjaga
kampung yang banyak orang Tionghoa. Mereka biar bisa menjaga
keperluan mereka sendiri. Belanda dengan demikian mengharapkan
kelompok Tionghoa ini satu saat bisa ada bentrokan senjata dengan
kaum pejuang yang sebelumnya sudah diisukan perampok. Kalau
sampai ini terjadi, kelompok Tionghoa pasti akan merangkul Belanda
lagi. Mereka tidak punya pilihan lain. Sebab yang dikuatirkan
Belanda adalah, jika kelompok Tionghoa ini sampai bersimpati
terhadap perjuangan kaum republik, maka dana mereka akan
mengalir juga ke sana. Seperti dulu mereka sudah mengalirkan ribuan
gulden ke Tiongkok untuk membantu negara itu melawan Jepang.
Tiongkok kemudian diharapkan netral.
Pembentukan Poh An Tui memang bisa dianggap sebagai
usaha licik dari pihak Belanda. Tapi di luar Jawa, pembentukan itu
bukan dilakukan oleh pihak Belanda. Di Medan, Aceh atau Padang
misalnya, gerakan itu muncul dri kalangan orang Tionghoa sendiri
yang kemudian pro republik. Poh An Tui tidak bisa secara gegabah
dikatakan sebagai lembaran hitam dalam diri orang Tionghoa.
Terutama kalau mau dijadikan alat ukur menilai sumbangannya untuk
Republik.
Dalam hati Hian Biauw menjerit sendiri: “Tidak”.
Maksudnya ia mempunyai anggapan bahwa kedua orang tuanya tidak
mungkin membantu Belanda. Kalau toh membantu itu hanya terbatas
pada membantu Sekutu untuk menyelesaikan persoalan tawanan
perang. Bukan membantu Belanda melawan para perjuang. Tak
mungkin orang tuanya mempunyai pandangan yang sempit. Gerakan
kemerdekaan adalah gerakan yang universal. Ia yakin kedua orang
tuanya meyakini masalah ini. Bahkan jauh sebelum pertempuran di
Surabaya yang ia anggap heroik, di mana ia sendiri terlibat langsung,
orang tuanya sudah tahu tentang bakal merdekanya bangsa Indonesia.
Kedua orang tuanya mengikuti dengan seksama rapat-rapat yang

90
diadakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan, dimana orang
Tionghoa terlibat langsung di sana. Misalnya dengan duduknya
orang-orang seperti Jap Tjwan Bing dan Lim Koen Hian, tokoh dari
Partai Tionghoa Indonesia dan Oei Tjong Hauw ikut bicara dalam
rapat-rapat yang dihadiri oleh Soekarno itu. Di mana kemudian
Soekarno pada tanggal 1 Juni mengucapkan pidatonya yang terkenal
mengenai rumusan Pancasila. Tentang pidaro Oei Tjong Houw itu
rasanya ia masih hafal luar kepala. Itu semua lamunan Hian Biauw
ketika memandang mata Latifah yang hening.

91
17

Orang-orang Tionghoa waktu itu memang sangat bangga
terhadap Owi Tjong Hauw, pidatonya yang singkat tapi menggelegar
terdengar sampai ke pelosok tanah air dengan bantuan pers Melayu
Tionghoa.
Antara lain yang dulu pernah dibacakan oleh ayahnya sebagai
berikut :
Paduka Tuan Ketua yang terhormat. Setelah sidang Badan
Penyelidik menetapkan corak susunan pemerintah, yaitu republik
dan menetapkan daerah republik Indonesia, tibalah saatnya kita
berunding tentang Undang-Undang Dasar yang akan
diselenggarakan oleh panitya yang akan dibentuk. Dalam sidang
yang pertama dan sidang ini juga, yang seringkali dapat
didengarkan yaitu perkataan “kedaulatan rakyat”. Dari anggota
yang terhormat tuan Mohamad Yamin kita sudah mendengar
bagaimana pembentukan suatu negara dapat dijalankan. Tapi tuan
Ketua, sebetulnya kedaulatan rakyat itu dipusatkan di dalam badan-
badan pemerintah, tidak saja dalam badan pusat tetapi juga badan-
badan daerah. Jadi yang saya anggap sangat penting yaitu
aturannya, secara bagaimana rakyat dalam memilih wakil-wakilnya
untuk menjadi utusannya di dalam badan-badan pemerintahannya.
Jikalau aturan ini tidak dijalankan sebaik-baiknya, tentulah
bisa dan mungkin sekali kejadian, apa yang dalam sidang Tyuuo
Sangiin yang ke delapan dikemukakan oleh anggota yang terhormat
tuah K.K. Dewantara, ialah, bahwa wakil-wakil sebetulnya bukan
wakil-wakil dari rakyat sehingga jikalau beliau-beliau berpidato
hanya ditertawakan melulu. Dulu, dalam sidang pertama, saya
sudah mengemukakan cara pemilihan. Apakah kiranya yang memilih
dan yang dipilih harus berusia, bilang saja, 25 sampai 30 tahun,
dan harus lulus dari sekolah menengah atau bagaimanakah syarat-

92
syaratnya. Hal itu sebenarnya agak sukar mengingat tingginya
pengetahuan daripada rakyat umumnya.
Dari itu, kalau kita memakai sebagai batas pelajaran di
sekolah menengah misalnya mungkin sekali kebanyakan daripada
rakyat tidak dapat mengemukakan pendiriannya dan wakil-wakil
yang dipilih secara demikian tidak akan diterima oleh rakyat sebagai
wakilnya. Saya harap agar soal ini dipikirkan sedalam-dalamnya
oleh Panitya Kecil yang akan dibentuk. Sekarang saya akan
membicarakan soal Kerakyatan, Paduka Tuan Ketua.
Terlebih dahulu saya mengucapkan diperbanyak terima
kasih kepada yang terhormat Wongsonegoro yang memberi bukti
kepada saya bagaimana perasaan beliau terhadap golongan saya.
Benar sekali artinya, Paduka Tuan Ketua, bahwa di antara bangsa
Tionghoa yang hidup di Indonesia masih ada banyak yang
memegang teguh kerakyatannya yaitu kerakyatan Tiongkok setelah
kerakyatan Belanda lenyap.
Sebab di antara kalangan pemimpin Indonesia saya
seringkali dapat didengar suara bahwa orang Tionghoa tidak mau
jadi Rakyat Indonesia karena memandang rendah kerakyatan itu.
Perlu sekali tuan Ketua saya di sini memberikan sedikit keterangan.
Sebetulnya dalam sidang pertama saya sudah
mengemukakan harapan saya dari sidang yang terhormat, agar
janganlah dilupakan bahwa pergerakan kebangsaan tidak saja
dijalankan di Indonesia tetap juga di seluruh Asia, maka juga di
Tiongkok.
Jikalau ada suatu waktu, dimana perasaan kebangsaan
Tionghoa meluap setinggi-tingginya, yaitu sehabis peperangan Dai
Toa pecah. Kita jangan lupa bahwa sebelum perang Dai Toa di
Indonesia pun ada gerakan Tionghoa yang dinamakan oleh
Pemerintah Belanda almarhum “De Chineesche Beweging”
(Gerakan Tionghoa).

93
Waktu itu saya masih ingat, bangsa Tionghoa tidak
menyetujui kerakyatan Belanda sebab tidak memberikan hak sama.
Kita dinamakan Nederlandsche Onderdanen van Uittheemschen
Oorsprong”. Tapi pada waktu itupun kita mendapat bukti bahwa
sebetulnya bukan rakyat sendiri yang menentukan kerakyatannya,
walaupun pada waktu itu penduduk Tionghoa di Indonesia tidak
menyetujui kerakyatan Belanda dan sudah mengizinkan utusan ke
Tiongkok. Pada waktu itu sebagai akibat daripada perundingan
antara pemerintah Tiongkok dengan pemerintah Belanda, jadi
perundingan antara pemerintah kita orang tetap dianggap sebagai
rakyat Belanda, yaitu seperti saya namakan dengan kata asing:
Nederlandsche Onderdanen van Uitheemschen Oorsprong”.
Kita menerima putusan pemerintah-pemerintah Tiongkok!
Sekarang pun begitu dan pokoknya perasaan kebanyakan penduduk
Tionghoa tidak lain ialah perasaan kebangsaan tuan-tuan! Tidak
sekali-kali seperti juga seringkali dikemukakan oleh orang-orang
berpengaruh, bahwa kita orang Tionghoa hendak menghalang-
halangi berdirinya Indonesia Merdeka atau kita orang Tionghoa
memandang rendah Rakyat Indonesia. Tidak begitu. Jika ada
kejadian perselisihan antara bangsa Indonesia dan bangsa
Tionghoa, saya mengharap agar tuan-tuan sekalian jangan
melupakan apa yang sudh dikemukakan oleh Saudara Yap Tjwan
Bing dalam sidang Tyuuoo Sangiin ke-8 ialah : jikalau ada seorang
yang berbuat salah, jangan bangsanya yang dipersalahkan. Orang
itulah yang harus dipersalahkan sendiri, bukan bangsanya. Kita
tidak malu akan kebangsaan kita. Bagaimana rendah juga Tiongkok,
kita mencatat diri kita sebagai orang Tionghoa, tetapi kita juga
tidak lupa akan jasa pemerintah negeri ini. Sehabis peperangan
Dai Toa, kita bangsa Asia, sama kedudukannya. Biar orang Birma,
orang Filipina, orang Nippon atau apa saja, kita adalah sama-
sama bangsa Asia dan kita semua harus merdeka dan bersama-

94
sama makmur. Ini pendirian orang Tionghoa. Saya rasa baik juga
saya ajukan keterangan itu kepada tuan-tuan sekalian, supaya tuan-
tuan jangan salah mengerti. Meskipun kita memilih kerakyatan
Tiongkok kita bersedia 100%, tuan-tuan sekalian, untuk membantu
Indonesia dalam mendirikan negara merdeka, menurut kepandaian
kita. Kita sebagai rakyat yang juga berjuang untuk mendapat
kemerdekaan sepenuh-penuhnya, tentu tidak akan menghalang-
halangi, bahkan akan membantu rakyat Indonesia dengan sepenuh-
penuhnya tenaga untuk mendirikan negara merdeka.
Sebagaimana kita menghormati hak perasaan kerakyatan,
tuan-tuan saya mohon dengan sangat, hormatilah perasaan
daripada bangsa saya.
Dalam anggaran Undang-Undang Dasar tentu akan
dimasukkan pendirian saya yang saya kemukakan di dalam sidang
yang pertama, ialah: Satu negara yang merdeka Paduka Tuan Ketua
ada mempunyai hak menurut kebiasaan internasional untuk
menentukan kerakyatan. Kerakyatan daripada negara merdeka
bukan satu barang yang ditawarkan kepada orang apakah ia mau
atau tidak. Suatu negara merdeka harus menetapkan kerakyatannya
di dalam undang-undang.
Apakah itu diterima atau tidak itu soal negara. Demikianlah
pendirian saya dalam hal kerakyatan. Saya mengharap agar
sumbangan ini sudah dianggap cukup.
Begitulah pidato Oei Tjong Hauw saat itu yang mendapat
sambutan hangat. Sebenarnya yang menjadi sebab ialah pada bulan
Mei 1945 itu Oei Tjong Hauw masih menganggap bangsa Tionghoa
sebagai salah satu bangsa tersendiri, lepas dari bangsa Indonesia.
Tjong Hauw saat itu masih sejalan pikirannya dengan pikiran rakyat
banyak. Yang ingin hidup di Indonesia, tetapi yang masih merasakan
sebagai satu bangsa yang bernaung di bawah kekuasaan Tiongkok.
Memang cukup membingungkan. Tapi pada saat itu, gema dari pidato

95
Tjong Hauw mungkin lebih keras dari pidato Han Kang Hoen
beberapa bulan kemudian. Karena Indonesia masih sibuk-sibuknya
mengadakan rapat-rapat persiapan kemerdekaan. Dukungan rakyat
Tionghoa saat itu, seperti yang diutarakan oleh Tjong Hauw bukan
main besarnya. Artinya tidak membuat masalah baru yang harus
membuat pemerintah yang bakal ada ini jadi pusing dengan masalah
baru. Secara juridis memang tidak ada masalah Tionghoa. Dukungan
yang diberikan oleh Tjong Hauw, yang meskipun mengaku tetap
sebagai orang Tionghoa ini sangat besar artinya. Karena pada saat
itu juga iparnya, Wellington Koo, ikut sebagai penanda tangan
piagam berdirinya Perserikatan Bangsa Bangsa. Jadi status Oei Tjong
Hauw tidak bisa dipancang kecil. Wellington Koo yang jadi iparnya
mewakili Tionghoa untuk menanda tangani piagam. Bukankah ini
merupakan satu masalah yang besar. Menantu raja Gula Indonesia
Oei Tiong Ham ikut menanda tangani persoalan dunia. Tak
terpikirkan sebelumnya, oleh siapapun juga.

96
18

Biauw kemudian sadar bahwa di hadapannya duduk seorang
gadis menemaninya. Ia kemudian bertanya:
“Besok kau ikut masuk kota Malang?”
“Nggak jadi. Biarlah aku tetap di sini”.
“Kau asli dari Malang?”
“Tidak, ayahku dokter gubernemen. Pindah dari satu kota
ke kota lain menurut tugas yang dipangkunya”.
“Orang tuamu pasti kehilangan kau...”
Latifah menghela nafas. Sejenak terbayang wajah ayah
ibunya. Entah bagaimana kabar mereka saat ini.
“Memang. Tapi aku merasa bahagia di sini. Dekat dengan
kawan-kawan dn bangsaku. Di rumah aku hanya terkurung bersama
saudara-saudaraku...”
“Ya, kau memang dekat dengan bangsamu.. tetapi aku bukan
bangsamu...” Tiba-tiba Hian Biauw menyela sendu.
“Biauw!” Seru Latifah.
“He, dari mana kau tahu namaku? Sudah lama aku tidak
pernah dengar orang menyebut namaku sampai hampir lupa...”
Latifah hanya senyum-senyum. Dengan satu kata itu ia telah
mencairkan hati Hian Biauw. Hatinya bercampur haru dan bahagia.
Ia seolah tidak sendiri lagi.
“Kau sendiri dari mana?” tanya Latifah.
“Surabaya”.
“Orang tuamu setuju kau ikut bergerilya begini?”
Hian Biauw tidak langsung menjawab. Ranting kayu yang
dipegangnya dari tadi dibuatnya orat-oret di tanah.
“Saat ini aku sangat rindu pada mereka. Lihatlah bulan
purnama di atas. Menurut orang tuaku saat ini adalah “tanggal” dan
kami mengadakan sembahyangan pada leluhur dan pada Tuhan allah.

97
Saat ini di rumahku pasti banyak kue dan makanan enak dan bau
harum hioswa...”
“Orang tuamu kaya?" tanya Latifah.
“Ayahku seorang Mayor”.
“Mayor KNIL?”
Hian Biauw tertawa lepas.
“Bukan. Ayahku seorang Mayoor der Chinezen, yaitu
pemimpin di kalangan orang Tionghoa. Oleh Belanda diberi pangkat
Mayor. Ada pemimpin yang diberi pangkat Kapten, Letnan. Yang
tertinggi Mayor. Apa sebabnya ayah diberi pangkat itu, aku tak tahu”.
“Mungkin karena kaya?”
“Mungkin karena kaya! Kau tahu rumah sakit Gubeng?”
“Ya, mengapa? Bukankah itu dulu rumah sakit untuk serdadu
Belanda?”
“Ya. Tapi itu dulu milik nenek moyangku. Kata Ayah, tempat
itu dulu untuk menyimpan beras keluarga kami yang kemudian
diberikan kepada Belanda dengan syarat Belanda harus membelinya
dengan uang segobang. Cuma sekedar syarat. Dari kata gobang itulah
kemudian disebut gubeng oleh masyarakat”.
“Wu.. ah! Keluargamu tentu sangat amat kaya”.
“Sebagai anak dokter kau tentu juga anak orang kaya”.
“Ayahku tidak kaya. Ayah bisa kaya kalau mau. Tetapi sejak
di Lumajang, Bondowoso, Ayah ikut pergerakan secara diam-diam.
Ayah dengan rela memilih hidup sederhana”.
“Kau sungguh beruntung mempunyai ayah yang demikian”.
“Kau sendiri bahagia di rumah?”
Sinyo Sipit tertawa. Ia teringat rumah, teringat ayah dan
ibunya. Mengapa ia tidak bahagia? Ia adalah anak tunggal dan kedua
orang tuanya menyayanginya. Lebih-lebih ibunya. Orang-orang di
sekelilingnya menghormati ayahnya yang meskipun sudah dicabut
Jepang tidak lagi memangku jabatan Mayor.

98
“Ya, aku bahagia di rumah," katanya mantap. Kemudian
dilanjutkannya. “Ayahku meskipun orang terpandang di kalangan
orang Tionghoa, beliau tidak sombong. Sikapnya lembut kepada
siapapun. Baik orang itu kaya maupun miskin. Ia tidak pernah
membedakan bantuannya kepada siapa pun”.
“Maukah beliau membantu orang Jawa juga?" tanya Latifah.
“O ya. Yang datang ke rumah kami bukan hanya orang
Tionghoa. Dan ayah justru dihormati karena sikapnya yang
berwibawa... dan mungkin beliau memang dilahirkan sebagai
pemimpin. Ada-ada saja urusan yang dibawa kepada ayah. Dari
pertengkaran sampai minta restu pernikahan segala”.
“Ibumu?”
“Ibuku seorang wanita yang cantik. Ia selalu rapi baik pada
waktu pergi maupun di rumah. Dulu aku merasakannya terlalu
“cerewet” karena begitu banyak pesan yang harus kutelan. Tetapi
kini aku mengerti. Aku adalah anak tunggal dan beliau pasti tidak
ingin aku jadi nakal atau tidak keruan. Kalau tidak karena Ibu yang
selalu memilihkan temanku, aku tidak tahu apakah aku bisa seperti
sekarang. Kau tahu rumahku di Kapasan dan daerahku itu terkenal
dengan buaya-buayanya. Ibu tidak mengizinkan aku bermain di luar
rumah dn akulahyang selalu mengundang teman-temanku datang”.
Hian Biauw senyum-senyum sendiri ingat ibunya. Tapi
senyum itu tiba-tiba menghilang. Ada firasat bahwa mereka
diperhatikan. Ia menoleh dan di kejauhan dilihatnya Hendro
mengawasi mereka. Ia tahu Hendro menaksir Latifah.
“Tidakkah kau tadi berjanji dengan orang lain?" tanya Hian
Biauw.
“Maksudmu?”
“Hendro tidak senang kau duduk di sini”
“Mengapa ia harus tidak senang? Aku mau duduk di sini
atau di puncak gunung atau di lembah jurang, akulah yang
menentukan, bukan siapa-siapa," ujar Latifah berapi-api.

99
“Marah?" Goda Hian Biauw.
“Marah sih tidak. Hanya aku tidak senang diatur orng lain,
kecuali ayah ibuku. Beliau pun, dalam mengaturku selalu bijaksana
dan tidak pernah memaksa. Kok Hendro mau mengatur dengan siapa
dan di mana aku harus duduk?”
“Tapi Hendro kan lain. Ia menaksirmu Fah," Hian Biauw
makin berani menggod sambil senyum-senyum.
“Bah! Suamiku pun kelak tidak boleh mengaturku dengan
kecurigaan seperti itu. Apalagi masih berkawan. Kiranya aku hanya
boleh berkawan dengan dia. Nanti kalau suatu waktu aku
ditinggalkan aku tidak akan punya teman lagi. Aku ingin berteman
dengan siapa saja”.
“Tapi kan ada yang istiewa...?”
“He, Sinyo, kalau kau menjengkelkan aku tak mau berteman
lagi," akhirnya Latifah sambil beranjak berdiri.
Hian Biauw tertawa sambil memegang tangannya mencegah.
“Kau tahu, Fah. Panggilan Sinyo itu hanya buat majikan.
Kalau begitu aku majikanmu ya Fah?”
Muka Latifah merah. Kali ini benar-benar jengkel. Tetapi
Sinyo Sipit cepat melihat gelagat. Ia pun meneruskan bertanya:
“Aku jadi penasaran, Fah. Dari mana kau tahu namaku yang
sebenarnya?”
Latifah tiba-tiba hilang jengkelnya. Ia pun jadi gembira lagi.
“Rahasia ,dong” sahutnya.
“Lha teman-teman kok bisa memanggilmu Sinyo Sipit itu
bagaimana ceritanya?” Latifah ganti bertanya.
“Mulanya Effendi yang suka memakainya kalau kami sedang
bertengkar. Ia memanggilku Sinyo Sipit dan aku menjulukinya Anak
Jawa. Itu dulu... kemudian teman-teman yang dengar dan ikut-ikutan
memanggilku begitu. Setelah mengungsi dari Surabaya, nampaknya
aku lebih terkenal dengan julukanku daripada namaku”.

100
“Kau tidak tersinggung dipanggil begitu?”
“Ah tidak. Kalau orang lain yang memanggilku mungkin
saja aku tersinggung. Tapi nama itu begitu saja melekat dengan
diriku, seperti aku dengan perjuangan ini. Semuanya tidak
direncanakan tetapi aku sudah berada di sini dan merasa perjuangan
ini juga perjuanganku. Lagi pula nama itu punya kenangan manis...”.

101
19

Keduanya diam lagi. Latifah tidak kenal Effendi, tetapi ia
dapat membayangkan bagaimana pemuda ini sehingga bisa begitu
berkesan pada Hian Biau, sampai membawa Hian Biauw ikut
berjuang. Dalam lubuk hatinya, ia secara tak sengaja mengidap
keinginan untuk bersua dengan pemuda luar biasa ini.
“Fah, aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanyalah. Pasti aku jawab”.
“Aku takut kau marah”.
“Tanyalah! Dalam perjuangan seperti ini masa kita harus
marah segala untuk suatu pertanyaan saja?”.
“Kalau kau tidak mau menjawab nanti, janganlah dijawab”.
“Ah, kau bisa rewel banget ya," Latifah lagi-lagi menyebut
Sinyo kalau lagi jengkel.
Hian Biauw tersenyum geli. Tapi ia cepat serius kembali.
“Latifah, apakah kau keturunan Arab?”
Meskipun tadi Latifah mengatakan tidak apa-apa, tetapi
pertanyaan Hian Biauw cukup mengejutkannya. Suatu pertanyaan
yang di luar dugaannya. Tapi ia cepat menenangkan diri. Bukankah
telah sering ia ditanya begitu? Namanya saja nama Arab dan
rambutnya ikal.
“Mengapa sih kalau aku keturunan Arab?”
“Tidak apa-apa”.
“Lalu mengapa kau tanyakan?”
“Aku Cuma ingin bertanya, boleh bukan?”
“Lalu kau mau jawabanku yang jujur?”
“Sudahlah, kalau kau segan menjawab tak usahlah”.
“Mengapa aku harus segan? Aku hanya ingin tahu mengapa
kau tanyakan”.
Hian Biauw diam tak menanggapi. Ia merasa dirinya
mungkin telah melangkah terlalu jauh dan ia pun menyesal mengapa

102
ia tadi bertanya begitu. Latifah yang melihat Hian Biauw murung
juga menyesal mengapa ia menggoda.
“Aku orang Jawa tulen. Ayahku dokter Murdani orang Solo,
Ibuku orang Rembang. Semuanya orang Jawa. Apakah itu berarti
banyak bagimu?”
“Tidak”.
Lagi-lagi Latifah terbelalak. Laki-laki ini sungguh seperti
teka-teki. Suatu misteri yang membuat dirinya makin tertarik. Misteri
yang juga sering membuat teman-temannya curiga. Mengapa ia ikut
berjuang dengan pemuda Indonesia? Bukankah ia orang Tionghoa
dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang Indonesia? Tapi Latifah
juga sadar bahwa ribuan dan puluhan ribu orang Indonesia juga
berjuang bukan karena sadar, tetapi ditakdirkan oleh situasi untuk
berjuang. Mungkin hanya para pemimpin yang betul-betul sadar.
Para pemimpin yang bersekolah dan mengerti dari apa yang mereka
peroleh dari sekolah arti “Merdeka”. Jadi mengapa banyak orang
masih mempertanyakan keikutsertaan Hian Biauw hanya karena ia
orang Tionghoa?”
“Aku mungkin akan meninggalkan pasukan ini," kata Hian
Biauw perlahan, tetapi seperti petir di telinga Latifah.
“Mengapa?”
Hian Biauw diam...
“Kau mau pulang ke keluargamu di Surabaya?”
“Tidak”.
Diam lagi. Latifah bingung kehilangan bahan pembicaraan.
Ia memandang Hian Biauw dengan tajam. Mata pemuda ini tidak
sipit dan kulitnya yang terjemur matahari pun sekarang tidak beda
dengan kulitnya. Mengapa orang masih membeda-bedakannya?
Apakah pemuda ini kecewa karena masih terus ada yang
mencurigainya? Ataukah ia sudah kehilangan semangat karena jenuh
oleh derap perjuangan yang tidak ada ketentuannya, berpindah-
pindah dan main kucing-kucingan.

103
“Kau tersinggung pada perlakuan teman-teman, Biauw?”
“Tidak. Teman-teman baik padaku. Kalau toh ada yang tidak
suka padaku, itu wajar. Di mana pun di dunia ini orang pasti ada
yang suka dan ada yang tidak suka. Apalagi aku orang Tionghoa
dan mereka banyak mendengar tingkah laku orang Tionghoa di
Surabaya ada yang menjadi kolaborator, ada yang menjadi mata-
mata...”
“Kau jangan berprasangka begitu. Orang Indonesia pun ada
yang berkhianat. Ada yang jadi kolaborator. Yang jadi serdadu
Beladna pun ada. Berkhianat itu bukanlah masalah bangsa tetapi
mental individu. Orang yang punya prinsip tak akan mengkhianati...
kelompok terkecil sekalipun, yaitu keluarganya”.
“apakah aku orang yang punya prinsip, Fah?”
“Haruskah kau bertanya pada orang lain, Biauw?” ganti
Latifah bertanya.
Hian Biauw mengangguk-angguk. Kalau berkaca pada orang
tuanya seharusnya ia tidak perlu bertanya. Masa ada harimau
melahirkan anak kucing? Kedua orang tuanya terkenal sebagai orang
berwatak, sosial dan adil. Mereka baik kepada siapa saja tak peduli
bangsa atau pun harta. Tetapi sekarang ini keadaan perang. Hian
Biauw bertanya-tanya mungkinkah kedua orang tuanya sampai saat
ini masih bisa bersikap netral? Bagaimana kalau mereka berpihak
pada Belanda? Bukankah ibunya berpendidikan Belanda? Hian
Biauw jadi kecil hati. Ia lalu teringat pada kesadisan anggota pasukan
memperlakukan mata-mata yang tertangkap. Begitu sadisnya
sehingga lebih dari kekejaman terhadap Belanda. Kalau ia ingat
beberapa cara penyiksaan yang dilakukan terhadap mata-mata yang
tertangkap, seluruh bulu badannya bisa berdiri. Ia tidak pernah ikut,
menyaksikan saja ia tidak kuat. Pernah seorang mata-mata wanita
muda tertangkap. Orangnya cantik sekali. Wanita ini sudah
lamadicurigai dan ketika tertangkap basah salah seorang anggota
pasukan yang remaja berusaha memperkosanya secara brutal.

104
Suasana perang dan kejenuhan menyelimuti siapa saja. Tetapi
komandan pasukan, pak Mangku, datang dengan tegas. Mata-mata
boleh disiksa, dibunuh pun boleh tetapi jangan dihina yang
merendahkan mertabatnya. Ia marah sekali. Apalagi ketika anggota
pasukan tadi membandel dan pada malam harinya tetap hendak
memperkosa dengan kekerasan, ia suruh pemuda itu dihukum
tembak. Namun tak ada yang berani bergerak.... akhirnya Pak
Mangku sendiri yang bertindak. Pemuda yang tidak disiplin tadi
ditembaknya.
“Pak Mangku adalah orang yang sangat kuhormati," kata
Hian Biauw, “Beliau memang dingin pada anak buahnya tetapi tegas
dalam menjalankan disiplin. Kalau ingat pak Mangku aku teringat
guru bahasa Jermanku di HBS. Ia juga tipe orang yang menegakkan
wibawa dengan tidak banyak bicara. Entah beliau di mana sekarang”.
“Biauw, memang kau ini sebuah misteri. Kau suka teman-
teman dan kau juga hormat pada Pak Mangku. Tetapi mengapa kau
mau meninggalkan pasukan?” desak Latifah.
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti diriku sendiri”.
“aku tahu, kau pasti jenuh dengan keadaan yang ‘diam’ ini.
Kau kehilangan kepastian dan mungkin merasa dirimu tak berguna.
Mungkin kalau temanmu Effendi itu ada di sini kau dapat
memecahkan keruwetan pikiranmu”. Ujar Latifah yang entah
mengapa tiba-tiba menyebut nama Effendi. Mungkin di dalam bawah
sadarnya ia menyimpan nama ini.
“Ya, mungkin. Kelak kau harus bertemu Effendi. Kau pasti
senang padanya. Siapa tahu kalian berjodoh," ujarnya berseloroh.
“Sinyo, aku bisa mencari jodohku sendiri dn kau tidak usah
ribut mencarikan untukku," Latifah tersinggung lagi.
“Kau sih belum bertemu Effendi, bisa bilang begitu. Nanti
kalau kau sudah kenal padanya, kau akan memohon-mohon padaku
untuk jadi mak comblang, ha ha ha”.

105
20

Latifah Cemberut. Ia memang ingin sekali kenal dengan
Effendi tetapi Hian Biauw yang selama ini begitu berkenan di hatinya.
Mengapa ia bilang begitu? Apakah ia sama sekali tidak melihat
dirinya sebagai seorang gadis? Apakah Hian Biauw hanya melihat
sebagai teman seperjuangan belaka?
“Effendi memang seorang tokoh yang patut dikagumi," kata
Hian Biauw melihat Latifah cemberut. “Ia lain dengan Hendro. Ia
seorang pemimpin dn dalam memimpin ia selalu memperhitungkan
saran-saran teman dan anak buahnya. Pasukan kami akrab, dulu pada
waktu ia yang memimpin. Bayangkan, satu pasukan anak muda
semuanya. Ada yang pelajar MULO ada yang ST. Kalau bukan
pemimpin sejati tidak akan dapat memimpin anak-anak muda itu”.
Latifah masih diam.
Rumah keluarga Mayor Phe tidak begitu sulit dicari Pak
Mangku. Ia menjadi lama sampai ke rumah itu, karena ia tak mau
melakukan langkah yang ceroboh. Ia mencari keterangan terlebih
dahulu tentang penghuni rumah itu. Ia juga menyelidiki bagaimana
perilaku penghuninya. Pokoknya ia ingin aman. Karena biarpun
rumah yang dituju itu rumah orang tua anaknya yang jadi pejuang ia
tetap harus hati-hati. Jangan sampai terjebak. Siapa tahu anaknya
jadi pejuang tapi orang tuanya mata-mata atau antek Nica. Zaman
perang orang memang harus hati-hati. Setelah ia memperoleh
kepastian ia baru mendatangi rumah itu. Mayor Phe yang disebut
dengan panggilan baba, ternyata orangnya ramah. Ia menyambut
kedatangannya dengan ramah. Lebih-lebih ketika ia memberitahukan
bahwa ia membawa surat dari Hian Biauw. Segera Mayor itu
berteriak ke dalam memanggil isterinya.
“Ma, ada orang membawa surat anak kita," katanya ketika
isterinya keluar.

106
Isterinya itu kemudian dikenalkan pada Mayor Mangku, yang
selama ini tidak diperkenalkan sebagai seorang Mayor. Cuma sebagai
pembawa surat saja. Tapi Mayor Phe sudah mempunyai kesan bahwa
laki-laki yang di hadapannya ini bukan sembarang laki-laki. Pasti
orang penting. Sedikitnya pasti punya peran dalam pasukan anaknya.
“Apakah anak saya baik-baik saja, tuan," tanya Nyonya Phe.
“Ia baik-baik dan sehat nyonya," jawab Mayor Mangku.
“Betul-betul ia sehat?" tanya nyonya Phe mendesak.
“Betul nyonya, ia baik-baik saja”.
“Di mana ia sekarang?”
Pertanyaan itu tak memperoleh jawaban. Mayor Mangku
membisu. Juga Mayor Phe. Kedua laki-laki ini sama-sama tahu,
bahwa ada hal-hal yang mesti mereka rahasiakan. Mayor Phe
kemudian membaca surat itu. Yang sehelai sudah dibaca diberikan
isterinya. “Tak ada surat untukku sendiri yang khusus," gerutu nyonya
Phe sehabis membaca semua surat anaknya yang ditujukan kepada
suaminya. Kurang ajar anak itu pikirnya. Mengapa ia Cuma menulis
surat kepada papanya, dan tidak kepada mamanya? Apakah Cuma
papanya yang baik hati mau membantu perjuangan orang Jawa?
Bukankah ia sudah pernah membantu lewat Giyo? Tapi mana Giyo
sesudah itu?
“Hian Biauw terus di bawah komando Bapak sejak dari
Surabaya?” , tanya nyonya Phe kemudian.
“Tidak. Ia menggabung sejak dari Sepanjang. Ketika pasukan
saya mau kembali ke Surabaya, tapi kemudian menetap di Prigen”.
“Bapak tahu ia sudah pernah saya kirimi permata untuk bekal
perjuangan di tengah jalan jika keuangannya habis?”
“Saya tidak tahu nyonya, Saya tidak pernah mendengar
Biauw punya simpanan permata berlian. Ia seperti anak-anak yang
lain. Makan apa adanya. Juga pakaiannya. Tak ada bedanya. Suka
dan duka dialaminya bersama”.

107
“Saya pernah mengirimkan bantuan," tegas nyonya Phe lagi.
Mayor Mangku diam. Juga Mayor Phe, yang sejak semula
sudah mempunyai anggapan bahwa kiriman yang dilakukan secara
ceroboh itu tidak akan pernah sampai ke tangan anaknya. Apalagi
kemudian Giyo tidak pernah kembali ke rumah. Entah Giyo lari
pulang ke desa untuk menikmati permata-permata itu atau mungkin
juga di tengah jalan Giyo terbunuh dan permatanya dirampas orang.
Keluarga ini memang tidak pernah mengetahui kalau Giyo sudah
lama mati terbunuh oleh buaya-buaya Kapasan untuk mengetahui
bahwa Giyo membawa mas permata milik Mayor Phe.
“Kau masuklah dan sediakan makanan untuk tamu kita,"
tiba-tiba ujar Mayor Phe, seolah ia memberikan isyarat agar isterinya
masuk. Agar ia punya kesempatan untuk berbicara empat mata
dengan tamunya.
“Saya sudah membaca surat anak saya, tuan. Cuma saya
belum mengerti, apakah keperluannya mendadak atau bisa ditunda
buat sementara waktu”.
“Mengapa tuan berbicara demikian? Apakah sulit bagi tuan
untuk memberikan sumbangan," tanya Mayor Mangku.
“Tidak! Tidak ada kesulitan. Tapi situasi di medan
pertempuran lain dengan keadaan di kota. Keadaan di kota sekarang
ini Belanda yang kuasa. Kita harus hati-hati. Kalau saya berikan
uang, dimana tuan akan membeli senjata? Di kota, orang masih bisa
melakukan transaksi dagang senjata. Kalau di luar kota, senjata yang
diperjualbelikan adalah produksi Mrican yang jelek mutunya. Tuan
tentu tahu itu”.
Keduanya kemudian diam. Mayor Phe melanjutkan.
“Apa yang tuan kehendaki sekarang dan kapan tuan hendak
kembali ke markas?”
“Saya mengharap bantuan dalam bentuk apa saja. Uang,
makanan dan senjata”

108
“Apa tuan kira mudah membawanya ke markas perjuangan?"
Mayor Mangku diam. Ia orang yang polos. Apa yang dirasakan perlu
diutarakan tanpa malu-malu. Uang, makanan dan senjata memang
sangat diperlukan.
“Uang tidak ada, “tuan," tiba-tiba mayor Phe berkata lirih.
Ia kemudian melanjutkan.
“Kami tidak punya uang Nica kontan...”
“Lantas apa senjata ada?”
Mayor Phe memandang tamunya. Nampaknya pemuda ini
tergesa-gesa sekali. Mungkin ia takut lama-lama di rumah orang
Tionghoa.
“Kami memang tidak punya uang kontan, tapi kami punya
candu..” Mayor Mangku kaget.
Candu?
“Ya candu tuan. Untuk itu kami membutuhkan waktu untuk
menjualnya. Candu lebih berharga dari mas untuk orang Tionghoa.
Tidak begitu sulit menjualnya, tapi membutuhkan waktu. Dapatkah
tuan bersabar?”
Mayor Mangku tidak memberikan jawaban. Ia teringat anak
buahnya yang ada di Prigen. Ia harus cerpat kembali ke front. Karena
jaman seperti sekarang itu setiap saat bisa berubah. Juga di front.
Setiap saat bisa dapat instruksi untuk menyerang musuh yang
selamanya ada di depan hidung. Memang selama ini ada instruksi
untuk tidak melakukan bentrokan senjata. Tapi siapa tahu siatuasi
telah berubah.
“Asal tidak terlalu lama, saya bisa menunggu”
“Saya akan mencoba menjual secepatnya”
Mayor Phe kemudian menceritakan situasi dalam kota yang
sudah sepenuhnya dikuasai Belanda. Pimpinan Republik Jawa Timur
masih berada di Mojokerto. Tapi orang-orang yang mengungsi sudah
banyak yang kembali dan kehidupan sudah mulai wajar di Surabaya.

109
Meskipun orang keluar rumah masih terbatas pada hal-hal yang perlu
saja. Pemerintah darurat dari Belanda ada di Jawa Timur. Juga banyak
orang Indonesia yang mau bekerja sama dengan Belanda. Mereka
bukan pengkhianat. Mereka hanyalah pamong praja yang masih
merindukan kembali masa silam. Siapa yang salah? Orang tih harus
merasa aman untuk dirinya sendiri. Bekerja sebagai pamong praja
pada zaman Belanda.

110
21

Orang punya masa depan. Gaji sebulan cukup untuk makan
bahkan untuk ditabung. Dengan demikian mereka punya harapan
tentang masa depan dirinya sendiri dn untuk keluarga. Yang terakhir
ini yang jadi pertimbangan utama. Di mana-mana soal perut memang
jadi persoalan yang utama. Tak bisa dibilang soal setia atau tidak
pada negara. Karena bagi mereka yang mau bekerja dengan Belanda,
mereka juga berpikir bahwa mereka bekerja untuk kepentingan tanah
air yang mereka cintai. Mereka tak perduli apakah nama negara yang
mereka abdi itu dianggap sebagai negara boneka, negara Jawa Timur
atau bukan!
Dari pembicaraan dengan tamunya itu Mayor Phe
mempunyai keyakinan bahwa di daerah, meskipun Belanda sempat
memperlihatkan kekuatannya, tapi pejuang-pejuang kita masih tetap
bertahan. Sampai kapan? Sampai ada instruksi untuk menyerang
atau menyerah dari pusat.
Mayor Phe kemudian juga menanyakan pendapat tamunya
tentang kemungkinan pembentukan laskar Tionghoa. Ditanya
mengenai persoalan ini Mayor Mangku tak bisa segera menjawab.
Ia tak bisa berpikir seperti Oen Tjhing Tiauw. Ia seorang pejuang
yang lugu. Menurut pendapatnya, laskar Tionghoa itu baik dan apa
salahnya. Tapi, setelah ia mendengarkan penjelasan dari Mayor Phe
ia jadi mengerti soal diplomasi yang tadinya ia tak tahu apa-apa.
Soal Tiongkok ia mulai mengerti. Betapa arti pentingnya negara besar
itu bagi Republik yang baru lahir ini.
“Jadi Tiongkok sudah mengakui kita?" tanya Mayor Mangku.
“Sekarang bukan hanya Tiongkok, tapi India dan Mesir. Yang
pertama adalah Tiongkok”.
“Itu yang penting," jawab Mayor Mangku meskipun
sebenarnya ia tak begitu mengerti tentang urusan diplomasi luar

111
negeri. Ia anak desa yang berjuang dengan keluguan dan hanya tahu
berbakti untuk tanah air.
Mayor Phe kemudian masuk. Untuk kedua kalinya
dalamwaktu yang singkat ia mengambil harian Sin Po yang memuat
ucapan terima kasih Presiden Republik Indonesia, Soekarno kepada
Tiongkok dan mengharapkan kedua bangsa ini saling bersahabat.
Mayor Mangku membaca baik-baik dan kemudian ia bernafas lega.
“Kedua bangsa memang harus saling menghormat," katanya
kemudian. Mayor Phe hanya menjawab lirih, “ya”.
Nyonya Phe muncul dari ruangan dalam, keluar dan
memberitahu kalau makanan sudah siap. Mayor Phe kemudian
mengajak tamunya makan. Ini adalah buat pertama kalinya Mayor
Mangku makan dengan di atas meja tersedia bermacam lauk-pauk.
Sudah lama ia tidak mengenal cara makan yang sopan. Biasanya
asal ada nasi asal ada air sekendi dan ada lombok dan garam, jadilah
mereka makan. Tapi hari ini ada sayur lodeh, ada krupuk ikan.
Semuanya masakan sederhana tapi yang sudah jadi barang langka
di perjuangan.
Hari ini juga Mayor Mangku mengetahui bahwa tuan
rumahnya juga benar-benar berpangkat mayor. Di rumah itu memang
ada pigura besar dengan gambar tuan rumah berpakaian seragam
Mayor yang anggun. Semula ia mengira bahwa tuan rumah ini adalah
mayor dalam keserdaduan Belanda. Tapi ternyata, ia mayor untuk
lingkungan atau kelompok Tionghoa saja. Satu jabatan yang tinggi.
Sebab ada yang Cuma punya jabatan letnan, kapten. Jadi mayor
sudah tingkatan yang tinggi dengan wewenang yang luas pula. Mayor
Phe juga menyatakan bahwa sisa candu itu adalah sisa lama. Syukur
candu tahan lama dan tidak cepat rusak. Persediaan yang ada memang
Cuma buat mencampur obat untuk asma. Siapa yang menderita asma
sering minta bantuan obat kepadanya. Ramuan obat dari toko obat
itu yang kemudian dicampur dengan sedikit candu. Ternyata memang

112
punya khasiat. Candu untuk obat asma memang bisa melegakan
nafas. Demikian juga untuk mereka yang sakit paru-paru. Tapi dosis
pemberiannya harus teliti. Tidak boleh sembarangan. Kalau
sembarangan candu bukan jadi obat tapi bisa jadi racun. Sesudah
merasa cukup lama bertamu, mayor Mangku meminta diri untuk
pulang. Seminggu lagi ia akan kembali. Ia bilang mau pulang. Tapi
ia tidak segera menuju Prigen. Ia ke Bojonegoro dulu. Ia tetap kuatir
kalau dirinya dimata-matai. Ia ingin menjumpai teman-temannya
yang satu kompi dulu, Djarot! Dalam peperangan orang mesti saling
mencurigai. Karena di sini yang dipertaruhkan bukan Cuma nyawa
sendiri, tapi nyawa banyak orang.
Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Komandan datang!
Bagi Hian Biauw waktu itu merupakan yang lama sekali. Meskipun
bagi yang lain tak ada persoalan. Sutedjo, yang mewakilkan sebagai
komandan selama mayor Mangku pergi memang lebih lunak. Tambah
lagi, pertempuran masih tetap tidak memperoleh bentuknya yang
nyata. Masih tetap tidak ada pertempuran. Belanda bahkan lebih
menggiatkan offensifnya. Kini terang-terangan sampai malam hari,
Belanda berani naik ke Tretes dari Pandaan. Beberapa pejuang sudah
tidak tahan lagi. Masing-masing sudah ingin menggempur Belanda
dengan segala persediaan mesiu yang masih tersisa. Rasanya memang
aneh, kalau yang namanya berjuang, tetapi membiarkan Belanda
lewat seenaknya dengan kadang-kadang dari moncong tank dan
panser itu menyembur peluru ke arah pedesaan. Belanda sendiri tidak
tahu di mana kekuatan para pejuang berada. Mereka Cuma
merasakan bahwa kehadiran pejuang itu ada. Seminggu ini mereka
juga merasakan bahwa aksi para pejuang makin berkurang.
Karenanya mereka menembak membabi buta untuk mencoba
memancing balasan. Untungnya sampai sejauh itu, selama mayor
Mangku tak ada di tempat, tak ada anak buah yang berani melanggar
instruksi untuk tidak mengadakan bentrokan senjata secara langsung.

113
Komandan saat itu juga berpesan keras, bahwa siapa yang akan
melanggar, tak perduli siapa saja, akan dihukum tembak. Khusus
untuk ancaman yang satu ini tak ada yang berani melanggar. Semua
sudah tahu siapa komandan mereka yang nampaknya pendiam, tapi
sangat teguh pada peraturan itu.

22

114
Tak ada yang berani menanyakan apakah komandan berhasil
memperoleh senjata atau tidak. Juga letnan Tedjo tidak berani
bertanya. Malam harinya, seperti biasa, baru Hian Biauw menghadap
komandannya.
“Semuanya beres komandan”
Mayor Mangku tak segera menjawab. Ia memandang anak
buahnya satu ini dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas.
Kemudian ia berkata agak pelan:
“Sebenarnya kau tak perlu ikut berjuang di sini. Kau melarat
di sini. Di rumahmu, makanan tersedia. Juga orang tuamu kaya”.
“Memang komandan. Mestinya memang begitu," jawab Hian
Biauw tersenyum.
“Memangnya kau mengapa," tanya mayor Mangku.
“Saya meras seperti Marco Polo, komandan”
“ Marco Polo? Apa hubungannya petualang itu dengan
dirimu”
“Saya selalu ingat Marco Polo komandan. Karena guru saya
tuan Vanderkat, selalu asyik kalau bercerita. Waktu itu Marco Polo,
anak seorang pedagang di Venesia terpilih oleh Paus Gregory pada
tahun 1271. Ia kemudian berangkat ke Tiongkok untuk menjumpai
Kublai Khan. Marco Polo ini yang menjalin ikatan antara Paus dan
Penguasa dari Timur itu. Guru saya, Vanderkat, selalu asyik kalau
bercerita, terutama kalau ada muridnya yang orang Tionghoa. Sebab
Kublai Khan adalah orang Mongol yang menjajah Tiongkok.
Vanderkat mau membuktikan bahwa yang membantu orang Mongol
adalah Paus, pimpinan orang Kristen. Waktu itu memang belum
terpecah. Tapi guru itu ingin membuktikan bahwa orang Katolik
yang membantu Mongol menjajah Tiongkok. Karenanya orang
Tionghoa tak pantas kalau jadi orang Katolik. Mereka mestinya jadi
orang Kristen Protestan..”
Mayor Mangku jadi terkejut. Sejauh itu usahaorang Belanda
untuk mengkristenkan orang Tiong Hoa di Hindia Belanda. Untuk

115
jadi Protestan dan bukan Katolik. Sampai-sampai nilai sejarah tahun
1271, jadi tujuh abad yang silam dijadikan ajaran untuk membuktikan
bahwa Katolik pernah membantu Kublai Khan. Ini yang terus
ditanamkan Luar biasa dan berencana.
“Lantas mengapa kau merasa seperti Marco Polo”
“saya merasa berjuang sendirian, komandan. Saya ingin
bersatu dengan pasukan ini. Tapi semua orang masih melihat dengan
sebelah mata kepada saya”
“Tak ada yang melihat dengan sebelah mata terhadap kamu”
“Buktinya komandan sendiri tadi bilang begitu”
“Aku bilang sejujurnya”
“Apakah yang komandan bilang itu jujur?”
“Ya..”
Tak ada suara. Masing-masing diam. Lalu, Mayor Mangku
melanjutkan:
“Kami berjuang karena kami ingin perbaikan nasib. Kami
melepaskan diri dari Belanda karena kami ingin menata kehidupan
kami sendiri. Tidak di bawah penjajahan orang atau bangsa lain.
Kami selama ini melarat. Kami tak punya apa-apa. Jadi kalau kami
mati, kami hanya akan kehilangan nyawa kami. Kami tidak
kehilangan apa-apa. Sebab yang disebut apa-apa itu sudah dihisap
habis oleh Belanda. Tapi kau? Kau punya rumah yang besar. Ayahmu
orang yang terkemuka. Ibumu orang yang terpelajar. Harta kekayaan
kedua orang tuamu tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Inilah
yang kutanyakan. Mengapa kau rela meninggalkan semuanya?”
“Teman-teman bukan hanya mempertaruhkan nyawa
komandan. Mereka memperjuangkan satu cita-cita, dan saya mulai
berhasil menghayati cita-cita itu. Saya mulai menyukai sebagai
bahagian dari hidup saya”

116
“Kau sadar bahwa kau telah meninggalkan sesuatu yang
indah di Surabaya? Meninggalkan perasaan cinta kasih orang tuamu
terhadap dirimu?”
“Saya sadar komandan”
Suasana diam lagi. Hian Biauw kemudian bertanya:
“Lantas, apakah papa dan mama saya menyambut komandan
dengan baik dan ramah?”
“Oh, mereka menyambut saya dengan baik”
“Lantas, apa mereka mau membantu”
“Mungkin”
“Mungkin?”
“Ya”
Hian Biaw lantas mendesak meminta cerita yang sebenarnya.
Mayor Mangku kemudian menceritakan semuanya apa yang
dialami.
Tarohannya Cuma pada candu sekarang.
“Apakah papa dan mama tidak menanyakan perihal saya?”
“Mereka ingin mendengar cerita tentangmu. Semuanya.
Lebih-lebih ibumu. Apakah yang kau makan setiap hari. Apakah
kau kenyang dan tidak kelaparan? Pokoknya semuanya ditanayakan
oleh ibumu. Ia wanita yang menarik dan cantik...”
“Betul komandan. Mama seorang wanita yang cantik dan
menarik. Saya sangat merindukannya”

117
23

Lantas pikiran Hian Biauw melayang lagi. Entah kenapa hari
ini ia teringat guru sejarahnya, Vanderkat itu. Yang sering berbicara
tentang Marco Polo. Marco Polo dalam sejarah dikenal sebagai
petualang besar yang bisa sampai ke Tiongkok bertemu muka dengan
Kublai Khan. Padahal Marco Bukan pertualang. Ia utusan resmi
dari Paus Gregory. Ia yang berangkat dengan penuh kebesaran diantar
orang tuanya dari pelabuhan Venesia. Dielu-elukan orang
keberangkatannya. Tapi di tengah jalan, kawan-kawannya menyerah
kepada keganasan alam. Tinggal dua orang kawannya. Bertiga ia
lewati gurun pasir yang kejam tak kenal ampun. Itukah sekarang
keadaannya. Seorang diri dalam sebuah pasukan yang namanya
perjuangan untuk menegakkan satu cita-cita yang besar.
Mempertahankan kemerdekaan.
Tapi tidak! Dalam hati ia membantah. Ia tidak sama dengan
Marco Polo. Kepergiannya tidak dielu-elukan keluarganya.
Kepergiannya dulu menyelinap seperti maling di tengah malam.
Seperti anak-anak remaja yang lainnya. Yang berangkat begitu saja
ke medan juang untuk memulai satu perjuangan yang menurut
anggapan mereka saat itu akan penuh dengan romantika. Akan ada
kegagalan. Sekarang sesudah ia menghayati sendiri. Perjuangan itu
memang besar untuk diri masing-masing. Ada kemelut dalam diri.
Kebesaran Perjuangan ada dalam dada, tidak dalam pasukan. Karena
pasukan itu seperti mati. Menunggu satu komando untuk bertempur
yang tak pernah kunjung tiba. Hanya menanti dan orang paling bisa
merasakan siksaan menunggu ini kalau ia pernah menunggu sesuatu
tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya. Itulah hidupnya. Jadi tidak
seperti Marco Polo yang setibanya di tiongkok, kemudian melihat
kebudayaan dan bangsa yang begitu besar jumlahnya berada dalam
taklukkan bangsa liar, bangsa Mongol. Apakah bangsa yang besar
ini tahu, kalau penakluk mereka adalah lelaki tua yang bernama

118
Kublai Khan yang sudah tak mampu berjalan dengan tegap dan tak
mampu memuaskan istrinya lagi? Inikah bangsa besar yang dilihat
Marco Polo mulai tahun 1271 sampai ia berusia lima puluh tahunan
dn ketika itu baru berusia 20 tahun. Apakah ia akan menjadi Marco
Polo yang takjub pada bangsa yang begitu sederhana yang sanggup
menaklukkan satu bangsa besar dengan kebudayaan lebih tinggi dan
lebih tua peradabannya? Semuanya menjadi renungan Hian Biauw.
Renungan seorang petualang seperti Marco Polo yang nantinya akan
tercatat dalam sejarah: Orang Tionghoa yang ikut berjuang karena
ingin berpetualang dalam hal ini? Apakah revolusi Prancis seperti
yang diceritakan guru sejarahnya tentang kemerdekaan dan
kebebasan bukan juga merupakan cita-citanya? Kemelut hati akan
selalu ada. Kemenangan satu kesadaran di antara sekian kesadaran
satu kelompok.
“Kalau melihat cara hidup orang tuamu mereka telah
membantu," tiba-tiba Mayor Mangku memecah keheningan.
Hian Biauw agak terkejut mendengar pengakuan
komandannya.
Mayor Mangku kemudian bertanya lagi:
“Kau selama ini ada hubungan dengan kedua orang tuamu?”
“Tidak komandan,"
“Aku sudah yakin itu”
“Mengapa komandan?" tanya Hian Biauw serius.
“Menurut ibumu, ia mengirim utusan untuk mencarimu”.
“Utusan mencari diriku?”
“Ya”
“Aneh”
“Tidak! Di mulut ibumu memang tidak menyetujui
tindakanmu. Tapi betapapun juga, perempuan itu tetap ibumu dan
engkau adalah anaknya. Ia selalu takut kau kelaparan. Ia ingin kau

119
tidak ikut merampok dan karenanya ia mengirim Giyo dengan
membawa sejumlah intan berlian untuk “sangu” mu...”
“Saya tidak pernah menerima pemberian mama”
“Benar itu? Baik sewaktu kau di Surabaya?”
“Benar komandan. Tapi apakah benar ibu bercerita
demikian?”
“Ya..”
Lantas tersungging senyum pada bibir Hian Biauw. Ia saat
itu merasa sangat bahagia, mendengar bahwa ibunya telah merestui
perbuatannya meninggalkan rumah, pamit hanya lewat sebuah surat.
Bukankah dengan pemberian itu, meskipun tidak pernah sampai,
adalah satu bukti bahwa restu sudah diberikan.
“Betul komandan? Betul mama berkata demikian”. Tanyanya
sekali lagi. Ia masih ingin kepastian. Rasanya ia tak percaya. Tapi
begitulah memang ibunya. Bawel di mulut, tapi hatinya baik. Ia tahu
itu karena ia adalah anaknya.
“Percayalah, apa yang kukatakan itu benar”.
“Terima kasih komandan”
“Mengapa kau berterima kasih padaku”
“Karena kabar yang komandan bawa akan membuat saya
lebih mantap berjuang bersama kawan-kawan. Saya mendapat restu
dari mama.. tapi di mana Giyo komandan”
Mayor Mangku tak memberikan jawaban segera. Mungkin
ia sendiri punya anggapan, bahwa Giyo melarikan diri bersama
permata berlian itu. Mayor Mangku malu. Bukankah Giyo adalah
sama-sama orang Jawanya.
“Tak ada yang tahu kemana Giyo kemudian..”
“Bangsat!! Tiba-tiba saja meluncur omongan itu. Hian Biauw
sadar, bahwa Giyo pasti dibunuh buaya Kapasan.. dalam hati ia masih
“misuh”:
“Bajingan! Kurang ajar!”

120
“Jangan emosi. Kendalikan dirimu. Di tiap revolusi selalu
ada orang-orang yang demikian itu. Bahkan kita tak boleh berburuk
sangka dulu.”
“Komandan tidak tahu tentang buaya-buaya Kapasan.
Mereka adalah kelompok yang merusak nama orang-orang Tionghoa.
Mereka itulah dahulu yang membawa telur-telur busuk kemudian
melempar ke tubuh seorang Tionghoa pesakitan yang diborgol
Belanda dari Kalisosok ke gedung pengadilan....”
Hian Biauw kemudian menceritakan bahwa nama pesakitan
itu adalah Kwee Thiam Tjhing. Salah seorang jurnalis kenamaan
waktu itu, sebelum perang. Anggota yang paling gigih dari Partai
Tionghoa Indonesia. Karena salah satu pers delict, gara-gara
tulisannya yang dimuat di pers Melayu Tionghoa yang dituduh
menghina seorang petugas Hindia Belanda, ia kemudian dijebloskan
ke penjara Kalisosok. Cara Belanda boleh menghina agar yang lain
jadi “keder” ialah dengan membawa jurnalis Kwee itu dengan tangan
terborgol berjalan dari penjara Kalisosok ke pengadilan negeri. Satu
tempat yang cukup jauh sehingga setiap kali dihadirkan di sidang,
jurnalis Kwee menjadi tontonan rakyat banyak. Di sini buaya-buaya
Kapasan beraksi. Melempari jurnalis Kwee dengan telur busuk.
Karena saat itu jurnalis Kwee memang agak demonstratif. Ia
memakai kopiah hitam. Lambang bahwa mereka pro dengan gerakan
perjuangan bangsa. Banyak orang Tionghoa tidak suka dengan
gerakan Partai Tionghoa Indonesia yang dipelopori oleh Liem Khoen
Hian, adalah dari segi ini. Orang beranggapan sangat berlebihan.
Tapi bagi kelompok Partai Tionghoa Indonesia saat itu memang tidak
punya pilihan lain. Mereka terjepit antara kelompok Sinpo yang
masing-masing mempunyai kekuatan dana yang terbatas. Sehingga
kelompok Partai Tionghoa Indonesia itu bisa dianggap kelompok
“kere”. Kelompok yang miskin. Hian Biauw tahu persis, ayahnya
adalah pendukung dari kelompok Partai Tionghoa Indonesia yang

121
juga dekat dengan partai perjuangan yang didirikan oleh Soekarno.
Cuma karena kedudukannya, ayahnya tidak berani terang-terangan.
Karena saat itu, orang Tionghoa yang masih merasa punya kedudukan
sebagai kelompok kedua dalam masyarakat Hindia Belanda akan
merasa malu jika mereka mendukung gerakan orang Jawa. Gerakan
yang menuju kepada kemerdekaan bangsa oleh kelompok Tionghoa
memang dicap sebagai gerakan Jawa untuk membebaskan diri.

122
24

Mayor Mangku manggut-manggut dengan keterangan Hian
Biauw. Ia sekarang mulai meyakini betapa kompleksnya struktur
masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda ini. Sekilas orang bisa punya
anggapan bahwa orang Tionghoa adalah orang Tionghoa. Yang Cuma
ingin dagang dan cari untung melulu. Jarang ada yang tahu, bahwa
di kalangan mereka sendiri juga terpecah dalam beberapa bagian.
Sama dengan masyarakat Jawa. Yang terpisah karena kelompok
agama dan nasionalis.
“Kalau kau merasa seperti Marco Polo, aku bisa merasa
seperti Kublai Khan," ujarnya kemudian, mencoba menentramkan
gejolak batin anak buahnya. Hian Biauw senyum.
“Mengapa komandan beranggapan demikian? tanyanya.
“Kublai Khan menjadi besar karena ia sebenarnya seorang
pemimpin yang cinta damai. Ia bukan seorang yang mempunyai nafsu
perang seperti yang diduga orang”.
“Apakah peperangan dalam perjuangan ini bagi komandan
merupakan satu hal yang mengganggu? tanya Hian Biauw kembali.
Suasana sudah malam. Hawa udara sudah dingin meskipun
di dalam rumah. Tapi kedua orang itu masih asyik terus berbicara.
“Setiap orang dalam lubuk hatinya tak ingin terlibat
peperangan," jawab Mayor Mangku perlahan. Lalu lanjutnya:
“Siapapun aku bilang. Karena sikap ingin berperang adalah
sikap orang yang gila. Setiap orang sebenarnya ingin hidup di alam
yang damai. Ingin hidup kumpul dengan keluarga dalam suasana
yang tenang. Seperti yang kukatakan tadi. Kita berperang untuk
mencapai sesuatu yang lebih punya arti dalam hidup ini”.
“Saya mengerti, komandan," jawab Hian Biauw mantap.
“Ya saya tahu itu. Kau memang mempunyai kemantapan
untuk berjuang. Tapi kau yakin kemantapan itu akan tetap ada jika
kita tidak mempunyai senjata dan peluru?”

123
“Itulah komandan, mengapa kita harus berusaha”
“Kita memang sudh berusaha, melalui suratmu. Kita tidak
mempunyai alternatif yang lain. Pimpinan di pusat dan di daerah
sudah tidak mungkin memberikan kepada kita senjata yang kita
perlukan. Kita harus berusaha sendiri. Kau yakin ayahmu mau
membantu kita?”
“Pasti komandan, seperti kata papa, papa membutuhkan
waktu dulu untuk menjual candu. Dulu, candu itu dengan mudah
dijual. Karena orang Tionghoa, seperti papa, memang mempunyai
hak monopoli penjualan candu. Orang Tionghoa memang harus
membayar pajak yang mahal”.
“Lantas mengapa ayahmu meminta waktu yang cukup lama
untuk menjual candu”
“Mungkin mencari pembeli sekarang yang sulit. Papa
terbiasa untuk menjual ke luar negri, ke Singapore. Papa tak pernah
menjual candu untuk konsumsi dalam negeri. Papa mempunyai
anggapan bahwa candu bisa merusak rakyat. Rusaknya koeli kontrak
di Deli, Sumatra adalah karena persoalan candu ini. Mereka
menghabiskan uang hasil kontrak untuk candu dan perempuan,
ditambah judi. Koeli kontrak itu sendiri sistemnyasudah baik.
Belanda membayar cukup mahal. Cuma pembayaran itu sering
dikebiri oleh mereka yang dinamakan mandor”
“Kau pasti itu?”
“Mestinya komandan yang mempunyai kepastian apakah
papa mau membantu atau tidak. Sebagai anaknya yang tahu sifat
papa dan mama, kedua orang tua saya pasti membantu. Jika mereka
tidak mau membantu perjuangan ini, sedikitnya mereka pasti
membantu anaknya...”
Mayor Mangku tersenyum. Tapi getir. Sebenarnya lucu
perjuangan ini. Ini yang sebenarnya termasuk orang yang tidak punya
penghargaan buat orang Tionghoa, sekarang tak punya pilihan lain,
selain meminta bantuan, biarpun melalui orang tua anak buahnya.

124
Untungnya rahasia ini tidak sampai bocor. Jika bocor, persoalannya
bisa memalukan. Letnan Sutedjo sendiri juga tidak tahu, apa misi
Mayor Mangku sebenarnya. Dikatakan Cuma untuk mencari bantuan
mencari senjata. Tapi kepada siapa tak pernah dinyatakan dengan
jelas.
Masalahnya memang cukup memalukan jika tersiar bahwa
persenjataan pejuang mendapat bantuan dari orang Tionghoa.
Padahal mestinya tidak apa-apa. Momentum ini sebenarnya bisa
dipakai untuk mengakrabkan kedua belah pihak. Tapi dari pihak
mana pun takkan ada yang berani mengungkapkan terus terang.
Kelompok Tionghoa takkan berani jika masalah ini diungkapkan
secara terus terang. Membahayakan diri mereka yang hidup di kota
di mana Belanda berkuasa. Sedangkan di kalangan pejuang, rasanya
juga tabu untuk mendengar kenyataan itu, meskipun benar adanya.
Sehingga bantuan yang belum tentu berhasil itu sudh tergunjing
dalam hati masing-masing yang tahu!
Sepulangnya Mayor Mangku, nyonya Phe segera
menghampiri suaminya.
“Kau yakin itu tulisan anak kita?" tanyanya.
“Kau sendiri bagaimana? Kau juga mencurigai?”
“Tidak”
“Aku juga percaya bahwa itu surat anak kita”
“Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang”
“Saya akan mencoba membantu”
“Dengan candu persediaan kita?”
“Ya”
“Kau bilang kemarin akan diberikan kepada Mayor John
Lie untuk menyelundupkan senjata dari Singapura”
“Itu kemarin, sebelum anak kita menulis surat”
Keduanya kemudian diam.
Kemarin memang sudah diputuskan bahwa orang-orang
tionghoa di Surabaya akan mengumpulkan dana untuk membantu

125
Mayor John Lie yang diserahi oleh pemerintah menyelundupkan
senjata masuk ke Indonesia guna memenuhi perbekalan perang. John
Lie memang seorang pemuda berpetualang yang bergabung dengan
pasukan Republik dan mencoba menguasai kapal-kapal yang ada.
Ia seorang yang berani. Keberaniannya menyebabkan pemerintah
pusat mempercayainya untuk menyelundupkan senjata. Sebagai
orang Kristen, Tionghoa lagi. Ia mempunyai simpatisan banyak. Tapi
orang Tionghoa memang sulit untuk diajak berunding ke persoalan
yang peka. Mereka takut sekali untuk secara terang-terangan
membantu kaum Republik. Sehingga akhirnya pemuda John Lie ini
juga kualahan. Habis dengan apa senjata di luar negeri itu mau dibeli?
Kalau menyelundupkan masuk ke Indonesia, ia tak takut. Itu sudah
termasuk bagian dari petualangan hidupnya. Tapi senjata di luar tetap
harus dibeli. Tak mungkin ia merampok barang-barang itu di luar
negeri. Akhirnya segala kesulitan itu diutarakan kepada beberapa
teman yang ada di Jakarta dan Sumatera. Teman-teman ini yang
kemudian mencari bantuan ke daerah-daerah. Antaranya ke Surabaya
bertemu dengan Mayor Phe yang sebelumnya sudah dikenal sebagai
simpatisan Partai Tionghoa Indonesia. Partai ini dikenal sebagai
Partai yang pro Republik.
Mayor Phe setelah berunding dengan beberapa tokoh di
Surabaya kemudian memutuskan untuk membantu gerakan yang
akan dilakukan John Lie, yakni memasukkan senjata dari luar negeri.
Mereka mengikhlaskan membantu Republik dengan sejumlah dana
yang ada pada mereka. Itu yang jadi keputusan kemarin. Hari ini
perkembangan begitu mendadak. Tiba-tiba saja ada surat dari
anaknya yang memerlukan senjata untuk perjuangannya di daerah,
yang di mana daerah itu ia sendiri tak tahu.
Di rumahnya sekarang ini memang tersimpan sejumlah candu
dalam keadaan siap untuk dijual. Sebagian miliknya sendiri dan
sebagian disetorkan oleh Oen Tjhing Tiauw sebagai sumbangan dari

126
orang-orang Tionghoa yang bersimpatik terhadap perjuangan
mempertahankan republik.
Tapi pertanyaan yang paling utama sekarang bukanlah
menjual candu itu. Kalau membantu lewat John Lie itu mudah.
Pemuda patriotik ini bersedia menerima bantuan berupa candu.
Lantas candu ini yang dijual di luar negeri untuk di “barter” dengan
senjata. Tapi kalau bantuan itu untuk memenuhi permintaan anaknya,
dari mana ia bisa mendapatkan senjata jika kemudian uang Nica
berhasil didapatkannya. Ini yang menjadi persoalan. Dengan kata
lain, ia juga harus membelikan senjata untuk kelompok anaknya
dari pasaran gelap. Untuk ini ia buta sama sekali. Juga Oen Tjhing
Tiauw tak mempunyai pandangan mengenai masalah ini. Mereka
tak pernah berkecimpung dalam persoalan dagang serupa itu.
Meskipun menurut kata orang, bisnis senjata di saat perang sangat
menguntungkan. Akhirnya terpaksa Mayor Phe kembali kepada
usaha untuk mendekati buaya-buaya Kapasan. Ia punya jalur di sana.
“Jadi kau mau membantu anak kita?" tegas nyonya Phe.
“Tentu”.
“Syukurlah”
“Aku yang bersyukur kau mau mengerti," jawab mayor Phe
memandang isterinya dengan pandangan penuh cinta. Ia selamanya
kagum pada isterinya. Isterinya yang punya wawasan luas
cakrawalanya yang banyak ikut andil dalam perkembangan dirinya
sebagai pemuka masyarakat.
“Kau kira Cuma kau yang mencintai anak kita?" kata nyonya
Phe “melengos”.
Ia sangat senang dengan perlakuan suaminya yang sangat
menyayangi dirinya. Suaminya tidak seperti orang Tionghoa lainnya.
Meskipun tidak duduk dalam lembaga pendidikan Belanda, suaminya
tahubenar adat istiadat orang Barat. Suaminya sering memuji dirinya
di hadapan umum. Bahkan suaminya pernah berkata: Dialah satu-
satunya modal kebanggaannya dan ia bersyukur mempunyai istri

127
seperti dirinya. Adakah istri yang merasa bahagia lebih dari kalau ia
mengetahui bahwa suaminya sangat mencintainya?
Nyonya Phe kemudian memeluk tubuh suaminya. Ia
merebahkan kepalanya di dada suami persis seperti seorang gadis
yang sudah lama tak pernah ketemu dengan pacarnya. Perlahan ia
berbisik: “Ngko, saya kangen pada anak kita, Biauw”.
Mayor Phe Cuma diam. Ia menepuk-nepuk bahu istrinya.
Kemudian ia berkata: “Biauw mungkin tak kan pulang. Biar perang
sudah selesai. Ia yang ingin mengajak kita hidup di desa. Hidup
yang menurut pendapatnya sangat tenang dan damai. Ia ingin
mengabdikan dirinya untuk kepentingan rakyat desa. Engkau bangga
punya anak seperti Biauw?”
Nyonya Phe mengangguk. Tak bisa dipikirkan kalau Biauw
yang beberapa waktu yang lalu masih merupakan anak manis dan
anak tunggalnya, kini punya cita-cita yang begitu luhur. Ia tak peduli
di mana Biauw nantinya akan bekerja. Menurut pendapatnya,
menjadi guru adalah satu pekerjaan yang mulia. Tak sembarang orang
bisa teguh pada pekerjaan yang tak menyenangkan itu. Menjadi guru
adalah pekerjaan yang makan hati.
“Aku hanya tak pernah menduga, bahwa dalam waktu yang
singkat, anak kita berubah banyak," ujarnya pelan.
“Ya, anak kita sudah berubah banyak. Dalam surat ia tidak
cengeng lagi. Ia sudah berkembang jadi anak yang dewasa. Aku
bangga pada anak kita...”
“Saya juga. Saya bangga....”
Kedua suami isteri itu saling mengutarakan kebanggaan
mempunyai anak yang ikut berjuang dengan caranya masing-masing.
Dengan cara saling mencurahkan isi hati. Dalam kelembutan cinta
orang dewasa. Yang cukup dengan pandang mesra mata yang paling
pasrah satu sama lain.

128
25

Ternyata usaha dari Mayor Phe tidak bisa berjalan dengan
mulus. Keesokan harinya muncul Oen Tjhing Tiauw dengan tergesa-
gesa dan wajah yang penuh keringat. Meski rumah mereka tak jauh,
tampaknya Oen seperti habis melakukan perjalanan yang jauh.
Nafasnya tersengal-sengal.
“Celaka, Mayor," katanya setelah bertemu dengan Mayor
Phe. Ia sudah terbiasa masuk ke rumah keluarga itu sehingga
langsung masuk ke tempat istirahat Mayor Phe. Mayor Phe sendiri
terkejut. Ia menduga ada apa-apa dengan anaknya.
“Sobat-sobat tidak setuju dengan rencana kita untuk
membantu para pejuang yang ada di Jawa Timur. Karena menurut
mereka, kedudukan kaum pejuang tidak jelas. Apa betul mereka itu
pejuang-pejuang Republik. Kita tidak tahu di mana kesatuan itu
berada. Jangan-jangan hanya para petualang yang ingin harta kita”.
“Tenang, tenang..," ujar Mayor Phe. Ia kemudian
melanjutkan.
“Katakan aku yang bodoh. Aku memang tidak menanyakan,
di mana markas para pejuang itu. Kita masing-masing sebenarnya
harus tahu, mana yang pantas kita tanyakan dan mana yang tidak
pantas kita tanyakan. Soal markas sekarang ini merupakan rahasia
militer. Tidak bisa pada semua orang diutarakan secara gegabah.
Karena semuanya bukan saja menyangkut urusan rahasia militer,
tetapi juga nyawa orang yang tergabung.”
“Saya sudah menjelaskan Mayor.”
“Lantas apa pendapat mereka?”
“Mereka tetap ingin bantuan itu diberikan kepada John Lie.
Yang jelas, dia orang Tionghoa dan bisa membawa harum nama
orang Tionghoa”.
“Anggapan yang gila. Kita menyokong perjuangan Republik
tanpa pamrih. Sebenarnya kita tak perlu tahu siapa mereka. Kita

129
hanya tahu bahwa perjuangan itu untuk kepentingan Republik, dan
karenanya kita bantu”.
“Tapi itulah Mayor. Mereka tetap menyatakan tidak mau jika
sumbangan mereka diberikan kepada pejuang yang tidak jelas asal
usul mereka. Kalau diteruskan dengan kemauan kita, mereka
meminta kembali sumbangan mereka. Baik yang berupa uang kontan
maupun yang berupa perhiasan ataupun candu”.
“Jadi mereka serius," tanya Mayor Phe seraya
menghempaskan dirinya ke kursi goyang yang tersedia di situ. Kursi
goyang buatan Jepara yang sangat indah ukir-ukirannya.
“Mereka memang tidak guyon-guyon Mayor. Mereka serius.
Dan Mayor tentu tahu bagaimana sikap golongan kita kalau sudah
menentukan sikap. Tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Tapi mereka juga harus tahu, bahwa di dalam kelompok
yang mau kita bantu itu ada anak saya”.
“Mereka tidak peduli, Mayor. Laginya, mereka tidak pernah
tahu kalau anak Mayor terang-terangan berjuang. Laginya andaikata
mereka tahu, mereka akan mempunyai anggapan yang naif, apa
artinya anak Mayor dibandingkan dengan Mayor John Lie yang
populer itu. Yang membuat pemerintah pusat mempercayainya untuk
menyelundup senjata dari luar negeri masuk ke dalam negeri, guna
kepentingan peperangan”.
Oen Tjhing Tiauw kemudian mencoba menjelaskan:
“Lewat John Lie, sebenarnya orang-orang kita ingin diri
mereka aman. Jika melalui John Lie, semua sumbangan akan
diketahui oleh pemerintah pusat. Dengan demikian diharapkan
pemerintah pusat tidak akan membedakan status orang Tionghoa
dengan status orang pribumi yang sekarang memegang tampuk
pemerintahan.
Laginya, dengan melihat kenyataan bahwa pemerintah
berniat menghimpun senjata baru lewat John Lie, ini berarti bahwa
pemerintah pusat sudah menyiapkan diri untuk berperang dengan

130
pihak Belanda dlaam jangka waktu yang panjang. Pokoknya Belanda
harus mendapat perlawanan dari para pejuang. Para pejuang itu pun
harus menunjukkan kepada pihak Belanda, bahwa mereka
mempunyai juga persenjataan yang up to date, yang modern.”
Mayor Phe akhirnya Cuma bisa mengurut dadanya yang tidak
sakit.
“Kalau mereka yang diperlukan tidak mau membantu,
baiklah. Saya yang akan membantu sendiri. Saya yang akan
membantu anak saya dan kelompoknya dengan uang saya sendiri.
Cuma dapatkah kau mencari senjata yang kuperlukan? Selebihnya
boleh kau urus untuk mengembalikan semua dana yang kemarin
kau serahkan padaku. Terserah mau kau apakan. Apakah mau
langsung dikirimkan ke John Lie atau langsung ke pemerintahan
pusat terlebih dahulu”.
Oen Tjhing Tiauw diam. Ia bisa merasakan kepedihan hati
Mayor yang jadi sahabatnya ini. Ia bisa mengerti Mayor Phe. Tapi ia
lebih-lebih bisa mengerti sobat-sobatnya orang Tionghoa. Mereka
memang tidak pantas untuk membantu seseorang yang belum
dikenal. Yang tidak jelas dimana mereka berada. Semua sumbangan
dan ini tampaknya menjadi budaya yang indah dari orang-orang
Tionghoa. Bahwa mereka mau menderma, kalau dana yang mereka
berikan itu mereka yakini akan terpakai untuk kepentingan umum.
“Saya minta maaf Mayor, bahwa saya tidak bisa
mempergunakan saya untuk mempengaruhi mereka pro dengan
Mayor”.
“Biarlah mereka punya pendapat sendiri. Pendapat mereka
itu saya hargai. Secara rasional kita memang harus bersikap sesuai
dengan cara berpikir mereka. Cuma mereka sebenarnya tidak boleh
terlalu gegabah. Mereka harus hati-hati sebelum mengambil
keputusan”.
“Jadi Mayor sama sekali tidak tertekan atau tersinggung?”

131
“Mengapa saya harus tertekan atau tersinggung. Pro dan
kontra itu adalah hak asasi mereka. Kita tak perlu ambil perduli
dalam hal ini. Yang penting, kita harus menolong mereka pada saat-
saat seperti sekarang. Coba kau bayangkan. Pasukan yang berjuang
kehabisan amunisi dan senjata. Bukankah mereka akan menjadi
makanan yang empuk bagi serdadu Belanda jika mereka ketahui
bahwa para pejuang sudah kehabisan peluru dan senjata. Bahkan
mungkin juga mereka sudah tahu, kalau para pejuang hanya punya
bedil sundut seperti yang banyak dipakai para serdadu kompeni.”
“Kau sendiri sudah membaca surat anakku. Aku sendiri
sudah bertemu dengan komandan pasukannya. Mereka benar-benar
kekurangan senjata dan amunisi. Kalau kita berikan uang, aku kuatir
mereka tetap tidak bisa mendapatkan senjata. Jadi senjata yang harus
kita berikan. Bukan uang”.
Oen Tjhing Tiauw jadi bingung. Tampaknya yang diutarakan
oleh Mayor Phe sesuatu yang gampang. Asal ada duit bisa membeli
senjata. Tapi zaman ini sedang kacau. Belanda juga tidak akan tinggal
diam. Belanda akan tanya, untuk apa senjata-senjata itu. Kalau
kemudian tertangkap basah waktu mengangkut senjata, celakanya
bukan main. Semua bisa ditangkap dan itu tidak menguntungkan”.
“Senjata mungkin masih bisa dicari Mayor. Tapi kemana kita
harus mengirimkan”
“Itu nanti urusan saya dengan mereka”.
“Lantas bagaimana sikap Mayor selanjutnya”.
“Saya mungkin akan mengambil keputusan, bahwa bantuan
dari saya pribadi tidak akan saya lewatkan John Lie. Mungkin saya
akan membantugerakan pejuang di Jawa Timur. Menurut
pertimbangan saya, senjata yang bakal diperoleh John Lie adalah
untuk keperluan pusat, keperluan nasional. Tidak mungkin lantas
dengan segera dibagikan ke daerah-daerah. Kalau sekarang kita
ketahui bahwa persenjataan pejuang di daerah sedang gawat, maka
demikian jugalah situasi di pusat.”

132
26

OenTjhing Tiauw mengakui kebenaran analisa Mayor Phe.
“Ke mana senjata nanti harus kita kirimkan," desak Oen
kemudian. Ia ingin sekali mengetahui di mana pusat pejuang-pejuang
itu sekarang. Baginya ini penting. Karena, kalau bisa ada komunikasi,
maka bantuan bertahap bisa dilakukan. Bukan hanya dalam bentuk
senjata dan amunisi yang diminta, tapi juga obat-obatan, makanan
dan pakaian.
Mayor Phe tidak menjawab. Pemuda Oen juga diam. Ia pun
juga menyadari kemudian, bahwa pertanyaan yang agak mendesak
bisa menimbulkan kecurigaan. Timbulnya kecurigaan di kalangan
kelompok Tionghoa sekarang ini bisa terjadi di mana-mana. Setiap
masalah bisa berkembang untuk saling mencurigai, meskipun
sebelumnya mereka bersahabat. Juga dalam hal hubungan antara
Mayor Phe dan Oen Tjhing Tiauw ini. Masing-masing tampaknya
punya jarak dan saling menjaga jarak. Yang tahu bahwa Hian Biauw
ikut dengan pejuang adalah Oen Tjhing Tiauw saja. Yang lain tak
adayang tahu. Karena masalahnya bisa jadi gawat bagi keluarga
Mayor Phe.
Upaya membeli senjata mulai dilacak setelah candu berhasil
dijual oleh mayor Phe melalui seorang makelar. Tak apa harga tak
begitu bagus. Yang penting uang Nica kontan harus didapat. Jalur-
jalur yang semula diharapkan bisa dibantu oleh kalangan buaya-
buaya Kapasan ternyata tak bisa ditembus. Buaya-buaya Kapasan
tak ada yang berani mengambil resiko. Membeli senjata dari pihak
Belanda memang bukan masalah yang sulit. Juga Belanda senang
pada duit dan dengan duit semua masalah bisa diluruskan. Juga
Belanda bisa dibengkokkan. Tapi ini hanya untuk satu dua senjata
atau pistol. Tidak dalam bentuk puluhan atau ratusan seperti yang
dipesan mayor Phe. Untuk hal-hal yang terlarang, Mayor Phe

133
memang sering mempergunakan kaki tangan para buaya Kapasan
ini.
Akhirnya Oen Tjhing Tiauw berhasil. Senjata-senjata itu
tetap milik Jepang yang masih tersisa. Tapi bukan senjata yang sering
dipakai Kenpetai. Masih dalam peti. Senjata ini adalah kiriman yang
baru datang dari Jepang yang tadinya ada di gudang-gudang Tanjung
Perak. Cuma di bagian luar tidak diberi catatan senjata. Tapi tekstil.
Dengan tubuhnya yang pendek gemuk, Oen, dua hari
kemudian berhasil membawa contoh-contoh senjata. Karena rumah
Mayor Phe besar, dan bisa langsung masuk ke dalam, tak ada orang
yang curiga keesokan harinya lagi, sebuah cikar masuk rumah
tersebut membawa peti-peti senjata. Senjata-senjata itu setelah
dibuka ternyata memang masih baru. Bantuan untuk tentara Jepang
di Hindia Belanda bagian Timur. Masih ada surat pengantarnya di
dalam peti itu dan daftar apa saja isinya. Tentunya dalam bahasa
Jepang. Bagi mayor Phe soal bahasa ini tak ada masalah. Sedikit-
sedikit ia bisa membaca. Yang ia herankan justru mengapa orang
Tionghoa yang sebelumnya tidak ia kenal ini begitu berani membawa
senjata-senjata itu lewat cikar pada siang hari. Jika sampai ketahuan
Belanda, semua pihak bisa celaka. Perundingan tidak berjalan sulit.
Semuanya lancar. Ada tiga puluh peti semuanya. Dua diantaranya
dibuka sebagai contoh. Transaksi jual beli berjalan dengan lancar.
Tionghoa yang tak dikenal itu pulang dengan membawa koper kecil,
pinjaman dari mayor Phe yang isinya duit Nica yang masih baru.
Sore harinya Mayor seperti punya perasaan tak enak. Ia heran
bagaimana orang bisa mempunyai persediaan senjata yang masih
baru begitu banyak. Sampai tiga puluh peti. Bahkan katanya, jumlah
yang lebih banyak lagi masih ada. Tinggal ada uang atau tidak. Mayor
Phe jadi pucat wajahnya. Ketika pada peti kelima ia menjumpai,
bahwa setelah peti dibuka, bukan senjata baru yang dilihat, tapi batu.
Juga peti keenam, ketujuh dan selanjutnya. Kurang ajar. Ia tertipu!

134
Urusan ini sungguh serba sulit. Ia takkan berani melapor
kepada pihak yang berwajib. Karena jika ia lapor pasti masalah
pembelian senjata akan jadi ramai. Rupanya Tionghoa yang tadi
datang bersama Oen Tjhing Tiauw yang diperkenalkan dengan Baba
Tan Sing Oen memahami masalah pelik yang dihadapinya.
Karenanya ia nekad untuk menipu. Namun Mayor Phe tetap sabar.
Semua gelagat jelek yang dialaminya dipendam dalam perasaan
hatinya sendiri. Sama sekali tidak diceritakan kepada istrinya. Ia
hanya menyuruh pembantunya memanggil Oen Tjhing Tiauw.
Pemuda bertubuh gemuk pendek ini pun jadi terkesima. Tak pernah
ia duga bahwa ada Tionghoa yang mau menipu sesama Tionghoanya.
Apalagi dalam soal dagang seperti kali ini. Mestinya harus ada sikap
saling percaya.
Akhirnya Mayor Phe meminta Oen Tjhing Tiauw untuk
memanggil si Deglok. Salah seorang pentolan buaya Kapasan yang
terkenal. Dalam kesabaran wataknya sehari-hari, Mayor Phe ternyata
seorang yang tegar hatinya. Ia yang tak pernah menipu orang,
sekarang ditipu. Yang menipu itu harus mendapat ganjaran yang
setimpal. Ia tak boleh lemah. Kewibawaannya harus ditegakkan lagi.
Ia memang tak mengenal Tionghoa pedagang senjata itu. Tapi
Tionghoa itu pasti tahu siapa dia...
Mayor Mangku tidak datang seminggu kemudian sesuai
dengan waktu yang dijanjikan. Ia datang pada hari kesepuluh. Mayor
Phe menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kedatangannya
memang sudah ditunggu. Mayor Phe langsung membawa Mayor
Mangku ke belakang. Di sana sudah tersedia berpeti-peti barang.
Mayor Mangku beranggapan bahwa kali ini misinya berhasil. Ia bisa
memperoleh senjata dalam jumlah yang banyak. Pada wajahnya
nampak ada perasaan yang senang yang tak bisa ditahan. Tapi Mayor
Phe segera mengutarakan bahwa ia tertipu. Hanya sekitar lima peti
yang berisi senjata dan peluru. Mayor Phe kemudian menceritakan
semua kemalangan yang dideritanya.

135
Kini giliran Mayor Mangku yang menghiburnya:
“Sejumlah ini sudah sangat berfaedah. Bantuan Tuan sangat
kami hargai”
“saya mengerti, tapi persoalan ini benar-benar memalukan.
Di saat kita sangat membutuhkan senjata masih ada orang yang mau
menipu kita.”
“Sudah, Tuan. Ini saja sudah cukup”
Kemudian keluar Nyonya Phe, yang lagi-lagi menanyakan
soal anaknya. Mayor Phe tadi sengaja menahan diri untuk tidak
menanyakan soal anaknya. Ia ingin tidak melibatkan anaknya, biar
tamunya ini tidak merasa “risih” karena mendapat bantuan dari orang
tua anak buahnya.
Ketika ada kesempatan, Nyonya Phe masuk sejenak, Mayor
Phe berkata: “Jangan bercerita pada istri saya tentang musibah ini.
Ia tidak saya ceritai. Karena saya khawatirkan ia akan bercerita
banyak kepada orang lain bahwa kita telah tertipu”
“Saya mengeri, Tuan," jawab Mayor Mangku. Mereka
kemudian duduk di ruang tamu, bagian belakang. Di rumah Mayor
Phe memang ada tiga ruangan tamu. Bagian paling depan, untuk
menerima tamu yang Cuma sekedar tamu. Di ruangan tengah ada
lagi, biasanya untuk yang sudah dikenal akrab. Lantas masih ada
sebuah ruangan tamu di bagian belakang dekat ruangan makan. Ini
memang khusus untuk menerima tamu dari kalangan keluarga.
Biasanya terasa akrab kalau diterima di ruangan belakang itu.
Mayor Phe kemudian menceritakan bahwa ia sudah
mendapat bantuan banyak dari Baba Liem Seeng Tee, juragan rokok
yang terkenal. Dengan bantuannya itu ia nanti akan mengusahakan
pengiriman senjata-senjata yang sudah didapat secara berangsur.

136
27

Baba Liem mempunyai armada kendaraan mobil dan truk
untuk mengangkut rokoknya ke daerah. Bisa dititipkan ke sana dan
diharapkan Mayor Mangku bisa juga mempercayainya.
“Ia orang yang baik. Teman dari presiden kita, Soekarno. Ia
simpatisan bahkan bisa dibilang tokoh PNI. Pokoknya ia banyak
membantu presiden Soekarno, baik sesudah menjadi presiden
maupun sebelum jadi presiden”
“Tuan mengenalnya dengan baik”
“Saya sudah tahu namanya dan sudah sering bertemu.
Orangnya dermawan dan suka menolong. Untuk kepentingan
revolusi ia bersedia berkorban apa saja. Saya kira ia sangat nasionalis”
“Kalau tuan mempercayainya saya juga mempercayainya”
Lalu kedua orang itu menyusun strategi bagaimana senjata
bisa dikirimkan dengan nunut armada rokok Baba Liem. Belanda
memang mengijinkan Baba Liem berproduksi terus sebab dari
perusahaan itu bisa diharapkan pembayaran cukai rokok yang cukup
besar. Mayor Mangku juga bercerita banyak tentang pasukannya. Ia

mulai menyukai Mayor Phe yang ternyata luas pemandangannya.
Seperti anaknya, orang tua ini ternyata jujur dalam bicaranya.
Tidak suka berbelit-beli. Apa yang dirasakan diutarakan. Juga tentang
perampokan yang terjadi.
“Dalam suatu revolusi selalu ada korban," kata Mayor
Mangku. Pernyataan yang pendek ini dibenarkan oleh Mayor Phe.
“Tapi masalahnya tidak boleh berlanjut terus. Jika
perampokan ini berjalan terus dan yang jadi korban selalu orang
Tionghoa, maka masalahnya akan berakibat cukup serius. Simpatik
tidak akan didapat dari luar negeri. Padahal sekarang ini seudah
masyarakat dunia mentas dari perang dunia II, mestinya kita sekarang
tidak berperang lagi. Perang selalu membawa malapetaka. Yang lebih

137
penting lagi, dengan adanya perang, maka negara yang baru ini tidak
akan mungkin bisa membangun negara dan memberikan
kemakmuran kepada bangsanya”
Mayor Mangku diam. Ia tak memberikan reaksi. Perampokan
ini memang satu strategi perang juga. Supaya di kota tidak merasa
aman. Supaya pihak Belanda tidak bisa bertepuk dada mengatakan
bahwa mereka telah menciptakan kehidupan yang aman untuk
masyarakat kota, dimana kaum pejuang tidak berkuasa. Ini strategi
perang dan ia tak bisa mengatakan kepada sahabatnya yang baru
ini. Dalam hati ia menyesalkan apa-apa yang telah terjadi.
Persoalannya memang mengapa harus orang-orang Tionghoa yang
jadi korban. Sekarang ia tahu dan yakin, bahwa orang Tionghoa ada
tiga bagian. Ada yang pro Republik dan ada yang pro Belanda. Ada
yang Cuma mencari untung seperti Tionghoa yang menjual senjata
itu dan ada yang benar-benar mau berjuang membantu seperti Mayor
Phe dan Baba Liem yang belum dikenalnya. Kalau ada orang-orang
seperti Mayor Phe dan Baba Liem, pastilah banyak orang Tionghoa
lainnya yang bersikap membantu Republik.
“Tapi perang ini memang takkan lama. Kita Cuma sampai
detik terakhir harus membuktikan kepada Belanda, bahwa kita masih
sanggup menghadapi mereka dengan kekerasan. Kita harus
membuktikan bahwa Belanda masih menghadapi perlawanan,
meskipun perlawanan kita itu mungkin tidak punya arti. Hanya
sekedar letusan senjata. Tapi di daerah itu besar artinya. Bagi Belanda
itu berarti bahwa ia tidak bisa hilir mudik dengan seenaknya sendiri
dan bagi rakyat desa itu berarti bahwa pejuang masih ada di sekitar
mereka dan karenanya mereka juga akan memberikan perlawanan
terhadap Belanda.
Mereka akan merasa masih tetap dijaga oleh para pejuang.
Perang kali ini lebih banyak mempunyai efek psikologis.
Ganti Mayor Phe yang diam sekarang. Begitu ruwet strategi
yang dipasang para pejuang dan pemimpinnya untuk menghadapi

138
Belanda dan menjaga semangat bangsa secara utuh menghadapi
Belanda. Jarang satu bangsa memiliki strategi ini, terutama karena
Indonesia berpenduduk besar. Salah perhitungan memang bisa fatal.
Jika sudah tidak ada perlawanan dari pihak pejuang. Rakyat memang
bisa punya anggapan bahwa Belanda sudah menguasai negara jajahan
ini secara utuh. Berarti juga bahwa Belanda sudah dianggap berkuasa
kembali dan harus dihormai, bukan dilawan. Mayor Phe hanya
manggut-manggut. Ia kagum. Tak diduganya, bahwa bangsa yang
menurut pendapatnya dan juga pendapat Oen Tjhing Tiauw terlalu
tergesa-gesa memproklamair kemerdekaan, ternyata mereka juga
bukan pejuang-pejuang yang tidak punya strategi. Ternyata strategi
mereka sangat brilian. Belanda sendiri saat itu pasti juga tidak tahu,
kalau keadaan para pejuang sudah boleh dikatakan habis. Tidak
punya apa-apa lagi. Semangat pun sudah luntur. Kalau toh masih
dikatakan ada, Cuma tinggal sebagian kecil saja. Bukan karena
kecewa, tapi karena kesal menunggu. Mereka menginginkan perang
dalam bentuknya yang nyata. Bberhadap-hadapan satu sama satu.
Tewas pun untuk itu mereka berani. Tapi perang seperti itu memang
hanya keinginan anak muda yang tidak memperhitungkan strategi.
Perang gerilya yang dikomandokan dari Pusat mempunyai arti
banyak. Pertama ada tanda kesetiaan rakyat di daerah mengikuti
instruksi Pusat dan yang kedua bisa membuat Belanda jadi
kelabakan. Belanda sendiri dalam menghadapi peperangan di Jawa
Timur mungkin berpikir seribu kali. Mereka sudah berpengalaman
dalam perang Aceh yang begitu berkepanjangan, atau dengan Perang
Puputan di Bali. Di mana laki-laki dan perempuan yang sedang
menyusui anaknya ikut perang dan menyabung nyawa sampai titik
darah penghabisan. Yang membuat Belanda meski pun menang,
menjadi ngeri akibat perang yang begitu memperlihatkan wajahnya
yang paling asli. Kebiadaban dalam membantai rakyat yang ingin
tetap mempertahankan kemerdekaan negaranya. Padahal, Belanda
sebagai bangsa yang mengaku beradab tahu juga, bahwa

139
kemerdekaan itu sebenarnya hak setiap bangsa. Juga bangsa Aceh
dan bangsa Bali. Sekarang perang yang sama mereka hadapi di Jawa
Timur. Cuma tinggal daerah ini yang masih memperlihatkan
perlawanan yang gigih.
Kedatangan Mayor Mangku kemudian menelorkan
kesepakatan bersama, bahwa peti-peti itu akan diangkut sesuai
dengan rencana. Mayor Mangku sendiri yang akan mengawalny.
Sementara melalui kurir dari orang-orang yang dikenal ia
menyampaikan pesan kepada Sutedjo dan anak buahnya untuk
menyambut kedatangan mereka.
Senjata! Akhirnya meskipun tidak banyak, senjata didapat
kembali oleh para pejuang. Yang paling bangga dalam hal ini adalah
Hian Biauw. Cuma ia yang tahu bahwa senjata ini adalah bantuan
dari ayahnya. Surat dari ayah atau ibunya memang tidak ada. Tapi
dri Mayor Mangku ia mengetahui bahwa keadaan orang tuanya dalam
keadaan selamat. Ia menjadi lega bahwa dengan datangnya senjata-
senjata ini, meski Cuma sedikit tapi benar-benar sangat
menggembirakan.
Satu hari Latifah sempat bertemu kembali dengan Hian
Biauw berduaan. Ia sangat senang melihat kegembiraan Hian Biauw
memperoleh kembali senjata dan amunisi dan makanan kota. Juga
para pejuang yang lain. Semuanya menunjukkan wajah yang
gembira. Hian Biauw membersihkan laras senjata dengan kain lap
yang sudah kotor. Ia bercerita banyak tentang senjata-senjata yang
sudah dikenalnya sejak kecil. Ketika ia sering ikut ayahnya kalau
berburu. Tampaknya, sejak kedatangan senjata-senjata yang berhasil
dibawa komandan, Hian Biauw selalu gembira dan suka bercerita.

140
28

Latifah mendengarkan penuh perhatian. Ia tidak menyela
maupun bertanya. Sikapnya seolah berharap Hian Biauw mau
bercerita lebih banyak tentang dirinya.
“Dulu Fah, aku tidak mengerti mengapa harus berjuang. Apa
perlunya kemerdekaan. Hidup keluargaku berkecukupan dan kami
tidak pernah merasa tertindas. Aku juga tidak pernah mengerti apa
penjajahan itu. Aku tidak pernah-sebagai anak Mayor Phe-
diperlakukan tidak adil.” Hian Biauw menghela nafas. Ia kemudian
melanjutkan.
“Berkumpul dengan kalian aku baru melihat kehidupan
rakyat. Aku melihat rakyat berpakaian goni. Dulu aku tidak pernah
melihatnya. Pembantu kami pun tidak ada yang sampai harus
memakai bahan goni. Oh! Begitulah hidup dalam penjajahan,
kemiskinan, penindasan, ketidakadilan.... oh! Aku ..., anak seorang
Mayor sekarang merasakan hidup melarat dan aku mengerti mengapa
negara ini harus merdeka.”
Hening.. udara malam itu makin dingin saja. Malam mulai
larut dan Hian Biauw agak menggigil.
“Kau tidak kedinginan, Fah?” tanyanya sambil melepas
sarung yang melilitnya ditawarkan pada Latifah.
“Tidak. Aku senang udara dingin. Aku orang Malang bukan?
Pakailah sendiri. Kau yang kedinginan”
Hian Biauw tidak berbasa-basi. Ia cepat menyelimutkan
sarung itu menutup seluruh tubuhnya.
“Ha ha... Fah aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau
ibuku menemuiku di sini. Anak tunggalnya hanya punya satu potong
celana pendek! Itu sudah yang terbagus dari jatah pasukan, Fah,
bagaimana reaksi ibu kalau anak tunggalnya berkalung sarung begini,
ya?”

141
Latifah ikut geli. Ia juga tidak dapat membayangkan
bagaimana pendapat ibuku kalau melihat putrinya duduk berdua
dengan seorang pemuda di tempat yang sesepi ini.. yang berdua!”
“Dengan pemuda Tionghoa lagi, ya Fah!”
“Ya, dengan pemuda Tionghoa...”
“Kau tidak menyesal, suatu ketika Fah?”
“Yang kutakutkan bukan diriku, tetapi kau yang menyesal.”
Keduanya lalu tertawa dan duduk mereka pun makin
mendekat, hati Latifah berbunga melihat Hian Biauw terbuka dan
mau bercerita dan mau bergurau. Dengan begini pasti sedikit tekanan
batinnya akan terangkat dan besok ia akan dapat melakukan tugas
sehari-harinya dengan lebih gembira.
“Fah, boleh aku bertanya?”
“Tanya apa lagi kok minta ijin segala?”
“Kalau suatu hari kau memilih seorang pemuda Tionghoa
apakah ayah ibumu akan memberikan restu?”
Latifah terbungkam. Ia memang tertarik pada Hian Biauw
tetapi sampai sejauh ini ia belum pernah memikirkan restu orang
tua segala. Ya, pikirannya, apakah orang tuanya, modern sekalipun
mau menerima Hian Biauw seandainya pemuda ini serius
dengannya? Lalu ia balas bertanya.
“Kalau ayah ibumu bagaimana? Maukah beliau memberi
restu jika membawa seorang gadis Jawa ke lingkunganmu?”
Ganti Hian Biauw yang terdiam. Ia dapat membayangkan
bagaimana pandangan ibunya, terutama. Bahwa anak seorang Mayor
Phe bersahabat dengan seorang perempuan yang tidak dipanggil
Noni. Perempuan yang berambut keriting berwajah kecoklatan..
perempuan Jawa.. Hian Biauw sudah dapat membayangkan betapa
ramainya ibunya memakinya dan menyalahkan ayahnya yang
mengijinkan ia bergaul dengan Effendi dan akhirnya membawa
pulang seorang perempuan Jawa. Bagaimana ibunya dapat mengerti
bahwa ada perempuan Jawa yang setingkat dengan mereka? Di

142
lingkungannya orang Jawa dianggap kelas dua. Yang namanya orang
Jawa adalah pembantu, pekerja dan ... orang kampung yang miskin.
Mana mungkin ibunya tahu bahwa perempuan Jawa yang akan
dibawanya adalah anak MULO dan anak seorang dokter?
“Kalau kau menghendaki jawaban jujur, ibuku pasti akan
marah besar. Tetapi aku tahu hati ibuku. Aku akan berikan pengertian
padanya dan aku akan berkelahi untuk hakku. Dengan halus dan
lemah lembut, tentu saja. Tapi aku tidak akan pernah mengalah. Kalau
toh seorang perempuan Jawa yang kelak kubawa ke rumah, ia akan
kupertahankan. Atau aku tidak akan menikah kalau aku kalah! Hian
Biauw menjawab tegas dan wajahnya tiba-tiba tegang. “dan apa
jawabanmu yang jujur?”
“Aku tidak tahu, Biauw. Jangan tanyakan sekarang.” Latifah
kemudian tertunduk malu. Ia tidak berani lagi menatap wajah dan
mata Hian Biauw yang berapi-api. Ia tahu meskipun mereka belum
pernah menyatakan cinta, tetapi dengan pertanyaan tadi dan jawaban
yang begitu tegas dari Sinyo Sipit, ia telah melukai pemuda Tionghoa
ini dengan jawabannya sendiri. Tetapi ia lebih baik bersikap jujur
daripada lebih dalam melukai di kemudian hari. Akhirnya Latifah
tidak tahan dan berlari masuk sambil menangis. Ia tahu ia telah
melukai bukan hanya Hian Biauw sendiri tetapi sekaligus dirinya
sendiri karena ia tidak dapat seberani pemuda itu...
Hian Biauw tidak menahannya. Ia tidak kecewa karena ia
memahami kelemahan kaum wanita terhadap adat. Ia juga tidak
mengejarnya. Ia sayang sekali pada Latifah, tetapi ia tidak ingin
gadis ini menderita dengannya. Barangkali ada pemuda bangsanya
yang lebih baik dari dia... biarlah ia berbahagia. Hian Biauw
kemudian teringat Effendi.
Ingatan pada Effendi membuatnya ingat pada teman-
temannya pemuda-pemuda Tionghoa dari Kapasan. Kalau bukan
karena kerasnya pendidikan yang dibekalkan ayah ibunya apakah ia
tidak seperti mereka itu?

143
29

Anak laki-laki Kapasan dari usia muda sudah kenal
perempuan. Mereka sudah sering pergi ke tempat plesir di Kembang
Jepun, tempat perempuan nakal menghibur tentara Jepang. Orang
Tionghoa boeh masuk juga. Mereka ini sering menggoda pada
penjaga rumah orang tua. Mereka yang tiap malam bermain cinta.
Dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak berani terhadap
ayah para berandal kecil ini. Akhirnya para penjaga rumah malah
mencarikan perempuan bagi anak-anak ini. Mereka ganti menjaga
brandal-brandal ini bermain di beranda rumah. Kalau setelah
membayar, sebagai komisinya gantilah para para penjaga yang
bermain cinta. Mungkin permainan begini tidak hanya terjadi di
Kapasan, tetapi palingtidak itulah yang diketahuinya karena tempat
tinggalnya di sana.
Ketika ingat bahwa perang mungkin tidak akan lama lagi
dan dua insan itu duduk berduaan kembali di jalan, Hian Biauw
bertanya:
“Apa yang akan kau lakukan kalau perang ini usai”
“Perang memang akan usai... “, jawab Latifah pelan. Ia
memang tidak pernah berpikir apakah perang akan selesai dalam
waktu singkat atau lama. Ia sebenarnya tak ingin perang selesai.
Kehidupan di desa ini sungguh menyenangkan baginya.
“Tapi perang satu saat akan selesai, Fah," ucap Hian Biauw
kembali, seolah dengan pertanyaan itu ia ingin jawaban atas
pertanyaan tadi.
“Aku mungkin akan meneruskan studi. Aku ingin jadi dokter
seperti ayahku.”
“Kau ingin jadi dokter?”
“Ya! Mengapa kau heran?”
“Tidak, aku tidak heran.” Lalu Hian Biauw tertawa. Pemuda
ini selalu tertawa kalau ada hal-hal yang menurut pendapatnya lucu.

144
Jawaban Latifah baginya lucu. Karena jawaban itu mengingatkan
dirinya pada omongannya dengan ibunya yang dulu.
“Biauw, kau harus belajar sampai punya titel”.
“Mama ingin Biauw jadi apa?”
“Jadilah dokter..”
Latifah sekarng yang ganti bertanya:
“Mengapa kau tertawa?”
“Tak apa-apa. Cuma ibuku dulu pernah mengutarakan keingin-
annya agar aku jadi dokter. Lucu kan, kalau kau juga ingin jadi dokter”
“Jadi dokter," gumam Latifah lirih seolah pada dirinya
sendiri.
Kehidupan di desa menyadarkan dirinya, bahwa masih
banyak yang harus dilakukan para pemimpin bangsa jika ingin rakyat
yang baru menyatakan kemerdekaan ini terangkat dari kemiskinan.
Apa yang dilihatnya selama ini sangat bertentangan dengan
kehidupannya di kota. Meskipun ayahnya sering berpindah tempat,
tetapi ayahnya tak pernah sampai didinaskan di tempat yang terpencil.
Selalu ada lisrik. Kehidupan di desa ini sama sekali merupakan
kerutinan dari kepasrahan hidup manusia. Yang nrimo. Rasanya
selalu taat dan tidak punya ambisi untuk mendobrak tradisi yang
mengekang kebebasan hidup mereka. Tampaknya mereka sama
sekali tak punya daya.
“Kau sendiri juga akan belajar jadi dokter?" tanya Latifah
kemudian.
“Aku kira tidak. Aku sudah getir melihat darah. Aku muak
melihat darah, melihat luka, melihat orang merintih.”
“Lantas kau ingin jadi apa?”
“Mungkin aku akan jadi guru.”
Ganti Latifah yang sekarang tertawa.
“Kau ingin jadi guru?" tanyanya heran.
“Ya, kenapa?”

145
“Mungkin karena terlalu lama kau ikut dalam pasukan ini
kau merasa seperti orang Jawa, Biauw. Tapi kau orang Tionghoa.
Jika perang usai, kau akan kembali ke duniamu yang semula. Apa
yang terjadi selama ini Cuma ibarat panggung sandiwara. Kau akan
kembali ke lingkungan yang lama dan menjadi pedagang...”
Latifah kemudian berdiam diri. Ia tak berani memandang
wajah sahabatnya.
“Aku kembali ke lingkunganku?" Hian Biauw berkata
perlahan seolah bertanya pada diri sendiri.
“Ya, jika tidak kau mau kemana?”
“Mungkin aku akan menetap di daerah ini...”
“Kau katanya mau pergi dari sini?”
“Sekarang memang, tapi kalau perang selesai, aku ingin
kembali. Pendidikan Fah, pendidikan..”
“Kenapa dengan pendidikan?”
“Kemajuan satu bangsa tidak mungkin bisa dicapai kalau
bangsa itu masih bodoh. Kalau bangsa tetap bodoh, maka mereka
akan mudh ditipu oleh pemimpin-pemimpin yang avonturir.
Yakinlah, setelah perang selesai, perjuangan usai, maka nanti akan
banyak orang yang menepuk dada sebagai pejuang. Lantas akan lahir
pemimpin yang seperti aku bilang tadi, petualangan. Rakyat yang
bodoh gampang ditipu. Rakyat harus mempunyai hak untuk
menikmati pendidikan. Itu harus dimulai dri desa. Karena desa sering
dilupakan pemerintah. Di mana saja pemerintah Cuma bakal
mengurus-urusan kota. Karena lewat kota hasilnya segera tampak.
Biasa segera tampak ada kemajuan. Desa selamanya akan
diterbenamkan pada mimpi-mimpi buruknya. Kita yang sadr yang
harus mengabdi...”
Latifah menggelengkan kepalanya. Rasanya tak masuk di
akalnya bahwa apa yang diomongkan ini keluar dari mulut seorang
Tionghoa.

146
“Kau akan kesepian di desa, Biauw...”
“Mungkin. Tapi aku akan mengajak ibuku ke desa. Ibu pasti
mau. Juga ayahku akan kuajak pindah.”
Deglok akhirnya datang ke rumah. Sedang Mayor Phe
bersama Oen Tjhing Tiauw. Pemuda itu sama sekali tidak
menceritakan apa sebabnya Deglok dipanggil Mayor. Ia Cuma
mengatakan bahwa Mayor Phe mengundangnya. Bagi orang-orang
seperti Deglok, undangan dari orang kaya, apalagi yang punya
pangkat seperti Mayor Phe merupakan satu kehormatan yang luar
biasa. Deglok sendiri sebelumnya tidak mengenal Mayor Phe.
Meskipun sebenarnya ia sudah pernah bertemu dengan Mayor Phe
entah di tempat kematian atau di pesta kawin, dimana Deglok sering
diundang untuk bertindak sebagai “keamanan”. Sebab dalam pesta
perkawinan sering terjadi mabuk-mabukan yang sering pula diakhiri
dengan perkelahian yang kadang-kadang bisa membawa maut. Bagi
yang punya kerja, yang mengawinkan anaknya tidak akan berbuntut
panjang jika dalam perkelahian itu ada yang mati, jika Deglok yang
jadi keamanan. Jika tidak, pasti perkara itu berbuntut panjang. Deglok
ini musuh bebuyutan dengan jurnalis Kwee Thiam Tjhing. Setiap
perkelahian yang terjadi, baik waktu pesta kawin maupun waktu
maisongan orang mati, selalu ditulis dengan penuh amarah oleh
Jurnalis Kwee. Jurnalis ini tak rela jika jiwa manusia mati dengan
sia-sia hanya karena mabuk-mabukan atau oleh salah pengertian
waktu judi. Judi sendiri sudah sering membuat orang lupa kontrol.
Ditambah judi waktu teler membuat orang jadi lupa dratan. Sedikit
salah paham, pisau sudah dikeluarkan. Perkelahian ini sering
membawa korban dengan dekking Deglok. Sebab untuk itu Deglok
mendapat upah yang besar dari mereka yang punya “gawe”. Segala
keributan yang sering kali membawa korban menjadi kebanggan
orang yang punya “gawe”. Sebab dengan adanya rame-rame itu
penduduk ikut serta menonton segala “keramaian” yang terjadi.

147
Orang yang terluka dengan darah yang membasahi sepanjang jalan
yang dilewati, digotong seperti orang menggotong binatang
perburuan dari hutan. Sepanjang jalan orang menonton.
Orang-orang Jawa yang menonton, yang tadinya tidak ikut
pesta pora atau ikut prihatin dengan kematian seseorang, semuanya
memperbincangkan:
“Ee... sudah tau, Baba Kwee mampus di pesta Baba Liem.
Ketusuk perutnya sampai ususnya keluar...”
Orang Tionghoa sendiri sampai seminggu masih
membicarakan.
“Lu tahu, kejadiannya Cuma remeh saja. Baba Kwee mabuk.
Waktu sempoyongan tubuhnya bersandar di bahu perempuan cantik.
Nggak tahunya perempuan itu bininya Baba Ong. Langsung saja
Baba Kwee ditendang kemaluannya sampai jatuh terjerembab. Baba
Kwee yang masih mabuk berusaha berdiri sambil tetap sempoyongan.
Tak memberikan kesempatan, Baba Ong sudah mencabut belatinya
dan ditusukkan ke perut Baba Tan. Ususnya sampai keluar...”

148
30

Karena namanya tidak begitu bersih, Mayor Phe sebelumnya
tidak pernah berkenalan secara akrab dengan Deglok. Ia Cuma
manggut kalau ketemu di pesta atau di tempat kematian sahabatnya.
Selebihnya ia tak punya hubungan. Ia pin juga heran bagaimana
lelaki yang umurnya ditaksir sekitar 40-an itu, Deglok lagi pincang
bisa punya pengaruh dan terpilih oleh rekan-rekannya sebagai
bossnya buaya-buaya Kapasan. Tapi kali ini Mayor Phe sangat
memerlukannya. Ia ingin mengadakan perhitungan dengan Baba Tan
yang dulu dibawa oleh Oen Tjhing Tiauw untuk melakukan transaksi
jual beli senjata, di mana akhirnya ia tertipu. Ia ingin mengadakan
perhitungan dengan orang yang disebutnya sebagai : bangsat! Tapi
untuk itu tak mau memakai tangannya sendiri. Ia ingin berbuat
sebagai Pontius Pilatus. Memakai tangan orang lain. Dalam hal ini
memakai tangan Deglok. Untuk itu ia rela membayar banyak. Kalau
mungkin ia ingin mendapat simpatik dari Deglok, agar uang tak
perlu banyak dikeluarkan. Setelah basa-basi buat sementara Mayor
Phe berkata: “Kau tentu tahu tentang Poh An Tui?”
Oen Tjhing Tiauw terkejut dengan pertanyaan itu. Juga
Deglok. Tak diduganya bahwa Mayor Phe akan berbicara tentang
organisasi itu.
“Poh An Tui harus kita sokong," kata Mayor Phe kemudian
setelah dua tamunya diam. Deglok memang sudah mendengar
tentang organisasi itu. Bahkan ia juga menjadi anggotanya. Terutama
ia sering mengganti orang Tionghoa kaya yang kebetulan harus apel.
Tapi tetap ingin tidur nyenyak kalau malam di rumah.
“Saya mendapat permintaan dari kawan-kawan di Jakarta
untuk menghimpun bantuan bagi kekuatan Poh An Tui di sana. Di
Rengasdengklok banyak kaum kita yang dibunuhi oleh perampok-
perampok. Karenanya mereka harus kita bantu dalam hal
persenjataan. Saya sama Baba Oen sudah mengatur bantuan itu.

149
Dengan uang saya sendiri saya telah membeli senjata. Tapi dari sekian
puluh peti yang dikirim Cuma lima yang berisi senjata. Yang lainnya
semua berisi batu. Ini semua tingkat Baba Tan”
Deglok diam. Sekarang ia sudah mulai punya gambaran apa
yang sebenarnya dikehendaki Mayor Phe.
“Jadi Mayor ingin saya membereskan Baba Tan?" tanyanya.
“Ya. Tapi tak perlu dibunuh. Saya ingin uang saya kembali”.
“Kita memang tidak perlu membunuhnya," sela Oen Tjhing
Tiauw.
“Laki-laki seperti itu, yang Cuma mau untung, tidak ingat
kepentingan golongan kita tak perlu dikasih hidup," tiba-tiba saja
ujar Deglog bersemangat. Ia mungkin ingin menunjukkan bahwa
hatinya tersinggung dengan perbuatan Baba Tan. Ia rupanya percaya
bahwa senjata yang dibeli Mayor Phe adalah untuk kepentingan Poh
An Tui di Jakarta. Untuk kepentingan membela kampung halaman,
agar tak banyak lagi orang Tionghoa yang dibunuhi perampok sebab
tak berdaya untuk melawan. Diam-diam meskipun baru saja
berkenalan secara langsung, Deglog sangat respek pada Mayor Phe.
Menurut pendapatnya, dalam jaman seperti sekarang ini, jarang ada
orang yang ingat kepada kelompoknya. Masing-masing orang
mencari selamat dan bekerja untuk kepentingan diri sendiri. Kini
ada orangnya dan tertipu. Ia jadi marah.
“Saya pasti bisa membereskan.," sahut Deglok.
“Kau bisa minta alamatnya pada Baba Oen," ujar Mayor
Phe. Deglok kemudian menanyakan alamatnya pada Oen Tjhing
Tiauw. Tapi pemuda ini juga cuma mengenalnya dari orang lain.
Alamat yang tepatnya ia tak tahu. Baba Tan yang pedagang itu yang
datang ke rumahnya atas petunjuk seseorang yang tahu kalau ia
membutuhkan banyak senjata. Ia dulu tak mengatakan untuk apa
senjata-senjata itu. Ia tak punya pikiran sebrilian pikiran Mayor Phe
yang bisa memberikan alibi buat kepentingan Poh An Tui. Ia

150
kemudian berjanji akan memberikan alamat Baba Tan setelah nanti
ia bertanya pada sahabatnya yang satu lagi. Mata rantai itu pasti
ketemu dan Deglok kemudian menyatakan sedia membantu
meskipun tanpa upah. Tapi Mayor Phe tetap memberikan bekal
secukupnya. Mayor Phe minta agar masalah ini bisa diselesaikan
tak lebih dari tiga hari.
Betul juga. Karena cerita Mayor Phe kepada Deglok, dalam
sekejab sudah tersiar berita bahwa Mayor Phe adalah simpatisan

Poh An Tui. Bahwa ia keluar uang banyak untuk itu. Diam-diam
Deglok juga mengumpulkan fonds (dana). Ia secara diam-diam ingin
membantu Mayor Phe. Agar Mayor Phe punya dana guna membeli
senjata, Deglok juga kemudian mencarikan orang yang bisa
mensuplai senjata. Bahkan Deglok berhasil membawa orang yang
bisa menyediakan senjata milik Nica. Jadi bukan seperti Baba Tan
dulu, senjata eks Jepang. Deglok bisa me-lever senjata Nica.
Pembelinya jugatidak seperti yang terjadi dulu. Sekarang senjata
dihitung satu-satu. Senjata berat sendiri, pistol sendiri dan pelurunya
dihargai sendiri. Masing-masing senjata boleh dicoba dulu. Deglok
memastikan bahwa ia sudah mencobanya satu-satu. Jadi Mayor Phe
tidak perlu berprasangka lagi.
Sementara itu alamat Baba Tan sudah didapat oleh Deglok.
Sangat kejam operasi yang dijalankan. Mula-mula Deglok menculik
seorang pembantu Baba Tan yang berumah di jalan Dapuan. Jongos
itu kemudian dihajar hingga tak sadarkan diri dan di celananya
diletakkan surat ancaman. Isinya agar Baba Tan segera
mengembalikan uang hasil tipuannya. Cuma tidak dijelaskan tipuan
dalam bentuk apa. Baba Tan dengan matanya yang sipit, mendekat
juling, takutnya bukan kepalang. Ia segera teringat akan kelakuannya
menipu Mayor Phe. Mestinya ia tak berbuat demikian. Tapi apa mau
dikata, nasi sudah menjadi bubur.

151
Hari ketiga sesuai dengan janji Deglok pada Mayor Phe ia
berhasil membawa anak Baba Tan, seorang gadis cantik usia kurang
lebih enam belas tahun. Wajahnya bulat telur. Dadanya belum
membukit. Masih “trepes”. Tapi tanda-tanda bahwa nanti tubuhnya
akan montok sudah ada, seperti pipinya yang montok. Kulitnya yang
kuning.
“Untuk apa kau bawa perempuan ini," tanya Mayor Phe.
“Mayor boleh menyandera perempuan ini sampai bapaknya
mau mengembalikan uang Mayor," jawab Deglok. Rupanya soal
culik-menculik sudah biasa baginya.
“Mayor pun boleh berbuat sesuka hati...”
Mayor Phe menahan amarah dalam hatinya. Ia memandang
hal itu tidak pantas. Sebagai seorang Mayor, ia memang masih punya
sisa wibawa. Silat shantungnya cukup tinggi dan mahir. Jadi ia tak
takut dengan kepala buaya Kapasan ini.
“Kau bawa pulang perempuan itu," ujarnya dengan menahan
amarahnya.
“Tapi Mayor...”
“Tidak ada tapi. Yang kita tidak senangi adalah sikap tidak
terpuji dari Baba Tan. Karenanya kita tidak boleh berbuat yang sama.
Sama-sama rendahnya. Berdagang tidak wajar adalah satu sikap yang
tidak terpuji. Menculik anak perawan orang juga bukan satu sikap
yang terpuji. Aku cuma ingin tanya, apa salah anak perawan ini
terhadap kita..?”
“Ini cuma sekedar taktik, Mayor...”
“Itu taktik yang kotor. Kalau kau tak mau berhadapan
langsung dengan Baba Tan, kita berhenti sampai di sini saja.”
Deglok memandang Mayor Phe. Mayor itupun memandang
Deglok tajam. Dalam hal ini Mayor Phe memang tak mau kompromi.
Ia semula hanya ingin Deglok membereskan persoalannya, bukan
menambah pelik masalah ini. Baba telah menerima uang dan

152
sebelumnya sudah menyanggupi untuk melever barang-barang yang
dikehendaki”
“Baik Mayor. Saya akan mendatangi Baba Tan sendiri. Saya
titip saja anaknya di sini”
“Tidak! Kau bawa pulang anak perawan Baba Tan sekarang
juga”
“Baik Mayor”
Deglog tak berani berbantah dengan Mayor Phe. Rasanya
ada sesuatu pada pandangan mata Mayor yang sudah “pensiun,"
tapi yang masih punya wibawa besar.

***

153
31

Rumah Baba Tan di Dapuan memang besar. Lebih besar dari
rumah Mayor Phe. Harta kekayaan yang baru setahun yang lalu
diperoleh membuat ia jadi kaya raya. Lima rumah berjejeran dan
lima rumah di belakangnya semua dibeli dengan harga yang mahal.
Rumah rakyat yang semula sebagian dindingnya terbuat dari bekas
papan peti dirobohkan dan dibangun sebuah bangunan yang baru.
Semua orang menjdi kaget, mengapa dalam situasi perang yang
masih belum ada ketentuan ini Baba Tan berani membangun. Setelah
rumah itu selama enam bulan pembangunan selesai, Baba Tan
menyewa cinteng orang Madura, tiga orang sekaligus. Bergilir
sampai rumah itu dijaga penuh selama 24 jam.
Hari-hari pertama, Baba Tan masih bisa merasakan
kegembiraannya. Tapi setelah beberapa saat kemudian, ia mulai
menyesal. Ia mempunyai keyakinan bahwa cepat atau lambat, pasti
muncul balasan dari Mayor Phe atau Oen Tjhing Tiauw. Keresahan
karenanya mulai menghinggapi dirinya. Apalagi setelah ada korban
karyawannya, lantas anaknya diculik. Ia kini mulai menyesal. Tapi
nasi rupanya sudah menjadi bubur. Tiba-tiba saja anaknya Giok Hwa
yang baru berusia enam belas tahun diculik. Ia mendapat surat
ancaman. Ia sudah tahu siapa yang menculiknya, meskipun pasti
tidak dengan tangan sendiri. Ia tak berani menunjukkan surat itu
kepada polisi, karena nanti bisa terbongkar semua urusannya. Akan
terbongkar sifatnya yang menipu orang dalam berdagang. Tapi dasar
orang bermental busuk. Dengan diculik anak perawannya, ia bukan
bertobat dengan mendatangi Mayor Phe atau Baba Oen, melainkan
ia ingin mempunyai rencana lain. Ia ingin membunuh Mayor Phe.
Rasanya sekarang ini seperti ada perlombaan. Siapa yang
mengerjai siapa. Baba Tan yang mengerjai Mayor Phe atau Baba
Tan yang dikerjai Deglok, orang suruhan Mayor Phe. Rumitnya

154
kehidupan dunia justru di sini. Orang sering beranggapan sudah
kepalang basah. Jadi biar basah kuyup sekali. Orang yang tadinya
bukan berjiwa pembunuh hanya ingin dagang saja, sekarang
mempunyai niatan untuk membunuh, padahal ia sendiri yang
membuat keributan itu. Andai ia, Baba Tan, sejak semula berdagang
baik-baik, dalam arti kata tidak bilang peti isi batu sebagai peti isi
senjata, maka urusan sudah akan selesai. Apalagi, jika iasanggup
memenuhi pesanan senjata itu, ia sudah untung. Mestinya ia tak
perlu bersikap tidak wajar. Tapi dasar manusia. Maunya untung yang
lebih besar dan lebih besar. Orang dagang tampaknya cenderung
menjadi temaha. Dan kebanyakan orang men-cap orang Tionghoa
agak rakus dalam berdagang dan bahkan licin serta kadang licik.
Menipu lawan dagang sudah dianggap wajar.
Deglok ternyata muncul terlebih dahulu di rumah Baba Tan,
ketimbang Baba Tan yang baru mempunyai rencana untuk
membunuh Mayor Phe. Menghadapi Deglok, Baba Tan tidak takut.
Ia sudah kenal lama dengan Deglok dari jauh, meskipun sebelumnya
mereka tidak berkenalan.
“Saya tahu Baba utusan dari Mayor Phe," begitu Baba Tan
membuka dialog setelah menyuruh Deglok duduk.
“Kalau demikian, saya tidak perlu berbasa basi kepada Baba
Tan," jawab Deglok angkuh.
“Sabar," ujar Baba Tan ketika melihat tamunya mulai emosi,
lalu ulangnya: “Sabar, saya mempunyai tugas untuk Baba. Berapa
Mayor Phe membayar, saya akan melipatgandakan lima kali....”
“Apa yang Baba Tan kehendaki untuk saya lakukan”
“Bunuh Mayor Phe”.
Deglok tertawa terbahak. Ia memandang tajam wajah tuan
rumah yang licik ini.
“Anak perawan Baba ada di tangan saya”
“Saya tahu”

155
“Baba tidak takut terjadi apa-apa”
“Hidup manusia ada di tangan Tuhan”
“Baba sepertinya orang baik-baik saja, yang taat pada Tuhan
Allah”
Urusan percaya kepada Tuhan Allah tidak ada kaitannya
dengan urusan dagang. Kita harus pandai-pandai memisahkannya...
“Baba tahu untuk apa Mayor Phe membeli senjata itu?”
“Tahu, karena itu saya tipu”
“Apa yang Baba ketahui?”
“Ia hendak membantu para pejuang yang membunuh orang-
orang kita”
“Baba salah informasi kalau demikian," kata Deglok tegas.
“Salah informasi?" ulang Baba Tan.
“Ya, senjata itu justru untuk melindungi orang-orang
Tionghoa. Orang-orang kita sendiri yang ada di Jakarta, yang
tergabung dalam Poh An Tui”
“Itu tidak benar”
“Itu yang benar. Saya dengar sendiri dari Mayor Phe.
Karenanya ia marah besar kepada Baba Tan. Tapi saya punya usul,
kembalikan uangnya atau beri ia senjata sesuai dengan perjanjian
dahulu”
“Kau gila. Siapapun tahu kalau kita tak mungkin
mendapatkan senjata sampai puluhan peti. Senjata paling-paling bisa
kita dapat satu dua. Itu pun tidak setiap hari”
“Saya tidak perduli akan hal ini. Baba telah menerima uang
dan sebelumnya sudah menyanggupi untuk melever barang-barang
yang dikehendaki”.
“Saya tahu. Tapi karena ia membantu pemberontak, saya
tidak rela senjata itu ada di tangannya”.
“Mengapa Baba mau menerima uang pembayarannya...”
Baba Tan diam. Dia duduk termenung. Tampaknya ia sedang
memikirkan sesuatu.

156
“Aku ingin menugasi kau membunuh dia," katanya tiba-tiba.
“Saya datang bukan untuk menerima tugas dari Baba. Saya
tak ingin mempergunakan kekerasan.”
Lantas Deglok mengeluarkan dua buah badik dari balik
pinggang kirinya. Kemudian diletakkan di atas meja.
“Jangan suka bermain dengan senjata.” Baba Tan masih
kalem.
“Memang berbahaya," jawab Deglok, “Apalagi kalau badik
ini menembus dada Baba”
“Apa yang kau mauinya?”
“Saya inginkan uang Mayor kembali.”
“Lantas bagaimana dengan anak saya?”
“Ia akan saya kembalikan begitu Baba membayar.”
Deglok memotong sendiri omongnya. Ia merasa ada sesuatu
yang tidak beres. Perasaannya sebagai seorang jagoan merasa bahwa
ada musuh. Dan ternyata memang betul. Di pintu luar berdiri tiga
orang yang berwajah seram. Tiga jagoan dengan golok di pinggang,
siap menantangnya.
“Jadi Baba tidak ingin masalah ini diselesaikan secara baik-
baik," katanya kalem kepada Baba Tan. Jagoan buaya Kapasan
kelebihannya memang di sini. Mereka bisa bersikap lunak dalam
omongan, tapi sadis dalam perbuatan dan kejam dalam menghadapi
musuh.
“Sepertinya saya yang tanya pada Baba, apakah Baba mau
menurut omongan saya atau tidak”, ujar Baba Tan tak kalah
kalemnya. Terdengar tertawa dari ketiga jagoan yang berdiri, di
depan pintu keluar. Baba Tan sendiri sudah siap menjaga langkah
agar tidak terjebak oleh Deglok. Deglok memang mati kutu. Rasanya
ia memang harus melawan ketiga jagoan orang Madura itu. Ketiga
orang Madura itu rupanya juga tahu siapa yang harus dihadapi kali
ini. Nama Deglok sudah terkenal di kalangan cinteng di Surabaya.

157
32

“Jadi Baba ingin masalah ini diselesaikan secara kekerasan?"
ulang Deglok lagi. Tapi Baba Tan tidak memberikan jawaban. Ia
hanya memandang ketiga jagoan itu dan menganggukkan kepala.
Anggukan itu tanda bahwa ketiga jagoannya boleh memulai
menyergap lawannya. Ketiganya maju setindak demi setindak.
Deglok juga mulai berdiri. Dari punggungnya ia mengeluarkan dua
senjata semacam badik, dua buah. Sekarang kedua tangannya
memegang badik. Orang-orang Madura itu juga sudah menghunus
parang mereka.
“Kalian boleh maju satu-satu atau keroyokan," tanya Deglok.
Wajahnya berubah seram. Sekilas orang yang melihat takkan
percaya bahwa ia seorang yang deglok alias pincang. Salah satu orang
Madura yang berdiri di tengah mulai menyerang dengan garangnya.
Serangan itu dielakkan dengan mudah oleh Deglok yang kemudian
menyerang kembali dengan bergulung di lantai dan badik itu dengan
kecepatan kilat berhasil menusuk perut lawan dan usus lawan itu
kemudian berceceran keluar. Baba Tan jadi ngeri.
“Ini Cuma contoh," ujar Deglok seraya membersihkan
badiknya dari noda darah dengan kain bajunya. Kalem saja ia berbuat.
Sedang orang Madura itu merintih sejenak kemudian ia jatuh
terduduk, kemudian lagi ia terguling menghembuskan nafasnya.
Kejadian yang cepat ini membuat nyali yang dua menjadi ciut.
“Anggap saja semuanya tadi tak ada. Apakah Baba tetap
ingin menyelesaikan dengan kekerasan?" tanya Deglok.
Baba Tan senyum. Ia menghampiri Deglok dan menyuruhnya
duduk kembali.
“Mayor jahanam itu harus dibunuh. Ini bukan karena aku
cuma ingin untung. Kita tak boleh membela kaum pemberontak.

158
Mereka yang menganiaya bangsa kita. Mereka yang memperkosa
gadis-gadis kita”.
Deglok diam. Tapi sebenarnya dalam hati ia merasa malu.
Apa yang diutarakan oleh Baba Tan ini sedikitnya memukul dirinya
sendiri. Bukankah tadi iamenawarkan anak perawan Baba Tan
kepada Mayor Phe? Maksudnya juga agar perawan yang masih muda
itu direnggut keperawanannya. Bukankah tindakannya itu sama
dengan kaum pemberontak yang dituduh sebagai penganiaya dan
pemerkosa gadis-gadis Tionghoa. Bukankah perbuatannya dengan
menculik anak perawan Baba Tan itu sama dengan perbuatan kaum
pemberontak.
Deglok yang biasanya tak pernah berpikir panjang jadi
bingung. Mayor Phe bilang, senjata itu untuk menolong orang-orang
sebangsa di Jakarta yang tergabung dalam Poh An Tui. Lalu Baba
bilang, senjata-senjata itu untuk membantu kaum pemberontak dan
karena itu Baba Tan telah menipu Mayor Phe karena ia tak rela kaum
pemberontak diberi senjata untuk membunuhi kaum Tionghoa.
Lama Deglok terbenam dalam lamunannya. Tapi kemudian
ia memutuskan, orang yang seperti dia ini, yang dimiliki adalah harga
diri, meskipun harga dirinya menurut sementara orang berlumuran
darah. Orang yang “memakainya” pertama adalah Mayor Phe. Ia
harus setia pada majikan itu. Orang seperti dia selamanya harus punya

satu majikan. Yang punya dua majikan berarti pengkhianat.
“Asal Baba sadar saja. Saya tak ingin melakukan penagihan
dengan kekerasan. Kita sama-sama “tenglang” (orang Tionghoa).
Buat apa kita saling bertengkat. Baba orang yang kaya. Mayor Phe
orang yang terpandang. Kalau bisa keduanya bersahabat dan bukan
bertengkar. Laginya Baba yang salah. Apapun pendirian Baba
terhadap senjata yang dibeli, tapi Mayor Phe adalah pembeli dan
Baba adalah penjual.

159
Di sini ada bisnis yang murni. Baba tidak bisa bilang bahwa
tujuan Mayor Phe adalah buruk karena membantu para pejuang yang
Baba sebut sebagai pemberontak. Pendapat Baba itu cuma
berdasarkan rabaan. Sekarang saya cuma ingin bertanya: Baba mau
melakukan hubungan dagang yang baik atau tidak.”
Baba Tan diam tak segera menjawab. Sulit baginya untuk
menjawab. Ia sudah terlanjur berbohong kepada Deglok, bahwa
langkah busuknya itu diakibatkan karena ia tak setuju dengan
langkah-langkah yang diambil oleh Mayor Phe.
“Kalau saya tidak mau mengembalikan uang kelebihannya,"
tanyanya kemudian dengan nada yang bodoh. Sikap ini merupakan
tantangan bagi Deglok. Tapi aneh, Deglok tetap bersabar.
“Kalau Baba berkeras hati ingin memiliki kelebihan uang
itu, Baba tidak akan bisa menikmati. Atau Baba melangkahi mayat
saya terlebih dahulu," jawab Deglok pasti. Lantas sekali lagi ia
mengeluarkan dua badiknya yang dikuasai penuh cara
penggunaannya.
Ternyata ketika Baba Tan omong-omong dengan Deglok,
kedua cinteng Madura itu yang menggotong kawannya yang roboh
ke luar, kemudian melapor kepada polisi di dekat daerah itu. Tak
lama lima orang polisi datang. Deglok segera memasuki halaman.
“Kurang ajar. Baba telah curang! Baba harus membayar
mahal kecurangan Baba," katanya. Secepat kilat ia melemparkan
badiknya. Badik yang ada di tangan kiri menancap amblas sampai
ke gagangnya di perut Baba Tan. Yang sebuah lagi persis di sebelah
dada kiri Baba Tan yang kemudian jatuh tersungkur jatuh...
Polisi yang datang kemudian dengan mudah menangkap
Deglok. Deglok memang menyerah, karena menurut pendapatnya,
ia takkan menyangkut-pautkan Mayor Phe. Ingin bertanggung jawab
sendiri atas semua perbuatannya meskipun semuanya ini terjadi
karena urusan Mayor Phe...
****

160
33

Peristiwa pembunuhan Baba Tan segera menjadi ramai.
Bukan cuma pers Melayu di Surabaya saja yang memuat berita
kematiannya akibat dibunuh Buaya Kapasan. Pers Melayu Tionghoa
yang terbit di Semarang dan Jakarta ikut serta memuatnya. Lucunya,
semua penerbitan pers memberitakan hal-hal yang baik. Diceritakan
secara dramatis tentang peristiwa itu dan pembaca tampaknya
percaya isi surat kabar tadi. Karena misteri yang terkandung di
dalamnya memang tidak pernah terbongkar. Terlebih lagi, ketika
sehari kemudian orang menemukan anak perawan Baba Tan di rumah
Deglok, ketika rumah itu didatangi polisi. Polisi semula mengira
bahwa Deglok telah merampok harta benda Baba Tan. Nama buaya-
buaya Kapasan jadi hancur lebur di mata masyarakat gara-gara kasus
Deglok ini. Semula masih banyak orang yang tak percaya bahwa
Deglok bisa berbuat demikian. Deglok tidak pernah membunuh
orang secara terang-terangan. Tapi kemudian juga situasi berkembang
lain. Apalah arti Deglok, seorang buaya Kapasan.
Sedangkan Baba Tan adalah seorang yang kaya. Orang tak
perlu tahu dari mana Baba Tan mendapatkan hartanya sehingga ia
bisa membeli rumah sederetan di kanan kirinya dan di belakang
rumahnya, dan mampu membangun rumahnya seperti istana...
Deglok jadi pembicaraan sehari-hari. Setiap hari orang tua
memperbincangkannya setiap berhadapan dengan anaknya yang
nakal:
“Kamu tidak mau menurut orang tua, ya. Mau sok jagoan
seperti Deglok. Lihat, kalau sudah diborgol polisi, baru tahu rasa
kau...”
Tapi dasar anak, mereka lebih suka pada Deglok daripada
Baba Tan. Mereka tak perduli bagaimana duduk perkaranya. Sebab
anak-anak ini, entah darimana datangnya sumber berita, mereka tahu

161
kalau Deglok berhasil menguasai cinteng orang Madura ketika ia
mau dikeroyok tiga. Anak-anak mengagumi Deglok dan diam-diam
anak-anak muda makin banyak yang belajar kuntauw untuk bela
diri, ingin seperti Deglok yang jagoan....

****

Berita kematian Baba Tan cepat juga sampai ke telinga Mayor
Phe sebelum sampai ke tangan pers. Ada kerisauan dalam hati Mayor
itu, bahwa ia akan “kerembet” dengan kematian Baba Tan. Malam
itu juga ia mengirim beberapa kurir, terdiri dari sahabat-sahabat
terpercayanya untuk datang ke kantor polisi menyelidik mengenai
tertangkapnya Deglok. Ternyata sampai malam itu Deglok belum
diperiksa. Masih ditahan saja. Soalnya, menurut beberapa polisi yang
dikenal para kurir, kesalahan Deglok sudah tidak bisa disangkal lagi.
Sudah jelas. Berita acara perkara baru akan dibuat besok pagi.
Tengah malam para kurir melapor pada Mayor Phe. Kesan
yang diperoleh Mayor yang secara tiba-tiba tampak murung itu cukup
melegakan. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan terlibat. Dalam hati
ia memang ikut bersalah. Semuanya ini gara-gara dia. Dia yang ingin
menolong para pejuang, kemudian ditipu orang dan orang yang
menipu itu sekarang mati dan orang suruhannya ditangkap polisi
karena membunuh. Tapi hati kecilnya masih membantah. Bukankah
ia sudah berpesan pada Deglok agar masalah ini diselesaikan saja
secara baik-baik. Tak perlu ada darah mengalir. Tak perlu ada
pembunuhan. Bahkan bukankah ia marah kepada Deglok, ketika
buaya Kapasan yang terkenal itu menculik anak Baba Tan? Bukankah
ia yang menyuruh anak gadis itu dikembalikan kepada orang tuanya?
Lama ia merenung. Mencoba mencari jawaban, apakah
langkah-langkahnya sekarang ini merupakan langkah-langkah yang
salah. Apakah menolong para pejuang merupakan langkah salah,

162
dan apakah semuanya ini merupakan tanda bahwa tindakannya tidak
mendapat restu dari Tuhan? Kalau mendapat restu, mengapa
semuanya tidak berjalan dengan mulus? Mengapa begitu banyak
aral yang melintang? Mengapa pula orang-orang sebangsanya
sekarang sudah tidak mempercayainya lagi? Mengapa pula Baba
Oen, sahabatnya secara tidak langsung ikut menyalahkan
keputusannya yang mau membantu perjuangan para pejuang yang
ada di Jawa Timur, meskipun ia tak tahu di mana markas pejuang-
pejuang itu.
Jam tiga Mayor Phe baru masuk ke kamar. Dilihatnya istrinya
sudah tidur nyenyak. Ketika ia menaiki ranjang, istrinya terjaga dan
bertanya:
“Ngko belum tidur?”
Mayor Phe tidak segera menjawab: ia mengelus rambut
istrinya dengan sayang. Ada rasa salah dalam hatinya. Dalam waktu
singkat ia sudah menghamburkan uang keluarga karena ditipu orang.
Akhirnya perlahan sekali ia bertanya setelah yakin bahwa istrinya
sudah tidak tidur lagi:
“Masih ada uang simpanan kita?”
Nyonya Phe membalik dan memandang suaminya yang
memandang langit-langit kamar, melamun.
“Apakah engko ada persoalan?”
“Tidak”
“Mengapa engkau tanya tentang keuangan kita?”
“Aku cuma jaga-jaga saja, barangkali anak kita masih
memerlukan senjata lagi. Kita harus membantu mereka”
“Uang kontan memang tinggal sedikit. Tapi rumah-rumah
kita yang ada di Simolawang bisa kita jual.”
“Sementara ini kita jangan jual barang-barang kita. Lebih
baik kita menyimpan barang daripada uang”.

163
“Mestinya memang begitu. Tapi kalau uang kita perlukan
untuk membeli senjata dan kita kebetulan tidak punya uang kontan,
maka jalan tak ada selain menjual barang”
Mayor Phe sebenarnya ingin melanjutkan pertanyaannya,
apakah istrinya masih punya simpanan mas dan berlian. Tapi
pertanyaan itu tak sempat diutarakan. Ia tak tega jika mas berlian,
hadiah perkawinan mereka dahulu dari orang-orang tua mereka dijual
selama barang lain masih ada. Istrinya juga sudah pernah tertipu
oleh Giyo.
“Mungkinkah kita terpaksa akan menjual rumah kita satu
atau dua buah...," ujarnya datar, tanpa emosi. Istrinya merasakan
emosinya. Perempuan yang bijaksana ini segera memeluk suaminya.
Ia merasa bahwa hari-hari belakangan ini suaminya tampak murung.
Ia tahu bahwa suaminya mengalami kesulitan dalam persoalan
keuangan. Meskipun tak tahu karena apa ia segera berkata:
“Kita jual semua barang kita, asal kita masih saling memiliki
rasa cinta, saya akan tetap bahagia. Engko boleh menjual yang mana
saja. Keluarha kita yang menempati kita nanti kasih ganti rugi untuk
mendapat rumah lain yang lebih kecil...
Mayor Phe sangat terharu dengan kebijaksanaan istrinya. Ia
sungguh merasa bahagia mempunyai istri yang bijaksana ini.

****

164
34

Pejuang kalau punya senjata memang bisa macam-macam.
Meskipun selama ini ada instruksi untuk tidak boleh membuka front
secara terbuka, satu dua ada yang menyelusup jauh dari pertahanan
gerilya, kemudian menembaki Belanda yang sedang patroli. Memang
tidak sampai ada “clash” fisik yang membahayakan kaum pejuang.
Tapi perbuatan itu membuat Belanda tambah ketat menjalankan
patrolinya. Kini dengan jumlah yang makin besar dan makin
membabi buta. Banyak penduduk yang ditangkapi dan disiksa karena
tidak mau menunjukkan di mana pusat persembunyian kaum
pejuang. Penduduk dalam hal ini memang sangat mencintai para
pejuang. Tampaknya meskipun mereka sebenarnya tidak tahu apa-
apa tentang perjuangan, tapi mereka sangat menghargai para pejuang.
Lewat para pejuang, juga mereka tahu bahwa Indonesia
sekarang sudah merdeka dan kehadiran Belanda di daerah ini adalah
dalam rangka ingin merebut kembali daerah yang dahulu bekas
jajahan mereka.
Hendro, salah satu pejuang termasuk di antara sekian banyak
pejuang yang “nakal” yang diam-diam suka menghadang patroli
Belanda. Satu hari ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Lewat
Letnan Sutedjo ia mengutarakan isi hatinya:
“Kita tidak bisa terus begini, pak”
“Apa maksudmu”
“Belanda harus kita lawan. Kita sekarang sudah punya
senjata”
“Kau kira persenjataan kita ini cukup”
Hendro diam. Ia memang mengerti bahwa persediaan
persenjataan terbatas. Namun ia tak mau kalah:
“Kau kira itu mudah”

165
“Kalau kita tidak menyerang Belanda, lantas buat apa kita
bertahan di sini. Apa ini yang namanya perang”
“Kita tidak cuma berperang melawan Belanda. Kita juga
berdiplomasi terhadap Belanda. Bukan waktunya lagi, segala
persoalan dihadapi dengan senjata. Kita harus bisa memberikan
waktu yang cukup bagi para pemimpin kita di Pusat untuk berunding.
Mereka yang lebih tahu tentang seluk beluk diplomasi...”
“Persetan dengan diplomasi”
“Memang. Persetan dengan diplomasi karena kita dari
angkatan perang. Tapi tugas angkatan perang bukanlah untuk
mengacau strategi pemerintah pusat, tetapi justru untuk
mengamankannya...”
Hendro memang bandel. Sikap yang sedemikian ini yang
sebenarnya tidak disuka oleh Latifah. Ia tak bisa diajak kompromi.
Sikapnya lebih banyak menunjukkan sikap yang emosional.
Temperamennya agak keras. Awalnya ia menghadapi Hian Biauw
dengan sikap permusuhan. Tapi kemudian setelah tahu, bahwa bukan
Hian Biauw yang mendekati Latifah, tetapi Latifah yang sering
mendekati Hian Biauw yang suka merenung sendiri, ia masa bodoh.
Mungkin juga karena sifatnya ini, ia juga termasuk pejuang-pejuang
muda yang dihargai sahabat-sahabat dan komandannya. Ia masih
orang yang jujur meskipun hatinya keras. Mungkin hanya ini saja.
Sifatnya yang keras tidak cocok dengan situasi perjuangan yang
bercampur baur antara angkat senjata dan diplomasi. Namun apa
mau dikata, dalam dunia yang seperti sekarang ini, orang memang
benar-benar muak terhadap segala sesuatu yang keras.orang sekarang
sedang gandrung pada apa yang disebut sebagai demokrasi. Dari
rakyat untuk rakyat.
Tampaknya mode baru ini, meskipun usianya sudah cukup
tua, mulai disenangi oleh orang-orang yang ada di tingkat Pusat.
Sedikit mereka berbicara tentang demokrasi.

166
Lagi-lagi Hendro diam. Tapi dalam diamnya ia menyusun
satu strategi baru. Ia akan mengajak Hian Biauw untuk bergabung
dengan kelompoknya. Karena menganggap tak mungkin ada restu
dari komandan untuk menyerbu Belanda secara terang-terangan ia
harus berbuat sesuatu. Terutama sekali karena ia mendengar bahwa
diplomasi hampir berhasil. Perang akan usai. Kita harus
menunjukkan satu sikap, katanya dalam hati. Anak cucu kita harus
yakin bahwa kita benar-benar bertempur dan bukan cuma jadi
penjaga rakyat tidur. Bukan cuma berpangku tangan membiarkan
tank dan panser Belanda hilir mudik dengan gagahnya. Dalam satu
kesempatan ia sengaja menjumpai Hian Biauw yang duduk seorang
diri di bawah pohon pepaya.
“Lesu," tanyanya.
“Apanya yang tidak lesu. Kita begini tegas. Senjata ini mau
diapakan. Dibersihkan terus juga tidak akan jadi mas," jawab Hian
Biauw kesal. Hendro senang dengan jawaban itu. Menandakan
bahwa Hian Biauw juga kesal karena menunggu.
“Kita mestinya bisa bertindak sendiri," coba Hendro
menggelitik hati Hian Biauw.
“Dengan cara apa”
“Dengan cara jalan kita menyerbu Belanda”
“Kau gila”
“Tidak. Itu sudah kupikirkan semuanya”.
Lantas Hendro duduk di sebelah Hian Biauw. Dengan sebuah
ranting ia menceritakan apa yang sedang dipikirkan. Ia ingin
menyergap Belanda waktu Belanda ada di tanjakan Candi Jawi.
“Kau akan ditembak komandan kalau berani melakukan itu”
“Kita tidak akan kembali ke induk pasukan. Kita pergi ke
daerah yang lain. Kata teman-teman, Djarot sekarang ada di
Bojonegoro dan siap menerima anggota pasukan dari mana saja.

167
Informasi yang kuterima, Djarot akan kembali memasuki kota
Surabaya...”
“Bojonegoro? Nama kota ini menarik hati Hian Biauw.
Karena di kota itu kata orang Effendi bergabung dengan pasukan
Djarot. Tapi melakukan tindakan melawan perintah komandan adalah
satu sikap yang salah. Bisa-bisa komandan akan mendapat hukuman
dari Pusat. Padahal ia merasa bahwa Mayor Mangku adalah seorang
komandan yang bijaksana.
“Soalnya bukan cuma itu," jawab Hian Biauw malas.
“Apanya lagi? Kita menyakiti hati komandan”
“Tapi komandan kita terlalu melempem”
“Kau kira kita-kita saja yang jagoan?”
Hendro diam. Hendro memang seringkali bersikap diam
kalau ia merasa omongan orang lain benar dan ia belum bisa segera
menjawabnya.
“Kita mesti memaklumi bahwa perang yang kita kehendaki
sebenarnya memang bukan perang yang seperti ini. Perang seperti
ini adalah kemauan dari Pusat," ujar Hian Biauw kemudian. Apa
yang diutarakan oleh Hendro ini adalah satu sikap yang bukan berdiri
sendiri. Bukan hanya sikap Hendro seorang, tapi sikap kebanyakan
pejuang yang tergabung. Gambaran dari siatuasi para pejuang yang
ada dimana-mana. Mereka resah kalau tidak punya senjata, sampai
berani merebut senjata dari teman-teman sendiri. Tapi kalau punya
senjata seperti sekarang ini, mereka tetap harus berdiam diri. Sepintas
memang bisa kelihatan seperti satu lelucon.
“Kita harus berbuat apa seandainya kau yang jadi
komandan?" tiba-tiba tanya Hendro.
Pertanyaan yang di luar dugaan.
“Aku tak mungkin jadi komandan. Tak ada orang Tionghoa
yang jadi komandan”
“Perang seperti ini sebenarnya tak perlu ada komandan. Siapa
yang berani bertempur itulah yang ditunjuk sebagai komandan”

168
“Kau gila”
“Tidak”
“Lantas apa maumu yang sebenarnya?" tanya Hian Biauw
menyelidik.
“Kita harus berbuat sesuatu. Harus”
“Mengapa harus?”
“Karena kita tidak bisa berdiam diri begini terus. Kita bisa
gila”
“Apa rencanamu sekarang”
“Kawan-kawan sudah setuju agar kita menyergap patroli
Belanda di candi Jawi”
“Siapa yang ikut”
Hendro memandang Hian Biauw. Kemudian ia menyebut
beberapa nama. Semuanya dikenal sebagai anggota pejuang yang
bertemperamen keras dan berani.
“Mereka semua sudah setuju”
“Ya”
“Lantas mengapa kau bicarakan semuanya padaku”
“Kami ingin kau bergabung. Kehadiranmu akan mempunyai
banyak arti bagi kawan-kawan. Kau pernah menyerbu Belanda di
daerah Praban, Surabaya”
“Itu persoalan dulu. Dulu itu kita memang bertempur
melawan Nica. Sekarang persoalannya lain”
“Memang lain, tapi dalam setiap pertempuran, di mana
nyawa menghadang maut, kita memerlukan idola. Kan sangat
dihargai teman-teman karena sikapmu yang begitu berani di
Surabaya”
“Itu cuma kebetulan. Kan juga bisa berbuat demikian”
“Memang betul. Tapi saya belum pernah mengalami
pertempuran yang besar.”
“Dari mana kau berasal?”

169
“Dari Jombang”
“Anda kenal dokter Tan Kian Bo, kepala rumah sakit”
“Tahu, masih famili?”
“Tidak”
Pembicaraan itu terhenti karena Latifah tiba-tiba muncul
membawa sepiring ubi rebus. Tak ada yang bicara. Latifah membawa
sepiring ubi rebus itu karena tadi ia melihat Hian Biauw sendirian.

170
35

“Cobalah kau pikir baik-baik," kata Hendro kemudian seraya
berdiri. Ia kemudian meninggalkan dua orang ini sendirian lagi. Tak
enak rasanya kalau ia dianggap sebagai pengganggu.
“Mengapa ia datang berbicara," tanya Latifah.
“Apa tidak boleh?”
“Boleh saja. Cuma kok aneh rasanya”
“Aku yang biasanya segan berbicara dengan teman-teman”
“Kau memang sering merenung sendirian”
“ya”
“Apa?”
“Ya, aku memang suka merenung sendirian”
“Ya”
“Apa?”
“Ya, aku memang suka merenung," lantas Hian Biauw
memandang tajam wajah gadis yang duduk di mukanya. Alangkah
sederhananya gadis ini.
“Kau tahu kalau perang hampir usai?”
“Kau tahu darimana?" tanya Latifah heran. Seperti dulu-dulu,
ia rasanya ingin perang ini berkepanjangan. Hidup sebagai pejuang
seperti ini ia merasakan kebahagiaan tersendiri. Beda dengan yang
laki-laki, ia bisa lebih akrab dengan penduduk setempat. Ia sering
bersama mereka. Sering nginap di rumah mereka.
“Perang memang akhirnya pasti akan selesai. Aku dengar
dari orang-orang yang datang dari kota. Mereka mendengar bahwa
perundingan makin maju. Itu berarti bahwa suasana damai pasti akan
segera tercipta....”
“Lantas apa hubungannya dengan sifatmu yang suka
melamun”
“Aku berpikir panjang tentang masa damai kelak. Aku akan
kembali ke duniaku yang lama. Belajar dan menghidupi kehidupan

171
yang enak. Aku sebenarnya tak menyukai kehidupan yang seperti
itu”
“Lantas apa yang kau inginkan”
“Seperti yang pernah kukatakan padamu. Aku ingin berada
di sini terus. Aku ingin menjadi guru di sini. Tapi apa mungkin aku
diterima oleh penduduk di sini”
Latifah merasa terharu. Pemuda ini tidak seperti pemuda-
pemuda yang lain. Pemuda ini berpikir jauh ke depan. Berpikir kalau
perang telah usai, tentang apa yang akan diperbuatnya. Mungkin
juga ini kelebihan kelompok-kelompok Tionghoa. Mereka selalu
berpikir bukan untuk masa sekarang, tapi masa depan yang akan
dijalani. Dengan demikian tampaknya mereka punya segala rencana
dalam hidup ini. Segala sesuatu dipertimbangkan masak-masak
sebelum mengambil keputusan.
Tidak gegabah. Sedangkan dirinya saja, yang muncul dari
lingkungan yang terdidik, karena orang tuanya seorang dokter, tidak
mempunyai rencana untuk masa depannya. Hidupnya seolah, hari
ini adalah untuk hari ini. Jika Belanda menyerbu misalnya dan para
pejuang terperangkap maka ia cuma akan berkata ini nasib. Tidak
ada niatan untuk mengubah atau berusaha memikirkan yang lain.
Hari ini adalah untuk hari ini. Akhirnya Latifah cuma bisa berkata:
“Diterima atau tidaknya seorang bukan karena warna kulit.
Tapi karena sikapnya sendiri. Kau pasti mampu mengatasi segala
aral yang melintang. Aku tahu juga. Itu tidak mudah bagimu”.
“Mengapa kau tahu”
“Karena matamu sipit. Biar kulitmu sekarang jadi hitam sawo
matang, tapi kau tetap bermata sipit. Orang akan selalu tahu kalau
kau bukan dari kalangan mereka sendiri. Kau orang Tionghoa”
Omongan Latifah, meskipun benar adanya, sangat
menyakitkan di hati Hian Biauw. Apakah menjadi orang Tionghoa
adalah satu kesalahan, seperti pernah ada seorang tokoh perjuangan,

172
yang pernah menulis andai kata ia seoran Belanda. Tokoh itu yang
dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara memang unik pada zaman
ia menulis karangannya dalam bahasa Belanda itu. Karena saat itu
Belanda merayakan pembebasan negaranya dari jajahan Spanyol.
Berkata penulisnya, yang diingatnya lewat buku sejarah, aku takkan
merayakan hari pembebasan negaraku di negara jajahan. Sebab
dengan perayaan itu sebenarnya Belanda juga tidak senang dengan
penjajahan, padahal ia menjajah negeri yang dikenal dengan nama
Hindia Belanda. Sangat indah tulisan itu. Sekarang juga terasakan
baginya meskipun persoalannya lain. Andai ia seorang Jawa seperti
Latifah, ia mungkin bisa berbuat banyak untuk kepentingan tanah
air yang baru diresapinya. Baru menurut perasaannya, karena
perasaan itu timbul setelah ia ikut berjuang, ikut dalam suka duka
mempertahankan kemerdekaan ini. Lantas kalau ia berniat untuk
meneruskan cita-cita kemerdekaan itu dengan mengabdi lebih dalam,
mengapa ia harus dicurigai lagi. Bahwa ia orang Tionghoa dan lain-
lain macam alasan.

173
36

Latifah menyadari juga bahwa apa yang diutarakan barusan
sangat menyinggung perasaan Hian Biauw. Tapi pemuda ini yang
diam-diam ia kagumi, tidak boleh sampai kecewa. Ia yang dengan
tulus hati berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan nantinya
pasti akan kecewa kalau tidak jauh-jauh hari mempersiapkan
kenyataan yang bakal pahit. Betapapun pahitnya, kenyataan itu harus
dihadapinya. Tak bisa dihindarkan. Ia ingin secara perlahan
mempersiapkan sahabatnya menghadapi segala kemungkinan yang
tidak enak. Yang paling phit dalam hidup ini adalah jika orang jadi
kecewa. Bisa macam-macam. Bukti dalam sejarah sudah banyak
terjadi.
Hian Biauw tidak boleh dikecewakan atau menjadi kecewa.
Sebab orang seperti itu mestinya bisa berbuat banyak untuk negara
yang baru merdeka ini. Apalagi pemikirannya tentang dunia
pendidikan. Tak banyak orang yang berpikir ke arah situ. Laginya,
apa yang dicita-citakan oleh sahabatnya itu bisa meruntuhkan mitos
yang selama ini ada. Bahwa orang Tionghoa cuma bisa dagang saja
dan tidak mau mengurusi urusan yang lain. Maunya cari untung
dalam jangka waktu singkat. Dokter saja seperti ayahnya, sering
disalahmengertikan oleh penduduk setempat. Mulanya orang cuma
menduga bahwa dokter kerjanya menyuntik. Orang yang disuntik
bisa mati dan karenanya orang jadi takut berobat ke dokter. Orang
lebih suka ke dukun. Kebodohan-kebodohan seperti ini memang
harus diperangi dengan pendidikan yang merata sampai ke pelosok.
Soekarno sendiri sebelum jadi presiden memang menitiktolakkan
segi ini. Cuma Soekarno hanya bicara soal pendidikan kesadaran
politik. Lain dengan Hatta. Tapi Hatta tidak bisa berbuat banyak.
Hatta tidak melihat langsung ke desa. Di sini pemimpin yang
mendapat pendidikan Barat seperti Hatta dan mereka yang mendapat

174
pendidikan di dalam negeri seperti Soekarno, seperti Bapaknya, yang
lebih tahu tentang keadaan bangsanya. Lantas apakah orang-orang
seperti Hian Biauw, yang muncul dari kalangan lain bisa juga
mengerti tentang bangsanya, bisa mengerti tentang orang-orang di
luar kelompok mereka?
Ia kemudian mengalihkan pembicaraan: “Kau dulu bilang
bahwa kau akan ajak kedua orang tuamu untuk pindah ke desa?”
Hian Biauw tersentak dari lamunannya.
“Ya," jawabnya
“Kalau mereka tidak mau?”
“Mereka pasti mau...," jawabnya.
“Kau begitu yakin...”
“Aku yakin karena aku anak mereka. Tapi lebih dari itu,
hidup di desa ini sungguh nyaman. Tak ada pemandangan yang begitu
indah seperti di desa ini”
“Lalu kau sendiri?”
“Aku akan hidup bersama orang tuaku”
“Cuma itu”
“Maksudmu soal jodohku?”
“Ya," jawab Latifah pelan.
“Mungkin saja aku nanti bisa meminta ibuku meminangkan
seorang gadis, yang rambutnya ikal, tubuhnya tinggi. Kakinya indah
dan sinar matanya bulat seperti telur mata sapi. Perempuan itu
mungkin saja kau...!”
Latifah menunduk malu.
Hian Biauw yang khawatir sahabatnya jadi tersinggung
segera berkata: “Tapi semuanya cuma seumpama, Fah. Kau belum
tentu suka padaku. Guru di desa mungkin tidak bisa mencukupi
kehidupan istri serta anak-anaknya. Jadi mungkin aku akan
membujang terus...”
Latifah kemudian bangkit. Sebelum beranjak ia berkata:

175
“Aku akan menunggu”
Ganti Hian Biauw yang sekarang terpaku, lalu gadis itu
berlari ke gerombolan pejuang yang sedang main gaple.
Beberapa hari kemudian Hendro mendekati Hian Biauw
kembali.

“Bagaimana, sudah kau pikirkan?”
Taktik menyergap Belanda ini memang cukup menarik
perhatian Biauw. Yang menarik menurut pendapatnya juga seperti
yang dikemukakan Hendro. Perang sudah hampir usai. Jika kita tidak
menggempur Belanda sekarang, lantas mau kapan lagi kalau Pusat
berhasil dengan diplomasinya dan Belanda mengakui kedaulatan
kita.
“Darimana kita menyergap Belanda," tanya Hian Biauw.
Pertanyaan ini menggembirakan Hendro. Ada titik terang.
Aneh memangnya, teman-teman baru mau bergabung kalau ia
berhasil mengajak Hian Biauw ikut serta.
“Seperti yang kukatakan tempo hari, kita sergap di Candi
Jawi kalau habis hujan. Aku sudah lama memperhatikan patroli
Belanda yang lewat di muka Candi Jawa. Mereka akan kesulitan
untuk menanjak. Kita sergap di sana”
“Kau kira gampang”
“Maksudmu?”
“Apa menyergap Belanda segampang itu. Candi Jawi dekat
dengan Pandaan. Bantuan Belanda dengan mudah dikirimkan ke
sana. Dari sana Belanda bisa menyerang balik rakyat yang tidak
berdosa! Inilah yang menjadi kesulitan bagi Hendro. Ia tak pernah
memikirkan masalah itu secara serius.
“Tapi dalam perang orang tak boleh banyak berpikir. Orang
harus bertindak. “Kau tentu tahu, aku bukan ahli strategi. Jadi yang

176
aku tahu cuma situasi medan. Dan menurut aku, situasi medan sangat
menguntungkan kita”.
“Aku tadi bilang, Candi Jawi dekat dengan Pandaan, itu yang
harus kau perhitungkan”.
“Sudah”
“Kalau begitu lakukanlah”

177
37

Hendro jadi bingung. Apa maunya Hian Biauw. Apakah ia
setuju untuk ikut, atau apakah diam-diam ia memata-matainya? Tapi
tak mungkin. Orng seperti Hian Biauw, meskipun dulu pernah ada
“ganjelan” pastilah tidak akan berbuat demikian. Seperti ia sendiri
misalnya, sudah tak mendendam pada Hian Biauw yang dulu
dianggapnya merebut hati perawan yang dikaguminya, Latifah. Tapi
sesudah ia tahu bahwa Latifah yang mendekatinya, ia pun yang
mundur teratur. Ia tahu, bahwa Hian Biauw sangat menyukai
sikapnya yang sportif itu. Tenang ia memandang sahabatnya yang
sikapnya masa bodoh ini. Yang merebahkan diri setengah
memejamkan matanya.
“Kita harus berbuat sesuatu Biauw. Harus! Sebelum perang
ini keburu usai. Cobalah kau berikan usulanmu. Katakan, sekali ini
aku minta tolong. Aku tak ingin di masa mendatang aku tercatat
sebagai pejuang yang kerjanya cuma menunggu. Katakan, mungkin
aku salah. Mungkin aku terlalu emosi. Tapi aku ingin punya arti
dalam hidup ini. Kelak aku ingin kawin, punya anak. Dan aku ingin
anak kita kelak bangga terhadap bapaknya. Bukan bangga yang semu.
Tapi bangga dlaam artian yang semestinya. Aku ingin benar-benar
jadi pejuang. Aku kelak tak ingin munafik. Cuma ini Biauw.”
“Kau cuma ingat yang heroik saja," tiba-tiba jawab Hian
Biauw.
“Apa maksudmu?”
“Bahwa kita juga bisa mati di situ dan bukan cuma bisa jadi
pahlawan yang dikagumi anak istri kelak...”
Hian Biauw memandang Hendro. Bayangan segera
memetakan wajah pak Mangku. Laki-laki yang sudah beberapa saat
jadi komandannya dan sudah mulai disukai banyak anak buahnya
bakal dikhianati. Tegakah ia?

178
“Kita sebaiknya omong sama komandan," ujarnya kemudian.
“Aku cuma ingin tahu kau setuju atau tidak," jawab Hendro.
“Keputusan bukan tergantung padaku seorang. Apa artinya
diriku. Mungkin benar katamu orang memerlukan idola dan aku
mungkin saja bisa jadi idola. Tapi ini perang kawan. Kita bukan
main-main”
“Siapa yang bilang kau main-main. Sejak awal mengenai
penyerbuan ini aku serius. Karena itu aku beri kau waktu untuk
berpikir. Kita yang muda-muda sebaiknya mempunyai kesepakatan.”
“Tidak kesepakatan dalam memberontak," sela Hian Biauw.
“Siapa bilang kita memberontak," Hendro tersinggung.
“Apa yang kita rundingkan ini namanya sudah berkhianat.
Namanya sudah memberontak. Sejak kita masuk dalam pasukan ini,
kita sudah diberitahu bahwa kita hanya boleh taat pada satu komando.
Cobalah kau pakai akal sehatmu.”
Hendro tetap berkeras:
“Terserah pada anggapanmu. Kami tak ingin mengajak kau
ikut serta. Kita tak mungkin membicarakan masalah ini kepada
komandan. Kitasemua akan ditembak jika berani melawan
perintahnya. Ia terlalu taat kepada Pusat”
“Ketaatan pada pusat itulah tanda kalau kita orang merdeka.
Artinya ada pemerintah pusat yang kita hargai. Yang kita hormati.
Lantas kalau bukan pemerintah pusat yang kita hargai, siapa lagi.
Apa kita mau bertindak sendiri-sendiri. Mari, kalau kita mau
bertindak sendiri-sendiri, kita bilang baik-baik sama komandan. Kita
bilang kita ingin berpisah baik-baik. Lantas kita membentuk satu
komando sendiri, katakan Komando Kala Hitam. Mungkin pasukan
itu nantinya akan sama terkenalnya dengan pasukan GI dari Amerika.
Kau bisa jadi komandan. Kalau kau berbuat demikian aku dukung
kau, tapi tidak dengan caramu sekarang. Demokrasi bukan berarti
kita boleh berbuat semau kita. Demokrasi berarti ada musyawarah...”

179
“Persetan dengan segala filsafatmu”
“Terserah," lantas Hian Biauw “menyelonjorkan” kakinya
dan memejamkan matanya. Hati Hendro tambah geram. Tapi sedetik
itu dia mulai berpikir. Membentuk pasukan sendiri? Mengapa tidak?

****

Deglok akhirnya akan disidangkan. Semua masyarakat
menjadi gempar. Buaya-buaya Kapasan juga gempar. Mereka tak
mengira bahwa buaya Kapasan yang biasanya kebal hukum kini bisa
“diseret” ke muka meja hijau. Tapi Mayor Phe dan Oen Tjhing Tiauw
tenang saja. Urusan itu sudah mereka atur. Sedemikian rupa sampai
vonisnya nanti bakal dihukum bebas karena membela diri. Juga untuk
keperluan rumah tangga Deglok selalu ada orang yang membantu.
Ada yang mengirim beras, ikan asin dan uang. Rasanya, bagi keluarga
Deglok, tertangkapnya Deglok sebagai kepala rumah tangga
membawa hikmah tersendiri. Bantuan yang banyak membuat mereka
bisa “bezoek” setiap hari. Boleh dikatakan, di tahanan Deglok
menjadi orang penting. Ia bisa membagikan rokok. Bukan saja
kepada sesama tahanan tetapi juga kepada penjaga blok. Diam-diam
ia mendapat simpatik. Dan Deglok menjadi gembira meskipun jadi
orang tahanan. Ia sering mendemonstrasikan kebolehannya main silat
atau kunthauw.
Ada seorang tahanan yang sama-sama satu blok dengan
Deglok, Asman namanya. Ia orang blasteran Jawa Madura. Lebih
banyak darah Madura dan secara fisik ia memang tampak seperti
orang Madura. Tubuhnya kekar. Mula-mula ia menganggap enteng
kehadiran laki-laki yang berperawakan sedang saja ini. Apalagi
pincang. Tapi ketika merebut rokok yang diusap Deglok secara tiba-
tiba saja dicekik leherya dan dua jari tangan kiri Deglok mau
“mencubles” matanya, ia jadi jera dengan laki-laki yang pincang

180
ini. Lama kelamaan mereka bersahabat. Akrab. Asman lantas
menceritakan bahwa ia melakukan pembunuhan terhadap seorang
laki-laki yang mencoba mau menggauli istrinya. Istrinya juga
dibunuh. Deglok jadi geli dalam hati. Alangkah bedanya dengan
orang-orang Tionghoa yang kadang menurut Deglok sendiri terasa
kurang punya harga diri. Kalau mereka miskin, mereka manda saja
dihina. Istri diambil bahkan direlakan. Dianggap bahwa semua itu
adalah kemauan “thikong” (Tuhan). Kemiskinan, ketidakberdayaan
mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak boleh diberontak. Harus
diterima mandah.
“Kita mestinya bisa berpikir panjang. Mengapa istri kita
sampai bisa digauli orang. Itu berarti dua-duanya salah. Ya istri ya
suaminya. Tidak bisa cuma di “timpali” kepada istri saja”
Asman terkejut.
“Jadi kau salahkan aku. Kau anggap aku tidak bisa
memuaskan istriku”
“Bukan begitu. Mengapa istrimu sendiri kau bunuh”
“Perrempuan seperti itu tak perlu diberi hidup”
Deglok diam. Ia cuma tersenyum.
Asman lalu bertanya:
“Kau belajar darimana ilmu kuntauwmu”
“Belajar sendiri. Aku belajar di Bio (maksudnya klenteng
yang ada di Kapasan)”
“Tak mengalami kesulitan?”
“Mengapa? Karena aku Deglok?”
Asman tak berani memberikan jawaban, tapi itulah arah
pertanyaannya.
“Orang Tionghoa sebenarnya sama dengan orang Madura.
Mereka sebenarnya orang yang hatinya lembut. Cuma untuk hidup
mereka terpaksa bersikap kasar. Aku tahu sifat golonganku. Karena
itu aku belajar kunthauw. Denga kepandaian itu aku pasti bisa hidup.

181
Dan ternyata... aku memang bisa hidup sampai setua sekarang," lalu
Deglok tertawa. Ngakaknya begitu keras sehingga mengejutkan
tahanan yang lain. Lalu ia berkata serius seraya mengepalkan
tangannya”
“Zaman seperti sekarang ini yang bisa hidup cuma yang kaya
atau yang berani”
“Yang berani nasibnya seperti kita-kita ini, masuk bui.”

182
38

Asman sebenarnya ingin sekali mendengar cerita dari Deglok
bagaimana buaya-buaya Kapasan itu asal mula terbentuknya. Siapa
yang memulainya. Karena bagi Asman, buaya-buaya Kapasan itu
seperti satu sindikat tersendiri. Orang tampaknya harus membeli
nama sebagai buaya Kapasan. Tidak enak begitu saja menyandang
gelar yang cukup “keren” dan ditakuti itu. Bagi Asman yang juga
bekerja jadi “cinteng” kehidupan buaya Kapasan sangat berbeda
dengan keadaan tukang pukul atau tukang jaga malam orang Madura.
Jabatan itu bagi orang Madura tampaknya sekedar untuk hidup. Tapi
bagi orang Tionghoa gelar itu tampaknya punya arti yang besar.
Orang-orang Tionghoa sangat menghormati mereka,
meskipun mungkin juga ada yang sangat takut pada mereka.
Dengan mendapat perhatian yang besar Deglok dibawa ke
pengadilan. Tapi rupanya keadaan sekarang sudah berubah. Deglok
tidak dibawa ke pengadilan dengan terborgol sebagai jurnalis Kwee
Thiam Tjhing tempo hari. Deglok dinaikkan truk dan dikawal. Ruang
sidang penuh sesak. Tapi jalannya sidang sendiri tidak begitu lama.
Rupanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga sidang
jangan berjalan terlalu lama, agar tidak memancing emosi
masyarakat. Setelah beberapa kali sidang, akhirnya putusan untuk
Deglok persis seperti yang diduga dan diatur semula. Deglok bebas.
Lucunya, orang tak kaget dengan keputusan hakim itu. Orang
bahkan mungkin akan menjadi heran atau bahkan marah kalau
sampai Deglok dihukum sekian tahun misalnya. Soalnya dalam
persoalan Deglok ini, yang tak pernah diketahui oleh umum,
bagaimana duduk perkaranya yang sebenarnya, dianggap ada unsur
kepahlawanan yang sangat dihargai oleh masyarakat. Meskipun
seperti yang diketahui, reputasi tentang buaya-buaya Kapasan
sebenarnya tidak begitu bersih. Anehnya di sini, orang tetap suka

183
pada kekerasan yang menurut mereka ada unsur keberaniannya. Ada
unsur kelakiannya. Semuanya ada pada Deglok. Betapa tidak. Ia
yang cacat, masih bisa melawan tanpa cedera melawan tiga orang
Madura dan seorang laki-laki lain, Baba Tan.
Seandainya Deglok kemudian terluka atau mati, maka
kebanggaan tak akan ada. Orang akan kecewa. Ini semua adalah
berkat Mayor Phe. Dalam kasus ini ia untuk kesekian kalinya bisa
menunjukkan kewibawaannya sebagai bekas Mayor orang Tionghoa
di Surabaya. Pers Melayu tionghoa juga berhasil dipengaruhi.
Tentunya bukan oleh dirinya sendiri. Tetapi oleh teman-teman yang
berhasil dipengaruhi dengan cerita-cerita yang heroik tentang Deglok.
Bahkan sebuah surat kabar Melayu Tionghoa di Jakarta meminta
sebuah cerita serial tentang Deglok. Mayor Phe menyanggupi saja,
karena redaktur surat kabar itu berjanji akan memberikan imbalan
yang wajar kalau Deglok mau diwawancarai untuk kemudian dimuat
sebagai serial di surat kabarnya.
Di sinilah ketidaktentuan tentang nasib itu. Beberapa saat
yang lalu, orang memihak kepada Baba Tan almarhum dan nama
Deglok dijatuhkan ke bawah. Habis-habisan. Sekarang sudah
berubah. Deglok yang di atas. Tapi juga Baba Tan masih tetap tidak
begitu dipojokkan. Yang dipojokkan ialah orang-orang Madura. Yang
main keroyokan, tapi tetap kalah.
Dan pers itu sendiri tampaknya tidak merasa apa-apa.
Meskipun mereka beberapa waktu yang lalu memberitakan secara
gencar hal-hal yang negatif tentang Deglok, kini mereka
memberitakan yang baik-baik. Seolah dengan perbuatan seperti itu
mereka sudah menjalankan satu sistem pemberitaan yang seimbang.
Yang jelek diberitakan, yang baik juga diberitakan. Bagi Mayor Phe
masalahnya tambah memberikan pengalaman hidup yang sangat
berguna. Bahwa hidup ini benar-benar sebagai anak wayang. Cuma
tergantung dalang yang memainkan. Manusia tampaknya tidak kuasa

184
sedikit pun untuk memberi bentuk bagi perjalanan hidupnya. Seolah
ada sesuatu yang mengatur. Dalam soal ini yang mengatur adalah
uang.

****

Hian Biauw akhirnya sepakat untuk bergabung dengan
Hendro. Pemikiran yang mendasarinya tetap pada kesimpulannya
yang pertama. Bahwa apa yang diutarakan oleh Hendro itu benar.
Makin hari tampaknya perang akan makin usai. Itu diketahui dengan
pasti, ketika kemarin ada kurir yang datang dari Jakarta. Membawa
instruksi tentang apa-apa yang harus dikerjakankalau pemerintah
mengumumkan pengakuan Belanda secara total atas kemerdekaan
bangsa dan negara Indonesia.
Tapi ia tetap tak ingin meninggalkan pasukan ini secara diam-
diam begitu saja. Ia ingin membicarakannya dengan Latifah. Karena
siapa tahu pihak Belanda jua akan punya pendapat yang sama.
Mumpung belum ada berita perdamaian, mereka ingin menggempur,
habis-habisan kaum pejuang yang oleh mereka tetap dianggap
sebagai kaum ekstremis.
Siapa tahu, penyergapan terhadap pasukan Belanda di candi
Jawi nanti akan merupakan pertempurannya yang terakhir. Dulu di
Surabaya, ketika terjadi penyergapan atas pasukan Belanda di Jalan
Praban, ia berhasil keluar sebagai pemenangnya. Dulu strategi yang
disusun Effendi sangat akurat. Tapi sekarang? Ya siapa tahu, ini bakal
menjadi pertempurannya yang terakhir.
****
Candi Jawi memang terletak persis hampir di tengah
perjalanan antara Prigen dan Pandaan. Prigen memang boleh
dikatakan menjadi markas para pejuang dan Pandaan yang menjadi
daerah strategis menuju Pasuruan, Malang dan Surabaya yang hampir

185
seluruhnya berhasil dikuasai oleh pihak Belanda. Baik siang maupun
malam. Di Prigen yang dianggap markas para pejuang, mereka cuma
berkuasa pada malam hari. Siang hari Belanda berani lewat sana
tanpa mendapatkan gangguan dari para pejuang. Yang cuma bisa
merasakan geram dengan melihat semuanya. Dari sinilah sebenarnya
awal mula timbulnya ide untuk melawan Belanda. Untuk tidak taat
pada komandi Pusat. Sebab Belanda selain berpatroli juga
menyiarkan kabar bohong. Bahwa kaum pejuang sekarang sudah
pergi dari Prigen. Buktinya Belanda sudah berhasil hilir mudik
dengan pansernya tanpa tanpa satu gangguan. Rakyat yang berada
di atas, daerah Tretes dan Pecalukan memang termakan oleh
provokasi Belanda itu.
Satu hari Hian Biauw mengajak Latifah ke Candi Jawi.
Perempuan ini semula sudah heran, mengapa Hian Biauw akhir-
akhir ini selalu bertanya soal candi tersebut. Seperti seorang ahli
sejarah ia selalu bertanya tentang candi yang sudah rusak itu. Yang
batu-batunya banyak diambil penduduk buat trap masuk rumah.
Candi itu sebenarnya sudah tidak menyerupai candi lagi. Hampir
datar dengan tanah. Cuma penduduk di sekitarnya masih
mempercayai, bahwa konon, dulu di tempat yang hampir rata dengan
tanah itu berdiri sebuah candi untuk Prabu Kartanegara. Menurut
orang, dulu Candi itu dikelilingi dengan kolam yang jernih airnya.
Lantas agak jauh tapi masih dalam satu kompleks ada tempat mandi.
Konon dulu tempat itu menjadi tempat persinggahan kalau Prabu
Kartanegara berburu dan melepaskan lelah.

186
39

Ditilik dari strategi militer, Hian Biauw tidak begitu yakin
bahwa tempat itu sangat strategis seperti yang diutarakan Hendro.
Karenanya ia ingin menjenguk sekali lagi.
“Mengapa kau tertarik pada Candi ini?" tanya Latifah setelah
berjam-jam dengan perlahan dan santai mereka berjalan menuju ke
Candi Jawi melalui jalan setapak, memutar, dari Prigen, sebelah
timur, di desa Sayu.
“Aku cuma ingin tahu saja”
“Kau pasti punya rencana tertentu," desak Latifah.
Hian Biauw diam. Ia tak banyak bicara. Otaknya mulai
berpikir serius mengenai kemungkinan daerah ini dipakai sebagai
basis untuk menggempur Belanda.
Dalam hati, meskipun semula ia mengakui apa yang
disebutkan Hendro sebagai sesuatu yang hebat, kini setelah melihat
sendiri keadaan di lapangan, ia sama sekali tidak setuju. Candi Jawi
ternyata bukan tempat yang cocok. Lain dengan Borobudur misalnya.
Kompleks candi ini sendiri sudah hampir hilang, lenyap bercampur
dengan pepohonan hutan yang lebat. Jika cuma ingin hutan yang
lebat, mengapa tidak menyerang di dekat Trawas, dekat pasar? Atau
di desa Candrawilwatikta yang dekat Pandaan? Akhirnya Hian Biauw
mencoba untuk berterus terang pada Latifah.
“Jika kita menggempur Belanda dari sini, kau pikir ada
“kans” menang buat kita?”
“Kau gila, Biauw. Mengapa kita harus menyerang Belanda
di sini. Perang sudah hampir usai”
“Justru itu”
“Aku tak mengerti apa yang kau lakukan”
“Justru karena perang sudah hampir usai, maka kita ingin
bergerak”

187
“Siapa yang kau sebut dengan kita”
“Aku, Hendro, dan kawan-kawan”
“Kau akan mengkhianati Pak Mangku”
“Kita jangan bicara soal berkhianat atau tidak. Aku cuma
tanya, apakah kemungkinan kita menang kalau kita menggempur
Belanda dari sisi ini," sambil Hian Biauw menunjuk gundukan Batu
yang tampaknya bekas potongan tubuh candi yang mestinya tinggi
dulunya. Entah mengapa, masyarakat di sekitar candi ini tidk
mempunyai kesetiaan memelihara candi yang dulunya pasti antik
dan cantik. Apa lagi, itu ada kaitannya dengan Prabu Kartanegara,
seorang raja yang terbilang besar untuk ukuran raja-raja Jawa waktu
itu.
Latifah tidak memberikan jawaban. Ia mencoba melihat
sekeliling dan memperhatikan situasi lapangan saat itu. Belanda
memang harus memutar lingkaran komplek candi ini kalau patroli
ke Prigen dan Tretes. Cegatan memang bisa terjadi kalau habis hujan.
Karena lumpur disekitar tempat itu sudah seperti kubangan kerbau.
“Kalau patrolinya sendirian kita memang bisa menang. Tapi
daerah ini sangat dekat dengan Pandaan. Belanda bisa minta bantuan
dengan gampang dan kita gampang pula terkepung. Di sini tidak
banyak rumah penduduk...”
“Justru itu kita pilih tempat ini. Tidak banyak tempat
penduduk. Belanda tidak bisa membalas dendam pada penduduk”
“Tapi nasib kawan-kawan tidak akan terlindung. Belanda
sudah mahir dalam perang gerilya. Karena banyak tentaranya terdiri
dari bangsa kita sendiri... mereka menguasai betul tiap semak ada di
tempat ini”
“Jadi kau pikir kita akan bunuh diri kalau menyergap patroli
Belanda dari tempat ini?”
Latifah tidak segera menjawab. Tapi pelan ia
menganggukkan kepala. Ia melihat kalau Hian Biauw sangat
mengharapkan bantuan pemikirannya. Karenanya ia bertanya serius:

188
“Bagaimanakan rencanamu yang sebenarnya?”
“Kau bisa memegang rahasia?”
Latifah sekali lagi mengangguk!
“Kami memang berniat menggempur patroli Belanda.
Kemudian kami tidak akan pulang kembali ke markas. Kami akan
meninggalkan kalian untuk menuju ke Bojonegoro. Disana kita
akanbergabung dengan pasukan Jarot”
“Kau gila Biauw”
“Tidak Latifah. Kau mencobalah untuk berpikir secara
rasional. Jangan emosional. Perang seperti sekarang ini, apa artinya
bagi dirimu. Kau datang dari Malang dengan semangat yang
menggebu-gebu. Kau tidak bisa sampai ke Surabaya karena semua
pejuang mengungsi ke Mojokerto dan kita kemudian bertemu di
sini. Tapi, selama disini, bertahun-tahun apa yang kita lakukan. Apa
yang kau lakukan. Sekarang, kita semua sudah mendengar, bahwa
diplomasi yang dilakukan oleh Pusat sudah hampir berhasil. Belanda
sudah mau mengakui baik dengan facto maupun de jure atas
kemerdekaan negara kita. Kalau sudah keburu damai, kita ini mau
jadi apa?”
“Kita justru harus menghormati apa yang telah dilakukan
oleh Pusat. Pemerintah kita disana tak ingin rakyat kita yang jatuh
sebagai korban. Itu dulu juga dilakukan oleh Bung Karno ketika
meminta para pejuang supaya meletakkan senjata. Orang boleh
bilang kalau Bung Karno telah membuat para pejuang marah. Karena
saat itu menurut perhitungan mereka, situasi sangat menguntungkan
mereka. Tapi jika tidak ada gencatan senjata. Dan Belanda bisa
mengatakan pada dunia luar bahwa Soekarno sudah tidak dipercayai
lagi dan diturut omongannya oleh rakyatnya sendiri, lantas
kemerdekaan yang baru diproklamirkan itu mempunyai arti apa?”
“Aku dulunya juga berpikir seperti apa yang kau pikirkan
dan omongkan ini. Aku berpikir bahwa Hendro salah, kalau ia

189
melakukan satu tindakan tanpa seijin komandan. Tapi aku kemudian
membenarkan apa yang dipikirkannya. Bahwa kita harus berbuat
sesuatu sebelum perang usai”.
“Kau terlalu percaya omongan Hendro. Dia memang ingin
jadi pahlawan. Dia memang sering memperlihatkan
ketidaksenangannya dengan bersikap agak kasar pada komandan.
Tapi, kau lain, Biauw”
“Aku memang lain Latifah. Karena itu aku mendukung
Hendro. Masing-masing dari kita memang mempunyai kepentingan
dengan penyergapan tersebut. Tak ada yang sama. Antara
kepentinganku dan kepentingan Hendro lain. Hendro mungkin cuma
ingin jadi pahlawan. Atau ia memang hanya sekedar ingin perang
yang sesungguhnya. Hendro memang belum pernah menghadapi
perang yang sesungguhnya selama ini. Tapi aku...”
“Ya, kau! Mengapa dengan dirimu”
“Aku, Latifah. Aku orang Tionghoa. Perang ini sebenarnya
bukan perangku dulunya. Jika kelak perang telah usai, dan kehidupan
normal sudah kembali, orang akan banyak yang mengejek diriku,
yang berani ikut bertempur karena pertempuran itu sendiri
sebenarnya tak pernah ada. Aku akan diejek begitu. Karenanya aku
berkepentingan dengan strategi Hendro...”
“Kau gila, Biauw. Kita tidak boleh mempertaruhkan nyawa
kita sembarangan. Jika perang benar telah usai, maka tibalah kita
saatnya untuk membangun. Kita akan jauh lebih punya arti daripada
kita mati konyol”
“Kematian dalam penyergapan itu bukan konyol Latifah”
“Apanya yang tidak konyol. Pemerintah Pusat berdiplomasi
dengan alotnya untuk membela agar perang tidak terjadi dan tidak
meminta perjuangan sia-sia. Tapi kemudian kau sia-siakan usaha
pemerintah pusat itu. Mengapa kalian kaum laki-laki tidak berani
menghadapi suasana yang tenang dan damai dimana kita bisa

190
membangun? Mengapa kaum lelaki selalu suka pada kekerasan,
meskipun kekerasan itu kadang-kadang konyol?
Latifah tidak habis mengerti mengapa Hian Biauw yang
biasanya taat kepada komandan tiba-tiba saja bisa ikut kelompok
yang mau “membelot” kepada perjuangan. Yang ingin mengisi
perjuangan ini dengan bentuknya yang menurut diri sendiri betul,
tetapi yang melawan arus yang datangnya dari pemerintah pusat.
Hian Biauw yang selama ini dikenal sebagai pemuda yang selalu
mendasarkan kehidupannya pada asas demokrasi yang sehat. Yang
sependapat bahwa demokrasi bukanlah hak untuk bisa hidup semau
sendiri.

191
40

Demokrasi adalah hidup berdasarkan kebebasan yang tetap
dipagari oleh norma-norma yang sebelumnya sudah disepakati
bersama. Berbeda dengan diktator yang dibatasi oleh norma-norma
yang hanya dibuat oleh satu orang. Dan norma-norma yang disepakati
bersama sekarang ini adalah norma tidak menyerang Belanda. Norma
bertahan sampai peluru yang paling akhir. Bertahan, bukan
menyerang!
“Kau mungkin belum bisa mengerti apa yang kutanyakan
sejak awal, Latifah! Aku ingin pendapatmu, apakah tempat ini
strategis untuk menyerang Belanda...”
“Tidak!”
“Candi Jawi ini terlalu dekat dengan Pandaan, markas
Belanda.”
“Itu dulu juga pendapatku. Tapi Belanda tidak akan mengira
bahwa ia akan disergap di sini. Memang terlalu dekat. Justru itu
yang bisa dipakai sebagai siasat”
“Siasat yang gila...”
“Lalu menurut kau, sebaiknya kita menyergap dimana?”
“Kita gempur Pandaan”
Hian Biauw terbelalak matanya. Ia memandang tajam
Latifah.
“Menyerbu Pandaan," gumamnya seorang diri. Kemudian
ia menatap gadis itu tajam-tajam.
“Kau serius?”
“Itu cuma perkiraanku saja. Aku bukan seorang yang ahli di
bidang strategi. Tapi kalau menurut pendapatku, kalau mau jadi
pahlawan jangan setengah-setengah. Mengapa kita harus menyergap
Belanda di Candi Jawi, kalau bisa lebih turun lagi menyergapnya di
Pandaan...”

192
“Jadi... Jadi..”
“Tidak Biauw. Pemikiranku tadi tidak berarti aku setuju
dengan pikiranmu dan pikiran teman-teman yang lain. Mengapa kita
tidak menyayangi jiwa kita masing-masing?”
“Bagi saya harga diri lebih penting dari harga sebuah nyawa,
Latifah”
“Untukmu, jiwamu mungkin saja tidak berharga. Tapi untuk
orang tuamu. Untuk ayahmu untuk ibumu. Mereka pasti akan merasa
kehilangan kau jika seandainya kau tewas dalam penyergapan itu.
Padahal mestinya, sesuai dengan rencana dari Pusat, nyawa itu tidak
perlu secara sia-sia dikorbankan. Nyawa itu sebenarnya bisa untuk
membangun, mengisi kemerdekaan. Mari kita kembali...”
Tanpa memberi jawaban, Hian Biauw turun dari dataran yang
agak tinggi yang tadi diduganya menjadi tempat asal candi yang
asli, yang sekarang cuma tinggal reruntuhannya saja. Melalui jalan
setapak kampung yang tak bisa dilalui patroli Belanda mereka
pulang. Dalam perjalanan tak ada yang bicara. Juga mereka tak bersua
dengan orang desa. Semuanya sudah tinggal di rumah masing-
masing. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah satu siang.
Matahari ini rupanya juga lebih suka bersembunyi di balik awan.
Tampaknya hujan akan turun tak lama lagi. Dan benar, kemudian...
blas .... blas.... begitu saja. Hujan seperti dicurahkan turun dari langit.
Dengan menutup kepala dengan sehelai daun pisang yang mereka
ambil di tegal tak bertuan mereka mencoba menghindari curah hujan
menerpa wajah. Dua sampai tiga kali Latifah terpeleset oleh licinnya
jalan setapak.
“Kita istirahat," kata Hian Biauw sambil mengajak Latifah
berteduh di bawah sebatang pohon yang daunnya rindang sedemikian
rupa sehingga membentuk sebuah payung. Di bawah rindangnya
daun-daun itu mereka berteduh.

193
“Latifah yang basah kuyup wajahnya sebentar-sebentar kena
kilatan halilintar. Hujan tampaknya tak akan berhenti untuk jangka
waktu yang pendek. Udara menjadi dingin. Latifah tampaknya mulai
menggigil kedinginan.
“Kau dingin?”. Tanpa menunggu jawaban Hian Biauw
mendekap Latifah. Gadis ini merasakan perubahan pada wajahnya.
Jika ada sorot lampu pasti tampak kalau wajahnya sekarang menjadi
merah. Malu. Tapi ia tak menolak ketika pemuda itu mendekapnya.
Juga ketika pemuda itu mengeringkan air hujan yang membasah
mukanya dengan sapu tangan basah yang tadi melilit leher pemuda
itu.
“Kau cantik sekali," tiba-tiba bisik Hian Biauw. Lantas tiba-
tiba saja terbayang pemandangan sehari-hari: Perempuan desa yang
mandi telanjang di sumur yang telanjang juga. Setiap hari panorama
itu dilihatnya. Mula-mula ada rasa tertarik. Tapi kemudian, ketika ia
melihat seorang pejuang ditembak oleh komandan gara-gara
memperkosa seorang tawanan mata-mata, ia tak punya pikiran yang
gila-gila. Padahal, pemandangan seperti itu yang membuat pejuang-
pejuang yang lain ibarat semut yang kepanasan.
Sekarang ketika ada seorang gadis di pelukannya gambaran
yang sebenarnya selalu menimbulkan birahi itu muncul kembali.
Tampak sebagai gambar hidup berputar di otaknya. Dan tak terasa
keluarlah kata-kata yang sangat mengejutkan Latifah yang sekaligus
sangat membungkam hatinya:
“Kau cantik sekali”
Lalu perlahan Hian Biauw menunduk. Mencari bibir yang
gemetar kedinginan.dicium. Dan semuanya berlangsung dengan tiba-
tiba. Ketika ciuman terlepas keduanya sama-sama terkejut. Tapi
setelah sadar, mereka bukan melepaslan pelukannya. Mereka
berciuman. Sekali lagi. Sekali lagi. Pagutan itu hanya dilepaskan,

194
sekedar masing-masing supaya bisa bernafas. Rasa birahi menyelusur
seluruh darah yang ada di tubuh mereka.
“Biauw...”
“Latifah...”
Mereka juga pada akhirnya tak sadar, bahwa mereka
bergulung keluar dari daun-daun yang rindang. Sementara hujan
makin keras terguyur dari langit. Mereka seolah tak merasa semuanya
telah berlangsung dengan alam yang keras, hujan lebat sebagai saksi.
****
Mayor Mangku rupanya mencium perundingan yang secara
diam-diam dilakukan oleh anak buahnya. Ia mencium gejala-gejala
untuk memberontak. Ia merasakan ada yang tidak beres dalam
pasukannya. Sering ia amati, ada beberapa anak buahnya yang
bergerombol, kemudian memencar kalau ia datang “nimbrung”.
Padahal biasanya tidak demikian. Juga Hian Biauw sejak lama tak
dilihatnya. Entah di mana. Selalu berada di perkampungan penduduk.
Hendro juga. Latifah juga. Satu “klik” tampaknya. Satu hari ketika
ia berpapasan jalan dengan Hian Biauw ia meminta anak buahnya
untuk datang menghadap.
“Kemana kau selama ini?”
“Saya berada di rumah Cokro, komandan”
“Sudah kubilang, jangan berada di kalangan penduduk.
Banyak mata-mata Belanda dan kita tidak tahu siapa mereka”
“Saya mengerti, tapi perang hampir usai”
“Perang memang hampir usai...," jawab Mayor Mangku
seolah pada diri sendiri. Kemudian lanjutnya:
“Tapi itu berarti tugas besar dalam bentuk yang lain menanti
kita”
“Tugas baru komandan”
“Ya. Kau akan terus di Angkatan Perang”

195
“Tidak Komandan," jawab Hian Biauw yang membuat
komandannya heran.
“Kau anggota pasukan yang baik”
“Tapi jadi Angkatan Perang bukan jiwa saya komandan”
Lalu Hian Biauw memandang ke depan lewat jendela. Ia
tak berani menatap mata komandannya. Menurut firasatnya,
tampaknya sang komandan ini seperti ada apa-apa yang dirahasiakan.
“Ada sesuatu komandan?" tanyanya menyelidik.
“Tidak. Tapi aku mencium adanya satu komplotan untuk
memberontak. Aku ingin tanya: Kau terlibat di dalamnya atau tidak”

Pertanyaan yang tiba-tiba. Menyerang langsung. Hian Biauw
tampaknya seperti tidak diberi kesempatan untuk berpikir. Tapi
secepat itu pula ia berkata: “Perang hampir usai dan buat apa kita
berkomplot untuk memberontak. Laginya memberontak terhadap
siapa," tanyanya.
Mayor Mangku diam. Ia memang suka diam sehabis
menyerang orang dengan kata-kata yang tajam. Tampaknya ia seperti
ingin mengakaji sampai dimana ketulusan orang yang diajaknya
berbicara itu.
“Betul kau tidak terlibat," tanyanya kemudian. Juga satu
pertanyaan yang tiba-tiba.
“Betul komandan”
“Betul?”
“Betul!”
Lantas semuanya diam.

****

196
41

Membentuk pasukan sendiri, itulah isu sekarang yang makin
hari makin berkembang di kalangan anak buah ayor Mangku
omongan Hian Biauw dulu ternyata masuk di akal Hendro.
Membentuk pasukan sendiri memang satu jalan keluar. Dalam situasi
seperti sekarang ini di mana-mana banyak pasukan yang keluar dari
induk pasukan. Membentuk pasukan sendiri. Menepati pos-pos
sendiri dan mencoba bertahan sendiri. Ini jauh lebih baik daripada
diam-diam meninggalkan pasukan. Bisa dianggap desersi dan ini
bahaya. Hukuman bisa berat kalau tertangkap. Karena yang
melarikan diri dari pasukan bisa saja dianggap lari berpihak ke
musuk. “Kusak-kusuk” Hendro ternyata berhasil. Ada sekitarlima
belas orang yang ingin ikut. Problematiknya justru di sini. Antara
Hendro dan Hian Biauw kemudian terjadi perselisihan paham tentang
jumlah orang.
“Kau terlalu gegabah," ujar Hian Biauw menunjukkan sikap
marah dan tak puas dengan upaya Hendro melibatkan terlalu banyak
orang untuk ikut dalam pertempuran menyergap Belanda.
“Kalau dulu bilang, kita sebaiknya membentuk pasukan
sendiri," jawab Hendro tak kurang berangnya.
“Tapi aku tak bilang bahwa kau boleh mengajak semua teman
yang ada di sini”
“Mereka dengan sukarela ikut”
“Itu namanya kau kurang pikir. Penyergapan ini masih tanda
tanya. Kita tak bisa meramalkan, apakah kita bisa keluar bila rencana
ini gagal? Sekian nyawa kau ingin korbankan untuk mendukung
rencana gila kita!”
“Itu bukan rencana gila”
“Sejak dari awal, rencana ini sudah gila. Betul-betul gila
dan kegilaan itu sekarang kau tambah lagi”

197
“Sekarang bagaimana maumu”
“Kita ajak tiga orang saja. Lima dengan kau dan aku. Itu
sudah lebih dari cukup. Kau kira gampang menyergap Belanda
dengan pasukan besar tanpa peralatan yang memadai”
“Tapi teman-teman sudah terlanjur tahu tentang rencana kita”
“Dengan teman sebanyak itu, kau teruskan sendiri. Masa
bodoh”. Lalu Hian Biauw meninggalkan Hendro. Hendro mengejar.
“Tunggu!”
“Apanya yang tunggu. Kau yang merusak segala rencana”
“Aku terpaksa mendajului omong dengan teman-teman
karena kau selalu ragu-ragu dalam memberikan keputusan untuk
ikut serta. Aku sudah beberapa kali mengajak kau omong. Tapi kau
selalu mengelak memberikan jawabanyang pasti dan ingin
memutuskan sendiri untuk mengajak teman-teman yang banyak.
Coba kau pikir, apa kata komandan kalau rencana ini tercium. Kau
tahu, komandan sudah mencurigai kita. Aku sudah pernah ditanya,"
Hendro kaget.
“Komandan curiga?”
“Ya”
Perubahan terjadi pada wajah Hendro. Masalah inilah yang
paling ditakuti sebelum rencananya tersusun rapi! Mayor Mangku
memang punya kharisma besar, meskipun diakui kurang berwibawa
dalam menghadapi Belanda. Ia begitu tegas mengendalikan anak
buah dan menghukum anak buah tanpa pandang bulu. Tanpa berpikir
apakah anak buah yang melakukan kesalahan itu anak buahnya yang
lama bergabung sejak dari Jombang atau yang baru seperti Hian
Biauw yang ketemu sewaktu perjalanan balik dari Mojokerto.
“Komandan bilang sendiripadamu?" tanyanya kemudian.
“Komandan mencurigai ada yang ingin memberontak,"
lantas apa jawabmu.

198
“Aku bilang, tidak! Karena saat itu aku memang belum
memutuskan untuk 100% bergabung dengan dirimu”
“Sekarang kau sudah memutuskan untuk bergabung?”
“Sekarang kau yang merusak rencana kita sendiri”
“Apa kata komandan selanjutnya?" tanya Hendro sengaja
mengalihkan pembicaraan yang memfokus pada kesalahan yang ada
pada dirinya, karena mengajak teman-teman terlalu banyak untuk
bergabung.
“Aku kira komandan baru pada taraf curiga. Karena teman-
teman selalu menghindar kalau komandan mendekat”
“Betul”
“Itu perasaanku. Tapi kalau kau ingin meneruskan rencana
gilamu, kau harus hati-hati," lalu Hian Biauw meninggalkan Hendro.
Ia ingin menjumpai Latifah yang sejak peristiwa dulu itu, di bawah
kerindangan pohon di saat hujan yang lebat selalu menjauh dari
dirinya. Seolah Latifah sengaja tidak mau bertemu. Seolah sengaja
menghindar.
Lantas ia pun membalik berjalan ke arah lain. Ia jadi bingung.
Bagaimana ia bisa mengatakan kepada dua belas yang lain kalau
mereka tak boleh bergabung. Apakah ia akan mengatakan bahwa
Hian Biauw cuma bilang tiga orang. Lantas apa kata orang tentang
dirinya, yang terpengaruh oleh Hian Biauw.

****

199
42

Seperti yang diduga Hian Biauw, Latifah berada di rumah
Cokro, sedang bermain dengan keluarga itu. Ada sembilan anak
keluarga itu. Semuanya masih kecil. Anak ketiga dan keempat lahir
dalam tahun yang sama. Inilah sebenarnya problem orang desa. Anak
terlalu banyak. Makan yang dananya tidak pernah membengkak tiap
tahun harus dibagi dengan mulut yang lebih banyak. Hingga tiap
orang akhirnya cuma mendapat sesuap saja. Mereka harus merasa
kenyang dengan pembagian yang kecil itu.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dalam situasi seperti
sekarang, di mana hasil panen mereka tidak bisa dijual. Keluarga
Cokro ini menurut pendapatnya akan bertambah terus tiap tahun.
Tak ada yang menge “rem” mereka. Alam tak sanggup. Karena
nampaknya, berkumpul suami istri itu merupakan puncak
kebahagiaan yang bisa mereka raih di dunia ini. Karena apa yang
terjadi besok, tak seorang pun bisa meramalkan. Wajah Latifah
bersemu merah ketika menatap Hian Biauw yang juga
memperhatikannya.
Anak-anak Cokro “semburat” lari masuk. Tinggal Latifah
dan Hian Biauw yang cuma punya dua kursi dan bale-bale untuk
tidur sekeluarga.
“Yuk kita jalan-jalan," ujar Hian Biauw.
“Ke mana? Ke Candi Jawi lagi?”
Tak ada jawaban. Hian Biau kemudian cepat menarik tangan
Latifah dan diajaknya keluar dari rumah. Di pelataran ia bertanya:
“Mengapa kau menghindar terus”
“Lantas kau mau apa?”
“Aku ingin kau ikut bergabung”
“Tidak Biauw. Tidak. Itu satu hal yang sebenarnya aku takut
kau tanyakan. Aku tak mungkin ikut dengan kalian”

200
“Mengapa?”
“Bapakku seorang pegawai negeri. Ia dokter. Ia taat pada
atasan dan aku ingin mewarisi sikap bapakku. Di mana pun juga.
Sesudah keadaan mapan, ayah dipindah dan ayah menurut. Bertahun-
tahun dipindah dari satu kota ke kota yang lain, dan ayah menurut.
Menurut tradisi keluarga kami, kepatuhan adalah satu pengabdian
yang luhur”
Hian Biauw diam. Langkahnya satu-satu mengikuti langkah
Latifah. Kepatuhan terhadap atasan. Itulah sikap priyayi. Sikap orang
Jawa yang bekerja di gubernemen.
“Kau tahu instruksi dari pusat yang tadi pagi diterima
komandan?" tanya Latifah memecah kesunyian.
“Tidak”
“Komandan sebenarnya mencari kau tadi pagi. Kau
menghilang terus”.
“Kau tentunya tahu di mana aku berada. Aku tadi ke Trawas”
“Jadi aku harus tahu di mana kau berada”
“Aku cuma bilang, mestinya kau tahu. Kita sering ke sana
bukan”
“Tak ingin tahu apa instruksi dari pusat?" pancing Latifah
bertanya.
“Kalau aku boleh tahu dari kau”
“Dari kau sama saja. Paling hanya himbauan agar kita tetap
sabar dan memuji sikap kita yang setia pada instruksi pusat. Iya,
kan”
“Tidak. Kali ini bukan itu. Kali ini ada kabar gembira.
Semestinya juga untuk kau”
“Jadi pemerintah pusat sudah memastikan bahwa bakal ada
perdamaian”
“Lebih jauh dari itu”
“apa”

201
“Bahwa kita-kita yang sekarang berada di front oleh
pemerintah diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah lagi kalau
mau. Yang sudah pernah di HBS ujian persamaan sekolah lanjutan
atas. Yang dulu di Mulo boleh persamaan dengan sekolah lanjutan
pertama. Mengambil yang bagian atas pun boleh asal berani. Menurut
komandan ini cuma sekedar prasyarat saja. Sebab tujuannya agar
kita bisa melanjutkan di pendidikan tinggi. Prioritas diberikan kepada
mereka”
“Pendidikan tinggi," ujar Hian Biauw seperti pada diri
sendiri. Ia kemudian duduk di bawah pohon, di tepi jalan. Patroli
Belanda sudah tak mungkin lewat kalau sudah malam begini.
“Kau tidak tertarik?" tanya Latifah tetap berdiri.
“Tidak”
“Lantas apa yang kau maui?”
“Bertempur terus sampai Belanda hancur dari bumi ini.
Kalau tidak, mereka pasti akan kembali lagi”
“Itu bukan urusanmu”
“Itu urusanku”
“Bukan. Tanah air ini bukan milikmu”.
“Latifah," ujar Hian Biauw tersinggung lalu berdiri dan
memegang bahu Latifah.
“Omonganmu menyakitkan hatiku”
“Kau yang harus sadar Biauw. Jika kau ingin berbuat banyak
untuk negeri ini, kau harus menurut apa yang dimaui negeri ini,
pemerintah negeri ini. Bukan menurut kehendak Hendro atau
kehendakmu sendiri”
“Kau tidak bisa bilang begitu, Latifah," ujar Hian Biauw
seolah ia benar-benar sangat menyesal akan apa yang telah diutarakan
oleh Latifah. Lalu lanjutnya:
“Kau mungkin tak menyadari, bahwa aku sangat mencintai
negeri ini. Aku memang orang Tionghoa. Orang boleh saja bilang

202
Tiongkok adalah negara tumpah darahku. Tapi aku tak pernah
mengenal negeriku itu. Aku pun tak mengenal bahasa mereka. Negeri
ini, Jawa. Aku kenal dengan baik. Sejak kecil aku berada di Jalan
Kapasan. Bermain dengan teman sebaya. Melihat keramaian di
Klenteng Dukuh dan Bio di Kapasan. Aku sejak kecil sudah menjadi
bagian dari negeri ini. Kemudian aku ikut berjuang, bertempur, dari
yang semula tak punya keyakinan, sampai sekarang dengan
keyakinan yang penuh bahwa aku berjuang untuk sesuatu yang
luhur...”
“Sampai sebulan yang lalu, Biauw. Sampai saat sebelum
Hendro mengajak kau bergabung. Sesudah itu kau adalah
pengkhianat perjuangan ini”
“Pengkhianat? Aku Fah? Aku pengkhianat”
“Ya”
Semuanya kemudian diam. Tuduhan Latifah terlalu berat.
Seperti dulu-dulu, ia ingin sahabatnya ini tidak melakukan sesuatu
yang konyol. Yang mungkin saja merugikan kepentingan seluruh
pasukan dan kepentingan pribadinya sendiri. Sebagai perempuan ia
bisa memaklumi keheroikan kawan-kawan yang lain. Tapi berbuat
sesuatu yang bertentangan dengan instruksi pusat adalah satu dosa
besar. Bahkan mungkin bisa mengacau seluruh diplomasi yang
sekarang sudah mendekati penyelesaian. Dulu iasangat mengagumi
Hian Biauw. Ia yang punya pemikiran yang luas berkat banyaknya
buku yang dibaca. Mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dari
rata-rata kawan-kawan yang lain. Tapi sekarang, ia tidak bisa
mengerti, mengapa Hian Biauw jadi latah. Mempunyai anggapan
seperti yang diutarakan di candi Jawi, justru sebagai orang Tionghoa
ia harus berbuat nekad. Mengapa? Mengapa? Mengapa?
“Kau akan membocorkan rahasia kita kepada komandan?
tanya Hian Biauw.
“Tidak. Itu urusan kalian”

203
Dalam kemarahan, Latifah makin memperlihatkan wajah
yang serius. Punya wibawa dengan sinar matanya yang tajam. Terbit
kembali rasa sayang dalam hati Hian Biauw. Dan tiba-tiba saja
terluncur kalimat:
“Aku cinta padamu, Fah. Ikutlah bergabung," lalu ia berusaha
memeluk Latifah. Tapi Latifah lari seraya berkata: Tidak! Tidak!
Tidak.... Malam makin sunyi!
****
Seperti yang dikatakan beberapa saat yang lalu, Hendro
berhasil menemui Hian Biauw yang sejak lama duduk berkemul
sarung.
“Aku baru bertemu dengan komandan," ujarnya seraya
duduk di muka Hian Biauw.
“Komandan mencari kau. Ada berita dari pusat”
“Aku sudah tahu”
“Dari Latifah?”
“Ya”
Hendro diam. Ada rasa iri sebenarnya dalam hati kecilnya.
Perempuan yang satu ini amat dekat dengan laki-laki yang duduk
masa bodoh di mukanya. Laskar wanita memang bukan Latifah
seorang. Ada empat orang. Tapi yang menarik perhatiannya cuma
Latifah. Sayangnya, gadis ini lebih menyukai orang lain dan selalu
menjauh kalau didekati.
“Aku sudah mengajak Latifah meninjau candi Jawi.” Tiba-
tiba Hian Biauw menyahut. Berita ini benar-benar mengejutkan
Hendro.
“Kau pernah menyidik kesana? Baru-baru ini?”
“Ya”
“Apa pendapatmu?”
“Tempat itu sama sekali tidak strategis”

204
“Kau cuma sekali disana. Tapi aku sudah sering
memperhatikan patroli Belanda siang hari”
“Tempat itu terlalu terbuka dan dekat tempat itu banyak
perumahan penduduk. Seperti dulu yang pernah kubilang, rakyat
juga yang nanti akan jadi korban. Lantas dengan senjata apa kita
gempur panser Belanda. Dengan granat buatan Tulungagung yang
kita lempar dengan tali itu? Yang belum tentu meletusnya itu?”
“Kita serang dengan persenjataan yang baru diterima
komandan”
“Gila. Itu artinya kita juga merampok senjata”
“Lebih baik daripada disimpan di kakus penduduk”
“Kalau kau mau, kita serbu Pandaan," tiba-tiba ujar Hian
Biauw seraya berdiri.
“Kita serbu Belanda disana dan kita hancurkan di sana. Dari
sana kita lari ke Trawas dan berpencar”

205
43

Hendro kini benar-benar terkejut. Tak pernah terpikirkan
untuk menyerbu markas terbesar Belanda yang ada di Pandaan. Di
situ pusat Belanda sebagai tempat yang strategis untuk menyambung
dengan Pasuruan, Surabaya dan Malang.
Karena Hendro masih diam, Hian Biauw berkata lagi.
“Karena itu jumlah kita harus kecil, tidak boleh besar.”
“Kau maksud, kita akan jibaku?”
“Tidak. Tapi kita susun strategi yang matang. Didi bisa kita
utus untuk menyidik ke sana. Nanti berdasarkan laporan Didi kita
susun kembali strategi yang baru. Yang pertama harus kita sepakati
ialah: Kita serbu Belanda dan bukan menghadang Belanda. Kau
setuju?”
“Kita harus merundingkan strategi dengan teman-teman
lain," jawab Hendro. Masalah penyerbuan Pandaan ini sungguh
merupakan hal yang amat baru baginya. Sama sekali tidak pernah
terpikirkan olehnya. Juga mungkin teman-temannya tidak pernah
mempunyai pikiran untuk menyerbu markas Belanda. Hendro seperti
yang diketahui memang belum pernah enghadapi peperangan yang
total. Menurut pertimbangannya, Belanda cukup disergap saja.
Gagasan Hian Biauw, yang sebenarnya merupakan gagasan Latifa,
adalah gagasan yang luar biasa hebatnya. Tapi sanggupkah mereka
lakukan? Atau? Beranikah ia melakukan hal tersebut? Ia tak berani
menjawabnya. Seperti yang sering diwejangkan komandan. Semua
dari kita tidak punya pengalaman tentang perang. Pahlawan dalam
satu hari karena adanya kesempatan dan mukjizat. Mukjizat, karena
pilihannya untuk menjadi pahlawan dan tewas terselubung tirai yang
sangat tipis. Situasinya bukan lagi 50% lawan 50%, tetapi 90% tewas
lawan 10% jadi pahlawan.

206
“Apakah kawan-kawan mau menyerbu Pandaan," akhirnya
ia berkata.
“Bukan soal mau atau tidak, tapi soal berani atau tidak”
“Kau kira aku takut”
“tidak”
“Kalau begitu mengapa tidak kita musyawarahkan bersama
kawan-kawan”
“Makin banyak yang memberikan andil pemikiran,
masalahnya makin menjadi kacau. Dalam situasi seperti ini, harus
ada seseorang yang punya ide lalu ada yang menyokong dn kemudian
saling mendukung dan saling mengisi”
“Aku belum punya gagasan. Idemu terlalu mendadak”
“Lantas kalau melaksanakan idemu bagaimana”
“Aku cuma punya siasat untuk menyergap patroli Belanda
pagi hari sesudah hujan lebat malam hari”
“Kalau malam hari tidak hujan.. kita tidak akan pernah bisa
menyergap Belanda. Begitu kan siasatmu? Itu siasat yang gila. Kau
kira bertempur dengan Belanda bisa distrategikan secara main-main
begitu. Lantas kita sergap dengan trek bom yang ditarik dengan tali..
kalau tidak meledak, kita semua yang konyol...”
Sebenarnya pemikiran Hendro tidak konyol. Begitulah
pejuang-pejuang itu. Mereka sebenarnya bukan tentara yang
profesional. Mereka amatiran. Melalui pengalaman perang mereka
menjadi dewasa. Tapi kedewasaan Hendro tidak pernah tercapai.
Selama bergerilya, tidak pernah ada pertempuran yang berarti. Cuma
saling senjata di malam hari, untuk membingungkan Belanda yang
ada di Pandaan. Mereka memang masih anak-anak. Belanda memang
meremehkan mereka. Terlalu meremehkan. Belanda sering
membayar mahal untuk sikap meremehkan bocah-bocah kecil yang
dikatakan seharusnya menyusu pada ibu mereka itu.

207
“Terlalu resiko. Sama-sama. Punya resiko kita harus
menyerbu Belanda di pusatnya. Kelak kalau kau dan aku sama-sama
selamat, aku akan memberitahukan kau siapa sebenarnya yang punya
ide brilyan itu”

****

Deglok diputuskan bebas. Langkah awalnya sesudah keluar
dari tahanan adalah mandi di pantai Kenjeran. Ada kepercayaan
bahwa orang yang baru keluar dari tempat tahanan haandi di laut.
Membuang semua pakaian yang dipakai. Mengganti dengan pakaian
yang baru, yang dibawa dari rumah. Orang keluar dari rumah tahanan
pun tidak boleh membalik ke belakang, melihat teman-teman yang
mengantarkan dengan penuh isak air mata. Mereka yang ditinggalkan
Deglok merasa kehilangan. Meskipun tidak lama, tapi Deglok
berhasil mendapat simpatik para hukuman dan tahanan yang ada di
Kalisosok. Deglok dengan semua uang sumbangannya memang
banyak mentraktir teman-teman senasib. Semua itu harus
ditinggalkan.
Setelah mandi di pantai Kenjeran, naik perahu rakyat sampai
jauh ke tengah, ia kemudian kembali ke pantai dan makan lontong
balap bersama keluarga. Dari sana ia mengunjungi rumah Mayor
Phe. Orang ini yang diketahui berperan banyak dalam
pembebasannya. Sampai hakim kemudian berhasil memutus bebas.
Mayor ini pula yang memberikan pembela yang kesohor dan terkenal
mahal bayarannya Meester Grenades. Pengacara tua yang sudah
pensiun yang sekarang membuka kantor advokat di Surabaya.
Sebenarnya pengacara itu tidak secara resmi membuka kantor. Cuma
banyak orang Tionghoa yang kaya yang meminta jasanya untuk
perkara yang dihadapi mereka. Mayor Phe kenal baik dan karenanya
ia pun meminta jasanya untuk membela Deglok. Tentu dengan
meminta imbalannya yang banyak. Karena Deglok mestinya paling

208
sedikit dihukum 20 tahun. Kalau tidak dihukum mati. Deglok sendiri
beranggapan bahwa sedikitnya ia akan mendekam di penjara sampai
sepuluh tahun lebih. Bahwa ia bisa bebas, ia sangat bersyukur atas
jasa baik Mayor Phe.
“Maafkan, saya tak bisa membantu Baba Mayor dengan
berhasil," katanya setelah memberi hormat dengan menyoja Mayor
Phe.
“Silakan duduk, saya yang meminta maaf karena terlalu
menyusahkan Baba. Apa keluarga Baba semuanya dalam keadaan
baik-baik”
“Terima kasih Baba mayor terlalu memperhatikan keluarga
saya. Sekarang apa yang saya dapat perbuat untuk membalas budi
Baba Mayor”
Ditanya begitu, Mayor Phe tidak segera memberikan
jawaban. Seperti orang lain, sungguh heran, mengapa laki-laki yang
cacat tubuh ini ternyata bisa begitu cekatan dalam mempergunakan
senjata sehingga dalam sekejap bisa membunuh tiga orang lawannya.
“Tidak ada yang perlu Baba lakukan saat ini. Saya sudah
gembira Baba tidak mendapat cedera dan gangguan selama di
penjara. Apa yang mau Baba lakukan sekarang ini?" tanya Mayor
Phe kemudian.
“Kalau tidak ada kerja di sini, saya ingin buat sementara
waktu ke Batavia.”
Deglok masih menyebut Batavia untuk kota yang sekarang
sudah disebut Jakarta.
“Baba mau kesana?" tanya mayor Phe lagi.
“Iya. Ada surat kabar yang ingin memuat cerita saya sebagai
cerita bersambung. Maksudnya bukan cuma yang berkenaan dengan
urusan Baba Tan, melainkan riwayat hidup saya yang mereka kenal
sebagai Buaya Kapasan. Rupanya gelar Buaya Kapasan itulah yang
ingin mereka ketahui. Saya sendiri membutuhkan banyak waktu
untuk bisa bercerita tentang semuanya”

209
44

“Mayor tahu tentang sejarah Buaya Kapasan?”
Mayor Phe hanya menggelengkan kepala ia kemudian
berkata:
“Kau harus hati-hati di Jakarta. Sekarang jaman sedang
bergolak. Kapan kau berangkat?”
“Mungkin minggu depan. Banyak kawan-kawan yang ingin
menitipkan modal mereka kepada saya untuk dipergunakan di
Batavia. Katanya di sana memutar uang lebih gampang daripada di
daerah”.
“Kau mau berdagang juga di sana?”
“saya sudah tua Baba mayor, saya tidak bisa jadi jagoan terus
menerus. Karenanya ketika satu dua orang ada yang titip uang, saya
terima. Mungkin dengan modal itu saya bisa mengembangkan
kemampuan dagang saya. Baba Mayor sependapat kalau saya
berdagang dan bisa berhasil ?”
Mayor Phe tersenyum. Itu pertanyaan yang sering diajukan
orng kepadanya. Orang Tionghoa dianggap lihai dalam berdagang.
Padahal kalau disebut lihai, itu mestinya berkenaan dengan
kemampuan yang mendalam tentang satu persoalan. Tapi orang
tionghoa berdagang tampaknya seperti mereka itu punya kemampuan
sejak lahir. Itu yang tampak dari luar sehingga orang yang punya
anggapan yang salah terhadap orang Tionghoa. Semua orang
Tionghoa kemudian dianggap bisa dagang. Dan lucunya, semua
orang Tionghoa sendiri juga mempunyai anggapan begitu. Padahal
modal utama dari orang tionghoa yang sukses dalam dagang adalah
dengan modal kejujuran saja. Cuma itu. Soal keuletan, siapa saja
bisa ulet kalau melihat usahanya ada hasilnya. Kalau orang melihat
usahanya tak memperoleh hasil, juga akan merasa bosan dan tidak
ulet lagi. Jadi modalnya cuma satu itu. Jujur. Seringkali orang

210
Tionghoa memulai usaha dagangnya dengan modal nol. Cuma
berdasarkan kepercayaan saja. Barang boleh dibawa dulu, bayar
kemudian. Tapi orang tionghoa kalau memperoleh kepercayaan bayar
dulu, tidak kemudian lari barangnya laku. Begitu lagu, ia cepat
membayar sehingga mungkin saja yang meminjamkan barang jadi
kaget. Kok cepat membayarnya. Lantas si pemilik barang juga makin
percaya. Barang yang boleh dibayar belakang makin banyak boleh
dibawa. Si orang Tionghoa juga makin gesit dalam usaha. Ia tak
ingin menyalahgunakan kepercayaan itu. Sen demi sen ia simpan
dan tabung. Akhirnya kalau ia sudah punya uang kontan sendiri, ia
datang kepada si pemilik barang. Ia akan membayar kontan. Kaget
lagi si pemilik barang. Karena kaget itu tadi bercampur dengan
kegembiraan melihat orang yang ditolongnya berhasil, ia pun
memberikan potongan yang banyak untuk pembelian kontan. Si
orang Tionghoa makin giat lagi dalam bekerja. Keuntungan makin
banyak didapat dan begitu seterusnya. Tak ada yang
menyalahgunakan kepercayaan, itulah mungkin modal utama orang
dagang dalam bentuk manajemen yang bagaimana pun juga. Modal
ini tampaknya akan berhasil dikembangkan oleh Deglok. Mayor Phe
sudah merasakan sendiri betapa Deglok sangat mempercayai harga
dirinya dan bisa menyimpan rahasia orang yang menyuruhnya dalam
kasus Baba Tan. Kalau ia mau, ia tentu saja bisa melibatkan Mayor
Phe. Sejak awal ia bisa berbuat demikian. Tapi semuanya itu tidak
dilakukan. Karena ia menjaga nama baiknya sebagai Buaya kapasan
yang kesohor bisa pegang janji.
“Kau pasti berhasil dalam berdagang," kata Mayor Phe
kemudian memberikan kepastian kepada Deglok.
“Apakah Baba Mayor tidak perlu berpesan kepada kawan-
kawan yang tergabung dengan Poh An Tui di jakarta," tanya Deglok.
Mayor Phe terkejut. Ia sebenarnya tak punya hubungan
dengan mereka. Deglok kemudian berkata dengan semangat:

211
“Saya nanti akan memberitahu kepada mereka kalau Baba
Mayor sebenarnya sudah ingin membantu mereka. Bahwa Baba
Mayor ditipu sesama Tionghoa. Ini semua harus mereka ketahui dan
mereka akan percaya apa yang saya utarakan. Lantas Deglok berdiri.
Tiba-tiba saja ia bersoja dan “kui” (berlutut) di hadapan Mayor Phe
yang duduk dengan anggunnya.
“Eh... eh... kenapa Baba berbuat demikian," ujar Mayor Phe
kemudian ikut berdiri dan mengangkat Deglok yang terus saja “kui”
di hadapannya.
“Anak istri dan saya sendiri sangat berhutang budi. Banyak
sumbangan yang kami terima dari teman-teman Baba Mayor yang
sebelumnya tidak saya kenal. Mereka rela membantu saya, orang
yang termasuk jelek dalam masyarakat pergaulan, karena baba
“merekomender” diri saya sebagai laki-laki yang baik...”
“Kau memang laki-laki yang ...," ujar Mayor Phe. Tak
diteruskan omongannya karena kemudian ingatannya melayang jauh
ke anaknya sendiri. Anaknya adalah laki-laki yang baik. Dan berani.
Dari mayor Mangku ia mendengar bahwa anaknya sebelum
mengungsi pernah menghancurkan pasukan Belanda di pertigaan
Praban Tunjungan. Ia dulu pernah mendengar pula berita itu. Tapi
tak pernah menduga bahwa yang melakukan itu adalah anaknya dan
temannya Effendi. Dua-duanya sangat dikenalnya. Yang satu anaknya
yang satu lagi sahabat anaknya yang sering berkunjung ke rumah.
Akhirnya Mayor Phe Berkata :
“Kalau kau pertahankan sifatmu seperti yang sekarang setia,
kau pasti berhasil di Batavia. Tapi ada satu hal yang harus Baba
ingat. Dunia sekarang sudah berubah. Kita harus pandai-pandai
menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru dan jangan bermimpi
untuk datangnya jaman keemasan tempo dulu. Tempo dulu kita
dagang dengan punya hak istimewa dari Belanda. Hak monopoli

212
candu dan garam rakyat.” Yang disebutkan terakhir ini mengingatkan
Deglok kepada kenyataan sejarah.
“Apakah semua hak-hak istimewa itu yang melahirkan
buaya-buaya Kapasan Baba Mayor," katanya.
“Bukan itu yang melahirkan Buaya Kapasan. Buaya Kapasan
sudah ada sejak lama. Jauh sebelum kita memperoleh hak-hak
istimewa dalam perdagangan. Hak istimewa baru saja. Tapi hak
monopoli sudah lama kita pegang. Misalnya hak monopoli pembelian
beras dan itu berlangsung ketika rumah sakit simpang di gubeng
masih menjadi gudang beras orang Tionghoa yang kaya. Buaya
Kapasan lahir karena istilah itu diberikan kepada kita oleh bangsa
Belanda. Belanda saat itu selalu mempersulit keadaan gerak-gerak
Tionghoa. Untuk bepergian malam hari, dari blok satu ke blok yang
lainnya sering kali dipersulit. Harus ada surat pas. Untuk itu orang
Tionghoa harus membayar cukup banyak. Yang tidak mau membayar
mendapat perkelakuan yang tidak wajar. Dipukul dan dihajar. Banyak
orang Tionghoa yang mengalami nasib sial gara-gara pas jalan itu.
Terutama mereka yang berdagang “klontong," yang hidupnya
memang harus keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini
yang tidak dikehendaki pemerintah Belanda. Orang Tionghoa harus
tinggal dalam satu kantong yang mereka beri nama Pecinan. Tempat
orang Tionghoa berkumpul. Dengan demikian anggapan orang
Belanda, orang Tionghoa paling gampang diurus. Untuk itu pula
mereka diberi pemimpin sendiri agar mereka bisa mengurus
kellompok mereka sendiri. Agar orang Tionghoa tidak menjadi beban
baru pemerintah Belanda yang sudah mulai repot menghadapi
semangat kebangsaan yang makin lama makin naik suhunya, kian
hari kian memuncak. Meskipun dalam hal ini para pemimpin mereka,
antara lain Soekarno sudah mereka tangkap dan dipindahkan ke lain
pulau.

213
45

Karena perlakuan yang kasar dan tidak adil itulah timbul
dan munculnya buaya-buaya Kapasan. Mereka inilah yang jadi
semacam Robinhood untuk menolong orang-orang tionghoa yang
mendapat perlakuan tidak enak dari orang Belanda. Juga mereka ini
yang jadi pembela orang tionghoa kalau menghadapi kesulitan dalam
menjalankan monopoli garam dari orang-orang Madura yang hendak
berdagang nakal dan tidak mau menyetor semua hasil garam mereka
kepada gubernemen. Semestinya urusan ini kalau ada yang nakal
menjadi urusan pihak Belanda. Mestinya pihak Belanda yang
membereskan. Tapi dalam hal ini Belanda tidak mau ikut campur.
Belanda ingin sengketa itu diselesaikan oleh mereka sendiri atau
berlanjut menjdai sengketa berdarah. Mulanya, hanya sebagai
pedagang, orng tionghoa takut menghadapi orang Madura. Karena
mereka ini terkenal garang dan suka main celurit. Tapi kemudian,
ketika buaya-buaya Kapasan muncul sebagai pembela kaum
pedagang dengan imbalan tertentu, orang tionghoa mulai mampu
mengatasi hak monopoli garam dengan menguntungkan.
Sebelumnya sama sekali tidak menguntungkan, tapi orang tionghoa
tetap harus membayar pajak yang tinggi untuk monopoli garam itu.
Yang menguntungkan adalah hak monopoli candu itu. Sepenuhnya
sekarang perdagangan itu tergantung adri bantuan buaya Kapasan.
Baik sebagai penunjuk jalan, maupun sebagai penjaga mereka, dari
pemerasan orang madura ataupun dari Belanda sendiri”.
Keterangan Mayor Phe tentang bagaimana asal mulanya
kelahiran buaya Kapasan itu sangat berfaedah bagi Deglok. Karena
ia sendiri, meskipun terlibat dalam nama itu, sama sekali tidak
mengetahui bagaimana sejarah yang sebenarnya dari organisasi yang
tidak punya bentuk itu. Tak punya bentuk, karena orang tak tahu
siapa sebenarnya ketua dari kelompok itu. Hanya tiba-tiba saja

214
Deglok dianggap sebagai ketuanya dan semua anggotanya, terdiri
dari orang-orang yang menggantungkan nasib hidupnya dengan
kekuatan tangan dan kakinya, alias berkelahi, semuanya mematuhi
perintahnya dan semuanya rela membayar upeti kepadanya.
Sayangnya Deglok yang tidak mempunyai dasar pendidikan
sekolah yang baik, karena ia sejak kecil sudah yatim piatu, tidak
bisa me “rem” apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak boleh
dikatakan. Secara tidak sengaja, ia bercerita tentang usaha mayor
Phe dalam mencari senjata untuk kelompok Poh An Tui yang ada di
Jakarta. Padahal di Jakarta dan sekitarnya baru saja terjadi insiden
antara para pejuang dan kelompok Poh an tui ini, yang dituduh jadi
antek Belanda. Mayor Phe yang berkat keterangan tak sengaja dari
Deglok kini menjadi orang yang termasuk dalam “blacklist”. Orang
yang termasuk dalam daftar hitam. Sekarang orang tahu bahwa
organisasi yang masih muda itu mendapat bantuan senjata dari orang
tionghoa yang ada di tempat lain. Artinya mereka mempunyai
simpatisan dimana-mana. Padahal dalam soal Poh An Tui itu tadi,
mayor Phe tidak tahu apa-apa. Apa yang dahulu diceritakan pada
Deglok hanyalah satu alibi yang dibuat-buat untuk mengelabui
Deglok. Untuk memberikan alasan yang bisa masuk akal sehat
mengapa ia sampai bertengkar dengan Baba Tan. Di beberapa tempat,
seperti di luar Jawa misalnya Sumatra Utara, Poh An tui memang
bukan bentukan Belanda tetapi reaksi spontan dari masyarakat
Tionghoa untuk menjaga kampung halaman. Dalam hal ini mereka
seia sekata dengan para pejuang bahkan sangat membantu. Tapi di
beberapa daerah di Jawa misalnya, memang ada bentrokan fisik dan
ini sangat tidak menguntungkan Mayor Phe yang dalam hal ini oleh
para pejuang dianggap sebagai antek Belanda karena membantu Poh
an tui bikinan Belanda dengan senjata. Mereka tentunya tidak pernah
tahu latar belakang yang sebenarnya. Juga tak pernah tahu, apakah
senjata itu pernah terkirim atau tidak. Yang jelas adalah, Deglok

215
makin keras berbicara di Pers Melayu Tionghoa di Jakarta. Ia
menceritakan tanpa sengaja “keheroikan” Mayor Phe membantu Poh
an tui dengan senjata. Maksud Deglok sendiri baik. Ia ingin
mengangkat nama Mayor Phe agar lebih terhormat lagi.
Lupa bahwa di satu pihak lainnya secara tidak sadar, ia telah
membuat Mayor Phe dicurigai. Dan itu harus dibayar mahal oleh
Mayor Phe.
Satu hari, ketika ada tiga orang pejuang yang marah karena
pemberitaan pers Melayu Tionghoa yang menyebut perbuatannya
membantu Poh An Tui dengan penuh semangat, datang ke rumahnya
dan menembak istrinya..... Perempuan yang anaknya berjuang untuk
kepentingan tanah air yang baru merdeka ini tertembak di perutnya
dari jarak yang sangat dekat. Dokter berusaha menyelamatkan. Tapi
dalam situasi yang gawat seperti sekarang ini, di mana bisa didapat
obat-obatan, apalagi untuk keperluan operasi? Tak masuk akal
memangnya. Perempuan yang begitu baik, yang merelakan anak
tunggalnya berjuang untuk kepentingan negeri yang semula cuma
dianggap sebagai negeri klas dua, kini harus menghadapi kenyataan
melawan maut, karena ditembak pejuang yang ekstrem, karena
beranggapan bahwa keluarga inilah yang jadi biang keladi
pengiriman senjata ke Jakarta untuk dipergunakan Poh An Tui
melawan para pejuang.
Seminggu kemudian orang mendengar kabar tentang
kematian Nyonya Phe. Berbondong orang datang maisong dan ketika
upacara penguburannya yang diadakan hari minggu, ribuan orang
melayat. Upacara ini menunjukkan pula kebesaran keluarga tersebut
dalam masyarakat tionghoa. Pejabat Belanda yang masih tersisa hadir
dalam upacara penghormatan terakhir. Pejabat sipil dan militer Jawa
Timur hadir. Mereka ini yang paling tahu kedudukan Mayor Phe
yang sesungguhnya. Mereka ini sudah mendapat laporan secara
terperinci dari Mayor Mangku. Setiap orang merasa simpatik dan

216
pejabat yang ada di Jawa Timur selain hadir untuk menyatakan ikut
berduka cita juga ingin meminta maaf yang sangat mendalam atas
peristiwa yang terjadi hanya karena salah paham saja.
Kereta jenazah yang mestinya ditarik kuda kini dilayani
manusia. Pemuda-pemuda Tionghoa yang merasa simpatik dengan
nasib Nyonya Phe rela menggantikan kuda untuk menarik jenazah
itu. Mulai dari Jalan Kapasan sampai menuju peristirahatan yang
terakhir di kuburan Kembang Kuning. Sepanjang jalan yang dilalui
ribuan orang berdiri di pinggir jalan. Menurut orang yang
mengetahui, upacara ini merupakan upacara yang paling besar yang
pernah dilakukan oleh orang tionghoa. Upacara yang mendapat
simpatik dari kalangan masyarakat pada umumnya. Semua orang
boleh dikatakan keluar dari rumah masing-masing. Menuju ke jalan
yang bakal dilewati oleh iring-iringan kereta jenazah. Perjalanan
yang bisa ditempuh dalam waktu satu jam, kini sudah dua jam belum
separuh perjalanan ditempuh.

217
46

Perempuan yang anggun ini, meskipun kepergiannya ke
peristirahatannya yang terakhir diantar sekian ribu orang, terbaring
sepi di dalam peti mati yang terbuat dari kayu cendana yang wangi.
Mungkin saja, kalau ia masih bisa merasakan, ia merasa sesuatu
yang belum terpenuhi dalam hidup ini. Tak ada tangis dari manusia
yang bisa dikatakan sebagai anak kandungnya. Di saat ia rebah dalam
sebuah peti jenazah yang mahal harganya, di saat kereta jenazah
ditarik delapan pemuda Tionghoa yang kokoh tubuhnya, di saat itu
pula anak kandungnya, anak tunggalnya meledakkan sebuah trek
bom. Serbuan ke Pandaan ternyata benar-benar sudah dilakukan.
Ada rasa tidak enak dalam hati Hian Biauw kalau ia harus
meninggalkan induk pasukan secara diam-diam. Betapapun,
komandannya, Mayor Mangku, adalah seorang komandan yang
sangat memperhatikan dirinya. Juga terhadap semua anak buahnya
yang lain. Lebih-lbih setelah ada instruksi dari Pusat agar para
pejuang suka melanjutkan sekolahnya lagi. Satu per satu anak
buahnya diberi nasehat agar mau mempergunakan kesempatan itu.
Juga kepada Hian Biauw, nasihat yang sama diberikan:
“Kau harus bisa mempergunakan kesempatan itu baik-baik,"
ujarnya kepada Hian Biauw yang tampak diam membisu. Rasanya
seperti ada ganjalan yang besar dalam hatinya. Maju mundur.
Menurut pendapatnya, ia harus bercerita hal yang sesungguhnya
kepada Komandan. Biar nanti komandannya yang melapor kepada
kedua orang tuanya kalau ada nasib sial yang menimpa dirinya.
Karena terus terang saja, dalam hal kecilnya tak yakin bahwa mereka
akan bisa lolos. Meskipun seperti laporan Didi, Belanda tampaknya
kurang waspada menganggap situasi sudah tenang. Didi waktu itu
melapor sebagai berikut:
“Kita harus menyelundup terlebih dahulu sampai
diperbatasan perumahan orang-orang jompo. Di sana kita bisa

218
berlindung dengan aman. Pemimpinnya aku kenal baik. Masih bibi
ayahku.”
“Bagaimana peralatan kita bawa," tanya Hendro.
“Kita bawa turun satu-satu agar tidak terlalu menyolok dan
kita kumpulkan di sana," jawab Didi.
“Apakah kita tidak mencelakakan orang tua itu?" ujar Didi.
“Rumah itu oleh Belanda sudah tidak diperhatikan lagi.
Belanda hanya mengirim beras tiap akhir pekan. Lauk-pauk harus
mereka cari sendiri. Pokoknya disana tidak terjangkau oleh patroli.”
“Berapa orang tua yang dirawat di sana”
“Ada tiga puluh lebih”
“Kalau demikian terlalu riskan. Kita bisa membahayakan
mereka. Iya kalau perang kemudian benar-benar cepat selesai. Kalau
tidak, mereka bisa ditangkapi semua. Kita cari tempat bertemu yang
lain. Ada pandangan.”
“Ada, tetapi letaknya terlalu dekat dengan tangsi Belanda.”
“Tangsi yang sebelah mana?" tanya Hian Biauw.
“Yang sebelah timur, menuju ke Pasuruan”
Keduanya, Hian Biauw dan Hendro diam. Mereka saling
pandang. Didi memang sering disuruh komandan untuk menyidik
tempat yang bakal diserang. Didi sudah punya pengalaman
menyelundup ke daerah musuh.
“Kita berangkat langsung dari Prigen. Tak perlu menginap,"
tiba-tiba ujar Hendro.
“Kita akan kepayahan," ujar Didi.
“Tidak," sahut Hian Biauw.
“Usul Hendro bisa aku terima. Kita langsung saja dan besok
kita kerjakan semuanya. Hubungi teman-teman yang lain. Kita
berangkat besok satu-satu dan kumpul di pertigaan jalan...”
Semua itu terbayang satu-satu dihadapan Hian Biauw yang
sedang menghadapi komandan. Ada niat untuk pamit. Ia merasa harus
pamit. Tidak bisa mengkhianati begitu saja. Orang yang jadi

219
komandannya ini harus dihormati, betapapun juga misalnya ada
kelemahan yang ia tidak setuju.
“Komandan...," ujarnya. Tapi suara itu rasanya terhenti di
tenggorokan. Tidak bisa meneruskan. Mayor Mangku
memperhatikan. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal hati anak
buahnya yang satu ini.
“Katakan, apa yang mau kau katakan," ujarnya dengan nada
penuh kebijaksanaan. Hian Biauw tetap diam.
Mayor Mangku berkata lagi:
“Memang tidak enak kita berpisah sesudah berjuang bersama
dalam suka dan duka," Hian Biauw hanya mengangguk kepala dan
berkata lirih:
“Iya”
Diam lagi.
Akhirnya Hian Biauw memutuskan untuk tetap bercerita. Ia
harus mempunyai keberanian untuk bercerita. Waktunya sangat
terbatas. Besok operasi gila-gilaan itu sudah harus dilaksanakan.
“Kami akan memisahkan diri komandan," katanya.
Mayor Mangku tampaknya tidak terkejut. Biasa saja. Tak
ada perubahan pada dirinya. Cuma bibirnya bergerak sejenak. Tanda
ada kegetiran yang dirasakan dalam hatinya. Ia seperti yang pernah
diutarakan kepada Hian Biauw beberapa hari yang lalu, memang
sudah menduga ada apa-apa dalam pasukannya. Ia merasa bahwa
ada yang mau memberontak.
Cuma ia tak bisa menyebut siapa. Semula ia memang sangat
mengharapkan bahwa Hian Biauw tidak ikut terlibat. Karenanya ia
beberapa hari yang lalu merasa bersyukur ketika hian Biauw
menyebut dirinya tidak terlibat dalam gerakan siluman tersebut.
“Kau dulu bilang kau tidak terlibat," ujarnya.
“Dulu, memang belum saya putuskan," jawab Hian Biauw
menguatkan hatinya.
“Sekarang kau sudah pasti?”

220
“Sudah pasti komandan”
“Berapa yang terlibat dalam gerakan itu”
“Cuma lima”
“Cuma lima kau katakan. Satu nyawa sekarang ini amat
berharga”
“Iya cuma lima komandan”
“Siapa yang jadi pemimpin”
“Sudah kami putuskan tidak ada yang jadi pemimpin. Setiap
orang bertanggung jawab atas jiwanya sendiri, seperti yang sering
komandan pompakan kepada diri kami," jawab Hian Biauw.
“Apa yang dituju”
“Perang hampir usai dan kita ingin perjuangan kami punya
arti. Karenanya kami ingin menyerbu Belanda...”
“Di mana?”
“Di Pandaan komandan," jawab Hian Biauw. Ia sudah siap
menerima kritik dari komandan Mangku tentang “Keberanian Mati”
strateginya.
“Siapa saja yang ikut”
“Saya tak ingin memberikan nama, komandan”
“Lantas mengapa kau beritahukan semuanya kepadaku”
“Karena saya sangat menghargai komandan. Saya
beranggapan bahwa kita tidak boleh mengkhianati komandan”
“Apakah dengan bercerita saja sudah cukup?”
“Saya memang tidak bisa bercerita lain. Saya juga tidak bisa
mengkhianati kawan-kawan saya yang sudah saya setujui untuk
bergabung”
“Kau yang mengajak mereka atau kau yang diajak mereka”
“Mereka yang mengajak komandan. Tapi persoalannya
kemudian jadi lain. Saya memang setuju dengan rencana itu. Jadi
semuanya menjadi tanggung jawab saya sendiri”
“Mengapa yang lain tidak menghadap”

221
“Kita sebenarnya tidak mempunyai keberanian, atau.. kita
sebenarnya tidak sampai hati untuk meninggalkan komandan”
“Jadi maunya pergi diam-diam begitu saja," Tak ada jawab!
“Peralatannya?" tanya Mayor Mangku kemudian.
“Seadanya komandan”
Mayor Mangku berdiri, berjalan sambil memanggut-
manggutkan kepalanya.
“Itulah kelemahan kalian sebagai pejuang. Selalu ingin jadi
pahlawan dan ingin mati konyol tetapi kemudian di kubur sebagai
pahlawan”
“Saya bukan ingin menjadi pahlawan komandan. Saya ingin
memberi arti pada hidup saya”
“Arti yang lebih berharga dapat kau berikan kepada negeri
ini kalau kalian belajar lagi”
“Kami ingin memberikan arti pada perjuangan ini sendiri
komandan. Banyak di antara kawan-kawan yang tidak pernah
menikmati arti bertempur yang sesungguhnya...”
“Perjuangan sejak awal memang tidak ditargetkan untuk
bertemu secara terbuka. Itu mestinya sudah kalian mengerti”
“Kalian memang sudah mengerti komandan”
Diam lagi. Hening. Di luar hujan rintik membasahi bumi
dengan rata. Hawa dingin mencekam tubuh. Jika suasana terus
begini, perjalanan malam nanti akan lebih punya arti. Artinya lebih
banyak berhasilnya. Karena hujan rintik-rintik begini jarang ada
patroli Belanda dan semua penduduk lebih senang berada di dalam
rumah.

222
47

“Panggil yang lain," tiba-tiba perintah mayor Mangku
mengejutkan hati Hian Biauw
“Saya tidak bisa memberitahukan nama-nama mereka ,
komandan”
“Saya bilang panggil mereka, bukan tembak mereka”
“Jadi komandan memberi restu kepada rencana yang
komandan anggap gila?”
“Katakan semua dari kita ingin gila...,"
Lalu mayor Mangku diam!
Hati Hian Biauw tak terbilang bunganya. Ternyata
ketakutannya untuk mengutarakan hal yang sebenarnya kepada
komandan berakhir dengan baik. Ada restu. Restu ini pun sebenarnya
bukan restu dari komandan Mangku sendiri. Ada lampu hijau
memangnya dari pusat bagi mereka yang tidak mau memenuhi
panggilan untuk meneruskan pendidikan agar tetap tinggal di
Angkatan Perang. Restu ini juga berarti bahwa strategi peperangan
boleh ditentukan oleh komandan pasukan sendiri. Tidak terikat lagi
pada instruksi pusat cuma harus melapor pada kesatuan di daerah!
Soal pendidikan itu memang strategi pusat. Persoalannya pejuang
jumlahnya sangat banyak. Banyak juga yang sudah memperoleh
pangkat tinggi. Yang seperti Mayor Mangku banyak yang sudah
barang tentu sangat menyulitkan pemerintah. Sebab pejuang-pejuang
yang tadinya beasal dari pelajar-pelajar, memang sesungguhnya
bukan berasal dari tentara. Mereka ini diharapkan mau belajar lagi,
agar dengan demikian tidak menimbulkan masalah baru bagi
pemerintah. Tapi di samping itu, pemerintah juga menghargai jasa-
jasa mereka. Menyekolahkan mereka dengan memberikan beberapa
fasilitas kemudahan itulah upaya pemerintah untuk berterima kasih.
Laginya yang dari PETA dan KNIL hampir semuanya sudah berumur

223
tanggung. Niat untuk belajar lagi sudah berkurang. Mereka ini yang
diharapkan mampu menjadi tenaga inti Angkatan Perang.
***
Di luar dugaan Hendro, Didi, Slamet dan Teguh, Mayor
Mangku bahkan memberikan nasihat yang sangat berharga. Sebuah
surat dibuat dititipkan mereka jika mereka nantinya mau bergabung
dengan pasukan Jarot di Bojonegoro. Ini kalau penyerbuan mereka
dan masing-masing bisa meloloskan diri. Juga di luar dugaan mereka.
Mereka dibekali dengan amunisi yang cukup. Masing-masing orang
mendapat jatah yang kira-kira cukup untuk dibawa sendiri. Senjata
yang didapat Mayor Mayor Mangku dari Mayor Phe yang sampai
sejauh ini belum pernah dipergunakan secara terbuka menghadapi
Belanda. Bagi hian Biauw ada kelegaan tersendiri.
***
Malam terakhir setelah berbicara sampai larut malam dengan
komandan, keluar dari rumah komandan Hian Biauw melihat Latifah
menunggu. Tampaknya ia sudah lama menunggu di situ. Juga ia
sudah merasa bahwa penyerbuan oleh kawan-kawannya akan
dilakukan segera dalam beberapa hari ini. Karena itu ia menanti di
rumah komandan. Ia takut tak sempat lagi menemui hian biauw.
Kabar yang tersiar, dalam seminggu lagi pasukan akan turun ke kota.
Ini berarti bahwa mereka akan terpencar. Masing-masing dalam
waktu dekat akan pulang ke rumah masing-masing. Sendiri-sendiri
mereka akan mencoba pulang ke kampung. Kalau keluarga masih
ada, kalau belum tercerai-berai.
“Latifah, mengapa kau di sini? Mau ketemu komandan?"
tanya Hian Biauw.
“Tidak. Aku mau ketemu kau”
“Akhirnya semua beres," ujar Hian Biauw. Lalu ia
menceritakan semuanya. Bagaimana Mayor Mangku yang begitu
tegar hatinya jadi lunak ketika kawan-kawan mau menyerang pos

224
penjagaan Belanda di Pandaan. Bagaimana Mayor Mangku
membekali mereka dengan amunisi antara lain dengan granat Jepang
yang ampuh. Yang pasti meledak tidak seperti yang buatan
Tulungagung atau Mrican.
“Aku senang tak harus mengkhianati komandan," Hian
Biauw gembira.
“Lantas sesudah itu kapan kalian akan bergerak”
“Subuh nanti. Kami harus segera bertindak. Didi sudah
mendapat informasi terakhir bahwa Belanda juga sudah mengetahui
sejauh mana perundingan yang dicapai”
“Belanda sudah tahu bahwa perundingan sudah mendekati
selesai?" tanya Latifah.
“Ya. Mudah-mudahan ini bukan siasat Belanda lagi. Kita
sudah terlalu sering dikhianati Belanda dengan perundingan. Sejak
dari Perang Diponegoro sampai tahun-tahun terakhir, Belanda justru
bergerak saat perundingan diteken. Sekarang kita yang akan bergerak.
Ini yang disetujui Mayor Mangku...”
“Aku tak mengira komandan akan menyetujui begitu
gampang rencana kalian. Aku yakin komandan mempunyai siasat
lain?”
Hian Biauw terkejut. Sejeli itu pikiran Latifah. Satu hal yang
ia sendiri tak pernah berpikir. Ia yang kadang berpikir terlalu lugu
dan sederhana. Mungkinkah komandan mempunyai siasat tersendiri
dalam menghadapi rencana kawan-kawan dan ia sendiri? Dalam hati
ia berteriak. Tidak! Komandan tidak akan menyiasatinya. Komandan
pasti tidak akan mengkhianatinya. Apalagi, lima orang yang
tergabung itu adalah anggota pasukannya yang terbaik, meskipun
kadang-kadang agak menjengkelkan karena terlalu sembrono.

225
48

Mayor Mangku memang punya siasat lain. Sejak awal ia
memang sudah mencurigai anak buahnya. Ia merasakan itu, tapi tak
tahu apa yang akan dilakukan anak buahnya. Baru setelah Hian
Biauw mengutarakan secara jujur, ia mulai memperoleh gambaran.
Ternyata, diam-diam tujuan anak-anak muda sejalan dengan
pemikirannya yang sudah matang dikaji dari segala sudut. Ia juga
ingin menyerbu. Belanda yang sudah membunuh kedua orang tuanya.
Membunuh banyak anggota masyarakat dengan mengikat tangan
mereka dibelakang. Membungkam mulut mereka dan membariskan
mereka di barisan yang paling depan. Rakyat yang ditangkapi dengan
sewenang-wenang inilah yang dijadikan ujung tombak patroli
Belanda. Kemudian baru barisan Cakra. Strategi Belanda ini lumayan
dan serig memberikan hasil yang gemilang. Seringkali pada malam
hari barisan pejuang ingin menyergap Belanda yang sedang patroli
kecil-kecilan. Mereka menembaki patroli Belanda itu sesudah dekat.
Belanda kemudian tak menghadapi pejuang-pejuang yang mereka
katakan ekstremis itu. Dengan barisan Cakranya mereka
mengelakkan pertempuran dengan barisan pejuang yang pasti mereka
menerangkan karena persenjataan yang lebih lengkap. Belanda
sengaja meninggalkan korban tembakan barisan pemberontak.
Ditinggalkan begitu saja, karena mereka memang tidak punya
kepentingan. Yang ditembaki oleh pejuang-pejuang itu adalah bangsa
sendiri yang mereka tangkap dan mereka tuduh mata-mata Republik.
Kadangkala sengaja diambil keluarga dari pejuang-pejuang itu kalau
Belanda tahu siapa yang bergerilya di daerah seperti itu. Seperti di
Prigen misalnya, Belanda tahu kalau pimpinannya bernama Mangku
itu punya orang tua. Orang tua itu kemudian ditangkap dan dijadikan
ujung tombak. Berhari-hari tipu muslihat itu tidak mempan. Tapi
satu hari, Mayor Mangku memang menyerbu.

226
Dalam kegelapan malam memang tidak nampak. Tapi yang
jelas, setelah Belanda pergi dan yang terbunuh hendak dilucuti
senjatanya, ternyata yang mereka bunuh itu adalah bangsa sendiri.
Orang-orang desa yang tak bersalah, dan salah satunya adalah orang
tua Mangku sendiri.
Hanya kekuatan dan kebulatan tekadnya yang membuat ia
mampu bertahan menghadapi Belanda. Dalam hati ada dendam
kesumat yang tak mudah dicairkan. Meskipun pada lahirnya ia sangat
taat pada atasan Pusat, dalam hati ia ingin sekali membalas dendam.
Dan semuanya itu, akan ia lakukan pada akhir peperangan ini. Kalau
perlu, ia akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menyerbu
Belanda. Itu dulu sudah menjadi kebulatan tekadnya. Tapi setelah
ia melihat anak-anak muda, ia mempunyai strategi lain. Anak-anak
muda ini harus ia dukung. Strateginya harus menyatu dengan
strateginya. Karenanya ia diam-diam membantu dengan memberikan
senjata yang masih bisa terbilang modern. Karena senjata-senjata
itu adalah bantuan dari Surabaya, dari Mayor Phe. Senjata yang ia
ketahui hasil rampasan dari Jepang. Ia sendiri juga heran, bagaimana
senjata rampasan Jepang ini berada di tangan Tionghoa. Bukankah
tak banyak orang Tionghoa yang ikut berjuang di Surabaya.
Bukankah waktu markas tentara Jepang di Don Bosco dilucuti
semuanya langsung dibagi kepada kantong-kantong republik yang
ada di desa-desa yang sedang melakukan perang gerilya sesuai
dengan instruksi pusat? Apa yang didapat ia ketahui betul merupakan
senjata Jepang. Mengapa masih baru? Apakah Jepang yang sudah
kalah, diam-diam mengirikan senjata lewat orang Tionghoa untuk
kemudian kembali menjajah bumi tercinta ini? Ah, tak mungkin!
Jepang sudah bertekuk lutut. Sekarang mereka mungkin sibuk
membangun negerinya akibat pemboman sekutu yang banyak
disiarkan pers luar negeri.

227
Strategi Mayor Mangku memang tak pernah diutarakan
secara terbuka. Kepada wakilnya Sutedjo, ia hanya mengatakan
bahwa pasukan besok akan kembali ke Surabaya. Turun dari Prigen
lewat Pandaan lantas masuk ke Porong. Perang sudah selesai. Itu
yang diutarakan oleh Mayor Mangku kepada Sutedjo. Tapi dalam
hati ia mempunyai strategi lain. Besok pagi, pasti terjadi ledakan di
Pandaan. Markas besar Republik yang ada di Pandaan menduga
bahwa menjelang Tahun Baru ini mereka tidak akan bisa bersuka
ria. Pasukannya pun nanti tidak akan mendapat perlawanan dari
Belanda. Karena kalau Belanda menyerbu mereka, itu berarti Belanda
sengaja memancing insiden dan perang akan berkepanjangan lagi
dengan perundingan sebagai kedok, sebagaimana sifat belanda
selama ini. Perundingan selalu dipakai sebagai kedok oleh Belanda.
Belanda sudah dapat ejekan dari negara-negara lain mengenai
sifatnya ini. Dan dalam konferensi yang sekarang hampir mencapai
titik terang, Belanda sudah berjanji lahir batin akan menarik kembali
semua pasukannya dan akan mentaati setiap pasal dalam perundingan
yang sudah disepakati bersama. Jadi pasukan Mangku besok akan
muncul di jalan seperti orang gerak jalan yang bebas. Takkan takut
dengan sergapan tentara Belanda, meskipun berjalan di daerah
kantong Belanda sesungguhnya satu hal yang cukup berbahaya.
Apalagi jika kelompok Hendro Cs bisa melakukan serangan yang
fatal terhadap tangsi Belanda. Belanda juga akan marah dan dari
situ diharapkan bisa ada pertempuran yang terbuka pada pihak
Belanda. Para pejuang turun karena sesuai dengan instruksi pusat
untuk kembali ke daerah masing-masing. Mereka dahulu berasal
dari Surabaya dan karenanya mereka akan menuju ke Surabaya.
Kalau disergap Belanda, mereka tentu akan membalas. Belanda
secara strategi internasional berada dalam posisi yang lemah....

****

228
49

Jam lima pagi, mereka, Hendro dan kawan-kawan sudah
berada di pusat kota Pandaan. Mereka menyamar sebagai pedagang
ketela dan jagung. Tak mencurigakan karena memang banyak
pedagang dari Trawas atau Prigen yang setiap hari membawa barang
dagangannya turun ke Pandaan untuk dijual. Di Prigen atau Trawas
sendiri jarang ada pembeli. Strategi kemudian disusun sesuai dengan
penyidikan Didi. Slamet, Teguh, dan Didi mempunyai tugas
menghancurkan pompa bensin, kemudian membakar tangsi militer
Belanda yang menyediakan berdrum-drum bensin untuk persediaan.
Keadaannya persis seperti di Praban Surabaya dulu, saat memasuki
kota Surabaya, kemudian bisa merampas kota-kota lainnya.
Sedangkan Hendro dan Hian Biauw sendiri akan berusaha untuk
melumpuhkan tangsi militer dengan perlengkapan beratnya, tank
dan panser yang berada di jalan menuju Kota Pasuruan. Jika rencana
ini berhasil, maka Pandaan akan dikelilingi oleh lautan api. Penduduk
tidak akan terkena getahnya, karena tangsi-tangsi dan pompa bensin
berada di pinggiran. Sedangkan permukiman penduduk ada di
tengah. Jadi ideal untuk menyerbu.
Hian Biauw sudah tak sabar lagi. Situasinya sudah mulai
gawat. Serdadu Belanda sudah mulai keluar dari kamar tangsi mereka
masing-masing. Belum terdengar ledakan dari kelompok Slamet,
Didi dan Teguh. Yang disepakati, yang menyerbu pompa bensin
harus menyerbu terlebih dahulu. Hendro dan Hian Biauw menunggu.
Kalau pasukan di tangsi luar bersiul jika ada perempuan “mracang”
yang kebetulan lewat. Laki-laki di mana saja sama kalau melihat
perempuan desa. Sama-sama tahu kalau perempuan desa memang
ada daya tarik tersendiri. Mungkin saja betisnya yang membunting
atau dadanya kenyal. Hian Biauw sebenarnya ingin serdadu-serdadu
Belanda itu berada dekat garasi tank dan panser. Karena trek bom

229
sudah ditanam di situ dan setiap saat bisa diledakkan. Ia ingin ledakan
itu bukan cuma merusakkan peralatan Belanda tetapi juga membunuh
serdadunya. Perang memang kejam. Perang menghendaki
kehancuran manusia atau sesamanya. Sudah tak ada lagi perasaan
belas kasihan. Yang jadi keinginan cuma satu, membunuh sebanyak
mungkin.
Tiba-tiba saja dalam menunggu itu Hian Biauw mendapat
akal baru. Ia nanti takkan turun ke Bojonegoro. Tapi ia akan naik ke
Malang, atau kembali ke Tretes, ke Pecalukan yang dapat ditempuh
dalam perjalanan ke Malang sebelum Purwosari. Hendro sendiri juga
terbenam pada kegelisahan. Ia juga menunggu tanpa bisa mengerem
kegelisahannya. Mengapa kawan-kawan di sebrang sana masih
membungkam. Bukankah sekarang waktu yang ditentukan? Perang
pada zaman itu memang tak ada jam. Langit yang jadi ukuran mereka.
Mungkin juga melihat cahaya langit ini bisa ada tafsiran macam-
macam. Di pihak Hendro dan Hian Biauw beranggapan bahwa waktu
sudah tiba. Tapi pada pihak Slamet, Didi dan Teguh ada anggapan
masih belum. Tapi akhirnya tiba juga. Terdengar ldakan beruntun.
Masyarakat yang sudah mulai memenuhi pasar jadi kalang kabut.
Belum hilang kepanikan itu, mereka kemudian melihat kobaran api
dengan asapnya yang hitam pekat. Matahari memang belum
memunculkan wajahnya. Suasana masih gelap meskipun orang sudah
bisa melihat terang. Kobarn api itu kemudian diselengi dengan
ledakan lagi. Satu lagi. Kemudian berentetan seperti orang bermain
mercon. Tentara Belanda yang ada di Tangsi Hian Biaw juga panik.
Mereka saling tanya dengan suara yang berisik. Tapi cuma sejenak,
kemudian mereka sudah bisa mentertibkan diri.
Kepanikan dalam waktu yang relatif sangat singkat sudah
bisa diatasi. Komandan tangsi segera menyiapkan pasukan yang ada
untuk memberikan bantuan. Orang kemudian lari, ribut sendiri,
mencari yang sudah jadi tanggung jawabnya. Barisan kuda yang

230
luput dari penyidikan Hendro dan Hian Biauw juga dipersiapkan.
Ini yang mengecewakan kedua pemuda itu. Semestinya mereka bisa
membuat suasana jadi ribut lagi kalau ledakan bisa mereka lakukan
di kandang kuda. Binatang itu nantinya jika sudah kena ledakan di
dekatnya pasti akan meringkik, mengangkat kakinya tinggi dan
kemudian berlari lintang pukang tak karuan. Suasana akan menjadi
tambah panik. Ini yang disayangkan Hendro dan Hian Biauw. Tapi
apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur. Tak perlu disesali lagi.
Sekarang mereka sendiri yang masih menunggu. Keduanya
sepertinya sepakat bahwa yang dihancurkan bukan hanya tank dan
panser Belanda saja, melainkan juga serdadu mereka. Untuk ini
mereka harus menunggu, sampai seluruh barisan disiapkan. Harus
diakui oleh kedua pemuda itu, bahwa tentara Belanda adalah tentara
yang profesional. Sepertinya mereka itu sudah terbiasa hidup dalam
kepanikan, tetap tertib dalam menyusun barisan yang ada.
Kedua pemuda itu masih menunggu. Sampai seluruh isi
tangsi itu berbaris di muka peralatan mereka. Diam-diam Hendro
jadi benci dalam hati. Sebagian dari yang disebut serdadu Belanda
ini bukan terdiri dari orang kulit putih. Hampir semuanya terdiri
dari orang berkulit sawo matang. Belanda memang sering
memperoleh kemenangan perang gara-gara mereka ini. Karena
mereka inilah yang mengenal setiap jengkal perjuangan dalam
merebut daerah yang dipertahankan oleh para pejuang dengan darah
dan nyawa mereka. Hati Hendro tambah mendidih, terlebih kalau ia
ingat, bahwa politik adu domba antar suku inilah yang jadi
kebijaksanaan Belanda. Perang di Aceh dihadapkan dengan tentara
dari Solo dan Yogya. Perang Puputan di Balai dihadapkan dengan
serdadu Jawa oleh pihak Belanda. Dengan demikian nama Jawa jadi
jelek di mata suku lain. Seolah suku Jawa yang membantu Belanda.
Politik memecah belah. Ingin rasanya Hendro maju dan berlari ke
depan membawa granat untuk mematikan mereka. Tapi ia pun

231
kemudian sadar lagi, bahwa dalam perang seperti yang dipesankan
Hian Biauw, kita harus sabar. Kita tak boleh panas hati meskipun
semuanya terlihat dengan mata telanjang kita. Setiap pejuang jika
ingin berhasil harus mentaati strategi yang sudah disetujui bersama.
Tak boleh bertindak dengan menurutkan perasaan hati semata.
Karena sifat menurutkan hati bisa dianggap sikap yang sembrono.
Laginya, sikap seperti itu akan membahayakan seluruh kesatuan
strategi yang sudah disepakati bersama. Sebenarnya ia tetap
menyayangkan bahwa dalam penyerbuan kali ini tidak boleh ada
tembakan senapan atau pistol. Karenanya mereka tidak
mempersenjatai diri mereka dengan senapan. Mereka hanya
membawa granat sebanyak mungkin. Strategi ini juga yang disetujui
oleh Mayor Mangku. Mereka membawa granat sebanyak-banyaknya.
Senjata mudah diketahui musuh atau mencurigakan. Tapi granat
memang cukup ditaruh dalam bakul yang mereka bawa. Ketika
mereka melihat komando sudah diberikan dan barisan kuda akan
diberangkatkan untuk memberikan bantuan, Hian Biauw menekan
trek bom. Sekali, tidak terjadi ledakan. Juga punya Hendro jadi
busung ketika ditekan. Padahal tadi mereka sudah memeriksa dengan
seksama. Apakah trek bom Jepang juga busung? Sama dengan trek
bom dari Mrican atau Tulungagung?
Sekali tak meledak. Dua kali. Dan yang ketiga baru meledak.
Ledakan itu diiringi dengan lemparan tubuh manusia yang kebetulan
sudah dekat dengan tank-tank yang mau diledakkan. Pemandangan
jadi “indah”. Semburan api merajarela. Serdadu-serdadu Belanda
di tangsi ini menjadi panik. Tanpa komando, Hendro dan Hian Biauw
menyerbu mendekat. Lebih dekat lagi. Granat lalu dilemparkan.
Terjadi ledakan lagi. Habis dari tempat yang satu mereka lari ke
tempat yang lain. Terjadi ledakan granat di mana-mana. Belanda
seolah merasa bahwa tangsi mereka diserbu dari seluruh penjuru.
Korban pagi itu, tercatat dua ratus serdadu Belanda dan Cakra.

232
50

Bersamaan dengan itu, genggaman bunga ditaburkan di atas
peti jenazah Nyonya Phe. Mayor Phe tampak lusuh. Wajahnya
tampak seperti ada darah, beku. Ia menyalami dan menyojai setiap
orang yang mengantar jenazah istrinya tanpa ucapan kata. Ia yang
masih tak tahu apa sebabnya istrinya ditembak. Ia tak bisa mengerti
dan ia cuma beranggapan bahwa istrinya melawan ketika ada
perampok memasuki rumahnya. Perampokan memang sering terjadi!
Cuma ia heran, sesudah menembaki istrinya, mengapa perampok
itu tidak menyikat harta bendanya. Mengapa mereka keluar lagi tanpa
mengusik sedikitpun harta benda yang terdapat di rumahnya. Seperti
guci kuno, patung-patung yang antik atau mereka bisa meminta mas
berlian, tanpa perlu membunuh? Sama sekali Mayor Phe tidak
mengira istrinya ini bukan bermotif perampokan tetapi benar-benar
bermotif politik, karena ia dituduh donatur utama dari gerakan Poh
An Tui di Jakarta. Baru-baru ini memang ada bentrokan Poh An Tui
dengan pejuang di luar kota Jakarta. Cuma motif serangan itu tak
jelas. Mungkin juga mereka cuma ingin membela kampung
halamannya. Tapi yang nyata, mereka kemudian berhadapan dengan
tentara Republik dan banyak yang tewas. Di sini kemudian ada balas
dendam, terutama karena dalam setiap kesempatan, bahwa Mayor
Phe adalah orang Tionghoa yang baik yang setia kepada
kelompoknya. Yang selalu membantu orang-orang tionghoa yang
terjepit. Mayor Phe selalu berusaha untuk membantu Poh An Tui
dengan kiriman senjata dari Surabaya. Luar biasa memangnya, usaha
dari Deglok untuk mengangkat nama Mayor Phe.
Deglok tidak sempat itu sangseng. Ia terlambat mendengar
berita kematian Nyonya Phe. Ia baru mendengar sebulan kemudian.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Nyonya Phe sudah terbaring di dalam
tanah sebulan. Juga Deglok tidak tahu bahwa ialah pembunuh

233
Nyonya Phe yang sebenarnya. Dia... yang sebenarnya justru ingin
berterima kasih pada keluarga itu. Ketika masih di Jakarta dan
menerima kabar bahwa Nyonya Phe telah meninggal dunia karena
ditembak oleh tiga orang yang memasuki rumah Mayor Phe seperti
kesaksian pembantu rumah, Deglok tak bisa menguasai dirinya lagi.
Ia sampai membenturkan kepalanya ke lantai ketika soja kui
menghadap ke langit. Mendoakan agar arwah Nyonya Phe mendapat
tempat yang layak di sisi Tuhan sesuai dengan amal baktinya. Deglok
memang belum mengenal keluarga Mayor Phe secara dekat. Apa
yang diketahui hanyalah apa yang dirasakan baru-baru ini, ketika ia
berada di penjara dan mendapat bantuan dari keluarga Mayor Phe.
Baik langsung maupun lewat teman-temannya. Ia sampai punya
modal yang cukup dan mendapatkan kepercayaan dari kalangan
orang Tionghoa di Surabaya. Yang menitipkan uangnya kepada
Deglok untuk diputarkan di Jakarta. Karenanya di Jakarta, Deglok
segera saja mendapat posisi yang cukup kuat dalam dunia bisnis.
Semua uang dari Surabaya itu ia tanamkan pada usaha perbankan.
Dari mana ia bisa beranggapan bahwa perbankan bisa sangat
menguntungkan di kemudian hari, itu semua cuma intuisinya sendiri.
Apakah dari sini bisa dikatakan bahwa orang Tionghoa punya bakat
dagang sejak lahir?
Deglok sendiri, yang sejak wal tidk pernah berkecimpung
dalam dunia dagang, kini secara tiba-tiba bisa menanamkan
modalnya di satu usaha yang saat itu masih asing bagi orang
Tionghoa, dunia perbankan. Orang Tionghoa lebih suka membelikan
mas dan menyimpannya di rumah. Tak ada yang tahu. Tapi
menyimpan uang di bank? Wah, ini hal yang baru. Tapi Deglok
memulai usaha ini dengan penuh keyakinan. Bahkan di Jakarta,
berkat ketenaran namanya yang dipublikasikan pers Melayu
Tionghoa, ia mendapat dukungan. Juga orang Jakarta ada yang mau
menitipkan uang kepadanya. Sehingga kalau semula ia andil dalam

234
bank swasta yang baru buka, kini seluruh saham bank tersebut ia
beli hanya dalam waktu yang relatif pendek. Sungguh, satu kegesitan
yang luar biasa dari Deglok.
Dengan hati yang sedih itulah Deglok berangkat pulang ke
Surabaya. Anak-anaknya memang masih ada di Surabaya. Ia dan
istrinya saja yang tinggal di Jakarta, sesudah ia mempunyai bisnis
perbankan yang mendapat dukungan dari orang-orang Tionghoa di
Jakarta dan modal dari orng Surabaya. Setibanya di Surabaya, ia tak
segera menjumpai anak-anaknya. Ia langsung saja ke rumah Mayor
Phe. Saat itu tampak sunyi. Semua pintu tertutup. Tidak seperti
beberapa waktu yang lalu, di mana pintu depan selalu terbuka semua.
Seolah rumah tersebut selalu bersedia menerima siapa saja yang
memerlukan bantuan penghuninya, suami istri yang dikenal sangat
budiman. Kini suasana yang lain dirasakan oleh Deglok. Ketika
bertemu dengan Mayor, ia melihat perubahan yang besar. Wajah
yang dahulu selalu berseri sekarang tampak dalam kesedihan yang
sangat mendalam. Deglok bisa merasakan. Laki-laki ini telah
kehilangan anaknya, entah di mana waktu revolusi Surabaya dulu.
Sekarang istrinya dibunuh perampok. Apa yang mau dikatakan dan
apa yang bisa dikatakan untuk menghibur laki-laki yang sedih hati
ini. Ia cuma bisa soja kui menyatakan ikut berduka cita. Cuma itu.

****

Nasib Deglok sendiri tidak begitu baik setibanya di Surabaya.
Karena pemberitaan pers Melayu Tionghoa di Jakarta, ia jadi orang
yang terkenal. Karena fisiknya yang cacat, tak gampang ia
menyembunyikan diri. Orang kenal dia sebagai simpatisan Poh An
Tui dan di Surabaya itulah ia ditangkap. Poh An tui sejak saat itu
memang jadi lembaran hitam. Di Pasuruan, Probolinggo, terutama
di kota-kota kecil, sesudah insiden di di Tangerang. Poh An Tui

235
membubarkan diri. Surabaya juga. Yang tidak mengetahui situasi
politik yang berkembang pesat di Indonesia, mungkin bisa
tercerminkan dalam dalam sikap Deglok. Orang Tionghoa paling
sulit untuk diajak dalam satu gerakan yang tidak ada hubungannya
dengan kepentingan diri sendiri. Sesudah kemerdekaan dan tahun-
tahun pertamanya, mereka memang menyadari, bahwa situasi mulai
berbalik. Kini mereka, terutama yang ada di Surabaya, harus
mengakui kebenaran pendapat Oen Tjhing Tiauw. Bahwa bagi
mereka yang lahir di Indonesia, tak ada pilihan lain, selain mencintai
negeri sebagai tumpah darah mereka yang baru. Yang harus mereka
abdi dengan setulusnya. Sebelumnya ketika negeri ini mulai merdeka,
sulit sekali untuk menyadarkan mereka. Negeri ini adalah tempat
mereka mencari uang. Biarpun yang kelahiran sini, yang disebut
sebagai baba, sudah tak punya lagi gambaran tentang Tiongkok yang
masih diakui sebagai negeri tumpah darah mereka. Tapi itulah
gambaran tentang masyarakat Indonesia yang pada akhirnya karena
merasa bahwa dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka dapat
dalam alam kolonial, merasa tak ada persamaan lagi. Sebagai
minoritas, dahulu mereka dianakemaskan ketimbang yang pribumi.
Kini mereka harus mengakui bahwa sebagai minoritas, mereka
memang tidak memiliki hak-hak yang sama lagi. Kalau dulu,
ketidaksamaan itu menguntungkan mereka, karena mereka dianggap
warga negara kelas dua dan pribumi kelas tiga, kini sebaliknya,
pribumi jadi kelas satu dan mereka menjadi kelas yang kesekian,
bukan cuma kelas dua...!!

236
51

Pemahaman akan perubahan situasi seperti itu tidak
gampang. Terutama sekali karena orang Tionghoa itu sendiri memang
sebelumnya sudah terpecah belah. Ada kelompok yang memihak
Tiongkok, yakni kelompok Sin Po (diambil dari majalah Melayu
Tionghoa yang terkenal) dan yang kedua ialah kelompok Packard
yang kebanyakan menempuh pendidikan Belanda dan Barat.
Tampaknya kelompok yang kedua ini yang agak berat dalam
penyesuaian dengan keadaan yang selalu berkembang. Deglok
sendiri tampaknya dengan bisnisnya yang baru berada dalam posisi
keduanya, baik dalam kelompok Sin Po maupun Packard tadi. Tak
mengherankan, karena latar belakang Deglok memang serba
semrawut. Dari orang yang statusnya cuma tukang pukul ia sekarang
disebut sebagai tauke, tuan besar. Bisnis Deglok memang berhasil.
Sayangnya ia tak mengerti tentang perkembangan situasi yang
berjalan dengan cepat. Ketika ditangkap, mula-mula ia berteriak
marah. Tapi kali ini ia tak bisa berbuat lain. Ia harus menurut. Karena
dengan segera ia mendapat firasat, bahwa penangkapan atas dirinya
ini tak wajar. Hanya atas dasar sentimen dan iri hati saja. Orang
memang iri atas suksesnya yang gemilang di Jakarta, karenanya
mereka memakai tangan-tangan “pemerintah” untuk meringkusnya.
Meskipun sebenarnya, untuk Deglok tidak akan ada penyidikan
secara resmi. Status Deglok tak menentu. Orang seperti Deglok
dewasa ini banyak. Jika lain pendapat, ada iri hati dan kebetulan
kita ada koneksi kita menjatuhkan orang tersebut dengan alasan
macam-macam. Yang paling gampang ialah alasan politik. Lucunya
soal Poh An Tui ini Deglok sama sekali tak tahu. Ia cuma tampaknya
mengetahui masalah tersebut secara mendetail, karena ia sering
mempublikasikan nama Mayor Phe. Selebihnya ia tak pernah tahu.
Karenanya ketika ia ditangkap dengan tuduhan Poh An Tui ia jadi
bengong.

237
Deglok mengalami masa penahanan tanpa pemeriksaan
dalam jangka waktu yang lama. Selama itu ia tak berhasil mengontak
orang luar. Tapi ia yakin bahwa usahanya berkembang dengan baik.
Semula pemegang saham yang lain beranggapan bahwa Deglok
sudah mati. Tapi akhirnya, setelah tahun enam puluhan situasi mulai
berubah dan pengaruh RRC mulai tampak, Deglok mulai boleh
dibesuk. Tadinya ia dipindahkan dari tahanan di stu kota ke kota
yang lain, dengan kadang-kadang ia sama sekali tak tahu, apa nama
kota tempat ia ditahan. Deglok persisnya dibebaskan pada tahun
1963. Dalam usia yang sudah di atas lima puluh, ia tiba-tiba
menghadapi dunia luar yang sudah berubah. Surabaya saja sudah
berubah banyak. Gedung White Away sudah berganti menjadi toko
SIOLA. Bekas-bekas puing-puing pertempuran di Alun-alun
Contong sudah berubah menjadi tempat bioskop. Juga Kapasan
sudah berubah. Oen Tjhing Tiauw yang dulu dikenalnya dengan
baik, sekarang sudah menjadi orang tua yang bertubuh gemuk.
Menjadi agen berbagai surat kabar dan majalah yang terkenal, Star
Weekly. Kehidupannya sudah mapan. Yang paling mengharukan
Deglok setelah ia keluar menghirup udara bebas adalah kenyataan
bahwa ia menjumpai anak-anaknya sudah besar. Bahkan sudah ada
yang kawin dan memberinya cucu. Yang paling bungsu sudah di
fakultas kedokteran tingkat empat. Sudah pasti nantinya, karena
ternyata ia mahasiswi yang pandai. Ia pun jadi heran ketika
mengetahui ahwa sekarang setelah keluar dari tahanan, ia merupakan
orang yang kaya. Istrinya yang selama ini menggantikan kedudukan
sebagai seorang pemimpin bank yang cukup tersohor di Jakarta.
Sekeluarnya Deglok ia kemudian kembali memimpin bank. Sampai
pada tahun 1985 Deglok masih terlihat di Jalan Kapasan Surabaya.
Buaya-buaya Kapasan sekarang memang sudah tidak ada lagi.
Rumah Mayor Phe juga sudah berganti dengan gedung bertingkat
yang bukan milik Mayor Phe lagi, yang diketahui Deglok meninggal

238
dunia tahun 1979. Nostalgia tentang Kapasan memang mempunyai
arti yang hebat pada diri Deglok. Banyak riwayat masa lalu yang
sering dikenangnya.
Tampaknya ia merasakan satu kehilangan dalam batinnya
sekarang. Ia merindukan seorang sahabat yang baik, yang jadi tuan
penolongnya, yang secara tidak langsung telah menjadikan dirinya
seperti sekarang. Kapasan sekarang jadi jalan yang sempit. Jadi pusat
bursa mas yang terkenal di Surabaya. Kapasan tak lenggang lagi
seperti dulu. Apa yang disebut dokar tak ada lagi.
***
Dan inilah akhir cerita tentang Mayor Phe. Sepeninggal
istrinya tercinta, beberapa bulan kemudian Hian Biauw anaknya
pulang. Ia tak sampai hati melihat kesedihan anaknya ditinggalkan
ibunya. Hian Biauw sebenarnya ingin membahagiakan kedua
orangtuanya, dengan mengajak mereka hidup bahagia di desa, jauh
dari keramaian kota smbil berbakti kepada kepentingan rkyat di desa.
Semua cita-cita ini pernah diutarakan pada Latifah, yang sejak
pertempuran di Pandaan, tak pernah dijumpai lagi. Ia sudah sering
bertanya kepada orang-orang di Malang. Tapi satu pun tak tahu siapa
ayah Latifah. Ia pun seperti halnya yang lain, memang tak pernah
bertanya tentang keluarga masing-masing. Tiap pejuang kebanyakan
lebih suka menutup diri. Tidak bercerita tentang keluarga. Seolah
hidup ini hanya apa yang harus mereka jalani sekarang ini saja.
Soal cinta keluarga dan lainnya tidak pernah mereka
utarakan. Kecuali Hian Biauw dan Latifah. Sering mereka bercerita.
Tapi ini pun hanya terbatas pada diri mereka sendiri. Tak pernah
ada cerita tentang keluarga. Paling-paling hanya sebagai ilustrasi
saja. Sebagai pelengkap. Hidup seperti Hian Biauw memang serba
mengharukan. Ia berangkat dari anak orang kaya dan ternama di
Surabaya. Ikut bertempur dalam pertempuran di Surabaya. Ikut
mendengarkan Bung Tomo berpidato berapi-api tiap sore hari. Pernah

239
melihat Ketut Tantri di Surabaya, perempuan Amerika yang saat itu
dikagumi banyak pemuda. Setelah pertempuran di Pandaan yang
bisa disebut sebagai pertempuran terakhir yang dimenangkan, ia
memang benar menuju ke Malang. Dri sana ia membelok ke kiri
dan naik terus sampai desa Pencalukan melalui jalan setapak. Belanda
tak sempat mengejar. Beda dengan Hendro yang dlam upayanya
melarikan diri ke Surabaya sempat bentrok dengan pasukan Belanda
yang ada di Kasri. Terjadi tembak-menembak. Tapi apa daya Hendro.
Ia kemudian tertembak perutnya. Sampai tiga jam ia menunggu
ajalnya. Ia tewas di pinggir sawah. Tak ada orang yang mengenalnya
atau menguburkannya. Ia termasuk dalam kelompok pahlawan-
pahlawan yang tidak dikenal dikemudian hari. Yang melarikan diri
naik kembali ke Prigen masih selamat. Didi, Teguh, dan Slamet.
Mereka ke Trawas lantas berusaha ke Bojonegoro. Tapi di tengah
perjalanan mereka mendengar bahwa pertempuran benar-benar sudah
usai. Belanda sudah menarik semua pasukannya. Kita sekarang sudah
berdaulat penuh.

240
52

Setahun Hian Biauw berada di Pecalukan. Ia kemudian turun
ke Surabaya. Sekarang ia kaget betul-betul. Rumah milik orang
Belanda sekarang sudah jadi milik orang Tionghoa semuanya. Dalam
luapan kegembiraan akan berjumpa dengan kedua orang tuanya ia
mengalami gegar budaya ketika mengetahui kematian ibunya
beberapa tahun yang lalu. Ia kemudian mengajak ayahnya ikut ke
Pecalukan. Disana ayah dan anak bekerja bersama. Ayahnya
mempelajari penduduk bagaimana menata perekonomian secara
gotong royong yang kemudian dikenal dengan nama koperasi.
Sedangkan Hian Biauw dengan bantuan keuangan orang tuanya
mendirikan sebuah sekolah, sekolah dasar. Menurut pendapatnya,
anak-anak desa, minimal harus mengenyam pendidikan dasar. Agar
mereka bisa melek huruf dan tahu abjad. Bisa membaca dan menulis.
Konflik batin yang dialami oleh Hian Biauw adalah pada sekitar
tahun 1959-an. Waktu itu ada gerakan untuk mengusir semua orang
tionghoa dari pedesaan. Orang tionghoa hanya diperbolehkan hidup
di kota besar atau kota tingkat II saja. Agar dengan demikian mereka
tidak menjadi penyaing dari kehidupan rakyat di desa, yang tingkat
perekonomiannya lemah. Gerakan itu kemudian terkenal dengan
nama PP 10. Mula-mula Mayor Phe sangat terkejut dengan adanya
peraturan itu. Ia yang sudah belasan tahun harus melepaskan
semuanya yang sudah dirintis, sekedar untuk membina rakyat di
pedesaan tahu alfabetis dagang. Sekarang ia harus pergi dari desa
itu. Desa di mana penduduknya sudah menganggapnya sebbagai
orang sendiri dan ia juga sudah merasa sebagai bagian utuh dari
mereka. Bagi Hian Biauw persoalannya lain. Ia menjadi marah.
Kemudian ketika muncul peraturan lainnya, yang lebih menghina
dirinya adalah berlakunya perundingan antara Chou en Lai dan
Subandrio mengenai pelaksanaan dwikewarganegaraan antara dua

241
negara. Sekarang mulai diurus bahwa tidak ada oarng Tionghoa di
Indonesia yang boleh punya kewarganegaraan rangkap. Mereka harus
memilih, terus jadi warga negara Indonesia atau menolak warga
negara Indonesia untuk kembali warga negara RRC. Ini adalah untuk
keduakalinya soal kewarganegaraannya diusik. Yang pertama dulu
tahun lima puluhan. Tapi waktu itu ia masih bisa menerima. Ia
beranggapan dalam tertib administrasi memang harus dibenahi, soal
kewarganegaraan itu. Pemerintah Indonesia memang harus tahu
berapa jumlah penduduk, warga negaranya. Tapi yang sekarang,
sesudah Indonesia merdeka lebih dari limabelas tahun, mengapa
masalah itu masih tetap diusik?
Tampaknya ia tak bisa menerima kenyataan ini. Tapi bagi
Mayor Phe masalah ini mau tak mau harus dihadapi dengan penuh
ketabahan. Lucu memangnya, mereka yang sudah bertahun-tahun
hidup di desa terpaksa harus menandatangani banyak berkas-berkas
untuk memilih kewarganegaraan Indonesia. Bagi Mayor Phe juga
berarti ia harus pindah dari Pecalukan. Tak boleh lagi hidup disana.
Tragis!
Surabaya ternyata tak menarik lagi bagi Mayor Phe. Hawa
yang panas sudah tak terbiasa lagi bagi dirinya yang sudah ada umur.
Ia ingin pindah ke Malang.
Di sana masih ada beberapa anggota keluarganya. Harta
benda ia masih punya dan itulah yang kemudian diikutkan dalam
usaha pertembakauan bersama beberapa orang yang dahulunya sudah
dikenal Mayor Phe, dari orang yang punya jabatan tinggi di kalangan
orang tionghoa jaman sebelum perang, kemudian hidup sebagai
rakyat jelata sesudah ditinggalkan istrinya kini kembali ke lingkungan
Tionghoa. Mula-mula ia merasa aneh, harus menghadapi orang-orang
Jawa bukan lagi sebagai sahabat tetapi sebagai teman seperjalanan
yang tidak saling sapa. Ia ingin sekali bisa memiliki watak tidak ada
dendam.

242
Tapi PP 10 baginya memang cukup membuat hatinya tawar.
Ia bukans aja harus meninggalkan desa, dengan kehidupan yang
sangat disukai, tapi juga ia harus meninggalkan harta bendanya yang
tak boleh dibawa serta ke Malang. Hampir saja terjadi insiden, ketika
anaknya Hian Biauw melawan, ketika mereka tidak boleh membawa
kendaraan tua Chevrolet tua tahun 1952.
Satu-satunya kendaraan yang selama ini dipakai untuk
kegiatan koperasi. Uang Mayor Phe yang ada di koperasi pun tidak
boleh diambil. Pokoknya ia merasa tidak adil. Tapi dalam upaya
pemerintahan menata kembali dunia perekonomian yang mantap,
korban selalu ada. Kali ini, seperti dulu, lagi-lagi orang Tionghoa
yang jadi korban. Mengapa? Apakah semua peraturan tidak bisa
berjalan tanpa menyakiti kelompok lain? Bukankah peraturan dalam
bidang ekonomi tujuannya adalah untuk memberikan kemakmuran
kepada seluruh rakyat. Bukan kemakmuran untuk satu golongan,
dan kemelaratan untuk golongan yang lain.
Di Malang, dengan menyertakan semua hartanya pada
spekulasi tembakau, kemapanan mulai diperoleh kembali. Mayor
Phe mulai menghitung kekayaannya lagi. Apa yang selama sepuluh
tahun tak pernah dipikirkan sekarang dilakukan kembali. Sekarang
ia dagang lagi. Dalam situasi seperti inilah Baperki, bangkit, sebuah
badan yang secara de facto membantu orang Tionghoa dalam
mentaati peraturan pemerintah, terutama dalam penyelesaian masalah
dwikewarganegaraan. Baperki bukan saja membantu
menggampangkan prosedurnya, tetapi mereka juga memberikan
pelayan gratis kepada orang-orang Tionghoa yang tidak tahu
bagaimana cara mengisi formulir yang amcam-macam itu. Baperki
mendapat hati dalam mata orang tionghoa. Kelompok ini merasa
punya cantelan. Sesudah pada Partai Tionghoa Indonesia mereka
tak bisa mendapat apa-apa lagi. Apalagi PTI ini kemudian
membubarkan diri. Selesai mengurus penyelesaian

243
dwikewarganegaraan, Baperki mulai melebarkan sayapnya. Ia mulai
mau menggarap dunia pendidikan. Dunia pendidikan menurut
mereka sangat penting buat kelompok Tionghoa. Karena kelompok
ini meskipun sudah memilih kewarganegaraan Indonesia, tetap
mendapat perlakuan yang tidak sama. Ini sudah barangtentu cuma
perasaan mereka saja atau sengaja dihembuskan oleh mereka yang
tidak senang kepada pemerintah dan mencoba merangkul kelompok
Tionghoa yang dianggap punya kemampuan penting dalam bidang
perekonomian. Sayap Baperki akhirnya jadi lebar betul-betul, ketika
badan tersebut mempunyai niatan untuk membuka sebuah universitas
yang disebut mereka dengan nama Res Publica. Mayor Phe dalam
hal ini sangat tertarik dengan tujuan yang dianggap mulia itu. Mulia
menurut pendapatnya, karena pada akhirnya, pikiran dan
pendapatnya juga berbeda dengan apa yang dicita-citakan dulu
semasa di desa! Orang Tionghoa menurut pendapatnya tidak bisa
menggantungkan nasibnya pada orang lain. Orang Tionghoa harus
bisa dan mampu memecahkan masalah sendiri. Harus mandiri.
Keyakinan ini sudah barang tentu merupakan keyakinan yang bagus,
asal saja di balik keyakinan itu tidak ada persoalan politik. Bahwa
orang Tionghoa di Indonesia hendak hidup secara menyendiri dan
perlahan tapi pasti nanti meminta sebagai pulau khusus untuk orang-
orang Tionghoa.

244
53

Sikap semacam ini sudah barang tentu tidak betul. Sangat
bertentangan dengan prinsip Sumpah Pemuda yang sudah jadi
kebulatan tekad bangsa kita untuk menyebut diri satu. Sikap yang
sudah dipunyai bangsa kita sejak tahun 1928. Tapi bagi orang-orang
seperti Mayor Phe yang mempunyai modal dan keyakinan teguh
berjuang untuk kepentingan masyarakat, tidak melihat kemungkinan
dampak negatif itu dari segi politisnya. Yang mereka ketahui cumalah
bahwa pendidikan itu penting bagi kelompok mereka. Sebab tanpa
bersekolah kelompok itu lambat laun akan menjadi tambah bodoh.
Kalau bodoh mereka gampang ditipu dan diperlakukan tidak wajar.
Ini sama dengan keyakinan Hian Biauw yang diperoleh sejak ikut
dalam revolusi sampai kemudian ia mengajar di sekolah dasar di
tempat yang paling ujung dari Trete, Pecalukan. Yang hawanya
dingin, yang tak ada sekolah desanya milik pemerintah. Yang cuma
ada sekolah milik Hian Biauw. Sekarang, dengan diusirnya orang-
orang Tionghoa dalam kehidupan desa, sekolah itupun terlantar.
Mayor Phe menyadari, bahwa akhirnya rakyat yang tidak berdosa
yang jadi korban. Tak ada guru yang bisa meneruskan sekolah. Ketika
Hian Biauw tidak boleh mengajar lagi. Meskipun sebenarnya ada
dispensasi untuk Hian Biauw. Tapi pemuda ini yang sekarang sudah
ada umur dan tetap membujang, tidak ingin ada perlakuan istimewa
untuk dirinya sendiri, sekedar karena ia dulu ikut berjuang bersama
pejuang. Ia tak ingin segala tindak tanduknya diukur dari perjuangan
masa silamnya. Yang penting ialah masa sekarang, bukan masa lalu.
Mayor Phe ikut aktif menjualkan saham-saham Baperki
untuk mendirikan sebuah universitas yang nantinya bisa menampung
anak-anak Tionghoa yang sudah jadi warga negara yang tidak
diterima di sekolah negeri. Pada waktu itu memang agak sulit bagi
orang Tionghoa untuk menempuh pendidikan nasional, yang

245
diselenggarakan oleh pemerintah. Di mana letak diskriminasi ini
sulit untuk ditelusuri. Karena hitam atas putih, diskriminasi itu tidak
pernah jelas tertulis. Secara hukumnya tidak ada. Dan ini
menyakitkan mereka yang benar-benar ingin mengabdikan diri.
Gerakan dari Baperki ini tidak mendapat restu dari Oen TjhingTiauw
yang saat itu sudah berkembang menjadi seorang tokoh sosial yang
nasionalistis. Ia tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh Baperki.
Kesadaran tunggal harus dipompakan kepada setiap orang Tionghoa
yang jadi warganegara Indonesia. Bahwa mereka tidak boleh hanya
secara kertas menjadi warganegara Indonesia. Mereka harus ikut
berjuang memberikan warna di alam demokrasi yang sama-sama
kita tegakkan ini. Cuma apa bisa?
Dengan demikian, meskipun Oen Tjhing Tiauw mendapat
dukungan yang kuat dari kelompok pemuda yang sadar dan
mencetuskan Piagam Asimilasi di Bandungan, Ambarawa, Baperki
tetap jalan terus. Sayap tetap dibentangkan. Di beberapa tempat sudah
didirikan Universitas Res Republika. Pusatnya ada di Jakarta. Tapi
di Semarang, Surabaya dan Malang juga berdiri cabang-cabang
dengan bantuan orang Tionghoa yang kaya. Yang tahunya cuma ingin
membantu kelompok mereka sendiri yang tidak bisa melanjutkan
sekolah di lembaga pendidikan nasional karena sistem penimbangan
yang ditentukan oleh pemerintah secara de facto. De jure tidak ada
perbedaan. Tapi pada penerimaan mahasiswa baru, selalu ada
ketimbangan. Jika orang Jawa dan suku lainnya diterima sebanyak
100 orang, maka untuk kelompok Tionghoa cuma diterima 10 saja.
Jadi perbandingannya 1:10. Mestinya kenyataan yang diambil
pemerintah itu tidak boleh membuat orang Tionghoa menjadi marah.
Jika diambil perimbangan penduduk, antara penduduk pribumi
dengan penduduk Tionghoa, jumlahnya tidak sebesar 1:10 tadi.
Karena jumlah penduduk yang 75 juta jiwa, orang Tionghoa paling-
paling cuma dua juta jiwa. Berapa perimbangannya? Bukankah apa

246
yang dilakukan pemerintah 1:10 sudah bijaksana dan kelewat
bijaksana?
Dunia pendidikan Baperki yang banyak disponsori oleh
Mayor Phe dan kawan-kawan yang dengan telaten mereka rabuki
setiap saat, di pusatnya ditaburi dengan benih benalu. Situasi politik

berkembang dengan sangat cepat dalam menata kehidupan orang
Tionghoa di Indonesia, mendapat tantangan yang hebat dari kalangan
anak-anak muda. Mereka yang kembali dari pendidikan di luar negeri
membentuk satu kelompok yang diberi nama Lembaga Pembinaan
Kesatuan Bangsa. Lembaga ini mendapat dukungan dari beberapa
tokoh masyarakat, terutama dari ABRI. Karena merasa lemah
menghadapi Baperki yang sudah kuat dan mapan, mereka mendapat
pengayoman dari pihak militer. Lembaga ini bahkan pernah
berhimpun dalam SUAD V. Tiap bentuk eksklusivisme yang
dilontarkan oleh Baperki ditentang anak-anak muda. Sebenarnya
bukan cuma anak-anak muda. Karena tokoh-tokoh tua seperti Oen
Tjhing Tiauw dan Auwyong Peng Koen ikut serta di dalamnya.
Menghadapi kekuatan angkatan muda yang mencoba menjegal
programnya bersandar pada kekuatan Angkatan Darat yang anti
komunis dan bermain mata. Di daerah orang tak pernah tahu lirikan
ini.
Situasi perpecahan antara Baperki dan Angkatan Muda
Tionghoa tidak selesai, membuat Oen Tjhing Tiauw menjadi sedih.
Lewat Mayor Phe ia sering mengadakan pendekatan untuk mencari
persesuaian paham. Namun usaha-usaha ini tidak pernah berhasil.
Karena Mayor Phe sama sekali tidak tahu menahu tentang persoalan
Baperki. Ia sendiri aktif di Baperki bukan untuk mengembangkan
Baperki sebagai satu organisasi sosial yang bernafaskan politik. Ia
hanya duduk dalam bidang pendidikan saja. Perkembangan di bidang
pendidikan ini memang tak terbendung. Mutu perguruan itu pun
terjaga dengan baik. Terutama sekali, karena Hian Biauw sendiri

247
duduk memegang manajemen perguruan tinggi itu. Semua ditata
dengan baik sampai...
Tiba-tiba saja bagai bunyi guntur di siang hari, dari Jakarta
terdengar berita bahwa komunis mengadakan “kupdeta”. Usaha
mengambil alih kekuasaan dengan memberontak. Situasi ini
berkembang terlalu cepat. Daerah yang tidak tahu apa-apa jadi kalang
kabut. Hian Biauw dan beberapa tokoh Res Publica ditangkap.
Untung mereka segera ditangkap, sebelum terkena amukan massa.
Mayor oleh Koramil. Karena usianya sudah agak lanjut ia mendapat
perlakuan yang tidak begitu keras. Ia masih boleh dibesuk oleh sanak
keluarganya. Untung juga ia ditahan di Malang. Bertahun-tahun ia
ditahan di Malang tanpa satu proses tertentu. Teman-teman yang
sama-sama ditangkap banyak didengarnya kemudian diangkut ke
luar pulau. Samar-samar ia mendengar pulau Buru. Sebagai orang
Tionghoa yang sudah tua, Mayor Phe pasrah. Ia sama sekali tidak
melawan pada nasib yang dideritanya di tahanan. Seperti dulu ia
juga tidak mengeluh ketika istrinya ditembak orang. Ia bahkan cuma
beranggapan bahwa istrinya ditembak perampok. Tak punya dugaan
sama sekali kalau istrinya justru ditembak oleh pejuang yang fanatik.
Selama di tahanan itu ia tak mengetahui bagaimana nasib anaknya.
Juga familinya tak ada yang tahu. Semuanya cuma bisa
mengharapkan bahwa Hian Biauw selamat. Tak lebih dari itu. Kapan
mereka bisa berkumpul kembali mereka tak punya bayangan. Tak
mau bermimpi untuk satu pertemuan yang entah kapan bisa terjadi...

248
54

Tahun 1975...!

Rumah tahanan di Malang dibersihkan gedungnya. Yang
kotor-kotor dikapur. Menurut rencana seminggu lagi bakal ada
inspeksi dari luar negeri untuk melihat tahanan-tahanan politik yang
ada di sana. Desas-desus beredar bahwa para tahanan politik yang
terlibat dalam gerakan yang disebut G30S akan segera dibebaskan.
Ini cuma desas-desus, tapi sama sekali tidak membuat Mayor Phe
jadi gembira. Apa artinya sebuah kebebasan baginya yang sudah
tua begini, yang tak tahu lagi kemana rimbanya Hian Biauw anak
satu-satunya.
Hari yang dinantikan tiba. Kunjungan peninjau dari luar
negeri tiba. Dari PBB sengaja datang untuk meninjau para tahanan
politik. Tiga orang kulit putih di kawal seorang tentara yang
tampaknya berpangkat Mayor Jenderal. Tapi Mayor Phe tak tahu
dengan pasti kepangkatan dalam tentara. Tapi ia tahu betul siapa
orang itu. Tentara itu adalah Mayor Mangku yang tampaknya masih
seperti dulu wajahnya. Cuma sekarang lebih gemuk bahkan agak
gendut. Mayor Mangku yang melihat tahanan berbaris juga melihat
orang yang berperawakan tinggi kurus dan sudah tua itu. Ia mencoba
mengingat sejenak lantas keluar dari mulutnya keluar kata-kata:
baba... baba. Ya, sekarang ia ingat. Laki-laki tua itu adalah Mayor
Phe, orang tionghoa yang pernah memberikan senjata untuk para
pejuang di tahun revolusi dulu. Ketika pandangan mata mereka
bertemu, ia tak sempat menyembunyikan keharuannya. Ia segera
melangkah meninggalkan utusan yang harus dikawal. Ia segera
menghampiri Mayor Phe. Memeluknya dengan penuh haru. Semua
yang melihat jadi bengong!
***

249
Dalam perjamuan ramah-tamah, Mayor Phe diundang satu
meja dengan utusan luar negeri, kepala rumah tahanan dan Mayor
Jenderal Mangku. Tidak seperti dulu, Mayor Phe kini tampak tak
bersemangat. Tambah ada rasa haru dalam diri Mayor Mangku. Ia
berjanji malam nanti akan kembali ke rumah tahanan ini. Dan malam
harinya ia kembali. Yang dijumpai adalah kepala rumah tahanan,
Letnan Hamid.
“Sejak tahun berapa ia ditahan disini?" tanyanya.
“Menurut catatan sejak tahun 1965 Jenderal”
“Ada arsip pemeriksaan?”
“Saya tahu semua mereka satu-satu Jenderal. Jenderal bisa
bertanya”
“Apa tuduhannya”
“Anggota Baperki Jenderal”
“Terlibat dalam gerakan komunis PKI?”
“Ia selalu menyangkal Jenderal”
“Tidak ada bukti satupun?" tandas Mayor Jenderal Mangku.
“Dulu sudah sering diperiksa Jenderal”
“Baperki...," ujar Mayor Jenderal Mangku seolah pada diri
sendiri. Ia kemudian berjalan hilir mudik di ruang kerja komandan
rumah tahanan itu. Seperti dulu, rasanya banyak rahasia yang
tersimpan di benaknya.
“Bawa tahanan itu kemari," katanya kemudian.
“Jenderal mengenalnya dengan baik”
“Ya," jawab Jendral Mangku singkat.
Ia kemudian menceritakan siapa tahanan itu dan bagaimana
dengan keberaniannya pernah membantu para pejuang di saat yang
kritis bagi para pejuang. Saat pejuang sama sekali tidak punya senjata.
“Sayang orang seperti itu kemudian jadi komunis, jenderal,"
kata Letnan Hamid.

250
“sehari orang memang bisa jadi pahlawan, sehari kemudian
orang bisa jadi pengkhianat," jawab Mayor Jenderal Mangku.
Wajahnya tetap tak berubah. Seperti tak ada emosi yang tampak.
Padahal dalam hati berkecamuk macam-macam perasaan.

***

251
55

Dengan piyama lorek dan sandal jepit warna merah, Mayor
Phe memasuki kantor komandan rumah tahanan. Ia sudah tahu,
bahwa komandan Mangku pasti sudah menunggunya.
“Duduk," Ujar Mayor Jendral Mangku mempersilakan
Mayor Phe. Keduanya duduk berhadapan. Tak ada yang bicara.
“Bagaimana Nyonya," tanya Mayor Jendral Mangku. Ia sama
sekali tak tahu bahwa istri Mayor Phe sudah meninggal. Dulu sekali
ia pernah mendatangi rumah Mayor Phe. Tapi rumah itu sudah milik
orang lain. Ada memang rumah Mayor yang lainnya. Tapi rumah
Mayor The. Sedangkan yang dulu rumah Mayor Phe.
“Sebelum kedaulatan ia sudah meninggal," jawab Mayor Phe
lirih. Seolah ia masih mengenang kenyataan tempo dulu, ketika laki-
laki yang sekarang berpangkat Mayor Jendral ini datang ke rumahnya
dengan pakaian yang lusuh dan keadaan yang tak teratur. Dunia
memang sudah berubah. Tapi mereka pernah mengenal dalam
keadaan saling mencekam ternyata tidak berubah.
Mayor Jendral Mangku memejamkan matanya kemudian
menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Seolah ia ingin
menyembunyikan kesedihan hatinya mendengar berita yang buruk
itu. Seolah ia ingin membayangkan perempuan tionghoa yang cntik
dan anggun itu. Perempuan yang pernah membuatkan sendiri lauk-
pauk sayur lodeh dengan sambel terasi yang sangat enak yang tak
kalah dengan masakan orang Jawa lainnya. Hatinya lebih tertusuk,
ketika ia mengetahui bahwa perempuan itu mati karena ditembak
oleh “perampok”.
“Apa yang bisa saya bantu sekarang," tanya Mayor Jendral
Mangku kemudian setelah sesaat mereka saling bercerita. Mayor
Jendral Mangku gembira bahwa Mayor Phe mendapat perlakuan
yang baik dan demikian rata-rata tahanan yang lainnya.

252
“Saya ingin Mayor mencari tahu tentang anak saya”
“Tiba-tiba saja Mayor Jendral Mangku teringat Hian Biauw.
Nama ini sudah lama ia lupakan, karena anak buahnya termasuk
mereka yang “mbandel” tetapi yang kemudian mendapat restunya.
Sayangnya di antara yang “mbandel” itu cuma tiga orang yang
sekarang diketahui. Yang lain, dua orang, Hian Biauw dan Hendro
sama sekali tidak diketahui.
“Apakah ia juga ditangkap?”
Mayor Phe mengangguk perlahan.
“Di mana dia”
“Saya tidak tahu Mayor," Mayor Phe tetap menyebut Mayor
Jendral Mangku dengan sebutan Mayor seperti dulu dan Mayor
Jenderal Mangku rasanya tak keberatan.
“Apakah ia terlibat dalam gerakan komunis?”
Mayor Phe menggeleng lemah lagi.
“Kami sekeluarga bukan komunis," katanya kemudian.
Lalu lanjutnya:
“Kami tak pernah tahu apa ajaran komunis itu”
Mayor Jendral Mangku diam!
Malam itu mereka bercengkrama sampai pukul lima pagi.
Tak terasa. Saling bercerita tentang masa yang lampau. Dari laki-
laki tua ini Mayor Jenderal Mangku baru tahu bahwa seusai perang,
Hian Biauw memang menepati janjinya untuk menjadi guru di desa.
Omongan Mayor Phe sangat tertekan perasaannya ketika laki-laki
tua itu berkata:
“Hian Biauw tampaknya kecewa bahwa ia harus memilih
warga negara Indonesia. Ia sudah merasa menjadi bagian dari negara
ini. Ia juga sudah berada di desa sejak tahun 1945. Apalagi kemudian
ia karena dianggap orang Tionghoa tidak boleh berada di desa.
Padahal kerjanya di sana adalah untuk kepentingan orang desa. Kami

253
rugi banyak dan tak pernah mendapat untung. Ini nasib kelompok
kecil...”
“Bapak menyesal?" tiba-tiba saja Mayor Jendral Mangku
menyebut bapak kepada Mayor Phe.
Mayor Phe menggeleng.
“Tidak. Saya tidak pernah menyesal. PP 10 saya anggapan
merupakan peraturan yang terpaksa diambil oleh pemerintah.
Pemerintah tak punya pilihan lain. Kalau Mayor percaya, saya benar-
benar rtak menyesal. Bahkan saya sudah lupa kalau saya pernah
membantu perjuangan dengan senjata. Benar... saya tak pernah
mengingat semua itu. Dalam penyidikan yang dilakukan, saya juga
tidak pernah menceritakan bahwa saya pernah menyumbang kepada
para pejuang...”
“Mestinya itu dikatakan”
“Saya rasa tidak perlu. Pejuang banyak yang mengorbankan
nyawa. Dibandingkan dengan mereka, apa arti bantuan saya itu”
“Bantuan bapak berarti banyak bagi kami saat itu”
Mayor Phe senyum. Ada rasa getir dalam senyumnya. Tapi
sebagai seorang bekas pemimpin orang-orang Tionghoa di Surabaya
masih tampak sisa-sisa kewibawaan masa lampaunya.
“Tolonglah cari tahu tentang anak saya," katanya memelas.
Rasanya cuma itu harapannya.
“Saya akan mencoba sebisa saya”
***
Berkat bantuan Mayor Jendral Mangku, tahun 1976 Mayor
Phe dibebaskan. Itu pun sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah
dalam memperlakukan tahanan bagi mereka yang terlibat G30S.
Bahkan yang di pulau Buru pun secara berangsur sudah dibebaskan.
Belum berhasil menyidik tentang Hian Biauw. Sebab tugasnya makin
menyita seluruh waktunya. Ia terlibat dalam urusan untuk

254
membebaskan semua tahanan politik serta pembinaan bagi mereka
dikemudian harinya. Bukan kerja yang gampang.
Mayor Phe masih sempat bertemu dengan Mayor Jendral
Mangku dua kali lagi di Jakarta. Di tahun 1979 ia meninggal dunia
dengan tenang di rumah sakit Sawahan, Malang. Bukan karena apa-
apa, tapi karena penyakit tua. Tampaknya ia meninggal dunia dengan
tenang. Ingatannya masih kokoh dan ia masih menantikan anaknya
pulang...
***
Dengan kematian Mayor Phe, habislah tokoh pemimpin
kelompok Tionghoa, sisa dari stelsel zaman penjajahan, Mayor Phe
memang bergembira, sampai akhir hayatnya, ia bisa melihat negeri
ini, bukan saja sudah merdeka, tapi bisa menata diri dengan baik.
Selama dalam tahanan ia memang tidak melihat perkembangan yang
terjadi. Tapi sejak keluar, ia melihat bahwa bangsa yang sejak masa
mudanya dianggap sebagai bangsa tempe, bangsa klas tiga, ternyata
merupakan bangsa yang sanggup berdiri di atas kaki sendiri. Bisa
menjadi bangsa yang mandiri. Karenanya ia sering berkata kepada
cucu kemenakannya agar mereka melihat contoh perkembangan
bangsa, dimana sekarang mereka termasuk di dalamnya. Bangsa ini
memiliki satu militansi yang luar biasa hebatnya. Ini menurut Mayor
Phe yang hidup di zaman Belanda, hidup di zaman Jepang, hidup di
alam perjuangan dan sekarang hidup di alam pembangunan, karena
mereka berani melihat kenyataan bahwa dulu mereka melarat!
Meninggalnya Mayor Phe menghapus legenda yang tragis
dari kehidupan secuil kelompok dalam masyarakat Indonesia.
Apakah begitu memangnya nasib kelompok yang disebut minoritas?
Sering jadi korban pergolakan karena mereka memang tidak tahu
apa-apa? Apakah di luar negeri juga begitu?
Tampaknya jawabannya condong ya. Dalam perjuangan yang
keras untuk menuntut persatuan dan kesatuan dalam berbagai bidang

255
dan persamaan hak serta kewajiban, mereka seringkali “lari”
terlampau cepat. Sehingga bisa-bisa saja mereka tersandung. Apakah
tersandungnya itu kemudian harus mereka bayar dengan mahal, itulah
konsekuensi orang yang lari tanpa mau melihat muka belakang,
kanan dan kiri. Tapi betapapun juga, kehadiran orang semacam tokoh
Mayor Phe, memberikan warna tersendiri dalam kehidupan
masyarakat Tionghoa. Laki-laki yang sbeenarnya tak punya ambisi,
yang entah bagaimana bisa mendapat pangkat yang tinggi, mayor
dalam stelsel masyarakat kolonial di zaman kolonial, menjadikan
hidup ini flamboyan!

256
56

Warisan yang didapat berkat perjuangan yang ulet dari nenek
moyangnya yang banyak jasanya kepada pihak Belanda. Apakah
karena berjasa kepada Belanda ini mereka kemudian mendapat status
warga negara kelas dua dan menindas kelompok kelas yang lebih
rendah, yang kemudian setelah revolusi beralih kedudukannya
menjadi warga negara utama? Semuanya merupakan satu teka-teki
yang penuh misteri. Seperti misalnya, apakah betul orang Tionghoa
itu dianakemaskan oleh pihak kolonial. Apakah bukan orang
Tionghoa itu diperalat oleh Belanda untuk mencapai tujuan
politiknya? Agar mereka itu tidak terlibat langsung dengan
masyarakat yang mereka sebut pribumi? Karena, kalau harus
berhadapan langsung dengan pribumi, bukanlah mereka akan
mendapat kritikan yang tajam di dalam negeri di Belanda sendiri.
Bukankah membiarkan orang Tionghoa bertarung sendiri dengan
orang Jawa, jauh lebih baik ketimbang Belanda sendiri yang
bertarung dengan penduduk pribumi. Bukankah Belanda lebih enak
memberikan hak monopoli garam kepada orang Tionghoa daripada
harus berurusan dengan orang pribumi hanya karena soal garam saja?
Atau, memang orang Belanda tidak mau kerja keras seperti orang
Tionghoa. Orang Belanda sebenarnya sama dengan orang Jawa saat
itu. Keduanya tidak mau kerja keras. Belanda memang sudah
mengebiri kemauan kerja keras itu. Raja-raja di Jawa dipupusi
kekuasaannya oleh Belanda. Sebagai gantinya raja-raja di Jawa diberi
upeti semacam gaji. Dengan begitu raja-raja di Jawa tidak perlu lagi
kerja keras. Mereka sudah cukup. Upeti dari kompeni misalnya,
bukan cuma cukup untuk hidup sehari-hari, tapi juga cukup untuk
memelihara harem. Inilah kenyataan yang timbul, sebagai akibat
stelsel yang memang sengaja dibuat oleh pihak Belanda. Dan orang
Tionghoa, di saat orang Jawa atau pribumi lainnya termanggu

257
menikmati gemerincingnya dinar Belanda, berkeliling desa
menjajakan barang dagangan. Kadang dengan kredit. Dan semua
ini terjadi pada zaman Mayor Phe. Di sinilah respek Mayor Phe

terhadap bangsa ini. Bangsa yang dulu cuma manja begitu saja
bangun pagi minum kopi sambil “mengundang” burung perkututnya,
sekarang mampu berjuang dan membentuk satu negara yang
tampaknya akan melaju terus jika semangat membangun itu terus
terjaga.
Sentimen? Sakit hati? Perasaan ini bisa saja berkecamuk
dalam hati Mayor Phe. Gelombang hidup macam-macam telah
dialami. Suka duka dan tampaknya dalam usia tuanya ia harus
menanggung banyak beban. Apakah ini hukum karma. Mungkin saja,
sebagai orang Tionghoa ia cuma beranggapan bahwa nasib itu sudah
menjadi “mia” nya. Sudah menjadi suratan takdir yang tak bisa
dielakkan. Karenanya, sebagai yang diutarakan kepada Mayor
Jendral Mangku, ia sama sekali tidak pernah punya perasaan sakit
hati atau menyesal. Ia tak pernah menyesal pernah membantu
perjuangan para pejuang. Ia menganggap semuanya sebagai satu
hal yang wajar saja. Tak lebih dari itu. Karenanya juga ketika ia
meninggal dunia, tak ada satu pun tanda penghargaan yang dimiliki
atau diberikan. Ia tak pernah meminta. Apa yang telah dilakukan
terkubur begitu saja. Sejarah tak pernah mencatat. Karena orang-
orang yang tahu situasinya yang sebenarnya seperti Mayor Jendral
Mangku di tahun 1982 juga telah meninggal dunia karena serangan
jantung.
Apa yang telah diperbuat oleh Mayor Phe, apa yang telah
direlakan oleh Nyonya Phe yang cantik dan anggun itu terkubur
sepi bersama jenazah mereka..
Dan inilah kisah tentang Effendi. Lakon ini tampaknya cuma
membayang dalam keseluruhan cerita ini. Tapi sebenarnya ia justru

258
merupakan titik penentu dalam perjuangan Hian Biauw. Sahabatnya
itu merupakan teman terdekatnya. Bukan hanya di sekolah, tapi juga
dalam kehidupannya sehari-hari. Karena Hian Biauw sendiri tidak
mempunyai saudara, anak tunggal, Effendi bukan cuma dekat dengan
Hian Biauw, melainkan juga dekat dengan keluarga Hian Biauw,
kedua orang tuanya. Bergaul dengan mereka ia baru mengetahui
bahwa tidak semua orang Tionghoa hidupnya jorok. Ia merasakan
ketertiban menyelimuti keluarga Mayor Phe. Ketertiban dalam segala
bidang, terutama dalam tatakrama kekeluargaan. Ia juga melihat
bahwa orang Tionghoa tidak bersikap egosentris, artinya mau
menangnya sendiri saja. Mereka juga bukan tergolong orang yang
menyendiri yang mau hidup untuk diri mereka saja. Ternyata mereka
juga mau mengerti kepentingan orang lain. Effendi melihat sendiri,
bahwa orang yang datang ke tempat Mayor Phe untuk meminta
pertolongan bukanlah hanya orang Tionghoa saja, yang hidup di
kampung, tetapi juga orang Jawa dan Madura. Mereka ini sering
mendapat bantuan berupa beras, ikan asin dan garam. Saat itu hidup
dengan ikan asin dan garam sudah merupakan kemewahan bagi
rakyat jelata. Karena itulah Effendi sangat menyayang Hian Biauw
yang usianya sebaya. Keduanya memang saling menyayangi. Oleh
karena itulah ketika ia tak berhasil menemui Hian Biauw di markas
Surabaya, ia kemudian bergabung dengan pasukan yang mundur ke
arah timur.
Mula-mula ia ikut pasukan Djarot. Banyak orang menduga
bahwa ia seterusnya berada dalam pasukan Mayangkara yang
terkenal itu. Tapi tidak. Effendi ternyata membentuk pasukan sendiri
yang diberi nama “Rajawali Sakti” dan bermarkas di Lamongan.
Dengan demikian pasukannya bisa menahan pasukan Belanda yang
dari Surabaya ingin bergerak ke Barat dan pasukan Djarot
membendung pasukan Belanda yang berusaha memasuki kota

259
Surabaya dari arah Barat. Seolah ada dua benteng. Daerah antara
Bojonegoro-Lamongan menjadi aman dari serbuan Belanda.
Tampaknya seperti tiba-tiba saja. Ada perasaan lain dalam
hati Effendi melihat banyak pemuda-pemuda yang masih remaja
berada di sekitarnya. Dengan tubuh dada telanjang memberikan
perasaan tersendiri dalam perasaannya dan akhirnya tanpa terasa ia
terlibat dalam astu roman dengan teman perjuangan. Sama-sama
lakinya dan itu berlangsung terus. Apakah sikapnya yang timbul
dengan tiba-tiba itu merupakan sifat yang negatif atau bisa
dibenarkan? Tak seorang anak buahnya yang berani menegurnya
terang-terangan. Tapi yang nyata, kehidupan itu berlangsung terus.
Makin mendekati hari pertempuran usai, pada diri Effendi makin
ada perasaan tercekam. Rasa takut untuk menghadapi masa yang
akan datang. Apakah yang bisa diperbuatnya. Kegoyahan mulai
timbul. Ketidakstabilan dalam memimpin anak buahnya ini membuat
pasukannya menjadi tak teratur. Mereka sering membiarkan
penduduk melakukan pencurian kayu jati dengan imbalan rokok.
Mula-mula cuma ini.
Tapi dasar manusia. Makin lama rokok dirasakan tidak
cukup. Mulailah beberapa oknum pejuang melakukan penebangan
kayu jati, lantas dari sana dijual kepada penduduk dan penduduk
menjualnya kepada pedagang Tionghoa yang ada di Surabaya dengan
harga yang mahal. Semua itu dibiarkan Effendi. Rasanya seperti
pemuda yang sedang di mabuk cinta, ia cuma melakukan tugasnya
menghadang Belanda. Apa yang dilakukan anak buahnya dalam
mengisi kekosongan ia tak pernah mau tahu.
Karena itulah ia jadi kaget, ketika ada berita yang diterima
dari Bojonegoro, bahwa aperang tak lama lagi akan usai dan para
pejuang diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan damai.
Seperti yang diberikan kesempatan kepada pejuang-pejuang yang
tergabung dalam pasukan Mangku, pasukan yang ada di bawah

260
komando Effendi juga diberi kesempatan untuk menempuh
pendidikan yang lebih tinggi. Tapi tampaknya tawaran pemerintah
ini tidak menarik. Kayu jati lebih menarik bagi kaum pejuang. Sebab
kayu jati bisa langsung jadi duit yang sangat mereka butuhkan.

***

261
57

Sayangnya, ketika kemudian kedaulatan yang dinantikan tiba,
para pejuang sering kali menghadapi dunia yang lain dari yang
mereka impikan. Terutama untuk laskar yang tergabung dalam
kesatuan Effendi. Bukan saja pangkat mereka harus disamakan sesuai
dengan jasa dan kebutuhan pada zaman damai, sehingga karenanya
banyak yang mengalami penurunan pangkat. Yang tidak bisa
menerima keadaan ini sudah barang tentu menimbulkan
kegoncangan. Lupa bahwa kepangkatan dulu di zaman revolusi
bukanlah kepangkatan yang diatur oleh satu lembaga. Tapi
kepangkatan dalam suatu revolusi. Yang bisa saja tinggi tapi bisa
saja normal. Yang normal mungkin seperti Mayor Mangku dan
Djarot, yang sama sekali tidak mengalami penurunan pangkat.bahkan
ada kenaikan. Ketidaksesuaian dengan keadaan damai itulah yang
menimbulkan apatisme dan kemudian seperti Effendi tetap berada
di Lamongan. Tidak semua. Tapi Effendi adalah salah satu contoh!
Ia kemudian dikenal di daerah itu sebagai “begal” modern. Istilahnya
yang lebih umum mungkin perampok yang budiman yang seperti
dalam cerita Robin hood, sering melakukan perampokan untuk
kepentingan penduduk. Bagi Effendi kebutuhannya tidk banyak, tapi
uang harus segera ada, pencurian kayu jati memang merupakan satu
jalan keluar. Ia sudah puas jika kebutuhan untuk seminggu terpenuhi.
Selebihnya ia serahkan dan bagikan kepada penduduk. Karenanya
Effendi dan kawan-kawannya sulit ditindak oleh yang berwajib.
Tampaknya Effendi seperti dibiarkan begitu saja. Padahal jelas sikap
dan tindak tanduknya itu merugikan pemerintah. Bisa sering terjadi
penebangan kayu yang tidak teratur, sebab dilakukan secara tergesa,
takut ketahuan mantri kehutanan.
Effendi yang tak bisa ditangkap karena mendapat bantuan
dari masyarakat sekitarnya, terutama dari Kedungpring, kemudian

262
tumbuh menjadi legenda rakyat yang mengasyikkan. Disiarkan isu
bahwa perampok lihay yang bernama Effendi itu bisa menghilang
dan tak mempan peluru. Beberapa kali operasi dikerahkan untuk
membasminya, tetapi sia-sia saja. Hal yang sebenarnya bukan
disebabkan oleh Effendi kebal, tapi karena ia memperoleh bantuan
dari masyarakat. Semua anggota masyarakat bungkam kalau ditanya
di manaEffendi bersembunyi. Padahal mungkin saja, Effendi
bersembunyi di rumah tak jauh dari patroli polisi dan tentara.
Kejadian ini terus berlangsung. Hutan makin gundul. Kayu-kayu
jati, bertruk-truk diangkut entah kemana dijual kepada pedagang-
pedagang. Operasi mereka bukan hanya di Lamongan. Tapi sampai
jauh ke Bojonegoro, Tuban dan daerah sekitarnya. Berlangsung lama,
tapi Effendi juga tidak menjadi kaya. Ia tetap merupakan seorang
laki-laki, yang lusuh pakaiannya. Yang hidupnya cuma dari hari ke
hari. Yang sering dilihat penduduk desa minum tuak sampai mabuk
bersama anggota masyarakat.
Tampaknya hidup ini sama sekali tidak punya arti bagi
Effendi dan sekelompok teman-teman seperjuangannya. Tapi tidak
semua anggota kelompoknya berbuat bodoh seperti Effendi.
Ada yang diam-diam mengirimkan uang hasil perampokan
yang dibagi rata oleh Effendi ke desa. Di sana dibelikan sapi, sawah.
Kemudian ada juga yang mentas dari kehidupan yang tercela itu.
Tidak lagi tinggal bersama Effendi untuk merampok. Bahkan ada
juga yang kemudian, karena punya modal, kemudian jadi pedagang
kayu jati. Setelah tidak ada lagi kayu jati yang dirampok, ditebang
dan lain-lainnya, mereka berdagang betul-betul sebagai pedagang
yang baik. Wawasan baru mulai mereka cari. Mereka mulai
berdagang kayu meranti. Mendatangkan dari Kalimantan dan tempat-
tempat lainnya. Kerja sebagai perampok memang kemudian bisa
menumbuhkan mereka sebagai pedagang yang tangguh. Sedangkan
Effendi tetap seperti dulu, tak punya apa-apa. Kelompok yang seperti

263
Effendi ini, sisa-sisa dari perjuangan “tempo dulu” jumlahnya tidak
sedikit. Pemerintah memang berupaya keras untuk membantu mereka
mentas dari kemelut yang tampaknya tidak berujung pangkal ini.
Sayang memangnya, kesempatan yang baik dari pemerintah untuk
melanjutkan studi tidak mereka tanggapi dengan baik. Padahal,
memperdalam ilmu satu-satunya langkah positif yang bisa mereka
tempuh. Sebab Indonesia yang baru merdeka, memerlukan tenaga
yang terdidik untuk menggantikan tenaga-tenaga bangsa asing yang
masih banyak ada di Indonesia. Tenaga-tenaga itu harus diganti dan
mereka yang bisa mengganti, adalah para pejuang yang kemudian
melanjutkan studi. Effendi telah menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia
harus membayar mahal, karena ia juga tidak mempunyai rencana
yang teratur tentang masa depan.
Orang seperti Effendi kemudian memang harus dianggap
sebagai “sampah masyarakat”. Tak ada yang mau melirik lagi
kepadanya. Bagaimana orang seperti dia dan sahabat-sahabatnya bisa
ditolong lagi. Karena untuk menolong diri mereka sendiri saja mereka
tak mampu, apalagi menolong orang lain. Tampaknya apa yang
dikatakan Mayor Jendral Mangku kepada kepala rumah tahanan di
Malang itu betul. Seorang saat sekarang bisa jadi pahlawan tapi sesaat
kemudian jadi pengkhianat. Dalam perjuangan 10 November di
Surabaya. Effendi memang jadi lakon. Ia sebenarnya yang menulis
dengan tinta mas dalam sejarah 10 November itu. Yang lain cuma
terlibat saja. Sering juga cuma sekedar jadi penonton yang baik.
Tapi Effendi, dia terlibat langsung. Pertempuran yang heroik di
Praban, malam itu menjadi pertempuran yang membuat Belanda
jadi agak ragu-ragu, bukan satu hal yang mustahil, perjuangan
memperoleh bentuknya yang lain. Belanda akan main hantam saja,
karena sebenarnya persenjataan Belanda yang saat itu bisa dianggap
mutakhir, karena merupakan senjata sekutu yang menang perang
dalam perang Dunia II yang baru lalu. Effendi juga tidak terlalu

264
menganggap kemenangannya sebagai kemenangan yang heroik. Saat
itu ia merasa biasa saja. Itu merupakan satu keharusan baginya.
Mencegat Belanda dan membuat Belanda tidak seenaknya maju ke
Selatan dari Tanjung Perak. Hanya kadang-kadang kalau ia membaca
pemberitaan pers bahwa telah terjadi korupsi, ia jadi teringat kejadian
yang heroik itu. Mengapa perjuangan bangsa dinodai oleh kelompok
yang sekarang sedang berkuasa. Tidakkah mereka ingat bahwa
kemerdekaan ini telah direbut oleh banyak pengorbanan jiwa dan
raga pejuang-pejuang yang saat itu berjuang tanpa pamrih?
Tapi lupalah Effendi sendiri akan kenyataan bahwa
tindakannya dengan merampok kayu jati adalah juga bertentangan
dengan perjuangannya yang semula, ketika ia masih menjadi anak
muda Kawatan yang baru berusia belasan tahun, belum dua puluh
tahu? Lupakah ia?

265
58

Tahun 1965 di Lamongan

Hari itu semestinya semuanya berjalan dengan wajar saja.
Keadaan menjadi agak panik ketika rakyat mendengarkan siaran
radio yang simpang siur. Tapi kesimpang siuran itu kemudian tak
lama berlangsung. Rakyat segera tahu kalau komunis telah
memberontak tetapi kemudian bisa diatasi oleh pihak militer. Effendi
juga tertegun sesaat. Tapi secepat itu pula kemudian massa
mendatangi “tempatnya” yang sebagian terdapat orang-orang yang
selama ini sering dikenal. Effendi “diambil” massa dengan tuduhan
dia komunis. Untungnya ia punya banyak koneksi sehingga ia benar-
benar bisa diamankan dan dari Lamongan ia dibawa ke Surabaya,
kira-kira pada pertengahan Oktober. Dari sana ia dibawa lagi ke
Jakarta. Karena nama Effendi sebenarnya sudah cukup populer
sebagai “penjahat”.
Mula-mula ia memang dimasukkan ke dalam rumah tahanan
yang lain. Untuk dia khusus kemudian ada interogasi. Masih muda
yang menghadapinya. Ternyata seorang wartawan yang sudah lama
melacak kehidupannya tapi tak penah ketemu. Sebab rakyat di
Lamongan semuanya menyembunyikan dirinya. Wartawan itu
ternyata pembantu sebuah surat kabar di Singapura yang bertugas
menggantikan wartawan yang dahulu bertugas, untuk melacak terus
kehidupan Effendi yang diketahui banyak wartawan luar negeri
sebagai salah satu pemuda yang berhasil menyergap tentara Belanda
sewaktu pertempuran di Surabaya.
“Mengapa adik bisa ada di sini," tanya Effendi setelah
pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Simon.
“Saya memang mendapat bantuan dari bapak-bapak. Saya
berhasil melihat daftar nama-nama yang ada di sini”.

266
“Lantas?”
“Lantas saya tertarik pada nama Bapak, sebab di situ
dicantumkan bahwa Bapak dari Lamongan”
“Apa yang ingin adik ketahui! Sekarang keadaan saya seperti
ini. Tak ada cerita yang menarik lagi," jawab Effendi ogah. Ia merasa
sudah tak penting lagi bicara tentang masa lalu.
“Mengapa Bapak ditangkap?”
“Itu pertanyaan yang bagus”
“Apa Bapak terlibat?”
“Yang saya ketahui cuma ilmu maling. Anda tahu ilmu
maling itu? Kalau belum, anda harus beli buku Bantaljemur. Di situ
semuanya tertulis. Kalau mau maling, harus baca buku itu, supaya
tahu betul ke arah mana harus lari agar tidak tertangkap”
“Bapak percaya pada ilmu klenik itu?”
“Itu bukan ilmu klenik. Itu perhitungan yang sangat waskita
dari para leluhur kita. Sekarang kita enak. Kalau habis maling lantas
lari ke arah timur sudah aman. Tapi dulu sehabis maling kalau lari
ke arah Barat, bertentangan dengan yang seharusnya ditempuh,
maling bisa babak belur dihantam penduduk”
“Kalau boleh saya mendapat keterangan dari Bapak,
mengapa Bapak pilih kehidupan yang seperti Bapak pilih itu”
“Menjadi maling? Katakan saja menjadi perampok, begitu”
Wartawan itu yang tampaknya masih muda memang agak
“grogi” sedikit menghadapi tokoh yang berhasil diwawancarai.
Lelaki usia pertengahan yang berambut gondrong, berkumis dan
berjanggut lebat. Inilah lelaki yang sudah lama dicari orang. Cuma
wartawan-wartawan luar negeri yang mampu mencium jejaknya
selama ini, meskipun mereka tak berhasil ketemu. Ketut Tantri di
Amerika yang mengumbar cerita itu dari mulut-mulut. Bahwa ada
pejuang yang kemudian tetap hidup di hutan seperti Robin Hood.
Cerita semacam ini memang mungkin tidak menarik bagi kita sendiri.

267
Karena betapa pun, kisah Effendi merupakan aib bagi para pejuang.
Mereka yang dulu berjuang dengan keyakinan untuk kemerdekaan
bangsa dan negara kemudian merusak citra itu sendiri dengan
tindakan-tindakan yang tidak terpuji.
“Masyarakat ingin tahu, kalau Bapak tidak keberatan”
“Keberatan tentu. Sebab bagi orng seperti saya, apa artinya
cerita tentang apa yang sudah terjadi. Yang kita hadapi adalah hari
ini dan besok”
“Bapak masih punya keyakinan akan hari esok?”
Effendi tidak segera menjawab.
Ia memandang dengan pandangannya yang tajam pada
wartawan muda Simon.
“Kalau tak keberatan , Pak," ujar Simon kembali. Seolah ia
tak perduli akan sikap Effendi. Apakah ia marah atau tidak. Baginya
yang penting, kesempatan untuk bertemu dengan tokoh yang punya
sifat kontroversial ini harus dipergunakan sebaik-baiknya.
“Dari mana?" ujar Effendi akhirnya. Ia pun kemudian
berpikir, daripada ia harus kembali ke blok di rumah tahanan, lebih
baik ia mengadakan wawancara dengan pemuda ini.
“Dari mana saja yang menurut Bapak penting”
“Aku sendiri sudah lupa, kau yang tanya, aku yang jawab”
“Kalau begitu, apa sebenarnya yang membuat Bapak
berjuang tempo hari di Surabaya. Apakah Bapak berangkat dengan
penuh keyakinan?”
Effendi tertawa. Ia ingat masa-masa yang lalu. Berjuang pada
waktu masih pakai celana pendek.
“Saat itu ada keyakinan," katanya.
“Lantas apa yang membawa Bapak berjuang”
“Keberanian dan kemiskinan”
“Dua semangat itu”
“Ya”

268
Simon pun kemudian diam mencatat.
“Mengapa kemiskinan Bapak angkat sebagai salah satu
dalih”
“Waktu itu semua orang Jawa miskin. Tak ada yang kaya.
Ada memangnya, tapi sedikit. Kita bisa bilang, waktu itu kita miskin
betul-betul. Bukan saja oleh penjajahan Belanda tetapi juga oleh
Jepang. Sudah tak ada lagi nasi yang bisa kita makan. Beras ada dan
murah. Tapi dengan apa mau dibeli. Pakaian juga begitu. Ini pakaian
tahanan. Tapi masih bagus," kata Effendi, seraya memegang pakaian
tahanan yang dikenakannya.
“Dulu kalau pakaian dari goni, wah gatalnya bukan main.
Karena dulu juga tak ada orang yang pakai celana dalam..”
Simon terbelalak. Ini soal baru. Kemiskinan rupanya sudah
sedemikian rupa dulu, sehingga orang sudah tidak pakai celana dalam
lagi. Mungkin saja apa yang diutarakan terlalu ekstrem. Tapi
begitulah kenyataan yang dialami sebagai pemuda kampung Kawatan
saat itu.

269
59

“Mengapa Bapak ikut berjuang”
Ini pertanyaan yang mengulang terus. Tapi karena jawaban
itu yang diinginkan, Simon mengejar terus. Ia ingin sebenarnya
mengetahui, apa sebabnya pemuda-pemuda dulu, yang sama sekali
tidak punya ketrampilan berperang, berani angkat senjata.
“Situasinya seperti sekarang lain," jawab Effendi. Ia sesaat
lagi baru meneruskan.
“dulu kalau kita tidak ikut perang, rasanya kita malu. Rasanya
ya cuma ini saja. Kita malu kalau ada di kampung sambil
mendengarkan pidato bung tomo. Lantas kita main kelereng atau
egrang. Saat itu sepertinya ada pemeo, pemuda keluar kampung,
gadis yang tinggal. Kita bisa diolok banci kalau tinggal di kampung.
Dalam situasi seperti itu, di mana kita cuma dilandasi rasa malu,
kalau tidak ikut jadi pejuang, hanya yang berani muncul ke
permukaan. Yang berani tampil sebagai pemimpin. Yang paling
berani biasanya yang sudah tidak punya apa-apa lagi di rumah. Yang
sebatang kara. Yang sudah tak punya tanggungan apa-apa.”
“Bapak sendiri saat itu kan masih punya orangtua dan adik.”
“Ya. Tapi kami adalah keluarga yang miskin. Dalam benak
saya, yang ingin seperti Napoleon begitu. Dari orang yang paling
rendah, kemudian bisa jadi jendral dan kemudian raja.”
“Jadi Bapak sebenarnya ingin jadi Presiden?”
Tiba-tiba saja Effendi melotot matanya. Rasanya sudah
keterlaluan pertanyaan yang satu ini. Tapi segera juga emosinya
menurun.
“Tidak. Saya tidak ingin jadi Presiden. Saya juga tidak ingin
jadi Jendral. Tapi saya benar-benar ingin jadi Napoleon. Artinya
mengangkat sendiri derajat diri sendiri dari kemiskinan ke tingkat
yang atas. Saya tak ingin menyerahkan nasib saya pada orang lain.

270
Dari segi ini saja penyerbuan dari Praban harus dinilai. Waktu itu
Belanda masuk Surabaya lewat Tanjung Perak. Semua orang mundur.
Menurut saya, kita boleh mundur, tapi kita harus berbuat sesuatu.”
“Karenanya bapak menyerbu sebelum mundur”
“Ya”
“Mengapa bapak cuma membawa seorang anak buah?”
“Karena cuma dia yang mau dan cuma dia yang berani.”
“Yang lain?”
“Yang lain cuma mengikuti instruksi untuk mundur dan
membumihanguskan apa yang ditinggalkan.”
“Apakah Bapak mendapat restu dari komandan?”
“Waktu itu saya sendiri yang menjadi komandan. Pasukan
saya terdiri dari anak yang ada di Bubutan yang dikenal orang dengan
nama lasjkar Kawatan. Tapi saya sendiri tak pernah menamakan
lasjkar saya begitu.”
“Tapi Bapak kan anak Kawatan”
“Betul”
“Lantas mengapa Bapak tidak melebur ke kesatuan Angkatan
Perang setelah kedaulatan”
Effendi diam. Rasanya banyak masalah yang masih jadi
kenangan.
Simon kemudian mulai bisa memahami laki-laki yang duduk
di mukanya. Ada ketegangan ia rasakan. Ia kemudian berusaha untuk
mengalihkan kepersoalan yang paling pokok”
“Jadi apa alasan Bapak sebenarnya untuk membelot”
“Saya tidak pernah mebelot," jawab Effendi cepat dan tegas.
Dari nada suaranya terasakan kemantapan.
“Saya benar-benar tidak merasa pernah membelot,"
sambungnya.
“Mengapa Bapak tidak bergabung dengan Angkatan Perang
Republik yang Bapak perjuangkan, setelah perang selesai”

271
“Itu cuma satu perasaan saja. Saya ingin bebas”
“Dengan merampok”
“Dengan merampok”
“saya dikatakan merampok, OK! Saya memang merampok.
Tapi yang berbuat lebih dari itu banyak. Saya tak perlu mengatakan,
dengan jelas. Adik pasti sudah tahu sendiri. Saya merampok, sebagian
saya berikan kepada rakyat di sekitar saya”
“Masalah yang Bapak lakukan tidak memecahkan persoalan”
“Saya tahu, kemiskinan memang tidak bisa diterapi dengan
cara saya. Tapi yang jelas, saya masih berbuat sesuatu yang bisa
dinikmati masyarakat”
“Meskipun dengan cara yang salah”
“Ya, dengan cara yang salah”
“Bapak sadar bahwa Bapak telah melangkah salah?”
“Sadar”
“Mengapa Bapak lakukan”
Bagi Effendi ini merupakan pertanyaan yang berat. Lama ia
sudah sering merenung. Lama sudah ia ingin pertanyaan itu terjawab
sendiri. Tapi ia memang tidak bisa menjawab. Ia tak tahu, mengapa
ia mengambil langkah yang salah itu”
“Apakah tindakan Bapak itu terpengaruh oleh perbuatan
heroik Bapak di Praban dulu?" tanya Simon memecahkan
keheningan suasana.
“Saya kira tidak. Bagi saya peristiwa di Praban itu cuma
satu epos saja. Saya tahu bahwa ia memiliki unsur kepahlawanan.
Cuma itu. Habis itu, ketika saya bergabung dengan pasukan lain,
saya sudah lupa, yang kita hadapi kemudian adalah soal makan,
senjata dan kebulatan tekad untuk menghadang Belanda," jawab
Effendi perlahan menahan emosinya.
“apakah Bapak kecewa? Maafkan pertanyaan saya yang
berulang ini”

272
“Tidak. Saya mencintai Republik ini. Saya cinta pada Bung
Karno dulu. Dia pemimpin besar saat itu.”
“Sekarang Bapak tidak cinta lagi pada bung Karno?”
“Saya hargai beliau sebagai Presiden kita. Tapi persoalan
yang paling penting, saya kecewa karena beliau membiarkan
pembantu-pembantunya korupsi. Merampok bagi saya adalah satu
perbuatan yang terang-terangan. Sekarang saya tertangkap. Saya siap
untuk diadili sebagai perampok yang merampok harta milik
pemerintah selama bertahun-tahun. Tapi saya tidak mau kalau saya
dianggap sebagai komunis.”
“Saya tak pernah mengerti tentang itu. Saya cuma tahu bahwa
mereka miskin dan karenanya juga saya bantu. Uang bagi saya bukan
target hidup saya.”
“Lantas apa target hidup Bapak”
“Berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat”
Seorang petugas berpakaian seragam muncul. Dan hari itu
adalah hari terakhir Effendi boleh ketemu dengan orang luar. Setelah
itu tak ada lagi kesempatan. Kabar terakhir ia akan di-pulau buru-
kan. Kenyataan memang demikian. Ia termasuk daftar hitam.
***
Di pulau Buru itulah ia kemudian ketemu dengan Hian
Biauw. Mereka tidak kumpul jadi satu. Terpisah lewat barak masing-
masing yang tempatnya cukup jauh. Mereka bertemu untuk pertama
kalinya, setelah terpisah bertahun-tahun ketika ada perayaan tujuh
belas Agustus. Ada upacara. Karena tak ada wanita pertunjukan yang
diadakan seperti ludruk. Pemain wanita diperankan laki-laki dan
Effendi ambil bagian. Effendi tak sempat menikmati kebebasan.
Karena sakit ia kemudian meninggal dunia tahun 1971. Ketika ia
dimakamkan, Hian Biauw hadir. Laki-laki ini, sahabatnya, cuma
bisa berlinang air mata. Tampaknya air mata itu sudah tidak ada
lagi. Hian Biauw menunduk ikut menaburkan bunga kembang sepatu

273
yang dipetiknya, yang banyak tumbuh di daerah itu. Ia cuma
bergumam sendiri: Selamat jalan Ef, selamat jalan...!
Dan inilah kisah selanjutnya tentang Latifah. Gadis ini
sempat sampai di Surabaya. Dulu, ia memang menuju ke Surabaya
dari Malang bersama beberapa kawan lulusan dari sekolah Mulo
Malang. Tapi ia tak sempat sampai di tempat tujuan. Pemuda-pemuda
yang berjuang di Surabaya sudah diinstruksikan untuk mundur. Ia
sempat berpapasan dengan mereka yang hendak ke Mojokerto. Tapi
ia maju terus. Sudah sampai ke Sidoarjo. Kemudian mundur lagi.
Terus mundur bersama pengungsi yang lain. Karena dari Sidoarjo
ia melihat pengungsi yang keluar kota surabaya banyak yang tak
terurus. Mereka juga tak tahu mau ke mana mereka sebenarnya.
Hasrat yang ada dalam hati cuma satu. Tak rela di bawah penjajahan
Belanda lagi yang sudah menduduki Surabaya. Padahal surabaya
sebenarnya belum diduduki sepenuhnya oleh Belanda. Belanda saat
itu baru di Tanjung Perak. Hanya instruksi Pusat saja yang
menyebabkan para pejuang mengungsi. Padahal, kalau menurut
kehendak hati, ultimatum itu mestinya dijawab dengan kekuatan
senjata juga. Mereka sudah rela menyabung nyawa, membela negara
baru yang baru saja diproklamirkan Soekarno-Hatta. Tapi apa mau
dikata, untuk menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang merdeka
yang taat pada pimpinan, maka instruksi dari Pusat itu pun harus
ditaati, senang atau tidak senang.

274
60

Latifah kemudian sampai lagi di Pandaan. Dari situ
pengungsi menyebar. Ada yang terus ke Malang. Ada yang kemudian
mau ke Pasuruan. Tadinya mereka cuma ikut arus saja. Membentuk
barisan panjang kaum pengungsi. Empat orang kawan Latifah jadi
bengong, ketika mereka harus menentukan sikap. Akhirnya muncul
pasukan Mayor Mangku yang datang juga dari arah Malang. Latifah
memutuskan bergabung dengan pasukan ini. Di antara orang yang
mengungsi banyak pemuda yang kemudian bergantian dengan
pasukan yang baru datang. Lainnya ada yang ke Pasuruan bersama
pasukan yang datang kemudian dari Surabaya. Semrawut pendeknya!
Siapa yang bergabung dapat bergabung begitu saja. Mudah sekali.
Mereka itulah yang kemudian membentuk satu pasukan.
Tapi ada juga pemuda-pemuda yang tadinya ikut mengungsi
ketika melihat pasukan yang dianggap mereka gagah, lantas
membentuk pasukan sendiri. Mudah sekali memangnya. Tapi
semuanya menunjukkan bahwa kemauan untuk merdeka, kemauan
untuk mempertahankan kemerdekaan adalah kemauan yang muncul
dari bawah. Dari rakyat sendiri tanpa komando-komandoan. Ini
menunjukkan kebenaran Soekarno-Hatta bahwa kemerdekaan itu
bukan cuma kemauan mereka berdua. Mereka memproklamirkan
atas nama bangsa Indonesia dari seluruh penjuru tanah air.
Latifah sendiri mula-mula oleh Mayor Mangku dianjurkan
untuk membentuk pasukan sendiri. Karena banyak gadis-gadis yang
sebenarnya ingin berjuang tapi tak tahu kepada siapa mereka ingin
berjuang. Akhirnya cuma bergabung secara sporadis kepada pasukan-
pasukan yang setiap saat berdatangan dari segala penjuru dan
menyusun segala siasat baru di Pandaan yang saat itu masih
“merdeka," belum di bawah kekuasaan Belanda.

275
Tapi Latifah tak ingin membentuk pasukan. Ia menyadari
sepenuhnya resikonya nanti. Sekarang memang semuanya mudah.
Bergabung, membentuk pasukan dan kemudian menyatu dengan
penduduk untuk mendapatkan makanan apa adanya. Tapi nanti, dan
ini merupakan keyakinannya, bahwa segalanya akan mempunyai
aturan permainan sendiri. Padahal sewaktu pamit dengan kedua orang
tuanya, ia menyatakan bahwa ia ingin bergabung dengan pejuang-
pejuang untuk memenuhi anjuran bung tomo. Sesudah itu, ia akan
pulang kembali ke Malang. Meneruskan sekolahnya dan kemudian
melanjutkan belajar ke sekolah tinggi kedokteran. Itu cita-cita orang
tuanya. Cita-cita bapaknya. Juga menjadi cita-citanya.
Mempunyai pasukan sendiri memang tampaknya gagah. Jadi
komandan. Latifah yang masih remaja punya pemikiran lain.
Karenanya ia menolak anjuran Mayor Mangku dan ia rela berada di
bawah komando Mayor Mangku.
Kehadirannya dalam pasukannya itu membawa suasana baru.
Karena tiga dari kawannya juga bergabung. Yang satu membentuk
pasukan sendiri dan kembali ke Malang.di situlah ia kemudian
berkenalan dengan Hendro. Di Prigen kemudian, ketika Mayor
Mangku menetapkan untuk bertahan di Prigen, bergabung pula
banyak pemuda yang sudah berada di sana. Di antaranya Hian Biauw,
yang oleh teman-temannya dikenal dengan nama Sinyo Sipit. Orang
Tionghoa pertama yang ia lihat bergabung dengan pasukan Mayor
Mangku dan katanya punya reputasi hebat.
Latifah harus mengakui bahwa hanya dengan Hian Biauw
ia bisa bersahabat. Bukan karena budaya yang mereka bawa dari
rumah yang sama, tapi ada sesuatu yang menarik dari pemuda ini.
Sikapnya yang masa bodoh, yang suka menyendiri. Semuanya
berkenan dalam hatinya. Rasanya pemuda yang satu ini pasrah
terhadap perjuangan yang tidak berketentuan ini, yang seringkali
membuat pemuda-pemuda yang lain tak tahan, lantas mencari

276
hiburan dengan perawan-perawan desa. Latifah sendiri meski orang
Jawa , ia muncul dari keluarga yang berpendidikan Barat. Ayahnya
dokter, yang meskipun keluaran pendidikan dokter Jawa, tetap
menganut budaya modern. Itu juga sebabnya ayahnya merestui
Latifah ketika anaknya ingin bergabung dengan para pejuang
membantu pergerakan mempertahankan republik yang baru
diproklamirkan Soekarno-Hatta. Harus diakui bahwa dalam lubuk
hati Latifah ada perasaan satu dengan Hian Biauw, meskipun ia sadar
juga bahwa kedua orang tuanya belum tentu setuju jika ia membawa
pemuda Tionghoa pulang ke rumah. Atau sebaliknya, jika kedua
orang tuanya menyetujui, kedua orang tua Hian Biauw belum tentu
menyetujui. Sebab, betapapun mereka berpendirian modern, mereka
tetap orang-orang Tionghoa yang konservatif. Yang masih
mempunyai keterikatan pada ras. Apalagi menurut Hian Biauw, orang
tuanya adalah pemuka masyarakat Tionghoa. Meskipun dipilih oleh
Belanda. Justru karena dipilih oleh Belanda itu, Belanda tidak
gampang memilih. Belanda pasti lebih hati-hati memilih. Tidak asal
kaya, lantas dipilih. Oleh karena itu, meskipun dalam lubuk hatinya
sebagai seorang gadis ada benih-benih cinta yang gampang sekali
hidup subur, ia selalu menekan perasaannya.
Sampai suatu hari ia tak bisa bertahan lama lagi. Hari itu
ketika hujan lebat sehabis mereka menyidik ke candi Jawa.
Berciuman denganmesra di bawah pohon yang rindang dan hujan
turun dengan lebatnya. Saat itu ia tak bisa menipu dirinya. Tapi,
setiap ia mengenang kenangan yang manis itu yang bisa membuat
seluruh tubuhnya merinding, ia ingat lagi perbedaan budaya yang
ada di antara keduanya.
Orang-orang seperti dia, meskipun berpendidikan, oleh
kelompok keluarga seperti orang tua Hian Biauw bisa dianggap cuma
“gendook” saja. Pembantu rumah tangga yang harus mendengar
setiap kata, yang kata Hian Biauw sering dijewer telinganya kalau
berbuat salah. Untung saja hal semacam itu tidak terjadi di rumah

277
Hian Biauw. Pemuda ini pernah bilang, mengapa harus ada
perbedaan antara sesama. Mengapa kita kalau kerja di kantor
dihormati dan kalau berbuat kesalahan ditegur. Tukang sapu kalau
di kantor tak ada yang berani memaki seenaknya. Kerja mereka juga
terbatas. Dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Itupun ada
waktu sela untuk istirahat. Sedangkan pembantu rumah tangga tak
ada. Kerja terus sepanjang hari. Habis. Waktu tidur malam pun, kalau
tuan rumah ada tamu, ia dibangunkan dan harus menyediakan kopi
atau teh panas. Karenanya, sampai pada saat terakhir, sampai ia pisah
dengan Hian Biauw ia menguatkan hatinya untuk tidak terbawa
emosinya. Ia tak ingin kebahagiaannya, andaikata ia dan Hian Biauw
menjadi suami istri, membawa kesedihan bagi kedua orang tua
mereka. Mungkin saja pemikiran ini adalah pemikiran yang khas
Jawa. Kebaktian terhadap orang tua lebih diagungkan daripada
kebaktian diri sendiri.

278
61

Mungkin suasana berkumpul kembali dengan keluarga hanya
dinikmati oleh Latifah dan sedikit lagi anggota yang lainnya. Ia
disambut dengan penuh kebahagiaan oleh kedua orang tuanya. Juga
saudara-saudara sepupu yang lain. Semuanya gembira, karena kini
Latifah sydah kembali lagi di antara mereka. Tapi, kegembiraaan itu
tak lama. Segera datang berita, bahwa dokter Sudarsono mendapat
tugas baru. Kini bukan sembarang tugas. Ia ditugaskan untuk merintis
jalan bersama kaum politisi mempersiapkan kehadiran di PBB,
segera setelah kedaulatan tercapai. Bahkan mungkin dokter Darsono
diharapkan bisa jadi perwakilan Indonesia di PBB.
Semua diam ketika berita tersebut diterima. Semestinya berita
tersebut jadi berita yang menggembirakan. Karena itu berarti promosi
yang melonjak untuk seorang dokter yang biasanya cuma didinaskan
di kota kecil. Dari kota Malang lagi. Tapi, karena saat itu merupakan
puncak kegembiraan menyambut kedatangan Latifah, rasa kangen
itu belum terobati dan sudah harus berpisah lagi. Tiba-tiba saja
Latifah menyeletuk.
“Mengapa Bapak tidak mengajak kami semuanya ke
Amerika?”
Ibunya setuju. Tapi ayahnya cuma diam.
“Ayo pak, kita sama-sama ke sana”
Lagi-lagi dokter Sudarsono diam. Tapi Latifah kemudian
memberitahukan, bahwa kepada pejuang-pejuang yang masih mudah
pemerintah memberikan kesempatan untuk belajar lagi. Latifah
berkeyakinan bahwa ia bisa meminta perhatian pemerintah untuk
belajar di Amerika Serikat. Ia mempunyai keyakinan itu.
“Bapak tulislah persetujuan Bapak untuk menerima tugas
yang baru itu. Cuma minta, agar bisa membawa keluarga serta. Saya
di sana akan belajar sungguh-sungguh," ujar Latifah manja.
Ayahnya perlahan mengangguk.

279
Dokter yang masih setengah tua ini sangat bangga dengan
anak gadisnya. Dulu ia jug bercita-cita ingin berbakti kepada
masyarakat. Tapi ia tak mempunyai keberanian seperti anaknya, yang
berani menyatakan keinginan hatinya dengan tindakan yang tegas.
Dulu, ia hanya bisa punya anggapan bahwa membantu masyarakat,
tidaklah perlu dengan pidato-pidatoan. Karenanya meskipun ia sangat
setuju dengan apa yang diperjuangkan oleh Soekarno, ia tidak ingin
meniru cara-cara yang dilakukan oleh Soekarno. Ia akui, pendidikan
politik memang penting. Tapi tidak perlu dengan hura-hura. Menurut
pendapatnya, justru segi ini kelemahan orang politik. Selalu
menitikkan perjuangannya dengan hura-hura sehingga akhirnya
menarik perhatian polisi Belanda. Mereka kemudian, seperti
Soekarno, Alisastroamidjojo dan lain-lainnya ditangkap Belanda.
Diasingkan. Rakyat juga yang kemudian kesepian ditinggalkan
pemimpin-pemimpin mereka dan tak tahu apa yang harus mereka
perbuat. Karena dengan ditangkapnya para pemimpin, pengkaderan
itu juga belum dapat dilakukan secara tuntas.
Dokter Darsono punya keyakinan sendiri, bahwa selain
pendidikan politik, kesejahteraan masyarakat harus dinaikkan
terlebih dahulu. Orang baru bisa mapan menghadapi pendidikan
politik kalau situasi rumah tangganya juga sudah mapan. Bagaimana
pengetahuan politik dapat dinaikkan, kalau misalnya kesehatan masih
berantakan. Soekarno memang betul. Indonesia harus merdeka dulu,
baru kemudian ditata kembali secara seksama. Kalau menunggu
seksama dulu, baru menata diri, bagaimana dan kapan kemerdekaan
itu bisa tercapai. Karenanya dokter Soedarsono yang saat itu masih
muda, memilih berjuang dari segi yang lain. Ia bekerja kepada
gubernemen sebagai dokter dan dari sana dipindahkan dari satu kota
ke kota lainnya. Dan secara diam-diam ia membantu pergerakan
nasional dengan segala cara yang bisa dilakukan. Karenanya tak
banyak yang tahu. Yang tahu hanya kelompok kecil, sahabat-

280
sahabatnya saja. Kini, sahabat-sahabatnya sudah banyak yang duduk
di pemerintahan. Karena kurang tenaga mereka teringat kembali pada
sahabat-sahabat yang ada di daerah. Mereka mengusulkan agar dokter
Sudarsono diangkat sebagai salah satu staf di PBB. Mungkin nantinya
di WHO.
Ada kelegaan juga kalau keluarga ikut. Bagi dokter itu, yang
selama ini cuma praktek dari satu kota kecil ke kota kecil lainnya,
pergi dan dinas di Amerika merupakan hal yang besar. Jika ia tidak
hati-hati, bisa terjadi benturan budaya. Tapi jika ada keluarganya,
terutama Latifah yang dekat dengan dirinya, ia takkan merasa
kesepian. Ia akan tetap merasa berada dalam lingkungan sendiri.
Dan karenanya juga, ia akan mampu mengerjakan beban dengan
tanggung jawab yang besar itu lebih baik, ketimbang misalnya ia
harus seorang diri di sana.

****

281
62

Di luar dugaan, jawaban atas permintaan agar ia
diperbolehkan membawa keluarganya datang dengan segera. Melalui
telegram kepresidenan. Artinya presiden sendiri yang memberi izin.
Telegram itu sekaligus juga untuk Latifah. Artinya untuk Latifah
seluruh pembiayaan studinya akan dibebankan kepada pemerintah.
Diharapkan ia melanjutkan studi di bidang kedokteran. Kehendak
pemerintah ini klop dengan kehendak Latifah maupun keluarganya.
Padahal pemerintah tentunya juga punya maksud lain.
Tapi isi telegram itu tidak semuanya menyenangkan.
Pemerintah ternyata hanya memberikan kesempatan seminggu untuk
keluarga itu membenahi persiapan. Artinya seminggu lagi. Dan
sesudah mengurus semua surat-surat yang diperlukan, diharapkan
sebelum bulan Februari 1950 sudah tiba di pos yang baru. Orang
bisa saja menuduh cara bekerja yang sedemikian itu tidak dengan
“planning” yang baik. Tapi inilah ciri khas sebuah negara yang mau
menata diri. Inilah yang disebut Soekarno dengan merdeka dulu,
baru menata yang lain. Dan Soedarsono, sesuai dengan
keyakinannya, ya saja.
Juga Latifah. Baginya ini satu keuntungan. Tapi sebenarnya
ada hal baru yang ingin ia tahu. Bagaimana nasib Hian Biauw dalam
penyergapan di Pandaan itu? Apakah ia selamat? Karenanya sebelum
berangkat ke Jakarta, ia menyempatkan diri ke Surabaya. Tapi di
sana ia tak menemui siapa-siapa. Tak ada orang yang dikenalnya
dan semua tak tahu siapa Hian Biauw itu. Masing-masing orang
sibuk menata diri sendiri....
Latifah menyesali diri sendiri, mengapa dulu mereka tidak
saling memberi alamat. Hian Biauw sendiri pastilah tak tahu di mana
alamat rumahnya di Malang. Padahal Malang dan Surabaya cumalah

282
dua kota yang saling dipisahkan dengan jarak tak lebih dari seratus
kilo meter. Ia cuma ingat pesan Hian Biauw dulu:
“Jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu
kembali, carilah aku di Prigen. Aku pasti kembali ke sini untuk
menjadi guru. Jika kau kelak juga sudah menjadi dokter,
berkunjunglah ke sini”.
“Mengapa kau pilih Prigen”
“Aku menyukai alam di sini. Begitu indah dan sangat permai.
Seperti dulu aku pernah bilang, rakyat di sini sangat miskin”
“Pemerintah pasti akan membangun daerah ini," jawab
Latifah.
“Memang pasti! Tapi pembangunan itu sendiri pasti akan
sia-sia, kalau rakyat belum siap. Kalau rakyat masih bodoh, rakyat
justru akan berpikir bahwa pemerintah telah berbuat hal-hal yang
aneh. Misalnya kalau pemerintah mendirikan pabrik. Apa rakyat tahu
tentang apa yang disebut pabrik itu. Tahu tentang mesin yang bisa
berjalan sendiri dan cuma dikendalikan oleh satu orang saja. Padahal
mesin itu hidup karena ada aliran listrik. Lalu listrik itu sendiri apa
artinya bagi masyarakat. Jangan-jangan semuanya malah membuat
masyarakat jadi bengong dan mereka berdiri sebagai barisan
penonton saja menganggap klenik. Padahal mereka mesti terlibat...”
“Kalau terlalu berkhayal, Biauw”
“Tidak, Latifah. Pendidikan harus kita nomorsatukan.
Kebodohan harus kita perangi. Lihat rakyat di sekitar kita ini.
Semuanya tak bisa membaca. Anak-anak juga tak sekolah. Padahal
merdeka berarti rakyat harus mendapat hak mereka yang paling
utama, yakni hak mendapat pendidikan”
“Lantas kalau aku tidak cari kau, kau sudah punya istri
perempuan desa, yang selalu kau katakan, tubuhnya montok karena
sering jalan kaki. Lain dengan kita, kemana-mana naik sepeda.

283
Lantas, aku juga nanti ketemu dengan anak-anakmu yang ingusan
bertelanjang dada...”
Hian Biauw saat itu tertawa.
“Latifah, Latifah," katanya.
“Telanjang dada dan ingusan itu memang pemandangan yang
ada sekarang. Mereka berbuat demikian karena mereka masih bodoh
dalam segala hal. Tapi kelak, kalau pendidikan sudah masuk, kau
pasti akan heran melihat bocah-bocah di sini berpakaian rapi,
berseragam sekolah”
“Itu impianmu?" tanya Latifah.
“Ya," jawab Hian Biauw perlahan. Entah apa yang
dipikirkan. Ia begitu berhasrat untuk ikut mencerdaskan rakyat desa.
Kalau peperangan sudah selesai. Latifah kemudian bertanya lagi:
“Lantas bagaimana aku harus menyebut istrimu orang yang
desa itu... Encim?" goda Latifah.
Tapi godaan itu bagi Hian Biauw berarti banyak. Bagi dia,
bagi keluarganya, orang-orang di desa sebenarnya termasuk
kelompok yang tak terhitung.
Tak ada dalam kamus mereka untuk bicara tentang orang
desa. Mereka cuma bernggapan bahwa pribumi dan bocah-bocah
itu cuma layak jadi kacung.
Hian Biauw ingin mengikis pendapat yang salah itu.
Perbedaan yang menyolok antara apa yang disebut pribumi atau
orang Jawa dengan orang Tionghoa cuma soal dalam pendidikan
saja. Orang Tionghoa tak sayang mengeluarkan biaya untuk mendidik
anak-anaknya. Kalau perlu ke sekolah guru gubernemen karena guru
saat itu punya gaji yang besar. Tentang vitalitas, kemampuan? Oh,
sama saja. Manusia di dunia ini sama saja. Dimana-mana yang bodoh
ada yang pintar. Buktinya, Soekarno pintar. Orang seperti Deglok
cuma jadi tukang pukul. Hatta juga pintar. Syahrir juga pintar. Bahkan
mereka mungkin mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai orang
Tionghoa. Mereka berani melawan Belanda. Mereka berani terus

284
terang mengutarakan isi hatinya, keingininannya untuk merdeka,
meskipun untuk itu mereka harus ditangkap, lantas diasingkan. Tapi
kalau Latifah mempunyai anggapan yang sinis tentang orang-orang
desa, itu sungguh mengherankan. Bukankah Latifah orang Jawa dan
orang-orang desa itu juga orang Jawa. Bukankah mestinya mereka
yang merasa senasib lahir dan batin? Tapi ia tak ingin menyinggung
perasaan gadis ini. Karenanya ia cuma menjawab:
“Kalau pasti akan menjumpai diriku masih seorang. Tak ada
istri dan tak ada anak yang ingusan dan bertelanjang dada”
“Jadi kau tetap membujang di sini, di hawa yang dingin
begini," goda Latifah.
“Ya, terkecuali kau mau jadi istriku...”
Kini Latifah yang bengong. Soal ini soal yang pelik. Ia tak
mau menjawab. Kemudian ia berdiri dan lari meninggalkan Hian
Biauw. Jadi, cuma itu saja yang diingat bahwa Hian Biauw akan
kembali ke desa tempat mereka berjuang dulu.
***
Dalam hari-hari yang begitu sempit, Latifah mendatangi lagi
tempat mereka dulu bermarkas. Tapi juga di tempat keluarga-keluarga
desa yang dulu sering didatangi Hian Biauw tak ada yang tahu lagi
tentang pemuda itu. Ia sudah mencari rata.
Ketika tiba di bawah pohon rindang yang dulu itu,
kenangannya datang lagi. Di bawah pohon ini dulu, ia untuk pertama
kalinya dicium seorang laki-laki. Apakah itu cuma laki-laki yang
pertama, bukan yang terakhir? Dan ke mana ia harus mencari Hian
Biauw. Apakah tewas ?!
***
Pertanyaan itu terus bersembunyi dalam lubuk hati Latifah.
Hampir tiga puluh tahun ia menyimpan pertanyaan itu. Selalu ada
di dalam hati, tapi tak pernah ada jawaban. Sampai satu saat, setelah
lama di Amerika Serikat, setelah ia lulus sebagai dokter, kemudian

285
berhasil mencapai gelar doktor, ia diperbantukan sebagai tenaga
medis PBB untuk melihat keadaan mereka yang ditahan di Pulau
Buru tahun 1975. Ini untuk pertama kalinya ia ikut dalam kegiatan
PBB keluar negeri. Artinya, selama ini, ia cuma diperbantukan
sebagai tenaga ahli di kantor pusat. Lama ia merindukan pulang
kembali ke kampung halaman. Tapi niat itu terus tertunda. Bukan
karena ia tak punya waktu atau ongkos, melainkan karena ia tak
ingin, kenangan lama yang terpendam itu membakar kembali
dadanya. Ia ingin melupakan kenangan manis masa remajanya
bersama Hian Biauw. Ia tak ingin cuma sekedar mengenang kembali.
Ia ingin mengetahui dengan pasti ke mana sebenarnya Hian Biauw.
Sering ada beberapa teman yang dahulu tergabung dalam
pasukan Mangku ia surati. Tetapi semuanya tak ada yang tahu kemana
Hian Biauw sesudah serangan ke Pandaan itu. Mereka cuma
mengetahui bahwa yang lain, kecuali Hendro selamat dan kemudian
bekerja di Jakarta. Dengan Mayor Mangku ia juga pernah bertemu,
ketika Mayor Mangku yang sudah berpangkat tinggi satu hari ikut
utusan Indonesia untuk memberikan keterangan tentang tahanan G
30 S/PKI dalam rangka mengembalikan citra yang baik tentang
Indonesia memang banyak sekali mendapat pemberitaan yang
negatif, karena tidak tahunya mereka tentang situasi yang sebenarnya
saja.
Latifah sendiri memang mengetahui tentang pergolakan yang
terjadi di Indonesiapada tahun 1965. Tapi sama sekali ia tak pernah
menduga bahwa Hian Biauw terlibat di dalamnya, sebagai orang
yang aktif dalam lembaga pendidikan Baperki. Karenanya tugas baru
untuk menyertai tim PBB yang meninjau pulau Buru sangat disukai.
Dengan demikian ia akan bisa meninjau kembali tanah tumpah darah
yang sudah lama ditinggalkan. Tapi justru di sini ketika untuk ketiga
kalinya ia sempat ke barak-barak yang ada di sana, ia berjumpa
kembali dengan Hian Biauw yang akan merupakan rombongan kedua

286
yang dibebaskan. Latifah mendapat tugas untuk menilik kesehatan
mereka. Laporannya selama ini, sebagai orang Indonesia sendiri yang
lama bertugas di PBB dan WHO sempat berhasil memberikan
penerangan yang baik tentang Indonesia. Bahwa apa yang terjadi di
pulau Buru tetap merupakan sarana untuk mempersiapkan mereka
kembali ke masyarakat nantinya.

287
63

Latifah semula tidak mengenali Hian Biauw. Pemuda yang
dulu masih bercelana pendek dengan sering menggunakan sarungnya
untuk “kemul” tubuhnya, kini berubah menjadi laki-laki yang gemuk
dan berjambang. Latifah mengenalnya dari daftar nama mereka yang
harus diperiksa kesehatannya sebelum mendapatkan kartu bebas dari
segala penyakit. Untungnya Hian Biau kebetulan berada dalam daftar
yang harus diperiksa. Padahal saat itu ada tiga orang dokter yang
diperbantukan WHO. Jika lewat, entah kapan mereka bisa bertemu
lagi...!
Saat itu Hian Biauw sudah membuka bajunya. Meletakkan
di “centelan” pakaian yang tersedia. Ketika ia membalik, dia jadi
heran ketika melihat dokter wanita yang tadi cuma dilihatnya sekilas,
kini memandangnya tajam-tajam. Dokter ini amat sederhana.
Rambutnya cuma diikat dengan gelang karet. Agak keriting. Sayup-
sayup rasanya wajah ini pernah ia kenal. Tapi ia lupa.
“Biauw...," tiba-tiba saja dokter itu berkata perlahan.
Mendengar itu Hian Biauw segera tersadar. Latifah. Ya, betul. Dokter
itu adalah Latifah.
Dan tiba-tiba saja air mata keluar dari peluk matanya. Seolah
ia tak percaya pada takdir. Bahwa di saat ia mau dibebaskan. Ia
masih sempat bertemu kembali dengan perempuan yang sering masih
diimpikannya dalam tidurnya yang lelap.
***
Perjumpaan. Seringkali memang seperti perpisahan,
membuat orang menjadi “trenyuh” dalam hati. Ada rasa “nelongso,"
mengapa pertemuan itu harus terjadi di tempat yang seperti ini. Di
kamp-kamp penahanan orang yang terlibat G 30 S/PKI. Mengapa
bukan dalam seminar-seminar internasional ? bagi Latifah ada 2
perasaan yang berkecamuk. Ia sangat gembira melihat sahabatnya,

288
mungkin juga kekasih dalam hatinya, masih hidup dan sehat. Tapi
yang membuat sedih hatinya, mengapa Hian Biauw sampai terlibat
dalam gerakan yang terkutuk itu? Bukankah ia dahulu
mempertaruhkan jiwa raganya untuk berjuang di barisan para
pejuang. Bukankah ia dahulu yang merasa tak punya apa-apa dengan
Republik yang baru diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, rela
menyabung nyawa? Sekarang, apakah ia juga punya pendapat bahwa
negara ini bukan lagi miliknya, sehingga karenanya ia juga ingin
berontak di tahun 1965. Apalagi menurut pengetahuan Latifah, RRC
terlibat dalam gerakan terkutuk itu.
Dengan telanjang dada, Hian Biauw mencari kursi dan duduk
di situ. Ia kemudian memandangi Latifah dengan pandangan yang
penuh arti. Tapi ada rasa sayu pada pandangannya. Sepertinya ia
malu bertemu dengan Latifah dalam keadaannya yang seperti
sekarang. Andaikan bisa, ia ingin bertemu dengan Latifah sesudah
ia lepas dan menjadi manusia yang merdeka lagi. Atau bertemu
kembali setelah ia bisa berbakti kembali menjadi guru. Tapi apakah
semuanya mungkin? Apakah ia masih mempunyai kesempatan untuk
menjadi guru?
“Aku senang kau bisa segera bebas," ujar Latifah kemudian
seraya mencari kursi lain, meletakkan di muka Hian Biauw duduk.
Kebetulan Hian Biauw adalah orang terakhir yang harus diperiksa.
Hian Biauw cuma mengangguk.
“Lama kita tak bertemu," ujar Hian Biauw. Seperti dulu,
omongannya perlahan. Hampir tak terdengar. Ada sesuatu yang
ditahannya sehingga kalimat yang menggetarkan perasaannya
hampir-hampir tak terdengar oleh Latifah.
“Dulu kau polos, bersih mukamu. Mengapa sekarang pakai
pelihara jambang?" tanya Latifah.
“Ini tumbuh dengan sendirinya. Dulu aku setiap pagi
bercukur. Di sini, apa gunanya bercukur..," dalam kata-katanya Hian
Biauw tampak putus asa.

289
Baginya memang seolah masa depan merupakan satu teka-
teki. Apa yang harus dilakukan sesudah ia bebas. Laki-laki sering
mempunyai sikap seperti ini. Jika sudah jatuh, perasaannya
bercampur jadi satu tak karuan. Seolah sesudah jatuh ia tak berdaya
sama sekali. Di sini kemudian berperan makhluk yang selama ini
disebut sebagai makhluk lemah: wanita. Wanita tampaknya bisa kuat
untuk bangkit lagi setelah mengalami sesuatu yang hebat. Tak cepat
putus asa dan sering bisa menjadi pendamping laki-laki.
“Kau akan pulang ke Surabaya lagi?" tanya Latifah.
“Ya”
“Mengapa kau baru datang?”
Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Hian Biauw.
Ia sendiri merasa heran, mengapa pertanyaan itu menyeletuk begitu
saja dari mulutnya. Seolah ia menuntut kehadiran Latifah harus sudah
sejak dulu-dulu. Di kala ia merasa kesepian dalam barak-barak yang
terpencil di kala malam hari, kalau matahari sudah terbenam.
“Aku tak tahu kau ada di sini?”
“Kau memang sebaiknya tak tahu," lagi-lagi keluar omongan
yang aneh dari mulut Hian Biauw. Latifah kemudian berdiri,
menghampiri dinding sebelah kiri mereka dan mengambil baju
seragam yang tadi dipakai Hian Biauw.
“Pakailah," ujarnya kemudian seraya menyerahkan baju yang
baru diambil dari “centelan” Hian Biauw menerimanya. Ada rasa
enggan untuk memakainya. Tapi baju itu akhirnya dipakai juga,
setelah sadar, bahwa tak sepantasnya ia berhadapan dengan seorang
dokter, wakil dari WHO dengan dada telanjang. Ia lupa, bahwa
Latifah hadir sekarang ini bukan sebagai sahabatnya dahulu, tetapi
sebagai seorang petugas dari PBB.
“Maafkan aku," katanya seraya mengancingkan baju.
“Tak apa-apa," jawab Latifah, lalu duduk kembali.
“Ada keluhan pada dirimu," tanyanya kemudian.

290
“Tidak. Tapi aku harus kau periksa bukan?”
“Kau tampak segar-bugar seperti dulu”
“Aku mesti kau periksa. Aku perlu surat keterangan untuk
bisa keluar dari sini seminggu lagi.”
“Akan kuberikan surat itu”
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Latifah berdiri.
Dibuka, lantas muncul seorang lelaki bule. Dokter juga.
Menyerahkan satu map laporan setelah memeriksa penghuni barak-
barak yang lain.
Latifah mengajak dokter itu masuk. Kepada Hian Biauw
dikenalkan namanya sebagai Jansen, dokter dari Swedia yang juga
sama-sama anggota WHO. Kepada Jansen. Latifah menyatakan
bahwa ia mengenal Hian Biauw sejak mereka masih remaja, ketika
sama-sama berjuang di tahun 1945 sampai 1949. Jansen manggut-
manggut. Tak memberikan komentar. Sesaat ia kemudian meminta
diri. Mungkin ia tahu bahwa Latifah ingin bicara banyak dengan
sahabatnya itu.
“Sejak dari Prigen dulu, kau ke mana?" tanya Hian Biauw.
“Aku dulu mondar-mandir cari kau. Surabaya kembali
Prigen. Prigen kembali Surabaya," jawab Latifah.
“Tapi kau sebenarnya dimana setelah pertempuran di
Pandaan?”
“Aku di Pecalukan. Kau sendiri”
“Aku kemudian ikut Bapak ke Amerika sampai Sekarang.
Baru kali ini aku pulang. Selebihnya aku selalu di luar negeri”
“Berapa anakmu sekarang," tiba-tiba tanya Hian Biauw.
Gadis yang dulu selalu berkepang rambutnya itu sekarang
masih tetap seperti dulu. Yang beda mungkin cuma, bahwa ia
sekarang tambah gemuk dam wajahnya bersih, tidak begitu hitam
seperti dulu. Mungkin pengaruh cuaca di Barat yang membuat
kulitnya bersih.

291
“Anakku? Berapa ya," jawab Latifah. Kemudian ia tertawa.
Wajahnya bersemu merah.
“Kau sendiri berapa. Kau yang bilang dulu," ujarnya
kemudian.
Ganti Hian Biauw yang tertawa.
“Anakku? Berapa ya. Banyak! Aku tidak menjalankan
keluarga berencana. Dulu belum ada. Akhir-akhir ini saja aku tahu
ada Keluarga Berencana lewat majalah yang masuk”.

292
64

Latifah sudah menduga. Laki-laki seperti Hian Biauw yang
pendiam, pastilah laki-laki yang hangat. Kehangatan bisa
menghasilkan anak-anak yang banyak. Seperti orang desa. Tak tahu
apa-apa lagi selain menggeluti istrinya. Sampai anaknya berjumlah
sebelas atau lebih. Setahun pasti punya anak. Bahkan setahun bisa
dua. Satu di ujung tahun, satunya lagi di bulan Desember. Seolah
melahirkan anak adalah satu kerja yang rutin.
Latifah berusaha menjaga gejolak hatinya. Ia pun sudah
menduga, bahwa andaikata Hian Biauw selamat, pastilah ia sudah
berkeluarga. Karena menurut Hian Biauw, banyak anak bukanlah
menjadi budaya orang desa saja. Orang Tionghoa juga punya
keyakinan bahwa banyak anak adalah banyak rezeki. Tiap anak
mempunyai rezeki sendiri-sendiri. Jadi tidak ada alasan untuk
menyetop kelahiran.
“Yang besar sudah umur berapa?" tanya Latifah polos.
Hian Biauw hanya tersenyum. Masih mencerminkan rasa
sayu seperti tadi. Rasanya memang serba salah sekarang ini. Ia harus
bagaimana bersikap. Perempuan yang duduk dengan wajah yang
masih seperti dulu, polos, sekarang ini punya kedudukan tinggi.
Bukan cuma pada tingkat nasional tapi juga internasional. Jadi ia
harus menjaga jarak.
“Aku belum berkeluarga," jawabnya kemudian.
Latifah yang sekarang diam.
“Betul itu?”
“Untuk apa aku bohong padamu? Selama ini, sebelum masuk
kamp di pulau Buru aku terlalu sibuk. Aku ternyata mencintai dunia
pendidikan lebih dari semuanya. Kau tahu, ketika aku pulang, mama
ternyata sudah meninggal dunia. Matinya tragis. Kata papa, ditembak
perampok. Tapi aku kira, mama ditembak para pejuang, yang mengira

293
papa membantu Baperki. Dari sana aku kemudian ke Pecalukan.
Aku dirikan sekolah disana. Cuma aku yang melakukan tugas di
sana. Ada beberapa anak muda yang pernah duduk di SMP yang
kemudian mengajar di sana. Di sana pula aku kecewa. Tahun sekitar
enam puluhan, papa tidak boleh berada di desa lagi. Juga aku. Kami
terpaksa keluar dari sana. Meninggalkan semuanya yang kami cintai.
Anak-anak desa yang selama ini sudah tidak bertelanjang dada
dengan ingus di hidung, kemudian bertelanjang dada lagi. Pendidikan
menjadi jauh dari mereka dan hidup mereka pasrah, sampai
pendidikan pemerintah menjangkau nasib mereka. Tapi kapan?
Itulah pertanyaan yang memelaskan sebenarnya. Tapi aku bisa apa?
Kemudian ada perjanjian dwi kewarganegaraan Indonesia dan
menaggalkan kewarganegaraan RRC. Kau tahu bagaimana
perasaanku waktu itu. Lantas ada usaha Baperki mau mendirikan
sekolah sampai Fakultas. Aku bergabung membenahi tata usaha
sehingga universitas itu bisa berkembang dengan baik. Kami
menampung mereka yang tidak bisa ditampung di negeri. Maksudnya
juga untuk membantu mengatasi ketidakmampuan pemerintah
menampung semua lulusan SMA di universitas negeri. Tapi apa daya,
kelanjutannya kau mungkin sudah mengetahuinya dengan jelas...
kau sendiri apa betul kau tidak pernah pulang lagi sejak dulu itu?”
Latifah menganggukan kepalanya.
“Nasib manusia memang tidak menentu Biauw. Aku sendiri
mana menduga bahwa sebagian besar dari usiaku sekarang ini bakal
kulewati di luar negeri dan tampaknya aku sekarang lebih cocok
dengan budaya sana daripada budaya sendiri. Dulu waktu kedua
orang tuaku masih hidup, budaya yang disebut budaya Jawa itu masih
kuikuti. Tapi setelah keduanya meninggal, budaya itu tampaknya
tercecer di negeri orang dan aku makin intim dengan budaya orang.
Orang mungki bilang, aku wanita Indonesia yang berkarir tinggi

294
sebagai diplomat. Tapi apalah arti semuanya tanpa satu kebahagiaan
hidup”
“Mengapa?”
“Pertanyaan yang sama Biauw. Pertanyaan yang sama bisa
aku ajukan pada dirimu. Mengapa kau cuma seorang diri sampai
sekarang”
Hian Biauw diam.
Latifah diam.
Keduanya saling membisu. Mencoba menekan perasaannya
sendiri-sendiri.
Akhirnya Hian Biauw memberanikan diri berkata, meskipun
perlahan:
“Aku selalu menantikan kedatanganmu. Tapi tidak pada saat
seperti ini”
“Mengapa tidak seperti saat ini, Biauw”
“Aku impikan kau datang waktu aku mengajar. Waktu aku
jadi guru. Tidak seperti ini. Apa yang bisa kau banggakan tentang
aku yang sekarang seperti ini. Aku ingin kita bertemu dan kau bisa
bangga bertemu aku, seperti juga sekarang aku bangga bertemu
kau...”
“Tidak Biauw. Dalam keadaan apa saja, pertemuan ini
sebenarnya sangat membahagiakan kita. Kita jangan saling menipu
diri sendiri. Saling berkukuh mempertahankan harga diri yang kita
sendiri sebenarnya tak mampu sampai di mana tingginya. Terus
terang saja, aku memang tidak pernah bermimpi ketemu kau di
tempat ini. Tapi ini rupanya sudah suratan takdir dan kehendak Tuhan
jugalah yang berlaku sekarang. Bahwa kita bertemu di saat kau mau
dibebaskan, dan bukan di saat kau mau dihukum. Bukankah ini satu
rahmat Tuhan yang harus kita syukuri?”

***

295
65

Hari-hari terakhir Biauw di pulau Buru merupakan kenangan
tersendiri. Tiga hari lagi ia akan berangkat kembali ke Jawa, ke
Jakarta dalam urutan gelombang kedua. Yang paling
membahagiakannya adalah pertemuannya dengan Latifah. Begitu
sederhananya perempuan itu dengan jabatan yang begitu tinggi. Tapi
ia tak sempat bertemu lagi dengan Latifah, kecuali untuk kedua
kalinya setelah pertemuannya yang pertama. Ketika itu ia mendapat
panggilan dari kepala bagian kesehatan untuk bertemu dengan
Latifah. Orang-orang di barak bagian kesehatan tahu semua, bahwa
dokter wanita yang menyeleksi kesehatan mereka adalah bekas
seorang pejuang wanita di tahun-tahun empat puluh lima. Pada
pertemuannya yang kedua itulah ia mengetahui bahwa sejak
pertemuannya yang terakhir di Prigen, Latifah masih selalu
menunggu kedatangannya. Latifah ternyata sangat mencintainya. Ada
rasa bangga dalam hatinya mengingat semuanya ini. Juga ada rasa
haru. Tapi kemudian, ada perasaan lain yang berkecamuk dalam
hatinya. Apakah ia akan meneruskan kisah cinta tempo dulunya?
Apakah ia tidk akan menjadi penghalang karies Latifah? Layakkah
ia seorang bekas tahanan politik mencintaidan dicintai seorang
perempuan yang begitu mulia hatinya?
“Apakah orang-orang seperti aku ini masih punya masa
depan, Latifah?" demikian tanyanya pada pertemuan yang kedua.
Latifah kemudian memandangnya serius. Lalu jawabnya.
“Tentu Biauw. Pemerintah tentunya tidak hanya sekedar
melepaskan. Sudah barang tentu permasalahannya tergantung kalian
sendiri”
“Aku cuma ingin menjadi warga negara yang baik nantinya”
“Itu pun sudah cukup dan kau pasti bisa menjadi warga
negara yang baik. Kemana kau akan pergi setelah sampai di Jakarta
nanti?”

296
“Aku kira, aku akan terus ke Malang. Mungkin rumah ayahku
masih ada di sana. Yang di Surabaya sudah dijuali semua”
“Kalau rumah itu sudah tidak ada lagi”
“Mudah-mudahan masih ada. Sebab kalau tidak, aku tak tahu
kemana aku harus menuju dari Jakarta”
“Kau tunggulah aku di Jakarta”
“Lama kau disini?”
“Mungkin tiga bulan. Mungkin lebih cepat, atau mungkin
juga lebih lama. Persoalannya, tenaga yang dikirimkan kemari sangat
terbatas, dan kami harus menyelesaikan semuanya dalam waktu yang
secepatnya...”
Hian Biauw diam. Ia rasanya tak tahu, apa yang harus
diperbuatnya di Jawa nanti. Menurut keterangan ayahnya dulu juga
ditangkap. Tapi ia tak tahu di mana ayahnya ditahan. Ia sudah mencari
ke seluruh barak-barak yang ada di pulau ini, tapi tak seorang pun
yang tahu tentang ayahnya. Atau, mungkin juga ayahnya tidak dikirim
kemari karena ayahnya memang sudah tua saat itu. Rasanya ia seperti
tidak mempunyai masa depan lagi. Rasanya ia lebih suka berada di
pulau ini. Meskipun umpamanya harus sendirian. Pulau ini cantik.
Laut yang membiru di pagi hari dan di saat bulan purnama, sangat
indah, andai kata saja ia bukan seorang tahanan. Andai ia seorang
manusia yang bebas, ia akan bisa menikmati keindahan. Tapi sebagai
tahanan, keindahan itu cuma membikin hatinya sedih. Ia ingat ibu
yang sudah meninggal dunia. Ibunya sangat senang pada keindahan
pantai. Karenanya ibunya sering mengajaknya ke Probolinggo kalau
perayaan Cap Go Meh. Ramai dulu di tepi laut kota itu. Orang sama-
sama bercebur ke laut. Dan perawan-perawan kota turun ke laut
sambil menyingsingkan roknya. Terlihat paha-paha yang putih mulus.
Itu dulu ketika ia masih kecil. Anak-anak pribumi selalu mengelilingi
tempat mereka duduk yang beralaskan “kloso”. Ibunya selalu
membawa uang logam dan uang logam itu selalu dibagikan, dan

297
anak-anak Jawa itu berebutan. Itu dulu. Tapi sekarang keadaannya
tentu berlainan. Probolinggo yang terakhir didatangi tahun 1962
sudah berubah banyak. Pantainya sudah tidak seindah dulu lagi.
Terlalu banyak kantor sekarang dan tampaknya pelabuhan itu bisa
berkembang jadi pelabuhan yang penting. Tidak seperti pulau ini,
yang dikelilingi lautan yang biru, jauh dari kapal-kapal yang singgah.
Seolah orang yang mendiami tempat ini ditakdirkan hidup
menyendiri. Apakah pulau ini nantinya akan kosong kembali setelah
ditinggalkan penghuninya yang sudah menggarap tanah lebih dari
sepuluh tahun dengan penuh cinta kasih?
“Latifah, pernahkah kau tahu bawha penghuni pulau ini ada
yang diperbolehkan terus bertempat tinggal di sini?”
Latifah terkejut dengan pertanyaan itu.
“Apa maksudmu, Biauw?”
“Rasanya aku lebih kerasan di sini daripada aku harus
kembali ke Jawa. Rasanya aku lebih bisa hidup di sini daripada di
Jawa. Di sini semuanya tersedia untuk makan dan sebagai manusia
merdeka, pulau ini sungguh indah”
“Tapi jauh dari peradaban, Biauw”
“Peradaban, Latifah. Apa sebenarnya yang disebut
peradaban. Dengan Amerika tentunya lain. Tapi di sini ada sesuatu
yang tidak ada di sana. Di sini ada keterikatan, kesatupaduan, antara
alam dan manusia. Alam yang kadang-kadang ganas kadang-kadang
lemah lembut terasa satu dalam jiwa kita. Tidak sama dengan
Amerika, atau juga tidak sama dengan Jawa yang hiruk pikuk.
Laginya aku rasanya tidak akan memperoleh kembali hak diriku
sebagai manusia yang merdeka”.
“Tidak Biauw. Sering manusia memangnya mengalami
benturan-benturan dalam benaknya antara terhukum dan
kemerdekaan memang ada selisih budaya yang lain. Orang yang
terhukum terikat pada perintah. Ia hanya menurut atau ia kena sanksi.

298
Manusia yang merdeka harus mengatur dirinya sendiri. Tidak ada
perintah. Kita yang terbiasa menerima perintah akan merasa aneh
dan ragu-ragu kalau harus memerintah diri kita sendiri. Lepas dari
pulau ini memang bukan satu penyelesaian yang tuntas. Ia cuma
satu bagian dari kehidupan yang harus kau jalani. Fase yang lain
masih banyak dan untuk itu kau harus tabah dan kuat. Jangan kau
terbawa pada kemelut antara kebebasan dan keterikatan di sini. Kau
harus bisa membedakannya. Hidup yang ada di depan kita memang
tak ada yang bisa tahu bagaimana bentuknya nanti. Tapi yang penting,
hidup yang nanti itu betapa kerasnya harus kita hadapi. Di sini, kau
memang akan merasa aman. Tak ada tantangan hidup. Jika hanya
untuk makan, alam sudah memberimu lebih dari cukup. Tapi
kehadiranmu di sini adalah merupakan yang sesungguhnya. Sadarlah,
kau masih punya masa depan. Jika tidak, buat apa pemerintah repot-
repot membebaskan kalian...”
Hian Biauw serius mendengarkan jawaban Latifah. Tapi
sedikit sekali yang masuk ke otaknya. Ia seperti yang dikatakan
Latifah sudah terbiasa tidak berpikir lagi. Hidupnya penuh kerutinan
dari hari ke hari. Tak ada yang harus dipikirkan lagi.
Kini tiba-tiba saja ia harus berpikir tentang masa depan.
Tentang apa yang harus dilakukan setelah ia bebas dan sampai ke
akarta. Problematik seperti ini tampaknya bukan hanya menghantui
diri Hian Biauw, juga yang lain. Dan Latifah melihat bahaya dari
kehidupan orang-orang seperti ini. Mereka mudah sekali tergiur oleh
ajakan orang yang tidak bertanggung jawab dan gampang sekali
ditipu kembali.
Latifah mengusulkan sebagai utusan dari kesehatan dunia
untuk selalu melakukan pembinaan terhadap mereka yang sudah
dilepas. Sebab pembinaan itu meskipun dirasakan oleh mereka
sebagai satu pengawasan, tetap penting, ketimbang mereka nantinya
terjerumus kembali karena situasi dan kondisi yang belum mantap.

299
Yang masih bersuratan dengan anak atau istri, memang masih
lumayan, sebab mereka pulang ada yang dituju. Tapi seperti Hian
Biauw, kemana ia harus pergi? Ke Malang seperti yang diharapkan
dan dicita-citakan? Iya kalau orang tuanya masih ada. Kalau sudah
tidak ada dan rumah sudah dijual oleh keluarga dan uangnya tak
tentu rimbanya, apa yang harus dilakukan nanti. Karenanya tak heran,
kalau dalam situasi seperti sekarang ini, ada macam-macam pikiran
yang berkecamuk. Ada pikiran untuk tetap tinggal di pulau Buru
dan tidak ikut ke Jawa kembali. Lantas ada macam-macam alasan
yang membuat kacau pikiran.
“Kau akan kembali ke Amerika sesudah ini?" tanya Hian
Biauw.
Serasa dalam pertanyaannya itu menunjukkan kemelut
hatinya. Ada rasa takut untuk berpisah. Sahabat-sahabat yang senasib
memang dipunyai di tempat ini, yang dihuni lebih dari sepuluh tahun.
Tapi itu pun cuma terbatas pada teman-teman yang senasib. Tidak
seperti Latifah, yang dulu dikenalnya di medan juang. Yang pernah
dicium dan saling mengutarakan isi hati di bawah pohon yang rindang
saat hujan deras menerpa bumi.

300
66

Ia ingin sebetulnya Latifah ada di sampingnya terus. Sayang,
kemudian berkecamuk lagi ingatan yang menggelisahkan dirinya.
Mungkinkah?
“Aku harus kembali Biauw? Tampaknya aku sudah
merupakan bagian dalam kehidupan internasional di PBB dan WHO.
Tampaknya aku tidak bisa keluar dari lingkaran yang sudah kuhidupi
sejak lama itu," jawab Latifah. Nada suaranya juga mencerminkan
keraguan harinya. Ia tahu bahwa jawaban itu akan membuat sedih
hati sahabatnya. Tapi karier yang memang tidak mungkin
ditinggalkan begitu saja. Keduanya sesaat diam. Latifah kemudian
yang bicara lagi:
“Bagaimana kalau kau memulai hidup yang baru di sana?”
“Aku ikut kau?" tanya Hian Biauw.
“Ya”
“Itu satu hal yang mustahil. Rasanya tak ada yang bisa
kulakukan di sana. Sekarang aku menyesal tidak mengikuti nasihat
komandan kita. Mayor Mangku untuk belajar lagi. Kau pernah
bertemu dengan beliau?”
“Pernah sekali di PBB. Tapi beliau juga tak mengetahui di
mana kau waktu kutanya dulu”
“Aku memang tak pernah bertemu lagi. Seandainya beliau
tahu, mungkin beliau bisa menolong diriku”. Jawaban Hian biauw
ini seolah menunjukkan isi hati Hian Biauw yang paling dalam.
Kekacauan yang paling dalam di benaknya. Padahal orang seperti
dia, dikenal Latifah dulu , sama sekali tidak mau meminta tolong
pada orang lain. Apakah kehidupan yang keras sudah mengubahnya
menjadi orang yang merasa dirinya tak berdaya?
“Dalam situasi seperti dirimu sekarang, kau harus menolong
dirimu sendiri, Biauw. Tak ada orang yang bisa menolong dirimu.

301
Percayalah, kau sendiri yang harus menolong dirimu. Bukan orang
lain.”
“Aku tidak akan merengek minta dibebaskan, Latifah. Aku
memang sudah pasrah. Cuma aku selama ini hanya ingin melihat
orang desa berkembang maju. Menurutku, itu cuma bisa digarap
melalui pendidikan. Aku cuma ingin memberitahukan, seandainya
aku tak diusir dari desa, aku akan tetap jadi guru. Dan kau tahu,
orang-orang seperti aku yang ikut berjuang, takkan minta perhatian
lagi. Tapi mengapa aku dulu harus memilih kembali
kewarganegaraan Indonesia? Negeri yang aku ikut memperjuangkan.
Ah ... andaikata semuanya tidak pernah ada, aku akan tetap di
Pecalukan. Kau pernah ke sana?”
“Tidak”
“Sayang kalau begitu. Kau sudah melihat dunia luar. Tapi
kau belum melihat dunia di negerimu sendiri. Pecalukan desa yang
indah dingin hawanya dan aku khawatir, satu hari kelak desa itu
akan berubah menjadi Tretes. Akan banyak dibangun bungalow-
bungalow milik orang kaya dan penduduk akan makin terdesak”
“Itulah kemajuan, Biauw”
“Bukan Latifah. Itu bukan kemajuan. Rakyat yang masih
bodoh dan orang-orang seperti kau yang sebenarnya harus kembali
ke desa. Di sana ladang garapan masih terbentang luas. Masih banyak
yang harus ditata kembali.”
Jawaban Hian Biauw membuat Latifah malu. Lebih-lebih
kalau ia ingat, bahwa orang yang bicara kepadanya sekarang adalah
orang Tionghoa. Yang pernah sakit hati karena harus memilih
kembali kewarganegaraan Indonesia, di mana sebelumnya ia sudah
merasa menjadi sebagian dari negeri ini. Karena ia dulu juga yang
memperjuangkan dan membela kemerdekaan negeri ini.
“Mungkin kau benar, Biauw”
“Dalam hal yang satu ini, Latifah, aku merasa diriku benar.
Sejak dalam perjuangan dulu, aku sudah mempunyai kemantapan,

302
bahwa negara yang merdeka harus mempunyai warganegara yang
maju pendidikannya.
“Kau nanti mungkin bisa menjadi guru lagi, Biauw”
“Aku kira jabatan itu tak mungkin boleh lagi," jawab Hian
Biauw. Ia melihat jauh ke depan lewat jendela. Rasanya ia seperti
ingin tahu, apa jadinya anak-anak di Pecalukan yang ia tinggalkan
begitu saja, karena hatinya tersinggung ayahnya tak diperbolehkan
di desa karena ada PP 10 dan ia sendiri kemudian harus memilih
kewarganegaraan Indonesia. Lantas timbul andaikata lagi. Andaikata
semuanya tak ada, mungkin ia sudah bisa mendirikan SMP. Karena
murid-murid Sd itu harus ia tampung juga. Mereka tak boleh ke
kota. Karena kalau ke kota, mereka nanti enggan untuk pulang
kembali ke desa. Padahal desa sangat memerlukan tenaga mereka.
Modernisasi menurut pemikirannya hanya bisa berhasil kalau
dikerjakan oleh putra-putra daerah yang sudah maju pikirannya. Itu
dulu, sekarang cuma tinggal bayang-bayang yang makin lama makin
samar.
Ia kemudian berkata dengan nada yang pasti:
“Kalau kau selesai dengan tugasmu, Latifah, kau pulanglah.
Bukan untukku, tetapi untuk orang-orang di sesa, yang dulu sama-
sama kita cintai. Yang sama-sama pernah memberi kita makan dalam
kesederhanaannya.”
“Pulang kembali ke tanah air? Tampaknya ini sesuatu yang
baru bagi Latifah. Sebab selama ini hanya usia remaja yang dilewati di
tanah air. Selebihnya, sampai usianya sekarang dilewati di luar negeri.
Ia sudah merasa bagian yang utuh dari kehidupan di sana. Bukan karena
ia tidak mencintai bangsanya, tapi karena ia merasa di sana ia bisa
berkembang dan berbuat lebih banyak untuk kemanusiaan.
“Aku pasti pulang, Biauw. Tapi tidak sekarang. Masih banyak
orang yang membutuhkan tenagaku.”
“Tapi bangsamu juga membutuhkan.”

303
Latifah tak menjawab. Hatinya gembira kembali. Hian Biauw
ternyata masih punya semangat. Cintanya kepada negeri ini masih
ada. Tapi apakah ia mempunyai kesempatan untuk membaktikan
dirinya kembali? Mungkin ia nanti bisa mengurus di Jakarta. Tapi
sepintas ia melihat pendidikan di Indonesia sudah maju pesat. SD-
SD sudah didirikan di mana-mana sampai ke pelosok yang terpencil.
Pecalukan mungkin sudah dijamin oleh pemerintah. Rakyat di sana
mungkin sudah mendapat pendidikan yang lebih dari tingkatan SD.
Latifah akhirnya berkata:
“Orang seperti aku, Biauw tak banyak. Maksudku, yang lebih
pandai dari aku mungkin sangat banyak. Tapi yang memperoleh
kesempatan seperti aku jarang ada. Aku ini merupakan sisa-sisa
zaman dulu. Hanya kebetulan ayahku berdinas di sana. Aku
kemudian melanjutkan studi di sana sampai memperoleh gelar doktor.
Aku berkecimpung disana dan mereka menerima aku dengan tulus.
Aku bisa membuktikan bahwa sebagai warga negara satu bangsa
yang baru sampai pada taraf berkembang, aku mampu bekerja dengan
baik. Kehadiranku bisa menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukan
bangsa yang nomor dua. Aku minta kau mau mengerti...”
Tak ada lagi yang berkata. Juga Hian Biauw diam. Inilah
pertemuannya yang terakhir dengan Latifah. Karena sesudah
pertemuan ini, ia harus mengikuti upacara-upacara rutin
pelepasannya untuk menjadi warga negara yang merdeka. Ada tangis
dan air mata. Karena yang dibebaskan, meskipun tidak tahu nasib
apa yang ada di depan mereka, dianggap oleh mereka yang tinggal
sebagai sudah mendapat kepastian dalam hidupnya. Lepas dan
merdeka. Dan semuanya bagi mereka lebih baik daripada tidak ada
kepastian. Yang tinggal memang sedih. Mereka hanya
menggantungkan harapan pada pemerintah, bahwa semuanya nanti
akan dibebaskan. Karena itu petugas-petugas dari PBB/WHO dikirim
kesana.
***

304
67

Kesalahan, kalau itu boleh dikatakan kesalahan, Latifah lupa
menanyakan dimana alamat Hian Biauw di Malang. Juga ia lupa
dimana Hian Biauw harus menginap seandainya ia mau menunggui
di Jakarta. Semuanya lewat begitu saja tanpa perhitungan untuk
mencatat. Pertemuan yang cuma singkat itu memang mengharuskan
mereka berceita banyak. Tentang cita-cita dan impian manusia. Yang
menentu dan yang tidak menentu.

***

Seperti yang dikatakan, pada Hian Biauw, tiga bulan lagi ia
baru sempat meninggalkan pulau Buru. Sampai ia mendata semua
bersama petugas yang lain untuk laporan kepada lembaga dunia,
bahwa kesehatan orang-orang di pulau Buru tidak mengecewakan.
Bahwa semuanya diperlakukan dengan baik oleh pemerintah. Karena
jika ada kerja paksa. Jika kam-kamp itu dianggap sebagai kamp kerja
paksa, maka penghuninya tidak akan sesehat sekarang. Jika toh ada
yang sakit, itu masih dalam taraf yang wajar. Bahkan berdasarkan
pengalamannya, keadaan di kamp ini jauh lebih baik daripada
keadaan di negara berkembang lainnya.
Cuma, seperti yang diutarakan oleh Hian Biauw, tak ada yang
bisa menikmati keindahan dan kesuburan pulau ini sebagai orang
yang tidak merdeka. Bertugas di sini, meskipun hanya beberapa
bulan, ia mulai menyadari, bahwa kemerdekaan adalah satu-satunya
modal manusia yang paling berharga. Ia sekarang sadar mengapa ia
dulu ikut berjuang.
***
Di Jakarta ia baru ingat bahwa ia harus mencari Hian Biauw.
Dengan mudah ia memang bisa mendatangi lembaga yang khusus
mengurusi pembebasan. Tapi Hian Biauw ternyata langsung ke

305
Malang. Tapi ketika di Malang, di sana tak ada orang yang tahu.
Mereka hanya memberitahukan, bahwa Hian Biauw cuma mampir
sebentar lalu pergi lagi. Kemana ia pergi, tak seorang pun yang tahu.

***

Latifah memang tidak bisa lama-lama di Indonesia. Ia harus
segera memberikan laporan mengenai perkembangan kesehatan
selama ia bertugas di Indonesia. Meskipun dengan hati berat, ia
terpaksa tidak dapat menunggu sampai berjumpa kembali dengan
Hian Biauw. Ia hanya mempunyai harapan serta keyakinan bahwa
Hian Biauw pasti akan mau menghubunginya, serta akan mau
menceritakan jika seandainya ia mengalami hal-hal yang
menyulitkan.
Dalam perjalanan pulang ke Amerika dalam pesawat terbang,
ia merinci kembali kenangan. Betapa hebatnya yang dulu sangat
dipujanya sekarang menjadi orang yang sama sekali tidak pernah
ada dalam bayangannya. Dulu ia beranggapan, andai Hian Biauw
tidak meninggal dunia dalam penyerbuan ke Pandaan, pastilah ia
kemudian sekolah lagi, atau andaikata ia kemudian melanjutkan
karier di Angkatan Perang, pastilah ia mempunyai kedudukan yang
tinggi. Atau, andaikata ia jadi pedagang, pastilah ia jadi pedagang
yang berhasil. Pengalaman di zaman perang, pastilah bisa
memberikan banyak fasilitas. Tapi yang terakhir ini ia yakin, takkan
diperbuat oleh Hian Biauw. Dalam waktu yang singkat ia sudah
mengenal baik watak pemuda ini. Meskipun banyak jasanya dalam
perjuangan, jarang sekali ia bercerita tentang perjuangan yang sudah
dilakukan.
Tiba-tiba seorang pramugari menghampiri dirinya,
menyerahkan seberkas laporan yang baru dikirim, yang
mengharapkan ia tidak langsung pulang ke Amerika melainkan harus

306
ke Wina. Ada konperensi penting yang mendadak yang harus
dihadiri. Tapi Latifah sudah tak punya niat lagi. Ia merasa capai
setelah beberapa bulan bertugas di daerah tropis, meskipun itu tanah
tumpah darahnya sendiri. Kerja selama tiga bulan itu merupakan
kerja yang keras. Karena selain memeriksa kesehatan orang, ia juga
harus memberikan laporan yang terinci. “Biarlah nanti saja,"
pikirnya. Lalu disimpan kertas catatan yang baru disampaikan. Ia
kemudian melayangkan pikirannya. Perjalanan masih jauh. Diam-
diam air matanya membasahi pipinya, kalau ia ingat, betapa
sebenarnya ia menyadari keputusasaan sahabatnya. Hian Biauw
tampaknya tak punya masa depan. Tampaknya bukan hanya Hian
Biauw yang merasa demikian. Tapi ia sendiri juga merasakan hal
yang sama. Bagi orang-orang seperti Hian Biauw masalah yang satu
ini, mencari pekerjaan untuk membina masa depan yang baik
memang harus melalui perjuangan yang amat keras. Hanya yang
kuat saja nantinya yang bisa bertahan. Karena sekarang ini saja
misalnya, lapangan pekerjaan sudah makin sulit. Jangankan yang
tidak terpelajar. Yang terpelajar saja mengalami kesulitan. Sarjana
sekarang repot mencari pekerjaan. Dengan demikian, kalau lapangan
kerja itu bisa diibaratkan sebuah kue yang besar, maka kalau dulu
sudah hampir habis dibagi dan diperebutkan oleh sekian orang yang
sudah ada, sekarang yang memperebutkan makin banyak lagi.
Karenanya orang akan sulit mencari pekerjaan. Latifah tahu, bahwa
masalah ini bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja. Masalah
ini sekarang juga ada di Amerika. Dengan datangnya orang dari
Timur, Vietnam misalnya, lapangan pekerjaan yang tadinya terbuka
untuk orang-orang sendiri, sekarang harus dibagi dengan orang lain.
Kesempatan juga makin lama makin sedikit.
Dan akhir cerita tentang Latifah hanya dapat diceritakan
sebagai berikut. Sesampainya di Amerika, ia sudah terlibat dalam
urusan rutinnya. Kariernya makin menanjak, karena ia dianggap

307
berhasil dalam menyelesaikan persoalan Tapol di Indonesia. Ia oleh
Indonesia juga dianggap bisa menerangkan citra yang sesungguhnya
tentang Indonesia, sehingga dengan pembebasan para tahanan politik
itu, selesai juga masalah mereka. Tidak ada ekornya seperti yang
sering terjadi di negara lain.
Sementara itu, di saat-saat luangnya, di saat ia merenung
sendiri dalam flatnya yang luas, sendirian, ia masih terus menunggu
kabar dari Hian Biauw. Dari tahun 1985 ia masih mengharapkan
kabar itu. Sayangnya, kabar itu tak pernah datang. Latifah tetap setia
menunggu, sampai rambutnya sudah ada yang memutih. Kadang,
sambil menggigit pensilnya, ia merenung untuk menulis konsep surat
untuk urusan yang besar, ia masih sering melamun mengenai masa
yang lalu. Rasanya tahun-tahun selanjutnya, baginya adalah tahun
perjuangan mencapai puncak karier. Rasanya baru sekarang ia
mengerti bahwa bagi seorang wanita, betapa tingginya karier yang
berhasil dicapai, rasanya hati tetap sunyi, selama di hati itu tidak
ada curahan cinta kasih....

***

308
68

Dan inilah akhir cerita tentang Hian Biauw. Begitu sampai
di Jakarta. Ia cuma menemui segala protokoler yang harus dilewati.
Tak ada niatnya untuk menjenguk keluarga karena ia memang tak
mau merepotkan. Ia tahu, bahwa orang-orang seperti dia, yang pernah
ditahan di pulau Buru dengan tuduhan terlibat langsung pada gerakan
G30 S/PKI adalah kelompok yang ingin dijauhi oleh masyarakat.
Bukan karena tak etis, melainkan orang memang tak mau repot.

Dari Jakarta dua hari kemudian diperbolehkan ke Malang
setelah surat-suratnya beres dan ke mana di Malang ia harus melapor.
Kembali nasib yang kelabu menghampar di mukanya. Apa yang
diutarakan oleh Latifah, bagaimana perasaannya jika ia menjumpai
rumah orang tuanya di Malang sudah tak ada, saat itu ia tak mau
tahu. Sekarang baru terasakan betapa pahitnya rasanya, dalam waktu
sepuluh tahun, rumah orang tuanya pasti masih ada. Apalagi, yang
disuruh menjaga oleh orang tuanya dulu masih termasuk famili
sendiri. Tapi kenyataan yang dialami sekarang lain. Rumah itu sudah
dibongkar dan sudah berbentuk lain. Sudah tak ada bekas tentang
masa lalu. Biarpun masa lalu itu pun baru terpisah sepuluh tahun
saja.
Dulu, setiap hari Sabtu, ia selalu datang ke rumah orang
tuanya. Berkumpul bersama papa dan saudara sepupu. Dari tetangga
ia kemudian mengetahui, bahwa familinya itu lima tahun yang lalu
sudah menjual rumah tersebut dan kemana kemudian famili itu pergi
tak ada seorang pun yang tahu.
Habislah sudah harapan Hian Biauw. Tak tahu lagi apa yang
harus dilakukan. Dunia yang terbentang di depannya terasa begitu
suram. Malam itu ia tidur di emplasemen statius kota Malang.
Mencoba merenung apa yang akan diperbuat. Apakah kota Malang

309
ini yang akan menjadi tempat tinggalnya buat selamanya, atau apakah
ia akan kembali ke Pecalukan, tempatnya dulu berbakti kepada rakyat
desa. Mungkin saja, dan kemungkinan ini besar sekali, ia masih
akan mendapat dana dari sahabat-sahabat orang tuanya. Malang
memang gudang pabrik rokok. Ayahnya dulu ikut berperan dalam
hal pengadaan tembakau. Mungkin mereka masih ingat. Tapi
pantaskah ia meminta belas kasihan mereka? Lantas sebagai apa ia
harus meminta belas kasihan dari mereka. Sebagai anak seorang
Mayor Tionghoa yang kenamaan tempo dulu?
Tidak, demikian jerit hatinya. Baginya pantang untuk
mendapat belas kasihan, semuanya itu bisa dilakukannya pada tahun
enam puluhan dulu, ketika ia “marah” karena harus memilih
kewarganegaraan Indonesia dan memohon belas kasihan pemerintah
agar orang tuanya tidak diusir dari desa karena adanya PP 10. Sebagai
orang yang ikut berjuang di tahun 1945, mungkin saja ia bisa
mendapat beberapa fasilitas dari pemerintah. Tapi tidak. Orang
seperti dia tak boleh bersikap demikian. Meskipun terus terang saja,
sampai saat itu ia masih tidak tahu, mengapa ia dulu berjuang.
Ada beberapa orang tuna karya yang tidur di emplasemen
itu. Seorang ibu dengan dua anaknya yang berbutuh kotor. Mungkin
hari ini belum sempat mandi. Anak yang kecil menetek pada ibunya
dan payudara itu rasanya seolah protes. Susu sudah tidak ada lagi
dan anak itu pun terus dibiarkan menyusu. Mungkin dalam
khayalnya, mengisap pentil susu ibunya itu membuat dirinya
kenyang. Karenanya ia juga berhenti menangis dan menangis kembali
begitu ibunya mencoba melepaskan. Semuanya dipandang Hian
Biauw dengan perasaan yang haru. Inikah kehidupan baru yang
dijumpai?
Melihat kehidupan itu ia kemudian merasa mempunyai
kekuatan untuk menatap hidup yang tadinya dirasakan kelabu. Ia
kemudian teringat nasihat papanya: “Jangan melihat hidup ini ke

310
atas, tapi lihatlah ke bawah. Juga, yang penting dalam hidup manusia
bukan mencatat berapa kali ia berhasil, melainkan berapa kali ia
mampu bangkit kembali sesudah kehancurannya”. Itu dulu nasihat
papanya. Nasihat yang bagus dan terasakan kebenarannya sekarang.
Rasanya cuma pemandangan ibu dengan dua anaknya yang kotor
tubuhnya itu saja yang membuatnya berani menghadapi hidup ini.
Tapi apa yang harus diperbuatnya sekarang? Kemana ia harus
melanjutkan langkahnya sesudah besok matahari bersinar terang
pertanda pagi hari telah tiba.
Tiba-tiba ada petugas stasiun yang menghampiri.
Menanyakan kemana ia mau pergi. Hian Biauw tak bisa menjawab.
Ia hanya berdiri, membawa tasnya yang di dalamnya cuma ada dua
stel pakaian, pemberian pemerintah dari Jakarta dan uang kontan
sebanyak duapuluh lima ribu rupiah. Juga pemberian dari
pemerintah. Dengan perasaan gontai ia berjalan meninggalkan
stasiun. Di emperan muka, hujan turun rintik-rintik. Inilah Malang,
yang membuat sejuk dan disuka orang. Tapi bagi orang seperti Hian
Biauw, hujan rintik-rintik berarti satu masalah baru. Ke mana ia
harus melewatkan malam yang dingin begini?
Kemelut seperti ini lah yang harus dihadapi setiap manusia.
Kehidupan memang tidak selamanya di atas. Juga tidak selamanya
di bawah. Persoalannya cuma: Kita mau menerimanya atau tidak,
itu saja.
***

311
Sinyo Sipit 1985

Udara siang itu panas. Surabaya di musim kemarau panasnya
bukan main. Di muka sebuah toko P&D Hian Biauw mangkal,
pandangannya terarahkan ke stopan lampu. Hilir mudik kendaraan
membuatnya teringat pada tahun-tahun yang dulu. Tahun 1945.
Ketika itu malam sangat sunyi. Tak ada kendaraan. Blokade Belanda
memang ada di daerah itu. Ia dan Effendi sudah menanti lama di
gedung White Away, yang sekarang menjadi Siola. Tak pernah
terduga sama sekali, bahwa dulu, tempat yang runtuh kena bom
Inggris itu kini bisa berubah jadi toko serba ada yang begitu besar.
Juga pedagang koper dan arloji. Dulu semuanya tak ada. Dan inilah
yang mungkin menurut Latifah bisa dikatakan sebagai satu kemajuan.
Kemajuan yang alami. Tapi apakah ini benar satu kemajuan?
Akhirnya Hian Biauw tak ingin merenung lebih dalam. Ia tak ingin
mempersoalkan apakah dengan kenyataan yang ia lihat dari hari ke
hari makin mempertebal jurang antara si kaya atau si miskin. Di
benaknya kemudian terbentang lagi kisah-kisah lamanya yang heroik,
yang sebenarnya sudah lama tak pernah dipikirkan lagi.
Sayup-sayup ia masih bisa melihat, betapa Belanda dulu
kalang kabut mencoba menyusun strategi ketika persediaan bahan
bakarnya berhasil dibakar. Waktu itu, entah bagaimana ada dorongan
untuk maju. Tak ada rasa takut. Sekarang, orang menyeberang dari
Siola ke Praban saja tak berani jika tak ada lampu stopan yang
mengatur. Tapi dulu itu semuanya terjadi begitu saja. Ajakan Effendi
tak pernah dipikirkan baik buruknya. Tak pernah terpikirkan jika
seandainya mereka tertangkap Belanda. Padahal mereka berdua
sudah tahu dengan pasti bahwa Belanda pasti akan menghabisi nyawa
mereka tanpa ampun lagi.
Dulu itu mereka merangkak, meter per meter menuju ke
tempat blokade Belanda. Dan tujuannya cuma satu, menghancurkan

312
Belanda. Untuk apa, itulah yang sampai sekarang ia tak bisa
menjawabnya. Untuk apa sebenarnya ia dulu berjuang? Hanya ikut-
ikut teman-teman dan merasa malu kalau berada di Surabaya,
sedangkan Bung Tomo setiap sore selalu bersuara lantang? Kalau
cuma itu, mengapa nyawa rasanya begitu murah dijual? Mengapa
tak ada pemikiran rasa takut. Mengapa tak ada ingatan pada orang
tua yang menyayangi mereka? Mungkin untuk Effendi jawaban itu
gampang! Tanah dan negeri ini memang tanah dan tumpah darahnya.
Tapi untuk Hian Biauw, apa? Sekarang, meskipun sudah terpisah
empat puluh tahun lamanya, pertanyaan itu belum dapat dijawabnya.
Lantas kalau ia ingat orang-orang yang lalu lalang di depannya, baik
yang jalan kaki maupun yang bersliweran dengan mobil yang paling
baru, apakah mereka dulu juga pernah berjuang sehingga mereka
sekarang menikmati hasil perjuangan orang-orang seperti dia dan
Effendi. Sekarang, orang-orang seperti dia dan Effendi dan masih
banyak lagi, tak menentu hidupnya. Mereka boleh bergembira jika
uang seribu dua ribu bisa diperoleh hari ini. Tak ada ketentuan tentang
hari depan. Tampaknya, kebahagiaan yang masih mungkin dinikmati
adalah kebahagiaan seperti sekarang ini. Menikmatihasil perjuangan
tahun-tahun yang silam, hidup di alam mereka dengan menikmati
Rahmat Tuhan yang didapat karena keringat dan kerja keras.
Tiba-tiba saja lamunannya buyar ketika dua orang remaja
menyadarkannya:
“Kawatan berapa,pak?”
Ia menoleh,
“Naiklah, berapa sajalah”
Dua remaja itu dengan keras menghempaskan tubuh di atas
becak. Hian Biauw mulai mendorongnya, kemudian menaiki dan
mengayuhnya dengan santai. Dalam perjalanan menuju ke Kawatan
itu ia masih sempat mendengar dialog penumpangnya:
“Kau tadi habis belanja banyak di Ramona”
“Nggak banyak”

313
“Apa yang kau beli”
“Kaos, cuma lima belas ribu..”
Cuma lima belas ribu? Itu berarti seminggu kerja buat Hian
Biauw. Mungkin lebih. Tapi inilah memang takdir hidup. Hian Biauw
tidak berpikir panjang lagi. Lampu di Praban menyala hijau. Jalan
Bubutan dilalui dengan penuh ketetapan hati menatap masa depan.
Orang-orang seperti dia memang harus menerima kenyataan hidup.
Orang-orang seperti dia tampaknya sudah ditakdirkan untuk hidup
hari ini. Makan hari ini. Tidur hari ini. Tak ada pemikiran untuk hari
esok, karena memang ia tak tahu esok yang bagaimana yang harus
dipikirkannya. Dan begitulah sampai sekarang Hian Biauw. Mangkal
sebagai tukang becak di muka sebuah toko P&D di Jalan Praban. Ia
yang menyimpan sejuta pengalaman dari awal kelahiran Republik
ini sampai sekarang.

***

314
Tentang Penulis

Basuki Soejatmiko terlahir sebagai Liem Hok Liong
di Probolinggo tanggal 5 Oktober 1939. Sejak kecil
Basuki telah menunjukkan kemauan yang keras.
Meskipun tidak ditunjang oleh tersedianya kertas tulis
yang baik, ia tidak kehilangan akal. Untuk
mewujudkan bakat menulis kreatifnya, ia mendekati
si Mbok yang membantu ibunya berjualan agar diberi
kertas roti pembungkus nougat (ting-ting). Di atas
kertas roti itulah ia mulai mengembangkan penulisan kreatifnya dan
melahirkan puisi dan cerpen-cerpennya yang pertama.

Pada awal sekolahnya ia tidak begitu bahagia karena guru tidak dapat
menyelami jiwanya yang penuh imajinasi. Sampai di kelas lima SD Mater
Dei ia bertemu dengan Sr. Katerin, SPM yang menghargai karangan
fiksinya dan inilah yang menumbuhkan kepercayaan dirinya. Kecintaannya
kepada Sr.Katerin ini dikenangnya sampai wafatnya. Perjalanan kariernya
dimulai di Majalah Liberty di tahun 1959. Meskipun cita-citanya menjadi
pengarang, akhirnya ia berkembang sebagai kuli tinta. Karena ketajaman
tulisan-tulisannya, saat berusia 20-an pernah meringkuk dalam tahanan
demi menegakkan kebenaran. Setelah 25 tahun menjadi wakil pemimpin
Majalah Liberty, juga dalam menegakkan kebenaran, ia keluar dan
beberapa bulan kemudian bekerja di Jawa Pos (1984). Kariernya sebagai
wartawan dititinya sampai akhir hidupnya di tahun 1990.

Dua novel lain yang ditulisnya Nyonya Sita dan Bunga Mawar Kuning
Tercinta. Ia juga menyusun buku Etnis Tionghoa yang merupakan sebuah
studi tentang pemikiran-pemikiran etnis Cina seperti dicetuskan dalam
Majalah Bok Tok yang terbit di Malang sebelum kemerdekaan. Ia juga
dikenal sebagai ahli Hongsuinipun yang membawa ilmu ini diperhitungkan
dalam dunia arsitektur Surabaya.

315