You are on page 1of 18

LAPORAN KASUS

Dermatitis Atopik

Disusun Oleh:
Christman Maruli Tua Sihite, S.Ked.
1161050126

Pembimbing :
DR. dr. Ago Harlim, Sp.KK, MARS

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


PERIODE 27 FEBRUARI 2017 01 APRIL 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2017
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An.A
No. RM : 00-07-89-53
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal lahir : 27 Maret 2010
Umur : 6 tahun
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan terakhir : SD
Alamat : RT 008 / RW 015 , Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Status Pernikahan : Belum Menikah
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal Berobat : 02 Maret 2017

II. ANAMNESIS

Diambil dari auto dan allo anamnesis pada tanggal 02 Maret 2017 pukul 11.30 WIB

1. Keluhan Utama

Rasa gatal dan bercak kemerahan pada kaki dan tangan.

2. Keluhan Tambahan

Tidak ada.

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poliklinik Kulit RSU UKI dengan keluhan gatal pada kulit sejak 1

bulan yang lalu. Rasa gatal yang timbul pada kaki dan tangan. Awalnya pasien

menyadari muncul rasa gatal pertama kali di sekitar lengan pasien, kemudian

semakin lama daerah lengan timbul bercak kemerahan menyebar ke tubuh pasien,

kemudian ke kaki, dan paling banyak muncul di bagian kaki pasien. Ukuran bercak
putih bervariasi, bentuknya tidak beraturan. Rasa gatal yang hebat pada pasien,

sehingga pasien menggaruk pada bagian yang gatal hingga gatal hilang. Pasien

merasakan gatal tertutama saat terpapar debu dan dingin. Keluhan gatal tersebut

meluas sampai seluruh tubuh kecuali wajah, Namun gatal tersebut tidak sampai

mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien sudah mencoba berobat ke puskesmas dan

diberikan obat CTM, namun keluhan tidak berkurang.

4. Riwayat Penyakit Dahulu

1. Riwayat Alergi : Debu dan Suhu dingin.E

2. Riwayat Kencing manis : Disangkal

3. Riwayat Penyakit Asma : Disangkal

4. Riwayat Penyakit Hipertensi : Disangkal

5. Riwayat Penyakit kulit : Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga

1. Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan serupa

2. Riwayat Alergi : Disangkal

3. Riwayat Kencing manis : Disangkal

4. Riwayat Penyakit Ginjal : Disangkal

5. Riwayat Penyakit asma : Disangkal

6. Riwayat hipertensi : Disangkal

6. Riwayat Sosial & Kebiasaan

1. Pasien memiliki kebiasaan untuk menggaruk jika keluhan gatal muncul hingga

gatal hilang.

2. Pasien mandi dua kali sehari pada pagi dan sore hari dengan sabun Lifebuoy.

Pasien sehari-hari mengenakan pakaian seragam sekolah yang diganti setiap hari.

Pasien selalu memakai pakaian dalam berupa kaus kutang yang diapakai seharian.
3. Pasien memiliki kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, cuci

tangan pasien dalam sehari hingga 9-10 kali dilakukan oleh pasien.

4. Pasien memiliki kebiasaan olahraga berupa sepakbola, terkadang tetap memakai

pakaian seragam sekolah, hampir setiap pulang sekolah. Pasien tidak langsung

membersihkan badan setelah berkeringat. Kegiatan sehari-hari pasien lebih

banyak diluar terkena sinar matahari dibanding di dalam ruangan.

III. PEMERIKSAAN FISIK

1. Status Umum

Keadaan umum : Baik, kooperatif

Kesadaran : Compos mentis, GCS E4 M6 V5

TD : 120/80 mmHg

Nadi : 86 x/menit

RR : 21 x/menit

Suhu : 36,7 oC

BB : 53 kg

TB : 102 cm

2. Status Generalis

Kepala : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata.

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor.

Hidung : Discharge (-/-), tidak ada deviasi septum, nafas cuping

hidung (-)

Mulut/gigi : Bibir sianosis (-), lidah tidak kotor.

Telinga : Daun telinga simetris, liang telinga lapang

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening


Kulit : Sianosis (-), turgor cukup

Pemeriksaan Thorax

Inspeksi : Dinding dada simetris, jejas (-) retraksi (-/-)

Palpasi : Vokal fremitus paru kanan sama dengan kiri

Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi : bunyi nafas dasar vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-), bunyi

jantung regular, murmur (-), gallop (-)

Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : Perut tampak datar, umbilicus tidak menonjol, striae (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Perkusi : Timpani,nyeri ketok (-)

Palpasi : Supel, Nyeri tekan (-)

3. Status Dermatologikus

o Distribusi : Diskret

o Regio : Thorakal anterior, deltoid dextra et sinista, Ante-Brachii

Dextra et sinistra, Thorakal posterior, Pedis dextra et sinistra.

o Lesi : Tampak makula eritem ukuran plakat berbatas tegas dengan

permukaan ditutupi oleh skuama halus.


Gambar 1. Efloresensi . Tampak Makula eritema ukuran plakat berbatas tegas dengan permukaan

ditutupi oleh skuama halus yang tersebar diskret pada Thorakal anterior, deltoid dextra et sinista,

Ante-Brachii Dextra et sinistra, Thorakal posterior, Pedis dextra et sinistra.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak ada

V. RESUME

Pasien datang ke poliklinik Kulit RSU UKI dengan keluhan gatal pada kulit sejak 1 bulan

yang lalu. Rasa gatal yang timbul pada kaki dan tangan. Awalnya pasien menyadari muncul
rasa gatal pertama kali di sekitar lengan pasien, kemudian semakin lama daerah lengan timbul

bercak kemerahan menyebar ke tubuh pasien, kemudian ke kaki, dan paling banyak muncul

di bagian kaki pasien. Ukuran bercak putih bervariasi, bentuknya tidak beraturan. Rasa gatal

yang hebat pada pasien, sehingga pasien menggaruk pada bagian yang gatal hingga gatal

hilang. Pasien merasakan gatal tertutama saat terpapar debu dan dingin. Keluhan gatal

tersebut meluas sampai seluruh tubuh kecuali wajah, Namun gatal tersebut tidak sampai

mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien sudah mencoba berobat ke puskesmas dan

diberikan obat CTM, namun keluhan tidak berkurang. Pada pemeriksaan efloresensi kulit

Tampak Makula eritema ukuran plakat berbatas tegas dengan permukaan ditutupi oleh skuama halus

yang tersebar diskret pada Thorakal anterior, deltoid dextra et sinista, Ante-Brachii Dextra et sinistra,

Thorakal posterior, Pedis dextra et sinistra.

VI. DIAGNOSA KERJA

Dermatitis Atopik

VII. DIAGNOSIS BANDING

Dermatitis Numularis

Lesi akut berupa plak eritematosa berbentuk koin dengan batas tegas yang terbentuk dari

papul dan papulovesikel yang berkonfluens. Lambat laun vesikel pecah dan terjadi

eksudasi berbentuk pinpoint.

Dermatitis Intertriginosa

Dermatitis Kontak

Dermatitis Traumatika
VIII. RENCANA / ANJURAN PEMERIKSAAN

a. Pemeriksaan IgE Serum.

b. Uji Kulit/ Skin Prick Test.

IX. PENATALAKSANAAN

a. Non medikamentosa

1. Edukasi kepada pasien mengenai penyakit yang diderita

2. Edukasi kepada pasien untuk menghindari faktor pencetus terjadinya Dermatitis

Atopik.

3. Mencegah garukan bila gatal timbul di area yang gatal

4. Menjaga kebersihan kulit, menjaga kulit agar tidak berkeringat dan segera

berganti pakaian apabila berkeringat

b. Medikamentosa

1. Kloderma Tube 1 tube.

2. Histatine 1 x 10 tablet .

3. CTM 1 x 10 tablet.

X. PROGNOSIS

Ad vitam : Dubia ad bonam

Ad functionam : Dubia ad bonam

Ad sanationam : Dubia ad malam


TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Dermatitis Atopik (DA) adalah perasdangan kulit berupa dermatitis yang kronis residif,

disertai rasa gatal, dan mengenai bagian tubuh tertentu terutama di wajah pada bayi

(fase infantil) dan bagian fleksural ekstremitas (pada fase anak). Dermatitis atopik kerap

terjadi pada bayi dan anak, sekitar 50% menghilang pada remaja, kadang dapat

menetap, atau bahkan baru dimulai muncul saat dewasa. Istilah atopy telah

diperkenalkan oleh Coca dan Cooke pada tahun 1923, asal kata atopos (out of place)

yang berarti berbeda; dan yang dimaksud adalah penyakit kulit yang tidak biasa, baik

lokasi kulit yang terkena, maupun perjalanan penyakitnya.

Epidemiologi

Mencakup prevalensi, usia, jenis kelamin, distribusi tempat dan penyebaran geografis

baik di dalam maupun di luar negeri belum tercatat dengan baik. Evaluasi lanjut tentang

berbagai faktor resiko dan faktor yang memengaruhi penyakit telah dikemukakan oleh

para peneliti, hasilnya bervariasi bergantung pada negara tempat penelitian berlangsung.

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya Dermatitis Atopik dibagi menjadi dua yaitu faktor

predisposisi endogen dan eksogen. Endogen : Genetik, Disfungsi sawar kulit,

Hipersensitivitas. Eksogen : Lingkungan, Iritan, Alergen, Makanan.


Etiologi dan Patofisiologi

beberapa faktor yang berperan sebagai faktor pencetus kelainan ini misalnya faktor

genetik,imunologik,lingkungan dan gaya hidup, dan psikologi.

1. Faktor genetik

Dermatitis atopik lebih banyak ditemukan pada penderita yang mempunyai riwayat

atopi dalam keluarganya. Kromosom 5q31-33 mengandung kumpulan familygen

sitokin IL-3, IL-4, IL-13, dan GM-CSF, yang diekspresikan oleh sel TH2. Ekspresi gen

IL-4 memainkan peranan penting dalam ekspresi dermatitis atopik. Perbedaan genetik

aktivitas transkripsi gen IL-4 mempengaruhi presdiposisi dermatitis atopik.Ada

hubungan yang erat antara polimorfisme spesifik gen kimase sel mas dengan dermatitis

atopik, tetapi tidak dengan asma bronkial atau rhinitis alergik.

Sejumlah bukti menunjukkan bahwa kelainan atopik lebih banyak diturunkan dari garis

keturunan ibu daripada garis keturunan ayah. Sejumlah survey berbasis populasi

menunjukkan bahwa resiko anak yang memiliki atopik lebih besar ketika ibunya

memiliki atopik, daripada ayahnya. Darah tali pusat IgE cukup tinggi pada bayi yang

ibunya atopik atau memiliki IgE yang tinggi, sedangkan atopik paternal atau IgE yang

meningkat tidak berhubungan dengan kenaikan darah tali pusat IgE

2. Faktor imunologi.

Konsep dasar terjadinya dermatitis atopik adalah melalui reaksi imunologik, yang

diperantai oleh sel-sel yang berasal dari sumsum tulang. Beberapa parameter imunologi

dapat diketemukan pada dermatitis atopik, seperti kadar IgE dalam serum penderita

pada 60-80% kasus meningkat, adanya IgE spesifik terhadap bermacam aerolergen dan

eosinofilia darah serta diketemukannya molekul IgE pada permukaan sel langerhans

epidermal.Terbukti bahwa ada hubungan secara sistemik antara dermatitis atopik dan
alergi saluran napas, karena 80% anak dengan dermatitis atopik mengalami asma

bronkial atau rhinitis alergik.

3. Faktor lingkungan dan gaya hidup.

Berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup berpengaruh terhadap pravelensi dermatitis

atopik.Dermatitis atopik lebih banyak ditemukan pada status sosial yang tinggi daripada

status sosial yang rendah.Penghasilan meningkat, pendidikan ibu makin tinggi, migrasi

dari desa ke kota dan jumlah keluarga kecil berpotensi menaikkan jumlah penderita

dermatitis atopic.

Faktor-faktor lingkungan seperti polutan dan alergen-alergen mungkin memicu reaksi

atopik pada individu yang rentan. Paparan polutan dan alergen tersebut adalah

1) Polutan : Asap rokok, peningkatan polusi udara, pemakaian pemanas ruangan

sehingga terjadi peningkatan suhu dan penurunan kelembaban udara, penggunaan

pendingin ruangan.

2)Alergen: 7 -Aeroalergen atau alergen inhalant : tungau debu rumah, serbuk sari

buah, bulu binatang, jamur kecoa -Makanan: susu, telur, kacang, ikan laut, kerang laut

dan gandum -Mikroorganisme: Staphylococcus aureus, Streptococcus sp, P.ovale,

Candida albicans,Trycophyton sp. -Bahan iritan: wool, desinfektans, nikel, peru

balsam.

4. Faktor Psikologi.

Pada penderita dermatitis atopik sering tipe astenik, egois, frustasi, merasa tidak aman

yang mengakibatkan timbulnya rasa gatal. Namun demikian teori ini masih belum jelas

Gambaran Klinis

Gejala klinis dan perjalanan dermatitis atopik sangat bervariasi, membentuk sindrom

manifestasi diatesis atopi. Gejala utama dermatitis atopik ialah pruritus,dapat hilang timbul

sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari.Akibatnya, penderita akan
menggaruk sehingga timbul bermacam-macam kelainan kulit berupa papul, likenifikasi,

eritema, erosi, eksoriasi, eksudasi, dan krusta. Kulit penderita dermatitis atopik umumnya

kering, pucat atau redup, kadar lipid di epidermis berkurang, dan kehilangan air lewat

epidermis meningkat.

Lesi akut pada dermatitis atopik berupa eritema dengan papul, vesikel, edema yang luas dan

luka akibat menggaruk.Sedangkan pada stadium kronik berupa penebalan kulit atau yang

disebut likenifikasi.Selain itu, dapat terjadi fisura yang nyeri terutama pada fleksor,telapak

tangan,jari dan telapak kaki.Pada orang berkulit hitam atau coklat dapat ditemukan

likenifikasi folikular

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang hanya dilakukan bila ada keraguan klinis. Peningkatan kadar IgE

dalam serum juga dapat terjadi pada sekitar 15% orang sehat, demikian pula kadar eosinofil,

sehingga tidak patognomonik. Uji kulit dilakukan bila ada dugaan pasien alergik terhadap

debu atau makanan tertentu, bukan untuk diagnostik.

Diagnosa

Diagnosis dermatitis atopik berdasarkan keluhan dan gambaran klinis.Pada awalnya

diagnosis dermatitis atopik didasarkan atas berbagai fenomena klinis yang tampak, terutama

gejala gatal.George Rajka menyatakan bahwa diagnosis dermatitis atopik tidak dapat dibuat

tanpa adanya riwayat gatal.

Hanifin Rajka telah membuat kriteria diagnosis untuk dermatitis atopik yang didasarkan pada

kriteria mayor dan minor yang sampai sekarang masih banyak digunakan.

Kriteria Mayor (Minimal harus ada 3 dari 4 tanda)

1) Pruritus (eksoriasi kadang terlihat)

2) Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak

3) Dermatitis fleksura pada dewasa


4) Dermatitis kronis atau residif

5) Riwayat atopi pada penderita pada keluarganya

Kriteria Minor (Ditambah 3 atau lebih kriteria minor)

1) Xerosis (kulit kering)

2) Infeksi kulit ( khususnya oleh S.aureus dan virus herpes simpleks)

3) Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki

4) Iktiosis (khususnya hiperlinear palmaris atau pilaris keratosis)

5) Ptiriasis alba

6) Dermatitis di papilla mamae

7) White dermographism and delayed blanch response

8) Keilitis

9) Lipatan infra orbital DennieMorgan

10) Konjungtivitis berulang

11) Keratokonus

12) Katarak subscapular anterior

13) Orbita menjadi gelap

14) Alergi makanan

15) Muka pucat atau eritem

16) Gatal bila berkeringat

17) Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak

18) Aksentuasi perifolikuler

19) Hipersensitif terhadap makanan

20) Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau emosi

21) Tes kulit alergi tipe dadakan positif

22) Kadar IgE di dalam serum meningkat


23) Awitan pada usia dini

Kriteria mayor dan minor yang diusulkan oleh Hanifin dan Rajka didasarkan pengalaman

klinis yang cocok untuk diagnosis berbasis rumah sakit (hospital based) dan

eksperimental,tetapi tidak dapat dipakai pada penelitian berbasis populasi karena kriteria

minor umumnya ditemukan pada kelompok kontrol, disamping itu belum divalidasi terhadap

diagnosis dokter atau diuji untuk pengulangan (repeatability).

Dalam perkembangan selanjutnya seiring dengan kemajuan di bidang imunologi maka untuk

diagnosis dermatitis atopik mulai dimasukkan uji alergi sebagai kriteria diagnosis.

Pemeriksaan atau uji alergik tersebut adalah uji tusuk (skin pricktest)terhadap bahan alergen

inhalan dan pemeriksaan IgE total didalam serum penderita.

Uji tusuk merupakan suatu metode uji alergi yang banyak digunakan untuk mendeteksi

alergen yang melibatkan reaksi hipersensivitas tipe I pada kulit. Pada reaksi hipersesivitas

tipe I alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon 13 imun berupa produksi

IgE. IgE akan terikat pada reseptor Fc sel mast dikulit yang selanjutnya menyebabkan

degranulasi sel mast.

Penatalaksanaan

Berbagai faktor dapat menjadi pencetus DA dan tidak sama untuk setiap individu, karena itu

perlu diidentifikasi dan dieliminasi berbagai faktor tersebut.

- Menghindarkan pemakaian bahan-bahan iritan (deterjen, alkohol, astringen, pemutih, dll)

- Menghindarkan suhu yang terlalu panas dan dingin, kelembaban tinggi.

- Menghindarkan aktifitas yang akan mengeluarkan banyak keringat.

- Menghindarkan makanan-makanan yang dicurigai dapat mencetuskan DA.

- Melakukan hal-hal yang dapat mengurangi jumlah TDR/agen infeksi, seperti menghindari

penggunaan kapuk/karpet/mainan berbulu.

- Menghindarkan stres emosi.


- Mengobati rasa gatal.

Pengobatan

1. Pengobatan topical

a. Hidrasi kulit

b. Kortikosteroid topikal

c. Imunomodulator topikal

i. Takrolimus

Bekerja sebagai penghambat calcineurin, sediaan dalam bentuk salap 0,03%

untuk anak usia 2 15 tahun dan dewasa 0,03% dan 0,1%. Pada pengobatan

jangka panjang tidak ditemukan efek samping kecuali rasa terbakar setempat.

ii. Pimekrolimus

Yaitu suatu senyawa askomisin yaitu suatu imunomodulator golongan

makrolaktam. Kerjanya sangat mirip siklosporin dan takrolimus. Sediaan yang

dipakai adalah konsentrasi 1%, aman pada anak dan dapat dipakai pada kulit

sensitif 2 kali sehari.

2. Pengobatan Sistemik

a. Kortikosteroid

Hanya dipakai untuk mengendalikan DA eksaserbasi akut. Digunakan dalam

waktu singkat, dosis rendah, diberi selang-seling. Dosis diturunkan secara

tapering. Pemakaian jangka panjang akan menimbulkan efek samping dan bila

tiba-tiba dihentikan akan timbul rebound phenomen.

b. Antihistamin

Diberi untuk mengurangi rasa gatal. Dalam memilih anti histamin harus

diperhatikan berbagai hal seperti penyakit-penyakit sistemik, aktifitas

penderita dll. Anti histamin yang mempunyai efek sedatif sebaiknya tidak
diberikan pada penderita dengan aktifitas disiang hari (seperti supir) . Pada

kasus sulit dapat diberi doxepin hidroklorid 10- 75 mg/oral/2 x sehari yang

mempunyai efek anti depresan dan blokade reseptor histamin H1 dan H2.

c. Anti infeksi

Pemberian anti biotika berkaitan dengan ditemukannya peningkatan koloni S.

aureus pada kulit penderita DA. Dapat diberi eritromisin, asitromisin atau

kaltromisin. Bila ada infeksi virus dapat diberi asiklovir 3 x 400 mg/hari

selama 10 hari atau 4 x 200 mg/hari untuk 10 hari. Pemberian probiotik

perinatal akan menurunkan resiko DA pada anak di usia 2 tahun pertama

Prognosis

Prognosis baik jika pengobatan dilakukan secara tekun dan konsisten, serta factor predisposisi dapat

dihindari
ANALISIS KASUS

Teori Kasus

- PVadalah infeksi kulit superfisial - Pada pasien terdapat bercak putih


kronik tang umumnya tidak (hipopigmentasi) tersebar diskret, dan
memberikan gejala subyektif, ditandai terutama banyak muncul pada pundak dan
oleh area depigmentasi atau punggung yang sudah berlangsung kurang
diskolorisasi berskuama halus, tersebar lebih 1 bulan yang lalu.
diskret atau konfluen, dan terutama
terdapat pada badan bagian atas.

- Pasien memiliki kebiasaan olahraga


- Faktor predisposisi terjadinya pitriasis
berupa sepakbola, terkadang tetap
versikolor dibagi menjadi dua yaitu
memakai pakaian seragam sekolah,
factor predisposisi endogen dan
hampir setiap pulang sekolah. Pasien tidak
eksogen. Endogen : defisiensi immun
langsung membersihkan badan setelah
(immunodeffisiensi), kulit berminyak,
berkeringat. Kegiatan sehari-hari pasien
hiperhidrosis, genetika, dan malnutrisi.
lebih banyak diluar terkena sinar matahari
Eksogen : suhu tinggi, kelembapan
dibanding di dalam ruangan.
udara, higiene, penggunaan emolient
yang berminyak.
- Pityriasis versicolor umumnya - Keluhan pasien berawal dari daerah dagu,
menyerang badan dan kadang- kadang kemudian menyebar ke leher, dada,
terlihat di ketiak, sela paha,tungkai atas, punggung, dan kedua tangan.
leher, muka dan kulit kepala

- Pada PV terdapat perbedaan kerentanan - Pasien laki-laki berusia 19 tahun.


berdasarkan usia, yakni lebih banyak
ditemukan pada remaja dan dewasa
muda, jarang pada anak dan orang tua

- Gambaran lesi pityriasis versicolor :


Macula berbatas tegas, hiperpigmentasi - Pada efloresensi pasien, Tampak makula
atau hipopigmentasi, kadang hipopigmentasi ukuran milier - plakat
eritematosa, berbagai ukuran, berbatas tegas dengan permukaan ditutupi
berskuama halus oleh skuama halus yang tersebar diskret
pada Regio Coli sinistra, Thorakal anterior,
deltoid dextra et sinista, Ante-Brachii
Dextra et sinistra, Thorakal posterior
Penegakkan diagnosis dari pityriasis versicolor didasarkan pada gambaran klinis

pasien, baik melalui anamnesis maupun pemeriksaan fisik. Berdasarkan tabel di atas, dapat

terlihat bahwa pasien Tn. P memiliki kecenderungan menderita pityriasis versicolor atas

dasar: 1) keluhan muncul bercak putih sejak 1 bulan (kronis) yang semakin lama semakin

meluas; 2) usia, tempat spredileksi, dan faktor pencetus yang sesuai dengan teori 3) terdapat

lesi macula hipopigmentasi ukuran milier - plakat berbatas tegas dengan permukaan ditutupi

oleh skuama halus yang tersebar diskret pada Regio Coli sinistra, Thorakal anterior, deltoid

dextra et sinista, Ante-Brachii Dextra et sinistra, Thorakal posterior

Tatalaksana pada pasien ini adalah dengan pemberian secara sistemik dan topical.

Terapi sistemik diberikan dengan pertimbangan luasnya lesi, diberikan Itraconazole cap 2 x

100 mg selama 5-7 hari. Itrakonazole adalah obat antifungal yang memiliki senyawa triazol,

mempunyai aktivitas antifungal yang kuat dengan spectrum luas, efektif untuk infeksi jamur

superfisial. Sedangkan untuk terapi topical diberikan sampo selenium sulfide 2,5% yang

dipakai setiap 2-3 kali seminggu, 15-30 menit sebelum mandi, kemudian dibilas. Selenium

sulfide 2.5% diindikasikan untuk pityriasis versicolor (panu) dan Pityriasis capitis (ketombe).