You are on page 1of 12

14 Jurnal Pendidikan Sains, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, Halaman 14-25

Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Topik


Gaya Antarmolekul pada Matakuliah Ikatan Kimia

Muhammad Muchson
Pendidikan Kimia-Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No. 5 Malang. Email: jps.pascaum@gmail.com

Abstrak: Salah satu topik dalam matakuliah ikatan kimia di perguruan tinggi adalah gaya antarmolekul
(intermolecular forces). Gaya antarmolekul akan lebih mudah dipahami oleh pebelajar jika divisualisasi-
kan menggunakan representasi mikroskopik dinamis. Representasi tersebut dapat dikemas dalam
bentuk multimedia interaktif berbasis komputer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembang-
kan multimedia pembelajaran interaktif berbasis komputer topik gaya antarmolekul pada matakuliah
ikatan kimia. Pengembangan multimedia mengadopsi model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan,
Semmel, dan Semmel yang terdiri atas 4 tahap, yaitu (1) front-end analysis dan task analysis, (2)
desain multimedia, (3) pengembangan multimedia, serta (4) distribusi multimedia. Multimedia hasil
pengembangan terdiri atas petunjuk penggunaan multimedia, pendahuluan, pemaparan topik, dan
soal. Penilaian dosen kimia menunjukkan bahwa tingkat kelayakan multimedia hasil pengembangan
sebesar 95,5% dari segi isi, sedangkan penilaian ahli media menunjukkan bahwa tingkat kelayakan
multimedia hasil pengembangan sebesar 88,2% dari segi penampilan. Berdasarkan penilaian para ah-
li, multimedia hasil pengembangan layak digunakan dalam pembelajaran topik gaya antarmolekul. Pe-
ningkatan prestasi belajar mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan multimedia hasil pengem-
bangan adalah signifikan. Mahasiswa menyatakan bahwa multimedia hasil pengembangan efektif
membantu mereka dalam pembelajaran topik gaya antarmolekul. Berdasarkan peningkatan prestasi
dan pernyataan mahasiswa tersebut multimedia hasil pengembangan efektif digunakan dalam pembela-
jaran topik gaya antarmolekul.

Kata kunci: multimedia pembelajaran interaktif, topik gaya antarmolekul, matakuliah ikatan kimia

S
alah satu topik yang terintegrasi dalam Contoh fenomena yang direpresentasikan pada
matakuliah ikatan kimia di perguruan tinggi tingkat makroskopik yang berkaitan dengan sifat fisik
adalah gaya antarmolekul (intermolecular zat adalah titik didih suatu cairan. Pada umumnya,
forces). Topik gaya antarmolekul mencakup konsep titik didih suatu cairan dipengaruhi oleh berat molekul
yang melibatkan representasi fenomena pada tingkat penyusun cairan tersebut. Dalam satu golongan se-
makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Pemaham- nyawa, kenaikan titik didih sejajar dengan kenaikan
an menyeluruh terhadap topik gaya antarmolekul ter- berat molekul. Fenomena tersebut terlihat pada titik
gantung pada kemampuan pebelajar dalam mema- didih golongan senyawa alifatik rantai linier seperti
hami dan mengintegrasikan tiga tingkatan representa- alkana. Pada kasus, tertentu kenaikan titik didih suatu
si tersebut dalam suatu fenomena yang terjadi pada cairan tidak dapat dijelaskan berdasarkan kenaikan
suatu zat. berat molekul. Sebagai contoh, pada tekanan 1 atm
Fenomena yang direpresentasikan pada tingkat titik didih air adalah 100C sedangkan titik didih etanol
makroskopik berkaitan dengan sifat fisik dan sifat adalah 77C, padahal berat molekul air (H2O) adalah
kimia zat. Sifat fisik dan sifat kimia zat merupakan 18 gram/mol sedangkan berat molekul etanol
fenomena yang ditunjukkan oleh suatu zat sebagai (C2H5OH) adalah 46 gram/mol.
akibat gaya antarmolekul yang terjadi antar partikel Contoh fenomena yang direpresentasikan pada
penyusun zat tersebut. Sifat fisik dan sifat kimia zat tingkat makroskopik yang berkaitan dengan sifat ki-
dapat dijangkau oleh pancaindera, tanpa atau dengan mia zat adalah sifat asam suatu cairan. Turunan se-
menggunakan instrumen. nyawa aromatik disubstitusi isomer para lebih bersi-

14
Muchson, Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif... 15

fat asam dibanding isomer orto. Sebagai contoh, cair- Molekul-molekul H2O dalam air cair saling ber-
an -para-nitrofenol lebih asam dibanding cairan orto- interaksi melalui ikatan hidrogen tanpa membentuk
nitrofenol. Fenomena yang terjadi pada contoh sifat jaringan tiga dimensi. Ikatan hidrogen tanpa jaringan
fisik dan sifat kimia zat sebagaimana dideskripsikan tiga dimensi lebih lemah dibandingkan ikatan hidrogen
di atas dapat dijelaskan dengan fenomena mikrosko- dengan jaringan tiga dimensi. Hal terserbut mengaki-
pik gaya antarmolekul yang terjadi antar partikel pe- batkan molekul-molekul H2O dapat bergerak bebas
nyusun zat. dan random, sehingga air berwujud cair. Interaksi
Representasi pada tingkat simbolik berkaitan de- antar molekul H2O dalam uap air sangat lemah. Hal
ngan penulisan fenomena yang terjadi pada suatu tersebut mengakibatkan molekul-molekul H2O dapat
zat menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati bergerak tanpa batas, sehingga air berwujud gas. Se-
secara internasional. Contoh representasi pada ting- bagian besar pebelajar masih mengalami kesulitan
kat simbolik adalah penulisan gejala perubahan fasa dalam memahami fenomena perubahan fasa seperti
air dari cair menjadi gas yang dituliskan melalui persa- dijelaskan pada contoh tiga wujud air di atas. Kesulit-
maan reaksi berikut. an tersebut diakibatkan para pebelajar tidak memaha-
H 2O( l ) H 2O( g ) mi bahwa perubahan fasa adalah fenomena makroso-
pik yang dipengaruhi oleh fenomena mikroskopik gaya
Air disimbolkan dengan H2O, dimana ketika air antarmolekul (Ramasami, 2000).
berada dalam wujud cair simbol H2O ditambah de- Contoh fenomena yang direpresentasikan pada
ngan simbol (l) yang berarti liquid, sedangkan dalam tingkat mikroskopik yang berpengaruh terhadap sifat
wujud gas ditambah dengan simbol (g) yang berarti kimia zat adalah ikatan hidrogen intra- dan antarmole-
gas. kul yang berpengaruh terhadap perbedaan sifat asam
Fenomena yang direpresentasikan pada tingkat antara cairan para-nitrofenol dengan cairan orto-
mikroskopik berkaitan dengan gaya antarmolekul nitrofenol. Molekul orto-nitrofenol dapat membentuk
yang terjadi antar partikel penyusun zat. Fenomena ikatan hidrogen OHO melalui gugus OH de-
gaya antar molekul tidak dapat dijangkau oleh panca- ngan salah satu atom O pada gugus NO2 dalam
indera, tanpa atau dengan menggunakan instrumen. molekul yang sama. Ikatan hidrogen seperti pada
Fenomena gaya antarmolekul yang terjadi antar parti- molekul orto-nitrofenol disebut ikatan hidrogen intra-
kel penyusun zat berpengaruh terhadap sifat fisik dan molekul. Ikatan hidrogen intramolekul menghalangi
sifat kimia zat tersebut. (Eckberg, Zemmer, Reeves, molekul orto-nitrofenol untuk melepaskan ion H+ dari
& Ward, 1994; Nyasulu & Macklin, 2006; Moore & gugus OH, sehingga cairan orto-nitrofenol bersifat
Victorsen, 2007). Fenomena mikroskopik dalam topik kurang asam.
gaya antarmolekul melibatkan penjelasan mengenai Ikatan hidrogen intramolekul seperti dijelaskan
sejumlah molekul yang saling bergerak bebas dan pada molekul o-nitrofenol tidak terjadi pada molekul
random sehingga menghasilkan interaksi. Contoh fe- para-nitrofenol. Jarak antara gugus OH dengan
nomena yang direpresentasikan pada tingkat mikros- gugus NO2 pada molekul para-nitrofenol jauh, se-
kopik yang berpengaruh terhadap sifat fisik zat ada- hingga kedua gugus tidak dapat membentuk ikatan
lah ikatan hidrogen antar molekul H2O yang berpe- hidrogen intramolekul. Gugus OH satu molekul
ngaruh terhadap gejala perubahan fasa air. para-nitrofenol membentuk ikatan hidrogen
Air dapat mengalami perubahan fasa dari es OHO dengan salah satu atom O pada gugus
menjadi air cair, dan kemudian menjadi uap air. Wujud NO2 molekul para-nitrofenol lain. Ikatan hidrogen
es adalah padat, sementara air adalah cair, dan uap seperti pada molekul para-nitrofenol tersebut disebut
air adalah gas, padahal ketiga materi tersebut me- ikatan hidrogen antarmolekul. Ikatan hidrogen antar-
ngandung molekul-molekul yang sama, yaitu H2O. molekul tidak menghalangi molekul para-nitrofenol
Molekul-molekul H2O mengalami interaksi yang ber- untuk melepaskan ion H+ dari gugus OH, sehingga
beda dalam ketiga wujud air tersebut. Molekul-mole- cairan para-nitrofenol bersifat lebih asam dibanding
kul H2O dalam es saling berinteraksi melalui ikatan cairan o-nitrofenol.
hidrogen yang kemudian membentuk jaringan tiga Deskripsi contoh di atas menunjukkan bahwa
dimensi. Jaringan tiga dimensi mengakibatkan mole- sebagian besar fenomena yang terjadi pada tingkat
kul-molekul H2O terikat secara kuat satu sama lain mikroskopik dalam topik gaya antarmolekul bersifat
dan tidak memungkinkan untuk bergerak bebas dan abstrak dengan karakteristik dinamis. Herron (1996)
random, sehingga air berwujud padat. mendefinisikan fenomena abstrak sebagai no per-
16 Jurnal Pendidikan Sains, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, Halaman 14-25

ceptible instances, yaitu fenomena yang tidak dapat sud untuk menggantikan kedudukan contoh asli.
dipahami secara langsung karena tidak tersedianya Pseudoexample atau contoh tiruan dapat dikategori-
contoh yang dapat mendeskripsikan atribut dari feno- kan sebagai model atau analogi.
mena tersebut. Kenyataan tersebut mengakibatkan Gabel (1999) menyatakan bahwa sebagian besar
topik tersebut cenderung sulit dipahami dengan baik topik dalam pembelajaran kimia melibatkan represen-
oleh pebelajar jika diaplikasikan dalam pembelajaran tasi fenomena mikroskopik yang bersifat abstrak dan
yang tidak didukung fasilitas media yang dapat mere- tidak dapat dijelaskan tanpa penggunaan bantuan
presentasikan objek abstrak dengan karakteristik di- analogi atau model. Penggunaan model dalam pem-
namis melalui strategi visualisasi (Wedvik, McMan- belajaran kimia bukan sekedar menyajikan bentuk
aman, Anderson, & Carroll, 1998). Sebagian besar tiruan dari objek sebenarnya. Bent (1984) menjelas-
pebelajar hanya mampu mengingat fenomena mikros- kan bahwa penggunaan model dalam pembelajaran
kopik dalam topik gaya antarmolekul. Kenyataan ter- kimia mencakup segala teknik untuk memvisualisasi-
sebut mengakibatkan pebelajar tidak memahami pe- kan fenomena mikroskopik yang bersifat abstrak be-
ngaruh gaya antarmolekul terhadap sifat fisik dan serta hal-hal yang berkaitan dengan mekanika kuan-
sifat kimia materi (Adadan, Irving, & Trundle, 2009; tum yang menyangkut fenomena tersebut. Penjelasan
Ben-Zvi & Gai, 1994). tersebut menunjukkan bahwa topik-topik dalam pem-
Kesulitan dalam memahami topik gaya antarmo- belajaran kimia tidak cukup jika dimodelkan dengan
lekul terbukti dari hasil penelitian mengenai pengaruh menggunakan model statis saja. Sebagai contoh, pe-
pemahaman topik gaya antarmolekul terhadap pem- modelan molekul CH4 dalam gas metana mengguna-
belajaran kimia organik yang dikemukakan oleh Hen- kan bola dan pasak (stick ball model). Di salah satu
derleiter, Smart, Anderson, & Elian (2001). Keempat sisi model tersebut dapat merepresentasikan bentuk
ahli tersebut mengemukakan bahwa pebelajar yang molekul dari CH4. Akan tetapi di sisi lain model terse-
seharusnya sudah mampu mengaplikasikan topik but tidak dapat merepresentasikan sifat fisik dari se-
gaya antarmolekul pada matakuliah Kimia Organik, nyawa metana yang merupakan gas tidak berwarna.
ternyata masih banyak yang mengalami miskonsepsi. Deskripsi contoh di atas menunjukkan bahwa
Kebanyakan pebelajar masih memahami bahwa ikat- gas metana merupakan fenomena mikroskopik yang
an hidrogen dapat diinduksi, gaya antarmolekul mem- bersifat abstrak dengan karakteristik dinamis, sehing-
pengaruhi reaksi kimia, atau proses pendidihan dapat ga kurang optimal jika hanya dijelaskan mengguna-
memutuskan ikatan kovalen. Selain hasil penelitian kan model statis seperti bola dan pasak. Deskrispsi
yang dikemukakan keempat ahli tersebut, beberapa tersebut hanya sebagian kecil saja dari contoh feno-
hasil penelitian juga menjelaskan terjadinya miskon- mena mikroskopik yang bersifat abstrak dengan ka-
sepsi pada topik tersebut, baik yang dialami oleh pe- rakteristik dinamis dalam pembelajaran kimia. Pada
belajar maupun guru (Nakhleh, 1992; Furio & Calat- kenyataannya, sebagian besar fenomena mikroskopik
ayud, 1996; Birk & Kurtz, 1999; Winarni, 2006; Cole, dalam pembelajaran kimia memiliki sifat dan karak-
Linenberger, Matson, & Zernicke, 2007; Boz & Boz, teristik seperti deskrispsi contoh tersebut. Oleh kare-
2008). na itu, penggunaan model dalam pembelajaran kimia
Herron (1996) menyatakan bahwa strategi stan- mencakup segala teknik untuk merepresentasikan ob-
dar yang digunakan dalam pembelajaran yang meng- jek abstrak dengan karaktersitik dinamis melalui stra-
hendaki pencapaian dan peningkatan kompetensi pe- tegi visualisasi.
mahaman konseptual adalah penyajian contoh. Pe- Esensi penggunaan model tersebut jelas terlihat
nyajian contoh hanya dapat dilakukan dalam pembel- pada pembelajaran topik gaya antarmolekul. Fenome-
ajaran topik yang berkaitan dengan representasi fe- na mikroskopik yang bersifat abstrak dengan karak-
nomena makroskopik yang bersifat konkret. Dalam teristik dinamis dalam topik gaya antarmolekul tidak
pembelajaran topik yang berkaitan dengan represen- cukup hanya dijelaskan menggunakan model statis
tasi fenomena mikroskopik yang bersifat abstrak dan seperti gambar pada textbook. Model statis hanya
menyangkut partikel penyusun zat seperti gaya antar- mampu menyajikan bentuk tiruan dari objek sebenar-
molekul, Herron (1996) mengusulkan penggunaan nya dan mengilustrasikan karakteristik dinamis dari
contoh tiruan (pseudoexamples) atau model. Pseu- objek tersebut melalui strategi narasi. Penggunaan
doexample adalah media pembelajaran berupa con- model statis mengakibatkan fenomena mikroskopik
toh tiruan yang didesain sedimikian rupa sehingga dalam topik gaya antarmolekul kurang dapat dipaha-
memiliki karakteristik seperti contoh asli dengan mak- mi secara optimal oleh pebelajar. Fenomena tersebut
Muchson, Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif... 17

akan lebih mudah dipahami jika diaplikasikan dalam makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Multimedia
pembelajaran yang difasilitasi model dinamis. Sebagai interaktif berbasis komputer dapat memfasilitasi kebu-
contoh, proses terbentuknya gaya antar molekul, ga- tuhan pembelajaran kimia pada tiga tingkatan terse-
ya antar molekul mempengaruhi sifat fisik zat, dan but. Hal serupa juga dinyatakan oleh oleh Smith &
gaya antar molekul mempengaruhi sifat kimia zat me- Metz (1996); Greenbowe (1997); Krystyniak &
rupakan fenomena-fenomena mikroskopik yang ber- Abraham (1997); serta Russell & Geno (2000) bah-
sifat abstrak dan berkaitan dengan proses dinamis, wa multimedia interaktif dapat memfasilitasi kebutuh-
sehingga harus dijelaskan dengan model dinamis yang an representasi dan pemrosesan informasi dalam
mampu merepresentasikan keabstrakan dan dinami- pembelajaran kimia pada tingkat makroskopik, simbo-
sasi fenomena-fenomena tersebut melalui strategi vi- lik, dan mikroskopik.
sualisasi, tidak cukup dijelaskan dengan gambar statis Adanya program animasi dalam multimedia in-
atau diilustrasikan dengan narasi seperti pada text- teraktif diharapkan dapat mendukung pencapaian dan
book. peningkatan kompetensi pemahaman konseptual oleh
Model dinamis seperti animasi mampu merepre- pebelajar dalam proses pembelajaran kimia pada to-
sentasikan karakteristik dinamis suatu objek konkret pik gaya antarmolekul. Pebelajar juga dapat melatih
maupun abstrak melalui strategi visualisasi. Hal terse- kompetensi pemahaman konseptual yang dimiliki se-
but menunjukkan bahwa animasi mampu memenuhi cara mandiri melalui kegiatan interaktif yang ditawar-
tuntutan pemodelan fenomena seperti yang diharap- kan dalam program pembelajaran berbasis multime-
kan dalam pembelajaran topik gaya antarmolekul. dia. Kegiatan interaktif dimaksudkan untuk memberi-
Penggunaan model dinamis membantu model mental kan kesempatan kepada pebelajar untuk melakukan
dalam pemikiran pebelajar untuk mentransformasikan interaksi secara langsung dengan media pembelajar-
bentuk dua dimensi menjadi tiga dimensi (Dori & an yang dihadapinya, karena media pembelajaran ter-
Barak, 2003). Robinson (2000) menyatakan bahwa sebut dapat memberikan respon/feedback terhadap
transformasi model mental sangat membantu pebela- kegiatan akses informasi yang dilakukan oleh pebela-
jar memahami fenomena mikroskopik yang terjadi jar. Berdasarkan ilustrasi tersebut, dapat dinyatakan
antar partikel penyusun zat, sehingga dapat mening- bahwa integrasi aspek interaktif dapat memfasilitasi
katkan pemahaman konseptual pebelajar. keterlibatan pebelajar secara aktif dalam proses pem-
Model dinamis yang dikembangkan dapat dike- belajaran. Kegiatan interaktif diharapkan dapat
mas dalam bentuk multimedia interaktif. Multimedia mengoptimalisasi proses konstruksi pemahaman kon-
interaktif memiliki program animasi yang mampu me- sep oleh pebelajar. Hal tersebut sekaligus menunjuk-
representasikan fenomena mikroskopik yang bersifat kan bahwa multimedia interaktif dapat diandalkan
abstrak dengan karakteristik dinamis dalam topik untuk mendukung keterlaksanaan pembelajaran ber-
gaya antarmolekul melalui strategi visualisasi, dan basis konstruktivistik.
bukan sekedar penyajian bentuk tiruan statis atau Ada banyak jurnal dan makalah hasil penelitian
ilustrasi karakteristik dinamis dari fenomena tersebut yang menegaskan keunggulan penggunaan multime-
melalui strategi narasi. Whitnell, Fernandes, Almassi- dia interaktif sebagai upaya untuk mendukung penca-
zadeh, & Love (1994) menyatakan bahwa sebagian paian dan peningkatan kompetensi pemahaman kon-
besar topik dalam pembelajaran kimia melibatkan re- septual oleh pebelajar terhadap terhadap topik-topik
presentasi objek tiga dimensi yang bersifat abstrak yang melibatkan representasi fenomena mikroskopik
dengan karakteristik dinamis, sehingga cenderung sulit yang bersifat abstrak dengan karakteristik dinamis
dipahami jika hanya difasilitasi textbook. Akhir-akhir dalam pembelajaran kimia. Di antaranya adalah Sinex
ini muncul ketertarikan untuk menggunakan multime- & Gage (2003) yang menegaskan bahwa pemaham-
dia sebagai solusi terkait permasalahan dalam pembel- an terhadap fenomena pergerakan dan karakteristik
ajaran kimia tersebut. elektronik dari atom dan molekul dapat diperoleh me-
Mekanisme fasilitas yang diberikan oleh multi- lalui program animasi yang memiliki kemampuan re-
media interaktif diharapkan dapat mendukung pebela- presentasi objek abstrak dengan karakteristik dinamis
jar untuk membuat kaitan antara fenomena mikrosko- melalui strategi visualisasi. Program animasi dalam
pik dengan fenomena makroskopik. Hal tersebut se- multimedia interaktif dapat memfasilitasi pemahaman
bagaimana dikemukakan oleh Perniu & Tica (2000) konseptual terhadap fenomena kimia pada tingkat
bahwa representasi dan pemrosesan informasi dalam mikroskopik, terutama berkaitan dengan pembelajar-
pembelajaran kimia terjadi pada tiga tingkatan, yaitu an topik-topik ilmu kimia yang termasuk dalam kate-
18 Jurnal Pendidikan Sains, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, Halaman 14-25

gori partikel penyusun zat (Williamson & Abraham, METODE


1995; Greenbowe, 2001; Velazquez-Marcano & Wil-
Model pengembangan yang digunakan dalam
liamson, 2003; Harkness & Aldrich, 2006). Birk
penelitian ini diadopsi dari model konseptual 4D (four
(1999); Nakhleh & Postek (2005); Yezierski & Birk
D model) yang dikembangkan oleh Thiagarajan,
(2006); serta Tasker (2006); menyatakan bahwa pro-
Semmel, & Semmel pada tahun 1974. Berdasarkan
gram animasi dalam multimedia interaktif merupakan
model pengembangan yang dipilih, maka prosedur
sumber belajar yang efektif untuk meremidiasi mis-
yang ditempuh adalah sebagai berikut.
konsepsi terhadap topik-topik ilmu kimia yang terma-
Tahap pertama adalah define yang meliputi
suk dalam kategori partikel penyusun zat.
kegiatan front-end analysis dan task analysis. Da-
Beberapa penelitian terkait upaya untuk menga-
lam kegiatan front-end analysis dikaji latar belakang
tasi permasalahan dalam pembelajaran topik-topik
munculnya gagasan pengembang untuk mengem-
ilmu kimia yang melibatkan representasi fenomena
bangkan multimedia pembelajaran interaktif topik ga-
mikroskopik yang bersifat abstrak dengan karakteris-
ya antarmolekul pada matakuliah ikatan kimia. Kegi-
tik dinamis melalui integrasi multimedia interaktif de-
atan front-end analysis mencakup kegiatan concept
ngan kelebihan program animasi menunjukkan hasil
analysis dan learner analysis. Dalam kegiatan con-
positif. Pertama, Greenbowe & Yang (1998) pada
cept analysis dihasilkan kajian bahwa representasi
topik baterai. Kedua, Greenbowe (1994) pada topik
fenomena pada tingkat mikroskopik dalam topik gaya
sel elektrokimia. Ketiga, Smith (1998) pada topik re-
antarmolekul bersifat abstrak dengan karakteristik
aksi kimia. Keempat, Meyer & Sargent (2007) pada
dinamis. Dalam kegiatan learner analysis dihasilkan
topik simetri dan teori kelompok. Kelima, Reid,
kajian bahwa pebelajar membutuhkan media pembel-
Wheatley, Horton, & Brydges (2000) pada topik teori
ajaran yang dapat merepresentasikan fenomena mi-
tumbukan. Keenam, Lynch & Greenbowe (1995)
kroskopik dengan karakteristik dinamis dalam topik
pada topik kinetika kimia. Pemanfaatan multimedia
gaya antarmolekul melalui strategi visualisasi. Dalam
interaktif tidak hanya menunjang pencapaian dan pe-
kegiatan task analysis kompetensi dasar matakuliah
ningkatan kompetensi pemahaman konseptual, tetapi
ikatan kimia yang berkaitan dengan topik gaya antar-
juga mendukung pengembangan kemampuan peme-
molekul dijabarkan menjadi indikator pembelajaran.
cahan masalah (problem solving) bagi para pebela-
Indikator pembelajaran tersebut selanjutnya diguna-
jar dalam pembelajaran kimia (Russell, Kozma, Jones,
kan sebagai acuan untuk mengembangkan media ser-
Wykoff, Marx, & Davis, 1997).
ta instrumen tes.
Multimedia interaktif yang secara spesifik digu-
Tahap kedua adalah design yang meliputi kegiat-
nakan untuk pembelajaran topik gaya antarmolekul
an constructing criterion referenced test, media
telah banyak dikembangkan. Akan tetapi, banyak di
selection, format selection, dan initial design. Da-
antara multimedia tersebut menyajikan representasi
lam kegiatan constructing criterion referenced test
yang kurang tepat. Beberapa di antara multimedia
dikembangkan item soal yang mengacu pada indika-
tersebut bahkan menyajikan representasi yang dapat
tor pembelajaran untuk digunakan sebagai instrumen
mengarahkan pada kesalahan konsep. Sebagai con-
tes evaluasi tingkat pemahaman konseptual topik ga-
toh multimedia interaktif dengan identitas Wisc_On-
ya antarmolekul. Instrumen tes yang telah dikem-
line, General Chemistry Online, Chemistry & Society,
bangkan selanjutnya divalidasi secara internal dan
Introduction to Chemistry, yTeach, dan beberapa
diujicoba untuk diketahui tingkat validitas internal dan
multimedia yang di-upload melalui You Tube. Multi-
reliabilitasnya. Berdasarkan validasi ahli bidang isi/
media interaktif dengan penyajian representasi yang
materi dapat dideskripsikan bahwa instrumen yang
kurang tepat atau dapat mengarahkan pada kesalah-
dikembangkan termasuk dalam kategori valid dan da-
an konsep tidak layak untuk diaplikasikan dalam
pat digunakan untuk mengevaluasi tingkat pemaham-
pembelajaran topik gaya antarmolekul. Multimedia
an konseptual topik gaya antarmolekul, dengan per-
tersebut juga tidak efektif digunakan untuk tujuan
sentase tingkat validitas sebesar 99,2%. Berdasarkan
pencapaian dan peningkatan kompetensi pemahaman
analisis hasil ujicoba tingkat reliabilitas instrumen yang
konseptual pada topik gaya antarmolekul. Berdasar-
dikembangkan termasuk dalam kategori tinggi de-
kan kenyataan tersebut di atas diperlukan pengem-
ngan koefisien korelasi 0,71. Kegiatan media select-
bangan multimedia interaktif yang layak dan efektif
ion dilakukan dengan memilih Macromedia Flash
diaplikasikan dalam pembelajaran topik gaya antar-
sebagai software program aplikatif yang akan diguna-
molekul.
Muchson, Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif... 19

kan untuk mengembangkan media. Kegiatan format praisal dijadikan sebagai acuan untuk melakukan
selection dilakukan dengan mendeskripsikan spesifi- revisi I.
kasi hasil pengembangan yang dilakukan. Kegiatan Developmental testing ditempuh melalui kegi-
initial design dilakukan dengan mendeskripsikan se- atan ujicoba hasil pengembangan. Kegiatan develop-
cara lebih mendetail spesifikasi hasil pengembangan mental testing yang dilakukan terbatas pada initial
yang telah disebutkan pada bagian format selection. testing dan total package testing. Initial testing
Tahap ketiga adalah develop yang meliputi kegi- merupakan tahap ujicoba hasil pengembangan terha-
atan expert appraisal dan developmental testing. dap subjek ujicoba perorangan. Beberapa subjek uji-
Expert appraisal merupakan tahap uji kelayakan coba perorangan yang telah dipilih diminta untuk
hasil pengembangan, sedangkan developmental test- menggunakan hasil pengembangan dalam suatu kon-
ing merupakan tahap uji efektivitas hasil pengem- disi pembelajaran. Selanjutnya, setiap subjek ujicoba
bangan untuk dapat diaplikasikan dalam pembelajaran perorangan diminta untuk memberikan feedback be-
topik gaya antarmolekul. Masing-masing kegiatan da- rupa tanggapan dan saran perbaikan (kualitatif) terha-
lam tahap develop dijelaskan sebagai berikut. Expert dap hasil pengembangan. Hasil feedback pada kegi-
appraisal ditempuh melalui kegiatan kajian kritis oleh atan initial testing digunakan sebagai acuan untuk
ahli bidang isi/materi dan oleh ahli bidang media pem- melakukan revisi II.
belajaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif Total package testing merupakan tahap ujicoba
terhadap hasil pengembangan. Ahli bidang isi/materi hasil pengembangan terhadap subjek ujicoba kelom-
adalah ahli yang melakukan kegiatan kajian kritis ber- pok terbatas. Ujicoba dilakukan dengan menggunakan
dasarkan angket untuk memberikan penilaian kela- rancangan one group pretest and posttest design
yakan (kuantitatif) serta tanggapan dan saran perba- sebagaimana dijelaskan oleh Thiagarajan, Semmel,
ikan (kualitatif) terhadap isi/materi dalam hasil pe- & Semmel (1974). Subjek ujicoba kelompok terbatas
ngembangan. Penetapan ahli bidang isi/materi dida- yang telah dibentuk melakukan pretes menggunakan
sarkan pada dua kriteria yaitu: (1) dosen Jurusan Ki- instrumen tes yang dikembangkan dan telah melalui
mia kelompok bidang keahlian kimia anorganik dan proses validasi internal serta ujicoba. Setiap subjek
(2) memiliki pengalaman yang cukup dalam pembela- ujicoba kelompok terbatas selanjutnya diminta untuk
jaran matakuliah ikatan kimia. menggunakan hasil pengembangan dalam suatu kon-
Ahli bidang media pembelajaran adalah ahli disi pembelajaran. Pada tahap akhir ujicoba, setiap
yang melakukan kegiatan kajian kritis berdasarkan subjek ujicoba kelompok terbatas melakukan postes.
angket untuk memberikan penilaian kelayakan serta Selain itu, setiap subjek ujicoba kelompok terbatas
tanggapan dan saran perbaikan terhadap penggunaan juga diminta untuk memberikan feedback dalam ben-
media pembelajaran dalam hasil pengembangan. Pe- tuk pengisian angket terhadap hasil pengembangan.
netapan ahli bidang media pembelajaran didasarkan Rata-rata hasil pretes dengan hasil postes pada
pada tiga kriteria, yaitu: (1) dosen kelompok bidang tahap total package testing dianalisis untuk diketa-
keahlian Pengembangan Belajar Mengajar, (2) Memi- hui perbedaan secara siginifikansi menggunakan tek-
liki pengalaman yang cukup dalam pembelajaran nik statistik deskriptif uji t dua sampel berpasangan
matakuliah Media Pembelajaran khususnya bidang (paired sample t test), setelah sebelumnya dilakukan
pendidikan kimia, dan (3) memiliki keahlian mengenai uji prasyarat analisis, yaitu uji normalitas dan uji homo-
desain/perancangan media pembelajaran khususnya genitas. Uji prasyarat analisis serta uji t dua sampel
dalam bidang pendidikan kimia. berpasangan dilakukan secara komputasi mengguna-
Angket penilaian dari ahli bidang isi/materi dan kan software program aplikasi SPSS 16.
ahli bidang media pembelajaran menghasilkan data Pengisian angket menghasilkan data kuantitatif
kuantitatif dan kualitatif. Interpretasi hasil analisis da- dan kualitatif. Interpretasi hasil analisis data kuantitatif
ta kualitatif dijadikan sebagai acuan untuk mendes- angket bersama dengan interpretasi hasil analisis pre-
kripsikan tingkat kelayakan hasil pengembangan ber- tes postes dijadikan sebagai acuan untuk mendeskrip-
dasarkan kriteria kelayakan yang telah ditentukan. sikan tingkat efektivitas hasil pengembangan. Data
Data kualitatif berisi tanggapan dan saran perbaikan kualitatif angket berisi tanggapan dan saran perbaikan
dari ahli bidang isi/materi dan ahli bidang media pem- terhadap hasil pengembangan. Interpretasi hasil anali-
belajaran. Interpretasi hasil analisis data kuantitatif sis data kuantitatif bersama dengan data kualitatif
bersama dengan data kualitatif kegiatan expert ap- angket kegiatan total package testing dijadikan se-
bagai acuan untuk melakukan revisi III.
20 Jurnal Pendidikan Sains, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, Halaman 14-25

HASIL & PEMBAHASAN kepada pebelajar. Rekomendasi tersebut berupa tom-


bol yang sudah dihubungkan (link) dengan sajian topik
Hasil pengembangan adalah multimedia pembel-
yang membahas jawaban benar dari pertanyaan yang
ajaran interaktif topik gaya antarmolekul pada mata-
dimaksud. Jika jawaban benar, maka pebelajar dapat
kuliah ikatan kimia yang dikemas dalam format CD
melanjutkan sesi latihan.
pembelajaran. Multimedia yang dimaksud berisi ta-
Submenu tes evaluasi memunculkan pertanya-
yangan-tayangan menggunakan software program
an-pertanyaan pilihan berganda (multiple choice)
aplikasi Macromedia Flash yang memunculkan ga-
yang harus dijawab oleh pebelajar dalam layar kompu-
bungan teks, grafik, audio, animasi, dan video, dengan
ter untuk mengevaluasi pemahamannya terhadap to-
spesifikasi sajian menu: (a) petunjuk penggunaan mul-
pik yang telah pelajari pada penyajian sebelumnya.
timedia; (b) pendahuluan berisi submenu peta konsep,
Jawaban pebelajar akan direspon langsung oleh me-
identitas topik (kompetensi dasar dan indikator pem-
dia. Pada akhir evaluasi, pebelajar dapat melihat skor
belajaran), dan pengetahuan awal; (c) tutorial atau
yang diperoleh dari hasil mengerjakan pertanyaan-
pemaparan topik, baik yang disajikan secara informa-
pertanyaan tes evaluasi.
tif (Gaya London, Gaya Dipol-Dipol Induksian, Gaya
Integrasi aspek interaktif dalam media dapat
Dipol-Dipol, dan Ikatan Hidrogen) maupun interaktif
memfasilitasi keterlibatan pebelajar secara aktif da-
(Pengaruh Gaya Antarmolekul); serta (d) soal-soal,
lam proses pembelajaran. Hal tersebut sangat me-
berisi submenu latihan dan tes evaluasi yang disajikan
mungkinkan terjadinya konstruksi pemahaman kon-
secara interaktif.
sep oleh pebelajar. Oleh karena itu, media yang di-
Menu pemaparan topik berorientasi pada penca-
kembangkan juga mendukung tercapaianya pembela-
paian dan peningkatan kompetensi pemahaman kon-
jaran berbasis konstruktivistik.
septual. Pemaparan topik disajikan menggunakan
Penyajian menu petunjuk penggunaan multime-
pendekatan makroskopik mikroskopik dengan lebih
dia didesain agar media yang dikembangkan dapat
banyak menekankan pada representasi fenomena
dimanfaatkan baik secara mandiri oleh pebelajar
mikroskopik yang bersifat abstrak dengan karakteris-
maupun dalam pembelajaran di kelas melalui kendali
tik dinamis dalam topik gaya antarmolekul melalui
tutor atau pengajar. Multimedia yang dikopi dalam
strategi visualisasi, dan bukan sekedar penyajian ben-
format CD pembelajaran terbatas pada hasil pub-
tuk tiruan statis atau ilustrasi karakteristik dinamis
lisher program aplikatif Macromedia Flash, sehing-
dari fenomena tersebut melalui strategi narasi. Pema-
ga setiap duplikasi yang dilakukan tidak dapat meng-
paran topik juga disajikan menggunakan pendekatan
hilangkan atau mengubah identitas pengembang dan
kontekstual, dimana setiap proses yang dijelaskan di-
pembimbing. Pengkopian multimedia dalam format
lengkapi dengan contoh peristiwa, dengan harapan
CD pembelajaran diatur dengan sistem autorun, se-
pebelajar menjadi lebih mudah membuat kaitan anta-
hingga dapat dijalankan pada setiap komputer tanpa
ra fenomena makroskopik dengan fenomena mikros-
harus meng-install program tertentu.
kopik dalam suatu zat. Kajian topik berpedoman pada
Berdasarkan penilaian ahli bidang isi/materi da-
referensi yang relevan untuk menghindari kesalahan
pat dideskripsikan bahwa hasil pengembangan dari
konsep. Pebelajar dapat mengulangi penampilan topik
segi isi/materi adalah layak digunakan dalam pembel-
yang disajikan jika kurang memahami pada penampil-
ajaran topik gaya antarmolekul, dengan persentase
an sebelumnya.
tingkat kelayakan sebesar 95,5%. Berdasarkan peni-
Aspek interaktif dimunculkan baik dalam menu
laian ahli bidang media pembelajaran dapat dideskrip-
pemaparan topik maupun soal-soal. Aspek interaktif
sikan bahwa hasil pengembangan dari segi media
dalam menu pemaparan topik dikemas dalam bentuk
pembelajaran adalah layak digunakan dalam pembel-
studi kasus. Media memunculkan permasalahan de-
ajaran topik gaya antarmolekul, dengan persentase
ngan jawaban yang dapat diakses oleh pebelajar. As-
tingkat kelayakan sebesar 88,2%.
pek interaktif dalam menu soal-soal mencakup sub-
Sebelum dilakukan analisis terhadap data hasil
menu latihan dan tes evaluasi. Submenu latihan me-
pretes dan postes, terlebih dahulu dilakukan uji pra-
munculkan pertanyaan-pertanyaan pilihan berganda
syarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas
(multiple choice) dalam layar komputer untuk mela-
secara komputasi menggunakan software program
tih pemahaman pebelajar terhadap konsep yang telah
aplikasi SPSS 16. Output uji normalitas terhadap data
pelajari pada penyajian sebelumnya. Jawaban pebela-
hasil pretes dan postes berupa tabel One-Sample
jar akan direspon langsung oleh media. Jika jawaban
Kolmogorov-Smirnov Test (Tabel 1).
salah, maka media akan menampilkan rekomendasi
Muchson, Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif... 21

Berdasarkan output analisis hasil uji homogeni- but dapat dibuat keputusan bahwa varians data hasil
tas yang disajikan pada tabel di atas untuk data hasil pretes dan postes homogen.
pretes diperoleh nilai signifikansi 0,446 atau nilai Sig. Setelah melalui uji prasyarat, data hasil tes dia-
(0,863) > 0,05, sedangkan untuk data hasil postes di- nalisis untuk diketahui perbedaan secara siginifikansi
peroleh nilai signifikansi 0,023 atau Sig. (1,069) > rata-rata antara hasil pretes dengan hasil postes
0,05. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dibuat menggunakan teknik statistik deskriptif uji t dua sam-
keputusan bahwa baik data hasil pretes maupun data pel berpasangan (paired sample t test) dua ujung.
hasil postes terdistribusi normal. Kurva normal data Output uji t dua sampel berpasangan terhadap data
hasil pretes dan postes ditunjukkan secara berurutan hasil pretes dan postes ada dua. Output pertama me-
pada Gambar 1 dan Gambar 2. rupakan tabel Paired Sample Test (Tabel 3).
Output uji homogenitas terhadap data hasil pre- Berdasarkan output analisis hasil uji t dua sam-
tes dan postes berupa tabel Levenes Test of Equality pel berpasangan yang disajikan pada tabel di atas,
of Error Variancesa (Tabel 2). untuk data hasil pretes dan postes diperoleh harga t
Berdasarkan output analisis hasil uji homogeni- tabel sebesar 2,032 dan t hitung sebesar 21,669, se-
tas yang disajikan pada tabel di atas, untuk data hasil hingga diperoleh perbandingan t tabel > t hitung (-
pretes dan postes diperoleh nilai signifikansi 0,376 2,032 > -21,669) atau t hitung > t tabel (21,669 >
atau nilai Sig. > 0,05. Berdasarkan hasil analisis terse- 2,032) dan P value (0,000) < 0,05. Berdasarkan per-

Tabel 1. Output Uji Normalitas terhadap Data Hasil Pretes dan Postes Berupa Tabel One-
Sample Kolmogorov-Smirnov Test
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
PRETES POSTES
N 35 35
Normal Parametersa Mean 12.2571 20.2000
Std. Deviation 2.57068 2.37388
Most Extreme Differences Absolute .146 .181
Positive .097 .139
Negative -.146 -.181
Kolmogorov-Smirnov Z .863 1.069
Asymp. Sig. (2-tailed) .446 .203
a. Test distribution is Normal.

Gambar 1. Kurva Normal Data Hasil Pretes Gambar 2. Kurva Normal Data Hasil Postes
22 Jurnal Pendidikan Sains, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, Halaman 14-25

Tabel 2. Output Uji Homogenitas terhadap


Data Hasil Pretes dan Postes berupa Tabel
Levenes Test of Equality of Error Variancesa

Levene's Test of Equality of Error Variancesa


Dependent Variable:NILAI TES
F df1 df2 Sig.
.794 1 68 .376
Tests the null hypothesis that the error variance of the
dependent variable is equal across groups.
a. Design: Intercept + PREPOS
Gambar 3. Grafik Data Hasil Pretes dan
Postes

bandingan tersebut maka dapat dibuat kesimpulan Rata-rata hasil postes yang lebih tinggi dibanding ra-
bahwa ada perbedaan antara rata-rata hasil pretes ta-rata hasil pretes menunjukkan bahwa aplikasi hasil
evaluasi tingkat pemahaman konseptual mahasiswa pengembangan dalam proses pembelajaran terbukti
Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang dengan efektif karena dapat meningkatkan pemahaman kon-
rata-rata hasil postes. Harga t hitung negatif membe- septual mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri
rikan arti bahwa rata-rata hasil postes lebih tinggi di- Malang terhadap topik gaya antarmolekul. Peningkat-
banding rata-rata hasil pretes. Perbedaan antara rata- an pemahaman konseptual yang dicapai berdasarkan
rata hasil pretes dengan rata-rata hasil postes juga hasil ujicoba kelompok terbatas pada kegiatan total
dapat dilihat pada output kedua uji t dua sampel ber- package testing adalah 8 skor, yaitu dari rata-rata
pasangan yaitu tabel Paired Samples Statistics skor 12,2 menjadi 20,2, atau sekitar 65,5%.
(Tabel 4).
Berdasarkan Tabel 2 dan Tabel 3 dapat dilihat
bahwa rata-rata hasil pretes adalah 12,2, sedangkan SIMPULAN & SARAN
rata-rata hasil postes adalah 20,2. Grafik data hasil Simpulan
pretes dan postes disajikan pada Gambar 3.
Perbedaan antara rata-rata hasil pretes dengan Berdasarkan pembahasan, dapat dibuat simpul-
rata-rata hasil postes merupakan acuan untuk men- an sebagai berikut. (1) Hasil pengembangan adalah
deskripsikan tingkat efektivitas hasil pengembangan. multimedia pembelajaran interaktif topik gaya antar-

Tabel 3. Output Uji t Dua Sampel Berpasangan terhadap Data Hasil Pretes dan Postes Berupa
Tabel Paired Samples Test

Paired Samples Test


Paired Differences
95% Confidence Interval
of the Difference
Mean Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper T Df Sig. (2-tailed)
1 PRETES
-7.94286 2.16853 .36655 -8.68777 -7.19794 -21.669 34 .000
POSTES

Tabel 4. Output Uji t Dua Sampel Berpasangan terhadap Data Hasil Pretes dan Postes Berupa
Tabel Paired Samples Statistic
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 PRETES 12.2571 35 2.57068 .43452
POSTES 20.2000 35 2.37388 .40126
Muchson, Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif... 23

molekul pada matakuliah ikatan kimia yang dikemas wa) maupun tutor (dosen) yang memiliki komputer.
dalam format CD pembelajaran. (2) Berdasarkan ha- (2) Karena hasil pengembangan mengacu pada kuri-
sil uji kelayakan melalui kegiatan expert appraisal kulum yang dikembangkan oleh Jurusan Kimia Uni-
dan uji efektivitas melalui kegiatan developmental versitas Negeri Malang dan ujicoba yang dilakukan
testing, hasil pengembangan layak dan efektif diapli- juga terhadap mahasiswa Jurusan Kimia Universitas
kasikan dalam pembelajaran topik gaya antar- Negeri Malang, maka untuk aplikasi hasil pengem-
molekul. bangan pada perguruan tinggi lain masih memerlukan
penyesuaian dengan kondisi setempat.
Saran pengembang berkaitan dengan pengem-
Saran
bangan lebih lanjut dipaparkan sebagai berikut. (1)
Saran pengembang berkaitan dengan pemanfa- Perlu dilakukan penelitian pengembangan serupa un-
atan hasil pengembangan dipaparkan sebagai berikut. tuk topik lain pada matakuliah ikatan kimia seperti
(1) Pemanfaatan hasil pengembangan akan lebih baik teori simetri dan kelompok titik. Penelitian pengem-
jika pengguna, baik pebelajar (mahasiswa) maupun bangan multimedia dengan keunggulan dapat menya-
tutor (dosen) memiliki fasilitas komputer sendiri. (2) jikan representasi fenomena mikroskopik yang bersi-
Pemanfaatan hasil pengembangan akan lebih baik fat abstrak dengan karakteristik dinamis melalui stra-
jika pengguna, baik pebelajar (mahasiswa) maupun tegi visualisasi bahkan sangat cocok dilakukan pada
tutor (dosen), terlebih dahulu memahami petunjuk keseluruhan topik dalam pembelajaran ilmu kimia.
penggunaan multimedia yang telah disajikan dalam (2) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengguna-
hasil pengembangan. (3) Pemanfaatan hasil pengem- kan hasil pengembangan dalam desain penelitian ek-
bangan akan lebih baik jika pebelajar (mahasiswa) sperimen (experimental research) atau penelitian
telah memahami prasyarat topik gaya antarmolekul tindakan kelas (calssroom action research). (3) Per-
seperti bentuk dan kepolaran molekul. (4) Hasil pe- lu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membanding-
ngembangan sangat disarankan untuk diaplikasikan kan tingkat efektivitas aplikasi hasil pengembangan
dalam pembelajaran di kelas agar tutor (dosen) dapat antara dalam proses pembelajaran mandiri dengan
mempresentasikan topik dengan cara yang berbeda, proses pembelajaran di kelas.
tidak monoton, kreatif, dan inovatif. (5) Hasil pe-
ngembangan sangat disarankan untuk diaplikasikan
DAFTAR RUJUKAN
dalam pembelajaran di kelas agar pebelajar (maha-
siswa) menjadi lebih mudah dalam membuat kaitan Adadan, E., Irving, K.E. & Trundle, K.C. 2009. Impacts of
antara fenomena makroskopik dengan fenomena mi- Multi-representational Instruction on High School
kroskopik dalam topik gaya antarmolekul. Hal terse- StudentsConceptual Understandings of the Par-
but diharapkan dapat mendukung pencapaian dan pe- ticulate Nature of Matter. International Journal
ningkatan kompetensi pemahaman konseptual oleh of Science Education, 31(13):1743-1775.
pebelajar terhadap topik gaya antarmolekul. (6) Hasil Bauer, C.F. & Toher, C.J. Student Understandings of
pengembangan sangat disarankan untuk diaplikasikan Particulate Nature of Matter. Book of Abstracts,
dalam pembelajaran di kelas agar pebelajar (maha- 213th American Chemical Society National
siswa) dapat terlibat secara aktif dalam proses pem- Meeting, San Francisco, 13-17 April 1997.
belajaran. Hal tersebut memungkinkan terjadinya Ben-Zvi, N. & Gai, R. 1994. Macro and Micro-Chemical
konstruksi pemahaman konsep oleh pebelajar, sehing- Comprehension of Real-World Phenomena. Jour-
ga penyelenggaraan pembelajaran berbasis konstruk- nal of Chemical Education, 71(9):730-732.
tivistik dapat tercapai. Bent, H.A. 1984. Uses (and Abuses) of Models in Teaching
Saran pengembang berkaitan dengan diseminasi Chemistry. Journal of Chemical Education, 61(9):
hasil pengembangan dipaparkan sebagai berikut. (1) 774-777.
Hasil pengembangan disarankan untuk dimanfaatkan Birk, J.P. & Kurtz, M.J. 1999. Effect of Experience on
di lembaga-lembaga perguruan tinggi yang menyedia- Retention and Elimination of Misconceptions
kan fasilitas pendukung aplikasi hasil pengembangan about Molecular Structure and Bonding. Journal
seperti komputer, LCD, dan proyektor dalam proses of Chemical Education, 76(1):124-128.
pembelajaran. Jika tidak tersedia fasilitas seperti dise- Birk, J.P. Molecular Visualization with Anaglyphs. Book
butkan di atas, hasil pengembangan dapat dimafaat- of Abstracts, 217th American Chemical Society Na-
kan secara mandiri, baik oleh baik pebelajar (mahasis- tional Meeting, Anaheim, Calif., 21-25 Maret 1999.
24 Jurnal Pendidikan Sains, Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, Halaman 14-25

Boz, N. & Boz, Y. 2008. A Qualitative Case Study of Pros- Krystyniak, R.A. & Abraham, M.L. A Research Based
pective Chemistry Teachers Knowledge About In- Strategy for Instruction: Computer Visuals as A
structional Strategies: Introducing Particulate The- teaching Aid. Book of Abstracts, 213th American
ory. Journal of Science Teacher Education, 19:135- Chemical Society National Meeting, San Francisco,
156. 13-17 April 1997.
Cole, R.S.; Linenberger, K.J.; Matson, E.M.; & Zernicke, Lewis, J.E. & Bass, R. But What Did You Really Mean?
B.L. Using POGIL and Odyssey to Encourage Stu- Reaching for Student Understandings of Chemis-
dent Visualization in Chemistry. Abstracts of try. Abstracts of Papers, 225th American Chemical
Papers, 233rd American Chemical Society National Society National Meeting, New Orleans, LA,
Meeting, Chicago, IL, United States, 25-29 Maret United States, 23-27 Maret 2003.
2007. Lynch, M.D. & Greenbowe, T.J. Computer-Based
Dori, J.Y. & Barak, M. 2003. A Web-Based Chemistry Course Instruction that Addresses Student Misconcep-
as a Means To Foster Freshman Learning. Journal tions in Chemical Kinetics. Book of Abstracts,
of Chemical Education, 80 (9):1084-1092. 210th American Chemical Society National Meet-
Eckberg, C.; Zemmer, J.; Reeves, J.; & Ward, C. 1994. An ing, Chicago, IL, 20-24 Agustus 1995.
Intermolecular Forces Study using IBM PSL. Jour- Meyer, D.E. & Sargent, A.L. 2007. An Interactive Computer
nal of Chemical Education, 71(9):A225-A237. Program to Help Students Learn Molecular Sym-
Furio, C. & Calatayud, M.L. 1996. Difficulties with The metry Elements and Operations. Journal of Chem-
Geometry and Polarity of Molecules: Beyond Mis- ical Education, 84(9):1551-1567.
conceptions. Journal of Chemical Education, Moore, S.M. & Victorsen, K. 2007. Developing The
73(1):36-41. Conceptual Groundwork Needed to Understand
Gabel, D. 1999. Improving Teaching and Learning through Molecular Motion. Iowa Science Teachers Jour-
Chemistry Education Research: A look to The Fu- nal, 34(2):13-17.
ture. Journal of Chemical Education, 76(4):548- Nakhleh, M.B. 1992. Why some Students Dont Learn
554. Chemistry. Journal of Chemical Education, 69(3):
Greenbowe, T.J. 1994. Projects supported by the NSF Divi- 191-195.
sion of Undergraduate Education: An Interactive Nyasulu, F.W. & Macklin, J. 2006. Intermolecular and
Multimedia Software Program for Exploring Electro- Intramolecular Forces: A General Chemstry Labora-
chemical Cells. Journal of Chemical Education, tory Comparison of Hydrogen Bonding in Maleic
71(7):555-557. and Fumaric Acids. Journal of Chemical Educat-
Greenbowe, T.J. Using Computer Animations to Help ion, 83(5):770-773.
Students Acquire Models and to Help Students Perniu, D. & Tica, R. 2000. Some Psychopedagogical
Visualize Chemistry at The Particulate Nature of Aspects about Computer Use in Chemistry In-
Matter Level of Representation. Abstracts of Pa- struction. Bulletin of the Transilvania University
pers, 221st American Chemical Society National of Brasov, Series B: Mathematics, Physics, Chemis-
Meeting, San Diego, CA, United States, 1-5 April try, Medicine, Philology, Volume Date 1999, 6, page.
2001. 55-60.
Harkness, B. & Aldrich, B.L. Getting the Most Out of Ramasami, P. 2000. Students as Solids, Liquids, and Gases.
Animations in Chemical Education. Abstracts, Journal of Chemical Education, 77(4):485.
38th Central Regional Meeting of the American Reid, K.L.; Wheatly, R.J.; Horton, J.C.; & Brydges, S.W.
Chemical Society, Frankenmuth, MI, United States, 2000. Using Computer Assisted Learning to Teach
16-20 Mei 2006. Molecular Reaction Dynamics. Journal of Chemic-
Henderleiter, J.; Smart, R.; Anderson, J.; & Elian, O. 2001. al Education, 77(3):407-409.
How Do Organic Chemistry Students Understand Robinson, W.R. 2000. A View of The Science Education
and Apply Hydrogen Bonding? Journal of Chemi- Research Literature: Scientific Discovery Learning
cal Education, 78(8):1126-1129. with Computer Simulations. Journal of Chemical
Herron, J.D. 1996. The Chemistry Classroom Formulas Education, 77(1):17.
for Successful Teaching. Washington, DC: Ameri- Russel, J.W. & Geno, J. Tools for Development of Chemic-
can Chemical Society. al Visualization Skills and Tools for Assessment
Hurst, M.O. 2007. A Classroom Demonstration of the of Visualization Skills. Book of Abstracts, 219th
Meaning of the Atomic Theory. The Chemical Edu- American Chemical Society National Meeting, San
cator, 13(1):6. Francisco, CA, 26-30 Maret 2000.
Muchson, Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif... 25

Russel, J.W.; Kozma, R.B.; Jones, T.; Wykoff, J.; Marx, of application. International Journal of Science
N.; & Davis, J. 1997. Use of Simultaneous-Syn- Education, 31(10): 1333-1358.
chronized Macroscopic, Microscopic, and Sym- Thiagarajan, S.; Semmel, D.S.; & Semmel, M.I. Instruction-
bolic Representations to Enhance The Teaching al Development for Training Teachers of Except-
and Learning of Chemical Concept. Journal of ional Children: A Sourcebook. Bloomington: Cen-
Chemical Education, 74(3): 330-334. tral for Innovation on Teaching and Handicapted.
Sanger, M.J.; Phelps, A.J.; & Fienhold, J. 2000. Using A Velazquez-Marcano, A. & Williamson, V.M. Use of Video
Computer Animation to Improve Students Con- Demonstrations and Particulate Animations in
ceptual Understanding of A Can-Crushing Demon- The Chemistry Classroom. Abstracts of Papers,
stration. Journal of Chemical Education, 77(11): 225th American Chemical Society National
1517-1520. Meeting, New Orleans, LA, United States, 23-27,
Sinex, S.A. & Gage, B.A. 2003. Discovery Learning in Gene- March 2003.
ral Chemistry Enhanced by Dynamic and Interac- Wedvik, J.C.; McManaman, C.; Anderson, J.S.; & Carroll,
tive Computer Visualization. The Chemical Educat- M.K. 1998. Intermolecular Forces in Introductory
or, 8(4):266-270. Chemistry Studied by Gas Chromatography, Com-
Smaldino, S.E.; Russel, J.D.; Heinich, R.; & Molenda, M. puter Models, and Viscometry. Journal of Chemic-
2005. Instructional Technology and Media for al Education, 75(7):885-888.
Learning. New Jersey: Pearson Education, Inc. Whitnell, R.M.; Fernandes, E.A.; Almassizadeh, F.; &
Smith, K.J. & Metz, P.A. 1996. Evaluating Student Under- Love, J.J.C. 1994. Multimedia Chemistry Lectures.
standing of Solution Chemistry through Micros- Journal of Chemical Education, 71(9):721-724.
copic Representations. Journal of Chemical Edu- Yezierski, E.J. & Birk, J.P. 2006. Misconceptions about
cation, 73(3):233-237. The Particulate Nature of Matter: Using Anima-
Taber, K.S. 2009. College Students Conceptions of tions to Close The Gender Gap. Journal of Chemi-
Chemical Stability: The widespread adoption of a cal Education, 83(6):954-960.
heuristic rule out of context and beyond its range