MEDIASI PENAL DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI LUAR PENGADILAN

Oleh : Barda Nawawi Arief
Seminar Nasional “Pertanggungjawaban Hukum Korporasi dalam Konteks Good Corporate Governance” Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP, di Inter Continental Hotel, Jakarta, 27 Maret 2007.

BERBAGAI ISTILAH MEDIASI PENAL
• “mediation in criminal cases” atau ”mediation in penal matters” • istilah Belanda : strafbemiddeling, • istilah Jerman : ”Der Außergerichtliche Tatausgleich” (disingkat ATA) yang terdiri dari :
– ATA-J (Außergerichtlicher Tatausgleich für Jugendliche) untuk anak, dan – ATA-E (Außergerichtlicher Tatausgleich für Erwachsene) untuk orang dewasa.

• istilah Perancis : ”de médiation pénale”. • Karena mempertemukan antara pelaku tindak pidana dengan korban, sering juga dikenal dengan istilah :
– ”Victim-Offender Mediation” (VOM) atau – Täter-Opfer-Ausgleich (TOA).

ADR DALAM HK PIDANA POSITIF INDONESIA
• • Kasus pidana pada prinsipnya tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan, kecuali dalam hal-hal tertentu. namun dalam praktek, sering juga kasus pidana diselesaikan di luar pengadilan melalui berbagai diskresi aparat atau melalui mekanisme musyawarah/ perdamaian atau lembaga permaafan yang ada di dalam masyarakat . Praktek penyelesaian perkara pidana di luar pengadilan selama ini tidak ada landasan hukum formalnya, sehingga sering terjadi suatu kasus yang secara informal telah ada penyelesaian damai (walaupun melalui mekanisme hukum adat), namun tetap saja diproses ke pengadilan sesuai hukum yang berlaku.

bahwa semua kasus pelanggaran HAM dapat dilakukan mediasi oleh Komnas HAM.  offender oriented. 3/1997 (Pengadilan Anak) maupun dalam UU No. 76:1. tetapi bukan mediasi penal dan bukan means of diversion. Psl. UU No. Pasal 14c KUHP : ganti rugi sbg syarat dari pidana bersyarat. Psl. Namun tidak ada ketentuan tegas. Psl. 96). 1 ke-7. 23/2004 (KDRT). – tidak ada ketentuan tegas. bahwa akibat adanya mediasi oleh Komnas HAM itu dapat menghapuskan penuntutan atau pemidanaan. • . 89:4. bukan victim oriented. Pelanggaran. ketentuan mediasi penal itu tidak terdapat dalam UU No.MEDIASI PENAL DI INDONESIA? • • • • ADR hanya dimungkinkan dalam perkara perdata (Pasal 6 UU No. 30/1999 Tentang: Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa) ). 39/1999 tentang Pengadilan HAM: – Komnas HAM dapat melakukan mediasi dalam kasus pelanggaran HAM (lihat Psl. Pasal 82 KUHP : denda damai  hanya utk.

. 145/2006) • Gugurnya kewenangan penuntutan telah diperluas.Konsep KUHP Baru (Psl. antara lain apabila : d) ada penyelesaian di luar proses. f) telah dibayarnya maksimum pidana denda untuk tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara maksimum 1 tahun atau denda maksimum kategori III. e) telah dibayarnya maksimum pidana denda untuk tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana denda paling banyak kategori II.

Kongres PBB ke-9/1995 Kongres PBB ke-10/2000 dan Konferensi Internasional Pembaharuan Hukum Pidana (International Penal Reform Conference) tahun 1999. the EU Framework Decision 2001 tentang the Standing of Victims in Criminal Proceedings. 2. • Pertemuan internasional itu mendorong munculnya tiga dokumen internasional yang berkaitan dengan masalah peradilan restoratif dan mediasi dalam perkara pidana. R (99) 19 tentang “Mediation in Penal Matters”.ADR (Mediasi Penal) DALAM PERKEMBANGAN GLOBAL • Mediasi penal sudah masuk dalam agenda pembahasan di tingkat internasional. . (EU 2001/220/JBZ) dan the UN Principles 2002 (Resolusi Ecosoc 2002/12 ) tentang “Basic Principles on the Use of Restorative Justice Programmes in Criminal Matters”. yaitu : 1) 2) 3) the Recommendation of the Council of Europe 1999 No. 3. yaitu dalam : 1.

“perlindungan korban” dan untuk mengatasi problem penumpukan perkara (“the problems of court case overload”).IDE (LATAR BELAKANG) • Dari berbagai dokumen internasional itu. ”restorative justice”. tetapi berkaitan dengan latar belakang ide : – – – – – ”penal reform”. . “alternative to imprisonment/custody”. masalah “penal mediation” tidak muncul sebagai masalah yang berdiri sendiri.

• Bertolak dari pandangan demikian. – hakikat kejahatan itu sendiri.  Kejahatan tidak dilihat semata-mata sebagai pelanggaran UU yang abstrak. tetapi lebih pada pelanggaran terhadap orang dan hubungan antar-orang (A crime is not seen so much in terms of violating abstract rules of law but rather as a violation of persons and relations). Walgrave. reaksi mendasar ditujukan pada perbaikan kerusakan/kerugian (restoration of the damage). 1995). . 1996. baik terhadap korban.Latar Belakang Ide Restorative Justice • Ide ini bertolak dari paradigma baru atau dari “sudut/lensa pandang yang berubah” (a new paradigm or a “changing lenses”)  perubahan mengenai : – reaksi terhadap kejahatan maupun . • Banyak yang menyatakan bahwa “restorative justice” merupakan “cara/jalan ketiga” (“third way”) yang dipilih untuk menggantikan (neo) retributive criminal law dan rehabilitation model (Peters. lingkungannya dan masyarakat luas.

mereka yang menghendaki dilakukannya rekonstruksi model terdahulu. bahwa : Ide mediasi mempersatukan : 1. R (99) 19 dari Komisi para Menteri Dewan Eropa (the Committee of Ministers of the Council of Europe) 15 September 1999 pernah menyatakan. . dan mereka yang menghendaki dikuranginya pembiayaan dan beban kerja dari sistem peradilan pidana atau membuat sistem ini lebih efektif dan efisien. 4.Ltr Blkg Ide Dasar (lanjutan)  Rekomendasi No. 3. mereka yang menghendaki alternatif pidana. 2. mereka yang menghendaki diperkuatnya kedudukan korban.

.

AUSTRIA • Diatur dlm amandemen KUHAP th. • Mulanya diversi penuntutan hanya untuk anak  kemudian juga untuk orang dewasa. termasuk mediasi. apabila ada korban mati (seperti dalam kasus manslaughter). dg catatan diversi tidak boleh. apabila : – diancam dengan pidana tidak lebih dari 5 th. • Menurut Pasal 90g KUHAP Austria Penuntut Umum dapat mengalihkan perkara pidana dari pengadilan apabila: – terdakwa mau mengakui perbuatannya. • Tindak pidana yang dapat dikenakan tindakan diversi. dan setuju melakukan setiap kewajiban yang diperlukan yang menunjukkan kemauannya untuk tidak mengulangi perbuatannya di masa yad. – dapat juga untuk kasus kekerasan yang sangat berat (Extremely severe violence). – siap melakukan ganti rugi khususnya kompensasi atas kerusakan yang timbul atau memperbaiki akibat dari perbuatannya. 1999 yang diberlakukan pada Januari 2000. penjara atau 10 th. . dalam kasus anak.

Pada mulanya hanya untuk delik yang diancam maksimum 5 tahun penjara. dapat digunakan juga untuk delik yang diancam pidana maksimum 2 tahun penjara. Namun.BELGIA • Pada tahun 1994 diberlakukan UU tentang mediasi-penal (the Act on Penal Mediation) yang juga disertai dengan pedomannya (the Guideline on Penal Mediation). apabila pelaku berjanji untuk memberi kompensasi atau telah memberi kompensasi kepada korban. tetapi dengan adanya ketentuan baru ini.02. Tujuan utama diadakannya “penal mediation” ini adalah untuk memperbaiki kerugian materiel dan moral yang ditimbulkan karena adanya tindak pidana. • • • • . Ketentuan hukum acaranya dimasukkan dalam Pasal 216ter Code of Criminal Procedure (10.1994). Penuntut umum tidak meneruskan perkara ke pengadilan. mediasi juga dapat dilakukan agar sipelaku melakukan suatu terapy atau melakukan kerja sosial (community service).

ditambahkan Pasal 46a ke dalam StGB (KUHP) yg memberi kemungkinan penyelesaian kasus pidana antara pelaku dan korban melalui kompensasi (dikenal dengan istilah Täter-Opfer-Ausgleich . dan dinyatakan sebagai “a means of diversion” (§ 45 II S.JERMAN • Tahun 1990. 153b StPO/ Strafprozessord-nung/KUHAP). maka penuntutan dihentikan (s. maka pidananya dapat dikurangi atau bahkan dapat dibebaskan dari pemidanaan. . • Pasal 46a StGB : apabila pelaku memberi ganti rugi/kompensasi kepada korban secara penuh atau sebagian besar. atau telah dengan sungguh-sungguh berusaha keras untuk memberi ganti rugi. 7 JGG). • Apabila TOA telah dilakukan.  Pembebasan pidana hanya dapat diberikan apabila deliknya diancam dengan maksimum pidana 1 tahun penjara atau 360 unit denda harian. • Pada 12 Januari 1994.TOA). OVA (offender-victim arrangement) dimasukkan ke dalam hukum pidana anak secara umum (§ 10 I Nr. 2 JGG).

41-2 CCP. dan membantu memperbaiki (merehabilitasi) si pelaku. namun apabila berhasil penuntutan dihentikan (s. menghapuskan penuntutan. daripada mengenakan pidana denda. : penuntut umum dapat melakukan mediasi antara pelaku dengan korban. Untuk tindak pidana tertentu.Code of Criminal Procedure). Apabila mediasi tidak berhasil dilakukan. 41 dan s. Pasal 41-2 CCP membolehkan penuntut umum meminta pelaku untuk memberi kompensasi kepada korban (melakukan mediasi penal).PERANCIS • UU 4 Januari 1993 mengamandemen Pasal 41 KUHAP (CCP. atau memerintahkan sanksi alternatif berupa pidana kerja sosial selama 60 jam.Code of Criminal Procedure). mengakhiri kesusahan. mencabut SIM. • • • . sebelum mengambil keputusan dituntut tidaknya seseorang. penuntutan baru dilakukan. Inti Pasal 41 CCP : penuntut umum dapat melakukan mediasi penal (dengan persetujuan korban dan pelaku) apabila hal itu dipandang merupakan suatu tindakan yang dapat memperbaiki kerugian yang diderita korban. Terlaksananya mediasi penal ini.

Biaya proses mediasi ditanggung oleh perbendaharaan negara (State Trea-sury). atas inisiatifnya atau atas persetujuan korban dan pelaku.POLANDIA • Mediasi pidana diatur dalam Pasal 23a CCP (Code of Criminal Procedure) dan Peraturan Menteri Kehakiman 13 Juni 2003 tentang “Mediation proceedings in criminal matters”. Bahkan kejahatan kekerasan (Violent crimes) juga dapat dimediasi. dapat menyerahkan suatu kasus ke lembaga terpercaya atau seseorang untuk melakukan mediasi antara korban dan terdakwa. Proses mediasi paling lama satu bulan. • Pengadilan dan jaksa. . • Hasil positif dari mediasi itu menjadi alasan untuk tidak melanjutkan proses pidana. • Mediasi dapat diterapkan untuk semua kejahatan yang maksimum ancaman pidananya kurang dari 5 tahun penjara.

. Denmark and Finland. Poland. Polandia. Canada. • Kasus-kasus KDRT (domestic violence) juga dapat di mediasi di United States. USA.MEDIASI PENAL DALAM VIOLENT CRIME • VOM (Victim-Offender Mediation) untuk violent crime diterapkan di Austria. Slovenia. dan Norwegia. Austria.

LLB. : • • akibat penarikan ATM yang tidak sah (Unauthorised Automatic Teller Machine withdrawals) atau • akibat penggunaan kartu kredit yang tidak sah (Unauthorised use of credit cards) [1].DALAM MASALAH PERBANKAN BERASPEK PIDANA • Ruang lingkup kewenangan Banking Mediation Bureau (BMB) Malaysia. LLM. . MBA. antara lain dapat menangani sengketa bernilai RM25. Mediation: Its Practice & Procedure. [1] Lee Swee Seng. Sumber internet.000.

1. the issuer shall not be liable for the lost amount of value stored on the instrument and for the defective execution of the holder's transactions. of the device/terminal or any other equipment authorized for use.1. where the loss or defective execution is attributable to a malfunction of the instrument.3.Resolusi Dewan Gubernur Bank Latvia No. .4.4 The issuer shall be liable to the holder of an electronic money instrument for the lost amount of value stored on the instrument and for the defective execution of the holder's transactions. 89/9 – 2001 tentang ”Recommendations for Transactions Effected by Means of Electronic Payment Instruments” • 4. If the malfunction was caused by the holder knowingly or in breach of Article 3.

atau • tidak berfungsinya peralatan lain yang sah untuk digunakan. apabila hal itu disebabkan oleh : • tidak berfungsinya instrumen itu. • Apabila tidak berfungsinya itu disebabkan oleh kesalahan sipemilik sendiri. pihak penerbit tidak bertanggung jawab. • tidak berfungsinya peralatan/terminal pembayaran.Inti Resolusi Dewan Gubernur Bank Latvia • Penerbit instrumen pembayaran elektronik bertanggungjawab terhadap pemilik instrumen atas : – hilangnya nilai (uang) yang tersimpan dalam instrumen itu dan – terhadap rusaknya pelaksanaan transaksi yang dilakukan sipemilik. .

. tindak pidana anak. tindak pidana dengan kekerasan (violent crime). tindak pidana orang dewasa (ada yang dibatasi untuk delik yang diancam pidana penjara maksimum tertentu). – namun tetap diberi payung/kerangka hukum (mediation within the framework of criminal law). • Mediasi penal dimungkinkan dalam kasus : 1. 5. diintegrasikan dalam hukum pidana materiel (KUHP) atau hukum pidana formal (KUHAP). 4. kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). kasus perbankan yang beraspek hukum pidana. 3. 2.RESUME KOMPARASI • Mediasi dimungkinkan dalam perkara pidana.

dan Polandia. . yaitu di Austria. yang diberlakukan untuk anak-anak maupun orang dewasa. • Ditempatkan dalam KUHAP (the Code of Criminal Procedure). Jerman. yaitu di Austria. Jerman. dan Polandia. Finlandia. Perancis. Belgia. • Diatur tersendiri secara otonom dalam UU Mediasi (the Mediation Act). dan Polandia. • Ditempatkan dalam KUHP (the Criminal Code). seperti di Norwegia. yaitu di Finlandia.”Legal frame-work” Mediasi Penal di beberapa negara Eropa • Ditempatkan sebagai bagian dari UU Peradilan Anak (the Juvenile Justice Act). Finlandia.

Proses informal (Informal Proceeding Informalität) 4. Penanganan konflik (Conflict Handling/ Konfliktbearbeitung) 2. Berorientasi pada proses (Process Orientation – Prozessorientierung) 3. Ada partisipasi aktif dan otonom para pihak (Active and Autonomous Participation Parteiautonomie/Subjektivierung) .Ide & Prinsip Kerja Mediasi Penal 1.

"Family and community group conferences". 3. 4. 2. "informal mediation" "Traditional village or tribal moots" "victim-offender mediation" ”Reparation negotiation programmes" 5. "Community panels or courts" 6. .Models of Mediation in penal matters 1.

– Pekerja sosial atau pejabat pengawas (probation officer) yang berpendapat bahwa kontak dengan dengan korban akan mempunyai pengaruh besar bagi pelaku tindak pidana. . – Pejabat polisi menghimbau perselisihan keluarga yang mungkin dapat menenangkan situasi tanpa membuat penuntutan pidana. – Hakim dapat juga memilih upaya penyelesaian di luar pengadilan dan melepaskan kasusnya. yaitu : – JPU mengundang para pihak untuk penyelesaian informal dengan tujuan untuk tidak melanjutkan penuntutan apabila tercapai kesepakatan. Model "informal mediation" • Model ini dilaksanakan oleh personil peradilan pidana (criminal justice personnel) dalam tugas normalnya.1. • Jenis intervensi informal ini sudah biasa dalam seluruh sistem hukum.

Model "Traditional village or tribal moots" • Menurut model ini. • Model ini mendahului hukum barat dan telah memberi inspirasi bagi kebanyakan program-program mediasi modern. • Model ini ada di beberapa negara yang kurang maju dan di wilayah pedesaan/pedalaman. . • Model ini lebih memilih keuntungan bagi masyarakat luas.2. seluruh masyarakat bertemu untuk memecahkan konflik kejahatan di antara warganya. Program mediasi modern sering mencoba memperkenalkan berbagai keuntungan dari pertemuan suku (tribal moots) dalam bentuk yang disesuaikan dengan struktur masyarakat modern dan hak-hak individu yang diakui menurut hukum.

• Model ini ada yang diterapkan untuk semua tipe pelaku tindak pidana. namun ada juga untuk delik-delik berat dan bahkan untuk recidivist. Model "victim-offender mediation" • Model ini melibatkan berbagai pihak yang bertemu dengan dihadiri oleh mediator yang ditunjuk. . baik pada tahap pembiasan penuntutan. ada yang khusus untuk anak.3. atau kombinasi. Mediatornya dapat berasal dari pejabat formal. • Mediasi ini dapat diadakan pada setiap tahapan proses. perampokan dan tindak kekerasan). Ada yang terutama ditujukan pada pelaku anak. Banyak variasi dari model ini. mediator independen. ada yang untuk tipe tindak pidana tertentu (misal pengutilan. tahap pemidanaan atau setelah pemidanaan. pelaku pemula. tahap kebijaksanaan polisi.

• Dalam model ini. Model ”Reparation negotiation programmes" • Model ini semata-mata untuk menaksir/menilai kompensasi atau perbaikan yang harus dibayar oleh pelaku tindak pidana kepada korban. tetapi hanya berkaitan dengan perencanaan perbaikan materiel. . • Program ini tidak berhubungan dengan rekonsiliasi antara para pihak.4. pelaku tindak pidana dapat dikenakan program kerja yang dengan demikian dapat menyimpan uang untuk membayar ganti rugi/kompensasi. biasanya pada saat pemeriksaan di pengadilan.

Model "Community panels or courts" • Model ini merupakan program untuk membelokkan kasus pidana dari penuntutan atau peradilan pada prosedur masyarakat yang lebih fleksibel dan informal dan sering melibatkan unsur mediasi atau negosiasi.5. • Pejabat lokal dapat mempunyai lembaga/badan tersendiri untuk mediasi itu. .

6. yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam SPP. • Pelaku dan keluarganya diharapkan menghasilkan kesepakatan yang komprehensif dan memuaskan korban serta dapat membantu untuk menjaga sipelaku keluar dari kesusahan/persoalan berikutnya. Model "Family and community group conferences". Tidak hanya melibatkan korban dan pelaku tindak pidana. • Model ini telah dikembangkan di Australia dan New Zealand. tetapi juga keluarga pelaku dan warga masyarakat lainnya. pejabat tertentu (seperti polisi dan hakim anak) dan para pendukung korban. .

24 April 2007 .

UU NO. 39/1999 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful