You are on page 1of 2

Dela Silvia

G351170101
1. a. Peninjauan kembali terkait dengan konsep spesies dapat dilakukan dengan cara
mengkulturkan ketiga spesies tersebut (1). Berdasarkan konsep spesies yang ada maka
diidentifikasi berdasarkan karakteristik dari setiap konsep spesies (2). Apabila
ditemukan ketiga spesies tersebut tidak bisa saling kawin artinya konsep spesies yang
terjadi adalah konsep spesies morfologi (3). Sedangkan apabila ditemukan ketiga
spesies itu bisa saling kawin maka konsep spesies yang terjadi adalah konsep spesies
biologi (4). Cara lain menggunakan analisis filogenetik ketika didapatkan pohon
filogenetik maka dilihat clade nya dan dianalisis nilai bootstrap nya apabila nilai
bootstrap nya tidak kurang dari 98% maka kemungkinan merupakan satu spesies
yang sama (5). Sehingga akan ditemukan kecenderungan konsep spesies yang terjadi
dan akan didapatkan konsep spesies pada Phytophthora yaitu P. palmivora,
Phytopthora sp. indigenous dan P. meadii. (6).

b. Hibrid sterile yang terjadi Phytopthora adalah ketika terjadi persilangan akan tetapi
pada saat fase meiosis nya tidak fungsional atau menghasilkan oospora yang gagal
sehingga keturunan yang dihasilkan tidak bisa lagi membentuk keturunan. Seperti
yang terjadi pada Phytopthora indigenous x P.palmivora menghasilkan keturunan
P.maedii yang steril pada karet di India.

2. Pembagian takson dalam spesies didasarkan pada 5 aspek utama morfologi, ekologi,
taksonomi, fisiologi/genetika, dan fitopatologi. Setiap aspek memiliki banyak
komponen. Secara taksonomi atau yang lebih spesifiknya varietas contohnya Rosa
glutinosa var. Leioclada. Secara fitopatologi (spesial form) contohnya F.roseum f.sp.
cerealis Graminearum. Secara taksonomi (subspesies) contohnya Andropogon
sorghum sub. sp. halepensis.

3. A. Dalam menentukan hubungan keduanya dapat dilakukan secara molekuler


berdasarkan analisis filogenetik menggunakan 8 gen, karena cukup sulit diidentifikasi
berdasarkan morfologi nya.
B. Berdasarkan hukum tata nama, nama yang diambil adalah Colletotrichum. Hal ini
dikarenakan keduanya merupakan sinonim dan ada hubungan anamorf-teleomorf,
sehingga yang digunakan nama teleomorf nya.

4. A. Fungsi senso lato artinya fungi dalam cakupan yang luas. Digunakan untuk
menggambarkan sebuah kelompok fungi yang mencakup kelompok fungi lainnya
misalkan
Boraginaceae s.l mencakup famili Hydrophyllaceace, Ehretiaceae, Heliotropaceae,
Cordiaceae dan yang lainnya.
B. Ya, karena monofiletik adalah kelompok organisme yang memiliki nenek moyang
bersama. Artinya misalkan ketika nama Bolete digunakan untuk menggambarkan
fungi yang memiliki tekstur kenyal, berdaging, dan berspons, maka semua fungi yang
memiliki karakter seperti itu bisa dikatakan sebagai Bolete misalnya untuk dua genus
yang memiliki karakter Bolete yaitu Boletus dan Suillus.
C. Fungi s.str memiliki kisaran sempit sehingga dalam takson nya karakteristik nya
sangat spesifik.
Dela Silvia
G351170101
5. A. Ya, terdapat perubahan konsep spesies yang pada awalnya konsep spesies
morfologi menjadi konsep spesies filogeni karena adanya isolasi reproduksi.
B. Malus dijadikan sebagai inang pada saat fase aecial oleh Gymnosporangium,
adaptasi pada Malus yang menjadikan beragam bentuk pada aecial.
Gymnosporangium membutuhkan Malus sebagai inang untuk menyelesaikan
hidupnya yang terdiri dari 2 fase yaitu telial dan aecial. Oleh karena itu, agar dapat
melindungi Malus dari patogen Gymnosporangium maka harus menghilangkan
penyakit pada saat di inang Juniperus agar tidak menginfeksi Malus, manajemen
penyakit lainnya dapat dilakukan dengan cara kultur, sanitasi, resisten, fungisida.
6. Kritik dan saran dalam perkuliahan Sistematika Mikroba adalah dengan
menyederhanakan materi yang disampaikan karena materi ini menurut saya cukup
berat dan susah dicerna. Kemudian diperbanyak dengan contoh dan informasi yang
dapat membuka wawasan bagi mahasiswa.