You are on page 1of 16

da manusia.

Pada tubuh yang sehat, bakteri ini tidak membahayakan dan

tidak menyebabkan penyakit. Bakteri ini hanya berbahaya jika telah

menginfeksi, sehingga pertumbuhannya menjadi tidak terkendali. Seseorang

dengan kekebalan tubuh yang lemah, antara lain bayi yang baru lahir,

penderita AIDS, pengguna narkoba, pasien kritis, dan pasien rumah sakit

yang telah menjalani masa perawatan yang lama, Staphylococcus

epidermidis dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Oleh karena itu, mari

mengenal kehidupan Staphylococcus epidermidis lebih lanjut melalui

pembuatan makalah yang berjudul Staphylococcus epidermidis.

A. Rumusan Masalah

1. Bagaimana morfologi, karakteristik dan struktur antigen dari bakteri

Staphylococcus epidermidis?

2. Apa patologi ditimbulkan bakteri Staphylococcus epidermidis.

3. Bagaimana tes pemeriksaan terhadap bakteri Staphylococcus

epidermidis?

4. Bagaimana epidemiologi dari bakteri Staphylococcus epidermidis?

5. Bagaimana pengobatan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis?

6. Bagaimana pencegahan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis?

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui morfologi, karakteristik dan struktur antigen dari

bakteri Staphylococcus epidermidis.

2. Untuk mengetahui patologi yang ditimbulkan bakteri Staphylococcus

epidermidis.

1
2

3. Untuk mengetahui tes pemeriksaan terhadap bakteri Staphylococcus

epidermidis.

4. Untuk mengetahui epidemiologi dari bakteri Staphylococcus

epidermidis?

5. Untuk mengetahui pengobatan terhadap bakteri Staphylococcus

epidermidis.

6. Untuk mengetahui pencegahan terhadap bakteri Staphylococcus

epidermidis.

C. Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada penulis khususnya,

maupun para pembaca. Manfaat tersebut baik dari segi pengetahuan dan

pemahaman mendalam mengenai bakteri Staphylococcus epidermidis.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Morfologi dan Identifikasi

1. Pengertian

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang bersifat

oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang

lemah). Bakteri ini adalah salah satu patogen utama infeksi nosokomial,

khususnya yang berkaitan dengan infeksi benda asing. Orang yang

paling rentan terhadap infeksi ini adalah pengguna narkoba suntikan,

bayi baru lahir, lansia, dan mereka yang menggunakan kateter atau

peralatan buatan lainnya. Organisme ini menghasilkan glycocalyx

"lendir" yang bertindak sebagai perekat mengikuti ke plastik dan sel-sel,

dan juga menyebabkan resistensi terhadap fagositosis dan beberapa

jenis antibiotik. Staphylococcus epidermidis memberikan kontribusi

sekitar 65-90% dari semua staphylococcus yang ditemukan dari flora

aerobik manusia . Orang yang sehat dapat memiiliki hingga 24 strain

(jenis) dari spesies, beberapa di antaranya dapat bertahan di

permukaan yang kering untuk waktu yang lama. Hospes bagi organisme

ini adalah manusia dan hewan berdarah panas lainnya (Nilsson, 1998).

2. Klasifikasi

Sistematika bakteri Sthapylococcus epidermidis (Breed, dkk.,

1957) :

Divis (Dvisio) : Eukariota

Kelas (Classis) : Schizomycetes

3
4

Bangsa (ordo) : Eubacteriales

Suku (Familia) : Micrococcaceae

Marga (Genus) : Staphylococcus

Jenis (Spesies) : Staphylococcus epidermidis

3. Karakteristik (ciri-ciri) Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis memiliki beberapa karakteristik,

antara lain (Jawetz, dkk., 2001) :

1. Bakteri gram positif, koagulase negatif, katalase positif.

2. Aerob atau anaerob fakultatif.

3. Berbentuk bola atau kokus ,berkelompok tidak teratur.

4. berdiameter 0,5 1,5 m.

5. Tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni berwarna putih

6. Bakteri ini tumbuh cepat pada suhu 37oC.

7. Staphylococcus epidermidis merupak flora normal pada manusia.

8. Staphylococcus epidermidis terdapat pada kulit, selaput lendir, bisul

dan luka. Dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuannya

berkembang biak dan menyebar luas dalam jaringan.

B. Struktur Antigen

Stafilokokus mengandung antigen polisakarida dan protein seperti

zat lain yang penting dalam struktur dinding sel. Peptidoglikan, suatu polimer

polisakarida yang mengandung subunit-subunit yang bergabung

memberikan eksoskeleton yang kaku dari dinding sel. Peptidoglikan dirusak

oleh asam kuat atau paparan terhadap lisozim. Ini penting dalam

patogenesis infeksi : Infeksi akan merangsang pembentukan interleukin-1


5

(pirogen endogen) dan antibodi opsonin oleh monosit, dan ini dapat menjadi

penarik kimiawi bagi leukosit polimorfonuklear, mempunyai aktivitas seperti

endotoksin dan mengaktivasi komplemen.

Asam teikoat, yang merupakan polimer gliserol atau ribitol fosfat,

diikat ke peptidoglikan dan dapat menjadi antigenik. Antibodi asam anti

teikoat yang dapat dideteksi mealui difusi gel dapat ditemukan pada pasien

dengan endokarditis aktif yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus.

Protein A merupakan komponen dinding sel. Protein A telah

menjadi reagen yang penting dalam imunologi dan teknologi laboratorium

diagnostik, contohnya protein A yang dilekati dengan molekul IgG terhadap

antigen bakteri spesifik akan mengaglutinasi bakteri yang mempunyai

antigen tersebut (ko-aglutinasi).

C. Patologi

Infeksi Staphylococcus epidermidis berhubungan dengan

perangkat intravaskular (katup jantung buatan, shunts, dan lain-lain) , tetapi

biasanya terjadi pada sendi buatan, kateter, dan luka besar. Infeksi kateter

bersama dengan kateter-induced UTI menyebabkan peradangan serius dan

sekresi nanah. Dalam hal ini, buang air kecil sangat menyakitkan.

Septicaemia dan endokarditis termasuk penyakit yang

berhubungan dengan Staphylococcus epidermidis. Gejala yang timbul

adalah demam, sakit kepala, dan kelelahan untuk anoreksia dan dyspnea.

Septicemia terjadi akibat infeksi neonatal, terutama ketika bayi lahir dengan

berat badan sangat rendah. Sedangkan, endokarditis adalah infeksi katup

jantung dan bagian lapisan dalam dari otot jantung. Staphylococcus


6

epidermidis dapat mencemari peralatan perawatan pasien dan permukaan

lingkungan.

D. Pemeriksaan Laboratorium

Untuk pemeriksaan stafilokokus secara laboratorium dapat

dilakukan dengan bermacam-macam cara.

Bahan pemeriksaannya dapat berupa:

1. Nanah

2. Darah

3. Cairan otak

4. Usapan luka

Cara pemeriksaan :

1. Hari Pertama

Mengisolasi bakteri Staphylococcus epidermidis pada media Blood Agar

Plate (BAP), kemudian diinkubasi selama 24 jam, suhu 37C.

2. Hari Kedua

a. Mengamati ciri khas morfologi koloni yang tumbuh pada BAP

kemudian menanam koloni pada media BA (Blood Agar) dan BB

(Blood Broth).

b. Inkubasi bakteri selama 24 jam pada suhu 37C.

3. Hari Ketiga

a. Mengamati hasil uji biokimia bakteri pada BA dan BB.

b. Melakukan pengecatan gram dari media BA dan BB :

1) Siapkan objek glas, kemudian tambahkan NaCl fisiologis dan

bakteri dari media BA.


7

2) Lakukan langkah pertama dengan mengganti bakteri dari media

BB.

3) Periksa dengan menggunakan mikroskop perbesaran 100x,

catat hasilnya.

c. Melakukan uji katalase dengan menggunakan H2O2 :

1) Siapkan objek glas, tambahkan NaCl fisiologi dan bakteri dari

media BA.

2) Tambahkan H2O2 , homogenkan, catat hasil.

d. Melakukan uji D-Nase

1) Menyiapkan media D-Nase.

2) Mengoreskan bakteri kedalam media D-Nase kira kira 1cm,

inkubasi selama 24 jam pada suhu 37C.

4. Hari keempat

a. Mengidentifikasi hasil uji D-Nase dengan cara digenangi HCl 10%.

b. Melakukan tes koagulase terhadap bakteri pada media BA.

1) Siapkan objek glas, kemudian tambahkan plasma sitrat, NaCl

dan bakteri.

2) Homogenkan dan catat hasilnya.

Hasil pemeriksaan sampel dinyatakan positif Staphylococcus epidermidis

apabila hasil tersebut sesuai dengan sifat-sifat kultur dan biokimia bakteri

Staphylococcus epidermidis.

E. Pengobatan terhadap Stahylococcus epidermidis

Infeksi Staphylococcus epidermidis sulit disembuhkan sebab

kuman tumbuh pada alat protese dimana bakteri dapat menghindar dari
8

sirkulasi sehingga terhindar dari obat antimikroba. Staphylococcus

epidermidis lebih sering resisten terhadap antimikroba daripada

Staphylococcus aureus, hampir 75% strain Staphylococcus epidermidis

resisten terhadap nafsilin. (Jawetz, dkk., 2001)

Karena banyak galur yang resisten obat, maka tiap isolat

stafilococcus harus diuji kepekaan antimikrobanya untuk membantu memilih

obat sistemik. Resistensi terhadap grup eritromisin terjadi sangat cepat

sehingga jangan digunakan secara tunggal untuk mengobati infeksi kronik.

Resistensi obat (terhadap penicilin, tetrasiklin, aminoglikosida, dan

eritromisin) ditentukan oleh plasmid yang ditransmisikan oleh stafilokokki

dengan transdksi dan juga dengan konjungasi. (Jawetz, dkk., 2001)

Staphylococcus epidermidis merupakan bagian dari flora normal

manusia, telah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik yang umum

seperti methicillin, novobiocin, klindamisin, dan penisilin benzil. Untuk

mengobati infeksi digunakan vankomisin, hasil atau rifampin.

F. Epidemiologi

Stafilokokus terutama merupakan parasit manusia yang ada

dimana-mana. Sumber infeksi utama adalah tumpukan bakteri pada lesi

manusia, benda benda yang terkontaminasi lesi tersebut., dan saluran

respirasi manusia serta kulit. Penyebaran infeks melalui kontak telah

dianggap sebagai faktor yang penting di rumah sakit, dimana populasi luas

dari staf dan pasien membawa stafilokokus yang resisten antibiotika pada

hidung atau kulit mereka. Meskipun kebersian, higienis, dan

penatalaksanaan lesi secara aseptik dapat mengendalikan penyebaran


9

Stafilokokus dari lesi tersebut beberapa metode tersedia untuk mencegah

penyebarluasan stafilokokus dari pembawa. Di rumah sakit yang merupakan

daerah dengan risiko infeksi stafilokokus paling tinggi adalah ruang

perawatan bayi, unit perawatan intensif, ruang operasi, dan bangsal

kemoterapi kanker (Geo, 2005).

G. Pencegahan terhadap Staphylococcus epidermdis

Mengingat ancaman yang diberikan oleh bakteri Staphylococcus

epidermidis, kita sebisa mungkin jauh dari bakteri ini . Agar tidak teinfeksi

Staphylococcus epidermidis , ada beberapa langkah pencegahan yang bisa

dilakukan, antara lain :

1. Senantiasa menjaga daya tahan tubuh agar tidak menurun.

2. Menjaga kebersihan diri.

3. Menjaga kebersihan berbagai peralatan yang dapat menjadi media

penularan infeksi Staphylococcus epidermidis.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Staphylococcus epidermidis merupakan gram-positif, koagulase-negatif,

berdiameter 0,5 sampai 1,5 mikrometer, anaerob fakultatif, tumbuh

terbaik dalam kondisi aerobik, dan cocci yang merupakan flora normal

dan Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang bersifat

oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang

lemah).

2. Stafilokokus mengandung antigen polisakarida dan protein seperti zat

lain yang penting dalam struktur dinding sel, seperti asam teikoat dan

protein A.

3. Infeksi Staphylococcus epidermidis berhubungan dengan perangkat

intravaskular (katup jantung buatan, shunts, dan lain-lain) , tetapi

biasanya terjadi pada sendi buatan, kateter, dan luka besar.

Staphylococcus epidermidis menyebabkan septicaemia dan

endokarditis.

4. Pemeriksaan Staphylococcus epidermidis dapat menggunakan sampel

berupa nanah, darah, cairan otak, dan usapan luka. Sampel dapat di

diagnosis dengan cara sebagai berikut :

a. Menanam sampel pada media blood agar plate (BAP), inkubasi 24

jam pada suhu 37 C.

b. Lakukan pengecatan gram sampel pada media BAP.

10
11

c. Tanam pada Blood Agar (BA) dan Blood Broth (BB), inkubasi 24

jam pada suhu 37C.

d. Lakukan pengecatan gram, kemudian lakukan uji katalase.

e. Melakukan tes D-Nase.

f. Cocokan dengan sifat sifat kultur dan biokimia pada bakteri

Staphylococcus epidermidis.

5. Rumah sakit merupakan penyebaran dari bakteri Staphylococcus

epidermidis yang paling tinggi.

6. Pengobatan Staphylococcus epidermidis menggunakan antimikroba

seperti penicilin, tetrasiklin, aminoglikosida, dan eritromisin, namun

dalam proses pengobatannya jangan menggunakan antimikroba secara

tunggal untuk infeksi kronik karena Staphylococcus epidermidis mudah

resisten terhadap antimikroba. Untuk mengobati infeksi digunakan

vankomisin, hasil atau rifampin.

7. Untuk pencegahan terhadap Staphylococcus epidermidis dapat

dilakukan cara seperti, senantiasa menjaga daya tahan tubuh agar tidak

menurun, menjaga kebersihan diri, dan menjaga kebersihan berbagai

peralatan yang dapat menjadi media penularan infeksi Staphylococcus

epidermidis.

B. Saran

Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal yang ada pada tubuh

manusia dan bersifat oportunistik (menyerang individu dengan sistem

kekebalan tubuh yang lemah) maka jagalah kebersihan diri dan daya tahan

tubuh dengan pola hidup sehat.


DAFTAR PUSTAKA

Analis Kesehatan Indonesia.2011.Identifikasi Bakteri Gram Positif dan Gram

Negatif.http://analiskesehatanindonesia.blogspot.com/2011/08/identifika

si-bakteri-gram-positif-dan.html.Diakses pada 7 Juni 2014

Anneahira.2014.Mengenal Bakteri Staphylococcus epidermidis dan

Staphylococcus aureus.http://www.anneahira.com/bakteri-

staphylococcus-epidermidis.html. Diakses pada 7 Juni 2014

Breed, R.S., Murray, E.G.D. ,Smith N.R. 1957. Bergeys Manual of Determinative

Bacteriology. Seventh Edition.U.S.A : The williams and Wil kins

Company.

Brooks, G.F., Janet, S.B., Stephen, A.M.2005. Mikrobiologi Kedokteran.Alih

Bahasa : Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas

Airlangga.Jakarta : Salemba Medika.

Dewi, D.N.2011. Staphylococcus epidermidis.

http://nadidewi.blogspot.com/2011/01/staphylococcus-epidermidis.html.

Diakses pada 7 Juni 2014

Nilsson, Lars, Flock, Pei, Lindberg, Guss.1998. A Fibrinogen-Binding Protein of

Staphylococcus epidermidis.Infection and Immunity. Amerika : American

Society for Microbiology (ASM).

Villari, Sarnataro, Lacuzio.2000. Molecular Epidemiology of Staphylococcus

epidermidis in a Neonatal Intensive Care Unit over a Three-Year Period.

Journal of Clinical Microbiology. Amerika : Department of Health and

Preventive Sciences, University Federico II.

12
13

Lampiran 1 : Gambar identifikasi bakteri Staphylococcus epidermidis

Gambar 1 : Koloni Staphylococcus epidermidis pada media Blood Plate Agar

(BAP).

Gambar 2 : Hasil Uji Identifikasi Staphylococcus aureusp pada media Blood Agar

(BA), Blood Broth (BB), D-Nase. (dari kiri ke kanan).


14

Lanjutan

Gambar 3 : Morfologi bakteri Staphylococcus epidermidis pada pengecatan

gram.

Gambar 4 : Uji katalase pada bakteri Staphylococcus epidermidisyang

menghasilkan geembung (positif).


15

Lampiran 2 : Tabel sifat-sifat kultur dan biokimia bakteri Staphylococcus

epidermidis

No. Media Hasil

1. BAP (Blood Agar Plate) Bulat, cembung, putih,

unhemolisa.

2. Pengecatan gram Gram positif, bulat (coccus)

ungu, bergerombol.

3. BA (Blood Agar) Unhemolisa

4. BB (Blood Broth) Unhemolisa

5. Katalase Muncul gelembung

6. D-Nase Negatif, putih

Tidak terdapat zona bening


16