You are on page 1of 20

ADMINISTRASI KEBIJAKAN RUMAH SAKIT

KELOMPOK IV :

1. BERLIAN FIKA 201612048


2. FATQUR ROCHMAN 201612055
3. HAMIDAH R. 201612056
4. MEIRIZKA DWI A. 201612061
5. MUTIARA AYU 201612067
6. RISWANDA JANUAR 201612072

PRODI ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

STIKES YAYASAN RUMAH SAKIT DR. SOETOMO


Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, 18 Oktober

Penyusun

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar ................................................................................ ii

Daftar Isi ................................................................................... iii

BAB I Pendahuluan......................................................................... 4

a. Latar Belakang ...................................................................... 4


b. Rumusan Masalah ................................................................. 5
c. Tujuan ................................................................................... 5

BAB II Pembahasan ....................................................................... 6

2.1 Sejarah Analisis Kebijakan ....................................................... 6

2.2 Pengertian Analisis Keabijakan ................................................ 6

2.3 Lingkup Analisis Kebijakan...................................................... 8

a. Analisis Kebijakan Prospektif .............................................................. 8

b. Analisis Kebijakan Retropektif ............................................................ 9

c. Analisis Kebijakan Yang Terintegrasi .................................................. 10

2.4 Proses Analisis Kebijakan ......................................................... 12

a. Perumusan Masalah .............................................................. 12

b. Peramalan ............................................................................ 14

c. Rekomendasi ........................................................................ 15

d. Pemantauan .......................................................................... 16

e. Evaluasi ................................................................................. 17

BAB III Penutup

a. Kesimpulan .......................................................................... 18

Daftar Pustaka ................................................................................. 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebijakan merupakan segala sesuatu yang dilakukan ataupun tidak


dilakukan oleh pemerintah untuk masyarakatnya, sebagai serangkaian
tindakan untuk mencapai tujuan dan sasaran program-program
pemerintahannya. Maksud dan tujuan kebijakan dibuat adalah untuk
memecahkan masalah publik yang sedang berkembang dimasyarakat dan
masalah yang muncul dalam masyarakat begitu banyak macam, variasi dan
intensitasnya. Namun, tidak semua masalah bisa melahirkan kebijakan
publik.

Oleh karena itu, untuk menentukan sebuah permasalahan perlu adanya


proses pengidentifikasian masalah atau yang disebut juga dengan
perumusan masalah. Bukan pekerjaan yang mudah untuk mengidentifkasi
sebuah permasalahan. Terkadang, kita akan salah menginterpretasi bahwa
masalah yang muncul bukan merupakan sebuah permasalahan kebijakan
(Dunn, 2000: 209). Perlu adanya kehatian-kehatian dalam proses
perumusan permasalahan. Untuk merumuskan sebuah kebijakan baru,
setelah maslah teridentifikasi dengan baik, maka diperlukan adanya
peramalan kebijakan, hal ini dilakukan untuk berhasilnya sebuah analisis
kebijakan dan yang akan memberikan pengaruh bagi perbaikan pembuatan
kebijakan itu sendiri. Sehingga melalui peramalan kita akan memperoleh
visi yang prospektif, sehingga dapat memperluas kapasitas kita untuk
memahami, mengontrol dan membimbing masyarakat sebagai pelaku
kebijakan. Rekomendasi kebijakan akan dapat diberikan setelah adanya
analisa kebijakan dilakukan. Dan ketika kebijakan diimplementasikan perlu
adanya pemantauan hasil-hasil kebijakan serta evaluasi kinerja kebijakan.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, dimana persoalan-persoalan yang
dihadapi pemerintah sedemikiankompleks akibat krisis multidimensional,
maka bagaimanapun keadaan ini sudah barang tentu membutuhkan

4
perhatian yang besar dan penanganan pemerintah yang cepat namun juga
akurat agar persoalan-persoalan yang begitu kompleks dan berat yang
dihadapi oleh pemerintah segera dapat diatasi. Kondisi seperti ini pada
akhirnya menempatkan pemerintah dan lembaga tinggi Negara lainnya
berada pada pilihan-pilihan kebijakan yang sulit.Kebijakan yang diambil
tersebut terkadang membantu pemerintah dan rakyat Indonesia keluar dari
krisis, tetapi dapat juga terjadi sebaliknya, yakni malah mendelegitimasi
pemerintah itu sendiri.
Dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul diperlukan
pengambilan kebijakan yang tepat, sehingga kebijakan tersebut tidak
menimbulkan permasalahan baru. Pengambilan suatu kebijakan tentunya
memerlukan analisis yang cukup jeli, dengan menggunakan berbagai model
serta pendekatan yang sesuai dengan permasalahan yang akan
dipecahkan. Untuk bisa mengambil kebijakan yang sesuai dengan
permasalahan yang ada, dipandang sangat perlu bagi pengambil kebijakan
untuk mengerti serta memahami berbagai model dan pendekatan yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan suatu kebijakan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud analisis kebiajkan menurut William N Dunn?
2. Apa saja lingkup dari analisis kebijakan menurut William N Dunn?
3. Bagaimana proses tahapan analisis kebijakan menurut William N Dunn?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari analisis kebiajkan menurut William
N Dunn
2. Untuk mengetahui ruang lingkup analisis kebijakan menurut William N
Dunn
3. Untuk mengetahui tahapan analisis kebijakan menurut William N Dunn

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Analisis Kebijakan


Dunn mengemukakan bahwa analisis kebijakan bermula ketika politik praktis
harus dilengkapi dengan pengetahuan agar dapat memecahkan masalah public. India
barangkali merupakan asal muasal tradisi ini, ketika Kautilia menulis Arthashastra di
India pada tahun 300 SM yang antara lain berisi tuntutan pembuatan kebijakan. Kautilia
adalah penasehat kerajaan Mauyan di India Utara. Analisi kebijakan mendapatkan tempat
yang terhormat pada abad pertengahan ketika muncul profesi spesialis kebijakan yang
diangkat para raja dan bangsawan untuk memberikan nasehat teknis kebijakan dimana
para raja dan bangsawan tersebut tidak mampu. Impaknya, pembuatan kebijakan semakin
memerlukan ahli-ahli penasehat kebijakan.

2.2 Pengertian Analisis Kebijakan

Pengertian mengenai analisis kebijakan telah dikembangkan dan dirumuskan sejak


lama. Sejumlah pakar bahkan telah memiliki definisi tersendiri mengenai analisis
kebijakan, antara lain :

a. Carl W. Patton dan David S. Savicky. Menurut kedua pakar tersebut analisis kebijakan
adalah tindakan yang diperlukan untuk dibuatnya sebuah kebijakan, baik kebijakan yang
baru sama sekali atau kebijakan yang diubah sebagai konsekuensi dari kebijakan yang
lama.

b. William Dunn, yang menyatakan bahwa analisis kebijakan adalah disiplin Ilmu Sosial
terapan yang menerapkan beberapa metode analisis, dalam konteks argumentasi dan
debat publik untuk menciptakan secara kritis kegiatan penaksiran, serta
pengkomunikasian pengetahuan yang relevan dengan kebijakan tersebut.

c. Quade (1982) yang mendefinisikan analisis kebijakan sebagai bentuk aplikasi penelitian
yang ditujukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu-isu
sosial-teknis dan diarahkan untuk memeroleh pemahaman yang lebih baik.

d. Grindle dan Thomas (1991) memberikan pengertian yang cenderung bersandar pada
aktor (pelaku kebijakan) dengan menyatakan bahwa analisis kebijakan pada dasarnya
berfokus pada (aspek) kenegaraan-pada sektor pemerintahan atau publik pada politisi,

6
biokrat dan kelompok yang memiliki kepentingin (Hogwood dan Gunn,1984; Grindle
dan Thomas, 1991).

e. Kunt (1971), dalam Solichin (2012), yang memberikan batasan tentang analisis
kebijakan sebagai : the kind of systematic disciplined analytical, scholarship, creative
study where primary motivation is to produce well-supported recommendation for
actions dealing with concrete political problems (sejenis studi yang sistematis,
berdisiplin, analitis, cerdas, dan kreatif yang dilakukan dengan maksud untuk
menghasilkan rekomendasi kebijakan andal, beberapa tindakan untuk memecahkan
masalah-masalah politik yang konkret).

Pada dasarnya pengertian analisis kebijakan kesehatan tidak berbeda jauh


dengan pengertian analisis kebijakan publik. Sebagaimana yang dijelaskan Walt (2004)
dan Buse Mays & Walt (2012), bahwa analisis kebijakan kesehatan adalah suatu
pendekatan multi-disiplin dalam kebijakan publik yang bertujuan menjelaskan interaksi
antara institusi, kepentingan, dan ide dalam proses pengembangan kebijakan kesehatan.

Analisis kebijakan pada bidang kesehatan juga meruapakan satu bentuk riset
terapan yang dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
mengenai masalah kesehatan masyarakat secara utuh sehingga dengan pemahaman
tersebut dapat mengarahkan pada alternatif solusi untuk masalah tersebut. Sebagai
aktivitas intelektual, analisis kebijakan dilakukan dengan menciptakan, menilai, dan
mengomunikasikan pengetahuan (yang relevan dengan kebijakan) dalam satu atau lebih
tahapan proses pembuatan kebijakan.

Karena merupakan suatu riset terapan, salah satu aspek penting dalam analisis
kebijakan adalah enyediaan informasi yang relevan terkait masalah dan unsur sistem
dalam kebijakan. Informasi yang dimaksud menjadi data yang disiapkan,
dikomunikasikan dan lalu digunakan oleh para pembuat kebijakan untuk memahami
permasalahan serta mencari alternatif solusi untuk permasalahan tersebut.

Analisis kebijakan juga dapat dipandang sebagai proses beraumentasi dan debat
untuk mengkaji secara kritis permaslahan kebijakan. Itulah sebabnya, analisis kebijakan
sering kali juga didefinisikan sebagai pengkomunikasian dan penilaian kritis,
pengetahuan (yang relevan dengan kebijakan). Kualitas analisis kebijakan
(pengetahuan, informasi, penilaian kritis) adalah penting untuk memperbaiki kebijakan
dan hasilnya. Namun di sisi lain terdapat pernyataan Dunn yang menarik sebagai
berikut.

7
.............................tetapi analisis kebijakan yang baik (berkualitas) belum tentu
dimanfaatkan oleh pemakainya, dan jikapun analisis kebijakan digunakan belum
menjamin kebijakan yang lebih baik. Pada kenyataannya, ada jarak yang amat lebar
antara pembuatan analisis kebijakan dan pemanfaatannya dalam proses pembuatan
kebijakan.

Dengan demikian, analisis kebijakan pada dasarnya adalah awal, bukan akhir,
dari upaya untuk meningkatkan proses pengembangan kebijakan.

2.3 Lingkup Analisis Kebijakan

1. Analisis Kebijakan Prospektif

Analisis Kebijakan Prospektif yang berupa produksi dan transformasi


informasi sebelum aksi kebijakan dimulai dan diimplementasikan. Analisis
kebijakan disini merupakan suatu alat untuk mensintesakan informasi untuk
dipakai dalam merumuskan alternatif dan preferensi kebijakan yang dinyatakan
secara komparatif, diramalkan dalam bahasa kuantitatif dan kualitatif sebagai
landasan atau penuntun dalam pengambilan keputusan kebijakan.

Secara konseptual tidak termasuk mengumpulkan informasi. sebaliknya penelitian


kebijakan berkenaan dengan semua studi yang menggunakan metode ilmiah untuk
menerangkan fenomena dan/atau menentukan hubungan di antara mereka.

8
Analisi prospektif acapkali menimbulkan jurang pemisah yang besar
antara pemecahan masalah yang di unggulkan dan upaya-upaya pemerintah
untuk memecahkannya. Misalnya pakar ilmu politik Graham Alison
memperkirakan mungkin tidak lebih dari 10 persen dari kerja yang di perlukan
untuk mencapai seperangkat hasil kebijakan yang di kendaki di peroleh sebelum
aksi kebijakan di mulai:

Itu bukan berarti bukan berarti bahwa kita mempunyai terlalu banyak
solusi analitis yang baik terhadap masalah. Melainkan, kita mempunyai lebih
banyak solusi yang baik ketimbang mempunyai aksi yang analis kebijakan
berbeda dengan macam-macam pertanyaan yang secara tradisional di tanyakan.

2. Analisis Kebijakan Retrospektif


Analisis Kebijakan Retrospektif adalah sebagai penciptaan dan transformasi
informasi sesudah aksi kebijakan dilakukan. Terdapat 3 tipe analis berdasarkan
kegiatan yang dikembangkan oleh kelompok analis ini yakni analis yang
berorientasi pada:

a. Analis yang berorientasi pada berorientasi Disiplin, lebih terfokus pada


pengembangan dan pengujian teori dasar dalam disiplin keilmuan, dan
menjelaskan sebab akibat kebijakan. Contoh: Upaya pencarian teori dan
konsep kebutuhan serta kepuasan tenaga kesehatan di Indonesia, dapat
memberi kontribusi pada pengembangan manajemen SDM original berciri
Indonesia (kultural). Orientasi pada tujuan dan sasaran kebijakan tidak
terlalu dominan. Dengan demikian, jika ditetapkan untuk dasar kebijakan
memerlukan kajian tambahan agar lebih operasional.
b. Analisis berorientasi masalah, menitikberatkan pada aspek hubungan
sebab akibat dari kebijakan, bersifat terapan, namun masih bersifat umum.
Contoh: Pendidikan dapat meningkatkan cakupan layanan kesehatan.
Orientasi tujuan bersifat umum, namun dapat memberi variabel kebijakan

9
yang mungkin dapat dimanipulasikan untuk mencapai tujuan dan
sasaranpeningkatan program UKS oleh puskesmas.
c. Analisis beriorientasi Aplikasi, menjelaskan hubungan kausalitas, lebih
tajam untuk mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari kebijakan dan para
pelakunya. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengevaluasi
hasil kebijakan khusus, merumuskan masalah kebijakan, membangun
alternatif kebijakan yang baru, dan mengarah pada pemecahan masalah
praktis. Contoh: analis dapat memperhitungkan berbagai faktor yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelayanan KIA di Puskesmas.
Informasi yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pemecahan
masalah kebijakan KIA di puskesmas.Tentu saja ketiga tipe analisis
retrospektif ini terdapat kelebihan dan kelemahan.

3.Analisis Kebijakan Yang Terintegrasi

Analisis kebijakan yang terintegrasi merupakan bentuk analisis yang


mengkombinasikan gaya operasi para praktisi yang menaruh perhatian pada
penciptaan dan transformasi informasi sebelum dan sesudah tindakan kebijakan
diambil. Analisis kebijakan yang terintegrasi tidak hanya mengharuskan para analis
untuk mengkaitkan tahap penyelididkan retrospektif dan perspektif, tetapi juga
menuntut para analis untuk secara terus menerus menghasilkan dan
menstransformasikan informasi setiap saat. Hal ini berarti bahwa analis dapat
terlibat dalam transformasi komponen-komponen infornasi-kebijakan searah
dengan putaran jarum jam berulangkali sebelum akhirnya pemecahan masalah
kebijakan yang memuaskan ditemukan. Analis yang terintegrasi dengan begitu
bersifat terus menerus, berulang-ulang, tanpa ujung, paling tidak dalam prinsipnya.
Analisis dapat memulai penciptaan dan transformasi informasi pada setiap titik dari
lingkaran analisis, baik sebelum dan sesudah aksi. Selanjutnya, hubungan antara
dua tahap analisis kebijakan misalnya antara perumusan masalah dan
peramalan- dapat dipandang sebagai titik dialektis, di mana tidak mungkin untuk
menyatakan dengan pasti di mana penggunaan metode analisis kebijakan dimulai
dan berakhir.

10
Analisis yang terintegrasi dapat digambarkan dengan mempertentangkan
antara evaluasi-evaluasi retrospektif terhadap kebijakan publik, dan eksperimen-
eksperimen program kebijakan. Evaluasi restrospektif terhadap kebijakan dan
program di dalam sejumlah bidang seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan
sosial secara khusus menilai kinerja kebijakan dan program-program yang sedang
berjalan. Sebaliknya eksperimen kebijakan dan program menilai kinerja program
dan kebijakan baru dalam hal hasil nyatanya. Untuk menilai bentuk-bentuk baru
dari aksi kebijakan di bawah kondisis politik dan administrasi yang realistis, perlu
sekali untuk menciptakan informasi pada setiap tahap analisis kebijakan:
perumusan masalah, peramalan, rekomendasi, pemantauan dan evalusi. Anilisis
kebijakan prospektif dan retrospektif, meskipun memulai dan mengakhiri analisis
pada waktu yang berbeda, mengharuskan analis melengkapi bagian dari lingkaran
analisis.

Analisis kebijakan yang terintegrasi mempunyai semua kelebihan yang


dimiliki oleh semua metodologi analisis prospektif dan retrospektf, tetapi tidak
satupun dari kelemahan mereka. Analisis yang terintegrasi melakukan pemantauan
dan evaluasi kebijakan secara terus menerus sepanjang waktu. Tidak demikian
halnya dengan analisis prospektif dan retrospektif, yang menyediakan lebih sedikit
informasi. Sebagai contoh, analisis kebijakan prospektif cenderung lemah dalam
hal keterbatasannya dan ketidakcukupan informasi yang dihasilkannya menyangkut
perubahan nilai tujuan dan sasaran yang terjadi setelah suatu kebijakan
diimplementasikan. Sebaliknya, analisis kebijakan retrospektif dalam hal
ketidakmampuannya untuk mengarahkan aksi-aksi kebijkan, karena sebagian besar
terikat pada informasi yang pasif mengenai konsekuensi kebijakan setelah
diimplementasikan. Akhirnya, analisis yang terintegrasi dibangun diatas kekuatan
disiplin yang menspesialisasikan pada analisis prospektif (seperti ekonomi, teknik
sistem, riset operasi), dan yang menekankan pada analisis retrospektif (seperti ilmu
poitik, sosiologi, dan hukum). Oleh karena itu, analisis yang terintegrasi adalah
multidisiplin di dalam arti yang sebenarnya.

11
2.4 Proses Analisa Kebijakan

Tahap-tahap dalam Proses Analisa Kebijakan

Penggunaan prosedur analisis kebijaksanaan seperti: perumusan masalah, peramalan,


rekomendasi, pemantauan, evaluasi. Memungkinkan analisis mentransformasikan satu tipe
informasi ke informasi lainnya. Informasi dan prosedur bersifat saling tergantung mereka
terkait di dalam proses dinamis transformasi informasi kebijakan. Oleh karena itu
komponen-komponen informasi-kebijakan (seperti masalah-masalah kebijakan, masa
depan kebijakan, aksi kebijakan, hasil kebijakan, kinerjan kebijakan) ditransformasikan
dari satu ke yang lainnya dengan menggunakan prosedur analisi-kebiajakan. Seluruh proses
diatur melalui perumusan masalah yang diletakkan pada pusat kerangka kerja.

1. Perumusan Masalah
Perumusan masalah (definisi) menghasilkan informasi mengenai kondisi-kondisi
yang menimbulkan masalah kebijakan. Masalah kebijakan adalah kebutuhan, nilai-
nilai, atau kesempatan-kesempatan yang tidak terealisasi tetapi dapat dicapai
melalui tindakan publik. Memahami masalah kebijakan merupakan hal yang
penting, karena para analis kebijakan terlihat lebih sering gagal karena
memecahkan masalah yang salah. Ciri-ciri masalah adalah interdependence,
subjectivity, artificiality, dynamics. Langkah awal dalam perumusan masalah

12
adalah dengan mengenali situasi atau mengenali masalah. Pengenalan
situasi ini akan menghasilkan situasi masalah. Dari situasi masalah
kemudian dikembangkan dengan proses pencarian masalah yang lebih detil
dan membentuk sebuah meta masalah.
Dengan demikian, meta masalah adalah masalah diatas masalah,
atau dikenal juga sebagai tumpukan masalah yang belum terstruktur. Dari
meta masalah ini dilakukan pendefinisian atau pengklasifikasian masalah,
sehingga menghasilkan masalah substantif. Dari sejumlah masalah
substantif yang ada, kemudian ditentukan beberapa masalah yang akan
segera ditangani sesuai dengan kemampuan pemerintah.

Dalam bentuk siklus, model perumusan masalah William Dunn dapat


dilihat sebagai berikut

13
2. Peramalan

Peramalan kebijakan merupakan hal yang sangat penting dalam proses


pembuatan kebijakan. Para pembuat serta penganalisa kebijakan harus
mengetahui bagaimana cara meramalkan suatu kebijakan, tujuan serta manfaat
sebuah peramalan kebijakan. Sehingga, seperti yang telah tersampaikan
sebelumnya, apabila peramalan kebijakan dapat dilakukan dengan baik, maka
akan diperoleh visi yang baik, sehingga dapat memperluas kapasitas kita untuk
memahami, mengontrol dan membimbing masyarakat sebagai pelaku
kebijakan.
Peramalan kebijakan terkait menjadi satu dengan proses analisa
kebijakan. Karena didalam menganalisa kebijakan, untuk menformulasikan
sebuah rekomendasi kebijakan baru, maka diperlukan adanya peramalan-
peramalan atau prediksi mengenai kebijakan yang akan diberlakukan dimasa
yang akan datang. Menurut Dunn, peramalan kebijakan (policy forecasting)
merupakan suatu prosedur untuk membuat informasi factual tentang situasi
social masa depan atas dasar informasi yang telah ada tentang masalah
kebijakan. (Dunn, 2000: 291) Suatu prosedur untuk membuat informasi factual
tentang situasi sosial masa depan atas dasar informasi yang telah ada tentang
masalah kebijakan. Ramalan mempunyai tiga bentuk utama, yaitu:
- Ekstrapolasi
- Teoritik
- Penilaian Pendapat

Forecasting (Dunn,1994b)

14
3. Rekomendasi
Rekomendasi merupakan proses rasional dimana para analis memproduksi
informasi dan argumen-argumen yang beralsan tentang solusi-solusi yang
potensial dari maslah publik. Prosedur analisis kebijakan dari rekomendasi
memungkinkan analis menghasilkan informasi tentang kemungkinan
serangkaian aksi di masa mendatang untuk menghasilkan konsekuensi yang
berharga bagi individu, kelompok, atau masyarakat seluruhnya. Prosedur
rekomendasi meliputi transformasi informasi mengenai kebijakan yang
akan membuahkan hasil yang bernilai. Untuk merekomendasikan suatu
tindakan kebijakan khusus perlu adanya informasi tentang konsekuensi-
konsekuensi di masa datang setelah dilakukannya berbagai alternative
tindakan, sementara itu, membuat rekomendasi kebijakan juga
mengharuskan kita menentukan alternative man yang paling baik dan
mengapa. Oleh karenanya prosedur analisis kebijakan dari rekomendasi
terkait erat dengan persoalan etika dan moral.

Rekomendasi (Dubb, 1994b)

Prosedur-prosedur yang paling umum untuk memecahkan masalah-masalah


kemanusiaan (deskripsi, prediksi, evaluasi, dan preskripsi) dapat
dibandingkan dan dipertimbangkan menurut waktu digunakannya prosedur-
prosedur tersebut dan jenis pertnyaan yang sesuai (empiric, valuatif,
normatif).

15
Dalam membuat rekomendasi, analisis kebijakan secara khusus
menjawab berbagai persoalan tentang sasaran, biaya, hambatan-hambatan,
eksternalitas waktu, risiko dan ketidakpastian. Pilihan public dan swasta
berbeda dalam tiga hal: hakikat proses kebijakan public, hakikat tujuan
kebijakan publik yang bersifat kolektif, arti barang-barang public.

Kriteria untuk rekomendasi kebijakan :

1. Efektifitas
2. Efesiensi
3. Kecukupan
4. Pemerataan
5. Responsifitas
6. Kelayakan

4. Pemantauan
Pemantauan merupakan prosedur analisis kebijakan guna menghasilkan
informasi tentang penyebab dan konsekuensi dari kebijakan-kebijakan
public. Pemantauan bermaksud memberikan pernyataan yang bersifat
penandaan dan terutama yang berkepentingan untuk menetapkan premis-
premis factual tentang kebijakan public. Pemantauan menghasilkan
pernyataan yang bersifat penandaan setelah kebijakan dan program
diadopsi, lalu diimplementasikan, sebelum tindakan dilakukan. Informasi
yang dihasilkan melalui pemantauan memiliki setidak-tidaknya empat
fungsi, yaitu ketundukan, pemeriksaan, akuntasi, dan eksplanasi.
Ada dua jenis hasil kebijakan yaitu keluaran dan dampak. Tindakan
daei kebijakan terdiri dari masukan dan proses. Sementara itu, kebijakan
memiliki dua tujuan utama yaitu, regulasi dan alokasi.

16
Pemantauan (Dunn, 1994b)

Pemantauan dapat dipilah dalam empat jenis pendekatan: akuntansi


sistem sosial, eksperimental sosial, pemeriksaan sosial, serta sintesis riset dan
praktik. Pendekatan-pendekatan terhadap pemantauan memerhatikan hasil-
hasil yang berkaitan dengan kebijakan, berfokus pada tujuan dan berorientasi
pada perubahan.

5. Evaluasi
Evaluasi mempunyai beberapa karakteristik yang membedakannya dari
metode-metode analisis kebijakan yang lain: titik berat kepada nilai hubungan
ketergantungan antara nilai dan fakta, orientasi masa kini dan masa lalu, dan
dualitas nilai. Kriteria evaluasi kebijakan: efektivitas, estimasi, kecukupan,
kesamaan, daya tanggap dan kelayakan. Tiga pendekatan utama evaluasi dalam
analisis kebijakan adalah: evaluasi semu, evaluasi formal dan evaluasi teoretis
keputusan.
Evaluasi memainkan sejumlah fungsi utama dalam analisis kebijakan. 1).
Yang paling penting, evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat
dipercaya mengeni kinerja kebijakan, yaitu, seberapa jauh kebutuhan, nilai dan
kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan public. Dalam hal ini evaluasi
mengungkapkan seberapa jauh tujuan-tujuan tertentu(misalnya, perbaikan
kesehatan) dan target tertentu(sebagai contoh, 20% pengurangan penyakit
kronis pada tahun 1990) telah dicapai. 2). Evaluasi memberi sumbangan pada
klarifikasi dan kritik terhdap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan
target. Nilai diperjelas dengan mendefinisikan dan mengoperasikan tujuan dan
target.

17
KESIMPULAN

William Dunn, yang menyatakan bahwa analisis kebijakan adalah disiplin


Ilmu Sosial terapan yang menerapkan beberapa metode analisis, dalam konteks
argumentasi dan debat publik untuk menciptakan secara kritis kegiatan penaksiran,
serta pengkomunikasian pengetahuan yang relevan dengan kebijakan tersebut.
Bentuk analisis kebijakan terdapat tiga bentuk yaitu analisis kebijakan prospektif,
analisis kebijakan retropektif, dan analisis kebijakan yang terintegrasi. Dimana di
analisis kebijakan retopektif memiliki tipe kegiatan yang dikebangkan oleh tiga
kelompok analisis yaitu analisis yang beorientasi pada disiplin,analisis yang
berorientasi pada masalah,analisis yang berorientasi pada aplikasi. Proses analisis
kebijakan menurut Dunn yaitu perumusan masalah,peramalan,rekomendasi
kebijakan,pemantauan hasil kebijakan,dan yang terakhir adalah evaluasi kinerja
kebijakan.

18
Daftar Pustaka

Dunn, W. N., 1994. Public Policy Analysis. 2 ed. New Jersey: Prentice Hall .

MARS, D. D. A., 2014. Kebijakan Kesehatan Prinsip dan Kesehatan. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada.

Nugroho, D. R., 2014. Public Policy. 5 ed. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

19
20