You are on page 1of 7

PENATALAKSANAAN ULKUS KAKI DIABETES

SECARA TERPADU

Yuanita A. Langi

Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
Email: meralday@yahoo.co.id

Abstract: A diabetic foot ulcer is a common and fearful chronic complication of diabetes
mellitus often resulting in amputation, and even death. A diabetic foot ulcer can be prevented
by early screening and education in high risk individuals, and the management of underlying
conditions such as neuropathy, peripheral arterial disease, and deformity. The prevalence of
diabetic foot ulcer patients is 4-10% of the general population, with a higher prevalence in
elderly people. Around 14-24 % of diabetic foot ulcer patients need amputations with a
recurrence rate of 50% after three years. The main pathogenesis of diabetic foot ulcer is
neuropathy and peripheral arterial disease (PAD). PAD contributes to diabetic foot ulcers in
50% of cases; however, it rarely stands alone. Other factors such as smoking, hypertension,
and hyperlipidemia may contribute, too. In addition, PAD reduces the access of oxygen and
antibiotics to the ulcers. Management of diabetic foot ulcers includes treatment of ischemia by
promoting tissue perfusion, debridement for removing necrotic tissues, wound treatment for
creating moist wound healing, off-loading the affected foot, surgery intervention, management
of the co-morbidities and infections, and prevention of wound recurrences. Other adjuvant
modalities include hyperbaric oxygen treatment, GCSF, growth factors, and bioengineered
tissues.
Keywords: diabetic ulcer, debridement, off loading

Abstrak: Ulkus kaki diabetes (UKD) merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes
melitus yang sering dijumpai dan ditakuti oleh karena pengelolaannya sering mengecewakan
dan berakhir dengan amputasi, bahkan kematian. UKD dapat dicegah dengan melakukan
skrining dini serta edukasi pada kelompok berisiko tinggi, dan penanganan penyebab dasar
seperti neuropati, penyakit artei perifer dan deformitas. Prevalensi pasien UKD berkisar 4-
10% dari populasi umumnya, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada manula. Sekitar 14-
24% pasien UKD memerlukan amputasi dengan rekurensi 50 % setelah tiga tahun.
Patogenesis utama UKD yaitu neuropati dan penyakit arteri perifer (PAP). PAP berkontribusi
50% pada pasien UKD, tetapi hal ini jarang dijumpai tunggal. Terdapat faktor-faktor lain yang
turut berperan seperti merokok, hipertensi dan hiperlipidemia. Selain itu PAP menurunkan
akses oksigen dan antibiotik ke dalam ulkus. Penatalaksanaan UKD meliputi penanganan
iskemia dengan meningkatkan perfusi jaringan, debridemen untuk mengeluarkan jaringan
nekrotik, perawatan luka untuk menghasilkan moist wound healing, off-loading kaki yang
terkena, intervensi bedah, pananganan komorbiditas dan infeksi, serta pencegahan rekurensi
luka. Terapi ajuvan meliputi terapi oksigen hiperbarik, pemberian granulocyte colony
stimulating factors (GCSF), growth factors dan bioengineerd tissues.
Kata kunci: ulkus diabetes, debridemen, off loading

Ulkus kaki diabetes (UKD) merupakan sa- Hal ini disebabkan karena hasil pengelola-
lah satu komplikasi kronik diabetes melitus an UKD sering mengecewakan baik bagi
(DM) yang sering dijumpai dan ditakuti. dokter, pasien maupun keluarganya, serta
95
96 Jurnal Biomedik, Volume 3, Nomor 2, Juli 2011, hlm. 95-101

dapat berakhir dengan amputasi bahkan ke- tinggi.10 Di Indonesia angka kematian dan
matian.1 Di negara maju, UKD masih me- angka amputasi masih tinggi, masing-
rupakan masalah kesehatan yang besar. De- masing sebesar 16% dan 25% (RSUPCM
ngan adanya perkembangan metode dan tahun 2003), sebanyak 14,3% akan mening-
teknologi penatalaksanaan UKD serta kli- gal setahun paska amputasi, dan sebanyak
nik kaki diabetes maka angka kematian dan 37% meninggal dalam tiga tahun paska
amputasi dapat ditekan.1,2 Di Indonesia, amputasi.1
UKD masih merupakan masalah yang ru-
mit dan tidak terkelola dengan maksimal.
PATOGENESIS
Selain itu permasalahan biaya pengelolaan
yang besar menambah peliknya masalah Patogenesis utama UKD yaitu neuro-
kaki diabetes.1 pati, kemudian iskemia pembuluh darah pe-
Pasien DM memiliki risiko 15%-25% rifer.11 Prevalensi neuropati perifer 23-50%
dalam hidupnya untuk mengalami kaki dia- pada pasien DM 4,11,12 dan lebih dari 60%
betes3-7 yang pada 40-80% kasus berkem- UKD disebabkan neuropati yang berupa
bang menjadi UKD.5 Insidens UKD di neuropati sensorik, motorik dan oto-
Amerika Serikat sekitar 3% tiap tahun, se- nom.8,11,13 Hilangnya sensasi nyeri dan su-
dangkan di Inggris berkisar 10%.8 DM me- hu akibat neuropati sensorik menyebabkan
rupakan penyakit yang paling sering dikait- hilangnya kewaspadaan terhadap trauma
kan dengan amputasi ekstremitas bagian atau benda asing, akibatnya banyak luka
bawah, dan merupakan penyebab lebih dari yang tidak diketahui secara dini dan sema-
50% amputasi nontraumatik di Amerika kin memburuk karena terus-menerus meng-
dan Eropa.3,9,10 alami penekanan.11,12,14 Kerusakan inervasi
Pada hakekatnya UKD dapat dicegah otot-otot intrinsik kaki akibat neuropati
dengan cara mela-kukan skrining dini serta motorik menyebabkan ketidakseimbangan
edukasi penata-laksanaan kaki diabetes antara fleksi dan ekstensi kaki serta de-
pada individu be-risiko tinggi. Demikian formitas kaki, yang kemudian menyebab-
pula pencegahan dan pengelolaan yang kan terjadinya perubahan distribusi tekanan
tepat terhadap faktor-faktor penyebab dasar pada telapak kaki yang selanjutnya memicu
patogenesis kaki dia-betes, yakni neuropati, timbulnya kalus. Kalus yang tidak dikelola
penyakit arteri peri-fer dan deformitas dengan baik akan menjadi sumber trauma
dapat mencegah timbul-nya UKD serta bagi kaki tersebut.1,11,15 Neuropati otonom
segala konsekuensinya.11 menyebabkan penurunan fungsi kelenjar
keringat dan sebum. Kaki akan kehilangan
kemampuan alami untuk melembabkan ku-
EPIDEMIOLOGI lit, kulit menjadi kering dan pecah-pecah
Prevalensi UKD berkisar antara 4- sehingga mudah terinfeksi.11,13,15
10%, dengan prevalensi yang lebih rendah Penyakit arteri perifer (PAP) merupa-
(1,5-3,5%) pada orang muda dan lebih kan faktor yang berkontribusi terhadap per-
tinggi (5-10%) pada orang tua.4,10 Sekitar kembangan UKD pada 50% kasus. PAP
14-24% pasien UKD akan memerlukan jarang berdiri sendiri sebagai penyebab
amputasi, dengan angka rekurensi 50% UKD.7,10,11,13,15 Merokok, hipertensi dan
setelah tiga tahun.6,8,9 hiperlipidemia memberikan kontribusi pada
Kesintasan (survival rate) setelah am- perkembangan PAP. Adanya iskemia aki-
putasi ekstremitas bagian bawah pada indi- bat insufisiensi arteri perifer menyebabkan
vidu diabetes lebih rendah dibandingkan in- terjadinya penurunan oksigenasi di daerah
dividu nondiabetes. Mortalitas lima ulkus yang mempersulit penyembuhan. Se-
tahun paska amputasi sekitar 68%,3,8 dan lain itu PAP juga menyebabkan sulitnya
angka harapan hidup lebih rendah pada pa- pengaliran antibiotik ke daerah infek-
sien dengan tingkat amputasi yang lebih si.2,5,10,15
Langi: Penatalaksanaan ulkus kaki diabetik secara terpadu 97

PRINSIP PENATALAKSANAAN UL- terhadap keadaan insufisiensi arteri perifer


KUS KAKI DIABETES untuk memperlambat progresifitas sumbat-
an dan kebutuhan rekonstruksi pembuluh
Tujuan utama pengelolaan UKD yaitu
darah.11
untuk mengakses proses kearah penyem-
buhan luka secepat mungkin karena per-
baikan dari ulkus kaki dapat menurunkan Debridemen
kemungkinan terjadinya amputasi dan ke- Debridemen merupakan upaya untuk
matian pasien diabetes. Secara umum pe- membersihkan semua jaringan nekrotik,
ngelolaan UKD meliputi penanganan iske- karena luka tidak akan sembuh bila masih
mia, debridemen, penanganan luka, menu- terdapat jaringan nonviable, debris dan fis-
runkan tekanan plantar pedis (off-loading), tula. Tindakan debridemen juga dapat
penanganan bedah, penanganan komorbidi- menghilangkan koloni bakteri pada lu-
tas dan menurunkan risiko kekambuhan ka.10,15 Saat ini terdapat beberapa jenis de-
serta pengelolaan infeksi.10,16 bridemen yaitu autolitik, enzimatik, meka-
nik, biologik dan tajam.10
Penanganan iskemia Debridemen dilakukan terhadap semua
jaringan lunak dan tulang yang nonviable.
Perfusi arteri merupakan hal penting
Tujuan debridemen yaitu untuk mengeva-
dalam proses penyembuhan dan harus dini-
kuasi jaringan yang terkontaminasi bakteri,
lai awal pada pasien UKD. Penilaian kom-
mengangkat jaringan nekrotik sehingga da-
petensi vaskular pedis pada UKD seringkali
pat mempercepat penyembuhan, menghi-
memerlukan bantuan pemeriksaan penun-
langkan jaringan kalus serta mengurangi
jang seperti MRI angiogram, doppler mau-
risiko infeksi lokal.16 Debridemen yang
pun angiografi. Pemeriksaan sederhana se-
teratur dan dilakukan secara terjadwal akan
perti perabaan pulsasi arteri poplitea,
memelihara ulkus tetap bersih dan merang-
tibialis posterior dan dorsalis pedis dapat
sang terbentuknya jaringan granulasi sehat
dilakukan pada kasus UKD kecil yang ti-
sehingga dapat mempercepat proses pe-
dak disertai edema ataupun selulitis yang
nyembuhan ulkus.6,19
luas. Ulkus atau gangren kaki tidak akan
sembuh bahkan dapat menyerang tempat
lain di kemudian hari bila penyempitan Perawatan luka
pembuluh darah kaki tidak diatasi.1,11,17 Prinsip perawatan luka yaitu mencipta-
Bila pemeriksaan kompetensi vaskular kan lingkungan moist wound healing atau
menunjukkan adanya penyumbatan, bedah menjaga agar luka senantiasa dalam keada-
vaskular rekonstruktif dapat meningkat- an lembab.6,10,11 Bila ulkus memroduksi se-
kan prognosis dan selayaknya diperlukan kret banyak maka untuk pembalut (dress-
sebelum dilakukan debridemen luas atau ing) digunakan yang bersifat absorben. Se-
amputasi parsial. Beberapa tindakan bedah baliknya bila ulkus kering maka digunakan
vaskular yang dapat dilakukan antara pembalut yang mampu melembabkan ul-
lain angioplasti transluminal perkutaneus kus. Bila ulkus cukup lembab, maka dipilih
(ATP), tromboarterektomi dan bedah pintas pembalut ulkus yang dapat mempertahan-
terbuka (by pass).14,18 Berdasarkan peneliti- kan kelembaban.1,6,15
an, revaskularisasi agresif pada tungkai Disamping bertujuan untuk menjaga
yang mengalami iskemia dapat menghin- kelembaban, penggunaan pembalut juga se-
darkan amputasi dalam periode tiga tahun layaknya mempertimbangkan ukuran, ke-
sebesar 98%. Bedah bypass dilaporkan e- dalaman dan lokasi ulkus.15 Untuk pemba-
fektif untuk jangka panjang. Kesintas- lut ulkus dapat digunakan pembalut kon-
an (survival rate) dari ekstremitas bawah vensional yaitu kasa steril yang dilembab-
dalam 10 tahun pada mereka yang mema- kan dengan NaCl 0,9% maupun pembalut
kai prosedur bedah bypass lebih dari modern yang tersedia saat ini. Beberapa
90%.15 Penggunaan antiplatelet ditujukan jenis pembalut modern yang sering dipakai
98 Jurnal Biomedik, Volume 3, Nomor 2, Juli 2011, hlm. 95-101

dalam perawatan luka, seperti: hydrocol- feksi, misalnya ulkus dengan daerah infeksi
loid, hydrogel, calcium alginate, foam dan yang luas atau adanya gangren gas. Tindak-
sebagainya. Pemilihan pembalut yang akan an bedah emergensi dapat berupa amputasi
digunakan hendaknya senantiasa memper- atau debridemen jaringan nekrotik.10,20
timbangkan cost effective dan kemampuan
ekonomi pasien.1,10 Penanganan komorbiditas
Diabetes merupakan penyakit sistemik
Menurunkan tekanan pada plantar pe- multiorgan sehingga komorbiditas lain ha-
dis (off-loading) rus dinilai dan dikelola melalui pendekatan
Tindakan off-loading merupakan salah tim multidisiplin untuk mendapatkan hasil
satu prinsip utama dalam penatalaksanaan yang optimal. Komplikasi kronik lain baik
ulkus kronik dengan dasar neuropati. Tin- mikro maupun makroangiopati yang me-
dakan ini bertujuan untuk mengurangi te- nyertai harus diidentifikasi dan dikelola se-
kanan pada telapak kaki.1,16 Tindakan off- cara holistik. Kepatuhan pasien juga meru-
loading dapat dilakukan secara parsial pakan hal yang penting dalam menentukan
maupun total. Mengurangi tekanan pada ul- hasil pengobatan.10
kus neuropati dapat mengurangi trauma dan
mempercepat proses penyembuhan lu- Mencegah kambuhnya ulkus
ka.6,10,16 Kaki yang mengalami ulkus harus
sedapat mungkin dibebaskan dari penekan- Pencegahan dianggap sebagai elemen
an. Sepatu pasien harus dimodifikasi sesuai kunci dalam menghindari amputasi kaki.
dengan bentuk kaki dan lokasi ulkus.6 Pasien diajarkan untuk memperhatikan ke-
Metode yang dipilih untuk off-loading ter- bersihan kaki, memeriksa kaki setiap hari,
gantung dari karakteristik fisik pasien, menggunakan alas kaki yang tepat, meng-
lokasi luka, derajat keparahan dan ketaatan obati segera jika terdapat luka, pemeriksaan
pasien.10 Beberapa metode off loading an- rutin ke podiatri, termasuk debridemen
tara lain: total non-weight bearing, total pada kapalan dan kuku kaki yang tumbuh
contact cast, foot cast dan boots, sepatu ke dalam. Sepatu dengan sol yang mengu-
yang dimodifikasi (half shoe, wedge shoe), rangi tekanan kaki dan kotak yang melin-
serta alat penyanggah tubuh seperti dungi kaki berisiko tinggi merupakan ele-
cruthes dan walker.1,10,15 men penting dari program pencegahan.2

Penanganan bedah Pengelolaan infeksi


Jenis tindakan bedah tergantung dari Infeksi pada UKD merupakan faktor
berat ringannya UKD. Tindakan elektif di- pemberat yang turut menentukan derajat
tujukan untuk menghilangkan nyeri akibat agresifitas tindakan yang diperlukan dalam
deformitas seperti pada kelainan spur tu- pengelolaan UKD. Dilain pihak infeksi pa-
lang, hammertoes atau bunions. Tindakan da UKD mempunyai permasalahan sendiri
bedah profilaktif diindikasikan untuk men- dengan adanya berbagai risiko seperti sta-
cegah terjadinya ulkus atau ulkus berulang tus lokalis maupun sistemik yang imuno-
pada pasien yang mengalami neuropati de- compromised pada pasien DM, resistensi
ngan melakukan koreksi deformitas sendi, mikroba terhadap antibiotik, dan jenis mi-
tulang atau tendon. Bedah kuratif diindika- kroba yang adakalanya memerlukan anti-
sikan bila ulkus tidak sembuh dengan pera- biotik spesifik yang mahal dan berkepan-
watan konservatif, misalnya angioplasti jangan. Dasar utama pemilihan antibiotik
atau bedah vaskular. Osteomielitis kronis dalam penatalaksanaa UKD yaitu berdasar-
merupakan indikasi bedah kuratif.10 Bedah kan hasil kultur sekret dan sensitivitas sel.
emergensi adalah tindakan yang paling se- Cara pengambilan dan penanganan sampel
ring dilakukan, dan diindikasikan untuk berpengaruh besar terhadap ketepatan hasil
menghambat atau menghentikan proses in- kultur kuman. Telah dilaporkan bahwa ter-
Langi: Penatalaksanaan ulkus kaki diabetik secara terpadu 99

dapat perbedaan jenis kuman yang didapat kit untuk manajemen yang tepat. Debride-
pada bahan sekret yang diambil superfisial men dilakukan sejak awal dengan tetap
dengan yang deep swab.5,10 memperhitungkan ada/tidaknya kompetensi
Sambil menunggu hasil kultur, pada vaskular tungkai. Jaringan yang diambil da-
UKD yang terinfeksi penggunaan antibiotik ri luka dikirim untuk kultur. Tindakan ini
dapat dipilih secara empirik. Terdapat ber- mungkin perlu dilakukan berulang untuk
bagai klasifikasi pengelolaan kaki diabe- mengendalikan infeksi.23 Terapi empiris
tes mulai dari yang sederhana sampai kom- untuk infeksi berat harus berspektrum luas
pleks yang mencantumkan tuntunan peng- dan diberikan secara intravena dengan
gunaan antibiotika. Beberapa klasifikasi mempertimbangkan faktor lain seperti bi-
tersebut yaitu klasifikasi Wagner, The Uni- aya, toleransi pasien, alergi, potensi efek
versity of Texas classification, klasifikasi yang merugikan ginjal atau hati, kemudah-
PEDIS oleh International Consensus on the an pemberian dan pola resistensi antibiotik
Diabetic Foot, dan klasifikasi berdasarkan setempat.5,18 Infeksi kronik dan berat yang
derajat keparahan oleh Infectious Disease mengancam tungkai umumnya disebabkan
Society of America (IDSA).6,21,22 oleh infeksi polimikroba yang mencakup
Secara klinis, infeksi yang tidak meng- organisme aerob gram positif dan negatif
ancam tungkai biasanya terlihat sebagai ul- serta anaerob.2,5,15,23 Pseudomonas sering
serasi yang dangkal, tanpa iskemia yang diperoleh dari isolasi luka yang mengguna-
nyata, tidak mengenai tulang atau sendi, kan pembalutan basah; enterokokus umum-
dan area selulitis tidak lebih dari 2 cm dari nya dibiakkan dari pasien yang sebelumnya
pusat ulkus. Pasien tampak stabil serta ti- telah diterapi sefalosporin; kuman anaerob
dak memperlihatkan tanda dan gejala infek- sering ditemukan pada luka dengan keter-
si sistemik. Pengelolaan pasien dilakukan libatan jaringan yang dalam dan nekrosis;
sebagai pasien rawat jalan. Perawatan di dan methicillin-resistant Staphylococcy au-
rumah sakit hanya bila tidak ada perbaikan reus (MRSA) sering diperoleh pada pasien
setelah 48-72 jam atau kondisi membu- yang sebelumnya pernah di rawat inap atau
ruk.6 Antibiotik langsung diberikan diser- diberikan terapi antibiotika.5,12,20,22 Bila
tai pembersihan dan debridemen ulkus. Pe- terjadi infeksi berulang meskipun terapi
nanganan ulkus ini selanjutnya seperti yang antibiotik tetap diberikan, perlu dilakukan
diuraikan sebelumnya, koreksi hiperglike- kultur ulang jaringan untuk menyingkirkan
mia dan kontrol komorbid lainnya. Respon infeksi superimposed.10,22
terhadap pengobatan dievaluasi setelah 48- Lamanya pemberian antibiotik tergan-
72 jam untuk menilai tindakan yang mung- tung pada gejala klinis, luas dan dalamnya
kin perlu dilakukan.6,10,12 Aspek pencegah- jaringan yang terkena serta beratnya infek-
an, pendidikan pasien, perawatan dan pena- si.20,22 Pada infeksi ringan sampai sedang
nganan ortotik juga dilakukan secara terpadu.12 antibiotik dapat diberikan 1-2 minggu, se-
Infeksi disebut mengancam bila UKD dangkan pada infeksi yang lebih berat anti-
berupa ulkus yang dalam sampai mengenai biotik diberikan 2-4 minggu. Debridemen
tulang dengan selulitis yang lebih dari 2 cm yang adekuat, reseksi atau amputasi jaring-
dan/atau disertai gambaran klinis infeksi an nekrosis dapat mempersingkat waktu
sistemik berupa demam, edema, limfangi- pemberian antibiotik.2,5,22 Pada kasus os-
tis, hiperglikemia, leukositosis dan iskemia. teomielitis, jika tulang terinfeksi tidak di-
Perlu diperhatikan, tidak semua pasien dia- evakuasi, maka antibiotik harus diberikan
betes dengan infeksi yang relatif berat akan selama 6-8 minggu, bahkan beberapa litera-
menunjukkan tanda dan gejala sistemik se- tur menganjurkan sampai 6 bulan.10,16 Jika
perti tersebut diatas. Jika ulkus mencapai semua tulang yang terinfeksi dievakuasi,
tulang atau sendi, kemungkinan besar akan antibiotik dapat diberikan lebih singkat,
terjadi osteomielitis.10,23 yaitu 1-2 minggu dan ditujukan untuk in-
Pasien dengan infeksi yang mengan- feksi jaringan lunak.5,10
cam ekstremitas harus dirawat di rumah sa- Efektivitas terapi dievaluasi dengan
100 Jurnal Biomedik, Volume 3, Nomor 2, Juli 2011, hlm. 95-101

beberapa parameter, antara lain respon tissue. Platelet-derived growth factor beca-
klinis pasien, suhu, leukosit dan hitung plermin (PDGF-b, becaplermin) digunakan
jenis, laju endap darah dan penanda infla- untuk merangsang penyembuhan luka dan
masi lainnya, kontrol gula darah dan para- dianjurkan pada neuropati kaki diabetes.
meter metabolik, serta tanda-tanda penyem- Pemakaian bahan ini secara topikal dikata-
buhan luka dan peradangan. Pada keadaan kan efektif dan aman, namun belum terda-
kompetensi vaskular yang baik, pengukur- pat data yang memadai.4 Produk bio-
an suhu kaki merupakan parameter klinis engineered tissue seperti bioengineered skin
inflamasi yang dapat dipegang. Jika ter- (Apligraf) dan human dermis (Dermagraf)
dapat iskemi jaringan luka, antibiotik merupakan implan biologik aktif untuk
mungkin tidak dapat mencapai lokasi yang mempercepat penyembuhan ulkus kronik.
terinfeksi. Oleh karena itu, prosedur re- Produk bioengineered ini bekerja pada sis-
konstruksi vaskular mungkin harus dilaku- tem penghantaran growth factor dan kom-
kan untuk meningkatkan aliran darah ke ponen matriks dermal melalui aktifitas fi-
jaringan yang terinfeksi.5,10 broblas yang merangsang pertumbuhan ja-
ringan dan penutupan luka.10,18,23
TERAPI LAIN
Terapi ajuvan yang sering digunakan SIMPULAN
dalam pengelolaan UKD ialah terapi oksi- Patogenesis utama UKD yaitu neuro-
gen hiperbarik (TOH). TOH merupakan pati dan iskemia tungkai. Pengeloaan UKD
pemberian oksigen untuk pasien dengan hendaknya dilakukan melalui pendekatan
tekanan yang lebih tinggi dari tekanan at- patofisiologi. Prinsip pengelolaan UKD se-
mosfer normal. Hal ini menyebabkan pe- cara terpadu ialah adekuasi penanganan
ningkatan konsentrasi oksigen dalam darah iskemia, debridemen, penanganan luka, off-
dan peningkatan kapasitas difusi jaringan. loading, penanganan bedah, penanganan
Tekanan parsial oksigen dalam jaringan komorbiditas, menurunkan resiko kekam-
yang meningkat akan merangsang neovas- buhan dan penanganan infeksi. Pengelolaan
kularisasi dan replikasi fibroblas serta me- UKD terinfeksi terbagi atas infeksi yang
ningkatkan fagositosis dan leucocyte-medi- tidak mengancam tungkai dan yang meng-
ated killing dari bakteri.10,15,24 Indikasi ancam tungkai. Pemilihan antibiotik sesuai
pemberian TOH yaitu UKD yang meme- dengan hasil uji kultur dan sensitivitas,
nuhi kriteria luka derajat 3 dalam klasifika- sedangkan lamanya pemberian tergantung
si Wagner dan luka yang gagal sembuh se- pada keadaan klinis dan beratnya infeksi.
telah 30 hari pengobatan standar, dan Terapi ajuvan lain yang dikembangkan da-
terutama ditujukan pada ulkus kronis de- lam pengelolaan UKD antara lain terapi
ngan iskemia.15,24 oksigen hiperbarik, pemberian granulocyte
Penggunaan granulocyte colony stimu- colony stimulating factors dan faktor per-
lating factors (GCSF) merupakan terapi al- tumbuhan, serta bioengineered tissue.
ternatif yang masih dalam penelitian.
GSCF diketahui dapat meningkatkan ak-
DAFTAR PUSTAKA
tivitas neutrofil pada pasien DM.18 Pem-
berian suntikan GSCF subkutan selama sa- 1. Waspadji S. Kaki diabetes. Dalam: Sudayo
tu minggu pada UKD yang disertai infeksi AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata
terbukti mempercepat eradikasi kuman, MK, Setiati S, editor. Buku Ajar Ilmu
memperpendek waktu pemberian antibiotik Penyakit Dalam (Edisi V Jilid III).
Jakarta: Internal Publishing, 2009; p 1961-
serta menurunkan angka amputasi.4,18
7.
Terapi ajuvan lain dalam pengelolaan 2. Amstrong DG, Lavery AL. Diabetic foot
UKD yang masih dalam tahap penelitan ulcer: prevention, diagnosis and
yaitu penggunaan faktor pertumbuhan classification. Am Fam Physician.
(growth factor therapy) dan bioengineered 1998;5(6):1325-32.
Langi: Penatalaksanaan ulkus kaki diabetik secara terpadu 101

3. Reiber GE, LeMasster JW. Epidemiology The Diabetic Foot (Seventh Edition).
and economic impact of foot ulcers and Philadelphia: Mosby Elsevier, 2008; p.
amputations in people with diabetes. In: 319-28.
Browker JH, Pfeifer MA, editors. Levin 14. Jeffcoate WJ, Hading KG. Diabetic foot
and ONeals The Diabetic Foot (Seventh ulcers. Lancet. 2003;261:1545-51.
Edition). Philadelphia: Mosby Elsevier, 15. Clayton W, Elasi TA. A review of
2008; p. 3-22. pathophysiology, classification and treat-
4. Katsilambors N, Dounis E, Tsapogas P, ment of foot ulcers in diabetic patients.
Tentolouris N. Atlas of the Diabetic Clinical Diabetes. 2009;27(2):52-8.
Foot. London: John Willey and sons LTD, 16. Munro N, Rich N, McIntosh C, Foster
2003. AVM, Edmonds ME. Infections in the
5. Lipsky BA. Infectious problems of the foot diabetic foot: a practical management
in diabetic patients. In: Browker JH, guide to foot care. British Journal of
Pfeifer MA, editors. Levin and ONeals Diabetes & Vascular Disease. 2003;3:132-
The Diabetic Foot (Seventh Edition). 6.
Philadelphia: Mosby Elsevier, 2008; p. 17. Boike AM, Hall JO. A practical guide for
305-18. examining and treating the diabetic foot.
6. American Diabetes Association. Consensus Cleveland Clinic Journal of Medicine.
Development Conference on Diabetic 2002;69(4):342-8.
Foot Wound Care. Diabetes Care. 1999; 18. Schaper NC, Prompers LM, Huijoeberts
22(8):1354-60. MSP. Treatment of diabetic ulcers.
7. Boulton AJ. The diabetic foot: from art to Immun Endoc & Metab Agents in Med
science. The 18th Camillo Golgi lecture. Chem. 2007; 7: 95-104.
Diabetologia 2004; 47:1343-53. 19. Cavanagh PR, Lipsky BA, Bradbury
8. Reiber GE, Vileikyte L, Boyko EJ, del AW, Botek G. Treatment for diabetic foot
Aguila M, Smith DG, Lavery LA, et al. ulcers. Lancet. 2005;366: 1725-33.
Causal pathways for incident lower 20. Edmonds ME, Foster EVM, Sanders LF.
extremity ulcers in patients with diabetes A Practical Manual of Diabetic Foot Care.
from two settings. Diabetes Care. 1999; London: Blackwell Publishing, 2004.
22:157-62. 21. Brodsky JW. Classification of foot lesions
9. Boulton AJ, Vileikyte L, Ragnarson- in diabetic Patients. In: Browker JH,
Tennvall G, Apelqvist J. The global Pfeifer MA, editors. Levin and ONeals
burden of diabetic foot disease. Lancet. The Diabetic Foot (Seventh Edition).
2005;366:1719-24. Philadelphia: Mosby Elsevier, 2008; p.
10. Frykberg RG, Amstrong DG, Giurini 221-6.
JM, Zgonis T, Driver VR, Kravitz SR, 22. Lipsky BA, Berendt AR, Deery HG,
et al. Diabetic foot disorders a clinical Embil JM, Joseph WS, Karchmer AW,
practice guidelines. The Journal of Foot et al. Diagnosis and treatment of diabetic
and Ankle Surgery. 2000;35(5):S2-59. foot infections. Clinical Infectious
11. Bowering CCK. Diabetic foot ulcers pa- Disease. 2004;39:885-910
thophysiology, assessment and therapy. 23. Frykberg RG. Diabetic foot ulcers:
Canadian Family Phycisian. pathogenesis and management. Am Fam
2001;47:1007-16. Physician. 2002;66:1655-62.
12. Bader MS. Diabetic foot infection. Ameri- 24. Stone JA, Cianci P. The adjunctive
can Family Physicians. 2008;78(1):71-9. hyperbaric oxygen therapy in the treat-
13. Conway KP, Harding KG. Wound heal- ment of lower extremity wounds in
ing in the diabetic foot. In: Browker JH, patients with diabetes. Diabetes Spectrum.
Pfeifer MA, editors. Levin and ONeals 1997;10(2):118-23.