You are on page 1of 25

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 62 tahun
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Nomor Rekam Medis : 111162
Alamat : Enrekang
Tanggal Pemeriksaan : 6 November 2017
TempatPemeriksaan : Poliklinik BKMM

II. ANAMNESIS
Keluhan utama : Penglihatan kabur pada kedua mata
Anamnesis terpimpin : dialami sejak 3 tahun yang lalu secara perlahan-lahan. Penglihatan
dirasakan seperti berkabut. Keluhan memberat 2 bulan terakhir disertai dengan rasa tidak
nyaman pada mata dan sakit kepala, pasien juga merasakan silau yang kadang muncul
terutama saat siang hari. Nyeri pada mata tidak ada, riwayat mata merah tidak ada, riwayat
trauma mata tidak ada, gatal tidak ada, hiperlakrimasi tidak ada, kotoran mata berlebih
tidak ada, rasa berpasir tidak ada, riwayat penggunaan kaca mata ada sejak tahun 2007,
riwayat penyakit HT ada sejak 10 tahun lalu, Disangkal.

Riwayat Penyakit Terdahulu


Riwayat penyakit serupa sebelumnya tidak ada.
Riwayat menggunakan kacamata
Riwayat trauma tidak ada.
Riwayat merokok tidak ada.
Riwayat diabetes melitus tidak ada.
Riwayat hipertensi ada sejak 10 tahun lalu dan rutin berobat.
Riwayat Pengobatan
Riwayat pemakaian obat-obatan seperti steroid tidak ada.
Riwayat berobat di dokter spesialis mata sebelumnya tidak ada.
1
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga tidak diketahui

III. STATUS GENERALIS


Keadaan Umum : Sakit sedang, Gizi cukup, Compos mentis
Tanda vital :
Tekanan Darah : 160/100mmHg
Nadi : 88 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5 C

IV. FOTO KLINIS

a
b c

Gambar 1. (a) mata pasien katarak. (b) mata kiri. (c) mata kanan

2
V. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
PemeriksaanVisus :
VOD : 20/200 VOS : 1/60
Inspeksi
Pemeriksaan OD OS
Palpebra edema (-) edema (-)
Apparatus lakrimalis lakrimasi (-) lakrimasi (-)
Silia sekret (-) sekret (-)
Konjungtiva hiperemis (-) hiperemis (-)
Mekanisme muskular

Kornea Jernih Jernih


Iris Coklat Coklat
Pupil Bulat, isokor Bulat, isokor

Palpasi
Palpasi OD OS
TIO Tn Tn
NyeriTekan (-) (-)
Massa Tumor (-) (-)
Glandula Preaurikuler Pembesaran (-) Pembesaran (-)

NCT : 18/19 mmHg


Penyinaran Oblik
Pemeriksaan OD OS
Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Kornea Jernih Jernih
Bilik Mata Depan Normal Normal
Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)
Pupil Bulat, sentral, RC (+) Bulat, sentral, RC (+)

3
Lensa Kesan keruh, iris Kesan keruh, iris shadow
shadow (+) (+)

Color Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

Slit Lamp
SLOD : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD dangkal dengan VH4, iris coklat,
kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+) , lensa keruh dengan intumesens lensa dan iris shadow
(+).
SLOS : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD dangkal dengan VH3, iris coklat,
kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+), lensa keruh dengan intumesen lensa dan iris shadow
(+).

Funduskopi
FODS : Refleks fundus terhalang oleh kekeruhan media refrakta.

VI. Resume
Seorang perempuan usia 86 tahun datang ke poliklinik mata RSP Unhas dengan
keluhan penurunan visus pada kedua mata yang dialami sejak 2 tahun yang lalu secara
perlahan-lahan. Penglihatan dirasakan seperti berkabut. Keluhan memberat 1 bulan terakhir
disertai dengan rasa tidak nyaman pada mata dan sakit kepala, pasien juga merasakan silau
yang kadang muncul terutama saat siang hari, riwayat penyakit HT (+).
Dari pemeriksaan status generalis pasien sakit sedang, gizi cukup, dan
composmentis. Tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 88 x/menit, pernafasan
20x/menit, dan suhu 36,5 C. Dari pemeriksaan oftalmologi, didaptkan ODS lensa keruh,
pada palpasi ODS dalam batas normal dengan NCT 18/19 mmHg. Pada pemeriksaan visus
didapatkan VOD : 20/200 dan VOS : 1/60. Pada penyinaran oblik tampak lensa keruh
pada kedua lensa. Dari pemeriksaan slit lamp didapatkan SLODS : Hiperemis (-), kornea
jernih, BMD dengan VH3, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+), lensa keruh
dengan iris shadow (+) . Dari hasil funduskopi didapatkan Refleks fundus terhalang oleh
kekeruhan media refrakta.

4
VII. Diagnosis kerja
ODS Katarak Senil Imatur + HT Grade II

VIII. Penatalaksanaan
Regulasi tekanan darah
Phaco emulsification
IX. Prognosis
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Visam : Dubia et Bonam
Quo as Sanationam : Bonam
Quo ad Comesticam : Bonam

X. Diskusi
Berdasarkan anamnesis dari Seorang perempuan usia 62 tahun dengan keluhan
penurunan visus pada kedua mata yang dialami sejak 3 tahun yang lalu secara perlahan-
lahan. Penglihatan dirasakan seperti berkabut. Keluhan memberat 2 bulan terakhir disertai
dengan rasa tidak nyaman pada mata dan sakit kepala, pasien juga merasakan silau yang
kadang muncul terutama saat siang hari. Adanya suatu penurunan visus yang terjadi
secara perlahan-lahan dan adanya suatu fotofobia yang terjadi pada usia tua merupakan
tanda dari suatu katarak senile.
Dari pemeriksaan status generalis pasien sakit sedang, gizi cukup, dan
composmentis. Tanda vital dalam batas normal. Dari pemeriksaan oftalmologi, didaptkan
ODS lensa keruh, pada palpasi ODS dalam batas normal. Pada pemeriksaan visus
didapatkan VOD : 20/200 dan VOS : 1/60. Pada penyinaran oblik tampak lensa keruh
pada kedua mata. Dari pemeriksaan slit lamp didapatkan SLODS : Hiperemis (-), kornea
jernih, BMD kesan normal dengan VH3, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+),
lensa keruh. Hasil FODS didapatkan Refleks fundus terhalang oleh kekeruhan media
refrakta.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi pada pasien ini,
maka dapat didiagnosa dengan ODS Katarak Senil Imatur. Pada keadaan normal, lensa
memusatkan arah sinar, kekeruhan pada lensa akan menyebabkan sinar menjadi menyebar
atau terhalang. Jika kekeruhan lensa berukuran kecil dan berada pada daerah perifer
lensa, hanya akan sedikit atau tidak akan mengganggu pada penglihatan. Sebaliknya,

5
ketika kekeruhan terletak di tengah lensa dan bersifat padat atau tebal, arah sinar akan
terganggu. Hal ini akan menyebabkan penglihatan menjadi kabur.
Anjuran terapi bagi pasien ini adalah tindakan operasi berupa Phaco emulsification.
Serta melakukan beberapa pemeriksaan yang diperlukan sebelum dilakukan tindakan
operasi, seperti pemeriksaan laboratorium. Terdapat empat pilihan teknik pembedahan
pada katarak yakni, ICCE (Intracapsular Cataract Extraction), ECCE (Extra Capsular
Cataract Extraction), SICS (Small Incision Cataract Surgery) dan Phaco Emulsification.
Pasien ini dianjurkan untuk dilakukan Phaco Emulsification karena teknik ini
memiliki beberapa kelebihan dibanding teknik lain. Kelebihannya yaitu luka insisi yang
tidak memerlukan penjahitan, sehingga risiko astigmatisme lebih kecil, luka insisi minimal
sehingga darah yang keluar sedikit, masa penyembuhan cepat, waktu yang diperlukan saat
operasi singkat, dan anestesi yang digunkan adalah jenis topikal. Intraocular lens merupakan
lensa buatan yang ditanamkan kedalam mata pasien untuk mengganti lensa mata yang rusak
dan sebagai salah satu cara terbaik untuk rehabilitasi pasien katarak. Jika setelah operasi
visus masih belum target 6/6, maka pasien dapat diberikan kaca mata sesuai hasil trial frame
lensa yang cocok.

6
KATARAK SENIL

I. PENDAHULUAN
Katarak merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan kejernihan pada lensa
yang menyebabkan gangguan penglihatan.(1) Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi
pada lensa. Pada keadaan normal, lensa memusatkan arah sinar. Kekeruhan pada lensa
akan menyebabkan sinar menjadi menyebar atau terhalang. Jika kekeruhan lensa
berukuran kecil dan berada pada daerah perifer lensa, hanya akan sedikit atau tidak ada
gangguan pada penglihatan. Sebaliknya, ketika kekeruhan terletak di tengah lensa dan
bersifat padat atau tebal, arah sinar akan terganggu. Hal ini akan menyebabkan
penglihatan menjadi kabur.(2)
Proses penuaan merupakan penyebab yang paling umum pada katarak, tapi
terdapat banyak faktor lain yang dapat terlibat seperti trauma, toxins, penyakit sistemik
(seperti diabetes), merokok dan herediter. Age-related cataract merupakan penyebab
umum dari gangguan penglihatan.(3)

II. EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), katarak merupakan
kelainan mata yang paling sering menyebabkan kebutaan seperti tercantum pada gambar
1.(4)
Oncocerciasis
0.7%
Trachoma 3% Lainnya 11%
Childhood blindness 3%
Gambar 3.
Penyebab
Katarak 39%
Diabetik retinopathy 4% kebutaan
ARMD 7% 18% terbanyak(4)
Kelainan
Glaukoma
refraksi
10%
yang tidak
terkoreksi

Di Indonesia hasil survei kebutaan dengan menggunakan metode


RapidAssessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang baru dilakukan di 3 provinsi
(NTB, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan) tahun 2013-2014 didapatkan prevelensi

7
kebutaan pada masyarakat usia >50 tahun rata-rata di 3 provinsi tersebut adalah 3,2 %
dengan penyebab utama adalah katarak (71%). (13)
Studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu 65-74 tahun
adalah sebanyak 50% dan meningkat hingga 70% pada individu diatas 75 tahun. Katarak
senilis merupakan bentuk katarak yang paling sering ditemukan dengan persentase 90%
dari total katarak. Terdaapat sekitar 5% pada usia 70 tahun dan 10% pada usia 80 tahun
yang membutuhkan operasi katarak.(1, 3)
Sperduto dan Hiller menyatakan bahwa katarak ditemukan lebih sering pada
wanita dibanding pria. Pada penelitian lain oleh Nishikori dan Yamomoto, rasio pria dan
wanita adalah 1:8 dengan dominasi pasien wanita yang berusia lebih dari 65 tahun dan
menjalani operasi katarak.(11)

III. Anatomi Lensa


Lensa menyumbang kekuatan refraksi sebanyak 10-20 dioptri dalam penglihatan,
bergantung pada akomodasi masing-masing individu. Lensa adalah struktur bikonveks,
avaskular, dan hampir transparan sempurna. Kurvatura dari permukaan posterior yang
memiliki radius 6 mm, memiliki kekuatan refraksi lebih besar dibandingkan permukaan
anterior yang memiliki radius 10 mm. Lensa memiliki ketebalan sekitar 4 mm dan
diameternya 9 mm. Lensa tergantung pada zonula di belakang iris, zonula yang
menghubungkannya dengan corpus ciliaris. Pada anterior lensa terdapat aqueous humor,
di sebelah posteriornya terdapat corpus vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membran
semipermeable yang membuat air dan elektrolit dapat masuk. Kapsul ini merupakan
membran dasar yang melindungi nukleus, korteks dan epitel lensa.2

8
Gambar 1. Anatomi lensa
1. Kapsul
Kapsul lensa merupakan membran tipis, transparan, yang mengelilingi lensa
dengan permukaan anterior lebih tebal dibandingkan permukaan posterior.Bagian paling
tebal kapsul berada di bagian anterior dan posterior zona pre-equator dan bagian paling
tipis berada di bagian tengah kutub posterior.4
2. Epitel anterior
Tepat di belakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel kubus. Pada
daerah equator, sel tersebut berubah menjadi sel-sel kolumnair, sel tersebut lalu
berdiferensiasi menjadi serat lensa. Tidak terdapat epitel pada sisi posterior lensa.4
3. Serat lensa
Sel-sel berubah menjadi serat, lalu serat baru akan terbentuk dan akan menekan
serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Nukleus terdiri dari serat yang
paling lama. Serat-serat paling tua yang terbentuk merupakan nukleus embrionik yang
diproduksi pada fase embrionik (usia gestasi 3 minggu) dan masih menetap hingga
sekarang. Berdasarkan periode perkembangan, nukleus lensa dibagi menjadi nucleus
embrionik, nukleus fetal, nukleus infantile, dan nukleus dewasa. Serat-serat yang baru
akan membentuk korteks dari lensa.4

IV. Fisiologi Lensa


Lensa merupakan struktur transparan yang memiliki peran utama dalam
memfokuskan cahaya. Fisiologi lensa terdiri dari transparansi, metabolism, dan
akomodasi lensa.4
1. Transparansi Lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Faktor yang berperan
dalam transparansi lensa adalah avaskularitas, sel-sel lensa yang tersusun rapat, susunan
protein lensa, kapsul lensa yang semipermeable, pump mechanism dari serat lensa yang

9
mengatur keseimbangan air dan elektrolit lensa.4
2. Keseimbangan Elektrolit dan Air Dalam Lensa
Lensa normal mengandung 65% air, dan jumlah ini tidak banyak berubah seiring
bertambahnya usia. Konsentrasi sodium di luar lensa lebih tinggi yaitu sekitar 150M
dan potasium sekitar 5M.
Keseimbangan elektrolit antara lingkungan dalam dan luar lensa sangat tergantung
dari permeabilitas membran sel lensa dan aktivitas pompa sodium, Na+, K+ -ATPase.
Inhibisi Na+, K+ -ATPase dapat mengakibatkan hilangnya keseimbangan elektrolit dan
meningkatnya air di dalam lensa.4
Keseimbangan kalsium juga sangant penting bagi lensa. Konsentrasi kalsium di
dalam sel yang normal adalah 30M, sedangkan di luar lensa adalah sekitar 2M.

Perbedaan konsentrasi kalsium ini diatur sepenuhnya oleh pompa kalsium Ca2+-ATPase.

Hilangnya keseimbangan kalsium ini dapat menyebabkan depresi metabolisme glukosa,


pembentukan protein high-molecular-weight dan aktivasi protease destruktif.4
Transpor membran dan permeabilitas sangat penting untuk kebutuhan nutrisi lensa.
Asam amino aktif masuk ke dalam lensa melalui pompa sodium yang berada di sel epitel.
Glukosa memasuki lensa secara difusi terfasilitasi, tidak langsung seperti sistem transport
aktif.4

Gambar 2. Komposisi kimia lensa

3. Akomodasi Lensa
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk

10
memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, m.ciliaris berelaksasi dan menegangkan
serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukuran terkecil.
Dalam posisi ini, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya akan terfokus
pada retina. Sementara untuk cahaya yang berjarak dekat, m.ciliaris berkontrasi sehingga
tegangan zonula berkurang. Artinya, lensa yang elastis menjadi lebih sferis diiringi
oleh peningkatan daya biasnya. Kerja sama fisiologis antara korpus siliaris, zonula dan
lensa untuk memfokuskan benda jatuh pada retina dikenal dengan akomodasi. Hal ini
berkurang seiring dengan bertambahnya usia.4
V. Etiologi dan Patofisiologi
Katarak senilis merupakan jenis katarak didapat yang paling sering ditemukan,
biasanya pada usia di atas 50 tahun. Katarak senilis secara esensial merupakan proses
penuaan. Walaupun penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui
secara pasti, terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan katarak.4
1. Usia
Usia merupakan faktor resiko yang sangat penting sehingga katarak senilis juga
disebut age-related cataract. Seperti yang telah disebutkan, katarak ini terjadi setelah
usia 50 tahun. Apabila terjadi sebelum usia 45 tahun, disebut katarak pre-senilis. Setelah
usia 70 tahun, 90% akan terkena katarak.
2. Jenis kelamin
Katarak dapat mengenai laki-laki maupun perempuan. Dalam beberapa penelitian
ditemukan prevalensi katarak lebih banyak lebih tinggi pada perempuan dibandingkan
laki-laki dengan usia yang sama.
3. Herediter
Hal ini disebabkan onset terjadinya katarak dan maturasinya berbeda pada tiap
keluarga.
4. Radiasi UV
Paparan sinar UV dari matahari dapat menyebabkan onset terjadinya katarak yang
lebih dini pada beberapa penelitian epidemiologi.
5. Faktor diet
Kurangnya asupan beberapa protein, asam amino, vitamin (riboflavin, vitamin E,
vitamin C) dapat menambah resiko terjadinya katarak dengan onset dini.
6. Rokok
Merokok dapat meningkatkan insidensi katarak nuklear. Rokok menyebabkan
akumulasi molekul pigmen (3-hydroxykyneurine and chromophores), yang
11
menyebabkan denaturasi protein.

Perubahan lensa pada usia lanjut:1


1. Kapsul
- Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)
- Mulai presbiopia
- Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
- Terlihat bahan granular
2. Epitel makin tipis
- Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat
- Bengkak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata
3. Serat lensa:
- Lebih iregular
- Pada korteks jelas kerusakan serat sel
- Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein
nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa, sedang warna
coklat protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding
normal.
- Korteks tidak berwarna karena:
Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.
Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.

Mekanisme hilangnya transparensi lensa dapat dibedakan berdasarkan katarak


nuklear dan kortikal.4
1. Katarak senile kortikal
Perubahan susunan biokimia menurunkan jumlah protein crystalline pada total
protein, asam amino, dan potassium yang berhubungan dengan peningkatan sodium yang
menyebabkan hidrasi lensa, diikuti dengan koagulasi protein lensa. Hal tersebut
merupakan penyebab utama terjadinya opasifikasi pada korteks.
2. Katarak senile nuklear
Perubahan degeneratif pada proses terjadinya sclerosis nucleus berhubungan
dengan dehidrasi dan kompaksi dari nukleus yang mengahsilkan katarak yang keras. Hal
ini diikuti dengan peningkatan protein yang tidak larut air. Pada katarak ini, jumlah
protein total dan kation dalam batas normal. Pada Brown sclerotic nucleus, sinar
12
ultraviolet lama kelamaan merubah protein nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein
dan tirosin) lensa, sedang warna coklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan
triptofan dibanding normal.

VI. Stadium Katarak


Katarak senilis berdasarkan stadium perkembangannya dibagi menjadi 4 stadium,
yaitu:1,4
1. Katarak Insipien-intumescent
Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator menuju
korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks.
Pada katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anteriorsubkapsular
posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda
Morgagni) pada katarak isnipien.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yang tidak
sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang
lama.

Gambar 3. Katarak insipient

Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa


akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa
mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga
bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini
akan dapat memberikan penyulit glaukoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada
katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan mipopia lentikular. Pada keadaan ini

13
dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan
bertambah, yang memberikan miopisasi.1

2. Katarak Imatur
Pada katarak senilis stadium imatur, sebagian lensa keruh atau katarak yang belum
mengenai seluruh lapis lensa, maka gambaran yang terlihat pada slit lamp adalah berupa
iris shadow. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat
meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma
sekunder (glaucoma fakomorfik).1

Gambar 4. Katarak imatur

3. Katarak Matur
Pada katarak senilis stadium matur, kekeruhan telah mengenai seluruh lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur
atau intumesen tidak dikeluarkan, maka cairan lensa akan keluar sehingga lensa kembali
pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan
mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal
kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris
negatif.1

14
Gambar 5. Katarak matur

4. Katarak Hipermatur
Pada katarak stadium hipermatur, terjadi proses degenerasi lanjut, dapat menjadi
keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi kelur dari kapsul lensa
sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Protein yang keluar
tersebut direspon sebagai benda asing oleh sel radang. Akibatnya, agregasi terbentuk dan
dapat menyumbat trabekular meshwork sehingga glaukoma terjadi (glaukoma fakolitik).
Pada pemeriksaan terlihat bilik mata depan dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-
kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi
kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal, korteks
yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan
bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks
lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.

15
Gambar 6. Katarak morgagni

VII. Klasifikasi Katarak Senilis


Berdasarkan lokasi terjadinya kekeruhan pada lensa, katarak dikelompokkan
menjadi tiga tipe, yaitu :
1. Nuklear
Pada dekade ke empat kehidupan, produksi serat lensa perifer menyebabkan
pengerasan keseluruhan lensa, terutama inti (nukleus). Inti berubah warna menjadi coklat
kekuningan (brunescent nuclear cataract). Perubahan warna ini bervariasi dari coklat
kekuningan sampai kehitaman pada seluruh lensa (black cataract). Oleh karena
meningkatnya daya refraksi lensa, katarak nuklear menyebabkan miopia lentikuler dan
kadang menghasilkan dua titik fokal pada lensa sehingga menghasilkan diplopia
monokuler. Perkembangan katarak nuklear sangat lambat. Oleh karena terjadinya miopia
lentikuler, visus dekat (bahkan tanpa kacamata) tetap baik untuk jangka waktu yang
lama.2

Gambar 7. Katarak nuclear

2. Kortikal
Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Katarak ini cenderung
bilateral tetapi seringkali asimetris. Efeknya terhadap fungsi penglihatan bervariasi,
tergantung dari jarak kekeruhan terhadap aksial penglihatan. Gejala katarak kortikal
adalah fotofobia dari sumber cahaya fokal yang terus-menerus dan diplopia monokular.
Katarak kortikal bervariasi kecepatan perkembangannya. Beberapa kekeruhan kortikal
tetap tidak berubah untuk periode yang lama, sementara yang lainnya berkembang
dengan cepat.5

16
3. Subkapsular posterior
Katarak subkapsular posterior atau katarak cupuliformis, terdapat pada korteks di
dekat kapsul posterior bagian sentral dan biasanya di aksial. Merupakan bentuk khusus
dari katarak cortical yang mulai dari axis visual dan termasuk katarak imatur. Pada awal
perkembangannya, katarak ini cenderung menimbulkan gangguan penglihatan karena
adanya keterlibatan sumbu penglihatan. Gejala yang timbul adalah fotofobia dan
penglihatan buruk dibawah kondisi cahaya terang, akomodasi, atau miotikum.
Ketajaman penglihatan dekat menjadi lebih berkurang daripada penglihatan jauh.
Beberapa pasien mengalami diplopia monocular.5 Biasanya katarak ini terjadi akibat
penyakit koroiditis, retinitis pigmentosa, ablasio retina, kontusio retina, dan myopia
tinggi yang mengakibatkan kelainan pada corpus vitreus.1

Gambar 8. Morfologi katarak

Ketiga tipe katarak tersebut dilakukan pemeriksaan slitlamp dengan menggunakan


kriteria Lens Opacity Classification System (LOCS) III untuk mengetahui derajat
keparahan katarak dan menentukan rencana terapi pembedahan katarak sehingga dapat
memperkecil kemungkinan terjadinya komplikasi. Katarak nuklear dilakukan penilaian
nuclear opalescense (NO) dan nuclear color (NC). Katarak kortikal (C) dinilai dengan
membandingkan kumpulan cortical spoking pada pasien dengan standar fotografi.6
Katarak subkapsular posterior (P) juga ditentukan dengan membandingkan
kekeruhan tersebut dengan standar fotografi. Pemeriksaan derajat dari masing-masing
tipe diperoleh dengan membandingkan lokasi kekeruhan lensa pasien dengan skala yang

17
terdapat pada standar fototgrafi.6

VIII. Manifestasi Klinis


Kekeruhan pada lensa dapat terjadi tanpa gejala, dan ditemukan pada pemeriksaan
mata rutin. Gejala katarak senilis pada umumnya berupa:4
1. Pandangan kabur
Kekeruhan lensa mengakibatkan penurunan pengelihatan yang progresif atau
berangsur-angsur dan tanpa nyeri, serta tidak mengalami kemajuan dengan pin-hole.
a. Pasien dengan opasitas sentral (cupuliform, katarak subcapsular posterior)
memiliki gejala awal yaitu gangguan penglihatan. Penglihatan pasien lebih baik
ketika pupil dilatasi akibat cahaya redup saat malam hari (day blindness).
b. Pasien dengan opasitas perifer (katarak cuneiform) gangguan penglihatan muncul
lebih lambat dan penglihatan membaik saat cahaya terang ketika pupil miosis.
c. Pasien dengan sclerosis nuclear, penglihatan jauh lebih terganggu akibat indeks
myopia yang progresif. Beberapa pasien dapat membaca tanpa kacamata
presbyopia. Perbaikan penglihatan dekat ini disebut second sight.

2. Penglihatan silau
Penderita katarak sering kali mengeluhkan penglihatan yang silau, dimana tingkat
kesilauannya berbeda-beda mulai dari sensitifitas kontras yang menurun dengan latar
belakang yang terang hingga merasa silau di siang hari atau merasa silau terhadap lampu
mobil yang berlawanan arah atau sumber cahaya lain yang mirip pada malam hari.
Keluhan ini sering kali muncul pada penderita katarak kortikal.

18
Gambar 9. Perbedaan penglihatan normal dan penderita katarak

3. Coloured Halos
Penderita dapat mengeluh adanya lingkaran berwarna pelangi yang terlihat
disekeliling sumber cahaya terang oleh pembiasan cahaya pada lensa.
4. Diplopia monokuler
Gambaran ganda dapat terbentuk pada retina akibat refraksi ireguler dari lensa yang
keruh, menimbulkan diplopia monokuler, yang dibedakan dengan diplopia binocular
dengan cover test dan pin hole.
5. Bintik hitam
Penderita dapat mengeluhkan timbulnya bintik hitam yang tidak bergerak-gerak
pada lapang pandangnya. Dibedakan dengan keluhan pada retina atau badan vitreous
yang sering bergerak-gerak.

Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menemukan tanda


katarak:4
1. Pemeriksaan visus
Tergantung pada lokasi dan maturasi dari katarak, visus pasien beragam rata-rata
6/9 hingga hanya persepsi cahaya.
2. Penyinaran oblik
Pemeriksaan ini untuk melihat warna lensa dari pupil.
3. Iris shadow
Ketika sinar diberikan secara oblik pada pupil maka pada tepi pupil nampak
bayangan iris seperti bulan sabit yang terbentuk pada lensa yang keruh. Hal ini terjadi
saat daerah korteks masih jernih, apabila lensa telah keruh total maka tidak akan terlihat
bayangan iris. Maka iris shadow merupakan tanda katarak imatur.

Gambar 10. A. Gambaran iris shadow pada katarak immature, B. Gambaran iris

19
shadow pada katarak matur

4. Oftalmoskopi
Pada pemeriksaan dapat terlihat warna kuning kemerahan. Namun pada pasien
katarak dapat memberikan bayangan hitam yang menutupi warna kuning kemerahan
tersebut.

IX. Terapi
Pada saat ini belum ada medical treatment yang efektif untuk katarak dan pada
umumnya ditangani dengan surgical treatment.
a. Teknik operasi
1. Intracapsular cataract extraction
Merupakan teknik operasi dimana seluruh lensa beserta kapsulnya di angkat.
Lensa dibekukan dengan cryophake dan dikeluarkan melaui insisi pada kornea
bagian superior. Namun operasi ini sudah jarang dilakukan dan hanya dilakukan
pada kasus subluksaasi atau dislokasi lensa. Tingkat post operative retinal
detachment dan cystoid macular edema lebih tinggi pada teknik operasi ini
dibandingkan dengan extracapsular surgery.2

Gambar 11. Langkah bedah ekstraksi


katarak intracapsular dengan ruang
anterior implantasi lensa intraokuler:
A. Jahitan melewati rektus
superior;
B. Fornix berdasarkan lipatan
konjungtiva;
C. Ketebalan alur parsial;
D. Selesai bagian dari Corneo-
scleral;
E. Iridectomy perifer;
F. Cryolens ekstraksi;
G. & H. penyisipan Kelman
multiflex lensa intraokular di
bilik mata depan;
H. Menjahit Corneo-scleral

20
2. Extracapsular cataract extraction
Pada teknik operasi ini, kapsul anterior dibuka (capsulorrhexis) kemudian hanya
korteks dan nucleus yang dikeluarkan (extracapsular extraction) sedangkan kapsul
posterior dan zonula tetap intak. Hal ini kemudian memungkinkan untuk diakukan
implantasi posterior chamber intraocular lens. Extracapsular cataract extraction
dengan implantasi posterior chamber intraocular lens merupakan pilihan operasi
saat ini.2

Gambar 12. Teknik Operasi ExtraCapsular


Catract Extraction

Langkah bedah ekstraksi katarak ekstrakapsular


konvensional dengan implantasi lensa intraokular
chamber posterior:

A. Teknik anterior capsulotomy can-opener;


B. Pengambilan kapsul anterior;
C. Penyelesaian Bagian Corneo-scleral;
D. Penghapusan inti (metode tekanan dan
kontra-tekanan);
E. Aspirasi korteks;
F. Penyisipan haptic inferior ruang posterior
IOL;
G. Penyisipan haptic unggul PCIOL;
H. Dialing IOL;
I. Penjahitan Corneo-scleral.

3. Small Incision Cataract Surgery


Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan
teknik pembedahan kecil. Teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena
lebih cepat sembuh dan murah.3

21
Gambar 13. langkah bedah SICS:
A. Jahitan kekangrektus Superior;
B. Penutup konjungtiva dan paparan dari
sclera;
C. D. & E. Sayatan Scleral Eksternal (lurus,
berbentuk cemberut, dan chevron, masing-
masing) bagian dari terowongan sayatan;
F. Terowongan Sclero-kornea dengan pisau
bulan sabit;
G. Sayatan kornea internal;
H. Sisi lubang masuk;
I. CCC besar;
J. Hydrodissection;
K. Prolaps dari inti ke dalam ruang anterior;
L. pengiriman Nucleus dengan mengairi
kawat VECTIS;
M. Aspirasi korteks;
N. penyisipan haptic inferior ruang posterior
IOL;
O. Penyisipan haptic unggul PCIOL;
P. Dialing dari IOL,
Q. Reposisi dan penahan flap konjungtiva.
4. Phakoemulsifikasi
Phakoemulsifikasi (phaco) maksudnya membongkar dan memindahkan kristal
lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di
kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak,
selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur
sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan
melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan,
akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat
kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak
kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Tehnik ini kurang
efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan incisi limbus yang kecil
agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun sekarang lebih
sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan melalui incisi
kecil seperti itu.3

22
Gambar 14. Langkah bedah
fakoemulsifikasi:
A. Capsulorrhexis lengkung
berkelanjutan;
B. Hydrodissection;
C. Hydrodelineation;
D. & E. Emulsifikasi
Nucleus dengan membagi
dan menaklukkan teknik
(empat kuadran cracking);
F. Aspirasi korteks.

X. Komplikasi
a. Komplikasi dari terbentuknya katarak
Selain hilangnya penglihatan, komplikasi utama dari katarak yaitu timbulnya
glaukoma. Terdapat 2 jenis glaukoma yang dapat timbul yaitu phacomorphic glaucoma
dan phacolytic glaucoma.
1. Phacomorphic glaucoma
Akibat proses penuaan serta adanya perubahan osmotik serta fibers yang tidak
dapat di deskuamasi, lensa akan mengalami perubahan dimana ukuran dimensi
anteroposterior akan membesar dan dengan bentuk yang lebih sferis. Hal ini dapat
menyebabkan bilik mata depan menjadi dangkal karena lensa mendorong iris dan
meningkatnya resiko pupil block akibat ukuran lensa yang membesar. Katarak ini disebut
phacomorphic glaucoma karena adanya perubahan bentuk atau morfologi yang
menyebabkan timbulnya glaukoma.8
2. Phacolytic glaucoma
Seiring dengan proses penuaan, cortical lens fibers menjadi tidak terintegrasi dan
menjadi lebih cair. Protein lensa dapat keluar melalui kapsul lensa yang intak pada
stadium hipermatur. Protein yang keluar akan di ingesti oleh makrofag, yang kemudian
makrofag ini terakumulasi dan menyumbat trabecular meshwork dan mengganggu aliran
humor aquoeus (open angle). Glaukoma jenis ini disebut phacolytic glaucoma.8

b. Komplikasi akibat operasi katarak


1. Selama proses operasi
Extracapsular lens extraction yang diganti dengan plastic intraocular lens
merupakan jenis operasi yang paling sering dilakukan. Pada anterior capsulotomy,

23
zonula dapat terkena dan menyebabkan lemahnya support pada kapsul yang tersisa.
Sedangkan pada removal cortex dan nucleus dapat terjadi equatorial and posterior
zonular disinsertion akibat manuver instrumen pada kapsul.8 Rupturnya capsula posterior
dan perdarahan suprachoroid juga menjadi komplikasi yang dapat terjadi selama operasi
berlangsung.9
2. Post operative
Komplikasi yang paling umum timbul post operasi yaitu kekeruhan pada kapsul
posterior. Endocapsular hematom juga telah dilaporkan sebagai komplikasi post operasi
serta dapat timbul endoftalmitis.8

XI. Prognosis
Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat
jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak resiko ini
kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE
atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat
hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.3

24
Daftar Pustaka

1. Ilyas S. 2010. Ilmu Penyakit Mata edisi ke 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia.
2. Lang GK. 2006. Lens. Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas. 2nd Ed. ed.
New York: Thieme Stuttgart;.
3. Khalilullah SA. 2010. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis.
4. Khurana AK. 2015. Comprehensive Opthtalmology 4th edition. India: New Age
International Ltd
5. American Academy of Ophtalmology. 2016. Basic and Clinical Science
Course:Lens and Cataract. San Fransisco: AAO.
6. Davison JA. 2003. Clinical Application of The Lens Opacities Classification
System III in The Performance of Phacoemulsification.J Cataract Refract
Surgery.
7. Galloway NR, Galloway PH, K. WM, Browning AC. 2006. Common Eye
Diseases and Their Management. 3rd Ed. ed. London: Springer-Verlag.
8. Kincaid MC. 2007. Pathology of The Lens. In: Tasman W, Jaeger EA, editors.
Duane's Ophthalmology. Edition ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
9. Kanski JJ. 2007. Clinical Ophthalmology A Systematic Aproach 5th Edition.

25