You are on page 1of 5

Miopi

Miopia atau rabun jauh adalah kelainan refraksi suatu keadaan mata dimana sinar-sinar
sejajar dari jarak tak terhingga (tanpa akomodasi) dibiaskan didepan retina.

Tipe dari myopia:
1. Miopia aksial
Bertambah panjangnya diameter antero-posterior bola mata dari normal. Pada orang
dewasa penambahan panjang aksial bola mata 1 mm akan menimbulkan perubahan
refraksi sebesar 3 dioptri.
Myopia aksial disebabkan oleh beberapa faktor seperti :
1. Menurut Plempius (1632), memanjangnya sumbu bolamata tersebut disebabkan oleh
adanya kelainan anatomis.
2. Menurut Donders (1864), memanjangnya tekanan otot pada saat konvergensi.6

Gambar. Diameter bola mata pada miopia dan bayang jatuh di depan retina.

2. Miopia refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumensen
dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat.
pada miopia refraktif, menurut Albert E. Sloane dapat terjadi karena beberapa macam
sebab, antara lain :
1. Kornea terlalu cembung (<7,7 mm)
2. Terjadinya hydrasi/penyerapan cairan pada lensa kristalina sehingga bentuk lensa
kristalina menjadi lebih cembung dan daya biasnya meningkat. Hal ini biasanya terjadi
pada penderita katarak stadium awal (imatur)
3. Terjadi peningkatan indeks bias pada cairan bolamata (biasanya terjadi pada
penderita diabetes melitus).

Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :
a. Miopia ringan, dimana myopia kecil daripada < 3 dioptri
b. Miopia sedang, dimana myopia lebih antara 3-6 dioptri
c. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri

Klasifikasi miopia berdasarkan umur :
1. Congenital (sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak)
2. Youth-onset miopia (<20 tahun)
3. Early adult-onset miopia (20-40 tahun)
4. Late adult-onset miopia (>40 tahun)

Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :
a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa
b. Miopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertmbah
panjangnya bola mata.
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan
kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa = miopia maligna = miopia degeneratif.
Miopia degeneratif atau myopia maligna bila miopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan
pada fundus okuli terbentuk stafiloma, dan pada bagian temporal papil terdapat atrofi
korioretina. Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-
kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk
terjadinya neovaskularisasi subretina.

Miopia berdasarkan klinis :

1. Myopia simpleks, dengan syarat:
a. Tidak dijumpai kelainan patologis pada mata
b. Progresifitas mulai berkurang pada saat masa pubertas dan stabil usia 20 tahun
c. Derajat myopia tidak lebih dari (-6 D)
d. Visusnya dengan koreksi dapat mencapai penuh
2. Myopia patologis
a. Bila myopia masih progresif
b. Dijumpai tanda – tanda degeneratif pada vitreous, makula, dan retina
c. Gambaran klinisnya antara lain:
1. Secara keseluruhan, bola mata lebih besar dan terjadi
pemanjangan hampir seluruhnya ke arah polus posterior.
2. Curvatura lebih flat
3. COA lebih dalam
4. Pupil lebih lebar
5. Sclera lebih tipis
6. Pada fundus okuli dapat dijumpai papil N.II “myopic crescent” yakni
bintik yang melebar karena bola mata membesar dan bertambah panjang.
Dijumpai juga vasa choroid yang tampak jelas, choroid yang atrofi, dan
retina tigroid, yakni keadaan di mana retina lebih tipis akibat kehilangan
banyak pigmen sehingga retina tampak gambaran kuning hitam.
7. Pada makula, dapat dijumpai atrofi, gambaran mirip perdarahan di
dekat macula, ataupun foster-fuchs fleck
8. Pada derajat myopia yang sangat tinggi, dapat dijumpai posterior
stafiloma, yakni seluruh polus posterior herniasi ke belakang.
Komplikasi Miopia :
- Ablatio Retina
- Glukoma sudut terbuka
- Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila melihat benda dekat dan
mengeluh kabur apabila melihat jauh. Pasien juga sering mengeluhkan sakit kepala,
sering disertai juling, dan celah kelopak mata yang sempit. Pasien biasanya juga
memiliki kebiasaan mengernyitkan mata untuk mencegah aberasi sferis atau untuk
mendapatkan efek pinhole. Pasien miopia memiliki punctum remotum yang dekat
sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang menimbulkan
keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka pasien akan
mengeluhkan juling atau esotropia.

Beberapa hal yang mempengaruhi resiko terjadinya miopia, antara lain:

1. Keturunan. Orang tua yang mempunyai sumbu bolamata yang lebih panjang dari normal
akan melahirkan keturunan yang memiliki sumbu bolamata yang lebih panjang dari
normal pula.
2. Ras/etnis. Ternyata, orang Asia memiliki kecenderungan miopia yang lebih besar (70%-
90%) dari pada orang Eropa dan Amerika (30%-40%). Paling kecil adalah Afrika (10%-20%).
3. Perilaku. Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus dapat memperbesar resiko
miopi. Demikian juga kebiasaan membaca dengan penerangan yang kurang memadai.
Diagnosis miopia
Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada mata,
pemeriksaan tersebut adalah :
1. Refraksi Subyektif
Diagnosis miopia dapat ditegakan dengan pemeriksaan refraksi subyektif, seperti yang
telah diterangkan sebelumnya metode yang digunakan adalah dengan metode “trial and
error” jarak pemeriksaan 6 m dengan menggunakan kartu Snellen.
2. Refraksi Obyektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2,00D pemeriksa mengamati
refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan retinoskop (against
movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai tercapai netralisasi.

3. Autorefraktometer (komputer)
Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan computer.