You are on page 1of 4

Tarif Retribusi Menara Telekomunikasi

Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-XI/2014

hukumonline.com

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah daerah berhak mengenakan pungutan kepada
masyarakat yaitu pungutan berupa pajak dan retribusi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009, pajak dan retribusi daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. Karena perlu adanya
penyesuaian dengan kebijakan otonomi daerah maka diterbitkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
yang mencabut undang-undang yang lama. Apabila dibandingkan dengan undang-undang yang berlaku
sebelumnya, dalam undang-undang 28 Tahun 2009 terdapat perluasan kewenangan perpajakan dan
retribusi, diantaranya adalah perluasan jenis retribusi yaitu penambahan 4 (empat) jenis retribusi baru bagi
daerah, yaitu retribusi pelayanan tera/tera ulang, retribusi pelayanan pendidikan, retribusi pengendalian
menara telekomunikasi, dan retribusi izin usaha perikanan.

Retribusi pengendalian menara telekomunikasi diatur dalam Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009. Pasal tersebut menyatakan bahwa Objek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) huruf n adalah pemanfaatan ruang untuk menara
telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan, dan kepentingan umum. Dalam
penjelasan Pasal 124 dinyatakan bahwa mengingat tingkat penggunaan jasa pelayanan yang bersifat
pengawasan dan pengendalian sulit ditentukan serta untuk kemudahan penghitungan, tarif retribusi
ditetapkan paling tinggi 2% (dua persen) dari nilai jual objek pajak yang digunakan sebagai dasar
penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan menara telekomunikasi, yang besarnya retribusi dikaitkan
dengan frekuensi pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi tersebut.
Terkait ketentuan tentang retribusi pengendalian menara telekomunikasi sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 sebagaimana telah disebutkan di atas, pada tahun 2014 terdapat
permohonan uji materiil yang diajukan oleh PT. Kame Komunikasi Indonesia. Norma yang diujikan
adalah penjelasan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 yang mengatur perhitungan tarif
retribusi pengendalian menara telekomunikasi, sedangkan norma yang dijadikan sebagai dasar pengujian
adalah Pasal 28D dan 28F UUD 1945. PT Kame Komunikasi Indonesia, melalui kuasa hukumnya, merasa
dirugikan dengan berlakunya Penjelasan Pasal 124 lantaran praktiknya pemerintah daerah langsung
menetapkan tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi sebesar 2 persen dari nilai jual objek
Catatan Berita/BPK Perwakilan Provinsi Jawa Timur/Tim UJDIH-Subbagian Hukum

Mahkamah memahami bahwa di satu sisi penetapan tarif maksimal bertujuan agar tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi tidak berlebihan dan memberatkan penyedia menara dan penyelenggara telekomunikasi. maka akan menimbulkan ketidakadilan. hal yang tidak bisa dihitung. sebagaimana juga memperlakukan secara berbeda terhadap hal yang sama. Pemohon mencontohkan jika rata-rata NJOP menara itu sebesar Rp 1 miliar. Karena akibat patokan harga maksimal yang menyebabkan hampir di setiap daerah menggunakan batas maksimal untuk memberlakukan pengenaan tarif 2% bagi setiap daerah dengan karakteristik yang sesungguhnya berbeda adalah hal yang tidak adil.” Atas permohonan uji materiil tersebut. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. dan penerapannya akan sulit seharusnya tidak menjadi sebuah objek pungutan. Penjelasan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130. jika tidak menggunakan formula patokan NJOP biaya retribusi ril hanya sekitar 2 juta. namun di sisi lain. maka retribusi menara telekomunikasi sebesar Rp20 juta. Karena memperlakukan dengan sama terhadap hal yang berbeda adalah diskriminatif. Sebagai konsekuensi dari kebijakan yang telah diambil.hukumonline. Ketentuan batas maksimal 2% dari NJOP yang menyebabkan pemerintah daerah mematok harga tertinggi yaitu 2% dari NJOP tanpa perhitungan yang jelas merupakan ketentuan yang tidak memenuhi rasa keadilan. namun memang diakui karena adanya kesulitan penghitungan. karena akan menimbulkan ketidakpastian hukum. Dalam pertimbangan hukumnya. frasa. Pemerintah seharusnya dapat menemukan formula yang tepat untuk menetapkan tarif retribusi. MK berpendapat bahwa terhadap keberatan Pemohon atas penetapan tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi maksimal 2% dari NJOP. Penetapan tarif itu tidak lagi didasarkan pada biaya-biaya pengawasan dan pengendalian1 sebagaimana diatur dalam Pasal 151. penjelasan pasal seharusnya tidak memuat norma. Formula demikian dapat diatur dalam peraturan yang lebih teknis.com/berita/baca/lt556468f6516ab/formulasi-tak-jelas--mk-hapus-tarif- menara-telekomunikasi Catatan Berita/BPK Perwakilan Provinsi Jawa Timur/Tim UJDIH-Subbagian Hukum . menurut Mahkamah adalah tindakan yang tidak adil. pemohon minta Penjelasan Pasal 24 itu diubah menjadi “Penetapan tarif retribusi didasarkan pada biaya pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi. Karenanya. 2. Batas maksimal 2% bukan hanya ditujukan agar besaran retribusi tidak terlalu tinggi. Penjelasan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130. penjelasan hanya memuat uraian terhadap kata. Oleh karena itu. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kalimat atau padanan kata/istilah asing dalam norma yang dapat disertai dengan 1 http://www. Adanya kesulitan dalam menghitung besaran retribusi yang mengakibatkan ketidakjelasan dalam penentuan tarif menjadikan penetapan tarif maksimal hanya bertujuan mengambil jalan pintas. Dalam pengenaan pajak. Kebutuhan biaya pengawasan dan pengendalian dapat dijabarkan dalam formula penghitungan tertentu.pajak (NJOP). tanpa memperhatikan frekuensi pengawasan dan pengendalian. Pertimbangan MK dari sisi pembentukan peraturan perundang-undangan. dalam Amar Putusan MK Nomor 46/PUU-XII/2014 menyatakan bahwa: 1. Padahal. Pasal 152 dan Pasal 161 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. karena penjelasan berfungsi sebagai tafsir resmi pembentuk Peraturan Perundang- undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. jika penerapannya di setiap daerah adalah sama.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. http://www. “Kita berharap pemerintah daerah mentaati putusan MK ini hingga ada aturan atau formula baru yang mengatur besaran tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi. aspek keadilan.Aturan Penetapan Tarif Retribusi Pengendalilan Menara Telekomunikasi Inkonstitusional. b. Radian Syam menyatakan adanya putusan MK berarti beban retribusi sebesar 2 persen dari NJOP atas pengendalian menara telekomunikasi tidak bisa diberlakukan lagi. hanya besaran 2 persen. Dengan demikian menurut Mahkamah penjelasan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tidak bersesuaian dengan pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik.mahkamahkonstitusi. Penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dimaksud. Pasal 151 (1) Besarnya Retribusi yang terutang dihitung berdasarkan perkalian antara tingkat penggunaan jasa dengan tarif Retribusi.php?page=web. kemampuan masyarakat. Selain itu norma yang terkandung dalam penjelasan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 justru membuat ketidakjelasan norma yang terkandung dalam Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. “Pemerintah harus membuat formula agar hitungannya jelas. 2. Formulasi Tak Jelas. Catatan: 1. Dirinya pun tidak mempermasalahkan jika ada penarikan tarif retribusi yang baru asalkan formulasi prosentase penetapan tarifnya jelas dan tidak memberatkan. pemerintah diharuskan membuat formula penghitungan yang tepat agar tidak terjadi kesewenang-wenangan daerah dalam menetapkan tarif retribusi menara telekomunikasi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Atas kekosongan hukum ini.Berita&id=10963#.go. Pasal 124 Objek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) huruf n adalah pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang.” harapnya.ViCtdyuWYnk. tarif retribusi ditetapkan paling tinggi 2% (dua persen) dari nilai jual objek pajak yang digunakan sebagai dasar penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan menara telekomunikasi. 3. MK Hapus Tarif Menara Telekomunikasi.contoh.id/index. dan kepentingan umum. Penjelasan: Mengingat tingkat penggunaan jasa pelayanan yang bersifatpengawasan dan pengendalian sulit ditentukan serta untuk kemudahan penghitungan. 4. dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. sebagian besar pemerintah daerah justru mematok tarif 2% dari NJOP. lalu kemudian daerah justru menarik retribusi ini sesuai kebutuhannya.com/berita/baca/lt556468f6516ab/formulasi-tak-jelas--mk-hapus-tarif-menara- telekomunikasi. keamanan.2 Sumber: 1. Ditemui usai persidangan. a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Selama ini kan tidak ada hitungan yang jelas. 26 Mei 2015. 26 Mei 2015. yang besarnya retribusi dikaitkan dengan frekuensi pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi tersebut. 2 Ibid Catatan Berita/BPK Perwakilan Provinsi Jawa Timur/Tim UJDIH-Subbagian Hukum . http://www. Penjelasan Pasal 124 Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 justru mengatur norma yang menentukan tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi yaitu paling tinggi 2% dari NJOP.hukumonline. tanpa menghitung dengan jelas berapa sesungguhnya tarif retribusi yang layak dikenakan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan.” kata Radian di Gedung MK. kuasa hukum PT Kame Komunikasi Indonesia.

Par 177. (3) Apabila tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sulit diukur maka tingkat penggunaan jasa dapat ditaksir berdasarkan rumus yang dibuat oleh Pemerintah Daerah. Lampiran II Bab I Huruf E a. c. Penjelasan berfungsi sebagai tafsir resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. (4) Rumus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus mencerminkan beban yang dipikul oleh Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan jasa tersebut. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. e. Catatan Berita/BPK Perwakilan Provinsi Jawa Timur/Tim UJDIH-Subbagian Hukum . Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota diberi penjelasan. kalimat atau padanan kata/istilah asing dalam norma yang dapat disertai dengan contoh. Par 174. Penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dimaksud. d. Oleh karena itu. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang (selain Peraturan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota) dapat diberi penjelasan jika diperlukan. Par 175. 2. Par 178. (2) Tingkat penggunaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah jumlah penggunaan jasa yang dijadikan dasar alokasi beban biaya yang dipikul Pemerintah Daerah untuk penyelenggaraan jasa yang bersangkutan. Par 176. b. frasa. (5) Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya Retribusi yang terutang. Setiap Undang-Undang. penjelasan hanya memuat uraian terhadap kata. (6) Tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditentukan seragam atau bervariasi menurut golongan sesuai dengan prinsip dan sasaran penetapan tarif Retribusi. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut dan tidak boleh mencantumkan rumusan yang berisi norma. Penjelasan tidak menggunakan rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan.