You are on page 1of 11

PAPER

MANAJEMEN AGROEKOSISTEM

OLEH

NAMA : INDRA ARSANTI
STAMBUK : D1B113010
KELAS :A

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2015

Namun. Produktifitas selalu diukur dalam pendapatan per hektar. atau total produksi barang dan jasa per rumah tangga atau negara.e. potein. Produktifitas juga dapat diukur dalam kilogram butiran. atau juga dapat dikonversikan dalam kalori. Hasil akhir panen atau pendapatan bersih.dan modal. Artinya. Produktivitas (Productivity). Measured either as yield or income per unit of input or resource i. apabila produktifitas dari suatu agroekosistem itu tinggi maka hendaknya kebutuhan hidup bagi manusia akan terpenuhi. tenaga kerja. Input sumberdaya dasar adalah tanah. Di dalam suatu tatanan agroekosistem. Produktivitas dapat didefinisikan sebagai suatu tingkat produksi atau keluaran berupa barang atau jasa. yaitu : 1.A. Menurut pengertian agroekosistem adalah sistem ekologi yang dimodifikasi manusia dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Agroekosistem memiliki kaidah-kaidah ekologi umum yang memiliki khas tersendiri seperti yang terlihat pada ekosistem sawah dengan ekosistem lainnya. 4 Aspek penting menejemen agroekosistem Agroekosistem Aktivitas pertanian merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungan alam yang memberikan arti bagi ekologi pertanian. Analisis agroekosistem merupakan hal baru yang dikembangkan untuk memperbaiki kapasitas kita dalam melihat persoalan-persoalan yang muncul dari penerapan berbagai teknologi di bidang pertanian. yield/ha. terutama bahan makanan. terdapat empat aspek penting yang dapat mendukung terciptanya keseimbangan agroekosistem. misalnya produktivitas padi/ha/tahun. Khususnya persoalan yang muncul sejak Revolusi Hijau. Seharusnya disusun suatu model pendekatan agroekosistem yang di desain untuk pencegahan dan pengendalian terjadinya kemerosotan kualitas sumberdaya lahan dan lingkungan dan tetap mernpertahankan produktivitas . ikan atau daging. nilai produksi dibandingkan masukan sumber. vitamin atau unit-unit uang. pada kenyataannya upaya konservasi terhadap agroekosistem itu jarang sekali dilakukan. dan sepantasnya untuk diupayakan kondisi agroekosistem yang lestari.

kekeringan atau terjadinya introduksi hama baru. Prinsipnya. fluktuasi harga. sampai ke yang kurang biasa dan lebih besar seperti banjir. atau kebutuhan pasar akan bahan makanan. Kemampuan agroekosistem untuk memelihara produktifitas ketika ada gangguan besar. sistem itu dikatakan memiliki kestabilan rendah apabila fluktuasi yang dialami sistem usaha tani tersebut besar. Measured as the constancy of the productivity. Fluktuasi ini mungkin disebabkan karena perubahan iklim atau sumber air yang tersedia. meskipun proses- proses ekologi alami yang cenderung mengubah agroekosistem menuju suatu titik degradasi. meskipun kondisi lingkungan berubah. Suatu sistem dapat dikatakan memiliki kestabilan tinggi apabila hanya sedikit saja mengalami fluktuasi ketika sistem usaha tani tersebut mengalami gangguan. 3. 2. hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Stabil. Stabilitas (Stability). Aspek keberlanjutan sebenarnya mengacu pada bagaimana mempertahankan tingkat produksi tertentu dalam jangka panjang. Seperti dengan stabilitas. artinya dalam hal ini tercipta kondisi yang konsisten terhadap suatu hasil produksi. The ability of an agroecosystem to maintain productivity in respond to environmental disturbance. dll. Karena. keberlanjutan (sustainability) memiliki .pertanian. Namun secara menyeluruh. Keberlanjutan (Sustainability). Gangguan utama ini berkisar dari gangguan biasa seperti salinasi tanah. seperti variasi curah hujan. Apakah pada kondisi tertentu produktivitas dapat dipertahankan dari waktu ke waktu (artinya bisa sustain). sejatinya keterpaduan dua aspek tersebut merupakan konsepsi pembangunan pertanian berkelanjutan dan melembagakan aspek ekologi ke dalam kebijakan ekonomi. Stabilitas diartikan sebagai tingkat produksi yang dapat dipertahankan dalam kondisi konstan normal. serangan hama periodik. Sebaliknya. keberlanjutan melibatkan kemampuan manajemen pertanian untuk mempertahankan fungsi agroekosistem (termasuk produksi) . Produktifitas menerus yang tidak terganggu oleh perubahan kecil dari lingkungan sekitarnya.

diantaranya: a) Monokultur. Beberapa langkah keberlanjutan bisa tinggi sementara yang lain rendah untuk agroekosistem yang sama. Berdasarkan kondisi lahan. tanam lajur (Intercropping) dan tanam bergilir lebih dari satu jenis atau varietas tanaman (alleycropping).berbagai kebijakan yang terkait dengan tindakan berbagai produktivitas. Indikatornya antara lain rata-rata keluarga petani memiliki akses lahan yang luasnya tidak terlalu berbeda atau senjang. pangan. Meliputi: tumpang sari (Multiple cropping). Contoh apabila suatu sistem usaha tani dapat dikatakan memiliki suatu ekuitabilitas atau pemerataan sosial yang tinggi apabila penduduknya memperoleh manfaat pendapatan. dan lain-lain yang cukup merata dari sumber daya yang ada. yaitu penanaman lebih dari satu jenis atau varietas tanaman dalam satu kawasan agroekosistem. yaitu: a) Perkebunan . Pemerataan (Equitability) Expresses how evenly the products of an agroecosystem are distributed among its human beneficiaries >Prosperity. Tipe Agroekosistem Berdasarkan jenis sampai varietas tanaman yang ditanam. 4. Aspek Ekuitabilitas digunakan untuk menggambarkan bagaimana hasil-hasil pertanian dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat. meliputi: a) Lahan kering b) Lahan basah c) Gambut d) Rawa Berdasarkan penggunaan lahan. B. Pemerataan biasanya diukur melalui distribusi keuntungan dan kerugian yang terkait dengan produksi barang dan jasa dari agroekosistem. yaitu satu jenis atau satu varietas tanaman saja yang di tanam dalam agroekosistem b) Polikultur.

teh.Kandungan bahan organik. oleh sebab itu miskin hara. Padi (oryza sativa l) tumbuh baik di daerah tropis maupun sub- tropis. Hara N.menerus maka tanah sawah harus memiliki kemampuan menahan air yang tinggi. tebu. bahkan merupakan cara yang sempurna karena tanah dipersiapkan lebih dahulu. K dan KTK umumnya rendah (Suharta dan Sukardi. tembakau. b) Persawahan Sawah adalah pertanian yang dilaksanakan di tanah yang basah atau dengan pengairan. dan dipupuk. kelapa sawit. Sawah bukaan baru dapat berasal dari lahan kering yang digenangi atau lahan basah yang dijadikan sawah. seperti tanah yang lempung. kelapa. yaitu dengan dibajak. cengkih (Soerjani.Untuk padi sawah. dengan kejenuhan basa rendah bahkan sangat rendah. . ketersediaan air yang mampu menggenangi lahan tempat penanaman sangat penting.Oleh karena air menggenang terus. serta menentukan cara dan fasilitas pengairan. Perkebunan merupakan usaha penanaman tumbuhan secara teratur sesuai dengan ilmu pertanian dan mengutamakan tanaman perdagangan. pengairan pada lahan kering dapat berhasil dan efektif pada wilayah yang datar datar – berombak (Kurnia. Oleh karena itu. Sumber – sumber air biasanya berada pada bagian yang paling rendah. Lahan untuk sawah bukaan baru umumnya mempunyai status kesuburan tanah yang rendah dan sangat rendah. Ca. P. dan Mg merupakan pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada lahan sawah bukaan baru. diairi secara teratur. P. kina. kondisi topogragfi memegang peranan cukup penting dalam penyediaan air. kapas. Bersawah merupakan cara bertani yang lebih baik daripada cara yang lain.Tanah-tanah di daerah bahan induknya volkan tetapi umumnya volkan tua dengan perkembangan lanjut. 2004). P dan K merupakan pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada ultisol. K. Perkebunan penting bagi bahan ekspor dan bahan industri. Jenis-jenis tanaman perkebunan khususnya di Indonesia antara lain karet. Hara N. 1994). kopi. cokelat. Pada sistem pengairan. pertanian lahan kering. sehingga air perlu dinaikkan terlebih dahulu agar pendistribusiannya merata dengan baik. 2007). hara N.

C. dan sebagian lagi untuk manusia.c) Ladang d) Agriforestri (hutan tanaman) Praktek agrikultur dengan intensitas rendah seperti perladangan berpindah. Dengan demikian. dan anasir iklim yang mendukung nutrisi dalam tanah maupun udara menjadi tersedia. menyisakan banyak proses ekosistem alami dan komposisi tumbuhan. air. dipakai untuk berkebun. tanaman. sedangkan kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kandang untuk menyuburkan tanah pekarnagn. mungkin merubah ekosistem secara keseluruhan sehingga sedikit sekali biota dan keistimewaan bentang alam sebelumnya yang tersisa (Karyono.Tanah ini dapat diplester. tergantung besar sisa tanah yang tersedia setelah dipakai untuk bangunan utamanya. . 2000). Pekarangan bisa berada di depan. Kebutuhan pangan atau sumber nutrisi bagi faktor biotik tersedia dengan adanya faktor abiotik tanah. talun. pekarangan tradisional. disamping sebuah bangunan. ditanami bunga atau terkadang memiliki kolam. Lahan pekarangan beserta isinya merupakan satu kesatuan kehidupan yang saling menguntungkan. unsur hara. hewan dan mikroorganisme. e) Kebun/pekarangan campuran Pekarangan adalah areal tanah yang biasanya berdekatan dengan sebuah bangunan. Sistem dengan intensitas tinggi. di belakang. rotasi lahan. Adanya daur unsur atau daur biogeokimiawi di alam menunjukkan keterkaitan antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi Antar Komponen Dalam Agroekosistem Komponen abiotik dan biotik di dalam agroekosistem saling berinteraksi untuk mencapai keseibampangan ekosistem pertanian. 2004). termasuk perkebunan modern yang seragam dan peternakan besar.Sebagian dari tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak. hubungan antara tanah. ikan dan manusia sebagai unit-unit di pekaranagn merupakan satu kesatuan terpadu (Pratiwi. hewan piaraan.

juga disebut sebagai agroekosistem. 2003). serat. Faktor-faktor penyebab rentannya suatu agroekosistem terhadap eksplosi hama dapat diatasi dengan melakukan pengelolaan agroekosistem supaya menjadi lebih tahan terhadap eksplosi hama Tujuan dari pengelolaan agroekosistem adalah menciptakan keseimbangan dalam lingkungan. Keputusan ini diambil karena berlatar belakangkan dari melihat permasalahan yang riil di lapangan. Perkembangan pertanian di Indonesia saat ini. Pembangunan pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. masih juga tersimpan segudang permasalahan yang perlu untuk di perbaiki terutama di bidang sisitem budidaya tanaman. Didalam perjalanan system pertanian yang baik ini. 1994). namun hal itu masih perlu untuk diriview dan di perbaiki untuk memproleh hasil yang baik pula. kesuburan tanah yang dikelola secara biologis dan pengaturan populasi hama melalui keragaman hayati serta penggunaan input yang rendah (Altieri. antara lain harus dapat memelihara tingkat kapasitas produksi sumber daya alam yang berwawasan lingkungan serta harus dapat mengurangi dampak kegiatan pertanian yang dapat menimbulkan pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan hidup. sering . Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia dengan sengaja merubah ekosistem alami dengan menciptakan suatu ekosistem baru yang dibuat untuk kepentingan pertanian. yang bisa lebih memperhatikan lingkungan ekosistemnya disana. Oleh sebab itulah dalam pengembangan pertanian saat ini di terapkan berdasarkan teknologi berwawasan lingkungan serta pengembangan sumberdaya manusia harus mendapat perhatian dan penekanan yang cukup kuat. hasil yang berkelanjutan. dan kayu untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia (Salikin. Petani kita yang notabene sebagai pelaku utama dalam kegiatan pertanian saat ini. Manajemen Agroekosistem Kaitannya dengan Pengendalian Hama Terpadu Lahan pertanian merupakan salah satu bentuk ekosistem. dapat dikatakan memiliki perkembangan yang cukup baik. sebagai landasan pembangunan pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.D. Agroekosistem sendiri mengacu pada modifikasi ekosistem alami dengan campur tangan manusia untuk menghasilkan bahan pangan.

1994). Hal ini di pertegas dengan adanya peraturan yang menetapkan sistem PHT(Pengendalian Hama Terpadu) sebagai kebijakan dasar bagi setiap program perlindungan tanaman.menggunakan pestisida sintetis. Memperbaiki pola tanam dan menerapkan sistem rotasi tanaman kacang- kacangan. Perancangan agroekosistem untuk pengendalian hama dapat dilakukan melalui pengeloaan habitat yang targetnya adalah: 1. sehingga petani tidak mau untuk menanggung resiko kegagalan usah taninya. pertanaman monokultur dapat memicu eksplosi hama. Sedangkan disisi lain para konsumen menghendki produk hortikultura yang bersih. sehat dan cantik (blemish free) kurangnya pengendalian non kimia yang mampu efektif untuk mengendalikan OPT. karena budidaya monokultur dapat menyebabkan agroekosistem menjadi tidak stabil. 2. Seperti telah dibahas di atas. Meningkatkan keragaman vegetasi melalui sistem tanam polikultur. 3. Pengendalian hama dapat dilakukan melalui perancangan agroekosistem yang stabil. Meningkatkan keragaman genetik melalui penggunaan varietas dengan ketahanan horizontal yang dirakit dari plasma nutfah lokal. sehingga dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan dan terhadap lingkungan itu sendiri. pupuk hijau. Tidak salah juga mereka apabila melakukan kegiatan semacam ini. bahkan tingkat penggunaan pestisida tersebut cendrung melebihi batas penggunaan. Mempertahankan keragaman lanskap dengan meningkatkan koridor-koridor biologis. merupakan konsep dari proses alami dan interaksi-interaksi biologi yang dapat mengoptimalkan sinergi fungsi dari komponen-komponennya. tanaman penutup tanah dan dipadukan dengan ternak. Konsep ekologi dalam PHT. .12/1992 tentang sistem Budidaya Tanaman (Arianto Sam. 4. karena modal yang telah ditanam oleh petani untuk menunjang dari pada usaha taninya tersebut cukup besar. Karena berdasarkan hal itulah saat ini perhatian pada alternative pengendalian ramah lingkungan semakin besar untuk menurunkan penggunaan pestisida sintetis sehingga lingkungan dapat lebih di perhatikan. dasar hukum PHT tertera pada GBHN II dan GBHN IV serta Inpres 3/1986 yang kemudian lebih dimantapkan melalui UU No.

Menurut (waage 1996 dalam untung 2000) pengelompokan konsep PHT didunia di bagi menjadi 2 paradigma yakni: 1. Penyemprotan pestisida harus dilakukan secara sangat berhati-hati dan sangat selektif bilamana tidak ada lagi cara lain untuk menekan populasi hama di lapang. fisik dan hayati) dengan tetap memperhatikan aspek-aspek ekologi. aksi dan mekanisme pengendalian alami dapat dilindungi dan di manfaatkan serta resiko dampak samping pestisida terhadap kesehatan dan lingkungan dapat di tekan seminimal mungkin. 2. pada metode ini lebih banyak mengganti pestisida sintetik dengan bahan dan metode hayati yang didalamnya sudah termasuk pengendalian dengan musuh alami hama itu sendiri atau yang lebih di kenal dengan agen hayati. Konsep kedua yaitu PHT ekologi (Ecologycal Integrated Post Management) .Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pengelolaan agroekosistem dalam pengendalian hama. Dengan adanya pendekatan tersebut. Prinsip utama dalam pengelolaan agroekosistem untuk pengendalian hama adalah menciptakan keseimbangan antara herbivore dan musuh alaminya melalui peningkatan keragaman hayati dengan meningkatkan keragaman vegetasi. Pengendalian Hama Terpadu Teknologi(Technological Integrated Post Management) pada konsep ini mengenalkan ambang ekonomi sebagai dasar penetapan penghendalian dengan pestisida kimia sintetik. mekanik. merupakan salah satu metode dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang diterapkan dengan mengoptimalkan peran musuh alami sebagai faktor pembatas perkembangan populasi herbivora dalam suatu ekosistem. menggunakan pestisida hayati dan feromon. Peningkatan keragaman vegetasi dilakukan melalui penerapan pola tanam polikultur dengan pengaturan agronomis yang optimal. Pengelolaan Hama Terpadu merupakan program pengelolaan pertanian secara terpadu dengan memanfaatkan berbagai teknik pengendalian yang layak (kultural. ekonomi dan budaya untuk menciptakan suatu sistem pertanian yang berkelanjutan dengan menekan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh pestisida dan kerusakan lingkungan secara umum. sehingga didapatkan produktivitas yang berkelanjutan.

pengalaman dan kearifan tradisional petani perlu untuk ditingkatkan. Pendekatan ini dikembangkan pada kondisi ekosistem dan system social masyarakat yang berada pada wilayah dengan kemampuan teknologi yang rendah. Sehingga pada konsep PHT ini lebih menekankan kepada pemanfaatan proses ekologi local dari pada intervensi teknologi sehingga konsep ambang ekonomi dan aras luka ekonomi menjadi tidak relevan lagi.Konsep ini muncul dari pengertian tentang Ekologi local hama dan pengelolaan oleh petani setempat. Dalam hal ini tingkat pengetahuan dari pada petani. . Petani disini merupakan bagian kunci Ekologi pertanian local yang sesungguhnya dapat menyelesaikan permasalahan hama local.

IPB. Stability. Biodiversity Associated With The Rice Field Agro – Ecosystem In Asian Countries : A Brief Review. Jurnal Sistem Pertanian 26 (1988) 291-316.Amarasinghe. Jurnal Pertanian 14(2): 8-9 Bamualim. Analisa Agroekosistem “Talun” Di Desa Suka Mukti. Channa. J. Yanto. A. 2008. Ghana. 2004. Makalah Seminar Nasional Pengembangan Peternakan Berwawasan Lingkungan. 2004. South Afrika. Sumedang. Sustainability. Manajemen agroekosistem. Bogor. Equitability and Autonomy as Properties for Agroecosystem Assessment. Pakistan. Marten.N. 1998. DAFTAR PUSTAKA Gerald G. Thailand : IWMI. Productivity..B. . Strategi Pengembangan Peternakan pada Daerah Kering. Srilanka. Tanjung Medar. Bambaradeniya and Felix P.