You are on page 1of 23

MAKALAH

VALIDITAS DAN REABILITAS
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah "Ekonometrika".
Dosen pembimbing : Ratih Hesty Utami P, SE, MM

Disusun oleh :
Kelompok 2

1. Teguh Hadi Wibowo (201411xxx)
2. Ari Fransisca (201411xxx)
3. Nanda Devita W (201411xxx)
4. Wahyu Kurniawan Aji (201411xxx)
5. Rois Sopyan (201411065)
6. Dwi Indah Ratnaningsih (201411101)
7. Christina Wida Pancawati (201411109)

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS

1|Page

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya tugas pembuatan makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik. Penulis juga
tidak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak-pihak terkait yang
telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas ini. Penyusunan makalah ini bertujuan
untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Ibu Ratih Hesty Utami P, SE, MM selaku
dosen mata kuliah "Ekonometrika".
Harapan kami adalah semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat dan
dapat menambah wawasan pembaca. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam
penyusunan tugas ini. Untuk itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca
demi tercapainya perbaikan dalam tugas-tugas maupun makalah berikutnya.

Kudus, November 2016

Kelompok 2

2|Page

2....1... 2..... 2..... 2..... Teori-teori Kapitalisasi ........2.... 2.......... 1...................... Cara-Cara Untuk Mengatasi “Over” Dan “Under-Capitalization”Error! Bookmark not defined.........5..5......... Error! Bookmark not defined............... Error! Bookmark not defined.4.......... Hubungan Antara Kapitalisasi dan Struktur ModalError! Bookmark not defined.. Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI...1...... 1............. Error! Bookmark not defined.......7.............. 2...1............ Teori Kapitalisasi Berdasarkan PendapatanError! Bookmark not defined........ 2.................... Recapitalization............................ Error! Bookmark not defined....................... Error! Bookmark not defined.............. 3|Page . Error! Bookmark not defined... 3...... Latar Belakang .......................5... 2.......... DAFTAR PUSTAKA .... Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined..... Struktur Modal yang Optimum ..... 3.......................2.... “Recapitalization” dan “Debt Readjustment”Error! Bookmark not defined.................. Error! Bookmark not defined............. Kesimpulan..................1............1. 2.........2.... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....... BAB 2 PEMBAHASAN ....6.......3.......... BAB 1 PENDAHULUAN ........2...................... Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur ModalError! Bookmark not defined................................. Saran . 2............................. Error! Bookmark not defined... Teori Kapitalisasi Berdasarkan BiayaError! Bookmark not defined.......2.... Rumusan Masalah .. 2....... Error! Bookmark not defined......... BAB 3 PENUTUP ...... Error! Bookmark not defined..... Debt Readjusment . “Over” dan “Under-Capitalization” ........ 2.2. Error! Bookmark not defined.........

Instrumen ini memang harus memiliki akurasi ketika digunakan. dan bahkan bisa saja bertentangan dengan kelaziman. valid dan disebut dengan validitas dan reliabilitas alat ukur atau validitas dan reliabilitas instrumen. Alat ukur atau instrumen yang akan disusun itu tentu saja harus memiliki validitas dan reliabilitas. Data yang kurang memiliki validitas dan reliabilitas. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Persoalan alat ukur yang digunakan evaluator ketika melakukan kegiatan evaluasi sering dihadapkan pada persoalan akurasi. diperlukan kajian teori. Untuk membuat alat ukur instrumen itu. Konsisten dan stabil dalam arti tidak mengalami perubahan dari waktu pengukuran satu ke pengukuran yang lain. akan menghasilkan kesimpulan yang bias. pendapat para ahli serta pengalaman-pengalaman yang kadangkala diperlukan bila definisi operasional variabelnya tidak kita temukan dalam teori. 4|Page . konsisten dan stabilitas sehingga hasil pengukuran yang diperoleh bisa mengukur dengan akurat sesuatu yang sedang diukur. agar data yang diperoleh dari alat ukur itu bisa reliabel. kurang sesuai dengan yang seharusnya.

Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran atau pengamatan.  Menurut Azwar (1986):Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran. Terkandung di sini pengertian bahwa ketepatan pada validitas suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. dikatakan sebagai alat ukur 5|Page . BAB II PEMBAHASAN VALIDITAS 2.  Menurut Sukadji (2000): Validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur.1.1 Pengertian Validitas  Menurut Gronlund dan Linn (1990): Validitas adalah ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil pengukuran atau evaluasi  Menurut Anastasi (1990): Validitas adalah ketepatan mengukur konstruk. “What the test measure and how well it does”  Menurut Arikunto (1995): Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur. menyangkut. atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Suatu tes yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil pengukuran mengenai variabel A. Prinsif validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang berarti prinsif keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya.

bila kita hendak mengetahui berat sebuah cincin emas maka kita harus menggunakan alat penimbang berat emas agar hasil penimbangannnya valid. yaitu tepat dan cermat. akan tetapi tidaklah cukup cermat guna menimbang berat cincin emas karena perbedaan berat yang sangat kecil pada berat emas itu tidak akan terlihat pada alat ukur berat badan. anggapan valid seperti dinyatakan dalam "alat ukur ini valid" adalah 6|Page . Sebagai contoh. Suatu tes yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi menghasilkan data mengenai variabel A' atau bahkan B. Alat ukur yang valid akan memiliki tingkat kesalahan yang kecil sehingga angka yang dihasilkannya dapat dipercaya sebagai angka yang sebenarnya atau angka yang mendekati keadaan sebenarnya (Azwar 1986). Oleh karena itu. Menggunakan alat ukur yang dimaksudkan untuk mengukur suatu aspek tertentu akan tetapi tidak dapat memberikan hasil ukur yang cermat dan teliti akan menimbulkan kesalahan atau eror. Suatu alat ukur biasanya hanya merupakan ukuran yang valid untuk satu tujuan yang spesifik. dalam bidang pengukuran aspek fisik. Dengan demikian. Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi validitasnya untuk mengukur variabel A' atau B (Azwar 1986). Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Demikian pula kita ingin mengetahui waktu tempuh yang diperlukan dalam perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.yang memiliki validitas tinggi. Cermat berarti bahwa pengukuran itu dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan yang lain. Sebuah alat penimbang badan memang mengukur berat. Akan tetapi. jam tangan yang sama tentu tidak dapat memberikan hasil ukur yang valid mengenai waktu yang diperlukan seorang atlit pelari cepat dalam menempuh jarak 100 meter dikarenakan dalam hal itu diperlukan alat ukur yang dapat memberikan perbedaan satuan waktu terkecil sampai kepada pecahan detik yaitu stopwatch. Pengertian validitas juga sangat erat berkaitan dengan tujuan pengukuran. tidak ada validitas yang berlaku umum untuk semua tujuan pengukuran. maka sebuah jam tangan biasa adalah cukup cermat dan karenanya akan menghasikan pengukuran waktu yang valid.

maka koefisien kolerasi dikategorikan pada kriteria sebagai berikut: 7|Page . N merupakan jumlah siswa uji coba. dengan diperolehnya indeks validitas setiap butir soal. serta valid bagi kelompok subjek yang mana? 2.2 Pengertian Uji Validitas Menurut Sugiyono (2006) Uji validitas adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen. Untuk menginterpretasikan tingkat validitas.4 Cara menentukan vadilitas Untuk menguji validitas setiap butir soal maka skor-skor yang ada pada butir yang dimaksud dikorelasikan dengan skor totalnya.1. dan Y adalah skor total tiap siswa uji coba.3 Tujuan uji validitas Mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya. X adalah skor-skor tiap butir soal untuk setiap individu atau siswa uji coba. 2. Agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut. dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian 2. Skor tiap butir soal dinyatakan skor X dan skor total dinyatakan sebagai skor Y. Pernyataan valid tersebut harus diikuti oleh keterangan yang menunjuk kepada tujuan (yaitu valid untuk mengukur apa). yaitu: dengan rxy merupakan koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y.1.1.kurang lengkap. dapat diketahui butir-butir soal manakah yang memenuhi syarat dilihat dari indeks validitasnya (Arikunto. 1999: 78) Untuk menguji validitas instrumen digunakan rumus korelasi product moment dengan angka kasar.

Kita tidak pernah dapat yakin bahwa validitas instrinsik telah terpenuhi dikarenakan kita tidak dapat membuktikannya secara empiris dengan langsung. yang dinyatakan oleh skor pada instrumen pengukur yang bersangkutan.1. Suatu alat ukur menghasilkan ukuran yang valid hanya bagi satu tujuan ukur tertentu saja. Tidak ada 8|Page . Pengukuran aspek-aspek psikologis dan sosial mengandung lebih banyak sumber kesalahan (error) daripada pengukuran aspek fisik. Kemudian hasil diatas dibandingkan dengan nilai t dari tabel pada taraf kepercayaan 95% dan derajat kebebasan (dk) = N–2.Setelah harga koefisien validitas tiap butir soal diperoleh. 2. Jika thitung > ttabel maka koefisien validitas butir soal pada taraf signifikansi yang dipakai. rxy adalah nilai koefisien korelasi tiap butir soal. Pengertian validitas alat ukur tidaklah berlaku umum untuk semua tujuan ukur. perlu dilakukan uji signifikansi untuk mengukur keberartian koefisien korelasi berdasarkan distribusi kurva normal dengan menggunakan statistik uji-t dengan persamaan: dengan: t merupakan nilai hitung koefisien validitas. dan N adalah jumlah siswa uji coba. validitas yang ideal tidaklah mudah untuk dapat dicapai. Dalam hal pengukuran ilmu sosial.5 Konsep Pengukuran Validitas Pengukuran validitas sebenarnya dilakukan untuk mengetahui seberapa besar (dalam arti kuantitatif) suatu aspek psikologis terdapat dalam diri seseorang.

6 Macam-macam validitas  Menurut Djaali dan Pudji (2008) validitas dibagi menjadi 3 yaitu: a. tes yang mempunyai validitas isi yang baik ialah tes yang benar-benar mengukur penguasaan materi yang seharusnya dikuasai sesuai dengan konten pengajaran yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). 2. Oleh karena itu.1. Sebutan validitas alat ukur hendaklah diartikan sebagi validitas hasil pengukuran yang diperoleh oleh alat ukur tersebut. Dengan demikian. Oleh karena itu. tetapi dipahami bahwa tes itu sudah valid berdasarkan telaah kisi- kisi tes. Itulah yang ditekankan oleh Cronbach (dalam Azwar 1986) bahwa dalam proses validasi sebenarnya kita tidak bertujuan untuk melakukan validasi alat ukur akan tetapi melakukan validasi terhadap interpretasi data yang diperoleh oleh prosedur tertentu. Dengan kata lain. wiersma dan Jurs dalam Djaali dan Pudji (2008) menyatakan 9|Page . Validitas isi (content validity) Validitas isi suatu tes mempermasalahkan seberapa jauh suatu tes mengukur tingkat penguasaan terhadap isi suatu materi tertentu yang seharusnya dikuasai sesuai dengan tujuan pengajaran. tugas atau butir dalam suatu tes atau instrumen mampu mewakili secara keseluruhan dan proporsional perilaku sampel yang dikenai tes tersebut.alat ukur yang dapat menghasilkan ukuran yang valid bagi berbagai tujuan ukur. Menurut Gregory (2000) validitas isi menunjukkan sejauhmana pertanyaan. walaupun kita terbiasa melekatkan predikat valid bagi suatu alat ukur akan tetapi hendaklah selalu kita pahami bahwa sebenarnya validitas menyangkut masalah hasil ukur bukan masalah alat ukurnya sendiri. yaitu valid untuk apa dan valid bagi siapa. Oleh karena itu. pernyataan seperti "alat ukur ini valid" belumlah lengkap apabila tidak diikuti oleh keterangan yang menunjukkan kepada tujuannya. Untuk mengetahui apakah tes itu valid atau tidak harus dilakukan melalui penelaahan kisi-kisi tes untuk memastikan bahwa soal-soal tes itu sudah mewakili atau mencerminkan keseluruhan konten atau materi yang seharusnya dikuasai secara proporsional. Artinya tes mencerminkan keseluruhan konten atau materi yang diujikan atau yang seharusnya dikuasai secara proporsional. validitas isi suatu tes tidak memiliki besaran tertentu yang dihitung secara statistika.

mulai dari perumusan konstruk. kecerdasan emosional dan lain-lain. intelegensi (kecerdasan intelekual).bahwa validitas isi sebenarnya mendasarkan pada analisis logika. Untuk menentukan validitas konstruk suatu instrumen harus dilakukan proses penelaahan teoritis dari suatu konsep dari variabel yang hendak diukur. lokus control. konsep diri. Perumusan konstruk harus dilakukan berdasarkan sintesis dari teori-teori mengenai konsep variabel yang hendak diukur melalui proses analisis dan komparasi yang logik dan cermat. 10 | P a g e . Validitas Konstruk (Construct validity) Menurut Djaali dan Pudji (2008) validitas konstruk adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh item-item tes mampu mengukur apa-apa yang benar- benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan. dan lain-lain. gaya kepemimpinan. Jadi situasi tes akan mempunyai validitas isi yang baik jika tes tersebut terdiri dari item-item yang mewakili semua materi yang hendak diukur. jadi tidak merupakan suatu koefisien validitas yang dihitung secara statistika. penentuan dimensi dan indikator. maupun yang sifatnya performansi maksimum seperti instrumen untuk mengukur bakat (tes bakat). baik yang sifatnya performansi tipikal seperti instrumen untuk mengukur sikap. penentuan proporsi tersebut dapat pula didasarkan pendapat (judgement) para ahli dalam bidang yang bersangkutan. sampai kepada penjabaran dan penulisan butir-butir item instrumen. Untuk memperbaiki validitas suatu tes. maka isi suatu tes harus diusahakan agar mencakup semua pokok atau sub-pokok bahasan yang hendak diukur. minat. motivasi berprestasi. b. Selain itu. Validitas konstruk biasa digunakan untuk instrumen-instrumen yang dimaksudkan mengukur variabel-variabel konsep. Salah satu cara yang biasa digunakan untuk memperbaiki validitas isi suatu tes ialah dengan menggunakan blue-print untuk menentukan kisi-kisi tes. Kriteria untuk menentukan proporsi masing-masing pokok atau sub pokok bahasan yang tercakup dalam suatu tes ialah berdasarkan banyaknya isi (materi) masing-masing pokok atau sub-pokok bahasan seperti tercantum dalam kurikulum atau Garis-Garis Besar Program Pengajaran(GBPP).

kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya. Aspek yang Ditelaah 1 2 3 Ket Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak A Materi 1 Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk uraian) 2 Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi. Kelas/Semester :………………………………………………………….. kontinyuitas. keterpakaian sehari-hari tinggi) 3 Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas B Konstruksi 4 Menggunakan kata tanya atau perintah 11 | P a g e . Petunjuk pengisian format penelaahan butir soal bentuk uraian: Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format! Berilah tanda cek ( ) pada kolom “ya” bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria Berilah tanda cek ( ) pada kolom “tidak” bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria.. maka proses validasi konstruk sebuah instrumen harus dilakukan melalui penelaahan atau justifikasi pakar atau melalui penilaian sekelompok panel yang terdiri dari orang-orang yang menguasai substansi atau konten dari variabel yang hendak diukur. Menyimak proses telaah teoritis seperti telah dikemukakan. relevasi. Nomor Soal No. Contoh Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Uraian Mata Pelajaran :………………………………………………………………………...…………. Penelaah :……………………………………………………………………….

grafik. gambar. yang menuntutjawaban uraian 5 Ada petunjuk yang jelas tentang cara pengerjaan soal. atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca C Bahasa 1 Rumusan kalimat soal komunikatif Butir soal menggunakan bahasa 2 Indonesia yang baku Tidak menggunakan kata/ungkapan 3 yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu 4 Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat menyinggung 5 perasaan siswa Catatan: ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… 12 | P a g e . 6 Ada pedoman penskorannya Tabel. peta.

Aspek yang Ditelaah 1 2 3 … Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak A Materi 1 Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk pilihan ganda) 2.Contoh Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Pilihan Ganda Mata Pelajaran :………………………………………………………………………. kontinyuitas. Kelas/Semester :………………………………………………………………………. Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi. Penelaah :………………………………………………………………………. kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya. relevasi. jelas dan tegas 2 Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja 3 Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban 4 Pokok soal bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda 5 Pilihan jawaban homogeny dan logis ditinjau dari segi materi 13 | P a g e . Nomor Soal No. Petunjuk pengisian format penelaahan butir soal bentuk pilihan ganda: Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format! Berilah tanda cek ( ) pada kolom “ya” bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria Berilah tanda cek ( ) pada kolom “tidak” bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria. keterpakaian sehari-hari tinggi) 3 Pilihan jawaban homogen dan logis 4 Hanya ada satu kunci jawaban Konstruksi 1 Pokok soal dirumuskan dengan singkat.

grafik. kecuali merupakan satu kesatuan pengertian Catatan: …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… 14 | P a g e . atau sejenisnya jelas dan berfungsi 7 Panjang pilihan jawaban relatif sama Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban di atas salah/benar” dan sejenisnya 8 Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya 9 Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya Bahasa 10 Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 11 Menggunakan bahasa yang komunikatif 12 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu 13 Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama. diagram. table. 6 Gambar.

Validitas eksternal Kriteria eksternal dapat berupa hasil ukur instrumen yang sudah baku atau instrumen yang dianggap baku dapat pula berupa hasil ukur lain yang sudah tersedia dan dapat dipercaya sebagai ukuran dari suatu konsep atau varaibel yang hendak diukur. sedangkan validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria eksternal disebut validitas eksternal. Validitas internal Validitas internal merupakan validitas yang diukur dengan besaran yang menggunakan instrumen sebagai suatu kesatuan (keseluruhan butir) sebagai kriteria untuk menentukan validitas item atau butir dari instrumen itu. Butir atau soal yang dianggap valid adalah butir instrumen atau soal tes yang skornya mempunyai koefesien korelasi yang signifikan dengan skor total instrumen atau tes. d. maka besaran validitas eksternal dari instrumen yang kita kembangkan didapat dengan jalan mengkorelasikan skor hasil ukur instrumen yang dikembangkan dengan skor 15 | P a g e . baik kriteria internal maupun kriteria eksternal. Validitas eksternal diperlihatkan oleh suatu besaran yang merupakan hasil perhitungan statistika. sehingga biasa disebut juga validitas butir. Jika kita menggunakan hasil ukur instrumen yang sudah baku sebagai kriteria eksternal. Ukuran lain yang sudah dianggap baku atau dapat dipercaya dapat pula dijadikan sebagai kriteria eksternal. Validitas yang ditentukan berdasarkan kriteria internal disebut validitas internal. Validitas empiris Validitas empiris sama dengan validitas kriteria yang berarti bahwa validitas ditentukan berdasarkan kriteria. e.c. Pengujian validitas butir instrumen atau soal tes dilakukan dengan menghitung koefesien korelasi antara skor butir instrumen atau soal tes dengan skor total instrumen atau tes. sedangkan kriteria eksternal adalah hasil ukur instrumen atau tes lain di luar instrumen itu sendiri yang menjadi kriteria. Kriteria internal adalah tes atau instrumen itu sendiri yang menjadi kriteria. Dengan demikian validitas internal mempermasalahkan validitas butir atau item suatu instrumen dengan menggunakan hasil ukur instrumen tersebut sebagai suatu kesatuan dan sebagai kriteria.

 Menurut Ebel (dalam Nazir 1988) membagi validitas menjadi  Concurrent Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan kinerja. bukan valid atau tidaknya butir instrumen seperti pada validitas internal.  Factorial Validity dari sebuah alat ukur adalah korelasi antara alat ukur dengan faktor- faktor yang yang bersamaan dalam suatu kelompok atau ukuran-ukuran perilaku lainnya. maka instrumen yang dikembangkan dapat valid berdasarkan kriteria eksternal yang dipilih (hasil ukur instrumen baku).  Construct Validity adalah validitas yang berkenaan dengan kualitas aspek psikologis apa yang diukur oleh suatu pengukuran serta terdapat evaluasi bahwa suatu konstruk tertentu dapat dapat menyebabkan kinerja yang baik dalam pengukuran. 16 | P a g e . hasil ukur instrumen baku yang dijadikan kriteria. Kriteria yang digunakan untuk menguji validitas eksternal adalah nilai table r (r-tabel). Ditinjau dari kriteria eksternal yang dipilih. Jika koefesien korelasi antara skor hasil ukur instrumen yang dikembangkan dengan skor hasil ukurinstrumen baku lebih besar dari pada r-tabel. maka validitas instrumen yang dikembangkan juga makin baik. validitas eksternal dapat dibedakan atas dua macam yaitu: 1. Validitas prediktif apabila kriteria eksternal yang digunakan adalah adalah ukuran atau penampilan masa yang akan datang. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran. 2.  Face Validity adalah validitas yang berhubungan apa yang nampak dalam mengukur sesuatu dan bukan terhadap apa yang seharusnya hendak diukur.  Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. dimana validitas ini diperoleh dengan menggunakan teknik analisis faktor. Jadi keputusan uji validitas dalam hal ini adalah mengenai valid atau tidaknya instrumen sebagai suatu kesatuan. Validitas kongkuren apabila kriteria eksternal yang digunakan adalah ukuran atau penampilan saat ini atau saat yang bersamaan dengan pelaksanaan pengukuran. Makin tinggi koefesien korelasi yang didapat.

namun dalam kenyataanya suatu koefisien validitas tidak akan pernah mencapai angka maksimal atau mendekati angka 1.  Intrinsic Validity adalah validitas yang berkenaan dengan penggunaan teknik uji coba untuk memperoleh bukti kuantitatif dan objektif untuk mendukung bahwa suatu alat ukur benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.  Curricular Validity adalah validitas yang ditentukan dengan cara menilik isi dari pengukuran dan menilai seberapa jauh pengukuran tersebut merupakan alat ukur yang benar-benar mengukur aspek-aspek sesuai dengan tujuan instruksional.1. Kerlinger (1990) membagi validitas menjadi tiga yaitu content validity (validitas isi). Sementara itu.  Predictive Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor suatu alat ukur dengan kinerja seseorang di masa mendatang. dan criterion-related validity (validitas berdasar kriteria). Walaupun semakin tinggi mendekati angka 1 berarti suatu tes semakin valid hasil ukurnya. 17 | P a g e .  Content Validity adalah validitas yang berkenaan dengan baik buruknya sampling dari suatu populasi. Koefisien validitas pun hanya punya makna apabila apalagi mempunyai harga yang positif.7 Koefisien Validitas Bila skor pada tes diberi lambang x dan skor pada kriterianya mempunyai lambang y maka koefisien antara tes dan kriteria itu adalah rxy inilah yang digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya validitas suatu alat ukur. Tidak semua pendekatan dan estimasi terhadap validitas tes akan menghasilkan suatu koefisien. Pada pendekatan-pendekatan tertentu tidak dihasilkan suatu koefisien akan tetapi diperoleh indikasi validitas yang lain. 2. Koefisien validitas diperoleh hanya dari komputasi statistika secara empiris antara skor tes dengan skor kriteria yang besarnya disimbolkan oleh rxy tersebut. Bahkan suatu koefisien validitas yang tinggi adalah lebih sulit untuk dicapai daripada koefisien reliabilitas. construct validity (validitas konstruk).

. RELIABILITAS 2. relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama – sama memegang peranan penting dalam waktu yang bersamaan. . keterandalan. keajegan. Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes. biasanya sebagai koefisien. reliable yang artinya dapat di percaya. yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg. Menurut Sukardi (2008) Ada beberapa tipe reliabelitas yang digunakan dalam kegiatan evaluasi dan masing-masing reliebelitas mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable).1. “reliabilitas” merupakan kata benda. Menurut Sukadji (2000) reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. 18 | P a g e . Suatu instrument evaluasi dikatakan mempunyai nilai reliabelitas tinggi.8 Pengertian Relibilitas Kata reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil dari reliability dalam bahasa inggris. Menurut Nursalam (2003) Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berlainan. sedangkan “reliable” merupakan kata sifat atau keadaan. namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka. berasal dari kata. Menurut Sugiono (2005) Pengertian Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. . apabila tes yang dibuat mempunyai hasil konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Menurut Sukardi (2008: 43) relaibelitas adalah karakter lain dari evaluasi. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. kestabilan dan konsistensi. . Reliabelitas juga dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan.Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai arti seperti kepercayaan.

kecuali substansi item 19 | P a g e .9 Tipe-tipe Reliabelitas Berbagai tipe tersebut akan diuraikan sebagai berikut: 1) Relibalelitas Dengan Tes-Retes Reliabelitas tes-retes tidak lain adalah derajat yang menunjukkan konsistensi hasil sebuah tes dari waktu ke waktu. Reliebelitas tes retes dapat dilakukan dengan cara seperti berikut: 1.1. 2. Dengan kata lain. dan belah dua yang ditentukan melalui korelasi. berarti reliabilias tes adalah bagus. ekivalen. jika korelasi rendah. maka metode ini dapat disebut juga dengan single-test-double-trial- method. berarti tes tersebut mempunyai konsistensi rendah (Sukardi. 2) Reliabelitas Dengan Bentuk Ekivalensi Sesuai dengan namanya yaitu ekivalen. kita tertarik dalam mencari kejelasan bahwa skor siswa mencapai suatu tes pada waktu tertentu adalah sama hasilnya. 2008). misalnya satu minggu atau dua minggu. Dengan melakukan tes-retes tersebut. Setiap tampilannya.Beberap tipe reliebelitas di antaranya: tes-retes. Oleh karena tesnya satu dan dicobakan dua kali. 3. Setelah selang waktu tertentu. Korelasikan kedua hasil tes tersebut. Selenggarakan tes pada suatu kelompok yang tepat sesuai dengan rencana. Tes-Retes menunjukkan variasi skor yang diperoleh dari penyelenggaraan satu tes evaluasi yang dilaksanakan dua kali atau lebih. Sebaliknya. 2. Seorang guru akan mengetahui seberapa jauh konsistensi suatu tes mengukur apa yang ingin diukur (Sukardi. ketika siswa itu dites lagi dengan tes yang sama. Dalam menggunakan teknik atau metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes tapi dicobakan dua kali. sebagai akibat kesalahan pengukuran. maka tes evaluasi yang hendak diukur reliabelitasnya dibuat identik dengan tes acuan. Sedangkan Arikunto (1997: 88) Metode tes ulang (tes-retes) dilakukan untuk menghindari dua penyusunan dua seri tes. Jika hasil koefisien menunjukkan tinggi. lakukan kembali tes yang sama dengan kelompok yang sama tersebut. 2008).

20 | P a g e . Lakukan tes yang dimaksud kepada subjek sasaran tersebut. Korelasikan kedua hasil skor tersebut (Sukardi. tetapi butir-butirnya berbeda. cara penskoran. 2008). mempunyai tingkat kesulitan dan mempunyai petunjuk. struktur sama.yang ada. Cara melakukan reliabilitas belah dua pada dasarnya dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 1. lakukan pengetesan yang kedua kalinya pada kelompok tersebut 5. Tentukan sasaran yang hendak dites 2. Perlu diketahui juga bahwa tes ekivalensi mempunyai kelemahan yaitu bahwa membuat dua buah tes yang secara esensial ekivalen adalah sulit. Tes reliabelitas secara ekivalen dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1. dapat berbeda. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 87) tes paralel atau equivalent adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan. tingkat kesukaran dan susunan. Administrasinya hasilnya secara baik. 4. 2008). Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat kepada subjek sasaran. Dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kedua tes tersebut sebaliknya mempunyai karate yang sama. Karakteristik yang dimaksud misalnya mengukur variabel yang sama. 3) Reliebilitas Dengan Bentuk Belah Dua Menurut Sukardi (2008: 47) Reliabilitas belah dua ini termasuk reliabilitas yang mengukur konsistensi internal. Dalam istilah bahasa Inggris disebut Alternate-forms method (parallel forms). mempunyai jumlah item sama. Yang dimaksud konsistensi internal adalah salah satu tipe reliabilitas yang didasarkan pada keajegan dalam setiap item tes evaluasi. Relibilitas belah dua ini pelaksanaanya hanya satu kali. dan interpretasi yang sama (Sukardi 2008). Akibatnya akan selalu terjadi kesalahan pengukuran (Sukardi. Pernyataan lain juga disampaikan oleh Arikunto (1997: 88) kelemahan dari metode ini adalah pengetes pekerjaannya berat karena harus menyusun dua seri tes. 3. Lagi pula harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.

semakin panjang suatu tes evaluasi. koefisien reliabelitas secara langsung dipengaruhi oleh bentuk sebaran skor dalam kelompok siswa yang di ukur. akan mempengaruhi koefisien reliabilitas. Bagi tes yang ada menjadi dua atas dasar dua item. yang dimaksud dengan objektif yaitu derajat dimana siswa dengan kompetensi sama. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi reliabilitas instrument evaluasi di antaranya sebagai berikut:: 1) Panjang tes. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Instrumen Menurut Sukardi (2008:51-52) koefisien reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu penyelenggaraan tes-retes. menggunakan formula korelasi yang relevan dengan teknik pengukuran (Sukardi. Interval penyelenggaraan yang terlalu dekat atau terlalu jauh. 4) Objektifitas. yang paling umum dengan membagi item dengan nomor ganjil dengan item dengan nomor genap pada kelompok tersebut. semakin banyak jumlah item materi pembelajaran diukur. 21 | P a g e . cenderung menghasilkan skor reliabilitas rendah. Semakin tinggi sebaran. Korelasikan kedua skor tersebut. 2008). 2) Penyebaran skor.2. 3. 4. mencapai hasil yang sama. Hitung skor subjek pada kedua belah kelompok penerima item genap dan item ganjil. 3) Kesulitan tes. semakin tinggi estimasi koefisien reliable. tes normative yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk siswa.

Relibalelitas Dengan Tes-Retes . Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Prinsif validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang berarti prinsif keandalan instrumen dalam mengumpulkan data.Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai arti seperti kepercayaan. namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Validitas empiris Tipe-tipe reabilitas adalah: . keterandalan. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran atau pengamatan. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Secara umum macam-macam validitas terbagi atas 3. kestabilan dan konsistensi. Reliebilitas Dengan Bentuk Belah Dua 22 | P a g e . keajegan. Reliabelitas Dengan Bentuk Ekivalensi . yaitu: 1. Validitas Konstruk (Construct validity) 3. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. BAB III PENUTUP Kesimpulan Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Validitas isi (content validity) 2.

(1997).blogspot. S.html http://lukmanreza.wordpress. Evaluasi Pendidikan.html http://binham. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara http://violetatniyamani.com/2007/09/teori-validitas.blogspot.com/2012/01/07/validitas-reliabilitas-instrumen-evaluasi/ 23 | P a g e . Jakarta: Bumi Aksara Sukardi.com/2011/12/uji-validitas-dan-reabilitas. (2008).