You are on page 1of 30

TUGAS TA4202 Kebijakan Pertambangan

Tumpang Tindih Peruntukan Lahan antara Kegiatan
Pertambangan dengan Penataan Ruang, Lingkungan
Hidup, dan Kehutanan

Oleh :
KELOMPOK 1

12114049 Ahmad Wali Radhi

12115008 Dini Andriani

12115036 Yuyun Wahyudin

12115060 Syani Liffa Suci

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang besar dan kaya raya. Potensi
kekayaan alamnya melimpah, baik sumber daya alam hayati maupun non hayati. Bisa
dibayangkan, kekayaan alamnya mulai dari kekayaan laut, darat, bumi dan kekayaan
lainnya yang terkandung di dalam. Ditinjau dari segi geologi, Indonesia terletak
pada jalur proses tektonik yakni pertemuan tiga lempeng sehingga menjadikan
Indonesia menjadi negara memiliki potensi yang besar untuk terjadinya pembentukan
sumberdaya mineral dan batubara.
Potensi sumberdaya mineral dan batubara yang besar, disertai dengan letak
keterdapatannya di bumi (Indonesia), membuat terjadinya konflik kepentingan
antara kepentingan untuk mengelola sumberdaya mineral dan batubara menjadi
sumber perekonomian nasional/sumber devisa negara/daerah, dengan masyarakat
yang memiliki kepentingan lainnya juga, ditambah dengan proses pertambangan yang
melakukan perubahan bentang alam, perubahan ekosistem, dan perubahan-perubahan
rona lingkungan awal lainnya yang mana bertentangan dengan masyarakat .Namun
tak bisa dipungkiri bahwa tambang sangat berperan penting dalam tatanan kehidupan.

Industri pertambangan sebagai bentuk konkret sektor pertambangan,
menyumbang sekitar 11,2% dari nilai ekspor Indonesia dan memberikan kontribusi
sekitar 2,8% terhadap pendapatan domestik bruto (PDB). Industri pertambangan
mempekerjakan sekitar 37.787 tenaga kerja orang Indonesia, suatu jumlah yang tidak
sedikit.

Namun dari sisi lingkungan hidup, pertambangan dianggap paling merusak
dibanding kegiatan-kegiatan eksploitasi sumberdaya alam lainnya. Pertambangan
dapat mengubah bentuk bentang alam, merusak dan atau menghilangkan vegetasi,
menghasilkan limbah tailing, maupun batuan limbah, serta menguras air tanah dan air
permukaan. Jika tidak direhabilitasi, lahan-lahan bekas pertambangan akan
membentuk kubangan raksasa dan hamparan tanah gersang yang bersifat asam.

Permasalahan lain yang juga menjadi isu penting adalah dalam peraturan yang
mengatur kegiatan pertambangan masih dijumpai adanya kebijakan lintas sektoral

yang saling tumpang tindih, ditambah dengan kepastian hukum di Indonesia yang
masih belum optimal, kegiatan ilegal dalam dunia pertambangan menjadi lebih marak.

Untuk menjembatani kepentingan tersebut, diperlukan kebijakan tepat dan
komprehensif yang mampu mengoptimalkan sektor pertambangan dan sektor lainnya
tanpa terjadi tumpeng tindih. Kebijakan ini nantinya diharapkan juga dapat
memberikan konsistensi, kejelasan, dan koordinasi (3K) dari pemerintah kepada para
pengusaha pertambangan dalam menjalankan usahanya.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pendahuluan yang telah diuraikan sebelumnya, maka
perumusan masalah yang akan diteliti dan dibahas lebih lanjut dalam penulisan
makalah ini ialah :

1. Apa faktor penyebab terjadinya konflik antara sector pertambangan dengan
berbagai sector lainnya, khususnya penataan ruang, lingkungan hidup, dan
kehutanan ?
2. Apa dampak dari tumpang tindih peruntukan lahan kegiatan pertambangan dengan
penataan ruang, lingkungan hidup, dan kehutanan ?
3. Bagaimana cara mengatasi tumpang tindih peruntukan lahan ?
1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya konflik antara sector pertambangan
dengan berbagai sector lainnya, khususnya penataan ruang, lingkungan hidup, dan
kehutanan.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis dampak yang ditimbulkan dari tumpang
tindih peruntukan lahan kegiatan pertambangan dengan penataan ruang,
lingkungan hidup, dan kehutanan.
3. Untuk mengetahui cara mengatasi tumpang tindih peruntukan lahan.
1.4. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini ialah :

 Untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai tumpang tindih
peruntukan lahan antara kegiatan pertambangan dengan penataan ruang,
lingkungan hidup, dan kehutanan.

. Metode Analisis Metode yang digunakan dalam menganalisis kasus ini adalah menggunakan studi literatur lalu melakukan analisis terhadap penyebab konflik tersebut.5. 1.  Untuk memberikan manfaat bagi pembaca sebagai bahan informasi mengenai tinjauan yuridis.

Oleh karena itu diperlukan peraturan yang jelas terkait dengan hal-hal seperti: kebijakan terkait kehutanan. b. Pasal 9 ayat 1 (cara penetapan WP sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan wilayah pertambangan) landasan bagi penetapan kegiatan pertambangan. b) Undang-Undang Minerba No. a) Undang-Undang Dasar Pasal 33 ayat 3 Bumi. termasuk kegiatan Pertambangan. serta kegiatan pascatambang. dan . gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. eksplorasi. dan lingkungan hidup dapat diselesaikan dengan baik.4 tahun 2009 Pasal 1 ayat 29 (wilayah Wilayah Pertambangan. air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. lingkungan hidup.1. pengangkutan dan penjualan. pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum. adalah pertambangan merupakan wilayah yang memiliki potensi mineral dan / atau batubara dan bagian dari tata ruang nasional) tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. konstruksi. salah satunya tata guna lahan. setiap kegiatan yang berlangsung dalam negara Indonesia diatur dalam perundang-undangan. tata ruang. tata ruang. studi kelayakan. Seluruh kegiatan diatas secara langsung maupun tidak langsung akan bertabrakan dengan kegiatan lain yang menunjang kegiatan pertambangan. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian. Mengenai IUP Pasal 37 (pemberian keputusan IUP diberikan oleh: IUP) a. yang selanjutnya disebut WP. pengolahan dan pemurnian. bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota. dan kebijakan terkait pertambangan itu sendiri agar nantinya permasalahan terkait lahan di pertambangan baik dari segi pengelolaan hutan. penambangan. Dasar Hukum Kegiatan Pertambangan terkait Peruntukan Lahan Indonesia merupakan negara hukum.

amdal 2) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b wajib memuat ketentuan sekurang- kurangnya: a. jaminan kesungguhan. c. b. jangka waktu tahap kegiatan. e. g. nama perusahaan. pengangkutan dan penjualan. c. . h. e. modal investasi. k. penyelesaian perselisihan. iuran tetap dan iuran eksplorasi. c. h. lokasi dan luas wilayah. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 39 (adanya penyerahan 1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat dokumen rencana tata ruang) (1) huruf a wajib memuat ketentuan sekurang-kurangnya: a. hak dan kewajiban pemegang IUP. i. luas wilayah. hak dan kewajiban pemegang IUP. dana jaminan reklamasi dan pascatambang. perpanjangan waktu tahap kegiatan. l. jenis usaha yang diberikan. perpanjangan IUP. l. i. modal investasi. f. rencana umum tata ruang. n. perpajakan. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat disekitar wilayah pertambangan. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. m. f. lokasi penambangan. jangka waktu berlakunya IUP. g. lokasi pengolahan dan pemurnian. d. j. jangka waktu berlakunya tahap kegiatan. m. b. lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pascatambang. penyelesaian masalah pertanahan. k. nama perusahaan. dan n. j. d.

keselamatan dan kesehatan kerja. dan teknologi dalam negeri. (5) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik. Tentang IUPK Pasal 74 (pemberian IUPK) (1) IUPK diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah. penguasaan. wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak dimanfaatkan pihak lain. p. wajib mengajukan permohonan IUPK baru kepada Menteri. b. (6) Pemegang IUPK yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pasal 78 (adanya rencana tata IUPK Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat ruang) 4 huruf a sekurangkurangnya wajib memuat: a. s. nama perusahaan. r. pengembangan. . u. pengembangan tenaga kerja Indonesia. penerimaan negara bukan pajak yang terdiri atas iuran tetap dan iuran produksi. o. (7) IUPK untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat diberikan kepada pihak lain oleh Menteri. t. q. konservasi mineral atau batubara. pemanfaatan barang. perpajakan. (3) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral lain di dalam WIUPK yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya. dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau batubara. v. w. luas dan lokasi wilayah. penyelesaian perselisihan. (2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral logam atau batubara dalam 1 (satu) WIUPK. jasa. dan x. (4) Pemegang IUPK yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pengelolaan data mineral atau batubara.

dan n. o. pemanfaatan barang. modal investasi. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. jasa. b. jenis usaha yang diberikan. c. j. iuran tetap dan iuran produksi serta bagian pendapatan negara/daerah. dana jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang. hak dan kewajiban. penyelesaian masalah pertanahan. s. modal investasi. perpanjangan IUPK. g. jaminan kesungguhan. e. k. c. jangka waktu tahap kegiatan. g. d. i. f. teknologi serta kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam negeri. keselamatan dan kesehatan kerja. m. hak dan kewajiban pemegang IUPK. l. lingkungan hidup. konservasi mineral atau batubara. nama perusahaan. rencana umum tata ruang. n. jangka waktu berlakunya IUPK. f. j. p. penyelesaian perselisihan masalah pertanahan. penyelesaian perselisihan. termasuk reklamasi dan pascatambang. jangka waktu tahap kegiatan. m. h. iuran tetap dan iuran eksplorasi. Pasal 79 IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat C(1) huruf b sekurang-kurangnya wajib memuat: a. yang terdiri atas bagi hasil dari keuntungan bersih sejak berproduksi. d. perpanjangan waktu tahap kegiatan. lokasi pengolahan dan pemurnian. pengangkutan dan penjualan. t. h. k. perpajakan. . q. e. r. luas wilayah. amdal. lokasi penambangan. perpajakan. l. i.

penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik. divestasi saham. koperasi dan perseorangan dengan cara lelang Pasal 52 (1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5. penguasaan. x. Paragraf 3 Pertambangan Mineral Bukan Logam Pasal 54 WIUP mineral bukan logam diberikan kepada badan usaha. pengelolaan data mineral atau batubara. pengembangan tenaga kerja Indonesia w. koperasi.000 (dua puluh lima ribu) hectare.000 (lima ribu) hektare dan paling banyak 100. (2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral logam dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda. pengembangan dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau batubara.000 (seratus ribu) hektare. . dan perseorangan dengan cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37. Pasal 53 Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling banyak 25. Mengenai luas wilayah IUP Paragraf 1 Pertambangan Mineral Radioaktif Pasal 50 WUP mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan pengusahaannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Paragraf 2 Pertambangan Mineral Logam Pasal 51 WIUP mineral logam diberikan kepada badan usaha. (3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama. u. dan y. v.

dan perseorangan dengan cara lelang. Pasal 58 (1) Pemegang IUP Eksplorasi batuan diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5 (lima) hektare dan paling banyak 5. (2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batubara dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.000 (lima ribu) hektare. koperasi. (3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama. .000 (lima ribu) hektare dan paling banyak 50. Pasal 59 Pemegang IUP Operasi Produksi batuan diberi WIUP dengan luas paling banyak 1. Pasal 56 Pemegang IUP Operasi Produksi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling banyak 5. (3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama. dan perseorangan dengan cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37. Bagian Kelima Pertambangan Batubara Pasal 60 WIUP batubara diberikan kepada badan usaha.Pasal 55 (1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit 500 (lima ratus) hectare dan paling banyak 25. Pasal 61 (1) Pemegang IUP Eksplorasi Batubara diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000 (seribu) hektare. koperasi.000 (lima puluh ribu) hektare.000 (dua puluh lima ribu) hektare. (2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda. (2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batuan dapat diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda. Paragraf 4 Pertambangan Batuan Pasal 57 WIUP batuan diberikan kepada badan usaha.000 (lima ribu) hektare.

Pasal 62 Pemegang IUP Operasi Produksi batubara diberi WIUP dengan luas paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare.4 tahun 2009 .000 (dua puluh lima ribu) hektare. e. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan batubara dapat diberikan paling lama 7 (tujuh) tahun. dan Pasal 60 diatur dengan peraturan pemerintah. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan mineral logam diberikan dengan luas paling banyak 100. d. b. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan batubara diberikan dengan luas paling banyak 50. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan batubara diberikan dengan luas paling banyak 15. Pasal 84 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (2) dan ayat (3).000 (seratus ribu) hektare. (3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama. c. Pasal 63 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51. Peraturan Terkait Lahan Pertambangan pada UU Mineraba no. Tabel 1.000 (lima puluh ribu) hektare. Pasal 57. f. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan mineral logam dapat diberikan paling lama 8 (delapan) tahun. jangka waktu IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara dapat diberikan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.000 (lima belas ribu) hektare. Pasal 54. dan Pasal 75 ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan mineral logam diberikan dengan luas paling banyak 25. Mengenai luas wilayah IUPK Pasal 83 Persyaratan luas wilayah dan jangka waktu sesuai dengan kelompok usaha pertambangan yang berlaku bagi pemegang IUPK meliputi: a.

Tidak tumpang tindih dengan batas administrasi wilayah di luar kewenangannya 3.2. Pola pertambangan terbuka . 2. Dasar Hukum tentang Kehutanan terkait Peruntukkan Lahan Pertambangan Dasar Hukum yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.2 Tahun 2013 Pasal 4. Telah menggunakan sistem koordinat pemetaan dengan Datum Geodesi Nasional yang mempunyai parameter sama dengan parameter ellipsoid world geodetic system 4. Penjelasan : Pada prinsipnya di kawasan hutan tidak dapat dilakukan pola pertambangan terbuka. (4) Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka. Telah mengumumkan renana penetapan WIUP mineral bukan logam dan WIUP batuan kepada masyarakat dan tdak ada keberatan dari pemegang hak atas tanah Ayat 2c: pemrosesan permohonan WIUP mineral bukan logam dan WIUP batuan sebagaimana dimaksud pada huruf a yang tumpang tindih dengan WIUP mineral logam dan WIUP batubara hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan rekomendasi dari Direktur Jenderal dan mendapatkan pertimbangan dari pemegang IUP mineral logam dan/atau IUP Batubara berdasarkan perjanjian pemanfaatan lahan Bersama. c) Peraturan Menteri ESDM No. Pasal 38 ayat 3 & 4 (3) Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pertambangan dilakukan melalui pemberian izin pinjam pakai oleh Menteri dengan mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan. Tidak tumpang tindih dengan IUP lainnya yang sama komoditas tambangnya 2. Ayat 2b dan 2c mengenai penumpang tindih wilayah izin pertambangan Ayat 2b: sebelum memproses penetapan WIUP mineral bukan logam dan WIUP batuan wajib memastikan peta dan koordinat wilayah sebagaimana dimaksud pada huruf a: 1.

kearifan lokal. dan/atau program. wajib dilaksanakan oleh pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan kegiatan pertambangan Tabel 2. perubahan iklim. Pasal 45 ayat (2) Reklamasi pada kawasan hutan bekas areal pertambangan. peraturan daerah kabupaten/kota untuk RPPLH kabupaten/ kota. 2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi: . b. Dasar Hukum tentang Lingkungan Hidup terkait Peruntukkan Lahan Pertambangan Dasar Hukum yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. ataubupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 10 1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 disusun oleh Menteri. sebaran potensi sumber daya alam. d.3. sebaran penduduk. e. peraturan pemerintah untuk RPPLH nasional. b. aspirasi masyarakat. peraturan daerah provinsi untuk RPPLH provinsi. Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pasal 15 1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan. rencana. gubernur. Peraturan Terkait Lahan Pertambangan pada UU No. 2) Penyusunan RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperhatikan: a. keragaman karakter dan fungsi ekologis. c. dan c. dan f. 3) RPPLH diatur dengan: a.41 tahun 1999 2. dimungkinkan dapat dilakukan di kawasan hutan produksi dengan ketentuan khusus dan secara selektif.

dan kabupaten/kota. dan/atau i. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko lingkungan hidup. Amdal Pasal 23 1) Kriteria usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting yang wajib dilengkapi dengan amdal terdiri atas: a. rencana. hewan. dan b. proses dan kegiatan yang secarapotensial dapat menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemborosan dan kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. serta lingkungan sosial dan budaya. f. d. Tata Ruang Pasal 19 1) Untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat. b. dan jasad renik. kebijakan. Pasal 25 Dokumen amdal memuat: a. proses dan kegiatan yang hasilnya dapatmempengaruhi lingkungan alam. g. e. setiap perencanaan tata ruang wilayah wajib didasarkan pada KLHS. penerapan teknologi yang diperkirakanmempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. dan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional. c. provinsi. eksploitasi sumber daya alam. . 2) Perencanaan tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup. kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. rencana tata ruang wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya. pengubahan bentuk lahan dan bentangalam. h. lingkungan buatan. pengkajian mengenai dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati. rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). a. baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan.

c. dan f. kawasan peruntukan pertambangan. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 5 ayat 2 Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budi daya. prakiraan terhadap besaran dampak serta sifat penting dampak yang terjadi jika rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dilaksanakan. kawasan peruntukan permukiman. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang- undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. kawasan peruntukan pertanian. d. gubernur. evaluasi kegiatan di sekitar lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. kawasan peruntukan hutan rakyat. evaluasi secara holistik terhadap dampak yang terjadi untuk menentukan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup. Dasar Hukum tentang Tata Ruang terkait Peruntukkan Lahan Pertambangan a. Peraturan terkait Lahan Pertambangan pada UU No. b. kawasan peruntukan industri. atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya wajib diintegrasikan ke dalam izin lingkungan paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini ditetapkan. Tabel 3. kawasan peruntukan perikanan. rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.32 Tahun 2009 2. e. saran masukan serta tanggapan masyarakatterhadap rencana usaha dan/atau kegiatan. . Pasal 123 Segala izin di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikeluarkan oleh Menteri. Pengawasan Pasal 71 1) Menteri.gubernur.4. Penjelasan: Yang termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan peruntukan hutan produksi.

dan kawasan pariwisata. kawasan peruntukan pariwisata. serta kawasan yang menjadi lokasi instalasi tenaga nuklir. kawasan perkotaan metropolitan. kawasan pertanian. Pasal 34 ayat 1 huruf b Perumusan program sektoral dalam rangka perwujudan struktur ruang dan pola ruang wilayah dan kawasan strategis. dan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota. adalah kawasan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk pertambangan minyak dan gas bumi lepas pantai. kawasan perindustrian. penataan ruang kawasan strategis provinsi. adalah kawasan yang dikembangkan untuk mendukung fungsi pertahanan dan keamanan nasional. kawasan pertambangan sumber daya alam strategis. Penjelasan: Program sektoral dalam pemanfaatan ruang mencakup pula program pemulihan kawasan pertambangan setelah . kawasan pertambangan. dan kawasan-kawasan budi daya lain yang menurut peraturan perundang-undangan perizinan dan/atau pengelolaannya merupakan kewenangan Pemerintah. kawasan tempat beribadah. Penjelasan: Yang termasuk kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi. dan kawasan pertahanan keamanan Pasal 5 ayat 5 Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan strategis nasional. antara lain. kawasan industri strategis. antara lain. Penjelasan: Kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis provinsi dapat berupa kawasan permukiman. Pasal 20 ayat 1 huruf c Rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi kawasan lindung nasional dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional. kawasan kehutanan. kawasan pendidikan. Pasal 23 ayat 1 huruf c Rencana pola ruang wilayah provinsi yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis provinsi. Penjelasan: Kawasan budi daya yang mempunyai nilai strategis nasional.

atau logam mulia. berakhirnya masa penambangan agar tingkat kesejahteraan masyarakat dan kondisi lingkungan hidup tidak mengalami penurunan. Tabel 4. Penjelasan: Kegiatan pokok yang membutuhkan jaringan jalur kereta api khusus. Peraturan terkait Lahan Pertambangan pada UU No. pengembangan kegiatan yang berbasis kelautan. dan pertambangan. . dan ruang udara. Pendekatan ini dapat diterapkan pula untuk. gula. kehutanan.26 Tahun 2007 b. ruang laut. kegiatan pertambangan yang membutuhkan jaringan jalur kereta api untuk pengangkutan batubara serta kegiatan industri yang membutuhkan jaringan jalur kereta api untuk pengangkutan hasil produksi (semen. Penjelasan: Kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional adalah kawasan yang menjadi tempat kegiatan perekonomian yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dan/atau menjadi tempat kegiatan pengolahan sumber daya strategis seperti kawasan pertambangan dan pengolahan migas. antara lain. termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah. dan baja). PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional Pasal 8 ayat 2 huruf a Menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat. radioaktif. Penjelasan: Pengembangan kawasan agropolitan merupakan pendekatan dalam pengembangan kawasan perdesaan. antara lain. Pasal 22 ayat 1 Jaringan jalur kereta api khusus dikembangkan oleh badan usaha tertentu untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tersebut. Pasal 48 ayat 4 Kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk kawasan agropolitan.

b. atau bidang lainnya. pertambangan panas bumi. Penjelasan: Kegiatan atau fungsi tertentu. pariwisata. Penjelasan: . e. pelabuhan minyak dan gas bumi untuk kegiatan pertambangan. pertanian. kawasan peruntukan pertanian. pertambangan minyak dan gas bumi. dan/atau c. Penjelasan: Kawasan peruntukan pertambangan dimaksudkan untuk mengarahkan agar kegiatan pertambangan dapat berlangsung secara efisien dan produktif tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. perikanan. kawasan peruntukan perikanan. atau gas berdasarkan peta/data geologi. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk pemusatan kegiatan pertambangan secara berkelanjutan. antara lain. c. adalah fungsi pertahanan keamanan. kawasan peruntukan pertambangan. memiliki sumber daya bahan tambang yang berwujud padat. kawasan peruntukan hutan produksi. yang dalam pelaksanaan kegiatan usaha pokoknya memerlukan fasilitas pelabuhan. Pasal 63 Kawasan budi daya terdiri atas: a. merupakan bagian proses upaya merubah kekuatan ekonomi (3) Kriteria teknis kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang pertambangan. kehutanan. kegiatan perindustrian. Pasal 68 ayat 1-3 (1) Kawasan peruntukan pertambangan yang memiliki nilai strategis nasional terdiri atas pertambangan mineral dan batubara. b. d. kawasan peruntukan hutan rakyat. serta air tanah. (2) Kawasan peruntukan pertambangan ditetapkan dengan kriteria: a. pelabuhan perikanan untuk kegiatan perikanan. Contohnya pangkalan angkatan laut untuk fungsi pertahanan keamanan. cair.Pasal 27 ayat 1 Pelabuhan khusus dikembangkan untuk menunjang pengembangan kegiatan atau fungsi tertentu. pertambangan.

tidak mengganggu fungsi lindung. atau e. berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa. berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis Penjelasan: Sumber daya alam strategis nasional. meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. c. d. d. antara lain. meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. Penerapan kriteria kawasan peruntukan pertambangan secara tepat diharapkan akan mendorong terwujudnya kawasan pertambangan yang diharapkan dapat memberikan manfaat berikut: a. serta tenaga atom dan nuklir. batubara. b. meningkatkan pendapatan masyarakat. e. diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis nasional. meningkatkan kesejahteraan masyarakat potensial menjadi kekuatan ekonomi riil. f. berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir. Pasal 79 Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi ditetapkan dengan kriteria: a. meningkatkan ekspor. c. b. memperhatikan upaya pengelolaan kemampuan sumber daya alam. menciptakan kesempatan kerja. h. Pasal 110 Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan: . panas bumi. memiliki sumber daya alam strategis nasional. dan beberapa jenis mineral tertentu yang ditetapkan sebagai pencadangan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. g. meliputi pertambangan minyak dan gas bumi. dan/atau i. meningkatkan produksi pertambangan dan mendaya gunakan investasi. pengembangan antariksa.

pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah. Peraturan terkait Lahan Pertambangan pada PP No. a. b. Oleh sebab itu. Penjelasan: Kawasan pertambangan dapat mencakup ruang laut yang ditetapkan sebagai alur pelayaran. dan c. pengembangan kegiatan pertambangan perlu diatur agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas kapal.26 Tahun 2008 . termasuk Alur Laut Kepulauan Indonesia. pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang- undangan. Tabel 5. pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat.

Analisis kimia terhadap contoconto sedimen sungai dari daerah sekitar G.769 ppb Au. breksi dan lava andesitik yang pada umumnya telah terstrukturkan dan mengalami ubahan hidrotermal terpropilitkan berasosiasi dengan mineralisasi pirit tersebar dan stockwork urat kalsit-kuarsa-epidot di bagian-bagian zona tersesarkan atau dimana zona rekahan terjadi secara intensif. Jawa Timur Secara geologi kawasan hutan lindung di Kabupaten Lumajang.Mahameru (Semeru). diduga erat hubungannya dengan mineralisasi dalam batuan gunungapi tersebut. BAB III STUDI KASUS Tumpang Tindih Potensi Sumber Daya Alam pada Kawasan Hutan Lindung di Daerah Lumajang. Kecamatan Donomulyo. kemungkinan merupakan bagian dari mineralisasi Cu – Au yang ditemukan di daerah Tempursari dan sekitarnya. Indikasi ubahan dan mineralisasi pirit dengan asosiasi urat-urat kalsit-kuarsa-epidot. Jawa Timur dibentuk oleh dominan batuan-batuan bersusunan andesitik hingga basaltik berasal dari produk kegiatan gunungapi dari umur tertua Oligosen Atas-Miosen Awal (Formasi Mandalika) hingga Plistosen (terdiri atas Batuan Gunungapi Jembangan.0 ppb Au dan maksimum 2. Formasi Mandalika menempati sebagian kecil kawasan hutan lindung bagian baratdaya yang tersingkap sebagai jendela erosi (erosional window) di antara endapan piroklastik dari produk G. yang berada di sebelah selatan daerah kegiatan. ditemukan juga indikasi mineralisasi berupa pengayaan supergen mengandung bijih mangan (Mn) yang mengisi rongga-rongga pada bagian kontak batugamping dan tuf.Lumajang yaitu daerah desa Kalirejo.Berangkal telah mendeteksi kandungan minimum 77. Formasi Mandalika disusun oleh batuan-batuan tuf. Berdasarkan laporan terdahulu bahwa eksplorasi telah ditingkatkan hingga penentuan kualitas bahan galian.Kukusan – G. Indikasi mineralisasi ditemukan di daerah tepi bagian selatan kawasan hutan lindung berupa urat-urat kuarsa tipis mengandung pirit pada batuan gunungapi terpropilitkan dan terkersikkan (Formasi Mandalika). yang .Mesigit – G. Endapan Gunungapi Tengger dan Batuan Gunungapi Semeru). Di bagian lain dari wilayah perbatasan Kabupaten Malang . diduga merupakan karakteristik zona terluar (outer alteration zone) dari suatu sistem mineralisasi porfiri (porphyry system).

Sudah sejak lama.menghasilkan informasi tentang cadangan sebesar 25. hal ini mengakibatkan banyak daerah potensi sumber daya mineral menjadi tidak dapat diusahakan. Maka pada tanggal 15 Juli 2004 Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat RI bersepakat untuk melakukan perubahan terhadap UU Kehutanan Nomor 41/1999 dengan menerbitkan Perpu Nomor 1 Tahun 2004. yang berisi izin usaha pertambangan di kawasan hutan lindung menggunakan system tertutup (= pertambangan dalam/bawah permukaan). 41 Tahun 1999 tersebut adalah timbulnya permasalahan tumpang tindih lahan antara wilayah ijin usaha pertambangan yang telah diberikan sebelum terbitnya UU No.Jawa Timur. ● Bahwa daerah termineralisasi terletak pada bagian wilayah Kabupaten Lumajang dimana infrastruktur jalan raya utama jalur selatan melaluinya dan berperan sebagai satu-satunya sarana transportasi atau jalur urat nadi perekonomian propinsi Jawa Tengah . Arizona dan Climax & Henderson. diketahui kawasan-kawasan lindung dan konservasi di Indonesia banyak menyimpan potensi bahan tambang dan menjadi incaran para pengusaha pertambangan. Dampak dari diberlakukannya UU No. antara lain : ● Perlunya eksplorasi rinci di seluruh daerah dengan indikasi sistem mineralisasi porfiri. yang tercantum dalam Pasal 38 yang menyatakan tidak diperbolehkannya kegiatan pertambangan dengan system tambang terbuka pada hutan lindung. Metode tambang dalam/bawah permukaan pada sistem mineralisai porfiri pernah dilakukan pada cadangan bijih tembaga porfir bernilai ekonomis di San Manuel. Terdapat beberapa parameter yang harus dipertimbangkan dalam menentukan keputusan penggunaan metode tambang dalam di kawasan hutan lindung Lumajang. 41 tahun 1999.445 ton bijih mengandung 79- 90% Mn. Dengan berlakunya UU 41/1999 tentang Kehutanan. ● Bahwa daerah termineralisasi ini termasuk ke dalam kategori lingkungan yang kurang stabil karena terletak pada zona struktur sesar dan daerah yang terpengaruh dampak kegiatan gunungapi aktif Mahameru. Colorado. . yang diharapkan dapat dilakukan di kawasan hutan lindung Kabupaten Lumajang. dalam rangka pembuktian keberadaan sumber daya atau cadangan bahan galian tembaga (Cu) bernilai ekonomis di bawah permukaan.

dan sebagainya. Penyebab konflik sektor pertambangan dengan sektor lain. perkebunan. 2) Sering Dituduh sebagai ’Biang Keladi’ Kerusakan Lingkungan Kerusakan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan pertambangan maupun pasca pertambangan. Meskipun diketahui memiliki kandungan potensi mineral. Dampak lingkungan sangat terkait dengan teknologi dan teknik pertambangan yang digunakan. karena kegiatan sektor pertambangan baru dapat berlangsung jika ditemukan kandungan potensi mineral di bawah permukaan tanah pada kedalaman tertentu. karena terkait dengan besaran dan nilai ekonomis kandungan mineral tersebut. sistem dumping (suatu cara penambangan batubara dengan mengupas permukaan tanah). dan sebagainya. . Sementara teknologi dan teknik pertambangan tergantung pada jenis mineral yang ditambang dan kedalaman bahan tambang. antara karena: 1) Sulitnya Mengakomodasi Kegiatan Pertambangan kedalam Penataan Ruang Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya terminologi land use dan land cover dalam penataan ruang. misalnya penambangan batubara dilakukan dengan sistem tambang terbuka. antara lain masalah tailing. Pertambangan tidak termasuk ke dalam keduanya. serta konflik pertambangan dengan sektor kehutanan dalam penggunaan lahan hutan lindung untuk kegiatan pertambangan. Land use (penggunaan lahan) merupakan alokasi lahan berdasarkan fungsinya. perdagangan. Penyebab Konflik Sektor Pertambangan Dengan Sektor Lain Ada beberapa isu yang berkaitan dengan pertambangan dan kehutanan. hilangnya biodiversity akibat pembukaan lahan bagi kegiatan pertambangan. seperti permukiman. lahan terbangun. belum tentu dapat dieksploitasi seluruhnya. BAB IV PEMBAHASAN 5. adanya air asam tambang. seperti sawah. misalnya konflik dalam penataan dan pemanfaatan ruang. Beberapa permasalahan lingkungan yang terjadi akibat kegiatan pertambangan. Proses penetapan kawasan pertambangan yang membutuhkan lahan di atas permukaan tanah membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan proses penataan ruang itu sendiri. lahan terbuka. semak. Sementara land cover merupakan alokasi lahan berdasarkan tutupan lahannya. pelestarian lingkungan. pertanian.1.

Dampak Tumpang Tindih Peruntukan Lahan Pertambangan dengan Penataan Ruang. dan Kehutanan Adapun dampak yang ditimbulkan dari tumpang tindih lahan pertambangan yaitu : a) Menimbulkan suatu penyalah gunaan fungsi lahan yang seharusnya. sehingga hal itu dapat terjadinya perubahan bentang alam dan berakibat fatal bagi ekosistem disekitarnya. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Menurut UU No. Dari hal tersebut akan timbulnya kerusakan ekosistem dan berujung pada sengketa. akhirnya tertimbun karena terdesak lapisan materi organik baru. kini luas hutan lindung tinggal 23% dan luas kawasan konservasi hanya 16% dari luas seluruh hutan di Indonesia. Pengertian dari dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha . Setelah cukup lama. 5. Itu sebabnya hutan merupakan tempat yang sangat mungkin mengandung banyak bahan mineral organik. d) Dampak bagi pertambangan yaitu Pemberlakuan UU No. yang mempengaruhi alam itu sendiri. b) Sejak dilakukan pertambangan di kawasan hutan lindung. Banyak usaha atau kegiatan yang menghasilkan dampak lingkungan hidup. Lingkungan Hidup. keadaan. termasuk manusia dan perilakunya. kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. daya. 3) Tumpang Tindih Pemanfaatan Ruang dengan Lahan Kehutanan Hutan merupakan ekosistem alami tempat senyawa-senyawa organik mengalami pembusukan dan penimbunan secara alami. lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda.2.41/1999 menyebabkan semakin terbatasnya ruang gerak pertambangan dan berpotensi menurunkan investasi pertambangan di Indonesia. c) Laju kerusakan hutan meningkat akibat kegiatan pertambangan. yang potensial untuk dijadikan sebagai bahan tambang. materi-materi organik tersebut membusuk. Yangmana pada undangundang tersebut Pasal 38 ayat 4 diatur bahwa pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola penambangan terbuka. dan makhluk hidup.

Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam 2. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati 8. hewan. c) Intensitas dan lamanya dampak berlangsung. usaha dan / atau kegiatan yang menghasilkan dampak lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup / AMDAL. Introduksi jenis tumbuh – tumbuhan. dan jasad renik 7. e) Sifat kumulatif dampak. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran dan / atau kersuakan lingkungan hidup serta pemborosan dan kemerosotan SDA dalam pemanfaatannya 4. diantaranya adalah 1. b) Luas wilayah penyebaran dampak. 32 tahun 2009. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan 3. d) Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkenda dampak. g) Kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Sedangkan berikut ini merupaka kriteria usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting yang wajib dilengkapi dengan AMDAL menurut pasal 23 UU No. lingkungan buatan serta lingkungan social dan budaya 5.dan/atau kegiatan. diantaranya adalah: a) Besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan / atau kegiatan. f) Berbalik ( reversible atau tidak berbaliknya ( irreversible ) dampak. 32 tahun 2009. AMDAL sendiri adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direnecakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. Berikut ini merupakan kriteria dampak besar dan penting menurut pasal 22 UU No. Kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan / atau mempengaruhi pertahanan negara . Proses dan kegiatan yang hasilknya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konsercasi SDA dan / atau perlindngan cagar budaya 6. Oleh Karena itu. Ekspolitasi sumber daya alam.

PERPU. yaitu perumusan kebijakan oleh MA khusus terhadap permasalahan ini dan hanya menyangkut perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan lindung. sehingga tidak dapat dipukulrata. dan lainnya didasari pada kejadian-kejadian yang telah berlangsung sebagai bahan pertimbangan. Dengan Fatwa MA diharapkan di masa mendatang. belum tentu penanganan yang sama dapat dilakukan sama. Dari sisi legitimasi pemerintah. melalui alternatif penyelesaian yang tidak berat sebelah. a) Langkah yuridis yang dapat ditempuh adalah: i. Peraturan ini dapat menjadi alternatif penyelesaian permasalahan. . Secara umum.3. Namun penyelesaian seperti ini memang relatif lebih mudah dan cepat tanggap terhadap permasalahan yang cukup mendesak. alternatif penyelesaian dapat berupa langkah non teknis (pendekatan yuridis) dan langkah teknis. meski memiliki masalah sama (di dalam kawasan lindung). Judicial Review. sebagai contoh: Perpu akan menimbulkan pertanyaan dan kesan bahwa UU No. transparan. studi kelayakan. 9. Penerapan teknologi yang diperikirakan mempunya potensi besar unutk mempengaruhi lingkunan hidup 5. permasalahan permasalahan ini tidak terjadi lagi. Tiap perusahaan juga memiliki tahapan kegiatan berbeda. ii. konstruksi dan eksploitasi. Walaupun tahapan itu sama. Setiap tahap memiliki alternatif penyelesaian masing-masing. Kriteria prioritas penyelesaian berdasarkan pada tahapan kegiatan perusahaan tersebut meliputi tahapan eksplorasi. 41/1999 tidak dirumuskan dengan sungguh-sungguh. dan penuh pertimbangan. iii. tata ruang. selanjutnya dilakukan perubahan-perubahan yang diperlukan. Karena. Mengatasi Tumpang Tindih Peruntukan Lahan Alternatif penyelesaian permasalahan tumpang tindih penggunaan lahan sektor pertambangan tidak dapat digeneralisasi. maka sektor ini patut diberi peluang berkembang. serta memiliki cakupan cukup luas. Dengan mempertimbangkan bahwa pertambangan merupakan sektor berdampak dan bernilai strategis. namun tiap perusahaan memiliki karakteristik tersendiri. yakni peninjauan kembali terhadap kebijakan yang telah ditetapkan untuk menemukan kelemahan-kelemahan di dalamnya. Fatwa MA.

Kontrak Karya. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Kawasan Non Hutan. Dari beberapa sumber. iv. menyebabkan peta-peta dasar yang dijadikan landasan penentuan zonasi hutan lindung di Indonesia perlu ditinjau kembali. iii. Perubahan Peruntukan. Langkah ini sudah ditempuh. Peninjauan kembali ini dapat dilakukan sekaligus dengan mengkaji kembali scoring dalam PP Nomor . sehingga Rancangan Keppres tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Lindung pada Wilayah Kuasa Pertambangan. juga dapat memperkuat batasan kawasan hutan lindung. belum dapat diterbitkan. bahwa sebagian perusahaan yang sudah memiliki kontrak karya. dan rescoring pada dasarnya hanya langkah penetapan awal yang harus ditindaklanjuti dengan penelitian lapangan. dengan pertimbangan bahwa secara prinsip hukum. dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara yang Telah Ada Sebelum Diundangkan UU No. Keragaman sumber peta dan ketidakseragaman metode pemetaan. Kalangan yang pro berpendapat bahwa re-scoring menunjukkan itikad baik pihak kehutanan untuk bekerjasama. Tetapi kalangan yang kontra memandang langkah ini memberi ketidakpastian berusaha. jauh sebelum dikeluarkannya UU No. tindakan ini dilatarbelakangi masih buruknya sistem database basic map di Indonesia. sebagai contoh walaupun diperlukan keterbukaan dan kelapangan pihak kehutanan untuk menerima. Kelanjutan dari pengambilan alternatif penyelesaian ini adalah. Adendum Ketentuan Peralihan. ii. Re-scoring. namun belum mendapatkan persetujuan DPR. Peninjauan Ulang Zonasi Hutan Lindung. 41/1999 dapat terus beroperasi. b) Langkah teknis yang dapat ditempuh antara lain: i. dapat menjadi alternatif yang bijaksana. perlu dirumuskan peraturan perundang- undangan yang lebih implementatif dan teknis yang mengatur ketentuan-ketentuan kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung. dimaksud untuk meninjau ulang kriteria-kriteria yang digunakan dalam penentuan Kawasan hutan lindung sebagai salah satu contohnya. semua perjanjian/kontrak yang telah ditandatangani pemerintah sebelum suatu undang-undang diterbitkan tetap harus dihormati keberadaannya. langkah seperti ini banyak pro dan kontra.

digunakan pendekatan/metodologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dan GIS (Geographic Information System). Scoring tersebut kemudian dikombinasikan dengan teknologi citra satelit yang mampu menggambarkan penampakan asli permukaan bumi.47 tahun 1997. Penggunaan teknologi ini kemudian dikombinasikan dengan survai lapangan untuk melihat langsung kondisi lapangan dan mengecek ketepatan penerapan scoring. Penggunaan teknologi citra satelit tersebut. .

Untuk itu diperlukan suatu mekanisme terutama dalam tingkat kebijakan yang mendukung keduanya pertambangan diperlukan untuk kemajuan pembangunan dan isu lingkungan menjadi sentral untuk mengendalikan pembangunan. 4. Sektor - sektor ini akan selalu berbenturan karena perbedaan paradigma dalam proses pembangunan. b) Perlu dilakukannya reskoring zona kawasan hutan c) Perlu adanya pemanfaatan teknologi dalam rangka menciptakan kegiatan pertambangan yang tidak mengubah fungsi hutan. Dinas Tata Ruang. Kesimpulan Permasalahan pertambangan dengan berbagai sector lain akan muncul ketika tuntutan ekonomi di satu pihak dan isu perbaikan lingkungan di sisi lain. .2. Di sisi lain keberadaan pertambangan yang berada di kawasan lindung yang notabene untuk tujuan perbaikan lingkungan menjadi kontraproduktif karena merupakan suatu yang bertolak belakang. Saran dan Rekomendasi Menurut kami agar kegiatan pertambangan tetap dapat berlangsung tanpa perlu bertentangan dengan regulasi yang ada. Kehutanan. BAB V PENUTUP 4. serta Lingkungan Hidup.1. ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu : a) Perlu adanya peningkatan koordinasi antara kementrian yang berwenang yang dalam hal ini merupakan kementrian ESDM. Sektor pertambangan melihat bahwa potensi bahan tambang yang ada menjadi modal penting dalam pembangunan utamanya sektor ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA  Dokumen perundang-undangan:  Undang Undang Dasar Tahun 1945  Undang Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009  Permen ESDM No. Kehutanan versus pertambangan.  Danny Z . 2007. Jawa Timur : Pusat Sumberdaya Geologi . Herman. . 2006. Jakarta: Departemen ESDM RI.Kajian Potensi Tambang Dalam Pada Kawasan Hutan Lindung Di Daerah Lumajang. Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan Pertambangan dan Kahutanan.  Mukti aji.2 tahun 2013  Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan  UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup  Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang  PP nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional  Direktorat Sumber Daya Mineral Dan Pertambangan.