You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk individu sekaligus makhluk
sosial. Manusia sebagai makhluk individu berarti bahwa setiap manusia memiliki
ciri khas dalam dirinya, yang membedakan dengan orang lain. Sedangkan sebagai
makhluk sosial artinya, manusia tidak dapat hidup sendiri sehingga senantiasa
berinteraksi dengan manusia lainnya melalui interaksi interpersonal yang salah
satunya adalah komunikasi antar manusia atau interpersonal. Dalam Komunikasi
Interpersonal (2011: 53) diuraikan bahwa komunikasi interpersonal bertujuan
untuk menciptakan hubungan antar manusia yang baik, sehingga mereka dapat
saling bekerjasama.
Komunikasi interpersonal umumnya dilakukan pihak-pihak yang saling
bertemu secara langsung, dengan melibatkan dua orang yang sudah saling
mengenal maupun yang belum pernah saling mengenal. Komunikasi interpersonal
pada dasarnya bergantung dari kemampuan masing-masing pihak yang terlibat
untuk saling memahami. Sebab komunikasi interpersonal merupakan suatu
sistem, yang dapat dipengaruhi oleh aturan dan harapan juga persepsi dan konsep
diri pihak-pihak yang saling berkomunikasi. Sehingga terdapat berbagai
perbedaan terutama berkaitan dengan budaya yang kemudian memengaruhi cara
berkomunikasi masing-masing.
Komunikasi interpersonal memiliki beberapa konteks sebagaimana yang
dikemukakan oleh West dan Turner (2013: 36), bahwa komunikasi interpersonal
dapat meliputi konteks lingkungan keluarga, pernikahan, media massa, dan
organisasi. Komunikasi interpersonal dalam konteks organisasi, salah satunya
terjadi di lingkungan kerja atau perusahaan. Dimana komunikasi tersebut
melibatkan seluruh karyawan yang memiliki latar belakang personal maupun
kultural yang berbeda-beda.
Sebuah realitas social adalah tentang kemajemukan yang ada pada
kehidupan manusia. Keanekaragaman manusia dapat dibedakan berdasarkan
suku, bangsa, agama, jenis kelamin, ras dan sebagainya. Sebagai manusia kita
telah dibekali dengan potensi untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan

yang lain. Manusia pada dasarnya memilik dua kedudukan dalam di dunia ini,
yaitu sebagai makhluk pribadi dan makhluk social (zon politicon). Sebagai
makhluk pribadi, manusia mempunya beberapa tujuan dan cita-cita yang ingin
dicapai, dimana masing-masing individu memiliki tujuan dan kebutuhan yang
berbeda dengan individu lainnya. Sedangkan sebagai makhluk social, individu
selalu ingin berkomunikasi, berinteraksi, beradaptasi dan hidup dinamis bersama
orang lain disekelilingnya.
Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1994: 33) menyatakan bahwa komukasi
akan berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan
pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang
diperoleh oleh komunikan. Schramm menambahkan, bahwa bidang (field of
experience) merupakan factor penting juga dalam komunikasi. Jika bidang
pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan,
komunikasi akan berlangsung lancer. Sebaliknya, bila bidang pengalaman
komunikan tidak sama dengan bidang pengalaman komunikator, akan timbul
kesukaran untuk mengerti satu sama lain.
Komunikasi yang terjadi antara satu individu dengan individu yang lain
belum tentu sama, hal ini disebabkan oleh latar belakang budaya yang berbeda.
Budaya membawa pengaruh yang besar dalam proses komunikasi. Tidak aka nada
budaya tanpa komunikasi, begitu juga sebaliknya tidak akan terjadi komunikasi
tanpa ada budaya. Budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya itu
sendiri.
Secara khusus DeVito (1997:487) menjelaskan fungsi komunikasi antar
budaya adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika kita memasuki wilayah
(daerah) orang lain kita dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak
berbeda dengan kita dari berbagai aspek (social, budaya, ekonomi, status dan lain-
lain). Pada waktu itu pula kita dihadapkan dengan ketidakpastian.
Ketidakpastian diartikan sebagai ketidakmampuan individu untuk
memprediksi atau menjelaskan perilakunya dan perilaku orang lain. Tujuan
komunikasi yaitu meminimalkan ketidakpastian yang orang rasakan tentang
lingkungan di sekitar. Merasakan ketidakpastian pada saat interaksi, dan

seseorang akan memiliki persepsi subjektif terhadap lawan bicara. Komunikasi merupakan alat untuk mengurangi ketidakpastian. Kedua. terutama orang yang baru dikenal. Artinya. Situasi ketidakpastian ini akan mendorong untuk mengurangi berbagai persepsi ini. prediksi terhadap perilaku lawan bicara. antara lain pengalaman masa lalu. rencananya atau tujuan dari lawan bicaranya. komunikasi digunakan untuk membuat prediksi atau penjelasan tentang makna perilaku lawan bicara. verbal dan nonverbal. Keduanya saling memengaruhi dalam proses mengurangi ketidakpastian ini. Tetapi dalam suatu interaksi pada situasi yang lain. Biasanya terjadi karena kedua pihak yang berinteraksi belum saling mengenal. Karena seseorang cenderung menjadi tidak pasti tentang apa yang dirasakan atau perasaan. dikendalikan dan dipimpin untuk mencapai tujuan tertentu. pengetahuan umum tentang budaya lawan bicara. Lingkungan organisasi adalah elemen-elemen yang berada di luar .ketidakpastian itu dirasakan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. maka semakin banyak informasi yang dibutuhkan. Bisa saja seseorang memiliki pengalaman berinteraksi dengan lawan bicaranya. Proses memilih persepsi ini dilakukan dengan mencari informasi tentang lawanbicara orang tersebut. Pertama komunikasi digunakan untuk mendapatkan informasi tentang lawan bicara. Karenanya mengurangi ketidakpastian dipengaruhi beberapa factor. seseorang akan berusaha memilih persepsi mana yang paling tepat. Semakin banyak persepsi tersebut. Semakin merasakan ketidakpastian. Ketidakpastian didefinisikan TUR sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memprediksi atau menjelaskan sesuatu. yang dimaksud toleransi terhadap resiko yaitu resiko kesalahan akibat merasa yakin akan perilaku lawan bicara dan akibat keyakinan anda tentang kebenaran prediksi. Informasi ini ada dua jenis. dimungkinkan ada situasi yang baru yang dirasakan dan berbeda dari pengalaman sebelumnya itu. motif. Pada saat berinteraksi atau berbicara dengan orang lain. semakin membuat orang itu berada dalam situasi ketidakpastian. termasuk toleransi terhadap resiko yang akan diterima. Informasi yaitu sesuatu yang dapat mengurangi ketidakpastian akan situasi. Organisasi merupakan sebuah perkumpulan atau wadah bagi sekelompok orang untuk bekerja sama.

dapat menimbulkan keinginan pindah kerja. Informasi adalah segala hal yang dapat mengurangi ketidakpastian atau keraguan akan situasi tertentu. Oleh karena itu proses rekrutmen yang ketat. serta pengembangan karyawan. dan dewan direksi. adalah penting agar tercapai peningkatan kualitas SDM untuk kemajuan perusahaan. Didalam lingkungan eksternal terdapat seluruh kekuatan luar yang mempengaruhi organisasi. salah satunya penambahan atau pergantian karyawan baru pada tiap tingkat jabatan. Ketidakpastian bisa diartikan kesenjangan informasi.organisasi tersebut dan secara potensial mempengaruhi kinerja organisasi. Setiap karyawan pendatang baru ataupun karyawan transfer jabatan mengalami persepsi ketidakpastian informasi perusahaan sehingga mereka perlu melakukan proses pencarian informasi kepada rekan kerja dan supervisornya di lingkungan kerja yang baru untuk mengurangi ketidakpastian. Sedangkan lingkungan internal adalah suatu kejadian atau kecenderungan di dalam suatu organisasi yang mempengaruhi aktifitas organisasi tersebut. Lingkungan dapat dibagi 2 yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal. gambaran tentang organisasi akan sepotong-sepotong. Hal ini dapat merugikan perusahaan karena kesinambungan proses pekerjaan sedikit banyak terganggu karena harus melatih karyawan baru. Jika individu berada dalam ketidakpastian. SDM (sumber daya manusia) merupakan salah satu faktor penting dalam penunjang keberhasilan organisasi dan setiap organisasi mengalami perubahan. cenderung mencari cara lain untuk mencari fakta dan menginterprestasikannya. Informasi bisa mengurangi rasa curiga dan was was antara peserta komunikasi. karyawan. . Bila tidak mendapatkan informasi yang cukup. Kesalahpahaman akibat salah persepsi atau kekurangan informasi merupakan kesalahan mendasar dalam kegiatan komunikasi (primary-breakdown of communication). Manfaat pengembangan lain dari sisi karyawan adalah adanya peningkatan motivasi kerja karyawan. Sedangkan yang termasuk dalam lingkungan internal adalah budaya. Kecukupan informasi ini merupakan dasar untuk mencegah kesalahan persepsi. Jika motivasi menurun. disertai pendidikan dan pelatihan. pemegang saham.

PJB Adalah perusahaan pertama di asia pasifik yang memiliki sertifikasi ISO 55001. teknologi informasi. Jawa Timur dan Bali. bahasa. ada berbagai ketidakpastian yang melingkupi mereka untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dengan karyawan lain. PT PJB juga mengelola sejumlah unit bisnis. 12 November 2017) Para newcommers mengalami ketidakpastian ketika harus berhadapan . Kantor pusat PT PJB berada di Surabaya. Aku harus mulai cari teman di lingkungan baru dan harus bisa beradaptasi. Perbedaan- perbedaan yang ada seperti budaya. maka PT. Karna aku fresh graduate jadi belum pernah pengalaman kerja di kantor otomatis uncertainty nya tinggi. adalah PT. Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik. Selain karena harus tinggal di luar daerahnya.” (Dewi. “Hari pertama training rasanya seperti canggung.511 Mega Watt. Yogyakarta. Tidak mudah bagi newcommers dari berbagai daerah untuk menuntaskan On The Job Training Program tersebut. Menyadari akan perlunya peningkatan kualitas skill para karyawannya. On The Job Training Program juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama. karakter personal dan situasi lingkungan seringkali membuat para newcomers mengalami ketidakpastian. dengan kapasitas total 6. yang memengaruhi kelancaran aktivitas mereka selama mengikuti training. PJB mengadakan pelatihan kepada newcommers dari berbagai cabang perusahaannya melalui On The Job Training Program. Selain untuk meningkatkan kualitas skill para karyawannya. salah satu Newcommers On The Job Training Program dari Kota Solo menyatakan ketidakpastian yang dialaminya ketika awal mengikuti program tersebut. DKI Jakarta. PT Pembangkitan Jawa-Bali (disingkat PT PJB) adalah sebuah anak perusahaan PLN BUMN produsen listrik yang menyuplai kebutuhan listrik di Banten. PT. Program ini berlangsung selama satu tahun. dan pengembangan. Saat ini PT PJB mengelola 6 Pembangkit Tenaga Listrik di Pulau Jawa. termasuk unit pengelolaan. Jawa Barat. Salah satu perusahaan yang di dalamnya terjadi ketidakpastian pada lingkungan kerja antar karyawan dengan latar belakang karyawan yang baru bergabung dengan perusahaan. Dewi.

Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik dalam Mengurangi Ketidakpastian Pada lingkungan kerja”. dan berbagai pertanyaan tentang apa yang akan terjadi nantinya terus melingkupi pikiran mereka. peneliti tertarik meneliti “Strategi Uncertainty Reduction Newcommers PT. bagaimana harus berbicara. sebab menurut Berger dan Calabrese (dalam West dan Turner. sehingga mereka mengalami ketidakpastian. atas berbagai prediksi yang sebelumnya muncul terhadap orang yang baru dikenalnya. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah kualitatif. bahkan beberapa diantaranya belum pernah berbicara langsung dengan orang Gresik. Lebih lanjut Berger dan Calabrese (dalam West dan Turner. para peserta juga belum pernah pergi maupun tinggal di Gresik. Hal tersebut menyebabkan para newcomers belum memiliki gambaran pasti mengenai situasi di Gresik maupun karakter masyarakat. . Sebab sebelum berangkat ke Gresik para newcommers umumnya tidak pernah berinteraksi secara akrab dengan orang- orang di lingkungan kerja PT. Selain itu ketidakpastian dalam diri newcommers dapat menurunkan produktivitas kerja dan membuat tujuan dari program tersebut tidak dapat tercapai. Selain itu. Bila ketidakpastian yang dialami para newcomers On The Job Training Program terus dibiarkan atau hanya berdiam diri. Strategi- strategi tersebut bertujuan agar seseorang memperoleh informasi tentang orang yang baru dikenal. Bagaimana harus bersikap. PJB UP Gresik. 2013: 184) juga mengemukakan bahwa untuk mengurangi ketidakpastian yang menimbulkan prediksi-prediksi dalam diri seseorang. dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang dapat mengetahui arti pengalaman dalam kehidupan seseorang. Sebab dengan memperoleh informasi seseorang dapat menemukan jawaban atau kepastian. memerlukan berbagai strategi. Berdasarkan pemaparan di atas. Disinilah Strategi Uncertianty Reduction berperan dalam mengurangi ketidakpastian newcomers. 2013:174) komunikasi merupakan alat untuk mengurangi ketidakpastian seseorang. maka akan menghambat pengembangan hubungan interpersonal mereka dengan lingkungan kerjanya.langsung dengan lingkungan kerja barunya.

khususnya untuk mengurangi ketidakpastian sehingga komunikasi efektif. khususnya tentang strategi pengurangan ketidakpastian 2. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademis a. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimana Strategi Uncertainty Reduction Newcommers PT. khususnya dalam kajian komunikasi interpersonal dengan latar belakang berbeda budaya.2. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi pengembangan wawasan penelitian Ilmu Komunikasi. PJB UP Gresik. Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik dalam Mengurangi Ketidakpastian Pada lingkungan kerja?” 1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi kajian komunikasi interpersonal terutama bagi mahasiswa. b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan positif bagi pembaca yang akan atau sedang terlibat dalam komunikasi interpersonal dengan latar belakang berbeda budaya.3. b. Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik dalam Mengurangi Ketidakpastian Pada lingkungan kerja. 1. . Manfaat Praktis a. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan Strategi Uncertainty Reduction Newcommers PT. 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai strategi pengurangan ketidakpastian para Newcommers On The Job Training Program di PT.

sebagai salah satu strategi pengurangan ketidakpastian. agar dapat dalam merespon permbicaraan orang lain ketika saling berkomunikasi. Tinjauan Umum tentang Uncertainty Reduction 2. Lebih lanjut Berger (dalam Morissan. maka seseorang yang mengalami ketidakpatian harus mampu memprediksi bagaimana mitra komunikasinya akan berperilaku. maka kita akan semakin berhati-hati untuk menggunakan data yang dimiliki. kita akan mulai mengalami krisis kepercayaan terhadap diri sendiri. Kita juga akan lebih cermat dalam membuat rencana komunikasi. Berger (dalam Morissan. Saat itulah kita mengalami ketidakpastian. Oleh karena itu dibutuhkan interaksi komunikasi. sebab kita belum mengenal orang tersebut secara baik. biasanya kita akan memiliki berbagai pertanyaan terhadap orang tersebut. untuk mengurangi ketidakpastian yang kita alami. 2010: 88) mengungkapkan bahwa agar komunikasi yang terjadi berjalan lancar. Hal ini mendorong kita membuat rencana alternatif lain. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. berdasarkan tujuan dan informasi yang telah kita miliki.1. Pengertian Ketidakpastian Komunikasi Saat kita terlibat percakapan dengan orang asing atau seseorang yang belum pernah kita kenal misalnya rekan kerja baru. Berbagai prediksi yang dihasilkan kemudian membuat seseorang menjadi termotivasi untuk mencari informasi tentang orang tersebut. Sebab ketika merasa sangat tidak pasti terhadap orang lain. . 2010: 87-89) mengungkapkan bahwa ketika berkomunikasi kita akan membuat rencana untuk mencapai tujuan dengan merumuskan berbagai rencana komunikasi yang akan dilakukan. Semakin besar ketidakpastian yang muncul. Tentunya kita tidak memiliki jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu. terkoordinasi dan dapat dipahami.1. yang kemudian mencoba menafsirkan beberapa alternatif jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terhadap orang tersebut.

maka terjadilah ketidakpastian perilaku. sehingga kita dapat memilih cara berkomunikasi yang tepat dengan orang tersebut. Selain itu. ketidakpastian juga membuat kita merasakan adanya kebutuhan untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang orang lain. bahwa saat orang yang baru pertama kali bertemu kemudian terlibat percakapan. Berger dan Calabrese yakin. Teori Pengurangan Ketidakpastian Teori Pengurangan Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory) pertama kali dipelopori oleh Charles Berger dan Ricard Calabrese pada tahun 1975. sehingga saat ketidakpastian itu berkurang maka akan tercipta suasana yang kondusif untuk pengembangan hubungan interpersonal. saat orang asing terlibat percakapan untuk pertama kali. Sebab ketika berkomunikasi dengan orang asing. 2. ada dua jenis ketidakpastian yang mungkin kita alami yaitu ketidakpastian kognitif atau cognitive uncertainty dan ketidakpastian perilaku atau behavioral uncertainty. Ketika mengalami ketidakpastian. Tujuan dari teori ini adalah untuk menjelaskan komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian. 2013: 173-175) menyatakan bahwa komunikasi merupakan alat untuk mengurangi ketidakpastian seseorang. mungkin kita akan menguranginya dengan menafsirkan berbagai bahasa non verbal yang ditunjukkan orang lain terhadap kita.2.perkiraan (prediction). Adapun ketidakpastian perilaku berkaitan dengan seberapa jauh kita dapat memperkirakan perilaku pada situasi tertentu. orang dapat mengalami ketidakpastian kognitif . Namun bila lawan bicara kita mengungkapkan tentang dirinya (self disclosure) pada pertemuan pertama dengan kita atau sebaliknya justru bersikap acuh.1. Misalnya saat seseorang berlaku tidak normal atau kita berharap untuk bertemu lagi dengan orang tersebut. Pada umumnya orang mengetahui bagaimana berbicara dan perilaku dengan orang yang belum dikenal seperti misalnya orang itu hanya basa-basi. sehingga dapat mengurangi ketidakpastian yang kita rasakan. Berger dan Calabrese (dalam West dan Turner. maka mereka akan membuat perkiraan.

saja. (Sikap yang menyimpang dari orang yang baru kita kenal tersebut). selama maupun setelah berinteraksi (Morissan. termasuk Teori Pengurangan Ketidakpastian yang memiliki beberapa asumsi yaitu: a. Untuk meningkatkan prediktabilitas. Ketika dua orang yang tidak saling mengenal bertemu dan terlibat percakapan. (Nilai insentif. b. ketidakpastian perilaku saja. yaitu: a. atau bahkan keduanya baik sebelum. teori dibangun atas berbagai asumsi yang menggambarkan tentang pandangan para pendirinya. sebab kita merasa orang tersebut memiliki sesuatu yang kita inginkan). (Antisipasi atas interaksi selanjutnya. maka . Individu mengalami ketidakpastian dalam latar interpersonal. 2) Asumsi Teori Pengurangan Ketidakpastian Umumnya. saat berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenalnya. c. 2010: 88). Anticipation of future interaction. sebab seseorang membutuhkan energi cukup besar untuk menghadapi situasi tersebut. Incentive value. Deviance because they act in a weird way. c. because we know we will see them again. 1) Em Griffin (2011: 125) menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor yang membuat seseorang terdorong untuk mengurangi ketidakpastiannya. Ketidakpastian merupakan situasi yang tidak disukai dan dapat menimbulkan stres secara kognitif. maka mereka akan berupaya untuk mengurangi ketidakpastian atau meningkatkan prediktabilitas (kemampuan membuat perkiraan terhadap pihak lain). sebab kita tahu bahwa kita akan bertemu lagi dengan orang yang baru kita kenal). because they have something we want. b.

yang dikumpulkan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya atau berdasarkan logika akal sehat (common sense). Tahap personal bisa terjadi berbarengan dengan tahap awal. g. Sangat mungkin untuk menduga perilaku orang dengan menggunakan cara seperti hukum (dalam West dan Turner. d. seseorang perlu mencari informasi dengan bertanya kepada orang yang baru dikenalnya itu. Ketiga fase akhir. Jumlah dan sifat informasi yang dimiliki seseorang berubah sepanjang waktu. yaitu tahap saat seseorang memutuskan untuk meneruskan hubungan yang telah terjadi atau justru memutuskan hubungan tersebut. Pertama fase awal. sebab komunikasi antarpribadi berkembang secara bertahap dan interaksi awak merupakan elemen penting dalam proses perkembangan hubungan interpersonal. yaitu tahapan saat mereka melakukan komunikasi secara lebih spontan dan mulai mengungkapkan informasi yang lebih bersifat individual. Pernyataan atau aksioma yang dikemukakan Berger dan Calebrese . 3) Aksioma Teori Pengurangan Ketidakpastian Berger dan Calebrese menggunakan sejumlah aksioma dalam membangun Teori Pengurangan Ketidakpastian ini. e. Semakin banyak interaksi yang terjadi. namun umumnya terjadi setelah beberapa kali interaksi. Komunikasi antarpribadi merupakan alat utama untuk mengurangi ketidakpastian. yaitu tahapan awal saat seseorang memulai interaksi dengan orang lain yang baru dikenal. Kedua fase personal. ketidakpastian akan semakin berkurang. 2013: 176-178). Komunikasi interpersonal merupakan proses yang berkembang setelah melalui beberapa tahapan (fase). f.

masing-masing menunjukkan adanya hubungan antara ketidakpastian dengan sejumlah konsep lainnya. b. Tingkat ketidakpastian tinggi akan meningkatkan upaya pencarian informasi mengenai perilaku orang lain. c. d. i.3. mendorong peningkatan komunikasi verbal diantara orang yang tidak saling mengenal. Pada tahap awal interaksi. Tingkat ketidakpastian yang tinggi menghasilkan tingkat resiprositas yang tinggi pula. sehingga tingkat ketidakpastian semakin menurun. dan sebaliknya yaitu penurunan tingkat ketidakpastian akan meningkatkan ketertarikan. g. e. Tingkat intensitas interaksi yang semakin tinggi antarpihak yang berkomunikasi akan menurunkan tingkat ketidakpastian. saat komunikasi nonverbal meningkat maka ketidakpastian menurun. Ketidakpastian yang tinggi pada tahap awal saat komunikasi. Ketidakpastian yang meningkat akan mengurangi perasaan tertarik dalam berinteraksi. 2013: 179-183). Terdapat sembilan aksioma yang dikemukakan Berger dan Calebrese (dalam West dan Turner.1. Kesamaan atau kemiripan yang ada antara komunikan dan komunikator akan menurunkan tingkat ketidakpastian. Strategi Pengurangan Ketidakpastian pada Komunikasi Interpersonal . Tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi membuat kepuasan dalam berkomunikasi semakin rendah. h. f. Tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam suatu hubungan menyebabkan penurunan tingkat keakraban isi komunikasi. 2. yaitu: a.

sehingga dapat mengamati bagaimana ia bereaksi dengan orang lain maupun bereaksi terhadap sesuatu karena orang lain. Strategi pasif yaitu dengan kita amati seseorang. mempertanyakan secara langsung. seseorang dapat menggunakan tiga strategi pengurangan ketidakpastian yang ada. Strategi aktif. Misalnya ketika masuk di hari pertama kerja. 2013: 184). 3. Pengamatan tersebut dapat kita lakukan dengan memilih situasi untuk mengamati seseorang yang baru kita kenal tersebut saat sedang melakukan sesuatu. maupun taktik pencarian informasi yang lain. Komunikasi yang terjadi tersebut mungkin melibatkan pembukaan diri. Berger (dalam West dan Turner. Ketiga strategi pengurangan ketidakpastian tersebut yaitu: 1. Kita juga dapat mengamati saat orang tersebut berbicara dengan orang lain. menyatakan bahwa untuk mengurangi ketidakpastian. 2. yaitu kita berkomunikasi secara langsung dengan orang yang sebelumnya telah kita cari informasi tentangnya. Strategi Interaktif. . kita cenderung akan menanyakan karakter atasan kita kepada karyawan lain yang telah lebih dahulu bekerja disana. baik dalam situasi dimana orang lain mungkin akan pemantauan diri. tanpa berhubungan secara langsung dengan orang tersebut. yaitu dengan melakukan sesuatu untuk mencari tahu mengenai seseorang.

2. Kerangka Pemikiran Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan.2. maka peneliti menyusun kerangka pemikiran sebagai berikut: Newcommers PT. PJB UP Gresik On The Job Training Program Sistem Komunikasi Interpersonal Strategi Pengurangan Ketidakpastian Ketidakpastian Berkurang Sumber: Olahan Penelitian .

Metode Penelitian Untuk melakukan penelitian. Metode merupakan keseluruhan cara berpikir yang digunakan peneliti untuk menemukan jawaban dan penjelasan dari masalah yang diteliti. Berikut ini adalah pemaparan metode penelitian.” Oleh karena itu dengan melihat berbagai perspektif dari situasi yang sama. peneliti dapat membuat berbagai generalisasi atas sebuah pengalaman dari perspektif insider. dan prosedur ilmiah yang ditempuh untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Alex Sobur (2013: x) menyatakan bahwa pada dasarnya penelitian fenomenologis merupakan penelitian yang mencoba memahami persepsi masyarakat. pendekatan yang digunakan. penelitian fenomenologis berusaha menjawab pertanyaan “Bagaimana rasanya mengalami hal ini dan itu?. Dengan kata lain. BAB III METODE PENELITIAN 5. perspektif. salah satu tokoh fenomenologi (dalam Kuswarno. Pawito (2008: 83) menyatakan bahwa metode penelitian meliputi cara dan prinsip berpikir mengenai masalah yang diteliti. jenis penelitian yang akan digunakan peneliti adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. dibutuhkan metode agar penelitian dapat dilakukan secara sistematis. Berikut ini adalah pemaparan metode penelitian. rumusan masalah serta tujuan penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya. 3.1. serta menarik kesimpulan. dan pemahaman terhadap situasi tertentu (fenomena). sehingga menghasilkan penjelasan yang akurat atas masalah yang diteliti.1. Jenis Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah. yang akan digunakan oleh peneliti.1. . seolah-olah kita mengalaminya. Edmund Husserl. 2009:10) menyatakan bahwa melalui pendekatan fenomenologi. yang akan digunakan oleh peneliti. kita dapat mempelajari bentuk-bentuk pengalaman dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung.

penjelasan yang diperoleh. fenomenologi sebagai metode penelitian yang dipandang sebagai studi tentang fenomena. 2. harapan serta respon subjektif lainnya dari subjek penelitian. Lebih lanjut Alex Sobur menyatakan bahwa terdapat beberapa isu utama yang berkaitan dengan fenomenologi. Structural description. Keempat. . Why dan How.pertanyaan seperti What. yaitu bagaimana subjek mengalami dan memaknai pengalamannya sehingga deskripsi yang diuraikan berisi aspek subjektif yang berkaitan dengan pendapat. b. yang berkaitan dengan pengalaman tersebut. sifat dan makna. diharapkan mampu membuat peneliti memperoleh pemahaman tentang esensi pengalaman hidup orang lain. Kedua. Pemahaman tersebut setidaknya harus dapat menjawab pertanyaan. peneliti akan fokus pada apa yang dialami oleh subjek penelitian tentang sebuah fenomena (textural description). Alasan peneliti menggunakan metode ini karena peneliti ingin menjelaskan tentang fenomena pengurangan ketidakpastian berdasarkan pengalaman-pengalaman seseorang dalam menghadapi situasi tertentu. penilaian. yaitu apa yang dialami oleh subjek penelitian tentang sebuah fenomena maupun apa yang dialami oleh aspek objektif. 3. Selain itu dalam jurnal Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi (2008: Hasbiansyah) disebutkan bahwa pada dasarnya. Namun dalam melakukan penelitian ini. Ketiga. Pertama. perasaan. ada dua hal utama yang menjadi fokus dalam penelitian fenomenologi. Textural description. fenomenologi merupakan metode penelitian kualitatif yang menjadi strategi pilihan untuk mengarahkan peneliti memahami seluruh penelitian. 4. Isu-isu tersebut yaitu: 1. yakni: a. fenomenologi perspektif penelitian yang dapat dipelajari dalam beberapa term domains of inquiry.

2. Unit Analisis Berdasarkan objek yang akan diteliti dan teori yang telah dipaparkan. Adapun kriteria yang ditentukan peneliti adalah sebagai berikut: a) Informan merupakan Newcommers On The Job Training Program PT. PJB UP Gresik (Bidang Humas/CSR) .3. dari sudut pandang yang dimilikinya. sehingga peneliti dapat mengetahui apa yang dialami oleh subjek penelitian berkaitan dengan fenomena tersebut. 3. PJB UP Gresik. 3. pasif.4.1. Oleh karena itu hal tersebut harus digali secara mendalam tanpa adanya reduksi ataupun isolasi terhadap variabel. maka terdapat dua unit analisis dari penelitian yang akan dilakukan. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian : PT. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah strategi pengurangan ketidakpastian Newcommers PT. 3.variabel tertentu. Kedua strategi pengurangan ketidakpastian yang dikemukakan oleh Berger yang meliputi tiga strategi pengurangan ketidakpastian yaitu strategi aktif. Subjek akan dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. PJB UP Gresik 2. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah para Newcommers On The Job Training Program PT. Subjek dan Objek Penelitian 1. Pertama sistem komunikasi interpersonal yang memiliki tiga elemen yaitu input.1.1. PJB UP Gresik b) Informan di tempatkan di bidang Humas/CSR c) Informan sudah pernah berinteraksi dengan orang-orang di PT. proses dan output. PJB UP Gresik pada lingkungan kerja. Rachmat Kriyantono (2006:154) menyebutkan bahwa teknik purposive sampling bertujuan untuk menyeleksi orang-orang kriteria berdasarkan tertentu yang dibuat peneliti sesuai tujuan penelitian. dan interaktif.

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian melalui wawancara mendalam. Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Gresik. Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan wawancara mendalam secara langsung dan bersifat semi-terstruktur. Informan yang dimaksud yaitu para Newcommers On The Job Training Program PT. dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara (interview guide) yang difokuskan pada unit analisis yang akan diteliti. sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi dimasa lalu. penulisan penelitian. b) Dokumentasi Dokumentasi digunakan untuk menelusuri data historis. 2013: 435-436). dimana peneliti merancang serangkaian pertanyaan sebagai panduan wawancara sebagai penuntun bukan mendikte.5. Teknik Pengumpulan Data Ada dua jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini. dimulai dari bulan November 2017 sampai bulan Desember 2017. acc judul. sedangkan data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari sumber-sumber lain yang relevan yaitu berbagai dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. 3. Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan peneliti adalah: a) In-depth Interview (wawancara mendalam) Wawancara mendalam secara umum merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab bertatap muka antara pewawancara dengan informan. Waktu Penelitian : Waktu penelitian ini adalah 1 (satu) bulan. Oleh karena itu urutan pertanyaan dapat dipilih secara bebas. dengan mengikuti perhatian informan (Sobur.1. yang meliputi tahap persiapan penelitian yakni pengajuan judul (pra proposal). bimbingan penelitian. Peneliti akan memperoleh data sekunder dari dokumen-dokumen yang . permohonan surat ke Instansi. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada tanggal 10 November 2017 sampai tanggal 10 Desember 2017 pada minggu pertama. Sifat utama dari data ini adalah tak terbatas ruang dan waktu. yaitu data primer dan sekunder.

baik berupa foto atau laporan tertulis. Pendekatan tersebut memiliki empat tahap.6. serta mengeluarkan “kemurnian” yang ada padanya. maka tugas dari reduksi fenomenologi adalah membahasakan bagaimana objek itu terlihat. Bukan hanya dalam konteks objek secara ekternal. pengalaman. selanjutnya akan dibahas dan dianalisis menggunakan pendekatan fenomenologi transendental yang dicetuskan oleh Edmund Husserl. sehingga memudahkan untuk memahami diri dan orang lain. Epoche akan membuat kita masuk ke dalam dunia internal yang murni. Epoche dilakukan dengan memisahkan fenomena dari keseharian dan unsur-unsur fisiknya. bias. Pada dasarnya epoche adalah pemutusan hubungan dengan pengalaman dan pengetahuan yang peneliti miliki sebelumnya. yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana narasumber memberikan pemahaman dan pengalamannya tentang ketidakpastian serta bagaimana strategi mereka untuk mengurangi ketidakpastian tersebut. namun juga meliputi kesadaran dalam tindakan internal. 3.” Husserl menggunakan epoche sebagai term untuk bebas dari prasangka.1. Hal ini bertujuan agar kita mampu mengesampingkan penilaian. Dengan kata lain epoche merupakan cara untuk melihat dan menjadi mental yang bebas. Engkus Kuswarno (2009: 47-53) menguraikan keempat tahap analisis dalam pendekatan fenomenologi transendental Husserl sebagai berikut: a. ritme dan hubungan antara fenomena dengan “aku” sebagai subjek . Teknik Analisis Data Data-data yang telah diperoleh peneliti. dan pertimbangan awal kita terhadap suatu objek. b. berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Epoche Epoche berasal dari bahasa Yunani yang berati “menjauh dari” dan “tidak memberikan suara. Reduksi Fenomenologi Bila epoche menjadi langkah awal untuk memurnikan objek dari pengalaman dan prasangka awal.

sedangkan tantangannya ada pada pemenuhan sifat-sifat alamiah dan makna dari pengalaman. Sintesis Makna dan Esensi . tahap ini bertujuan untuk menjelaskan struktur esensial dari fenomena. c. Oleh karena itu pada tahap ini dunia dihilangkan sehingga segala sesuatu menjadi mungkin. dimana kondisi yang hakiki dimunculkan. Inti dari tahap variasi imajinasi adalah membongkar hakikat fenomena dengan memfokuskan pada kemungkinan-kemungkinan yang murni. Dengan kata lain. pendekatan terhadap fenomena dari perspektif. Reduksi fenomenologi bukan hanya sebagai cara untuk melihat. dan segala pendukung dijauhkan dari fakta serta entitas yang dapat diukur dan diletakkan pada makna maupun hakikatnya. pada tahap ini struktur dari pengalaman diungkapkan. Tujuan tahap ini adalah untuk melihat bagaimana fenomena berbicara mengenai dirinya. Variasi Imajinasi Setelah melakukan tahap reduksi fenomenologi. posisi. Dalam pelaksanaannya. Singkatnya. peneliti akan berpikir imajinatif sehingga dapat menemukan makna-makna potensial agar sesuatu yang awalnya tidak terlihat menjadi terlihat jelas. tahap selanjutnya adalah variasi imajinasi yang muncul untuk mencari makna-makna dengan memanfaatkan imajinasi. namun juga sebagai cara untuk mendengar suatu fenomena dengan kesadaran dan hati-hati. Reduksi akan membawa kita kembali pada bagaimana kita mengalami sesuatu. Selain itu. kerangka rujukan. peranan. serta fungsi yang berbeda. d. penelitian. Fokus tahap ini terletak pada kualitas dari pengalaman. reduksi fenomenologi adalah cara untuk melihat dan mendengar fenomena dalam tekstur dan makna aslinya. pemisahan dan pembalikan. memunculkan kembali penilaian atau asumsi awal dan mengambalikan sifat-sifat alamiahnya.

ke dalam suatu pernyataan yang menggambarkan hakikat suatu fenomena secara keseluruhan. Namun keanekaragaman pengalaman akan meninggalkan cara untuk tetap mendekat. Sintesis struktural dan tekstural yang fundamental akan mewakili esensi yang ada dalam waktu dan tempat tertentu. baik dari sudut pandang imajinatif maupun studi reflektif seseorang terhadap suatu fenomena. Tahap ini merupakan penyatuan dasar-dasar deskripsi tesktural dan struktural. Husserl mendeksripsikan esensi sebagai sesuatu yang umum dan bersifat universal juga kondisi atau kualitas yang menjadikan sesuatu. adalah sintesis makna dan esensi. Lebih lanjut Husserl menyatakan bahwa setiap sifat fisik akan menarik kita ke dalam pengalaman yang tidak terbatas. Dengan demikian tahap sintesis makna dan esensi menjadi tahap penegakan mengenai hakikat.Selanjutnya sebagai tahap terakhir dalam analisis data pendekatan pendekatan fenomenologi transendental. Esensi tidak pernah terungkap secara sempurna. .

apakah Anda pernah bertemu dan berbicara langsung dengan orang Gresik?  Apa yang Anda pikirkan tentang Gresik dan orang Gresik sebelum mengikuti program training tersebut?  Adakah kekhawatiran yang Anda rasakan sebelum berangkat ke Gresik?  Bagaimana perasaan Anda ketika pemberangkatan dan pertama kali sampai di Gresik? Konsep Diri  Bagaimana rasanya memasuki lingkungan kerja baru (di Gresik)?  Bagaimana pendapat Anda setelah bertemu rekan-rekan baru di PJB? Interaksi Antarpribadi . PERTANYAAN WAWANCARA Identitas Diri  Mohon disebutkan nama lengkap dan kota asal? Aktivitas On The Job Training Program  Apakah Anda pernah mengikuti program pelatihan dari perusahaan? Jika iya. berapa lama program itu berlangsung?  Dimana Anda ditempatkan dan apakah hanya sendiri disana?  Aktivitas apa saja yang dilakukan selama mengikuti training? Aturan dan Harapan  Adakah aturan-aturan dalam berkomunikasi di lingkungan kerja anda? Apakah berbeda dengan kota anda berasal?  bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja anda?  Apa yang membuat Anda termotivasi untuk berkomunikasi dengan rekan- rekan baru Anda?  Apa yang Anda harapkan dari interaksi tersebut? Persepsi Diri  Sebelum mengikuti program itu.

berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk bisa akrab dengan mereka?  Apa yang Anda lakukan untuk bisa akrab dengan mereka?  Apakah Anda pernah mengalami konflik atau masalah di lingkungan kerja ketika disana?  Jika iya.rekan disana.  Apa yang Anda lakukan ketika hari pertama masuk training?  Apakah Anda bisa langsung akrab dengan rekan-rekan baru di PJB?? Jika tidak. melalui apa Anda mencari informasi tersebut? . apa misalnya?  Bagaimana cara Anda menunjukkan ketidakpahaman tersebut kepada mereka?  Bagaimana respon mereka terhadap ketidakpahaman Anda? Strategi Pengurangan Ketidakpastian  Apa yang Anda lakukan untuk mengakrabkan diri dengan mereka?  Bagaimana cara Anda untuk menyesuaikan diri dengan mereka? Strategi Pasif  Sebelum berangkat ke Gresik. bagaimana prosesnya dan apa respon mereka terhadap Anda?  Bagaimana Anda memulai interaksi dengan rekan satu lingkungan kerja anda?  Adakah rasa canggung ketika Anda berkomunikasi dengan mereka?  Apakah Anda sempat ketidakpahaman tentang apa yang diucapkan maupun sikap yang ditunjukkan rekan Anda? Jika iya. apakah Anda pernah mencari tahu tentang Gresik dan orang Gresik?  Jika iya. apa misalnya dan bagaimana Anda menyelesaikannya? Ketidakpastian dalam Interaksi Antarpribadi  Adakah kesulitan yang Anda alami selama mengikuti training?  Ketika pertama kali berkenalan dengan rekan.

apakah Anda pernah mengamati aktivitas maupun pola kerja mereka (rekan lingkungan kerja)? Strategi Aktif  Apakah Anda pernah menanyakan karakter rekan-rekan Anda di Lingkungan kerja anda saat ini. kepada rekan tempat Kota anda berasal terlebih dahulu? Strategi Interaktif  Apakah Anda sering menyapa. mengobrol maupun pergi bersama rekan- rekan di lingkungan kerja Anda?  Apakah Anda sering bertukar pikiran dengan mereka? Output Interaksi  Apakah ada perubahan pendapat maupun sikap Anda terhadap lingkungan kerja dan rekan kerja setelah mengikuti program tersebut? Jika iya. apa yang membuat berubah?  Bagaimana keakraban Anda dengan rekan-rekan lingkungan kerja setelah selesai mengikuti On The Job Training Program. berakhir atau masih saling berkomunikasi?  Apa yang membuat Anda mengakhiri/terus menjalin keakraban dengan rekan Anda disana?  Jika masih akrab. apa yang Anda lakukan untuk menjaga hubungan baik itu? .  Bagaimana cara anda memahami karakter orang disana (misalnya sifat ataupun kebiasaan)? Apakah dengan bertanya langsung atau cukup dengan mengamatinya?  Ketika jam kerja.