You are on page 1of 2

PERTANIAN ATAS ATAP

Himagro (05 Oktober 2017) – Ironi, Indonesia sebagai negara di kenal Agraris kebutuhan
pangannya mengandalkan impor. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan
air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumen manusia, termasuk bahan tambahan pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan dan pembuatan makanan atau minuman. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS) dalam detikFinance (16/3/2017), memaparkan bahwa beras impor yang masuk
sepanjang periode Januari-Februari 2017 yakni sebesar 14.473 ton dengan nilai US$ 11,94 juta. Impor
tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana impornya tercatat
sebesar 2.000 ton dengan nilai US$ 1,08 juta. Selain impor beras, sejumlah bahan pangan pokok impor
yang masuk cukup besar sepanjang Januari-Februari 2017 antara lain jagung sebanyak 68.883 ton (US$
15,26 juta), kedelai sebesar 591.413 ton (US$ 266,38 juta), biji gandum dan mesi 1,62 juta ton (US$
359 juta), dan tepung terigu sebesar 10.009 ton (US$ 2,99 juta). Salah satu penyebab impor tersebut
di duga di perngaruhi oleh beberapa sebab salah satunya perkembangan industri properti yang kian
tumbuh dan berkembang.

Perkembangan industri properti merupakan salah satu faktor utama pendukung laju
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (2011), pada tahun 2010
pertumbuhan ekonomi makro di Indonesia meningkat dengan ditandai pertambahan PDB sebesar
5,8% yang tampak pada daya beli masyarakat yang semakin tinggi, terutama di bidang investasi
properti. Selama tahun 2005-2009 laju pertumbuhan Indonesia bertumbuh rata-rata 5,5%. Potensi
ekonomi dalam arus pembangunan mendorong pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan yang
mendorong investor luar negeri menanamkan modal di bidang industri. Namun, arus pertumbuhan
industri properti yang pesat menuntut area pembangunan yang luas. Hal ini mendorong terjadinya
konversi wilayah pertanian menjadi wilayah non pertanian sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
lahan bagi pembangunan properti. Akibatnya, 1.002.055 ha atau 61,57% lahan pertanian di jawa dan
625.459 ha atau 38,43% lahan pertanian di luar jawa telah beralih fungsi menjadi lahan non pertanian
yang berdampak pada penurunan hasil pertanian di Indonesia. Permasalahan konversi lahan semakin
kompleks dengan keberadaan otonomi daerah yang membuka peluang bagi pemerintah daerah
semakin intensif melakukan berbagai upaya untuk mendatangkan investor termasuk upaya-upaya
yang dapat mempercepat arus konversi lahan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia akan
memasuki era krisis pangan yang dapat berakibat pada inflasi ekonomi, peningkatan angka
kemiskinan, Pertambahan kasus kelaparan bahkan ancaman stabilitas politik ( Direktorat Jenderal Bina
Produksi Tanaman Pangan, 2012). Di satu sisi, bangunan dalam industri properti justru menyediakan
lahan pertanian vertikal sebagai wilayah pertanian baru dalam bentuk pertanian di atas atap.
Faktanya, pemanfaatan atap bangunan telah lama dilakukan pada sayuran dengan tingkat
keberhasilan mencapai 64,7% (Arya,2011). Selain itu juga perkebunan di atas atap atau gedung di
ciptakan pertama kali oleh Mohamed Hafe, seorang inovator asal Kadana. Hage dibatu Kurt Lynn,
seorang akademis. Inovasi Hoge membantu dunia, ruang tak bermanfaat di atas gedung bisa menjadi
maha karya yang memberikan nilai tambah. Tentunya, cinta lingkungan dan berorientasi kepada
bisnis. Menurut Hoge “Pertanian atas atap merukan sebuah kebutuahn bukan sekedar inovasi yang
abal-abal”.

Volkmar Keuter, pakar urban farming dari Institut Fraunhofer di Oberhausen, Jerman
mengatakan, “Jika kita memiliki industri yang beroperasi di bawah sebuah bangunan, misalnya pabrik
roti atau industri lain yang memiliki sumber panas, itu dapat dimanfaatkan menjadi rumah kaca
dimusim dingin. Juga pada bangunan perkantoran, di mana terdapat ruang komputer besar. Untuk
mendinginkan komputer biasanya diproduksi panas. Panas ini juga dapat digunakan untuk
pengembangan pertanian,” ungkapnya.

Menurut penulis, “Indonesia sebagai negara berkembang apabila semua pihak
saling bersinergi maka Indonesia akan menjadi negara yang kuat dari segi pangan dan
dapat juga memenuhi atau penyumbang dari kebutuhan pangan dunia. Selain itu apabila
sistem pertanian atap ini di padukan dengan pertanian nusantara atau pertanian Pranoto
Mongso dengan pertanian modern yang berkembang saat ini maka realisasi tersebut
dapat tercapai dengan mudah”. (Kak Izul)