You are on page 1of 14

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI EMERGENCY

A. DEFINISI
Hipertensi krisis merupakan salah satu kegawatan di bidang neuro-cardiovaskular
yang sering dijumpai di instalasi gawat darurat. Hipertensi krisis terdiri dari hipertensi
emergensi dan hipertensi urgensi. Keduanya harus ditangani dengan tepat dan segera
sehingga prognosisnya terhadap organ target (otak, ginjal dan jantung) dan sistemik
dapat ditanggulangi. Hipertensi krisis merupakan salah satu kegawatan dibidang
neurovaskular yang sering dijumpai di instalasi gawat darurat. Hipertensi krisis ditandai
dengan peningkatan tekanan darah akut dan sering berhubungan dengan gejala sistemik
yang merupakan konsekuensi dari peningkatan darah tersebut. Ini merupakan komplikasi
yang sering dari penderita dengan hipertensi dan membutuhkan penanganan segera
untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa. (Kaplan,2006)
B. ETIOLOGI
Hipertensi emergency merupakan spektrum klinis dari hipertensi dimana terjadi kondisi
peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol yang berakibat pada kerusakan organ
target yang progresif. Berbagai sistem organ yang menjadi organ target pada hipertensi
emergency adalah sistem saraf yang dapat mengakibatkan hipertensi ensefalopati, infark
serebral, perdarahan subarachnoid, perdarahan intrakranial, sistem kardiovaskuler yang
dapat mengakibatkan infark miokard, berfungsi ventrikel kiri aku, edema paru akut,
diseksi aorta dan sistem organ lainnya .

C. MANIFESTASI KLINIK

Gambaran klinis krisis hipertensi umumnya adalah gejala organ target yang terganggu
diantaranya pusing, nyeri dada dan sesak napas pada gangguan jantung dan diseksi aorta,
mata kabur dan edema papilla mata, sakit kepala hebat, gangguan kesadaran dan
lateralisasi pada gangguan otak,gagal ginjal akut pada gangguan ginjal disamping sakit
kepala dan nyeri tengkuk pada kenaikan tekanan darah umumnya.

D. KOMPLIKASI

1. Perdarahan retina
2. Gagal jantung kongestif
3. Infufisiensi ginjal
4. CVA ( Cerebro Vaskuler Accident )
E. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula
dari saraf simpatis, yang berkelanjutan ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
system saraf simpatis ke ganglia simpatis yang mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah.
Bebagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi
respons pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor. Individu dangan
hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan
jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

F. PATHWAYS
Umur, Jenis kelamin, Gaya hidup, Obesitas

HIPERTENSI

Gangguan pada sistem
kardiovaskuler dan sistem
saraf

HIPERTENSI EMERGENCY

Otak Ginjal Retina Pemblh darah

Vasokonstriksi Spasmus Sistemik
Resistensi Suplai O2 pemblh. darah arteriole
pemb. drh otak ginjal
otak Vasokontriksi
Diplopia
Kesadaran Blood flow
Tek. pemblh drh afterload
otak Koroner jantung
Respon KAA
Resiko Resiko COP
Nyeri kepala injuri injuri infark miokard
Vasokonstriksi

Gx. rasa
Rangsang Intoleransi Nyeri dada
nyaman ;
aldosteron aktivitas
nyeri

Retensi Na Penurunan
Curah
Jantung
Oedema
Gx. Keseimbangan
cairan

Sumber :
- Doengoes (2000 : 59)
- Smeltzer S.C & Bare (2002 : 898)

G. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

1. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan
sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini
meliputi :
a. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a). Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
b). Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c). Penurunan berat badan
d). Penurunan asupan etanol
e). Menghentikan merokok
f). Diet tinggi kalium
b. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu :
a). Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda,
berenang dan lain-lain
b). Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87
% dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Denyut nadi maksimal
dapat ditentukan dengan rumus 220 – umur
c). Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona
latihan
d). Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu
c. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
a). Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada
subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek
dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk
mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
b). Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk
dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
d. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan
pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2.Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja
tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita
dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (
JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND
TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa
obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat
digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan
penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
a. Step 1 : Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
b. Step 2 : Alternatif yang bisa diberikan
1) Dosis obat pertama dinaikan
2) Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
3) Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis,
Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
c. Step 3 : alternatif yang bisa ditempuh
1) Obat ke-2 diganti
2) Ditambah obat ke-3 jenis lain
d. Step 4 : alternatif pemberian obatnya
1) Ditambah obat ke-3 dan ke-4
2) Re-evaluasi dan konsultasi

3.Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat dan dokter)
dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan
darahnya
b. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya
c. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa
dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas
e. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan
darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui
dengan mengukur memakai alat tensimeter
f. Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
g. Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita
h. Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi
i. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat
mengukur tekanan darahnya di rumah
j. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2
x sehari
k. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan
masalah-masalah yang mungkin terjadi
l. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat
untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal
m. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
n. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering
o. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan.
Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan
sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan
pengobatan hipertensi.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi

bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor risiko lain atau mencari
penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer lengkap, kimia

darah(kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL,

dan EKG).

Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain, seperti klirens

kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH, dan ekokardiografi.

I. ASUHAN KEPERAWATAN MENURUT TEORI ( Menurut Doengoes : 2000 )

1. Fokus pengkajian

a. Aktivitas / istirahat

Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipneu

b. Sirkulasi

Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner dan

penyakit cerebrovaskuler.

Tanda : Kenaikan TD (pengukuran serial, dan kenaikan tekanan darah

diperlukan untuk menegakkan diagnosis)

Hipotensi postural, nadi, denyut apikal, frekuensi atau irama,

bunyi jantung.

c. Integritas ego

Gejala : Riwayat perusahaan keperibadian, ansietas, depresi, euforia, atau

marah kronik.

Faktor-faktor stres multiple (hubungan, keuangan, yang beerkaitan

dengan pekerjaan)

Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,

tangisan yang meledak

Gerak taangan empati, otot muka tegang, gerakan fisik cepat,

pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.

d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (infeksi / obstruksi atau

riwayat penyakit ginjal masa yang lalu)

e. Makanan / cairan

Gejala : Mual-muntah

Perubahan berat badan akhir-akhir ini

Riwayat penggunaan diuretik

Tanda : Berat badan normal atau obesitas.

Adanya edema, kongesti vena, glikosuria

f. Neurosensori

Gejala : Keluhan pening atau pusing

Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan

menghilang secara spontan setelah beberapa jam).

Tanda : Status mental : perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi

bicara,afek, proses pikir atau memori (ingatan)

Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan dan atau

reflek tendon dalam.

g. Nyeri atau ketidaknyamanan

Gejala : Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung)

Nyeri hilang timbul pada tungkai

Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya

Nyeri abdomen atau massa

h. Pernapasan

Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas atau kerja

Takipneu, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal

Tanda : Distres respirasi atau penggunaan otot aksesori pernapasan

Bunyi napas tambahan (krakels / mengi)

Sianosis

i. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi atau cara berjalan

Episode parestesia unilateral transien

Hipotensi postural

2. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan sakit kepala
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Gangguan kenyamanan diri berhubungan dengan gejala sulit tidur
4. Gangguan keseimbangan cairan berubungan dengan oedema dari retensi Na
5. Gangguan intolerensi aktivitas berhubungan dengan Coping menurun
3. Intervensi
1. Nyeri Akut/Kronis NOC : NIC :
 Pain Level, Pain Management
Definisi :  Pain control,  Lakukan pengkajian nyeri
Sensori yang tidak  Comfort level secara komprehensif
menyenangkan dan Kriteria Hasil : termasuk lokasi, karakteristik,
pengalaman emosional  Mampu durasi, frekuensi, kualitas
yang muncul secara mengontrol nyeri dan faktor presipitasi
aktual atau potensial (tahu penyebab  Observasi reaksi nonverbal
kerusakan jaringan atau nyeri, mampu dari ketidaknyamanan
menggambarkan adanya menggunakan
 Gunakan teknik komunikasi
kerusakan (Asosiasi Studi tehnik
terapeutik untuk mengetahui
Nyeri Internasional): nonfarmakologi
pengalaman nyeri pasien
serangan mendadak atau untuk
pelan intensitasnya dari  Kaji kultur yang
mengurangi
mempengaruhi respon nyeri
ringan sampai berat yang nyeri, mencari
dapat diantisipasi dengan bantuan)
 Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
akhir yang dapat  Melaporkan
diprediksi dan dengan bahwa nyeri
 Evaluasi bersama pasien dan
durasi kurang dari 6 tim kesehatan lain tentang
berkurang
bulan. ketidakefektifan kontrol nyeri
dengan
masa lampau
menggunakan
Batasan karakteristik : manajemen  Bantu pasien dan keluarga
nyeri untuk mencari dan
- Laporan secara
menemukan dukungan
verbal atau non  Mampu
verbal mengenali nyeri  Kontrol lingkungan yang
(skala, dapat mempengaruhi nyeri
- Fakta dari observasi
intensitas, seperti suhu ruangan,
- Posisi antalgic untuk pencahayaan dan kebisingan
menghindari nyeri frekuensi dan
tanda nyeri)  Kurangi faktor presipitasi
- Gerakan melindungi nyeri
- Tingkah laku berhati-  Menyatakan
hati rasa nyaman  Pilih dan lakukan
setelah nyeri penanganan nyeri
- Muka topeng (farmakologi, non
- Gangguan tidur berkurang
 Tanda vital farmakologi dan inter
(mata sayu, tampak personal)
capek, sulit atau dalam rentang
normal  Kaji tipe dan sumber nyeri
gerakan kacau, untuk menentukan intervensi
menyeringai)  Ajarkan tentang teknik non
- Terfokus pada diri farmakologi
sendiri  Berikan analgetik untuk
- Fokus menyempit mengurangi nyeri
(penurunan persepsi  Evaluasi keefektifan kontrol
waktu, kerusakan nyeri
proses berpikir,  Tingkatkan istirahat
penurunan interaksi  Kolaborasikan dengan dokter
dengan orang dan jika ada keluhan dan
lingkungan) tindakan nyeri tidak berhasil
- Tingkah laku  Monitor penerimaan pasien
distraksi, contoh : tentang manajemen nyeri
jalan-jalan, menemui
orang lain dan/atau Analgesic Administration
aktivitas, aktivitas  Tentukan lokasi,
berulang-ulang) karakteristik, kualitas, dan
- Respon autonom derajat nyeri sebelum
(seperti diaphoresis, pemberian obat
perubahan tekanan  Cek instruksi dokter tentang
darah, perubahan jenis obat, dosis, dan
nafas, nadi dan frekuensi
dilatasi pupil)  Cek riwayat alergi
- Perubahan  Pilih analgesik yang
autonomic dalam diperlukan atau kombinasi
tonus otot (mungkin dari analgesik ketika
dalam rentang dari pemberian lebih dari satu
lemah ke kaku)  Tentukan pilihan analgesik
- Tingkah laku tergantung tipe dan beratnya
ekspresif (contoh : nyeri
gelisah, merintih,  Tentukan analgesik pilihan,
menangis, waspada, rute pemberian, dan dosis
iritabel, nafas optimal
panjang/berkeluh  Pilih rute pemberian secara
kesah) IV, IM untuk pengobatan
- Perubahan dalam nyeri secara teratur
nafsu makan dan  Monitor vital sign sebelum
minum dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
Faktor yang berhubungan  Berikan analgesik tepat
: waktu terutama saat nyeri
Agen injuri (biologi, kimia, hebat
fisik, psikologis)  Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala
(efek samping)

2. Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari  Nutritional Status : Nutrition Management
kebutuhan tubuh food and Fluid  Kaji adanya alergi makanan
Intake  Kolaborasi dengan ahli gizi
Definisi : Intake nutrisi Kriteria Hasil : untuk menentukan jumlah
tidak cukup untuk  Adanya kalori dan nutrisi yang
keperluan metabolisme peningkatan berat dibutuhkan pasien.
tubuh. badan sesuai  Anjurkan pasien untuk
dengan tujuan meningkatkan intake Fe
Batasan karakteristik :  Berat badan ideal  Anjurkan pasien untuk
- Berat badan 20 % atau sesuai dengan meningkatkan protein dan
lebih di bawah ideal tinggi badan vitamin C
- Dilaporkan adanya  Mampu  Berikan substansi gula
intake makanan yang mengidentifikasi  Yakinkan diet yang dimakan
kurang dari RDA kebutuhan nutrisi mengandung tinggi serat
(Recomended Daily  Tidak ada tanda untuk mencegah konstipasi
Allowance) tanda malnutrisi  Berikan makanan yang
- Membran mukosa dan  Tidak terjadi terpilih ( sudah
konjungtiva pucat penurunan berat dikonsultasikan dengan ahli
- Kelemahan otot yang badan yang berarti gizi)
digunakan untuk  Ajarkan pasien bagaimana
menelan/mengunyah membuat catatan makanan
- Luka, inflamasi pada harian.
rongga mulut  Monitor jumlah nutrisi dan
- Mudah merasa kandungan kalori
kenyang, sesaat  Berikan informasi tentang
setelah mengunyah kebutuhan nutrisi
makanan  Kaji kemampuan pasien
- Dilaporkan atau fakta untuk mendapatkan nutrisi
adanya kekurangan yang dibutuhkan
makanan
- Dilaporkan adanya Nutrition Monitoring
perubahan sensasi  BB pasien dalam batas
rasa normal
- Perasaan  Monitor adanya penurunan
ketidakmampuan berat badan
untuk mengunyah  Monitor tipe dan jumlah
makanan aktivitas yang biasa
- Miskonsepsi dilakukan
- Kehilangan BB dengan  Monitor interaksi anak atau
makanan cukup orangtua selama makan
- Keengganan untuk  Monitor lingkungan selama
makan makan
- Kram pada abdomen  Jadwalkan pengobatan dan
- Tonus otot jelek tindakan tidak selama jam
- Nyeri abdominal makan
dengan atau tanpa  Monitor kulit kering dan
patologi perubahan pigmentasi
- Kurang berminat  Monitor turgor kulit
terhadap makanan  Monitor kekeringan, rambut
- Pembuluh darah kusam, dan mudah patah
kapiler mulai rapuh  Monitor mual dan muntah
- Diare dan atau  Monitor kadar albumin, total
steatorrhea protein, Hb, dan kadar Ht
- Kehilangan rambut  Monitor makanan kesukaan
yang cukup banyak  Monitor pertumbuhan dan
(rontok) perkembangan
- Suara usus hiperaktif  Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
- Kurangnya informasi,
konjungtiva
misinformasi
 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Faktor-faktor yang
 Catat adanya edema,
berhubungan :
hiperemik, hipertonik papila
Ketidakmampuan
lidah dan cavitas oral.
pemasukan atau
 Catat jika lidah berwarna
mencerna makanan atau
magenta, scarlet
mengabsorpsi zat-zat gizi
berhubungan dengan
faktor biologis, psikologis
atau ekonomi.

3. Kurang pengetahuan NOC : NIC :
 Kowlwdge : Teaching : disease Process
Definisi : disease 1. Berikan penilaian tentang
Tidak adanya atau process tingkat pengetahuan pasien
kurangnya informasi  Kowledge : tentang proses penyakit yang
kognitif sehubungan health Behavior spesifik
dengan topic spesifik. Kriteria Hasil : 2. Jelaskan patofisiologi dari
 Pasien dan penyakit dan bagaimana hal
Batasan karakteristik : keluarga ini berhubungan dengan
memverbalisasikan menyatakan anatomi dan fisiologi, dengan
adanya masalah, pemahaman cara yang tepat.
ketidakakuratan tentang 3. Gambarkan tanda dan gejala
mengikuti instruksi, penyakit, yang biasa muncul pada
perilaku tidak sesuai. kondisi, penyakit, dengan cara yang
prognosis dan tepat
Faktor yang berhubungan program 4. Gambarkan proses penyakit,
: keterbatasan kognitif, pengobatan dengan cara yang tepat
interpretasi terhadap  Pasien dan 5. Identifikasi kemungkinan
informasi yang salah, keluarga mampu penyebab, dengna cara yang
kurangnya keinginan melaksanakan tepat
untuk mencari informasi, prosedur yang 6. Sediakan informasi pada
tidak mengetahui dijelaskan pasien tentang kondisi,
sumber-sumber secara benar dengan cara yang tepat
informasi.  Pasien dan 7. Hindari jaminan yang kosong
keluarga mampu 8. Sediakan bagi keluarga atau
menjelaskan SO informasi tentang
kembali apa kemajuan pasien dengan
yang dijelaskan cara yang tepat
perawat/tim
9. Diskusikan perubahan gaya
kesehatan
hidup yang mungkin
lainnya.
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang
akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien
mengenai tanda dan gejala
untuk melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat

4. Gangguan persepsi NOC : NIC :
sensori : (spesifik: visual, ¤ Sensory Neurologik monitoring:
auditori, kinestetik, function: hearing 1. Monitor tingkat neurologis
pengecapan, taktil, ¤ Sensory klien
penciuman) function: vision 2. Monitor fungsi neurologis
¤ Sensory klien
Definisi : Perubahan 3. Monitor respon neurologis
function: taste
dalam jumlah dan pola
dari stimulus yang dan smell 4. Monitor reflek-reflek
diterima disertai dengan meningeal
penurunan berlebih Kriteria hasil : 5. Monitor fungsi sensori dan
distorsi atau kerusakan • Klien menunjukan persepsi : penglihatan,
respon beberapa tanda dan gejala penciuman, pendengaran,
stimulus. persepsi dan pengecapan, rasa.
sensori baik; 6. monitor tanda dan gejala
Batasan karaktersitik : penglihatan, penurunan neurologis klien
 Konsentrasi buruk pendengaran, Eye Care
 Distorsi makan dan minum 1. Kaji fungsi penglihatan klien
pendengaran baik 2. Jaga kebersihan mata
 Perubahan respon • Klien mampu 3. Monitor penglihatan mata
terhadap stimulus mengungkapkan 4. Monityor tanda dan gejala
 Gelisah fungsi persepsi kelaianan penglihatan
 Melaporkan atau dan sensori 5. monitor fungsi lapang
menunjukan dengan tepat panmdang, penglihatan,
perubahan visus klien
sensori akut Ear Care
 Iritabilitas 1. Kaji fungsi pendengaran
 Disorientasi pasien
waktu, tempat, 2. Jaga kebersihan telinga
orang 3. Monitor respon
 Perubahan pendengaran klien
kemampuan 4. monitor tanda dan gejala
pemecahan penurunan pendengaran
masalah klien
 Perubahan pola 5. monitor fungsi
perilaku pendengaran klien
Monitoring vital sign
 Perubahan pola
 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
komunikasi
 Catat adanya fluktuasi tekanan
 Halusinasi darah
 Distorsi visual  Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
Faktor yang berhubungan  Auskultasi TD pada kedua lengan
: dan bandingkan
 Perubahan  Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
sensori persepsi selama, dan setelah aktivitas
 Stimulus  Monitor kualitas dari nadi
lingkungan  Monitor frekuensi dan irama
berlebih pernapasan
 Stress psikologis  Monitor suara paru
 Perubahan  Monitor pola pernapasan abnormal
penerimaan  Monitor suhu, warna, dan
sensori, transmisi, kelembaban kulit
dan atau integrasi.  Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
 identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

5. PK : Perdarahan Perawat dapat 1. Pantau tanda dan gejala perdarahan
melakukan pencegahan  Adanya letargi
untuk meminimalkan  Adanya kelemahan
terjadinya perdarahan  Keletihan
 Peningkatan pucat
 Dyspneu saat melakukan
aktivitas
 Adanya perdarahan hidung,
perdarahan retina.
2.Monitor kadar Hb
3.Kolaborasi perlunya pemberian
transfusi

Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan nyeri Rasa nyeri berkurang - Kaji skala nyeri. Mengidentifikasi
berhubungan setelah dilakukan karakteristik nyeri untuk
dengan nyeri tindakan keperawatan menentukan terapi yang
kepala selama 1 jam dengan cocok serta mengevaluasi
KH : keefektifan dari terapi.
- pasien mengatakan
nyeri berkurang.
- Ekspresi wajah klien
rileks.
Resiko injuri Resiko injuri berkurang - Lakukan pengawasan Mengurangi resiko injuri
berhubungan setelah dilakukan pada pasien
dengan kesadaran tindakan keperawatan - Atur posisi pasien agar
menurun selama 1 jam dengan tidak merasa jatuh
KH :
- Pasien merasa
tenang dan tidak
takut jatuh
Gangguan kenyamanan - Anjurkan pasien untuk Agar pasien mengerti
diri berkurang setelah istirahat minimal 8 jam bahwa istirahat sangat
dilakukan tindakan sehari penting untuk kesehatan
keperawatan selama 1 - Berikan pendkes
jam dengan KH : tentang pentingnya
- Pasien mengerti beristirahat
tentang pentingnya - Anjurkan pasien untuk
istirahat tidak melakukan
- Pasien merasa aktivitas yang
nyaman berlebihan
DAFTAR PUSTAKA

Hipertensi. Hipertensi Emergensi dan Hipertensi-
Urgensi. BIKBiomed. 2007. Vol.3, No.4 :163-8.
2. 2. Saguner AM, Dur S, Perrig M, Schiemann U, Stuck AE, et al. Risk Factors
PromotingHypertensive Crises: Evidence From a LongitudinalStudy. Am
J Hypertensi. 2010. 23:775-780.
3. Kaplan NM. Primary hypertension. In: Clinical Hypertension. 9 ed. Lippincott
Williams &Wilkins; 2006: 50-104.
4. Madhur MS. Hypertension. Medscape Article. 2012. Vol.3, No.4 :163-8.
5. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, et al.Harrison's
Principles ofInternal Medicine. Seventeenth Edition. 2008.
6. Majid A. Krisis Hipertensi Aspek Klinis dan Pengobatan. USU DigitalLibrary.
2004.
7. Vaidya CK, Ouellette JR. Hypertensive Urgency and Emergency. 2007.
pp. 43-50.
8. Varon J, Marik PE. Clinical Review: The Management of Hypertensivecrises.
Critical CareJournals. 2003.
9. Immink RV, Born BH, Montfrans GA, Koopmans RP, Karemaker JM, etal.
ImpairedCerebral Autoregulation in Pasient with MalignantHypertension.
Journal of the AmericanHeart Association. 2004. 110:2241-2245.
10. Thomas L. Managing Hypertensive Emergency in the ED. Can FamPhysician.
2011.57:1137-41.
11. Hopkins C. Hypertensive Emergencies in Emergency Medicine. 2011.
12. Bisognano JD. Malignant Hypertension. 2013. pp. 43-50.