You are on page 1of 5

5.

1 Kesimpulan

 potensi perikanandi kabupaten Pacitan ada 3 yaitu perikanan tangkap, perikanan umum, dan

budidaya. Budidaya di tambak, tambak payau, tambak laut, kolam, keramba, sawah. Kecamatan

yang memiliki keunggulan komperatif Untuk sektor perikanan umum adalah Kecamatan Donorejo,

kecamatan Punung, kecamatan Pringkuku, kecamatan Arjosari, kecamatan Nawangan,

kecamatan Bandar, kecamatan Tegalombo, kecamatan Tulakan, kecamatan Ngadirojo. Untuk

sektor perikanan laut adalah kecamatan Pacitan, kecamatan Kebonagung, kecamatan Sudimoro.

Untuk sektor perikanan budidaya adalah kecamatan Pringkuku, kecamatan Kebonagung,

kecamatan Ngadirejo. Untuk sektor budidaya kolam adalah kecamatan Donorejo, kecamatan

Punung, kecamatan Arjosari, kecamatan Nawangan, kecamatan Bandar, kecamatan Tegalombo,

kecamatan Tulakan, kecamatan Ngadirejo. Untuk sektor budidaya keramba adalah kecamatan

Donorejo. Untuk sektor budidaya sawah adalah kecamatan Donorejo, kecamatan Punung,

kecamatan Pacitan. Pada matriks Tipologi Klassen di atas dapat disimpulkan bahwa wilayah yang

menjadi sub sektor unggulan untuk dikembangkan dapat dilihat dari kuadran suatu wilayah

tersebut. Kecamatan Donorojo, Punung, Arjosari, Nawangan, Bandar, Tegalombo menunjukkan

berada pada kuadran 4 atau dapat dikatakan bahwa wilayah tersebut masuk ke dalam kategori

sektor terbelakang. Sedangkan kecamatan Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Tulakan, Ngadirojo,

dan Sudimoro menunjukkan berada pada kuadran 3 atau dapat dikatakan bahwa wilayah tersebut

masuk ke dalam kategori sektor berkembang.

 Tujuan Analisis LQ dan TK

Tujuan analisis LQ adalah untuk melihat perbandingan regional dengan nasional.

Regional adalah daerah yang lebih sempit, sementara ituNasional adalah daerah yang lebih luas.

Tujuan analisis TK adalah untuk mengetahui gambaran pola dan struktur pertumbuhanekonomi

ekonomi daerah atau tipologi pertumbuhan.

 Metode yang digunakan dalam praktikum PWP ini adalah menggunakan data sekunder

yaitu dari BPS kabupaten Pacitan. Metode Analisi Data yang digunakan adlah LQ (Location

Quotient) dan TK (Tipologi Klassen)

kerana tidak memiliki keunggulan komparatif.02 sehingga komoditas pada tiga kecamatan tersebut memiliki keunggulan yang komperatif menjadi basis karena nilai LQ > 1. sedangkan kecamatan Sudimoro memiliki nilai LQ sebesar 1.52.21. kecamatan Kebonagung memiliki nilai LQ sebesar 0.41. kecamatan Bandar dengan LQ sebesar 10.92. Nilai LQ dari kecamtan Pacitan dan Kebonagung menunjukkan < 1 maka komoditas pada kecamatan tersebut dikatakan komoditas non basis.30.5.47.  Hasil Analisis LQ Pada sub sektor perikanan umum pada komoditas penangkapan di kabupaten pacitan. kecamatan Nawangan dengan LQ sebesar 11. Sehingga kecamatan yang memiliki keunggulan pada sub sektor perikanan umum komoditas penangkapan yaitu kecamatan Nawangan. Sedangkan pada kecamatan Pacitan memiliki nilai LQ sebesar 0. Sehingga produksi komoditas di kecamatan Pacitan dan Kebonagung memerlukan pasokan atau impor dari luar karena tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri.71. maka komoditas yang bersangkutan tergolong non basis. kecamatan Tulakan dengan LQ sebesar 2. Kecamatan yang memiliki nilai LQ < 1 yaitu kecamatan Donorojo dengan . kecamatan Tegalombo dengan LQ sebesar 9. kecamatan Arjosari dengan LQ sebesar 7.08. kecamatan Kebonagung memiliki nilai LQ sebesar 1.43. kecamatan Pringkuku dengan LQ sebesar 1. kecamatan yang memiliki nilai Location Quotient (LQ) > 1 yaitu pada kecamatan Donorojo dengan nilai LQ sebesar 8. Sedangkan pada sub sektor perikanan laut komoditas penangkapan kabupaten Pacitan memiliki keunggulan wilayah sebagai berikut kecamatan Pacitan memiliki nilai LQ sebesar 1.26.03.03. kecamatan Punung dengan LQ sebesar 10. Kecamatan yang memiliki nilai LQ > 1 artinya komoditas penangkapan pada sub sektor penangkapan umum pada kecamatan tersebut memiliki keunggulan yang komperatif menjadi basis atau menjadi sumber pertumbuhan pada wilayah tersebut dan dapat dilihat pada peta unggul kabupaten Pacitan dengan dilihat pada daerah berwarna hijau. kecamatan Ngadirojo dengan LQ sebesar 1. Pada kecamatan Sudimoro memiliki nilai LQ sebesar 1.

99. dan kecamatan Ngadirojo memiliki nilai LQ sebesar 1. kecamatan Tulakan dengan nilai LQ sebesar 0. Tulakan.72 sehingga kecamatan tersebut termasuk wilayah yang memiliki komoditas unggulan basis.81. Bandar. Arjosari. kecamatan Pringkuku memiliki nilai LQ sebesar 1. Kecamatan yang memiliki nilai LQ < 1 merupakan kecamatan yang memiliki komoditas non basis atau dengan kata lain dapat diartikan produksi komoditas di kecamtan tersebut memerlukan pasokan atau impor. dan kecamatan Ngadirojo memiliki nilai LQ sebesar 4. Pada budidaya tambak laut. Pada budidaya kolam. kecamtan Pringkulu dengan nilai LQ sebesar 0.LQ sebesar 0.98. kecamatan yang memiliki nilai LQ sebesar > 1 adalah kecamatan Ngadirojo sebesar 8. Punung. dan kecamatan Ngadirojo dengan nilai LQ sebesar 0. Bandar.3.1. pada budidaya tambak payau.87 sedangkan kecamatan Punung. Pacitan. kecamatan Bandar memiliki nilai LQ sebesar 7.75. kecamatan yang memiliki nilai LQ sebesar > 1 adalah kecamatan Donorojo dengan nilai LQ sebesar 5. dan Sudimoro memiliki nilai LQ < 1. Arjosari.7. dan Tegalombo karena nilai LQ sebesar 0.74. Sedangkan pada kecamatan Donorojo. kecamatan Punung memiliki nilai LQ sebesar 8. Nawangan.02. kecamatan Tegalombo memiliki nilai LQ sebesar 11.66. Sub sektor perikanan budidaya pada komoditas budidaya di kabupaten Pacitan. kecamatan Tulakan memiliki nilai LQ sebesar 3.06 yang memiliki arti bahwa hanya kecamatan Ngadirojo yang memiliki komoditas unggulan basis sedangkan kecamatan lainnya tidak memiliki komoditas unggulan pada sub sektor budidaya tambak laut. Sedangkan kecamatan yang memiliki nilai LQ sebesar < 1 .28. kecamatan Nawangan memiliki nilai LQ sebesar 4.2 yang menunjukkan bahwa kecamatan tersebut memiliki komoditas unggul yang basis. Sehingga kecamatan yang memiliki keunggulan pada sub sektor perikanan laut komoditas penangkapan yaitu kecamatan Pacitan. Kecamatan Arjosari memiliki nilai LQ sebesar 16. kecamatan Kebonagung memiliki nilai LQ sebesar 1.2. sehingga kecamatan tersebut termasuk komoditas non basis. Tegalombo. Nawangan.

Tulakan. Pada budidaya sawah kecamatan Donorojo nilai LQ sebesar 13. Bandar. Sedangkan kecamatan lainnya seperti Pringkuku. Ngadirojo.74.4. kecamatan Kebonagung memiliki nilai LQ sebesar 0. kecamatan Punung sebesar 9. Sedangkan kecamatan lainnya memiliki komoditas unggul non basis karena nilai LQ dari kematan lainnya adalah 0 atau < 1. dan kecamatan Pacitan memiliki nilai LQ sebesar 1. Arjosari. Pacitan. 5. kecamatan Pacitan memiliki nilai LQ sebesar 0. Tegalombo menunjukkan berada pada kuadran 4 atau dapat dikatakan bahwa wilayah tersebut masuk ke dalam kategori sektor terbelakang. Bandar.1 sehingga tiga kecamatan tersebut menunjukkan bahwa kecamatan tersebut memiliki komoditas basis yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Hasil Analisis TK Dari tabel dan matriks Tipologi Klassen dapat disimpulkan bahwa wilayah yang menjadi sub sektor unggulan untuk dikembangkan dapat dilihat dari kuadran suatu wilayah tersebut.adalah kecamatan Pringkuku dengan nilai LQ sebesar 0. Tulakan. Sedangkan kecamatan Pringkuku. Nawangan. dan kecamatan Sudimoro memiliki nilai LQ sebesar 0.4. Ngadirojo. Tegalombo.14.52 sehingga kecamatan tersebut dikatakan wilayah yang memiliki komoditas non basis Pada budidaya keramba.62.9. dan Sudimoro memiliki nilai LQ sebesar 0 atau dapat dikatakan < 1 maka kecamatan tersebut termasuk komoditas non basis. Kecamatan Donorojo. Kebonagung. Nawangan. dan Sudimoro menunjukkan berada pada kuadran 3 atau dapat dikatakan bahwa wilayah tersebut masuk ke dalam kategori sektor berkembang. produksi komoditas di suatu wilayah memerlukan pasokan atau impor.2 Saran . Punung. Kebonagung. kecamatan yang memiliki komoditas unggulan yang komperatif adalah kecamatan Donorojo dengan nilai LQ sebesar 59. Arjosari.

Pemerintah Setidaknya pemerintah mengetahui proses perencaan ini. agar kedepannya daerah tersebut menjadi berkembang lebih baik lagi. Pemerintah seharusnya mampu menjembatani bahkan mensupport setiap sektor usaha yang dilakukan warganya. . apakah sesuai apa tidak dengan ketentuan. dan kalau bisa terjun ke lapang langsung. Karena Negara akan maju jika setiap daerahnya juga maju. Oleh sebab itu perencaaan ini perlu dilakukan sebaik mungkin seefisien mungkin. Mahasiswa Mahasiswa setelah mengikuti praktikum ini diharapkan bisa menerapkan ilmu dari praktikum Perencanaan Wilayah Perikanan ini. Dan mampu mengetahui kinerja pemerintahan terhadap proses perencanaan wilayah. Mahasiswa turut aktif dalam pembangunan sebuah wilayah. Terutama sector perikanan yang masih jarang disentuh karena lokasinya yang jauh dari kota. dan kalau bias menerapkan dan memantau perkembangan setiap daerah. Mahasiswa harus mampu bertindak apabila ada kekliruan yang dilakukan oleh siapapun terutama tentang perencaan sebuah wilayah.