You are on page 1of 43

PRESENTASI KASUS

Seorang Anak Laki-laki 14 Tahun 10 Bulan
dengan Demam Dengue dan Gizi Baik

Oleh :
Fhany Grace Lubis G99171053 (L-3)
Beata Dinda Seruni G99152086 (L-5)

Pembimbing :
Hari Wahyu Nugroho, dr.,Sp.A., M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2017

HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RSUD Dr.
Moewardi. Presentasi kasus dengan judul:

Seorang Anak Laki-laki 14 Tahun 10 Bulan dengan Demam Dengue
dan Gizi Baik

Hari, tanggal : , November 2017

Oleh:
Fhany Grace Lubis G99171053 (L-3)
Beata Dinda Seruni G99152086 (L-5)

Mengetahui dan menyetujui,
Pembimbing Presentasi Kasus

Hari Wahyu Nugroho, dr.,Sp.A., M.Kes

BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. BAP
Tanggal lahir : 4 Januari 2003
Usia : 14 tahun 10 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Klaten
BB, TB : 54 kg, 160 cm
Tanggal masuk : 12 November 2017
Tanggal Pemeriksaan : 14 November 2017
No. RM : 013932xx

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Demam.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSDM dengan keluhan demam sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit. Demam mendadak dirasakan terus menerus,
namun saat demam di rumah, pasien tidak mengukurnya. Ibu pasien
mengatakan bahwa demam turun sebentar setelah minum obat dari klinik,
namun naik kembali. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri kepala, mual,
serta badan terasa pegal. Ibu pasien mengatakan bahwa pasien terlihat lemas,
nafsu makan menurun, namun pasien masih mau minum kira-kira 1 botol air
mineral ukuran besar setiap hari. Keluhan lain seperti mimisan, gusi
berdarah, batuk pilek, sesak, muntah, dan mencret disangkal. BAB BAK
tidak ada keluhan.
Oleh ibu pasien, pasien dibawa ke klinik di dekat rumah dan diberikan
4 macam obat (amoxicillin, paracetamol, 2 obat lain tdk diketahui). Selain

itu di klinik tersebut dilakukan pemeriksaan darah dengan hasil Hb 13,8, AL
3800, AT 146000, Hct 46,4%. Oleh pihak klinik, pasien disarankan untuk
dirawat di rumah sakit. Kemudian pasien dibawa ke IGD RSDM untuk
mendapatkan penanganan lebih lanjut. Saat di IGD, pasien sadar penuh,
demam, lemas, tidak muntah, BAK(+) terakhir saat di IGD, berwarna kuning
jernih.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan serupa :disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan serupa : disangkal
5. Riwayat Lingkungan
 Riwayat lingkungan sekitar DBD: (+) terdapat 2 orang tetangga
pasien yang menderita DBD 2 minggu yang lalu.
 Penampungan air : selalu tertutup dan dikuras teratur
seminggu 3x
 Pemeriksaan jentik : (-)
6. Riwayat Kehamilan
Ibu pasien G2P1A0 dalam usia 25 tahun dan merupakan kehamilan
yang kedua. Ibu pasien mengikuti Kegiatan Antenatal Care secara rutin di
bidan. Trimester I sebanyak 1 kali, trimester II sebanyak 1 kali, trimester
III sebanyak 3 kali. Ibu pasien rutin meminum vitamin dan suplemen dari
bidan, tidak mengonsumsi obat tertentu saat kehamilan. Riwayat demam
saat kehamilan disangkal. Tidak terdapat penyulit selama masa kehamilan
riwayat trauma saat kehamilan disangkal. Kesan kehamilan dalam batas
normal.
7. Riwayat Kelahiran
Pasien lahir dari ibu dengan umur kehamilan 39 minggu secara
spontan ditolong bidan di puskesmas dengan berat badan lahir 3200 gram,
langsung menangis kuat segera setelah lahir dan tidak ada kebiruan. Kesan
riwayat kelahiran tidak ada kelainan.

Prestasi pasien di sekolah cukup baik. MA (40 tahun) bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ayah Ibu pasien merupakan suku Jawa. Riwayat perkembangan: Saat ini pasien duduk di kelas 3 SMP. dan pasien beragama Islam. Ibu. Terkadang pasien membeli jajanan di sekolah. Kesan: perkembangan sesuai usia 9. campak : kelas 1 SD TT 2 : kelas 2 SD TT 3 : kelas 3 SD Kesimpulan : Imunisasi lengkap sesuai Kemenkes 1999 10. Riwayat Sosial Pasien merupakan anak kedua. Pasien mampu bersosialisasi dengan baik dan memiliki banyak teman. Kesan : pertumbuhan sesuai usia. DA (45 tahun) bekerja sebagai pedagang. Polio 1 : 1 bulan DPT/Hb 1. BB 54 kg. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan: usia 14 tahun 10 bulan . Polio 3 : 3 bulan DPT/Hb 3. Pasien tidak memilih-milih makanan dan selalu menghabiskan porsi makannya.8. Ayah : Tn. Kesan kuantitas dan kualitas nutrisi baik 11. Ayah. Menggunakan layanan BPJS kelas III . Polio 2 : 2 bulan DPT/Hb 2. Riwayat Imunisasi Hb 0 : 0 bulan BCG. Ibu : Ny. Riwayat Nutrisi Pasien makan di rumah 3 kali sehari dengan nasi dan lauk bervariasi. Polio 4 : 4 bulan Campak : 9 bulan DT. TB 160 cm.

Pemeriksaan fisik 1. Status Generalis a. GCS E4V5M6 b. ♂ 14 tahun. 12. BAP.20C SiO2 : 98% TD : 120/70 c. C. konjungtiva anemis (+/+). wasting muscle (-) Ekstremitas : wasting muscle (-) Status gizi secara klinis baik . wajah nampak tua (-) Mata : edema palpebra (-/-). cekung (-/-) Mulut : mukosa basah (+). sadar penuh.Tanda Vital Nadi : 113x/ menit Respiratory Rate : 18x/menit Suhu : 38. Pohon Keluarga I II III An. pecah-pecah (-) Thoracoabdomen : Iga gambang (-). susah dicabut (+). Status Gizi 1) Secara klinis Nafsu makan : baik Kepala : rambut jagung (-). baggy pants (-). Keadaan Umum : Tampak sakit sedang.

nyeri tekan epigastrium (-). reguler.9% P10<TB/U<P25(normoheight) BB/TB= 54/56 x 100% = 96. Thorax : Retraksi (-). sianosis (-). hepar dan lien tidak t eraba. simetris Cor Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : Batas jantung tidak melebar Auskultasi : BJ I-II intensitas normal. 2) Secara Antropometri BB: 54 kg. sklera ikterik (-/-) f. normoheight d.bising (-) Pulmo Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : Fremitus raba dada kanan = kiri Perkusi : Sonor// sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+). TB: 160 cm.4% P50<BB/U<P75 (gizi baik) Status gizi secara antropometri : gizi baik. Hidung : Napas cuping hidung (-/-).4% P25<BB/U<P50(normoweight) TB/U= 160/165 x 100% = 96. normoweight. Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-) j. suara tambahan (-) k. Mata : Konjungtiva anemis (-/-). faring hiperemis (-) i. Kepala : Mesosefal e. turgor kulit kembali cepat . Umur: 14 tahun 10 bulan BB/U= 54/56 x 100% = 96. Mulut : Mukosa basah (+). Telinga : Sekret (-/-) h. sekret (-/-) g. Abdomen Inspeksi : Dinding perut sejajar dengan dinding dada Auskultasi : Bising usus (+) normal Perkusi :Timpani diseluruh lapang perut Palpasi :Supel.

00 Netrofil 59. .30 % 0.8 /um 80.5-14.8 g/dl 14.40 % 0. Pemeriksaan Penunjang 1.0 MCH 31.19 Juta/l 3.50 % 18.5 fl 7. CRT < 2” D.0-33. - .00 Kesan: leukopenia.80-5. . . trombositositopenia.00-1.5 AT 116 ribu/l 150-450 AE 5. .0-36.0 Pg 28.00-6.0 RDW 10. Ekstremitas : Rumple leed (+) Oedema Akral dingin .5 Hct 42 % 33-45 AL 3.6 MPV 8.00 Basofil 0. .00-4.6-14.80 Index Eritrosit MCV 88.00-74-00 Limfosit 32. - ADP kuat.2-11.30 % 0.9 g/dl 33. Hasil Laboratorium darah (12/11/2017) Pemeriksaan hasil satuan Rujukan Hematologi rutin Hb 14.50 % 60-00-66-00 Monosit 7.0 MCHC 34.0-96.0-17. l.9 % 11.60 Ribu/l 4.1 PDW 17 5 25-65 Hitung Jenis Eosinofil 0.

Nafsu makan menurun 4. mual. Rumple leed (+) 6. Terdapat 2 orang tetangga pasien yang menderita DBD 2 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala. Demam menurun dengan obat penurun panas dari klinik. 2. 3. serta badan terasa pegal. Demam dengue 2. 2. Demam mendadak dan terus menerus hari ke 4. Demam berdarah dengue 3. Hasil foto rontgen thorax RLD (12/11/2017) Kesan: Tidak tampak adanya efusi pleura. Demam dengue 2. 5. Gizi baik . Diagnosis Banding 1. Demam tifoid G. E. Diagnosis Kerja 1. Trombositopenia dan leukopenia F. namun naik kembali. Daftar Masalah 1.

Inf asering (5ml/kg/jam) 260 ml/jam 4. Rawat bangsal infeksi anak 2. Mengenai kemungkinan dan cara pencegahan penyakit pasien. Mengenai pengobatan dan kesembuhan pasien. Mengenai penyakit pasien. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam Ad sanam : dubia ad bonam Ad fungsionam : dubia ad bonam . 3. Plan Cek GDT dan urinalisis J. Edukasi 1. L. Diet nasi lauk 2000 kkal/hari 3. Plan Terapi 1. Monitoring KUVS dan BCD/ 8 jam.H. 2. Paracetamol (15 mg/kgbb/kali) 500 mg/8 jam I. awasi tanda perdarahan dan tanda syok DL2/ 12 jam K.

tidak mual. faring hiperemis (-)  Leher: pembesaran KGB (-)  Thoraks: simetris. sekret (-)/(-)  Telinga: sekret (-)/(-)  Mulut: mukosa basah (+). ikterik (-)/(-)  Hidung: napas cuping hidung (-)/(-). nafsu makan membaik. bising jantung (-)  Pulmo: o I: Pengembangan dada kanan = kiri o A: Fremitus paru kanan = kiri o P: Sonor (+)/(+) o P: Napas vesikuler (+)/(+). retraksi (-)  Cor: bunyi jantung I-II normal. suara napas tambahan (-)/(-) .FOLLOW UP Tanggal: 13 November 2017 Dalam Perawatan Hari ke-1 Subjektif Demam mulai turun. tidak BAB hitam. sadar penuh  Laju nadi 122x/menit  Laju napas 26x/menit  Suhu 37. tidak mimisan.4oC  Saturasi O2 98%  TD 110/60 mmHg  BC = +334 ml  D = 1.2 ml/kgbb/jam  Kepala: mesosepal  Mata: konjungtiva anemis (+)/(+). tidak nyeri perut. Objektif  Tampak sakit sedang.

awasi tanda perdarahan dan tanda syok Tabel 1.011 pH 7.0 Leukosit Negatif Nitrit Negatif Protein Negatif . Infus asering (5 ml/kg/jam) 125 ml/jam 3. hepar dan lien tak teraba membesar (−)/(−)  Ekstremitas: akral dingin (−)/(−).1 Hasil laboratorium urinalisis (13 November 2017) PEMERIKSAAN HASIL SEKRESI MAKROSKOPIS Warna Yellow Kejernihan Clear KIMIA URIN Berat jenis 1. bising usus (+) normal. Arteri dorsalis pedis teraba kuat. Gizi baik Plan Terapi 1. Demam dengue 2. Urinalisis 2. CRT <2 detik Assessment 1.  Abdomen: supel. Feses rutin Monitoring KUVS dan BCD/ 8 jam. Paracetamol (15mg/kgbb/kali) 500 mg/8 jam Plan 1. Diet nasi lauk 2000 kkal/hari 2.

1 Ribu/l 4.93 Juta/l 3.9 g/dl 14.2-11.5-14.3 /um 80.0 MCH 30.0-36.30 % 18.0-96.80-5.9 g/dl 33.3/LPB EPITEL Squamos 0-2/LBP Transisional - Bulat - SILINDER Hyline 0 granulated - Tabel 1.2 PDW 17 % 25-65 Hitung Jenis Eosinofil 0.6 MPV 8.0 RDW 11.2 Fl 7.00 Basofil 0.00 Netrofil 61.0-33. Glukosa Normal Keton Negatif Urobilinogen Normal Bilirubin Negatif Elektrolit Negatif MIKROSKOPIS Eritrosit 5.0-17.80 Index Eritrosit MCV 89.5 AT 102 ribu/l 150-450 AE 4.0 MCHC 33.2 Pg 28.6-14.5 Hct 44 % 33-45 AL 4.60 % 0.8 Leukosit 0.00-1.80 % 0.00-4.00-74-00 .2 Hasil laboratorium darah (13 November 2017) Pemeriksaan hasil Satuan Rujukan Hematologi rutin Hb 14.0 % 11.

00 Kesan: Leukopenia dan trombositopenia Tanggal: 14 November 2017 Dalam Perawatan Hari ke-2 Subjektif Tidak demam. sadar penuh  Laju nadi 96x/menit  Laju napas 20x/menit  Suhu 36. bising jantung (-)  Pulmo: o I: Pengembangan dada kanan = kiri o A: Fremitus paru kanan = kiri o P: Sonor (+)/(+) o P: Napas vesikuler (+)/(+). ikterik (-)/(-)  Hidung: napas cuping hidung (-)/(-).00 % 60-00-66-00 Monosit 7. tidak mimisan. suara napas tambahan (-)/(-) .00-6. nafsu makan membaik. retraksi (-)  Cor: bunyi jantung I-II normal.5oC  Saturasi O2 98%  TD 110/80 mmHg  BC = +723 ml  D= 0. faring hiperemis (-)  Leher: pembesaran KGB (-)  Thoraks: simetris. Limfosit 30. badan pegal-pegal. Objektif  Tampak sakit sedang. BAB dan BAK normal. sekret (-)/(-)  Telinga: sekret (-)/(-)  Mulut: mukosa bsah (+).9 ml/kgbb/jam  Kepala: mesosepal  Mata: konjungtiva anemis (-)/(-).30 % 0.

bising usus (+) normal. Arteri dorsalis pedis teraba kuat. Gizi baik Terapi 1. CRT <2 detik Assessment 1. Diet nasi lauk 2000 kkal/hari 2.  Abdomen: supel. hepar dan lien tak teraba membesar (−)/(−)  Ekstremitas: akral dingin (−)/(−). Paracetamol (15mg/kgbb/kali) 500 mg/8 jam po Plan Cek lab evaluasi bila baik BLPL Monitoring KUVS/8 jam . Infus D5 ¼ ns 90 ml/jam IV (maintenance) 3. Demam dengue 2.

trombositopenia. Hasil foto rontgen thorax RLD tidak ditemukan adanya efusi pleura. pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium di atas dapat disimpulkan terdapat beberapa gejala klinis dan hasil laboratoris yang mendukung ke arah Demam Dengue menurut klasifikasi WHO tahun 2011.ADP teraba kuat. tekanan darah 120/70 mmHg. Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38. nafsu makan menurun namun masih mau minum.2oC (per aksiler). Pada pasien ini dilakukan uji tourniquet untuk melihat apakah adanya manifestasi perdarahan yang biasanya terdapat pada infeksi dengue.4%. Keadaan umum pasien saat dibawa ke IGD RSDM tampak sakit sedang dengan kesan gizi baik (klinis). ruam. dan uji tourniquet (+). dan atau nyeri sendi disertai leukopenia. BAB II ANALISIS KASUS Demam dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam. laju nafas 26 x/menit. Hasil uji laboratorium saat pasien datang ke IGD menunjukkan kadar leukosit dan trombosit pasien yang turun yaitu 3. pasien tersebut dapat dirawat inap di pelayanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit.8 ribu/ul. Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan demam mendadak sejak 3 hari SMRS yang dirasakan terus menerus. Pasien dibawa ke klinik di dekat rumah dan diberikan 4 macam obat serta dilakukan pemeriksaan laboratorium. namun tidak diukur.8 g/dl. Ibu pasien juga mengatakan bahwa seitar 1 minggu yang lalu. hematokrit 46. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil hemoglobin 13. jumlah trombosit 146 ribu/ul.600/ul dan 116. Berdasarkan dari anamnesis. Pada pasien ini didapatkan hasil positif pada uji tourniquet. menurun dengan obat penurun panas dari klinik tapi naik kembali. nyeri otot. Pada awal perjalanan penyakit infeksi dengue terkadang susah dibedakan dengan penyakit yang memiliki gejala klinis demam lainnya sehingga diperlukan suatu tes yaitu uji tourniquet untuk menunjang diagnosis penyakit ke arah infeksi dengue. limfadenopati. nadi 113x/menit. Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala. dan diatesis hemoragik. terapat 2 orang tetangga yang menderita DBD dan dirawat di rumah sakit. jumlah leukosit 3. mual. Pasien tersebut memenuhi kriteria rawat inap . serta badan terasa pegal.000 ul. Selain dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan uji laboratorium dengan menggunakan sample darah pasien dan juga dilakukan foto rontgen thorax RLD. Ibu pasien mengatakan bahwa pasien terlihat lemas. SiO2 98%. Setelah dilakukan diagnosis pada pasien dapat dilakukan tatalaksana sesuai dengan Pedoman Pelayanan Medis IDAI tahun 2009.

Pada keadaan permeabilitas yang meningkat.5° C) dengan interval 8 jam. Dalam keadaan normal setelah satu jam pemberian cairan hipotonis. Parasetamol sebaiknya diberikan hanya pada keadaan pasien demam (suhu > 38. yaitu demam tinggi medadak hari ke 4.45 %.berupa adanya tanda klinis dan laboratoris pada demam dengue.tanda syok. Pemberian obat simptomatis pada pasa pasien ini dapat diberikan antipiretik dengan pilihan parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali apabila demam. volume cairan yang bertahan akan semakin berkurang sehingga lebih mudah terjadi kelebihan cairan pada pemberian cairan hipotonis.Selain dengan pemberian cairan melewati infus pasien juga dianjurkan untuk minum yang cukup terutama minum cairan yang mengandung elektrolit. . Cairan kristaloid isotonik merupakan pilihan untuk pasien. Tidak dianjurkan pemberian cairan hipotonik seperti NaCl 0. Tata laksana yang tepat dan segera dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas demam berdarah dengue (DBD). Pengobatan pada saat dirawat inap pasien tersebut diberikan terapi penggantian cairan dan terapi simptomatis. hanya 1/12 volume yang bertahan dalam ruang intravascular sedangkan cairan isotonis ¼ volume yang bertahan. Berat pasien 54 kg sehingga untuk dosis parasetamol yang diberikan sebanyak 500 mg sekali minum. tidak didapatkan tanda. Pada pasien diberikan cairan infus asering (5ml/kg/jam) 260 ml/jam dikarenakan kondisi pasien masih stabil. uji torniquet (+) serta terdapat penurunan jumlah trombosit. Pemberian aspirin atau golongan NSAID serta ibuprofen tidak dianjurkan karena akan memperparah manifestasi perdarahan pada pasien. kecuali bagi pasien usia < 6 bulan. Terapi cairan meliputi jenis dan jumlah cairan yang diberikan. Pemberian cairan harus diawasi supaya tidak terjadi overload cairan. sisanya terdistribusi ke ruang interseluler dan ekstraseluler.

kepadatan vektor di lingkungan. nyeri otot. kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya). 3) Lingkungan : curah hujan. aegypti dan A. 2011a). transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain. sanitasi dan kepadatan penduduk. b. ruam. c.Gejala-gejala yang timbul merupakan akibat perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. albopictus).000 penduduk pada tahun 1998. usia dan jenis kelamin. dan atau nyeri sendi disertai leukopenia. dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100. Terdapat empat serotipe . Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. Epidemiologi Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara. Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi. suhu. transportasi vektor di lingkungan. 2) Pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. trombositopenia. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100. Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu: 1) Vektor: perkembangbiakan vektor. Definisi Demam dengue dan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam. Etiologi Etiologi penyakit demam berdarah dangue adalah virus dangue termasuk family flaviviridae genus Flavivirus yang terdiri dari 4 serotipe. mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk.000 penduduk (1989 hingga 1995). Pasifik Barat dan Karibia. dan diatesis hemoragik. kebiasaan menggigit. sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999. limfadenopati.Sindrom renjatan dengue adalah DBD yang ditandai oleh renjatan/syok (WHO. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) a. BAB III TINJAUAN PUSTAKA A.

Sesuai dengan hipotesis secondary heterologous infection. Keempat serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak. Meningginya nilai hematokrit menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak. plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari permulaan masa demam dan mencapai puncaknya pada masa terjadinya hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) bersamaan dengan menghilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Virus DEN termasuk dalam kelompok virus yang relative labil terhadap suhu dan faktor kimiawai lain serta masa viremia yang pendek. yang berkisar antara 6 bulan sampai 5 tahun. peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma yang otomatis jumlah trombosit berkurang (trombositopenia). Hipotesis lain yang menentangnya adalah hipotesis virulensi virus. DEN-3. Berdasarkan hipotesis ini seseorang akan menderita DHF apabila mendapatkan infeksi berulang oleh serotipe virus dengue yang berbeda dalam jangka waktu tertentu. DEN-1. d. ditutupi oleh suatu selubung dari lipid yang mengandung dua protein yaitu selubung protein E dan protein membrane M. yang mengakibatkan terjadinya perembesan atau kebocoran plasma. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan membentuk kompleks antigen antibodi kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel .2011). DEN-2. dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. menurut hipotesis ini perbedaan virulensi serotipe virus dengue adalah penyebab terjadinya DHF. Patofisiologi Hipotesis infeksi heterolog sekunder (the secondary heterologous Infection hyphotesis atau the sequential infection hypothesis) sampai saat ini masih dianut sebagai konsep patogenesis terjadinya DHF. pasien yang mengalami infeksi berulang dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD. (Halstead . Fenomena patologis utama yang menentukan berat penyakit DHF adalah meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah (kapiler). Virus DEN virionnya tersusun oleh genom RNA dikelilingi oleh nukleokapsid. terjadinya hipotensi (tekanan darah rendah) yang dikarenakan kekurangan haemoglobin.

melepaskan C3a dan C5a menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah sehingga plasma merembes ke ruang ekstravaskular. Kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen. 2011). tidak berfungsi baik. ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degradation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan. asites (Halstead. Hipotesis kedua antibody dependent enhancement (ADE). juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. peningkatan kadar hematokrit. penurunan kadar natrium. suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear. Kadar trombopoetin dalam darah pada saat terjadi trombositopenia justru menunjukkan kenaikan sebagai mekanisme kompensasi stimulasi trombopoesis saat keadaan trombositopenia. Di sisi lain. Oleh karena antibodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag (respon antibodi anamnestik). Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD. aktivasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang . Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular diseminata). 2011). Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut. sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak.leukosit terutama makrofag. Volume plasma intravaskular menurun hingga menyebabkan hipovolemia hingga syok (Halstead. sehingga trombosit melekat satu sama iain. sehingga mengakibatkan perembesan plasma kemudian hipovolemia dan syok. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di phosphat). Terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi mengaktifkan sistem komplemen (C3 dan C5). dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa seperti efusi pleura. terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Dalam waktu beberapa hari terjadi proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue.

Jadi. 2014).dapat mempercepat terjadinya syok. 2011 Gubler dkk. . perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositopenia. kelainan fungsi trombosit. penurunan faktor pembekuan (akibat KID).. dan kerusakan dinding endotel kapiler (Halstead.

Klasifikasi Pada tahun 2011 SEARO menambahkan adanya kriteria expand karena pada beberapa penyakit tidak dapat diklasifikasikan ke dalam kriteria WHO 2009. demamberdarah dengue dengan kebocoran plasma. . 2009 e. demam dengue dengan manifestasi perdarahan. demam berdarah dengue diikuti syok. SEARO juga memperbaharui dalam mengklasifikasikan infeksi dengue. demam dengue tanpa manifestasi perdarahan. klasifikasi tersebut berupa demam yang tidak terklasifikasikan. demam berdarah dengue tanpa adanya tanda-tanda syok. demam dengue dengan perluasan dari sindroma dengue. Patogenesis DBD menurut The Secondary Heterologous Dengue Infection Hypothesis Sumber : Suhendro.

Pembagian klasifikasi infeksi dengue berdasarkan WHO-SEARO dibandingkan dengan WHO 2009 .Tabel 2.

maka infeksi virus Dengue juga merupakan suatu self limiting infectious disease yang akan berakhir sekitar 2-7 hari. Manifestasi Klinik Seperti pada infeksi virus yang lain. dengue fever. (Hadinegoro dkk.. Desember 2012: 6-7 f. Dengue In South-East Asia: An Appraisal Of Chase Management And Vector Control. 2014) Secara garis besar infeksi dengue dibagi menjadi 3 fase : 1) Fase febris . dengue hemmorrhagic fever atau dengue shock syndrom. Infeksi virus Dengue pada manusia mengakibatkan suatu spektrum manifestasi klinis yang bervariasi antara asimtomatik. Dengue Buletin Volume 36.Dikutip dari : WHO-SEAR.

nyeri retro orbital. fotofobia. akan terjadi peningkatan permeabilitas kapiler bersamaan dengan peningkaya kadar hematokrit.Diikuti dengan anoreksia mual serta muntah yang umumnya selalu diderita pasien. hal ini merupakan tanda awal dari fase kritis. injeksi konjungtiva. nyeri sendi. eritema pada kulit. pegal pada seluruh tubuh. 3) Fase penyembuhan Apabila pasien bertahan dalam 24-48 jam di dalam fase kritis. DIC. nyeri otot. 2) Fase kritis Terjadi ketika terjadi penurunan suhu badan sampai normal. biasanya hari ke 3-7 penyakit. diikuti dengan leukopenia. faringitis. periode kebocoran plasma biasanya berlangsung 24-48 jam yang ditandai dengan peningkatan hematokrit. dapat pula terjadi efusi pleura dan asites. ruam makulopapular yang timbul pada 1-2 hari dan kemudian menghilang tanpa bekas. nantinya dapat menyebabkan asidosis metabolik. . Syok terjadi ketika terjadi kehilangan banyak plasma. akan terjadi perbaikan bertahap dari cairan ekstravaskular.Pada fase ini bila didapatkan tes torniquet (+) meningkatkan kemungkinan infeksi dengue. Pada beberapa pasien terdapat nyeritenggorokan. Pasien tiba-tiba mengalami demam tinggi. serta nyeri kepala. dalam fase demam akut biasanya sekitar 2-7 hari dengan diikuti wajah kemerahan.

Derajat II (Sedang) Golongan ini lebih berat daripada derajat pertama. 2012 B. dan penderita menjadi gelisah. dengan manifestasi perdarahan ringan. yaitu nadi cepat dan lembut. 2. hematemesis dan melena (muntah darah). Derajat I (Ringan) Demam mendadak 2 sampai 7 hari disertai gejala klinik lain. Yaitu uji tes “rumple leed’’ yang positif. Gambar 3. Gangguan aliran darah perifer ringan yaitu kulit yang teraba dingin dan lembab. . oleh karena ditemukan perdarahan spontan di kulit dan manifestasi perdarahan lain yaitu epitaksis (mimisan). Geneva: WHO. perdarahan gusi. Derajat Beratnya Penyakit DHF Sesuai dengan patokan dari WHO (2011b) bahwa penderita DHF dalam perjalanan penyakit terdapat pembagian sebagai berikut 1. 3. tekanan nadi menurun (< 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin. 4. Derajat III (Berat) Penderita syok berat dengan gejala klinik ditemukannya kegagalan sirkulasi. Handbook for clinical management of dengue. Derajat IV Penderita syok berat (profound shock) dengan tensi yang tidak dapat diukur dan nadi yang tidak dapat diraba. lembab. Perjalanan Penyakit Infeksi Dengue Dikutip dari :WHO-TDR.

sangatlah penting karena pemeriksaan ini berfungsi untuk mengikuti perkembangan dan diagnosa penyakit.000 /µl. dan menghilang setelah 60-90 hari.Pemeriksaan jumlah trombosit ini dilakukan pertama kali pada saat pasien didiagnosa sebagai pasien DHF. 1999). meningkat pada minggu pertama sampai dengan ketiga. oleh karena itu kinetik antibodi IgG harus dibedakan antara infeksi primer dan sekunder. Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan terjadinya hemokonsentrasi. limfosit reaktif atau limfosit atipik (Gandasubrata.Oleh karena itu diagnosa dini infeksi primer hanya dapat ditegakkan dengan mendeteksi antibodi IgM setelah demam hari kelima. Pada infeksi primer antibodi IgG meningkat sekitar demam hari ke-14 sedang pada infeksi sekunder antibodi IgG meningkat pada hari kedua. C. hal ini disebabkan karena limfosit merupakan satu-satunya sel tubuh yang mampu mengenal antigen secara spesifik dan mampu membedakan penentu antigenik. Kinetik kadar IgG berbeda dengan kinetik kadar antibodi IgM.Pada pasien DHF didapatkan jumlah trombosit < 100. dkk. sehingga respon imunnya bersifat spesifik. 5. 1999). Expanded Dengue Syndrome Pasien menderita keterlibatan organ dan manifestasi klinis yang tidak lazim dialami pasien infeksi Dengue lain. Uji serologi ini merupakan konfirmatif adanya infeksi virus dengue.(Gandasubrata. yang merupakan indikator terjadinya perembesan plasma. . 2000).Nilai peningkatan ini lebih dari 20%. Istilah yang biasa untuk menggambarkan perubahan morfologi tersebut antara lain limfosit plasma biru. diagnosis infeksi sekunder dapat ditegakkan lebih dini dengan adanya peningkatan antibodi IgG dan IgM yang cepat (Groen.Antibodi terhadap virus dengue dapat ditemukan di dalam darah sekitar demam hari ke-5. Limfosit yang berstimulasi dengan antigen akan mengalami perubahan struktural dan biokimia. Penderita DHF sering muncul limfosit plasma biru. Pemeriksaan trombosit perlu di lakukan pengulangan sampai terbukti bahwa jumlah trombosit tersebut normal atau menurun. Pemeriksaan Laboratorium Setiap penderita dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan lengkap darah.

Sampel harus cepat diangkut pada suhu 4 ° C ke laboratorium dan diproses secepat mungkin. pada infeksi primer viremia terjadi 1-2 hari sebelum mulainya demam sampai hari ke 4-5. Gambar 2. Virologi dan serologi yang berhubungan dengan waktu infeksi dengue Masa inkubasi adalah 4-10 hari setelah digit oleh nyamuk. ELISA maupun haemagglutination inhibition assay (HIA).Sampel serum yang dikumpulkan selama 4 hari pertama demam berguna untuk virus.Serum steril tanpa antikoagulan . genom dan deteksi antigen dengue. Perubahan Titer IgG dan IgM pada Infeksi Dengue Tiga aspek utama yang harus dipertimbangkan untuk diagnosis dengue secara adekuat : 1. sehingga harus berhati-hati selama transportasi dan penyimpanan sampel. IgG akan meningkat pada hari ke 9-10 yang kemudian akan bertahan dengan kadar rendah sampai 1 dekade dan hal ini dapat mengetahui kemungkinan seseorang pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Saat fase kritis dan penyembuhan dapat kita lihat IgM spesifik bisa dengan menggunakan rapid Test. NS-1 Ag. Jenis metode diagnostik dalam kaitannya dengan manifestasi klinis Klinis pada saat fase demam menunjukan sedang terjadinya viremia. Antibodi spesifik Anti-dengue IgM dapat ditemukan saat hari ke 3-6. 3. beberapa komponen virus terdapat dalam darah sehingga pilihan yang tepat adalah RT-PCR. 2. kemudian akan menetap dengan kadar yang rendah sampai 3 bulan setelah demam. Karakteristik sampel klinis Virus dengue yang labil mudah dinonaktifkan pada suhu di atas 30° C.

Bila penderita hanya mengeluh panas. Pada ..Apabila penderita DBD ini menunjukkan manifestasi penyulit hipertermi dan konvulsi sebaiknya kasus ini dianjurkan di rawat inap. Selain pemantauan untuk menilai apakah pemberian cairan sudah cukup atau kurang. Cikungunya c. pembekuan pada -70 ° C dianjurkan. hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris. Influenza b. Terapi cairan pada kondisi tersebut secara bertahap dikurangi. SARS e. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular.Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif perlu selalu diwaspadai (Hadinegoro dkk. 2014). Untuk mengatasi panas tinggi yang mendadak diperkenankan memberikan obat panas paracetamol 10 – 15 mg/kg BB setiap 3-4 jam diulang jika simptom panas masih nyata diatas 38. Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. Penatalaksanaan Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis.Jika spesimen pengiriman tidak dapat dilakukan dalam 24-48 jam pertama. Malaria f. Infeksi primer HIV d.5 0C. Leptospirosis E. Hepatitis h. berguna. Sebagian besar kasus DBD yang berobat jalan ini adalah kasus DBD yang menunjukkan manifestasi panas hari pertama dan hari kedua tanpa menunjukkan penyulit lainnya. a. Demam tiroid g. tetapi keingingan makan dan minum masih baik. Diagnosis Banding Beberapa panyakit infeksi maupun non-infeksi memiliki gejala mirip demam dengue maupun severe dengue. D.Dalam pemberian terapi cairan.

Kristaloid a. 4. Jenis Cairan 1. nyeri perut dan produksi air kemih yang kurang sebaiknya dianjurkan rawat inap.Apabila hematokrit meningkat lebih dari 20% dari harga normal.. 5% Dekstrose di dalam larutan normal garam fisiologi (faali) 2. Pada saat fase panas penderita dianjurkan banyak minum air buah atau oralit yang biasa dipakai untuk mengatasi diare. 2014). dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini mempunyai resiko terjadinya syok (Hadinegoro dkk.kasus DBD derajat I & II pada hari ke 3.. Plasma .Penderita DBD yang gelisah dengan ujung ekstremitas yang teraba dingin. 5% Dekstrose di dalam larutan Ringer Laktat c. merupakan indikator adanya kebocoran plasma dan sebaiknya penderita dirawat di ruang observasi di pusat rehidrasi selama kurun waktu 12-24 jam. Penderita dengan tanda-tanda perdarahan dan hematokrit yang tinggi harus dirawat di rumah sakit untuk segera memperoleh cairan pengganti (Hadinegoro dkk.. Plasma expander dengan berat molekul rendah (Dekstran 40) b. pemberian cairan yang berlebihan akan menyebabkan kegagalan faal pernafasan (efusi pleura dan asites). menumpuknya cairan dalam jaringan paru yang berakhir dengan edema (Hadinegoro dkk. 2014). 5% Dekstrose di dalam larutan setengah normal garam fisiologi (faali) e. Ringer Laktat b. Koloidal a.Pemeriksaan hematokrit secara seri ditentukan setiap 4-6 jam dan mencatat data vital dianjurkan setiap saat untuk menentukan atau mengatur agar memperoleh jumlah cairan pengganti yang cukup dan cegah pemberian transfusi berulang. Volume dan macam cairan pengganti penderita DBD sama dengan seperti yang digunakan pada kasus diare dengan dehidrasi sedang (6-10% kekurangan cairan) tetapi tetesan harus hati-hati. 5% Dekstrose di dalam larutan Ringer Ashering d. 2014). Jumlah cairan yang dibutuhkan adalah volume minimal cairan pengganti yang cukup untuk mempertahankan sirkulasi secara efektif selama periode kebocoran (24-48 jam). Kebutuhan cairan sebaiknya diberikan kembali dalam waktu 2-3 jam pertama dan selanjutnya tetesan diatur kembali dalam waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi.

. Pada anak yang gemuk.Pemasangan cetral venous pressure dan kateter urinal penting untuk penatalaksanaan penderita DBD yang sangat berat dan sukar diatasi. Selanjutnya pemberian cairan infus dilanjutkan dengan tetesan yang diatur sesuai dengan plasma yang hilang dan sebagai petunjuk digunakan harga hematokrit dan tanda-tanda vital yang ditemukan selama kurun waktu 24-48 jam. 2014).Kebutuhan Cairan Pemilihan jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung dari umur dan berat badan pasien serta derajat kehilangan plasma sesuai dengan derajat hemokonsentrasi yang terjadi.. larutan koloidal (dekstran dengan berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal atau plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam (Hadinegoro dkk. Pada umumnya 48 jam sesudah terjadi kebocoran . B e r a t b a d a n ( k g ) J u m l a h c a i r a n ( m l ) 1 0 1 0 0 p e r k g B B 1 0 – 2 0 1000 + ( 50 x kg (di at as 10 kg) ) > 2 0 1500 + ( 20 x kg (di at as 20 kg) ) “Dengue Shock Syndrome” (sindrome renjatan dengue) termasuk kasus kegawatan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan perlu memperoleh cairan pengganti secara cepat. Terkumpulnya asam dalam darah mendorong terjadinya DIC yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan renjatan yang sukar diatasi (Hadinegoro dkk.Dalam hal ini perlu dipikirkan kemungkinan dapat terjadi DIC. 2014).Biasanya dijumpai kelaian asam basa dan elektrolit (hiponatremi). 5% Dekstrose dalam larutan Ringer Laktat atau 5% Dekstrose dalam larutan Ringer Asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20 ml/kg/1 jam atau pada kasus yang sangat berat (derajat IV) dapat diberikan bolus 10 ml/kg (1 atau 2x). Jika syok berlangsung terus dengan hematokrit yang tinggi.Cairan koloidal diindikasikan pada kasus dengan kebocoran plasma yang banyak sekali yang telah memperoleh cairan kristaloid yang cukup banyak. Penggantian secara cepat plasma yang hilang digunakan larutan garam isotonik (Ringer Laktat. kebutuhan cairan disesuaikan dengan berat badan ideal anak umur yang sama. Kebutuhan cairan rumatan dapat diperhitungkan dari tabel berikut.

Dalam keadaan syok. 2014). dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau lebih sering.atau renjatan tidak lagi membutuhkan cairan.. b. sampai syok dapat teratasi.Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis dan melena diindikasikan untuk memperoleh transfusi darah. Darah segar sangat berguna untuk mengganti volume masa sel darah merah agar menjadi normal. Pada fase reabsorbsi ini tekanan nadi kuat (20 mmHg) dan produksi urine cukup dengan tanda-tanda vital yang baik (Hadinegoro dkk. 2014). harus yakin benar bahwa penggantian volume intravaskular telah benar-benar terpenuhi dengan baik. terutama kasus yang memperoleh plasma dan darah yang cukup banyak. Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring adalah: a.. Apabila diuresis belum mencukupi 2 ml/kgBB/jam sedangkan cairan yang diberikan sudah sesuai kebutuhan. Pada kasus yang berat.Dalam hal ini hematokrit yang menurun pada saat reabsorbsi jangan diintepretasikan sebagai perdarahan dalam organ. Kadanga-kadang terjadi hipoglemia (Hadinegoro dkk. Semua penderita dengan renjatan sebaiknya diberikan oksigen. pada umumnya syok juga belum dapat dikoreksi dengan baik. Nadi. kadar ureum dan kreatinin. hiponatremia dan asidosis metabolik sering dijumpai. maka pemasangan CVP (central venous pressure) perlu dilakukan untuk pedoman pemberian cairan selanjutnya (Hadinegoro dkk. oleh karena itu kadar elektrolit dan gas dalam darah sebaiknya ditentukan secara teratur terutama pada kasus dengan renjatan yang berulang. respirasi. Tetapi apabila diuresis tetap belum mencukupi. Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sampai keadaan klinis pasien stabil .. tekanan darah. maka selanjutnya furasemid 1 mg/kgBB dapat diberikan.Jika pemberian cairan berkelebihan dapat terjadi hipervolemi. Pemantauan tetap dilakukan untuk jumlah diuresis. Menurut IDAI (2010) tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur untuk menilai hasil pengobatan. kegagalan faal jantung dan edema baru. Kadar kalium dalam serum kasus yang berat biasanya rendah. Reabsorbsi plasma yang telah keluar dari pembuluh darah membutuhkan waktu 1-2 hari sesudahnya. 2014).

maupun perdarahan segera ke fasilitas kesehatan terdekat.9%. jumlah. pasien yang datang pada demam >3 hari diharuskan setiap hari ke sarana kesehatan untuk diperiksa darah lengkap dan monitoring adanya gejala- gejala dari warning sign. tidak BAK dalam 6 jam. serta pasien yang tempat tinggalnya jauh dari fasilitas kesehatan. segera naikan cairan 5-10ml/kgbb/jam selam 1-2 jam. dan tetesan. Mulai dengan 5-7 ml/kgbb/jam untuk 1-2 jam pertama. jika tidak ada perbaikan atau terjadi peningkatan sedikit. Jika tanda vital menurun dan terjadi peningkatan hematrokrit yang cepat. dan tidak ada tanda-tanda dari warning sign. kemudian kurangi menjadi 3-5ml/kgbb/jam untuk 2-4 jam selanjutnya. ulangi pemberian cairan 2-3 ml/kgbb/jam selama 2-4 jam. Jumlah dan frekuensi diuresis. Apabila tidak ada perbaikan maupun timbul gejala tambahan seperti nyeri perut. muntah-muntah. Apabila perfusi jaringan dan urine output . Terapi yang diberikan Cek hematokrit sebelum diberikan cairan infus. dengan dosis 10 mg/kgbb/x. pasien risiko tinggi. Pasien diharuskan bed rest. d. dilarang memberikan aspirin. untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah mencukupi. kemudian kurangi lagi menjadi 2-3 ml/kgbb/jam atau maintenan cairan sesuai manifestasi klinis yang didapat. membagi pasien menjadi 3 kriteria : 1. Periksa kembali hematrokit. 2. mengenai jenis cairan. adanya anak kecil dirumah. dengan catatan mendapatkan cairan yang adekuat dan BAK minimal 1 kali per 6 jam.Dalam kriteria ini pasien dengan warning sign. hal ini dapat menyebabkan gastritis atau perdarahan. serta pasien dengan co-morbid. ibuprufen atau NSAID lainnya maupun injeksi intramuskular. sesak napas. Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan. ekstremitas dingin. hal ini dilakukan sampai fase kritis terlewati. Kriteria A Pasien dapat dipulangkan. Indikasi rawat inap pada pasien dengan manifestasi demam bila tidak mendapatkan rehidrasi oral yang adekuat. Penatalaksanaan Dengue menurut WHO 2012. c. Kriteria B Pasien yang diharuskan untuk rawat inap untuk observasi lebih lanjut. pasien yang tinggal sendiri. Berikan pasien paracetamol untuk demamnya. Ringer laktat atau cairan Hartmann’s. kompres air hangat apibila demam tidak turun. Cairan infus yang digunakan hanya yang bersifat isotonik seperti NaCl 0. pasien yang menunjukan gejala komplikasi.

Kriteria C Pasien dengan dengue berat. hematrokit sebelum dan sesudah pemberian cairan infus.Transfusi darah hanya diberikan apabila adanya perdarahan hebat.Segera ganti cairan isotonik dengan cairan kristaloid. berupa • Kebocoran plasma yang berat. pasien dalam kriteria ini harus mendapat pengobatan segera karena berada dalam fase kritis. profil liver. atau setiap 6-12 jam sekali. mulai masuk ke dalam keadaan syok dengan adanya ARDS • Perdarahan hebat • Multi organ failure Pasien harus segera dipindahkan ke fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas transfusi darah. balance cairan. profil koagulasi sesuai indikasi. Cek GDS. 3. . pada keadaan hipotensi syok boleh diberikan cairan koloid. baik (0. Monitor vital sign. profil ginjal.5ml/kg/jam) berikan cairan maintenance untuk 24-48 jam.

berak hitam Uji Tourniquet (+) Uji tourniquet (-) (Rumplee Leede) (Rumplee Leede) Jumlah trombosit Jumlah trombosit . < 7 hari tidak disertai ISPA. badan lemah/lesu Ada kedaruratan Tidak ada kedaruratan Tanda syok muntah terus menerus. Kontrol tiap hari sampai demam hilang Nilai tanda klinis & jumlah trombosit.Ht. mendadak. kencing berkurang Lab :Hb/Ht naik dan trombosit turun . berak darah. Rawat jalan < 100. kesadaran menurun Periksa uji tourniquet Kejang. PENATALAKSANAAN KASUS TERSANGKA DEMAM BERDARAH DENGUE DBD (Bagan 1) Tersangka DBD  Demam tinggi. sakit perut. lemah. berat hitam. Perhatikan untuk orang tua pesan bila timbul tanda syok : gelisah. Trombosit. Parasetamol bila perlu Kontrol tiap hari sp demam turun. Bila demam menetap periksa Hb.000/ul > 100. muntah darah. kaki tangan dingin.000/ul . terus-menerus. Parasetamol . Ht bila masih demam Rawat Inap hari sakit ke 3 Rawat Jalan Minum banyak.

air putih teh manis. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik 2. oralit Bila suhu > 38. mkn tiap 5 menit. jus buah.9%: Dekstrosa 5% (1:3) tetesan rumatan sesuai berat badan parasetamol Periksa Hb.000/ml 7. Tidak dijumpai distress pernafasan . sirup. Tiga hari setelah syok teratasi 6. Nafsu makan membaik 3. susu. Jenis minuman. trombosit tiap 6-12 jam Bila kejang beri obat antikonvulasif Ht naik dan atau trombositopeni Perbaikan klinis dan laboratoris Infus ganti ringer asetat (tetesan disesuaikan. Jumlah trombosit lebih dari 50.5 derajad celcius beri Pasang infus NaCl 0. Ht. Hematokrit stabil 5. lihat Bagan 3) Pulang Kriteria memulangkan pasien : 1. PENATALAKSANAAN KASUS DBD DERAJAT I (Bagan 2) DBD Derajad I  Gejala klinis : demam 2-7 hari  Uji tourniquet positif  Lab. Secara klinis tampak perbaikan 4. hematokrit tidak meningkat trombositopeni (ringan) Pasien Masih dapat minum Pasien tidak dapat minum Beri minum banyak 1-2 liter/hari atau 1 Pasien muntah terus menerus sd.

9 + D 5% 6 – 7 ml/kgBB/jam Monitor Tanda Vital/Nilai Ht & trombosit tiap 6 jam Perbaikan Tidak Ada Perbaikan Tidak gelisah Gelisah Nadi kuat Distres pernafasan Tek Darah stabil Fre. PENATALAKSANAAN KASUS DBD DERAJAT II (Bagan 3) DBD Derajat II DB Derajad I + perdarahan spontan Hemokonsentrasi & Trombositopeni Cairan awal RA/NaCl 0.nadi naik Diuresis cukup Ht tetap tinggi/naik (1 ml/kgBB/jam) Tek.9% atau RAD5%/NaCl 0. Nadi < 20 mmHg Ht Turun Tanda Vital memburuk Diuresis kurang/tidak (2x pemeriksaan) ada Tetesan dikurangi Ht meningkat Tetesan dinaikkan 10-15 ml/kgBB/jam (bertahap) 5 ml/kgBB/jam Perbaikan Evaluasi 12-24 jam Perbaikan Sesuaikan tetesan Tanda vital tidak stabil 3 ml/kgBB/jam Distress pernafasan Ht turun Ht Naik IVFD stop setelah 24-48 jam apabila tanda vital/Ht stabil dan diuresis cukup Koloid Transfusi darah segar Keterangan : 1 CC = 15 Tetes 20-30 ml/kgBB 10 ml/kgBB Perbaikan .

9 % 10-20 ml/kgBB secepatnya (bolus dalam 30 menit) Evaluasi 30 menit. apakah syok teratasi ? Pantau tanda vital tiap 10 menit Catat balans cairan selama pemberian cairan intravena Syok teratasi Syok tidak teratasi Kesadaran membaik Kesadaran menurun Nadi teraba kuat Nadi lembut / tidak teraba Tekanan nadi > 20 mmHg Tekanan nadi < 20 mmHg Tidak sesak nafas / Sianosis Distres pernafasan / sianosis Ekstrimitas hangat Kulit dingin dan lembab Diuresis cukup 1 ml/kgBB/jam Ekstrimitas dingin Periksa kadar gula darah Cairan & tetesan disesuaikan 10 ml/kgBB/jam Lanjutkan cairan 15-20 ml/kgBB/jam Tambahan koloid/plasma Evaluasi ketat Dekstran 40/FFP 10-20 (max 30) ml/kgBB Tanda vital Koreksi Asidosis Tanda perdarahan evaluasi 1 jam Diuresis Hb. PENATALAKSANAAN KASUS DSS ATAU DBD DERAJAT III DAN IV (Bagan 4) DBD Derajat III & IV DBD Derajat II + Kegagalan sirkulasi Oksigenasi (berikan O2 2-4lpm/menit) Penggantian volume plasma segera (cairan kristaloid isotonis) RingerAsetat/ NaCl 0. Trombosit Syok teratasi Syok belum teratasi Stabil dalam 24 jam Ht turun Ht tetap tinggi/naik Tetesan 5 ml/kgBB/jam Transfusi darah segar 10 Koloid ml/kgBB 20 ml/kgBB Dapat diulang sesuai kebutuhan Tetesan 3 ml/kgBB/jam Gambar 6.Algoritma Penatalaksanaan Syok pada infeksi Dengue. Infus Stop tidak melebihi 48 jam . Ht.

. Melanjutkan terapi cairan intravena melewati 48 jam dari fase kritis akan menyebabkan pasien berisiko edema paru dan komplikasi lain seperti tromboflebitis. 2012 Tujuan dari resusitasi cairan meliputi: • Meningkatkan sirkulasi pusat dan perifer. Kapan harus menghentikan infus Observasi tanda-tanda berhentinya kebocoran plasma yang dilihat dari : • TD. nadi dan perfusi perifer stabil • hematokrit menurun dengan denyut nadi yang baik • apyrexia (tanpa menggunakan antipiretik) selama lebih dari 24-48 jam. ekstremitas hangat dan merah muda.5 ml / kg / jam atau penurunan asidosis metabolik. Handbook for clinical management of dengue. meningkatkan TD dan denyut nadi. Geneva: WHO. • gejala usus / gejala yang berhubungan dengan abdomen teratasi • peningkatan produksi urine. Dikutip dari :WHO-TDR. yaitu penurunan takikardi. waktu pengisian kapiler <2 detik • Meningkatkan perfusi end-organ yaitu mencapai tingkat kesadaran stabil dan output urine ≥ 0.

jenis kelamin. cepat tidaknya penanganan diberikan. Ko-infeksi dan infeksi nasokomial 7. Efusi pleura dan asites 4. Nafsu makan membaik 3. Keterlambatan dalam mengenal adanya perdarahan hebat 6. Sindrom hemofagositik H.DBD derajat III dan IV bila dapat dideteksi secara cepat maka . Ketidakpedulian dalam tehnik aseptic dalam menangani pasien Komplikasi dari infeksi dengue berupa : 1. Hematokrit stabil 5. Ketidaktepatan monitoring dan misinterpretasi tanda-tanda vital 3. Komplikasi Penyebab komplikasi pada infeksi dengue adalah : 1.Prognosis DBD derajat I dan II umumnya baik. Tampak perbaikan secara klinis 4. Tidak dijumpai distress pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau asidosis) G. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik 2. Jumlah trombosit > 50. Kriteria Memulangkan Pasien Menurut IDAI (2010) pasien dapat dipulangkan.F. ARDS 6. Imbalance elektrolit 3. Prognosis Prognosis DBD ditentukan oleh derajat penyakitnya. Asidosis metabolik 2. Kesalahan diagnosis pada primary Care sebagai pengobatan lini pertama 2. Edema pulmonal 5. umur. Tiga hari setelah syok teratasi 6. Terlalu sedikit atau terlalu banyak terapi cairan infus 7.000/μl 7. Kesalahan dalam monitoring terapi carang dan urine yang keluar 4. apabila: 1. dan keadaan nutrisi penderita. Keterlambatan dalam pengenalan tanda-tanda syok sehingga jatuh dalam keadaan syok atau memperpanjang syok yang sudah terjadi 5.

.Tanda.Angka kematian pada syok yang tidak terkontrol sekitar 40- 50%.tanda prognosis yang baik pada DSS adalah pengeluaran urine yang cukup serta kembalinya nafsu makan.pasien dapat ditolong.

Berdasarkan hasil anamnesis. BAB IV PENUTUP A. Saran 1. Pada pasien tersebut telah dilakukan penanganan yang tepat sesuai dengan Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana kasus Infeksi Dengue pada Anak (IDAI) tahun 2009. melakukan 3M plus. dan segera membawa ke layanan kesehatan keluarga yang memiliki keluhan demam agar segera mendapatkan penatalaksanaan yang tepat. 2. gizi baik. . B. pemeriksaan fisik. Perlu edukasi pada keluarga pasien untuk menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri untuk mencegah terjadinya sakit yang berulang. sebaiknya dilakukan follow up kembali untuk mengevaluasi hasil pengobatan. pasien tersebut didiagnosis dengan Demam Dengue . Kesimpulan 1. Setelah pasien diperbolehkan pulang. 2. normoweight. dan pemeriksaan penunjang. normoheight.

Advance data. S. 2011.Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana kasus Infeksi Dengue pada Anak tahun 2014. E. Gubler.2010. WHO 1-45 World Health Organization-South East Asia Regional Office. J. A.Dengue Fever and Dengue Hemorrhagic Fever. Vasudevan.Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.2000. 2000. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever Revised and expanded edition. D. CDC growth charts: United States. dkk.. DAFTAR PUSTAKA Centers for Disease Control. Ikatan Dokter Anak Indonesia.Dalam : Nelson Textbook of Pediatrics. R. I dan Chairulfatah. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and DengueHemorrhagic Fever. Dian Rakyat: Jakarta. Ooi. IDAI: Jakarta World Health Organization. dan Farrar.19th ed. Hadinegoro. Groen. Gandasubrata.CABI. 1134-6. 1-69 Halstead. 2011b.Evaluation of Six Immunoassays for Detection of Dengue Virus-Specific Immunoglobulin M and G Antibodies. 314. E. SR. 2014. Clinical and Diagnostic Laboratory Immunology... SB. 2014. 2011a.Nov.p. et al Philadelphia: Elsevier.867-871. J. PT. 1999. WHO: India . Penuntun laboratorium klinik. Moedjito.Dengue and dengue hemorrhagic fever. Kliegman.Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.