You are on page 1of 15

STRABISMUS

A. Definisi
Strabismus atau mata juling adalah suatu kondisi dimana kedua mata tampak
tidak searah atau memandang pada dua titik yang berbeda. Dalam keadaan
normal, kedua mata kita bekerja sama dalam meman- dang suatu obyek. Otak akan
memadukan kedua gambar yang dilihat oleh kedua mata tersebut menjadi satu
gambaran tiga dimensi yang memberikan persepsi jarak, ukuran dan kedalaman
(depth percep- tion). Ada beberapa jenis strabismus yang bisa kita amati langsung
dengan meminta pasien memandang lurus ke depan. Ketika satu mata meman-
dang lurus ke depan maka mata sebelahnya dapat saja memandang ke dalam
(esotropia), ke luar (exotropia), ke bawah (hipotropia) atauke atas (hipertropia).
Ini terjadi sekitar 2% pada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan.

B. Etiologi
Strabismus dapat disebabkan oleh ketidak-seimbangan tarik otot yang
mengendalikan pergerakan mata, kelumpuhan otot, gangguan persyarafan atau
kelainan refraksi yang tidak dikoreksi. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga
yang mempunyai riwayat strabismus dalam keluarganya beresiko tinggi menderita
strabismus juga.eorang dokter spesialis mata anak/pediatrik dapat menentukan
sifat strabismus tersebut dan dapat merekomendasikan penanganan yang terbaik.
C. Manifestasi klinis
Sebuah tanda nyata adanya strabismus adalah sebelah mata tidak lurus atau
tidak terlihat memandang ke arah yang sama seperti mata sebelahnya. Kadang-
kadang anak-anak akan memicingkan/menutup sebelah matanya saat terkena
sinar matahari yang terang atau memir- ingkan kepala mereka agar dapat
menggunakan kedua matanya sekaligus.
Anak-anak yang menderita strabismus sejak lahir atau segera sesudah- nya,
tidak banyak mengeluhkan adanya pandangan ganda. Tetapi anak- anak yang
mengeluhkan adanya pandangan ganda harus diperiksa dokter spesialis mata

Hal ini dapat disebabkan oleh bentuk hidung yang lebar dan rata dengan lipatan kulit kelopak mata yang lebar sehingga membuat mata seakan terlihat tidak searah.  Untuk anak dibawah 3 th dapat digunakan cara 1.5 tahun.3. sedangkan diatas umur 5 – 6 tahun dapat digunakan Snellen chart. Penderita melihat lurus ke depan 2. Letakkan sebuah senter pada jarak 1/3 m = 33 cm di depan setinggi kedua mata pederita 3.  Prisma + cover test :Mengubah arah optic garis pandang . Semua anak seharusnya diperiksa oleh dokter spesialis mata anak sejak dini terutama bila dalam keluarganya ada yang menderita strabismus atau ambliopia. Cara : 1.1 %  Retinoskopi : Sampai usia 5 tahun anomali refraksi dapat ditentukan secara objectif dengan retinoskopi setelah atropinisasi dengan atropin 0. Perhatika reflek cahaya dari permukaan kornea penderita. Gejala strabismus semu ini akan hilang pada aat anak semakin besar.1 %. Bayi dan anak kecil seringkali terlihat juling.5 % . diatas usia 5 tahun ditentukan secara subbjektif seperti pada orang dewasa. Dengan oklusi / menutup cat mata  Menentukan anomaly refraksi : Dilakukan retroskopi setelah antropinisasidengan atropin 0. anak dengan seksama. Objektif dengan optal moschope 2. Dengan observasi perhatian anak dengan sekelilingnya 3.5 % .  Cover Test : menentukan adanya heterotropia  Cover Uncovertest : menentukan adanya heterophoria  Hirsberg Test : Pemeriksaan reflek cahaya dari senter pada permukaan kornea. Seorang dokter spesialis mata anak dapat menjelaskan perbedaan strabismus semu dan strabismus yang sebenarnya. Pemeriksaan penunjang  E-chart / Snellen Chart : Pemeriksaan dengan e-chart digunakan pada anak mulai umur 3 . D.

mendasikan untuk melatih mata yang lemah dengan cara menutup mata yang normal dengan plester mata khusus (eye patch).kedua objek akan terlihat seperti terletak lurus didepan .  Pemeriksaan gerakan mata 1. E.tetapi jika ada ketidak samaan menyebabkan fusi tidak memberikan kesan tunggal. Pemeriksaan pergerakan monokuler Satu mata ditutup dan mata yang lainnya mengikuti cahaya yang digerakkan kesegala arah pandangan. Penggunaan plester mata harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti petunjuk dokter.  Penutup Mata : Jika anak menderita strabismus dengan ambliopia. 2. Pemeriksaan pergerakan binokuler Pada tiap-tiap mata .bayangan yang ditangkap oleh fovea secara subjektif terlihat seperti terletak lurus didepan . dokter akan mereko.sehingga adanya kelemahan rotasi dapat diketahui . menggunakan kaca mata untuk menormalkan penglihatan dapat memperbaiki posisi mata. Sesudah berusia 8 tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan yang terbaik berkembang sebelum usia 8 tahun. Semua penanganan ini dapat ditentukan oleh dokter spesialis mata sesudah memeriksa mata anak tersebut. Penatalaksanan Penanganan strabismus dimaksudkan untuk melindungi fungsi pengli.hatan dan meluruskan mata.apabila ada 2 objek yang berlainan ditangkap oleh 2 fovea .  Uji Krimsky Mengukur sudut deviasi pada juling dengan meletakkan ditengah cahaya refleks kornea dengan prisma.  Kaca Mata : Jika strabismus disebabkan oleh kelainan refraksi.kelemahan seperti ini biasanya karena para usis otot atau karena kelainan mekanik anatomic. Anak akan memerlukan kunjungan ke dokter spesialis mata secara berkala untuk .apabila ada 2 objek akan terlihat saling tindih.

Denga jumlah akomodasi ini mata dengan hipermetropi yang lebih berat tidak pernah melihat dengan jelas. Anisometropia Apabila seseorang berbeda derajat hipermetropinya sebanyak dua dioptri atau lebih. Kadangkala untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna diperlukan lebih dari satu kali tindakan operasi. Penutup mata tidak meluruskan mata secara kosmetik. F. Bila keadaan ini terjadi secara dini dalam masa perkembangan penglihatan dan di biarkan sampai anak berumu lebih dari lima tahun maka kemajuan melihat dari mata dengan hipermetropia yang lebih tidaklah sebaik di banding mata lainnya. Perbedaan kekuatan miopia antara mata satu dan lainnya pada umumnya tidak mengakibatkan timbulnya ambliopia yang mencolok. mengetahui apakah penglihatan binokuler-nya sudah terbentuk seutuh- nya. baik untuk penglihatan dekat maupun jauh. Pathofisiologi Gangguan tersebut dapat dibedakan dalam gangguan yang bersifat organik dan bersifat fungsional. disebabkan oleh kerena mata dengan miopia yang lebih berat sifatnya masih dapat melihat . maka secara sadar atau tidak ia akan memakai mata dengan derajat hipermetropia yang lebih ringan untuk penglihatan jauh maupun dekat. Anak akan memerlukan kunjungan ke dokter spesialis mata sesudah operasi untuk mengetahui perkembangan dan melanjutkan perawatan. Kadang-kadang sebelum tindakan operasi. karena jumlah enersi untuk akomodasi yang diperlukan untuk melihat jelas adalah lebih ringan. sedangkan gangguan fungsional penglihatan adalah gangguan dalam penglihatan yang tidak disebabkan karena kelainaan organik. anak diberi kaca mata atau penutup mata untuk mendapatkan penglihatan yang terbaik.Gangguan organik adalah timbulnya kelainan susunan jaringan yang mengakibatkan gangguan penglihatan.  Operasi : Operasi otot yang mengontrol pergerakan mata sering dilakukan agar mata kelihatan lurus. Kelemahan penglihatan yang tidak di dasarkan pada adanya kelainan organik disebut ambilopia.Gangguan fungsional yang timbul dalam masa perkembangan disebut sebagai Developmental Arrest dapat timbul karena hal-hal di bawah ini : 1.

seperti contohnya seorang dengan afaki monokular yang dikoreksi dengan kaca mata. kemudian menutup satu mata berganti. Disparitas penglihatan yang terlalu besar. Supresi dapat dilakukan secara sadar pada ke dua mata berganti –ganti menjadi dan disebut Alternating Suppression. tapi dapat pula terjadi secara terus menerus pada mata yang sama dan memilih menggunakan mata lainnya untuk penglihatan. maka pada umumnya mata ini mengalami kemunduran-kemunduran fungsional dan menjadi ambliopia bahkan kadang-kadang mengalami deviasi sumbu penglihatan dan menjadi juling. Perbedaan penglihatan antara mata kanan dan kiri tersebut dikenal dengan nama penglihataan diantara dua mata kita. Aniseikonia Apabila kita melihat ke suatu benda yang berjarak antara satu dan dua meter dihadapan kita. Seseorang yang menderita diplopi sudah barang tentu akan menjadi binggung seperti seorang yang baru belajar menggunakan mikroskop monokular. Lama kelamaan orang tersebut akan belajar mengelimi nasi bayangan salah satu matanya dan disebut sebagai image supression dan dalam buku ini akan disebut sebagai supresi. berbeda-beda secara jelas untuk dekat tanpa akomodasi. lagi pula kelainan miopia umumnya bersifat progresif dan umumnya belum terdapat secara menyolok pada usia sangat muda. maka kita akan mengetahui bahwa terdapat perbedaan bentuk. 2. secara sadar ataupun tidak akan menutup salah satu matanya agar penglihatan menjadi tunggal kembali. Mata malas dalam keadaan sehari-hari tidak dipakai melihat. Dalam hal ini maka mata yang dipakai untuk penglihataan sehari-hari disebut sebagai mata yang dominan sedang mata yang mengalami supresi sebagai mata malas (lazy eye). Disparitas yang ringan memang diperlukan untuk kemampuan penglihatan stereoskopik. . Disparitas penglihatan yang menimbulkan gangguan berupa penglihatan ganda atau diplopia disebut aniseikonia. tempat maupun besarnya benda yang kita perhatikan. mengakibatkan kesulitan bagi sistem saraf pusat untuk menyatukan (memfusikan) menjadi satu bayangan tunggal dan benda-benda yang dilihat akan tampak ganda.

Bila hal ini terjadi pada otot yang dipakai untuk konvergensi. 3.maka terjadilah gangguan keseimbangan gerak antara kedua mata. Gangguan Faal Otot Penggerak Bola Mata Kedua bola mata digerakkan oleh otot-otot mata luar sedemikian rupa sehingga bayangan benda yang menjadi perhatian akan selalu jatuh tepat di kedua fovea sentralis. Keseimbangan yang ideal seluruh otot penggerak bola mata ini menyebabkan kita dapat selalu melihat secara binocular Apabila terdapat satu atau lebih otot penggerak bola mata yang tidak dapat mengimbangi gerak otot-otot lainnya. Gangguan keseimbangan gerak bola mata (muscle imbalance) bisa disebabkan oleh hal-hal berikut :  Pertama apabila aktivitas dan tonus satu atau lebih otot penggerak menjadi berlebihan. Keadaan juling seperti itu disebut sebagai gangguan keseimbangan gerak yang inkomitat. dalam hal ini otot bersangkutan akan menarik bola mata dari kedudukan normal. besarnya sudut deviasi adalah berubah-ubah tergantung pada arah penglihatan penderitaan.Dalam hal ini penglihatan ganda terjadi karena arah penglihatan mata yang satu berbeda dari mata yang lainnya. Sebagai contoh adalah suatu kelumpuhan otot rektus lateral mata . adalah kebalikan dari pertama. Otot penggerak kedua bola mata. Penglihatan ganda atau diplopia dapat pula disebabkan karena kelainan orbita atau menderita kelumpuhan otot pergerakan mata. maka terjadilah juling divergen (ekstropia).  Kedua. Dapatlah dimengerti bahwa ada dua keadaan tersebut di atas. gerakan otot yang satu akan mendapatkan keseimbangan gerak dari otot-otot lainnya. apabila satu atau lebih dari otot penggerak bola mata aktivitas atau tonusnya menjadi melemah atau paretik. yang berjumlah dua belas akan selalu bergerak secara teratur. sehingga sumbu penglihatan menyilang pada tempat diluar letak benda yang menjadi perhatiannya dan disebut ‘juling’ (crossed Eyes). Apabila otot yang hiperaktiv adalah otot yang berfungsi untuk kovergensi terjadilah juling yang konvergen (esotropia).

Sehingga pemeriksaan pergerakan bola mata haruslah dilakukan pada semua penderita baik dengan diplopia atau tanpa keluhan diplopia. tetapi juling keluar (divergent squint) bila melihat jauh.  Divergence excess (aksi lebih konvergensi) bila kontraksi otot penggerak bola mata penderita normal pada penglihatan dekat. demikian kita kenali :  Convergence excess bila kedudukan bola mata penderita normal melihat jauh dan juling ke dalam esotopia pada waktu melihat dekat.Gangguan keseimbangan gerak bola mata dapat pula terjadi karena suatu kelainan yang bersifat sentral berupa kelainan stimulus pada otot. esoforia atau hiperforia). kanan. maka besar sudut deviasi adalah kecil bila penderita melihat kearah kiri dan membesar bila arah pandang ke kanan. Sebaliknya tidak terdapatnya diplopia bukan berarti tidak adanya gangguan pergerakan bola mata. Stimulus sentral untuk konvergensi bisa berlebihan sehingga akan didapatkan seorang penderita kedudukan bola matanya normal pada penglihatan jauh (divergensi) tetapi menjadi juling konvergen pada waktu melihat dekat (konvergensi).  Divergence insuffiency bila penderita mempunyai kedudukan bola mata yang normal untuk dekat tetapi juling ke dalam bila melihat jauh.  Convergence insuffiency bila kedudukan bola mata normal pada pennglihatan jauh tapi juling keluar pada waktu melihat dekat.  Kedudukan bola mata : Kedudukan bola mata yang normal adalah sejajar (ortoforia) dan dapat diperiksa dengan berbagai cara seperti cover test. uji Hirschberg dan lain-lain. Diplopia ini bisa pada semua posisi bola mata akan tetapi dapat juga hanya pada posisi tertentu sehingga penderita selalu berusaha melihat sedemikian rupa dimana tidak terdapat diplopia. 4. Pada keadaan dimana kedudukan bola mata tidak sejajar (heteroforia seperti pada eksoforia. maka . Gerak Bola Mata Gangguan yang mendadak pada salah satu otot luar bola mata biasanya akan menimbulkan keluhan diplopia.

Foria dan Tropia Kelainan kedudukan bola mata dibagi dalam kedudukan yang bersifat laten dan yang manifes. haruslah diselidiki apakah ini disebabkan suatu parese. Pada keadaan strabismus (heteroforia) maka pemeriksaan dilakukan pada masing-masing mata.Tergantung arah deviasinya kelainan kedudukan bola mata disebut esoforia/tropia apabila deviasi axis penglihatan berdeviasi ke arah superior maka disebut sebagai “hipertrofia/tropia” dan bila ke arahinverior maka disebut sebagai “hipovoria/tropia”.  Pergerakan satu mata (Duksi) : Pada pemeriksaan ini satu mata penderita ditutup dan mata lainnya diminta untuk mengikuti gerakan obyek yag dipegang pemeriksaan seperti pada pemeriksaan versi. Bila salah satu mata terletak lebih tinggi dari lainnya disebut sebagai hipertropia dan dinyatakan mata mana yang terletak lebih tinggi. sedang keadaan normal disebut sebagai ‘ortoforia’. dorongan atau hambatan mekanik atau strabismus non paretik.  Pergerakan dua mata (versi) :Pergerakan dua mata diperiksa dengan cara meminta penderita mengikuti gerakan suatu obyek yang dipegang oleh pemeriksa yang digerakkan ke arah yanng diinginkan biasanya pemeriksaan dilakukan pada 6 arah utama. 5. Kelainan kedudukan laten disebut sebagai ‘Foria’ sedang manifes disebut sebagai “Tropia”. .

G. WOC Bayangan yang datang Kelainan anatomi otot Kelainan saraf otot tidak sejajar bola mta mata bawaan pergerakan bola mata Bayangan tidak Panjang otot bola mata Tonus otot mata tidak jatuh pada Fovea tidak sama seimbang Fovea tidak dapat Arah bola mata tidak Kontraksi otot mata mengkoreksi sama tidak sama bayangan yang datang Kelainan arah bola mata Terjadi aniseikonia Susunan reseptor terganggu Strabismus / Juling Bayangan yang datang Kelainan pada mata tidak jelas/ganda Hubungan social Sinyal ke otak Orientasi lingkungan menurun terganggu menurun Koping inefektif Gangguan sensori Resiko cedera penglihatan Gangguan konsep diri .

 Riwayat Pengobatan Sebelumnya : Klien tidak pernah memeriksakan matanya dan tidak pernah memakai kacamata. Klien juga sering merasa nyeri pada mata ketika memaksakan waktu melihat jarak dekat. Konsep asuhan keperawatan 1. . Keluarga mengatakan bahwa mata klien seperti juling kedalam. 3. PEMERIKSAAN FISIK .H.  Riwayat Psikososial :Hubungan pasien dengan keluarga. perawat dan orang lain baik. kesadaran composmentis  Koordinasi gerak bagus  Klien tampak gelisah. gampang marah . DATA DASAR  Keluhan Utama : Klien mengeluh matanya sering merasa lelah dan penglihatannya berkurang. DATA UMUM : identitas 2. Keadaan Umum  Baik. Klien mengatakan malu atas penyakit yang dideritanya.  Riwayat Penyakit Sekarang : Klien mengatakan akhir-akhir ini dirinya susah memfokuskan penglihatannya dan klien merasa susah jika melihat sesuatu pada jarak dekat. Pasien kooperatif terhadap tindakan keperawatan dan tindakan pengobatan.  Riwayat Penyakit Dahulu : Klien mengatakan bahwa dirinya sejak kecil susah melihat dengan jarak dekat. Riwayat psikososial  Klien terlihat menarik diri. apatis  Emosi labil. klien memegangi matanya.  Riwayat Penyakit Keluarga : Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama. sulit mengidentifikasi benda di sekitarnya  Klien tampak menyeringai dan mengatakan sakit.

tidak ada hipersekresi. B. lembab. Thoraks  RR 20 x/mnt. Pemeriksaan head to toe A. Abdoment  Tidak ada tonjolan dan lesi pada perut  Kulit bersih. lembab  Perkusi suara timpani  Bising usus 8 x/mnt D. reguler  TD 120/80 mm Hg C. tidak pucat  Tidak ada lesi dan tonjolan pada kulit  Mata tidak simetris. Ekstremitas  Tonus otot dalam batas normal 4 4 4 4  Tidak ada tonjolan atau lesi di kulit . Kepala dan leher  Bentuk kepala simetris  Keadaan kulit bersih. dan kepatenannya baik.  Bertanya tentang penyakitnya .  Hidung simetris. reguler  Bentuk dada simetris  Nyeri dada tidak ada  Bunyi perkusi paru resonan  Suara nafas vesikuler  Ekspansi dada maksimal  Nadi 88 x/mnt. OS menyimpang ke dalam  Tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar getah bening  Klien tampak mengedip-ngedipkan matanya setiap berusaha memfokuskan pandangan.

OS bergulir ke temporal untuk fiksasi. blast Lain-lain Lapang pandang kabur relatif Kabur seluruh lapang pandang F. blast Tidak ada tear. hole. Diagnosa keperawatan Diagnosa Tujuan & KH Intervensi Gangguan sensori Tujuan : -Bina hubungan saling penglihatan b/d lapang -Jangka panjang : setelah percaya dengan cara pandang yang menurun.  Akral hangat  CRT < 2 detik E. dilakukan perawatan selama mengobrol dengan klien 2x24 jam diharapkan tidak -Tentukan ketajaman terjadi cedera yang dapat penglihatan. Pemeriksaan Penunjang a. Cover Uncover Test : pada saat okluder dilepas. Pengindraan : Pemeriksaan OD OS Visus 6/40 1/300 Gerakan bola mata Simetris Simetris Segmen anterior : Palpebra Bleparospasme tidak ada Bleparospasme tidak ada Konjunctiva Hiperemi tidak ada Hiperemi tidak ada Kornea Kuning kecoklatan Kuning kecoklatan Pupil Iris shadow + Iris shadow – Lensa Agak keruh Keruh Segmen posterior : Retina Tidak ada tear. Besar penyimpangan ± 15º d. Cover test : OS bergulir ke temporal untuk memfiksasi pada saat tertutup b. hole. Hisberg test : satu refleks cahaya jatuh tepat di pinggir pupil. c. catat apakah menyebabkan infeksi maupun satu atau kedua mata terlibat komplikasi penyakit. dengan menggunakan snellen .

-Tidak terjadi infeksi ataupun komplikasi. -Bantu klien untuk mengekspresikan pikiran KH : -Bantu klien dalam mengurangi ansietas yang .Klien tampak tenang dan tidak . skopalamin). -Jangka pendek : pandangan chart klien tidak begitu kabur -Berikan patch mata pada klien. mata mendapatkan tindakan keperawatan dalam waktu 2x24 -Tidak membiarkan klien jam diharapkan klien mampu mengisolasi diri mengembalikan konsep diri yang stabil. -Tidak terjadi kehilangan -Ingatkan klien ketajaman penglihatan lebih menggunakan kacamata lanjut katarak dan tetes mata -Mengenal gangguan sensori -Kolaborasi dalam dan berkompensasi terhadap pemberian obat medriasis perubahan. (atropine. -Bantu klien untuk mengekspresikan pikiran -Jangka pendek : klien kembali memiliki kepercayaan diri. KH : -Motivasi klien untuk latihan -Klien berpartisipasi dalam melihat dengan pengobatan menggunakan patch mata. Gangguan harga diri b/d Tujuan : -Memberikan perhatian yang perubahan fungsi dan struktur -Jangka panjang : Setelah lebih pada klien.

diri dari cedera -Kolaborasi dalam -Menyatakan pemahaman pemberian obat. gelisah ada. Resiko cedera b/d lapang Tujuan : -Beri posisi yang nyaman pandang yang menurun bagi klien dan tidak -Jangka panjang : setelah berbahaya. faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera. yang berbahaya dan area yang silau -Jangka pendek : klien tidak mengalami disorientasi -Observasi tanda dan gejala disorientasi seperti kebingungan mengenali KH : benda dan situasi. -Dapat mengenali sumber- sumber bahaya -Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi dengan -Pola hidup yang melindungi memakai kacamata katarak. dilakukan perawatan selama 2x24 jam diharapkan tidak -Batasi aktivitas pada area terjadi cedera (kecacatan). . -Klien tidak menarik diri -Klien kembali bergaul dengan lingkungan sekitar - .