You are on page 1of 20

Referat

PSIKOGERIATRI

Andita Putri I1A009038
Herdiko Shalatin I1A009046
Rosy Fatimah I1A009048
M. Dendy Mulia Rahman I1A009087
Diah Ayu P I1A006061

Pembimbing:
dr. Tuti Hidayati

Bagian/UPF Ilmu Kesehatan Jiwa, RSUD Sambang Lihum-Fakultas
Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin
September 2013

Kata Pengantar

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan Referat mengenai Psikogeriatri tepat pada

waktunya.

Referat ini disusun untuk memenuhi tugas ujian pada bagian/UPF Ilmu Kesehatan

Jiwa, RSUD Sambang Lihum-Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Banjarmasin. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

pembimbing dr. yang telah membimbing, memberikan saran dan mengarahkan

pembuatan referat ini agar menjadi semakin baik.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi

penulis berharap tinjauan pustaka ini bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan.

Banjarbaru, September 2013

Penulis

ii

................................. 16 DAFTAR PUSTAKA iii ....................................................................................... PENDAHULUAN...................................... 1 BAB II........................ i KATA PENGANTAR …................................................ KESIMPULAN................................................................................................ ii DAFTAR ISI ………….. iii BAB I. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN DEPAN .. TINJAUAN PUSTAKA 2 BAB III..........................................

Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut perlu mulai dipertimbangkan adanya pelayanan psikogeriatri di rumah sakit yang cukup besar. kronis dan day hospital. patogenesis dan patofisiologi gangguan mental antara patogenesis dewasa muda dan lanjut usia. 1 . analog dengan psikiatri anak. Bangsal akut. diagnosis.3. pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan peningkatan kerentanan terhadap gangguan kognitif (1. Saat ini disiplin ini sudah berkembang menjadi suatu cabang psikiatri. karena kemungkinan perbedaan dalam manifestasi klinis. terapi gangguan fisik dan psikologik atau psikiatrik pada lanjut usia. merupakan tiga layanan yang mungkin harus sudah sudah mulai difikirkan (5). Diagnosis dan terapi gangguan mental pada lanjut usia memerlukan pengetahuan khusus. antara lain sering adanya penyakit dan kecacatan medis kronis penyerta.4). BAB I PENDAHULUAN Psikogeriatri atau psikiatri geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang memperhatikan pencegahan. Faktor penyulit pada pasien lanjut usia juga perlu dipertimbangkan.2.

yang sedang atau pernah digunakan penderita juga penting untuk diketahui. Riwayat psikiatrik lengkap termasuk identifikasi awal (nama. Penderita yang berusia diatas 65 tahun (atau di atas 60 tahun di Asia) sering memiliki keluhan subyektif adanya gangguan daya ingat yang ringan. masalah penglihatan dan kehilangan pendengaran. usia. riwayat pribadi dan riwayat keluarga. Gangguan daya ingat yang berhubungan dengan usia tersebut perlu dibedakan dengan adanya kecemasan pada saat dilakukan pemeriksaan atau wawancara. riwayat penyakit dahulu (termasuk gangguan fisik yang pernah diderita ). BAB II PEMBAHASAN A. Riwayat psikiatrik Bisa didapatkan dari alo. jenis kelamin. nyeri kepala. terutama gangguan kejang. Jika mungkin informasi tentang kematian orang tua.6. Pemakainan obat (termasuk obat yang dibeli bebas). 2 . Riwayat medis penderita harus meliputi semua penyakit berat. keluhan utama. status perkawinan). riwayat gangguan jiwa dalam keluarga. riwayat penyakit sekarang. seperti tidak dapat mengingat kembali nama orang atau keliru meletakkan benda-benda.4. kehilangan kesadaran.8).7.atau oto. Riwayat penggunaan alkohol dan pemakaian zat yang lama perlu diketahui karena bisa menyebabkan kelainan saat ini (3. Riwayat keluarga harus termasuk penjelasan tentang sikap orang tua penderita dan adaptasi terhadap ketuaan mereka.anamnesis.

Siapa yang harus merawat penderita. Karena tingginya prevalensi gangguan kognitif pada usia lanjut. Pemeriksaan Psikiatrik pada usia lanjut Penggalian riwayat psikiatrik dan pemeriksaan status mental pada penderita usia lanjut harus mengikuti format yang sama dengan yang berlaku pada dewasa muda. hubungan gelap diluar perkawinan dan gejala disfungsi seksual (6). Namun. mastrubasi. B. termasuk penjelasan tentang pasangan hidup dan karakteristik hubungan. Situasi sosial penderita sekarang harus dinilai. Jika penderita mengalami gangguan kognitif. Riwayat seksual penderita termasuk aktivitas seksual. dokter atau calon dokter harus menentukan apakah penderita mengerti sifat dan tujuan pemeriksaan.8). Jika kehilangan pasangan hidup terjadi dalam satu tahun terakhir. Riwayat perkawinan. Bagaimana karakteristik hubungan orang tua-anak. penderita dalam keadaan resiko tinggi mengalami peristiwa fisik atau psikologik yang merugikan (6). orientasi libido. penderita juga tetap harus diperiksa tersendiri (walaupun terlihat adanya gangguan yang jelas) untuk mempertahankan privasi hubungan dokter dan penderita dan untuk menggali adakah pikiran bunuh diri atau gagasan paranoid dari penderita 3 . riwayat pra-morbid dan riwayat sakit harus didapatkan dari anggota keluarga atau mereka yang merawatnya. Riwayat sosial ekonomi dipakai untuk menilai peran ekonomi dalam mengelola pemyakit penderita dalam membuat anjuran terapi yang realistik (5. Jika penderita adalah janda atau duda. harus digali bagaimana rasa duka citanya dulu saat ditinggal mati oleh pasanganya. apakah penderita mempunyai anak.

9). Gangguan motorik. tidak peduli terhadap adanya perbedaan usia (4. Bicara penderita dalam keadaan teragitasi dan cemas mungkin tertekan. Banyak penderita depresi mungkin lambat dalam bicara dan gerakannya. gerakan jari seperti memilin pil.7).8). curiga. bertahan dan tak berterima kasih dapat memberi petunjuk tentang kemungkinan adanya reaksi transferensi. antara lain gaya berjalan menyeret. Keadaan umum penderita adalah termasuk penampilan. tremor dan asimetris tubuh perlu dicatat. misalnya selalu minta pertanyaan diulang. Adanya alat bantu dengar atau indikasi lain bahwa penderita menderita gangguan pendengaran. aktivitas psikomotorik. posisi tubuh membungkuk. C.8). 4 . merasakan dan bertingkah laku selama pemeriksaan. sikap terhadap pemeriksaan dan aktivitas bicara. terutama si penderita merasa frustasi karena tidak mampu menjawab pertanyaan pemeriksa. Pemeriksaan status mental Pemeriksaan status mental meliputi bagaimana penderita berfikir (proses pikir).4. Penderita lanjut usia dapat bereaksi pada dokter muda seolah-olah dokter adalah seorang yang lebih tua.yang mungkin tidak diungkapkan dengan kehadiran sanak saudara atau seorang perawat (7. Keluar air mata dan menangis ditemukan pada gangguan depresi dan gangguan kognitif. harus dicatat (2. Wajah seperti topeng terdapat pada penderita penyakit parkison (7. Sikap penderita pada pemeriksa untuk bekerjasama.

4).3. menyiapkan makanan.9) 2. Depresi merupakan resiko yang tinggi untuk bunuh diri (2. bunuh diri adalah salah satu penyebab utama kematian pada golongan usia lanjut. tidak berguna. putus asa dan tidak berdaya adalah gejala depresi. Perasaan kesepian. Aktvitas tersebut adalah termasuk ke toilet. Pemeriksa harus mencatat apakah penderita mengalami kebingungan terhadap waktu atau tempat selama episode halusinasi dapat disebabkan oleh tumor otak dan patologi fokal yang lain. 5 . Penilaian Fungsi Penilaian fungsi penderita lanjut usia harus diperiksa tentang kemampuan mereka untuk mempertahankan kemandirian dan untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.1. Di negara lain.perasaan dan afek. Gangguan persepsi Halusinasi dan ilusi pada lanjut usia merupakan fenomena yang disebabkan oleh penurunan ketajaman sensorik. Pemeriksaan yang lebih lanjut diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti (7). Kesepian merupakan alasan yang paling sering dinyatakan oleh para lanjut usia yang ingin bunuh diri. berdandan dan makan. 3. berpakaian. Mood. Derajat kemampuan fungsional dari perilaku sehari-hari adalah suatu pertimbangan penting dalam menyusun rencana terapi selanjutnya (4. Oleh karenanya pemeriksaan ide bunuh diri pada penderita lanjut usia sangat penting.

kompulsi atau waham.8) 6 . preokupasi somatik. Pasien yang sulit mendengar mungkin secara keliru diklasifikasikan sebagai paranoid atau pencuriga (4. Sensorium mempermasalhkan fungsi dari indra tertentu. asosiasi longgar. flight of ideas.7. sirkumstansialitas. Gagasan tentang bunuh diri atau pembunuhan harus dicari. Pada keadaan yang berat penderita dalam keadaan somnolen atau stupor (7.7). Fungsi visuospasial Suatu penurunan kapasitas visuospasial adalah normal dengan lanjutnya usia. Waham mungkin merupakan alasan untuk dirawat. 5.4. Pemeriksaan neuropsikologis harus dilaksanakan jika fungsi visuospasial sangat terganggu (7.8. 7. sedangkan kognisi mempermasalahkan inrformasi dan intelektual (4. dan retardasi. adanya fluktuasi tingkat kesadaran atau tampak letargik.8). Hilangnya kemampuan untuk dapat mengerti pikiran abstrak mungkin tanda awal demensia. Meminta penderita untuk mencotoh gambar atau menggambar mungkin membantu dalam penilaian.9) 6. Isi pikiran harus diperiksa adanya obsesi. Pemeriksaan harus menentukan apakah terdapat waham dan bagaimana waham tersebut mempengaruhi kehidupan penderita. asosiasi bunyi. Kesadaran Indikator yang peka terhadap disfungsi otak adalah adanya perubahan kesadaran. Sensorium dan kognisi. Proses berpikir Gangguan pada progresi pikiran adalah neologisme.

Orientasi terhadap orang mungkin dinilai dengan dua cara. Daya ingat jangka pendek dapat diperiksa dengan beberapa cara. nama dan hari ulang tahun anak-anak penderita. tahun. 9.8. bulan dan hari (7. 7 .8). tempat dan orang berhubungan dengan gangguan kognisi. Atau dengan memberikan cerita singkat pada penderita dan penderita diminta untuk mengulangi cerita tadi secara tepat/persisi (7). Gangguan orientasi sering ditemukan pada gangguan kognitif. Orientasi waktu diuji dengan menanyakan tanggal. terutama selam periode stres fisik atau lingkungan yang tidak mendukung. Daya ingat jangka panjang diuji dengan menanyakan tempat dan tanggal lahir. Daya ingat dinilai dalam hal daya ingat jangka panjang. misalnya dengan menyebut tiga benda pada awal wawancara dan meminta penderita mengingat kembali benda tersebut akhir wawancara. gangguan buatan. Penderita dengan daya ingat yang tak terganggu biasanya dapat mengingat enam angka maju dan lima angka mundur. pendek dan segera. Daya ingat. Apakah penderita mengenali namnya sendiri dan apakah juga mengenali perawat dan dokter. gangguan kecemasan. Pemeriksa harus menguji orientasi terhadap tempat dengan meminta penderita menggambar lokasi saat ini. Orientasi Gangguan orientasi terhadap waktu. Tes yang diberikan pada penderita dengan memberikan angka enam digit dan penderita diminta untuk mengulangi maju mundur. gangguan konversi dan gangguan kepribadian.

konsentrasi.10. Apakah menulis dengan tangan kiri atau kanan juga perlu dicatat (7). biasanya dialami oleh seorang lanjut usia pada saat meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat.8) 11. Fungsi intelektual.informasi dan kecerdasan. Pemeriksa mencatat respons sebagai dasar untuk penguji selanjutnya. Membaca dan menulis. dan mencatat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pemeriksaan tersebut (7. D. Sejumlah fungsi intelektual mungkin diajukan untuk menilai pengetahuan umum dan fungsi intelektual. terutama bila dirinya sendiri saat itu juga mengalami penurunan status kesehatan. Beberapa masalah di bidang psikogeriatris 1. Penting bagi klinisi untuk memeriksa kemampuan membaca menulis dan menetukan apakah penderita mempunyai defisit bicara khusus.10). Kesepian Kesepian atau loneliness. misalnya menderita berbagai penyakit fisik berat. Menghitung dapat diujikan dengan meminta penderita untu mengurangi 7 dari angka 100 dan mengurangi 7 lagi dari hasil akhir dan seterusnya sampai tercapai angka 2. gangguan mobilitas atau gangguan sensorik. Pemeriksaan dapat meminta penderita membaca kisah singkat dengan suara keras atau menulis kalimat sederhana untuk menguji gangguan membaca atau menulis pada penderita. Pemeriksa juga dapat meminta penderita intuk menghitung mundur dari 20 ke 1. 8 . terutama gangguan pendengaran (5.

Isomnia atau justru hipersomnia 5. Agitasi atau retardasi psikomotorik. Perasaan tidakn berharga.berkosentrasi atau membuat keputusan. disamping memberikan bantuan pengerjaan pekerjaan dirumah bila bila memang terdapat disabilitas penderita dalam hal-hal tersebut. Depresi Menurut kriteria baku yang dikeluarkan oleh DSM-III R Yang dikeluarkan oleh Asosiasi Psikiater Amerika. Pada penedreita kesepian ini peran dari organisasi sosial sangat berarti.Kriteria DSM-III R*(1987) untuk diagnosis depresi 1. Banyak diantara lansia yang hidup sendiri tidak mengalami kesepian. Rasa capai/lemah atau hilangnya kekuatan. 3. Secara nyata berkurang perhatian atau keinginan untuk berbagi kesenangan.atau upaya bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri 9 . tetapi dilain pihak terhadap lansia yang walaupun hidup dilingkungan yang beranggotakan cukup banyak. 7. Perasaan tertekan hampir sepanjang hari 2. 2. karena aktivitas sosial yang masih tinggi.atau turun atau naiknya selera makan secara nyata 4.diagnosis depresi harus memenuhi kriteria dibawah ini (11). 9. Berat badan turun atau naik secara nyata. 6. karena bisa bertindak menghibur. Tabel 1. Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri.atau atas semua atau hampir semua aktivitas. Hilangnya kemampuan untuk berpikir.pikiran berulang untuk lakukan bunuh diri tanpa rencana yang jelas. mengalami kesepian.rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat (seiring bersifat delusi) 8. memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan peran sosial penderita. Pikiran berulang tentang kematian (bukan sekedar takut mati).

Tidak merupakan superimposing pada suatu skizofrenia. Gejala depresi pada usi lanjut sering hanya berupa apatis dan penarikan diri dari 10 .Gangguan tersebut bukan suatu reaksi normal atas kematian seseorang yang dicintainya (Komplikasi duka-cita) . Aloanamnesis dengan keluarga atau informan lain bisa sangat membantu.Prognosis depresi pada usi lanjut Prognosis baik Prognosis buruk Usia < 70 tahun Usia>70 tahun dengan wajah tua Riwayat keluarga adanya penderita Terdapat penyakit fisik serius + depresi atau manik disabilitas Riwayat pernah depresi berat (sembuh sempurna) Riwayat depresi terus menerus selama 2 sebelum usia 5 tahun tahun Kepribadian ekstrovert dan tempramen yang datar Terbukti adanya kerusakan otak.Takdapat duibuktikan bahwa perasaan/gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan organik .Pada saat gangguan tersebut tidak pernah terjadi ilusi atau halusinasi selama berturut-turut 2 minggu tanpa adanya gejala perasaan hati yang nyata(misal sebelum gejala perasaan hati tersebut atau setelah perasaan hati menjadi lebih baik).gangguan delusional atau psikotik. Diagnosis Anamnesis merupakan hal yang sngat penting dalam diagnosis depresi dan harus diarahkan pada pencarian terjadinya berbagai perubahan dari fungsi terdahulu dan terdapatnya 5 atau lebih gejala depresi mayor seperti disebutkan pada defenisi depresi di atas. .gangguan skizofreniform.misal (Tak berubah-ubah) gejala neurologik dadanya dementia E.Ditambah lagi . Tabel 2.

Mengingat hal-hal tersebut diatas.  Kecemasan.histeria dan hipokondria yang sering merupakan gejala depresi justru sering menutupi depresinya.  Golongan lanjut usia sering kali menutupi rasa sedihnya dengan justru menunjukan bahwa dia lebih aktif.misalnya justru sering dimasukkan ke bangsal Penyakit Dalam atau Bedah (misalnya karena diperlukan penelitian untuk konstipasi dan lain sebagainya)  Masalah sosial yang juga di derita seringkali membuat gambaran depresi menjadi lebih rumit.penurunan nafsu makan. yang seringkali berupa skala depresi geriatrik (GDS) atau skala penilian (depresi) Hamilton (Hamilton Rating 11 . Tanda disfori atau sedih yang jelas seringkali tidak terdapat. maka dalam setiap asesmen geriatri seringkali disertakan form pemeriksaan untuk depresi. Depresi pada usia lanjut seringkali kurang atau tidak terdiagnosis karena hal-hal berikut :  Penyakit fisik yang diderita seringkali mengacaukan gambaran depresi.obsesionalitas. perhatian serta memburuknya kognitif secara nyata. aktivitas atau sukar tidur.Penderita dengan hipokondria. gangguan memori. Seringkali sukar untuk mengorek adanya penurunan perhatian dari hal-hal yang sebelumnya disukai.aktifitas sosial.antara lain mudah lelah dan penurunan berat badan.

 Masalah diagnostik yang serius  Risiko bunuh diri tinggi  Pengabaian diri (self neglect)yang serius  agitasi. Rujukan ke psikiater dianjurkan apabila penderita menunjukan gejala (11).sebaiknya tidak diberikan obat yang memberikan efek sedatif. F. penatalaksanaan dan pencegahan sosial dan penatalaksanaan farmakologik.sebaliknya penderita yang agiant golongan obat tersebut mungkin diperlukan 12 .Scale=HRS).delusi atau halusinasi berat  tidak memberikan tanggapan atau tak patuh terhadap pengobatan yang diberikan  Memerlukan tindakan/rawat inap di institusi atau pelayanan psikiatrik lain.Untuk penderita yang secara fisik aktif. Diantara obat-obat depresi harus dipilih dan disesuaikan dengan keadaan dan gejala yang diderita. Penatalaksanaan Penatalaksanaan terdiri atas penatalaksanaan psikologik.

Gangguan cemas Gangguan cemas dibagi dalam beberapa golongan. yaitu fobia. G.Obat juga harus diberikan dengan dosis awal rendah dan berhati-hati bila terdapat penurunan fungsi ginjal. gangguan panik.terutama penderita dengan depresi manik. dan prevalensi pada lansia lebih kecil dibandingkan pada dewasa muda. penyakit medis. Puncak Insidensi antara usia 20-40 tahun.obat ini sebaiknya hanya diberikan setelah berkonsultasi pada psikiater. Pada usia lanjut seringkali gangguan cemas ini merupakan kelanjutan dari dewasa muda. Gejala dan pengobatan pada usia 13 .1991 Walaupun obat golongan litium mungkin bisa memberikan efek. Awitan yang terjadi pada usia lanjut biasanya berhubungan/sekunder akibat depresi. efek samping obat atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat.Berbagai pilihan obat antidepresan Antidepresan trisiklik Yang bersifat sedatif : Amitriptilin Dotipin Sedikit bersifat sedatif : Imipramin Nortriptilin Protriptilin Antidepresan yang lebih baru Bersifat sedatif : Trasodon Mianserin Kurang sedatif : Maprotilin Lofepramin Flukfosamin Dari Van der Cammen. gangguan stres pasca trauma dan gangguan obsesif- kompulsif.Tabel 3. gangguan cemas umum.

Pada dasarnya jenis dan Penatalaksanaanya hampir tidak berbeda dengan yang terdapat pada populasi dewasa muda. Rumah atau kamar sangat kotor. Sindroma Diogenes Adalah suatu keadaan dimana seorang lanjut usia menunjukkan penampakan perilaku yang sangat terganggu. Individu lanjut usia yang menderita keadaan ini biasanya mempunyai IQ yang tinggi. Apabila waham tersebut menimbulkan keributan antar tetangga atau bahkan skandal. Parafrenia Adalah suatu bentuk skizofrenia lanjut yang sering terdpat pada lanjut usia yang ditandai dengan waham (Biasanya waham curiga dan menuduh). sering penderita merasa tetangga mencuri barang-barangnya atau tetangga berniat membunuhnya. Psikologis pada usia lanjut Berbagai bentuk psikosis bisa terdapat pada usia lanjut. oleh karenanya tidak akan disinggung lebih mendalam (12). . Biasanya terjadi pada individu yang terisolasi atau menarik diri pada kegiatan sosial.lanjut hampir serupa dengan pada usia dewasa muda.baik sebagai kelanjutan keadaan pada dewasa muda atau yang timbul pada usia lanjut.5) 2. 1. H.50% kasus intelektualnya normal.Penderita menumpuk barang-barangnya dengan tidak teratur.Walaupun beberapa jenis khusus akan disinggung sedikit berikut ini. pemberian terapi dengan derivat fenotiasin sering bisa menenangkan (10. Mereka biasanya menolak untuk 14 . bercak dan bau urin dan feses dimana-mana(karena sering penderita terlihat bermain-main dengan feses/urin).

karena setelah beberapa waktu hal tersebut akan terulang kembali (10.5).dimasukkan di institusi. Upaya untuk mengadakan pengaturan atau pembersihan rumah/kasar.biasanya akan gagal. 15 .

Dalam hal ini pengetahuan mengenai psikogeriatri atau kesehatan jiwa pada usia lanjut merupakan salah satu diantara berbagai pengetahuan yang perlu diketahui .antara lain mengenai pemeriksaan gangguan mental.Kognitif. 16 .Untuk itu pengetahuan mengenai geriatri harus sudah merupakan pengetahuan yang diajarkan pada semua tenaga kesehatan. BAB III KESIMPULAN Bahwa pelayanan geriatri di Indonesia sudah saatnya diupayakan diseluruh jenjang pelayanan kesehatan di Indonesia.Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri oleh karena itu sering disertakan dalam pemeriksaan/asesmen geriatri.depresi dan beberapa pemeriksaan lain.

Brocklehurs JC and Allen SC (1987). 2. Hadi Martono.Chuchill Livingstone.McGraw Hill New York.1991 12.Pedoman Pengelolaan Jiwa dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Direktorat Kesehatan Jiwa.Edinburgh.867-881. Laitman LR Paraphrenias and other psychoses.1982 4. Kaplan HI.1019-1024.Genatric psychiatry. Reuben DB.Sinpsi Psikiatri vol 1/7.Geriatric Medicine for students.In Geriatric Medicine and Gerontology.Yoshikawa TT and Besdine RW (eds) .Problematik usia lanjut ditinjau dari sudut kesehatan jiwa . Van der Cammen TJM. Weinberg J.In Brocklehurst JC anf Allen SC (eds).Sadock BJ and Greb.1985 8.Iowa.In Brocklehurs JC and Allen SC (eds).Kaplan HI anf Sadock RJ (eds).Churchill Livingstone.Yoshikawa TT and Besdine RW.Debuque.Bina Rupa Aksara.Brodie HK.Philadelphia.Wright.Adelaide.Care of the dying.1996 13.Geriatri. Kolb LC. Gunadi H.Geriatric Review Syllabus.Geriatric psychiatry.revised.Sociological and psychological gerontology.Word Congress of Gerontology.Geriatric Medicine for students.Diagnostic and statistical manual of mental disorder.3rd edits.1990 10. American psychiatric Association.Jiwa XVII (4): 89-97.1997 9.1987.In Freedman AN..Kendall- Hunt Publishing Coy.In Reuben DB.Rai TGS and Exton-Smith AN (eds).Alih bahasa :Wijaya Kusuma.Manual of Geriatric Medicine.Washington DC.1995 5. Daftar pustaka 1.2507-1527.Comprehensive Textbook of Psychiatry. 6.1984 3.Dep Kes RI.The William-Wilkins Co.WB Saunders Co.Churchill Livingstone.Fish's clinical psychophysiology. Brocklehurs JC and Allen SC.Socio cultural factors influencing the development of depression in elderly patients admited to the acute geriatric wards in Indonesia.6th eds. 17 .Jakarta.Modern clinical psychiatry.1997. Hamilton M. 11.1982 7.2nd eds.bristol.3rd eds.